کمالوندی

کمالوندی

 

Pemerintah Turki berhasil mengidentifikasi dan mengungkap jaringan mata-mata rezim Zionis Israel, Mossad dan menangkap agen-agen intelijen yang terlibat.

Menurut media Turki, 33 anggota dari tim yang terdiri dari 46 orang telah ditahan. Tim ini bertugas mencari, mengejar, dan menculik orang-orang yang diinginkan Mossad. Namun, media Turki tidak menyebutkan identitas orang-orang yang ditangkap.

Penangkapan tersebut merupakan hasil operasi polisi dan pasukan kemanan Istanbul di 57 alamat di 8 distrik di kota ini. Saat ini, pencarian dan pengejaran anggota dari tim mata-mata lainnya terus berlanjut.

Penangkapan mata-mata Mossad oleh polisi Turki bukan pertama kalinya. Rezim rasis Israel telah melakukan aktivitas spionase di Turki sejak lama. Sebelumnya, banyak kasus aktivitas ilegal rezim Zionis, khususnya kegiatan spionase rezim penjajah Palestina ini di Turki telah terungkap, dan diumumkan.

Selama setahun terakhir, ini adalah kali kelima Organisasi Intelijen Turki (Millî İstihbarat Teşkilat/MIT) mengungkap jaringan mata-mata Israel dan menangkapnya.

Pengungkapan dan penangkapan mata-mata Mossad menunjukkan bahwa rezim Zionis sangat aktif di Turki dan berusaha mencapai tujuannya selangkah demi selangkah.

Penangkapan anggota tim jaringan Mossad di Istanbul terjadi ketika Turki adalah salah satu negara pertama yang mengakui rezim Zionis setelah berdirinya rezim ilagal tersebut. Pada dasarnya, bagi Mossad, tidak ada negara yang menjadi sahabat Israel, dan semua negara, baik kawan maupun musuh, dianggap musuh.

Penangkapan terbaru mata-mata Israel di Turki terjadi ketika tak lama sebelumnya, dua jaringan mata-mata Mossad di negara ini berhasil diidentifikasi dan orang-orang yang terlibat ditangkap.

Salah satu jaringan spionase ini bertugas mencari informasi dari perusahaan Iran yang beroperasi di Turki, dan tim lainnya ditugaskan mengidentifikasi mahasiswa-mahasiswa Palestina yang tinggal di Turki.

Tampaknya pemerintah Turki tidak mempublikasikan beberapa jaringan spionase Israel yang juga telah diidentifikasi. Dari kasus-kasus yang telah terungkap, dapat dikatakan bahwa aktivitas spionase Israel di kota-kota di Turki tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa, dan seharusnya ditindaklanjuti dengan serius.

Faktanya, tidak hanya negara-negara Muslim seperti Turki yang menjadi tujuan aktivitas Mossad. Pemerintah Turki harus memperhatikan pernyataan mantan pejabat Turki dan Amerika Serikat (AS) mengenai negara mereka. Pemerintah Ankara harus menyadari bahwa Turki menjadi salah satu target utama aktivitas spionase organisasi mata-mata dunia, khususnya Mossad.

Madeleine Korbel Albright, mantan Menteri Luar Negeri AS dengan jelas mengatakan, "Turki terlalu besar untuk tetap menjadi negara bagi orang-orang Turki". Politisi dari Partai Demokrat ini telah secara terang-terangan berbicara tentang pembagian wilayah Turki menjadi beberapa negara.

Sebenarnya telah jelas bahwa pemerintah Barat, yang dipimpin oleh AS dan rezim Zionis, berusaha memecah belah Turki dengan cara yang berbeda dan menggunakan seluruh upaya mereka untuk mengambil langkah lain dalam hal ini. Untuk itu, fakta ini seharusnya tidak boleh diabaikan oleh pemerintah Turki.

Meski jaringan mata-mata Mossad telah sering diungkap dan orang-orang yang terlibat juga ditangkap, namun hal itu tidak mempengaruhi hubungan antara Turki dan Israel. Tampaknya pemerintahan Recep Tayyip Erdogan masih berusaha memperkuat hubungannya dengan rezim yang menarget keutuhan wilayah negaranya sendiri.

 

Dewan Keamanan PBB, meminta seluruh negara untuk bekerja sama dengan Republik Islam Iran, dalam menghadapi para aktor serangan teror Kerman.

DK PBB, Kamis (4/1/2024)  mengecam sekeras-kerasnya serangan teror Kerman, dan meminta seluruh negara bekerja sama dengan Iran, dalam menghadapi para pelaku teror ini.

"Seluruh anggota DK PBB, mengecam sekeras-kerasnya serangan teror pengecut di kota Kerman, Iran pada 3 Januari. Aksi teror tercela ini menewaskan lebih dari 100 orang termasuk perempuan, dan anak-anak, serta melukai 211 lainnya, beberapa di antaranya kritis," kata DK PBB.

Selain itu DK PBB, juga mengucapkan belasungkawa kepada keluarga korban serangan teror Kerman, dan kepada pemerintah Republik Islam Iran.

"Seluruh anggota DK PBB, menyampaikan belasungkawa, dan duka cita terdalam kepada keluarga korban, serta pemerintah Republik Islam Iran, dan mendoakan agar semua korban luka segera sembuh," imbuhnya.

DK PBB menegaskan, "Anggota-anggota DK PBB, menegaskan bahwa terorisme dalam semua bentuk, dan manifestasinya adalah salah satu ancaman paling serius bagi perdamaian, dan keamanan internasional."

DK PBB juga meminta seluruh negara untuk aktif bekerja sama dengan Republik Islam Iran, dalam menghadapi seluruh pelaku aksi teror ini. 

 

Menteri Dalam Negeri Iran, mengabarkan penangkapan sejumlah orang yang terlibat dalam teror Kerman. Menurutnya, benang merah yang sangat penting berhasil diungkap dari orang-orang ini.

Ahmad Vahidi, Jumat (5/1/2024) mengatakan, dinas-dinas intelijen Iran, berhasil menemukan benang merah penting, dan beberapa orang yang terlibat dalam teror Kerman, sudah ditangkap.

Ia menambahkan, "Sekarang penangangan kasus berada di tangan dinas intelijen Iran, dan informasi terbaru akan segera diumumkan kepada masyarakat."

Menurut Mendagri Iran, berkat bantuan Allah Swt, dan dengan kecepatan penanganan, jaringan teroris dukungan rezim-rezim pendidik teroris sudah berada di tangan dinas intelijen Iran, dan segera ditindak secara hukum.

Ia menambahkan, "Dari 88 syuhada, 54 orang perempuan, dan 34 laki-laki. Di antaranya 12 orang imigran asal Afghanistan, 10 syuhada berusia di bawah 10 tahun, dan 30 syuhada berusia di bawah 30 tahun. 54 syuhada dimakamkan di Makam Syuhada Kerman, dan sejumlah lainnya di kota masing-masing."

Vahidi menegaskan, "Pemakaman para syuhada serangan teror Kerman, akan diumumkan pemerintah kota asal para syuhada, sebagian sudah dimakamkan hari ini, sementara sisanya setelah jenazah mereka tiba di kota asal."

 

Media mengabarkan naiknya secara luar biasa biaya kapal dari Asia ke Eropa, melalui Laut Merah, karena instabilitas di kawasan.

Dikutip Reuters, Jumat (5/1/2024), biaya sewa kapal dari Asia ke Eropa Utara, naik dua kali lipat, dan sewa kontainer 40 kaki dikenakan biaya 4.000 dolar Amerika.

Ditambahkannya, biaya sewa kapal dari Asia ke Laut Mediterania, menyentuh harga 5.175 dolar, bahkan beberapa harga mencapai lebih dari 6.000 dolar yang setara dengan 75 barel minyak seharga 80 dolar.

Pasukan Yaman, dalam rangka mendukung rakyat Palestina, di Gaza, menyerang kapal-kapal Israel, atau kapal-kapal yang berlayar ke pelabuhan-pelabuhan Israel.

Aksi pasukan Yaman, tersebut telah menciptakan ketakutan bagi sebagian besar perusahaan pelayaran internasional sehingga memilih menghentikan rute Laut Merah, dan mencari alternatif lain.

Sementara itu Russia Today, menulis, kapal-kapal terpaksa mengalihkan rutenya dari Terusan Suez, ke arah Afrika, yang memakan waktu lebih lama 20 hari.

Sejumlah laporan mengatakan, biaya kapal ke utara Amerika, lebih sedikit terkena dampak kenaikan harga. Sewa kapal dari Asia ke pesisir pantai timur Amerika, naik 55 persen menjadi 3.900 dolar untuk setiap kontainer 40 kaki, dan sewa kapal tujuan pesisir pantai Barat, naik 63 persen menjadi 2.700 dolar per kontainer.

Pada saat yang sama, media-media mengabarkan kenaikan harga minyak dunia, dan bahan makanan di Inggris, dan Jerman. 

 

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mendesak agar dalang aksi kekerasan di Provinsi Kerman, Iran pada Rabu (3/1) lalu yang merenggut nyawa dapat diadili.

“Sangat menyedihkan ketika beberapa bom dilaporkan meledak di Provinsi Kerman, Iran kemarin. Serangan ini telah merenggut hampir seratus nyawa tak berdosa dan melukai lebih dari dua ratus lainnya,” ujar Anwar melalui akun media sosialnya di Putrajaya, Kamis.

Malaysia memprotes serta mengutuk keras segala bentuk kekerasan terhadap orang yang tidak bersalah.

"Sudah hampir tiga bulan sejak dunia menyaksikan pembantaian orang-orang tak berdosa yang dilakukan Israel di Palestina dan yang terbaru di Lebanon dua hari lalu," ujar Anwar.

Malaysia menyampaikan belasungkawa kepada negara sahabat Republik Islam Iran dan warganya, dan Malaysia juga menyampaikan belasungkawa dan solidaritas, lanjutnya. Anwar pun mengatakan Malaysia mendesak agar dalang aksi kekerasan itu diadili.

“Di tahun baru ini, Malaysia ingin mengajak dunia untuk memprotes budaya kekerasan dan serakah serta menyelamatkan umat manusia secara universal,” ujar dia.

Dalam siaran medianya, Kementerian Luar Negeri Malaysia menyebutkan bahwa Malaysia mengecam keras pengeboman di kawasan Perkuburan di Kota Kerman pada 3 Januari 2024, yang telah merenggut setidaknya 95 nyawa dan ratusan orang cedera.

Malaysia dengan tegas menolak tindakan kekerasan apapun dan aktivitas kekerasan, dan menyerukan agar mereka yang terlibat dibawa ke muka pengadilan segera, menurut pernyataan itu.

Wisma Putra juga mengatakan hingga saat ini tidak ada laporan warga Malaysia terlibat dalam tragedi tersebut. Kedutaan Besar Malaysia di Tehran terus memantau perkembangan dari waktu ke waktu dan selalu terhubung dengan pemerintah setempat untuk mendapat informasi terkini.

 

Sekretaris Jenderal Hizbullah, baru-baru ini menyampaikan pidato memperingati gugurnya Al Haj Mohammad Yaghi, salah satu komandan Hizbullah, di kota Baalbek, timur Lebanon.

Sayid Hassan Nasrullah, Jumat (5/1/2024) di awal pidatonya mengucapkan belasungkawan atas gugurnya para peziarah Makam Syahid Qassem Soleimani, di Kerman, Iran, dan gugurnya Abu Taqwa, salah satu komandan Hashd Al Shaabi, di Irak.

Terkait serangan ke posisi-posisi pasukan Israel, Nasrullah menuturkan, "Selama lebih dari 90 hari perang di Gaza, Hizbullah menyerang seluruh posisi pasukan Israel, di perbatasan Lebanon, dan di dalam Israel, serta distrik-distrik Zionis."

Sekjen Hizbullah menambahkan, "Dalam satu bulan terakhir, Hizbullah, melancarkan lebih dari 670 operasi yang beberapa di antaranya dalam satu hari dilakukan 23 kali."

Menurut Sayid Hassan Nasrullah, 48 markas pasukan Israel, di perbatasan, dan 11 posisi di dalam Wilayah pendudukan, serta 17 distrik Zionis, menjadi sasaran serangan Hizbullah.

"Sekarang seluruh tank, dan peralatan tempur Israel, berada di bawah jangkauan pasukan Hizbullah, dan pasukan perlawanan sudah mengantongi informasi berharga terkait posisi-posisi pasukan Israel," ujarnya.

Sekjen Hizbullah melanjutkan, berdasarkan informasi yang diretas pasukan perlawanan dari rumah sakit-rumah sakit Israel, lebih dari 2.000 tentara Israel, terluka, dan sejumlah banyak dari mereka mengalami luka berbahaya atau terpaksa diamputasi.

"Kami tahu menyembunyikan jumlah korban termasuk dari perang psikologis musuh sehingga tidak merasa malu di hadapan masyarakatnya, pasalnya apa yang terjadi adalah kehinaan nyata Israel, di medan tempur selatan," pungkasnya. 

Sabtu, 09 Desember 2023 08:42

Mohammad Shaif Mazandarani

 

Kali ini kami akan mengajak Anda mengenal salah satu ulama besar Syiah keturunan Mazandaran, Iran bernama Mohammad Shaif Mazandarani atau yang lebih dikenal dengan sebutan, Sharif al-Ulama Mazandarani.

Sharif al-Ulama Mazandarani juga dikenal sebagai penggagas ilmu ushul fikih dan guru besar Hauzah Ilmiah Karbala yang telah mengeluarkan ratusan mujtahid dan ulama terkenal.

Sharif al-Ulama Mazandarai yang nama lengkapnya adalah Mohammad Sharif bin Hasan Ali Amoli Mazandarari Hairi lahir di Karbala, Irak tahun 1200 H. Ayahnya adalah Mulla Hasan Ali Amoli, salah satu ulama saleh di zamannya dan asli dari Mazandaran, Iran dan hijrah ke Karbala untuk melanjutkan pendidikannya dan belajar dari ulama terkenal saat itu.

Mohammad Sharif mempelajari dasar-dasar ilmu agama di Karbala dan kemudian melanjutkan pendidikannya di bawah asuhan Sayid Mohammad Mujahid dan Sayid Ali Tabatabai yang dikenal dengan sebutan Sahib Riyad. Kemudian ia bersama ayahnya berpindah-pindah dari Hauzah Ilmiah Irak dan Iran untuk menuntut ilmu di bawah bimbingan ulama terkenal. Di kota-kota seperti Najaf, Baghdad, Mashhad, Qom dan Tehran, Mohammad Sharif belajar di bawah ulama terkenal zaman itu, dan terkadang di sejumlah kota ia hanya menetap selama satu bulan. Mohammad Sharif di penghujung perjalanannya ini berakhir di kota Mashhad di Khurasan dan setelah berziarah ke makam suci Imam Ridha as, ia kembali ke Karbala dan belajar kembali di bawah bimbingan guru besarnya, Sahib Riyad.

Mohammad Sharif Mazandarani setelah menyelesaikan masa pendidikannya, ia mulai mengajar dan aktif membimbing murid-muridnya serta mereka yang haus akan maarif Ahlul Bait as. Tak butuh waktu yang lama, kelas Mohammad Sharif Mazandari dipenuhi pelajar dan mereka yang haus ilmu, dan menurut catatan sejarah, jumlah mudir ulama ini mencapai seribu orang.

Hauzah ilmiah Karbala di zaman Mohammad Sharif Mazandarani mencapai kejayaan ilmiahnya, dan ulama besar seperti Sheikh Ansari, Sahib Dzawabid, Fadhil Darbandi dan puluhan mujtahid besar lainnya belajar dari ulama ini. Meski demikian, ulama besar ini masih tetap melanjutkan belajarnya di bawah bimbingan guru besar Ali Sahib Riyad, dan senantiasa merasa membutuhkan bimbingannya.

Ketinggian ilmiah Mulla Mohammad Sharif Mazandarani terkait pembahasan fikik dan kekuatan pemahaman serta interpretasi serta ingatannya yang sangatkuta, membuat dirinya dikenal sebagai marja agama yang mumpuni dan unggul di zamannya. Ia di kalangan guru dan murid-muridnya dikenal dengan sebutan Sharif al-Ulama. Anugerah ilahi disamping dengan upaya tak kenal henti serta siang dan malam Sharif al-Ulama yang disertai dengan keikhlasannya dalam beribadah dan penghambaan kepada Tuhan, telah membuat sinar keilmuan bersinar di hati ulama ini. Ia juga berhasil meletakkan dasar-dasar fikih dan ushul fikih baru dengan bersandar pada al-Quran, hadis, akal dan ijma'. Ini adalah kebanggaan ilmiah terbesar Sharif al-Ulama bersama murid-muridnya.

Salah satu karakteristik Sharif al-Ulama dalah kemampuannya yang luar biasa dalam berdebat dan keindahan tutur katanya. Ulama mulia yang menguasai ilmu fikih, hadits dan ilmu-ilmu agama lainnya ini juga sukses dan mengagumkan dalam menjawab pertanyaan, sanggahan dan keraguan ilmiah yang dilontarkan dalam pertemuan-pertemuan ilmiah atau di tingkat masyarakat. Menurut kesaksian orang-orang sezaman dan murid-muridnya, siapa pun yang berdebat dengannya, Sharif al-Ulama pasti akan memenangkannya, dan dia dapat membuktikan kepada orang lain apa yang dia yakini benar dari sudut pandang sains dan yurisprudensi, dan menjawab pertanyaan mereka dan menghapus keberatan dan menepis klaim palsu dengan alasan yang jelas.

Guru hebat ini berusaha memperkuat kemampuan diskusi dan respon pada murid-muridnya. Metode pengajarannya adalah setelah mengajar, ia menugaskan salah satu muridnya yang terpandang untuk mempresentasikan kembali pelajaran yang sama sehingga jika ada ketidakjelasan dapat diselesaikan. Kemudian ia membagi murid-muridnya menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari beberapa orang sehingga mereka dapat saling mendiskusikan materi yang disampaikan dalam pelajaran yang sama dalam satu hari satu malam.

Metode diskusi di seminari (Hauzah Ilmiah) merupakan metode belajar yang terkenal dan populer. Para guru besar ilmu agama menyarankan empat tahap agar pelajaran tetap dalam ingatan dan pemahaman yang lebih baik: "pra-membaca" yang berlangsung sebelum awal pelajaran, "menghadiri pelajaran", "belajar setelah pelajaran" dan akhirnya "diskusi ". Dalam sesi diskusi, satu orang bertugas untuk menceritakan kembali pelajaran sebelumnya, dan yang lainnya mengkritik, melakukan kesalahan, dan mengoreksi. Di satu sisi, diskusi adalah cara untuk lebih memahami pelajaran dan memecahkan masalah dengan lebih baik dan benar, dan di sisi lain, itu adalah cara untuk melatih dan memperkuat ekspresi dan teknik berbicara. Selain itu, ini adalah semacam praktik untuk kelas dan pengajaran. Dalam beberapa tahun terakhir, karena perkembangan metodologi dan penyediaan fasilitas seperti pencatatan pelajaran dan kemungkinan akses cepat ke bahan pelajaran, tradisi ini menjadi kurang penting, dan masalah ini perlu diperhatikan.

Terlepas dari keahlian khususnya dalam ilmu-ilmu Islam dan dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu prinsip, master yang luar biasa ini tidak meninggalkan karya tulis lain kecuali risalah tentang masalah perintah dan kewajiban. Dia percaya bahwa pelatihan siswa elit jauh lebih penting daripada menulis buku, dan karya berharga yang ditulis oleh para sarjana adalah hasil dari upaya guru mereka.

Diketahui bahwa ia biasa berkata: "Tugas saya adalah melatih siswa dan mendidik yang terpelajar, dan apa yang Anda tulis siswa sebenarnya adalah hasil usaha saya." Semangat luhur Sharif al-Ulama untuk mendidik para santri elit membuatnya mengadakan dua majelis ilmu setiap hari, satu majelis untuk mahasiswa umum dan satu majelis khusus untuk mahasiswa unggulan, yang mencakup topik-topik ilmiah yang lebih kompleks dan berat. Sementara ulama lain ada yang belajar setiap hari bahkan ada yang satu atau dua minggu sekali.

Bagi murid-muridnya, Sharif al-Ulama tidak hanya ahli dalam pelajaran dan diskusi, tetapi seperti seorang ayah yang baik hati, ia memperhatikan pendidikan, masalah hidup, dan bahkan mata pencaharian mereka. Diceritakan ketika salah satu murid elitnya bernama Mulla Ismail Yazdi menderita epilepsi, dia membawakannya seorang dokter dari Baghdad dan menghabiskan banyak uang untuk mengobatinya. Mullah Ismail Yazdi, setelah kematian Sharif al-Ulama, menggantikan guru untuk sementara dan mengajar menggantikannya.

Tentu saja, seorang guru dengan gelar akademik tersebut; Dia memiliki gaya hidup khusus. Sosok yang ribuan orang berlutut di pelajarannya setiap hari, dan para tokoh terhormat dan tetua menganggapnya sebagai pengecualian dari zaman di bidang pengetahuan dan kesalehan. Dikatakan bahwa dia biasa menghabiskan berjam-jam di malam hari untuk belajar dan berpikir, dan lampu bacanya hanya dimatikan sebentar pada malam hari. Ia tidak tertarik untuk sering silaturahmi dan bergaul dengan gaya yang biasa di antara orang-orang untuk menghabiskan waktu, dan sebaliknya ia mencoba mengadakan pertemuan, duduk dan bangun di bidang pembelajaran dan peningkatan diri serta mematuhi Tuhan.

Sesuai dengan kondisi dan kebutuhan saat itu serta sesuai dengan kemampuan dan bakat mereka, Sharif al-Ulama telah menciptakan tugas untuk dirinya sendiri dan ia berusaha melakukan yang terbaik untuk memenuhi tugas tersebut. Ia bahkan tidak menerima tugas sebagai imam jamaah. Masalah ini mungkin karena intensitas kesalehannya, atau mungkin karena kebutuhan untuk fokus pada masalah pengajaran dan administrasi seminari (Hauzah). Karena imam jamaah, suka atau tidak suka, mengemban beberapa tugas sosial khusus, seperti menangani masalah sehari-hari masyarakat dan tersedia untuk mereka. Dan mungkin saja ulama yang mulia ini lebih memilih menghabiskan seluruh waktunya untuk mengajar dan mendidik para santri yang berbudi luhur dan menyerahkan kepemimpinan imam jamaah kepada ulama lainnya.

Sharif al-Ulama Mazandarani setelah bertahun-tahun usaha keras menyebakan agama dan fikih Ahlul Bait as, serta mendidik ratusan mujtahid Syiah, pada tahun 1245 H meninggal dunia di usia 50-an. Prestasi Sharif al-Ulama dalam mendidik ratusan mujtahid Syiah ini dilakukan dalam usianya yang singat. Saat itu, wabah melanda Karbala dan berbagai kota di sekitarnya. Sepertinya istri dan dua anak Sharif al-Ulama juga meninggal akibat wabah ini.

Jenazah suci ulama besar ini dikebumikan di Karbala, di ruang bawah tanah rumahnya sendiri. Setelah meninggalnya Sharif al-Ulama, Hauzah Ilmiah Karbala mulai mengalami kemunduran dan kehilangan prestasinya sebangai pusat hauzah ilmiah Syiah. Ribuan santri dan murid yang haus akan pengetahuan dan maarif Ahlul Bait as kemudian pindah ke Hauzah Ilmiah Najaf, serta menimba ilmu dari Sahib Jawahir.

Meski Sharif al-Ulama tidak meninggalkan keturunan dan anak, tapi putra-putra sepiritualnya yang saat ini giat menimbal ilmu di Hauzah dan mempelajari ajaran dan pemikirannya sangat banyak.

Sabtu, 09 Desember 2023 08:39

Ayatullah Muhammad-Hasan al-Najafi

 

Ayatullah Muhammad-Hasan al-Najafi atau yang dikenal dengan Sahib al-Jawahir adalah ulama besar Syiah dan jenius abad 13 Hijriah. Karya terbesar dan yang membuatnya terkenal adalah Jawahir al-Kalam, sehingga ia dikenal sebagai Sahib al-Jawahir.

Pengaruh Sahib al-Jawahir dalam menghidupkan fikih asli dan murni Syiah sangat besar sehingga ulama terkenal setelahnya seperti Imam Khomeini ra, mengenalkan fikih asli Syiah dengan fikih Jawahiri. Penyebutkan fikih Jawahiri mengacu pada metode ilmu fikih yang sepenuhnya berpegang pada asas dan kaidah fikih, sekaligus mampu menjawab persoalan-persoalan baru yang muncul di berbagai bidang personal dan sosial, dengan berpijak pada prinsip dan aturan yang sama.

Usul fikih berarti asas-asas dan kaidah-kaidah yang dapat digunakan oleh seorang ahli hukum untuk memperoleh hukum-hukum agama dari teks ayat dan riwayat. Sebagian aturan tersebut merupakan aturan rasional dan logis, dan sebagian lainnya merupakan aturan yang telah ditentukan dalam ayat dan hadis. Ahli hukum Syiah menekankan penerapan prinsip dan aturan ini dan percaya bahwa jika seorang ahli hukum ingin menyimpulkan hukum agama (istinbat hukum) dari al-Quran dan hadis serta riwayat tanpa mengikuti aturan ini, maka kemungkinan penyimpangan dalam pendapatnya akan sangat tinggi. Para ahli hukum Syiah menganggap pengabaian ini sebagai bahaya besar bagi prinsip agama.

Usul fikih yang merupakan salah satu mata pelajaran utama seminari (Hauzah Ilmiah) telah digunakan oleh para ahli hukum sejak awal sejarah fikih Syiah, dan seiring berjalannya waktu, upaya para ahli hukum telah menambah kekayaannya dan memberinya lebih banyak disiplin. Salah seorang yang memiliki peran unik dalam menghidupkan kembali usul fikih dan menerapkannya secara sangat sistematis, tepat dan ilmiah dalam istinbat hukum, adalah Sheikh Muhammad Hassan Najafi "Sahib Jawahir".

Dalam buku besarnya Jawahir al-Kalam, yang sebenarnya merupakan ensiklopedia fikih Syiah, ia menunjukkan cara yang benar dalam menerapkan aturan dan prinsip-prinsip fikih (usul fikik) dengan penguasaan penuh dan menunjukkan kekuatan fikih otentik dalam istinbat hukum ilahi dengan benar dan menanggapi masalah baru sesuai dengan kebutuhan waktu. Pentingnya hal ini menjadi jelas ketika kita mengetahui bahwa dalam beberapa periode sejarah, termasuk pada masa Sahib Jawahir; beberapa arus yurisprudensi (maktab fikih), termasuk Akhbari; Mereka menentang penggunaan prinsip dan aturan fikih dan percaya bahwa satu-satunya sumber bagi kita untuk mencapai keputusan ilahi adalah teks ayat dan hadits, dan kita tidak boleh mengikuti prinsip dan aturan logis dan rasional dalam memahami teks-teks ini. Jika arus ini menguasai pendapat para ulama dan orang biasa, hal itu dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada agama Islam dan mazhab Ahlubait as.

Jawahir al-Kalam sebenarnya adalah sebuah interpretasi (tafsir) atas kitab Sharayi' al-Islam karya Muhaqqiq al-Hilli (ahli hukum (faqih) Syiah besar di abad ke-7 H). Buku ini mencakup semua bab fikih dan memiliki kelengkapan di bidang fikih; Itu membuat peneliti tidak perlu dari buku lain. Dalam Jawahir al-Kalam disebutkan pendapat fikih, sebagian besar ahli fikih masa lalu; dan pendapat tersebut diperiksa dengan cermat dan bahkan kritis. Juga, isi buku-buku dan teks-teks fikih penting sebelumnya telah dikutip dan dianalisis dalam buku ini. Frasa buku ini diungkapkan dalam bahasa yang sederhana dan argumennya jelas dan ekspresif. Meskipun Jawahir al-Kalam ditulis sebagai gambaran kitab Sharayi' al-Islam dan bahkan dari segi bentuk dan judulnya mengikuti kitab Sharayi', namun luas dan dalamnya uraian ini telah mencerna kitab Sharayi' itu sendiri.

Penulisan buku sebanyak dua puluh ribu halaman ini, yang setiap halamannya memuat topik-topik yurisprudensi yang terperinci telah berlangsung selama tiga puluh tahun. Muhaddith Qomi dalam kitabnya Al-Fawa'id al-Radawiyya mengatakan bahwa penulisan kitab ini merupakan salah satu keajaiban zaman. Sejak buku ini ditulis, telah dianggap sebagai inti dari bahtsul kharij (kelas khusus mujtahid) dan perlu bagi para ahli hukum untuk merujuknya. Beberapa ahli hukum kontemporer, seperti Ayatullah Muhammad Taqi Behjat, juga mendasarkan seluruh pelajaran bahtsul kharij (kelas khusus mujtahid) mereka pada kitab Jawahir al-Kalam.

Salah satu pendapat penting Sahib Jawahir dalam karya ini adalah pendapat mengenai perwalian mutlak ahli hukum (Wilayatul Faqih) selama tidak adanya Imam Maksum as. Ahli fikih yang bijak ini percaya bahwa otoritas ahli hukum (Wialyatul Faqih) adalah hal yang diterima dan diakui di kalangan ulama Syiah, dan arti penguasa (hakim) dalam kata-kata mereka adalah ahli hukum (faqih) yang menjadi wakil imam selama ketidakhadirannya. Dia menganggap perwalian ulama sebagai kelanjutan dari pergerakan para nabi ilahi dan imam yang sempurna.

Terkait hal ini Sahib Jawahir menulis,"Jika perwalian umum (Wilayah al-A'amah) dari ahli hukum tidak terwujud, banyak urusan Syiah akan ditutup." Ia telah membuktikan perlunya perwalian faqih (Wilayatul Faqih) baik melalui riwayat maupun ijma’, dan ia meyakini bahwa hanya mereka yang belum mencicipi fiqih dan belum memahami apa-apa dari perkataan para imam Syi’ah maksum yang meragukan wilayatul faqih.

Meskipun hampir dua abad telah berlalu sejak Jawahir al-Kalam ditulis, buku ini masih mempertahankan posisinya yang tinggi di kalangan ulama dan ahli hukum Syiah. Imam Khomeini  mengatakan tentang buku ini: "Sahib Jawahir telah menulis buku sedemikian rupa sehingga jika seratus orang ingin menulisnya, mereka mungkin tidak dapat menanganinya." Meskipun dia bukan penghuni istana (yaitu, dia tidak memiliki fasilitas yang lengkap), beliau memiliki rumah yang sederhana dan sibuk menulis buku Jawahir al-Kalam di sebuah ruangan yang ditiup angin panas.

Allamah Syahid Mutahhari berkata tentang kehebatan Jawahir dan posisinya,"Itu bisa disebut ensiklopedia fikih Syiah." Sekarang, tidak ada ahli hukum yang menganggap dirinya tanpa kitab Jawahir... Sahib Jawahir bekerja tanpa lelah selama tiga puluh tahun untuk menciptakan karya yang begitu hebat. Buku ini merupakan perwujudan kejeniusan, usaha, ketekunan, cinta dan keyakinan seseorang dalam pekerjaannya sendiri.

Apa rahasia keabadian buku hebat ini? Dan bagaimana Sahib Jawahir mencapai kesuksesan seperti itu? Mengapa, di antara semua interprestasi dan tafsir kitab "Sharayi'", hanya kitab Jawahir al-Kalam yang bersinar? Sebagai tanggapan, harus diakui bahwa tanpa keraguan, jika ketulusan, kemurnian batin, ketekunan, keuletan, dan pertolongan ilahi tidak dimiliki manusia ilahi yang agung ini, dia pasti tidak akan dapat menulis dan menyelesaikan karyanya ini. Dia menghadapi banyak kesulitan di jalannya ini.

Muhaddith Qomi menyebutkan bahwa Sahib Jawahir sibuk menulis selama berjam-jam siang dan malam untuk mengarang karya yang begitu hebat, dan putra sulungnya, yang juga pemilik rahmat dan kesempurnaan, telah mengambil alih sebagian besar tanggung jawab ayahnya sehingga ia bisa nyaman menulis. Namun putra saleh ini tiba-tiba meninggal dunia dan Sheikh Muhammad Hassan diliputi kesedihan yang luar biasa. Meskipun Sahib Jawahir sangat terganggu dengan kejadian ini, tetapi dia begitu bertekad untuk menulis buku penting ini sehingga bahkan di samping jenazah putranya, dia tidak mengabaikan beberapa menit antara urusan kain kafan dan penguburan dan mulai menulis. Bagaimana sebuah karya dengan tingkat kepentingan dan kehebatan seperti ini ditulis tanpa tekad besar dan kuat seperti ini ?

Sheikh Muhammad Hassan sendiri mengatakan bahwa setelah kematian anak ini, dunia menjadi gelap di mata saya dan dada saya sesak karena kesedihan dan saya sangat bingung. Dalam situasi tertekan seperti itu, saya membuka lidah saya untuk berterima kasih kepada Tuhan dan memberikan hati saya kepada-Nya. Setelah ucapan terima kasih dan kepercayaan ini, pintu belas kasihan Tuhan dibukakan untuk saya dan pekerjaan saya selesai. Ya, dia memiliki tujuan yang sangat suci dan dia lebih memilih mengabdi pada mazhab Ahlulbait as daripada hal penting lainnya dalam hidup, keikhlasannya membuatnya mampu mengatasi kesulitan dan tantangan serta tetap teguh pada jalannya. Begitulah cara dia berhasil menulis ensiklopedia fikih Syiah terbesar. Sebuah ensiklopedia yang oleh para cendekiawan besar sesudahnya menganggap tulisannya seperti keajaiban.

Makam Sahib Jawahir di kota Najaf al-Ashraf
Setelah bertahun-tahun berusaha keras dan berjuang dalam menyebarkan aliran Ahulbait as, sementara banyak muridnya bersinar di sudut tanah Syiah, dan sementara karya uniknya seperti Jawahir al-Kalam seperti harta berharga di tangan ulama dan ahli hukum, akhirnya pada 1366 H di Najaf Ashraf, Sheikh Muhammad Hassan Sahib Jawahir menerima panggilan Tuhan dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Makam ulama besar di Najaf ini menjadi tempat ziarah para pecinta Mazhab Ahlulbait as.

Sabtu, 09 Desember 2023 08:38

Sheikh Murtadha al-Ansari

 

Sheikh Murtadha al-Ansari salah satu ulama fikih dan Syiah terkenal abad 13 H. Melalui inovasinya, ilmu usul fiqih dan fikih Syiah memasuki babak baru. Oleh karena itu, ia dikenal dengan sebutan Khatam al-Fuqaha wal Mujtahidin serta Sheikh Adham.

Sheikh Murtadha al-Ansari salah satu ulama terkenal Syiah abad 13 H. Salah satu karya terkenal marja besar Syiah ini adalah kitab al-Makasib dan Rasail yang kini menjadi pelajaran wajib di seminari (Hauzah Ilmiah) Syiah.

Sheikh Murtadha al-Ansari dilahirkan pada tahun 1214 H di kota Dezful, salah satu kota di selatan Iran. Mengingat kelahirannya bertepatan dengan Hari Raya Ghadir Khum, dan untuk menghormati Imam Ali as, maka ia diberi nama Murtadha. Ayahnya bernama Mohammad Amin al-Ansari, salah satu ulama terkenal dan keturunan Jabir bin Abdullah al-Ansari, sahabat terkenal Rasulullah Saw, dan ibunya juga muslimah yang bertakwa dan dari keluarga ulama serta taat agama.

Sheikh Murtadha Ansari
Sebelum kelahiran Murtadha al-Ansari, ibunya dalam mimpinya bertemu dengan Imam Shadiq as dan beliau memberi hadiah al-Quran kepadanya. Ia kemudian menceritakan mimpinya tersebut kepada salah satu anak ulama terkenal. Oleh karena itu, ia kemudian selalu menyusui sang anak ini dalam kondisi suci dan dengan wudhu, serta berusaha keras dalam mendidiknya.

Murtadha mempelajari ajaran Al -Qur'an dan Islam sejak kanak-kanak dan menjadi master dalam ilmu fikih dan usul fiqih sebelum usia dua puluh dan pergi ke Karbala pada saat yang sama. Dia sekarang adalah pemuda yang anggun dan berbakat karena bakatnya dalam ilmu pengetahuan, dan  di Irak menjadi perhatian ulama besar seperti Allamah Mohammad Mujahid, pemimpin Hauzah Ilmiah Karbala, dan ia menetap di Karbala atas permintaan ulama besar ini untuk melanjutkan pendidikannya.

Sheikh Murtadha di daerah Karbala belajar di bawah bimbingan guru besar seperti Allamah Mujahid, Sharif Mazandarani dan Sheikh Musa Kashf ul-Ghita, dan saat itu, meski ia telah menjadi Mujtahid, ia tetap kembali ke Iran untuk belajar dari ulama Iran yang hebat. Dia pergi ke Kashan dan menghadiri kelas Mullah Ahmad al-Naraqi dan kemudian pergi ke Isfahan dan menghadiri kelas Hujjatul Islam Shafti.

Sheikh Murtadha al-Ansari, rela menderita dan jauh dari keluarga demi menuntut ilmu Ahul Bait as dan pindah dari satu kota ke kota lain. Dan di mana pun ia menemukan ulama yang mumpuni, ia pun rela menghadiri pelajarannya, dan berkat kesalehan dan kecerdasan, Sheikh Murtadha mencapai posisi tinggi sampai ia tidak lagi menemukan guru yang melebihi kemampuannya di hauzah ilmiah (seminari).

Setelah Sheikh Murtadha al-Ansari setelah menguasai pelajaran guru besar Hauzah Ilmiah, ia kembali ke Dezful dan mulai mengajar dan mengepalai seminari. Tapi jiwanya yang besar tidak mau tenang, Sheikh Murtadha kembali memutuskan untuk kembali ke Irak. Kali ini, ibu dari Sheikh, yang telah merindukan anaknya selama bertahun-tahun, menyatakan ketidakpuasan dan memintanya untuk tinggal di Dezful. Sheikh tinggal bersama ibunya untuk sementara waktu, tetapi tugas yang dia rasakan di bahunya telah mengambil darinya. Sheikh Murtadha tahu posisi ilmiah dan kemampuan serta bakat yang dimilikinya dalam fikih, usul fiqih dan ilmu agama lainnya adalah berkah dari Tuhan dan ia memikul tugas berat karena berkah ini, tugas untuk menjaga aliran dan mazhab Ahlul Bait as. Oleh karena itu, ia berbicara dengan ibunya dan akhirnya ia melakukan istikharah.

Sheikh Ansari mengambil al-Quran dan dengan yang diinginkan ibunya, ia membuka Kitab Suci ini. Jawaban dari istikharah tersebut adalah ayat ini:

وَ لا تَخافِی وَ لا تَحْزَنِی إِنَّا رَادُّوهُ إِلَیک وَ جاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِین

Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (QS: 28: 7)

Ayat ini ditujukan kepada ibu Nabi Musa as, dan berkaitan dengan pengiriman anaknya ke laut. Dengan demikian ayat ini membuat ibu Sheikh Ansari tenang. Ia seorang perempuan mukminah dan menyakini bahwa jauh dari anak karena ia ingin mendapatkan keridhaan Tuhan. Sheikh Ansari tahun 1249 H saat berusia 35 tahun, untuk selamanya hijrah ke Irak dan melanjutkan pelajarannya.

Selama masa ini, keutamaan dan kesempurnaannya untuk para pelajar dan guru besar besar seminari Syiah di Iran dan Irak telah diklarifikasi. Pada bulan Rajab 1266 H, ketika Sahib Jawahir, marja dan ulama besar Syiah sakit, dan di jam-jam terakhir usianya, ia mengundang ulama Najaf. Para ulama dan mujtahid tiba di hadapan Sahib Jawahir. Ketika Sahib Jawahir tidak melihat Sheikh Murtadha dalam kelompok ulama ini, dia mengirim seseorang untuk mencarinya.

Ternyata saat itu, Sheikh Murtadha tengah berada di makam Imam Ali as dan bertawasul kepadanya dan berdoa supaya sang guru besar ini tidak melimpahkan tugas marja Syiah kepadanya. Sheikh Murtadha kemudian mengunjungi gurunya yang tengah sakit ini. Dalam pertemuan tersebut, Sahib Jawahir di tengah para ulama dan mujtahid Syiah menoleh ke Sheikh Murtadha dan berkata, "Saya akan menyerahkan kepadamu urusan agama yang berhubungan dengan saya, dan ini adalah amanat Tuhan yang dipercayakan kepadamu. Setelah saya, Kamu akan menjadi marja taqlid Syiah. "

Dengan demikian, dengan persetujuan Sahib Jawahir, yang memiliki kebesaran di antara para ulama Syiah, Sheikh Ansari menjadi ketua seminari Najaf dan menjadi marja Syiah selama 15 tahun dari 1266 H hingga 1281 H.

Sheikh Ansari memiliki banyak karya tulis, di mana setiap ulama dan peniliti Syiah wajib untuk mempelajari karya ini. Karya paling terkenal Sheikh Ansari adalah kitab al-Makasib dan Rasail. Kitab al-Makasib menjadi kitab terpenting fikih Syiah di bidang muamalah, dan menjadi mata pelajaran wajib Hauzah Ilmiah Syiah sejak penulisan hingga saat ini. Dalam kitab ini, penulis membahas bab muamalah dengan argumentatif, dan pendapat para ulama fikih sebelumnya dikaji dan dianalisa.

Sheikh Ansari dalam bukunya al-Makasib membahas tiga isu utama;

1. Makasib Muharamah (yakni perdagangan dan muamalah yang diharamkan dalam Islam)

2. Bai' atau pembahasan jual beli.

3. Khiyarat (Hak yang diberikan kepada pihak yang bertansaksi atau bermuamalah untuk membatalkan muamalahnya).

Di akhir pembahasan kitab Makasib juga dibahas bab lain seperti keadilan, warisan, pernikahan dan lainnya. Ulama terkenal seperti Akhund Khurasani, Mirza Mohammad Taqi Shirazi, Muhaqiq Naini dan lainnya juga menulis syarah atau catatan untuk kitab ini. Karya penting lain Sheikh Ansari adalah Faraid al-Usul atau Rasail yang mencakup pembahasan logis (aqli) Usul Fiqih. Kitab ini juga termasuk mata pelajaran penting seminari Syiah dan banyak ulama Usul Fiqih menulis syarah dan catatan untuk kitab ini.

Sheikh Ansari memiliki kelas yang ramai dihadiri para santri, dan dikutip bahwa setiap pelajarannya dihadiri sekitar 500 orang, dan ada yang menyebutkan bahwa santri yang belajar langsung darinya sekitar seribu orang, di antaranya adalah karakter terkemuka yang menonjol dan setiap dari mereka menjadi pemimpin komunitas Syiah di berbagai sudut dunia Syiah. Di antara murid tersebut adalah Ayatullah Mirza Shirazi, Ayatullah Kooh Kamari Tabrizi, guru besar Hauzah Ilmiah Najaf, Ayatullah Mohammad Kazem Khorasani Shahib Kifayah al-Usul, Sayid Jamaluddin Asadabadi pejuang anti-kolonialisme dan pendiri Persatuan Islam.

Lembaran emas dari kehidupan Sheikh Murtadha Ansari tidak terbatas pada ketinggian ilmu dan potensi besarnya di bidang ilmu fikih dan usul fiqih. Membahas sisi kehidpan dan kepribadian besar hamba saleh yang mewakafkan usinya selama bertahun-tahun untuk mempelajari dan menyebarkan ajaran Islam murni Muhammadi serta ajaran Ahlul Bait as tidak dapat diringkas dalam beberapa program saja. Kita membutuhkan kesempatan lebih untuk mengkaji sosok ulama besar ini.

 

Abad 14 Hijriah dapat disebut sebagai masa keemasan ilmu pengetahuan dan maraknya Hauzah Ilmiah di dunia Syiah. Di masa ini, banyak ulama dan tokoh terkenal di Iran dan berbagai wilayah Islam lainnya.

Di antara tokoh terkenal di abad ini adalah Ayatullah Sheikh Abu al-Hasan Mohammad Baqir Qa'ini Birjandi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Muhaddits Birjandi, seorang ahli fikih, sastra, syair dan teologi besar.

Mohammad Baqir dilahirkan pada Rabiul Awwal tahun 1276 H atau bertepatan dengan tahun 1238 Hijriah Syamsiah di desa Gazar, kota Birjand, Khorasan selatan saat ini. Keluarganya adalah orang berpengatuan, ahli ilmu, terhormat, penyair dan ahli sastra. Kakeknya baik dari ayah maupun ibu adalah ulama dan ahli zuhud yang senantiasa melawan kezaliman dan tempat berlindung bagi orang-orang tertindas.


Ayah Mohammad Hasan Qa'ani adalah salah satu ulama terkenal di daerah Birjand dan guru dari banyak ulama. Kakeknya, Mulla Muhammad Baqir termasuk salah satu murid Allamah Majlisi dan ia memiliki perpustakaan besar, dan terbakar dalam kerusuhan di akhir masa pemerintahan Dinasti Safawiyah serta banyak kitab yang berharga dirampok.

Allamah belajar di bawah bimbingan kakeknya hingga berusia 12 tahun, dan ia belajar sastra dan ilmu-ilmu dasar darinya. Kemudian Allamah belajar ilmu lanjutan di sekolah Ja'fariyah Qa'in. Kira-kira dua setengah tahun setelah Allamah berada di sekolah ini, suatu hari salah satu pejabat pemerintah datang ke sekolah Ja'fariayh dan meminta guru sekolah ini untuk menyelesaikan sejumlah masalah pajak, tapi tidak ada yang mampu memberi jawaban yang memuaskan. Tapi hanya Sheikh Mohammad Baqir yang masih belia mampu memberi jawaban yang memuaskan. Hal ini membuatnya dikirim ke Madrasah Mirza Ja'far di kota Mashhad.

Mohammad Baqir Qa'ani selama enam tahun penuh belajar fikih, usul fikih, filsafat dan teologi (kalam) di bahwa bimbingan ulama besar Mashad, dan di usia 20 tahun beliau menuju kota Najaf, Irak untuk melanjutkan belajar di Hauzah Ilmiah Najaf. Ia belajar di Hauzah Ilmiah Najaf selama empat tahun dan di tahun 1300 H, ia pergi ke Samarra dan belajar di bawah bimbingan Ayatullah Mirza Shirazi, ulama dan marja Syiah waktu itu selama enam tahun.

Allamah Mohammad Baqir Birjandi
Mohammad Baqir Qa'ani atas instruksi gurunya, Mirza Shirazi, menulis kitab Watsiqah al-Fuqaha (وثیقة الفقهاء). Setelah menyelesaikan jilid pertama, ia menyerahkannya kepada sang guru. Mirza Shirazi mempelajari buku tersebut selama satu hingga dua bulan. Kemudian Mirza Shirazi sangat puas dengan karya muridnya ini dan mendorongnya untuk melanjutkan karyanya tersebut.

Ketika berusia 30 tahun, Mohammad Baqir Qa'ani menyelesaikan pelajarannya di Irak dan ia melakukan perjalanan ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian ia kembali ke kota kelahirannya, Birjand dan menikah. Di kota Birjand, tokoh dan pemuka agama memintanya untuk manjadi hakim syar'i dan menjadi rujukan masyarakat dalam menyelesaikan masalah mereka dan penerimaan khumus serta hal-hal lain. Akhirnya beliau menerima tanggung jawab ini setelah mendapat ijin dari gurunya.

Pada hari-hari pertama kedatangan Allamah di Birjand, Amir Alam, penguasa Birjand, mengundangnya ke sebuah pertemuan. Mullah Ibrahim Hanafi, salah satu ulama Sunni, juga hadir dalam majelis ini. Ia yang dikenal banyak bicara dan berdebat serta selalu terlibat perdebatan dengan ulama Syiah, kali ini berdebat dengan Allamah Birjandi tentang masalah Imamah. Perdebatan ini diakhiri dengan kemenangan Allamah atas Mullah Ibrahim dan peristiwa ini membuat Allamah terkenal di kalangan masyarakat.

Madrasah Mirza Ja'afr di Mashad
Setelah itu, semua orang di wilayah Qa'in dan Birjand bahkan orang Afghanistan, dari Sunni Hanafi dan Syiah, merujuknya dalam masalah agama, dan dia mengeluarkan fatwa tersendiri menurut agama masing-masing. Kejadian ini menyebabkan Allamah Birjandi diberi gelar "Mufti al-Fariqain"  (Mufti dua kelompok) dalam pidato resmi para ulama Herat dan pemerintah Afghanistan. Sejak itu, pendapat dan keputusannya menjadi keputusan akhir tentang banyak masalah sosial.

Hampir tiga tahun berlalu sejak kehadiran Allamah di Birjand, ketika Amir Alam, penguasa Birjand, meninggal dunia, dan kedua putranya berselisih tentang pengambilalihan kekuasaan sang ayah. Masing-masing pendukung mencoba menambah api perselisihan ini untuk mencapai kepentingan mereka sendiri, perselisihan ini akan berubah menjadi perang skala penuh di wilayah Qa'inat dan Sistan, namun mediasi Allamah Mohammad Baqir Birjandi menyebabkan perselisihan berakhir dan perdamaian dan keamanan ke daerah pulih.

Allamah Mohammad Baqir Birjandi, selain mengajar dan melatih murid-muridnya setiap hari, juga aktif menulis buku-buku tentang mata pelajaran penting seperti fikih dan usul fikih, sejarah, tafsir, hadits, teologi dan sastra, hingga sekitar 62 karyanya tersisa, manuskrip Allameh sendiri tersedia di perpustakaan mendiang Ayatullah al-Udzma Marashi Najafi, salah satu muridnya, di kota suci Qom.

Salah satu kitab penting dan terkenal yang ditulis oleh Allamah Mohammad Baqir Birjandi adalah kitab کِبْریت اَحْمَر فی شَرائط الْمَنْبَر. Kitab ini membahas tata cara menyampaikan khutbah dan wejangan, manfaat dan posisi mimbar serta keutamaan wejangan dan nasihat. Poin lain yang disebutkan beliau di bukunya ini dan sangat ditekankan adalah bukan sembarang orang berhak untuk duduk di mimbar dan menyampaikan wejangan kepada masyarakat. Beliau menyebutkan 20 poin dan karakteristik bagi mereka yang ingin duduk di mimbar dan memberi nasehat kepada orang lain.

Di bagian lain buku ini, Allamah Mohammad Baqir Birjandi berjuang melawan distorsi Asyura. Di bagian ini, dia menyelidiki Muqatil dan mengkritik beberapa distorsi Asyura. Buku ini telah diterbitkan berkali-kali di Iran dan India dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu.

Almarhum Allamah Birjandi, selain posisinya yang tinggi dalam ilmu-ilmu Islam, ia juga seorang sastrawan yang menulis puisi dalam bahasa Arab dan Persia. Puisi-puisinya yang disusun oleh putranya, Ayatullah Sheikh Mohammad Hossein Ayati Ziyaei, berjumlah sekitar dua ribu bait. Nama belakangnya dalam puisi-puisi ini terkadang "Safi" dan terkadang "Aasi".

Allameh Birjandi sangat percaya bahwa setiap orang harus siap untuk hari Jihad, sehingga wajib mempelajari teknik militer. Dia sendiri akan mengambil senapannya setiap hari dan pergi ke padang pasir bersama sekelompok tetua kota untuk berlatih menembak dan bertarung. Dia bahkan membayar beberapa pemuda dari dana zakat dan agama untuk menjadi ahli menembak dan mengajar orang lain.

Perpustakaan Ayatullah Marashi Najafi di Qom
Memiliki pendapat seperti itu dan, yang lebih penting, berpegang pada pendapat ini dalam praktik, bisa sangat berbahaya pada saat itu, karena Allamah Birjandi hidup dalam periode sejarah yang bertepatan dengan banyaknya orang asing di Iran dan arogansi mereka karena  pemborosan raja-raja Qajar membuat warga Iran menderita kekacauan politik dan ekonomi dan dihadapkan pada peradangan yang disebabkan oleh kemunduran kerajaan Qajar.

Dalam situasi sosial seperti ini, persiapan kaum muda untuk berperang dan berjihad oleh seorang ulama berpengaruh bisa menjadi bahaya besar bagi mereka yang berkuasa. Pemberitaan aksi Allamah Birjandi ini dimuat dalam beberapa terbitan surat kabar "Habl Al Matin", dan hal ini menyebabkan dia berada di bawah pelindung (baju besi) antara penguasa dan pejabat pemerintah.

Akhirnya Allamah Mohammad Baqir Birjanjdi pada malam Jumat 14 Zulhijjah 1352 H meninggal dunia pada usia 76 tahun. Jenazah beliau dimandikan di Madrasah Ma'sumiyah Birjand dan proses pemakamannya dihadiri banyak pelayat serta digelar dengan agung. Meninggalnya Allamah Birjandi membuat Hauzah Ilmiah Qom dan banyak kota di Iran berduka, serta mereka menggelar majlis duka. Ayatullah Marashi Najafi juga menggelar acara duka di Madrasa Faiziyah mengenang guru tercintanya tersebut.