Penyelesaian Perang Armenia-Azerbaijan tanpa Intervensi Israel

Rate this item
(0 votes)
Penyelesaian Perang Armenia-Azerbaijan tanpa Intervensi Israel

 

Perang antara pasukan Republik Azerbaijan dan Armenia sampai sekarang terus berlangsung di beberapa wilayah sengketa Nagorno-Karabakh, meski sudah dua kali dicapai kesepakatan gencatan senjata.

Perang ini pecah sejak tiga minggu lalu, dan saling tuduh antara pemerintah Armenia dan Azerbaijan tanpa memperhatikan kepentingan bangsa-bangsa kawasan, menunjukkan bahwa keduanya tidak terlalu memikirkan kepentingan jangka panjang kawasan ini. Jika perang terus berlanjut mungkin saja akan terbuka celah bagi rezim Zionis Israel untuk masuk ke dalam transformasi Euroasia, dan terlibat dalam konflik di dalamnya.


Terlepas dari negara mana yang memulai perang terbaru ini, dan siapa yang memicunya, masalah yang lebih penting untuk diperhatikan adalah dampak besar perang ini bagi negara-negara kawasan, dan perubahan dari sebuah krisis regional menjadi sebuah krisis internasional.

Konflik Nagorno-Karabakh sebenarnya bisa diselesaikan secara regional, dan pejabat pemerintah Armenia dan Azerbaijan dapat memulihkan ketegangan di kawasan dengan menggunakan kapasitas negara-negara tetangga.  

Pada saat yang sama, tidak diragukan beberapa pemain menyambut terjadinya konflik di manapun di belahan dunia ini, dan walau mungkin saja tidak terang-terangan menyatakannya, namun visi serta dukungan para pemain ini ke salah satu pihak bertikai menunjukkan bahwa mereka senang jika perang berkelanjutan sehingga bisa menungganginya.

Salah satu contoh dari pemain semacam ini adalah Israel. Mantan duta besar Iran di Azerbaijan Mohsen Pak Aein terkait keterlibatan sebagian negara regional, dan transregional dalam konflik Nagorno-Karabakh sehingga terus berkepanjangan mengatakan, ada sejumlah pemain regional yang diuntungkan dari berlanjutnya konflik Nagorno-Karabakh termasuk di antaranya Israel.

Rezim ini, dengan dalih perang, menjual senjata ke Azerbaijan, dan memaksa Armenia menjalin hubungan resmi dengan Israel untuk mengurangi kedekatan Israel-Azerbaijan. Israel terus menjual senjatanya selama konflik krisis Nagorno-Karabakh berlanjut, pada saat yang sama ia menjalin kerja sama intelijen dengan kedua negara berseteru itu.

Di sisi lain, lembaga-lembaga internasional seperti Konferensi Keamanan dan Kerjasama Eropa, OSCE Minsk Group juga ikut aktif dalam konflik ini, namun sejak diserahkannya upaya penyelesaian konflik ke Minsk Group, satu-satunya upaya yang dilakukan adalah gencatan senjata pada Mei 1994.

OSCE Minsk Group dan kelompok-kelompok lainnya sama sekali tidak pernah mencapai kemajuan dalam proses penyelesaian ketegangan antara Armenia dan Azerbaijan.

Pengamat masalah internasional Iran, Hassan Behehstipour menuturkan, strategi OSCE Minsk Group dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa mereka menginginkan berlanjutkan kondisi non-perang dan non-damai di Nagorno-Karabakh, sehingga selalu memiliki dalih untuk tetap berada di kawasan itu.

Hal yang jelas adalah berlanjutnya konflik Nagorno-Karabakh tidak pernah memberikan gambaran yang terang bagi masa depan kedua belah pihak berseteru, dan rakyat kedua negara semakin besar menanggung kerugian akibat perang, dan jalan keluar terbaik konflik ini sebenarnya adalah sikap realistis kedua negara, dan memanfaatkan kapasitas negara-negara regional berdasarkan kesamaan sejarah, dan budaya.

Republik Islam Iran yang memiliki garis perbatasan bersama dengan Armenia dan Azerbaijan, dua negara yang terlibat konflik di Nagorno-Karabakh, menekankan solusi regional dengan partisipasi negara-negara tetangga kedua negara itu, dan negara kawasan lainnya.

Meski beberapa media afiliasi gerakan-gerakan asing di Azerbaijan, dan beberapa negara kawasan, menentang sikap Iran, dan menyebarkan propaganda negatif terhadap Tehran, namun Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev untuk kesekian kalinya memuji sikap Iran terkait konflik di Nagorno-Karabakh.

Pada saat yang sama, unit media Kedubes Iran di Baku, Azerbaijan beberapa waktu lalu mereaksi laporan tendensius beberapa media dan mengumumkan, musuh sedang berusaha mengganggu hubungan Iran dan Azerbaijan.

Dalam laporannya, Kedubes Iran di Baku menyebutkan, musuh Iran dan Azerbaijan dengan melancarkan perang media, berusaha menipu publik dunia, dan menutupi kenyataan.

Kesimpulannya, konflik Nagorno-Karabakh adalah masalah kedaulatan wilayah, dan tidak memiliki substansi sektarian. Azerbaijan dan Armenia, dengan berlanjutnya perang tidak akan bisa menyelesaikan konflik.

Selain itu masuknya pihak asing, dan negara-negara transregional, justru menambah sengkarut masalah, dan menjadi faktor destruktif dalam hubungan kedua negara berseteru dengan tetangga-tetangganya, dan jebakan musuh ini harus dilewati dengan cara cerdas, dan penuh kewaspadaan. 

Read 52 times

Add comment


Security code
Refresh