Persatuan dalam Lisan Nabi Pengasih dan Imam Mahdi

Rate this item
(0 votes)
Persatuan dalam Lisan Nabi Pengasih dan Imam Mahdi

 

Baik mazhab Syiah maupun Ahli Sunnah sepakat tentang munculnya sosok yang mulia dan berkedudukan tinggi dari keturunan Rasulullah di akhir zaman dan dia akan menegakkan pemerintahan Islam yang adil di seluruh dunia. Pembaharu ilahi terakhir dapat menjadi pusat persatuan dan solidaritas dunia Islam.

Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Tuhan Muhammad Saw. Dia, Zat yang memberkati kami dan memperkenalkan Nabi-Nya kepada kami dan menurunkan Al-Quran kepadanya untuk menjadi petunjuk bagi semua orang.

Salam kepada umat Islam sedunia, salam kepada seluruh pecinta Nabi Muhammad Saw dan salam kepada Anda yang dalam beberapa hari ini, berkat rahmat Allah yang besar, kelahiran pamungkas para nabi yang diberkati, Anda telah menempatkan semboyan persatuan di puncak pekerjaanmu dan menaati perintah Allah dalam menghindari perpecahan. Selamat atas hari lahirmu wahai Nabi, penutup para nabi dan utusan rahmat dan kasih sayang.


Lima ratus tujuh puluh tahun setelah kelahiran Kristus, pada tanggal 17 Rabiul Awal, tahun yang disebut "Tahun Gajah", dunia melihat kejadian-kejadian aneh. Semua berhala jatuh tertelungkup dan dihancurkan. Istana raja Sasania, yaitu Taq Kasra, bergetar dan empat belas tiang penyanggahnya runtuh, danau tempat para penyembah api berkumpul selama bertahun-tahun mengering, dan sungai-sungai yang belum pernah terlihat air mengalir, akhirnya air sungai mengalir di sana. Kuil Api Fars, yang telah menjaga apinya tetap menyala selama seribu tahun, menjadi padam dan seberkas cahaya muncul dari sisi Hijaz, yang menyebar ke seluruh dunia.

Dunia menjadi cerah dan setan-setan ketakutan. Sihir para penyihir menjadi tidak berlaku dan pengetahuan para dukun berubah menjadi kebodohan dan tidak ada raja yang dapat berbicara pada hari itu. Selain penduduk bumi, para penduduk langit juga menciptakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan perintah Allah, mereka mengusir setan dari tujuh langit dan melarang mereka mendengar berita surga. Pada hari ini, semua makhluk bumi dan langit, dari malaikat hingga hewan darat dan laut, bahkan pohon, batu dan bongkahan, memuliakan Allah dan bersukacita. Pada saat inilah manusia langka menginjak bumi dan ciptaan terbaik, pemimpin para nabi dan orang-orang kudus, Muhammad bin Abdullah lahir, semoga damai dan berkah Allah besertanya.

Allah membuatnya dicintai di antara manusia dan melindunginya dari serangan musuh sampai ia mencapai kesempurnaan dan mencapai usia empat puluh, kemudian Allah menurunkan pengetahuan tentang kedua alam dari Lauh Mahfuzh-Nya di hatinya dan memerintahkannya untuk melakukan apa yang telah diterimanya ke telinga makhluk hidupa. Nabi harus mengungkapkan kebenaran dunia dan jalan menuju kebahagiaan kepada semua orang, dan dia melakukannya tanpa gagal.

Dengan mensyukuri nikmat yang Allah diberikan kepada hamba-hamba-Nya dan menyempurnakannya melalui kehadiran para Imam Suci, kita telah bersukacita bersama dengan penduduk dunia dan langit selama beberapa hari dan kita mencoba untuk mengetahui berkah besar ini dengan lebih baik. Untuk dapat menunaikan terima kasih atas pemberian nikmat Allah sebagaimana mestinya, perlu diketahui terlebih dahulu nikmat tersebut. Pengetahuan tentang nikmat besar ini tergantung pada pengetahuan Islam yang benar. Islam memiliki prinsip dan sub-prinsip, yang kesemuanya wajib diketahui oleh umat Islam, tetapi dalam beberapa hadis yang diturunkan dari Nabi Muhammad Saw dan para Imam Suci, beberapa elemen ini telah diperkenalkan sebagai rukun Islam.

Beberapa sumber Ahli Sunnah mengatakan bahwa Nabi Islam menganggap lima hal sebagai dasar Islam; Tauhid, Kenabian, Shalat, Zakat, Haji dan Puasa Ramadhan. Syaikh Kulaini, salah satu ulama Syiah terbesar, telah mengutip dari Imam Baqir as bahwa Islam didasarkan pada lima hal; Shalat, Zakat, Puasa, Haji dan Wilayah, dan keutamaan Wilayat lebih dari segalanya. Imam Shadiq as menyebut bersaksi akan keesaan Allah, percaya pada kenabian Nabi Saw dan mengakui kebenaran dari apa yang dia bawa dari Allah, membayar zakat dan menerima perwalian keluarga Muhammad Saw di antara hal-hal yang tanpanya, agama tidak ada yang diterima.


Dalam Al-Quran, Allah SWT menganggap kohesi dan persatuan sebagai penyebab pemuliaan dan perpecahan sebagai penyebab degradasi. Oleh karena itu, dalam ajaran Al-Quran, persatuan Islam adalah salah satu kewajiban yang paling penting. Dalam ayat 103 Surah Al-Imran, Allah berfirman, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." Allah menyeru umat Islam untuk bersatu dan Dia melarang perpecahan. Dalam ayat ini, persaudaraan antarumat Islam dianggap sebagai hal yang diinginkan dan berkah dari Allah, tetapi perpecahan dan permusuhan adalah dosa yang tidak boleh dilakukan oleh umat Islam.

Masyarakat Islam memiliki ketiga komponen pemersatu dalam dirinya sendiri. Tujuan dan keyakinan bersama semua Muslim. Pembentukan kata tauhid di tingkat dunia, dan mereka semua, Syiah dan Sunni, setuju bahwa Al-Quran adalah rencana dan kebijakan untuk mencapai tujuan ini, dan yang paling penting, bahwa semua Muslim menganggap Nabi Muhammad Saw sebagai pemandu dan pemimpin mereka. Mereka menerima atas dasar ini, persatuan umat Islam selalu diperhatikan oleh para tokoh Syiah dan ulama Sunni.

Nabi Islam selalu memerintahkan persatuan dan persaudaraan umat Islam. Dia mengatakan, "Taatilah para penguasa ilahi dan dengarkan perintahnya karena ketaatan pada kepemimpinan adalah sumber persatuan umat Islam." Menurutnya, orang-orang beriman harus seperti tiang satu sama lain, yang memberi kekuatan satu sama lain. Mereka menganggap persatuan sebagai sumber rahmat Allah dan perpecahan sebagai sumber hukuman ilahi.


Menurut Imam Ali as, kedudukan pemimpin dalam masyarakat Islam ibarat tali yang menghubungkan benih-benih tersebut. Mereka mengingatkan kaum muslimin tentang kondisi Bani Israil dan berkata, “Lihatlah bagaimana Bani Israil dulu, ketika umat berkumpul, pikiran bersama dan hati sama, tangan saling membantu dan pedang saling membantu, visi mereka dalam dan keputusan mereka adalah satu, bukankah mereka memiliki kota-kota besar di sekitar bumi dan bukankah mereka menguasai seluruh dunia?

Maka lihatlah akhir pekerjaan mereka, ketika ada perbedaan di antara mereka dan kebaikan dan kasih sayang berbenturan, kata dan hati berbeda, mereka menjadi kelompok dan jatuh ke kehidupan satu sama lain, berserakan dan saling berperang, kemudian Allah melepas pakaian kemuliaan dari mereka dan mengambil limpahan berkah-Nya dari mereka, dan yang tersisa adalah sejarah mereka untuk dijadikan pelajaran bagi mereka yang mengambil pelajaran.

Yang diingatkan oleh semua nabi dan wali adalah sunnah dari Sunnatullah yang telah dijanjikan Allah dalam ayat 43 Surar Fatir bahwa tidak akan ada perubahan di dalam Sunnatullah.

"Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu."

Merujuk pada Sunnatullah yang sama, Nabi Muhammad Saw juga berkata, "Jangan berselisih, mereka yang sebelum kamu berselisih telah binasa." Oleh karena itu, setiap muslim yang menginginkan kehormatan dan kebanggaan Islam harus berpegang teguh pada kesatuan dan prinsip-prinsipnya. Isu persatuan begitu penting sehingga Nabi Saw menganggap menghindarinya sebagai alasan untuk meninggalkan Islam. Nabi bersabda, "Siapa pun yang menjauh dari komunitas Muslim, Allah akan menghapus rantai Muslim dari lehernya." Oleh karenanya, mari mensyukuri nikmat Islam dengan menjaga persatuan dan empati serta menghindari perpecahan dan faksi serta membuat hati Nabi Muhammad Saw bahagia, sebagaimana Allah membuat seluruh dunia bahagia dengan menciptakannya.

Al-Quran telah dengan jelas menyebutkan penyebaran Islam dan leliasaam orang-orang baik di seluruh planet ini. Juga, ada banyak hadits dari Nabi Muhammad dan keluarganya tentang kepribadian luar biasa dari Imam Mahdi af sebagai penyelamat akhir zaman, di mana benar tentang kegaiban dan kebangkitannya serta pemerintahan globalnya. Dalam salah satu dari banyak hadits yang Nabi Saw sebutkan tentang dia, Nabi menggambarkannya sebagai berikut, "Seorang pria dari keluargaku akan bangkit (di akhir zaman) yang namanya sama dengan namaku dan akhlaknya seperti akhlakku, dan dia akan memenuhi dunia dengan keadilan."

Ahmad bin Hanbal, salah seorang Imam Sunni, juga membawa hadis dari Rasulullah, “Jika hanya tersisa satu hari dalam kehidupan dunia, Allah pasti akan membangkitkan seseorang dari keluarga kita pada hari itu, dan dia akan memenuhi dunia dengan keadilan, sebagaimana itu penuh dengan kekejaman." Oleh karena itu, berdasarkan ajaran Al-Quran dan hadis Nabi, semua umat Islam dapat memilih wali terakhir Allah, Imam Mahdi af sebagai pusat persatuan dan empati mereka.

Satu-satunya perbedaan pendapat dalam hal ini adalah bahwa kaum Syiah percaya bahwa ia dilahirkan dan berada dalam tabir okultisme atas kehendak Allah dan muncul atas perintahnya. Sementara mayoritas ulama Sunni percaya bahwa Imam Mahdi belum lahir. Dengan uraian ini, kedua kelompok sama meyakini tentang munculnya sosok yang mulia dan berkedudukan tinggi dari keturunan Rasulullah di akhir zaman dan tegaknya pemerintahan Islam yang adil olehnya di seluruh dunia. Mereka setuju dan pembaharu ilahi terakhir dan cita-cita ketuhanannya dapat menjadi pusat persatuan dan solidaritas dunia Islam.

Read 402 times