کمالوندی

کمالوندی

Minggu, 20 Juni 2021 20:31

Surat al-Zukhruf ayat 16-22

 

أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ وَأَصْفَاكُمْ بِالْبَنِينَ (16) وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَنِ مَثَلًا ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (17) أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ (18)

Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki. (43: 16)

Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih. (43: 17)

Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran. (43: 18)

Ayat ini mengisyaratkan keyakinan dan hal-hak khurafat di mayoritas kaum dan umat manusia sepanjang sejarah, di mana menurut keyakinan ini laki-laki lebih unggul dari perempuan dan mereka menganggap anak perempuan sebagai hal memalukan. Oleh karena itu, ayat ini menyatakan, bagaimana kalian menganggap anak laki-laki lebih unggul dari anak perempuan serta ketika anak laki-laki lahir, kalian gembira dan sebaliknya ketika yang lahir adalah anak perempuan, wajah kalian gelap dan sedih?

Lebih buruknya kalian menisbatkan anak laki-laki kepada diri kalian dan membanggakannya. Sementara kalian menisbatkan anak perempuan kepada Tuhan bahwa Ia menciptakan anak perempuan dan kalian mengatakan tidak menghendakinya. Kalian menganggap anak laki-laki dari kalian karena mereka menjadi tangan kanan kalian di perdagangan dan penyambung keturunan, serta menjadi kekuatan kalian saat perang, tapi anak perempuan yang tinggal di rumah dan besar sebagai hiasan serta lemah saat terjadi pertengkaran, kalian nisbatkan kepada Tuhan?

Jelas bahwa anak perempuan dan laki-laki keduanya ciptaan Tuhan dan keniscayaan keberadaan serta eksistensi manusia adalah adanya dua jenis ini. Di sisi Tuhan, salah satu di antaranya tidak unggul dari yang lain. Perempuan dan laki-laki masing-masing memiliki peran tersendiri dan memiliki karekteristik fisik dan mental yang berbeda. Salah satu perbedaannya adalah perempuan lebih unggul di bidang perasaan dan emosi di ucapan serta perilaku. Sejatinya mengingat peran vital perempuan di kehidupan, yakni peran ibu, Tuhan menetapkan karakteristik ini pada mereka dan dalam hal ini, mereka dikecualikan untuk hadir di medan perang.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Membedakan anak perempuan dan laki-laki memiliki akar di pemikiran khurafat dan keliru yang ditolak keras oleh al-Quran.

2. Cinta perhiasan bagi seorang anak perempuan dan wanita adalah hal wajar dan dapat diterima.

3. Medan keras pertempuran bukan tempat perempuan, karena hal ini tidak selaras dengan tabiat dan kondisi mereka.

وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ (19) وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ مَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ (20)

Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban. (43: 19)

Dan mereka berkata, “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka. (43: 20)

Salah satu pemikiran keliru dan tahayul orang musyrik adalah mereka menganggap malaikat anak perempuan Tuhan dan mereka sangat menekankan keyakinan tahayulnya ini seakan-akan mereka menyaksikan sendiri pencitaan malaikat dan bahwa Tuhan melahirkan anak perempuan!

Lebih buruk lagi, mereka menyembah malaikat dan meyakini malaikat terlibat serta berpartisipasi dalam merencanakan urusan duniawi. Padahal keyakinan seperti ini muncul dari tebakan dan perkiraan tanpa dasar serta tidak ada pembenaran dari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, al-Quran mengatakan, klaim tak berdasar dan keliru mereka ini akan dipertanyakan di hari Kiamat, diinterogasi serta mereka tidak memiliki jawaban.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Malaikat makhluk Tuhan, bukan anak-Nya. Malaikat berbeda dengan manusia, mereka tidak memiliki gender.

2. Penyembahan terhadap makhluk Tuhan baik itu malaikat atau manusia seperti Nabi Isa as, akan dipertanyakan di hari Kiamat.

3. Jangan mengira bahwa apa yang kita katakan dan apa yang keluar dari mulut kita akan terhapus. Tapi apa yang kita katakan tercatat dan suatu hari kita harus bertanggung jawab atas perkataan dan klaim kita.

4. Jangan menjustifikasi perilaku keliru kita dengan menisbatkannya kepada Tuhan. Karena Ia yang telah mengirim kitab suci, nabi dan petunjuk bagi umat manusia, tidak pernah meminta kita untuk menempuh jalan keliru.

أَمْ آَتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِنْ قَبْلِهِ فَهُمْ بِهِ مُسْتَمْسِكُونَ (21) بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ (22)

Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Quran, lalu mereka berpegang dengan kitab itu? (43: 21)

Bahkan mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (43: 22)

Melanjutkan ayat sebelumnya tentang keyakinan tahayul orang musyrik, ayat kali ini mengisyaratkan akar dari keyakinan tersebut dan mengatakan, “Mereka tidak menyandarkan keyakinan tahayulnya kepada ajaran nabi dan kitab samawi, karena tidak ada nabi yang mengajarkan keyakinan tahuyul seperti ini kepada masyarakat. Tapi mereka mengikuti keyakinan tayahul para pendahulu mereka. Leluhur mereka yang bodoh telah menisbatkan hal-hal tak masuk akal dan aneh kepada Tuhan.”

Dengan kata lain, keyakinan khurafat dan tahayul ini tidak memiliki bukti sains dan pengetahuan serta akal, dan juga tidak ada argumentasi riwayat serta ayat dari kitab samawi yang dibawa para nabi terdahulu. Ini hanya taklid buta kepada kakek dan leluhur terdahulu sehingga keyakinan ini diterima di tengah masyarakat. Padahal tidak ada manusia yang berakal yang menetapkan pemikiran dan keyakinannya berdasarkan taklid, apalagi taklid orang bodoh kepada orang bodoh lainnya.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Ideologi dan keyakinan harus didasarkan pada akal atau wahyu. Apa yang tidak selaras dengan akal dan wahyu adalah syirik dan khurafat meski hal tersebut diakui oleh adat istiadat dan budaya sebuah masyarakat.

2. Hati-hati jangan sampai kita menyebarkan sunnah dan adat keliru di tengah masyarakat dengan alasan menjaga warisan leluhur.

3. Segala bentuk fanatisme etnis, nasional dan bahasa yang berujung pada taklid buta dan perilaku tak masuk akal, ditolak oleh al-Quran.

Minggu, 20 Juni 2021 20:29

Surat al-Zukhruf ayat 11-15

 

وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ تُخْرَجُونَ (11) وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ (12)

Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (43: 11)

Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. (43: 12)

Ayat sebelumnya menyinggung tanda-tanda Tauhid di alam semesta, dan di ayat ini dijelaskan bahwa hidupnya bumi, tumbuhan, dan manusia tergantung pada hujan, jika di suatu tempat tidak turun hujan, maka kekeringan akan membuat manusia kelaparan, dan kehausan.

Pertanyaannya adalah, apakah cahaya matahari yang menyinari laut, dan samudra, serta menguapnya air laut, dilakukan oleh manusia, dan apakah manusia ikut terlibat dalam proses turunnya hujan ? begitu juga apakah awan, dan tiupan angin yang menggerakan awan ke arah tanah-tanah yang tandus, adalah pekerjaan manusia ?

Tanah-tanah kering, dan tandus yang menyembunyikan benih-benih tumbuhan di dalam dirinya, seiring dengan turunnya hujan mulai bergerak, dan berbagai jenis tumbuhan mulai tumbuh. Pertumbuhan tanaman, mekarnya beraneka warna bunga, dan lahan pertanian subur, adalah karena turunnya hujan. Sebagaimana tanah-tanah tandus hidup lagi karena hujan, manusia juga akan dihidupkan lagi setelah mati. Turunnya hujan, dan menghidupkan tanah yang mati adalah bukti ilmu, dan kekuasaan Tuhan, dan tidak ada keraguan apapun tentang hari kiamat, dan dihidupkannya kembali semua yang mati. Kenyatannya, ini adalah contoh kebangkitan manusia yang dijelaskan Al Quran.

Selanjutnya ayat di atas membahas tentang hidup berpasangan. Semua makhluk hidup patuh pada hukum berpasangan, dan untuk melanjutkan generasi, mereka tergantung pada hidup berpasangan, tidak mungkin melanggarnya kecuali atas kehendak Tuhan.

Di ayat ini juga disinggung tentang tunggangan-tunggangan yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk melalui jalan darat maupun laut, dan ini kenyataannya adalah kemurahan dan kasih sayang Tuhan kepada umat manusia.

Sejak dahulu kala manusia sudah menggunakan laut sebagai jalur pelayaran kapal-kapalnya untuk mengangkut barang, dan memindahkan manusia. Hal yang menarik adalah, kapal-kapal dengan kemegahan, dan bobotnya yang berat, mematuhi hukum fisika di air, sehingga tidak tenggelam. Tidak diragukan, aturan dan hukum ini tidak diciptakan kecuali oleh Tuhan.

Di masa kini, berbagai tunggangan khususnya alat transportasi cepat seperti mobil, kereta cepat, dan pesawat telah memperluas aktivitas manusia, dan telah mengubah kehidupannya. Semua ini adalah bentuk kemurahan Tuhan, karena semua alat transportasi cepat ini mematuhi hukum Tuhan dalam gerak.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Sistem penciptaan mematuhi hukum yang jelas. Tuhan telah menetapkan hukum itu bagi setiap sesuatu.

2. Tuhan melakukan pekerjaan berdasarkan hukum sebab-akibat, sebagaimana hujan menjadi sebab hidupnya tanah, dan semua yang hidup di dalamnya.

3. Berbagai industri yang diciptakan manusia mengikuti hukum yang dibuat Tuhan di dunia. Manusia hanya menemukan hukum itu, dan memanfaatkannya.

لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ (13) وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ (14)

Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, (43: 13)

dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (43: 14)

Dalam ayat ini dijelaskan, kapanpun manusia menunggangi tunggangannya, baik itu yang diproduksi mesin, dan buatan manusia semacam kapal, pesawat, mobil, dan kereta, ataupun tunggangan alami seperti kuda, unta, dan bagal, jangan lupa bahwa Tuhanlah yang menjinakkan tunggangan ini untuk manusia.

Tuhan juga menjinakkan sebagian binatang lain untuk manusia, meskipun mereka lebih kuat dari manusia, dan secara alami tidak mungkin bisa dijinakkan. Jika tidak ada kemurahan Tuhan, manusia tidak akan memiliki kemampuan untuk menjinakkan binatang-binatang ini. Oleh karena itu manusia harus bersyukur, dan berterimakasih kepada Tuhan.

Di akhir ayat, disinggung kembalinya manusia kepada Tuhan. Jangan sampai bersikap angkuh saat menunggangi tunggangannya, dan tenggelam dalam kenikmatan dunia. Manusia harus selalu mengingat Tuhan dalam setiap keadaan, karena kebanyakan dari mereka menjadikan kendaraan sebagai alat untuk mencari keunggulan diri, dan sombong kepada orang lain.

Kita harus selalu ingat bahwa menunggangi tunggangan yang memindahkan kita dari satu tempat ke tempat lain adalah pemindahan yang besar, yaitu dari dunia ke akhirat. Pasalnya, pada akhirnya kita akan kembali kepada Allah Swt.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Dalam menikmati nikmat-nikmat materi, kita tidak boleh lupa pada Tuhan, dan selalu mensyukuri nikmat-Nya. Hal yang tepat jika kita menyempurnakan syukur kita atas nikmat-nikmat Ilahi dengan selalu bertasbih, dan mensucikan Allah Swt.

2. Di hadapan Tuhan kita tunjukkan kelemahan, dan ketidakmampuan kita. Ini merupakan contoh syukur, bukannya malah sombong, dan menganggap diri lebih baik dari orang lain.

3. Ketika melakukan perjalanan di dunia, kita senantiasa mengingat akhirat yang dimulai dengan kematian.

وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ (15)

Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah). (43: 15)

Setelah dijelaskan sebelumnya tentang contoh-contoh Tauhid dalam penciptaan, dan ketuhanan, ayat ini mengecam syirik yang dilakukan sebagian manusia, dan menuturkan, bagaimana mungkin sebagian orang musyrik mengira para malaikat adalah putra-putra Tuhan, dan anak-anak yang lain adalah  bagian dari orang tuanya ?

Tuhan bukan materi sehingga bisa dibagi, atau memiliki kemungkinan terpisah serta keterpisahan bagian-bagiannya. Para malaikat juga layaknya makhluk yang lain, adalah ciptaan Tuhan. Mereka bekerja mengatur alam semesta, bukan bagian dari Tuhan atau anak-Nya.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Sepanjang sejarah banyak khurafat tentang Tuhan, dan hubungan dengan makhluk-Nya, dan semuanya lahir dari ketidaktahuan manusia atau disingkirkannya ajaran para nabi.

2. Para malaikat adalah makhluk Tuhan, dan patuh pada perintah-Nya, bukan anak Tuhan yang berasal dari jenisnya.

3. Kepercayaan-kepercayaan menyimpang, khurafat, dan syirik menjauhkan kita dari Tuhan, dan menyimpangkan dari jalan kebenaran, dan membuat kita mengingkari nikmat-nikmat-Nya.

Minggu, 20 Juni 2021 20:28

Surat al-Zukhruf ayat 1-10

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

حم (1) وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ (2) إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (3) وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ (4)

Haa Miim. (43: 1)

Demi Kitab (Al Quran) yang menerangkan. (43: 2)

Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). (43: 3)

Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (43: 4)

Surat Az Zukhruf adalah surat ke-43 Al Quran, dan memiliki 89 ayat. Surat ini seperti surat-surat lain yang turun di Mekah, membahas masalah-masalah akidah seperti penciptaan, hari akhir, dan kenabian.

Tujuh surat Al Quran diawali dengan huruf Muqathaah, “Haa Miim”, dan Surat Az Zukhruf adalah salah satunya. Seperti surat-surat lainnya, Surat Az Zukhruf setelah huruf ini, berbicara tentang Al Quran, dan tujuan penurunannya untuk menghidayahi umat manusia.

Di surat ini setelah huruf Muqathaah, Allah Swt bersumpah demi Al Quran. Hakikat Al Quran terang benderang, dan mencerahkan, serta menerangi jalan hidayah, dan kebahagiaan.

Audiens kitab ini awalnya adalah bangsa Arab, dan Al Quran ditulis dalam bahasa Arab. Pada saat yang sama, Al Quran tidak dikhususkan untuk bangsa Arab saja, kandungannya dipahami seluruh manusia. Allah Swt yang menurunkan kitab ini meminta seluruh umat manusia untuk merenungkan ayat-ayat kitab ini, dan memikirkan ajaran-ajaran luhurnya, serta mengimaninya dengan pengetahuan, dan kesadaran. Jelas bahwa setelah beriman kepada kitab ini, ajaran-ajaran konstruktif, dan solutifnya harus diamalkan.

Berbeda dari tuduhan sejumlah pihak bahwa Al Quran adalah perkataan seorang manusia bernama Muhammad, Al Quran adalah firman Tuhan, dan hakikatnya terjaga di sisi Allah Swt di Ummul Kitab atau Lauhul Mahfudz. Al Quran adalah kitab yang berasaskan ilmu, dan hikmah Ilahi, dan menjadi rujukan seluruh kitab langit. Seluruh hakikat alam, sebab-sebab kebahagiaan, dan kesengsaraan umat manusia, segala sesuatu yang dibutuhkan untuk kebijaksanaan, dan kesempurnaan, dijelaskan dalam kitab ini, dan ia terjaga dari segala bentuk campur tangan, perubahan, dan penyimpangan.

Dari empat ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Al Quran memiliki kesucian yang sedemikian tinggi hingga Allah Saw bersumpah demi kitab ini.

2. Memilih jalan Tuhan harus melalui usaha berpikir, dan perenungan, bukan taklid.

3. Pesan seluruh nabi, dan kandungan semua kitab langit adalah satu, karena turun dari satu sumber yang sama yaitu Allah Swt.

أَفَنَضْرِبُ عَنْكُمُ الذِّكْرَ صَفْحًا أَنْ كُنْتُمْ قَوْمًا مُسْرِفِينَ (5) وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ (6) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (7) فَأَهْلَكْنَا أَشَدَّ مِنْهُمْ بَطْشًا وَمَضَى مَثَلُ الْأَوَّلِينَ (8)

Maka apakah Kami akan berhenti menurunkan Al Quran kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas? (43: 5)

Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. (43: 6)

Dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (43: 7)

Maka telah Kami binasakan orang-orang yang lebih besar kekuatannya dari mereka itu (musyrikin Mekah) dan telah terdahulu (tersebut dalam Al Quran) perumpamaan umat-umat masa dahulu. (43: 8)

Salah satu sunnatullah yang terjadi di sepanjang sejarah adalah pengutusan para nabi, dan kitab langit untuk menghidayahi umat manusia. Akan tetapi sekelompok masyarakat, dan penguasa selalu menentang mereka, dan berusaha menjatuhkan harga diri para nabi dengan melakukan pengkhianatan, dan penghinaan. Terkadang mereka membuat penentangan-penentangan ini sedemikian besar, dan menggunakan segala cara untuk mencegah tersebarnya ajaran para nabi. Mereka bahkan melancarkan perang, dan konflik, dan membunuh nabi-nabi, dan para pengikutnya.

Allah Swt tidak menunda risalah para nabi, dan tidak membiarkan masyarakat karena perilaku zalim mereka. Dampak dari perilaku buruk para penentang itu adalah kebinasaan, dan kehancuran, dan rekam jejak mereka menjadi pelajaran.

Dari empat ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Para pemuka agama tidak boleh melalaikan tugasnya dalam menyampaikan pesan kebenaran hanya karena adanya sejumlah hambatan.

2. Orang beriman tidak boleh lemah, dan goyah di jalannya, karena olok-olok, dan hinaan para penentang, karena para nabi selalu menjadi objek olok-olok sekelompok orang kafir, namun orang-orang besar itu tetap tegar, dan terus melanjutkan jalannya.

3. Hukuman Tuhan tidak hanya terbatas di hari akhirat saja, karena Allah Swt membinasakan sejumlah kaum kuat yang memilih jalan ekstrem, dan di luar batas, di dunia ini.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ (9) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (10)

Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab, “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (43: 9)

Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (43: 10)

Ayat ini menyinggung risalah para nabi untuk membangunkan fitrah manusia, dan mengarahkan perhatiannya pada Penciptanya. Dalam ayat ini Allah Swt berfirman, orang-orang musyrik yang menyembah berhala jika ditanya, siapa Penciptamu, mereka akan mengakui Allah Swt yang menciptakan langit dan bumi.

Kebanyakan manusia lalai dari sumber keberadaan, dan akhir dunia karena urusan hidup sehari-hari. Mereka terlalu sibuk memikirkan urusan makan, minum, dan kenikmatan hidup, dan untuk mencapai semua ini mereka bekerja keras mengumpulkan kekayaan. Padahal semua itu bukan tujuan hakiki hidup, dan manusia jika sudah mencapai kenikmatan materi, tidak akan pernah puas, dan tidak merasa bahagia.

Para nabi datang untuk memberi peringatan kepada manusia untuk tidak lalai atas apa yang sudah ia kerjakan, dan tidak melupakan Tuhan dalam gegap gempitanya kehidupan. Tuhan yang menciptakan mereka, dan menganugerahkan berbagai nikmat kepadanya. Tuhan yang menjadikan bumi sebagai tempat lahir, dan tempat yang nyaman bagi manusia. Kita harus memperhatikan poin penting ini bahwa bumi meski memiliki beberapa gerakan, namun karena patuh pada hukum gravitasi, dan beberapa faktor lain, tetap tenang sehingga para penghuninya selalu merasa nyaman.

Nikmat lain yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah jalan-jalan di muka bumi sehingga mereka tidak tersesat, dan sampai ke tujuan. Hampir seluruh permukaan bumi diliputi kerutan, dan ditutupi oleh pegunungan besar serta kecil, dan bukit-bukit. Hal yang menarik, di antara jajaran pegunungan tinggi dunia, biasanya terdapat irisan-irisan yang memungkinkan manusia menemukan jalannya. Ini merupakan salah satu kemurahan Tuhan untuk manusia.

Maka dari itu hanya Allah Swt yang memberikan seluruh nikmat ini kepada umat manusia, dan Dialah Pencipta, dan Pengatur alam semesta, Dia layak untuk disembah. Kenyataannya, manusia dengan cara menyembah, dan mentaati Tuhan, selain mendapatkan kenikmatan dunia, juga dijamin masuk surga.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Mengenal Tuhan adalah hal fitrah, namun manusia perlu diingatkan, dan perhatian agar tidak lalai terhadap Tuhan.

2. Memperhatikan nikmat-nikmat Ilahi dalam hidup adalah cara terbaik untuk mencegah kelalaian, dan mengikis karat dari hati, dan jiwanya.

3. Tuhan yang menciptakan langit, dan bumi, da memenuhi semua kebutuhan manusia di muka bumi, juga menyediakan fasilitas hidayah untuk manusia sehingga ia mencapai kebahagiaan di dunia, dan akhirat.

Minggu, 20 Juni 2021 20:27

Surat al-Syura ayat 48-53

 

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ وَإِنَّا إِذَا أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً فَرِحَ بِهَا وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ كَفُورٌ (48)

Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat). (42: 48)

Salah satu karakteristik yang dimiliki para Nabi ilahi adalah kecintaan dan kasih sayangnya terhadap umat manusia yang menyebabkan mereka bersedih ketika sebagian orang tidak mau beriman. Padahal, mereka sudah mengerahkan segenap dayanya dalam berdakwah.

Di ayat ini, Allah swt menyampaikan kepada para Nabi-Nya bahwa sebesar apapun upaya yang telah dikerahkan, pada akhirnya ada saja orang yang memprotes dan tidak mau menerima dakwahmu. Engkau tidak memiliki tanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan. Sebab pesan ilahi telah disampaikan kepada mereka. Allah tidak menghendaki hamba-Nya beriman dengan paksaan, oleh karena itu, engkau diutus untuk mengajak mereka menerima kebenaran. Allah swt menghendaki manusia beriman dengan kehendaknya sendiri. Sebab keimanan demikianlah yang berharga.

Kelanjutan ayat ini menjelaskan adanya sebagian orang menentang dakwah para Nabi, bahkan mereka juga menentang Tuhan Yang Maha Kuasa. Padahal Allah swt telah menganugerahkan karunia yang begitu besar kepada manusia.

Sebagian orang menolak kebenaran yang dibawa para Nabi karena merasa dirinya tidak membutuhkan dakwah tersebut, dan berbangga dengan apa yang telah dimilikinya selama ini. Bahkan kesombongan tersebut menyebabkan mereka melupakan Allah swt yang telah menciptakan dirinya sendiri dan semua yang dimilikinya. Sebagian juga tidak mau bertaubat ketika ditimpa musibah yang seharusnya menyadarkan mereka dari kelalaian selama ini.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Tanggung jawab para pemimpin dan pemuka agama adalah menyampaikan dakwah ilahi, bukan memaksa orang lain menerima kebenaran yang dibawanya.

2. Sebagian manusia cenderung sombong dan lalai ketika dianegarahi karunia.

3. Kesulitan dalam kehidupan disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri, dan Allah swt tidak menghendaki kesulitan bagi mereka.

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (49) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (50)

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. (42: 49)

atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (42: 50)

Melanjutkan ayat sebelumnya tentang nikmat dan rahmat di alam semesta ini yang datang dari Allah swt, ayat ini menjelaskan tentang luasnya kekuasaan Allah swt dari bumi hingga langit dan segala suatu yang ada di alam semesta ini. Allah swt terus mencipta, bukan pencinta yang statis dan membiarkan alam begitu saja. Kemudian ayat ini menjelaskan tentang salah satu karunia Allah, yaitu memiliki keturunan.

Pada dasarnya, ayah dan ibu bukanlah pencipta anak-anak, tapi mereka adalah perantara saja yang juga diciptakan oleh Allah swt. Oleh karena itu, pada hakikatnya, Allah swt yang menciptakan anak laki-laki maupun perempuan.

Berdasarkan ayat ini, anak laki-laki maupun perempuan sama-sama anugerah Allah swt. Dalam pandangan al-Quran kedudukan keduanya setara. Sedangkan orang yang tidak diberi keturunan juga atas kehendak Allah sesuai dengan hikmah-Nya. Allah swt mengetahui dan menguasai seluruh alam semesta ini dengan segenap kekuasaanya yang tiada batas.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Anak laki-laki manupun perempuan sama-sama anugerah Allah swt. Oleh karena itu, setiap ayah dan ibu harus memperhatikan keduanya secara adil dan tidak membeda-bedakannya.

2. Allah swt senantiasa dalam keadaan mencipta dan setiap bayi yang lahir di seluruh penjuru dunia ini merupakan contoh dari ciptaan-Nya.

3. Jika kita beriman terhadap ilmu dan kekuasaan Allah swt, maka bertawakalah kepada-Nya mengenai berbagai masalah, termasuk apakah kita akan dikarunia keturunan ataukah tidak setelah berikhtar; ataupun tentang anak, apakah laki-laki ataukah perempuan. Sebab, semua itu ada hikmah-Nya yang belum kita ketahui.

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ (51)

Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (42: 51)

Surat Ash-Shura diawali dengan pembahasan tentang wahyu yang disampaikan kepada para Nabi dan berakhir dengan masalah yang sama. Pada bagian awal disebutkan, manusia tidak bisa secara langsung berhubungan dengan Allah swt, sebab Allah swt bukan materi, sehingga bisa berbicara seperti dengan manusia melalui mulut dan telinga untuk mendengar. Tapi Allah swt menyampaikan wahyunya melalui tiga jalan.

Pertama memberikan ilham di hati para Nabi-Nya yang akan mereka sampaikan kepada masyarakat. Kedua, Allah swt menciptakan gelombang suara yang hanya bisa ditangkap oleh orang-orang terpilih sebagai utusan-Nya, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Musa as. Ketiga melalui malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu dari Allah swt kepada Nabi-Nya.

Wahyu yang disampaikan Allah swt dengan berbagai cara ini diterima dengan penuh keyakinan oleh para Nabi-Nya. Kemudian, para Nabi menyampaikan dakwah kepada masyarakat bersama mukjizatnya yang tidak bisa dilakukan oleh orang biasa, sehingga masyarakat yakin akan ajaran yang dibawanya.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Allah swt menyampaikan wahyu kepada utusan-Nya dengan berbagai cara termasuk melalui malaikat, sehingga bisa diterima oleh para Nabi untuk kemudian disampaikan kepada masyarakat sebagai petunjuk menuju jalan kebenaran.

2. Allah swt memilih orang yang menjadi utusan-Nya dengan ilmu dan hikmah-Nya.

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (52) صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ (53)

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (42: 52)

(Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan. (42: 53)

Ayat di penghujung surat Ash-Shura mengenai wahyu yang diturunkan Allah swt kepada para Nabi-Nya. Allah swt berfirman kepada Rasulullah Saw bahwa al-Quran diturunkan sebagaimana wahyu yang disampaikan kepada para Nabi sebelumnya yang berfungsi sebagai petunjuk bagi umat manusia. Al-Quran menjadi cahaya yang menerangi kehidupan masyarakat. Sebagaimana dalam surat al-Anfal ayat 24 tentang pentingnya memenuhi seruan Allah swt dan Rasul-Nya demi kehidupan manusia sendiri.

Ayat ini mengungkapkan bahwa al-Quran bukan hanya cahaya yang menerangi para Nabi utusan-Nya saja, tapi juga sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus untuk umat manusia. Mengenai jalan yang lurus ini mengapa harus datang dari Allah swt, sebab hanya Allah swt yang paling mengetahui jalan kebenaran dan tempat kembalinya segala urusan. Bukankah tidak ada jalan yang lebih baik dari jalan yang ditunjukkan oleh Allah swt melalui para utusan-Nya sendiri ?

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Para Nabi juga membutuhkan hidayah ilahi supaya bisa membimbing masyarakat, dan sumber petunjuk tersebut bukan berasal dari mereka, tapi dari Allah swt.

2. Ajaran Al-Quran sebagai sumber petunjuk kehidupan individu dan masyarakat. Sebab syarat memerima dan mengamalkan aturan ilahi bukan hanya membaca kitab sucinya saja, tapi memahami makna isinya, merenungkan dan mengamalkannya.

3. Al-Quran saja tidak cukup, karena manusia membutuhkan seorang pembimbing supaya bisa menjalankan ajaran tersebut di tengah masyarakat sekaligus menjadi teladannya.

Minggu, 20 Juni 2021 20:27

Surat al-Syura ayat 44-47

 

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ وَلِيٍّ مِنْ بَعْدِهِ وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَى مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ (44)

Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?” (42: 44)

Salah satu sunatullah adalah anugerah akal dan wahyu sebagai pembimbing manusia untuk menentukan jalan kebenaran dan kesesatan. Sehingga kemudian tidak ada alasan lagi bagi manusia untuk menyangkal tidak mengetahui jalan kebenaran ataupun kesesatan dalam kehidupannya.

Orang yang telah menemukan jalan kebenaran, tapi tidak mengamalkannya, maka ia telah tersesat dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan ilahi di akhirat nanti. Dengan demikian, kebenaran dan kesesatan manusia adalah ikhtiar dan bukan sebuah paksaan yang ditentukan oleh perbuatannya masing-masing. Adakalanya manusia melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan cahaya hidayah ilahi dianugerahkan dalam dirinya.

Pada hari Kiamat kelak, hakikat kebenaran akan terkuak. Ketika itu penyesalan tiada gunanya dan permohonan ampunan kepada Allah swt tidak bermanfaat sama sekali karena batas waktu yang diberikan telah berakhir. Sebagaimana orang yang sudah tua tidak bisa mengembalikan masa mudanya, atau masa muda ke masa kanak-kanak dan balita, akhirat juga tidak bisa mengembalikan manusia ke dunia.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kesesatan tidak mengenal permulaan dengan menjadikan Allah swt sebagai penyebab awal kesesatan tersebut. Sebab manusia diberi bekal akal dan wahyu untuk mengenali kebenaran dan kesesatan.

2. Orang-orang yang lalim dan tersesat tidak berdaya di hadapan kekuatan Allah swt dan tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya di akhirat kelak. Oleh karena itu, kita harus bertawakal dan bergantung kepada Allah Yang Maha Kuasa.

وَتَرَاهُمْ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا خَاشِعِينَ مِنَ الذُّلِّ يَنْظُرُونَ مِنْ طَرْفٍ خَفِيٍّ وَقَالَ الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا إِنَّ الظَّالِمِينَ فِي عَذَابٍ مُقِيمٍ (45) وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ أَوْلِيَاءَ يَنْصُرُونَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ سَبِيلٍ (46)

Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal.” (42: 45)

Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung-pelindung yang dapat menolong mereka selain Allah. Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidaklah ada baginya satu jalanpun (untuk mendapat petunjuk). (42: 46)

Ayat ini menjelaskan tentang kondisi orang-orang lalim dan tersesat yang berada di puncak ketakutan di hari Kiamat kelak. Orang-orang yang melakukan kezaliman di dunia kepada orang lain akan mendapatkan balasannya yang setimpal di akhirat nanti. Mereka tidak kuasa untuk mengangkat kepalanya saking terhina dan  takut menyaksikan api neraka yang berkobar.

Ganjaran paling keras yang mereka terima ketika orang-orang mukmin berkata, "Kalian yang merasa menjadi pemilik kekuasaan dan kekayaan lihatlah kerugian besar yang kalian alami? kerugian yang menyebabkan semua upaya kalian sia-sia belaka dan hari ini hadir di sini dengan tangan kosong. Bukan hanya kalian saja, tapi orang-orang yang mengikuti kalian akan mengalami kerugian besar. Sebab mereka mengira berada di sampingmu akan selamat dan bahagia. Tapi kini mereka justru menderita dan terhina, karena kekuasaan yang dijadikan sandarannya tidak berguna sama sekali".

Oleh karena itu, kerugian besar apalagi yang lebih tinggi dari kehilangan anak dan istri serta keluarga karena mengikuti jalan kesesatan?

Kelanjutan ayat menekankan mengenai akibat dari perbuatan lalim selama di dunia yang akan mendapatkan balasan di akhirat kelak. Azab kekal yang akan diterima di akhirat, dan tidak ada seorangpun yang akan bisa menyelamatkannya.

Mereka yang memutuskan hubungan dengan para Nabi dan aulia Allah swt akan menghadapi azab seorang diri di akhirat kelak tanpa ada yang menolongnya.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kehinaan dan kemuliaan akan terkuak di hari kiamat kelak. Betapa banyak orang yang di dunia ini terlihat hidup mulia, tapi di hari kiamat akan terhina. Sebaliknya, orang-orang yang dunia ini terhina, tapi akan hidup mulai di akhirat nanti.

2. Kerugian terbesar bagi manusia adalah kehilangan umurnya, yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

3. Keimanan sebagai sumber kemuliaan Mukmin di dunia dan akhirat, sekaligus akan menyelamatkannya di akhirat nanti.

اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَا لَكُمْ مِنْ مَلْجَأٍ يَوْمَئِذٍ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَكِيرٍ (47)

Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu). (42: 47)

Sepanjang sejarah, para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah swt untuk membimbing manusia menuju jalan kebenaran. Ayat ini adalah ajakan dari para Nabi dan Rasul kepada umat manusia, temasuk orang-orang Kafir dan lalim supaya mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan ke alam akhirat yang tidak ada jalan pulang ke dunia. Bekal menuju perjalanan ini adalah amal salih selama di dunia dan memohon ampunan dari Allah swt serta menunaikan segala perintah-Nya.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Ketaatan terhadap aturan Allah swt menjadi penyebab kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta penyelamat kita di akhirat kelak.

2. Sebelum kehilangan setiap kesempatan dan fasilitas yang kita miliki selama di dunia, kita harus memikirkan usia dan perjalanan menuju alam akhirat yang harus dipersiapkan bekalnya, sebab setelah perjalanan ini tidak ada jalan kembali ke dunia.

Minggu, 20 Juni 2021 20:26

Surat al-Syura ayat 40-43

 

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (40)

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (42: 40)

Di penghujung pembahasan sebelumnya telah dikupas mengenai membela diri terhadap penyerangan, yang bermakna bahwa orang-orang Mukmin tidak bisa berdiam diri menghadapi kelaliman, dan jika diperlukan meminta pertolongan kepada kepada orang lain supaya terlepas dari penindasan yang menimpanya.

Melanjutkan penjelasan tersebut, ayat ini mengungkapkan bahwa balasan harus sesuai dengan keadilan, sehingga tidak berlebihan dan melewati batas. Masalah ini juga ditegaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 194.

Dalam surat Ashura ayat 40 ini dijelaskan adanya hal yang lebih utama dari balasan terhadap sebuah kejahatan, yaitu berbuat baik dan memaafkannya. Jika orang yang melakukan kejahatan menyesali perbuatannya dan memohon maaf, maka sebaiknya kita memaafkannya. Di ayat ini juga ditegaskan bahwa Allah swt tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim.

Tentu saja, maksud ayat ini mengenai pentingnya memaafkan, bukan berarti Allah swt membela pelaku kejahatan, tapi masalah dendam yang harus dihilangkan dan terwujudnya perdamaian di tengah masyarakat.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Pembalasan bagi orang yang berbuat kejahatan kepada orang lain berada di tangan orang yang dizaliminya. Ia bisa membalas perbuatan jahat yang dilakukan kepadanya, ataukah memaafkannya. Jika balasan akan diberlakukan harus sesuai dengan prinsip keadilan dan tidak melewati batas.

2. Agama Islam menganjurkan untuk memaafkan orang yang telah berbuat salah, meskipun memiliki kekuatan untuk membalasnya. Sebab, orang memaafkan akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah swt.

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ (41) إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (42)

Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. (42: 41)

Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. (42: 42)

Melanjutkan ayat sebelumnya mengenai pembalasan terhadap perbuatan jahat, di ayat ini kembali ditegaskan tentang pentingnya memaafkan perbuatan jahat orang lain lain dari pihak yang dizalimi dengan keinginan sendiri, bukan tekanan orang lain. Sebab, ia memiliki hak untuk mewujudkan haknya membalas kejahatan yang dilakukan terhadap dirinya, bahkan ketika ia tidak mampu membalasnya bisa meminta bantuan orang lain. Tapi tentu saja hal ini harus dilakukan sesuai prinsip keadilan dan tidak melebihi batas.

Pihak yang dianiaya, ketika melakukan pembalasan sesuai haknya tidak boleh dicela, karena ia berhak melakukan tindakan tersebut. Masyarakat harus mencela orang yang tidak menunaikan haknya dan berbuat lalim kepada orang lain.

Sebagaimana orang yang tidak berhak diberi keistimewaan dari orang lain, tentu saja akan menimbulkan sikap sombong dan merasa bisa berbuat apa saja di tengah masyarakat, karena tidak mematuhi aturan yang berlaku. Merekalah yang layak dicela dan harus dihukum di dunia, dan di akhirat kelak akan mendapatkan ganjaran hukuman setimpal dari Allah swt.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Orang yang tertindas berhak meminta pertolongan dari orang lain, dan masyarakat juga harus menolongnya meraih haknya.

2. Melanggar hak orang lain, siapa pun itu, tidak dibenarkan dan dapat ditindaklanjuti dan dihukum.

3. Pembangkangan dan pelanggaran atas batasan ilahi dan hukum sosial yang akan merusak masyarakat harus diungkap dan dipertanyakan oleh masyarakat.

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (43)

Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (42: 43)

Ayat ini kembali menegaskan pentingnya memaafkan orang yang bersalah dan berbuat jahat kepada kita. Tapi masyarakat tidak boleh menekan orang yang menjadi korban supaya memberikan maaf, sebab hal itu harus muncul dari dalam dirinya sendiri, bukan tekanan.

Memaafkan orang lain merupakan perbuatan yang sulit dan membutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya. Bersabar dan memaafkan merupakan perbuatan yang luhur dan mulia. Sebab melepaskan hawa nafsu dengan memaafkan orang lain tidak bisa dilakukan oleh setiap orang dan tidak mudah. Tapi orang-orang yang berjiwa besar akan melakukannya dan tidak menuntut haknya sendiri.

Secara umum di ayat ini ada dua tipe orang dalam menyikapi perbuatan salah dan jahat orang lain, yaitu pembalasan dan memafkan. Tentu saja hal ini dipengaruhi oleh kondisi tiap orang yang berbeda-beda, sesuai dengan kualitas spiritualnya masing-masing.

Mungkin saja orang berbuat lalim menyesali perbuatannya, tapi mungkin juga tidak. Sebaliknya, orang yang teraniaya juga bisa memaafkan, maupun tetap menuntut haknya. Bebeberapa ayat ini menjelaskan bagaimana kondisi spiritualitas setiap orang mempengaruhi keputusan sebuah hukum.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Anjuran akhlak al-Quran adalah bersabar dan memafkan orang lain. Sebab hak untuk membalas tetap ada berdasarkan aturan hukum.

2. Sabar dan memaafkan merupakan sifat mulia manusia yang dipuji Allah swt.

3. Islam adalah agama yang komprehensif dengan mengakui hak orang yang tertindas dan dianiaya untuk membalas, tapi juga menganjurkan untuk memaafkan orang lain.

Minggu, 20 Juni 2021 20:25

Surat al-Syura ayat 36-39

 

فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آَمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (36)

Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. (42: 36)

Di ayat ini dijelaskan, semua yang diberikan Allah Swt kepada manusia di dunia adalah kenikmatan sementara, cepat berlalu dan fana, dan tidak boleh dianggap akan selalu bersama kita. Akan tetapi simpanan, dan kenikmatan di akhirat bersifat abadi, dan diperoleh orang-orang beriman dengan perbuatan baik di dunia. Maka dari itu jika manusia menukar kenikmatan materi yang cepat berlalu di dunia dengan kenikmatan abadi dan kekal di akhirat, berarti ia melakukan transaksi yang sangat menguntungkan.

Semua kenikmatan dunia diberikan kepada manusia, dan dalam hal ini Tuhan tidak membedakan orang beriman dan kafir, akan tetapi kenikmatan akhirat khusus orang-orang beriman, dan suci yang berhasil memanfaatkan dengan baik kenikmatan dunia demi akhiratnya. Jelas bahwa karena mematuhi aturan agama, orang beriman menghindari perbuatan tidak benar, dan bersabar atas sebagian kesulitan, karena Tuhan akan membalasnya di akhirat kelak, dan akan memberikan pahala yang lebih baik serta abadi kepadanya.    

Tidak seperti orang-orang yang hatinya tertambat pada dunia, dan kikir dalam mengumpulkan harta, orang-orang beriman bertawakal kepada Allah Swt, dan lebih memikirkan untuk berinfak serta membantu fakir miskin, daripada mengumpulkan kekayaan.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Manusia beriman memanfaatkan dunia, tapi tujuannya adalah akhirat, dan dengan motivasi ini ia meninggalkan semua hal yang fana.

2. Apa yang hilang dari tangan orang beriman di dunia akan dibalas Tuhan di akhirat dengan yang lebih baik. Kenikmatan di hari kiamat khusus orang-orang beriman yang bertawakal.

3. Tawakal kepada Tuhan daripada bersandar pada kekuatan dan kekayaannya sendiri, adalah tanda keimanan. Tawakal adalah keahlian orang-orang beriman.

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ (37)

Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. (42: 37)

Ayat ini menjelaskan dua karakteristik penting dari sisi akhlak, dan perilaku orang beriman. Orang-orang yang mendapatkan pahala Ilahi di akhirat, dikarenakan mereka tidak melakukan perbuatan buruk, dan jiwa mereka suci dari pencemaran, dan iman tidak sesuai dengan ketidaksucian.

Orang beriman menguasai dirinya. Di saat marah yang merupakan kondisi paling kritis manusia, mereka mampu mengontrol tangan dan ucapannya. Ucapan buruk tidak akan keluar dari mulutnya. Kemarahan hakikatnya adalah api membakar yang membara dalam diri manusia, dan banyak orang yang tidak mampu mengendalikan diri saat marah. Akan tetapi kemarahan adalah kondisi alami dan lumrah yang dialami setiap manusia, namun yang penting adalah pengendalian diri saat marah.

Keimanan dapat memperkuat rahmat, dan pengampunan pada diri manusia, sehingga ia mudah memaafkan orang lain. Oleh karena itu orang-orang beriman saat marah tidak akan kehilangan kontrol diri, sehingga berbuat buruk. Mereka mampu meredam kemarahannya dengan air maaf dan pengampunan, sehingga bisa membersihkan dendam, dan memaafkan orang bersalah. Di banyak riwayat disebutkan, kenalilah sahabatmu saat ia marah, apakah ia mampu mengendalikan diri atau tidak.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Orang beriman menguasai dorongan naluri, dan nafsunya, bukan sebaliknya.

2. Maaf dan pengampunan terhadap orang lain merupakan salah satu syarat iman. Orang yang tidak mau memaafkan orang lain bukanlah Mukmin sejati.

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (38) وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ (39)

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (42: 38)

Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. (42: 39)

Di kedua ayat ini dijelaskan tanda lain orang beriman bahwa mereka menyambut seruan Ilahi untuk mendapatkan hidayah di jalan yang lurus, ia tunduk total di hadapan perintah Allah Swt. Di hadapan Tuhan, ia hanya beribadah, dan melaksanakan shalat. Selain itu mereka membantu orang yang membutuhkan, dan memberikan sebagian hartanya kepada orang-orang miskin.

Dalam urusan keluarga dan masyarakat, ia menghormati pendapat orang lain, dan menyelesaikan permasalahan dengan bermusyawarah. Sejarah awal Islam menunjukkan bahwa Rasulullah Saw dan para sahabat memiliki sifat ini. Bahkan Nabi Muhammad Saw yang terhubung dengan wahyu Ilahi, bermusyawarah dengan masyarakat, dan jika mayoritas masyarakat memberikan suaranya, beliau akan menghormati, meski tidak setuju dengan pendapat tersebut. Seperti yang terjadi pada perang Uhud, Rasulullah Saw melaksanakan metode perang berdasarkan suara terbanyak, meski pada akhirnya perang ini dimenangkan musuh, dan mengakibatkan gugurnya lebih dari 70 sahabat Nabi Muhammad Saw.

Akan tetapi jelas bahwa musyawarah yang dimaksud, terkait masalah-masalah keluarga, sosial, ekonomi, pengelolaan urusan masyarakat, dan selainnya, bukan terkait hukum Ilahi. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat Al Quran bahwa orang beriman bermusyawarah dalam urusan mereka, bukan dalam urusan-urusan yang hukumnya sudah ditetapkan Tuhan.

Hal yang menarik di antara semua karakteristik orang beriman adalah urgensitas musyawarah yang sangat ditekankan oleh Islam sehingga menjadi nama surat ini, Ash Shura.

Karakteristik terakhir orang beriman yang dijelaskan ayat ini adalah perlawanan terhadap penindasan dan orang-orang zalim. Orang beriman tidak akan pernah mau tunduk pada penindasan, dan dalam memerangi orang-orang zalim, ia meminta bantuan orang lain, sehingga kejahatan para penindas dapat dikalahkan. Seperti dijelaskan pada ayat lain bahwa orang beriman tidak menindas, juga tidak menerima penindasan.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Islam adalah agama komprehensif, dan sempurna yang memperhatikan berbagai dimensi kehidupan manusia seperti ekonomi, akhlak, sosial, ibadah, dan politik. Sejumlah contoh dijelaskan dalam ayat ini.

2. Pengakuan beriman harus dibuktikan dengan amal perbuatan. Perilaku seorang Mukmin di semua sisi baik individual maupun sosial, harus benar, dan mendapatkan ridha Tuhan, tidak hanya terpusat pada shalat dan ibabah, namun lalai terhadap urusan sosial.

3. Tirani suara bertentangan dengan iman, oleh karena itu Mukmin menghormati pendapat, dan pandangan orang lain.

4. Menerima penindasan, dan diam di hadapan kezaliman bertentangan dengan keimanan pada Tuhan. Oleh karena itu, Mukmin bangkit melawan para penindas, dan membela hak-haknya.

Minggu, 20 Juni 2021 20:23

Surat al-Syura ayat 29-35

 

وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ (29)

Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. (42: 29)

Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa penciptaan langit dan bumi, dan tumbuhnya berbagai jenis makhluk hidup kecil maupun besar, merupakan tanda-tanda ilmu dan kekuatan Ilahi yang paling jelas.

Langit dan galaksi luas serta miliaran bintang yang membuat manusia tercengang saat memikirkannya, tanah dengan ragam tumbuhan yang berwarna warni, dan berbagai keindahannya, semua merupakan tanda-tanda Tuhan. Begitu juga makhluk hidup di bumi dan langit, beraneka ragam burung, binatang liar, dan ternak, ikan yang sangat kecil hingga paus besar yang menakjubkan, semuanya adalah ayat Tuhan Yang Maha Agung.

Jelas bahwa Dia yang menciptakan sistem yang sangat besar dan luas ini, mampu membangkitkan Hari Kiamat, dan mengumpulkan semua makhluk yang dikehendaki-Nya di hari itu.

Poin menarik dalam ayat ini, pertama, mengabarkan keberadaan makhluk hidup di langit, selain di muka bumi, kedua, berkumpulnya makhluk hidup selain manusia di Hari Kiamat.

Penghimpunan mahkluk selain manusia ini dapat dilakukan dengan dua tujuan, pertama, pahala dan siksaan, dengan asumsi mereka memiliki akal dan pemahaman, kedua, mereka merupakan makhluk yang diberikan kehidupan di akhirat kelak, namun kehidupan yang dikendalikan naluri bukan akal, tanpa pahala dan siksaan. Karena Al Quran di banyak ayatnya hanya berbicara soal pengumpulan makhluk hidup, dan tidak berbicara tentang hukuman dan pahala.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Penciptaan awal makhluk hidup adalah tanda dapat diciptakannya kembali mereka di akhirat.

2. Makhluk hidup bukan hanya yang kita lihat hidup di muka bumi, di langitpun ada makhluk hidup.

3. Penyebaran makhluk hidup atau pengumpulannya patuh pada kehendak Ilahi, dan manusia tidak berperan apapun dalam hal ini.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30) وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (31)

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (42: 30)

Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah. (42: 31)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa azab dan pahala bukannya tidak ada di dunia ini, dan apapun yang dilakukan manusia tidak dihukumi. Banyak perbuatan manusia yang dilakukan atas ikhtiar dan pilihannya, menimbulkan hukuman yang dirasakan manusia di dunia ini, dan ia akan merasakan getirnya dampak dari perbuatan tersebut. Inilah hukuman Tuhan di dunia dalam bentuk hukum alam.

Dengan demikian setiap perbuatan manusia selain membawa dampak di akhirat kelak, ia juga membawa akibat materi di dunia ini. Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Ar Rum ayat 41,

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Selanjutnya ayat 30-31 Surat Ash Shura menjelaskan, sebagian manusia mengira bahwa mereka bisa lari dari perbuatannya di dunia, dan melanggar aturan serta sunatullah tanpa ada musibah apapun yang menimpanya, sehingga melakukan apapun yang diinginkan.

Padahal kemanapun manusia pergi, ke langit atau tetap tinggal di muka bumi, sunatullah atau hukum alam akan berlaku di manapun, dan tidak ada yang berkuasa atas dunia ini kecuali Tuhan.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Banyak peristiwa pahit yang dirasakan manusia di dunia adalah buah dari perbuatannya sendiri.

2. Permasalahan manusia hanyalah akibat dari sebagian kesalahannya. Karena pengampunan Tuhan tidak meliputi dampak sebagian besar dari perbuatan buruk manusia.

3. Manusia di hadapan Tuhan sepenuhnya lemah, dan tidak punya jalan untuk lari dari kekuasaan-Nya.

وَمِنْ آَيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ (32) إِنْ يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَى ظَهْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (33) أَوْ يُوبِقْهُنَّ بِمَا كَسَبُوا وَيَعْفُ عَنْ كَثِيرٍ (34) وَيَعْلَمَ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آَيَاتِنَا مَا لَهُمْ مِنْ مَحِيصٍ (35)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal di tengah (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. (42: 32)

Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur. (42: 33)

atau kapal-kapal itu dibinasakan-Nya karena perbuatan mereka atau Dia memberi maaf sebagian besar (dari mereka). (42: 34)

Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat (kekuasaan) Kami mengetahui bahwa mereka sekali-kali tidak akan memperoleh jalan ke luar (dari siksaan). (42: 35)

Dalam ayat ini dijelaskan tentang peran angin dalam kehidupan manusia. Kapal-kapal besar pengangkut barang atau manusia yang berlayar di lautan, tidak tenggelam, adalah tanda kekuasaan Tuhan, karena Tuhan menganugerahi air dengan sifat ini bahwa kapal yang berlayar di atasnya tidak akan tenggelam. Kapal yang berlayar dengan bantuan angin juga merupakan tanda rahmat Ilahi.

Akan tetapi kapal-kapal besar hari ini berlayar menggunakan mesin kuat yang memungkinkannya mengarungi jarak ribuan kilometer di berbagai samudra, dan mengangkut muatan dalam jumlah yang sangat besar. Itu juga merupakan hukum alam yang ditetapkan Tuhan, dan manusia menemukan serta memanfaatkannya, dan menciptakan gaya gerak darinya, bukan manusia sendiri yang menciptakan aturan atau hukum alam, lalu berkata, ini hasil karyaku.

Ayat di atas selanjutnya menerangkan jika Allah Swt berkehendak, angin bisa saja berhenti berhembus sehingga kapal-kapal berhenti bergerak. Di antara tanda-tanda ini adalah untuk setiap orang yang mencapai kedudukan sabar, dan bersyukur.

Bagaimanapun juga diam atau bergeraknya kapal kecil dan besar, juga sampainya kapal-kapal itu dengan selamat ke tujuan, semua ada di tangan Tuhan. Karena jika Tuhan berkehendak, kapal itu bisa saja tenggelam bersama penumpanganya, tapi hal ini terjadi sebagai hukuman perbuatan manusia sendiri, di sisi lain, Tuhan mengampuni sebagian besar dosa mereka, karena jika setiap manusia harus dihukum atas semua perbuatannya, maka tidak akan ada manusia yang tersisa di muka bumi ini.

Namun orang-orang angkuh, dan sombong tidak akan bersedia mengakui kekuasaan Tuhan di alam semesta ini, dan selalu berusaha mengingkari tanda-tanda-Nya di bumi, serta berdebat dengan orang beriman. Suatu hari mereka akan menyadari bahwa mereka tidak akan bisa lari dari wilayah kekuasaan Tuhan.

Dari empat ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Bukan hanya ciptaan, tapi aturan yang berlaku atas benda-benda padat, dan cair, semua adalah tanda kekuasaan dan rahmat Ilahi yang salah satunya kemampuan bergerak benda-benda besar, dan berat semacam kapal besar di atas air.

2. Saat kita berhadapan dengan nikmat Ilahi, selain harus bersabar kita juga harus bersyukur. Terkadang merupakan hikmah Ilahi bahwa kesulitan mengharuskan kita bersabar, terkadang kenikmatan hidup diberikan kepada manusia dan harus disyukuri.

3. Perbuatan kita manusia selalu memposisikan kita pada bahaya kebinasaan. Maka dari itu, jika kita selamat, itu berkat kebaikan Tuhan.

4. Kita tidak semestinya hanya menafsirkan dan menganalisa semesta ini secara materi semata, dan memperhatikan peran Tuhan dalam mengelola dan mengurus alam ini. Karena jika tidak, maka berarti kita menutup mata atas ilmu, kekuasaan, dan hikmah Ilahi dalam mengelola semesta ini.

Minggu, 20 Juni 2021 20:21

Surat al-Syura ayat 24-28

 

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَإِنْ يَشَأِ اللَّهُ يَخْتِمْ عَلَى قَلْبِكَ وَيَمْحُ اللَّهُ الْبَاطِلَ وَيُحِقُّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (24)

Bahkan mereka mengatakan, “Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.” Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al Quran). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (42: 24)

Dalam ayat ini dijelaskan sebagian orang munafik menghina Nabi Muhammad Saw bahwa apa yang dikatakannya berasal dari dirinya sendiri, lalu mengatasnamakan Tuhan, dan apa yang dikatakannya tentang Al Quran, wahyu atau kecintaan pada Ahlul Bait tidak berasal dari Tuhan.

Allah Swt menjawab tuduhan orang-orang munafik dan berfirman, jika Nabi melakukan hal ini, maka Tuhan akan mengunci mati hati Nabi, dan tidak membiarkan apa-apa yang tidak berasal dari Tuhan dinisbatkan kepada-Nya. Karena jika Tuhan tidak mencegah tindakan itu, maka manusia akan tersesat, dan ini bertentangan dengan hikmah Ilahi untuk menghidayahi manusia. Seperti juga dijelaskan dalam Surat Al Haqqa ayat 44-46,

“Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.”

Kelanjutan ayat ini menekankan bahwa Tuhan menghapus kebatilan, dan mengungkapnya, dan Dia tidak akan membiarkan kebatilan masuk ke dalam wahyu. Ia dengan kata-kata yang diturunkan-Nya mengukuhkan kebenaran.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Orang beriman menerima semua yang dibawa Rasul dari Tuhan, bukan hanya yang disenanginya, dan mengingkari atau mengabaikan semua yang tidak disenanginya.

2. Tuhan tidak pernah main-main dengan siapapun, bahkan jika Nabi-Nya mengatasnamakan perbuatan tidak benar kepada diri-Nya, maka Dia akan mengungkap dan menunjukkan kebohongan kata-katanya, dan mencegahnya dari wahyu.

3. Hancurnya kebatilan, dan menangnya kebenaran adalah janji pasti Tuhan kepada orang beriman.

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ (25) وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَالْكَافِرُونَ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ (26)

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. (42: 25)

Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. (42: 26)

Salah satu anugerah terpenting yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah terbukanya selalu pintu kembali bagi hamba-hamba-Nya yang berdosa, dan tidak ada batasan apapun bagi mereka untuk bertobat. Kita manusia biasanya tidak akan menerima maaf orang yang mengulangi penindasannya kepada kita, kita bahkan tidak akan mengizinkan mereka meminta maaf.

Akan tetapi Tuhan berfirman, kapanpun hamba-hamba-Ku menyesali perbuatan buruknya, dan kembali, pintu tobat selalu terbuka bagi mereka, dan Aku akan mengampuni semua kesalahan mereka. Padahal Tuhan mengetahui lahir dan batin perbuatan kita, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari pandangan-Nya.

Kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya selain pengampunan dosa adalah dikabulkannya doa. Artinya, Tuhan menerima permintaan orang beriman, dan lebih tinggi dari itu, yang mungkin sama sekali tidak terpikirkan, serta jauh melampaui keinginan-keinginan manusia, Tuhan memberi sesuatu kepada manusia atas dasar kasih sayang-Nya, inilah puncak rahmat Tuhan kepada orang beriman.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Di dalam Islam, tidak ada jalan buntu, jalan kembali selalu terbuka, dan siapapun, dalam kondisi apapun bisa kembali.

2. Tuhan kepada para pendosa berjanji jika bertobat, dosa-dosa mereka akan diampuni. Kenyataannya dengan janji ini para pendosa diajak untuk kembali.

3. Syarat menjauhi dosa adalah beriman kepada Tuhan, dan melakukan perbuatan baik.

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ (27) وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ (28)

Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. (42: 27)

Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji. (42: 28)

Kedua ayat ini menyinggung hikmah Ilahi yang menjadi pijakan seluruh urusan dunia. Allah Swt berfirman, alam semesta diciptakan sesuai ukuran kapasitas benda, dan manusia, dan Tuhan bisa menambah kemampuan kepada apapun atau siapapun, tapi pekerjaan tidak sesuai dengan hikmah-Nya, karena menyebabkan membuat manusia membangkang, dan merusak tatanan sosial.

Semua manusia memohon kepada Tuhan agar dilapangkan rezekinya, dan sangat mudah bagi Tuhan untuk melakukannya, tapi hikmah Tuhan tidak mengizinkan hal semacam ini terjadi.

Masalah pembagian rezeki didasarkan pada perhitungan yang sangat akurat, karena Tuhan mengetahui hamba-hamba-Nya. Dia mengetahui kapasitas wujud semua hamba. Maka dari itu, Dia membagikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya sesuai ukuran, dan maslahat.

Pengalaman sepanjang sejarah manusia membuktikan orang-orang yang memperoleh rezeki berlimpah biasanya melupakan Tuhan, dan menindas sesama serta mengabaikan perintah Tuhan. Karena nafsu manusia tidak pernah puas, dan kekuasaan serta kekayaan seberapapun besarnya tetap tidak cukup baginya. Ia ingin memiliki semua yang dimiliki orang lain, meski harus menindas, dan berbuat zalim. Oleh karena itu, Tuhan memberikan rezeki kepada manusia sesuai kebutuhan, dan maslahatnya.

Maka dari itu menjadi kewajiban kita sebagai manusia untuk bekerja mencari rezeki dan kesejehteraan hidup, pada batas yang wajar. Pada saat yang sama, kita harus tahu bahwa alam semesta, dan hikmah Ilahi tidak patuh pada keinginan kita, dan kita diberi rezeki sampai batas tertentu yang tidak sampai merusak keseimbangan sistem penciptaan.

Terkadang kekurangan harta justru disebabkan oleh kemalasan kita sendiri. Kekurangan harta, dan keterbatasan materi bukan kehendak pasti Tuhan, tapi buah dari amal perbuatan manusia. Maka dari itu jika kita tidak berusaha, dan diam menanti rezeki, pasti kita tidak akan mendapatkan apapun, karena Tuhan tidak pernah berjanji memberi rezeki kepada orang yang tidak bekerja.

Mungkin bukti paling jelas bahwa rezeki manusia ada di tangan Tuhan, adalah peristiwa turunnya hujan yang di dalamnya tidak ada keterlibatan manusia. Turunnya hujan merupakan salah satu tanda kekuasaan dan ilmu Tuhan. Jika hujan tidak turun, maka akan terjadi kekeringan dan kelaparan, tapi jika hujan turun, ia akan menumbuhkan tumbuhan yang bisa menambah kesejahteraan manusia.

Tuhan memperluas cakupan rahmat-Nya lewat hujan. Dengan perantara hujan, tanah-tanah yang mati hidup kembali, dan kebutuhan air minum manusia dan makhluk hidup lain terpenuhi. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan mengurus hamba-hamba-Nya dengan baik layaknya sebuah keluarga besar, dan Ia memuji mereka.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Dikabulkannya doa-doa manusia berdasarkan hikmah Ilahi, karena terkadang beberapa doa dan keinginan manusia dikabulkan justru membuatnya menjadi pembangkang.

2. Sistem penciptaan patuh pada perhitungan yang akurat, dan segala sesuatu dihitung sesuai dengan takarannya masing-masing.

3. Hujan adalah tanda rahmat Ilahi.

4. Satu-satunya tempat berlindung manusia dari semua permasalahan, dan keputusasaan adalah Tuhan.

Minggu, 20 Juni 2021 20:19

Surat al-Syura ayat 19-23

 

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (19) مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ (20)

Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (42: 19)

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (42: 20)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah Swt mengasihi semua hamba-Nya, dan Dia memberikan rezeki kepada semua, bahkan kepada mereka yang kafir, dan tidak beriman kepada-Nya. Namun rezeki Ilahi ini tergantung pada hikmah-Nya, dan di dunia serta akhirat, ia mengikuti ketetapan Allah Swt.

Sunatullah atau ketetapan Allah Swt itu ialah barangsiapa bekerja untuk akhiratnya maka ia akan mendapatkan kenikmatan di dunia, dan mendapatkan rahmat Ilahi di akhirat. Akan tetapi orang yang tidak meyakini hari kiamat, dan seluruh tujuannya adalah kehidupan dunia, maka dalam usia yang pendek dan terbatas di dunia, ia tidak akan mencapai semua tujuannya, di akhirat juga ia tidak akan mendapat apapun.

Al Quran dalam perumpamaan lembut, dan indah ini menyerupakan penduduk bumi sebagai petani yang sebagian di antaranya bekerja untuk akhirat, dan sekelompok lain bekerja untuk dunia. Mereka yang menginginkan pertanian akhirat maka Tuhan akan memberikan berkah kepadanya, dan Tuhan akan menambah hasil pertaniannya, tapi mereka yang bertani hanya untuk dunia, dan kerja kerasnya untuk kekayaan yang fana ini, maka Tuhan hanya akan memberikan sedikit dari yang mereka minta. Tapi di akhirat ia tidak akan mendapatkan apapun.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dunia adalah lahan pertanian kita, dan pekerjaan kita adalah menanam benih. Namun tidak semua benih sama. Sebagian benih akan membuahkan hasil yang tidak terbatas, abadi dan berlimpah, tapi sebagian benih memberikan hasil yang sangat sedikit, dan buah yang pahit dan tidak enak.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kasih sayang Tuhan meliputi semua hamba-Nya, orang beriman dan kafir, semua mendapatkan nikmat Tuhan.

2. Kita membandingkan lalu memilih. Orang-orang yang mendambakan akhirat akan mendapatkan kenikmatan dunia, walaupun mungkin saja sedikit atau terbatas. Tapi orang-orang yang mengejar dunia tidak akan mendapatkan apapun di akhirat.

3. Niat dan tujuan adalah dua hal yang penting, bukan hanya jenis pekerjaan karena seringkali banyak jenis pekerjaan yang tampak sama, namun dilakukan dengan tujuan berbeda.

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (21) تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (22)

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (42: 21)

Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (42: 22)

Ayat ini menyinggung orang-orang musyrik, apakah mereka memiliki sesembahan lain selain Tuhan Yang Maha Esa, yang menurunkan kitab dan syariat, dan mereka mengikuti ajarannya ? Padahal penetapan hukum dan aturan hanya bisa dilakukan oleh Tuhan Maha Pencipta, Maha Penguasa dan Maha Bijaksana, dan selain Dia tidak ada seorangpun yang berhak menetapkan aturan.

Di dunia hari ini, segala bentuk penepatan aturan, baik di tingkat nasional maupun internasional, jika bertentangan dengan aturan Tuhan, batil dan tidak bisa diterima. Secara prinsip, hukum semacam ini menindas umat manusia, karena telah menarik tangan manusia dari tangan Tuhan, dan meletakkannya pada tangan manusia lain yang selain lalai atas kebaikan hakiki untuk manusia, juga tidak mampu menutup mata atas kepentingan pribadinya saat menetapkan aturan.

Tuhan memberikan kesempatan kepada manusia di dunia, sehingga dengan kehendaknya sendiri ia memilih jalan. Apapun yang dilakukan manusia di dunia, hasilnya akan ia dapatkan di akhirat. Penindasan dan kekufuran akan menyeret pelakunya ke neraka, tapi amal baik dan keimanan, akan menunjukkan jalan kepada manusia untuk bisa mencapai taman surga tertinggi dan terindah.

Tidak diragukan, rahmat Ilahi untuk orang-orang beriman tidak sebatas ini. Orang-orang beriman terus diliputi rahmat Ilahi, sehingga apapun yang diinginkannya akan terkabul. Pahala mereka dari semua sisi tidak terbatas, dan lebih tinggi dari apapun, mereka akan mendapatkan pahala tertinggi yaitu kedekatan dengan Allah Swt.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kehidupan manusia membutukan aturan, dan syariat, dan jika kita mengambil aturan ini dari selain Tuhan, maka kita akan menindas diri kita sendiri dan manusia yang lain.

2. Takut akan hukuman Tuhan seharusnya mencegah manusia dari perbuatan buruk di dunia, karena jika tidak, maka ia tidak akan berguna di hari kiamat.

3. Prasyarat kepatuhan pada perintah agama adalah bersabar atas keterbatasan, dan kemiskinan. Tidak diragukan, sabar atas segala keterbatasan akan terbalas di surga, karena di sana apapun yang diminta orang-orang beriman pasti terkabul.

ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ (23)

Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (42: 23)

Ayat ini pertama menekankan bahwa jika orang-orang beriman bersabar atas sebagian kesulitan dan permasalahan di dunia, demi menjaga keimanannya, maka Tuhan akan membalasnya dan memberikan surga sebagai pahala besar kepada mereka.

Selanjutnya ayat ini memerintahkan Rasulullah Saw untuk mengabarkan kepada orang-orang beriman bahwa sebagaimana nabi-nabi terdahulu, aku tidak meminta imbalan dari kalian dalam menjalankan risalah Ilahi ini, kecuali kecintaan kalian kepada keluargaku. Pada kenyataannya apa yang aku lakukan adalah tugas yang diberikan Tuhan kepadaku. Akan tetapi sepeninggalku, yang membimbing kalian adalah kecintaan pada Ahlul Bait as, jadikanlah mereka sebagai teladan hidup kalian, dan dengarkan perkataan mereka untuk membedakan hak dan batil.

Seperti dijelaskan di ayat lain, apa yang diinginkan Nabi Muhammad Saw dari kita karena telah menjalankan tugasnya, sepenuhnya menguntungkan kita sendiri, dan memuluskan jalan kita menuju Allah Swt.

Kelanjutan ayat di atas menekankan bahwa orang beriman berusaha melakukan perbuatan baik, dan kebaikan mereka sampai kepada orang lain, sehingga Allah Swt memasukkan mereka ke dalam liputan rahmat-Nya, dan menambah kebaikan amal dan mengampuni kesalahannya.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Para nabi tidak menginginkan imbalan materi dari masyarakat, tapi ketaatan mereka pada aturan Ilahi dan mengikuti para penggatinya yang saleh, yang pada dasarnya menguntungkan umat manusia sendiri, bukan Tuhan ataupun Rasul-Nya.

2. Iman disebut sempurna ketika berujung dengan kecintaan pada Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw. Kecintaan ini memiliki dua prasyarat, pertama, pengenalan terhadap Ahlul Bait, karena selama manusia tidak mengenal mereka, kecintaannya tidak bermakna, dan kedua adalah kepatuhan kepada Ahlul Bait.

3. Rahmat dan pengampunan Allah Swt tergantung pada perbuatan baik kepada sesama manusia, dan amal baik serta terpuji.