Rahasia Keabadian Asyura (5)

Rate this item
(0 votes)
Rahasia Keabadian Asyura (5)

 

Salah satu ciri paling mendasar dari para Nabi Allah adalah penentangan dan perlawanannya terhadap penindasan dan berupaya menegakkan keadilan. Oleh karena itu, para Nabi mengemban misi membangun sistem yang adil di muka bumi.

Berdasarkan al-Quran dan sejarah, Nabi Ibrahim adalah pengibar panji tauhid, Nabi Musa berhadapan dengan pemerintahan lalim Firaun, Nabi Isa menghadapi penguasa haus darah di Roma, dan para Nabi lainnya bertempur melawan para penguasa tiran yang despotik. Tujuan dari semua Nabi adalah untuk membebaskan bangsa-bangsa yang tertindas dari perbudakan untuk menghidupkan kembali spirit pembebasan dan kemerdekaan serta keadilan.

Imam Ali bin Abi Thalib yang dibesarkan dalam naungan Nabi Muhammad Saw menjelaskan tentang peran tauhid yang mencerahkan dan membebaskan, dengan mengatakan, "Sesungguhnya Allah swt mengutus Muhammad Saw untuk membebaskan manusia dari perbudakan dan penghambaan (kekuasaan dan kekayaan) menuju penyembahan dan pengabdian kepada Tuhan. Mengeluarkan manusia dari perjanjian (kehinaan dan perbudakan) menuju perjanjian (kehormatan ilahi) dan membebaskan dari ketaatan buta dan tunduk tanpa kesadaran menjadi penerimaan terhadap keesaan Tuhan dan membebaskannya dari ketergantungan terhadap selain-Nya. "

Ketauhidan yang diusung para Nabi dan aulia Allah secara subtansial mengajak manusia menuju pembebasan dari segala bentuk belenggu keterikatan kepada selain Allah swt, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran surat Al-Araf ayat 157 sebagai berikut, "....menghilangkan dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada padanya. Maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung,". 

Melanjutkan perjuangan ilahi, Imam Hussein Ibn Ali yang terinspirasi dari ajaran Islam bangkit melawan penindasan yang dilakukan Bani Umayyah. Ketika melihat Yazid sedang berusaha untuk mengambil baiat darinya dengan ancaman, Imam Husein tidak tinggal diam menyaksikan meningkatnya penindasan yang dilakukan dinasti Abu Sufyan yang merusak nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, Hussein bin Ali menggunakan semua kesempatan untuk mengungkapkan kebenaran kepada masyarakat, meskipun harus ditebus dengan darahnya sendiri.

Ketika melihat pasukan Hurr di depannya, Imam Husein berbicara kepada mereka dengan mengatakan, "Wahai manusia, Nabi Muhamamad Saw pernah mengungkapkan barang siapa yang melihat penguasa lalim mengharamkan yang dihalakan oleh Allah swt, melanggar aturan-Nya dan bertindak bertentangan dengan jalan Rasullah Saw, serta melakukan dosa dan penindasan terhadap orang lain, tetapi kalian tetap diam dan tidak perduli, maupun tidak bertindak atau berbicara menentangnya; maka Tuhan akan menempatkan kalian sama dengan posisi penguasa tiran (di neraka),".

Hussein bin Ali melanjutkan kata-katanya yang mencerahkan dengan menunjukkan beberapa penyimpangan yang dilakukan Bani Umayah. Beliau berkata, "Sadarlah, lihatlah mereka yang mengikuti jalan setan dan menjadikan ketaatan terhadap dirinya sebagai kewajiban bagi orang lain, menolak untuk menaati aturan ilahi, menampakkan kerusakan di depan publik, aturan Allah ditiadakan dan menjadikan harta pampasan perang dan kekayaan umum menjadi milik pribadi, mengharamkan yang sudah dihalalkan Allah, maupun sebaliknya. dengan semua sifat ini, apakah aku tidak layak untuk menggantikan mereka memimpin umat ?" 

Meskipun Imam Husein sudah menyampaikan pencerahan mengenai kondisi yang ada saat itu, tapi ribuan orang yang jemu dengan tirani Bani Umayah dan dua belas ribu orang yang mengirim surat kepada Imam Hussein supaya bangkit melawan Yazid, pada akhirnya hanya sedikit yang benar-benar bersama Imam Hussein melawan pemerintahan lalim.

Sebagian besar orang yang mengirim surat kepada Imam Husein tersebut mengingkari janjinya dan takut terhadap Yazid maupun ancaman Ubaidillah dengan melepaskan tanggung jawabnya dan meninggalkan Imam Hussein bersama sejumlah kecil pasukannya di padang Karbala. 

Imam Hussein menjelaskan penyebab bencana ini dalam salah satu perkataannya, "Orang yang menjadi budak dunia (dan terpesona oleh kemegahannya) dan agama sebagai bahasa mereka (mereka berpura-pura menjadi religius) yang beragama selama menguntungkan kepentingannya dan memenuhi mata pencahariannya. Ketika menghadapi bencana, maka orang-orang yang beriman akan berkurang".

Faktanya, agama menjadi ancaman utama para pemuja dunia karena dianggap mengancam keberlangsungan penindasan yang mereka. Mereka yang mendukung penguasa otoriter dengan sikap diam, ketidakpedulian, dan kurangnya dukungan terhadap pemimpin sejati dan merakyat, sama saja dengan ikut serta dalam semua penindasan dan kejahatan yang dilakukan oleh para penindas, karena merekalah yang memperkuat dan melanggengkan fondasi para penguasanya yang brutal dan kejam. Imam Sadiq berkata, "Jika Bani Umayyah tidak dibantu oleh masyarakat sendiri ...,maka mereka tidak akan pernah bisa merebut hak kepemimpinan ilahiah kami,".

Oleh karena itu, jika orang-orang Kufah, yang menulis dua belas ribu surat kepada Imam Hussein, tidak mengkhianati beliau, apakah tragedi Asyura akan terjadi?

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa para penindas dan yang tertindas sama-sama masuk ke dalam api neraka yang membakarnya. Penindas masuk neraka karena dia melakukan penindasan dan kejahatan. Sedangkan yang tertindas karena dia datang untuk mendukung penindas dan membantunya. Faktanya, akar dari semua penyimpangan, pelanggaran perjanjian, pengkhianatan dan kejahatan adalah kurangnya ketaatan terhadap dua prinsip dasar yaitu tauhid dan hari akhirat.

Berkaitan dengan masalah ini, Imam  Ali mengatakan, "Demi Tuhan, lebih baik aku berada di atas ranting-ranting dari pagi hingga malam hari dan lumpur yang kotor di dunia ini daripada di hari kiamat kelak harus mempertanggungjawabkan penindasan kepada hamba Allah selama di dunia. Bagaimana aku bisa melakukan kelaliman padahal tubuh ini akan hancur di telan tanah?" 

Imam Hussein yang dibesarkan dalam bimbingan Nabawi bangkit melawan Bani Umayyah dengan mengatakan, "Tidakkah kamu melihat bahwa bagimana kebenaran tidak ditegakkan, dan yang salah tidak dilarang? Apakah engkau mengingkari pertemuan dengan Tuhanmu,".

Beliau menegaskan, "Sungguh, aku tidak melihat kematian (kesyahidan di jalan Tuhan) kecuali kebahagiaan, dan  kehidupan di bawah bayang-bayang penindas  sebagai kesengsaraaan.

Read 46 times

Add comment


Security code
Refresh