Faktor-Faktor Strategis Apa yang Picu Kekalahan Israel di Operasi Badai Al Aqsa?

Rate this item
(0 votes)
Faktor-Faktor Strategis Apa yang Picu Kekalahan Israel di Operasi Badai Al Aqsa?

 

Sebagaimana diketahui, Rezim Zionis, dengan dalih menjaga keamanan komunitas Yahudi dunia, berusaha terus mendatangkan orang-orang Yahudi, ke Wilayah pendudukan.

Akan tetapi pukulan yang diterima Rezim Zionis, dalam operasi Badai Al Aqsa, dari kelompok perlawanan, telah menunjukkan keroposnya proyek Zionis, dan menyebabkan Israel, kehilangan daya tarik di mata orang-orang Zionis.
 
Al-Zaytouna Centre, dalam salah satu laporannya mengulas faktor-faktor strategis yang menyebabkan kekalahan Rezim Zionis dalam operasi Badai Al Aqsa.
 
“Kekalahan Israel, dalam operasi Badai Al Aqsa, telah meruntuhkan teori keamanan Israel, yang bertumpu pada pencegahan dan peringatan cepat serta menuntaskan perang dengan harapan kemenangan Rezim Zionis,” tulisnya.
 
Pada kenyataannya, operasi Badai Al Aqsa, telah memupus ide “Palestina adalah tempat yang aman bagi orang-orang Yahudi.”
 
Keamanan dalam pandangan Rezim Zionis adalah pilar asasi, dan rezim itu dengan dalih menjaga keamanan komunitas Yahudi dunia, berusaha mendatangkan orang-orang Yahudi, ke Wilayah pendudukan.
 
Akan tetapi pukulan yang diterima oleh Rezim Zionis, dari kelompok perlawanan Palestina, dalam operasi Badai Al Aqsa, bahkan telah mendorong para pemukim Zionis untuk melarikan diri dari Wilayah pendudukan.
 
“Kekalahan Israel, dalam menghadapi perlawanan Palestina, telah menghilangkan peran efektif Rezim Zionis, dalam menjalankan kebijakan Barat dan Amerika Serikat di kawasan. Di satu sisi proyek-proyek normalisasi hubungan menelan kekalahan telak, dan wajah brutal Rezim Zionis telah menghentikan kecenderungan rezim-rezim berkuasa pada normalisasi,” paparnya.
 
Operasi Badai Al Aqsa, telah menciptakan keraguan atas eksistensi Rezim Zionis di masa depan, maka dari itu banyak orang Zionis, termasuk mantan Menteri Perang Israel, Yoav Gallant, menganggap perang Gaza sebagai perang eksistensi bagi Israel.
 
Tapi di sisi lain, capaian besar Badai Al Aqsa, telah menginspirasi bangsa-bangsa Arab, dan umat Islam, bahwa Wilayah pendudukan bisa dibebaskan, dan banyak masyarakat yang menyadari rapuhnya kedigdayaan Rezim Zionis.
 
Al-Zaytouna Center, menulis, “Operasi Badai Al Aqsa, sekali lagi mengembalikan Masjid Al Aqsa dan Al Quds menjadi prioritas dalam opini publik Palestina, Arab, dan Islam. Operasi ini telah memperkuat legalitas perlawanan bersenjata dalam menghadapi penjajahan, dan menjadikannya sebagai instrumen efektif untuk menegakkan hak-hak bangsa Palestina, dan menegaskan kekalahan strategi-strategi normalisasi hubungan dengan Israel.”
 
Sehubungan dengan ini, serangan brutal Rezim Zionis ke Gaza, telah mengubah rezim ini menjadi rezim yang dibenci dan dikucilkan di seluruh dunia, di saat yang sama telah memperkuat lingkaran dukungan atas Palestina, dan perlawanan di tengah bangsa-bangsa dunia terutama kaum muda, mahasiswa, serta masyarakat Barat secara umum.
 
Rezim Zionis, memulai perang terhadap rakyat Palestina, dengan tujuan memusnahkan total Hamas, dan membebaskan para tawanan Zionis di Jalur Gaza, pada 7 Oktober 2023, dengan dukungan penuh pemerintah AS.
 
Akan tetapi setelah kejahatan dan genosida terhadap rakyat Palestina, pemboman rumah sakit dan sekolah, penghancuran infrastruktur Jalur Gaza, berlangsung 15 bulan, Rezim Zionis tak berhasil mencapai tujuan-tujuannya, dan terpaksa menyepakati gencatan senjata, serta dimulainya proses pembebasan tawanan melalui pertukaran tahanan dengan Perlawanan Palestina. 

Read 21 times