Mengapa Kepemimpinan AS di Dunia Pudar ?

Rate this item
(0 votes)
Mengapa Kepemimpinan AS di Dunia Pudar ?

 

Naiknya Donald Trump sebagai presiden AS menandai sebuah fase baru mengenai posisi negeri Paman Sam ini. Meskipun Slogan yang diusungnya mengedepankan "Make America First Again", tapi faktanya kebijakan Trump justru menjadikan kepemimpinan AS di dunia memudar.

Jika ditelaah lebih jauh, penurunan posisi Amerika Serikat di kancah global tidak terjadi seketika tapi bisa dilacak dari sejarah kekalahannya dalam perang Vietnam pada 1970-an. Fase selanjutnya yang sangat jelas terjadi di era George W. Bush dengan invasi militernya ke Afghanistan dan Irak. Langkah agresif ini kembali dijalankan Donald Trump yang dilantik menjadi Presiden baru Amerika Serikat pada 20 Januari 2017. 

Trump memprioritaskan kepentingan dan tujuan AS tanpa mempertimbangkan negara-negara lain, sehingga kebijakannya yang berpusat pada diri sendiri akan mengarah pada peningkatan kekuatan AS dan dominasi atas para pesaingnya. Kebijakan unilateral ini menciptakan keretakan yang membesar antara Washington dan sekutunya di Eropa, serta menyulut eskalasi konfrontasi dengan kekuatan internasional saingan AS seperti Rusia dan Cina.

Tidak heran para tokoh Eropa seperti Mantan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker menilai gagasan Trump "America First" telah menyebabkan Amerika sendirian. Langkah Trump dalam  perdagangan luar negerinya meningkatkan ketegangan di tingkat regional dan global meningkatkan ketidakpercayaan dan pesimisme tentang peran kepemimpinan AS dalam politik global. Robert Malley mantan anggota Dewan Keamanan Nasional AS mengatakan unilateralisme Donald Trump menyebabkan AS terisolasi, terutama dengan menarik diri dari JCPOA dan mengenakan kenaikan tarif perdagangan dengan sekutu terdekatnya sendiri. 

Sejak Donald Trump menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat pada Januari 2017, publik internasional berada di bawah tekanan kuat kebijakan unilateralismenya. Trump sejauh ini telah menarik negaranya keluar dari berbagai perjanjian internasional seperti: perjanjian Iklim Paris, JCPOA, Perjanjian Perdagangan Bebas Trans-Pasifik (TPP), dan menyerukan negosiasi ulang sebagai protes atas perjanjian NAFTA. Akhirnya disepakati untuk menandatangani perjanjian perdagangan baru dengan Kanada dan Meksiko. Tidak hanya itu, AS di tangan Trump menargetkan perjanjian kontrol senjata, termasuk Traktat Rudal Angkatan Menengah (INF) dan perjanjian Open Skies.

Pada saat yang sama, Trump melancarkan pendekatan yang didasarkan pada pengabaian, kritik, ancaman, dan akhirnya penarikan dari organisasi dan institusi internasional yang menentang tuntutan dan kepentingan Amerika Serikat maupun sekutunya, terutama rezim Zionis.

Selain itu, Trump memangkas dana Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan akhirnya mengumumkan keluar dari badan internasional penting ini. Ia juga menarik Amerika Serikat keluar dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB, dan memotong bantuan AS untuk Badan Pengungsi Palestina (UNRWA).

Langkah lainnya, AS keluar dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sejak 31 Desember 2018. Langkah terbaru Trump dalam konteks pendekatan agresifnya terhadap lembaga dan organisasi internasional adalah memboikot Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang bertanggung jawab untuk menyelidiki kejahatan perang serta kejahatan kemanusiaan.

Pendekatan Unilateralisme Trump juga menyasar mitra dekat Washington sendiri. Trump telah berulangkali menegur pihak Eropa atas apa yang ia sebut sebagai kontribusi mereka yang tidak mencukupi untuk NATO, dan pada saat yang sama menarik diri dari perjanjian iklim Paris, yang memicu kebencian dan kritik besar dari para pemimpin Eropa.

Sementara itu, keluarnya Amerika Serikat dari JCPOA sepenuhnya bertentangan dengan keinginan Uni Eropa dan Troika Eropa yang menekankan upaya untuk melestarikan perjanjian nuklir internasional ini. "Ini tidak bisa diterima jika Washington ingin menjadi polisi ekonomi dunia," kata Menteri Ekonomi Prancis Bruno le Maire. Dari sudut pandang orang Eropa, langkah Trump menarik AS keluar dari JCPOA merupakan kesalahan besar yang mengancam keamanan internasional secara politik, militer dan ekonomi.

Akumulasi masalah ini menyebabkan pandangan yang sangat negatif dan pesimistis terhadap kebijakan pemerintahan Trump, bahkan mereka mempertanyakan peran Amerika dalam kepemimpinan dunia Barat. Dalam hal ini, Kanselir Jerman Angela Merkel telah berbicara tentang berakhirnya kepemimpinan AS di dunia.  Dalam sebuah wawancara pada akhir Juni 2020, Merkel memperingatkan negara-negara Eropa untuk berpikir serius tentang kenyataan baru yang dihadapi dunia dewasa ini bahwa Amerika Serikat mungkin tidak lagi ingin menjadi pemimpin dunia. "Kita tumbuh dengan gagasan bahwa Amerika Serikat ingin menjadi kekuatan global ... tetapi sekarang mungkin memutuskan untuk mundur, sehingga perlu berpikir lebih mendalam bagi Eropa untuk memandang dunia tanpa kepemimpinan AS," kata Merkel." Statemen ini disampaikan Merkel tidak lama setelah keputusan Trump baru-baru ini untuk menarik beberapa pasukan AS dari Jerman. 

Pada 16 Juni 2020, Trump mengumumkan Washington bermaksud menarik 9.500 tentaranya dari Jerman. Menurut Trump, Jerman sebagai anggota terbesar Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dari Eropa harus membayar lebih besar untuk organisasi itu, dan jika tidak maka AS akan ditarik dari Berlin.

Salah satu indikasi menurunnya peran kepemimpinan AS di dunia, khususnya di blok Barat, adalah pergeseran pandangan Washington tentang hubungan tradisional dengan sekutu regionalnya di Asia Barat, Asia Timur, dan Eropa. Trump berulangkali menekankan berakhirnya periode "penunggangan bebas", dalam bentuk penempatan pasukan AS untuk mengamankan sekutu Washington dengan biaya Amerika Serikat,.

Sebagaimana sekutu AS lainnya di seluruh dunia, dari Asia Barat hingga Asia Timur, Trump ingin melibatkan lebih banyak negara tuan rumah, termasuk Jerman dalam membiayai pasukan AS di negara-negara itu. Hal ini tidak hanya memicu reaksi keras dari Berlin, tetapi juga secara mendasar telah melemahkan gagasan tradisional bahwa Amerika Serikat dapat dipercaya dan diandalkan untuk mempertahankan Eropa.

Mungkin itu sebabnya Merkel meminta negara-negara Eropa untuk mempertimbangkan kenyataan baru mengenai pengurangan kekuatan AS. Hal ini telah menyebabkan pihak Eropa, yang dipimpin oleh Perancis dan Jerman mempertimbangkan untuk menciptakan kemampuan pertahanan Eropa yang independen. Pada saat yang sama, penarikan sebagian pasukan AS dari Jerman menimbulkan kekhawatiran di antara negara-negara anggota Eropa tentang komitmen militer Washington terhadap Eropa, yang mau tidak mau harus membangun kemampuan dan struktur Eropa yang mandiri. Masalah penarikan pasukan AS dari Jerman juga menunjukkan eskalasi ketegangan antara Berlin dan Washington, yang kini telah menyebar ke berbagai negara lain di Eropa.

Pernyataan Kanselir Jerman Angela Merkel yang belum pernah terjadi sebelumnya bahwa Eropa harus secara serius memikirkan dan bersiap untuk dunia tanpa kepemimpinan Amerika menunjukkan fakta baru yang sudah jauh disinggung berkali-kali oleh para pemikir dan analis internasional. Sebuah konsep yang muncul ke permukaan sebagai reaksi atas kemunduran Amerika Serikat dan penarikannya secara bertahap dari kepemimpinan dunia, yang kini diakui oleh Uni Eropa. 

Sebelumnya, Joseph Borrell berbicara tentang berakhirnya tatanan dunia yang dipimpin Amerika. "Para analis telah lama berbicara tentang berakhirnya tatanan kepemimpinan Amerika dan akhir dari abad Amerika, dan ini sedang terjadi sekarang," kata Borel pada Mei 2020. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa mencatat bahwa penyebaran Covid-19 dapat dilihat sebagai titik balik dalam mengubah keseimbangan kekuasaan dari barat ke timur. Pada saat yang sama, ia mengakui bahwa tekanan terhadap Uni Eropa untuk meningkatkan kehadirannya semakin meningkat. Dia percaya bahwa Uni Eropa harus mengejar kepentingan dan nilai-nilainya sendiri serta menghindari jatuh ke dalam perangkap penggunaan instrumental oleh pihak lain.

CNN juga mengkritik pendekatan Trump dalam kebijakan luar negerinya, dengan mengatakan bahwa lebih dari sebelumnya, negara-negara dunia ingin mereformasi Amerika Serikat. Faktanya, Trump telah mencoreng citra Amerika Serikat, dan kehadirannya di Gedung Putih telah merusak kredibilitas AS di kancah internasional. Dari masa-masa awal jabatannya di Gedung Putih, Trump menarik diri dari berbagai perjanjian internasional, termasuk Perjanjian Iklim Paris dan Perjanjian Multilateral JCPOA, dan kemudian melancarkan perang dagang dengan Cina, bahkan Uni Eropa.

"Amerika sekarang lebih kesepian daripada sebelumnya, sebab Trump telah memutuskan banyak hubungan Washington dengan negara-negara lain. Sekarang, lebih dari sebelumnya, negara-negara lain menyerukan reformasi Amerika Serikat, dan semua sekutu AS sedang menunggu presiden berikutnya, dan mereka harus menunggu hingga pemilihan November," tulis CNN.

KIni Amerika Serikat menghadapi kemunduran ekonomi, peningkatan utang yang belum pernah terjadi sebelumnya, implementasi unilateralisme dengan langkah-langkah paksaan, keluar dari perjanjian dan lembaga maupun organisasi internasional, menumbuhkan perbedaan dengan Eropa, peningkatan ketegangan dengan pesaing yang belum pernah terjadi sebelumnya. Rusia, Cina, dan beberapa aktor internasional lainnya semakin kehilangan peran global mereka dan AS hampir dibiarkan sendirian di banyak arena internasional, terutama di PBB.

Contoh terbaru dari hal ini adalah pendekatan Trump terhadap Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan meng hentikan bantuan keuangannya, dan akhirnya melancarkan gangguan terhadap kerja sama dengan komunitas internasional.

Seperti yang ditunjukkan oleh beberapa politisi Eropa, seperti mantan Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel, tren penurunan komitmen saat ini dan peran internasional Amerika Serikat bukan hanya masalah bagi Trump untuk mendukung dan mengimplementasikan, tetapi untuk siapa pun yang akan menjadi presiden AS.

Dengan kata lain, sistem pemerintahan AS berupaya menerapkan pendekatan semacam itu. Menurut Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas, era hubungan baik antara negara-negara Eropa dan Amerika Serikat telah berakhir,  bahkan terpilihnya presiden dari partai Demokrat tidak akan memperbaiki hubungan ini.(

Read 33 times

Add comment


Security code
Refresh