کمالوندی
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Baqarah Ayat 204-209
Ayat ke-204:
Artinya:
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan persaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras.
Ayat ini menyinggung kemunafikan sekelompok Munafikin dan menjelaskan bahwa sebagian masyarakat menyatakan keimanan dengan ucapan dan mereka berbicara tentang kehidupan dunia sedemikian rupa, sehingga orang-orang Mukmin terkesan dan hormat dengan ucapan-ucapan mereka. Al-Quran mengingatkan soal bahayanya orang-orang Munafik tadi dan menganjurkan Muslimin agar waspada dan tidak mempercayai mereka itu. Mereka tidak memiliki iman di dalam hati, melainkan mereka bermusuhan terhadap Muslimin, namun mereka menyembunyikan permusuhan tersebut.
Dari ayat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa jangan kita termakan tipuan ucapan-ucapan indah dan propaganda-propaganda menarik. Kita harus lihat apakah mendasari motif pembicara tadi dan apa tujuannya, adakah pembicaraannya tersebut memperkuat sifat materialisme di dalam diri kita, atau sebaliknya mengingatkan kita kepada Allah Swt.
Ayat ke-205:
Artinya:
Dan apabila ia berpaling dari kamu, ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.
Orang-orang yang berbicara dengan ucapan-ucapan yang indah dan berjanji, jika mereka sampai pada kursi kekuasaan, maka akan meluaskan kesejahteraan dan keamanan di dalam masyarakat, ketika mereka benar-benar berhasil menduduki kursi kekuasaan, guna memiliki harta yang banyak, mereka mengelabukan dan membuat rakyat menderita.
Selain ekonomi masyarakat yang mereka hancurkan, dan juga generasi muda tersesatkan karena ulah mereka.
Al-Quran di dalam ayat-ayat lain menyatakan, setiap kali orang-orang shalih mendapat kekuasaan, mereka berpikir untuk memperbaiki agama dan dunia rakyatnya, selain memperkokohkan shalat yang merupakan refleksi terbaik hubungan makhluk dengan Allah, juga menguatkan masyarakat dengan mengeluarkan zakat, yaitu hubungan dengan rakyat dan orang-orang tertindas.
Dari ayat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa dalam menghadapi orang lain, jangan memperhatikan ucapan mereka saja, melainkan kita harus melihat, bagaimana tindak-tanduk mereka. Adakah mereka bekerja untuk kebaikan masyarakat ataupun menyebabkan luasnya kefasadan di tengah rakyat.
Ayat ke-206-207:
Artinya:
Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa, maka cukuplah balasannya neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hambaNya.
Melanjuti ayat-ayat sebelumnya berkaitan dengan kezaliman dan kefasadan Munafikin yang ahli dalam menipu. Ayat 206 menyingung tentang kesombongan mereka dan menyatakan bahwa sekiranya ada orang yang menasehati dan mencegah orang Munafik tadi agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Di sini, bukan saja ia tidak mau mendengar nasehat, malah semakin jadi melakukan perbuatan-perbutan fasad dan tak segan-segan melakukan segala tindakan. Namun, di balik manusia-manusia sombong dan mabuk dunia ini, ada orang-orang yang berjiwa suci dan pasrah serta taat kepada perintah Allah dan bersedia berkorban jiwa di jalan keridhaan Allah.
Di dalam kitab tafsir, disebutkan bahwa orang-orang Musyrik memutuskan untuk melakukan serangan terhadap rumah Rasul pada malam hari dengan tujuan membunuh beliau. Rasul mengetahui niat keji itu melalui wahyu dan berniat untuk segera keluar dari Mekkah. Namun agar para musuh tidak mencium kepergian beliau, Ali bin Abi Talib tidur di pembaringan Rasul dan berkorban jiwa untuk utusan Allah. Maka turunlah ayat 207 dan malam bersejarah itu dinamakan "Laylatul-Mabit"
Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Salah satu dari penyebab terulangnya dosa adalah kesombongan dan fanatisme serta keangkuhan terhadap kebenaran yang sepatutnya bertaubat dan menyesali, malah menambah tumpukan dosa.
2. Orang Mukmin adalah ahli berbuat. Ia melakukan transaksi dengan Allah dengan mencari keridhaan Allah, akan tetapi orang munafik bertransaksi dengan uang dan harta dunia, dan motifasinya adalah memperoleh keridhaan makhluk.
Ayat ke-208-209:
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang dari jalan Allah, sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.
Ayat ini menyeru orang-orang Mukmin kepada perdamaian dan ketenangan supaya masyarakat Islam menjadi seubah masyarakat yang akrab dan kompak serta membuang jauh-jauh perselisihan yang merupakan pedang setan guna menciptakan kebencian dan perpecahan. Pada umumnya, hal-hal seperti keturunan, bahasa dan kekayaan serta perbedaan-perbedaan lahiriyah dan materi menjadi sebab dan rangsangan bagi menuntut superioritas dan keunggulan dan hanya keimanan kepada Allah jualah yang dapat melahirkan kesatuan jiwa dan menjamin perdamaian yang sejati.
Dengan alasan itulah, dengan bersandar kepada argumentasi-argumentasi yang jelas dari sumber akal dan wahyu mengenai pentingnya menjauhi langkah-langkah syaitan, maka setiap perbuatan yang menghancurkan keharmonisan, kedamaian dan ketenangan sosial Islam, merupakan penyelewengan dari iman dan orang semacam ini harus tahu bahwa di hadapannya ada Allah yang Maha kuasa dan bijaksana.
Dari dua ayat tadi terdapat duapelajaran yang dapat dipetik:
1. Kedamaian dan ketenangan hanya mungkin diwujudkan di bawah naungan keimanan yang sejati, dan tanpa iman serta bergantung kepada peraturan-peraturan buatan manusia, maka perang dan ketidakamanan tidak akan dapat disirnakan di muka bumi.
2. Setan adalah musuh persatuan dan setiap seruan yang bersifat memecah belah, adalah keluar dari tenggorokan syaitan.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Baqarah Ayat 197-203
Ayat ke 197
Artinya:
Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasi dan berbantah-bantahan di dalm masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaku hari orang-orang yang berakal.
Upacara-upacara haji setiap tahunnya, hanya sekali, itupun pada zaman tertentu dan setiap orang yang pergi ke haji, maka sejak awal, maka ia harus menyiapkan kebersihan kesucian, dan takwa sebagai bekal perjalanan spiritual dan disusul dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan menjauhi dosa.
Mekah adalah basis keamanan, persatuan dan ibadah. Maka di hari-hari Haji, lingkungan ini harus disucikan dari pertikaian dan konflik atau perbuatan dosa ataupun melakukan hubungan seksual agar pintu untuk pendekatan diri kepada Allah terbuka.
Ayat ke 198-199
Artinya:
Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia rezki hasil perniagaan dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram dan berdzikirlah dengan menyebut Allah sebagaimana yang ditunjukkannya kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.
Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam ayat-ayat tadi dinyatakan bahwa melakukan perbuatan-perbuatan yang membahayakan keamanan dan persatuan Muslimin, adalah dilarang, namun ayat ini berbeda dengan keyakinan Arab Jahiliyah yang memandang setiap bentuk transaksi adalah dosa di hari-hari Haji. Al-Quran menyatakan bahwa pelaksanaan urusan ekonomi dan transaksi yang merupakan tuntutan pelaksanaan acara ini bukan saja boleh, bahkan diperlukan.
Dalam pada itu, ayat al-Quran menjelaskan salah satu lagi dari hukum haji yaitu bergerak dari Arafah menuju Masy'aril Haram dan Allah berfirman bahwa pertama dalam perjalanan ini harus senantiasa mengingat Allah sehingga Allah dapat menyelamatkan kalian dari kesesatan dan diberi petunjuk ke jalan Allah. Kedua, secara berkelompok dan bersama-sama dan janganlah kalian merasa berhak mendapat superioritas dari orang lain.
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Islam adalah agama sempurna dan di samping ibadah ritual seperti Haji, ia juga memperhatikan sisi kehidupan material, pencarian nafkah masyarakat.
2. Di dalam perjalanan, kita harus mengambil manfaat dari nikmat-nikmat material, namun jangan sampai kita melupakan Allah.
3. Di dalam Haji, pangkat atau status pribadi disingkirkan, dan semua harus seperti lainnya dan bersama-sama merampungkan upacara tadi.
Ayat ke 200-202
Artinya:
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek-moyangmu atau bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka diantara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia", dan tiadalah baginya bagian yang menyenangkan di akhirat.
Dan diantara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka." Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat tepat perhitunganNya.
Di dalam sejarah disebutkan bahwa orang-orang Arab pra-Islam setelah usai menunaikan upacara-upacara haji, mereka berkumpul di suatu tempat dan masing-masing dari mereka membangga-banggakan kaum dan kabilah serta nenek-moyangnya. Al-Quran menyatakan: "Sebagai ganti berbangga-bangga dengan nenek-moyang, ingatlah Allah; syukurilah nikmat-nikmat terdahulu dan mohonlah masa depanmu kepadaNya."
Selanjutnya al-Quran menambahkan bahwa masyarakat terbagi dua kelompok, satu kelompok yang setelah rampung menunaikan amalan-amalan haji, mereka hanya memikirkan soal duniawi dan kebutuhan-kebutuhan materi dan tidak memohon kepada Allah sesuatu selain itu. Sudah sewajarnya, jika kelompok ini nanti pada hari kiamat dikala manusia memerlukan segala sesuatu, berada dalam keadaan tangan kosong.
Namun kelompok kedua di dalam doa-doanya, selain peduli terhadap dunia yang merupakan sarana untuk sampai kepada kesempurnaan, juga meminta kepada Allah pada hari kiamat nanti terselamatkan dari siksa neraka dan mendapat nasib khusnul khatimah.
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Di dalam berdoa kepada Allah, janganlah kita berpikiran pendek dan hanya melihat apa yang ada di depan kaki dan kehidupan beberapa hari di dunia.
2. Islam adalah agama pertengahan atau dalam istilah al-Quran umat Islam disebut dengan "ummatan washato". Islam adalah agama yang memperhatikan dua sisi kehidupan dunia maupun akhirat, sehingga orang Muslim harus memikirkan juga tentang kemajuan dan kesejahteraan material dirinya dan juga masyarakat.
3. Kita memohon kepada Allah kebaikan, kemaslahatan, dan kesejahteraan, bukannya kita menentukan perkara-perkara parsial dalam doa kita kepada Allah, karena kita tidak mengetahui masa depan kita sendiri dan apa yang menjadi kebaikan untuk kita.
Ayat ke 203
Artinya:
Dan berdzikirlah dengan menyebut Allah dalam beberapa hari yang berbilang, barang siapa yang ingin menangguhkan keberangkatannya dari dua hari itu, maka tiada dosa baginya, dan barang siapa yang ingin menangguhkan keberangkatannya dari dua hari itu, maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan kepadaNya.
Melanjutkan ayat sebelumnya yang menyatakan sebagai ganti berbangga-bangga dengan nenek-moyang di dalam upacara haji, maka ingatlah Allah, ayat ini menjelaskan momentnya.
Setelah upacara Idul Qurban pada hari kesepuluh bulan Dzulhijjah, hari kesebelas, kedua belas dan ketiga belas, para Hujjaj berada di padang Mina. Tempat itu merupakan kesempatan dan peluang yang sangat baik untuk bertafakkur dan tadabbur di alam semesta serta beribadafh dan bermunajat dengan Tuhan yang Maha Kuasa. Ayat ini mengingatkan dari pada menyebut-nyebut kecemerlangan dan kebanggaan-kebanggaan nenek-moyang dan keunggulan kaum atau kabilah, maka sebaiknya mereka mengingat Allah dan nikmat-nikmatNya.
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Jjika manusia ahli takwa dan kesucian, maka Allah tidak akan mempersulit urusannya.
2. Pekerjaan ahli takwa meskipun sedikit, akan diterima oleh Allah dan menutupi kekurangan dan kelemahan-kelemahan perbuatannya.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Baqarah Ayat 194-196
Ayat ke 194
Artinya:
Bulan Haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum Qishaash. Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
Dalam Islam perang diharamkan dalam 4 bulan. Bulan-bulan tersebut adalah Rajab, Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram. Orang-orang Musyrikin ingin menyalahgunakan hukum ilahi ini dan hendak memperdayakan Muslimin dengan menyerang mereka secara mendadak. Mereka tahu bahwa dalam bulan-bulan tadi, Muslimin tidak diijinkan berperang, namun mereka lalai bahwa kehormatan darah Muslimin lebih dari kehormatan bulan-bulan tadi dan siapa saja yang memecah kehormatan itu, maka harus diqishash dan dibalas dengan serupa.
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Pihak musuh senantiasa menanti kesempatan. Maka kita tidak boleh membiarkan mereka menyalahgunakan kesempatan.
2. Perjanjian-perjanjian dan kontrak sosial, harus dipelihara selagi pihak lain konsekuen dengan perjanjian itu, bukannya bermaksud menyalahgunakannya.
3. Dalam menghadapi musuh sekalipun, kita harus menjaga keadilan dan obyektif serta tidak melanggar batas-batas ilahi.
Ayat ke 195
Artinya:
Dan belanjakanlah harta bendamu di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah, menyukai orang-orang yang berbuat baik.
Ayat sebelumnya mengeluarkan perintah jihad dan menyikapi musuh dengan perbuatan serupa, namun jelas sekali, setiap perang tidak akan memungkinkan tanpa dukungan uang dan jika Muslimin tidak bersedia melepaskan harta dan jiwanya di jalan Allah, maka akan mengalami kekalahan dan binasa.
Di dalam keadaan aman dan damai sekalipun, jika orang-orang kaya tidak peduli dengan orang-orang tertindas dan lemah, dan tidak membayar khumus, zakat dan infak, maka sewajarnyalah bila kesenjangan sosial akan semakin melebar dan akan tercipta pelbgai bentuk ketidakamanan dan ketidakadilan dalam masyarakat.
Oleh yang demikian, infak dan ihsan kepada orang lain akan melahirkan keseimbangan kekayaan, atau bisa disebut dengan pemelihara kekayaan dan modal. Ali bin Abi Talib AS berkata, "Peliharalah harta kekayaan kalian dengan memberikan zakat".
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Setiap kali kebatilan telah menguasai, maka kehidupan dan kemuliaan masyarakat berada dalam ancaman bahaya dan kebinasaan.
2. Setiap pekerjaan yang membahayakan jiwa manusia, identik dengan sumber kebinasaan.
Ayat ke-196:
Artinya:
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang) oleh musuh atau karena sakit, maka sembelihlah korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah merasa aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji di dalam bulan haji, wajiblah ia menyembelih korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan binatang korban atau tidak mampu, maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh hari yang sempurna. Demikian itu kewajiban membayar fidyah bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada di sekitar Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekkah), dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaannya.
Sebagaimana yang telah diketahui, pengasas ibadah haji adalah Nabi Ibrahim as dan di tengah-tengah bangsa Arab, sejak zaman beliaulah, ibadah haji mulai membudaya. Islam juga mendukung tradisi tadi, maka dari itulah, wajib bagi setiap Muslim sekiranya mampu sekali dalam umurnya, pergi menunaikan ibadah haji.
Namun, umrah yang artinya ziarah, hanya wajib bagi orang yang masuk ke Mekah dan ia diwajibkan melakukan beberapa perbuatan ringan termasuk melakukan tawaf mengelilingi rumah Allah dan melaksanakan solat.
Melanjuti perintah pelaksanaan haji dan umrah, berangkat dari masalah ada kemungkinan di sepanjang perjalanan ibadah ini, pihak yang terkait mengalami kesulitan, ayat tersebut menjelaskan sebagian dari hukum untuk mereka agar jelas bahwa kewajiban-kewajiban Allah adalah di dalam batas kemampuan manusia dan Allah Swt tidak menginginkan dari hambanya sesuatu yagn ada di luar kemampuannya.
Islam tidak mengenal jalan buntu dan memiliki berbagai hukum yang sesuai dengan berbagai kondisi dan keadaan. Seseorang yang berhalangan melanjutkan amalan-amalan haji, maka sebagai gantinya, ia dapat melakukan puasa atau memberikan sedekah atau mengenyangkan fakir miskin dengan cara menyembelih kambing.
Tafsir al-Quran, Surat Al-Baqarah Ayat 188-193
Ayat ke 188
Artinya:
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.
Ayat ini berbicara tentang dosa besar penyebab ketidakadilan dan ketidakamanahan dalam ekonomi masyarakat. Dan kaum Muslimin sangat dilarang melakukan; satu, perlakuan yang tidak pantas terhadap harta milik orang lain. Dua, menyuap hakim supaya dapat menguasai harta orang lain.
Al-Quran menyebutnya dengan istilah "batil" dan "dosa". Perbuatan yang menurut akal tidak patut dan menurut syariat dosa dan haram. Ada sebagian orang demi supaya perbuatan itu tidak dianggap buruk, memberi nama "suap" dengan hadiah. Disebutkan dalam sejarah ada seorang "Tawwabi" datang ke rumah Ali as membawa sesuatu atas nama hadiah agar nanti di pengadilan hukum yang dijatuhkan bermanfaat bagi dirinya. Imam Ali mengatakan: "Demi Allah, seandainya diberikan langit kepadaku agar aku mengambil sebutir gandum dari mulut semut, sama sekali aku tidak akan melakukannya."
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Islam sangat menghormati harta milik pribadi dan tidak mengizinkan menguasai harta orang lain.
2. Kepemilikan harus didapatkan dengan jalan yang halal. Menguasai harta orang lain dengan jalan tidak benar, sekalipun ada hukum hakim tetap tidak menjadi miliknya.
3. Menyuap dan disuap adalah haram, dengan nama apapun baik, hadiah, maupun upah.
Ayat ke 189
Artinya:
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
Salat satu keistimewaan Islam adalah hukum-hukum dan peraturannya diatur berdasarkan hukum alami dan universal. Waktu shalat diatur berdasarkan terbit, terbenam dan bergesernya mataharidi tengah hari. Waktu bulan puasa Ramadhan, atau ibadah haji bulan Dzulhijjah, ditetapkan berdasarkan hilal, yaitu penanggalan bulan yang menyeluruh. Demikian pula manusia sangat memerlukan penanggalan hari-hari dan tahun dalam kehidupan pribadinya. Tibanya hilal, bulan baru merupakan acuan tanggalan bagi urusan dunia dan sekaligus sebagai saran untuk menentukan urusan-urusan ibadah mereka.
Sisi lain yang dipaparkan bersama dengan penentuan waktu-waktu haji, yaitu amalan-amalan khurafat kaum Musyrik sebelum Islam yaitu dikarenakan mereka mengira pakaian ihram adalah simbol pelepasan semua kebiasaan hidup, maka dalam suasana ihram, mereka tidak masuk rumah lewat jalan biasa, dan mereka menganggap itu sebagai perbuatan luhur.
Al-Quran menanggapi bahwa itu perbuatan khurafat yang kamu masukkan dalam urusan ibadat. Kalau kamu benar-benar mencari kebajikan, maka bertakwalah dan lakukanlah segala sesuatu dengan jalannya.
Seperti halnya untuk menentukan waktu dan tibanya musim haji kita memanfaatkan hilal bulan, demikian juga untuk melaksanakan peraturan-peraturan Tuhan, kita harus merujuk kepada para ulama, karena mereka adalah pintu-pintu pengenalan kebenaran dari kebatilan dan pintu rahmat Allah, dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu dan selera pribadi, karena kebahagiaan dan kesejahteraan terletak dalam menjauhi perintah hawa nafsu.
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Manusia harus menyusun program usianya berdasarkan waktu, sebagaimana Allah membagi masa dalam urusan ibadah manusia.
2. Perbuatan baik adalah perbuatan yang diperintahkan oleh akal dan syariat dan berdasarkan takwa, bukannya berlandaskan tradisi dan kebiasaan nenek moyang.
3. Perbuatan khurafat tidak boleh kita anggap sebagai perbuatan baik.
Ayat ke 190
Artinya:
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Membela diri di hadapan musuh merupakan hak utama manusia. Al-Quran selain menekankan untuk menghadapi segala bentuk arogansi, menyeru Muslimin sebelum peperangan agar mengajak musuh untuk memeluk Islam dan Muslimin tidak diperbolehkan memulai perang. Di dalam perang, Muslimin tidak boleh melukai anak-anak, wanita dan orang tua yang tidak terlibat langsung dalam peperangan dengan Muslimin. Mereka diwajibkan untuk menjaga perasaan dan kehormatan manusia.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Jihad harus di jalan Allah dan untuk Allah bukan untuk perluasan negarajajahan, ataupun berdasarkan pertikaian etnis.
2. Bahkan dalam perang, pemeliharaan keadilan tetap diperlukan dan tidak boleh melampaui batasan-batasan ilahi.
Ayat ke 191-192
Artinya:
Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.
Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat tadi memerintahkan kepada Muslimin agar memperlakukan orang-orang Musyrik Mekah sebagaimana Musyrikin tersebut memperlakukan Muslimin. Sebelum itu kaum Musyrikin Mekah telah mengusir Muslimin dari kota dan tanah arinya, serta memerangi Muslimin dengan begitu kejam dan dengan ungkapan al-Quran lebih buruk dari pembunuhan.
Namun demikian, guna menjaga kehormatan Masjidul Haram, Allah Swt tidak mengijinkan perang di sana, kecuali Musyrikin yang memulai perang di tempat suci tersebut, dan Muslimin diwajibkan membela diri di manapun tempatnya.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Muslimin harus melawan dan membela diri terhadap pihak-pihak yang ingin memukul Islam dalam berbagai peluang , dan janganlah kalian ijinkan mereka membuat segala makar dan konspirasi.
2. Kendati rumah Allah adalah terhormat, namun penghormatan orang Muslimin adalah lebih besar dan diperlukan penjagaannya.
3. Menghadapi dengan serupa adalah salah satu dasar Islam yang penting dalam kaitan dengan menghadapi musuh-musuh agama.
Ayat ke 193
Artinya:
Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.
Tujuan perang dan Jihad dalam Islam bukanlah penjajahan, pengkultusan kaum ataupun untuk memperoleh pampasan perang. Akan tetapi sebaliknya, tujuannya adalah menghapus kezaliman dan ekspansi serta menafikan simbol-simbol kekafiran, syirik dan khurafat supaya perwujudan keadilan dan pengarahan rakyat menuju Allah Swt dapat dicapai dan diwujudkan.
Oleh yang demikian, kita hanya akan berjihad melawan orang-orang yang bertujuan memerangi Islam dan melakukan gangguan terhadap Muslimin, sekiranya mereka tidak lagi mengganggu Muslimin, maka kita tidak akan memulai perang dan pada dasarnya, seseorang tidak akan mendapat gangguan semata-mata memiliki akidah selain Islam.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Untuk mendudukkan agama Allah di bumi, Muslimin harus berjihad melawan para penguasa zalim yang menyebarkan akidah batil.
2. Jalan taubat tidaklah tertutup bagi siapapun dan dalam kondisi apapun. Bahkan musuh kafir sekalipun, jika di tengah-tengah peperangan, ia bertaubat, maka Allah Swt akan memaafkannya.
Jihad Islam: Terimakasih Republik Islam Iran
Brigade al-Quds berterimakasih kepada Republik Islam Iran, karena negara ini tidak pernah menutup mata atas ketertindasan bangsa Palestina, dan karena Republik Islam gerakan perlawanan Islam Palestina mampu meluluhlantakkan jaringan komunikasi Tel Aviv.
Sayap militer Jihad Islam itu dalam konferensi persnya mengatakan, "Kemenangan yang diraih gerakan perlawanan Islam Palestina hari ini, pada kenyataannya adalah kemenangan para syuhada dan bangsa tegar berdiri mendukung gerakan perlawanan." Al-Alam (22/11) melaporkan.
"Tel Aviv hari ini sudah bukan benteng perkasa lagi bagi warga Zionis, akan tetapi sudah seperti mainan anak-anak di tangan gerakan perlawanan. Brigade Quds melesakkan 620 rudal dan roket ke distrik-distrik Israel dan mampu menghancurkan jaringan komunikasi kota itu."
"Kami berterimakasih kepada Republik Islam Iran karena dukungan finansial dan persenjataannya untuk gerakan perlawanan di Gaza. Iran tidak pernah menutup mata atas ketertindasan bangsa Palestina dalam membela tanah airnya," tegas al-Quds.
Kemenangan ini tercapai karena persatuan seluruh elemen perlawanan Palestina dalam menghadapi musuh. 10 pejuang terbaik Brigade AL-Quds gugur syahid. (IRIB Indonesia/HS)
Iran Catat Enam Kategori Pemain Terbaik Asia
Persepakbolaan Iran memiliki wakil di enam kategori nominasi pemain terbaik Asia 2012.
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengumumkan nama-nama kandidat pemain terbaik Asia dan Iran memiliki wakil di enam kategori. Demikian dilaporkan Fars News.
Di kategori anggota terbaik AFC, federasi sepak bola Iran akan bersaing dengan federasi sepak bola Jepang, Korea Selatan dan Qatar untuk memperebutkan gelar federasi Asia terbaik tahun 2012.
Di kategori permainan sportif, federasi sepak bola Iran bersama federasi sepak bola Australita dan Uzbekistan menjadi kandidat utama.
Alireza Faghani termasuk tiga kandidat peraih hadiah wasit terbaik tahun 2012 dan akan bersaing dengan Ravshan Sayfiddinovich Irmatov dari Uzbekistan dan Yuichi Nishimura dari Jepang.
Adapun timnas Futsal Iran bersama Jepang dan Thailand masuk sebagai nominasi peraih hadiah timas terbaik Asia 2012. Muhammad Keshavarz, pemain futsal Iran akan bersaing dengan Katsutoshi Rafael Henmi dari Jepang dan Suphawut Thueanklang dari Thailand.
Sebelumnya Ali Karimi dilaporkan masuk nominasi peraih hadiah pemain terbaik Asia tahun ini bersaing bersama Zheng Zhi dari China dan Lee Keun-ho dari Korea Selatan.
Pemain terbaik Asia tahun 2012 akan diumumkan Kamis depan (29/11) di Kuala Lumpur, Malaysia. (IRIB Indonesia/MF)
Pemerintah Perancis Khawatirkan Warganya yang Diculik di Mali
Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius mengatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui nasib seorang warga Perancis yang diculik oleh sekelompok teroris di barat Mali.
Menurut situs koran Le Journal du Dimanche, Fabius dalam wawancara dengan sebuah jaringan televisi pada Kamis (22/11) menyatakan bahwaGilberto Rodriguez, 61 tahun, masih hidup, tetapi ia mengaku tidak mengetahui kelompok mana yang menculiknya.
Ia menambahkan, ada kemungkinan Rodriguez diserahkan kepada milisi yang berkuasa di utara Mali.
Rodriguez diculik oleh enam orang bersenjata pada Selasa di dekat perbatasan Sinegal di Mali. Dengan demikian, jumlah warga Perancis yang diculik di kawasan ini mencapai tujuh orang.
Milisi bersenjata mengancam pemerintah Perancis akan membunuh semua sandra jika Paris melanjutkan dukungannya kepada operasi militer negara-negara Afrika di utara Mali. (IRIB Indonesia/RA)
Maliki Peringatkan Erdogan Jangan Intervensi Urusan Dalam Negerinya
Nouri Maliki, Perdana Menteri Irak menegur PM Turki, Recep Tayyip Erdogan lebih baik mengurusi masalah negaranya yang semakin menumpuk daripada ikut campur urusan dalam negeri Irak.
Maliki mengatakan, "Kondisi dalam negeri Turki dari hari ke hari semakin buruk, hak-hak minoritas dilanggar di negara itu, dan untuk menutupi krisis dalam negeri yang mengarah ke perang saudara itu, Erdogan menuduh Irak."
Ia juga meminta pemerintah Ankara menjauhi urusan yang tidak menguntungkan pihaknya, karena masyarakat Turki berharap perubahan politik di negara itu.
"Di Irak baru, fitnah mazhab tidak akan pernah ada lagi, dan minyak negara ini yang diklaim Erdogan berubah menjadi senjata dalam perang saudara adalah milik seluruh rakyat Irak," tegas Maliki.
Menurut Maliki, Turki lebih baik mengurus masalah dalam negerinya sendiri daripada mengintervensi perang saudara di dalam negaranya.
Kemarin Rabu (21/11) Erdogan menuduh pemerintahan Maliki telah berperan meningkatkan fitnah mazhab dan etnis di Irak.
Dibentuknya badan-badan operasi di sejumlah wilayah utara Irak yang berdekatan dengan wilayah Kurdi, kata Erdogan justru akan menambah masalah bagi negara itu. (IRIB Indonesia/HS)
Ziarah Jamiah Kabirah, Lentera Tauhid Umat Islam
Imam Ali al-Hadi as dengan Ziarah Jamiah Kabirah telah mengenalkan kepada umat Islam tentang budaya dan ajaran Islam. Dalam ziarah ini dijelaskan tentang tauhid dan wilayah yang sangat mendalam dan penjelasan tentang keutamaan manusia. Beliau juga menerangkan kedudukan sosial dan bimbingan Aimmah as serta penjelasan tentang keutamaan mereka sebagai keturunan suci Nabi Muhammad Saw.
Imam Hadi as lahir pada tanggal 15 Dzulhijjah tahun 212 Hijriah di desa Shariyya dekat kota Madinah al-Munawwarah. Kelahiran beliau menjadi penerang kegelapan akibat kebodohan dan kekafiran. Ayah beliau, Imam Muhammad Jawad as, memberikan nama Ali kepadanya supaya menghidupkan kembali peran ayahnya. Imam Hadi as dipanggil dengan berbagai julukan, antara lain al-Murtadha, al-Hadi, an-Naqi, al-Alim, al-Faqih, al-Mutaman, at-Thayyib.Namun julukan yang palingterkenaladalah al-Hadi dan an-Naqi.Beliau juga dipanggil dengan sebutan Abul Hasan. Pasca Imam Jawad as gugur syahid pada tahun 220, Imam Hadi as memegang amanah Imamah (kepemimpinan Ilahi atas umat manusia) menggantikan ayahnya.
Dalam riwayat hidup para Maksumin as terdapat berbagai perbedaan sesuai dengan kondisi di zamannya masing-masing. Di masa Imam Ali bin Abi Thalib, Imam Hasan dan Imam Husein as untuk menegakkan kebenaran Islam dan menghidupkan kembali agama suci ini, mereka berperang melalui jalur politik terbuka dan terkadang mengangkat senjata. Namun di periode kepemimpinan Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad dan Imam Jafar Shadiq as, kondisi telah berubah sehingga cara-cara tersebut tidak digunakan dan lebih berkonsentrasi melalui jalur dakwah dan penyebaran ajaran-ajaran Islam yang benar.
Periode Imam Musa Kazem, Imam Ali ar-Ridha, dan Imam Jawad as dibandingkan dengan masa tiga imam sebelumnya berbeda, karena perjuangan di masa ketiga imam ini lebih cenderung menggunakan jalur politik sesuai dengan kondisi di zaman itu. Imam Musa Kazem as dijebloskan ke dalam penjara oleh Harun al-Rashid, penguasa di masa itu. Sementara putra beliau, Imam Ali ar-Ridha as, dengan berat hati menerima Wali Ahd (putra mahkota) Makmun, anak Harun al-Rashid.
Imam Jawad as gugur syahid ketika masih berusia muda. Setelah itu, Imam Hadi as menggantikan keimamahan beliau. Periode kehidupan Imam Hadi as berada di masa pemerintahan tirani dan otoriter. Beliau berusaha menjelaskan ajaran Islam yang benar melalui berbagai cara seperti dialog, tulisan atau surat menyurat dan menjawab berbagai pertanyaan dan keraguan masyarakat. Selain itu, beliau juga mendidik para ahli hadist, perawi, dan mencetak murid-murid handal.
Salah satu langkah istimewa Imam Hadi as adalah memperluas lembaga-lembaga advokasi atau perwakilan. Beliau mengirimkan wakil-wakilnya ke berbagai penjuru dunia Islam untuk dapat berkoordinasi dengan para pengikut Ahlul Bait as yang tinggal di berbagai kota yang jauh. Pengiriman wakil-wakil tersebut juga bertujuan supaya ikatan antara beliau dan pengikutnya tidak terputus. Dengan cara ini, pesan-pesan beliau dengan cepat, mudah dan teratur akan sampai kepada pengikut Ahlul Bait as melalui jalur yang dipercaya.
Melalui perwakilannya,Imam Hadi as dapat menjawab pertanyaan dan permasalahan fiqih dan akidah kepada para pengikutnya sehingga dapat membimbing mereka kepada ajaran-ajaran suci Islam. Dengan demikian, lembaga-lembaga perwakilan tersebut sangat efektif dalam membantu tugas-tugas beliau.
Periode kepemimpinan Imam Hadi as mempunyai ciri khusus mengingat di masa beliau terdapat berbagai kecenderungan keyakinan dan ilmu yang muncul. Selain itu, faham-faham teologi menyimpang mulai menjangkiti masyarakat dan terjadi transformasi budaya. Meluasnya berbagai faham akidah memunculkan berbagai ide, pandangan dan keyakinan yang bermacam-macam sehingga budaya masyarakat mengalami kekacauan dan perpecahan. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh para penguasa zalim untuk menggapai ambisi-ambisi mereka.
Kewaspadaan Imam Hadi as dalam mengenali garis propaganda musuh dan perlawanan beliau, telah menggagalkan semua upaya busuk musuh. Beliau dalam periode kritis keimamahannya di mana dari sisi ilmu amat penting bagi dunia Islam, telah mengorganisir dan mengokohkan pondasi ajaran Ahlul Bait as sehingga di masa mendatang dapat menjawab kebutuhan pemikiran dan politik masyarakat Islam, khususnya para pengikut keluarga suci Nabi Muhammad Saw.
Salah satu pelajaran yang diberikan oleh Imam Hadi as kepada umat Islam adalah Ziarah Jamiah Kabirah yang sebenarnya merupakan penjelas tentang kedudukan manusia sempurna dan kesempurnaan manusia. Dalam ziarah ini dijelaskan tentang tauhid dan Wilayah yang mendalam serta keutamaan manusia. Ziarah Jamiah Kabirah merupakan ucapan Imam Hadi as dan sebagai jawaban atas tuntutan salah satu pengikutnya. Meski ziarah ini berupa perkataan dan ucapan namun pada dasarnya ziarah ini menjelaskan tentang kedudukan Imamah dalam Islam.
Imam Hadi as telah menjelaskan tentang kedudukan sosial dan bimbingan Aimmah as serta menerangkan keutamaan mereka dalam Ziarah Jamiah Kabirah. Beliau juga menolak pemikiran yang berlebihan tentang Imamah dari kelompok-kelompok sesat dan menyimpang, karena di masa kepemimpinan beliau terdapat kelompok-kelompok menyimpang yang disebut dengan kelompokGhullat (berlebih-lebihan). Kelompok ini mempunyai akidah yang salah dan tak berdasar. Mereka mengklaim sebagai pengikut Ahlul Bait as dan menilai kedudukan para Imam as dengan sangat berlebihan, bahkan mereka mengagungkan Maksumin as hingga pada derajat Tuhan.
Imam Hadi as berlepas tangan dengan kelompok Ghullat seperti yang dilakukan oleh ayahandanya. Beliau dengan keras memerangi kelompok menyimpang tersebut. Dalam Ziarah Jamiah Kabirah beliau bersaksi atas Keesaan Tuhan dan dengan tegas menafikan penyerupaan terhadap Zat suci-Nya. Imam Hadi as ketika menjelaskan kedudukan Aimmah as dan sekaligus menjawab pemikiran kelompok menyimpang tersebut, mengatakan, الْمُخْلِصِینَ فِی تَوْحِیدِ اللَّهِ وَ الْمُظْهِرِینَ لِأَمْرِ اللَّهِ وَ نَهْیِهِ (orang-orang mukhlis berada dalam Ketauhidan Allah Swt dan penjelas perintah dan larangan-Nya).
Ziarah Jamiah Kabirah mempunyai isi yang sangat berharga dan dapat memperkuat pemikiran serta mencegah penyimpangan masyarakat dari lampu penerang Maksumin as. Ziarah ini juga menjelaskan tentang kedudukan Aimmah as di muka bumi. Imam Hadi as mengemas penjelasannya tentang Aimmah as dengan berbagai penerangan yang menarik sehingga para peziarah dapat melihat perilaku mereka dari berbagai sudut yang berbeda dan menjadikannya sebagai tauladan dalam kehidupan.
Salah satu keistimewaan Ziarah Jamiah Kabirah adalah mengajari umat Islam tentang adab berbicara kepada para Imam as ketika berziarah. Ziarah ini dimulai dengan salam kepada para Imam as dan kemudian peziarah menyebutkan keutamaan dan sifat agung mereka. Dalam Ziarah Jamiah Kabirah juga disinggung tentang hubungan Maksumin as dan pendekatan mereka dalam menegakkan ajaran Islam. Penjelasan penting Imam Hadi as dalam Ziarah Jamiah Kabirah adalah kebenaran selalu bersama para Imam as dan tidak akan pernah terpisah dari mereka. Aimmah as adalah panduan petunjuk dan para saksi dalam agama.
Imam Hadi as dalam Ziarah Jamiah Kabirah mengenalkan kepada umat Islam bahwa Maksumin as adalah para pemberi petunjuk, lentera kegelapan, pemilik ilmu dan hikmah, pelindung masyarakat dan hujah-hujah Allah Swt di muka bumi. Mereka adalah pembimbing dan tanda untuk mengenal Tuhan serta pewaris nabi. Para Imam Maksum as adalah para penyeru kebenaran dan pemberi petunjuk ke jalan keridhaan Allah Swt.
Dalam Ziarah Jamiah Kabirah disebutkan bahwa Allah Swt menciptaan Aimmah as dalam bentuk cahaya dan mengutus mereka ke dunia sebagai anugerah bagi umat manusia. Keberadaan Maksumin as sangat berharga dan ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah Swt. Keberadaan mereka telah menyinari dunia dan menyelamatkan manusia dari jurang kebinasaan dan api neraka serta menunjukkan jalan kebahagiaan abadi bagi manusia.
Manusia dan Fitrah Bertuhan
Salah satu hal yang selalu ada dalam diri manusia adalah kecenderungan untuk mencari Tuhan dan menyembahnya, karena dengan ibadah kepada Tuhan manusia sebenarnya berupaya meninggalkan wujud terbatasnya dan bergabung dengan hakikat yang tidak memiliki cacat, kekurangan, kefanaan dan keterbatasan.
William James, seorang filsuf Amerika dantokoh psikologi modern aliran pragmatisme, melakukan percobaan untuk mengukur jiwa manusia dari sisi kecenderungan spiritualitasnya. Hasil penelitian selama 40 tahun ini menunjukkan bahwa dalam wujud manusia terdapat serangkaian kecenderungan terhadap materi dan serangkaian kecenderungan yang lain tidak ada hubungannya dengan materi. Hal ini membuktikan adanya alam lain di mana rasa ini mengantarkan manusia ke alam lain itu. Inspirasi spiritual, fitrah untuk mencari Tuhan dan cinta akan kebaikan selalu ada dalam jiwa manusia, di mana mayoritas kecenderungan dan harapan manusia berasal dari luar alam materi.
Menurut James, jika kecenderungan manusia tidak dikembangkan dan diarahkan dengan benar maka manusia akan tersesat dan tentunya akan sangat merugikan baginya. Menyembah berhala, manusia dan materi lain serta ribuan penyembahan lainnya merupakan dampak dari penyimpangan terhadap kecenderungan suci manusia. Menurutnya, rasa ingin menyembah Tuhan yang biasanya diartikan sebagai rasa ingin beragama secara alami selalu ada dalam jiwa manusia.
Dalam kedalaman jiwa manusia terdapat kekuatan yang mendorong manusia untuk mencari Tuhan yang memberikan rasa aman dan ketenangan kepada manusia dan membantunya dalam menghadapi kesulitan serta menghilangkan segala bentuk kekhawatiran. Manusia ketika mengalami kebuntuan dan berbagai faktor materi tidak ada yang dapat membantunya maka secara alami akan mencari sumber kekuatan yang lebih besar yang mampu melepaskannya dari kebuntuan tersebut.
Dalam sejarah kehidupan manusia dan peninggalannya di berbagai gua dan gunung menunjukkan bahwa manusia sejak awal mempunyai rasa ingin mengabdi dan menyembah Tuhan. Mereka meyakini akan Keesaan Tuhan meski sebagian lainnya tergelincir ke dalam kebodohan sehingga mereka menyembah batu, kayu, matahari, binatang dan bahkan menyembah penguasa zalim.
AllamahMurtadha Mutahhari, seorang cendekiawan dan peneliti terkemuka Iran, mengatakan, studi terhadap peninggalan manusia di masa lampau menunjukkan bahwa penyembahan telah ada sejak manusia ada. Yang berbeda adalah bentuk ibadah dan siapa yang disembah. Para nabi diutus untuk membimbing fitrah manusia ke jalan yang benar. Allamah Mutahhari meyakini bahwa Anbiya diutus untuk mencegah manusia menyembah selain Tuhan Yang Maha Esa dan membimbing mereka kepada amal dan bentuk pengabdian yang terbaik.
Imam Ali as mengenai pengutusan Nabi Muhammad Saw, berkata, "Allah Swt mengutus Muhammad Saw untuk mengajak manusia meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan kemudian menyembah Tuhan."
Max Muller, seorang teolog dan orientalis Jerman meyakini bahwa manusia sejak awal mengesakan Tuhan dan menyembah Tuhan yang sebenarnya dan penyembahan berhala, bulan, bintang dan lain sebagainya merupakan dampak dari penyimpangan selanjutnya.
Al-Quran menjelaskan bahwa sejarah penyembahan berhala terjadi sejak masa Nabi Nuh as, sebab pasca bencana badai di zaman itu semua orang musyrik dan penyembah berhala musnah dan setelah beberapa lama kemudian fitrah untuk menyembah Tuhan kembali diselewengkan oleh sebagian manusia dengan menyembah berhala dan benda-benda lainnya yang tidak ada manfaat bagi mereka, bahkan benda-benda tersebut dibuat oleh mereka sendiri.
Bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa manusia di masa lalu menyembah Tuhan dan bahkan percaya tentang hari kebangkitan. Orang yang meninggal dunia kemudian di kubur bersama barang-barang yang dicintainya karena diharapkan benda-benda itu menjadi bekal di dunia selanjutnya atau memumikan jasad manusia supaya tidak rusak merupakan salah satu bukti yang menunjukkan bahwa manusia di masa itu meyakini adanya kehidupan setelah kematian ini. Meski perbuatan itu salah dan penuh khurafat, namun hal itu menunjukkan kalau manusia di masa lalu meyakini adanya Sang Pencipta dan mengimani-Nya.
Agama-agama samawi menyebutkan bahwa wujud yang mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia serta wajib disembah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dia adalah sumber rahmat, keagungan, kekuatan, kesempurnaan dan keindahan yang tidak ada habisnya, di mana beribadah kepada-Nya akan menyambungkan manusia kepada sumber abadi dan tanpa akhir ini. Selain itu, hubungan dengan Tuhan mengantarkan manusia kepada kebebasan sejati dan di dalam hatinya tidak ada ketergantungan kepada selain-Nya.
Agama Islam mengajarkan kepada manusia bahwa penyembahan kepada selain Tuhan Yang Esa tidak akan memuaskan jiwa manusia dan tidak dapat mengantarkannya kepada kesempurnaan spiritual, namun justru menyebabkan terpenjaranya manusia dalam ketergantungan materi. Penghambaan akan terwujud jika terhubung dengan Tuhan Yang Maha Bijaksana dan melalui jalan ini jiwa manusia akan meraih kebebasan dan ketenangan.
Sahlal-Tustari, seorang Sufi besar, mengatakan, "Aku membeli seorang budak dan membawanya ke rumah. Aku bertanya kepadanya, "Namamu siapa?" Budak itu menjawab, "Sebutan apa saja yang engkau panggil kepadaku." Aku berkata, "Apa yang kamu makan?" Sang budak menjawab, "Makanan apa saja yang engkau berikan kepadaku." Kemudian aku bertanya, "Pakaian apa yang kamu pakai?" Budak tersebut menjawab, "Pakaian apa saja yang engkau berikan kepadaku." Lalu aku bertanya lagi, "Apa yang kamu inginkan? Sang budak menjawab bahwa apa yang engkau berikan maka aku terima. Ketika mendengar semua jawaban budaknya itu, Sahl berkata, "Mendengar jawaban budakku, aku menangis dari malam hingga pagi dan memohon ampun serta bermunajat kepada Allah Swt. Kepada diriku aku mengatakan, jika budak ini mengabdikan dirinya sedemikian rupa kepadaku mengapa aku tidak melakukan hal yang sama kepada Tuhanku."
Abu Ali al-Hussein Ibn Abdullah Ibn Sina, seorang dokter dan filsuf besar Iran meyakini bahwa rasa ingin mengabdikan diri kepada Tuhan harus mendorong manusia untuk mengenal Tuhan dan penciptanya terlebih dahulu. Ia mengatakan, "Manusia dalam kehidupannya harus mengenal Tuhan dan setelah mengenal-Nya ia akan memahami bahwa terdapat aturan yang adil dari Tuhan bagi kehidupan manusia. Selain itu, seorang hamba harus beribadah kepada Tuhan-nya dan ibadah itu diulang hingga manusia selalu ingat bahwa dirinya adalah seorang hamba yang mempunyai Tuhan. Ketika peringatan itu telah masuk ke dalam jiwa manusia dan iman terbentuk dalam dirinya maka iman itu akan menghalanginya untuk berbuat dosa."
Al-Quran dengan terang dan indah menjelaskan bahwa rasa penghambaan tidak terbatas pada manusia saja tetapi semua makhluk di dunia ini mengalaminya. Berbagai ayat al-Quran menjelaskan tentang ibadah makhluk selain manusia. Sebagai contohnya, dalam surat al-Isra ayat 44, Allah Swt berfirman,"Bertasbih kepada-Nyalangit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya. Dan tak adasuatu pun di antara semua makhluk melainkan bertasbih seraya memuji kepada-Nya tetapi kalian tidak mengertitasbih mereka(karena hal itu dilakukan bukan memakai bahasa kalian). Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun."
Dengan demikian tidak hanya manusia saja yang memiliki rasa pengabdian tetapi semua makhluk Tuhan di alam semesta ini. Meski demikian, terdapat berbedaan antara ibadah manusia dan ibadah makhluk lainnya. Manusia menyembah Tuhan dengan pengetahuan dan ihtiarnya. Manusia berdasarkan fitrahnya cenderung kepada kesempurnaan sehingga memahami keagungan dan keindahan Sang Pencipta kemudian menyembah-Nya dengan penuh antusias. Sementara makhluk lainnya tidak mempunyai pengetahuan seperti ini.
Amat disayangkan bahwa sebagian manusia tersesat dan menyembah makhluk lainnya bahkan menyembah setan dan menganggapnya sebagai wujud yang suci. Yang jelas rasa pengabdian dan penghambaan kepada Tuhan selalu ada dalam diri manusia dan tidak dapat diingkari. Will Durant, sejarawan terkenal Barat dalam bukunya yang berjudul "Sejarah Peradaban" menulis, tidak beragama adalah kasus langka dan sangat sedikit…agama adalah manifestasi yang mencakup manusia.
Ketika manusia memperhatikan kedalaman jiwanya maka ia akan melihat kebenaran dan mendengar panggilan yang mengajaknya menuju kepada Tuhan yang mempunyai kesempurnaan mutlak. Manusia ketika terhubung dengan Tuhan maka ia akan mendapat kesempurnaan dan cinta sejati.
Segelintir orang yang mengingkari fitrahnya untuk menyembah Tuhan pada dasarnya hanya dapat mengingkarinya secara lisan namun ketika mereka berhadapan dengan masalah besar dan menemui jalan buntu, mereka akan mencari sesuatu yang Maha Kuat dan mampu melindunginya serta membebaskannya dari masalah itu.




























