Print this page

Apakah Sesuatu yang Tidak Kita Sukai untuk Diri Sendiri, Pantas Dilakukan terhadap Orang Lain?

Rate this item
(0 votes)
Apakah Sesuatu yang Tidak Kita Sukai untuk Diri Sendiri, Pantas Dilakukan terhadap Orang Lain?

 

Di banyak masyarakat, tolok ukur dalam memperlakukan orang lain sering kali ditentukan oleh kedudukan, kekuasaan, atau kepentingan. Namun, ajaran moral Imam Ali as, penerus Rasulullah Saw mengantarkan kita pada sudut pandang yang berbeda, titik di mana diri kita sendiri menjadi ukuran keadilan dan kasih sayang.

Di antara ajaran-ajaran etika yang telah melampaui batas waktu dan budaya, ucapan Imam Ali as, wasi dan penerus Rasulullah Saw, bersinar bagaikan pelita yang menerangi jalan empati dan keadilan:

“Apa yang engkau sukai untuk dirimu sendiri, sukailah pula untuk orang lain, dan apa yang tidak engkau sukai bagi dirimu, janganlah engkau perbuat kepada orang lain.”

Menurut laporan Pars Today, kalimat ini tampak sederhana dan akrab, tapi di kedalamannya mengandung filsafat yang mendalam tentang hidup berdampingan, saling menghormati, dan pertumbuhan moral.

Di dunia di mana perbedaan kadang berubah menjadi jarak, pandangan ini dapat menjadi jembatan antara hati manusia, jembatan yang dibangun atas dasar keadilan, kasih, dan saling pengertian.

Dalam tradisi moral, tolak ukur perilaku terhadap sesama sering bermula dari dalam diri kita. Apa yang kita anggap baik bagi diri sendiri dapat menjadi ukuran untuk menilai keadilan dalam memperlakukan orang lain.

Melalui ucapan ini, Imam Ali as mengajak kita untuk menjalani latihan moral setiap hari, latihan untuk memandang orang lain dengan mata yang sama seperti kita memandang diri sendiri.

Jika prinsip ini diterapkan dalam perilaku kecil sehari-hari, dari percakapan sederhana hingga keputusan besar di tingkat sosial, maka akan terbangun sebuah masyarakat di mana martabat manusia bukan sekadar semboyan, melainkan cara hidup yang nyata.

Read 7 times