کمالوندی

کمالوندی

 

Sayyidina Ali (ra) menarik Tangan Kumail bin Ziyad dan membawanya ke pemakaman, dan ketika sampai di padang pasir, Beliau menghela nafas panjang dan berkata kepadanya:

Wahai Kumail! Ilmu lebih baik daripada harta karena ilmu akan menjagamu, sebaliknya kamu perlu menjaga hartamu, harta akan berkurang saat dibelanjakan, tapi ilmu akan semakin bertambah dengan amal. Demikian pula budi yang ditimbulkan dengan harta akan lenyap dengan lenyapnya harta -begitu juga kehormatan dan status sosialnya.

Nahjul Balaghah: al-Hikmah 147.

 

 

Pada suatu malam beberapa orang melakukan perjalanan dengan menaiki perahu dan setelah mendayung dalam waktu yang cukup lama, salah satu diantara mereka berkata, “Sudah sejauh mana kita sampai, sejak semalam kita sudah mulai mendayung perahui ini?”

Tapi mereka melihat bahwa mereka berada di tempat yang sama seperti malam sebelumnya. Ternyata mereka lupa untuk membuka tali pengikat perahu dari tepi pantai.

Dari cerita diatas dapat diambil pelajaran bahwa manusia yang hidup di dunia ini dapat diibaratkan orang yang akan menaiki perahu tuk berlayar di samudera yang tak bertepi, yang mana manusia yang belum membuka tali perahunya dari pantai, maka sebesar apapun usahanya mendayung, dia tidak akan sampai kemanapun.

Ikatan-ikatan perahu itu bisa diibaratkan seperti pikiran negatif, kekecewaan, ketakutan, kegembiraan, kebanggaan, kesombongan, masa lalu, atau yang lainnya. Yang mana selama hal-hal ini masih mengikat kita maka kita takkan bisa berlayar kemanapun menikmati indahnya samudra kehidupan nan luas ini.

 

Suatu hari seorang pedagang dari Baghdad bertanya kepada Bahlul: “Tuan bahlul yang terhormat, saya membeli apa supaya saya mendapatkan keuntungan yang banyak?” Bahlul menjawab: “Besi dan kapas.” Pria itupun lantas pergi dan membeli beberapa besi dan kapas dan menyimpannya. Kebetulan, setelah beberapa bulan mereka menjualnya dan menghasilkan banyak keuntungan. Suatu hari dia bertemu lagi dengan Bahlul. Kali ini dia berkata: “Hai orang gila! apa yang harus saya beli untuk mendapatkan keuntungan?” kali ini Bahlul berkata, “Belilah bawang dan semangka.” Pedagang itu pergi dan seluruh modalnya dibelikan bawang dan semangka dan menyimpannya. Setelah beberapa waktu, semua bawang dan semangkanya membusuk dan hancur dan menyebabkan kerugian besar.

Segera dia pergi ke Bahlul dan berkata kepadanya: “Pertama kali saya berkonsultasi dengan Anda, Anda berkata belilah besi dan kapas, saya mendapatkan keuntungan. Tapi yang kedua kalinya, saran macam apa ini? Semua modal saya habis!” Bahlul menjawab orang itu dengan berkata, “Pada hari pertama, Anda memanggil saya dengan sebutan tuan Bahlul, dan ketika Anda memanggil saya sebagai orang bijak, jadi saya juga memerintahkan Anda sebagaimana saya orang yang bijak. Tapi untuk kedua kalinya Anda memanggil saya gila, jadi saya memerintahkan Anda sebagaimana saya orang yang gila!” Pria tersebut malu dengan apa yang dikatakan pada perkataannya yang kedua dan meminta maaf kemudian pergi.

 

Imam Sadiq (as) berkata kepada seorang pria yang mengatakan bahwa Tuhan lebih besar, beliau berkata: “Tuhan lebih besar dari apa?”
Dia berkata: “Dari segala hal”. Imam Sadiq (as) berkata: “Anda telah membatasi Dia.” Pria itu berkata: “Jadi bagaimana saya harus berkata?”
Dia berkata: “Katakanlah: Tuhan lebih besar dari apa yang disifatkan.” Dan inilah makna dari kalimat ‘Allahu Akbar’.

 

Imam Sadiq (as) berkata:

“Ketika Tuhan menginginkan kebaikan untuk hamba-Nya, maka Dia akan memberikan hukuman atas dosa-dosanya di dunia ini juga, dan apabila Tuhan menginginkan keburukan untuk hamban-Nya, maka Dia akan membiarkan dosa-dosanya untuk diberikan hukumannya pada hari kiamat kelak.”

(Bihar Al-Anwar: 18/81/177, Mizanul hikmah: 222)

 

Seorang bijak sedang berjalan di pegunungan, di tengah perjalanannya dia menemukan batu berharga terendam di sebuah sungai. Keesokan harinya dia berjumpa seorang pengelana yang sedang kelaparan. Orang bijak itu membuka tasnya untuk berbagi makanan dengan si pengelana.

Pengelana lapar itu melihat permata yang ada di tas orang bijak tersebut, dia menyukainya dan memintanya untuk memberikan batu itu kepadanya. Orang bijak itu segera memberikan batu itu. Pengelana itu sangat senang dan pergi. Dia sangat senang sekali dengan keberuntungannya. Pria itu tahu bahwa batu itu sangat berharga sehingga dengannya bisa hidup nyaman sepanjang sisa hidupnya.

Namun beberapa hari kemudian, pengelana tersebut kembali ke tempat semula saat dia datang untuk menemukan orang bijak tersebut sesegera mungkin. Akhirnya, ketika menemukannya, dia mengembalikan batu itu dan berkata, “Setelah saya pikir-pikir, Saya tahu betapa berharganya batu ini, tapi saya mengembalikannya kepada Anda dengan harapan Anda akan memberi saya sesuatu yang lebih berharga dari ini.

Orang bijak itu bertanya: “Apa yang Anda inginkan?” Pria itu menjawab: “Jika Anda bisa, berikan saya cinta yang telah memberikan Anda kekuatan untuk memberikan batu ini kepada saya!”

Sabtu, 20 Juni 2020 19:28

Apa Arti Hikmah?

 

Pada suatu hari Socrates berjalan di tepi laut, tiba-tiba seorang pemuda mendatanginya dan berkata: “Guru! Bisakah Anda memberi tahu saya dalam satu kalimat, apakah maksud dari hikmah (kebijaksanaan)? “Socrates meminta pemuda tersebut untuk masuk ke dalam air. Pemuda itu pun dengan sigap melakukannya. Dan Socrates juga dengan cepat menenggelamkan kepala pemuda tersebut untuk beberapa saat hingga pemuda tersebut mulai meronta-ronta. Socrates terus menenggelamkan kepalanya di bawah air untuk beberapa saat dan kemudian melepaskannya. Pemuda itu ketakutan dan keluar dari air dan menarik napas dengan segenap kekuatannya. Dia marah dengan apa yang dilakukan Socrates, sembari berkata: “Guru! Saya bertanya kepada Anda tentang hikmah, namun Anda menenggelamkan saya? “Socrates mengusap kepalanya dan berkata: “Anakku! Hikmah layaknya nafas yang kamu ambil dalam- dalam sehingga kamu masih bisa hidup saat ini. Saat kamu mengerti arti dari nafas yang memberikan kehidupan, saat itulah kamu akan mengerti arti dari hikmah.

 

Suatu hari Hari Nabi Isa (as) berjalan melewati padang pasir. Di tengah  perjalanan beliau sampai ke sebuah tempat ibadah yang di dalamnya tinggal seorang ahli ibadah. Sang Nabi pun mulai berbincang dengannya.

Kemudian seorang pemuda yang dikenal sering melakukan perbuatan lewat di depan tempat ibadah tersebut. Ketika mata pemuda itu tertuju ke Nabi Isa (as) dan orang ahli ibadah, seketika kakinya gemetaran dan tidak bisa berjalan. Dia hanya bisa berdiri disana dan berkata, “Saya merasa malu dengan perbuatan buruk saya. Sekarang bagaimana jika Nabi melihat saya dan menyalahkan saya? Wahai  Tuhan, terimalah tobatku dan jangan kau permalukan aku!

Orang ahli ibadah ketika melihat hal tersebut seketika itu dia menghadapkan wajahnya ke langit dan berkata, “Wahai Tuhanku, janganlah engkau bangkitkan aku bersama dengan pemuda pendosa ini. Seketika itu Tuhan mewahyukan kepada Nabi-Nya dan memerintahkannya untuk mengatakan kepada ahli ibadah dengan berkata:

“Tuhan telah mengabulkan doamu dan Dia tidak akan membangkitkanmu dengan pemuda buruk itu,  karena dia adalah penghuni surga dikarenakan tobat dan penyesalannya dan kamu adalah penghuni neraka dikarenakan kesombongan dan kecongkaanmu.”

 

Seorang Raja tanpa sengaja memotong jarinya dengan pisau yang tajam ketika sedang mengupas Apel. Ketika raja berteriak memanggil tabib, salah satu Menteri berkata kepadanya: “Wahai baginda sesungguhnya Tuhan tidak melakukan sesuatu tanpa hikmah”.

Ketika mendengar perkataan tersebut Raja semakin menjadi marah dan berteriak: “Apa hikmah dari terpotongnya jariku?”  Lalu Rajapun memerintahkan pengawalnya untuk memenjarakan mentri tersebut.

Hari berlalu hingga pada suatu waktu Raja pergi ke hutan untuk berburu dan di sana dia terpisah jauh dari para pengawalnya dan tiba-tiba dia sudah mendapatkan dirinya sendirian berada di tengah-tengah suku liar.

Mereka menangkap raja dan mengikatnya di pohon untuk dibunuh. Namun suku tersebut memiliki kebiasaan bahwa korban harus sehat dan tidak cacat. Karena melihat raja tidak memilki satu jari maka mereka melepasnya dan akhirnya dia kembali ke istananya. Setelah merenungkan kejadian tersebut dia memerintahkan untuk membebaskan sang Menteri.

Ketika Menteri datang menghadap Raja, Raja berkata: “Kamu benar, dibalik terpotongnya jari saya ada hikmah yang tersembunyi tapi itu bagi saya sedang bagi dirimu apa hikmah yang kau dapatkan selain berada di penjara dan menjalani kesusahan dan kepedihan?” Sembari tersenyum Menteri menjawab pertanyaan sang Raja: “Bagi saya juga banyak sekali manfaatnya karena saya selalu bersama anda dalam setiap saat dan jika hari itu saya tidak berada dalam penjara sudah pasti sekarang saya sudah terbunuh”.

Seandainya saja kami mengetahui akan segala hikmah Tuhan yang tersembunyi di balik setiap kejadian maka tentu kami akan selalu bersyukur atas setiap kejadian.

 

Kenapa orang-orang soleh mengalami banyak kesulitan sementara para pendosa dan penjahat hidup dalam kesenangan?

Jawabannya adalah karena Tuhan mencintai kekasihnya. Karena itu jika mereka berbuat kesalahan segera menegurnya sehingga mereka sadar, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an: dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama kami, pasti kami pegang dia pada tangan kanannya:

لو تقوَل علینا بعضَ الاقاویل لاًخذنا منه بالیمین

(QS: Al-Haqqah, ayat 44-45)

Begitu juga jika orang mukmin jika berbuat kesalahan maka tidak beberapa lama akan mendapatkan peringatan. Namun jika orang yang biasa berbuat dosa maka Tuhan berlaku sebaliknya, Dia akan memberikan waktu tenggang kepada mereka dan ketika saatnya tiba maka mereka akan dihancurkan:

و جعلنا لمهلکهم مَوعد

(QS: Al-Kahfi, ayat 59)

Dan jika bukan karena supaya mereka memperbaiki diri mereka maka Allah akan mengakhirkan hisab mereka sampai hari kiamat dan akan memberi mereka tenggang waktu sampai peluang mereka penuh.

انما نُملی لهم لیزدادوا اثم

(QS:  Ali-Imran, ayat 178 )

Coba kita perhatikan permisalan ini: Jika kacamata kita terkena setetes air teh, maka anda akan segera membersihkannya. Namun jika air teh itu mengenai baju putih anda maka anda akan bersabar hingga tiba di rumah dan mengganti baju tersebut. Jika teh tersebut tumpah di karpet bawah kaki anda maka anda akan menunggu sampai mendekati hari raya dan membawanya ke laundry. Begitu juga dengan Allah, Allah akan berprilaku berbeda dengan setiap orang dan akan menunda azabnya  sesuai dengan keadaan jiwa manusia apakah bersih atau kotor.