Konflik Israel-Palestina dalam Kacamata Iran

Rate this item
(0 votes)
Konflik Israel-Palestina dalam Kacamata Iran

 

Konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel selama satu abad, maupun dalam tujuh dekade terakhir menjadi perhatian banyak kalangan, termasuk Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei yang selama ini konsisten membela Palestina. Rahbar dalam pidato terbarunya mengenai Hari Quds Internasional baru-baru ini menyampaikan berbagai isu penting menyikapi konflik antara Palestina dan Israel.

Barat, Penyebab Utama Konflik
Beberapa kalangan menghubungkan awal konflik Palestina-Israel dengan peristiwa Deklarasi Balfour tahun 1917, yang terjadi 103 tahun silam. Beberapa pihak melihat awal konflik ini terjadi tahun 1948 dan pembentukan rezim Zionis di tanah Palestina, yang telah berlalu 72 tahun. 

Apakah kita akan mempertimbangkan awal dari konflik ini pada tahun 1917 atau 1948, yang jelas konflik Palestina-Israel adalah yang terpanjang di dunia. Sejumlah analisis konflik yang dilakukan di berbagai tingkatan, termasuk di level global menunjukkan kedalaman tingkatannya. Dari sekian analis yang muncul megenai konflik ini, salah satu analisis paling penting dan realistis telah dilakukan oleh Ayatullah Khamenei dalam peringatan empat puluh satu Hari Quds Internasional

Rahbar menyebut kekuatan Barat sebagai faktor utama pemicu konflik Palestina dan Israel saat ini. Ayatullah Khamenei menggambarkan penjarahan negara Palestina dan pembentukan tumor kanker ganas  rezim Zionis dengan berbagai jenis pembunuhan dan kejahatan paling keji yang dilakukannya terhadap Palestina sebagai catatan baru tentang kejahatan kemanusiaan di dunia. Ayatullah Khamenei menegaskan, "Penyebab utama tragedi ini adalah pemerintah Barat dan kebijakan jahat mereka."

Inggris adalah negara paling penting dan utama yang berperan dalam pembentukan rezim Zionis di tanah Palestina. Negara ini memainkan peran besar dalam berbagai bentuk, termasuk Deklarasi Balfour, migrasi orang-orang Yahudi dari berbagai belahan dunia ke tanah Palestina, penjarahan tanah dan pembelian tanah Palestina yang diserahkan kepada orang-orang Yahudi, serta dukungan terhadap pendirian rezim Zionis Israel. Selain itu, Inggris juga mendukung keanggotaan Israel di PBB.

Pasca Perang Dunia II, Amerika Serikat, lebih dari kekuatan Barat lainnya mengambil peran untuk mendukung rezim Zionis. Amerika Serikat memveto hampir semua resolusi anti-Israel di Dewan Keamanan PBB, dan abstain terhadap beberapa resolusi mengenai Israel. 

Apa yang dilakukan Amerika Serikat di kawasan Asia Barat, termasuk mengobarkan perang antarnegara, antarbangsa, dan perang proksi, menjatuhkan sanksi berat terhadap Iran, negara-negara lain dan kelompok-kelompok perlawanan, menggoyahkan dan melemahkan pemerintah Arab, kehadiran militer di Asia Barat, serta dukungan kelompok-kelompok teroris; semuanya ditujukan untuk mendukung rezim Zionis dan memperkuat posisinya di kawasan strategis dunia ini. Baru-baru ini, pemerintahan Donald Trump meluncurkan rencana rasis "Kesepakatan Abad" yang mengusung kepentingan Israel dan merugikan Palestina.

Sebagai imbalan dari tingkat dukungan AS terhadap Israel, Gedung Putih mendapatkan dukungan dari lobi Zionis, terutama di sektor investasi dan perekonomian AS. Begin–Sadat Center for Strategic Studies (BESA Center) dalam laporannya menyatakan bahwa bantuan AS untuk negara Yahudi adalah investasi yang menguntungkan. Setiap tahun sebanyak 3,8 miliar dolar  investasi AS telah memberikan keuntungan untuk negara ini. Israel saat ini berinvestasi sekitar 24 miliar dolar, sekitar tiga kali lipat selama satu dekade lalu. Israel secara strategis merupakan garis pertahanan AS di Timur Tengah (Asia Barat) dan satu-satunya sekutu regional yang bisa diandalkan oleh Washington. Perusahaan-perusahaan Amerika telah mendirikan dua pertiga dari 300 pusat penelitian dan pengembangan Israel di Startup Nation. Pengusaha Israel banyak berinvestasi dalam perekonomian AS, dan Israel salah satu dari 20 penyedia investasi langsung terbesar di Amerika Serikat."

Poin penting dari statemen Pemimpin Besar Revolusi Islam yang menyalahkan kekuatan Barat atas kejahatan rezim Zionis terhadap Palestina menunjukkan besarnya dukungan kekuatan Barat  dalam berbagai kejahatan rezim Zionis. Sebab, rezim Zionis tidak memiliki kekuatan dan pengaruh tanpa dukungan negara-negara Barat.

 

Negara-negara Arab Perusak tujuan Palestina

Meskipun Rahbar menganggap kebijakan Barat sebagai penyebab utama konflik Palestina dan Israel saat ini, tapi beliau tidak mengambil pandangan satu dimensi saja dalam masalah ini, dan menyalahkan sebagian besar pemerintah Arab atas situasi yang terjadi tersebut. Ayatullah Khamenei mengatakan, "Sayangnya, sebagian besar negara-negara Arab secara bertahap menyerah setelah perlawanan pertama dan mereka melupakan kewajiban kemanusiaan, Islam, politik, spirit, dan wibawa Arab, yang membantu tujuan musuh,". Rahbar mengatakan bahwa hasil dari penyerahan ini adalah kebuntuan jalan negosiasi dengan penjajah dan pendukungnya, yang menyebabkan kian lemahnya perjuangan Palestina." Menurut beliau, kebijakan utama arogansi dan Zionisme adalah mengecilkan masalah Palestina di benak masyarakat Muslim hingga melupakannya.

Setelah pembentukan rezim agresor Israel, pemerintah Arab memiliki empat perang dengan rezim Zionis pada tahun 1948, 1953, 1967 dan 1973, yang gagal di hampir semua perang tersebut. Kekalahan dalam perang, serta meningkatnya ketergantungan terhadap kekuatan Barat, membuat negara-negara Arab menggunakan pendekatan kompromi dengan rezim Zionis. Hasil dari kompromi tersebut adalah perjanjian Camp David antara Mesir dengan rezim Zionis, perjanjian Lembah Arab antara Yordania dengan Israel, Kesepakatan Damai Oslo, dan rencana perdamaian pemerintah Arab untuk penyelesaian konflik antara Palestina dan Israel. Hasil dari pakta dan rencana perdamaian ini adalah pengakuan terhadap eksistensi rezim Zionis dan terpinggirkannya masalah Palestina dalam kebijakan luar negeri negara-negara Arab. 

Melemahnya masalah Palestina disebabkan karena normalisasi hubungan antara negara-negara Arab dan rezim Zionis. Tidak diragukan lagi, jika ada konsensus dan konvergensi dalam dunia Arab untuk mendukung Palestina; maka tidak hanya rezim Zionis, bahkan Amerika Serikat juga tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap Palestina. Berbeda dengan pendekatan kompromis yang diambil sejumlah negara Arab terhadap Israel, pendekatan front perlawanan yang terbentuk setelah kemunculan Revolusi Islam Iran telah mengubah perimbangan kekuatan regional yag menjegal berbagai prakarsa rasis seperti Kesepakatan Abad  yang diluncurkan AS dan rezim Zionis. 

 

Apa yang Harus Dilakukan?

Pidato Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran pada Hari Quds Internasional disajikan dalam bentuk jawaban atas pertanyaan kunci tentang apa yang harus dilakukan. 

Pertama, masalah Palestina adalah isu kemanusiaan. Oleh karena itu, membatasi masalah ini hanya pada isu Palestina semata, ataupun masalah Arab tentu saja merupakan kesalahan besar. Imam Khomeini menjadikan isu Palestina sebagai masalah dunia Islam yang melampaui sekat etis dan bangsa dengan mencanangkan Jumat terakhir bulan suci Ramadhan sebagai Hari Quds Internasional, dan kini Ayatullah Khamenei melanjutkannya. 

Kedua, tujuan dari perjuangan ini adalah pembebasan seluruh wilayah Palestina dari laut ke sungai, dan kembalinya semua warga Palestina ke tanah air mereka. Mereduksi masalah ini melalui pembentukan pemerintahan di sudut wilayah ini yang dilakukan dengan cara memalukan, sebagaimana dimaksud dalam literatur Zionis yang kasar, jelas sekali bukanlah tanda kebenaran maupun tindakan yang realistis.

Ketiga, meskipun diizinkan untuk mengambil keuntungan dari segala cara yang sah dan halal dalam perjuangan ini, termasuk meraih dukungan global, tapi kita harus menghindari untuk menggantungkan harapan secara lahir maupun batin dengan mempercayai negara-negara Barat maupun komunitas dunia afiliasinya. Sebab, mereka memusuhi eksistensi Islam yang berpengaruh, mereka mengabaikan hak-hak manusia dan bangsa-bangsa, mereka sendiri telah menyebabkan kerusakan dan kejahatan terbesar bagi umat Islam.

Keempat, elit politik dan militer dunia Islam harus mewaspadai kebijakan Amerika Serikat dan Zionis dalam mentransfer konflik ke belakang front perlawanan. Pecahnya perang saudara di Suriah, pengepungan militer, pembunuhan sehari-hari di Yaman, pembantaian, penghancuran dan pembentukan kelompok teroris Daesh di Irak, dan kasus-kasus serupa di beberapa negara lain di kawasan; semua itu plot untuk mengalihkan perhatian front perlawanan dan memberi peluang untuk bernafas kepada rezim Zionis. 

Kelima, kebijakan menormalkan kehadiran rezim Zionis di kawasan merupakan salah satu dari kebijakan utama Amerika Serikat. Rezim Zionis adalah penumpang gelap yang membawa kehancuran dan kerugian besar bagi kawasan, dan secara pasti akan tercerabut dan binasa. Rasa malu dan kehinaan akan menjadi milik orang-orang yang menyerahkan sarananya untuk mengabdi kepada kebijakan arogan tersebut. Beberapa pihak yang berupaya menjustifikasi perilaku buruk ini berpendapat bahwa rezim Zionis adalah sebuah realitas di kawasan, tanpa mengingat lagi bahwa kenyataan yang membawa kehancuran dan kerugian harus diperangi dan dibinasakan.

Keenam, berlanjutnya perlawanan dan mengoordinasikan lembaga-lembaga jihad, kerja sama di antara mereka, serta memperluas medan jihad di dalam wilayah Palestina. Setiap orang harus membantu rakyat Palestina dalam jihad suci ini. Dalam rekomendasi ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menunjukkan pencapaian penting dari perjuangan dan perlawanan bersenjata terhadap rezim Zionis sejak tahun 2000, ketika wilayah selatan Lebanon berhasil dibebaskan. Perjuangan dan perlawanan akan menyebabkan kebijakan destruktif terhadap Palestina gagal, dan rezim Zionis bersama pendukungnya tidak akan dapat menjalankan plot ambisius dan rasis mereka seperti Kesepakatan Abad 

Ketujuh, Palestina adalah milik orang-orang Palestina dan harus diatur oleh kehendak mereka sendiri. Prakarsa referendum yang melibatkan semua agama dan etnis Palestina, yang telah disampaikan Republik Islam Iran hampir dua dekade lalu adalah satu-satunya kesimpulan yang perlu diambil untuk menghadapi tantangan Palestina saat ini dan esok.

Read 71 times

Add comment


Security code
Refresh