Mengenal Cendekiawan Kontemporer Iran, Syahid Muthahhari

Rate this item
(0 votes)

Sepanjang sejarah selalu ada manusia-manusia yang tidak peduli dengan kepentingan pribadi. Mereka mengerahkan semua potensi dan mempersembahkan semua yang mereka miliki demi memerangi kebodohan dan khurafat. Insan-insan relawan ini mengorbankan seluruh wujudnya untuk menerangi umat dan masyarakatnya. Nama mereka pun akan selalu abadi sepanjang sejarah. Syahid Murtadha Muthahhari adalah salah satu di antaranya.

Tokoh pemikir besar Muslim dan ulama dengan wawasan yang sangat luas ini menghadiahkan seluruh kehidupannya untuk ilmu dan pencerahan. Tulisan-tulisan dan pidato-pidatonya bak pelita benderang yang menerangi umat. Ada orang bijak yang mengatakan, "Dari jauh, Muthahhari adalah filsuf, dari jarak menengah dia terlihat sebagai orang bijak dan arif, sementara dari jarak dekat dia akan nampak sebagai sufi yang wujudnya memancarkan hakikat."

Syahid Ayatullah Murtadha Muthahhari lahir pada tanggal 3 Februari tahun 1920 di Fariman, Iran utara dalam sebuah keluarga yang taat agama. Ketakwaan dan kesalehan lingkungan keluarga sangat mempengaruhi pembentukan kepribadiannya. Sejak kanak-kanak, Mutahhari sudah tertarik kepada hal-hal yang bernilai kebajikan dan menghindari keburukan. Melaksanakan shalat sudah menjadi kebiasaannya sejak usia tiga tahun. Semua itu menjadi petunjuk akan masa depan cerah yang menantinya.

Murtadha Muthahhari sangat tertarik kepada al-Quran dan ilmu-ilmu agama. Hal itulah mendorongnya masuk ke sekolah agama, hauzah ilmiah di kota Mashad. Tahun 1937 setelah merampungkan jenjang pendidikan ilmu-ilmu dasar hauzah, dia melanjutkan pendidikan ilmu agama di kota Qom. Di kota ini, dia berguru kepada para ulama seperti Allamah Thabathabai dan Imam Khomeini.

Kecerdasannya yang sangat tinggi ditambah dengan ketekunannya dalam belajar membuatnya menjadi santri teladan. 12 tahun lamanya dia berguru kepada Imam Khomeini di bidang akhlak, filsafat, irfan, fikih dan ushul. Dengan cepat Muthahhari mencapai derajat ijtihad dan dikenal sebagai salah satu ulama muda menonjol di kota Qom. Kemampuannya yang tinggi dalam menjelaskan berbagai permasalahan ilmiah dengan bahasa yang mudah membuat banyak santri yang memilih berguru kepadanya.

Tahun 1950, Muthahhari menikahi putri salah seorang ulama terkenal di provinsi Khorasan. Kehidupannya yang sangat sederhana di masa lajang berlanjut setelah pernikahan. Kondisi perekonomian keluarga yang dibangunnya sangat sulit. Terkadang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Muthahhari terpaksa menjual buku-bukunya atau meminjam uang kepada teman dekatnya. Meski hidup sulit, namun rumah tangganya dipenuhi oleh kasih sayang. Tahun 1952, Muthahhari berhijrah ke kota Tehran untuk memperluas aktivitas keilmuan dan pemikirannya. Selain mengajar di hauzah ilmiah dan sekolah tinggi agama Islam, dia juga rajin menulis buku dan artikel.

Muthahhari terlibat aktif dalam perjuangan politik. Dia memainkan peran besar dan memobilisasi massa dalam gerakan kebangkitan 15 Khordad 1342 Hs (5 Juni 1963) yang memprotes penangkapan Imam Khomeini. Muthahharipun ditangkap setelah menyampaikan pidato berapi-api yang menentang rezim Shah. Sebulan kemudian, berkat tekanan rakyat, rezim membebaskan para ulama pejuang termasuk Muthahhari. Lepas dari penjara, dia memfokuskan kegiatannya untuk menulis dan berpidato di kampus dan masjid-masjid.

Muthahhari juga dikenal sebagai ulama yang berada di front terdepan dalam melawan pemikiran yang sesat dan menyimpang. Perjuangannya bukan dengan senjata tapi dengan argumentasi dan pemikiran yang logis. Tulisan maupun pidatonya sangat diminati oleh para pendamba kebenaran khususnya kalangan muda dan mahasiswa.

Tahun 1969, Muthahhari kembali ditangkap karena rezim menemukan selebaran dengan tandatangannya yang mengajak masyarakat menggalang dana bantuan untuk para pengungsi Palestina. Dalam salah satu pidatonya, Muthahhari mengatakan, "Jika hendak menghargai diri, ingin mulia di sisi Allah dan RasulNya atau terhormat di mata bangsa-bangsa lain, kita harus manghidupkan asas membantu kepada sesama. Apa yang akan dilakukan Rasulullah jika hidup saat ini? Apa yang akan beliau pikirkan? Demi Allah, aku bersumpah bahwa saat ini di makamnya yang suci, Nabi merasa tersiksa dengan perlakuan kaum Yahudi. Siapa saja yang tidak menyampaikan hal ini berarti dia berdosa. Demi Allah, jika tidak menyampaikan masalah ini aku dan semua penceramah juga berdosa. Demi Allah, kita semua memikul tanggung jawab dalam masalah Palestina..."

Salah satu pengabdian terbesar Muthahhari adalah buah pemikirannya yang disampaikan kepada masyarakat umum lewat tulisan, pelajaran dan pidato. Antara tahun 1972-1979 aktivitas Muthahhari dalam membendung pemikiran sesat semakin memuncak seiring dengan meluasnya kegiatan kubu-kubu kiri dan pemikiran menyimpang di Iran. Atas permintaan Imam Khomeini, Muthahhari setiap minggu mengkhususnya dua hari untuk mengajar di kota Qom. Tahun 1976, Muthahhari yang menjadi dosen di perguruan tinggi agama Islam di Tehran dipensiunkan dini setelah terlibat konflik pemikiran dengan salah seorang dosen yang berhaluan marxisme. Di masa-masa itulah Muthahhari bersama beberapa ulama Tehran membentuk organisasi ulama bernama ‘Jameeh Rohaniyat-e Mobarez-e Tehran'.

Sejak Imam Khomeini diasingkan ke luar negeri, hubungan Muthahhari dengan gurunya itu hanya terjalin lewat surat dan telpon. Namun pada tahun 1976, dia berhasil menemui Imam Khomeini di pengasingan di kota Najaf Irak. Pertemuan itulah yang menghasilkan agenda baru perjuangan rakyat Muslim Iran menentang rezim Shah. Sejak saat itu, Muthahhari secara penuh berada di medan perjuangan. Ketika Imam hijrah ke Paris, Muthahhari menemui beliau di sana. Imam memerintahkan ulama ini untuk membentuk Dewan Revolusi Islam. Selama masa perjuangan, Murtadha Muthahhari adalah penasehat terpercaya dan cerdik yang selalu mendampingi Imam Khomeini.

Dengan kemenangan Revolusi Islam, Muthahhari tentunya bakal memegang posisi kunci dalam pemerintahan Islam. Tapi takdir berkata lain. Musuh-musuh Islam tak membiarkan Revolusi Islam yang baru mencapai kemenangan ini memanfaatkan figur mulia seperti Muthahhari untuk memperkokoh pondasi pemerintahan Islam yang baru terbentuk. Ulama besar, pemikir ulung dan politikus bijak ini gugur syahid dalam sebuah aksi teror di malam hari awal bulan Mei 1979. Beliau ditembak mati sepulangnya dari majlis ilmiah dan politik. Pelakunya adalah anasir kelompok sesat yang menamakan diri kelompok Furqan. Syahid Mutahhari sebelumnya sudah memperingatkan rakyat Iran akan penyimpang ideologi kelompok ini. Dalam pernyataannya pasca syahidnya Mutahhari, Imam Khomeini menyebut tokoh besar yang juga murid beliau ini dengan sebutan ‘belahan jiwaku'.

Tulisan dan pidato-pidato Syahid Ayatullah Murtadha Muthahhariadalah buah dari pemikiran, telaah dan kerja keras pemikir dan ulama besar ini sepanjang hidupnya. Beliau meninggalkan banyak karya di berbagai bidang seperti teologi, filsafat, sejarah, sosial, hukum, akhlak dan psikologi. Salah satu hal yang selalu dikenang dari Muthahhari adalah jiwa keislaman, revolusi dan keilmuannya yang sulit ditemukan padanannya.

Muthahhari membaca dengan baik kondisi zamannya. Dia memahami persoalan yang terjadi dan serbuan pemikiran asing ke tengah masyarakat Muslim. Berbekal keluasan ilmu dan ketajaman pemikiran islami yang ada padanya, Muthahhari menjawab semua persoalan dan menyelesaikan isu-isu yang ditudingkan terhadap Islam. Ulama besar ini sangat peduli untuk membersihkan benak umat khususnya generasi muda dari pemikiran sesat dan menyimpang. Di matanya, para pemuda adalah tunas yang di masa depan akan menjadi tulang punggung bagi kelangsungan perjuangan Islam. Tahun 1973 dalam sebuah catatannya, Muthahhari mengungkapkan, "Apa yang selama 20 tahun ini kulakukan dengan tulisanku adalah menjawab persoalan-persoalan menyangkut agama Islam di zaman ini."

Syahid Muthahhari saat menjelaskan tentang maraknya aksi bunuh diri, depreasi, kekurangajaran para pemuda, kelaparan, pencemaran lingkungan dan lainnya menyatakan bahwa salah satu masalah utama Barat adalah ketidakberagamaan masyarakat di sana. Muthahhari menulis, "Manusia di zaman ini memiliki ilmu tapi obat penawar bagi penyakitnya adalah keimanan. Ilmu tidak bisa membantu. Mereka hanya berbicara tentang ilmu untuk lari dari iman. Mereka ingin mengatasi masalah dengan ilmu tapi tak pernah bisa menyelesaikan masalah."

Lebih lanjut pemikir besar ini menjelaskan hubungan ilmu dan agama dengan mengatakan, "Ilmu dan agama bukan hanya tidak saling bertentangan tapi saling melengkapi. Jelas bahwa ilmu tidak bisa menggantikan iman dan iman juga tak bisa menggantikan posisi ilmu." Muthahhari menambahkan, "Ilmu menciptakan sarana sementara iman adalah tujuan. Ilmu adalah keindahan pemikiran sedang iman adalah keindahan perasaan. Ilmu membangun alam sementara iman membangun manusia. Ilmu revolusi eksternal, sedangkan iman revolusi internal. Ilmu memberi penerangan dan kemampuan sementara iman memberi harapan dan kehangatan. Ilmu memberi keamanan luar dan iman memberi ketenangan di dalam jiwa..."

Syahid Muthahhari mempunyai pembahasan yang mendalam tentang keadilan dalam Islam. Hal itulah yang diangkatnya sebagai tema filsafat sosial yang menjadi landasan utama bagi sistem politik Islam. Tak ada yang berhak mengabaikan prinsip ini. Muthahhari melandaskan pemikiran soal keadilan pada apa yang diajarkan oleh al-Qur'an dan Sunnah. Muthahhari menulis demikian;

"Sebagian orang beranggapan bahwa keadilan meniscayakan penyamaan semua orang dengan segala perbedaan potensi dan kemampuan yang ada pada mereka." Pemikir besar ini menolak anggapan tersebut dan mengingatkan akan perbedaan potensi dan keberhasilan manusia dalam mengaktualisasi potensi bawaan. Perbedaan itulah yang mestinya menjadi dasar perolehan hasil yang beda. Muthahhari mengatakan bahwa keadilan adalah memberikan kepada semua apa yang menjadi hak masing-masing.

Syahid Muthahhari mengenai pendidikan yang zaman dahulu menjadi perhatian para pemikir dan filsuf sepanjang sejarah. Menurutnya, pendidikan sangat erat kaitannya dengan masalah ketaqwaan, pensucian jiwa dan suluk keirfanan. Muthahhari mengatakan, pendidikan harus dilandasi pada lima hal. Dari kelima hal itu yang menempati urutan pertama adalah sisi pemikiran manusia. Pendidikan harus mengedepankan masalah pengembangan pemikiran. Selain itu, pendidikan harus mengupayakan aktualisasi potensi dan bakat alami. Muthahhari menambahkan bahwa dalam pendidikan yang benar keutamaan akhlak dan insani akan tumbuh dalam diri manusia. Dengan demikian ia akan terbiasa dengan kebaikan dan kemuliaan.

Dalam pandangan Syahid Muthahhari, pendidikan mesti mementingkan masalah ibadah. Islam meyakini bahwa kesempurnaan manusia tercapai ketika ia sampai ke tahap ibadah. Lebih lanjut Muthahhari menyinggung tentang aturan sosial yang tidak benar, pendidikan yang dilandasi pada ancaman dan logika ketakutan khususnya di masa kanak-kanak, pemanjaan berlebihan, pengangguran, pemaksaan kerja fisik dan tekanan kejiwaan, goncangan akibat peristiwa yang terjadi dalam kehidupan atau rangsangan seksual lewat radio, televisi dan media cetak. Menurutnya semua itu merusak pendidikan manusia yang berdampak buruk pada terbentuknya kepribadian yang tak bergairah, kasar, pemarah, pemurung atau berdampak pada fisik yang cepat tua.

Dari dulu, salah satu topik yang diangkat Barat untuk menghujat Islam adalah masalah hijab atau jilbab. Bahkan tidak sedikit pemikir dan teoretis Barat yang terlibat langsung memerangi jilbab. Mereka mengklaim jilbab sebagai penghalang aktivitas kemasyarakatan perempuan. Mereka menuduh Islam sengaja memasung perempuan di dalam rumah. Syahid Muthahhari menolak pandangan itu dan menjelaskan bahwa jilbab adalah cara berpakaian yang menjamin keselamatan masyarakat dari penyakit moral bukan mencegah aktivitas kaum perempuan.

Muthahhari mengatakan, "Jilbab tidak berarti memasung perempuan atau menghalanginya dari aktivitas kebudayaan, sosial dan ekonomi. Islam tidak demikian. Islam tidak melarang perempuan beraktivitas di luar rumah atau mencegahnya kegiatan belajar dan keilmuan. Bahkan Islam mewajibakn pengikutnya baik laki-laki maupun perempuan untuk menimba ilmu. Islam tak pernah mengharamkan kegiatan ekonomi tertentu terhadap perempuan. Islam tidak pernah memerintahkan perempuan untuk duduk menganggur. Menutup seluruh anggota badan kecuali wajah dan dua telapak tangan sama sekali tidak menghalangi perempuan untuk melakukan aktivitas budaya, sosial bahkan ekonomi. Yang melumpuhkan kekuatan sosial justeru lingkungan yang tercemar oleh syahwat."

Dalam dua bukunya berjudul ‘Hijab' dan ‘Nezam-e Hoquq-e Zan dar Islam' (Sistem Hukum Perempuan dalam Islam), Syahid Muthahhari menjelaskan pandangan Islam yang sebenarnya dalam masalah perempuan dan partisipasinya di tengah masyarakat. Beliau menyoal teori dan pandangan Barat yang cenderung melecehkan perempuan dan menistakan hak-hak kaum Hawa. Muthahhari menegaskan bahwa partisipasi terbaik wanita di tengah masyarakat mesti dilakukan dengan menjaga kesopanan berpakaian dan jilbab. Sebab, jilbab menjaga batas-batas kehormatan kaum perempuan dan melindungi masyarakat dari penyimpang moral.

Pandangan-pandangan Muthahhari yang dikuatkan dengan argumentasi kokoh dan bersumber dari ajaran Islam yang murni membuat majlis pidatonya selalu hidup dan diminati banyak orang. Imam Khomeini mengenai Muthahhari mengatakan, "Dalam kesucian jiwa, kekuatan iman dan kepiawaian berbicara jarang ada yang bisa menandingi Mutahhari. Dia telah pergi ke alam malakut yang tinggi. Tapi orang-orang yang keji itu harus tahu bahwa kepergian Muthahhari, kepribadian Islami, keilmuan dan filsafat tidanya akan akan sirna."(

Read 4072 times