کمالوندی

کمالوندی

 

Masyarakat internasional mereaksi kejahatan terbaru rezim Zionis Israel di Jalur Gaza, Palestina. Rezim ilegal ini telah melancarkan serangan udara membabibuta dari tanggal 10-21 Mei 2021. Dalam agresi tersebut, 255 warga Palestina gugur syahid, termasuk 66 anak, 39 wanita dan 17 lansia. Lebih dari 1.948 orang juga terluka.

Reaksi atas kejahatan Israel juga datang dari Irlandia. Dewan Kota Belfast menuntut pengusiran duta besar rezim Zionis. Menurut FNA mengutip Belfast Telegraph, rencananya sebuah proposal akan diajukan ke Dewan Kota Belfast. Proposal itu berisi permintaan para pejabat lokal ke pemerintah Inggris dan Irlandia untuk segera mengusir duta besar Israel.

Proposal pengusiran para dubes Israel akan dikemukakan di Dewan Kota Belfast oleh Fiona Ferguson, anggota organisasi People Before Profit. Dalam proposal ini ditegaskan bahwa operasi militer Israel di Gaza adalah "kelanjutan genosida atas Palestina dan perluasan permukiman ilegal adalah pelanggaran nyata terhadap hukum internasional."

Disebutkan pula bahwa tindakan Israel adalah Apartheid dan "kerja sama reguler dengan rezim Israel dalam kondisi semacam ini tidak bisa dibela." Proposal ini juga menegaskan dukungan rakyat Irlandia Utara untuk bangsa Palestina.

"Dewan Kota Belfast mengakui sejarah kaya solidaritas semua masyarakat Belfast dalam mendukung Palestina. Salah satu dukungannya berkaitan dengan hari-hari terakhir, yaitu ketika masyarakat berunjuk rasa dan menuntut diakhirinya kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina. Solidaritas warga kita ini bisa menjadi sarana penting untuk menghentikan dukungan kita terhadap tindakan-tindakan Israel," bunyi proposal itu.

"Dengan demikian, Dewan Kota Belfast mengutuk tindakan rezim Israel dan setuju untuk mengirim permohonan kepada pemerintah Irlandia dan Kerajaan Inggris untuk segera mengusir dubes-dubes Israel," tambahnya.

Partai People Before Profit Irlandia menuntut Dail Irlandia, atau parlemen negara itu, mendukung mosi untuk mengusir Duta Besar Israel.  Gino Kenny, anggota Parlemen Irlandia dan juru bicara Partai People Before Profit mengatakan, waktu untuk kata-kata dan pernyataan telah lewat dan tindakan perlu diambil untuk menghentikan pertumpahan darah di Gaza dan wilayah pendudukan lainnya. Tindakan itu juga termasuk memboikot Israel dan sistem Apartheid yang didirikannya.

"Israel telah memerintah teror dan pembunuhan atas orang-orang Gaza. Dalam delapan hari, lebih dari 200 orang telah terbunuh termasuk 60 anak, dibunuh karena tidak melakukan apa-apa, dibunuh karena mereka orang Palestina," ucap Kenny saat berbicara di parlemen Irlandia.

Dia menambahkan, dunia menyaksikan ketika Israel melakukan hukuman kolektif terhadap orang-orang Palestina di tanah yang diduduki. Kenny, seperti dilansir Anadolu Agency pada Rabu (19/5/2021), mengatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengusir duta Besar Israel untuk Irlandia.

Menurut Kenny, mosi yang diajukan akan menekan pemerintah, termasuk Menteri Luar Negeri dan Pertahanan Irlandia Simon Coveney untuk mengambil tindakan nyata guna membela rakyat Gaza yang terkepung dan diduduki dan mengirimkan pesan solidaritas bahwa kejahatan Israel terhadap kemanusiaan tidak akan luput dari perhatian.

Kenny menuturkan bahwa mereka akan mengirim pesan kepada rakyat Palestina bahwa mereka tidak sendirian dan bahwa mereka memiliki orang-orang Irlandia untuk mendukung mereka.

Dia lebih lanjut menunjuk posisi unik Irlandia di Dewan Keamanan (DK) PBB dan mengatakan, pihaknya dapat menggunakan kecakapan diplomatiknya untuk menciptakan perubahan yang berarti dan mengirim pesan ke Israel dan dunia bahwa kejahatan semacam itu tidak akan dibiarkan begitu saja.

Sementara itu, Dewan HAM PBB telah menyepakati resolusi dimulainya investigasi internasional terkait kejahatan rezim Zionis di Gaza. 

 

Seorang komandan tinggi militer Republik Islam Iran mengatakan bahwa Armada Angkatan Laut (AL) negara ini telah memasuki Samudra Atlantik dan berdasarkan hukum internasional, AL Iran berhak hadir AL di perairan internasional.

Dalam pernyataannya pada hari Kamis (10/6/2021), Wakil Koordinator Militer Iran Laksamana Habibollah Sayyari mengatakan, dua kapal, termasuk kapal "Pelabuhan Bergerak" (Forward Base Ship) Makran dan kapal perusak Sahand buatan dalam negeri, telah berhasil mencapai Samudra Atlantik tanpa bersandar di pelabuhan negara lain, dan ini adalah untuk pertama kalinya AL Iran sampai sejauh ini ke Samudra Atlantik.

"Kami menganggap kehadiran kami di perairan internasional sebagai hak strategis yang tidak dapat dicabut dari Angkatan Laut Republik Islam Iran dan kami akan melanjutkan jalan ini dengan kekuatan," kata Sayyari.

Dia menambahkan, armada AL Iran berangkat dari kota pelabuhan Iran Bandar Abbas di Teluk Persia pada 10 Mei 2021 dan sejauh ini telah berlayar sekitar 6.000 mil laut, sekitar 12.000 kilometer selama 30 hari perjalanan.

Sayyari menuturkan, kapal-kapal tersebut sekarang berada di Samudra Atlantik dan melanjutkan perjalanan mereka untuk melakukan misi maritim terpanjang menuju Samudra Atlantik Utara.

Pernyataan Wakil Koordinator Militer Iran muncul sehari setelah situs web berita Amerika Politico melaporkan bahwa pemerintahan Presiden AS Joe Biden memperingatkan Venezuela dan Kuba untuk menolak dua kapal Iran.

Menurut laporan yang mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya itu, kapal-kapal Iran mungkin membawa senjata untuk dipindahkan ke Caracas.

Perjalanan kapal-kapal Iran melintasi Samudra Atlantik dianggap sebagai "langkah signifikan" bagi AL Iran dan langkah ini menunjukkan kemampuan AL negara tersebut dan peningkatan akses AL Iran ke Belahan Barat.

"Kehadiran yang kuat ini menunjukkan kemampuan dan kekuatan Angkatan Laut Republik Islam Iran. Ketika kami menyatakan niat kami untuk memasuki Samudra Atlantik, beberapa negara, termasuk arogansi global, menyatakan bahwa AL Republik Islam Iran tidak mampu melakukan itu, tetapi dalam praktiknya mereka melihat bahwa kami melakukannya dengan kekuatan," pungkas Sayyari.

Awal bulan ini, Politico melaporkan bahwa komunitas keamanan nasional AS telah memantau selama dua minggu terakhir dua kapal Iran yang tujuan akhirnya mungkin adalah Venezuela. Menurut Politico, kapal-kapal itu sedang menuju selatan di sepanjang pantai timur Afrika.

Sebagai tanggapan, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan bahwa Iran selalu hadir di perairan internasional dan berhak atas hak-hak tersebut di bawah hukum internasional.

"Tidak ada negara yang bisa melanggar hak ini," kata Khatibzadeh kepada wartawan. Dia memperingatkan AS agar tidak mengganggu kapal-kapal Iran. 

 

Sebagian besar warga Jalur Gaza khususnya anak-anak membutuhkan dukungan kesehatan mental setelah 11 hari serangan udara militer rezim Zionis Israel yang merenggut nyawa sedikitnya 254 warga Palestina, termasuk 66 anak-anak.

Menurut para psikolog, banyak anak di Gaza menunjukkan tanda-tanda depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku akibat trauma pasca serangan udara yang dilancarkan militer Israel ke Gaza dari tanggal 10-21 Mei 2021.

Seorang warga Palestina, Mohammad Alaf tidak bisa melupakan momen ketika sebuah rudal Israel menghantam dekat rumahnya di kota Gaza. Ayah lima anak ini ingat bahwa suara ledakan telah membuat putrinya yang berusia 6 tahun panik total.

"Saya merasa jantungnya akan berhenti. Dia benar-benar merasa ngeri," kata Alaf kepada Anadolu Agency.

Alaf menambahkan, putri saya mengalami trauma dan tidak bisa tidur lebih dari 24 jam, dan dia menjadi benar-benar terdiam dan menarik diri. "Apakah ini yang ingin dicapai Israel?" ujarnya.

Alaf, yang anak-anaknya berusia antara 3 dan 15 tahun, mengatakan bahwa anak-anaknya telah menjalani hari-hari yang panjang dalam penantian dan terus bertanya tentang apa yang akan terjadi pada kerabat dan teman mereka di sekitar jika terjadi serangan Israel di daerah tersebut.

"Mereka bertanya kepada saya apa yang akan terjadi pada anak-anak yang tinggal di gedung-gedung ini, atau apakah pesawat-pesawat tempur akan mengebom rumah kami," paparnya.

Pertanyaan mereka, lanjut Alaf, menunjukkan betapa mereka takut dibunuh di bawah reruntuhan rumah mereka. Sayangnya, saya tidak memiliki jawaban tentang pertanyaan mereka.

Untuk meredakan kepanikan mereka, Alaf melibatkan anak-anaknya dalam kegiatan seperti menggambar, menyanyi, mendongeng, dan permainan dalam upaya untuk meyakinkan mereka dan membuat mereka tenang. Hingga saat ini, anak-anaknya masih mengalami mimpi buruk dan panik dengan suara keras di luar ruangan.

Sementara itu, Ameera, 17 tahun, mengatakan, saudara laki-lakinya yang berusia 7 tahun, Ahmed, menjadi panik setiap kali dia mendengar suara pesawat tempur Israel terbang di atas mereka.

"Dia sangat takut dan mulai menangis. Dia mulai bertanya kepada ayah saya apakah kami akan tetap hidup untuk melihat ibu kami dibebaskan dari penjara atau serangan udara Israel akan membunuh kami," kata gadis itu kepada Anadolu Agency.

Ibu mereka, Nisreen Abu Kmail, dipenjara oleh Israel pada 2015 atas tuduhan mata-mata untuk kelompok perlawanan Palestina. Dia diperkirakan akan dibebaskan pada Oktober 2021 setelah menjalani hukuman penjara 6 tahun.

Mereka tidak pernah mengunjungi ibunya sejak ditahan. Satu-satunya cara komunikasi mereka adalah melalui podcasting radio yang biasa mereka gunakan untuk memberitahu ibunya tentang kabar mereka.

Namun pada 15 Mei 2021, sebuah pesawat tempur Israel menyerang dan menghancurkan menara Al-Jalaa 12 lantai, yang menampung kantor radio yang biasa mereka gunakan untuk kontak dengan ibu mereka, dan kini kontak mereka telah terputus.

"Peristiwa yang paling mengerikan bukanlah pengeboman. Itu adalah ketakutan kami tentang ibu kami yang di dalam penjara. Dia tidak tahu apa-apa tentang kami, dan ini sangat meresahkan," kata Ameera.

Selama pemboman Israel di Gaza, Ahmed tidak bisa tidur di tempat tidurnya.

"Saya terus memeluk dan menciumnya karena saya tidak tahu apakah kami akan bangun keesokan harinya atau tidak. Itu adalah hari-hari yang mengerikan. Saya tidak tahu bagaimana kami bertahan," kenang Ameera.

Para ahli mengatakan serangan Israel merusak kesehatan mental anak-anak Palestina dan membuat mereka trauma. Menurut para psikolog, anak-anak di Gaza akan menderita untuk waktu yang lama dari masalah perilaku seperti stres, kegugupan ekstrem, dan respons yang parah. Mereka mungkin juga menderita serangan panik, mimpi buruk dan gangguan tidur. 

 

Mantan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak untuk meninggalkan kediaman resmi dan menyerahkannya kepada perdana menteri baru.

Dilansir kantor berita IRNA, Kamis (17/6/2021), media-media Israel melaporkan bahwa Netanyahu tidak akan mengosongkan kediaman resmi perdana menteri selama beberapa pekan ke depan.

Perdana Menteri Naftali Bennett dilaporkan tidak begitu peduli dengan situasi tersebut. Ia sepertinya berusaha untuk tidak memusuhi pendahulunya dan mantan mentornya itu.

“Netanyahu masih menggunakan kediaman perdana menteri di Balfour Street seolah-olah ia belum dicopot dari jabatannya. Dia memanfaatkan aturan transisi yang kurang jelas,” kata koresponden diplomatik, Tal Schneider.

“Dia menjamu tamu-tamu terkemuka, termasuk mantan Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley,” tambahnya.

Para kritikus menuduh Netanyahu mencampuradukkan kepentingan rezim Zionis dengan kebutuhan pribadinya.

Sekelompok anggota Knesset dan sebuah organisasi anti-Netanyahu telah meminta kabinet dan Mahkamah Agung rezim Zionis untuk mendesaknya segera meninggalkan tempat tersebut. 

 

Kelompok perlawanan Palestina memutuskan untuk meningkatkan tekanan di perbatasan Jalur Gaza dan wilayah pendudukan dengan mengirim balon-balon api ke rezim Zionis Israel.

Surat kabar Lebanon, Al Akhbar, Kamis (17/6/2021) melaporkan, bersamaan dengan berlanjutnya mediasi yang dilakukan Mesir untuk mempertahankan gencatan senjata, tekanan yang diberikan kelompok perlawanan Palestina terhadap Israel di sepanjang perbatasan Jalur Gaza, juga terus berlanjut.
 
Hal ini dilakukan kelompok perlawanan Palestina untuk mencegah terciptanya kondisi yang diharapkan Israel usai perang.
 
Menurut Al Akhbar, menjelang dialog baru yang rencananya akan digelar minggu depan di Kairo, kelompok perlawanan Palestina memutuskan untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel. 
 
Dalam dialog baru di Kairo akan dibahas nasib gencatan senjata setelah naiknya kabinet baru Israel di bawah Naftali Bennett. 

 

Juru bicara Gerakan Asaib Ahl Al Haq Irak mengatakan, meski penyelidikan terkait teror para komandan poros perlawanan di Baghdad sudah berlalu lama, namun Amerika Serikat terus melarang Irak untuk mengumumkan hasil investigasi ini.

Mahmood Rubai, Kamis (17/6/2021) seperti dikutip situs Al Ahad menuturkan, hasil investigasi seputar teror Letjen Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Quds, IRGC dan Abu Mahdi Al Muhandis, Wakil Ketua Hashd Al Shaabi, Irak, meski sudah terbukti siapa pelakunya, namun sampai sekarang belum juga diumumkan.
 
Ia menambahkan, AS terus memberikan tekanan politik kepada pemerintah Irak, supaya Baghdad tidak mengumumkan orang-orang yang terlibat dalam teror kedua komandan poros perlawanan ini.
 
Menurut Mahmood Rubai, AS berperan besar dalam upaya mencegah hasil penyelidikan teror tersebut disampaikan kepada publik. Pada saat yang sama Rubai meminta pemerintah Irak untuk segera mengumumkan hasil investigasi kepada rakyat negara ini.

 

Puluhan komando pasukan superelit rezim Zionis Israel baru-baru ini dikabarkan terjangkiti penyakit menular, Impetigo.

Surat kabar Israel Hayom, Kamis (17/6/2021) menulis, puluhan personel pasukan superelit Angkatan Laut Israel, Shayetet 13, tertular penyakit menular Impetigo.
 
Menurut koran Israel, 25 personel pasukan Shayetet 13 yang tertular Impetigo ini sudah dibebastugaskan.
 
Impetigo adalah infeksi kulit yang menyebabkan terbentuknya lepuhan kecil berisi nanah. Penyakit ini bisa muncul setelah terjadinya infeksi saluran pernapasan seperti flu atau virus lainnya.
 
Shayetet 13 adalah pasukan superelit AL Israel yang mampu melancarkan serangan udara, darat dan laut. Salah satu tugas mereka melakukan agresi laut dan operasi rahasia di dalam wilayah musuh. 

 

Juru bicara Gerakan Perlawanan Islam Palestina Hamas mengatakan darah suci para pemuda revolusioner telah mengubah perang melawan rezim Zionis Israel, berbalik menguntungkan rakyat Palestina dan hak mereka.

Hazem Qassem, Kamis (17/6/2021) seperti dikutip Fars News mengatakan, Intifada pemuda revolusioner di Tepi Barat adalah penentu kemerdekaan Palestina.
 
Ia menambahkan, Intifada para pemuda ini merupakan satu-satunya jalan untuk mengusir Israel dari tanah Palestina.
 
Jubir Hamas itu menegaskan, "Pada saat yang sama, darah suci para pemuda ini juga akan mampu mempertahankan fondasi nasional Palestina.
 
Hazem Qassem berterimakasih kepada para pemuda di Nablus dan seluruh pemuda Tepi Barat karena bangkit melawan rezim Zionis.

 

Seiring dimulainya gelombang baru pengiriman balon api dari Jalur Gaza ke distrik-distrik Zionis di sekitar Jalur Gaza, para pemukim Zionis mengakui bahaya balon api Palestina tidak kalah dari rudal.

Dikutip situs Arabi 21, Kamis (17/6/2021), balon-balon api warga Palestina di Jalur Gaza sudah diterbangkan ke distrik-distrik Zionis sejak 15 tahun lalu, dan telah menyebabkan kebakaran luas di distrik Israel.
 
Di sisi lain situs surat kabar Israel Hayom menulis, para pemukim Zionis di sekitar Jalur Gaza menegaskan bahwa bahaya balon-balon api bukan saja tidak kalah dari rudal Palestina, bahkan terkadang lebih merusak.
 
Sejak dua hari lalu balon-balon api mulai diterbangkan lagi oleh kelompok perlawanan Palestina di Jalur Gaza ke distrik-distrik Zionis sehingga menyebabkan 24 insiden kebakaran.

 

Salah seorang pejabat Gerakan Jihad Islam Palestina mengatakan, perang mendatang terkait Al Quds akan menjadi perang regional.

Khaled Al Batash, Kamis (17/6/2021) kepada stasiun televisi Al Mayadeen menuturkan, lima pemimpin penting di kawasan Timur Tengah sudah mengumumkan kesiapan untuk membela Al Quds.
 
Ia menambahkan, perang mendatang untuk membela Al Quds dari kejahatan rezim Zionis Israel, akan menjadi perang kawasan.
 
Menurut Khaled Al Batash, kelima kekuatan ini (negara kawasan) mampu melawan Israel dalam perang, dan mereka akan mengomando perang regional melawan Israel, untuk membela Al Quds.