کمالوندی

کمالوندی

 

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam, Rabu (28/07/2021) pagi dalam pertemuan terakhir dengan Presiden Hassan Rouhani dan pemerintah Iran periode ke-12, menyampaikan pidato penting terkait tujuan permusuhan AS terhadap Iran, dan menjelaskan poin-poin penting dalam hal ini.

Ayatullah Khamenei mengatakan, "Di pemerintahan ini terbukti bahwa percaya pada Barat tidak berguna, dan negara-negara Barat tidak membantu kita, di mana pun mereka bisa, mereka akan memukul kita, lokasi yang musuh tidak bisa memukul kita adalah lokasi yang di sana mereka tidak punya sarana untuk melakukannya."

Menyinggung perundingan terakhir Wina, Rahbar mengatakan, "Amerika dalam ucapan dan janji yang disampaikan akan mencabut sanksi, tetapi mereka tidak dan tidak akan mencabut sanksi. Selain itu, mereka menetapkan syarat dan mengatakan bahwa kalian harus memasukkan kalimat dalam perjanjian ini yang nantinya akan dibahas beberapa masalah, kalau tidak, kami tidak akan menyepakati."

Ayatullah Khamenei mengingatkan, "Dengan menambahkan kalimat ini, mereka ingin memberikan alasan untuk intervensi mereka selanjutnya pada prinsip JCPOA, masalah rudal dan regional."

Baca juga: Rahbar: Di Pemerintahan Iran ke-12 Terbukti, Percaya pada Barat Tak Berguna
Ketidakpercayaan Iran terhadap Amerika Serikat bukan hanya sebuah slogan, tetapi berdasarkan pengalaman masa lalu, perilaku saat ini, dan analisis realistis dari tujuan hegemonik Amerika. Adapun Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) belum dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan adalah fakta, dan alasannya jelas.

Perilaku Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, termasuk Prancis, kini sudah di luar isu nuklir dan sudah merambah ke isu pertahanan Iran. Pendekatan ini berarti intervensi dan tujuannya adalah untuk melemahkan Iran dari dalam.

Pemimpin Besar Revolusi Islam 5 tahun yang lalu, dalam sebuah pernyataan dengan pandangan mendalam tentang masalah ini, mencatat:

"JCPOA telah menjadi contoh bagi kami, sebuah pengalaman… secara lahiriah mereka memberikan janji, mereka berbicara dengan bahasa yang manis dan lembut tetapi dalam praktiknya mereka berkomplot, mereka menghancurkan, mereka mencegah kemajuan."

Pertanyaan penting dalam hal ini adalah apa yang dibutuhkan AS untuk negosiasi dan mengapa mereka bersikeras?

"JCPOA telah menjadi contoh bagi kami, sebuah pengalaman… secara lahiriah mereka memberikan janji, mereka berbicara dengan bahasa yang manis dan lembut tetapi dalam praktiknya mereka berkomplot, mereka menghancurkan, mereka mencegah kemajuan."
Jelas bahwa tujuan akhir pemerintah AS terhadap Iran tidak lain adalah mendominasi kembali Republik Islam.

Morad Enadi, pakar politik tentang analisis tujuan AS, mengatakan:

"Amerika Serikat telah melanjutkan sanksi yang diratifikasi Kongres terhadap Iran sejak 1979. Kebijakan sanksi baru seperti CAATSA, dan dalih pelanggaran hak asasi manusia atau dugaan dukungan Iran untuk terorisme, AS praktis melanjutkan sanksi sekunder dengan metode baru dan memperkuatnya."

Pengalaman menunjukkan bahwa Iran telah menderita dengan berbagai cara dalam negosiasi dengan Amerika Serikat di berbagai waktu.

Dari sudut pandang ini, apa yang disampaikan Pemimpin Besar Revolusi Islam sebenarnya merupakan indikator dan ukuran bagi pemerintah periode ke-13 untuk melihat secara realistis pada JCPOA dan perundingan Wina. Karena Republik Islam Iran tidak berniat membuang waktu dan tenaganya selamanya dengan janji-janji kosong. Yang penting untuk hari ini dan masa depan bangsa Iran adalah penggunaan kapasitas internal, terutama di sektor ekonomi negara.

Baca juga: Araqchi: Kelanjutan Perundingan Wina Tunggu Pemerintahan Baru Iran
Yang pasti, pemerintah AS mencoba yang terbaik untuk membuat Iran bertekuk lutut dengan skenario dan rencana yang berbeda. Namun tidak diragukan lagi dengan pengetahuan yang diperoleh dari perilaku AS dan pengalaman JCPOA, tentu saja kesempatan ini tidak akan diberikan lagi kepada AS.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken baru-baru ini mengatakan kepada Komite Senat bahwa dia memperkirakan bahwa ratusan sanksi AS terhadap Tehran akan tetap berlaku bahkan jika Tehran dan Washington kembali ke kesepakatan nuklir.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken
Sejatinya, harus dikatakan bahwa ada ketidakpercayaan yang mendalam terhadap Amerika Serikat, mengingat komitmen dan pelanggaran komitmen sebelumnya. Seperti yang ditunjukkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam, dalam situasi saat ini, Amerika Serikat tidak ragu-ragu untuk melanggar janji dan komitmennya, dan ini adalah pengalaman yang sangat penting bagi pemerintah dan negarawan masa depan, serta untuk semua aktivis di arena politik.

 

Ketua parlemen Republik Islam Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, solusi melawan perang ekonomi adalah meningkatkan hubungan antara negara-negara Islam.

Seperti dilaporkan laman icana.ir, Ghalibaf saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Suriah, Faisal Mekdad di Damaskus menekankan bahwa setelah satu dekade perang sulit teroris dukungan AS dan Israel dengan Suriah dan poros muqawama, kini musuh mengubah medan perang dan kita menyaksikan perang ekonomi.

“Di kondisi seperti ini seluruh, hambatan di depan para pedagang, pelaku ekonomi, industriawan dan semua aktivis sektor swasta harus dihilangkan agar kita dapat memenangkan perang ekonomi dengan mempromosikan hubungan perdagangan,” papar Ghalibaf.

Seraya mengisyaratkan agitasi media Israel terhadap Iran, Suriah dan seluruh negara poros muqawama, Ghalibaf menekankan, “Solusi tunggal menghadapi perang ekonomi adalah meningkatkan hubungan antara negara-negara Islam khususnya negara poros muqawama.

Sementara itu, Faisal Mekdad di kesempatan tersebut seraya menekakan bahwa hubungan Republik Islam Iran berakar di hati dan jiwa rakyat Suriah menegaskan, hubungan kedua negara di seluruh sektor harus ditingkatkan.

Faisal Mekdad seraya mengisyaratkan bahwa kekuatan poros muqawama di kawasan setiap hari semakin meningkat menjelaskan, di kondisi seperti ini pertukaran perdagangan dan ekonomi kedua negara juga dapat mencapai level tertinggi. 

Kamis, 29 Juli 2021 20:43

Bashar Assad: Iran Mitra Utama Suriah

 

Presiden Suriah di pertemuannya dengan ketua parlemen Republik Islam Iran menekankan, Iran mitra utama Suriah.

Menurut laporan IRNA, Bashar Assad Rabu (28/7/2021) di pertemuan dengan Mohammad Bagher Ghalibaf bersama rombongan di Damaskus mengatakan, Iran mitra utama Suriah dan koordinasi yang ada antara kedua negara di perang melawan terorisme menunjukkan hasil positif.

Lebih lanjut Bashar Assad menambahkan, Iran bersama rakyat Suriah melawan teroris dan mendukung Suriah di semua bidang.

Presiden Suriah juga mengatakan, koordinasi yang ada antara kedua negara akan terus berlanjut hingga pembebasan total wilayah Suriah dan kekalahan kelompok teroris.

Sementara itu, Ghalibaf di pertemuan ini mengatakan, pemilu terbaru di Suriah dan Iran membuktikan kekalahan kebijakan represi yang diterapkan terhadap mereka.

Di pertemuan ini juga dikaji hubungan kuat antara kedua negara Iran dan Suriah, kerja sama konstruktif antara kedua negara di berbagai level.

Kedua pihak juga menekankan peran utama parlemen Suriah dan Iran untuk membuka ufuk baru bagi kerja sama bilateral khususnya di sektor ekonomi, bukan saja untuk sektor pemerintah, tapi juga mengaktifkan kerja sama antara sektor swasta kedua negara untuk membantu kedua bangsa bersahabat dalam melawan perang ekonomi dan pendekatan blokade serta sanksi yang diterapkan kepada mereka.

Ketua parlemen Iran hari Selasa (27/7/2021) bersama delegasi tinggi parlemen bertolak ke Suriah. 

Kamis, 29 Juli 2021 20:42

Hari Raya Ghadir Khum

 

Hari ini Kamis, 18 Zulhijjah 1442 H bertepatan dengan 29 Juli 2021 Hari Raya Ghadir Khum, salah satu hari besar umat Islam.

Ghadir Khum, sebuah tempat antara Mekah dan Madinah, di mana Rasulullah Saw di Haji Wada mengangkat Imam Ali as, imam pertama Syiah sebagai Wali dan penggantinya.

Rasulullah Saw ketika kembali dari haji terakhirnya meminta seluruh jamaah haji untuk mengikuti acara ini dan berkumpul di Ghadir Khum serta mengumumkan Imam Ali as sebagai washi, saudara dan penggantinya yang ditunjuk Tuhan.

Rasulullah Saw di khutbah penting Ghadir Khum mengatakan, “Siapa saja yang menjadikanku sebagai walinya, maka setelahku Ali adalah maula mereka.”

Hari raya Ghadir Khum yang disebut riwayat sebagai hari raya terbesar, dapat juga disebut sebagai hari raya terbesar seluruh agama ilahi, karena seluruh hasil usaha para utusan Tuhan terealisasi di hari ini.

IRIB mengucapkan selamat Hari Raya Ghadir Khum kepada seluruh umat muslim dunia. 

 

PM Pakistan membantah dukungan negaranya terhadap aksi pemberontakan yang dilakukan Taliban di Afghanistan.

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan mengatakan bahwa berita pengiriman 10.000 petempur ke Afghanistan dari Pakistan untuk mendukung Taliban dalam bentrokan baru-baru ini tidak benar.

Menyinggung penerimaan 3 juta pengungsi Afghanistan di Pakistan, Imran Khan mengatakan, "Kami sangat kecewa,meskipun banyak upaya Islamabad untuk memfasilitasi proses perdamaian, tapi mereka masih menyalahkan Pakistan atas apa yang terjadi di Afghanistan,".

Para pejabat Kabul mengkritik Pakistan atas pengiriman pasukan tambahan ke Afghanistan yang dibantah oleh Islamabad.

 

Bersamaan dengan semakin sengitnya perang di Afghanistan, delegasi politik Taliban yang dipimpin Mulla Baradar, Wakil Ketua Taliban bidang politik, melakukan kunjungan ke Cina, untuk bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi negara itu.

Juru bicara Kantor Politik Taliban di Qatar, Mohammad Naim di akun Twitternya, Rabu (28/7/2021) menulis, delegasi politik Taliban yang terdiri sembilan orang dipimpin Mulla Baradar, berkunjung ke Cina.
 
Menurut Naim, delegasi politik Taliban berkunjung ke Cina hari Selasa (27/7) atas undangan resmi pemerintah Beijing.
 
Dalam kunjungan itu, delegasi Taliban bertemu dengan Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi, dan Utusan khusus pemerintah Cina untuk Afghanistan. Menurut Mohammad Naim, dalam pertemuan ini dibicarakan sejumlah masalah termasuk politik, ekonomi dan keamanan.
 
Delegasi Taliban pada kesempatan itu meyakinkan Cina bahwa kelompok ini tidak akan menggunakan wilayah Afghanistan untuk mengancam keamanan negara mana pun.

 

Banyak dari masyarakat Muslim terusir dari negaranya dan menjadi pengungsi karena perang dan ambisi negara-negara Barat. Mereka menanggung kesulitan dalam perjalanan ke Eropa dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Dinas-dinas intelijen Barat dan beberapa negara Arab memanfaatkan situasi sulit yang dihadapi pengungsi dan mereka merekrut sejumlah pemuda untuk menjadi anggota kelompok-kelompok teroris. Langkah ini bertujuan untuk memajukan konspirasi dan ambisi Barat di negara-negara konflik.

Sejumlah pemuda Muslim di Eropa yang bergabung dengan kelompok teroris, merupakan umpan terbaik untuk memenuhi kepentingan dinas-dinas intelijen Barat, yang berusaha maksimal untuk merusak Islam.

Untuk melawan kampanye anti-Islam ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengirim sepucuk surat kepada para pemuda Eropa dan Amerika Utara pada 21 Januari 2015. Rahbar dalam pesannya itu menjelaskan tentang faktor-faktor sosial dan politik terorisme.

Surat ini telah diterbitkan dalam delapan bahasa dunia. Ia memainkan peran penting dalam menyadarkan masyarakat dunia dan menggagalkan propaganda anti-Islam yang dilakukan Barat dengan alasan terorisme.

Dalam perspektif Ayatullah Khamenei, alasan mendasar terorisme di Barat karena adanya pemikiran berbau kekerasan di masyarakat Barat. Hal ini terbentuk melalui sekumpulan pandangan dan ideologi yang kemudian melahirkan standar ganda dalam kebijakan Barat, membagi teroris dengan baik dan buruk, serta memprioritaskan kepentingan penguasa ketimbang nilai-nilai kemanusiaan dan etika.

Pemikiran seperti itu telah menciptakan kekerasan senyap akibat pemaksaan budaya Barat atas bangsa-bangsa lain.

Pengungsi tertahan di perbatasan salah satu negara Eropa. (Dok)
"Dalam pandangan saya, langkah pertama untuk membangun keamanan dan ketenangan adalah dengan mereformasi mentalitas yang melahirkan kekerasan ini. Selama standar ganda mendominasi kebijakan Barat, dan selama terorisme dibagi di mata pendukungnya yang kuat ke dalam kategori baik dan buruk, dan selama kepentingan pemerintah diberi prioritas di atas nilai-nilai kemanusiaan dan moral, akar terorisme seharusnya tidak dicari di tempat lain," jelas Ayatullah Khamenei.

Lingkungan budaya yang tidak sehat dan penuh kekerasan di Barat serta kebencian akut yang muncul akibat diskriminasi, telah menstimulasi sejumlah warga Eropa ke arah kekerasan dan kelompok-kelompok teroris.

Barat juga merendahkan budaya-budaya yang kaya meskipun mereka tidak memiliki kapasitas untuk menjadi alternatif. Belum lagi, budaya Barat menyimpan dua komponen negatif yakni agresivitas dan amoral. Pemikiran ini menyebarkan benih kebencian terhadap komunitas Muslim di Barat sebagai kelompok yang paling rentan.

Selain ketimpangan sosial dan dampak-dampak pelecehan budaya suku bangsa lain oleh negara-negara Barat, surat kedua Ayatullah Khamenei juga menyoroti dimensi lain terbentuknya kekerasan senyap di masyarakat Barat. Kekerasan senyap ini berakar pada kebijakan era imperialisme, konspirasi, dan intervensi asing di negara-negara Islam pada abad ke-19 dan 20.

Pada masa imperialisme, Barat menyemai benih-benih ekstremisme di tengah suku Badwi Arab dan di era modern, mereka membentuk kelompok Daesh untuk menciptakan kehancuran di negara-negara Muslim.

Surat Ayatullah Khamenei memperingatkan bahwa langkah-langkah reaktif, tidak akan membuahkan hasil apapun kecuali peningkatan polarisasi yang telah ada, sekaligus membuka pintu bagi munculnya berbagai krisis baru di masa mendatang.

“Setiap gerakan sensasional dan tergesa-gesa yang membuat masyarakat Muslim Eropa dan Amerika Serikat – yang terdiri dari jutaan manusia aktif dan bertanggung jawab – menjadi terisolasi maupun khawatir dan gelisah, membuat mereka terhalang dari hak-hak asasinya serta menjadikan mereka terkucil dari ranah sosial, bukan hanya tidak menyelesaikan masalah, tapi justru akan semakin memperlebar jarak dan meningkatkan permusuhan,” tulis Ayatullah Khamenei dalam suratnya kepada pemuda Barat.

Sejauh ini korban terbesar aksi tergesa-gesa menyikapi isu terorisme adalah warga Muslim, terutama yang berdomisili di negara-negara Barat.

Barat juga mengadopsi standar ganda terhadap gerakan kebangkitan di Dunia Islam dan memberi dukungan mutlak kepada rezim Zionis Israel meskipun terlibat pembantaian di Palestina.

Menurut Ayatullah Khamenei, standar ganda dan dukungan Barat kepada rezim Zionis telah mengakibatkan pemaksaan perang, penyebaran terorisme, pendudukan, dan rasa tidak aman bagi masyarakat regional dan internasional.

Donald Trump percaya bahwa Obama dan Hillary sebagai pembentuk Daesh.
Amerika Serikat dan kekuatan-kekuatan Eropa selama bertahun-tahun juga mendukung rezim diktator Arab. Dukungan ini menyulut sentimen anti-Barat di tengah bangsa-bangsa Arab dan Muslim di kawasan yang menuntut kebebasan.

Jadi, standar ganda dan sikap kontradiksi Barat telah menciptakan ruang bagi penyebaran pemikiran radikal dan ekstrem.

Mengenai kontribusi pemikiran Barat bagi terbentuknya terorisme, dosen di hauzah dan universitas di Iran, Hassan Rahimpour Azghadi menuturkan, "Hari ini ada kebutuhan mendesak untuk mendefinisikan terorisme, karena ribuan pemuda Muslim di Eropa dengan label 'teroris' berada di bawah penyiksaan. Pasca peristiwa 11 September, Barat membunuh jutaan orang dan mengejar agenda untuk meneror Islam dan menakut-nakuti kaum Muslim."

Menurutnya, definisi Barat tentang terorisme merupakan bentuk dari tindakan teror itu sendiri. Setiap individu Muslim mengetahui bahwa mengintimidasi atau membunuh orang tanpa proses hukum yang adil adalah perbuatan haram. Jadi, akar terorisme bukan Islam, tetapi hubungan internasional yang tercipta di masa sekarang.

Rahimpour Azghadi menambahkan, hubungan saat ini di kancah internasional telah melahirkan benih-benih teroris. Terorisme negara telah muncul yang kemudian diikuti oleh teroris non-negara, karena hubungan internasional saat ini benar-benar tidak adil dan bahkan komposisi Dewan Keamanan PBB disusun sepihak.

"Islam menolak kekerasan. Agama ini mewajibkan jihad dan qisas untuk melawan terorisme. Jelas keliru jika Barat memperkenalkan kedua unsur ini sebagai faktor pemicu kekerasan. Islam menganggap perang melawan penjajah sebagai jihad dan tentu saja ada kerangka akhlak yang sudah ditetapkan untuk ini," ujarnya.

Ayatullah Khamenei mengajak para pemuda Barat untuk berpikir dan mencari kebenaran sejati dengan menggugah hati nurani dan kemanusiaannya.

"Karena itu, saya ingin kalian kaum muda meletakkan dasar untuk interaksi yang benar dan terhormat dengan Dunia Islam berdasarkan pada pemahaman yang benar, wawasan yang mendalam, dan mengambil pelajaran dari pengalaman yang mengerikan. Dengan demikian, dalam waktu yang tidak lama lagi, kalian akan menyaksikan bangunan yang dibangun di atas pondasi kokoh ini yang menciptakan keyakinan dan kepercayaan bagi para pendirinya, memberikan kehangatan keamanan dan kedamaian kepada mereka, dan menyalakan harapan bagi masa depan yang cerah yang menerangi planet ini." 

 

Salah satu alasan negara-negara Eropa mengadopsi pendekatan negatif terhadap imigran Muslim adalah karena perbedaan identitas dan budaya mereka dengan budaya Eropa.

Kebanyakan warga Muslim di Eropa tidak menerima secara penuh budaya Barat dan belum terintegrasi secara utuh di tengah masyarakat Eropa. Realitas ini bertentangan dengan keinginan para pemimpin Eropa.

Ada dua pendekatan yang berbeda dalam memperlakukan komunitas Muslim di Eropa. Pertama, penekanan pada multikulturalisme dan pendekatan ini tampaknya diterapkan di negara-negara Eropa seperti Inggris. Masyarakat Muslim dipandang sebagai minoritas dengan identitas sendiri dan totalitas yang terintegrasi.

Dan kedua, pendekatan integratif (pembauran/penyatuan) di mana mendapat dukungan dari beberapa negara Eropa seperti Perancis. Pendekatan ini menginginkan pemberian hak-hak yang kelihatan setara dengan warga asli Eropa kepada minoritas agama termasuk Muslim dan meng-eropakan mereka (eropaisasi).

Para pendukung pendekatan integratif ingin menyatukan masyarakat Muslim ke dalam struktur budaya dan peradaban Eropa. Dalam pandangan pemerintah Eropa khususnya Perancis dan Inggris, Islam dapat dibagi menjadi Islam radikal dan moderat.

Pendekatan ini berusaha mengelompokkan Muslim ke dalam istilah moderat dan radikal, dan kemudian mendukung kelompok Islam moderat. Para pemimpin Islam moderat juga akan menerima pendidikan untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai Eropa.

Dalam upaya eropaisasi imigran Muslim, media-media dan think tank (wadah pemikiran) Eropa melakukan propaganda luas untuk menunjukkan bahwa Islam radikal itu benar-benar nyata dan menjadi lawan dari Islam moderat.

Barat menyebut kelompok-kelompok teroris yang berafiliasi dengan Arab Saudi seperti Al Qaeda, Daesh, dan Front al-Nusra sebagai kubu Islam radikal, sementara Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan para politisi Arab jebolan Barat diperkenalkan sebagai kelompok Islam moderat.

Di Eropa sendiri, pemerintah mendirikan lembaga-lembaga budaya dan Islamic Center untuk membuktikan keberadaan Islam moderat. Pembangunan Islamic Cultural Center di Belgia dan Dewan Pusat Muslim di Jerman adalah contoh dari kebijakan Eropa untuk menyatukan masyarakat Muslim dengan peradaban Eropa.

Dewan Agama Islam Perancis (CFCM) juga didirikan sebagai perwakilan masyarakat Muslim dalam berinteraksi dengan pemerintah Perancis. Lembaga dengan fungsi yang sama juga dibentuk di Inggris.

Negara-negara Eropa yang pro-integrasi imigran Muslim juga mengalokasikan dana riset untuk lembaga-lembaga, yang bertugas menjelaskan masalah pembauran imigran Muslim ke dalam masyarakat Eropa.

Di Perancis, setiap individu Muslim harus menerima prinsip-prinsip sekuler dan dalam mendefinisikan identitasnya, ia harus memperkenalkan dirinya sebagai warga Perancis, dan setelah itu baru berbicara tentang identitasnya sebagai Muslim.

Di negara itu, program integrasi meminta imigran Muslim untuk berkomitmen dengan nilai-nilai republik. Di Jerman, mereka diminta untuk setia pada nilai-nilai Jerman atau nilai-nilai liberal.

Sementara itu, negara-negara seperti Inggris dan Belanda menerapkan pendekatan multikulturalisme. Pemerintah tampaknya menerima keberagaman identitas ketimbang mengupayakan pembauran identitas.

Meski beberapa negara Barat seperti Inggris dan Amerika Serikat menerima multikulturalisme, namun saat ini banyak pihak di Barat mengkritik pendekatan tersebut. Dosen Universitas Harvard, Robert Putnam menuturkan, "Dispersi budaya menyebabkan tidak terbentuknya komunitarianisme (gagasan yang meyakini bahwa individu bukan aktor yang lepas dari lingkungannya) dan perpecahan di antara masyarakat Muslim dan Inggris meningkat."

Banyak riset mencatat bahwa pendekatan integrasi dan asimilasi pendatang Muslim di masyarakat Eropa telah gagal dalam banyak kasus. Kajian yang dilakukan Profesor Maria Haberfeld menunjukkan bahwa ada penolakan terhadap identitas Eropa di antara seluruh lapisan sosial dan ekonomi Muslim dan hanya tujuh persen dari Muslim di Inggris yang memperkenalkan dirinya sebagai warga Inggris, sementara 81 persen dari mereka lebih memilih menyebut dirinya Muslim.

Menurut sebuah survei tentang Muslim Inggris pada 2016, semakin banyak warga Muslim yang merasa dirinya tidak terkait dengan masyarakat Eropa. Sepertiga responden mengatakan bahwa mereka merasa memiliki banyak kesamaan dan ikatan yang lebih besar dengan Muslim di negara-negara lain ketimbang dengan masyarakat non-Muslim Inggris.

Jadi, peningkatan sentimen anti-imigran di antara pemerintah-pemerintah Eropa akan memperkuat rasa keterasingan dan ketidakcocokan imigran Muslim dengan masyarakat Eropa.

Penelitian menunjukkan bahwa kelompok sayap kanan dan anti-imigran memainkan peran utama dalam memperbesar pendekatan negatif terhadap imigran Muslim di Eropa.

Kelompok sayap kanan ekstrem Inggris dalam sebuah aksi protes. (Dok)
Sayap kanan ekstrem biasanya menguasai 10 persen suara di Austria, Belgia, Denmark, Perancis, dan Italia, dan sekitar 20 persen suara di Finlandia dan Norwegia. Angka ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir di sebagian negara Eropa.

Dalam situasi seperti ini, rasa keterasingan warga Muslim dengan masyarakat Eropa merupakan reaksi alami mereka yang hidup di tengah sebuah budaya yang berlawanan.

Imigran Muslim di Perancis, Jerman, Belgia, dan negara-negara Eropa lainnya telah menciptakan "masyarakat paralel" dan lebih tertarik pada praktik-praktik keagamaan dan norma-norma budaya di negara asal mereka daripada budaya dan adat-istiadat negara-negara Eropa.

Pendekatan diskriminatif pemerintah Eropa dan pengucilan komunitas paralel ini telah membuat mereka rentan terhadap perekrutan oleh kelompok-kelompok radikal.

Pendekatan diskriminatif ikut mempersulit proses integrasi sosial-budaya Muslim di tengah masyarakat Eropa, dan rasa keterasingan ini telah meningkatkan kerentanan imigran Muslim dari propaganda sa

 

Perjalanan para imigran Muslim ke Eropa mulai disoroti dari aspek keamanan dan ini menjadi salah satu tantangan bagi mereka. Pemerintah-pemerintah Eropa dengan mempolitisasi isu keamanan, berusaha memperoleh simpati publik, menjawab masalah krisis identitas di Eropa, dan menerapkan pembatasan ekstrim bagi imigran.

Pemerintah Eropa memandang isu migrasi sebagai ancaman keamanan demi melegitimasikan kebijakannya untuk melawan para pengungsi dan pencari suaka, sekaligus memperoleh dukungan publik.

Dengan begitu, kebijakan yang tidak bisa diterapkan dalam situasi normal, sepertinya akan memperoleh legalitas dan menjustifikasi perilaku ekstra-yudisial dan bahkan tindakan represif pemerintah Eropa terhadap imigran Muslim dengan alasan menjamin keamanan nasional.

Pengalaman mencatat bahwa pemerintah Eropa secara sengaja mempolitisasi isu ancaman keamanan dalam kasus-kasus seperti, masalah imigran Muslim. Dengan cara ini, mereka ingin memperluas kekuasaan dan wewenangnya dengan dalih melawan apa yang disebut gangguan keamanan dari sisi imigran Muslim.

Secara umum dan dari sudut pandang teoritis, rasa tidak aman bukanlah sebuah persoalan yang selalu datang dan pasti, tetapi tergantung pada situasi dan kondisi, dan definisi rasa tidak aman juga akan berbeda-beda. Rasa tidak aman terkadang sengaja diciptakan oleh penguasa dan kemudian berpura-pura mengatasinya.

Di Eropa, penguasa mengesankan fenomena seperti migrasi dan pencarian suaka sebagai gangguan keamanan sehingga bisa menerapkan kebijakan ekstrim untuk menghadapi imigran Muslim. Kebijakan ini akan menambrak banyak aturan hukum humaniter internasional jika diterapkan dalam situasi normal.

Sekuritisasi atau politisasi isu keamanan ini akan mempengaruhi banyak aspek lain seperti, masalah budaya, bahasa, kondisi kesehatan imigran, dan bahkan perbedaan mereka dengan penduduk asli, dan pada akhirnya persoalan utama terlupakan begitu saja.

Negara-negara Eropa ingin melepas tanggung jawabnya mengenai penyelesaian masalah para imigran di wilayah mereka dengan mengangkat isu-isu lain. Untuk lari dari tanggung jawab ini dan menjustifikasi pembatasan ekstrim, pemerintah Eropa justru menuduh para imigran telah menyalahgunakan kebebasan yang ada di Benua Biru.

Mengaitkan masalah imigran dan pencari suaka dengan isu keamanan sebenarnya bertentangan dengan kepentingan pertumbuhan ekonomi Eropa. Politisasi isu keamanan juga akan meningkatkan harapan publik Eropa agar pemerintahan mereka memperluas kebijakan pembatasan terhadap pendatang.

Padahal, negara-negara Eropa akan memperoleh keuntungan ekonomi dengan kedatangan imigran. Negara-negara industri Eropa membutuhkan tenaga kerja murah untuk menggerakkan roda ekonominya dan ini akan menguntungkan pengusaha setempat. Penerapan pembatasan ketat terhadap imigran justru akan meningkatkan kekhawatiran tentang pelanggaran HAM.

Ketika negara-negara Eropa pada 1970-an memberlakukan serangkaian larangan resmi mengenai migrasi tenaga kerja, masalah pendatang juga menjadi perdebatan di antara para pejabat Eropa.

Eropa kemudian menerapkan pembatasan penerimaan imigran menyusul kampanye besar-besaran tentang peningkatan kejahatan, pelanggaran hak-hak individu, pengangguran, masalah sosial, ancaman budaya dan agama, serta ketidakstabilan politik.

Dengan demikian, isu pendatang telah bergeser dari masalah sosial menjadi masalah keamanan. Misalnya, dalam upaya mengaitkan isu pendatang dengan keamanan pasca pemilu Inggris pada 2005, pemimpin partai konservatif Michael Howard berbicara tentang hubungan pencari suaka dengan terorisme.

Howard dalam sebuah pidato pada 29 Maret 2005 mengatakan, "Saat ini kita menghadapi ancaman teroris nyata di Inggris, ancaman terhadap keselamatan kita, cara hidup kita, dan kebebasan kita. Tapi kita sama sekali tidak tahu siapa yang datang atau meninggalkan negara kita. Ada seperempat juta pencari suaka yang gagal tinggal di negara kita hari ini. Tidak ada yang tahu siapa mereka atau di mana mereka berada. Untuk mengalahkan ancaman teroris, kita perlu tindakan, bukan ucapan. Tindakan untuk mengamankan perbatasan kita."

Saat ini, sekuritisasi migrasi dan masalah ancaman keamanan telah menjadi sebuah isu yang umum di tingkat Uni Eropa dan negara-negara Eropa. Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi juga mengakui bahwa migrasi dan pencarian suaka di Uni Eropa telah bergeser menjadi isu keamanan.


PBB dalam sebuah penelitian menyatakan bahwa munculnya kekhawatiran baru bagi negara-negara dunia, terutama pasca peristiwa 11 September 2001, telah menggeser masalah pencarian suaka ke isu keamanan. Para pencari suaka bukannya dianggap sebagai korban, tapi dicitrakan sebagai pemicu rasa tidak aman.

Di Uni Eropa, banyak dari pejabat politik terutama ultra-nasionalis sayap kanan dan kubu konservatif secara terbuka berbicara tentang hubungan migrasi dengan terorisme dan ekstremisme. Mereka secara sadar atau tidak mengaitkan masalah migrasi dengan banyak ancaman sosial di Eropa termasuk terorisme.

Inggris dengan standar ganda ingin mengesankan bahwa mereka tidak begitu mengaitkan persoalan migrasi dengan isu keamanan dibanding negara-negara lain Eropa. Pemerintah Inggris mencoba memperoleh dukungan publik sehingga memiliki tenaga kerja dengan upah murah. Namun, pemerintah juga perlu meredam kekhawatiran publik terkait bahaya keamanan yang mungkin ditimbulkan oleh imigran.

Meski demikian, Inggris mengadopsi undang-undang anti-terorisme baru pada musim gugur 2001. UU ini akan memungkinkan pemerintah untuk menahan atau mengusir pendatang yang dicurigai terlibat aktivitas terorisme. Pada musim dingin 2001, Inggris telah mengumpulkan banyak informasi pribadi dari para imigran Muslim.

Menariknya, paling tidak setengah dari para terduga teroris yang ditangkap di Inggris di bawah undang-undang baru anti-teror bukan warga asing, tetapi warga Inggris sendiri. Katakanlah jika semua terduga teroris yang ditangkap adalah warga asing, apakah pengusiran mereka dari Inggris akan menjadi cara efektif mengurangi ancaman atau tidak?

Isu ini sempat menjadi sebuah perdebatan penting di parlemen Inggris, terutama antara tahun 2002 hingga 2004. Banyak anggota parlemen mendorong pemerintah untuk mengubah pendekatannya terkait penangkapan atau pengusiran terduga teroris.


Arus imigran dianggap akan memperburuk krisis identitas di Eropa, dan persoalan ini mulai menjadi tema perdebatan di kancah politik. Para politisi Eropa menyoroti isu-isu yang berhubungan dengan eksistensi, homogenitas etnis, dan identitas budaya di Eropa serta krisis identitas.

Namun, para pemimpin Eropa bukannya mencari solusi yang rasional dan praktis untuk memecahkan masalah itu, tetapi malah mengangkat isu keamanan dalam kaitannya dengan arus imigran. Menurut pemerintah Eropa, imigran Muslim adalah salah satu faktor yang memperlemah peradaban Barat, tradisi-tradisi nasional, dan homogenitas sosial Eropa. Jika tren ini dibiarkan, maka identitas negara-negara Eropa akan berubah.

Oleh karena itu, masyarakat Eropa umumnya memperkenalkan imigran Muslim sebagai warga asing yang berbahaya. Pemerintah dan media-media Eropa memanfaatkan isu terorisme untuk mengambil pendekatan keamanan terhadap imigran dan menghubungkan fenomena migrasi dengan terorisme.

Banyak pemerintah Eropa memandang imigran sebagai perusak tatanan sosial dan memperlemah peradaban Barat. Menurut mereka, imigran akan merusak tradisi nasional dan keseragaman masyarakat Eropa. Mereka menganggap pendatang bukan sebagai orang asing dan pekerja murah, tetapi unsur yang akan mengubah demografi masyarakat Eropa. 

 

Di masa-masa awal Islam, perjuangan besar Nabi Muhammad Saw melahirkan revolusi besar di dunia.

Nabi Muhammad Saw mengusung prinsip mengenai martabat manusia, kebebasan, keadilan, penghapusan diskriminasi sosial dan transformasi moral dengan poros agama Islam.

Periode sepuluh tahun kehadiran Nabi Muhammad di Madinah adalah salah satu periode pemerintahan paling cemerlang dalam sejarah manusia. Sebuah era ketika sistem Islam didirikan serta model aturan agama diciptakan dan disajikan oleh Rasulullah Saw untuk semua tempat dan waktu.

Faktanya, revolusi yang diusung Nabi dan sistem barunya menjadi peta jalan bagi orang-orang yang mencari bimbingan untuk menemukan jalan terbaik  dalam kehidupannya. Nabi Muhammad Saw membangun sistem sosialnya di Madinah dengan indikator yang jelas dan menyampaikannya kepada umat manusia. Sejak itu, banyak orang telah menulis dan meneliti untuk mengenali  kepribadian beliau yang hebat ini.

Para orientalis termasuk di antara cendekiawan yang banyak membahas masalah Islam dan kehidupan Nabi Muhammad Saw yang seringkali dikaitkan dengan motif politik atau tujuan budaya tertentu.

Pertumbuhan Islam yang begitu cepat, dan daya tarik luar biasa dari kepribadian Nabi Muhammad Saw menyebabkan beberapa pendeta Eropa berbicara tentang Nabi, bukan karena ketulusan dan keadilan, tetapi untuk mendiskreditkan ajaran dan metodenya. Padahal sosok agung beliau tidak membutuhkan pujian atau penolakan, karena kehadirannya sendiri menjadi cahaya matahari yang menerangi dunia ini.  Sebagaimana digambarkan Alquran dalam surat al-Ahazab ayat 45 dan 46 sebagai berikut:

"Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, serta pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan juga menjadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya untuk jadi cahaya yang menerangi,".

 Pada acara sebelumnya telah dibahas buku Profesor Annemarie Schimmel berjudul "And Muhammad Is His Messenger". Dalam mengenalkan Nabi Islam, orientalis Jerman ini tidak membatasi diri pada apa yang dikatakan dan didengar, melainkan berusaha menyingkap tirai dan mencari kedalaman karakternya dengan mengutip fakta sejarah dan bukti Alquran.

Schimmel dalam karyanya ini menunjukkan manifestasi transenden dan spiritual Nabi Islam. Oleh karena itu, ia menyebut dendam dan hinaan sebagian orang Barat terhadap Nabi tidak rasional dan menyedihkan. Islamolog Jerman ini menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai matahari yang bersinar terang. Ia berkata:

"Nur Mohammadi bersinar terang menyinari kehidupan. Tuhan menganugerahkan cahayanyatidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu saja, tapi menyinari dunia melalui Nabi-Nya. Dia adalah cahaya penerang yang mengungkap sebagian dari dunia gaib dan dimanifestasikan di alam semesta. Cahaya ini muncul pada Adam dan kemudian pada nabi-nabi lain sampai sempurna dalam diri Muhammad dan berbagai fenomena penciptaan selesai dalam dirinya."

Di sini, Schimmel juga menarik perhatian dengan mengungkapkan, "Meskipun Muhammad mencapai pencerahan tingkat tinggi, tetapi dia tetap menjadi hamba Tuhan dan makhluk-Nya. Inilah yang menjadi inti ajaran Muslim dalam salatnya, ketika mereka bersaksi tentang misi risalahnya, pertama-tama mengakui bahwa Muhammad adalah hamba Tuhan. Wajah manusiawi Nabi selaras dengan kebenaran spiritualnya. Para sufi menggunakan terma Nur Muhammadi dalam interpretasi sastra sufistik yang indah dan memuji kualitas kemanusiaannya."

Di salah satu bab karyanya yang berjudul, "And Muhammad Is His Messenger", Schimmel mengkaji kebenaran kenabian. Menurutnya, seseorang yang diutus oleh Tuhan untuk membimbing umatnya haruslah terpuji dan memiliki kualitas karakter moral yang sangat baik seperti jujur dan amanah.

Dia menulis, "Muhammad menghindari tradisi penyembahan berhala di Mekah sejak usia dini dan menghindari berpartisipasi dalam permainan teman-teman mudanya. Oleh kareana itu,mengikut Muhammad (Saw) itu penting karena ia terbebas dari segala kesalahan dan dosa serta mampu menjadi teladan bagi masyarakat, bahkan dalam hal-hal terkecil sekalipun.

Dia tidak pernah membiarkan debu dosa mengendap di jiwanya yang suci. Muhammad adalah contoh dari manusia sempurna yang berhasil mengatasi naluri dan nafsu duniawinya. Dia melaksanakan perintah Tuhan dalam setiap momentum kehidupan, dengan pikiran dan tindakannya. Oleh karena itu, setan tidak berdaya menghadapinya.

Kualitas manusia sempurna ini juga tercermin dalam doa-doa yang dibaca umat Islam. Mereka memohon kepada Tuhan supaya menghiasinya dengan kualitas moral indah yang sama dari Muhammad. Ciri-ciri Muhammad begitu unik sehingga para ulama menekankan bahwa untuk menjaga rasa hormat kepada Nabi, beliau tidak boleh dibandingkan dengan para raja dan pejabat atau politisi dunia lainnya."

Di bagian lain bukunya, Profesor Schimmel menganggap mukjizat Nabi Islam sebagai manifestasi dari karakter spiritualnya. Ia berkata, "Alquran adalah mukjizatnya yang luar biasa. Kitab suci ini tidak hanya mengacu pada atribut dan amalan luhur Nabi, tetapi juga menceritakan tentang beberapa peristiwa misterius dalam hidupnya. Para mufasir Alquran, ulama terkenal, serta sufi dan penyair dalam Alquran telah menemukan konten yang sesuai dan menciptakan cerita maupun teks yang indah darinya,".

Dia menambahkan, "Muhammad sebagai Umi adalah kejutan lain yang menambah ruang lingkup mukjizatnya. Pasalnya, bagaimana seseorang yang tidak bisa membaca dan menulis menemukan pengetahuan yang akurat tentang peristiwa masa lalu dan masa depan? Pengetahuan langsungnya dari Tuhan memungkinkan Nabi mengetahui segala sesuatu di dunia, bahkan masa depan, kemudian menciptakan transformasi besar dalam kehidupan manusia,".

Dengan mempelajari kehidupan Nabi Islam secara cermat, Shimmel menerima pesan Alquran bahwa Nabi adalah rahmat bagi semesta alam. Dia menulis, "Berdasarkan ayat Alquran ini, orang beriman meyakininya tanpa ragu-ragu. Sebab, mereka tahu bahwa Nabi mereka dapat menghidupkan hati yang telah mati dan menjadi tempat  berlindung para pecintanya. Para penyair Muslim telah menemukan gambaran indah untuk menggambarkan karakter Nabi, dan  berbicara tentang kasih sayangnya dan rahmat ilahi dengan cara yang menyenangkan," 

Dari sudut pandang profesor Jerman ini, kebesaran Nabi bisa dipahami bahkan dari namanya. Nama-nama seperti Muhammad dan Ahmad memiliki tempat khusus di kalangan para tokoh besar dunia. Penyair seperti Attar Neyshabouri dan Jami memiliki deskripsi yang indah tentang nama-nama ini dan atribut lain yang melekat pada Nabi. Umat Islam memberikan tempat khusus untuk nama Nabinya demi mendapatkan berkah beliau.

Mereka tidak menyebut nama Nabi dan merujuknya tanpa mengirimkan salam dan shalawat kepadanya. Salawat kepada Nabi telah menemukan tempat khusus di kalangan Muslim dalam sholat dan kehidupan umat Islam. Salawat adalah doa yang menunjukkan kemuliaan Nabi. Orang-orang percaya sepenuhnya memahami  bahwa shalawat kepada Nabi Muhammad Saw akan memberikan berkah yang melimpah dalam kehidupan mereka.

Dengan kajiannya yang mendalam mengenai budaya dan peradaban Islam, Schimmel menyebut Islam sebagai anugerah besar dari Nabi di tengah gegap-gempita media Barat yang memandang Islam dengan kacamata pejoratif. ia menulis, "Saya sangat menyayangkan di kalangan Barat memandang Islam dari sudut pandang negatif. Padahal Islam memiliki tingkatan tinggi yang harus diperhatikan lebih cermat. Agama Muhammad telah menarik hati jutaan orang dan menjadi agama perdamaian, ketentraman dan keadilan. Agama ini mengutuk terorisme dan pembunuhan manusia,".

Sarjana terkemuka Jerman ini menyimpulkan dalam bukunya, "Ungkapan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa sendiri memuji utusannya adalah kata yang mempersulit pekerjaan para penyair  dan penulis. Sebagaimana dikatakan pemikir Mesir, Busiri, salah satu mukjizat Nabi Muhammad (Saw) adalah ketidakmampuan bahasa yang tidak bisa mengungkapkan apa yang pantas disandangnya."

Shalawat dan salam kepada utusan terakhir Allah swt, Nabi Muhammad Saw, yang merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta