Islamophobia di Barat (40)

Rate this item
(0 votes)
Islamophobia di Barat (40)

 

Pemindahan Kedutaan Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis diikuti dengan pembunuhan sadis terhadap orang-orang Palestina, pemilik asli tanah Palestina. Tentara Zionis membunuh dan melukai puluhan ribu orang Palestina yang memprotes pemindahan Kedutaan AS.

Warga Palestina berkumpul untuk memprotes keputusan kontroversial pemerintah AS, tetapi mereka disambut dengan bedil. Para pengaku pembela hak asasi manusia tidak memberi tahu Israel bahwa protes adalah hak sipil bagi semua manusia.

Sejarah dunia mencatat bahwa peresmian kedutaan negara mana pun tidak pernah diwarnai oleh insiden pembantaian 58 orang. Namun, tidak demikian dengan peresmian Kedutaan AS di tanah pendudukan dan sekarang rekor tidak manusiawi ini dipegang oleh Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.

Netanyahu, putri dan menantu Trump (Ivanka Trump dan Jared Kushner) merayakan, tertawa, bersorak sorai, dan berkisah tentang perdamaian di dalam Kedutaan AS yang baru diresmikan. Di luar lokasi perayaan, tentara Zionis menembakkan peluru ke arah warga Palestina dan membunuh mereka di tanah airnya sendiri. 

Sebanyak 58 warga Palestina gugur dalam pembantaian brutal itu dan 2.700 lainnya terluka. Di antara korban pembantaian terdapat enam anak dan remaja di bawah usia 18 tahun. Setengah dari korban luka terkena peluru tajam. Seorang bayi juga meninggal akibat menghirup gas air mata.

Mencermati insiden yang terjadi di dalam dan di luar gedung Kedutaan AS di Baitul Maqdis, sudah cukup alasan bagi siapa pun untuk menolak klaim Washington soal pembelaan hak asasi manusia.

Jika kejahatan semacam itu terjadi di sebuah negara selain AS, maka Trump dan para pembantunya akan bersuara lantang mengenai pelanggaran HAM, mengancam pelakunya, dan menjatuhkan sanksi terhadap mereka.

Insiden berdarah peresmian Kedutaan AS di Baitul Maqdis akan selalu dikenang oleh rakyat Palestina, kaum Muslim, dan semua pencari kebebasan dan keadilan di seluruh dunia sebagai hari kelam dalam sejarah pendudukan Zionis.

Pemindahan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis dilakukan pada hari yang dikenang oleh rakyat Palestina sebagai Hari Nakba (bencana/malapetaka). Zionis mengubah Hari Nakba menjadi hari pertumpahan darah dan menambahkan sebuah frasa baru dalam sejarah penjajahannya.

Hari Nakba adalah istilah yang dipakai oleh rakyat Palestina untuk mengenang peristiwa pengusiran puluhan ribu orang Palestina dari Desember 1947 hingga Januari 1949. Pada hari itu, orang-orang Zionis merampas dan menduduki tanah Palestina.

Zionis melakukan segala bentuk kejahatan untuk memaksa orang-orang Palestina meninggalkan rumah, desa, kota, dan tanah air mereka. Sekitar 600 desa dibakar dan dihancurkan. Orang-orang yang menentang agresi ini dibunuh secara keji.

Pembunuhan brutal terhadap penduduk desa Deir Yassin dan Kafr Qasim dicatat dalam sejarah kejahatan dan agresi Zionis di Palestina. Tanggal 15 Mei adalah hari pengumuman berdirinya rezim penjajah Zionis di bumi Palestina.

Rakyat Palestina menyebut hari itu sebagai Hari Nakba. Mereka memperingati Hari Nakba dengan melakukan pawai ke arah wilayah yang diduduki Zionis dan mengingatkan generasi baru Palestina akan sejarah pendudukan tanah air mereka.

Kegiatan itu disebut Pawai Hak Kepulangan dengan harapan bahwa suatu hari nanti tanah Palestina akan terbebas dari pendudukan Zionis dan orang-orang Palestina bisa kembali ke tanah airnya. Namun, pawai tahun 2018 kembali bersimbah darah oleh keputusan kontroversial Donald Trump memindahkan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis.

Dalam sebuah sikap anti-kemanusiaan dan anti-Islam, Trump memenuhi permintaan rezim penjajah Zionis untuk mengubah Baitul Maqdis menjadi ibu kota rezim itu. Tak satu pun dari presiden AS yang seperti Trump, di mana ia sangat terpengaruh oleh lobi Zionis dan para pemimpin Israel.

Trump melalui teleconference mengucapkan selamat atas pemindahan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis, dan mengatakan bahwa itu seharusnya sudah terjadi sejak dulu.

"Pemindahan kedutaan adalah harapan terbesar kita bagi terciptanya perdamaian (di kawasan). AS tetap berkomitmen penuh untuk memfasilitasi perjanjian perdamaian yang berkelanjutan. AS akan selalu menjadi sahabat besar dan mitra dalam kebebasan dan perdamaian," kata Trump.

Netanyahu dalam pidatonya pada upacara peresmian Kedutaan AS di Baitul Maqdis, menyebut AS sebagai sahabat terbaik dan sekutu Israel.

Trump berbicara tentang perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah ketika memindahkan Kedutaan AS, padahal sekutu-sekutu terdekat AS termasuk Inggris, menentang langkah tersebut. Mereka menganggap keputusan AS bertentangan dengan proses kompromi.

Di AS sendiri, kubu politik yang berkuasa di negara itu menganggap keputusan Trump sebagai penambatan paku di peti mati proses perundingan damai.

Presiden AS sudah terbiasa untuk memutarbalikkan fakta sehingga sekutunya di Eropa juga skeptis terhadap Washington. Kanselir Jerman Angela Merkel dalam mereaksi keluarnya AS dari kesepakatan nuklir Iran, mengatakan keputusan Trump merupakan sinyal dari perubahan dalam hubungan Berlin-Washington dan hubungan Eropa-Amerika.

Zionis menyimpan dendam dan kebencian mendalam terhadap kaum Muslim. Mereka menuduh setiap Muslim yang menentang agresi Zionis sebagai teroris, pemberontak, dan ekstrimis. Zionis juga berada di balik arus utama Islamophobia dan sentimen anti-Islam di negara-negara Barat.

Dengan trik itu, Zionis berusaha menutupi agresi dan kejahatannya di wilayah pendudukan Palestina. Mereka menuduh pejuang Hamas dan Jihad Islam Palestina serta Hizbullah Lebanon – yang berjuang membebaskan tanah airnya – sebagai teroris dan ekstrimis. Pihak-pihak yang membela kelompok perlawanan juga dituduh mendukung terorisme.

Dalam situasi seperti itu, Trump menyalahkan Hamas atas pembantaian rakyat Palestina oleh Zionis pada Hari Nakba.

Watak asli rezim Zionis dan pendukungnya telah menjadi jelas bagi publik dunia. Karakter asli mereka juga terlihat dalam pembunuhan warga Palestina yang menggelar Pawai Hak Kepulangan.

Surat kabar Prancis, Liberation dalam sebuah laporannya menulis bahwa para pengobar bara api mematikan Hari Nakba adalah dua orang: Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri rezim Zionis Benjamin Netanyahu.

"Dua orang ini dengan meresmikan pemindahan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis, secara simbolis telah melupakan prakarsa pembentukan negara Palestina," tulisnya.

Liberation bahkan menerbitkan karikatur Donald Trump. Dia digambarkan sedang berjalan ketika asap pekat dari kobaran api membumbung ke langit dari kepalanya. Saat itu Trump berteriak, "Aku datang untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah!"

Read 48 times

Add comment


Security code
Refresh