Perempuan dalam Perspektif Rahbar

Rate this item
(0 votes)
Perempuan dalam Perspektif Rahbar

 

Kelahiran Sayidah Fatimah az-Zahra, putri tercinta Rasulullah Saw diperingati sebagai hari Perempuan dan Ibu di Republik Islam Iran dan seperti biasa di hari besar seperti ini Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei bertemu dengan para penyair dan maddah Ahlul Bait as.

Di pertemuan ini seperti biasanya para penyair akan membacakan karyanya di hadapan Rahbar dan kemudian disusul dengan arahan serta pidato beliau terkait berbagai isu mulai dari politik, syair dan berbagai ritual keagamaan. Namun tahun ini karena kondisi istimewa dan pandemi Corona serta keharusan menjaga protokol kesehatan, acara ini digelar secara virtual dan sejumlah penyair Ahlul Bait as membacakan karyanya mengenai Sayidah Fatimah melalui video konferensi.

Sayidah Fatimah, putri kesayangan Nabi dan ketika ia datang Rasul berdiri menyambutnya dan di setiap kesempatan ketika Nabi bepergian atau perang, tempat terakhr yang didatangi belaiu adalah rumah Fatiman dan dari sanalah Nabi melakukan perjalannya. Sementara tempat pertama yang didatangi Nabi ketika selesai dari bepergian juga rumah Fatimah. Fatimah memiliki karakteristik unggul di dunia Islam, baik perannya sebagai ibu, istri dan juga tokoh yang beperan membela Islam. Posisinya setara dengan Imam Ali as. Ia ibu dari empat bintang bersinar di dunia Islam, dua di antaranya menjadi imam pemimpin umat dan penghulu pemuda surga serta dari keduanya keturunan suci Rasulullah Saw terus ada hingga hari ini.

Menurut Rahbar, Fatimah putri Rasul merupakan manifestasi nilai-nilai kemanusiaan dan Islam tertinggi terkait perempuan die mana setiap karakteristik tersebut memuat pelajaran berharga. Sebagian wacana Islami tersebut adalah wacana khusus seperti ibu, istri, pendidikan anak, hamba Tuhan dan seluruhnya menunjukkan puncak dan ketinggian dari putri Rasul ini.

Hari kelahiran Sayidah Fatiman di Iran ditetapkan sebagai hari Perempuan dan Ibu. Rahbar menilai pandangan dan sikap Republik Islam terkait perempuan secara global berbeda dengan pandangan buruk Barat yang berusaha menyebarkannya ke seluruh dunia. Rahbar berkata, "Pandangan Republik Islam terhadap perempuan adalah pandangan penghormatan; berbeda dengan pandangan Barat yang memandang perempuan sebagai komoditas dan alat. Di wilayah Barat, metode dan gaya hidup Barat, kehormatan perempuan dirusak. Kalian ketahui bahwa salah satu petinggi pemerintah dan militer perempuan AS, Senator Martha McSally, beberapa bulan lalu menyatakan bahwa dirinya mengalami pelecehan; yakni bahkan seorang perempuan yang mendapat posisi sosial, politik dan administrasi tinggi tidak lepas dari ancaman terhadap kaum hawa di wilayah Barat."

Dalam perspektif Islam, perempuan dan laki-laki dari sisi kemanusiaan adalah setara, mereka memiliki tugas bersama seperti amak makruf nahi munkar, mengabdi dan memberi pelayanan serta berjuang di jalan Allah. Namun begitu ada tugas khusus yang hanya dimiliki masing-masing gender mengingat fisik dan bentuk pencitpaannya.Seraya menjelaskan tugas khusus ini, Rahbar mengatakan, "Ini adalah pandangan Islam tentang perempuan dan kami bangga dengan pandangan ini. Kami memprotes keras logika, pemikiran dan gaya hidup Barat terkait perempuan; Kami yakin mereka menzalimi perempuan."

Hijab atau jilbab juga salah satu masalah menantang di masyarakat modern yang disalahgunakan oleh musuh Islam. Menyikapi sejumlah pendapat yang mengatakan bahwa jilbab mencegah kemajuan perempuan, Rahbar mengatakan, "Tidak, malah sebaliknya jilbab justru mencegah pamer diri yang tidak pada tempatnya yang menghalangi gerakan perempuan. Hari ini kita memiliki ribuan perempuan berhijab yang aktif di bidang politik, sosial dan budaya....Propaganda Barat mencitrakan bahwa pandangan Islam mencegah kemajuan perempuan. Ini sepenuhnya kebohongan nyata dan pendapat berlebihan. Di negara kita di sebagian sejarah baik di masa lalu maupun di era westernisasi, kita tidak memiliki perempuan berpendikan tinggi seperti saat ini, tidak juga mereka yang aktif di bidang sosial, budaya atau politik. Kita juga tidak memiliki banyak perempuan yang berpengaruh di bidang sosial atau penulis dan aktivis sosial seperti saat ini. Prestasi perempuan saat ini di negara kita, semuanya adalah berkah dari Republik Islam dan pandangan Islam yang menghormati perempuan."

Rahbar juga mencatat bahwa dalam pandangan Islam yang murah hati tentang perempuan, peran perempuan dalam keluarga juga disorot; Peran ibu, peran istri, peran ibu rumah tangga dan sejenisnya disorot; Ini adalah sesuatu yang menjadi semakin tidak penting di Barat; Keluarga adalah pusat yang hangat dan diberkati di mana fondasi terkuat dari pendidikan spiritual dan intelektual manusia diletakkan. Rumah adalah lingkungan terbaik untuk kenyamanan tubuh dan jiwa, pusat terbaik untuk menghilangkan kepenatan jiwa dan raga, dan suasana keintiman yang paling sejati; Dan tidak diragukan lagi, poros keluarga semacam itu adalah ibu. Pemimpin Tertinggi dengan pertanyaan siapakah asal dan pusat lingkaran? Mereka menambahkan: "Ibu adalah pusat dari keluarga; Inilah yang aparat propaganda Barat dan, sayangnya, beberapa dari orang-orang kebarat-baratan kita mencoba untuk mengecilkan, atau salah paham, atau tidak menunjukkan. Para ibu rumah tangga telah melakukan pelayanan yang terbaik, bahkan kepada mereka yang tidak memiliki pekerjaan. Penting untuk memahami nilai layanan wanita yang lebih memilih housekeeping ; "Meskipun layanan di luar rumah adalah dan akan menjadi tanggung jawab wanita, dan ini bukan masalah, tetapi ini adalah bagian terpenting dari layanan wanita."

Ayatollah Khamenei menganggap Sayidah Zahra dan Imam Ali serta anak-anak mereka di mana meneladani persahabatan, empati, ketulusan dan perjuangan mereka dapat memajukan masyarakat Islam. Di akhir bagian pidatonya, Rahbar memberikan penghormatan ibu dan istri para martir dalam dua generasi. Salah satunya selama pertahanan suci, dan yang lainnya selama melindungi tempat suci, di mana istri dan ibu para martir meninggalkan peran yang kekal dan unik dan harus benar-benar salut di hadapan mereka.

Audiens lain di pidato Rahbar adalah para penyair Ahlul Bait as (maddah). Berbagai peristiwa baru di konteks peristiwa agamis di berbagai majelis agama muncul dari arahan dan nasihat Rahbar di acara ini. Kekhawatiran Rahbar terhadap kebutuhan komunitas penyair Ahlul Bait as sangat beragam. Salah satu kekhawatiran beliau berkaitan dengan profesi para maddah, inovasi dan pembentukan budaya di setiap acara keagamaan. Ayatullah Khamenei mengatakan, "Maddahi (pembacaan syair tentang Ahlul Bait as) sebuah fenomena seni unik dan kita tidak memiliki hal yang serupa dengan ini di tempat lain. Sini seni dan sastra para penyair merupakan bagian dari profesi. Sisi lain adalah konteks dan isi syair; kumpulan dari empati, ideologi, pengetahuan dan sejarah, pencerahan sosial dan mengenal kebutuhan audiens....Membangun budaya di masyarakat dan menyebarkan ideologi tinggi dan menyebarkan teladan kehidupan Nabawi, Alawi dan Fatimi sebuah fenomena penting yang harus diperhatikan dan untungnya hal ini semakin meningkat di antara para maddah."

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, sambil memerintahkan untuk berbicara tentang sejarah, studi pendidikan dan tauhid, mengenang musibah dan sejenisnya, tentang penyebaran akhlak Islam di masyarakat kepada para maddah mengatakan, "Pesan terakhir adalah sebarkan moral dan akhlak Islami di tengah masyarakat. Hadirin sekalian! Salah satu hal terpenting adalah mempertahankan akhlak Islami ketika berbicara dan sayangnya saat ini ketika dunia maya semakin kuat, akhlak Islami ini semakin pudar. Ucapan buruk dan kasar atau semisalnya harus dihapus di tengah masyarakat."

Lebih lanjut Ayatullah Khamenei menambahkan, ".....Ajaran Nabawi, Alawi dan Fatimi jauh dari hal-hal seperti ini. Kalian saksikan bahwa Sayidah Fatimah menyampaikan dua khutbah hebat. Pertama di masjid di tengah kumpulan masyarakat dan kedua ditujukan kepada perempuan Madinah di mana khutbah ini penuh dengan hal penting dan protes; Memprotes dan menghukum konsep-konsep Islam terkemuka yang di dalamnya Fatimah Zahra merasakan bahayanya, tetapi dalam dua khotbah yang penting, agung dan penuh semangat ini, tidak ada satu kata pun yang menghina, jelek dan menghina; Dan semua kata-katanya kuat dan solid, pernyataan tegas. Anda harus melakukan ini; “Dalam pernyataan, dalam pidato, tidak boleh ada kata-kata kosong tanpa pengetahuan, tidak boleh ada gosip, tidak boleh ada fitnah, dan tidak boleh ada fitnah dan umpatan. Kalian para penyair dan maddah juga harus mengajarkan hal ini kepada masyarakat melalui ucapan dan perbuatan kalian."

Read 30 times

Add comment


Security code
Refresh