کمالوندی
Rusia dan Mesir Sepakati Penghapusan Dolar
Duta Besar Rusia untuk Mesir menyatakan bahwa Moskow dan Kairo sedang berkonsultasi mengenai penggunaan mata uang nasional masing-masing untuk menggantikan dolar dalam perdagangan bersama mereka.
Duta Besar Rusia untuk Mesir, Georgy Borisenko dalam sebuah wawancara dengan Sputnik hari Sabtu (11/2/2023) mengatakan bahwa konsultasi antara Moskow dan Kairo tentang penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan bersama telah dilanjutkan pada musim semi 2022.
"Negara-negara Barat menggunakan mata uang mereka untuk tujuan geopolitik," ujar Brisenko.
Diplomat Rusia menambahkan bahwa Moskow menekankan perlunya bergerak di jalur perdagangan luar negeri untuk menghapuskan dolar dalam transaksi perdagangan internasional.
Pada tahun 2018, Rusia telah mengesahkan aturan mengenai penghapusan dolar dalam transaksi perdagangan luar negerinya.
Selama enam tahun, aturan ini mulai dijalankan secara bertahap demi mengurangi ketergantungan negaranya terhadap dolar dalam pembayaran transaksi perdagangan luar negeri.
Uskup Kristen Apostolik Iran: Orang Eropa Tukang Fitnah Bukan Kristen
Uksup Agung Gereja Apostolik Armenia Isfahan dan Iran Selatan mengatakan, orang-orang Eropa yang menyebarkan fitnah di Iran, dengan mengatasnamakan agama Kristen dan budaya Eropa, bukan orang Kristen.
Uskup Sepian Kashchian, Sabtu (28/1/2023) menuturkan, "Sungguh disesalkan seorang tokoh di Eropa melakukan perbuatan melawan agama, dan semua perhatian media dunia tersedot kepadanya, padahal Kristen dan Islam di Iran hidup berdampingan secara damai."
Menurutnya umat Kristen dan Islam di Iran, hidup bersama sebagai saudara dan sahabat dekat karena sama-sama penganut agama monotheis, terutama di Isfahan.
"Banyak yang tidak ingin menyaksikan kedekatan dan persaudaraan umat Islam dan Kristen di Iran, terutama di Isfahan, maka dari itu mereka mengaburkan realitas, dan menyebarkan fitnah," imbuhnya.
Pada saat yang sama Uskup Sepian Kashchian berterimakasih kepada pemerintah Republik Islam Iran yang sudah bekerja sama dengan umat Kristen negara ini secara bersahabat, dan penuh ketulusan.
Raisi: Hubungan Tehran dan Baku Tidak Terpengaruh Provokasi Destruktif
Sayid Ebrahim Raisi, Presiden Iran dalam percakapan telepon dengan Elham Aliyev, Presiden Republik Azerbaijan, mengatakan bahwa Tehran dan Baku tidak akan membiarkan hubungan mereka dipengaruhi oleh provokasi pihak-pihak yang beritikad buruk dan destruktif.
Serangan bersenjata terhadap Kedutaan Besar Republik Azerbaijan di Tehran hari Jumat menyebabkan seorang penjaga keamanan tewas, dan dua penjaga lainnya terluka.
Dalam pernyataan pertamanya, penyerang menyebut motif pribadi sebagai alasan penyerangan ini.
Menurut Kantor Berita Iran Press, Sayid Ebrahim Raisi dalam percakapan telepon dengan Presiden Republik Azerbaijan Ilham Aliyev pada Sabtu (28/1/2023) malam menyampaikan belasungkawa dari pemerintah dan rakyat Iran atas insiden di Kedutaan Besar Republik Azerbaijan di Tehran.
Raisi menjelaskan institusi terkait sedang menindaklanjuti dimensi peristiwa tersebut.
Raisi juga mengungkapkan bahwa hubungan persahabatan dan persaudaraan antara kedua negara didasarkan pada ikatan budaya dan sejarah yang tidak dapat dipisahkan.
"Pemerintah Iran dan Azerbaijan tidak akan membiarkan hubungan bilateral dipengaruhi oleh provokasi pihak-pihak yang beritikad buruk terhadap kedua negara," ujar Raisi.
Dalam percakapan telepon ini, Presiden Republik Azerbaijan, Ilham Aliyev, mengucapkan terima kasih atas simpati dan belasungkawa presiden Iran kepada pemerintah dan rakyat negaranya, dan juga menyebut serangan terhadap kedutaan negaranya di Tehran tidak terduga.
Ia juga menegaskan kerjasama antara kedua negara di bidang ini sehingga peristiwa serupa tidak boleh dijadikan alasan untuk mengganggu hubungan persahabatan kedua negara.
Rahbar Kunjungi Pameran Produk-Produk Dalam Negeri Iran
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, mengunjungi pameran produk-produk dalam negeri dari berbagai sektor industri, selama tiga jam.
Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Sabtu (28/1/2023) mengujungi pameran produk-produk dalam negeri Iran, yang diselenggarakan dalam kerangka slogan tahun ini yaitu "Produksi, Perusahaan Berbasis Sains, dan Pembukaan Lapangan Kerja".
Dalam kesempatan ini berbagai produk dalam negeri Iran dipamerkan yang berasal dari berbagai industri, mulai dari industri pertambangan dan eksplorasi, elektronik dan komunikasi, antariksa dan satelit, otomotif, pertanian dan pangan, peternakan ikan, industri listrik dan pembangkit listrik, pembangunan bendungan dan proyek-proyek pengelolaan air, teknologi informasi dan komunikasi, transportasi kereta api, transportasi darat, udara dan laut, perumahan, minyak dan petrokimia, hingga peralatan rumah tangga, dan tekstil.
Dalam pameran ini sejumlah kementerian pemerintah Iran, termasuk Kementerian Industri, Pertambangan dan Perdagangan, Kementerian Energi, Kementerian Perminyakan, dan Kementerian Komunikasi danTeknologi Informasi, memamerkan produk-produk mereka.
Menteri Industri, Pertambangan dan Perdagangan Iran Fatemi Amin mendampingi Rahbar dalam kunjungan itu, dan memberikan penjelasan seputar kemampuan industri dalam negeri Iran.
Rahbar menetapkan tahun 1401 Hijriah Syamsiah (21 Maret 2022-19 Februari 2023) sebagai tahun "Produksi, Perusahaan Berbasis Sains, dan Pembukaan Lapangan Kerja".
Kaviani: AL Militer Iran Kibarkan Bendera di Amerika Latin
Wakil Komandan Angkatan Laut Militer Iran mengatakan, Armada AL Militer Iran sudah mengibarkan bendera negara ini di wilayah barat Amerika Latin.
Laksamana Hamzeh Ali Kaviani, Sabtu (28/1/2023) menuturkan, "Kekuatan Iran Islami, dari hari ke hari terus bertambah di tengah semua tekanan yang dilakukan sejak 44 tahun lalu ."
Ia menambahkan, "Armada AL Militer Iran sudah mengibarkan bendera Iran, di wilayah Barat, Amerika Latin, dan AL Militer Iran, juga hadir di utara Samudra Hindia."
Menurut Laksamana Kaviani, kekuatan dan kemuliaan Republik Islam Iran, hari ini diperoleh berkat darah syuhada, dan para pejuang.
"Target musuh selama lebih dari empat dekade terakhir adalah meruntuhkan Iran Islami. Mereka mengatakan Revolusi Islam tidak akan sampai 40 tahun, akan tetapi musuh gagal meraih targetnya, dan sistem pemerintahan Islam di Iran, terus bertambah kuat dari hari ke hari," paparnya.
Wakil Komandan AL Militer Iran menjelaskan, kehadiran pasukan AS yang katanya untuk mengubah nasib masyarakat di negara-negara dunia seperti Vietnam, Afghanistan, Suriah dan Irak, ternyata hanya membawa kehancuran dan migrasi.
"Pemikiran imperialisme Barat harus dilawan dengan pemikiran Islam yang teladannya adalah para syuhada," pungkasnya.
Serangan terhadap Industri Pertahanan di Isfahan Berhasil Ditangkal
Kementerian Pertahanan Republik Islam Iran menyatakan bahwa salah satu kompleks industri pertahanan di Isfahan diserang, tapi berhasil ditangkal.
Kementerian pertahanan Iran dalam pernyataan hari Sabtu (28/1/2023) mengatakan, sebuah serangan udara terjadi di kompleks industri pertahanan Isfahan pada pukul 21:50, tapi berhasil ditangkal.
"Serangan ini tidak menimbulkan korban, dan hanya terjadi kerusakan kecil pada plafon bengkel yang tidak menyebabkan masalah serius," tegasnya.
Kementerian Pertahanan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran memastikan bahwa upaya penjagaan semua fasitas keamanan dan pertahanan dilakukan dengan baik.
Upaya Sejumlah Media Baku Rusak Hubungan Iran dan Azerbaijan
Seorang bersenjata pada hari Jumat (28/1/2023) menyerang Kedubes Republik Azerbaijan di Tehran.
Sekaitan dengan insiden ini, otoritas Republik Islam Iran mengutuk serangan bersenjata tersebut dan berjanji menindaklanjuti masalah ini dengan transparan.
Sekaitan dengan ini, Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, menyusul serangan oknum bersenjata ke Kedubes Republik Azerbaijan dengan motif yang sepenuhnya pribadi, menegaskan kesiapan Tehran untuk memperjalas dimensi indisiden Kedebus Baku ini.
Selain itu, Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi selah mendengar berita menyedihkan ini, langsung menginstruksikan penyelidikan total. Berbagai otoritas terkait dengan masalah ini juga menekankan janji untuk menyelidiki dan menindaklanjuti berkas pelaku serangan.
Menlu Hossein Amir-Abdollahian saat menjenguk korban terluka dalam serangan ke Kedubes Azerbaijan
Menlu Iran saat jumpa pers membantah isu pengosongan Kedubes Republik Azerbaijan di Tehran dan mengatakan, "Kami akan berusaha supaya level hbungan yang ada tetap dipertahankan, ketenangan mental akan pulih ke lingkungan psikologis, dan keputusan terbaik akan diambil." Menlu Iran juga menolak tegas insiden ini sebuah aksi teroris, dan mengatakan, "Insiden ini dipicu oleh motif pribadi."
Sekaitan dengan ini, dalam kontak telepon Amir-Abdollahian dengan sejawatnya dari Republik Azerbaijan, Jeyhun Bayramov, usulan kerja sama Iran antara lembaga keamanan dan peradilan kedua negara terkait penyerangan kedutaan disambut baik dan diapresiasi oleh pihak Azerbaijan.
Tekad otoritas Republik Islam Iran untuk mengatasi masalah ini dan menyatakan posisi yang jelas bersama dengan kecaman atas tindakan bersenjata ini adalah untuk menjaga hubungan bilateral dan mencegah kehancuran hubungan antara dua negara Muslim yang bertetangga. Sebelumnya, otoritas Tehran selalu menekankan untuk menjaga hubungan timbal balik dalam menghadapi tekanan media yang tidak perlu dan perang verbal yang dilakukan untuk menghancurkan hubungan timbal balik. Meskipun demikian, pernyataan yang dianggap buruk dan serangan media Baku berlangsung dengan cara yang begitu serius dan mendesak sehingga dapat merusak hubungan bilateral.
Kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa seiring dengan serangan hebat, media Baku terus-menerus menggunakan kebohongan dalam tindakan yang tidak konstruktif. Sementara pelaku serangan ke Kedutaan Besar Republik Azerbaijan di Tehran telah mengakui bahwa pada bulan Maret tahun lalu, istrinya pergi ke Kedutaan Besar Republik Azerbaijan di Tehran, tetapi dia belum kembali ke rumah selama hampir setahun. Media Baku diam dalam hal ini. Bahkan otoritas Baku lebih memilih untuk tetap diam dan berbohong menghubungkan peristiwa pahit ini dengan masalah teroris.
Pada saat yang sama, media Baku, dalam tindakan pencegahan dan tergesa-gesa dalam berita awal mereka, mengaitkan penembakan seseorang dengan alasan pribadi ke kedutaan Republik Azerbaijan di Tehran sebagai serangan teroris dan mencoba menghubungkan peristiwa ini ke institusi pemerintah Iran. Jelas bahwa cara menyebarkan berita tentang analisis yang salah ini mengarahkan opini publik Republik Azerbaijan ke skenario yang telah direncanakan sebelumnya. Meskipun skenario ini tampak salah dan mencurigakan.
Sementara itu, sejumlah rezim tidak sah dan pemerintah asing mendorong pemerintah dan rakyat Muslim dan Syiah Republik Azerbaijan untuk lebih menghancurkan hubungan kedua negara tetangga, di mana hal ini tidak selaras dengan kepentingan nasional Iran dan Republik Azerbaijan.
Meski ada upaya tak jantan dan pengecut media-media Baku, Hossein Amir-Abdollahian usai menjenguk korban terluka di insiden serangan ke Kedubes Republik Azerbaijan di Tehran, di akun Twitternya menulis, "Selama kunjungan ke rumah sakit, Saya mendapat informasi mengenai proses pengobatan dan perawatan staf Kedubes Republik Azerbaijan. Selain itu, selama kontak telepon dengan Saudara Jeyhun Bayramov, Saya menyampaikan pesan belasungkawa Presiden Raisi."
Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian juga menulis, "Republik Islam Iran siap bekerja sama untuk memperjelas dan mengungkap dimensi peristiwa ini. Saya mengucapkan belasungkawa kepada pemerintah dan bangsa sahabat serta saudara kami atas peristiwa pahit ini."
Statemen ramah menlu Iran ini bukan saka tidak dirilis dan dipublikasikan oleh media-media yang berafiliasi dengan arus Zionisme internasional dan Turkisme, bahkan media-media Baku berusaha merilis dan menganalisa berita untuk kepentingan asing. Mungkin saja metode penciptaan musuh dan mengenalkan musuh rakyat Muslim Republik Azerbaijan sebagai teman untuk jangka pendek tidak akan banyak menimbulkan pengaruh bagi kepentingan nasional rakyat Aras utara, tapi tak diragukan lagi bahwa untuk jangka menengah dan panjang, hal ini akan sangat merugikan kepentingan nasional Republik Azerbaijan.
Taliban Larang Perempuan Ikuti Ujian Masuk Universitas
Kementerian Pendidikan Tinggi Taliban Afghanistan dalam sebuah surat yang ditujukan kepada lembaga pendidikan tinggi negeri dan swasta di Afghanistan, melarang perempuan mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian masuk universitas.
Larangan partisipasi anak perempuan dalam ujian masuk universitas sebagai bagian dari kelanjutan tindakan kelompok ini untuk mencegah anak perempuan belajar di atas kelas enam dan kehadiran anak perempuan di universitas, yang memicu kemarahan berbagai kalangan dalam dan luar negeri.
Media Afghanistan melaporkan, berdasarkan pengumuman Wakil kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi Taliban, yang beredar di jejaring sosial hari Sabtu (28/1/2023) mengumumkan bahwa universitas dan lembaga pendidikan swasta tidak memiliki hak untuk menerima pendaftaran perempuan mengikuti ujian masuk universitas yang akan berlangsung di musim semi.
Dalam surat Kementerian Pendidikan Tinggi Taliban juga disebutkan bahwa perguruan tinggi dan lembaga pendidikan swasta wajib menginformasikan kementerian ini dan Penyelenggara Ujian Nasional lima hari sebelum ujian masuk, agar ada panitia bersama yang memantau jalannya proses ujian masuk untuk memantau kinerja mereka.
Perintah baru ini dikeluarkan saat Menteri Dalam Negeri Taliban Sirajuddin Haqqani mengumumkan beberapa hari lalu bahwa pengecualian perempuan dari pendidikan dan pekerjaan tidak bersifat permanen, melainkan perbedaan pandangan dalam sistem pendidikan Taliban yang akan diselesaikan.
Netanyahu Akui Kewalahan Hadapi Perlawanan Palestina
Perdana Menteri Rezim Zionis, Benjamin Netanyahu mengakui ketidakmampuannya meredam aksi perlawanan Palestina, terutama yang terjadi di Quds, dan menyebutnya sebagai serangan terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Media rezim Zionis Jumat malam melaporkan seorang warga Palestina menyerang pemukim Zionis di daerah Nabi Yaqoub di utara Quds, yang menewaskan setidaknya tujuh orang Zionis, dan melukai 10 orang.
Serangan itu terjadi ketika Tepi Barat Yordan menjadi sasaran serangan pasukan rezim Zionis yang menyebabkan 11 warga Palestina gugur dan 20 lainnya terluka.
Perdana Menteri Rezim Zionis, Benjamin Netanyahu dalam reaksi pertamanya terhadap operasi kesyahidan pemuda Palestina di Quds hari Sabtu (28/1/2023) mengatakan, "Kita membutuhkan persatuan dan ketenangan dalam mengambil keputusan. Semua angkatan dari tentara, kepolisian, dan pasukan keamanan akan bertindak berdasarkan perintah kabinet,".
"Kami telah menyaksikan serangan terburuk dalam beberapa tahun terakhir," ujar Netanyahu.
"Operasi individu (Palestina melawan Zionis) menjadi masalah yang menimbulkan kekhawatiran institusi keamanan," tegasnya.
Televisi Israel kanal 12 melaporkan, bahwa kabinet Israel hari ini mengadakan rapat untuk membahas insiden terbaru di Quds.
Setelah Operasi Quds, beberapa media Zionis menyerang Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel, Itmar Ben Gvir, dan menggambarkan tindakan provokatifnya sebagai pemicu eskalasi ketegangan di Palestina pendudukan.
Menteri Perang Zionis Yoav Galant juga memerintahkan semua pasukan rezim untuk waspada dan menyerukan pasukan untuk melindungi kota-kota Zionis.
Ma'ali Gugur Syahid, Pejuang-Pejuang Palestina Keluarkan Pernyataan
Kelompok-kelompok Palestina mengutuk keras pembunuhan seorang warga Palestina di Ramallah oleh pasukan rezim Zionis Israel.
Tentara rezim Zionis menembak mati Tareq Ma'ali di Ras Karkar, sebelah barat kota Ramallah, Tepi Barat pada hari Sabtu (21/1/2023).
Pembunuhan itu dilakukan dengan alasan Tareq berencana melakukan operasi perlawanan dengan menggunakan senjata tajam.
"Selain mengucapkan bela sungkawa atas kesyahidan Tareq Ma'ali, kami menekankan bahwa bangsa Palestina telah mengintensifkan kebangkitannya terhadap rezim penjajah dan akan terus berjuang sampai kehancuran pendudukan," tegas Gerakan Perlawanan Islam Palestina Hamas dalam pernyataannya, seperti dilansir Mehrnews mengutip media Palestina.
Sementara itu, Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina juga menekankan dalam sebuah pernyataan bahwa kebijakan eksekusi lapangan oleh penjajah Zionis terhadap warga Palestina tidak akan berhenti kecuali dengan tanggapan politik dan perlawanan yang tegas.
Gerakan Mujahidin Palestina juga mengomentari kesyahidan Ma'ali dengan mengeluarkan sebuah pernyataan.
"Kami turut berduka atas kesyahidan Ma'ali dan kami menegaskan bahwa para syuhada pahlawan Palestina adalah pelopor kemenangan dan pembebasan," kata Gerakan Mujahidin Palestina dalam pernyataannya.
Di sisi lain, komite-komite perlawanan Palestina mengumumkan bahwa darah para syuhada tidak akan sia-sia, tetapi akan menggempur Zionis hingga akhirnya berujung pada pengusiran dan kehancuran Zionis.
Gerakan Ahrar Palestina juga menanggapi insiden penembakan di Ras Karkar dan menulis, kesyahidan Tariq Ma'ali adalah kejahatan pengecut yang mewakili puncak terorisme dan kebrutalan masyarakat Zionis.
Serangan militer Zionis telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir di berbagai wilayah Tepi Barat, terutama Jenin dan Nablus, dan selama serangan ini puluhan warga Palestina telah gugur syahid dan ratusan lainnya terluka.
Warga Palestina juga menanggapi kejahatan tersebut dengan meningkatkan operasi-operasi anti-Zionis.




























