کمالوندی
Surat Al-Fath ayat 22-25
Surat Al-Fath ayat 22-25
وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوَلَّوُا الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (22) سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا (23)
Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong. (48: 22)
Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. (48: 23)
Di pembahasan sebelumnya dibahas mengenai Perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah dan pembesar Mekah di daerah Hudaibiyah, dekat Mekah. Sekelompok orang menghina Rasul dan muslimin dan mengatakan, kalian menyerah terhadap perjanjian damai ini karena lemah dan tidak mampu, dan jika perang meletus kalian pasti kalah.
Ayat ini menjawab kelompok ini dan memberi semangat kepada umat Muslim serta menekankan bahwa ucapan seperti ini tidak berdasar dan keliru. Biasanya ketika orang beriman berperang hanya demi meraih keridhaan Tuhan dan menjahui tujuan materi serta perpecahan, serta mereka hanya taat terhadap perintah Rasulullah, maka sunnah ilahi adalah pertolongan Tuhan dalam membantu mereka melawan musuh. Seperti di Perang Badr dan Ahzab, hal ini telah terbukti dan dengan bantuan Allah, sekelompok kecil orang beriman berhasil mengalahkan pasukan besar musyrik.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Mereka yang mengingkari Tuhan sejatinya membuat dirinya jauh dari bantuan dan pertolongan Tuhan di kehidupannya.
2. Kemenangan kebenaran atas kebatilan serta pertolongan terhadap orang mukmin saat melawan orang kafir adalah sunnah ilahi yang pasti.
3. Hukum Tuhan komprehensif dan melampaui sekat waktu dan geografi, oleh karena hukum tersebut itu tidak pernah lapuk atau mandul.
وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا (24) هُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْهَدْيَ مَعْكُوفًا أَنْ يَبْلُغَ مَحِلَّهُ وَلَوْلَا رِجَالٌ مُؤْمِنُونَ وَنِسَاءٌ مُؤْمِنَاتٌ لَمْ تَعْلَمُوهُمْ أَنْ تَطَئُوهُمْ فَتُصِيبَكُمْ مِنْهُمْ مَعَرَّةٌ بِغَيْرِ عِلْمٍ لِيُدْخِلَ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ لَوْ تَزَيَّلُوا لَعَذَّبْنَا الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (25)
Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (48: 24)
Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan korban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang yag kafir di antara mereka dengan azab yang pedih. (48: 25)
Melanjutkan ayat sebelumnya, ayat ini mengisyaratkan dua poin penting di Perjanjian Hudaibiyah. Salah satunya adalah perjanjian damai ini sejatinya sebuah kemenangan bagi kalian terhadap orang kafir yang kalian raih tanpa pertumpahan darah. Karena meski kalian hadir di wilayah musuh dan kaum musyrik dapat memusnahkan kalian, tapi setelah baiat kalian dengan Nabi, mereka sangat ketakutan, sehingga mereka sendiri yang mengusulkan perdamaian.
Poin kedua adalah di kota Mekah, ada sejumlah orang muslim yang masih tinggal karena sejumlah sebab sehingga mereka tidak berhijrah ke Madinah. Jika Tuhan memerintahkan serangan ke Mekah, maka orang muslim ini juga akan terancam, karena kalian tidak mengenal mereka dan kalian terlibat konfrontasi dengan mereka. Jika ini terjadi, maka ini akan menjadi penyesalan kalian seumur hidup bahwa kalian menyerang saudara kalian di Mekah atau kalian membunuhnya.
Dari dua ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Terkadang perdamaian sebuah indikasi kemenangan. Tentunya ini dalam kasus ketika ada kemaslahatan bagi masyarakat Islam yang ditentukan oleh para pemimpin yang bijak dan beriman.
2. Ketika musuh mengumumkan perang, kita tidak boleh menjadi pihak pertama yang menyerang dan terlibat konfrontasi dengan mereka.
3. Mekah bukan tempak eksklusif bagi penghuni kota ini, dan tidak ada yang berhak mencegah peziarah Baitullah memasuki kota ini.
4. Ketika perang sedapat mungkin dihindari pembunuhan terhadap orang yang tak berdosa dan tidak boleh melakukan tindakan brutal dan membabi buta untuk mengalahkan musuh.
5. Harus hati-hati dan jangan memberi musuh alasan. Penting untuk menghindari setiap tindakan yang menciptakan nama buruk bagi muslim dan merusak citra mereka di masyarakat.
Surat Al-Fath ayat 17-21
Surat Al-Fath ayat 17-21
لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا (17)
Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. (48: 17)
Di pembahasan sebelumnya mencela mereka yang menentang perang dan menyatakan mereka akan mendapat azab-Nya. Wajar jika di antara mereka ada orang yang cacat atau sakit dan tidak mampu berperang bersama muslim lainnya. Sebagian dari mereka mendatangi Rasul dan bertanya mengenai kondisi mereka. Ayat ini turun dan memisahkan mereka dari orang-orang sehat yang melanggar perintah Rasulullah Saw.
Salah satu prinsip dasar Islam bagi seluruh perintah dan kewajiban agama adalah pesan ayat ini: «لا یُکَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَها»
(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.) (al-Baqara: 286)
Dalam shalat, salah satu syaratnya yaitu berdiri, orang sakit atau cacat dapat shalat sambil duduk bahkan berbaring. Puasa tidak hanya dikecualikan dari orang yang sakit, tetapi juga orang yang sehat tidak wajib berpuasa jika mengetahui bahwa dirinya sakit jika berpuasa. Agar haji menjadi wajib bagi individu, kemampuan fisik juga diperlukan, dan mereka yang tidak dapat pergi ke Mekah atau melakukan ritual haji dibebaskan dari melakukannya.
Dalam ayat yang sedang dibahas, Al-Qur'an mengatakan: Jihad dengan musuh wajib atas orang sehat yang memiliki kekuatan untuk berperang dan membela diri, dan orang yang memiliki cacat fisik atau sakit dibebaskan dari berpartisipasi dalam medan perang dan jihad.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tuhan memberikan perhatian khusus kepada orang sakit dan orang cacat dan membebaskan mereka dari melakukan tugas-tugas tertentu. Para pejabat dan legislator juga harus memperhatikan hal ini ketika membuat undang-undang dan peraturan sosial.
2. Yang terpenting adalah taat dan berserah diri terhadap perintah Tuhan; Meski kewajiban seseorang berbeda berdasarkan kondisi dan kemampuannya.
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا (18) وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَا وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (19)
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (48: 18)
Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (48: 19)
Di pembahasan sebelumnya kami sebutkan bahwa Rasulullah dan muslimin bertolak ke Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah. Rasulullah mengirim salah satu sahabatnya ke pembesar Mekah untuk menginformasikan tujuan Rasulullah, dan bahwa muslimin tidak berniat perang, tapi tujuannya adalah berziarah ke Baitullah. Tapi orang musyrik menahan utusan rasul.
Menyusul langkah tersebut, Rasulullah mengumpulkan sahabatnya di bawah pohon di kawasan Hudaibiyah. Rasul mengambil baiat dari mereka bahwa mereka tidak akan mundur melawan orang musyrik dan tidak ada yang akan melarikan diri dari medan tempur. Ketika berita ini sampai ke orang musyrik, mereka ketakutan dan kemudian utusan rasul dibebaskan. Melalui Perjanjian Hudaibiyah, terbukalah peluang bagi ibadah umrah dan haji di tahun-tahun selanjutnya. Kemudian disusul dengan penaklukan Khaibar dan umat muslim mendapat rampasan perang yang berlimpah.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Iman tidak terbatas pada melakukan serangkaian kewajiban agama seperti shalat dan puasa, tapi hadir dan partisipasi di bidang sosial dan politik, membantu dan menyertai pemimpin agama juga termasuk kewajiban orang beragama.
2. Jangan tertipu oleh zahir sebuah perbuatan. Allah Swt sepenuhnya mengetahui niat dan motivasi kita serta memberi kita pahala berdasarkan niat tersebut.
3. Keridhaan Tuhan sebuah hal spiritual tidak bertentangan dengan mendapat rampasan perang dan kesuksesan duniawi.
4. Kesetian kepada Rasulullah dan menolongnya dalam melawan musuh adalah kunci mendapat rahmat di dunia dan akhirat.
وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَذِهِ وَكَفَّ أَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْ وَلِتَكُونَ آَيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (20) وَأُخْرَى لَمْ تَقْدِرُوا عَلَيْهَا قَدْ أَحَاطَ اللَّهُ بِهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا (21)
Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. (48: 20)
Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (48: 21)
Melanjutkan ayat sebelumnya, ayat ini mengatakan, rahmat ilahi kepada orang mukmin tidak terbatas pada Perjanjian Hudaibiyah dan penaklukan Khaibar, tapi kemenangan di masa depan juga milik orang muslim yang tidak mereka sangka dan mereka juga tidak memiliki kemampuan serta fasilitasnya. Karena Allah selain memberi mereka ketenangan, juga menurunkan ketakutan di hati orang-orang kafir sehingga mereka tidak melancarkan serangan atau agresi.
Jelas bahwa bantuan ilahi ini membuat iman orang mukmin terhadap kebenaran Rasulullah semakin kokoh dan mereka semakin solid di jalan Tuhan.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Di undang-undang perang, diperbolehkan mengambil harta musuh sebagai rampasan perang, dan ini juga dibenarkan oleh Allah Swt.
2. Allah berjanji bahwa jika kalian berusaha dalam membantu agama-Nya, maka Ia akan menyediakan berkah duniawi dan materi bagi kalian.
3. Sebuah nikmat besar yang diberikan Allah kepada orang mukmin ketika Ia membuat musuh tidak berani menyerang muslim dan menjamin keamanan.
Surat Al-Fath ayat 14-16
Surat Al-Fath ayat 14-16
وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (14)
Dan hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia memberikan ampun kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengazab siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (14)
Di pembahasan sebelumnya disebutkan tentang orang munafik yang batinnya kafir, tapi di luar menunjukkan sebagai orang muslim. Ayat ini mengatakan, Allah Swt Maha Pengampun dan Penyayang, dan siapa saja bertaubat dan menyesal atas perbuatannya di masa lalu akan mendapat pengampunan-Nya. Tapi mereka yang tetap melanjutkan jalan kelirunya dan congkak dihadapan kebenaran sejatinya membuat dirinya jauh dari rahmat Tuhan dan akan mendapat balasan dari perbuatan kelirunya.
Ayat ini menekankan kekuasaan mutlak Tuhan terhadap alam semesta sehingga tidak ada yang akan berpikir dapat keluar dari kekuasaan dan perintah Tuhan.
Dari satu ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Rahmat ilahi mendahului murka-Nya. Selama manusia tidak menghalangi potensinya untuk mendapat rahmat Tuhan melalui perbuatannya, maka ia akan mendapat rahmat ilahi.
2. Rasa takut dan harapan diperlukan bagi keselamatan manusia. Oleh karena itu, di pendidikan ilahi, manusia harus dalam kondisi takut dan penuh harapan, bukannya putus asa total atau congkak. Manusia harus optimis akan rahmat Tuhan dan takut akan kemurkaan-Nya.
سَيَقُولُ الْمُخَلَّفُونَ إِذَا انْطَلَقْتُمْ إِلَى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوهَا ذَرُونَا نَتَّبِعْكُمْ يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ قُلْ لَنْ تَتَّبِعُونَا كَذَلِكُمْ قَالَ اللَّهُ مِنْ قَبْلُ فَسَيَقُولُونَ بَلْ تَحْسُدُونَنَا بَلْ كَانُوا لَا يَفْقَهُونَ إِلَّا قَلِيلًا (15)
Orang-orang Badwi yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: "Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu"; mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah: "Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami; demikian Allah telah menetapkan sebelumnya"; mereka akan mengatakan: "Sebenarnya kamu dengki kepada kami". Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali. (48: 15)
Salah satu ciri orang munafik adalah oportunisme. Ketika mereka dalam bahaya, mereka menarik diri dengan berbagai dalih dan melalaikan tanggung jawab mereka, tetapi mereka hadir di mana pun ketika mereka merasa kehadiran mereka bermanfaat baginya.
Saat rombongan muslimin kembali ke Madinah, Allah Swt memberi kabar gembira kepada Nabi akan penaklukkan Khaibar dan mereka yang menentang Perjanjian Hudaibiyah akan dilarang ikut dalam perang Khaibar. Tapi ketika pasukan Muslim bergerak ke arah Khaibar, kelompok ini meminta Nabi supaya diijinkan bergabung bersama pasukan muslim untuk menebus kesalahan mereka. Tapi sejatinya mereka hanya ingin saham rampasan perang Khaibar. Rasulullah kemudian membacakan perintah Allah kepada mereka dan melarang mereka ikut di perang ini.
Uniknya kelompok ini alih-alih mengakui kesalahannya, tapi malah menuding orang lain dan mengatakan, mereka tidak menginginkan kita ikut di jihad ini karena dengki dan ingin menguasai semua rampasan perang.
Dari satu ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat petik:
1. Mereka yang meninggalkan kewajiban sosialnya di kondisi bahaya dan sulit, harus dilarang menikmati sejumlah fasilitas sosial, sehingga tidak terbuka peluang bagi maraknya kelompok tersebut.
2. Seluruh muslim mengklaim beriman dan mengikuti perintah Tuhan. Tapi mukmin sejati dan munafik akan tampak di kondisi sulit.
3. Jangan takut akan tudingan dan fitnah orang munafik yang menfitnah orang mukmin untuk berlepas diri dari pelanggaran mereka.
قُلْ لِلْمُخَلَّفِينَ مِنَ الْأَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ إِلَى قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ فَإِنْ تُطِيعُوا يُؤْتِكُمُ اللَّهُ أَجْرًا حَسَنًا وَإِنْ تَتَوَلَّوْا كَمَا تَوَلَّيْتُمْ مِنْ قَبْلُ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (16)
Katakanlah kepada orang-orang Badwi yang tertinggal: "Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu) niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih". (48: 16)
Melanjutkan ayat sebelumnya tentang penolakan permintaan orang munafik untuk ikut di perang Khaibar, ayat ini menyatakan, jika kalian benar-benar menyesal atas pelanggaran kalian sebelumnya, maka kalian dapat menunjukkan kejujuran kalian di medan sulit yang akan datang dan Allah Swt membuka jalan ini bagi kalian supaya kalian bertaubat atas kesalahan masa lalu.
Tapi jangan berharap rampasan perang di perang tersebut dan jangan berperang karena mengharapkan ghanimah (rampasan perang). Dengan demikian kalian akan mendapat pahala dari Tuhan seperti yang diraih pejuang di jalan kebenaran. Tapi jika kalian kembali melakukan pelanggaran di perang tersebut dan menyimpang dari perintah Tuhan dan rasul-Nya, maka kalian akan mendapat azab yang pedih.
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam sistem sosial, biarkan jalan kembali dan kompensasi terbuka bagi pelanggar dan tidak memboikot mereka selamanya.
2. Jangan meremehkan musuh dan jangan menganggap kemenangan sebelumnya sebagai alasan bagi kemenangan di perang mendatang, karena bisa jadi musuh memperkuat persenjataan dan kemampuan mereka serta hadir di medan tempur lebih kuat dari sebelumnya.
3. Kekuatan dan kemampuan pertahanan muslimin harus memaksa musuh untuk menyerah dan menerima kekalahan.
4. Tujuan dari jihad adalah melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya, bukan memperluas negara atau menaklukkan pihak lain, karena pejuang sejati adalah mereka yang ingin meraih keridhaan Allah dan menjauhi kemurkaan-Nya.
Surat Al-Fath ayat 10-13
Surat Al-Fath ayat 10-13
إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا (10)
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (48: 10)
Di pembahasan sebelumnya disinggung tentang Perjanjian Hudaibiyah dan orang musyrik Mekah. Sebelum Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah Saw mengutus salah satu sahabatnya kepada orang musyrik untuk memberitahu mereka bahwa muslimin akan menuju Mekah untuk berziarah dan tidak berniat untuk perang.
Di sisi lain, orang musyrik menahan utusan Nabi untuk sementara. Hal ini menimbulkan desas desus di antara orang Muslim bahwa utusan nabi terbunuh. Rasulullah kemudian mengumpulkan sahabatnya dan mengambil janji (baiat) dari mereka bahwa jika berita ini benar, mereka akan berperang melawan orang musyrik ketimbang kembali ke Mekah.
Ketika berita baiat ini sampai ke orang musyrik Mekah, mereka membebaskan utusan Nabi dan memilih untuk berdamai dengan muslimin ketimbang perang. Dengan demikian baiat muslimin dengan Rasulullah tersebut sangat penting di sejarah Islam dan di ayat lain, Allah Swt menyatakan keridhaan-Nya kepada muslimin karena baiat tersebut.
Di ayat ini juga disebutkan, baiat dengan Nabi sama halnya dengan baiat dengan Tuhan, sama seperti peristiwa baiat, kedua pihak saling berjabat tangan, seakan-akan orang yang berbaiat dengan nabi, meletakkan tangannya di tangan Tuhan yang berada di atas seluruh tangan.
Jelas bahwa mereka yang berbaiat dengan Tuhan dan menolong agama-Nya, diharapkan tidak melanggar janjinya. Jika demikian, maka mereka akan melukai imannya sendiri.
Dari satu ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Keharusan dari iman kepada Tuhan adalah menolong agama-Nya dan komitmen terhadap pemimpin agama dalam melawan konspirasi dan skema musuh.
2. Rahmat Tuhan turun kepada mereka yang menolong agama Tuhan dan komitmen di jalan ini.
3. Menjaga janji dan baiat merupakan indikasi beragama dan merusak baiat, sejatinya merusak diri sendiri.
سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (11)
Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: "Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami"; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (48: 11)
Ketika rombongan muslimin bergerak dari Madinah menuju Mekah, Rasulullah Saw memerintahkan muslim yang hidup di sekitar Madinah untuk bergabung dengan rombongan, tapi sebagian dari mereka menolak karena takut terlibat bentrokan dengan orang musyrik Mekah.
Ketika muslimin kembali ke Madinah, mereka yang tidak bergabung dengan rombongan ini mendatangi Nabi dan memberi alasan absennya mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka disibukkan dengan urusan kehidupan. Namun ayat Al-Qur’an kemudian turun dan menguak kebohongan mereka dan menyebutkan apa yang diucapkan mereka berbeda dengan apa yang disembunyikan di hati.
Kelanjutan ayat ini menekankan poin penting bahwa lari dari jihad bukan jaminan bagi keberlangsungan hidup. Betapa banyak orang yang pergi ke medan perang, tapi kembali dengan selamat dan betapa banyak mereka yang tinggal di rumah, tapi kehilangan nyawa.
Dari satu ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Salah satu faktor bagi pelanggaran kewajiban sosial adalah lemahnya iman masyarakat dan rendahnya tingkat budaya mereka. Oleh karena itu, pemimpin yang cakap dan berpikiran luas harus perhatian terhadap keputusan pentingnya di poin ini.
2. Ketergantungan besar terhadap dunia telah mencegah sebagian orang untuk berjuang di medan tempur dan jihad di jalan Tuhan.
3. Doa dan syafaat Nabi terhadap orang-orang yang bersalah diterima oleh Tuhan.
4. Wajib untuk membela agama Tuhan dan pemimpin agama, meski kita akan merugi.
بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا (12) وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَعِيرًا (13)
Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa. (48: 12)
Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala. (48: 13)
Melanjutkan ayat sebelumnya, ayat ini menyinggung sebab penolakan sejumlah orang untuk menyertai Nabi dan muslimin serta mengatakan, alasan sejati mereka yang menolak bukan karena sibuk dengan pekerjaan atau urusan kehidupan keluarga, tapi anggapan keliru akibat prasangka buruk atas janji-janji ilahi yang muncul di diri mereka. Mereka berpikir bahwa muslimin tidak akan kembali dengan selamat di perjalanan kali ini, oleh karena itu, mereka menolak untuk bergabung.
Orang-orang ini menganggap Tuhan telah meninggalkan nabi-Nya di perjalanan ini dan menyerahkannya ke tangan musuh. Dengan demikian mereka berpikir tidak ada alasan untuk membahayakan nyawanya. Pemikiran keliru ini telah mencegah mereka untuk menyertai Nabi dan memperbaruhi baiatnya dengan Rasulullah serta faktor bagi kemalangan mereka, karena hal ini indikasi lemahnya iman dan bisa berakibat pada kekufuran terhadap Allah dan rasul-Nya, di mana para pelanggar baiat akan mendapat azab yang pedih.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Janganlah kita memutuskan melawan perintah Tuhan dan para pemimpin ilahi hanya berdasarkan perhitungan duniawi, tetapi marilah kita bertindak dengan bertawakkal kepada Tuhan dan tidak takut pada apa pun.
2. Termasuk dosa besar berprasangka buruk kepada hamba Tuhan, apalagi berburuk sangka kepada Tuhan dan janji-janji-Nya.
3. Terkadang buruk sangka dan pemikiran menyimpang memiliki dampak besar bagi manusia dan mendorongnya untuk melanggar perintah Tuhan.
4. Ketergantungan berlebihan terhadap keluarga tidak boleh menghalangi manusia untuk melakukan kewajiban agama, karena jika demikian maka akan membuat manusia celaka dan mengalami nasib buruk.
Surat Al-Fath ayat 5-9
Surat Al-Fath ayat 5-9
لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَكَانَ ذَلِكَ عِنْدَ اللَّهِ فَوْزًا عَظِيمًا (5)
supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah, (48: 5)
Di pembahasan sebelumnya telah dibahas Perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah Saw dan orang musyrik Mekah, di mana Allah Swt telah memberi kabar gembira kemenangan umat Muslim di masa depan dan memberi mereka ketenangan.
Ayat kali ini mengatakan, mereka yang senantisa menjadi penolong dan selalu menyertai Rasulullah serta taat kepadanya, selain mendapat ketenangan duniawi, Allah Swt juga menjamin akhirat mereka; Tuhan mengampuni kesalahan mereka dan menjadikan surga sebagai tempat mereka serta mendapat nikmat ilahi yang tidak akan pernah putus.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Meskipun perempuan tidak memiliki kehadiran langsung di beberapa bidang yang sulit seperti perang dan jihad, tapi jika mereka menjadi penolong dan sepemikiran dengan suami serta anak-anak pejuangnya, dan rela dengan partisipasi suami dan anaknya di medan tempur, maka mereka juga mendapat pahala.
2. Iman tidak berarti bahwa tidak ada kesalahan di pihak orang yang beriman. Tetapi perbuatan baik orang-orang beriman menyebabkan Allah mengampuni kesalahan mereka dan membuat mereka mendapat rahmat dan ampunan-Nya.
3. Kebahagiaan dan keselamatan yang besar dan nyata adalah manusia sejahtera baik di dunia maupun di akhirat, jika tidak maka banyak orang kafir di dunia ini yang akan menikmati berkah materi.
وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (6) وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (7)
dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali. (48: 6)
Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (48: 7)
Ketika Rasulullah dan muslimin bergerak dari Madinah menuju Mekah, orang munafik yang meragukan pertolongan Allah mengataan, orang muslim tidak akan kembali dengan selamat ke Madinah dan mereka akan terbunuh atau ditawan orang musyrik. Sementara orang musyrik Mekah juga berniat melawan muslimin, tapi bahaya ini berhasil dihilangkan dengan perencanaan Rasul dan perjanjian damai dengan kaum Musyrik.
Ayat ini mengatakan, kaum munafik Madinah dan musyrik Mekah yang memperkirakan nasib buruk bagi muslimin, justru diri mereka sendiri akan mengalami nasib buruk dan mendapat murka serta azab ilahi di dunia dan akhirat.
Mereka yang bersandar para kekuatan dan hikmah ilahi serta maju ke medan akan mendapat rahmat dan bantuan Tuhan serta akhirnya meraih kemenangan. Namun mereka yang duduk di rumah karena takut dan menakut-nakuti orang lain serta melemahkan semangat masyarakat, mereka akan bernasib buruk. Faktanya orang seperti ini telah merusak dunia dan akhiratnya sendiri.
Uniknya di ayat ini disebutkan bahwa istri mukmin berada di samping suaminya yang mukmin, sementara istri musyrik dan munafik berada di sampin suami mereka. Dengan demikian ayat ini menjelaskan peran penting perempuan/istri di bidang sosial dan politik serta pengaruh mereka terhadap suami.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Prasangka buruk akan janji-janji ilahi adalah ciri orang munafik dan musyrik, bukan orang mukmin sejati yang percaya akan pemenuhan janji-janji itu.
2. Orang-orang munafik dan orang-orang musyrik itu sependapat dan bersama-sama dalam kejahatan dan kesesatan. Oleh karena itu, dalam ayat-ayat ini disebutkan nasib orang-orang munafik bersama dengan orang-orang musyrik; Namun, orang-orang munafik hidup di antara orang-orang beriman dan dianggap Muslim dalam penampilan.
3. Perempuan berada di pihak laki-laki dalam memperoleh kebajikan atau keburukan moral, dan seperti mereka, perempuan mempengaruhi nasib mereka sendiri dan masyarakat.
4. Semua objek dan fenomena alam semesta berada di bawah rencana dan perintah Tuhan, dan siapa pun yang menentang Tuhan tidak akan memiliki akhir kecuali kekalahan.
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (8) لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (9)
Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, (48: 8)
supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (48: 9)
Melanjutkan ayat sebelumnya, ayat ini menekankan posisi Rasulullah Saw di tengah masyarakat dan mengatakan, ia menjadi saksi dan pengawas atas segala sesuatu yang terjadi di masyarakat, serta tidak ada yang tersembunyi darinya, meski bisa saja ia tidak akan mengungkapkan apa yang ia ketahui.
Ia menyeru manusia untuk melakukan perbuatan baik dan menghindari perbuatan buruk, dan memberi kabar gembira bagi perbuatan baik dan memperingatkan akan akhir dari perbuatan buruk.
Orang-orang beriman diharapkan menerima ucapannya dan dalam praktek, selalu menjadi penolong dan menyertainya serta mengagungkan kedudukannya di masyarakat, sehingga orang munafik dan musuh luar tidak akan berani melukainya.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Harus ada keseimbangan antara kabar gembira dan peringatan saat memberi petunjuk dan mendidik sesorang, sehingga audiens tidak akan sombong atau putus asa.
2. Para mubaligh di tengah masyarakat harus menjadi teladan baik dalam perilaku maupun perbuatan, serta harus menyadari apa yang tengah terjadi di masyarakat.
3. Keharusan iman kepada Tuhan adalah mendukung dan menjaha agama serta Rasulullah Saw. Rasul harus dihormati dan kedudukannya di masyarakat diagungkan.
4. Orang beriman di samping aktivitas sosial dan hadir di lapangan, harus terus mengingat Tuhan baik pagi atau malam dan di shalat atau lainnya, serta memperkuat hubungannya dengan Tuhan melalui metode ini.
Surat Al-Fath ayat 1-4
Surat Al-Fath ayat 1-4
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (3)
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, (48: 1)
supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, (48: 2)
dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). (48: 3)
Surat ini diturunkan setelah perjanjian Hudaibiyah tahun enam hijriyah. Di tahun tersebut, Rasulullah dan sejumlah Muslim Madinah menuju Mekah untuk menunaikan ibadah umrah, tapi kaum Musyrik memblokir jalan mereka di dekat Mekah, tepatnya di daerah Hudaibiyah dan melarang mereka memasuki Mekah.
Perundingan antara kaum Muslim dan musyrik akhirnya berujung pada perjanjian damai antara Nabi dan pembesar Quraisy dengan tujuan umat Muslim untuk tahun-tahun selanjutnya diijinkan menunaikan ibadah haji. Ketika Rasulullah kembali ke Madinah, surat ini turun dan memberi kabar gembira kemenangan umat Muslim.
Ayat ini yang diturunkan setelah Perjanjian Hudaibiyah termasuk mukadimah (pendahuluan) bagi sebuah kemenangan penting di masa mendatang. Karena sebelumnya, orang musyrik hanya berpikir untuk menghancurkan umat Muslim dan tidak menganggap komunitas ini. Tapi hasil dari Perjanjian Hudaibiyah adalah umat Muslim diakui dan mereka meraih kemenangan pasti dengan penaklukan kota Mekah tahun 8 Hijriyah.
Dengan pengutusan Rasulullah Saw, tradisi keliru dan sesat era jahiliyah dipertanyakan. Berdasarkan ajaran Islam, sistem kasta sosial dihancurkan, dan seluruh umat manusia dari setiap etnis dan kabilah adalah hamba Tuhan dan sesama saudara. Namun demikian perjuangan Rasulullah melawan penyembahan berhala dan tradisi jahiliyah telah mengganggu para pembesar musyrik dan ini bukan sesuatu yang mudah diabaikan. Dengan demikian, mereka menganggap Rasulullah berdosa karena memberantas nilai dan tradisi keliru jahiliyah dan menciptakan perubahan di sendi-sendi masyarakat.
Singkatnya dapat dikatakan bahwa prestasi penting Perjanjian Hudaibiyah dan hasilnya adalah penaklukan kota Mekah yang kemudian disusul dengan pemusnahan tradisi keliru jahiliyah. Rasulullah Saw menerapkan sistem Islam di Mekah dan Madinah, mengakhiri perseteruan antara kabilah dan menerapkan spirit persaudaraan di antara seluruh lapisan masyarakat.
Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Perencanaan dan pengambilan keputusan berdasarkan fakta yang ada memberikan dasar untuk sukses. Kemenangan atas musuh tidak selalu dalam bayang-bayang perang dan jihad; Terkadang perdamaian dan rekonsiliasi juga memberikan dasar untuk kemenangan atas musuh.
2. Jika kita mengejar untuk menjalankan kewajiban dan tidak takut akan dampaknya, maka Allah Swt akan mengatut supaya dampak dan pengaruh tersebut hilang dan yang muncul adalah hasil yang diiginkan.
3. Keputusan Rasulullah Saw untuk berdamai atau berperang melawan musuh sesuai dengan petunjuk dan arahan Allah Swt, dan beliau tidak bertidak sesuai dengan hawa nafsunya.
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (4)
Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (48: 4)
Di peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, mayoritas Muslim sedih dan terpukul karena tidak mendapat kesempatan untuk berziarah ke Mekah dan melakukan ibadah umrah. Namun turunnya surat ini dan kabar gembira akan kemenangan mereka di masa depan, telah memberi ketenangan kepada mereka dan membuat imannya terhadap ucapan Rasul dan Tuhan serta janji-Nya semakin solid.
Wajar jika mereka yang meyakini dunia berada di bawah pengaturan Tuhan dan seluru fenomena alam di langit dan bumi seperti tentara Tuhan, tidak pernah merasa kalah dan tidak takut akan kekuatan serta wibawa musuh.
Dari satu ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Salah satu karunia Tuhan bagi orang-orang yang beriman adalah membawa kedamaian di hati mereka, sebagaimana salah satu hukuman bagi orang-orang kafir adalah menanamkan rasa takut dalam hati mereka.
2. Iman memiliki derajat dan selalu berfluktuasi, mengalami naik dan turun. Faktanya keberadaan kesulitaan dan munculnya beragam fenomena, termasuk ujian untuk mengukur iman seseorang.
3. Perhatian pada kekuatan, pengetahuan dan kebijaksanaan Tuhan, dan fakta bahwa semua fenomena alam berada di bawah aturan dan perintah Tuhan, memberikan kedamaian batin bagi orang beriman.
Senjata Tentara Israel Banyak yang Hilang Dicuri
Sumber militer rezim Zionis Israel mengatakan, 70 persen penembak jitu yang tersebar di seluruh wilayah Palestina pendudukan, menggunakan senjata curian dari tentara Israel.
Dikutip situs berita Walla, Senin (20/12/2021), sumber militer Israel mengumumkan, dari 675 kasus penembakan yang terjadi dalam setahun terakhir di seluruh wilayah pendudukan, 463 kasus di antaranya menggunakan senjata curian dari militer Israel.
Sebagian besar senjata itu dicuri oleh warga Palestina, dan digunakan melawan Israel. Aparat kepolisian Israel dalam setahun terakhir menyita sekitar 2.220 pucuk senjata curian.
Menurut Walla, jumlah senjata curian itu menunjukkan ketidakmampuan militer Israel melindungi gudang-gudang senjata mereka. Hal itu terbukti dari adanya peningkatan 22 persen serangan menggunakan bom curian dari gudang senjata Israel.
Dalam beberapa tahun terakhir, kebanyakan senjata yang masuk ke wilayah Palestina pendudukan berasal dari Mesir, Yordania dan Lebanon.
Minggu lalu Kanal 13 televisi Israel mengungkap pencurian lebih dari 100.000 pucuk senapan serbu M-16 dari gudang-gudang senjata Israel di sebuah pangkalan militer, sekitar 1,5 bulan lalu.
Selain itu, sumber militer Israel bulan Januari 2021 silam juga mengabarkan pencurian 93.000 peluru caliber 5,56 milimeter dari sebuah pangkalan militer Israel di Negev.
Militer Irak: Seluruh Tentara AS sudah Keluar dari Ain Al Assad
Juru bicara Staf Operasi Gabungan Irak mengabarkan penarikan seluruh pasukan tempur Amerika Serikat dari pangkalan militer Ain Al Assad di utara negara itu.
Mayor Jenderal Tahsin Al Khafaji, Senin (20/12/2021) mengatakan, seluruh pasukan AS sudah keluar dari pangkalan Ain Al Assad, dan yang tersisa hanya konsultan militer.
Ia menambahkan, dalam beberapa hari ke depan, sebuah delegasi keamanan Irak akan memasuki pangkalan militer Ain Al Assad yang terletak di Provinsi Erbil, timur laut Irak untuk menyaksikan penarikan pasukan AS dari sana.
Mayjen Al Khafaji menegaskan, pengumuman resmi penarikan pasukan AS dari Irak akan dilakukan pada 31 Desember 2021 mendatang.
Sebelumnya Jubir Angkatan Bersenjata Irak, Brigadir Jenderal Yahya Rasool mengatakan bahwa pangkalan militer Ain Al Assad yang diduduki pasukan AS, sudah diambil alih oleh tentara Irak.
Pertama Kalinya Jenderal Israel Akui Keterlibatan di Teror Syahid Soleimani
Seorang mantan perwira militer rezim Zionis Israel untuk pertama kalinya mengakui keterlibatan Tel Aviv dalam teror Komandan Pasukan Quds, Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC.
Jenderal Tamir Hayman, Selasa (21/12/2021) seperti dikutip surat kabar Jerusalem Post mengatakan, Israel terlibat dalam teror Komandan Pasukan Quds, Letjend Syahid Qassem Soleimani.
Hayman yang merupakan mantan Kepala Dinas Intelijen Militer Israel itu menuturkan, Israel terlibat dalam teror yang dipimpin oleh Amerika Serikat pada tahun 2020.
Menurutnya, teror Syahid Soleimani termasuk dari dua teror terpenting di masa dirinya menjabat Kepala Dinas Intelijen Militer Israel. Teror penting lain adalah teror terhadap Baha Abu Al Ata, salah satu pemimpin Jihad Islam Palestina.
Jerusalem Post mengabarkan, ini adalah kali pertama seorang pejabat militer senior Israel mengonfirmasi keterlibatan Tel Aviv dalam teror Syahid Soleimani.
Beberapa bulan lalu, Yahoo News melaporkan bahwa Israel membantu melacak keberadaan Syahid Soleimani dengan membuka akses bagi militer AS untuk mendapatkan beberapa nomor telepon Komandan Pasukan Quds itu.
"Teror Qassem Soleimani penting karena musuh asli kami adalah Iran. Hanya sedikit orang yang seperti Soleimani, selain aktor di medan tempur, ia juga ahli strategi sekaligus prajurit," tegas Hayman.
Hamas Minta Semua Pihak Dukung Rakyat Palestina
Gerakan Hamas menyerukan penguatan solidaritas dengan rakyat Palestina dan penghentian agresi penjajah, pengepungan, dan diskriminasi rasial yang dilakukan oleh rezim Zionis.
Hamas dalam sebuah siaran pers memperingati Hari Solidaritas Kemanusiaan Internasional, yang jatuh pada 20 Desember, meminta semua pihak untuk menunjukkan solidaritas dengan tahanan Palestina di penjara Israel, yang mengalami pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Seperti dilaporkan IRIB, Selasa (21/12/2021), Hamas menegaskan blokade yang tidak adil selama 15 tahun terhadap Jalur Gaza harus segera diakhiri, dan rekonstruksi terhadap apa telah dihancurkan oleh penjajah harus cepat dimulai.
Kelompok ini juga meminta untuk memperkuat solidaritas dan dukungan bagi pengungsi Palestina, yang mengalami kesulitan akibat praktik pendudukan dan penyebaran pandemi virus Corona.
Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 20 Desember setiap tahun sebagai Hari Solidaritas Kemanusiaan Internasional.
Pada acara peringatan hari besar itu, Sekjen PBB Antonio Guterres mengkritik pelanggaran hak-hak rakyat Palestina dan perluasan pemukiman ilegal oleh Israel.




























