کمالوندی
Imam Jawad, Teladan Keutamaan Ilmu dan Akhlak
Di bulan Rajab lahir pula manusia-manusia suci dan besar di sejarah umat Islam. Salah satunya adalah Imam Mohammad Jawad as.
Imam Muhammad Jawad lahir pada bulan Rajab 195 H dan mereguk cawan syahadat pada hari terakhir bulan Dzulqaidah tahun 220 H. Beliau menjadi imam di usia delapan tahun melanjutkan ayahnya yang syahid.
Imam Jawad sebagaimana ayahnya Imam Ridha memainkan peran penting dalam menjaga dan menyebarkan nilai-nilai agama Islam di tengah masyarakat. Beliau menyebarkan ilmu al-Quran, akidah, fiqh, hadis, dan ilmu keislaman lainnya. Salah satunya mengenai tafsir al-Quran. Imam Jawab menjawab pertanyaan mengenai makna dan tafsir sejumlah ayat al-Quran.
Imam Jawad memang berumur belia saat meninggalkan dunia yang fana. Namun usia 25 tahun yang beliau lewati telah meninggalkan warisan ilmu dan khazanah hikmah yang tak terbatas. Sejarah menyebutkan nama 150 orang yang pernah berguru kepada Imam Jawad as dan mendapat bimbingan beliau. Diantara mereka, nampak nama-nama para tokoh yang dikenal figur besar di bidang keilmuan dan fiqh.
Imam Jawad memiliki kepedulian yang besar kepada masalah ilmu dan pendidikan. Beliau pernah berkata, "Tuntutlah ilmu sebab mencari ilmu adalah kewajiban bagi semua orang. Ilmu mempererat jalinan antara saudara seagama dan simbol kemuliaan. Ilmu adalah buah yang paling sesuai untuk hidangan sebuah pertemuan. Ilmu adalah kawan dalam perjalanan dan penghibur dalam keterasingan dan kesendirian."
Beliau dalam sebuah riwayat mengatakan, "Empat hal yang menjadi faktor keberhasilan orang dalam melakukan perbuatan baik dan amal salih adalah kesehatan, kekuatan, ilmu dan taufik dari Allah Swt."
Keutamaan ilmu dan kemuliaan akhlak Imam Jawad begitu harum semerbak di tengah masyarakat, hingga penguasa yang merasa terancam dengan popularitas sang Imam merancang sebuah konspirasi untuk menjatuhkan citra beliau. Pada hari yang telah ditentukan, penguasa Abbasiyah bersama Yahya bin Aktsam memasuki majelis besar yang dihadiri oleh orang-orang terhormat, bangsawan, dan para pejabat pemerintahan. Kemudian, datanglah Imam Jawad as ke majelis itu. Orang-orang yang hadir di dalam majelis itu berdiri menyambut kedatangan beliau.
Makmun berkata kepada Imam Jawad, "Yahya bin Aktsam ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu." "Silahkan bertanya apa pun yang ia ingin ditanyakan", jawab Imam Jawad. Yahya mulai melontarkan pertanyaannya kepada Imam, "Apa pendapatmu tentang orang yang mengenakan pakaian Ihram dan berziarah ke Ka'bah, pada saat yang sama ia juga pergi berburu dan membunuh seekor binatang di sana?"
Imam Al-Jawad berkata, "Wahai Yahya, kau telah menanyakan sebuah masalah yang masih sangat umum. Mana yang sebenarnya ingin kau tanyakan; apakah orang itu berada di dalam Tanah Haram atau di luar? Apakah ia tahu dan mengerti tentang larangan perbuatan itu atau tidak? Apakah dia membunuh binatang itu dengan sengaja atau tidak? Apakah dia itu seorang budak atau seorang merdeka? Apakah pelaku perbuatan itu menyesali perbuatannya atau tidak? Apakah kejadian ini terjadi pada malam atau siang hari? Apakah perbuatannya itu untuk yang pertama kali atau kedua kalinya atau ketiga kalinya? Apakah binatang buruan itu sejenis burung atau bukan? Apakah binatang buruan itu besar atau kecil?"
Mendengar jawaban dari Imam Jawad yang saat ini berusia sangat muda, Yahya bin Aktsam, takjub dan dari raut mukanya terlihat ketidakberdayaannya. Ia pun mengakui keilmuan Imam Jawad.
Imam Jawad juga memiliki sahabat dan murid-murid yang berjasa dalam penyebaran keilmuan Islam. Di antaranya adalah Muhammad Bin Khalid Barqi yang menulis sejumlah karya di bidang tafsir al-Quran, sejarah, sastra, ilmu hadis dan lainnya.
Mengenai pentingnya Ilmu pengetahuan, Imam Jawad berkata, "Beruntunglah orang yang menuntut ilmu. Sebab mempelajarinya diwajibkan bagimu. Membahas dan mengkajinya merupakan perbuatan baik dan terpuji. Ilmu mendekatkan saudara seiman, hadiah terbaik dalam setiap pertemuan, mengiringi manusia dalam setiap perjalanan, dan menemani manusia dalam keterasingan dan kesendirian."
Imam Jawad senantiasa menyerukan untuk menuntut ilmu dan menyebutnya sebagai penolong terbaik. Beliau menasehati sahabatnya supaya menghadiri majelis ilmu dan menghormati orang-orang yang berilmu.
Mengenai pembagian ilmu, Imam Jawad berkata, "Ilmu terbagi dua, yaitu ilmu yang berakar dari dalam diri manusia, dan ilmu yang diraih dari orang lain. Jika ilmu yang diraih tidak seirama dengan ilmu fitri, maka tidak ada gunanya sama sekali. Barang siapa yang tidak mengetahui kenikmatan hikmah dan tidak merasakan manisnya, maka ia tidak akan mempelajarinya. Keindahan sejati terdapat dalam lisan dan laku baik. Sedangkan kesempurnaan yang benar berada dalam akal."
Imam Jawad menyebut ilmu sebagai faktor pembawa kemenangan dan sarana mencapai kesempurnaan. Beliau menyarankan kepada para pencari hakikat dan orang-orang yang mencari kesempurnaan dalam kehidupannya untuk menuntut ilmu. Sebab ilmu akan membantu mencapai tujuan tinggi baik dunia maupun akhirat.
Imam Jawad dalam salah satu pesan kepada para sahabatnya mengungkapkan, "Setiap kali Allah Swt menambah dan memperbanyak nikmat-Nya kepada seseorang, maka kebutuhan masyarakat terhadap Zat Yang Maha Kuasa ini juga semakin besar. Apabila manusia tidak mau menanggung jerih payah ini, yakni apabila manusia tidak mau berusaha untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat, maka nikmat-nikmat tersebut akan dicabut."
Imam Jawad dikenal di tengah masyarakat dengan sifat rendah hati dan tawadhu, serta akhlakul karimah. Imam Jawad dikenal sangat dermawan dan lapang dada, dan dengan alasan inilah beliau dijuluki Jawad yang berarti sangat dermawan dan lapang dada. Tak seorang pun yang datang kepada beliau kembali dengan tangan hampa.
Imam Jawad selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat meski disampaikan melalui surat. Oleh karena itulah kecintaan kepada Imam selalu melekat di hati para pengikutnya, walaupun terdapat jarak yang jauh antara beliau dengan pengikutnya.
Imam Jawad berkata, "Allah Swt menganugerahkan nikmat-Nya yang berlimpah kepada sekelompok orang untuk disalurkan lewat derma kepada orang lain. Jika menolak berinfak, maka Allah akan menarik rezeki-Nya dari mereka."
Menurut beliau, harta adalah amanat yang diberikan Allah kepada sebagian hamba-Nya sebagai perantara atau untuk menjadi ujian bagi mereka. Karena itu, siapa saja yang mendapatkan harta dari Allah hendaknya memandang harta itu sebagai titipan Allah untuk mengabdi dan membantu orang lain. Dalam hadis yang lain, beliau berkata, "Anugerah pemberian Allah kepada hamba-Nya tidak akan bertambah banyak kecuali ketika kebutuhan orang lain kepadanya meningkat. Karena itu orang yang tidak sanggup menerima amanat ini dan tidak bersedia membantu orang lain, maka Allah akan menarik rezeki dari tangannya."
Basis Ideologis Revolusi Islam Menurut Rahbar
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (17/2/2021) dalam pidato memperingati kebangkitan bersejarah rakyat Tabriz, Provinsi Azerbaijan Timur, menjelaskan sejumlah capaian besar Republik Islam.
Pada 18 Februari 1978, masyarakat Tabriz turun ke jalan-jalan bertepatan dengan 40 hari pembunuhan orang-orang Qum oleh pasukan rezim Shah Pahlevi. Mereka memprotes kediktatoran yang dilakukan rezim Shah dan menyuarakan gerakan anti-Shah.
Ayatullah Khamenei dalam pidatonya melalui konferensi video, menyapa masyarakat Tabriz dan Azerbaijan Timur, dan berkata, “Setiap tahun, kita biasa bertemu dengan kalian di Husainiyah ini (Husainiyah Imam Khomeini Tehran) dan saya senang atas kehadiran kalian semua. Sayangnya, tahun ini (kondisi) tidak memungkinkan untuk melakukannya dan ini adalah salah satu dari berbagai pasang surut dalam kehidupan.”
“Saya percaya bahwa jika bukan karena gerakan berani yang dilakukan oleh orang-orang Tabriz pada tanggal 29 Bahman (18 Februari 1978), maka gerakan berdarah masyarakat Qom mungkin secara bertahap dilupakan, seperti gerakan 15 Khordad yang secara bertahap sedang dilupakan. Tentu saja, setelah revolusi, ia dihidupkan kembali, tetapi sebelum revolusi orang-orang secara bertahap melupakan apa yang telah terjadi di Tehran, Qom, Varamin dan kota-kota lain pada 15 Khordad tahun 1342,” kata Rahbar.
Ayatullah Sayid Ali Khamenei.
Menurutnya, kebangkitan rakyat Qum pada 19 Dey mungkin juga akan mengalami nasib yang sama jika masyarakat Tabriz tidak bangkit. Namun, rakyat telah menciptakan epik 29 Bahman dan memberikan semangat baru bagi gerakan revolusioner.
Pada kesempatan itu, Ayatullah Khamenei mengucapkan selamat kepada semua masyarakat Tabriz dan Azerbaijan serta rakyat Iran atas datangnya bulan Rajab dan menyampaikan harapan agar setiap orang memperoleh manfaat dari berkah maknawi bulan ini.
Rahbar mencatat bahwa hal yang sangat penting adalah; Tabriz dan Azerbaijan selalu memiliki dua kriteria dan identitas yang permanen dan abadi. Pertama adalah ikatan yang kuat pada Islam dan kesalehan, dan kedua adalah komitmen yang kuat untuk Iran. Keduanya memiliki arti yang sangat penting bagi Islam dan Iran. Rakyat Azerbaijan selalu melawan orang-orang asing yang ingin mencabik-cabik berbagai bagian Iran di wilayah itu dan berhasil menjaga keutuhan negara.
Menurut Ayatullah Khamenei, Azerbaijan adalah benteng kuat Iran dalam melawan serangan asing. Kita selalu menjadi target serangan yang dilancarkan oleh para tetangga yang agresif - Tsar Rusia, Kekaisaran Ottoman, dan Uni Soviet. Jika bukan karena Azerbaijan dan Tabriz serta perlawanan, ketabahan dan pengorbanan mereka, maka serangan-serangan itu mungkin akan mencapai daerah-daerah tengah negeri ini. Azerbaijan adalah benteng yang kuat yang selalu menangkis dan menggagalkan serangan tersebut.
Azerbaijan khususnya Tabriz adalah daerah yang telah melahirkan para tokoh luar biasa di bidang sains, seni, dan politik. “Selama 150 tahun terakhir - saya belum mempelajari era sebelumnya – baik di bidang ilmu agama maupun ilmu alam – merupakan daerah teladan dan benar-benar menghasilkan para elit karena mendidik faqih, cendekiawan, orator, dan ilmuwan hebat. Jadi, Azerbaijan dikenal karena mengembangkan kepribadian luar biasa di bidang ilmiah dan seni,” jelasnya.
Ayatullah Khamenei kemudian bertanya, hal apa yang dapat memberikan identitas dan kekuatan pada suatu bangsa dan sebuah gerakan? Pertama, memiliki infrastruktur ideologis yang kokoh. Menurutnya, penyebab mengapa banyak negara yang telah melakukan revolusi dan bergerak melawan hegemoni, arogansi, penindasan serta tirani, kembali ke era sebelumnya setelah periode yang singkat – setelah periode lima tahun atau setelah 10 tahun – dan mengikuti jalur pendahulunya adalah karena mereka tidak memiliki infrastruktur ideologis yang kuat.
“Musuh utama kekuatan hegemonik adalah infrastruktur ideologis yang merupakan infrastruktur Islami. Infrastruktur ini berbasis ajaran Islam dan telah dijelaskan secara detail oleh Imam Khomaini ra,” tambahnya.
Selain itu, pelajaran berharga juga dapat dipetik dari para pemikir revolusioner kita, para pemikir seperti Shahid Muthahhari, Shahid Beheshti dan lainnya hingga sekarang. Para pemikir ini mendapatkan basis ideologis dari al-Quran dan ajaran Islam. Tentu saja, saya sangat yakin bahwa kekuatan intelektual pemerintahan Islam harus menyelesaikan dan melanjutkan jalan ini. Mereka harus meningkatkan, mempromosikan, dan memperbarui ideologi ini setiap hari karena dengan munculnya persoalan baru, maka diperlukan jawaban baru. Jawaban baru ini harus diberikan kepada orang-orang yang mencarinya, para peneliti dan pemuda.
“Hal ini (basis ideologis) perlu, tetapi dalam praktiknya kita juga memerlukan hal lain karena keberadaan infrastruktur saja tidak cukup. Lalu apa yang kita butuhkan dalam praktiknya? Rasa tidak takut, tidak kenal lelah, tidak berputus asa, dan tidak malas serta tidak terjebak dalam permainan musuh dan membantunya. Ini dibutuhkan dalam tindakan nyata,” ungkap Ayatullah Khamenei.
Dan kita harus siap berkorban di tempat yang tepat. Ini berarti bahwa dalam kasus-kasus tertentu, kita perlu berkorban dan mempertaruhkan nyawa kita. Seperti Syahid Soleimani yang siap mengorbankan nyawanya. Begitulah cara dia memasuki berbagai arena. Hal yang sama berlaku untuk syahid terkasih lainnya seperti Syahid Bakeri.
Dalam pandangan Ayatullah Khamenei, bangsa Iran di usi 42 tahun Revolusi Islam tetap tidak lelah meskipun ada banyak masalah. Buktinya adalah partisipasi luas masyarakat pada acara tasyi’ jenazah Syahid Soleimani dan juga selama acara pawai 22 Bahman tahun ini. Di tengah pandemi Corona, masyarakat melakukan inovasi baru dan tidak membiarkan pawai hari kemenangan Revolusi Islam dibatalkan.
“Kapan pun jihad ini ada, maka ia akan diikuti oleh bimbingan dari Allah Swt. Dengan kata lain, setiap kali jihad dan pengorbanan diri ada, Allah tidak akan meninggalkan kita sendirian. ‘Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.’ Ketika hamba-Nya menunjukkan ketekunan, maka Allah Swt akan memberikan petunjuk-Nya kepada mereka,” jelas Rahbar.
Selain bimbingan Ilahi, seseorang akan mendapatkan keuntungan berupa kesuksesan dan kemajuan. ‘Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)’ Kata Ma’an Ghadagha berarti memuaskan dahaga dengan air segar dan berlimpah. Para ahli tafsir mengatakan bahwa ungkapan ini berarti menyelesaikan semua masalah dalam hidup. Jika kalian menunjukkan ketabahan dan perlawanan – artinya tidak akan menyimpang dari jalan dan jika tetap mengambil jalan yang lurus – maka persoalan dalam hidup pasti akan terselesaikan dan kekurangan akan teratasi.
Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei mengatakan Revolusi Islam telah mengubah pengelolaan negara dari pemerintahan diktator, monarki, dan individualis menjadi pemerintahan yang populer, republik dan demokratis. Saat ini masyarakat bertanggung jawab atas nasib mereka sendiri. Mereka-lah yang memilih. Mereka mungkin memilih dengan buruk, tetapi mereka-lah yang memilih. Ini masalah yang sangat penting. Sebelumnya, hak tersebut tidak ada dan negara adalah sebuah negara diktator. Semuanya ada di tangan rezim.
Berbicara mengenai kesepakatan nuklir JCPOA, Rahbar menandaskan, “Kami telah berbicara tentang kebijakan Republik Islam dalam JCPOA. Hal tertentu disampaikan dan janji tertentu dilontarkan. Saya hanya ingin mengatakan ini, ‘Kami telah mendengar banyak kata-kata dan janji manis, tetapi dalam praktiknya, mereka tidak dilaksanakan dan justru sebaliknya, mereka telah bertindak melawan janji-janji itu.’”
“Tidak ada gunanya berbicara. Tidak ada gunanya memberi janji. Kali ini hanya aksi nyata yang penting! Jika kami melihat tindakan di pihak lain, kami akan mengambil tindakan juga. Kali ini, Republik Islam tidak akan puas mendengar kata-kata dan janji ini dan itu,” pungkasnya.
Mengenali Karakteristik Unggul Imam Husein as
Kota Madinah pada 3 Sya’ban tahun 4 Hijriah menjadi tuan rumah kelahiran anak dari keluarga Nabi. Keluarga yang kerap disebut Rasulullah sebagai Ahlul Bait Nabi pasca turunnya ayat Tathir. Nabi pun senantiasa mengucapkan salam kepada keluarga ini.
Di hari yang berbahagia tersebut, Nabi berdiri di samping pintu rumah Fatimah. Beliau menunggu terbitnya cahaya Husein as. Ketika dunia diterangi cahaya suci Husein, nabi kemudian berkata, Asma’ bawa kesini anakku! Asma’ menjawab, Ya Rasulullah! Aku belum membersihkan bayi ini dan menyiapkannya. Dengan penuh keheranan Nabi bertanya, Kamu membersihkannya? Asma’ kemudian memandang Nabi dan akhirnya ia memahami pertanyaan beliau. Asma’ pun membawa Husein kepada Rasulullah. Nabi kemudian merangkul cucunya, menciumnya dan secara perlahan berbicara kepadanya.
Husein adalah kecintaan Rasulullah. Ia akan tenang ketika dalam pelukan Nabi dan hati Rasulullah akan gembira saat bertemu dengan Husein. Masa kecil Husein dilalui dengan kenangan manis bersama kakek tercintanya, Rasulullah. Terkadang pundak Rasulullah menjadi tempat duduk Husein dan terkadang tangan beliau menggandeng sang cucu kesana kemari. Semua orang menyaksikan ciuman Rasulullah ke wajah Husein. Nabi berbicara dengan Husein menggunakan bahasa anak-anak serta sangat menyayanginya.
Terkait kasih sayangnya yang besar terhadap Husein, Nabi dengan transparan menjelaskan, “Kasih sayang yang Aku limpahkan kepada Husein, lebih besar lagi dari apa yang kalian saksikan.” Sabda Nabi ini telah mengarahkan manusia pada hakikat bahwa kasih sayang yang dilimpahkan Rasulullah kepada anak kecil ini, bukan sekedar kecintaan keturunan dan keluarga, tapi sebuah kecintaan Ilahi. Telah jelas bahwa Nabi bukan manusia biasa. Menurut al-Quran, seluruh perilaku dan ucapan Nabi bukan bersumber dari pribadi dan hawa nafsu, seperti yang dijelaskan dalam Surat An-Najm ayat 3-4 yang artinya, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
Oleh karena itu, Allah Swt berfirman dalam Surat al-Ahzab ayat 21 yang artinya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Kecintaan besar Rasulullah Saw kepada Husein banyak dimuat di berbagai kitab, bahkan kitab-kitab dari Ahlu Sunnah pun banyak menukilnya.
Di antaranya adalah sebuah riwayat yang menyebutkan, sekelompok orang bersama Rasulullah pergi bertamu, Nabi pun berjalan di depan dan mendahului kelompok ini. Di tengah jalan, Nabi bertemu dengan Husein. Nabi ingin memeluk Husein, namun cucunya tersebut lari kesana kemari. Nabi menyaksikan tingkah laku cucunya dan kemudian mengejarnya. Ketika berhasil memegang Husein, Rasul kemudian memeluk dan menciumnya. Selanjutkan Nabi menghadap kepada masyarakat dan bersabda, “Husein dariku dan Aku dari Husein. Siapa saja yang mencintai Husein, maka Allah akan mencintainya.” (Hadis ini diriwayatkan dari Musnad Ahmad jilid 4, Sunan Ibnu Majah jilid 1 dan Manaqib Ibn Sharashub jilid 3)
Imam Husein memiliki karakteristik unggul di berbagai dimensi. Imam bahkan unggul dari manusia lain di seluruh kesempurnaan, keutamaan dan ibadah. Imam Husein memiliki ibadah dan penghambaan khusus, karena sejak masih berada di kandungan ibunya, Fatimah as hingga kepala beliau dipenggal oleh jahiliyah Umawiyah, Imam Husein senantiasa sibuk dengan memuji dan bertasbih kepada Allah Swt serta bacaan al-Quran terus terdengar dari mulut suci beliau. Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad, putra beliau menceritakan tentang ibadah sang ayah dan bersabda, “Ayahku, Husein bin Ali bin Abi Thalib menghabiskan waktu malamnya dengan ruku’, sujud dan berdoa kepada Allah Swt. Setiap malam, ayahku banyak mengerjakan shalat.”
Imam Husein adalah penjaga ajaran agama dan sunnah Rasulullah. Beliau dengan gigih memajukan tujuan dan misi suci Islam. Salah satu karakteristik Imam Husein adalah cinta kebebasan dan membenci kezaliman. Beliau adalah pahlawan yang tidak pernah bersedia berdampingan dengan kezaliman dan depotisme. Beliau dikenal sebagai peletak metode kebebasan dan nilai-nilai kemanusiaan, di mana seluruh pencinta kebebasan dan anti kezaliman serta pejuang di jalan keadilan harus mengambil teladan darinya.
Sikap anti kezaliman dan keberanian Imam Husein tercermin nyata ketika dipaksa untuk berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah yang jelas-jelas fasid dan melakukan dosa secara terang-terangan. Beliau bersabda, “Husein tidak akan tunduk pada kehinaan...”Menghormati kepribadian seseorang merupakan karakteristik unggul lain Imam Husein. Dalam hal ini Imam akan berbuat sedemikian hati-hati dalam menegur kesalahan orang lain sehingga orang tersebut tidak akan merasa malu akan kesalahannya tersebut.
Diriwayatkan bahwa Imam Husein menyaksikan seseorang melakukan kesalahan dalam berwudhu dan orang tersebut membutuhkan bimbingan wudhu yang benar. Namun karena takut membuat malu orang tersebut, Imam akhirnya memikirkan cara yang lebih baik supaya tidak menyinggung orang ini. Imam Husein kemudian mengajak saudaranya, Imam Hasan as untuk berlomba wudhu dan meminta orang tersebut sebagai wasit. Dengan demikian Imam telah memberikan pelajaran wudhu yang benar secara tidak langsung kepada orang ini.
Akhirnya orang tersebut memahami kesalahannya dan mendapat pelajaran wudhu yang benar. Orang tersebut berkata kepada kedua cucu Rasulullah, “Kalian berdua telah wudhu dengan benar, dalam hal ini Aku yang keliru dan tidak memahami kewajibanku dengan benar. Kalian berdua dengan tepat telah memberi pelajaran kepadaku bagaimana wudhu yang benar.”
Imam Husein juga terkenal sangat menghormati hak-hak orang lain. Diceritakan seorang bernama Abdurrahman telah mengajari surat al-Fatihah kepada salah satu anaknya, kemudian Imam memberinya hadiah seribu dinar dan seribu pakaian serta berbagai hadiah lainnya. Orang tersebut sangat takjub dengan pemberian Imam. Imam Husein yang menyaksikan kondisinya, lantas berkata, “Semua hadiah ini tidak berarti dengan apa yang telah kamu lakukan.”
Karakteristik lain Imam Husein as adalah kelembutan beliau kepada orang lain dan suka bersahabat, khususnya kepada mereka tertimpa kemurungan dan kesedihan dalam mengarungi kehidupan yang pasang surut ini, atau mereka menghadapi kesulitan besar dan menemui jalan buntu. Diceritakan Imam Husein pergi mengunjungi Usamah bin Zaid. Sesampainya di rumah Usamah, Imam menyaksikannya dalam kondisi murung dan sedih. Imam kemudian bertanya kepada Usamah apa yang menyebabkannya terlihat begitu sedih. Usama pun kemudian mengungkapkan kesedihannya dihadapan Imam Husein.
Usamah berkata, “Aku memikul hak orang lain di pundakku. Aku berhutang kepada orang lain dan Aku berharap selama masih hidup mampu mengembalikan hutang tersebut. Aku tidak ingin mati dengan membawa beban hutang.” Setelah mendengar penuturan Usamah, Imam Husein langsung memerintahkan untuk melunasi hutang Usamah. Saat itulah, Usamah dengan hati lapang meninggalkan dunia yang fana ini.
Salah satu karakteristik unggul lain Imam Husein adalah infak secara ikhlas baik itu infak secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, kepada orang yang tak dikenal atau tidak. Malam hari Imam Husein tak segan-segan memanggul bahan makanan dan kebutuhan hidup bagi mereka yang membutuhkan dan anak-anak yatim serta meletakkannya di depan pintu rumah mereka.
Oleh karena itu, di hari Asyura, terlihat bekas-bekas di pundak beliau yang menunjukkan bahwa beliau sering memanggul barang berat. Ketika Imam Sajjad ditanya sebab dari bekas-bekas tersebut, beliau berkata, “Itu adalah bekas dari memanggul sedekah dan hadiah secara sembunyi-sembunyi yang dipikul ayahku pada malam hari dan diberikan kepada anak yatim serta orang-orang miskin.
Abul Fadhl Abbas; Simbol Militansi dan Perjuangan Membela Kebenaran
Ketika bulan Sya'ban tahun 26 Hijriah Qamariah menginjak hari keempat terlahir seorang anak penuh berkah yang membuat keluarga Imam Ali as bergembira. Ia diberi nama Abbas.
Hazrat Abbas dianggap sebagai manifestasi kesopanan dan loyalitas. Jika bepergian ke Karbala, Anda akan melihat dua makam suci di Bain al-Haramain yang berjarak 378 meter. Kedua makam suci ini bercahaya di puncak keagungan dan kebesaran. Yah, ketika melihat, seolah-olah Anda sedang melihat pembawa bendera Karbala, yang berada pada puncak solidaritas, setelah kematian, masih tetap bertahan sebagai pelindung saudara lelakinya.
Ia begitu menjaga tata krama, sehingga tidak akan duduk tanpa izin dari Imam Husein as. Ia selalu menggunakan ungkapan yang sopan saat memanggil Imam Husein as dengan "keturunan Nabi Allah", "tuanku" dan "junjunganku" demi menjaga derajat dan posisi saudaranya. Mungkin inilah sebabnya banyak peziarah saat memasuki Bain al-Haramain pertama mengucapkan salam kepada Hazrat Abbas dan dengan izinnya mereka kemudian menziarahi Imam Husein as dan setelah itu kembali lagi menziarahi Hazrat Abbas. Kami mengucapkan selamat atas kelahiran Hazrat Abbas kepada semua mujahid yang mencapai derajat veteran.
Peringatan kelahiran Abul Fadhl al-Abbas
Tepat hari keempat dari bulan Sya'ban tahun 26 Hijriah Qamariah, seorang bayi laki-laki lahir di tengah keluarga Imam Ali as yang membuat keluarga ini berbahagia. Mereka menamakannya dengan Abbas. Ia melangkah di rumah yang meskipun tidak dihiasi dengan perhiasan duniawi, tapi dipenuhi dengan cahaya iman. Sejak awal di rumah tersebut, ia terbiasa dengan konsep keadilan dan perjuangan melawan kezaliman. Dari sini, muncul sarana bagi ketegaran dan pengabdian di jalan yang benar dalam dirinya.
Di masa kecilnya, Abbas dapat menyaksikan ayahnya yang berharga, sebagai cerminan iman, memiliki pengetahuan dan kesempurnaan di depannya. Ucapan ilahi dan perilaku langitnya begitu mempengaruhi dirinya. Abbas menggunakan pengetahuan dan wawasan Ali as. Sekaitan dengan kesempurnaan dan kedinamisan anaknya, Imam Ali as berkata, "Sesungguhnya, Abbas, anak saya telah belajar berbagai pengetahuan dari saya di masa kecilnya, sebagaimana bayi burung dara yang mengambil makanan dan air dari ibunya." Abbas mendapat didikan di linkungan yang sumber tauhid mengalir di sana. Mendapat pendidikan oleh Ali as yang disebut oleh Nabi Muhammad Saw sebagai pintu gerbang ilmu dan selalu terpesona akan Zat Ilahi membuat hari-hari remaja dan pemuda Abbas penuh dengan kesucian dan berkah, sehingga di masa depan, Hazrat Abbas tampil menjadi simbol istiqamah, benteng, perjuangan dan kepahlawanan.
Hazrat Abbas bersama dua cucu Nabi Muhammad Saw, Hasan dan Husein, berada dalam kelas yang sama mempelajari prinsip-prinsip kebajikan. Ia selalu bersama dengan Husein as dan menjadi teladan perilakunya bagi jiwanya. Imam Husein as yang menyadari loyalitas suci saudaranya, Abbas, beliau mendahulukannya dari seluruh keluarganya dan dengan tulus berbaik hati kepadanya. Teladan pendidikan Abbas mendorongnya ke tingkat reformator kemanusiaan besar yang mengubah jalan sejarah dengan pengorbanan dan upaya berkelanjutan untuk menyelamatkan komunitas manusia dari kehinaan dan untuk menghidupkan kembali cita-cita kemanusiaan yang hebat. Sejak awal pertumbuhannya, anak ini telah belajar untuk berjuang di jalan meningkatkan kalimat kebenaran dan mengibarkan bendera tauhid, begitu juga ia telah mencapai keyakinan di dalam jiwanya dan berkelindan erat dengan hatinya.
Sejarah memberi tahu kita bahwa Ali as sangat berkomitmen dalam membina anak-anaknya dan Abbas, di samping pendidikan spiritual dan moral, dari sisi fisik ia dididik dan tumbuh sampai pada titik di mana kebugaran dan kemampuan Abbas mewakili kemampuan dan kesiapan fisiknya. Selain kelebihan keturunan yang diwarisi oleh Abbas dari ayahnya, kegiatan sehari-hari, termasuk membantu ayahnya mengairi kebun kurma, mengalirkan air sungai ke perkebunan dan menggali sumur, serta melakukan permainan seperti remaja yang lain memperkuat kekuatan fisiknya. Ali as mengajarkan Abbas sesuai anjuran Nabi tentang olahraga pemuda dan remaja, termasuk menunggang kuda, memanah, gulat dan berenang serta beliau mengajarkan sendiri kepada Abbas seni perang.
Peringatan kelahiran Abul Fadhl al-Abbas
Kekuatan iman kepada Tuhan dan keteguhan di dalamnya adalah salah satu kelebihannya yang paling menonjol. Sang ayah mendidiknya dengan keyakinan yang didasarkan pada pengetahuan dan kontemplasi tentang kebenaran dan rahasia alam; keyakinan yang dideskripsikan sendiri, "Jika tabir disibakkan untuk saya, tidak akan menambah keyakinan saya."
Iman yang dalam dan mengakar ini telah bergabung dengan partikel-partikel wujud Abbas dan menjadikannya salah satu manusia hebat dalam takwa dan tauhid. Iman yang agung dan berkelanjutan inilah yang membuatnya mengorbankan dirinya dan saudara-saudaranya di jalan Allah dan hanya kepada Allah.
Berani dan keberanian adalah tanda yang paling mencolok dari seorang pria. Karena itu adalah tanda kekuatan dan ketegaran dalam menghadapi peristiwa. Abul Fadhl Abbas mewarisi sifat ini dari ayahnya yang merupakan manusia paling berani dan pamannya yang merupakan pahlawan Arab yang terkenal.
Abul Fadhl Abbas adalah dunia kepahlawanan dan seperti yang dikatakan para sejarawan, ia tidak pernah takut dalam perang yang diikutinya bersama ayahnya. Dikatakan bahwa dalam panasnya pertempuran Siffin, seorang pemuda terpisah dari barisan pasukan Islam yang memiliki topeng di wajahnya. Ia maju dan melepas topeng dari wajahnya, menantang pasukan lawan untuk duel dengan berapi-api. Umurnya diperkirakan sekitar tujuh belas tahun.
Muawiyah menoleh ke Abu Sya'tsa, seorang panglima perang yang kuat di pasukannya dan memerintahkannya untuk melawannya. Abu Sya'tsa dengan suara keras menjawab, "Orang-orang menyebut makan malam saya sama dengan seribu pasukan berkuda, tapi engkau ingin mengirim saya untuk berperang dengan seorang remaja? Ia kemudian memerintahkan salah satu anaknya untuk berperang dengan Hazrat Abbas. Setelah beberapa saat, Abbas berhasil membuatnya terbaring dengan darah menyelimutinya. Ketika debu perang hilang, Abu Sya'tsa benar-benar kaget menyaksikan anaknya terbaring dalam darah dan tanah. Ia memiliki tujuh anak laki-laki. Kemudian ia memerintahkan anaknya yang lain, tapi hasilnya tidak berubah. Satu persatu dari anaknya dikirim untuk berperang dengan Abbas, tapi pemuda pemberani itu membunuh semuanya. Abu Sya'tsa yang melihat martabat dan latar belakang perang keluarganya nyaris sirna, akhirnya ia sendiri masuk berperang dengan Abbas, namun hasilnya tetap sama, Abbas berhasil membunuhnya. Setelah itu tidak ada yang berani melawannya. Para sahabat Imam Ali as takjub dan heran dengan keberaniannya. Ketika ia kembali ke pasukannya, Ali as melepas topeng dari wajah anaknya dan membersihkan wajahnya dari debu."
Ketika Imam Ali as gugur syahid, Abbas membuat perjanjian dengan ayahnya untuk menemani dan mendukung saudara-saudaranya. Selama hidupnya dia tidak pernah melangkah lebih dari mereka. Selama masa Imam Hasan as dan berdamai dengan Muawiyah, Abbas menerapkan prinsip kepatuhan tanpa syarat kepada Imam yang benar dan berdiri di belakang saudaranya. Dalam keadaan yang tidak menguntungkan itu, kita bahkan tidak menemukan satu hal pun dalam sejarah bahwa dia, terlepas dari kinerja beberapa sahabat, menyapa Imamnya untuk kebajikan dan nasihat. Setelah kembalinya Imam HAsan as ke Madinah, Abbas, bersama dengan Imam, membantu mereka yang membutuhkan dan membagi hadiah saudaranya di antara orang-orang miskin. Pada masa itulah ia dijuluki "Bab al-Hawaij" atau pintu bagi mereka yang membutuhkan dan di periode ini digunakan untuk melindungi masyarakat miskin.
Dengan berkuasanya Yazid, Hazrat Abbas melihat umat Islam di bawah mimpi buruk buruk Bani Umayah dan kehidupan mematikan yang penuh dengan kehinaan dan kenistaan. Sekelompok penjahat Bani Umayah memegang nasib rakyat, menghancurkan kekayaan mereka dan memainkan takdir mereka. Dalam menghadapi situasi yang membuat frustrasi ini, Abbas melihat kesetiaan kepada umat dengan berada bersama kebangkitan saudaranya Husein as. Jadi, dengan bersama saudaranya, slogan kebebasan dari para hamba Umayah dan pembebasan umat Islam dari perbudakan mereka serta memulai sebuah jihad suci untuk memulihkan kehidupan yang bermartabat bagi mereka. Dalam mengejar tujuan akhir ini, dirinya dan semua pengikutnya gugur syahid.
Peringatan kelahiran Abul Fadhl al-Abbas
Ketika mereka membawa barang-barang pampasan perang di Karbala ke Syam kepada Yazid, di antara barang-barang itu ada sebuah bendera besar. Yazid dan mereka yang ada di ruangan tersebut melihat melihat bahwa semua bendera ditusuk, tetapi pegangannya tidak masalah. Yazid bertanya, "Siapa yang membawa bendera ini?" Ada yang menjawab, "Abbas bin Ali". Yazid terkejut dan menghormati bendera itu dengan tiga kali berdiri dan kembali duduk lalu berkata, "Lihatlah bendera ini! Tidak ada yang selamat dari tusukan tombak dan pedang, kecuali pegangannya." Tiba-tiba Yazid berkta, "Wahai Abbas! Engkau berhasil menjauhkan laknat dan sumpah serapah dari dirimu. Sumpah serapah memang bukan untuk dirimu."
Iya. Demikianlah cara dan makna loyalitas seorang saudara kepada saudaranya.
Salam kepada Hazrat Abbas. Salam kepada manusia agung yang dipanggil Abu al-Fadhl karena kebajikan dan wajahnya yang bercaya membuatnya dikenal dengan "Qamar Bani Hasyim" atau bulan Bani Hasyim. Imam Shadiq as di awal bacaan ziarah untuk Hazrat Abbas mengakui kemurnia iman dan hati nuraninya yang tinggi lalu berkata:
أَشْهَدُ أَنَّکَ لَمْ تَهِنْ وَ لَمْ تَنْکُلْ وَ أَنَّکَ مَضَیْتَ عَلَى بَصِیرَةٍ مِنْ أَمْرِکَ
"Aku bersaksi bahwa engkau tidak pernah sekalipun menunjukkan kelemahan dan tidak kembali, tapi perjalananmu berdasarkan iman dan hati nurani dalam agama."
Imam Sajjad; Menghidupkan Agama di Era Represif
Imam Ali Zainal Abidin as dilahirkan tanggal 5 Sya'ban tahun 38 Hijriyah di kota Madinah. Putra Imam Husein as ini dijuluki dengan sebutan as-Sajjad, karena tekun beribadah dan bersujud kepada Allah Swt. Selain dekat dengan Tuhan, Imam Sajjad as juga dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, baik budi, dan penyantun terutama kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang tertindas.
Tahun-tahun kepemimpinan Imam Sajjad as bersamaan dengan salah satu era kelam dan paling mencekam dalam sejarah pemerintahan Islam. Meskipun pada zaman Imam Ali as telah muncul sebuah rezim tirani yang digawangi oleh Muawiyah bin Abu Sufyan, tapi pada era Imam Sajjad as, para penguasa dari Dinasti Umayyah terang-terangan melecehkan sakralitas Islam dan menginjak-injak prinsip-prinsip Islam serta tidak ada seorang pun yang berani memprotes fenomena itu.
Sebagian besar dari masa kepemimpinan Imam Sajjad as berbarengan dengan era kekuasaan Abdul Malik bin Marwan, penguasa tiran rezim Umayyah. Dia berkuasa lebih dari 20 tahun dan suatu hari dalam pidatonya di Madinah, berkata, "Saya tidak akan mengobati masyarakat ini kecuali dengan pedang. Demi Tuhan! Barang siapa setelah ini menyeruku kepada ketakwaan dan ketaatan, aku akan menebas lehernya." Ucapan ini disampaikan sebagai pesan kepada para khatib dan imam shalat Jumat yang membuka khutbahnya dengan kalimat "bertakwalah kepada Allah."
Imam Sajjad as
Abdul Malik bin Marwan dikenal luas sebagai tukang jagal dan penumpah darah masyarakat. Para pembantu dan panglima tentaranya juga diketahui sebagai orang-orang yang haus darah dan kejam. Sebagai contoh, lihatlah sejarah kehidupan Hajjaj bin Yusuf, penguasa kota Kufah di Irak. Seorang pakar sejarah Islam abad ketiga Hijriyah, al-Mas'udi menulis, "Hajjaj bin Yusuf telah berkuasa selama 20 tahun dan orang-orang yang tewas dengan pedangnya atau disiksa selama masa itu berjumlah 120 ribu orang! Jumlah ini tidak termasuk mereka yang tewas oleh tentaranya ketika berperang melawan Hajjaj. Para tahanan gemetar ketika mendengar nama Hajjaj, ada sekitar 50 ribu laki-laki dan 30 ribu perempuan yang dipenjara di sana. Hajjaj mengurung mereka dalam satu tempat dan penjara itu tidak memiliki atap. Para tahanan tidak aman dari musim panas dan musim dingin."
Dalam kondisi seperti itu, Imam Ali bin Husein as memikul tugas untuk membimbing umat Islam. Pada masa itu, umat Islam terjebak dalam sebuah krisis pemikiran dan akidah. Mereka mengambil jarak dari ajaran Ahlul Bait, sementara para penguasa Dinasti Umayyah berupaya menyibukkan masyarakat dengan hal-hal yang tidak penting dan sepele. Masyarakat Islam juga terancam dengan ulah para penguasa tiran yang menyebarluaskan berbagai jenis kerusakan dan kemungkaran. Hidup mewah dan hedonisme telah menjadi sesuatu yang lumrah. Mereka menguasai banyak properti dan memborong para budak, termasuk mereka yang berprofesi sebagai penyanyi dan penghibur untuk jamuan-jamuan pesta para penguasa.
Dekadensi moral itu mencapai puncaknya pada masa kekuasaan Yazid bin Muawiyah, di mana dua kota suci Mekah dan Madinah juga ternodai oleh perilaku rezim. Al-Mas'udi menulis, "Kerusakan dan noda hitam Yazid juga meracuni para pembantu dan pegawainya. Pada masanya, lagu dan tarian terang-terangan dipentaskan di Makkah dan Madinah bersama pesta pora, masyarakat juga tidak canggung-canggung lagi untuk meneguk khamar. Kondisi mengenaskan ini berlanjut pada masa Abdul Malik bin Marwan."
Menyaksikan kondisi mengerikan itu, Imam Sajjad as menempuh sebuah cara di mana tidak hanya untuk menyelamatkan budaya Islam yang terancam punah, tapi juga untuk menciptakan kondisi bagi penyebaran nilai-nilai luhur Islam. Beliau melakukan revolusi budaya dengan mendidik para tenaga pengajar untuk menghidupkan Islam dan mempersiapkan kemunculan mazhab Jakfari. Selain mengkader para murid, Imam Sajjad as juga mendidik dan memberi pencerahan kepada para budak, dan kemudian memerdekakan mereka untuk berdakwah di tengah masyarakat.
Imam Zianul Abidin as
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Imam Sajjad as telah memerdekakan seribu budak di jalan Allah Swt. Beliau membeli para budak dan kemudian membekali mereka dengan hakikat Islam. Ketika seorang budak dimerdekakan, pada dasarnya Imam Sajjad as telah meluluskan seorang individu yang merdeka, berpendidikan, arif, dan pecinta Ahlul Bait as. Daya tarik Imam Sajjad as sangat luar biasa di mana beberapa budak lebih memilih hidup bersama beliau daripada dimerdekakan.
Mengingat tuntutan kondisi, Imam Sajjad as tidak bisa terang-terangan menyampaikan ajaran-ajarannya kepada masyarakat. Beliau memanfaatkan metode nasehat dan doa untuk mengenalkan mereka dengan pemikiran-pemikiran Islam. Beliau menghidupkan kembali budaya Islam dan memberi pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang hakikat dan ajaran Islam. Imam Sajjad as dalam sebuah ucapannya berkata, "Jauhilah diri kalian dari berinteraksi dengan para pendosa, bekerjasama dengan para penindas, dan mendekatkan diri dengan orang-orang fasik. Waspadalah terhadap fitnah mereka dan menjauhlah dari mereka dan ketahuilah bahwa barang siapa yang menentang para auliya Allah dan mengikuti selain agama Tuhan serta bertindak gegabah di hadapan perintah kepemimpinan Ilahi, maka ia akan terperosok di neraka?"
Pada tahun 61 Hijriah, Imam Sajjad as turut menyertai ayah beliau yang berjuang melawan kezaliman pemerintahan Yazid, di Padang Karbala. Atas kehendak Allah Swt, saat itu beliau jatuh sakit sehingga tidak bisa ikut bertempur. Setelah Imam Husein as gugur syahid, tampuk imamah diemban oleh Imam Sajjad as. Di sepanjang hidupnya, Imam Sajjad as berusaha melestarikan nilai-nilai perjuangan Karbala dan menyebarluaskannya sebagai hasil dari sebuah kebangkitan besar dan abadi.
Tangisan dan ratapan duka Imam Sajjad as telah menghidupkan tragedi Karbala di tengah masyarakat. Setiap kali dibawakan air minum, beliau meneteskan air mata dan berkata, "Bagaimana aku bisa meminum air sedangkan mereka membunuh cucu Rasulullah Saw dalam keadaan dahaga?" Dan terkadang beliau juga berkata, "Setiap saat aku mengingat terbunuhnya anak-anak Fatimah as, aku tidak bisa menahan tangis." Imam Jakfar Shadiq as berkata kepada Zurarah, "Ketika kakekku Ali bin Husain as mengingat ayahnya, ia selalu menangis sehingga air mata membasahi janggut beliau dan membuat orang-orang lain yang melihatnya terharu dan menangis."
Suatu hari, Imam Sajjad as memberitahu budaknya bahwa beliau akan pergi ke padang sahara. Sang budak berkata, "Aku pun lantas mengikuti beliau. Kulihat beliau sujud di atas sebongkah batu besar. Aku berdiri sambil memperhatikan suara rintihan dan tangisannya. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dari sujud sedang air mata telah membasahi seluruh janggut dan wajahnya." Kepada beliau kukatakan, "Tuanku, sampai kapan kesedihanmu akan berakhir dan tangisanmu akan selesai?"
Imam Sajjad as
Imam Sajjad as menjawab, "Tahukah kamu bahwa Nabi Ya'qub bin Ishak bin Ibrahim adalah seorang nabi, anak nabi dan cucu nabi? Beliau mempunyai 12 orang anak. Ketika Allah menjauhkan salah seorang dari mereka, rambut kepalanya memutih karena sedih, punggungnya membungkuk karena duka dan matanya menjadi buta karena selalu menangis. Padahal anaknya masih hidup di dunia. Sedangkan aku, aku dengan mata kepalaku sendiri menyaksikan ayah, saudara dan 17 orang dari sanak keluargaku dibantai dan terkapar di Padang Karbala. Bagaimana mungkin kesedihanku akan berakhir dan tangisanku akan berkurang?"
Pada tanggal 25 Muharam tahun 95 Hijriah, Imam Sajjad as gugur syahid, tak lama setelah Hisyam bin Abdul Malik membubuhkan racun ke dalam makanannya. Beliau wafat pada usia 57 tahun dan dimakamkan di Baqi? di samping makam pamannya, Imam Hasan bin Ali as
Ali Akbar, Panutan Pemuda Muslim
Hari ini, kita memperingati kelahiran Ali Akbar, salah seorang manusia mulia dari keluarga suci Ahlul Bait Rasulullah Saw. Ali Akbar dibesarkan dan dididik oleh kakeknya, Imam Ali, dan ayahnya, Imam Husein hingga meraih derajat keilmuan dan makrifat yang tinggi. Hari kelahiran Ali Akbar di Iran dirayakan sebagai Hari Pemuda dan disambut dengan suka cita.
Putra tertua Imam Hussein ini dilahirkan pada 11 Sya'ban 33 Hijriah (653 M) di kota Madinah, dan syahid pada 10 Muharram tahun 61 H (681) dalam peristiwa Asyura di Karbala. Sang ayah menuturkan tentang putranya ini, "Pemuda ini [Ali Akbar] dari sisi fisik, akhlak dan perilakunya mirip dengan Nabi Muhammad Saw dibandingkan orang lain. Oleh karena itu, ketika rindu bertemu Rasulullah kami memandanginya,".
Sheikh Abbas Qumi dalam kitab "Muntahi al-Amal" menulis tentang karakteristik Ali Akbar. Ulama besar Syiah ini dalam kitabnya menjelaskan, "Beliau pemuda yang tampan rupanya, baik tutur katanya. Dari sisi fisik dan perilaku mirip dengan Rasulullah Saw. Keberanian dan perjuangannya mewarisi kakeknya, Ali bin Abi Thalib. Beliau mengumpulkan seluruh kesempurnaan dan kemuliaan,".
Ali Akbar adalah sebuah cabang dari pohon yang baik dan akar yang suci serta pewaris semua kebaikan keluarga Nabi Saw. Sifat dan perilakunya merupakan sebuah kebanggaan dan teladan untuk pemuda zaman sekarang, setiap orang yang merdeka akan terpanggil untuk meneladani Ali Akbar. Para pembenci sekali pun mengakui kemuliaan pemuda ini.
Muawiyah bahkan mengakui keagungan Ali Akbar, pemuda ksatria yang paling mirip dengan Rasulullah Saw. Dalam sebuah perjamuan di istana bersama orang-orang dekatnya, Muawiyah bertanya, "Siapa orang yang paling layak sebagai pemimpin masyarakat?" "Anda wahai tuan," jawab mereka. Tapi Muawiyah berkata, "Bukan, orang yang paling layak untuk memimpin pemerintah adalah Ali bin Husein bin Ali, kakeknya adalah Rasulullah. Terhimpun dalam dirinya keberanian Bani Hasyim, kedermawanan Bani Umayyah, dan ketampanan Kabilah Tsaqifa."
Lembaran sejarah mencatat peran besar Ali Akbar dalam membela ajaran Islam bersama keluarga Ahlul Bait, terutama ayahnya, Imam Husein. Meskipun usianya tidak lebih dari 28 tahun, tapi peran beliau begitu besar dalam membela ajaran Islam yang diselewengkan oleh penguasa ketika itu. Sebagai pemuda Muslim, Ali Akbar mempertaruhkan seluruh hidupnya demi membela Islam yang diperjuangkan bersama ayahnya, Imam Husein.
Dalam budaya Islam, pemuda merupakan aset yang bernilai dan memiliki kedudukan yang tinggi. Pemuda pantas mendapat penghormatan dan perhatian karena kesucian jiwa, ketulusan, dan keberanian. Berbagai riwayat Ahlul Bait menyebut pemuda lebih dekat dengan alam malakut dari orang lain dan menurut sabda Rasulullah Saw, "Keutamaan pemuda yang tumbuh dalam ibadah atas orang tua yang beribadah di masa tuanya, sama seperti keutamaan para nabi atas masyarakat lain."
Para sosiolog menilai pertumbuhan dan kemajuan sebuah masyarakat dari berbagai aspek budaya, sosial, dan ekonomi bergantung pada pemahaman mereka tentang generasi muda dan perhatian mereka terhadap kaum muda. Para sosiolog percaya bahwa jiwa yang lembut dan hati yang masih muda merupakan manifestasi dari semangat dan keceriaan. Jika semangat ini dibarengi dengan akhlak yang mulia dan ketaatan, maka kebahagiaan generasi muda akan hadir dan keselamatan masyarakat juga akan terjamin.
Generasi muda tentu saja ingin mencari sebuah teladan yang baik untuk mencapai kebahagiaan tersebut. Jika masih ada kontradiksi antara ucapan dan perbuatan pada diri seseorang, maka kaum muda tidak akan percaya padanya dan tidak akan mengikuti pemikiran dan ide orang tersebut.
Dalam sejarah kebangkitan Islam, kita mengenal banyak tokoh dan suri tauladan yang layak dijadikan panutan. Sosok yang lebih bertakwa, lebih bersih, dan lebih sempurna tentu saja memiliki lentera hidayah yang lebih terang untuk generasi muda. Ali Akbar bin Husein adalah salah satu panutan yang abadi untuk hari ini dan masa depan.
Ia adalah pribadi pemberani dan pembela kebenaran, ia adalah pemuda yang mulia, cerdas dan pemaaf dan masih banyak sifat-sifat terpuji lain yang melekat padanya. Sifat-sifat mulianya sudah sangat populer di kalangan teman dan musuh dan bahkan jauh sebelum peristiwa Karbala terjadi.
Ali Akbar dikenal dermawan, lembut, dan ramah dalam kehidupan sehari-harinya. Ia berkumpul bersama kaum fakir-miskin ketika mereka dipandang sebelah mata oleh orang-orang kaya dan para pecinta dunia. Beliau makan bersama-sama orang miskin dan berbagi kenikmatan dengan mereka. Kematangan pikiran dan kekuatan jiwa membuatnya tidak pernah merasa takut terhadap penguasa.
Putra Imam Husein ini adalah simbol akhlak mulia, rendah hati, keceriaan, dan penuh semangat, dan ia tidak pernah meninggalkan adab terutama di hadapan orang tuanya. Ia telah mengajarkan kaum muda rahasia keabadiaan yaitu berpihak pada kebenaran, berakhlak mulia, dan rendah hati.
Kesantunannya di hadapan sang ayah bukan semata-mata karena ikatan emosional, tapi ia memandang ayahnya sebagai imam dan panutannya. Imam Husein as juga mencintai anaknya bukan hanya selaku ayah, tapi ia adalah seorang pemuda yang mulia, suci, dan bertakwa dan oleh sebab itu, Imam Husein memuliakannya.
Pada tanggal 1 Muharram 61 H, sekelompok penduduk Kufah telah memasang kemah di Qashr Bani Muqatil, tempat persinggahan Imam Husein dalam perjalanan dari Mekah ke Karbala.
Di sana, beliau tertidur sesaat dan ketika terbangun, Imam Husein berkata, “Putraku! Sewaktu aku tertidur seketika aku bermimpi dan mendengarkan langkah kuda. Aku mendengar suara berkata, kaum ini sedang berlari, sementara kematian mengejarnya. Dari ucapan tersebut, aku menyadari bahwa kita sedang bergerak ke arah kematian." Ali Akbar berkata, “Ayahku! Bukankah kita berada di atas kebenaran?" Imam Husein menjawab, “Iya anakku, aku bersumpah dengan Dzat di mana semua makhluk akan kembali ke sisi-Nya.”
Ali Akbar menimpali, “Wahai ayah! Jika kita tegar berada di atas kebenaran, maka aku tidak takut pada kematian.” Mendengar ketegasan putranya, Imam Husein mendoakannya dengan berkata, “Semoga Allah Swt mengaruniakan atasmu kebaikan, betapa engkau anak yang baik untuk ayah."
Keberanian Ali Akbar dan kearifannya dalam beragama serta kematangan dalam berpolitik, termanifestasi selama perjalanan ke Karbala khususnya pada hari Asyura. Ia adalah pemuda pertama dari Bani Hasyim yang meminta izin dari Imam Husein untuk maju ke medan perang. Imam pun memberi izin kepadanya dan ia langsung menuju medan perang.
Perjuangan dan pengorbanan Ali Akbar hingga kini masih relevan dijadikan sebagai teladan para pemuda Muslim di era globalisasi ini. Para pemuda saat ini berada dalam kepungan informasi yang dengan mudah mereka akses. Tidak sedikit dari pemuda Muslim sibuk tenggelam dengan informasi keliru, tidak penting, bahkan menyesatkan di media sosial dan melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga dan bagian dari masyarakat.
Kini saatnya para pemuda meneladani jejak Ali Akbar di hari pemuda ini dengan memperbaiki akhlaknya dan mempersembahkan karya terbaiknya untuk keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya.
Imam Khomeini dalam pesannya kepada para pemuda berkata, "Para pemuda harus memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan di masa muda yang memiliki ketulusan batin, fitrah ilahi untuk menyucikan diri, menghilangkan perilaku buruk dan mencerabut kelaliman dari hatinya. Sebab adanya salah satu dari akhlak buruk dan tercela akan menjadi bahaya besar bagi kebahagiaannya,".
Isu-Isu Penting Pidato Rahbar di Tahun Baru 1400 Hs
Di awal Tahun Baru Persia, Nowruz, 1400 Hs, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei menyampaikan pidato di televisi tentang isu-isu penting Iran dan dunia.
Di awal pembukaan pidatonya, Rahbar mengucapkan selamat atas kedatangan tahun baru 1400 Hs dan abad baru, dengan mengatakan, "Jika kita membuat perbandingan kecil dan bermakna ketika negara memasuki abad baru dengan periode sebelumnya, yaitu tahun 1300 Hs, sebagai awal dari era Reza Khan. Ini era kediktatoran Reza Khan, yang tidak lain dari kudeta Inggris melalui tangan Reza Khan. Oleh karena itu, sebenarnya penguasa sejati saat itu adalah Inggris. Ini peristiwa satu abad silam, tahun 1300 Hs,".
Mengenai tahun 1400 Hs, Ayatullah Khamenei menjelaskan, "Tahun ini, kita memasuki tahun 1400, tahun pemilu, yaitu pemerintahan yang berdasarkan independensi dan suara rakyat, kemandirian, serta kepercayaan diri bangsa. Awal tahun ini pembuka abad baru akan menorehkan perbedaan signifikan dengan satu abad silam, 1300 Hs. Kita berharap, dengan izin-Nya, Allah swt akan memudahkan semua jalan ke depan menuju kemajuan yang kita harapkan bersama,".
Ayatullah Khamenei dalam pesan Nowruz-nya mencanangkan tahun 1400 Hs sebagai "Tahun Produksi: Dukungan dan Penghilang Hambatan", dan menekankan urgensi masalah ekonomi, terutama sektor produksi dalam negeri, serta meminta pihak berwenang untuk bekerja menghilangkan hambatan produksi.
Beliau menilai adanya gangguan ekonomi dan mata pencaharian masyarakat dimanfaatkan oleh pihak lawan yang berusaha merusak hubungan antara rakyat dengan negara, sehingga masyarakat putus asa menghadapi kondisi yang terjadi. Pihak asing dengan menggunakan berbagai sarananya, terutama di dunia maya begitu masif melancarkan propaganda untuk memperkeruh kondisi perekonomian dalam negeri Iran.
Pemimpin Besar Revolusi Islam menekankan bahwa perekonomian Iran memiliki kapasitas dan kapabilitas yang besar untuk menjadi salah satu perekonomian paling makmur di kawasan dan dunia, jika dibarengi dengan manajemen yang kuat dan pemberantasan korupsi yang berjalan baik.
Sehubungan dengan itu, Rahbar menyinggung laporan Bank Dunia yang mengakui bahwa ekonomi Iran saat ini berada di peringkat ke-18 di antara lebih dari dua ratus negara dunia, dan jika kapasitasnya dioptimalkan akan mencapai peringkat kedua belas.
"Kapasitas menurut Bank Dunia ada dua jenis: kapasitas teritorial, dan kapasitas sumber daya manusia. Kapasitas teritorial, [misalnya] ukuran negara, akses negara ke perairan terbuka -kita adalah tetangga Laut Oman dan Samudra Hindia dan kita memiliki akses ke perairan terbuka - jumlah negara tetangga yang terdiri dari sekitar empat belas atau lima belas negara tetangga dengan populasi lebih dari enam ratus juta jiwa. Ini semua peluang dan kapasitas yang sangat penting. Selain itu, jalur transit dan transportasi timur dan barat, maupun utara dan selatan, yang menunjukkan posisi negara kita. Kita memiliki kapasitas ini," ujar Ayatullah Khamenei dalam pidatonya.
Pemimpin Tertinggi Revolusi menambahkan, "Kapasitas sumber daya manusia adalah populasi angkatan kerja. Lihatlah, berkat penambahan jumlah populasi yang terjadi pada tahun 1360-an, ketika beberapa pihak berteriak mengapa kita memperbanyak jumlah populasi, sekarang mereka adalah anak-anak muda yang telah memasuki pasar tenaga kerja. Artinya negara ini masih muda, ada banyak tenaga kerja yang bisa masuk ke pasar tenaga kerja,".
Selain kapasitas yang disebutkan oleh Bank Dunia dalam laporannya, Iran memiliki kapasitas pasar domestik yang relatif besar. Populasi sekitar delapan puluh juta jiwa berada di tangan produsen Iran. Selain itu, Iran memiliki modal sumber daya alam sebagai kapasitas besar, di antaranya yang sekarang digunakan minyak mentah dan gas. Iran juga memiliki keragaman potensi lain dari lahan pertanian dan daerah perkebunan, serta hutan yang berada di sebagian daerahnya, hingga gurun yang terhampar luas.
Ayatullah Khamenei menjelaskan, "Kita memiliki sumber daya tambang bawah tanah seperti minyak dan gas, seng, tembaga, bijih besi dan sejenisnya yang menempati peringkat pertama dan kedua hingga peringkat kesembilan. Kita memiliki sumber daya alam yang melimpah. Nah, kapasitas itu sangat penting. Selain itu, infrastruktur penting telah dibangun selama tiga puluh tahun yang tidak ada atau terbatas di dalam negeri sebelumnya seperti: bendungan, pembangkit listrik, rel kereta api, jalur transportasi jalan raya, dan sejenisnya. Banyak infrastruktur yang telah dibangun. Nah, negara dengan karakteristik ini, dengan segala kapasitasnya, jika memiliki perencanaan ekonomi yang tepat dan manajemen yang kuat di atasnya maka akan menjadi negara yang maju secara ekonomi dan tidak ada sanksi yang akan mempengaruhinya lagi,".
Di bagian lain pidatonya, Rahbar menyinggung masalah sanksi dan menganggapnya sebagai salah satu kejahatan besar yang dilakukan suatu negara terhadap negara lain, karena menghalangi masuknya kebutuhan pokok seperti obat-obatan dan makanan. Namun di sisi lain, sanksi dan kejahatan yang dilakukan terhadap Iran mengandung keuntungan, jika bangsa Iran mampu mengubah ancaman ini menjadi peluang.
Ayatullah Khamenei menyarankan dua cara untuk menangani sanksi. Salah satu caranya adalah dengan meminta pihak yang menjatuhkan sanksi untuk mencabut sanksinya, yang secara alami akan menempatkan tuntutan pihak arogan di atas meja dan mengatakan 'Anda harus melakukannya'. Ini jalan kehinaan dan keterbelakangan. Cara lain dengan mengaktifkan kekuatan internal kita dan memproduksi barang-barang yang dikenai sanksi di dalam negeri. Menghadapi resistensi ini, pihak lawan secara bertahap akan mencabut sanksi dicabut karena tidak efektif lagi,".
Rahbar menegaskan, “Saya melihat bangsa kita tercinta memilih jalan kedua dan telah mencapai sukses besar, yang terakhir adalah kesuksesan dalam penanganan Corona. Ketika virus Covid-19 pertama kali datang, kita tidak punya persediaan masker yang memadai. Negara tidak memiliki fasilitas yang cukup bagi banyak orang untuk mendapatkan masker atau disinfektan. Tapi kita bangkit dari dalam mandiri dalam hal penyediaan masker ... Sekarang kita telah mencapai tahap lanjutan dengan produksi vaksin Covid-19. Alhamdulillah vaksin sudah dibuat, diuji, menuju persiapan produksi massal. Ini sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi negara. Beberapa pengamat asing yang objektif memuji negara kita. Bangsa Iran mencoba jalan ini dan, Insya Allah, kita semua akan mengikuti jalan ini,".
Dalam hal ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung aktivitas ribuan anak muda di perusahaan-perusahaan berbasis pengetahuan dan perusahaan manufaktur aktif yang memproduksi barang-barang yang dikenai sanksi dengan kualitas yang lebih baik dan lebih murah.
Ayatullah Khamenei menambahkan, "Di bidang ilmu pengetahuan baru, seperti teknologi nano, kita berada di jajaran negara teratas di dunia. saat ini di bidang teknologi nano dan produk berbasis nano. Di bidang artikel ilmiah, dan referensi, pusat akademis global menyatakan terjadi lompatan selama dua puluh tahun di Iran. Ketika itu nano adalah ilmu baru. Pada tahun 2001 Iran memiliki sepuluh artikel tentang nano, tapi pada tahun 2020 melompat menjadi dua belas ribu artikel. Artinya, dalam dua puluh tahun terakhir, kita telah berkembang dari sepuluh artikel ilmiah tentang nano menjadi dua belas ribu artikel ilmiah. Hal-hal seperti itu dilakukan di dalam negeri. Alhamdulillah, ini capaian penting,"
Selain teknologi nano, Rahbar menunjukkan capaian penting di bidang pertahanan dengan mengungkapkan, "Di bidang pertahanan, alhamdulillah, kemajuan negara semakin menonjol dan cemerlang. Kemajuan ini mencengangkan banyak orang karena produk-produk pertahanan negara ini meningkatkan koefisien keamanan luar negeri Iran. Ini sangat penting bagi negara, sebagai "Benteng Nasional"; yang akan membentengi negara dalam menjaga keamanan nasionalnya,".
Ayatullah Khamenei dalam pidato awal Nowruz menyinggung pemilu presiden mendatang yang sangat penting bagi kemajuan bangsa dan negara. Rahbar mengatakan, dalam pemilu presiden mendatang, akan ada peremajaan dan modernisasi di dalam negara itu. Sumber daya manusia baru akan datang dengan motivasi tinggi untuk bekerja dan mengabdi. Dari segi citra eksternal, pemilihan umum dan partisipasi masyarakat di dalamnya menunjukkan kekuatan nasional Iran.
Rahbar menekankan pentingnya posisi pemilu presiden, dan mengimbau masyarakat agar berhati-hati dengan siapa yang mereka pilih, karena jabatan presiden adalah posisi yang paling vital dalam pengelolaan negara dan paling bertanggung jawab di tingkat nasional. Sebab hampir semua pusat kendali pengelolaan negara dan sebagian besar fasilitas pemerintahan berada di tangan presiden.
Ayatullah Khamenei menegaskan, "Presiden Republik Islam haruslah orang yang kompeten, setia, adil dan anti korupsi, juga revolusioner dan meyakini kemampuan internal, serta percaya pada pemuda sebagai penggerak gerakan publik negara dan optimis terhadap masa depan yang cerah,"
Di akhir pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyoroti isu JCPOA dan masalah regional, juga konspirasi masif AS untuk melemahkan Iran yang gagal. Beliau menekankan, "Tekanan maksimum telah gagal. Jika pemerintahan baru AS tetap melanjutkan kebijakan tersebut, maka mereka juga akan gagal, dan Iran akan menjadi lebih kuat dari hari ke hari,".
Ayatullah Khamenei mengumumkan kebijakan Iran mengenai JCPOA sama dengan kebijakan sebelumnya. Rahbar menegaskan bahwa Amerika Serikat harus mencabut semua sanksi, kemudian Iran akan mengujinya, dan jika sanksi itu benar-benar dicabut, maka Iran akan kembali menjalankan komitmennya secara penuh.
Di bagian lain statemennya, Rahbar menyinggung pernyataan beberapa pejabat Amerika bahwa JCPOA perlu diubah karena perubahan keadaan. Beliau berkata, "Ya, situasinya telah berubah sejak tahun 1394 Hs (2015), tetapi perubahan ini menguntungkan kepentingan Iran, dan bukan Amerika Serikat. Iran saat ini menjadi lebih kuat dan lebih mandiri sejak 1394 Hs. Tapi sebaliknya, Amerika Serikat menjadi lebih lemah dan lebih bermasalah sejak 1394 Hs, karena pemerintah berkuasa saat itu mempermalukan Amerika Serikat dengan perkataan dan perilakunya hingga akhir jabatannya, AS juga menghadapi masalah ekonomi serius.Tentu saja, nasib presiden AS saat ini masih belum jelas seperti apa nantinya,".
Pemimpin Besar Revolusi Islam juga menyebut kebijakan AS di Iran dan kawasan, serta dukungannya terhadap rezim Zionis, kehadiran ilegalnya di Suriah dan timur Efrat, dukungannya terhadap pemerintah Saudi dalam menumpas orang-orang yang tertindas di Yaman, dan kebijakan mereka di Palestina, sebagai kesalahan fatal. Beliau menekankan bahwa masalah Palestina tidak akan pernah bisa dilupakan di dunia Islam.
Kondisi Terbaru Pemilu di Israel dan Prospek Pembentukan Kabinet
Israel sejak Maret 2019 sampai kini telah menggelat tiga pemilu dini parlemen dan pemilu legislatif yang digelar 23 Maret merupakan pemilu keempat. Berdasarkan Undang-Undang Israel, setiap partai yang mampu meraih suara mayoritas mutlak kursi parlemen dapat membentuk pemerintah baru.
Parlemen Israel (Knesset) memiliki 120 kursi dan untuk menentukan seorang perdana menteri, maka sebuah partai harus memperoleh 61 kursi. Di tiga pemilu parlemen Maret 2019, September 2019 dan Maret 2020, tidak ada partai yang mampu meraih suara mayoritas mutlak di perolehan kursi parlemen.
Sementara di pemilu ketiga parlemen Israel yang digelar Maret tahun lalu, dari 120 kursi parlemen, Koalisi Sayap Kanan yang dipimpin Partai Likud pimpinan Benjamin Netanyahu meraih 58 kursi dan Koalisi Sayap Kiri pimpinan Partai Biru dan Putih yang diketuai Benny Gantz memperoleh 55 kursi di parlemen. Adapun List Arab memilih bergabung dengan Partai Biru dan Putih. Sementara di pemilu llau, Partai Israel Yisrael Beiteinu meraup tujuh kursi tersisa.
Mengingat hasil ini dan pandemi Corona, serta tingginya biaya pemilu di wilayah pendudukan, Netanyahu dan Gantz sepakat untuk membentuk kabinet koalisi yang hanya berlangsung enam bulan dan dengan pembubaran parlemen, kabinet tersebut runtuh dan Selasa depan akan digelar pemilu parlemen di wilayah pendudukan untuk keempat kalinya dalam dua tahun terakhir.
Benny Gantz
Menjelang pemilu, jajak pendapat menunjukkan bahwa sekali lagi tidak ada partai atau arus politik yang dapat memenangkan mayoritas kursi di parlemen dan membentuk kabinet. Harian Israel, Jerusalem Post, melaporkan bahwa jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa tidak ada kelompok yang mendukung atau menentang Benjamin Netanyahu akan memenangkan 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk kabinet.
Hasil terbaru jajak pendapat Kanal11 televisi Israel menunjukkan bahwa partai Likud yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu akan memiliki 31 kursi dan partai Yesh Atid yang dipimpin oleh Yair Lapid, pemimpin partai oposisi di Knesset akan memiliki 19 kursi. Partai Harapan Baru (New Hope), dipimpin oleh Gideon Sa'ar, dan partai Yamina, yang dipimpin oleh Naftali Bennett, berada di urutan ketiga dengan masing-masing sembilan kursi.
Hasil jajak pendapat Kanal 11 menunjukkan bahwa blok anti-Netanyahu akan memenangkan total 56 kursi dan blok pro-Netanyahu 51 kursi. Menurut Jerusalem Post, jajak pendapat, jajak pendapat pra-pemilihan terbaru, menunjukkan bahwa baik koalisi sayap kanan maupun sayap kiri tidak dapat memenangkan mayoritas di 61 kursi Knesset Israel.
Menurut jajak pendapat tersebut, List Gabungan Arab dengan delapan kursi, Shas dan United Torah Judaism dengan masing-masing tujuh kursi, Israel Beituna, yang dipimpin oleh mantan menteri perang rezim Avigdor Lieberman, dengan tujuh kursi akan menjadi yang berikutnya. Partai Biru dan Putih, yang dipimpin oleh Benny Gantz, hanya memenangkan empat kursi Knesset dalam jajak pendapat tersebut. 19 kursi lainnya akan dibagi di antara partai-partai lain.
Hasil jajak pendapat lain hampir identik dengan hasil jajak pendapat dari Kanal 11 televisi Israel. Kesamaan yang dimiliki semua jajak pendapat adalah bahwa tidak ada partai, bahkan partai manapun, yang dapat memenangkan mayoritas mutlak kursi parlemen, dan kebuntuan dalam pembentukan kabinet di Israel akan terus berlanjut.
Ada beberapa poin penting dalam jajak pendapat ini. Poin pertama adalah bahwa jumlah kursi Likud di bawah Netanyahu tidak akan banyak berkurang, tetapi jumlah kursi Partai Biru dan Putih di bawah Menteri Peperangan Israel Gantz akan turun tajam, di mana partai ini dari posisi kedua bisa jatuh ke tempat akhir. Terlepas apakah Partai Biru dan Putih akan menempati posisi terakhir atau tidak, sepertinya penurunan perolehan kursi parlemen oleh partai ini serta hilangnya peluang membentuk kabinet bagi Gantz adalah hal pasti.
Berkoalisi dengan Netanyahu untuk membentuk kabinet koalisi di tahun 2019 dan peran Gantz di penyelenggaraan pemilu parlemen keempat dalam dua tahun terakhir, merupakan dua faktor penting penurunan jumlah perolehan kursi di parlemen oleh Partai Biru dan Putih.
Poin lain adalah bahwa partai sayap kiri Yesh Etid, yang dipimpin oleh Yair Lapid, partai oposisi utama Netanyahu, akan mengalami peningkatan jumlah kursi. Oleh karena itu, jika Netanyahu gagal membentuk kabinet, kemungkinan saingannya untuk kabinet adalah Yair Lapid.
"Saya tidak akan membentuk koalisi dengan Netanyahu," kata Yair Lapid awal bulan ini, menggambarkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai "seorang perdana menteri dengan tiga tuduhan serius." "Saya sekarang bisa duduk di sini sebagai menteri luar negeri atau wakil perdana menteri dengan iringan yang mempesona." "Saya memiliki kesempatan yang lebih baik sekarang daripada Netanyahu untuk membentuk pemerintahan koalisi," kata Lapid, menambahkan bahwa dia bermaksud untuk mencalonkan diri melawan Netanyahu dalam pemilihan mendatang.
Image Caption
Poin ketiga dari jajak pendapat terkait dengan List Gabungan Arab. List Gabungan Arab memenangkan 15 kursi dalam pemilihan Maret 2020, tetapi jajak pendapat saat ini menunjukkan List itu hanya akan memenangkan delapan kursi dalam pemilihan mendatang.
Jika semua pemimpin partai yang mengumumkan bahwa mereka tidak akan membentuk koalisi dengan Netanyahu untuk membentuk kabinet tetap komitmen terhadap sikapnya ini, maka Benjamin Netanyahu tidak akan dapat membentuk kabinet. Melihat situasi ini, Netanyahu, yang mendapat tekanan dari opini publik dan bahkan menyaksikan unjuk rasa besar oposisi di depan rumahnya pada Sabtu (20 Maret), mencoba menggunakan vaksin Corona untuk memenangkan pemilu.
Berbagai media menulis, Netanyahu dengan harapan memenangkan suara di pemilu mendatang, selama beberapa hari terakhir gencar mengkampanyekan hubungannya dengan CEO Pfizer, Albert Bourla. Menurut laporan Koran Jerusalem Post, CEO dan Dewan Direksi Perusahaan Pfizer, produsen vaksin Corona yang ia disebut media Israel seorang Yahudi fanatik, disadari atau tidak ia dimanfaatkan Netanyahu di kampanye pemilu. Bourla mengatakan, Netanyahu menghubungannya sebanyak 30 kali dan menutu berbagai laporan, Tal Zaks, Zionis lainnya dan mantan teknisi seinor Perusahaan Moderna, pembuat vaksin Corona lainnya juga dihubungan Netanyahu beberapa kali.
Sekaitan dengan ini, Netanyahu juga berusaha memanfaatkan rencana Kesepakatan Abad sebahagai kartu lain untuk memenangkan pemilu. Berdasarkan rencana ini, empat negara Arab, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko dan Sudan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Netanyahu di kampanye pemilunya berjani jika menang akan melakukan segala upaya untuk menjalin hubungan dengan Arab Saudi serta mensukseskan rencana penerbangan langsung Tel Aviv-Riyadh.
Langkah Netanyahu ini dilakukan ketika pendukung utamanya di tiga pemilu sebelumnya, yakni Mantan Presiden AS Donald Trump kalah dari rivalnya di pemilu presiden November 2020, yakni Joe Biden. Ia meninggalkan Gedung Putih dalam kondisi memalukan setelah serangan pendukungnya ke Kongres.
MBS, Trump dan Netanyahu
Benjamin Netanyahu khawatir mengalami nasib seperti Trump di Israel. Tidak menutup kemungkinan bahwa politik akan mencatat bahwa setelah Trump, Netanyahu di Israel akan terpaksa mengundurkan diri dan Mohammad bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi melalui represi asing juga gagal duduk di singgasana Arab Saudi sehingga tidak akan lagi tersisa dari segitiga jahat, Trump-Bin Salman dan Netanyahu.
Mengenal Sang Juru Selamat Dunia, Imam Mahdi as
15 Sya'ban, hari besar umat Islam dan hari bersejarah bagi Islam. Pasalnya di hari ini telah lahir manusia suci dan juru selamat Imam Mahdi as. Allah Swt sebelum penciptaan manusia kepada para malaikat mengatakan, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Khalifah pertama adalah Nabi Adam as dan selanjutnya adalah para nabi dan washi atau penerus mereka. Khalifah dan hujjah ini menjadi penghubung antara makhluk dan Sang Pencipta.
Keberadaan khalifah di muka bumi merupakan sunnah dan hukum yang tidak pernah berubah dan tetap ada sepanjang masa. Khalifah di sini menjadi manifestasi kebenaran mutlak dan yang lebih penting, mereka memiliki hubungan istimewa dengan Allah Swt. Manusia sebagai khalifatullah di muka bumi merupakan makhluk unggul dan paling sempurna dalam mewakili dan menunjukkan kesempurnaan serta kebaikan Allah Swt.
Al-Quran telah membicarakan berbagai kaum di masa lalu dan bagaimana Allah Swt telah mengutus nabi dan khalifah di antara mereka. Sebagian kaum ini menerima seruan kebenaran para nabi dan sebagian lainnya mengingkarinya. Oleh karena itu, mereka yang menolak mendapat murka dan azab Ilahi. Kisah-kisah al-Quran ini memiliki pesan universal, yakni Allah Swt tidak akan membiarkan sebuah kaum tanpa khalifah dan wali-Nya. Ini sebuah sunnah yang pasti di sistem penciptaan. Imam Ali as di khutbah pertama Nahjul Balaghah setelah mengisyaratkan penciptaan Adam mengatakan, "Allah Swt tidak pernah membiarkan sebuah umat manusia tidak memiliki seorang nabi, kitab Samawi, dan hujjah yang jelas."
Perayaan kelahiran Imam Mahdi as
Kedatangan Imam Mahdi dimaksudkan untuk mengubah dunia dan memperbaiki setiap urusan serta mencabut setiap peradaban yang didasarkan pada arogansi dan penipuan. Ia akan membangun peradaban baru berdasarkan nilai-nilai Ilahi sehingga janji Allah Swt akan terealisasi serta bumi dipenuhi dengan perdamaian, persabahatan dan keadilan. Sementara itu, musuh Allah yang terus menyembunyikan kebenaran dan melanjutkan pengingkaran mereka, kali ini pun mereka berencana membunuh imam dan khalifatullah tersebut. Tapi Allah Swt menyembunyikan hujjah terakhir ini dari pandangan umat manusia dan akan keluar di waktu yang tepat untuk merealisaikan janji Ilahi.
Kedatangan sang juru selamat ini untuk membebaskan manusia dari kezaliman tentunya juga nantinya akan memiliki pemerintahan dengan kriteria khusus. Namun seperti apa pemerintahan Imam Mahdi as yang dielu-elukan dan diharapan oleh para penantinya? Terkait pemerintahan tersebut, banyak riwayat dan ayat yang menyebutkan kriterianya. Termasuk di antaranya adalah bahwa pemerintahan Imam Mahdi as, adalah pemerintahan rakyat yang berporos pada penegakan tuntutan masyarakat tertindas dan papa di dunia.
Pada ayat 105 dari surat al-Anbiya disebutkan, "Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh."
Dengan demikian masyarakat yang selama berabad-abad menghadapi kezaliman dan penindasan, pasca kemunculan Imam Mahdi as serta para pewaris kekuasaan di muka bumi dan para sahabat Imam, mereka akan merasakan manfaat dari pemerintahan universal yang adil.
Dalam pemerintahan Imam Mahdi as, hukum-hukum syariat akan diberlakukan. Sepanjang sejarah banyak ideologi manusia yang telah terbukti ketidakefektifannya. Oleh sebab itu pada pemerintahan universal Imam Mahdi as, ketentuan dan syarat agama terakhir dan paling lengkap, Islam, akan diberlakukan.
Allah Swt dalam banyak surat al-Quran menekankan bahwa agama sejati di sisi Allah Swt adalah Islam dan siapapun yang memilih agama lain selain Islam, maka sesungguhnya ia sedang merugi. Dalam beberapa ayat juga disebutkan janji bahwa Islam akan menang di hadapan seluruh agama dan ideologi di dunia ini.
Imam Jakfar as-Sadiq as dalam hal ini berkata, "Setelah terhina, Allah Swt akan memuliakan kembali Islam berkat dia (Mahdi as), dan akan menegakkan kembali huku-hukumnya setelah sebelumnya ditinggalkan, segala bentuk bid'ah akan diberantas oleh Mahdi as, penyimpangan akan dimusnahkan dan sunnah-sunnah asli akan dihidupkan kembali.
Namun harus diperhatikan bahwa non-Muslim tidak dapat dipaksa untuk menjadi Islam. Akan tetapi ketika Islam sejati tanpa propaganda bias diperkenalkan kepada mereka oleh Imam Mahdi, maka mereka dengan sukarela dan ikhtiar akan menerima agama samawi ini.
Dewasa ini, masyarakat dunia merasakan ketidakadilan dan diskriminasi lebih dari era-era sebelumnya. Sedemikian rupa sehingga satu persen penduduk bumi menguasai 50 persen sumber finansial dunia. Dari sisi lain, akibat politik imperialis pemerintah-pemerintah Barat serta ketergantungan dan ketidakbecusan para penguasa, setiap hari jumlah masyarakat miskin semakin bertambah.
Selain itu, kekuatan imperialis memandang diri mereka sebagai ras superior dan menilai bangsa-bangsa lain tidak berperadaban. Oleh karena itu, salah satu impian terbesar masyarakat dunia adalah pemberantasan diskriminasi dan perwujudan keadilan. Salah satu kriteria utama pemerintahan Imam Mahdi as adalah universalitas keadilan bagi seluruh penduduk bumi.
Salah satu prinsip penting Islam adalah perluasan keadilan, di mana di dalamnya tidak ada diskriminasi dan ketimpangan. Banyak hadis yang menyebutkan keadilan dalam pemerintahan Imam Mahdi as di akhir zaman kelak. Salah satu di antaranya adalah hadis Rasulullah Saw, "Aku akan memberikan kabar gembira kepada kalian soal kemunculan Mahdi (as), ketika perselisihan dan kebimbangan masyarakat meluas, dia akan bangkit dan memenuhi bumi dengan keadilan dan kebajikan setelah dipenuhi dengan kezaliman dan kejahatan. Penghuni langit dan bumi akan meridhoi pemerintahannya dan akan membagikan kekayaan di antara masyarakat secara merata."
Menciptakan keadilan di seluruh dunia dan memberangus diskriminasi dan ketidakadilan merupakan tujuan utama dari pemerintahan Imam Mahdi af. Tujuan penting ini telah dijelaskan dalam banyak riwayat Ahlul Bait, bahkan boleh dikata, penekanan menciptakan keadilan menerapkannya lebih kuat ketimbang seruan tauhid dan memerangi kesyirikan. Dalam ucapan Imam Ridha as disebutkan, “Allah akan menghapus kezaliman dari bumi lewat Imam Mahdi af dan pada waktu itu tidak seorangpun yang berani melakukan kezaliman.”
Gustave Le Bon, sejarawan Perancis mengatakan, “Pelayanan terbesar manusia adalah yang mampu menjaga manusia untuk tetap optimis.” Harapan dan penantian akan kemunculan Imam Mahdi af selain menjadi solusi bagi masa depan manusia, juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Manusia memiliki kekuatan yang berkelanjutan dan menyimpan energi mereka lalu menyerahkannya kepada generasi yang akan datang. Dengan cara itu mereka dapat mencegah generasi mendatang dizalimi dan musnah, sehingga mendekati hari kemunculan Imam Mahdi af.
Image Caption
Imam Mahdi af merupakan simbol rahmat, kekuasaan ilahi dan manifestasi keadilan ilahi. Siapa yang mendapatkan rahmat dan keutamaan ilahi ini, maka ia akan mendapatkan dirinya semakin dekat keapda Allah. Karena peran tawasul dan hubungan batin dengan Imam Mahdi af menyebabkan jiwa manusia tumbuh dan spiritualnya semakin menyempurna. Imam dan akidah kepada Imam Mahdi af mencegah manusia menyerah. Bangsa yang mengimaninya akan selalu dipenuhi rasa optimis dan akan berjuang demi keagungan Islam.
Kesejahteraan sosial merupakan hasil dari pemerintahan global Imam Mahdi af. Sepanjang sejarah umat manusia sudah banyak usaha dilakukan agar manusia dapat merasakan kesejahteraan, tapi yang terjadi justru banyak hak-hak yang terampas dan terinjak-injak. Mereka tidak pernah merealisasikan keinginan ini. Kesejahteraan sosial menjadi sarana bagi pertumbuhan dan kesempurnaan spiritual dan pemikiran manusia.
Pemilu, Fondasi Kuat Demokrasi di Iran
Pemilu merupakan salah satu fondasi untuk mewujudkan demokrasi. Setelah kemenangan Revolusi Islam, prinsip penting untuk membentuk demokrasi ini mendapat penekanan khusus dalam referendum penentuan sistem Republik Islam Iran.
Lewat gerakan besar ini, suara rakyat memperoleh nilai dan kedudukan hakikinya dalam pengembangan politik Iran.
Penyelenggaraan hampir 40 pemilu pasca kemenangan revolusi menunjukkan pentingnya peran suara rakyat dalam memperkuat infrastruktur demokrasi religius di Republik Islam Iran. Perubahan ini dimulai dengan diadakannya referendum yang bersejarah dan menentukan pada 12 Farvardin 1358 Hijriah Syamsiah atau April 1979, pada musim semi pertama pasca kemenangan revolusi.
Referendum usulan Imam Khomeini ra ini dilaksanakan dalam rangka referendum pembentukan Republik Islam Iran. Usulan ini menunjukkan esensi kerakyatan dan independensi Revolusi Islam.
Dalam pesannya, Bapak Pendiri Republik Islam Iran itu meminta rakyat untuk berpartisipasi secara penuh dalam referendum dan mereka bebas menentukan pilihannya atas sistem politik yang inginkan.
“Referendum ini akan menentukan nasib bangsa kita. Referendum ini akan membawa kalian ke arah kebebasan dan independensi atau seperti masa silam, pengekangan dan ketergantungan pada asing. Ini adalah sebuah referendum yang harus diikuti oleh semua… kalian bebas menjatuhkan pilihan. Kalian berhak dan bebas menulis di kertas suara, menulis republik demokratik, rezim monarki atau menulis apapun yang kalian inginkan. Kalian bebas dalam hal ini," tegas Imam Khomeini dalam pesannya kepada rakyat Iran.
Melalui referendum ini, sistem Republik Islam Iran terbentuk dari suara mayoritas rakyat dan lahirlah sistem demokrasi yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam dan suara rakyat.
Imam Khomeini ra (tengah) memasukkan surat suara pada referendum penentuan sistem pemerintahan Iran.
Dalam referendum itu, sebanyak 98,2 persen rakyat Iran menyetujui Republik Islam sebagai sistem pemerintahan mereka. Hasil referendum itu diumumkan pada 12 Farvardin dan momen bersejarah ini diperingati setiap tahun di Iran sebagai Hari Republik Islam.
Keistimewaan sistem Republik Islam adalah memberikan perhatian serius dan menghormati suara dan kehendak rakyat sejak hari pertama berdiri. Di Republik Islam Iran, suara rakyat memiliki tempat khusus dan sistem politik bergerak menuju pemenuhan kehendak rakyat.
Dari sudut pandang ini, pelaksanaan referendum 12 Farvardin 1358 HS menjadi salah satu manifestasi demokrasi di Iran Islam di mana kedaulatan rakyat menentukan takdir politik negara. Oleh karena itu, referendum tersebut dianalisa oleh banyak pengamat politik dan analis dari berbagai aspek politik, sosial, dan ekonomi.
Konstitusi Iran menekankan bahwa sistem Republik Islam didasarkan pada suara dan kehendak rakyat. Atas dasar ini, legitimasi semua elemen sistem ditentukan oleh suara dan kehendak rakyat. Prinsip demokrasi religius di Iran dijelaskan pada Pasal 56 Konstitusi.
“Kedaulatan mutlak atas alam semesta dan manusia berada di tangan Tuhan dan Dia-lah yang mengangkat manusia untuk mengatur kehidupan sosialnya sendiri. Tidak seorang pun boleh merampas hak yang diberikan Tuhan ini dari manusia atau menempatkannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Rakyat harus menggunakan hak yang diberikan Tuhan ini dengan cara yang ditentukan dalam pasal selanjutnya,” demikian bunyi Pasal 56 Konstitusi Iran.
Di Iran, partisipasi dalam pemilu tidak menjadi sebuah kewajiban hukum, tetapi merupakan sebuah kewajiban agama-sosial dan bagian dari hak-hak individu dalam masyarakat.
Pemilu dalam sistem politik Iran Islam didasarkan pada prinsip demokrasi dan partisipasi ini berpengaruh dalam pengambilan keputusan di ranah politik dan sosial.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pidatonya pada acara haul Imam Khomeini ra ke-25 di Tehran, menjelaskan tentang pentingnya kedudukan pemilu dalam sistem Republik Islam Iran.
“Dalam keteladanan Republik Islam, demokrasi dan agama bukan hanya dua unsur yang terpisah, tetapi demokrasi bersumber dari agama. Jangan ada yang mengira bahwa Imam kita (Imam Khomeini) mengadopsi pemilu dari budaya Barat dan mengawinkannya dengan pemikiran Islam dan syariat Islam, tidak. Jika pemilu dan demokrasi serta kebergantungan pada suara rakyat bukan bagian dari agama dan syariat Islam, maka Imam akan memberi tahu kami. Jika ini masalahnya, dia akan menyampaikan secara jelas dan tegas. Demokrasi adalah bagian dari agama. Oleh karena itu, syariah Islam adalah kerangka kerjanya… syariah Islam harus dipatuhi. Semua pekerjaan dalam sistem ini berjalan melalui demokrasi. Semua pekerjaan ada di tangan rakyat. Ini adalah basis utama dari gerakan Imam kita yang mulia,” kata Ayatullah Khamenei.
Ayatullah Khamenei pada acara peringatan Haul Imam Khomeini ra. (dok)
Pendekatan demokrasi religius sebenarnya merupakan pemenuhan hak-hak rakyat dalam menentukan nasib, di mana menjadi salah satu ciri penting dalam pengembangan politik.
Berdasarkan prinsip ini, rakyat Iran – dengan suara langsung dan rahasia – berpartisipasi untuk menentukan nasib dan kemajuan dalam empat pemilu presiden, parlemen, Dewan Kota dan Dewan Desa, serta Dewan Ahli Kepemimpinan.
Ayatullah Khamenei dalam menjelaskan prinsip kerakyatan, mengatakan pemerintahan yang merakyat berarti memberikan peran kepada masyarakat dalam pemerintahan. Artinya, rakyat memiliki peran dalam mengatur pemerintahan dan membentuk pemerintahan, mengangkat penguasa, dan mungkin juga dalam menentukan rezim pemerintahan dan politik.
“Makna lain dari pemerintahan Islam yang merakyat adalah bahwa pemerintahan Islam bertugas melayani masyarakat. Hal yang penting bagi penguasa adalah kepentingan umum masyarakat, bukan orang tertentu atau golongan tertentu,” tambahnya.
Pasca kemenangan Revolusi Islam, pemilu selalu berperan untuk memperkuat fondasi kerakyatan Republik Islam dan membuka ruang untuk kegiatan dengan beragam pandangan.
Di setiap pemilu, rakyat – dengan beragam pandangan politik – menunjukkan bahwa mereka mempercayai dan mendukung sistem politik yang mereka pilih, dan tahun ini rakyat Iran juga akan kembali melakukan pemilihan presiden baru.




























