کمالوندی
Sanksi Ilegal Barat terhadap Iran Jadi Hambatan Akses Obat Korban Senjata Kimia
Deputi Hukum dan Urusan Internasional Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran mengumumkan bahwa para korban senjata kimia di Iran masih menderita akibat sanksi ilegal yang jatuhkan Barat terhadap pasokan obat-obatan dan peralatan medis.
Kazem Gharibabadi, Deputi Bidang Hukum dan Internasional Kementerian Luar Negeri Iran pada pertemuan tahunan ke-29 konferensi negara-negara anggota Konvensi Pelarangan Senjata Kimia di Den Haag, Belanda hari Rabu (27/11/2024) menyatakan bahwa para korban senjata kimia di Iran masih menderita akibat sanksi ilegal negara-negara Barat di bidang penyediaan obat-obatan dan peralatan medis.
Gharibabadi menyerukan supaya Organisasi Pelarangan Senjata Kimia melakukan upaya serius dan efektif untuk mendukung para korban tersebut.
"Beberapa negara Barat, terutama Jerman dan Amerika Serikat, sebagai pemasok utama bahan kimia ke rezim Baath Irak, terlibat dalam kejahatan senjata kimia terhadap rakyat Iran, dan mereka harus bertanggung jawab atas tindakan ilegalnya di tingkat internasional, dan harus jatuhi hukuman setimpal," ujar Gharibabadi.
Menurut pengumuman Deputi Hukum dan Urusan Internasional Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran, Amerika Serikat memiliki sejarah tidak mematuhi konvensi internasional, dan berulang kali melanggar konvensi tersebut selama invasi Amerika ke Irak, dan Washington belum memberikan jawaban yang meyakinkan kepada komunitas internasional.
Gharibabadi lebih lanjut menunjuk pada penggunaan senjata kimia dan zat berbahaya lainnya oleh rezim Israel, termasuk fosfor putih dan uranium yang dilemahkan, terhadap rakyat Palestina dan Lebanon yang tidak berdaya.
“Gudang senjata pemusnah massal milik rezim Israel, termasuk senjata kimia, adalah ancaman serius terhadap perdamaian, dan keamanan regional dan internasional. Oleh karena itu, perlu disadari universalitas konvensi tersebut dan adanya tekanan masyarakat internasional terhadap rezim Zionis untuk mengikuti konvensi ini dan menempatkan seluruh fasilitas kimianya di bawah pengawasan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia" papar Gharibabadi.
Wakil Menteri Hukum dan Urusan Internasional Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa rezim Zionis, dengan dukungan tanpa syarat dari beberapa negara Barat, terutama Amerika Serikat terus melanjutkan kejahatannya di Palestina dan Lebanon, dan sayangnya mendapatkan kekebalan.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa harus mengambil tindakan yang efektif. Sanksi yang efektif terhadap rezim Zionis sesuai dengan bab ketujuh Piagam PBB, dan semua pemerintah harus menghentikan kerja sama ekonomi, militer dan senjata dengan Israel.
Pukulan Telak Pasukan Suriah atas Teroris di Sekitar Aleppo dan Idlib
Komando Pusat Angkatan Bersenjata Suriah, mengumumkan pasukan negara ini berhasil memberikan pukulan telak terhadap kelompok-kelompok teroris di sekitar Aleppo dan Idlib.
Komando Pusat Angkatan Bersenjata Suriah, Kamis (28/11/2024) mengumumkan, kelompok-kelompok teroris bersenjata Haiat Tahrir Al Sham, HTS (Jabhat Al Nusra) yang berada di sekitar Aleppo dan Idlib, sejak Rabu dinihari melancarkan serangan luas terhadap pasukan Suriah.
Sejumlah banyak teroris, katanya, dengan menggunakan senjata berat, dan semi berat, melancarkan serangan luas ke desa dan kota-kota Suriah, serta konsentrasi pasukan pemerintah negara ini.
"Angkatan Bersenjata Suriah, membalas serangan-serangan yang masih terus berlangsung itu, dan organisasi-organisasi teroris agresor menerima pukulan telak dari pasukan Suriah, sehingga menderita kerugian jiwa dan materi yang besar," imbuhnya.
Komando Pusat Angkatan Bersenjata Suriah menegaskan, "Pasukan pemerintah Suriah, dengan menggunakan berbagai jenis senjata, serta dengan kerja sama pasukan sahabat, sedang menghadapi serangan organisasi-organisasi teroris."
Surat kabar Al Watan, melaporkan, beberapa jam setelah "Majikan Zionis" mereka mengumumkan gencatan senjata di Lebanon, kelompok teroris Haiat Tahrir Al Sham, HTS, yang bergabung dengan kelompok teroris lain, kembali berulah di Suriah.
Atas perintah tuannya, kelompok-kelompok teroris ini melancarkan serangan luas ke beberapa titik di wiayah barat kota Aleppo. Serangan tersebut dibalas pasukan Suriah dan sekutunya, sehingga teroris menderita kerugian besar.
Pasukan Suriah, dibantu sekutu-sekutunya, membombardir serta menghancurkan posisi-posisi kelompok teroris dengan artileri dan rudal.
Hizbullah Lebanon Apresiasi Dukungan Imam Khamenei dan Republik Islam Iran
Hizbullah Lebanon mengeluarkan pernyataan mengapresiasi dukungan penuh Imam Khamenei serta gerakan diplomatik Republik Islam Iran kepada rakyat, pemerintah dan perlawanan Lebanon.
Tehran, Parstoday-Menyusul terhentinya agresi rezim Zionis terhadap Lebanon, Gerakan Perlawanan Islam Hizbullah mengeluarkan pernyataan terima kasih kepada atas dukungan penuh terhadap Republik Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khamenei terhadap masyarakat, pemerintah dan perlawanan Lebanon.
Hizbullah dalam statemennya menyatakan, “Kami berterima kasih kepada Republik Islam Iran karena dukungan penuhnya terhadap perlawanan Islam Lebanon di segala bidang, terutama peran Pemimpin Besar Revolusi Islam, Kunjungan Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri dan perwakilannya, Mohammad Reza Shibani, serta Mohammad Baqer Qalibaf, Ketua Parlemen Iran, dan Ali Larijani, Penasihat Senior Pemimpin Besar Revolusi Islam, yang terlihat jelas dalam kunjungan mereka di tengah agresi rezim Israel".
Di bagian lain pernyataan ini, Hizbullah Lebanon mengapresiasi peran duta besar Iran di Lebanon, dan menegaskan,“Kami tidak akan melupakan luka yang dialami duta besar Iran di Lebanon akibat agresi rezim Zionis, serta perjalanan syahid Amir Abdullahian, mantan menteri luar negeri Iran, dan kami berterima kasih atas dukungan kuat dari komandan Korps Garda Revolusi Islam".
Apa Alasan Israel Terima Gencatan Senjata di Lebanon?
Menurut Abdul Bari Atwan, pengamat Arab, perdana menteri Israel setelah gagal merealiasikan tujuannya di Lebanon, akhirnya menerima gencatan senjata.
Seperti dilaporkan jaringan media Shahab mengutip Tasnim News, Abdul Bari Atwan, pengamat Arab mengatakan: PM Israel Benjamin Netanyahu yang memulai perang mengerikan terhadap Lebanon, dan menurut angan-angannya ingin menghancurkan Hizbullah, kini terpaksa menerima gencatan senjata.
"Para komandan Zionis memperingatkan Netanyahu bahwa militer rezim ini tengah hancur, dan tidak lagi memiliki kemampuan untuk berperang di dua front," tambah Atwan.
Analis Arab ini menyatakan bahwa alasan lain untuk menerima gencatan senjata adalah perasaan takut dan teror yang dihadapi Zionis selama perang dan berkata: Dalam beberapa pekan terakhir, ketika Hizbullah mampu meluncurkan 350 roket dan drone ke wilayah yang diduduki Israel, hal itu menunjukkan bahwa seluruh wilayah yang diduduki rezim ini berada di garis bidik rudal perlawanan.
Atwan menganggap ketidakmampuan Amerika untuk terus memberikan bantuan kepada rezim Israel sebagai salah satu faktor lain di balik penerimaan gencatan senjata oleh Netanyahu, terutama laporan yang menunjukkan bahwa semua gudang senjata Israel telah dikosongkan.
Pada akhirnya, kata analis Arab ini, Netanyahu menyadari bahwa ia tidak mampu mewujudkan satu pun tujuannya, termasuk menghancurkan Hizbullah dan mengembalikan Zionis ke pemukiman pendudukan di wilayah Al-Jalil. Karena alasan ini, dia menerima banyak persyaratan yang tidak dia terima sebelumnya, dan dia terpaksa menyetujui gencatan senjata di Lebanon.
Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon dilaksanakan sejak Rabu (27/11/2024) dini hari.
Pada tanggal 23 September 2024, tentara Israel melancarkan serangan besar-besaran di berbagai wilayah di Lebanon selatan, dan Hizbullah Lebanon, sebagai tanggapan atas kejahatan Zionis, melancarkan beberapa operasi melawan posisi rezim ini dan dengan meluncurkan ratusan roket, menghujani posisi militer rezim ini dengan roket.
Penanti Juru Selamat Haruslah Aktif dalam Kebaikan Segala Aspek Kehidupan
Seorang peneliti mengenai Mesiah mengatakan bahwa seseorang dapat bergabung sebagai penanti Juru Selamat, Imam Mahdi harus aktif dan bergerak untuk perbaikan segala aspek kehidupan manusia.
Tehran, Parstoday- Berdasarkan teks sejarah, sejak dahulu kala, kepercayaan akan kemunculan sosok pembaharu dan penyelamat telah menjadi prinsip dasar umat manusia.
Sepanjang sejarah dan referensi teks agama, selalu ada kata-kata tentang janji kemunculan penyelamat terakhir dan juru selamat dunia.
Prinsip penting dalam bidang ini adalah upaya mereka sebagai penanti juru selamat.
HujatulIslam Muhammad Shojaei, seorang peneliti di bidang Mahdisme dan direktur Institut Montazeran Manji mengatakan," Berdasarkan Al Quran surat Saba ayat 46, Al-Qur'an menyebut perjuangan untuk perbaikan menjadi syarat dasar dan mengatakan bahwa bagi Tuhan, ada dua orang dan bahkan satu orang melakukannya,".
Hojatul Islam Shojaei menyatakan bahwa perjuangan untuk perbaikan para penanti harus muncul dalam semua dimensi kehidupan manusia, dan menambahkan, "Pertama, orang yang menunggu adalah orang yang aktif berusaha untuk kebaikan,".
Orang-orang yang berjuang akan merancang tempat tinggalnya berdasarkan struktur perjuangannya, sehingga segala pilihannya didasarkan pada jalan perjuangan ini demi penyelamatan masyarakat dan kemanusiaan.
Kepribadian, Perilaku Sosial dan Politik Nabi Muhammad Saw
Menurut kesaksian sejarah, Nabi Muhammad Saw senantiasa berbicara jelas dan transparan dengan orang mukmin dan masyarakatnya, tidak berperilaku politis, serta di beberapa hal yang diperlukan, beliau bersikap lunak.
Nabi Muhammad Saw dengan keagungan kedudukannya dan mencapai derajat maksum yang paling tinggi, pada saat yang sama, tidak henti-hentinya berusaha dan berupaya untuk mendekatkan dan bertakwa kepada Allah, hingga saat kematiannya; Dengan demikian beliau juga berevolusi menuju Tuhan yang tak terbatas hari demi hari. Artinya, Nabi Saw pada tahun pertama kenabian tidaklah sama dengan Nabi Saw di tahun ke-23 kenabian. Selama 23 tahun, beliau telah mengalami kemajuan dalam pendekatan kepada Tuhan (Taqarrub).
Dalam artikel Parstoday ini kita akan membaca ulang sejumlah karakter Rasulullah Saw:
Sirah Ibadah
Nabi Saw dengan derajat dan keagungannya, tidak pernah mengabaikan ibadah. Beliau menangis di tengah malam dan berdoa serta memohon ampun. Suatu malam, Ummu Salamah melihat Nabi Saw tidak ada di sana, maka dia pergi dan melihat beliau sedang berdoa, menitikkan air mata, memohon ampun, dan berkata: “Ya Allah, jangan tinggalkan aku sendirian walaupun dalam sekejap mata. Ummu Salamah mulai menangis. Nabi Saw berbalik saat mendengar tangisannya dan berkata: Apa yang kamu lakukan di sini?
Ummu Salamah berkata: Ya Rasulullah! Anda yang sangat dikasihi Allah Swt dan dosa-dosamu telah diampuni, mengapa Anda menanggis dan berkata: Ya Allah ! Jangan tinggalkan kami ?
Nabi menjawab: Jika Aku lalai dari Tuhan, Apa yang akan menjagaku ?
Ini sebuah pelajaran bagi kita. Di hari penuh kehormatan, kehinaan, kesusahan, kenyamanan, hari ketika musuh mengepung manusia, hari ketika musuh memaksakan diri di depan mata dan manusia dengan segala keagungannya, serta mengingat Allah dan tidak melupakannya dalam segala keadaan, selalu bersandar kepada Tuhan dan memohon kepada-Nya; Inilah hikmah besar Nabi Saw yang diberikan kepada kita...
Sirah Pribadi dalam berpakaian dan makan
Nabi Saw mengenakan pakaian sederhana dan memakan makanan apa pun yang disediakan di depannya. Beliau tidak meminta makanan tertentu dan tidak menolak makanan karena dianggap tidak diinginkan.
Sirah Akhlak
Salah satu istri Rasulullah Saw diminta untuk menggambarkan akhlak beliau untuk kita. Sebagai tanggapannya, dia berkata: Akhlaknya adalah al-Qur'an; Artinya, apapun yang dibaca dalam al-Qur’an tentang cara, perbuatan, tingkah laku dan akhlak seorang manusia yang dianjurkan, baik dan berkenan, telah terwujud dan terkristalisasi dalam keberadaan yang mulia itu.
Artinya akhlak kita hendaknya sesuai dengan apa yang kita ucapkan dan kita seru.
Sirah Ilmiah dan Keilmuan
Sebuah hadits Rasulullah Saw selain ayat al-Quran yang telah diulangi di beberapa tempat dalam al-Qur'an, «یُزَکّیهم و یُعَلِّمُهم الکتابَ و الحکمة» yang mengaitkan pendidikan kepadanya. Hadis tersebut berbunyai "Allah mengutusku sebagai pendidik"; Guru yang memudahkan. Faktanya aku telah mempermudah kehidupan bagi anak didikku dan dengan pendidikan yang kuberikan, dan aku telah memudahkan pekerjaan mereka. Mempermudah ini berbeda dengan melalaikan sesuatu.
Sirah Budaya
Guru ini melakukan sesuatu dan berperilaku sedemikian rupa sehingga akhlak dan kewajiban Islam menjadi warna yang konstan dalam masyarakat dan melawan kepercayaan dan kesalahan masyarakat. Beliau memerangi dan melawan perasaan-perasaan jahiliah dan sisa-sisa etika non-Islam yang sudah mengendap, dan pada saat yang tepat serta dengan cara yang tepat pula, beliau membuat kondisi masyarakat dan lingkungan hidup masyarakat tercampur sempurna dengan sifat, akhlak dan metode baik tersebut.
Sirah Sosial
Perilaku Rasulullah Saw dengan orang-orang adalah baik. Dia selalu ceria jika di tengah masyarakat, dan ketika sendirian, beliau menampakkan kesedihan dan kekhawatian yang dimilikinya. Beliau tidak mengungkapkan kesedihannya di depan orang banyak. Beliau ceria dan menyapa semua orang. Jika seseorang menyinggungnya, kekesalan itu terlihat di wajahnya, tetapi beliau tidak membalasnya dengan kata-kata. Beliau tidak mengizinkan siapa pun mengutuk atau menjelek-jelekkan orang lain dihadapannya. Beliau sendiri tidak menghina siapa pun dan tidak menjelek-jelekkan siapa pun.
Beliau sangat sayang terhadap anak-anak dan bertutur kata dengan kasing sayang kepada mereka. Beliau memperlakukan orang-orang lemah dengan baik. Beliau pun kadang bercanda dengan para sahabatnya, dan berlomba pacuan kuda dengan mereka.
Sirah Politik
Rasulullah Saw tidak pernah berbicara dengan kata-kata yang bermakna ganda. Tapi beliau akan bersikap teliti ketika menghadapi musuh, dan membuat musuh salah perhitungan. Di banyak kasus, beliau membuat musuh terlena dan lalai, baik dari sisi militer atau pun dari sisi politik, tapi beliau selalu berbicara dengan jelas dan transparan kepada umatnya, dan tidak melakukan politisasi, serta di waktu yang diperlukan, beliau bersikap lunak.
Ini Nasihat Mufasir Besar untuk Mengenali Imam Mahdi, Sang Juru Selamat
Ayatullah Javadi Amoli, Mufasir Besar Al-Qur'an mengatakan, "Siapa pun yang ingin mengetahui keberadaan Imam mahdi, juru selamat yang dijanjikan, harus dengan cermat mengkaji teks ziarah dan doa beliau."
Tehran, Parstoday-Ayatullah Abdullah Javadi Amoli, salah satu mufasir besar Al-Qur'an dalam dalam buku "Imam Mahdi yang Dijanjikan" mengungkapkan bahwa meneliti doa dan ziarah yang datang dari Imam Mahdi sendiri atau Imam lain mengenai beliau meurpakan salah satu cara terbaik untuk mengetahui kedudukan tinggi Imamah dan kepribadian unik penyelamat umat manusia.
Ayatullah Javadi Amoli menegaskan pentinya merenungkan isi Nahjul Balaghah, kata-kata Imam Hussein dari awal hingga akhir peristiwa Karbala dan ajaran panjang Imam Sajjad dalam Sahifah Sajadiyah dan lainnya.
"Mempelajari pernyataan Imam Ali, Imam Hussain dan Imam Sajjad, serta doa dan manajat yang berkaitan dengan Imam Mahdi dapat membawa seseorang memasuki ilmu pengetahuan mengenai sang juru selamat yang dijanjikan," ujar Ayatullah Javadi Amoli.
Menurut Ayatullah Javadi Amoli, pengenalan terhadap Imam Mahdi mempunyai tingkatan-tingkatan yang mencakup perkembangan tertentu pada setiap tahapannya.
Keadilan Sosial dalam Al-Qur’an dan Pemerintahan yang Berorientasi Keadilan
Terwujudnya cita-cita keadilan telah menjadi salah satu keinginan terpenting semua manusia reformis dan orang-orang merdeka dalam sejarah (termasuk para nabi). Revolusi Islam Iran juga dilakukan dengan slogan keadilan sosial, guna mewujudkan masyarakat yang berlandaskan keadilan Al-Qur’an.
Keadilan merupakan cita-cita kemanusiaan yang telah diketahui umat manusia sejak awal sebagai hasrat batiniah dan menjadikannya sebagai dasar hukum dan penilaian. Diskriminasi, menginjak-injak hak-hak kaum tertindas dan ketidakadilan menimbulkan kebencian di hati. Selain itu, penyebab banyaknya gerakan sosial dan revolusi adalah kurangnya keadilan sosial di masyarakat.
Dalam artikel Pars Today ini, kami akan meninjau isu penting ini dengan pendekatan yang lebih fokus pada Al-Qur’an:
Konsep Keadilan
Imam Ali bin Abi Thalib as, penerus Nabi Muhammad Saw, menganggap keadilan adalah memberikan hak kepada yang berhak. Beliau juga mengartikan keadilan sebagai proporsional, seimbang dan menghindari hal-hal yang ekstrim. Dalam 31 pasalnya, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tidak mengklaim tujuan selain menghilangkan agresi dan diskriminasi dan membangun (apa yang disebut) militer yang bebas dari kekejaman, dan dalam semua klausulnya, kebebasan dan hak-hak individu ditekankan dalam setiap bidang. Meskipun penandatangan terbesarnya adalah pelanggar terbesarnya.
Orang bijak seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Allameh Tabataba’i dan Martir Morteza Motahari, dan yang terpenting, Imam Khomeini, juga pernah mengutarakan gagasan untuk menciptakan pemerintahan yang berdasarkan keadilan. Apa yang membuat perkataan Imam Khomeini lebih menonjol adalah bahwa beliau tidak membatasi diri hanya pada opini dan berusaha membuat gagasan ini diterima secara luas dan dengan bantuan massa yang haus keadilan, dengan mendirikan pemerintahan Islam untuk menegakkan keadilan Al-Qur’an.
Pentingnya Keadilan Sosial dalam Al-Qur’an
Nilai keadilan sosial dalam sudut pandang Al-Qur’an sedemikian rupa sehingga Allah dengan tegas memerintahkannya dan mewajibkannya. Al-Qur'an mengingatkan masyarakat Islam bahwa kejahatan dan permusuhan pihak lawan tidak boleh mengalihkan umat Islam dari jalan keadilan dan mereka bahkan harus memperlakukan musuh dengan adil.
Oleh karena itu, salah satu tujuan utama dan utama para Nabi dalam Al-Qur'an adalah menegakkan keadilan. Prinsip Al-Qur’an ini (penerapan keadilan sepenuhnya dalam masyarakat manusia) juga terlihat dalam praktik Nabi Muhammad Saw.
Imam Baqir as, salah satu keturunan Nabi mengatakan, Nabi menghapuskan adat istiadat jahiliyah dan mulai memperlakukan manusia dengan keadilan.
Mengingat pentingnya keadilan dalam masyarakat, Al-Qur'an telah memperluasnya ke berbagai bidang. Perlunya menegakkan keadilan dalam kesaksian, perkataan, ketika menghakimi dan membela keadilan dalam semua tahap kehidupan, menunjukkan pentingnya hal ini.
Al-Qur'an menyebut segala sesuatu yang menyebabkan kerusakan dan mengganggu semangat keadilan sebagai maksiat dan telah melarangnya. Bahkan berita bohong yang praktis berdampak pada semangat masyarakat. Dalam masyarakat yang seimbang di mana semua orang menikmati kekuasaan, kekayaan dan kedudukan secara setara, empati dan persaudaraan dengan sendirinya akan terjalin di antara anggota masyarakat.
Imam Ali berkata, “Al-Adl Ma’luf” adalah keadilan yang menyenangkan dan penyebab kebahagiaan. Lawan dari keadilan sosial adalah kekejaman dan ketidakadilan, yang menyebabkan kehancuran masyarakat dengan memancing murka Allah, menimbulkan permusuhan dan kehancuran peradaban.
Menciptakan Keadilan dengan Membentuk Pemerintahan
Syarat yang paling diperlukan bagi terwujudnya keadilan sosial, sebagaimana salah satu tujuan dakwah Nabi, adalah terbentuknya pemerintahan. Oleh karena itu, upaya berkelanjutan para nabi dan penerusnya dalam membentuk pemerintahan bertujuan untuk menciptakan keadilan sosial. Mereka tidak mencari kekuasaan, ketamakan, dan kenyamanan duniawi pribadi.
Al-Qur’an menyebutkan, Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS. Al-Hadid: 25)
Jika mereka satu-satunya yang bertugas mengamankan akhirat, tidak ada gunanya mengganggu mereka dalam menjalankan misinya. Penetapan hukum Islam dan penerapannya (khususnya hukum keuangan) memerlukan pembentukan pemerintahan. Atas dasar ini, Nabi Sulaiman as dan Nabi Muhammad Saw berusaha membentuk pemerintahan dan memenuhi hak-hak masyarakat.
Peran Keadilan Sosial dalam Penyempurnaan dan Pembangunan Manusia
Tujuan penciptaan dan kedatangan manusia ke bumi adalah untuk mencapai kesempurnaan. Yang dapat membawa masyarakat manusia mencapai tujuan ini adalah keadilan sosial. Ketika setiap anggota masyarakat melihat bahwa hak-haknya dilindungi dan kemanusiaan serta martabatnya dihormati, maka hubungannya dengan anggota masyarakat lainnya menjadi lebih baik dan ia berusaha memainkan peran yang saling berguna dalam masyarakat. Sementara penindasan merupakan momok bagi masyarakat dan perusak peradaban dan bangsa.
Jelas dari ayat-ayat Al-Qur’an bahwa penegakan keadilan sangat berperan dalam memperbaiki moral dan perilaku individu dan sosial serta membimbing menuju kesempurnaan sehingga dianjurkan bahkan untuk tugas-tugas kecil.
Al-Qur’an mengatakan, Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. (QS. Al-Nahl: 90)
Dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. (QS. Al-Syura: 15)
Katakanlah, “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan. (QS. Al-A’raf: 29)
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah. (QS. Al-Nisaa: 135)
Semua ayat-ayat ini menyiratkan perlunya keadilan di segala bidang.
Imam Ridha Sebut 10 Tanda Kesempurnaan Akal
Menurut ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad dan Ahlul Bait as, akal adalah alat untuk ibadah dan meraih kebahagiaan.
Anda mungkin pernah bertanya pada diri sendiri pertanyaan tentang apa saja parameter orang berakal dan apa saja ciri-cirinya. Dunia modern, pada dasarnya, telah menghadirkan definisi dan contoh rasionalitas baru, termasuk keberhasilan akademis, perolehan kekuasaan, dan perolehan kekayaan yang melimpah.
Semua ciri-ciri ini berharga pada tempatnya, tapi tidak dapat diterima untuk memberi nilai ekstrem pada ciri-ciri ini sejauh itu lebih diutamakan daripada moralitas dan kemanusiaan atau mendahulukan orang yang untuk meraih kesuksesan sepert ini melewati batas-batas moralitas dan mengorbankan orang lain demi keinginan duniawi.
Dalam artikel dari Pars Today ini, kami membahas masalah ini:
Dari sudut pandang agama dan keislaman, akal adalah yang menghindarkan seseorang dari keburukan dan mengajak untuk beramal dan kebaikan.
Dengan demikian, tanda kesempurnaan akal juga dikenal dengan cara ini. Orang yang lebih banyak bergerak ke arah kebaikan dan lebih banyak menjauhi keburukan.
Imam Ridha as, Imam Kedelapan dari keluarga Nabi Muhammad SAW telah menyebutkan 10 tanda kesempurnaan akal.
Imam Ridha as mengatakan:
لا یَتِمُّ عَقْلُ امْرِء مُسْلِم حَتّى تَکُونَ فیهِ عَشْرُ خِصال: أَلْخَیْرُ مِنْهُ مَأمُولٌ. وَ الشَّرُّ مِنْهُ مَأْمُونٌ. یَسْتَکْثِرُ قَلیلَ الْخَیْرِ مِنْ غَیْرِهِ، وَ یَسْتَقِلُّ کَثیرَ الْخَیْرِ مِنْ نَفْسِهِ. لا یَسْأَمُ مِنْ طَلَبِ الْحَوائِجِ إِلَیْهِ، وَ لا یَمَلُّ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ طُولَ دَهْرِهِ. أَلْفَقْرُ فِى اللّهِ أَحَبُّ إِلَیْهِ مِنَ الْغِنى. وَ الذُّلُّ فىِ اللّهِ أَحَبُّ إِلَیْهِ مِنَ الْعِزِّ فى عَدُوِّهِ. وَ الْخُمُولُ أَشْهى إِلَیْهِ مِنَ الشُّهْرَةِ. ثُمَّ قالَ(علیه السلام): أَلْعاشِرَةُ وَ مَا الْعاشِرَةُ؟ قیلَ لَهُ: ما هِىَ؟ قالَ(علیه السلام): لا یَرى أَحَدًا إِلاّ قالَ: هُوَ خَیْرٌ مِنّى وَ أَتْقى
Akal seorang muslim belum sempurna, kecuali mempunyai 10 ciri:
1. Ada harapan kebaikan darinya (Orang yang melakukan kebaikan kepada sesama).
2. Orang lain aman dari keburukannya (tidak menyakiti orang lain).
3. Menyebut kebaikan orang lain walau sedikit (menghargai kebaikan orang lain).
4. Menyebut sedikit kebaikannya yang banyak (rendah hati dan tidak sombong).
5. Berusaha memenuhi kebutuhan orang lain (dermawan dan ringan tangan).
6. Tidak lelah dalam mencari ilmu (haus akan ilmu).
7. Kemiskinan di jalan Allah lebih dicintai dari kekayaan dengan kerusakan.
8. Hina di jalan Allah lebih dicintai ketimbang jaya bersama musuh Allah.
9. Lebih menyukai tidak dikenal ketimbang terkenal.
10. Ketika memandang orang lain, ia merasa orang itu lebih baik dan lebih bertakwa dari dirinya.
Dengan demikian, menurut agama, akal merupakan sarana untuk beribadah dan meraih keridhaan Allah, dan orang yang berakal adalah orang yang bertakwa yang bergerak di jalan yang akan membawanya ke surga dan keselamatan.
Perintah Al-Qur’an Menghadapi Kezaliman dan Mendukung yang Dizalimi
Allah telah menentukan hak-hak bagi setiap makhluk-Nya. Melanggar hak-hak ini akan mengakibatkan murka ilahi. Oleh karenanya, Allah telah memberikan instruksi dalam Al-Qur'an untuk membela kaum tertindas dan menghadapi penindas dan agresor.
Menurut Al-Qur’an, kezaliman atau penindasan adalah salah satu jenis dosa terburuk. Jika kezaliman disertai dengan pelanggaran terhadap orang lain, maka perbuatan tersebut merupakan dosa yang sangat besar di sisi Allah dan termasuk dosa terbesar yang dapat membuat orang dan masyarakat penindas menderita siksa dunia dan akhirat yang berat dan akhirnya api neraka.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an, “Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 229) Salah satu batasannya adalah tidak melanggar hak orang lain dan kebutuhan untuk mendukung mereka yang tertindas.
Dalam artikel Pars Today ini akan dijelaskan secara singkat tentang masalah ini:
Melawan Penindas
Di mata Islam, menerima penindasan adalah hal yang tercela, dan perilaku pasif saat menghadapi penindasan tidak pernah bisa diterima. Salah satu cara menghadapi penindasan dan tirani adalah dengan membalas. Terutama dalam kasus di mana para penindas menyadari penindasan yang mereka alami dan berniat untuk melanjutkannya.
Kadang-kadang penindasan bukan merupakan persoalan individu dan berkaitan dengan masyarakat. Dalam hal ini, penanganannya harus lebih tegas. Pertama, dia tidak membiarkan penindasan, dan kemudian, jika musuh menindas, dia harus dihukum agar dia tidak berani mengulanginya. Menindaknya begitu penting sehingga bahkan jika perlu, seseorang harus mengorbankan nyawanya demi hal itu, sehingga membatasi ruang lingkup penindasan para penindas untuk generasi mendatang. Hikayat besar Asyura Imam Husein as, cucu Nabi Muhammad SAW, merupakan manifestasi dan realisasi visi Al-Qur’an dalam menghadapi para penindas. Epik ini memiliki pesan Al-Qur’an yang jelas untuk orang-orang yang tertindas.
Allah SWT berfirman dalam surah As-Syu’ara ayat 227, “Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”
Begitu juga dalam surah As-Syura ayat 39, “Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.”
Sementara dalam surah Al-Nahl ayat 126 disebutkan, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.”
Membela Orang Tertindas
Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk segera membantu orang yang tertindas jika ada permintaannya. Terkadang ada kemungkinan seseorang tidak membantu orang yang tertindas karena takut pada penindasnya. Sedangkan dia tidak mempunyai kecenderungan terhadap penindas. Namun pemikiran seperti itu ditolak dalam Islam dan setiap Muslim perlu menanggapi seruan kaum tertindas. Dengan kata lain, seorang muslim sejati bukan saja tidak mempunyai kecenderungan menindas dan menindas, tapi juga bergegas menolong kaum tertindas.
Dalam ayat 38 dan 39 surah As-Syura, Allah menyebut ciri khas seorang Muslim adalah berdiri bersama melawan penindasan.
Ayat 75 surah An-Nisa dengan jelas menyebut bantuan kepada orang-orang tertindas sebagai kewajiban ilahi bagi orang-orang yang beriman, “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, ‘Ya Allah, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”
Dalam ayat 13 sampai 15 surah Ibrahim dan 39 dan 60 surah Hajj, Allah berbicara tentang pembelaan dan dukungannya di garis depan atas kaum tertindas melawan para agresor untuk menunjukkan bahwa membantu kaum tertindas dan berperang melawan para penindas berarti berada di barisan orang beriman. Dalam ayat 42 surat As-Syura, Allah memandang balas dendam kepada penindas sebagai hak yang sah dan pasti dari orang yang tertindas, dan mengingatkan bahwa jika orang yang tertindas melakukan tindakan untuk membalas dendam, maka ia tidak boleh disalahkan. Karena hak untuk membalas merupakan haknya. “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”
Al-Qur’an menekankan kemenangan akhir kaum tertindas dalam pertempuran global melawan penindasan dan penindas. Sekalipun dalam perjalanan ini dan sebelum mencapai kemenangan akhir, orang-orang merdeka dan tertindas gugur syahidr, mereka sebenarnya adalah pemenang akhir dan pahala mereka disimpan di tangan Allah.
Allah dalam surah Al-Imran ayat 169 berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”




























