کمالوندی

کمالوندی

 

Sebelumnya telah dijelaskan tentang substansi hukum-politik dari referendum nasional di Palestina, dan sekarang akan diulas tentang substansi kemanusiaan program referendum nasional di Palestina yang digagas Iran.

Republik Islam Iran sudah menyampaikan strateginya untuk Palestina dengan nama Referendum Nasional di Palestina. Strategi ini memiliki dua bagian. Bagian pertama adalah perlawanan dalam menghadapi ekspansionisme, dan kejahatan rezim Zionis Israel, selama eksistensi politik Israel belum berakhir.
 
Bagian kedua adalah penentuan nasib Palestina oleh rakyatnya sendiri. Kenyataannya program referendum adalah penyempurna perlawanan untuk merebut hak bangsa tertindas Palestina yang dirampas. Referendum pada hakikatnya mengandung sebuah konsep luhur di dalamnya. Referendum sebenarnya adalah indikator kemanusiaan yang luhur dan Ketuhanan sebagai kelanjutan dari perlawanan, dan realitasnya akan menyempurkan seluruh proses.  
 
Wakil Hamas di Iran, Khaled Al Qaddoumi menjustifikasi secara penuh program referendum, dan menekankan berlanjutnya perlawanan bersenjata serta perlindungan terhadap penduduk Al Quds. Menurutnya, Iran adalah pendukung terpenting perlawanan Palestina, dan hal ini diketahui oleh semua orang. Program Iran dari sisi moral dan hak kemanusiaan juga dibenarkan oleh Hamas, akan tetapi harus diketahui ia menegaskan prinsip demoksrasi dan hak asasi manusia, tidak hanya sekadar retorika seperti yang dilakukan para pejabat negara-negara Barat.
 
Oleh karena itu, rakyat Palestina bersikeras menggunakan opsi perlawanan sampai kemerdekaan penuh. Pasalnya, perlawanan terhadap penjajahan rezim Zionis adalah hak pasti rakyat Palestina, dan kelompok perlawanan. Di sisi lain perlawanan rakyat Palestina juga memperhatikan dimensi politik, diplomatik, dan media. Alasan dukungan terhadap program yang digagas Iran adalah rekam jejak Republik Islam dalam membela hak legal rakyat tertindas Palestina, dan kelompok-kelompok perlawanan. 
 
Iran percaya, Palestina akan merdeka dengan perlawanan, bukan dengan proyek-proyek politik. Prinsip ideologis dan kenyataan di lapangan menegaskan pandangan Iran ini. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei juga meyakini bahwa perlawanan memiliki akar dalam ajaran agama dan Al Quran.
 
Program referendum sebagai sebuah program hukum-politik dipilih untuk memperkuat perlindungan dan perlawanan sehingga berbagai gerakan konservatif yang lebih mengedepankan perundingan dan penyelesaian politik atas masalah pendudukan Palestina, akan menyadari standar ganda yang digunakan Barat dalam masalah Palestina, dan mereka pada akhirnya memahami bahwa tidak ada jalan lain selain perlawanan.
 
Dari sini program referendum yang digagas Iran diposisikan untuk memperkuat perlawanan, bukan untuk melemahkannya. Proyek Kesepakatan Abraham sepenuhnya membuktikan bahwa Amerika Serikat membuka kesempatan seluas-luasnya bagi Israel untuk melakukan berbagai kejahatan dan pelanggaran terhadap aturan internasional, bahkan resolusi PBB, sehingga rezim Zionis tidak merasa dibatasi di Tepi Barat.
 
Presiden AS Donald Trump, Joe Biden, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah melanggar sekitar 50 resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Tepi Barat, sebagai sebuah wilayah pendudukan, dan juga Al Quds Timur. Masalah ini menjelaskan bahwa Barat tidak pernah memegang prinsip kepatuhan pada hukum, tapi kepatuhan pada kekuatan, dan mendukung kejahatan Israel.
 
Substansi kemanusiaan program referendum nasional di Palestina, dan demokrasi, sama sekali tidak bertentangan dengan strategi jihad dan perlawanan bersenjata terhadap penjajah. Alasannya karena strategi mengerikan yang dipakai pihak lawan. Selama 73 tahun sejak berdiri, Israel menjadi rezim paling jahat, paling banyak membunuh anak-anak, dan organisasi yang paling banyak melakukan teror di muka bumi, oleh karena itu perlawanan bersenjata dan perang melawan penjajah secara fisik harus terus dilakukan, dan setiap hari harus diperkuat, karena ide perlawanan sesuai dengan Piagam PBB, dan aturan hukum internasional berbasis pembelaan diri secara legal.
 
Program referendum adalah sebuah gerakan dalam kerangka perlawanan aktif, artinya jawaban terhadap mereka yang tentang perlawanan bersenjata mengatakan, “Siapa pun yang meyakini kemerdekaan Al Quds hanya memegang senjata, dan negara-negara pendukungnya hanya membantu senjata.” Akan tetapi program referendum nasional juga mengandung komponen kekuatan lunak, dan prakarsa hukum serta politik. Iran berdasarkan program ini, bisa menegaskan bahwa semua orang yang ingin kembali ke tanah air aslinya, mendapat dukungan politik dan hukum, dan Tehran memiliki program-program praksis untuk mereka.
 
Wakil Jihad Islam di Iran, Nasser Abu Sharif meyakini bahwa sebab dan alasan prakarsa Iran adalah untuk menguji dunia, yaitu ujian tentang penegakan keadilan dan kebebasan.
 
“Kami percaya prakarsa Rahbar Iran tidak lain adalah prakarsa yang sedang diupayakan oleh rakyat Palestina, dan merupakan prinsip demokrasi. Pasalnya, rezim Israel, menjajah Palestina, dan orang-orang Yahudi dari berbagai wilayah Eropa Timur, dan Barat, menduduki Palestina, dan menginjak-injak hak serta keadilan. Jika penjajah dilibatkan, referendum yang adil tidak akan bisa laksanakan, dan kami tidak akan bisa memiliki sebuah pemerintahan komprehensif, karena masuknya mereka telah merusak keadilan dan kebebasan, dan menghilangkan kebebasan kami. Israel tidak bisa membentuk pemerintahan yang di dalamnya keadilan ditegakan, karena karakteristik penjajah yang dimilikinya. Masa depan Palestina hanya bisa ditentukan oleh partisipasi politik warga asli Palestina. Tumpuan perlawanan bersenjata Palestina adalah Iran, sebagai sebuah pilar aman bagi perlawanan. Kubu perlawanan percaya bahwa tanah air Palestina harus dikembalikan kepada pemiliknya, dan kami akan membangun negara kami dari awal. Karena mustahil pemerintahan bersama antara Zionis dan rakyat Palestina dibangun,” paparnya. 

Salman Razavi, pengamat masalah Palestina asal Iran menekankan substansi kemanusiaan dari program referendum nasional di Palestina, dan meyakini bahwa program ini adalah penyempurna, dan kelanjutan dari perlawanan. Program referendum pada kenyataannya adalah penyempurna perlawanan, dan hakikatnya merupakan strategi perlawanan untuk masa ketika penjajah belum mundur dari posisinya.
 
Kenyataannya, dalam perlawanan tidak dikenal pandangan tentang agresi, dan perlawanan sebagaimana nampak dari namanya adalah membela diri dari musuh zalim yang hanya mengerti bahasa senjata dan pemaksaan, dan selama kita tidak melawannya dengan senjata, mereka tidak akan pernah mengakui hak kita sedikit pun. Sebagaimana kita saksikan selama 73 tahun Israel melakukannya, dan kapan pun bahasa dialog serta perdamaian disampaikan kepada mereka, bukan hanya tidak menjamin hak-hak rakyat Palestina, bahkan langkah demi langkah terus memperkokoh posisinya di daerah pendudukan dengan berbagai skenario dan konspirasi.
 
Maka dari itu, perlawanan satu-satunya strategi untuk memukul mundur musuh. Akan tetapi mungkin saja masyarakat dunia bertanya jika perlawanan bersenjata menghadapi musuh berhasil dimenangkan, pada tahap selanjutnya strategi apa yang akan digunakan terhadap Israel. Jawabannya adalah referendum. Realitasnya, Iran sama sekali tidak memiliki strategi non-kemanusiaan untuk Palestina, tapi dalam rentang waktu sekarang ini, rakyat Palestina harus mengambil keputusan untuk negaranya sendiri.
 
Pengamat masalah Palestina lain asal Iran, Mahdi Shakibaei percaya bahwa Israel telah menjajah wilayah geografis Palestina, dan memaksa rakyatnya mengungsi serta menduduki tanah airnya. Akan tetapi rezim Israel, dan para pendukungnya yaitu negara-negara adidaya dunia, menyebut perlawanan rakyat Palestina sebagai kekerasan dan terorisme. Kekuatan-kekuatan dunia itu menutup mata atas kekerasan yang dilakukan terhadap rakyat Palestina, dan menggulirkan beraneka program politik dengan tujuan yang diklaim sebagai upaya mengatasi konflik Palestina.
 
Dengan cara ini, negara-negara adidaya dunia itu selain ingin menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa Israel dan para pendukungnya adalah pemain asli demokrasi, juga menyampaikan bahwa Palestina dan Iran sebagai pendukung kekerasan. Program yang digagas Iran pada hakikatnya bertujuan untuk menunjukkan kemunafikan Israel, dan para pendukungnya dengan menyampaikan program yang sepenuhnya memiliki substansi kemanusiaan .

 

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan tentang hubungan prakarsa referendum rakyat Palestina, dengan strategi perlawanan, dan pada pembahasan kali ini akan diulas substansi hukum dan politik prakarsa referendum nasional di Palestina.

Substansi politik masalah Palestina, dan substansi hukum-politik prakarsa Republik Islam Iran terkait penentuan nasib rakyat Palestina oleh mereka sendiri, termasuk poin yang menjadi perhatian para peneliti dan pengamat. Wakil Hamas di Iran, Khaled Al Qaddumi meyakini bahwa masalah Palestina, adalah masalah politik.
 
Sementara pengamat masalah rezim Zionis Israel, Hossein Rouivaran percaya bahwa prakarsa referendum rakyat Palestina merupakan solusi politik untuk menyelesaikan sebuah krisis, dan terkandung dalam kerangka manajemen krisis. Di sisi lain prakarsa Iran, juga memiliki sejumlah karakteristik hukum, karenanya Iran ingin menghadapi pihak lawan berdasarkan aturan internasional, resolusi-resolusi PBB termasuk Resolusi 194, prinsip-prinsip yang tercantum dalam Piagam PBB seperti hak menentukan nasib sendiri, dan prinsip demokrasi seperti referendum, sehingga pada akhirnya Israel akan menghormati pendapat rakyat Palestina.
 
Asumsi Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar adalah, Israel terbentuk sebagai hasil dari keputusan kekuatan-kekuatan imperialis, dan Inggris dalam masalah ini memainkan perang kunci, serta mendorong eksodus sebagian warga Yahudi ke Palestina. Akan tetapi apakah pendirian rezim haram ini mendapat persetujuan dari seluruh warga Yahudi dunia ? Realitasnya ternyata tidak seperti itu. Sejumlah banyak warga Yahudi seperti kaum ortodoks, Naturei Karta atau kelompok Yahudi Haredi yang anti-Zionis, dan orang-orang Samaria menentang keras prinsip, dan asas Zionisme. Oleh karena itu prakarsa Iran merupakan prakarsa hukum sebagai sebuah solusi politik, dan tujuannya adalah untuk menyelesaikan krisis Palestina, secara damai, dan dengan mematuhi prinsip hukum internasional.
 
Usulan Iran berlandaskan pada referendum nasional di Palestina, dan ini merupakan prakarsa hukum, dan bukan semata-mata pandangan media serta politik. Selain itu, prakarsa ini juga merupakan sebuah prakarsa operasional dan praktis yang mungkin dilaksanakan, dan seluruh prakarsa awal berdasarkan pada asumsi bahwa semuanya bisa diimplementasikan. Akan tetapi meski pada kondisi saat ini mungkin belum bisa dilaksanakan, tapi dia tetap punya muatan hukum, dan tendensi-tendensi media serta politik bisa disingkirkan darinya. Indikasi kekuatan politik, dan media dari prakarsa Iran ini akan tampak dari reaksi negara-negara Barat, apakah diam atau menentang. Mantan Duta Besar Iran untuk Lebanon, mendiang Ghazanfar Roknabadi mengatakan, “Selama bertugas di Lebanon saya sudah menyampaikan prakarsa referendum nasional di Palestina, kepada beberapa dubes negara Eropa, dan mereka menyambutnya, serta menganggap prakarsa ini sepenuhnya demokratis.”
 
Akan tetapi, kata Roknabadi, mereka menentang implementasinya, dan mengklaim bahwa prakarsa ini berarti menghapus Israel. Oleh karena itu harus dikatakan bahwa prakarsa ini sepenuhnya memiliki muatan hukum, dan bisa dilaksanakan. Tujuan final dari prakarsa Iran adalah menciptakan sebuah program yang bisa dilaksanakan, dan nyata di lapangan bagi rakyat Palestina. Republik Islam Iran, dengan maksud supaya rakyat Palestina bisa mendapatkan hak-haknya, mengusulkan sebuah program yang bertujuan mengembalikan hak rakyat Palestina, dan memusnahkan rezim Zionis melalui cara-cara demokratis. Pasalnya, di seluruh negara dunia diselenggarakan pemilu berasaskan hak warga negara.
 
Program referendum nasional di Palestina yang digagas oleh Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei adalah sebuah program politik dan hukum yang mendasar. Asas dari program ini adalah hukum internasional. Merujuk kepada suara rakyat untuk menentukan nasib sebuah bangsa adalah hak yang ditekankan oleh Piagam PBB, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa referendum usulan Iran, memiliki landasan hukum, akan tetapi pada realitasnya ia juga merupakan prakarsa politik yang membutuhkan semacam kesepakatan, dan sambutan politik dari negara-negara berpengaruh di PBB.
 
Mosadegh Mosadeghpour, salah satu pengamat Dunia Arab dari Iran, yang menyetujui substansi hukum-politik prakarsa referendum, meyakini bahwa usulan Iran bisa dilaksanakan, dan sesuai dengan aturan yang dibuat oleh Barat, termasuk Piagam PBB. Pasalnya, Inggris tidak berhak menyerahkan wilayah Palestina ke pihak lain tanpa mendapatkan persetujuan rakyatnya. Prakarsa Iran telah mempecundangi para pengklaim pembela HAM, dan mereka harus mematuhi prakarsa ini. Usulan Iran akan membuktikan kepada masyarakat internasional bahwa Barat tidak mematuhi aturan internasional.
 
Prakarsa referendum nasional di Palestina digagas untuk menentukan masa depan Palestina oleh rakyatnya sendiri, berdasarkan prinsip-prinsip yang diatur hukum internasional. Negara-negara besar, dan adidaya yang memainkan peran di arena Palestina, dan konflik rakyat Palestina dengan rezim Zionis, telah menyampaikan prakarsa kepada negara dunia lain untuk mengakhiri konflik ini, di antaranya prakarsa Amerika Serikat yang terbaru yaitu Kesepakatan Abraham, atau prakarsa damai Arab yang diusulkan negara-negara Arab. Iran sebagai salah satu pemain asli dalam masalah Palestina juga mengajukan sebuah prakarsa untuk menyelesaikan masalah Palestina secara damai yang memusatkan perhatian pada peran rakyat Palestina sendiri melalui partisipasi masing-masing penduduk asli Palestina baik Yahudi, Muslim atau Kristen.
 
Prakarsa ini menjadi prakarsa resmi Republik Islam Iran yang tercatat di PBB, dan untuk mengenalkan serta menyebarkluaskannya, Kementerian Luar Negeri Iran sampai sekarang terus melanjutkan upayanya. Sehubungan dengan hal ini pejabat politik Iran di Mesir mengatakan, “Dari sisi hukum, melawan setiap rezim penjajah secara bersenjata atau tanpa senjata, berdasarkan prinsip membela diri, sepenuhnya diterima. Oleh karena itu strategi perlawanan di hadapan rezim semacam ini bukan saja berasaskan pengalaman politik, bahkan dari sisi hukum juga bisa dipertanggungjawabkan. Dengan itu, Iran melalui prakarsa penyelenggaraan referendum, berusaha mempertanyakan logika demokrasi Barat, dan penerimaan suara rakyat."
 
Substansi prakarsa Republik Islam Iran dengan cara tertentu mempertimbangkan sisi keislaman di samping prinsip umum demokrasi. Iran adalah pembawa panji diskursus perlawanan, dan tidak diragukan Palestina sebagai salah satu cita-cita pertama revolusi, tetapi menjadi kebijakan luar negeri utama negara ini. Iran juga penggagas wacana umum perlawanan. Dr. Sayid Reza Sadrolhosseini, pengamat Asia Barat asal Iran, terkait substansi terpenting prakarsa Iran mengatakan, “Jika kita ingin menilai substansi prakarsa ini, maka harus kita katakan bahwa prakarsa ini merupakan sebuah prakarsa kemanusiaan, hukum, politik dan media.”
 
Dimensi prakarsa ini dapat meliputi sejumlah bidang berbeda. Seluruh dimensi ini pada akhirnya akan berujung pada hak pemilik asli Palestina yaitu rakyatnya sendiri. Arahan Rahbar terkait substansi prakarsa referendum nasional di Palestina, sepenuhnya transparan. Ayatullah Khamenei dengan tegas menekankan berlanjutnya dukungan militer dan logistik atas kelompok perlawanan Palestina, di samping upaya politik. Dengan kata lain, Iran di arena perlawanan dan jihad, dan perjuangan bersenjata serta pengetahuan kemiliteran, juga di arena diplomasi, politik dan hukum internasional melalui referendum, tetap menjadi pendukung rakyat Palestina, dan cita-cita pembebasan Al Quds.

 

Wacana referendum yang disampaikan Republik Islam Iran tidak mengabaikan resistensi bersenjata, jihad dan perlawanan, tapi ingin menyempurnakannya. Dibutuhkan strategi komprehensif dan sempurna untuk membebaskan Quds.

Rezim Zionis Israel juga aktif secara politik dan juga aktif melakukan kejahatan serta pendudukan militer. Oleh karena itu, untuk melawannya front muqawama juga harus aktif di poros politik, hukum dan militer. Wacana referendum bertumpu pada muqawama dan resistensi ini memiliku dua dimensi. Dimensi jihad dan perlawanan senjata serta dimensi muqawama melawan rencana damai yang digagas oleh AS dan Zionis serta poros Arab-Ibrani-Barat. Gagasan ini memiliki kedua dimensi. Prakarsa Iran menilai muqawama sebagai strategi utama dan juga menggulirkan wacana politik, serta menolak segala bentuk pelemahan tehradap strategi muqawama.

Di masa pendudukan, saat hukum dan berbagai organisasi internasional menunjukkan sikap pasif, muqawama bersenjata harus ada sehingga rakyat dapat membela diri di hadapan penjajah. Meski media Barat secara curang menyebut perlawanan legal bangsa Palestina terhadap agresi rezim Zionis sebagai bentuk teroris, dan aksi teroris Israel menghilangkan serta meneror oposisi di dalam dan luar Palestina sebagai bentuk perdamaian.

Kartu kemenangan muqawama di medan ini harus bekerja untuk menekan Israel. Pengokohan muqawama di medan tempur akan memperkuat peluang implementasi wacana referendum. Hal ini karena muqawama bukan tujuan, tapi sarana perlawanan untuk meraih hak-hak bangsa Palestina menentukan nasib sendiri dan pembebasan Quds. Wacana referendum yang digagas Republik Islam Iran juga sebuah alat untuk membebaskan Palestina dan Quds.

Menurut Hossein Kanani Moghaddam, pakar masalah Palestina, salah satu sisi urgen wacana referendum berkaitan dengan waktu penyerahan dan peratifikasian wacana ini di PBB. Wancana ini disusun ketika kekuatan muqawama Palestina mencapai titik di mana kekuatan defensif diraih dalam melawan Israel dan dengan mampu menghadapi Zionis dengan berbagai aksi jihad.

Yakni wacana ini menggulirkan sisi kekuatan dan gabungan dari kekuatan politik dan militer, artinya terdiri dari indeks resistensi dan referendum. Dengan demikian, selain menekankan dilanjutkannya jihad dan muqawama bersenjata, wacana politik-hukum juga digulirkan Iran. Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei memberikan sebuah wacana politik di hadapan penilaian dunia dan organisasi internasional serta regional.

Iran melalui wacana ini telah mengajukan prakarsa politiknya dan menyatakan bahwa solusi masalah adalah bangsa Palestina yang dilahirkan di Palestina dan hidup di Plaestina serta memiliki identitas Palestina, baik itu Muslim, Kristen atau pun Yahudi harus kembali ke tanah airnya dan menentukan nasib mereka melalui referendum.

Mekanisme politik Iran menolak gagasan pembentukan dua negara di bumi Palestina dan pengakuan identitas rezim Zionis, serta menekankan kebijakan “Bumi Palestinaku dari laut hingga sungai”. Faktanya kunci utama prakarsa ini adalah mempertahankan integritas bumi Palestina. Mengingat Israel memahami bahwa implementasi prakarsa Iran untuk kembali ke suara seluruh bangsa pribumi Palestina baik Yahudi, Kristen dan Muslim, sama halnya dengan kehancuran rezim penjajah Qus, maka Israel dan Amerika berusaha melakukan sabotase melawan kebijakan diplomatik dan sesuai dengan norma-norma yang diterima sistem internasional. Langkah ini membuat kredibilitas Israel dan AS di mata opini publik dunia semakin pudar.

Iran seraya menekankan muqawama dan jihad bersenjata melawan Israel, melalui gagasan referendum membuath Zionis harus menjawab kebijakan ini. Jika mereka memberi jawaban positif, berarti kehancuran Zionis dan jika negatif, yakni melawan tuntutan demokratis kekuatan Palestina dan secara praktis mendorong kebuntuan terhadap langkah-langkah demokratis di dalam wilayah Palestina yang praktisnya Zionis pasti kalah di rencana ini.

Berbagai pihak, baik Palestina, kelompok perlawanan, kelompok jihad, atau bahkan partai politik, kelompok dan organisasi Arab, tidak mengambil sikap negatif terhadap rencana Iran. Beberapa mengatakan rencana itu praktis, menggunakan daya ungkit resistensi, sementara yang lain menekankan sulitnya mencapainya. Namun secara umum, semua kelompok Palestina menyambut baik tawaran Iran. Dengan demikian, rencana ini dapat menjadi rencana komprehensif yang, dengan mempertimbangkan hak-hak rakyat Palestina, mencegah realisasi rencana rezim pendudukan di Yerusalem untuk menciptakan konflik antara Muslim, Kristen, dan Yahudi di wilayah pendudukan.

Enam konferensi internasional mendukung intifada Palestina
Padahal, dengan rencana ini, Iran secara eksplisit menyatakan bahwa mereka tidak mencari perang agama, tetapi menentang rezim teroris, apartheid dan Zionis, yang telah mengabaikan hak-hak bangsa dan menggusur rakyat Palestina. Poin penting lainnya yang ditekankan dalam rencana ini adalah pembahasan untuk memberikan perhatian serius kepada para pengungsi Palestina dan kepulangan mereka dari berbagai wilayah dan kamp ke negara mereka untuk memainkan peran di masa depan Palestina.

Rencana referendum tidak dapat diterima oleh rezim Zionis, dan sudah jelas sejak awal bahwa Zionis akan mengambil sikap negatif terhadap masalah ini. Iran mengklaim perlawanan dan pembebasan Palestina dan perjuangan melawan Zionis. Realitas saat ini di lapangan adalah bahwa musuh bersenjata yang berbahaya menduduki tanah, melanggar hak-hak dasar rakyat Palestina, dan tidak menghormati prinsip atau prinsip apa pun, baik moral maupun internasional. Akankah rencana referendum ini berhasil tanpa perjuangan bersenjata sebagai konteks dan keterikatannya? Rencana ini menyajikan pandangan terakhir Iran tentang masalah Palestina; Tetapi apakah rezim Zionis bersedia menyetujui referendum tersebut? Jawabannya adalah tidak.

Kita menghadapi rezim pendudukan dan ekspansionis, dan pada akhirnya kami harus mencapai rencana ini melalui perlawanan dan pembebasan wilayah Palestina, dan pada kenyataannya, tujuan akhir ini akan dicapai melalui perlawanan. Karena rezim penjajah Quds dan Amerika Serikat tidak akan pernah mau menerima rencana referendum tanpa dukungan lapangan dan operasional. Karena rencana Iran, yaitu membebaskan Palestina dan akhirnya menghancurkan rezim Zionis melalui opini publik, tidak bertentangan dengan perlawanan bersenjata dan perlawanan rakyat, dan untuk mencapai tujuan referendum, perlawanan harus menjadi agenda dan dapat dikatakan bahwa muqawama dan jihad melekat pada rencana ini.

Jawaban atas dua pertanyaan soal muqawma Palestina dari pidato Rahbar
Padahal, prasyarat diadakannya referendum dan partisipasi pemilik utama Palestina di dalamnya adalah penghapusan keberadaan palsu atas nama Israel. Oleh karena itu, untuk menghancurkan rezim palsu ini, kita harus mengandalkan senjata perlawanan secara serius dan maksimal. Dengan kata lain, demi perdamaian di Palestina, rezim perampas harus terlebih dahulu dihilangkan dan kemudian pemilik sebenarnya harus memutuskan untuk menggantikannya.

Rencana referendum akan dijalankan ketika musuh Zionis tidak memiliki pilihan kecuali referendum akibat muqawama dan jihad bersenjata. Oleh karena itu, rencana referendum dan muqawama saling melengkapi. Dengan demikian, Rahbar selain menekankan solusi politik dan diplomatik referendum, selama beberapa tahun terakhir juga menekankan untuk mepersenjatai Tepi Barat Sungai Jordan. Dan ini menunjukkan keselarasan antara muqawama dan referendum.

Selasa, 21 Desember 2021 14:43

Surat Qaf 38-45

 

Surat Qaf 38-45

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ (38) فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ (39) وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ (40)

Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. (38)

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). (39)

Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang. (40)

Di pembahasan sebelumnya dibahas mengenai terjadinya Hari Kiamat dan orang-orang yang mengingkarinya. Ayat ini kembali menyinggung kekuasaan Tuhan dan mengatakan, "Bagaimana kalian meragukan terjadinya Hari Kiamat, sementara dunia dengan segala keagungannya diciptakan dalam tempo enam hari atas kehendak Tuhan dan penciptaannya tidak melelahkan atau menyulitkan Tuhan."

Saat itu, Tuhan kepada Rasul-Nya berfirman, "Jangan kecewa dengan kata-kata orang-orang yang mengingkari kebangkitan (Maad), jangan bersedih hati, dan dengan menyebut dan mengingat Tuhan di siang dan malam, lapangkan dadamu serta jangan marah dengan kata-kata mereka."

Dari tiga ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Meski Tuhan mampu menciptakan alam semesta dalam sekejap, tapi Ia menekankan penciptaan secara bertahap dan ini menunjukkan hukum sebab-akibat di sistem alam semesta.

2. Alam semesta sangat luas. Keagungan dunia ini menunjukkan kekuasaan tak terhingga Tuhan.

3. Tuduhan, perkataan buruk dan ucapan tak pantas para penentang jangan membuat kita mundur atau melemah dalam menjelaskan kebenaran, tapi kita harus melanjutkan jalan kita dengan kesabaran dan usaha keras.

4. Penopang kesabaran yang paling baik dalam menghadapi kesulitan adalah mengingat Allah setiap saat.

5. Meski mengingat Allah tidak ada batasan waktu tertentu, tapi waktu khusus seperti shalat memiliki keutamaan dan pengaruh lebih besar.

وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ (41) يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ (42) إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ وَإِلَيْنَا الْمَصِيرُ (43) يَوْمَ تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ سِرَاعًا ذَلِكَ حَشْرٌ عَلَيْنَا يَسِيرٌ (44)

Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (41)

(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari ke luar (dari kubur). (42)

Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (43)

(Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka ke luar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami. (44)

Ayat ini menjelaskan acara pembukaan sebuah pentas akbar di Hari Kiamat yang dimulai dengan panggilan ilahi dan kehadiran miliaran penduduk dunia. Seruan langit tersebut tersebar ke setiap sudut dan seluruh ahli Mahsyar mendengar panggilan tersebut dari dekat. Seruan yang keagungannya membuat gunung dan tanah terbelah, orang-orang yang telah meninggal keluar dari tanah dan manusia yang tercerai-berai akhirnya berkumpul.

Di ayat ini mengisyaratkan poin bahwa Tuhan yang menciptakan mereka pertama kali di dunia dan kemudian mematikannya, hari ini menghidupkan kembali mereka untuk melanjutkan jalannya sesuai dengan tujuan penciptaannya.

Dari empat ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Maad dalam bentuk jasmani. Setiap manusia dibangkitkan dari kubur dan hadir di Hari Kiamat.

2. Kematian dan kehidupan hanya berada di tangan Tuhan, dan ini merupakan argumentasi terbaik bagi kemungkinan dihidupkannya kembali orang mati di Hari Kiamat oleh Tuhan.

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ فَذَكِّرْ بِالْقُرْآَنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ (45)‏

Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku. (45)

Melanjutkan ayat sebelumnya, ayat ini kepada Nabi Muhammad Saw mengatakan, "Kami menyadari apa yang dikatakan para pengingkar Hari Kebangkitan (Maad) dalam menolak seruanmu dan mencegah orang lain untuk percaya kepadamu; Tapi jangan berharap semua orang beriman kepadamu, karena kami menciptakan manusia bebas dan mereka punya hak untuk memilih."

Tugasmu sebagai nabi adalah menyampaikan risalah Tuhan dan memperingatkan manusia dari akibat perbuatan mereka. Kamu tidak diutus untuk memaksa mereka menerima agama Islam dan dalam berdakwa jangan memaksa seseorang untuk beriman.

Dari satu ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Mengingat al-Quran sebaik-baik sarana untuk berzikir dan mengingat Tuhan, maka poros utama pembahasan akhlak dan nasehat kepada masyarakat harus ayat al-Quran, bukan ajaran dan metode asal-asalan serta sesuai dengan selera pribadi.

2. Prinsip agama ilahi adalah fitrah yang ada dalam diri setiap manusia. Hanya diperlukan pengingat. Oleh karena itu, para nabi melalui peringatan berusaha membangunkan fitrah manusia yang tertidur atau terlupakan.

3. Misi para nabi adalah berdakwah dan tidak ada paksaan di dalamnya. Karena menerima agama harus didasari oleh kehendak dan pilihan.

4. Beriman kepada janji Tuhan terkait azab dan pahala di Hari Kiamat akan membuat manusia siap menerima nasehat para nabi.

Selasa, 21 Desember 2021 14:42

Surat Qaf 31-37

 

Surat Qaf 31-37

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32)

Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). (31)

Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya) (32)

Di pembahasan sebelumnya dijelaskan tentang nasib orang yang menolak beriman karena penentangan dan keras kepala. Adapun ayat ini menjelaskan akhir baik orang mukmin dan menyatakan, "Di hari Kiamat surga disediakan bagi orang-orang saleh dan suci, serta mereka dengan mudah mendapatkannya sehingga merasakan nikmat yang tiada akhirnya."

Pahala besar ini adalah hadiah dari perilaku mereka yang dengan hati-hati menjaga perintah Tuhan selama di dunia yang membuat mereka tidak melanggar hukum ilahi. Jika mereka tergelincir atau melakukan dosa dan kesalahan karena ketidaktahuan atau lalai, mereka segera bertaubat dan meminta ampunan-Nya.

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Orang mukmin seperti orang kafir, tidak terjaga dari dosa. Tapi berbeda dengan orang kafir, orang mukmin tidak bersikeras melakukan dosa dan jika mereka melakukannya, mereka menyesal dan bertaubat.

2. Jika kita percaya terhadap janji Tuhan, maka secara pasti ketahuilah bahwa ketakwaan dan bertaubat kepada Tuhan akan membawa kita ke surga.

 مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33) ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (34) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (35)

(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, (33)

masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. (34)

Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya. (35)

Ayat ini melanjutkan ayat sebelumnya dan menyatakan, "Tanda-tanda iman sejati kepada Tuhan adalah dalam kesendirian dan rahasia dan di mana tidak ada seorang pun selain Tuhan yang hadir dan mengawasi, manusia harus takut akan Tuhan dan tidak berbuat dosa; Jika dia terjebak dalam dosa, dia harus segera bertobat dan kembali. Spirit seperti itu membebaskan manusia dari neraka dan membawanya ke surga dan membuatnya tinggal di sana."

Mereka yang mengekang hawa nafsunya selama di dunia karena mencari ridha ilahi, maka Allah akan menggantinya di surga dan menyatakan, "Semua yang kamu inginkan sekarang tersedia untuk kepuasanmu. Selain itu, nikmat apa pun yang kamu tidak tahu bagaimana memintanya, Tuhan akan melimpahkan kepadamu dengan rahmat dan belas kasihan-Nya."

Dari tiga ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Hati orang mukmin mudah untuk bertaubat dan ini telah menyelamatkan mereka. Tapi hati orang kafir dan munafik penuh penyakit dan mereka kerap menjustifikasi kejahatan dan dosanya. Oleh karena itu, mereka tidak selamat.

2. Meninggalkan dosa karena orang lain dan dihadapan publik, bukan tanda keimanan, karena bisa jadi hal itu dilakukan karena takut dari hukuman atau kritik pihak lain, ataupun karena skandal dan harga diri. Tetapi jika kita takut akan Tuhan secara diam-diam dan menjaga kesucian-Nya, itu menunjukkan iman yang benar.

3. Ahli surga ketika memasuki tempat ini disambut dengan sambutan khusus dan ucapan selamat.

4. Tidak ada batasan, penderitaan atau kesulitan untuk mendapat nikmat di surga, salah satu janji terbaik kepada penghuni surga adalah kabar baik tentang keabadian dan berkah yang tidak akan musnah.

5. Manusia adalah makhluk yang menuntut tanpa batas, jadi Tuhan memberi mereka lebih dari keinginan dan harapan ahli surga.

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هُمْ أَشَدُّ مِنْهُمْ بَطْشًا فَنَقَّبُوا فِي الْبِلَادِ هَلْ مِنْ مَحِيصٍ (36) إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ (37)

Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? (36)

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (37)

Ayat ini sebuah peringatan kepada para penindas dan orang zalim bahwa jangan menyangka pasukan dan kekuatan mereka akan mampu mencegah terealisasinya kehendak Tuhan serta mereka jangan mengira mampu lepas dari cengkeraman kekuasaan Tuhan. Banyak penguasa yang kuat sepanjang sejarah yang menaklukkan banyak negara dan mendominasi wilayah luas di bumi, tapi akhirnya mereka kalah dari kekuasaan Tuhan dan akhirnya hancur.

Sangat alami bagi siapa saja untuk mengambil pelajaran dari kaum terdahulu dan dengan mempelajari sejarah mereka akan dapat menganalisa perilaku, perbuatan dan nasib dari kaum tersebut serta memahami sebab kejatuhan dan kehancuran mereka. Atau paling tidak mendengarkan analis dan pakar sejarah dan menerima nasihatnya serta meninggalkan kekufuran dan kezaliman.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Memahami alasan dan sebab kehancuran peradaban besar di masa lalu harus menjadi penerang jalan generasi saat ini.

2. Kekuasaan adalah dasar dari penindasan dan korupsi, dan mempersiapkan pemberontakan, pembangkangan, dan agresi terhadap orang lain, kecuali jika kekuatan iman mencegah manusia dari menindas orang lain.

3. Mempelajari sejarah kaum terdahulu saja tidak cukup, untuk selamat dari kehancuran dibutuhkan pemahaman transformasi sejarah dan hukum yang berlaku.

 

Selasa, 21 Desember 2021 14:41

Surat Qaf 23-30

 

Surat Qaf 23-30

وَقَالَ قَرِينُهُ هَذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ (23) أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ (24) مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍ (25) الَّذِي جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ (26)

Dan yang menyertai dia berkata: "Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku". (23)

Allah berfirman: "Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, (24)

yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, (25)

yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat". (26)

Di pembahasan sebelumnya fokus seputar isu malaikat yang senantiasa menyertai manusia dan mencatat setiap perbuatan baik dan buruk manusia yang akan menentukan nasib manusia di Hari Kiamat, apakah ia masuk surga atau neraka.

Ayat ini menyatakan, manusia akan hadir di pengadilan ilahi di Hari Kiamat dengan membawa catatan amal perbuatannya yang dicatat malaikat dan berdasarkan catatan ini, orang baik dan pendosa akan dipisahkan serta mereka akan mendapatkan balasan perbuatannya. Hal ini karena sikap keras kepala yang mendorong mereka mengingkari Tuhan, serta mereka menciptakan halangan untuk setiap perbuatan baik. Orang seperti ini melanggar hukum Tuhan dan membuat orang lain ragu untuk menerima jalan kebenaran. Mereka mengenalkan hal lain selain Tuhan dan mendorong masyarakat untuk menerima kekuatan selain Tuhan.

Dari empat ayat ini terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Jika kekafiran disebabkan oleh ketidaktahuan, ada harapan untuk kembalinya manusia. Tetapi jika kekufuran ini karena keras kepala dan prasangka, maka itu menjadi lebih intens dan lebih dalam setiap hari, dan sulit bagi orang seperti itu kembali.

2. Berbeda dengan orang mukmin yang berbuat baik, dan menyeru orang lain untuk melakukan berbuatan mulia, orang-orang yang mengingkari kebenaran justru mencegah orang lain untuk berbuat baik.

3. Azab neraka memiliki tingkatan, dan tergantung dengan level kekufuran, kesyirikan serta dosa manusia.

قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ (27) قَالَ لَا تَخْتَصِمُوا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيدِ (28) مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ (29) يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ (30)

Yang menyertai dia berkata (pula): "Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh". (27)

Allah berfirman: "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu". (28)

Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku (29)

(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahannam: "Apakah kamu sudah penuh?" Dia menjawab: "Masih ada tambahan?" (30)

Ayat ini berbicara mengenai sahabat yang menyeret manusia ke neraka, seperti teman yang buruk, pemimpin kafir, dan setan.

Ketika orang menghadapi takdir akhir mereka pada Hari Pembalasan, para pendosa akan berdebat satu sama lain dan dengan para pemimpin mereka yang korup, serta dengan setan, dan masing-masing dari mereka akan mencoba untuk menyalahkan yang lain. Para pendosa mengatakan bahwa jika bukan karena kamu, kami akan menjadi orang beriman, atau mereka akan mengatakan bahwa kami telah jatuh ke dalam kesengsaraan ini karena mengikutimu. Tentu saja, perselisihan ini tidak berpengaruh pada hukuman mereka dan tidak ada yang menguranginya.

Sementara setan saat membela dirinya mengatakan, "Ya Allah ! Aku tidak memaksa seseorang untuk kafir atau berpaling dari perintah-Mu, tetapi justru mereka sendiri yang melupakan jalan-Mu dan tenggelam ke dalam kesesatan." Tapi ahli neraka menuding setan yang bersalah dan mereka ingin menjustifikasi dosanya.

Saat itu, seruan Tuhan mengakhiri perdebatan mereka, bahwa kini bukan waktunya berdebat, kewajiban setiap orang jelas dan mereka akan diazab sesuai dengan dosanya, tidak kurang dan juga tidak lebih. Jangan pernah menyangka bahwa kapasitas neraka terbatas, dan mereka tidak akan mendapat giliran karena banyaknya para pendosa besar. Tapi neraka memanggil para pendosa dengan berkata, apakah masih ada tambahan.

Dari empat ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kita tidak memilih ayah, ibu, saudari dan saudara; Tapi kita akan memilih sahabat baik atau buruk, dan mereka sangat berpengaruh pada nasib kita.

2. Pada Hari Pembalasan, tidak ada yang bisa menyalahkan teman-temannya yang buruk, pemimpin yang korup dan jahat, atau iblis atas kesalahannya dan membebaskan dirinya dari tanggung jawab.

3. Tuhan tidak lalai dalam membimbing manusia sehingga Ia dinilai menganiaya manusia; dan juga tidak lalai dalam mengazab orang zalim, karena meringankan hukuman orang zalim sama halnya dengan menzalimi orang baik dan orang tertindas.

4. Para pendosa akan masuk neraka karena kezaliman yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri, bukan penindasan Tuhan terhadap mereka, karena Tuhan tidak pernah menindas siapa pun.

Selasa, 21 Desember 2021 14:41

Surat Qaf 16-22

 

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (16)

Di pembahasan sebelumnya kami telah jelaskan bahwa Surat Qaf membahas seputar isu Hari Kiamat. Terkait pengetahuan Tuhan atas setiap perbuatan manusia, ayat ini mengatakan, "Tuhan pencipta manusia dan sepenuhnya mengetahui segala sesuatu, setiap bagian dan kondisinya."

Allah Swt bukan saja mengetahui setiap perbuatan manusia, bahkan Ia juga mengetahui pemikiran, angan-angan dan khayalan manusia. Wajar jika Allah Swt tidak akan mengazab manusia karena pemikiran buruk di benaknya dan godaan selama ia tidak melakukannya. Ini semua berkat kemurahan Tuhan.

Kehidupan manusia tergantung pada arteri yang membawa darah dari jantungnya ke berbagai organ tubuh, dan tentu saja Tuhan lebih dekat dengan manusia daripada arteri ini. Karena hidup manusia sebenarnya ada di tangan Tuhan dan hati serta urat nadi adalah sarana untuk mewujudkan kehendak Tuhan.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Pengetahuan dan kuasa Tuhan tidak terbatas dan selalu melingkupi umat manusia. Kesadaran Tuhan akan kondisi manusia akurat dan luas. Oleh karena itu, jika kita berpikir bahwa Tuhan tidak menyadari pikiran dan motif batin kita, itu adalah gagasan yang salah.

2. Jika kita tidak menjaga hawa nafsu kita, itu akan menggoda dan memprovokasi kita untuk melakukan hal-hal yang salah dengan berbagai cara, dan itu akan berulang sampai kita terjebak di dalamnya.

ِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)

(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. (17)

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (18)

Di ayat sebelumnya dibahas mengenai pengetahuan Tuhan terhadap pikiran dan pemikiran yang terlintas di benak manusia. Sementara ayat ini mengisyaratkan bahwa seluruh perbuatan manusia dicatat dan mengatakan, "Tuhan menempatkan dua malaikat bagi setiap manusia yang senantiasa mengawasinya. Mereka mencatat seluruh perbuatan baik dan buruk serta tidak ada yang tersembunyi dari mereka."

Mayoritas manusia menganggap berbicara bukan bagian dari perbuatannya, dan mengabaikannya. Padahal berbicara memainkan peran penting dalam interaksi sosial dan keluarga manusia. Oleh karena itu, al-Quran menyebutkan berbicara secara terpisah serta menyatakan, setiap kata yang keluar dari mulut, juga akan dicatat oleh dua malaikat tersebut.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Meskipun Tuhan mengetahui lahir dan batin manusia, namun Dia telah menyediakan alat untuk segalanya. Oleh karena itu, ia menugaskan para malaikat untuk merekam tindakan manusia.

2. Percaya akan keberadaan malaikat merupakan salah satu bukti dari iman kepada hal-hal ghaib, di samping beriman kepada Tuhan.

3. Manusia bukan saja bertanggung jawab atas setiap perbuatannya, bahkan ia juga akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap ucapannya serta tidak ada yang keluar dari manusia, kecuali seluruhnya akan diperhitungkan.

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ (19) وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ (20) وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ (21) لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ (22)

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. (19)

Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. (20)

Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi. (21)

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (22)

Saat kematian, ketakutan dan kecemasan yang aneh menguasai manusia. Kebanyakan orang lari dari kematian dan bahkan tidak mau memikirkannya; Jika mereka ingin memvisualisasikan kematian, mereka memikirkan kematian orang lain. Tetapi al-Qur'an mengatakan: Kematian adalah kebenaran dan meliputi semua, apakah Anda siap untuk itu atau tidak.

Tentu saja, kematian bukanlah kemusnahan, tetapi perpindahan dari satu dunia ke dunia lain, dan secara alami disertai dengan kesulitan, tekanan, dan perpisahan kerabat dan teman. Begitu pula saat lahir, peralihan dari kehidupan embrio ke kehidupan duniawi disertai dengan tangisan bayi dan pemotongan tali pusar.

Saat lahir kita keluar dari perut ibu dan menjejakkan kaki di muka bumi. Saat kematian, kita kembali ke perut bumi dan kapanpun ketika Tuhan menghendaki, kita akan dikeluarkan dari perut bumi dan kembali menjejakkan kaki di tanah. Namun kali ini, kita dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita di dunia. Sama seperti dunia, di Hari Kiamat, dua malaikat juga akan menyertai kita, ketika kita berada di pengadilan ilahi dan keduanya menjadi saksi atas setiap perbuatan kita di dunia.

Saat itu, manusia menyadari betapa mereka lalai akan Hari Kiamat dan kehadirannya di arena yang sangat menentukan ini, serta tidak mempersiapkan diri untuk memberi jawaban di hari tersebut.

Dari empat ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Lari dari kematian adalah karakteristik alami manusia.

2. Sakaratul maut adalah kondisi umum bagi semua manusia. Ketakutan dan kecemasan serta tekanan kematian membuat manusia keluar dari kondisi wajarnya dan kesadarannya hilang.

3. Lalai akan akhirat sebuah bahaya yang mengancam manusia dan membuat dirinya semakin tergantung kepada dunia, istri dan anak-anaknya.

4. Dunia dan keindahannya seperti tabir dan penutup di hadapan pandangan manusia yang mencegah dirinya memandang kebenaran. Oleh karena itu, manusia yang lalai tidak memiliki pandangan yang dalam. Namun di Hari Kiamat, seiring dengan dibukanya tirai tersebut, manusia menjadi sadar dan tajam pandangannya, serta menyadari kebenaran dan realita baru.

Selasa, 21 Desember 2021 14:40

Surat Qaf 9-15

 

Surat Qaf 9-15

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ (9) وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ (10) رِزْقًا لِلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ الْخُرُوجُ (11)

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, (9)

dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, (10)

untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan. (11)

Melanjutkan pembahasan sebelumnya, ayat-ayat ini berargumen dengan kebangkitan tanaman di musim semi untuk menjelaskan kemungkinan Maad (Hari Kebangkitan). Di musim semi, benih mati menjadi hidup ketika hujan turun di tanah yang mati, menjadi hidup dan tumbuh dari tanah. Setelah tumbuh dan berbuah, para petani memanennya untuk roti dan makanan mereka.

Pohon-pohon juga mati di musim dingin, namun seiring dengan datangnya musim semi dan turun hujan, cabang dan ranting pohan yang mati tersebut mulai menumbuhkan daun baru dan menghasilkan buah-buahan yang lezat sebagai tanda kehidupan pohon tersebut.

Lebih lanjut al-Quran menyatakan, kebangkitan manusia dari tanah di Hari Kiamat juga seperti ini. Seluruh sel-sel badan manusia yang tersebar di tanah, juga terkumpul kembali seperti biji tanaman yang tumbuh dari tanah. Hal ini bukan tak mungkin dan juga bukan sesuatu yang mustahil bagi kekuasaan tak berakhir Tuhan.

Dari tiga ayat ini terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Hujan fenomena penuh berkah dan memberi kehidupan di mana kehidupan semua makhluk di bumi, termasuk tumbuhan, hewan dan manusia, bergantung terhadapnya.

2. Di antara pohon dan buah, pohon kurma dan buahnya memiliki karakteristik khusus dan Tuhan menyebutkan namanya secara terpisah.

3. Tanaman dan pohon, sumber keindahan, sarana mendapat rezeki dan juga tanda kehidupan setelah kematian. Wajar jika mereka siap untuk mengambil pelajaran, akan merenungkan hal ini.

 

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَأَصْحَابُ الرَّسِّ وَثَمُودُ (12) وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ وَإِخْوَانُ لُوطٍ (13) وَأَصْحَابُ الْأَيْكَةِ وَقَوْمُ تُبَّعٍ كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيدِ (14)

Sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan penduduk Rass dan Tsamud, (12)

dan kaum Aad, kaum Fir'aun dan kaum Luth, (13)

dan penduduk Aikah serta kaum Tubba' semuanya telah mendustakan rasul-rasul maka sudah semestinyalah mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan. (14)

Untuk menghibur Rasulullah Saw dan orang beriman, ayat ini menyatakan, "Jangan kamu sangka bahwa hanya musyrik Mekah yang menyangkal risalah Nabi Islam dan menolaknya, bahkan sejak Nabi Nuh as, nabi besar ilahi, sampai kini, para nabi senantiasa disangkal dan berbagai kelompok dan kaum dengan berbagai alasan menolak ucapan kebenaran dan tidak beriman terhadap kebenaran para utusan Tuhan.

Pengingkaran dan penyangkalan kebenaran karena fanatisme, sikap keras kepala dan kebencian tidak akan dibiarkan tanpa balasan dan kemurkaan Tuhan dengan berbagai bentuk turun kepada mereka. Sekelompok dihancurkan dengan banjir dan badai topan, sekelompok lainnya dengan petir dari langit dan sekelompok lainnya dengan gempa bumi.

Dari tiga ayat ini terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Tuhan yang sama yang mendirikan dunia besar ini dan menciptakan manusia, telah membimbingnya melalui para nabi untuk mengikuti jalan pertumbuhan dan kesempurnaan. Pada saat yang sama, menerima kebenaran bukan paksaan, dan dalam hal ini, manusia dibiarkan dengan kehendak bebasnya sendiri dan hak untuk memilih.

2. Kaum di masa lalu yang menyaksikan para nabi dan kebenarannya bagi mereka sangat jelas mendapat murka Tuhan karena mengingkari para nabi tersebut. Ini sebuah pelajaran bagi para hamba Tuhan.

َفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ (15)

Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru. (15)

Mayoritas orang musyrik dan kafir mengakui Tuhan sebagai pencipta manusia dan alam semesta, dan tidak mengingkari keberadaan-Nya. Ayat ini berdasarkan keyakinan tersebut menyatakan, "Apakah Kami lemah di penciptaan pertama kalian, sehingga Kami tidak berdaya untuk menciptakan kalian kembali, dan tidak mampu menciptakan kalian kembali ?"

Dari satu ayat ini terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Ragu akan kekuasaan Tuhan untuk menciptakan kembali manusia di Hari Kiamat, tidak memiliki dasar. Karena yang menciptakan makhluk pasti mampu menciptakannya kembali.

2. Saat berdialog dengan para pengingkar, gunakan metode pertanyaan sehingga mereka dapat berpikir dan merenungkannya sendiri, mungkin mereka akan menemukan kebenaran.

3. Orang yang mengingkari Maad (Hari Kiamat/Kebangkitan), tidak memiliki argumentasi logis, tapi keraguan adalah alasan mereka.

 

Selasa, 21 Desember 2021 14:39

Surat Qaf 1-8

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ق وَالْقُرْآَنِ الْمَجِيدِ (1) بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ (2)

Qaaf Demi Al Quran yang sangat mulia. (1)

(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir: "Ini adalah suatu yang amat ajaib". (2)

Surat Qaf diturunkan di Mekah dan surat ini membahas prinsip Maad (kebangkitan) dan argumentasi yang berkaitan dengannya, nasib manusia yang baik dan buruk serta nasib umat terdahulu.

Surat ini seperti 28 surat al-Quran lainnya, dimulai dengan Huruf Muqatha'ah, yang kemudian disusul dengan pujian dan sumpah akan keagungan al-Quran. Hal ini karena al-Quran disusun dan terdiri dari huruf alfabet ini, namun tidak ada yang mampu membuat atau menyerupai al-Quran. Ini adalah mukjizat al-Quran.

Kelanjutan ayat ini membicarakan orang-orang yang mengingkari Hari Kiamat dan menyatakan, "Mereka terkejut karena ada sosok di antara mereka yang mengklaim sebagai nabi dan memperingatkan manusia akan datangnya Hari Kiamat setelah kematian, dan mereka menilai klaim nabi tersebut tidak mungkin terjadi dan sulit diterima oleh akal mereka."

Sementara ia bukan sosok pertama yang diutus sebagai nabi dan memberi kabar akan datangnya Hari Kiamat. Oleh karena itu, keterkejutan mereka bukan karena ketidaktahuan, tapi karena pengingkaran dan sikap keras kepala serta alasan untuk menolak seruan dan ucapan Rasulullah Saw.

Dari dua ayat ini terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Al-Quran firman Tuhan yang memiliki keagungan dan kehormatan, dan siapa saja yang menginginkan pujian dan keagungan maka harus menjalankan setiap ajaran firman Tuhan ini.

2. Pengutusan Nabi dari manusia dan dari masyarakat itu sendiri adalah hal yang wajar dan bijaksana, serta sejatinya poin kuat mereka. Tapi orang bodoh dan para pengingkar, menjadikannya sebagai alasan untuk melecehkan para nabi.

3. Orang kafir tidak memiliki argumentasi rasional atas pengingkarannya terhadap kenabian dan Maad, oleh karena itu mereka memilih sikap takjub dan heran sebagai alasan untuk mengingkari kebenaran, dan menyebutnya sebagai hal di luar nalar.

أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ذَلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ (3) قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الْأَرْضُ مِنْهُمْ وَعِنْدَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ (4) بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ (5) ‏

Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)?, itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. (3)

Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat). (4)

Sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau. (5)

Di ayat sebelumnya telah dijelaskan bahwa orang-orang yang mengingkari Maad tidak memiliki argumentasi atas pengingkarannya tersebut. Ayat ini menjelaskan pertanyaan mereka yang dilontarkan karena takjub. Mereka mengatakan, bagaimana mungkin anggota badan kita yang setelah bertahun-tahun dan setelah kematian berubah menjadi tanah dihidupkan kembali dan kita kembali hidup ?

Saat menjawab pertanyaan mereka ini, al-Quran menyatakan, Allah Swt Maha Mengetahui apa saja perubahan dan transformasi di anggota badan manusia setelah mati, dan mengembalikannya seperti awal di Hari Kiamat. Segala urusan ini dicatat di sisi Tuhan. Lebih lanjut ayat menyatakan, sebagian para pengingkar ini sadar, tapi tetap mengingkari. Dengan kata lain, kekufuran mereka bukan karena kebodohan dan ketidaktahuan.

Dari tiga ayat ini terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Di antara metode unik al-Quran adalah terkadang mengutip ucapan orang kafir dan kemudian menjawab klaim mereka dengan rasional dan argumentasi.

2. Sistem penciptaan dibangun dan dikelola berdasarkan ilmu Tuhan, serta segala sesuatu memiliki takaran dan ukuran yang pasti.

3. Akar dari kekhawatiran dan kebingungan adalah menolak kebenaran dan kekufuran, seperti akar dari ketenangan adalah mengingat Tuhan dan menerima kebenaran. Oleh karena itu, mereka yang imannya tidak langgeng, senantiasa khawatir dan binggung.

أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ (6) وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (7) تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ (8)

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? (6)

Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, (7)

untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). (8)

Ragu akan ilmu dan kekuasaan Tuhan menjadi penyebab manusia mengingkari Maad (Hari Kiamat). Ayat sebelumnya berbicara mengenai keluasan ilmu Tuhan, sementara ayat ini menjelaskan kekuasaan tak berakhir Tuhan dan mengatakan, "Jika kalian memandang di atas kepala kalian, dan menyaksikan matahari, bulan, bintang dan galaksi yang tak berakhir, maka kalian akan menyadari kekuasaan dan kekuatan Tuhan, serta tidak lagi bertanya bagaimana Tuhan akan menghidupkan orang yang telah mati ?

Dan jika kalian menyaksikan di bawah kaki kalian, kalian akan melihat gunung, lembah, hutan dan beragam tanaman serta pohon, di mana kalian manusia tidak memiliki peran dari kemunculan fenomena tersebut, dan hal-hal itu muncul karena kakuasaan Tuhan. Semua ini menjadi alasan untuk mengingat dan memperhatikan Tuhan, khususnya bagi mereka yang ingin mengenal-Nya dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dari tiga ayat ini terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Bumi dan langit serta seluruh alam semesta merupakan kelas untuk belajar mengenal Tuhan, tentunya bagi mereka yang ingin mengenal awal dan akhir dunia.

3. Di langit terdapat sistem dan hukum yang menguasainya.

4. Kekuatan, keindahan dan keteraturan merupakan ciri-ciri ciptaan Tuhan di langit dan di bumi, sehingga tidak ada kekurangan dalam sistem penciptaan-Nya. Ini mengungkapkan pengetahuan dan kekuatan tak terbatas dari Pencipta dunia.

5. Tumbuhnya tanaman dari tanah yang mati, contoh dari kekuasaan Tuhan dalam menghidupkan kembali orang yang telah mati.

Selasa, 21 Desember 2021 14:38

Surat Al-Fath 26-29

 

Surat Al-Fath 26-29

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (26)

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (48: 26)

Pembahasan sebelumnya tentang Perjanjian Hudaibiyah di sebuah daerah dekat Mekah antara Rasulullah Saw dan pembesar musyrik Mekah. Ayat ini mengisyaratkan salah satu faktor kekufuran, yakni fanatisme buta dan mengatakan, fanatisme dan kecongkakan jahiliyah membuat orang musyrik tidak mengijinkan Rasulullah Saw dan muslimin untuk melakukan ibarah haji dan berkurban di kota suci Mekah.

Mereka mengatakan, mereka ini membunuh ayah dan kakek kita di perang Badr dan Uhud, bagaimana kita mengijinkan mereka memasuki kota kita dan kembali dengan selamat ? Padahal mereka menyadari bahwa ziarah ke Baitullah diperbolehkan bagi semua orang dan kota Mekah tempat aman, bahkan jika mereka melihat pembunuh ayahnya tengah berada di kota ini atau menunaikan ibadah haji dan umrah, mereka tidak akan mengganggunya.

Sebaliknya Allah menenangkan Rasulullah dan orang mukmin serta memintanya berlapang dada untuk mencegah pertumpahan darah di tanah suci ini. Allah meminta Nabi-Nya untuk sementara menahan diri dan mempersiapkan kemudahan bagi ziarah ke tanah suci untuk tahun-tahun mendatang melalui perjanjian damai dengan orang musyrik. Jika fanatisme buta era jahiliyah juga menguasai orang muslim, maka saat itu akan terjadi perang di tanah suci Mekah.

Dari satu ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Segala bentuk fanatisme di bidang ideologi dan praktis yang muncul dari budaya jahiliyah serta tidak sesuai dengan logika dan argumentasi yang benar, pasti tertolak.

2. Keharusan dari iman dan takwa adalah menjaga ketenangan dan pendekatan rasional serta jauh dari kemarahan di urusan pribadi dan sosial.

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا (27)

 

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (48: 27)

Sebelum rombongan muslimin bergerak ke Mekah, Rasulullah Saw bermimpi melihat seluruh sahabatnya memasuki Masjidil Haram untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian beliau menceritakan mimpinya tersebut kepada para sahabat. Kaum muslim berpikir bahwa mimpi nabi akan terealisasi tahun itu juga. Oleh karena itu, ketika kaum musyrik menutup jalan mereka untuk memasuki Mekah, sejumlah muslim mulai ragu, jangan-jangan mimpi Nabi palsu dan tidak benar.

Saat itulah ayat ini turun dan menegaskan bahwa mimpi tersebut benar dan secara pasti umat muslim akan memasuki Masjidil Haram dengan aman. Berdasarkan Perjanjian Hudaibiyah, tahun berikutnya orang musyrik akan mengosongkan Mekah selama tiga hari dan umat muslim dengan tenang dapat menjalankan ibadah haji dan umrahnya dengan agung. Namun demikian, ternyata orang musyrik malah melanggar janjinya dan umat muslim tahun delapan hijriyah menaklukan Mekah tanpa pertumpahan darah.

Dari satu ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Janji Tuhan pasti terealisasi, meski terkadang terlambat karena sesuai dengan ilmu dan hikmah Tuhan, tapi keterlambatan ini jangan sampai membuat kita ragu.

2. Jika menerima perdamaian demi kemaslahatan masyarakat dan bukan karena takut musuh, maka berkah perdamaian seperti ini akan tinggi dan awal dari kemenangan.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (28)

 

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (48: 28)

Melanjutkan ayat sebelumnya tentang janji kemenangan muslimin atas orang musyrik Mekah, ayat ini menyatakan, kemenangan ini akan terus berlanjut dan akan tiba saatnya Islam menyebar ke seluruh dunia dan mengalahkan setiap agama dan aliran, karena ucapan Tuhan adalah kebenaran dan membimbing manusia ke arah kebahagiaan.

Berdasarkan riwayat mutawatir yang disepakati seluruh umat Muslim, janji ini akan terealisasi di akhir zaman oleh salah satu keturunan Rasulullah Saw bernama Mahdi. Ia akan melawan kaum arogan dan pemimpin zalim dengan bantuan kaum tertindas dunia. Imam Mahdi as dengan bantuan Tuhan akan mengalahkan kaum zalim dan kemudian menegakkan keadilan dan keamanan di seluruh dunia.

Dari satu ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Dengan kehendak Allah, agama kebenaran akan menyelimuti seluruh alam dan terbuka peluang untuk membimbing masyarakat dunia ke arah agama ilahi.

2. Agama-agama masa lalu bersifat khusus untuk periode waktu tertentu, dan sebaliknya, ajaran Islam tidak spesifik untuk waktu tertentu. Oleh karena itu, masa depan adalah milik Islam dan agama ini akan menjadi universal. Oleh karena itu, umat Islam harus menjalankan tugasnya dengan baik dan memperkenalkan wajah Islam yang sebenarnya kepada dunia.

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29)

 

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (48: 29)

Ayat ini merupakan ayat terakhir Surat Al-Fath dan menjelaskan kondisi yang diperlukan bagi terealisasinya janji ilahi yang disebutkan di ayat sebelumnya. Ayat ini mengatakan, umat muslim harus menyusun interaksi personal dan sosialnya berdasarkan empat kriteria ini bagi kemenangan Islam atas seluruh agama.

Pertama, harus bersikap tegas, keras dan solid terhadap musuh.

Kedua, harus bersikap penuh kasih terhadap sesama kaum muslim dan beriman.

Ketiga, harus menunjukkan penghambaan dan ibadah di hubungan dengan Tuhan.

Keempat, terkait dengan diri sendiri, harus berusaha untuk tumbuh, berkembang, maju dan mencapai independesi ekonomi serta politik.

Jika umat Muslim menjadikan kriteria ini sebagai teladannya, bukan saja mereka akan menang dihadapan musuh di dunia, bahkan di akhirat akan mendapat rahmat serta ampunan Tuhan.

Dari satu ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Islam adalah agama yang komprehensif dan memiliki perencanaan untuk semua dimensi dan aspek kehidupan manusia.

2. Globalisasi Islam tidak mungkin terjadi tanpa mengikuti sunnah Rasulullah dan memiliki pengikut yang jujur ​​dan teguh.

3. Di Taurat dan Injil juga disebutkan sifat-sifat pengikut Rasulullah Saw.

4. Pertumbuhan kualitas dan kuantitas umat Muslim membuat musuh marah.