Super User
Suasananya Iran malam2 terakhir ini
Sikap warga Iran terhadap serangan Israel dan AS
Pesan Haji Rahbar 1441 Hijriah
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam Pesan Haji 1441 H menekankan persatuan umat Islam melawan agresor Amerika Serikat dan rezim Zionis, serta kebutuhan untuk membantu Palestina yang tertindas, bersimpati dengan orang-orang Yaman yang tertindas dan keprihatinan terhadap umat Muslim yang tertindas di seluruh dunia.
Rahbar menyarankan para pemimpin negara-negara Muslim yang telah berteman dengan rezim Zionis demi keuntungan pribadinya supaya mengakhiri perilaku memalukan ini.
Ayatullah Khamenei juga mengingatkan tentang kehadiran AS di kawasan Asia Barat dengan mengatakan, "Kehadiran AS di Asia Barat merugikan negara-negara kawasan dan kita tahu penyebab ketidakamanan, kehancuran dan keterbelakangan mereka. Mengenai kondisi di Amerika Serikat saat ini dan gerakan anti-rasis di negara ini, posisi tegas kami berpihak terhadap rakyat dan mengutuk perilaku kejam pemerintahan rasis di negara ini".
Teks selengkapnya pesan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran sebagai berikut:
بسماللهالرحمنالرحیم
والحمدلله رب العالمین و صلی الله علی محمد و آله الطاهرین و صحبه المنتجبین
و من تَبِعَهُم باِحسانٍ الی یوم الدین
Musim Haji, yang selalu menjadi momentum untuk merasakan martabat, kebesaran dan keagungan dunia Islam, tahun ini mengalami kesedihan dari orang-orang beriman yang merasakan perpisahan dan kerinduan yang tak terbendung. Hati orang-orang yang merindukan Kabah, sambutan orang-orang yang tertinggal dari barisan peziarah bercampur dengan kerinduan dan deraian air mata.
Dengan karunia ilahi, keterpisahan ini jangka pendek dan tidak akan bertahan lama, tetapi pelajaran menghargai berkah besar haji harus tetap dipertahankan dan kita tidak boleh mengabaikannya. Rahasia kebesaran dan kekuatan umat Islam berada dalam pertemuan besar beragam orang-orang Mukmin di tempat suci Ka'bah dan makam Nabi Muhammad Saw serta para Imam Maksum di Baqi harus lebih terasa dan dipikirkan melebihi sebelumnya.
Haji adalah ibadah yang tak tertandingi. Laksana bunga di antara ratusan daun dari kewajiban dalam ajaran Islam. Sebab mencakup semua aspek dari individu maupun sosial, duniawi dan ukhrawi, serta historis dan universal dari agama Islam.
Spiritualitas ada di dalamnya, tetapi tanpa isolasi dan pengasingan diri. Ada komunitas di dalamnya, tetapi jauh dari konflik dan fitnah, maupun keburukan. Di satu sisi, kenikmatan spiritual dari doa dan munajat, serta zikir ilahi. Sedangkan di sisi lain, terdapat hubungan kesatuan dan ikatan komunikasi antara sesama manusia.
Haji dari satu aspek memiliki hubungan yang terjalin erat dengan sejarah; dengan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar, juga Rasulullah Saw ketika memasuki Masjidul Haram dengan penuh kemenangan, bersama orang-orang orang-orang generasi pertama yang masuk Islam.
Di sisi lain, melihat banyaknya orang-orang Mukmin sezaman yang berkumpul, masing-masing bisa menjadi pendukung bagi yang lain untuk bersama-sama saling bantu dalam ikatan agama Allah SWT.
Perenungan tentang fenomena haji membuat jemaah haji percaya bahwa banyak cita-cita dan aspirasi agama untuk kemanusiaan tidak akan membuahkan hasil tanpa solidaritas dan kerja sama dari umat beragamanya sendiri. Dengan solidaritas dan kerja sama ini, maka musuh tidak akan bisa menciptakan masalah signifikan di jalan ini.
Haji adalah latihan kekuatan melawan kekuatan arogan yang merupakan pusat kerusakan, penindasan, pelemahan dan penjarahan yang telah menumpahkan darah jiwa dan raga umat Islam dengan penindasan dan kedengkian mereka. Haji menampilkan kemampuan keras dan lunak umat Islam.
Ini adalah karakter haji sekaligus spirit haji yang menjadi bagian dari tujuan terpentingnya. Inilah yang disebut oleh Imam Khomeini Kabir sebagai Haji Ibrahimi. Jika Khadimul Haramain selaku pihak yang bertanggung jawab mengurusi haji berkomitmen dengan masalah ini daripada menyenangkan pemerintah AS, maka dengan ridha ilahi, masalah besar dunia Islam akan terpecahkan.
Ini adalah sifat haji dan semangat haji dan bagian dari tujuan terpenting haji. Alih-alih menyenangkan pemerintah AS, memilih kehendak Tuhan, itu dapat memecahkan masalah besar dunia Islam.
Hari ini, seperti biasanya dan juga sebelumnya, kemaslahatan umat Islam terletak pada persatuannya. Persatuan yang tercipta menghadapi ancaman dan permusuhan, melawan setan yang menjelma dalam bentuk agresor Amerika, dan rezim Zionis, juga keberanian menghadapi para penindas.
Inilah arti dari perintah ilahi dalam ayat-ayat al-Quran yang mengatakan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِیعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (QS. Ali Imran:103).
Al-Qur'an mengenalkan umat Islam dalam kerangka prinsip "Keras terhadap orang kafir" dan "kasih sayang terhadap sesama Muslim". Dari sini muncul tanggung jawab supaya kita:
وَلَا تَرْکَنُوا إِلَی الَّذِینَ ظَلَمُوا
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim (Qs. Hud:113)
وَلَن يَجْعَلَ اللَّـهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلً
Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.(QS.Nisa :141)
فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ
Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu (QS.Al Taubah:12)
لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّی وَعَدُوَّکُمْ أَوْلِیَاءَ
Janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia. (QS. Mumtahanah:1)
Sedangkan untuk musuh, ayat al-Quran menjelaskan:
لا یَنْهَاکُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِینَ لَمْ یُقَاتِلُوکُمْ فِی الدِّینِ وَلَمْ یُخْرِجُوکُم مِّن دِیَارِکُمْ.
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. (QS.Al Mumtahanah:8)
Perintah-perintah penting dan menentukan ini tidak boleh dipisahkan dari sistem nilai dan pemikiran umat Islam, dan kita sebagai Muslim jangan pernah melupakannya.
Hari ini, dasar perubahan mendasar ini telah tersedia lebih dari sebelumnya bagi umat dan para elit intelektual yang penuh belas kasih dan bijaksana. Saat ini, Kebangkitan Islam –yang bermakna perhatian para elit dan pemuda Muslim terhadap aset makrifat dan spiritual mereka– adalah fakta yang tidak bisa diingkari.
Hari ini, liberalisme dan komunisme –yang seratus tahun lalu dan lima puluh tahun lalu dianggap sebagai hadiah paling menonjol dari peradaban Barat– telah sepenuhnya lenyap dan kecacatannya yang tidak bisa disembuhkan, juga telah terungkap. Sistem yang didasarkan padanya adalah keruntuhan dan sistem yang didasarkan pada yang lainnya ini juga sedang mengalami krisis serius dan di ambang kehancuran. Hari ini, tidak hanya model budaya Barat –yang sejak awal muncul tanpa malu dan dengan skandal– yang menunjukkan inefisiensi dan korup, namun juga model politik dan ekonominya– yaitu demokrasi yang berporos pada uang dan kapitalisme bertingkat dan diskriminatif.
Hari ini, ada banyak elit intelektual di dunia Islam –yang dengan leher terangkat dan dengan bangga– mempertanyakan semua klaim pengetahuan dan peradaban Barat, dan mereka juga secara eksplisit menunjukkan alternatif-alternatif Islam. Hari ini, bahkan beberapa pemikir Barat, yang sebelumnya dengan bangga memperkenalkan liberalisme sebagai akhir sejarah, terpaksa menarik kembali klaim itu dan mengakui kebingungan teoretis dan praktisnya.
Dengan melihat (peristiwa di) jalan-jalan Amerika, perlakuan negarawan Amerika terhadap rakyatnya, kesenjangan sosial yang parah di negara ini, kehinaan dan kebodohan mereka yang telah dipilih untuk menjalankan pemerintahan, diskriminasi ras yang mengerikan di dalamnya, kekejaman polisi –yang membunuh seorang yang tidak melanggar hukum di jalan dengan darah dingin dan di depan mata orang-orang yang lewat– mengungkapkan kedalaman krisis moral dan sosial peradaban Barat dan penyimpangan serta ketidakabsahan filosofi politik dan ekonominya.
Perlakuan Amerika terhadap bangsa-bangsa lemah adalah versi yang diperbesar dari perilaku seorang polisi yang menekan leher seorang pria kulit hitam yang tak berdaya dengan lututnya dan menekannya dengan keras hingga meninggal dunia. Pemerintah-pemerintah Barat lainnya, masing-masing dengan tingkatannya sendiri, juga mencontohkan situasi bencana itu.
Haji Ibrahimi adalah fenomena agung Islam melawan jahiliah modern ini, yaitu undangan untuk Islam dan tampilan simbolis dari kehidupan masyarakat Islam. Sebuah masyarakat yang di dalamnya tanda terbaiknya adalah adanya orang-orang Mukmin yang hidup berdampingan dalam gerakan terus menerus dan dalam poros tauhid; menjauhi konflik, menghindari diskriminasi dan keistimewaan aristokrat, dan menjauhi korupsi, adalah kondisi yang diperlukan; melempari setan dan bara'ah (berlepas diri) dari kaum Musyrik, integrasi (berbaur) dengan orang-orang kurang mampu dan membantu orang miskin, serta menyuarakan syiar-syiar Ahlul Bait as adalah di antara tugas-tugas utama; dan mencapai kepentingan dan maslahat umum dengan mengingat Tuhan, bersyukur kepada-Nya dan penghambaan kepada-Nya, adalah tujuan tengah dan akhir.
Ini adalah pandangan sekilas tentang masyarakat Islam dalam cermin Haji Ibrahimi. Dan perbandingannya dengan realitas masyarakat Barat yang penuh klaim akan memenuhi hati setiap Muslim dengan antusiasme untuk berusaha dan berjuang mencapai masyarakat seperti itu.
Kami, rakyat Iran, di bawah bimbingan dan kepemimpinan Imam Khomeini Kabir, telah melangkah dengan antusiasme seperti itu dan kami berhasil. Kami tidak mengklaim bahwa kami telah mampu sepenuhnya mewujudkan apa-apa yang kami tahu dan kami cintai, tetapi kami mengklaim bahwa kami telah menempuh perjalanan panjang ini dan menghapus banyak hambatan. Berkat kepercayaan kepada janji-janji al-Quran, langkah kami tetap teguh. Bandit setan terbesar pada masa ini, yaitu rezim Amerika, tidak mampu menakut-nakuti kami atau mengalahkan kami dengan kelicikan dan tipuannya, atau menghentikan kemajuan materi dan spiritual kami.
Kami menganggap semua bangsa Muslim sebagai saudara kami, dan kami memperlakukan non-Muslim yang tidak masuk front musuh dengan kebaikan dan keadilan. Kami menganggap kesedihan, kesengsaraan dan penderitaan komunitas Muslim sebagai penderitaan kami, dan kami berusaha untuk menyembuhkannya (membantunya). Membantu rakyat Palestina yang tertindas, simpati dan kasih sayang kepada tubuh Yaman yang terluka, dan kepedulian kepada umat Islam yang tertindas di seluruh penjuru dunia merupakan upaya terus-menerus kami.
Kami menyampaikan pertimbangan kepada para pemimpin beberapa negara Muslim sebagai bagian dari tangung jawab kami; wahai para negarawan Muslim bersandarlah kepada sesama Muslim daripada berlindung di lengan musuh demi keuntungan pribadi selama sekian hari dengan menanggung penghinaan serta tekanan musuh, dan menjual martabat serta kemerdekaan negara mereka sendiri. Kami juga mengingatkan mereka yang menerima eksistensi rezim Zionis yang lalim, dengan mengulurkan persahabatan secara rahasia maupun terbuka mengenai konsekuensi getir dari perilakunya ini.
Kami memandang kehadiran AS di kawasan Asia Barat merugikan negara-negara di kawasan, karena menyebabkan ketidakamanan, kehancuran, dan ketertinggalan negara-negara tersebut. Dalam kasus Amerika Serikat saat ini dan gerakan anti-rasismenya, posisi kami yang kuat adalah mendukung perjuangan rakyat dan mengecam kekejaman pemerintah rasis AS terhadap rakyatnya sendiri.
Pada akhirnya, dengan salam dan shalawat kepada Imam Mahdi, pengorbanan Imam Khomeini dan syuhada, kami memohon kepada Allah SWT supaya umat Islam diberkahi haji yang Mabrur, aman, dan diterima dan diberkati dalam waktu dekat.
والسلام علی عباداللّه الصالحین
Sayid Ali Khamenei
Rabu, 29 Juli 2020
Ayatullah Hamadani Serukan Partisipasi Rakyat Peringati Kemenangan Revolusi Iran
salah seorang ulama marja taklid Iran Ayatullah Nouri Hamadani mengatakan bahwa komitmen rakyat dengan nilai-nilai Islam dan revolusioner adalah salah satu faktor penting dalam keberhasilan dan kelangsungan Revolusi Islam.
Dalam pernyataannya dihadapan ribuan santri Hauzah Ilmiah Qom Iran, Ayatullah Hossein Nouri Hamedani menyerukan kepada rakyat Iran dari seluruh negeri untuk meramaikan peringatan kemenangan revolusi Islam Iran yang ke-37 pada kamis 22 Bahman (bertepatan dengan 11 Februari) sebagai bentuk penegasan pernyataan kesetiaan kepada cita-cita Revolusi Islam dan Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran.
“Dengan kehadiran dan partisipasi semua lapisan masyarakat pada hari peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran ini dan menegaskan dukungannya akan menjadi pernyataan terbuka pada dunia, bahwa prinsip revolusi Islam dan apa yang diajarkan Imam Khomeini untuk melawan kekuasaan tirani masih tetap hidup sampai saat ini.” tegasnya,
Ayatullah Nouri Hamadani lebih lanjut menyebutkan bahwa partisipasi rakyat dalam karnaval peringatan kemenangan revolusi Islam akan menunjukkan persatuan bangsa dan kebesaran Republik Islam Iran yang akan merontokkan harapan musuh untuk mengkerdilkan Iran.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutuskan engkau (wahai Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.[21:107]
وَكَذَٰلِكَ أَنزَلْنَاهُ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَأَنَّ اللَّـهَ يَهْدِي مَن يُرِيدُ
Dan demikianlah pula Kami menurunkan Al-Quran itu sebagai ayat-ayat keterangan yang jelas nyata; dan sesungguhnya Allah memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut peraturan dan undang-undangNya).[22:16]
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا
(Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka) menurut ilmu Allah (adalah surga Firdaus) yaitu bagian tengah dan bagian teratas daripada surga. Idhafah di sini memberikan pengertian Bayan atau menjelaskan (menjadi tempat tinggal) tempat menetap mereka [18:107]
Wakil Rahbar untuk Urusan Haji dan Ziarah: Rahbar Tegaskan, Terlarang Mengarak Fotonya pada Momentum Arbain di Karbala
Hujjatul Islam wa Muslimin Sayid Ali Qadhi Askari, wakil Wali Faqih untuk urusan haji dan ziarah dalam pertemuan dengan para Muballigh Arbain Husaini kamis pagi [12/11] di Kantor Pusat Tablighat Islami berkata, “Arbain adalah tradisi keagamaan terbesar umat manusia yang tidak ditemukan ditempat lain, yang serupa sebagaimana yang terjadi di kota Karbala pada hari Arbain.”
Dalam pernyataan selanjutnya, ia berkata, “Dengan merujuk pada periwayatan yang ada, kita menemukan sejumlah riwayat yang beraneka ragam terkait dengan Arbain. Yang paling masyhur, adalah riwayat yang menyebutkan, melakukan ziarah Arbain adalah tanda-tanda dan bukti kesyiahan seseorang, dan termasuk diantara tanda-tanda orang yang beriman.”
Ia menambahkan, “Berkaitan dengan ziarah ke Karbala dalam kitab Kāmal al-Ziyārāt disebutkan, jika dikhawatirkan keselamatan jiwa dan harta terganggu dalam perjalanan ziarah, maka terlarang baginya untuk melakukan ziarah namun satu-satunya ziarah yang tetap diperbolehkan bagi Syiah untuk melakukannya meskipun dalam keadaan berbahaya, adalah ziarah ke makam Imam Husain As.”
Wakil Wali Faqih tersebut lebih lanjut menyinggung niat Mutawakkil, salah satu khalifah Dinasti Abbasiyah untuk menghancurkan makam Imam Husain As, ia berkata, “Makam Imam Husain As adalah tempat khusus untuk berkumpulnya para pecinta Ahlul Bait As dari seluruh dunia. Para musuh Islam tahu, bahwa berkumpulnya para pecinta tersebut bukan perkumpulan biasa. Ada sinyal-sinyal bahaya dan mengkhawatirkan dari pertemuan tersebut, yang dapat mengusik eksistensi dan kepentingan musuh. Karena itu mereka senantiasa berusaha untuk menghalangi para pecinta Ahlul Bait As untuk mendekati dan berziarah ke makam Imam Husain As, termasuk dengan cara berencana menghancurkan makam Imam Husain As.”
“Saddam mengetahui dengan pasti, budaya Asyura dan Arbain akan memberi pengaruh besar pada hati-hati umat Syiah, karena itu rezim Saddam Husain melarang pecintah Ahlul Bait untuk berziarah ke makam Imam Husain As karena itu dapat mengancam kekuasaannya.” tambahnya.
“Bagi kita sendiri, perkumpulan ini memiliki peran dan tujuan yang sangat penting. Pertemuan akbar ini akan memberi efek positif pada setiap masalah yang menimpa umat Islam, termasuk mencegah isu-isu perpecahan yang dihembuskan musuh untuk menghancurkan umat Islam.” tambahnya lagi.
Pada bagian lain penyampaiannya, Hujjatul Islam wa Muslimin Sayid Ali Qadhi Askari mengingatkan kepada para peziarah Arbain atas pesan dan penegasan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al Uzhma Sayid Ali Khamanei agar foto dan gambarnya tidak diarak dalam perjalanan dari Najaf ke Karbala pada momentum ziarah Arbain. Ia berkata, “Rahbar mengingatkan, agar dalam momentum Arbain benar-benar hanya dibatasi untuk hal-hal yang hanya berkaitan dengan Arbain saja. Pesan-pesan yang disampaikan adalah mengingatkan mengenai perjuangan Imam Husain As dan meningkatkan kecintaan kepada Allah Swt, Nabi-Nya dan para Aimmah As. Bukan ajakan untuk memberikan dukungan kepada Republik Islam Iran dan Wilayatul Faqih. Peziarah harus mengindari segala hal-hal yang dapat menyebabkan perpecahan. Karena itu, Rahbar menetapkan larangan foto dan gambarnya diarak dalam perjalanan ke Karbala.”
“Kewajiban kita adalah waspada dan berhati-hati, setiap hari harapan kita jumlah peziarah semakin membesar, karena itu harus bisa dicegah dan dihindari hal-hal buruk yang tidak diinginkan.” tambahnya.
“Tradisi jalan kaki ke Karbala pada momentum Arbain akan menjadi perhatian para turis dan dunia internasional. Mereka pasti akan bertanya-tanya, peristiwa apa yang telah terjadi dibalik dari Asyura dan Arbain ini. Hal inilah yang kemudian memancing mereka akan mencari tahu sendiri dan berupaya mengenal siapa itu Imam Husain As dan tragedi apa yang telah menimpanya.” lanjut Hujjatul Islam wa Muslimin Sayid Ali Qadhi Askari.
“Banyak kejadian menakjubkan yang terjadi pada momentum Arbain. Diantaranya adalah, kemiskinan dan kesulitan hidup rakyat Irak tidak menghalangi mereka untuk berkhidmat dan melayani peziarah dan segala keterbatasan yang mereka miliki. Misalnya karena tidak bisa menyajikan apa-apa, mereka siap memijat kaki para peziarah, dan tidak meminta imbalan apa-apa kecuali doa yang mereka harapkan dari peziarah.” tambahnya lagi.
Lanjutan pernyataannya Sayid Ali Qadhi Askari kembali menekankan agar dalam momentum Arbain, peziarah harus menghindari isu-isu politik yang dapat menimbulkan perpecahan dan kekacauan.
Ia juga mengingatkan bahwa Irak tidak memiliki banyak sumber daya untuk memberi pelayanan maksimal kepada para peziarah. Ia berkata, “Para peziarah harus paham dengan kondisi Irak. Keselamatan dan kenyamanan pribadi harus menjadi tanggunjawab sendiri. Jangan membayangkan segala sesuatunya telah disediakan oleh pemerintah Irak dan mereka yang berkhidmat, sehingga menganggap segala sesuatunya nyaman. Namun peziarah harus telah mempersiapkan diri untuk menemui masalah-masalah berat ditengah perjalanan. Persiapkanlah diri untuk bisa menghadapi masalah dan resiko seberat apapun yang akan ditemui di perjalanan.”
Hujjatul Islam Qadhi Askari melanjutkan pesannya, “Dalam peringatan Arbain ini, saudara kita dari Ahlus Sunnah juga melibatkan diri. Sebagaimana fatwa Rahbar, tidak diperkenankan sama sekali bagi peziarah untuk melakukan hal-hal yang bermuatan penghinaan dan pelecehan terhadap simbol-simbol dan keyakinan Ahlus Sunnah. Berdasarkan fatwa Rahbar dan mayoritas ulama marja taklid lainnya, itu haram hukumnya. Ingat, apapun yang kalian lakukan, itu bisa dengan mudah direkam oleh siapapun yang hadir mengingat hampir semua orang memiliki fasilitas gadget yang dapat mendokumentasikan itu. Karena itu, hindarilah melakukan hal-hal yang dapat memancing aksi-aksi teror dan kebencian.”
Pada bagian akhir penyampaiannya, Hujjatul Islam Qadhi Askari menegaskan kembali pesan Rahbar, “Bagi Rahbar, ziarah ke Karbala ini adalah sebuah keajaiban, seperti sebuah mukjizat, karena itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan pada tempatnya. Tentu kita berharap dan menghendaki, ketika insya Allah balik dari perjalanan ini, kita bisa membuat bibir Imam Husain As tersenyum, karena ridha dengan apa yang telah kita lakukan.”
Ayatullah Ali Khamanei dalam Pertemuan dengan Putin: Ketidakbecusan AS dalam Diplomasi, Membuat Kami Malas Mengajaknya Dialog
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamanei senin siang [23/11] menerima kunjungan tamunya, Presiden Rusia Vladimir Putin di ruang kerjanya di Teheran, ibu kota Iran. Ayatullah Khamanei dalam pertemuan tersebut mengatakan, “Kehadiran dan campur tangan AS di kawasan dalam jangka waktu yang cukup lama telah membawa bencana bagi banyak negara, khususnya Iran dan Rusia. Karena itu diperlukan kecerdasan dan kedekatan yang lebih erat antara Iran-Rusia untuk menggagalkan tujuan AS itu.”
Ayatullah al Uzhma Sayid Ali Khamanei dalam pertemuan yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut menyebut Putin sebagai tokoh yang paling berpengaruh di dunia saat ini, dan ia menyampaikan terimakasih kepada Presiden Rusia tersebut yang karena peran besarnya dalam perundingan di Jenewa, Iran mampu mendapatkan haknya untuk mengembangkan tekhnologi nuklir untuk perdamaian.
Ayatullah Ali Khamanei berkata, “Bisa dikatakan pertemuan Jenewa tersebut berhasil. Namun kami tetap tidak bisa memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Amerika Serikat. Terus terang, sikap politik AS selama ini memberi pengaruh pada keyakinan kami ini.”
“Kami berharap, antara Moskow dan Teheran ada ruang kerjasama yang semakin diperluas, khususnya dalam bidang ekonomi sehingga bisa semakin meningkatkan kemajuan antar dua negara.” tambahnya.
Ayatullah Ali Khamanei dalam pernyataannya selanjutnya menilai kerjasama antara Iran dan Rusia yang terjalin selama ini, khususnya dalam satu setengah tahun terakhir mengalami kemajuan yang pesat dan saling menguntungkan dalam berbagai bidang, utamanya politik, keamanan dan ekonomi. “Amerika Serikat selalu berupaya dengan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, namun anda telah menggagalkan berbagai konspirasi mereka.” ungkapnya.
Ayatullah Khamanei menyebutkan, ngototnya AS mendukung kejatuhan Bashar Asad, Presiden terpilih Suriah adalah kebijakan politik AS yang salah, bahkan menurutnya hal tersebut menunjukkan titik lemah Washington dalam berpolitik. “Presiden Suriah dipilih melalui jalur demokrasi yang sah. Mayoritas rakyat Suriah terlibat dalam pemilu, dan AS tidak punya hak untuk menolak dan tidak menghargai pilihan rakyat Suriah tersebut.” jelasnya.
“Mengenai masa depan Suriah dan jalan keluar yang harus ditempuh harus melalui kesepakatan antara rakyat Suriah dengan pemerintahnya.” tambahnya.
Menurut Rahbar, kesalahan fatal AS lainnya, adalah keterlibatan AS dalam mendanai dan mensupport baik secara langsung maupun tidak, ISIS dan kelompok teroris lainnya yang berambisi untuk menggulingkan Bashar Asad. Rahbar berkata, “Mendukung dan bekerjasama dengan teroris, yang tidak memiliki pengakuan dari masyarakat internasional menunjukkan ketidak becusan AS dalam berdiplomasi.”
“Oleh karena itu, kecuali dalam masalah penggunaan nuklir, Iran tidak pernah mengajak AS untuk berdialog dan bertukar pendapat, baik itu mengenai Suriah, maupun masalah lainnya, dan tidak akan pernah melakukannya, sebab tidak memberi manfaat apa-apa.” tegasnya.
Mengenai konflik Suriah, Ayatullah Khamanei berpendapat bahwa ISIS dan kelompok teroris lainnya harus mendapatkan perlawanan sengit dan tidak boleh dibiarkan. Ia berkata, “Jika teroris dibiarkan merajalela melakukan aksi-aksi terorismenya di Suriah dan tanpa perlawanan, maka mereka akan memperluas aksinya sampai ke Asia Tengah dan kawasan lainnya.”
Vladimir Putin dalam pernyataannya menanggapi perkataan Ayatullah Ali Khamanei menyampaikan rasa terimakasihnya kepada bangsa Iran dan menyebut kerjasama dengan Iran memberi banyak manfaat dan keuntungan bagi Rusia. “Kemajuan hubungan antar dua negara telah memberikan banyak manfaat baik dalam bidang tekhnologi, maupun dalam bidang keamanan.” ungkapnya.
Putin dalam lanjutan pernyataannya memuji Republik Islam Iran, sebagai negara yang merdeka, tangguh dan sangat maju. Ia berkata, “Iran adalah negara sekutu yang paling dapat dipercaya dikawasan maupun di dunia.”
Selanjutnya Putin membenarkan pesan Rahbar untuk berhati-hati bersikap terhadap Amerika Serikat. Ia berkata, “Negara yang mengaku paling demokratis di dunia, tidak punya hak sedikitpun untuk tidak sepakat dengan pemilihan di Suriah.”
Pada bagian akhir pertemuan yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut, Putin memberikan hadiah istimewa kepada Ayatullah Sayid Ali Khamanei yang diperkenalkannya sebagai mushaf Al-Qur’an tertua di Rusia. Rahbar Iran tersebutpun menerima hadiah tersebut dengan ucapan terimakasih.
Rahbar: Solusi Mengatasi Masalah Tidak Dengan Mengandalkan Bantuan Asing
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Ahad (25/5) pagi dalam pertemuan dengan Ketua dan para anggota parlemen Republik Islam Iran (Majles-e Shura Islami) menyatakan bahwa satu-satunya jalan untuk menghadapi kubu arogansi yang anti kemanusiaan adalah dengan meneruskan ide 'perlawanan' terhadap kubu tersebut.
Menyinggung tugas yang harus dilakukan parlemen dan pemerintah untuk menyusun program kerja keenam, beliau menyebutkan tiga prioritas penting yaitu 'ekonomi resistensi', 'penyebaran budaya revolusi dan agama' dan 'keberlanjutan proses pesat kemajuan ilmiah', seraya mengatakan, "Masalah ekonomi dan politik di negara ini tidak bisa diatasi dengan mengandalkan bantuan dari luar. Solusi sebenarnya ada di dalam negeri dengan memanfaatkan kapasitas dan potensi yang ada di dalam."
Dalam pembicaraanya, setelah menyampaikan ucapan belasungkawa atas peringatan syahadah Imam Musa al-Kadhim (as), Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan proses pembentukan pemerintahan Islam dan cara yang benar untuk mempertahankannya dengan mengedepankan prinsip 'ide perlawanan dan perjuangan'.
Beliau menandaskan, "Kemajuan yang dicapai Republik Islam Iran dan keberhasilannya melewati berbagai periode yang sulit dan menentukan dalam 35 tahun ini tercapai berkat perjuangan yang gigih, tulus, dan cerdas yang dipentaskan oleh bangsa Iran. Pemikiran ini harus dipertahankan dengan semua keistimewaan yang ada padanya."
Seraya menekankan bahwa tanpa ide perjuangan melawan arogansi cita-cita pemerintahan Islam yang luhur tidak mungkin bisa dicapai, beliau mengungkapkan, "Republik Islam Iran tidak berambisi untuk menyulut perang ketika menegaskan kelanjutan perjuangan. Tapi logika yang bijak mengajarkan bahwa untuk melewati daerah yang dipenuhi oleh penyamun, orang harus mempersenjatai diri dan punya tekad untuk membela diri."
Rahbar menambahkan, "Dunia saat ini dipenuhi oleh para penyamun yang siap mencabik-cabik kehormatan, harga diri dan norma-norma kemanusiaan. Para penyamun itu mempersenjatai diri dengan ilmu, kekayaan dan kekuatan serta memoles diri dengan wajah kemanusiaan sehingga mudah melakukan segala bentuk kejahatan, mengkhianati nilia-nilai kemanusiaan dan menyulut perang di berbagai belahan dunia."
Dalam kondisi seperti ini, lanjut beliau, tak ada pilihan lain kecuali melanjutkan perlawanan dan mengedepankan ide perjuangan dalam semua urusan negara, baik yang berhubungan dengan masalah internal maupun eksternal.
Menyinggung adanya pemikiran melunak menghadapi arogansi dengan mengemasnya dalam bentuk sebuah teori pemikiran, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Mereka yang mengusung dan menyebarkan pemikiran melunak seperti itu seraya menuduh pemerintahan Islam haus perang, sebenarnya justeru telah melakukan pengkhianatan."
Pemerintahan Islam, menurut beliau, adalah sistem insani yang menunjung tinggi kemuliaan, penghormatan dan harga diri kemanusiaan. Pemerintahan ini adalah sistem yang cinta damai dan kebaikan.
Mengenai pertanyaan sampai kapan ide perjuangan dan perlawanan ini akan terus dipertahankan, Ayatollah al-Udzma Khamenei menegaskan, "Perjuangan dan jihad ini tak mengenal kata akhir. Sebab, setan dan kubu setan selalu ada. Walaupun, terkadang dalam kondisi tertentu modus dan cara berjihad dan berjuang berbeda."
Jihad dan perjuangan ini, tambah beliau, akan berakhir ketika masyarakat manusia berhasil lepas dari cengkeraman dan kejahatan kubu arogansi khususnya Amerika Serikat (AS) yang mencekik tubuh, jiwa dan pemikiran umat manusia. Untuk bebas, diperlukan perjuangan yang sulit dan panjang serta langkah-langkah yang besar.
Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa setelah kemenangan revolusi Islam, Iran telah membentuk pemerintahan Islam yang salah satu buktinya sebagai pemerintahan berbasis kerakyatan adalah terbentuknya beberapa periode parlemen.
Menurut beliau, penamaan tahun ini yang mengusung ide 'manajemen jihadi' tidak hanya ditujukan kepada lembaga eksekutif saja tetapi juga meliputi parlemen. Untuk itu beliau mengingatkan para anggota parlemen untuk melakukan tugas legislasi dan pengawasannya dengan semangat jihad dan untuk mengabdi kepada rakyat.
Mengenai kesulitan ekonomi yang ada, Rahbar menyatakan dukungannya selalu kepada siapa saja yang menunjukkan kreativitas untuk ikut mengatasi masalah. Tapi beliau menegaskan bahwa solusinya bukan ada di luar sana melainkan di dalam negeri.
Beliau menyebut ekonomi resistensi sebagai jalan keluar mengatasi masalah ekonomi. "Ekonomi resistensi tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus dijalankan," seru beliau.
Untuk itu beliau mengimbau parlemen supaya memikirkan perundang-undangan yang bisa mendukung pelaksanaan ide ekonomi resistensi dan menghapuskan undang-undang yang menghalangi gerak langkah dalam masalah ini.
Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam pembicaraannya juga mengulas tentang program keenam negara yang juga harus meliputi soal penyebaran budaya revolusi dan keagamaan serta memikirkan kelanjutan proses pesat kemajuan sains dan keilmuan di Iran.
"Yang saya harapkan dari para anggota parlemen sebagai prajurit-prajurit revolusi adalah dukungan untuk memperluas budaya revolusi dan keislaman di tengah masyarakat," kata beliau.
Sebelum itu, Ketua Parlemen Ali Larijani dalam kata sambutannya menjelaskan kinerja dan kebijakan yang dijalankan oleh parlemen dalam berbagai masalah termasuk dalam mendukung Palestina, Suriah dan isu nuklir Iran.
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Ahad (25/5) pagi dalam pertemuan dengan Ketua dan para anggota parlemen Republik Islam Iran (Majles-e Shura Islami) menyatakan bahwa satu-satunya jalan untuk menghadapi kubu arogansi yang anti kemanusiaan adalah dengan meneruskan ide 'perlawanan' terhadap kubu tersebut.
Menyinggung tugas yang harus dilakukan parlemen dan pemerintah untuk menyusun program kerja keenam, beliau menyebutkan tiga prioritas penting yaitu 'ekonomi resistensi', 'penyebaran budaya revolusi dan agama' dan 'keberlanjutan proses pesat kemajuan ilmiah', seraya mengatakan, "Masalah ekonomi dan politik di negara ini tidak bisa diatasi dengan mengandalkan bantuan dari luar. Solusi sebenarnya ada di dalam negeri dengan memanfaatkan kapasitas dan potensi yang ada di dalam."
Dalam pembicaraanya, setelah menyampaikan ucapan belasungkawa atas peringatan syahadah Imam Musa al-Kadhim (as), Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan proses pembentukan pemerintahan Islam dan cara yang benar untuk mempertahankannya dengan mengedepankan prinsip 'ide perlawanan dan perjuangan'.
Beliau menandaskan, "Kemajuan yang dicapai Republik Islam Iran dan keberhasilannya melewati berbagai periode yang sulit dan menentukan dalam 35 tahun ini tercapai berkat perjuangan yang gigih, tulus, dan cerdas yang dipentaskan oleh bangsa Iran. Pemikiran ini harus dipertahankan dengan semua keistimewaan yang ada padanya."
Seraya menekankan bahwa tanpa ide perjuangan melawan arogansi cita-cita pemerintahan Islam yang luhur tidak mungkin bisa dicapai, beliau mengungkapkan, "Republik Islam Iran tidak berambisi untuk menyulut perang ketika menegaskan kelanjutan perjuangan. Tapi logika yang bijak mengajarkan bahwa untuk melewati daerah yang dipenuhi oleh penyamun, orang harus mempersenjatai diri dan punya tekad untuk membela diri."
Rahbar menambahkan, "Dunia saat ini dipenuhi oleh para penyamun yang siap mencabik-cabik kehormatan, harga diri dan norma-norma kemanusiaan. Para penyamun itu mempersenjatai diri dengan ilmu, kekayaan dan kekuatan serta memoles diri dengan wajah kemanusiaan sehingga mudah melakukan segala bentuk kejahatan, mengkhianati nilia-nilai kemanusiaan dan menyulut perang di berbagai belahan dunia."
Dalam kondisi seperti ini, lanjut beliau, tak ada pilihan lain kecuali melanjutkan perlawanan dan mengedepankan ide perjuangan dalam semua urusan negara, baik yang berhubungan dengan masalah internal maupun eksternal.
Menyinggung adanya pemikiran melunak menghadapi arogansi dengan mengemasnya dalam bentuk sebuah teori pemikiran, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Mereka yang mengusung dan menyebarkan pemikiran melunak seperti itu seraya menuduh pemerintahan Islam haus perang, sebenarnya justeru telah melakukan pengkhianatan."
Pemerintahan Islam, menurut beliau, adalah sistem insani yang menunjung tinggi kemuliaan, penghormatan dan harga diri kemanusiaan. Pemerintahan ini adalah sistem yang cinta damai dan kebaikan.
Mengenai pertanyaan sampai kapan ide perjuangan dan perlawanan ini akan terus dipertahankan, Ayatollah al-Udzma Khamenei menegaskan, "Perjuangan dan jihad ini tak mengenal kata akhir. Sebab, setan dan kubu setan selalu ada. Walaupun, terkadang dalam kondisi tertentu modus dan cara berjihad dan berjuang berbeda."
Jihad dan perjuangan ini, tambah beliau, akan berakhir ketika masyarakat manusia berhasil lepas dari cengkeraman dan kejahatan kubu arogansi khususnya Amerika Serikat (AS) yang mencekik tubuh, jiwa dan pemikiran umat manusia. Untuk bebas, diperlukan perjuangan yang sulit dan panjang serta langkah-langkah yang besar.
Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa setelah kemenangan revolusi Islam, Iran telah membentuk pemerintahan Islam yang salah satu buktinya sebagai pemerintahan berbasis kerakyatan adalah terbentuknya beberapa periode parlemen.
Menurut beliau, penamaan tahun ini yang mengusung ide 'manajemen jihadi' tidak hanya ditujukan kepada lembaga eksekutif saja tetapi juga meliputi parlemen. Untuk itu beliau mengingatkan para anggota parlemen untuk melakukan tugas legislasi dan pengawasannya dengan semangat jihad dan untuk mengabdi kepada rakyat.
Mengenai kesulitan ekonomi yang ada, Rahbar menyatakan dukungannya selalu kepada siapa saja yang menunjukkan kreativitas untuk ikut mengatasi masalah. Tapi beliau menegaskan bahwa solusinya bukan ada di luar sana melainkan di dalam negeri.
Beliau menyebut ekonomi resistensi sebagai jalan keluar mengatasi masalah ekonomi. "Ekonomi resistensi tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus dijalankan," seru beliau.
Untuk itu beliau mengimbau parlemen supaya memikirkan perundang-undangan yang bisa mendukung pelaksanaan ide ekonomi resistensi dan menghapuskan undang-undang yang menghalangi gerak langkah dalam masalah ini.
Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam pembicaraannya juga mengulas tentang program keenam negara yang juga harus meliputi soal penyebaran budaya revolusi dan keagamaan serta memikirkan kelanjutan proses pesat kemajuan sains dan keilmuan di Iran.
"Yang saya harapkan dari para anggota parlemen sebagai prajurit-prajurit revolusi adalah dukungan untuk memperluas budaya revolusi dan keislaman di tengah masyarakat," kata beliau.
Sebelum itu, Ketua Parlemen Ali Larijani dalam kata sambutannya menjelaskan kinerja dan kebijakan yang dijalankan oleh parlemen dalam berbagai masalah termasuk dalam mendukung Palestina, Suriah dan isu nuklir Iran.
- Awal
- Sebelumnya
- 1
- 2(current)
- 3(current)
- Berikutnya(current)
- Akhir(current)




























