کمالوندی
Islam dan Gaya Hidup (38)
Kita pada seri sebelumnya sudah berbicara tentang pentingnya pernikahan dalam gaya hidup Islami dan sekarang kita akan memaparkan beberapa parameter untuk sebuah pernikahan sukses. Semua orang memimpikan sebuah pernikahan yang sukses dan sebuah rumah tangga yang langgeng, karena pernikahan yang sukses merupakan cerminan dari keluarga bahagia.
Keluarga bahagia diibaratkan sebagai sebuah taman yang penuh bunga, di mana kunci taman impian itu dimulai dari pemilihan pasangan yang baik. Taman indah ini tentu saja memerlukan perhatian dan perawatan rutin sehingga selalu tampak indah dan menawan.
Namun, sebelum kita membuka diskusi tentang parameter yang baik untuk memilih teman hidup, ada baiknya kita berbicara mengenai cinta dan kasih sayang sebagai sebuah keniscayaan kehidupan satu atap. Ada banyak kasus di mana suami dan istri memulai kehidupan bersama dengan cinta dan kecocokan, mereka sama sekali tidak mengharapkan prahara dalam rumah tangganya. Mereka karena rasa saling cinta mengira akan selalu hidup damai dan jauh dari keributan. Tapi, realitas kadang berkata lain dan tidak lama setelah melafalkan janji setia, mereka baru menyadari ada rentang jarak antara keduanya dan keributan dan pertengkaran segera dimulai.
Setelah lelah bertengkar, mereka kemudian merasa sudah tidak saling mencintai. Pasangan ini tampaknya menyadari bahwa mereka tidak punya pemahaman yang benar tentang kehidupan dan membangun rumah tangga atas dasar asumsi-asumsi keliru di antara mereka. Jika seorang istri sampai berpikir bahwa suaminya selama ini hanya berpura-pura dan menampilkan sesuatu yang berbeda dengan realitas, maka hal ini tentu sangat menyiksa batin perempuan.
Pada dasarnya, banyak orang terutama pemuda beranggapan bahwa ketika cinta datang mengetuk pintu hati mereka, maka kesempatan untuk menikah sudah di depan mata. Padahal, para pakar rumah tangga dan psikolog percaya bahwa cinta dengan sendirinya tidak cukup untuk memiliki sebuah pernikahan yang sukses.
Cinta adalah sebuah perasaan yang berbunga-bunga dan menyenangkan dalam diri manusia. Perasaan adalah warna dan bunga kehidupan, sementara perasaan senang dan positif akan menghiasi kehidupan dengan warna yang indah. Cinta adalah ketertarikan dan rasa senang yang muncul dalam diri seseorang terhadap orang lain.
Akan tetapi, cinta itu harus memiliki beberapa karakteristik khusus. Dengan adanya ciri khas itu, problema dalam kehidupan rumah tangga cenderung lebih sedikit. Para psikolog memaparkan sejumlah kriteria mengenai ciri-ciri cinta hakiki dalam kehidupan bersama. Salah satu unsur penting cinta adalah pemahaman akan kebutuhan, selera, dan perasaan satu sama lain. Suami dan istri harus mengetahui tentang ketertarikan dan selera masing-masing pihak dan saling membantu untuk mencapai keinginan-keinginan yang rasional, bukannya menciptakan hambatan.
Faktor penting lainnya dalam pernikahan adalah sikap saling menghormati. Ketika suami-istri saling mencintai, mereka juga akan saling menghormati. Jelas bahwa penghinaan, sikap emosi, dan perilaku kasar, merupakan tanda-tanda dari cinta lahiriyah dan palsu di antara kedua insan. Rasa bertanggung jawab terhadap kehidupan, masa depan, dan kesehatan fisik dan mental pihak lain, merupakan tanda lain dari cinta hakiki dan jika rasa ini tidak hadir, hubungan suami-istri akan terganggu dan dingin.
Dalam banyak kasus, apa yang disebut cinta sebenarnya hanya ketergantungan perasaan dan sebuah bentuk kegilaan. Untuk itu, para psikolog menyarankan agar kita memperhatikan hubungan emosional kita dengan orang yang akan menjadi teman hidup kita dan mempertimbangkan kriteria-kriteria utama.
Pernikahan merupakan sebuah keputusan penting untuk hidup dan dasar untuk membuat keputusan yang benar adalah berpikir dan bertafakkur. Perasaan akan goyah dan luntur seiring berjalannya waktu, begitu juga dengan cinta monyet, ia hanya sebuah perasaan yang memudar bersama perjalanan waktu. Oleh karena itu, untuk membuat keputusan penting seperti pernikahan, kita perlu mempertimbangkan matang-matang dan berpikir jauh ke depan, kita tidak boleh dikalahkan oleh perasaan dan suasana hati serta menutup jalan untuk berpikir jernih.
Bayangkan saja, kita pergi ke sebuah tokoh untuk membeli baju. Apakah kita akan memilih sembarangan tanpa melihat harga dan modelnya? Lalu, bagaimana sikap kita dalam membeli sebuah buku atau bepergian ke sebuah tempat? Apakah kita hanya mengandalkan perasaan yaitu suka atau tidak suka? Jelas tidak demikian.
Jika kita perhatikan baik-baik, kita akan mengerti bahwa dalam banyak kasus bahkan dalam memilih hal-hal yang kecil sekali pun, kita membuat keputusan dengan pertimbangan rasional dan akal sehat. Meski kita sudah suka dengan sebuah baju, tapi tetap saja ada aspek-aspek lain yang jadi pertimbangan kita seperti, motifnya, ukuran, harga, dan kecocokan fisik kita.
Keniscayaan dalam pernikahan adalah bahwa seorang individu sesuai dengan kapasitasnya, memilih orang lain sebagai teman untuk hidup bersama, di mana ada kesesuaian dan kecocokan maksimal dengan dirinya. Semua orang tentu saja tidak bisa menemukan pasangan yang benar-benar cocok dengan dirinya dalam semua hal. Namun, mereka dapat menekankan kriteria-kriteria kunci dan esensial. Kita juga perlu memperhatikan poin lain bahwa keputusan rasional soal pernikahan bukan berarti mengabaikan perasaan dan cinta.
Tidak diragukan lagi bahwa jika cinta dan kasih sayang sudah menyertai kehidupan bersama, maka hubungan suami-istri dan kehidupan rumah tangga semakin indah dan hangat. Jadi, alangkah baiknya jika cinta itu dibangun atas landasan yang kuat. Sekarang, kita akan memaparkan kriteria untuk memilih pasangan hidup dalam gaya hidup Islami.
Pada satu kesempatan, Rasulullah Saw bersabda, “Setelah Islam – sebagai nikmat yang paling tinggi – adalah keberadaan istri yang baik dan salehah, sebagai nikmat terbesar kehidupan.” Tentu saja untuk mencapai kenikmatan besar itu, kita harus memperhatikan kriteria yang benar dan tepat.
Melalui pernikahan, dua insan – di mana masing-masing pihak memiliki perbedaan alamiah dan kriteria khusus – sepakat untuk menyusun rencana baru dalam kehidupan dan bersama-sama menapaki sebuah jalan yang berbeda dengan kondisi kehidupan jomblo. Dalam perjalanannya, perbedaan pandangan dan selera mungkin saja menggoyang bahtera kehidupan dan mengusik keteduhan rumah tangga. Manusia tertarik untuk memilih pasangan hidup yang sepadan dengannya (kufu’). Kesepadanan dan kesetaraan dua insan tidak hanya mendorong mereka untuk saling mencintai, tapi juga akan memperkuat hubungan dan ikatan mereka.
Berkenaan dengan kesepadanan dan kesetaraan suami-istri, para peneliti masalah keluarga menyinggung beberapa hal seperti, wilayah geografi kehidupan, strata sosial, sifat-sifat moral, serta karakteristik psikologis dan kultur. Ketidakcocokan dalam perkara tersebut bisa berujung pada pernikahan yang gagal.
Para psikolog menerangkan, “Dalam proses pernikahan, orang kadang bingung dalam menetapkan kriteria yang diperlukan untuk memilih pasangan impian. Motivasi materi, daya tarik luar, strata sosial, dan juga pandangan orang-orang sekitar, merupakan masalah yang membuat seseorang tertekan.”
Dalam hal ini, seorang psikolog Iran, ibu dokter Navabi Nejad mengatakan, “Semakin besar kedekatan antara pria dan wanita dari segi karakteristik psikologis dan kultur, maka kehidupan rumah tangga akan semakin awet. Dalam literatur Islam, kriteria-kriteria itu disebut sebagai prinsip kafa'ah atau kesetaraan, yang mencakup berbagai aspek seperti, usia, kondisi psikologis, budaya, keyakinan, dan srata sosial dan ekonomi.”
Kecantikan dan kesempurnaan fisik, biasanya menjadi titik perhatian pertama dalam pernikahan. Keterpautan usia antara pria dan wanita juga menjadi pertimbangan berikutnya. Jelas bahwa keterpautan usia memainkan peran penting dalam menyesuaikan kebutuhan, selera, dan impian masing-masing pihak.
Islam dan Gaya Hidup (37)
Pernikahan merupakan sebuah momen penting dan krusial dalam kehidupan setiap individu. Membentuk rumah tangga dari segi fitrah, naluri, dan bahkan pandangan agama dan sosiologi, termasuk bagian dari kebutuhan fundamental kehidupan insan.
Para pakar ilmu pendidikan dan sosiolog percaya bahwa keselamatan dan kebahagiaan masyarakat bergantung pada peletakan yang benar pondasi bangunan rumah tangga dan mengawasi semua bagiannya. Oleh karena itu, pernikahan harus dibangun atas landasan dan prinsip yang benar sehingga mendorong perkembangan dan kesempurnaan suami-istri serta menciptakan kesehatan mental keluarga dan masyarakat.
Pernikahan tanpa tujuan dan pertimbangan matang, sama seperti membangun pondasi rumah di atas tanah yang rapuh dan bergerak. Tempat seperti ini tentu saja bukan lokasi yang tepat untuk mendirikan bangunan kehidupan. Dalam beberapa dekade terakhir, para pakar keluarga menaruh perhatian besar terhadap banyak persoalan seperti, kualitas hubungan suami-istri, kepuasan kedua pihak, dan dampaknya bagi keutuhan rumah tangga.
Saat ini hal yang menjadi perhatian dalam kajian psikologi pernikahan adalah mempelajari faktor-faktor efektif pada pernikahan dan meningkatkan kualitasnya. Dalam hal ini, ada banyak tema yang dipelajari seperti, peran unsur-unsur budaya dan ekonomi serta aspek mental dan kejiwaan.
Lalu, mengapa pernikahan dianggap penting dan urgen? Apakah Anda pernah memikirkan masalah ini? Dengan sedikit menguras pikiran, kita akan mengerti bahwa pernikahan pada tahap pertama adalah sebuah jawaban atas kebutuhan alamiah dan naluri, yang disalurkan secara benar dan halal. Dorongan seksual sangat menyiksa manusia dan jika tidak disalurkan pada waktu dan cara yang tepat, ia dapat menyeret pemiliknya pada kerusakan dan kehancuran. Dampak negatifnya tentu saja tidak hanya bagi fisik, tapi juga mempengaruhi kondisi mental dan kepribadian.
Dalam logika Quran, pernikahan merupakan pembentuk sebuah hubungan yang penuh kedamaian dan permulaan sebuah kehidupan yang dibarengi cinta dan kasih sayang. Sumber ketertarikan pria dan wanita terhadap sesama adalah kecintaan itu sendiri dan rahmat yang ditanamkan Allah Swt dalam diri mereka.
Ketertarikan dan kecintaan ini merupakan sesuatu yang lebih tinggi dari naluri hewani. Pernikahan membuat mental penuh emosional pemuda menjadi tenang dan damai serta mengantarkan pria-wanita untuk mengawali kehidupan bersama yang penuh keceriaan dan ketenangan.
Kita tahu bahwa pria dan wanita dari segi asal penciptaan yakni wujud kemanusiaan, adalah memiliki karakteristik yang sama. Namun, mereka berbeda dari segi psikologis dan gender. Fakta ini tidak berarti kekurangan bagi satu pihak dan kesempurnaan bagi pihak lain. Adanya perbedaan antara pria dan wanita justru memacu perputaran roda rumah tangga dan masyarakat dan dapat menciptakan jalan untuk mencapai keseimbangan ideal di tengah masyarakat. Perbedaan-perbedaan ini menyebabkan ketertarikan timbal balik antara pria dan wanita, dan dalam ketertarikan itu, tercipta banyak peluang untuk memenuhi sebagian besar dari kebutuhan mereka.
Dari aspek penciptaan, pria dan wanita sama-sama tidak boleh menganggap keistimewaan alamiah masing-masing pihak sebagai faktor keunggulannya atas pihak lain atau justru memandang keistimewaan alamiah pihak lain sebagai faktor kekurangannya. Pria dan wanita sama-sama terpisah dari segi indentitas kemanusiaannya, namun mereka menemukan situasi yang berbeda dalam rumah tangga dan dalam membangun interaksi antar sesama. Dalam kehidupan bersama, kedua pihak harus memuliakan identitas kemanusiaan satu sama lain serta menghormati naluri seksual dan kondisi mental yang berbeda.
Dalam kondisi ini, semua pihak menerima posisinya sebagai suami atau istri dan tidak bermimpi untuk menggantikan kedudukan pihak lain. Seorang psikolog Jerman, Erich Fromm setelah mempelajari perbedaan dunia pria dan wanita mengatakan, “Pria dan wanita sama-sama bisa saling memahami dan saling melengkapi, tapi mereka tidak akan pernah sama persis dan ini muncul karena perbedaan-perbedaan yang tertanam dalam wujud mereka.”
Jelas bahwa kebanyakan konflik rumah tangga dan sikap saling curiga disebabkan tidak adanya ketenangan batin dan tidak terpenuhinya kebutuhan emosional dan jiwa. Dengan kata lain, krisis kasih sayang adalah pemicu utama konflik tersebut. Setelah memperhatikan fakta ini, dapat kita katakan bahwa pasangan ideal dalam gaya hidup Islami adalah mereka yang menikmati ketenangan batin dan kedamaian jiwa secara optimal selama menjani hidup satu atap, dan keberadaan mereka mendatangkan rahmat dan kasih sayang. Di tengah itu semua, kehadiran cinta dan aura ketenangan yang dipancarkan oleh seorang istri tetap memainkan peran dominan di keluarga.
Oleh sebab itu, salah satu alasan utama menikah dan membentuk rumah tangga adalah untuk mencapai ketenangan jiwa dan emosional, di mana akan terpenuhi di tengah kehangatan keluarga.
Salah satu alasan lain pentingnya pernikahan adalah kebutuhan untuk mencapai perkembangan dan kesempurnaan. Ketika sudah melewati fase kanak-kanak dan menginjak usia dewasa, manusia membutuhkan sebuah identitas baru yang diperoleh melalui pernikahan dan pemilihan pasangan hidup.
Pernikahan membuat seseorang merasa mandiri dan mencapai fase dewasa. Ia sebagai seorang suami atau istri dituntut untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Pria dan wanita melalui pernikahan akan meninggalkan banyak kesibukan di masa single dan berusaha mengumpulkan pengalaman baru dengan status barunya itu.
Para psikolog percaya bahwa pernikahan membuat kondisi mental pemuda menjadi stabil. Ketenangan dan kedamaian yang didapatkan dari pernikahan menyebabkan mereka lebih mudah untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih besar dan lebih penting. Keamanan yang diperoleh dari pernikahan juga memudahkan langkah mereka untuk meraih keseimbangan mental dan jiwa. Keseimbangan ini mendorong manusia untuk bekerja keras dan melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih baik. Kondisi ini terwujud jika pernikahan terbilang sukses dan pemilihan pasangan hidup juga tepat.
Seorang psikolog Iran Ibu dokter Navabi Nejad mengatakan, “Pria dan wanita setelah memasuki usia baligh dan masa remaja, selain ingin mencapai kemandirian berpikir, mereka juga mulai memikirkan pasangan hidup untuk menutupi kekurangannya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan tak terbatasnya sehingga dengan memilih pasangan ideal, mereka membuka ruang untuk perkembangan dan kesempurnaannya. Ketika seorang individu berada di sebuah kehidupan bersama – di bawah rasa cinta, kasih sayang, dan keakraban – ia akan menjadi lebih bertanggung jawab. Ia memandang hidupnya memiliki tujuan dan memanfaatkan hasil kerja kerasnya untuk kepentingan keluarga.”
Pernikahan juga bertujuan untuk menjaga kemuliaan dan kehormatan individu. Menikah dan membentuk rumah tangga berguna untuk menjaga keselamatan dan keamanan masyarakat dan secara pasti akan mengurangi maksiat dan kriminalitas. Oleh karena itu, pendidikan moral Islam sangat menekankan masalah pernikahan dan dalam sebuah hadis Rasulullah Saw disebutkan bahwa pernikahan akan menyempurnakan setengah dari agama manusia.
Pernikahan juga penting untuk menjaga keberlangsungan generasi di tengah masyarakat. Kebanyakan orang ingin agar keturunannya tetap lestari dan mereka meninggalkan anak-cucu sebagai generasi penerus. Motivasi kaum wanita dalam hal ini sangat besar karena naluri keibuan pada diri mereka.
Inilah beberapa alasan tentang pentingnya pernikahan. Lalu, faktor-faktor apa saja yang akan memperkuat dan menjaga keutuhan rumah tangga? Dengan kata lain, kapan kita bisa mengatakan bahwa sebuah pernikahan telah sukses?
Para pakar mengatakan, pernikahan sukses adalah sebuah pernikahan di mana pria dan wanita sama-sama menapaki jalan kesempurnaan. Pria di samping pekerjaan dan karir, ingin memiliki perkembangan mental dan spiritual sebagai seorang manusia. Wanita juga bersama pendamping hidupnya, ingin mengembangkan bakat dan potensi internalnya. Suami-istri yang perhatian terhadap ketertarikan satu sama lain, pada dasarnya mereka telah menjalin sebuah hubungan emosional yang kuat.
Akan tetapi, tujuan tersebut tidak akan terwujud kecuali kita memiliki ketelitian dan kejelian dalam memilih teman hidup. Jika kita tidak menggunakan parameter yang benar dalam memilih, tentu saja bisa melahirkan berbagai persoalan di tengah keluarga.
Islam dan Gaya Hidup (36)
Keluarga merupakan tempat untuk meraih ketenangan dan ketentraman serta institusi utama di setiap masyarakat. Garis star embrio keluarga dimulai ketika dua insan dewasa (pria dan wanita) dengan tujuan hidup satu atap, mengikat janji suci secara syariat dan hukum. Sejak awal kehadiran manusia di planet bumi ini, laki-laki dan perempuan menjalani hidup mereka di bawah naungan keluarga dan kemudian mendidik anak-anak mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Islam sendiri menyiapkan program untuk menjaga poros suci keluarga antara lain, menciptakan lingkungan yang sehat untuk keluarga dan masyarakat, mempromosikan pernikahan dan pembentukan keluarga, menjelaskan hubungan baik antara suami-istri dan para anggota keluarga, serta menekankan masalah pendidikan anak.
Dalam perspektif Islam, inti utama pembentuk keluarga adalah pernikahan sah antara pria dan wanita. Setelah menikah, keduanya mengemban tugas-tugas dan kewajiban baru, begitu juga dengan hubungan moral, jalinan kasih sayang, dan aturan-aturan baru. Jika melihat sekilas, kita memahami bahwa unsur-unsur utama pembentuk keluarga adalah kehadiran seorang pria dan wanita, mereka mengikat janji suci berdasarkan adat-istiadat dan tradisi sosial, dan kemudian mereka memperbanyak anak keturunannya. Namun pandangan sekilas ini saja tidak cukup. Kita perlu juga melihat mengapa pria dan wanita ingin membentuk sebuah kehidupan baru dan apakah ini satu kebutuhan fitrah dan alamiah?
Pernikahan dilakukan dengan beragam motivasi. Ada orang yang menikah semata-mata karena motif ekonomi. Sebagai contoh, keluarga tertentu menikahkan putrinya dengan saudagar kaya untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Begitu juga dengan sebagian laki-laki, mereka memilih wanita tertentu karena hartanya atau kekayaan yang dimiliki oleh orang tuanya.
Sebagian pernikahan juga dilakukan demi kekuasaan dan jabatan politik atau sosial kedua pihak. Keluarga-keluarga penguasa dan punya posisi sosial yang tinggi, mereka ingin menggunakan pernikahan sebagai sarana untuk memperluas kekuasaan dan memperkuat posisinya. Kecantikan juga menjadi motivasi lain untuk menikah. Sejumlah orang menganggap kecantikan sebagai kunci dalam pernikahan dan mereka sama sekali tidak mengindahkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa orang-orang yang menikah karena harta, kekuasaan, atau kecantikan, institusi keluarga bagi mereka merupakan sarana untuk mengekspoitasi harta, kecantikan, atau fasilitas lainnya. Mengingat filosofi pernikahan di keluarga seperti ini dibangun atas landasan perkara lahiriyah dan materi, maka keutuhan rumah tangga juga bergantung pada ketersediaan sarana tersebut. Jelas bahwa dengan hilangnya salah satu dari faktor itu, kehidupan berumah tangga juga akan ikut pudar.
Jika kita merenungkan ajaran-ajaran agama, kita memahami bahwa keluarga dalam budaya agama, merupakan sebuah identitas yang dibangun atas dasar cinta, kesepahaman, dan saling pengertian. Melalui kasih sayang ini, keluarga memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional dan secara umum kebutuhan material dan spiritual manusia. Islam tidak menentang suami-istri memanfaatkan harta, kekuasaan, dan kecantikan atau ketampanan satu sama lain, tapi mengingatkan mereka agar tidak menjadikan masalah materi sebagai landasan untuk membangun rumah tangga.
Menurut pedoman al-Quran, pemilihan pasangan hidup kembali pada fitrah dan penciptaan manusia. Masing-masing pihak pria dan wanita selama belum menginginkan satu sama lain dan belum mencapai kesepahaman, maka mereka belum menjadi makhluk yang sempurna, sebab mereka diciptakan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Namun jika semata-mata untuk melampiaskan syahwat materi, pria dan wanita tidak akan sampai pada perkembangan dan kesempurnaan. Kehadiran anak-anak dengan sendirinya juga tidak membuat hidup mereka bahagia.
Allah Swt – sebagai pencipta alam semesta – telah menciptakan pria dan wanita dalam sebuah bentuk, di mana kebutuhan jiwa dan raga mereka akan terpenuhi ketika hidup bersama. Dalam diri manusia terdapat potensi kasih sayang dan rahmat, dan tempat untuk mengaktualisasikan potensi ini adalah lingkungan keluarga.
Dalam surat ar-Rum ayat 12, Allah Swt berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
Ketika kasih sayang dan saling pengertian antara suami-istri mencapai fase tertentu, di mana mereka sudah menjadi teman dalam suka dan duka, maka kehidupan menjadi hangat, penuh gairah, dan bahagia. Inilah dia kasih sayang yang disinggung oleh al-Quran. Pria dan wanita saling membutuhkan dan mereka menemukan kedamaian ketika sudah saling mengerti.
Memenuhi kebutuhan materi atau faktor-faktor lain penting dalam membentuk rumah tangga, tapi ia tidak cukup untuk mempertahankan keutuhannya. Hal yang tak kalah penting adalah mewujudkan keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang antara suami-istri sehingga ketenangan jiwa – yang disinggung al-Quran – dapat tercapai.
Di tengah keluarga, jika hubungan biologis dan kedekatan fisik menjadi satu dasar dan kedua pihak mengabaikan kebutuhan jiwa dan psikologis, maka jiwa penuh dahaga pria dan wanita terhadap kasih sayang tidak akan terobati. Dalam situasi seperti ini, keheningan dan kegagalan akan menampakkan wujudnya. Jelas bahwa keluarga di samping pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani, juga harus memperhatikan kebutuhan ruhani dan pikiran.
Dengan begitu, kita bisa menyaksikan keselarasan dan keseimbangan perilaku dan cinta di antara suami-istri. Mereka akan mencapai sebuah tahapan, di mana menemukan dirinya tidak terpisah dari pasangannya. Di sinilah, kita – dengan mengambil ilham dari ajaran agama – memahami sebuah realitas bahwa keluarga adalah tempat untuk mengisi kekosongan jiwa.
Dalam Islam, ikatan suci dan pernikahan dibangun atas seperangkat prinsip dan nilai-nilai, dan mungkin saja berbeda-beda di setiap budaya. Dalam budaya Islam, kita harus memperhatikan nilai-nilai tertentu untuk memilih pasangan hidup. Jika tidak, kita telah membahayakan kehidupan rumah tangga atau ia kehilangan fungsi yang diperlukan.
Akhlak mulia, taat agama, kesetaraan, dan cinta adalah di antara kriteria pemilihan pasangan hidup dalam budaya Islam. Agama ini melarang umatnya untuk memilih pasangan atas dasar materi dan fisik belaka. Kriteria ini tentu saja perlu diperhatikan, tapi jangan jadikan ia sebagai tolok ukur.
Seseorang mungkin saja menyimpan kecantikan/ketampanan, namun perangainya tidak baik dan memiliki kepribadian yang buruk. Menikah dan membentuk rumah tangga dengan orang seperti ini jelas bukan pekerjaan yang rasional.
Dalam sebuah hadis dari Rasulullah Saw disebutkan bahwa jika seseorang menikah hanya karena kecantikan, ia tidak akan melihat kebaikan dalam pernikahannya dan mungkin saja tidak akan mencapai tujuannya, ia akan menjalani kehidupan yang pahit dan penuh dengan masalah. Oleh sebab itu, dianjurkan agar parameter utama pilihan kita adalah baik agamanya.
Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang menikahi wanita karena kecantikannya, ia tidak akan menemukan sesuatu yang dicarinya, dan barang siapa yang menikahi wanita karena hartanya, Allah akan membiarkan dia dengan harta dan kekayaan itu. Maka menikahlah kalian dengan wanita karena agamanya.”
Salah satu parameter Islam dalam memilih pasangan hidup adalah memperhatikan nasab/keturunan seseorang. Jika ia tidak berasal dari nasab yang baik dan tidak dibesarkan atas dasar nilai-nilai takwa, moral, dan agama, tentu saja ia hanya akan menjadi sebuah pondasi yang rapuh untuk mendirikan bangunan rumah tangga di atasnya.
Rasulullah Saw bersabda, “Wahai manusia, jauhilah oleh kalian rumput hijau yang berada di tempat kotor.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan rumput hijau yang berada di tempat kotor itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu wanita yang sangat cantik, yang tumbuh dan berkembang di tempat yang tidak baik.”
Islam dan Gaya Hidup (35)
Setelah kajian tentang prinsip-prinsip umum tata cara bergaul dalam hubungan sosial, sekarang kami akan memaparkan tentang pola interaksi manusia di tengah berbagai komunitas seperti, keluarga, famili, teman, atau lingkungan kerja dan pendidikan. Keluarga dalam pandangan para sosiolog, merupakan institusi pertama dan utama pembentuk masyarakat. Pada dasarnya, pola komunikasi dan hubungan antar sesama anggota keluarga akan membentuk landasan kepribadian dan teladan perilaku manusia.
Meskipun di dunia modern yang terpengaruh oleh nilai-nilai modernitas dan postmodernitas, muncul bermacam model keluarga seperti, keluarga tanpa anak, keluarga single parent, keluarga pasangan sesama jenis, dan bahkan kumpul kebo, namun kehadiran institusi seperti ini jelas bukan bentuk keluarga dalam arti yang sesungguhnya.
Model keluarga seperti ini sebenarnya merupakan pengaruh dari nilai-nilai liberalisme dan sekulerisme Barat serta budaya hedonisme yang mengakar di tengah mereka. Beberapa penulis dan mereka yang silau dengan budaya Barat berusaha menjustifikasi dan menafsirkan bentuk perilaku dan keluarga seperti itu, tapi banyak juga tokoh Barat yang menganggap pembentukan keluarga pincang ini sebagai bahaya besar bagi eksistensi peradaban Barat.
Saat ini krisis identitas keluarga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi umat manusia. Meningkatnya kasus pertengkaran keluarga, angka perceraian, jumlah anak-anak tanpa pengasuh, dan angka kriminalitas, semua ini merupakan indikasi dari masalah utama di tengah masyarakat modern.
Mereka menghadapi ancaman serius akibat meninggalkan etika dan nilai-nilai luhur dan di antara itu semua, keluarga merupakan institusi yang paling rentan terhadap berbagai serangan. Dengan memperhatikan ancaman ini, sekarang para ilmuwan, sosiolog, dan pakar hukum mencurahkan perhatian mereka pada problema keluarga sehingga menemukan solusi dan menyelamatkan institusi suci itu.
Semua masalah tersebut menunjukkan bahwa keluarga membutuhkan solusi pendidikan dan psikologis yang tepat untuk menghadapi kompleksitas kehidupan. Sejumlah pakar percaya bahwa selama kehidupan manusia masih bersandar pada ilmu empiris dan mengabaikan iman dan moral serta mengambil jarak dari budaya dan nilai-nilai agama, maka mereka tidak akan mampu mengembalikan kebahagiaan dan kehangatan ke lingkungan keluarga.
Jelas bahwa selama manusia mengabaikan perbedaan alamiah antara pria dan wanita, tentu saja mereka akan tersesat dalam mewujudkan hak-hak golongan yang berbeda itu.
Keluarga tidak akan sampai pada tempat tujuannya jika masyarakat tidak mengerti kebutuhan-kebutuhan fitrah dan hakiki pria-wanita. Kebanyakan kerusakan yang terjadi di dunia modern merupakan dampak dari perubahan yang keliru tentang peran dan pembagian yang tidak rasional tugas-tugas pria dan wanita.
Keluarga – karena memiliki fungsi vital dan penentu dalam kehidupan manusia – senantiasa menjadi perhatian agama dan aliran-aliran pemikiran. Salah satu wadah yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan material dan spiritual manusia adalah keluarga, di mana ia menyediakan kondisi ideal untuk ketenangan jiwa para anggotanya.
Islam menaruh perhatian luar biasa tentang masalah pembentukan rumah tangga. Keluarga meski ia sebuah masyarakat dalam skala yang paling kecil, namun Islam mencurahkan perhatian khusus terhadap masalah keselamatan poros keluarga demi menghadirkan masyarakat teladan dan sehat.
Keluarga merupakan sebuah institusi, di mana di dalamnya kepercayaan, keyakinan agama, nilai-nilai moral, dan norma-norma sosial diwarisakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di tengah lingkungan keluarga, anak-anak belajar cara bergaul dan membangun hubungan sosial dengan orang lain, mereka juga mempelajari pola hidup, moralitas, dan adat-istiadat.
Oleh karena itu, Islam sangat konsen untuk menjaga kelangsungan, kesucian, dan nilai-nilai keluarga. Rasulullah Saw bersabda, “Tak ada bangunan yang lebih dicintai di sisi Allah kecuali bangunan pernikahan.” (Man La Yahduruhu al-Faqih, juz 3, hal 381)
Di antara program Islam untuk menjaga mahligai suci rumah tangga adalah mendorong umatnya untuk menikah dan membentuk keluarga, membersihkan lingkungan keluarga dan masyarakat dari noda-dosa, menjelaskan hubungan sehat dan konstruktif antara suami-istri dan anggota keluarga, dan memberi penekanan khusus pada masalah pendidikan anak.
Kehidupan ideal menemukan arti yang sesungguhnya di bawah payung keluarga. Pria dan wanita – sebagai manifestasi dari penciptaan Tuhan – melangkahkan kaki mereka ke dunia untuk memberi arti bagi kehidupan dalam ikatan rumah tangga. Kedamaian merupakan buah dari ikatan suci ini sehingga mereka bersama-sama menapaki jalan kesempurnaan.
Manusia sejak hari pertama kehadirannya di dunia, mulai memahami dengan baik bahwa kesempurnaan dan keluhurannya dimulai dari sebuah lingkungan yang aman bernama keluarga. Kehadiran Adam dan Hawa di bumi – sebagai keluarga pertama – merupakan bukti yang jelas atas masalah tersebut, di mana manusia selalu membutuhkan teman dalam hidup sehingga berjalan seirama dan penuh cinta untuk menggapai tangga kesempurnaan.
Manusia sejak awal penciptaan dan berdasarkan tuntutan fitrahnya, memahami bahwa pondasi kehidupan, keberlangsungan generasi, kesempurnaan kehidupan spiritual, dan keamanan jiwa dan raganya, terletak pada poros keluarga. Sebuah poros di mana belaian penuh cinta seorang ibu dan dekapan hangat seorang ayah telah menghadirkan kenikmatan bagi manusia.
Komponen dan unsur pembentuk institusi keluarga dalam Islam terdiri dari pria dan wanita, yang hidup satu atap melalui ikatan suci, sementara anak-anak mereka merupakan unsur pelengkap. Jika kita ingin memiliki pengenalan yang mendalam tentang hubungan keluarga, tentu saja kita harus mengenal dengan benar unsur-unsur pembentuk keluarga dan para anggotanya serta pola interaksi mereka dengan sesama.
Pola hubungan keluarga Islami terpengaruh oleh pengenalan tugas dan kewajiban serta peran masing-masing anggotanya. Kita perlu tahu bahwa kinerja setiap anggota keluarga dapat mempengaruhi kinerja seluruh sistem.
Penyimpangan perilaku dari salah satu anggota keluarga dapat mengganggu kinerja seluruh sistem. Efektivitas sebuah keluarga merupakan dampak dari efektivitas masing-masing dari setiap anggotanya. Oleh karena itu, pengenalan tugas-tugas moral setiap anggota keluarga dan kinerja tepat masing-masing dari mereka bisa menempatkan bangunan kokoh ini searah dengan kesempurnaan dan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Di dunia modern, umat manusia melalui ilmu dan eksperimen telah mencapai sebuah realitas bahwa landasan kepribadian setiap individu dibentuk oleh lingkungan, pendidikan, dan budaya, dan kebahagiaan setiap masyarakat juga tergantung pada keselamatan lingkungan keluarga.
Sifat kekeluargaan di tengah anggotanya memiliki makna keikutsertaan dalam ikatan emosional, keterikatan dengan sebuah komunitas sosial, dan terbiasa hidup di sebuah lingkungan khusus. Keluarga dianggap penting karena menjadi tempat transfer dan pertukaran tradisi, kepercayaan, dan pengenalan. Mulai dari pola makan sampai pandangan sosial, politik, budaya, semua itu dapat terbentuk di tengah keluarga.
Keluarga merupakan warisan budaya tak ternilai yang diturunkan dari generasi sebelumnya kepada generasi mendatang. Karena itu, keluarga termasuk salah satu institusi yang memiliki pengaruh besar di bidang kehidupan sosial manusia. Di sepanjang sejarah kehidupan umat manusia, konsep keluarga di tengah mereka senantiasa tidak satu bentuk, tapi bersifat dinamis mengikuti dinamika kehidupan sosial.
Menurut para pakar ilmu sosial, keluarga terdiri dari sekelompok individu yang terbentuk melalui pertalian darah, pernikahan atau anak angkat untuk hidup bersama-sama dalam jangka waktu yang tidak tentu.
Keluarga dapat mendorong anggotanya ke jurang penyimpangan dan kerusakan, dan juga dapat memberikan petunjuk dan kebahagiaan untuk mereka. Ada banyak bentuk hubungan dan ikatan di tengah lingkungan keluarga, di mana Islam telah menyiapkan pedoman dan memberi keteladanan untuk semua anggota keluarga. Hubungan antar suami-istri, hubungan orang tua dengan anak-anak, hubungan anak-anak dengan orang tua, hubungan anak-anak antar sesama mereka, merupakan hubungan terpenting yang dapat ditemui di sebuah keluarga.
Islam dan Gaya Hidup (34)
Kajian tentang masalah pergaulan (mu’asyarah) dan hubungan sosial ini merupakan sebuah pengantar sebelum kita memasuki pembahasan seputar gaya hidup Islami di tengah keluarga dan hubungan kekeluargaan. Interaksi dan komunikasi sosial berperan sangat penting dalam memperbaiki persoalan masyarakat.
Manusia adalah makhluk sosial dan sifat sosial ini menuntutnya untuk mengenal tentang bagaimana cara membangun hubungannya dengan orang lain dan kemudian mengaturnya dengan benar. Agama Islam juga menaruh perhatian khusus terhadap perkara tersebut.
Seperangkat aturan dan ajaran Islam serta pendidikan moralnya berhubungan dengan masalah perilaku sosial dan tata cara menjalin hubungan di masyarakat. Dengan memperhatikan ajaran Islam tentang etika mu’asyarah dan hubungan sosial, maka kita dapat membaginya ke dalam dua kelompok yakni hukum Salbi dan Ijabi (mencegah larangan dan memerintah kebaikan).
Dalam artian, sebagian dari etika itu memerintahkan kita untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak benar, dan sebagian lagi justru menyuruh kita untuk mengamalkan perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji.
Setiap perbuatan tercela tentu saja dapat melencengkan arah mu’asyarah dan jalur hubungan antar-sesama. Allah Swt dalam banyak ayatnya menyinggung masalah penyimpangan perilaku dan dekadensi moral serta menyebutnya sebagai faktor penting dalam keruntuhan masyarakat dan menjadi penyebab munculnya krisis dalam hubungan sosial.
Untuk itu, ada banyak perilaku menyimpang (penyimpangan sosial) dan tidak sehat yang diperkenalkan oleh Islam dan meminta umatnya untuk meninggalkan perbuatan tercela itu. Seperti kita ketahui bersama, eksistensi dan keberlangsungan kehidupan sosial tercipta melalui hubungan erat antara semua individu masyarakat dalam bingkai cinta, kesepahaman, dan saling menghormati.
Setiap individu dalam kehidupan sosialnya harus berkomitmen dengan perilaku baik sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan seperti itu oleh masyarakat. Jika ia ingin diperlakukan baik oleh masyarakat, maka ia juga harus bersikap baik dalam kehidupan bermasyarakat.
Jika kita senang dengan kejujuran, kebenaran, kesetiaan, dan komitmen dengan janji, maka kita juga harus bersikap seperti itu. Jika kita mengharapkan perlakuan baik masyarakat, dan jika kita membenci sikap arogan dan berharap orang lain menghormati hak-hak kita, maka kita sendiri harus menjadi teladan dalam hal ini dan menghormati hak-hak orang lain.
Kitab suci al-Quran mencela orang yang melalaikan tugas-tugas sosialnya, sementara ia mengharapkan masyarakat untuk melakukan itu dan menganggapnya sebagai orang-orang yang tidak berpikir. Dalam surat al-Baqarah ayat 44, Allah Swt berfirman, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” Oleh sebab itu, setiap individu masyarakat memiliki hak-hak dan semua berkewajiban untuk menunaikannya.
Suatu hari, seseorang bertanya kepada Imam Jakfar Shadiq as tentang hak seorang mukmin atas mukmin lainnya, beliau berkata, “Hak terendah saudaramu atasmu adalah mencintai untuknya sesuatu yang engkau cintai atas dirimu sendiri dan membenci untuknya sesuatu yang engkau benci untuk dirimu sendiri.”
Di antara perilaku tercela dan kemerosotan moral yang paling utama adalah menciptakan perpecahan, mengganggu orang lain, melecehkan orang lain, menyebarkan fitnah, bersikap pelit, mencari-cari kesalahan orang lain, bersikap sombong, melakukan kezaliman, berkhianat, dan berburuk sangka. Al-Quran dalam berbagai ayatnya melarang perbuatan tersebut.
Menjaga norma perilaku dan etika merupakan sebuah prinsip, di mana Allah dalam berbagai ayat al-Quran menyebutnya sebagai tata cara bermu’asyarah. Di antara norma terpenting yang perlu kita perhatikan dalam bergaul adalah menghormati orang lain, berbuat baik dan membantu antar-sesama, menjaga amanah, bersikap jujur, menegakkan keadilan, bersikap rendah diri, menunaikan janji, berjiwa besar dan pemaaf, dan bermusyawarah dalam membuat keputusan, di mana al-Quran sangat menekankan masalah tersebut.
Setelah memperhatikan perintah dan larangan al-Quran dalam urusan mu’asyarah, kita dapat memahami bahwa menjaga norma-norma yang berlaku di masyarakat, aturan agama dan akal, serta menghindari penyimpangan sosial, sangat berkontribusi dalam membentuk hubungan sosial yang konstruktif. Sikap tersebut juga akan membawa banyak dampak positif bagi individu terkait dan masyarakat.
Misalnya saja, memaafkan kesalahan orang lain dan tidak membesar-besarkan kesalahan kecil masyarakat, merupakan salah satu bentuk perilaku baik. Perbuatan baik ini memberi kesempatan kepada pelaku kesalahan untuk memperbaiki sikapnya dan tidak lagi berjalan di jalur menyimpang.
Kita harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk meniti jalan kesempurnaan, di mana dampaknya akan dirasakan oleh orang pemberi maaf dan pelaku kesalahan. Sebab, manusia tidak hidup di sebuah lingkungan yang sempit dan mereka membutuhkan kontak sosial untuk memenuhi kebutuhan jiwa dan mental serta keperluan ekonomi. Kita tentu saja tidak bisa mengabaikan perkara alamiah ini. Memperbaiki dan membenarkan perilaku orang lain melalui kata maaf dan perbuatan baik, akan memberi peluang kepada pelaku untuk melestarikan hubungan sosial di sebuah lingkungan yang lebih sehat dan menikmati pengaruh-pengaruh positifnya.
Dalam perspektif Islam, hubungan sosial manusia pada batasan niat harus berorientasi pada kebaikan, kecintaan, dan prasangka baik. Dengan kata lain, kaum Muslim perlu menjaga kebersihan isi pikiran dan kesucian niatnya terhadap saudara-saudaranya. Kita perlu terus memelihara pikiran positif, sikap saling mengingatkan, dan semangat persaudaraan serta menghindari perbuatan makar terhadap mereka. Berkenaan dengan hal ini, Imam Ali as berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta'ala mencintai orang yang memiliki niat baik tentang saudaranya.”
Islam pada batasan amal, juga menetapkan rambu-rambu dan tugas-tugas untuk mengatur hubungan sosial manusia. Islam membangun landasan hubungan itu atas dasar keimanan kepada Allah Swt, ketakwaan, keutamaan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam hal ini, ajaran Islam sangat teliti dan menetapkan sesuatu yang selaras dengan fitrah, di mana jika diamalkan dan mu’asyarah juga dibangun atas nilai-nilai ketuhanan, maka wajah kehidupan akan memiliki warna baru. Di antara parameter utama yang ditetapkan Allah Swt untuk mu’asyarah dan persahabatan dengan orang lain adalah iman, karena hubungan antara kaum muslim dengan non-muslim dapat membawa dampak-dampak negatif.
Manusia yang menanamkan pengaruhnya pada orang lain, mungkin juga menerima pengaruh dari pihak lain dengan kadar yang sama. Oleh sebab itu, Islam menekankan aspek keimanan dalam membangun persahabatan dan mu’asyarah. Dalam surat an-Nisa ayat 144 disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?”
Kaidah umum tata cara mu’asyarah pada batasan amal adalah bahwa manusia harus bersikap baik terhadap orang lain, menjaga keadilan, memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, menginginkan untuk orang lain sesuatu yang kita inginkan untuk diri kita sendiri, membenci untuk orang lain sesuatu yang kita benci untuk diri kita sendiri, bersikap toleran, dan memperhatikan urusan-urusan mereka.
Penggalan surat wasiat Imam Ali as kepada putranya, Hasan bin Ali as menyebutkan, “Wahai putraku! Jadikanlah dirimu sendiri sebagai tolok-ukur bagi orang lain. Hargailah apa yang mereka sukai seperti engkau sendiri menyukainya. Janganlah engkau berbuat zalim, sebagaimana engkau sendiri juga tak suka menjadi sasaran penganiayaan. Berlaku baiklah (kepada orang lain) sebagaimana engkau sendiri suka mendapat perlakuan baik.”
Berkenaan dengan pentingnya partisipasi di tengah masyarakat dan tata cara membangun hubungan dengan mereka, Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Berbaurlah dengan masyarakat dan ikut serta dalam perkumpulan mereka dan bantulah mereka dalam pekerjaan-pekerjaannya. Janganlah engkau menyendiri dan menjaga jarak dari masyarakat, dan berbicaralah dengan mereka sebagaimana firman Allah, ‘Bertuturlah dengan baik kepada mereka.”
Pertemanan termasuk salah satu faktor penting dalam membentuk karakter setiap individu serta berpengaruh langsung pada pola pikir dan perilakunya. Oleh karena itu, Islam melarang umatnya untuk bergaul dan berteman dengan komunitas tertentu. Mereka adalah para penindas, pendosa, pembohong, orang-orang bodoh, dan musuh-musuh Allah Swt.
Islam dan Gaya Hidup (33)
Kita sebelumnya telah menyinggung tentang etika individual dalam gaya hidup Islami. Etika itu mencakup perkara-perkara seperti, pentingnya perencanaan dan kedisiplinan dalam hidup, cara mengisi waktu luang, olahraga dan wisata yang sehat, pentingnya belajar, kesehatan dan kebugaran individu, perhatian terhadap penampilan, etika berkomunikasi dan tema-tema lain.
Sekarang kita akan berbicara tentang gaya hidup sosial yang baik dan ideal dan kajian ini menyentuh berbagai aspek kehidupan seperti, hubungan kekeluargaan, hubungan persaudaraan, pergaulan (mu’asyarah) dengan teman, dan cara berinteraksi dengan teman kerja di lingkungan kerja dan seluruh aktivitas sosial.
Hubungan sosial memiliki peran yang sangat penting dalam memperbaiki masalah sosial. Manusia adalah makhluk sosial dan predikat ini menuntut mereka untuk mengenal bagaimana bentuk hubungannya dengan orang lain dan kemudian menatanya dengan benar. Sebagian besar aturan-aturan akal dan juga pendidikan moral berhubungan dengan perilaku sosial dan cara untuk menata hubungan tersebut.
Islam juga menaruh perhatian besar terhadap masalah ini dan menurutnya, kehidupan duniawi hanya akan tertata dengan iman dan amal saleh. Dalam perspektif Islam, manusia sempurna adalah mereka yang mendidik dirinya dengan ajaran-ajaran akal dan wahyu dan kemudian menunaikan tanggung jawabnya terhadap orang lain.
Melaksanakan tanggung jawab tersebut dalam masalah interaksi dengan orang lain, membutuhkan model pergaulan serta hubungan yang benar dan sehat dengan mereka. Di sinilah pentingnya menjelaskan kaidah-kaidah untuk pergaulan dan hubungan yang sehat. Mu’asyarah dalam bahasa Arab dibentuk berdasarkan sighah “musyarakah baina al-ikhsaini” yang berarti kebersamaan dua pihak. Kata mu’asyarah mengandung arti hubungan, pergaulan, persahabatan, silaturahim, hidup bersama, dan sehati. Oleh karena itu, mu’asyarah terjalin dalam waktu singkat atau waktu lama dan dalam batas yang akrab atau biasa-biasa saja serta tidak harus bersifat jangka panjang.
Berdasarkan hal itu, segala bentuk hubungan jangka pendek atau panjang antara para individu di tengah masyarakat menuntut sebuah kerangka aturan dan etika sehingga hubungan dan pergaulan tersebut bersifat positif dan sehat. Allah Swt dalam ayat 58 dan 59 surat an-Nur, menekankan pentingnya nilai-nilai pendidikan dan pengamalan terhadap etika bergaul. Ayat tersebut meminta para orang tua untuk mengajarkan tata cara mu’asyarah di bidang perilaku sosial kepada anak-anak mereka di lingkungan rumah tangga dan masyarakat.
Aturan mu’asyarah sangat penting untuk diajarkan kepada semua individu dan dalam kasus tertentu, Allah Swt sendiri mengajarkan para nabi tentang tata cara mu’asyarah dalam kehidupan. Hal ini sebagai bentuk penekanan tentang pentingnya persoalan ini.
Di sepanjang sejarah, selalu ditemukan orang-orang yang menghindari mu’asyarah dan hubungan dengan pihak lain, mereka memilih hidup menyendiri di tempat-tempat sepi. Orang-orang tersebut juga punya alasan mengapa memilih hidup seperti itu. Misalnya saja, mereka menganggap kehidupan sosial dan pergaulan dengan orang lain sebagai wadah munculnya dosa dan penyimpangan.
Mereka menilai keramaian dan masyarakat sebagai jurang menuju ke lembah dosa. Menurut pandangan mereka, menyendiri dari keramaian akan membuat mereka hidup tanpa beban dan kemudian dapat menyibukkan diri dengan ibadah kepada Tuhan. Dengan begitu, mereka beranggapan dirinya akan terbebas dari tudingan, fitnah, dan prasangka buruk yang marak terjadi di masyarakat.
Pada dasarnya, melakukan mu’asyarah dan membangun hubungan konstruktif dengan orang lain merupakan salah satu kebutuhan utama jiwa dan mental manusia. Sejumlah filosof percaya bahwa zat dan fitrah manusia dirancang untuk memiliki kehidupan sosial dan hidup bermasyarakat.
Ilustrasi anak-anak bergaul dengan membaca
Jelas bahwa tidak ada seorang pun dalam kondisi normal mampu bertahan hidup sendirian. Manusia dilahirkan di tengah masyarakat, mereka juga mampu eksis bersama masyarakat dan dapat meningkatkan kualitas hidup mereka di tengah masyarakat.
Manusia tidak hanya membutuhkan kehadiran orang lain di permulaan hidupnya, tapi juga memerlukan mereka di semua fase kehidupannya. Dengan bergaul bersama orang lain, manusia mampu mengenal dirinya dengan baik, menemukan karakter dan kapasitasnya, serta memperoleh gambaran yang realistis tentang dirinya.
Sejujurnya, mengapa salah satu bentuk hukuman yang paling berat bagi para pelaku kriminal adalah kurungan di sel isolasi? Iya, sel isolasi akan membuat mereka tidak bisa berinteraksi dan bergaul dengan manusia lain. Penderitaan berupa terasing dari orang lain yang ditanggung oleh penghuni sel isolasi, bahkan jauh lebih berat dari larangan mengkonsumsi makanan atau memakai pakaian dan sejenisnya.
Poin lain yang mengindikasikan kedudukan penting interaksi sosial dan mu’asyarah antar-sesama adalah bahwa banyak dari sifat-sifat buruk akan tampak melalui interaksi sosial. Kehidupan sosial dan pergaulan dengan orang lain membuka ruang bagi munculnya berbagai keutamaan seperti, keadilan, persamaan, kebaikan, pengorbanan, infak, tawadhu, kejujuran, dan sejenisnya. Demikian juga dengan sifat-sifat tercela semisal, kezaliman, penistaan hak orang lain, egoisme, sombong, pengkhianatan, kebohongan, suap, ghibah, iri dengki dan lain-lain, semua juga akan tampak dalam kehidupan sosial dan interaksi dengan orang lain.
Proses belajar dan mengajar tidak akan terwujud jika tidak disertai dengan interaksi sosial dan hubungan komunikatif. Mengenal pengalaman orang lain dan belajar dari mereka, merupakan salah satu perkara lain yang tidak akan tercipta kecuali melalui interaksi dan mu’asyarah dengan masyarakat.
Dalam ajaran Islam, mu’asyarah dengan sendirinya tidak memiliki nilai, tapi baik-buruknya berkaitan dengan tujuan dari pergaulan itu sendiri dan pengaruhnya bagi kesempurnaan manusia. Salah satu tujuan utama bergaul dengan orang lain adalah memperoleh keutamaan-keutamaan moral dan meraih kemajuan untuk melatih diri.
Jika mu’asyarah dengan orang lain justru menyebabkan kita terperosok dalam dosa dan maksiat serta menyimpang dari jalur petunjuk dan kebahagiaan, maka pergaulan seperti ini jelas bertentangan dengan tujuan dan kita harus menjauhinya. Sebaliknya, jika mu’asyarah dengan pihak lain akan mendekatkan kita kepada Allah Swt dan memperkuat keimanan, maka kita harus berupaya untuk mempertahankan dan meningkatkannya.
Oleh sebab itu, Islam memberikan model khusus tentang mu’asyarah dan hubungan sosial. Agama ini tidak merekomendasikan semua model mu’asyarah, karena beberapa bentuk pergaulan justru bersifat negatif dan Islam menganjurkan kita untuk meninggalkannya. Rasulullah Saw dalam sebuah nasehat kepada Abu Dzar al-Ghifari bersabda, “Wahai Abu Dzar! Duduk bersama orang saleh itu lebih baik dari kesendirian dan kesendirian lebih baik dari berkumpul bersama orang-orang yang tidak taat.” (Bihar al-Anwar, juz 74, hal 84)
Dalam surat al-Furqan ayat 27-29, Allah Swt berfirman, “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata; "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Quran ketika al-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.”
Suatu hari Imam Ali as ditanya tentang siapakah teman terburuk? Beliau berkata, “Siapa saja yang memperlihatkan dosa itu indah di hadapan manusia.” (Bihar al-Anwar, juz 71, hal 190). Imam Ali as juga melarang manusia untuk berkumpul bersama para penjilat dan berkata, “Janganlah engkau bergaul dengan penjilat, karena ia mengesankan perbuatannya indah di matamu dan ia ingin agar engkau juga seperti dia.” (Ghurar al-Hikam, juz 2, hal 85)
Gaya Mu’asyarah manusia memiliki beragam bentuk. Kita kadang membangun hubungan dengan individu lain sebagai seorang manusia terlepas dari etnis, asal kota atau tempat tinggal. Mu’asyarah kemanusiaan adalah hubungan yang melihat orang lain sebagai makhluk sejenis. Model lain mu’asyarah adalah hubungan dengan sesama saudara seiman atau sepaham.
Interaksi seperti ini disebut sebagai mu’asyarah atas dasar agama. Kita sebagai seorang Muslim memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap saudara seiman, di mana tanggung jawab ini lebih besar dari tugas-tugas lain. Ajaran Islam sendiri juga menggambarkan dengan indah soal bentuk dan tata cara menjalin hubungan antar sesama Muslim.
Islam dan Gaya Hidup (32)
Salah satu etika komunikasi adalah penggunaan kata-kata yang sopan dan juga penyampaian dengan baik. Kita semua tahu bahwa karakter dan kondisi emosional manusia memiliki pengaruh langsung pada perilaku dan gaya bicaranya.
Kita dapat memahami tingkat pertumbuhan kepribadian seseorang dari ucapan baik yang keluar dari lisannya dan kesantunannya dalam menyampaikan pesan. Pertumbuhan dan keluhuran kepribadian dengan sendirinya menjadi faktor untuk memelihara norma dan nilai-nilai sosial termasuk etika berbicara.
Individu yang memiliki etika dan kepribadian luhur tidak akan pernah bersedia mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan karakternya, meski ia berada dalam kondisi sulit sekalipun. Etika berbicara sangat penting kedudukannya sehingga ajaran Islam memberikan banyak anjuran praktis untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lidah anak kecil untuk berbicara
Salah satu etika berbicara dalam Islam adalah memulai pembicaraan dengan ucapan salam. Dengan kata lain, kita memuliakan dan menghormati lawan bicara sebelum membuka pembicaraan. Kita mengawalinya dengan cara memberi salam sejahtera untuk lawan bicara.
Membuka pembicaraan dengan ucapan salam memiliki arti bahwa pembicara membawa misi persahabatan dan kasih sayang serta kecintaan kepada pendengar. Ia ingin membangkitkan emosi dan perasaan pendengar serta menarik kepercayaannya. Pada akhirnya, audien mendengar baik-baik materi pembicaraan yang ingin disampaikan oleh pembicara.
Mengingat tujuan pembicara adalah ingin menyampaikan pesan kepada audien, maka ia – sebagai langkah pertama – harus menarik konsentrasi dan perhatian pendengar sehingga seluruh fokusnya tertuju ke arahnya. Memberi ucapan salam merupakan cara ideal untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Ini adalah metode yang dipakai oleh malaikat ketika menyapa para nabi as, seperti disinggung dalam surat Hud ayat 69 dan Hijr ayat 52. Pengaruh ucapan salam sangat besar dalam membangun komunikasi dengan masyarakat sehingga Allah Swt dalam surat al-An’am ayat 54, memerintahkan Rasul Saw untuk menggunakan metode ini. “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah; ‘Salaamun alaikum.’”
Menyebut nama Allah Swt di awal pembicaraan, merupakan sebuah tradisi mulia yang bisa ditemukan dalam al-Quran, sabda Nabi Saw dan juga perkataan Ahlul Bait as. Tradisi baik ini selain memberikan nuansa sakralitas, juga dapat mengundang perhatian dan fokus para pendengar.
Menyebut nama Allah Swt akan menambah nilai dan keberkahan pembicaraan kita dengan tetap memperhatikan situasi dan kondisi. Tentu saja, kita tidak perlu menerapkan metode ini dalam kasus-kasus seperti, percakapan harian yang dilakukan berulang kali atau dalam memulai setiap komunikasi harian.
Poin lain etika berbicara adalah sikap proporsional dan menjaga keseimbangan. Sikap seimbang membuat pembicara terhindar dari kesalahan dalam menyampaikan materi dan pendengar juga tidak jenuh karena menyimak pembicaraan yang panjang.
Imam Ali as berkata, “Sebaik-baiknya perkataan adalah yang tidak melelahkan dan juga tidak terlalu sedikit.” Pada kesempatan lain, beliau juga berkata, “Banyak bicara membuat orang bijak terperosok dalam kesalahan dan menjadikan orang-orang yang sabar lelah.” (Ghurar al-Hikam, juz 2, hal 241)
Etika lain komunikasi adalah berbicara dengan rasional dan berpikir sebelum menggerakkan lisan. Dengan kata lain, kajian menyeluruh sebelum mulai berbicara akan mencegah potensi terjadinya kesalahan dan kekeliruan. Pada dasarnya, orang bijak berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, sementara orang bodoh bersua dahulu dan kemudian baru berpikir.
Ucapan yang tidak terukur kadang akan menciptakan masalah besar bagi pembicara. Etika komunikasi juga melarang seseorang untuk menghina dan melecehkan pihak lain melalui ucapannya. Menghina dan mengubar aib orang lain akan memperluas ruang permusuhan di tengah masyarakat dan mengurangi semangat persaudaraan dan gotong royong.
Allah Swt mengajarkan kaum Muslim dengan seperangkat etika pada saat memerintahkan Rasulullah Saw untuk membentuk Madinah Fadhilah. Ayat 11 surat al-Hujurat berkata, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Etika komunikasi dalam Islam juga melarang kita bergunjing (ghibah) yaitu, membicarakan keburukan orang lain di belakangnya. Al-Quran secara tegas memerangi kebiasaan buruk era Jahiliyah yang sampai sekarang masih ditemukan di tengah kaum Muslim.
Kitab suci ini menganggap ghibah seperti memakan bangkai saudara kita sendiri dan ayat 12 surat al-Hujurat berbunyi, “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Akar ghibah adalah mencari-cari keburukan orang lain. Untuk itu, al-Quran pertama melarang perbuatan buruk tersebut dan kemudian melarang ghibah. Mencari-cari aib orang lain merupakan sebuah pekerjaan yang sangat buruk di mana membuat individu saling curiga terhadap sesama. Dalam gaya hidup Islami, menjauhi keburukan ini akan memunculkan keramahan dan persahabatan di tengah masyarakat.
Perlu diingat bahwa dalam etika Islam setiap perkataan ada tempatnya. Ada banyak ucapan dan omongan yang tidak boleh disampaikan di banyak tempat pula. Sebuah tamsil berbunyi, “Anak Adam hanya butuh waktu dua tahun untuk bisa berbicara, tapi mereka perlu waktu 30 tahun untuk belajar bagaimana dan dimana harus berbicara.” Kita harus menerima fakta ini bahwa siapa saja yang berbicara tidak pada tempat dan momen yang tepat, ia sama seperti ayam jantan yang telah lupa dengan waktu sahar dan akhirnya berkokok di siang hari yang membuat orang-orang terganggu.
Etika lain komunikasi adalah mengeluarkan ucapan yang bisa dimengerti. Seorang pembicara harus menyampaikan perkataannya dalam batas yang bisa dipahami oleh para pendengar. Imam Ali as berkata, “Sebaik-baiknya perkataan adalah ucapan yang tidak ditolak keluar oleh telinga dan juga tidak menyiksa orang yang berakal dalam memahaminya.” (Ghurar al-Hikam, juz 2)
Pembicara juga harus mengemasnya dengan baik dan menarik sehingga ucapannya berpengaruh besar pada diri audien. Perkataan seperti ini bisa menciptakan kredibilitas dan kepribadian bagi diri pembicara. Sebaliknya meski pembicara punya banyak pengetahuan, tapi tidak mampu mengemas dan menyampaikannya dengan baik, maka ia akan membuat para audien jenuh.
Profesor John J. B. Morgan dalam bukunya “Debrett's New Guide to Etiquette and Modern Manners” menulis, “Saat kita berkomunikasi dengan seseorang dan kita justru menyaksikannya fokus ke tempat lain, kita harus segera memahami poin ini bahwa kita tidak mampu menariknya ke arah kita. Ada jarak yang sangat jauh antara tema pembicaraan kita dengan perkara yang disukai oleh dia.”
Berbicara dengan lembut juga termasuk salah satu etika komunikasi dalam ajaran Islam, di mana ia berperan dalam mendidik masyarakat. Cara ini bahkan wajib dipakai untuk menghadapi orang-orang yang paling kejam sekalipun. Ketika Allah Swt memerintahkan Nabi Musa dan Harun as untuk bertemu Fir’aun, Dia berfirman, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (Surat Taha, ayat 44)
Dari sisi lain jika kita berbicara dengan kata-kata kasar dan nada tinggi, sikap ini selain tidak beretika juga menyiksa telinga para pendengar dan membuat mereka berpaling dari kita. Imam Ali as dalam sebuah nasehatnya berkata, “Biasakanlah lisan kalian untuk berbicara dengan lembut dan mengucapkan salam sehingga memperbanyak jumlah sahabatmu dan mengurangi jumlah musuhmu.” Pada kesempatan lain, beliau juga berkata, “Cara orang-orang saleh adalah bertutur dengan lembut dan menyampaikan salam.” (Ghurar al-Hikam, hal 343 dan 377).
Islam dan Gaya Hidup (31)
Interaksi pertama manusia antar sesama diawali dengan kontak face to face dan interaksi kedua mereka dilanjutkan dengan hubungan komunikasi. Kata dan kalimat merupakan sarana untuk membangun komunikasi antar sesama. Salah satu nikmat besar Allah Swt kepada manusia adalah bahasa dan kemampuan berbicara.
Tanpa karunia ini, manusia tidak mampu menjalin komunikasi dengan orang lain serta mentransfer informasi dan pengetahuannya. Kemampuan berbicara membuat manusia dengan mudah membangun kontak dengan pihak lain serta menularkan ilmu dan perasaannya.
Pelbagai bahasa dunia
Gaya komunikasi setiap individu mencerminkan kepribadian dirinya. Untuk itu, dalam Islam ditemukan banyak materi yang membahas tentang etika komunikasi. Dari ajaran Islam dapat kita pahami bahwa etika berbicara di agama ini terletak pada pemilihan kata yang baik, cara penyampaian yang santun, dan memiliki muatan yang terpuji.
Dengan kata lain, dalam logika Islam manusia harus menyampaikan ucapan yang baik dengan baik pula. Jelas ada perbedaan tipis antara dua konteks tersebut; ucapan yang baik berhubungan dengan konten pembicaraan, sementara berbicara dengan baik berkaitan dengan metode penyampaian.
Konten pembicaraan bersumber dari ilmu dan kebijaksanaan pembicara, sementara etika berkomunikasi mengindikasikan kesantunannya. Berkenaan dengan etika, kita harus memilih kalimat dan kata-kata yang baik dan terpuji. Sebab dalam ilmu linguistik, kalimat mengandung muatan positif atau negatif dan bahkan netral. Seni berbicara terletak pada keindahan kata dan kemampuan menggunakan kalimat yang efektif serta memiliki gaya yang menarik dan sopan. Semua orang kurang lebih ingin menguasai keahlian ini.
Hubungan komunikasi merupakan bagian penting dari interaksi antar sesama individu. Akan tetapi, hanya sedikit orang yang memiliki keahlian untuk melakukan sebuah komunikasi yang baik. Karena, seni komunikasi dan metode penyampaian merupakan keahlian yang harus dipelajari. Jika tidak menguasainya, maka hubungan akan berlangsung hampa, tidak efektif, atau bahkan menciptakan gesekan di antara berbagai komunitas mulai dari lingkungan keluarga hingga ke level masyarakat.
Interaksi antar sesama manusia lebih dominan terjadi melalui sarana komunikasi dan bahasa. Oleh karena itu, al-Quran menyeru kaum Muslim untuk berbicara dengan baik dan sopan. Dalam surat al-Baqarah ayat 83, Allah Swt berfirman, “… Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia….”
Berucap yang baik
Berpikir sebelum berbicara merupakan sebuah tema yang sangat ditekankan dalam Islam. Sebuah ucapan keliru bisa saja menciptakan masalah yang sulit untuk diselesaikan. Oleh karena itu, manusia yang bijak tentu saja akan berpikir terlebih dahulu sebelum menggerakkan lisannya, mereka memperhitungkan konsekuensi dan dampak yang mungkin akan muncul.
Selanjutnya jika dirasa perlu, mereka akan berbicara dengan ucapan yang bijak dan bahasa yang sopan. Imam Ali as berkata, “Orang beriman ketika ingin menyampaikan sesuatu, ia akan berpikir tentang kebaikan di dalamnya. Jika itu baik, ia akan mengutarakannya dan jika itu buruk, ia akan menyembunyikannya.”
Komunikasi bertujuan untuk memberi pemahaman dan kesepahaman tentang sesuatu dalam kehidupan sosial. Di tengah komunitas yang lebih kompleks dan hubungan yang lebih rumit, maka sangat penting untuk berkomunikasi dengan cara yang lebih baik dan juga memperhatikan etika.
Untuk itu, keahlian tersebut menjadi faktor untuk mengantarkan seseorang pada maksudnya dengan lebih cepat. Komunikasi mencakup bagian besar dari volume hubungan bahkan di zaman yang disebut era komunikasi ini dan setiap harinya dipasarkan perangkat baru untuk menyampaikan pesan dan suara manusia kepada pihak lain.
Komunikasi mencerminkan emosional, karakter, budaya, dan kompleksitas pikiran manusia. Dalam dimensi yang lebih luas, ia merefleksikan budaya dan peradaban masyarakat. Poin yang perlu diingat dalam hal ini adalah bahwa mengontrol lisan dan metode komunikasi berhubungan dengan tingkat pertumbuhan dan kematangan pikiran seseorang.
Oleh karena itu, kita senantiasa diminta untuk mengendalikan tali kekang lisan kita dan berbicara seperlunya. Imam Ali as berkata, “Barang siapa yang menjaga lisannya, maka Allah akan menutup aibnya.”
ilustrasi menjaga lisan
Kita di tengah kehidupan sosial, keluarga dan bahkan di tengah masyarakat yang lebih luas, mungkin pernah menyaksikan dampak-dampak positif mengontrol lisan dan bahaya-bahaya melepas kekangannya. Membiarkan lisan tanpa kendali akan membawa banyak mudharat.
Oleh sebab itu, Islam menekankan sikap diam kecuali sedikit berbicara, bijak, dan untuk perkara yang benar. Menjaga etika dan menghormati audien, adalah syarat pertama untuk membangun komunikasi yang efektif dan menyampaikan pesan.
Sikap menghina, melecehkan, dan tidak sopan akan melahirkan kondisi psikologis tertentu pada diri audien dan membuat mereka menolak ucapan kita dan bahkan bisa menciptakan kebencian. Jadi, menjaga etika dan kesopanan sangat penting meski lawan bicara kita tidak berkomitmen dengan nilai-nilai itu.
Al-Quran memperkenalkan Nabi Ibrahim as sebagai teladan dalam berkomunikasi dengan rasional dan sopan. Ketika Nabi Ibrahim as menghadapi sikap tidak sopan pamannya, Azar dan mendengar kata-kata ancaman, ia tetap menjaga kesantunan dan berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS, Maryam, ayat 47)
Ucapan yang baik secara efektif mempengaruhi audien dan tentu saja ia memiliki parameter dan unsur tertentu. Di antara unsur pentingnya adalah fasih dan lancar dalam menyampaikan maksud, menjaga etika komunikasi, menghindari ungkapan yang tidak pantas, dan bersikap lembut dan tegas dalam menjelaskan sesuatu. Perkataan yang lembut dan penuh kasih sayang, sama seperti alunan musik merdu yang menyejukkan hati, karena di situ pembicara memanfaatkan emosi dan perasaan para audien untuk mempengaruhi mereka.
Allah Swt memerintahkan Musa dan Harun as untuk menggunakan kata-kata yang lembut ketika menghadapi Fir’aun dengan harapan ia menerima kebenaran. Al-Quran menganggap rahasia kesuksesan Rasulullah Saw dalam menarik orang-orang dikarenakan kasih sayang beliau, di mana kasih sayang ini tampak jelas dalam ucapan dan perilaku Rasul. Meski demikian, kelembutan dalam berbicara akan berguna jika dibarengi dengan argumentasi-argumentasi yang rasional, sebab kelembutan berbicara adalah sarana untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang lebih baik.
Sirah Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya, menunjukkan bahwa mereka senantiasa memperhatikan etika dan menghormati masyarakat dalam menjelaskan kebenaran dan membimbing umat manusia. Meneladani pribadi-pribadi agung itu bisa membantu kita untuk memiliki sebuah gaya hidup yang terpuji.
Dalam sejarah disebutkan, Rasul Saw selalu yang pertama dalam mengucapkan salam kepada masyarakat, jika ingin berbicara dengan seseorang, beliau akan menengok dengan menghadapkan seluruh tubuhnya dan selalu berbicara dengan wajah tersenyum dan ramah.
Tidak perlu berbicara keras
Jika seseorang keliru dalam ucapannya, Rasul Saw tidak marah. Beliau memenuhi kebutuhan orang-orang miskin dan jika tidak memungkinkan, beliau memberi pengertian kepada mereka dengan bahasa yang lembut. Rasul Saw sedikit berbicara dan tidak memotong pembicaraan orang lain, beliau tidak mencela orang lain, dan mendengar dengan baik keluhan masyarakat. Rasul Saw telah mendidik para sahabatnya dengan baik sehingga setiap kali beliau berbicara, mereka menyimak sabda beliau dengan seksama, dan setiap kali beliau menyelesaikan pembicaraannya, para sahabat akan bertanya secara bergiliran tanpa saling berebut.
Perkataan Rasul Saw sarat dengan makna, indah, dan penuh pertimbangan. Tidak ada tempat untuk melebih-lebihkan atau mengurangi isi pembicaraannya. Beliau meninggalkan ucapan yang sia-sia dan berbicara dengan teratur dan lembut. Rasul Saw sangat fasih dalam berucap dan jujur. Dalam menyampaikan sesuatu, beliau memperhatikan tingkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat. Gaya bicara beliau sangat menarik dan mengesankan. Rasul Saw berbicara dengan nada yang rendah dan tidak menyakiti orang lain dengan lisannya.
Islam dan Gaya Hidup (31)
Interaksi pertama manusia antar sesama diawali dengan kontak face to face dan interaksi kedua mereka dilanjutkan dengan hubungan komunikasi. Kata dan kalimat merupakan sarana untuk membangun komunikasi antar sesama. Salah satu nikmat besar Allah Swt kepada manusia adalah bahasa dan kemampuan berbicara.
Tanpa karunia ini, manusia tidak mampu menjalin komunikasi dengan orang lain serta mentransfer informasi dan pengetahuannya. Kemampuan berbicara membuat manusia dengan mudah membangun kontak dengan pihak lain serta menularkan ilmu dan perasaannya.
Pelbagai bahasa dunia
Gaya komunikasi setiap individu mencerminkan kepribadian dirinya. Untuk itu, dalam Islam ditemukan banyak materi yang membahas tentang etika komunikasi. Dari ajaran Islam dapat kita pahami bahwa etika berbicara di agama ini terletak pada pemilihan kata yang baik, cara penyampaian yang santun, dan memiliki muatan yang terpuji.
Dengan kata lain, dalam logika Islam manusia harus menyampaikan ucapan yang baik dengan baik pula. Jelas ada perbedaan tipis antara dua konteks tersebut; ucapan yang baik berhubungan dengan konten pembicaraan, sementara berbicara dengan baik berkaitan dengan metode penyampaian.
Konten pembicaraan bersumber dari ilmu dan kebijaksanaan pembicara, sementara etika berkomunikasi mengindikasikan kesantunannya. Berkenaan dengan etika, kita harus memilih kalimat dan kata-kata yang baik dan terpuji. Sebab dalam ilmu linguistik, kalimat mengandung muatan positif atau negatif dan bahkan netral. Seni berbicara terletak pada keindahan kata dan kemampuan menggunakan kalimat yang efektif serta memiliki gaya yang menarik dan sopan. Semua orang kurang lebih ingin menguasai keahlian ini.
Hubungan komunikasi merupakan bagian penting dari interaksi antar sesama individu. Akan tetapi, hanya sedikit orang yang memiliki keahlian untuk melakukan sebuah komunikasi yang baik. Karena, seni komunikasi dan metode penyampaian merupakan keahlian yang harus dipelajari. Jika tidak menguasainya, maka hubungan akan berlangsung hampa, tidak efektif, atau bahkan menciptakan gesekan di antara berbagai komunitas mulai dari lingkungan keluarga hingga ke level masyarakat.
Interaksi antar sesama manusia lebih dominan terjadi melalui sarana komunikasi dan bahasa. Oleh karena itu, al-Quran menyeru kaum Muslim untuk berbicara dengan baik dan sopan. Dalam surat al-Baqarah ayat 83, Allah Swt berfirman, “… Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia….”
Berucap yang baik
Berpikir sebelum berbicara merupakan sebuah tema yang sangat ditekankan dalam Islam. Sebuah ucapan keliru bisa saja menciptakan masalah yang sulit untuk diselesaikan. Oleh karena itu, manusia yang bijak tentu saja akan berpikir terlebih dahulu sebelum menggerakkan lisannya, mereka memperhitungkan konsekuensi dan dampak yang mungkin akan muncul.
Selanjutnya jika dirasa perlu, mereka akan berbicara dengan ucapan yang bijak dan bahasa yang sopan. Imam Ali as berkata, “Orang beriman ketika ingin menyampaikan sesuatu, ia akan berpikir tentang kebaikan di dalamnya. Jika itu baik, ia akan mengutarakannya dan jika itu buruk, ia akan menyembunyikannya.”
Komunikasi bertujuan untuk memberi pemahaman dan kesepahaman tentang sesuatu dalam kehidupan sosial. Di tengah komunitas yang lebih kompleks dan hubungan yang lebih rumit, maka sangat penting untuk berkomunikasi dengan cara yang lebih baik dan juga memperhatikan etika.
Untuk itu, keahlian tersebut menjadi faktor untuk mengantarkan seseorang pada maksudnya dengan lebih cepat. Komunikasi mencakup bagian besar dari volume hubungan bahkan di zaman yang disebut era komunikasi ini dan setiap harinya dipasarkan perangkat baru untuk menyampaikan pesan dan suara manusia kepada pihak lain.
Komunikasi mencerminkan emosional, karakter, budaya, dan kompleksitas pikiran manusia. Dalam dimensi yang lebih luas, ia merefleksikan budaya dan peradaban masyarakat. Poin yang perlu diingat dalam hal ini adalah bahwa mengontrol lisan dan metode komunikasi berhubungan dengan tingkat pertumbuhan dan kematangan pikiran seseorang.
Oleh karena itu, kita senantiasa diminta untuk mengendalikan tali kekang lisan kita dan berbicara seperlunya. Imam Ali as berkata, “Barang siapa yang menjaga lisannya, maka Allah akan menutup aibnya.”
ilustrasi menjaga lisan
Kita di tengah kehidupan sosial, keluarga dan bahkan di tengah masyarakat yang lebih luas, mungkin pernah menyaksikan dampak-dampak positif mengontrol lisan dan bahaya-bahaya melepas kekangannya. Membiarkan lisan tanpa kendali akan membawa banyak mudharat.
Oleh sebab itu, Islam menekankan sikap diam kecuali sedikit berbicara, bijak, dan untuk perkara yang benar. Menjaga etika dan menghormati audien, adalah syarat pertama untuk membangun komunikasi yang efektif dan menyampaikan pesan.
Sikap menghina, melecehkan, dan tidak sopan akan melahirkan kondisi psikologis tertentu pada diri audien dan membuat mereka menolak ucapan kita dan bahkan bisa menciptakan kebencian. Jadi, menjaga etika dan kesopanan sangat penting meski lawan bicara kita tidak berkomitmen dengan nilai-nilai itu.
Al-Quran memperkenalkan Nabi Ibrahim as sebagai teladan dalam berkomunikasi dengan rasional dan sopan. Ketika Nabi Ibrahim as menghadapi sikap tidak sopan pamannya, Azar dan mendengar kata-kata ancaman, ia tetap menjaga kesantunan dan berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS, Maryam, ayat 47)
Ucapan yang baik secara efektif mempengaruhi audien dan tentu saja ia memiliki parameter dan unsur tertentu. Di antara unsur pentingnya adalah fasih dan lancar dalam menyampaikan maksud, menjaga etika komunikasi, menghindari ungkapan yang tidak pantas, dan bersikap lembut dan tegas dalam menjelaskan sesuatu. Perkataan yang lembut dan penuh kasih sayang, sama seperti alunan musik merdu yang menyejukkan hati, karena di situ pembicara memanfaatkan emosi dan perasaan para audien untuk mempengaruhi mereka.
Allah Swt memerintahkan Musa dan Harun as untuk menggunakan kata-kata yang lembut ketika menghadapi Fir’aun dengan harapan ia menerima kebenaran. Al-Quran menganggap rahasia kesuksesan Rasulullah Saw dalam menarik orang-orang dikarenakan kasih sayang beliau, di mana kasih sayang ini tampak jelas dalam ucapan dan perilaku Rasul. Meski demikian, kelembutan dalam berbicara akan berguna jika dibarengi dengan argumentasi-argumentasi yang rasional, sebab kelembutan berbicara adalah sarana untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang lebih baik.
Sirah Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya, menunjukkan bahwa mereka senantiasa memperhatikan etika dan menghormati masyarakat dalam menjelaskan kebenaran dan membimbing umat manusia. Meneladani pribadi-pribadi agung itu bisa membantu kita untuk memiliki sebuah gaya hidup yang terpuji.
Dalam sejarah disebutkan, Rasul Saw selalu yang pertama dalam mengucapkan salam kepada masyarakat, jika ingin berbicara dengan seseorang, beliau akan menengok dengan menghadapkan seluruh tubuhnya dan selalu berbicara dengan wajah tersenyum dan ramah.
Tidak perlu berbicara keras
Jika seseorang keliru dalam ucapannya, Rasul Saw tidak marah. Beliau memenuhi kebutuhan orang-orang miskin dan jika tidak memungkinkan, beliau memberi pengertian kepada mereka dengan bahasa yang lembut. Rasul Saw sedikit berbicara dan tidak memotong pembicaraan orang lain, beliau tidak mencela orang lain, dan mendengar dengan baik keluhan masyarakat. Rasul Saw telah mendidik para sahabatnya dengan baik sehingga setiap kali beliau berbicara, mereka menyimak sabda beliau dengan seksama, dan setiap kali beliau menyelesaikan pembicaraannya, para sahabat akan bertanya secara bergiliran tanpa saling berebut.
Perkataan Rasul Saw sarat dengan makna, indah, dan penuh pertimbangan. Tidak ada tempat untuk melebih-lebihkan atau mengurangi isi pembicaraannya. Beliau meninggalkan ucapan yang sia-sia dan berbicara dengan teratur dan lembut. Rasul Saw sangat fasih dalam berucap dan jujur. Dalam menyampaikan sesuatu, beliau memperhatikan tingkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat. Gaya bicara beliau sangat menarik dan mengesankan. Rasul Saw berbicara dengan nada yang rendah dan tidak menyakiti orang lain dengan lisannya.
Milad Agung Sang Putra Ka'bah
Tanggal 13 Rajab adalah hari kelahiran Imam Ali bin Abi Thalib as. Ia dilahirkan pada 13 Rajab, Aamul Fiil ke-30. Prosesi kelahiran Ali penuh keajaiban dan tidak pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Ia dilahirkan di dalam Ka'bah, Rumah Tuhan.
Imam Ali as adalah putra Abu Thalib, paman Nabi dan cucu Abdul Muthalib, putra Hasyim. Ibunda beliau bernama Fatimah, putri Assad bin Abdu Manaf.
Muhammad al-Maliki mengatakan, "Ali dilahirkan di dalam Ka'bah di Mekah pada hari ketiga belas bulan Tuhan, Rajab tahun ke-30 Tahun Gajah ... Sebelum dia, tidak ada yang lahir di dalam Ka'bah dan kelahiran ini merupakan keutamaan yang diberikan Allah Swt kepada Ali as, demi menghormatinya dan meningkatkan derajatnya serta mengungkapkan martabat dan kebesaran hatinya."
Hakim Neishaburi juga mengatakan, "Kabar kelahiran Ali as di dalam Ka'bah telah sampai dalam bentuk mutawatir. Sejauh ini belum ada yang mencapai keutamaan ini."
Ali as di kemudian hari dengan perilakunya membuktikan posisinya. Dia dianggap sebagai buah sukses dari pendidikan Nabi Muhammad Saw. Karena dia adalah nafas dan jiwa Nabi Saw, saudara laki-laki dan penggantinya. Rasulullah mengenalkannya sebagai pintu ilmu dan kebijakan dan berkata, "Saya adalah kota ilmu dan Ali sebagai pintu gerbangnya. Barang siapa yang menginginkan ilmu harus memasukinya lewat pintu ini."
Faktanya, kepribadian Ali as adalah kombinasi elemen yang masing-masing mampu mengantarkan manusia ke puncak kesempurnaan.
Masa kanak-kanak Imam Ali dihabiskan di bawah asuhan dan pendidikan Rasulullah Saw. Semakin tinggi ilmu yang didapat, Rasulullah semakin memperhatikan dan mendidik Ali. Sehubungan dengan hal ini, Imam Ali berkata, 'Aku mengikutinya seperti seekor anak unta mengikuti induknya."
Setiap hari beliau menunjukkan tanda akhlaknya kepadaku dan selalu mengajakku untuk mengikutinya. Saat kanak-kanak, ia selalu mendekapku di dadanya dan menidurkanku di tempat tidurnya, ia mendekatkan tubuh sucinya ke tubuhku sehingga aku mencium wangi tubuh beliau.
Ali yang menjadi saksi khalwat Rasul bersama Tuhan, adalah tokoh Islam yang utama, ia adalah sahabat Nabi pertama. Imam Ali berkata, Rasulullah setiap tahun berkhalwat di Gua Hira. Saya selalu melihatnya dan tidak ada seorang pun selain saya yang melihatnya. Kecuali di rumah Rasul dan Khadijah, tidak ada satu orang pun yang memeluk Islam dan saya adalah orang yang ketiga. Aku menyaksikan cahaya wahyu dan kenabian, dan menghirup wangi kenabian.
Dalam kesabaran dan memberi maaf, Ali mengalahkan semua orang. Tingkat kesabaran yang paling tinggi dapat dilihat dalam Perang Jamal dan dalam memperlakukan musuh, terutama Marwan bin Hakam dan Abdullah bin Zubair. Imam, sekalipun menguasai mereka, tapi memaafkan mereka. Ali as tidak mengutuk dan menghukum siapa pun dari mereka yang terlibat dalam Perang Jamal.
Di Perang Khandaq, Imam Ali berhadap-hadapan dengan Amr ibn Abd Al Wud, jawara Quraisy terkemuka. Imam Ali berhasil menjatuhkannya ke tanah, tapi tidak membunuhnya. Lalu kembali bertarung dan mengalahkannya namun tidak membunuhnya, dan mendekati Rasulullah.
Rasulullah Saw bertanya, "Mengapa setiap kali engkau bertarung dengannya, engkau tidak membunuhnya?" Ali menjawab, ia menghina ibuku dan meludahi mukaku. Aku takut membunuhnya karena kemarahan, aku biarkan dia sampai kemarahanku reda, setelah itu kubunuh.
Keadilan adalah salah satu bagian yang paling indah dari karakter Imam Ali as. Jika Ali as tidak ingin menghormati keadilan dan lebih memilih jabatannya daripada kepentingan dunia Muslim, ia akan menjadi khalifah yang paling sukses dan paling kuat. Tetapi, ia begitu tegar di jalan kebenaran sehingga ketika saudara laki-lakinya Aqil meminta sesuatu dari Baitul Mal, ia meletakkan api di tangannya dan mengingatkannya akan azab akhirat.
Keadilan Imam Ali as adalah simbol keadilan Islam. Dalam ajaran Imam Ali as dikatakan, "Allah menjadikan keadilan sebagai penunjang manusia. Keadilan adalah cahaya Islam. Islam tanpa keadilan adalah cahaya yang tidak bercahaya."
Makam Imam Ali di kota Najaf, Irak.
Hari kelahiran Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as diperingati di Republik Islam Iran sebagai Hari Ayah. Pada hari itu, setiap anak akan mengucapkan selamat kepada ayahnya dan memberikan hadiah kepadanya.
Hari Ayah di Iran merupakan hari libur nasional. Mereka yang memiliki kesempatan untuk menemui ayahnya, akan datang, mengucapkan selamat dan membawa hadiah buat orang yang membesarkan mereka itu. Selain itu, para istri juga biasa membelikan bunga atau bingkisan atau membuat makanan khusus untuk suaminya pada Hari Ayah.
Di akhir tahun ke-2 Hijriyah, Imam Ali as menikah dengan Putri Rasulullah Saw, Sayidah Fatimah az-Zahra as. Ia selalu mendampingi Rasulullah dalam suka dan duka demi menyebarkan Islam dan ikut dalam semua peperangan yang dihadiri Rasululllah Saw, kecuali dalam Perang Tabuk.
Imam Ali as selain dikenal karena keberaniannya, juga amat terkenal kedermawanan dan kelembutan hatinya. Ia selalu membantu dan melindungi fakir miskin, kaum tertindas, dan anak yatim.
Ketika menjadi khalifah kaum Muslim, Imam Ali as menjalankan pemerintahan dengan sangat adil. Dalam beribadah kepada Allah, ia dikenal sangat tekun dan khusyu', sampai-sampai ia tidak merasakan ada anak panah menancap di tubuhnya pada saat sedang shalat.
Salah satu hadis dari Imam Ali as adalah "Berperilakulah dengan baik kepada masyarakat, sehingga ketika engkau mati, mereka akan menangisimu dan ketika engkau hidup mereka akan baik kepadamu."
Dia adalah satu-satunya orang yang disinggung Rasulullah Saw dengan mengatakan, “Hak Ali atas umat, sama seperti hak seorang ayah kepada putranya.” Ali adalah satu-satunya orang yang berkorban pada Lailatul Mabit, malam ketika Rasulullah Saw berhijrah dari Mekkah menuju Madinah, dan tidur menggantikan Nabi Muhammad Saw.
Dalam sebuah perjalanan, Imam Ali as melintasi rumah seorang perempuan miskin yang anak-anaknya menangis karena lapar. Sang ibu menyibukkan mereka dengan berbagai hal, kemudian memenuhi panci dengan air dan menyalakan api, sehingga itu dijadikan alasan agar anak-anaknya tertidur. Menyaksikan peristiwa itu, Imam Ali as bersama Qanbar segera pulang ke rumah dan mengambil kurma, serta memikul sekantung gandum, beras dan minyak, kemudian bergegas menuju rumah perempuan itu.
Setibanya di rumah perempuan itu, Imam Ali as meminta ijin masuk kemudian memasukkan beras dan sedikit minyak ke dalam panci untuk menyiapkan makanan. Kemudian beliau membangunan anak-anak perempuan itu serta menyuap mereka sampai kenyang. Kemudian untuk menghibur anak-anak perempuan itu beliau merangkak dan menaikkan mereka di atas punggungnya. Mereka tertawa riang. Setelah bermain, Imam Ali as menidurkan mereka dan meninggalkan rumah itu.
Qanbar bertanya, “Wahai junjunganku! Hari ini aku melihat dua hal darimu yang aku mengerti sebab dari salah satunya namun aku tidak mengerti sebab yang kedua. Pertama, kau sendiri yang membawa makanan itu di pundakmu dan tidak mengijinkanku membawanya, pasti karena besarnya pahala, akan tetapi aku tidak memahami kau merangkak dan menaikkan mereka (anak-anak itu) ke atas punggungmu.”
Imam Ali as menjawab, “Ketika aku melihat anak-anak itu, aku menyadari mereka sedang menangis karena lapar, dan debu-debu keyatiman menyelimuti mereka, aku ingin ketika aku keluar mereka kenyang dan




























