Akar dan Faktor Islamofobia di Barat

Rate this item
(0 votes)
Akar dan Faktor Islamofobia di Barat

 

Isu Islamofobia di Barat semakin hari kian memiliki dimensi baru dan pemerintah serta media Barat memperparah isu ini. Islamofobia sebuah wacana baru yang mengacu pada diskriminasi atau fanatisme anti Islam dan Muslim. Kini domain Islamofobia kain luas dan berubah menjadi anti Islam yakni tindakan praktis terhadap Islam dan Muslim di Barat.

Perlakuan ini cukup luas baik di bidang politik, sosial dan media. Istilah Islamofobia untuk pertama kalinya muncul di dekade 1980-an, namun menjadi umum setelah insiden 11 September 2001. Di balik wacana Islamofobia tersembunyi beragam skema di antaranya ketakutan dan kebencian terhadap Muslim dan ada anggapan bahwa Islam tidak selaras dengan nilai-nilai bersama berbagai budaya, maka Islam lebih rendah dari Barat. Serta pada akhirnya klaim bahwa Islam bukan sebuah agama samawi, tapi sebuah ideologi kekerasan politik.

Bagaimanapun juga Islamofobia dapat disebut sebuah pendekatan politik media yang dikejar Barat untuk mencitrakan wajah negatif Islam dengan melekatkan sifat seperti kekerasan, terorisme, anti HAM, despotisme, keterbelakangan, tidak beradab, berbahaya bagi dunia dan tidak rasional. Mereka melalui upaya ini ingin mempersiapkan ruang mental yang diperlukan bagi Islamofobia. Mengingat bahwa Kristen agama mayoritas di dunia Barat, oleh karena itu Islam menjadi agama yang paling banyak dihadapi dan dipikirkan Kristen dan banyak disalahpahami. Dengan demikian Islam mendapat serangan keras dari Dunia Kristen.

Insiden 11 September 2001
Meski proses Islamofobia dan anti Islam semakin meningkat pasca insiden 11 September 2011, namun fenomena ini memiliki akar di abad-abad lalu dan di era perang Salib. Seiring berlalunya waktu, hal masih tetap tersimpan di benak Barat dan kemudian dilahirkan kembali. Insiden 11 September dan fenomena terorisme selama beberapa tahun terakhir di Eropa kembali menghidupkan kecenderungan tersembunyi ini dan dan masuk ke konstelasi sosial dan politik di negara-negara Barat.

Selain itu, di gelombang kontemporer Islamofobia dan anti Islam, insiden 11 September menjadi titik balik dan penggerak sangat penting di mana untuk selanjutnya Islamofobia muncul dalam bergam bentuk, dari sebuah kecenderungan tersembunyi dan subkultur terisolasi di komunitas Barat menjadi sebuah arus efektif dan universal. Diakuinya secara resmi Islamfobia dan arusnya yang mengkampanyekan kecenderungan ini dan memperparahnya, termasuk bentuk terpenting Ismofobia modern dan gelombang bagi pasca insiden 11 September hingga kini. Dengan kata lain, saat ini kita menyaksikan kecenderungan radikal sosial dan politik resmi semakin kuat terhadap Muslim.

Dua tokoh politik Barat terkemuka di tahun-tahun akhir Perang Dingin yakni, Bernard Lewis dan Samuel P. Huntington menggulirkan pandangan yang kemudian menorehkan perang dingin paling besar antara Barat dan Islam. Luwis yang dikenal sebagai arsitek pemikiran neo konservatif di pendudukan militer Irak di tahun 2003 merupakan sosok pertama yang di tahun 1988 dalam sebuah pidatonya menggulirkan ideologi ini.

Berdasarkan ideologi ini, status dan identitas Muslim dan Arab dicap sebagai ancaman. Sejatinya berdasarkan kecenderungan dan ideologi ini, nilai-nilai Barat dianggap unggul dan pihak lain, yang dimaksud di sini adalah muslim, melawan nilai-nilai ini dan mereka dianggap sebagai ancaman keamanan.

Sementara itu, Samuel Huntington yang tidak terlalu jauh dari Luwis, di awal dekade 1990-an melalui teori Clash of Civilizations, dia memperkenalkan mekanisme kognitif identitas yang sama dalam bentuk lain dan berbicara mengenai konfrontasi berdarah Barat dan Muslim di bidang peradaban. Titik kesamaan teori kedua tokoh politik Barat ini adalah Islamofobia dalam koridor identitas. Terkait hal ini Huntington menulis, “Selama Islam masih tetap eksis sebagai Islam, dan Barat tetap Barat, konflik mendasar antara dua peradaban ini dan cara hidup mereka akan menentukan hubungan mereka di masa depan, seperti yang terjadi dalam empat belas abad terakhir.”

Saat ini, Islamofobia yang meluas dan sistematis telah menjadi paradigma yang berlaku di dunia Barat dalam menghadapi dunia Islam dan umat Islam, khususnya umat Islam yang tinggal di Barat, dan telah menjadi perhatian utama mereka. Tren yang berkembang dari Islamofobia dan anti-Islamisme di Barat telah meningkatkan suasana ketidakpercayaan antara dunia Islam dan Barat, dan mempersulit kehidupan komunitas Muslim di Barat, khususnya di Eropa.

Meskipun masyarakat Eropa memiliki sejarah panjang interaksi dengan Islam dan pengaruh peradaban Islam, dan di era pasca-Perang Dunia II berhutang rekonstruksi negara mereka kepada pekerja Muslim yang murah, namun tantangan dan masalah sosial dan ekonomi di dalam masyarakat ini, terutama setelah krisis ekonomi tahun 2008, peristiwa 9/11 di Amerika Serikat, dan dampak yang ditimbulkan masyarakat Barat terhadap Islam dan Muslim, dan akhirnya pertumbuhan populasi Muslim dan kehadiran sosial, ekonomi dan politik mereka di Barat, terutama setelah meningkatnya imigrasi ke Barat sebagai pencari suaka telah memperkuat fenomena Islamofobia dan kebencian terhadap Muslim di Barat khususnya Eropa.

Meskipun Islamofobia dan asal-usulnya sudah ada sejak sebelum 9/11 dan bahkan lebih dari seribu tahun yang lalu, tidak ada keraguan bahwa 9/11 dan gelombang politik, keamanan, dan propaganda besar-besaran yang ditimbulkannya memiliki efek mendalam pada bagaimana menyikapi Muslim di Barat dan bagaimana berinteraksi dengan mereka dalam masyarakat Barat.

Apalagi, pasca merebaknya terorisme Takfiri di Asia Barat, di mana Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa menjadi faktor penting dalam pertumbuhan dan penyebaran kelompok teroris seperti ISIS, para teroris Takfiri ini mengalihkan serangannya ke negara-negara Eropa, khususnya Prancis dan Inggris. Isu tersebut memperburuk fenomena Islamofobia.

Gelombang Islamofobia yang tersebar luas dan terencana telah muncul dalam berbagai bentuk, formal dan informal, dan selain melukiskan gambaran Islam dan Muslim yang membingungkan dan menyimpang, telah memberlakukan banyak pembatasan dan tekanan psikologis dan hukum pada Muslim yang tinggal di negara-negara Barat.

Selama satu dekade terakhir, maraknya kelompok teroris ekstremis dan meluasnya aksi teror di negara-negara Barat, serta krisis pengungsi yang mayoritas penduduknya beragama Islam, menjadi dalih sebagian pemimpin dan media Barat untuk menyebarkan Islamofobia. Posisi dan berbagai pernyataan politisi populis di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat menarik perhatian publik atas serangan mereka terhadap Muslim dan menyalahkan mereka atas isu-isu seperti terorisme, pengangguran dan ketidakamanan di negara-negara tersebut.

Pada saat yang sama, sikap dan tindakan banyak pejabat senior Barat ditujukan untuk menyebarkan Islamofobia dan mendorong kekerasan terhadap Muslim. Secara khusus, Presiden AS Donald Trump berada di garis depan Islamofobia dan kebencian terhadap Muslim di Amerika Serikat dan Barat. Selama kampanye pemilihan presiden AS 2016, Trump mengumumkan bahwa Muslim harus dilarang memasuki Amerika Serikat dengan dalih memerangi terorisme.

Pernyataannya menuai kritik luas terhadap Trump dari dalam dan luar Amerika Serikat. Menurut Daniel Benjamin, seorang ahli politik Amerika, Trump telah bertindak lebih untuk memperluas aktivitas teroris daripada membantu memerangi terorisme. Dalam pidatonya, Trump secara eksplisit menyebut "terorisme Islam" sebagai penyamaan terorisme dengan Islam.

Di Inggris, Prancis, Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya, anti-Islamisme, kekerasan verbal dan fisik, dan diskriminasi terhadap Muslim telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir karena pertumbuhan dramatis kelompok dan partai sayap kanan dan semakin populernya politisi populis.

Serangan ke masjid dan aksi pembakaran tempat ibadah Islam, serangan fisik dan verbal terhadap umat Islam dan bahkan non-Muslim yang berpenampilan seperti orang-orang di negara-negara Islam di Asia Barat, dan ‌diskriminasi terhadap pemeluk Islam di berbagai bidang pendidikan dan pekerjaan hanyalah beberapa contoh Islamofobia di masyarakat Barat yang telah menyebabkan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Muslim.

Insiden serangan teror ke Masjid di Selandia Baru
Secara khusus, serangan terhadap dua masjid di Selandia Baru pada 15 Maret 2019, dan pembunuhan puluhan Muslim di tangan ekstremis sayap kanan rasis menunjukkan bagaimana propaganda anti-Islam dan promosi Islamofobia oleh para pemimpin Barat seperti Trump dapat mendorong kelompok rasis untuk melakukan kekerasan terhadap Muslim.

Tampaknya propaganda Islamofobia yang meluas, serta proses tindakan anti-Islam dan anti-Muslim, kini telah mengambil dimensi baru, dan tidak hanya dalam masyarakat Barat, tetapi anti-Islamisme kini telah mengambil dimensi global. Faktanya, kita sekarang menyaksikan semua jenis tindakan anti-Islam dan penganiayaan terhadap Muslim di negara-negara Barat. Tindakan tersebut, seiring dengan merebaknya fenomena Islamophobia dan penciptaan ketakutan umat Islam oleh media Barat, telah menciptakan suasana negatif terhadap umat Islam di negara-negara yang menuntut kebebasan dan hak asasi manusia tersebut.

Secara global, Islamofobia di Barat dilakukan dalam berbagai bentuk mulai dari membingkai umat Muslim dengan berbagai kasus hukum palsu, melecehkan sakralitas Islam, progapanda negatif anti Islam dan Muslim, beragam penganiayaan dan menakut-nakuti Muslim serta diskriminasi terhadap mereka. Contoh terbaru dari langkah seperti ini yang menuai respon luas Muslim adalah perilisan beberap akali kartun yang menghina kesucian Nabi Muhammad Saw di Denmark dan Prancis. Tindakan seperti ini kini telah menjadi simbol Islamofobia.

Read 49 times

Add comment


Security code
Refresh