کمالوندی

کمالوندی

Senin, 20 Desember 2021 15:58

Cara Menghadirkan Hati Saat Ibadah

 

Harus diketahui bahwa ibadah secara menyeluruh merupakan pujian maqam suci Rububiyah dan secara berjenjang semuanya merujuk pada pujian Zat. Atau pujian Asma dan Sifat atau Tajalli baik itu Tanzih, Taqdis atau Tamjid, dan tidak ada ibadah hakiki yang kosong dari satu dari derajat pujian kepada Allah ini. Dengan demikian, tahapan pertama kehadiran hati dalam ibadah adalah kehadiran ibadah dalam ibadah secara global. Upaya menghadirkan hati dalam tahapan ini hanya akan mudah bagi orang yang berusaha memahamkan hatinya bahwa ibadah adalah pujian kepada yang disembah. Sejak ia memulai ibadahnya hingga akhir secara global hatinya harus memikirkan makna ini dan memuji Allah yang disembah. Ia harus memahamkan hal itu dan menghadirkannya, sekalipun ia tidak mengetahui bagaimana dan dengan apa memuji Zat Allah. Apakah ibadah ini adalah pujian Zat, Asma atau selainnya, Taqdisi atau Tahmidi. Sama seperti penyair yang memuji seseorang kemudian memahamkannya kepada anak kecil bahwa ini merupakan pujian untuk seseorang, tapi ia tidak mengetahui bagaimana dan dengan apa memuji orang itu. Secara global ia mengetahui pujian, sekalipun tidak mengetahui detilnya.

Sama dengan anak SD yang mendengar pujian yang diucapkan tentang makrifat Muhammadi, tentang penyingkapan sempurna beliau dan tentang wahyu yang diturunkan kepada hati beliau. Sekalipun anak itu tidak mengetahui isi pujian yang disampaikan, bagaimana dan dengan apa mereka melakukan pujian, tapi pada tahapan pertama kesempurnaan ibadah adalah hadirnya hati mereka saat melakukan ibadah, dimana kita melakukan pujian kepada Haq. Melakukan pujian seperti yang difirmankan-Nya dan orang-orang khusus senantiasa menyenandungkannya.

Pujian yang disampaikan bila dilakukan dengan lisan para wali Allah akan lebih baik. Karena segala kotoran bohong dan nifaq menjadi hilang. Karena dalam ibadah, khususnya dalam shalat, ada pujian-pujian yang termasuk doa yang tidak dapat diucapkan selain para wali Allah yang sempurna dan orang-orang terpilih. Seperti “Wajjahtu Wajhiya Lilladzi Fathara as-Samawati wa al-Ardh…Aku mengarahkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi”, “Alhamdulillah…Segala puji bagi Allah” dan “Iyyaka Na’budu…Hanya kepada-Mu kami menyembah.”

Tidak mudah bagi setiap orang dalam kondisi mengangkat tangan saat takbiratul ihram, sujud dan selainnya, dimana penjelasannya akan datang Insya Allah. Tidak mudah bagi setiap orang mengucapkan doa yang berasal dari para Imam Maksum as. Berdoa dengan doa-doa itu seperti sebagian penggalan dari doa mulia Kumail.

Sekaitan dengan hal ini, Sheikh Kamil dan Arif, Shahabadi, jiwaku menjadi tebusannya berkata, “Pada maqamat ini, bagus bila seseorang berdoa dengan lisannya doa-doa yang berasal dari para Imam Maksum as.” Terlebih lagi dalam membaca atau mengamalkan shalat dengan tujuan memuji Allah dengan doa yang diwariskan para Imam Maksum as tentang Allah dan Rasul Allah. Sebagai contoh, sangat bagus bagi kita yang intinya belum tertapis dan belum memisahkan diri dari kecenderungan selain Allah untuk membaca sebagian ungkapan yang akan datang Insya Allah.

Pada tahapan kedua dari kehadiran hati adalah kehadiran hati secara terperinci. Seorang yang beribadah harus menghadirkan hatinya dalam seluruh ibadah dan ia harus mengetahui bagaimana menyifati Allah dan bagaimana bermunajat. Setiap dari keduanya ini memiliki tahapan lagi dan sangat berbeda tergantung maqam hati dan makrifat orang yang beribadah.

Perlu diketahui bahwa penguasaan secara detil akan seluruh rahasia ibadah dan kualitas pujian hanya mungkin dimiliki oleh orang-orang terpilih yang telah sempurna lewat wahyu ilahi. Di sini, kami hanya menjelaskan secara global tahapan-tahapannya.

Ada sebagian manusia yang hanya mengetahui bentuk luar dari shalat dan ibadah yang lain, tapi memahami pengertian umum dari zikir, doa dan bacaan al-Quran. Kehadiran hati mereka hanya terjadi pada waktu mengucapkan al-Quran dan memahami artinya. Pada waktu itulah hati mereka hadir untuk bermunajat dengan Allah.

Hal penting bagi kelompok ini adalah tidak membatasi hakikat dengan makna umum yang dipahami itu. Jangan beranggapan bahwa tidak ada hakikat lain dari bentuk ibadah yang dilakukannya. Selain anggapan ini bertentangan dengan akal dan teks, keyakinan yang semacam ini sangat merugikan manusia. Karena itu akan membuat manusia merasa puas dan berhenti. Hal itu akan mencegahnya meraih kesempurnaan ilmu dan amal.

Satu kelebihan besar setan adalah mampu membuat manusia merasa senang dengan apa yang dimilikinya lalu mulai memandang negatif akan seluruh hakikat, ilmu dan makrifat. Hasilnya mereka menjadi terasing.

Kelompok lain adalah mereka yang memahami hakikat ibadah, zikir dan bacaan menjadikan akal sebagai tempat rujukan semua pujian kepada Allah Swt atau argumentasi rasional, hakikat Shirat Mustaqim dan hakikat makna surat Tauhid sebagai prinsip pengetahun dengan perbedaan lewat pemikiran dan akal.

Kelompok ini saat menghadirkan hatinya dalam ibadah, mereka memahami secara terperinci dan hatinya hadir saat mengingat hakikat dan pujian ini. Mereka memahami apa yang dikatakan dan bagaimana memuji Haq.

Sementara kelompok yang lain lagi mereka memahami hakikat dengan pemikiran dan akal menyampaikan hakikat itu ke pena akal dan lembaran hati, sehingga hati mereka mengenal hakikat itu dan mengimaninya. Karena derajat iman dari hati sangat berbeda dengan pemahaman akal. Banyak hal yang dimengerti akal manusia, bahkan mengajukan argumentasinya, tapi tidak sampai pada derajat iman dari hati dimana kesempurnaannya adalah percaya. Pada waktu itu hatinya tidak bersama dengan akalnya.

Sama seperti kita semua meyakini orang yang mati tidak dapat bergerak dan tidak bisa merugikan kita. Bahkan bila semua orang mati dikumpulkan, mereka tetap tidak dapat mengganggu kita sekalipun sekecil lalat. Hal itu dikarenakan kita meyakininya secara rasional tapi tidak sampai ke lembaran hati. Di sini hati dan akal dalam masalah ini tidak berbarengan. Biasanya akal yang paling menguasai badan manusia dan biasanya manusia takut akan orang mati, khususnya di kegelapan malam dan saat sendiri. Padahal akalnya mengatakan gelapnya malam tidak berpengaruh apa-apa, begitu juga kesendirian, sementara telah diketahui orang mati tidak bisa mengganggu apa-apa. Di sini, manusia meninggalkan akalnya dan berjalan dengan ilusi, tapi bila ia dikumpulkan dengan orang mati untuk beberapa waktu, ketakutan di malam hari ternyata dapat dilaluinya hingga siang. Apa yang dilakukannya ini pada dasarnya membawa apa yang diyakini pada akalnya sampai ke hatinya. Hukum akal yang ada telah menggabungkan hati dan akal, sehingga perlahan-lahan sampai ke derajat percaya. Hatinya sudah tidak pernah takut lagi dan melakukan hal itu dengan penuh keberanian.

Demikianlah kondisi semua hakikat agama dan masalah keyakinan argumentatif dimana derajat pengetahuan rasionalnya berbeda dengan derajat iman dan percaya. Selama seorang pencari kebenaran dan hakikat tidak melakukan latihan secara teoritis dan praktis dan menyempurnakan takwanya baik dalam bentuk perilaku atau hati, maka ia tidak akan sampai pada derajat ini. Ia tidak dapat menjadi pemilik hati. Derajat pertama hati yang merupakan anugerah ilahi tidak akan dapat diraihnya. Ia tidak akan pernah menggunakan pakaian iman. Bahkan sesuai dengan hadis “As-Shalatu Mi’raj al-Mukmin… Shalat mikraj seorang mukmin” dan hadis “As-Shalatu Qurbanu Kulli Taqiyin… Shalat wasilah mendekati Allah bagi setiap orang bertakwa.”, kemungkinan maknanya selama manusia belum sampai  ke derajat iman dan takwa, maka shalatnya bukan mikraj dan wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Itu berarti ia belum memulai untuk melakukan sair dan suluk kepada Allah dan belum penghuni rumah jiwa.

 

Jika kita berkaca pada diri Rasulullah Saw., maka pantulan cahaya yang tersorot ke diri kita ialah kesempurnaan akhlaknya. Saking sempurnanya, Allah mencatatkan pujian untuknya di dalam Al-Quran, yang termaktub di dalam surah al-Qalam ayat empat. Hampir setiap manusia sudah mafhum akan keagungan budi pekerti ayah dari Sayyidah Fathimah az-Zahra itu.

Maka, di sini penulis hendak mengumpulkan beberapa ayat al-Quran yang membicarakan keagungannya, yang bisa kita jadikan sebagai motivasi untuk selalu berada di jalan kebaikan ala Rasulullah Saw. Di antara keistimewaannya yang tercatat di dalam al-Quran ialah sebagai berikut.

1. Panutan yang Baik

Di dalam surah Al-Ahzab ayat 21, Allah Swt berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Dari ayat di atas dapat kita pahami, bahwa Nabi Muhammad adalah panutan bagi setiap manusia. Lebih-lebih kepada mereka yang yang bertakwa di hadapan Allah Swt. Dan hendakanya, bagi mereka yang mendambakan kebahagiaan dunia-akhirat sudah selayaknya mengikuti jejak langkahnya.

* Rahmat (kasih-sayang) bagi Alam Semesta

Sebagaimana rahmat Allah tak terbatas bagi setiap makhluk-Nya, pun dengan kasih-sayangnya Nabi Saw. Bahwa, salah satu tujuan diutusnya, ialah menyebarkan pesan cinta-kasih kepada semua manusia tanpa terkecuali, sehingga misi dakwah yang ia ampu dari Allah Swt dapat diterima dengan mudah oleh orang-orang kala itu, yang telah menjadikan berhala sebagai obyek sesembahannya.

Karenanya, Allah Swt., mengabadikan kasih sayangnya nabi Muhammad tersebut di dalam salah satu ayat di dalam al-Quran.

 وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

 “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107).

* Merakyat

Sebagai seorang pemimpin di tengah umat, maka salah satu hal yang harus memiliki ialah jiwa merakyat dan membaur dengan siapa saja di tengah masyarakat. Di sisi lain, hal itu juga menafikan sifat keakuan (egois) yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Karena, penting bagi bagi seorang pemimpin menghapus sekat-sekat yang dapat membentengi dirinya dengan rakyatnya. Hal itu pulalah yang dilakukan oleh Nabi Saw. Meski ia dinobatkan sebagai paling mulianya manusia, ia tak memanfaatkan itu untuk menjaga jarak atau bahkan berbuat semena-mena terhadap orang lain. Ia tetap memosisikan diri, sebagaimana manusia biasa.

Menyoroti hal itu, Allah berfirman  di dalam kitab-Nya sebagai berikut.

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 128).

Di atas adalah pemaparan tentang beberapa keistimewaan pada diri Rasulullah Saw. Dengan melihat keistimewaannya di atas, maka rasa-rasanya mustahil apabila sosok Nabi—yang  merupakan perwakilan Allah di muka bumi ini—melakukan  hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam dan akal sehat. Wallahu a’lam bi as-shawab.

Senin, 20 Desember 2021 15:57

Keberkahan Kalung Fatimah Zahra

 

Suatu hari, Nabi Saw sedang duduk di masjid. Seorang Arab Badui masuk dan berkata, "Wahai Rasulullah! Saya lapar. saya tidak punya pakaian yang sesuai. Saya tidak punya uang dan saya berhutang. Tolong saya!" Nabi Saw berkata kepada Bilal, "Bawa pria ini ke rumah Fathimah dan beri tahu putriku bahwa ayahmu telah mengirimnya."

Bilal datang dan menceritakan kisah itu kepada Sayidah Fathimah as. Ia membuka kalungnya yang merupakan hadiah, dan memberikannya kepada Bilal lalu berkata, "Berikan kalung ini kepada ayah saya untuk menyelesaikan masalah." Bilal kembali dan menyerahkan amanat tersebut Nabi. Rasulullah Saw berkata, "Siapa pun yang membeli kalung ini saya akan menjamin surga baginya."

Ammar Yasir membelinya dan membawa orang miskin tersebut ke rumahnya. Ia memberikan pakaian dan makanan kepadanya dan menggandakan jumlah pinjaman. Lalu Ammar memanggil budaknya dan berkata, "Kau bawa kalung ini ke rumah Fathimah Zahra as dan katakan itu sebagai hadiah. Saya juga menghadiahkanmu kepada Fathimah." Budak itu membawa dan memberikan kalung itu kepada Fathimah as dan berkata, "Ammar juga telah menghadiahkan aku kepadamu." Mendengar itu, Sayidah Fathimah as membebaskan budak itu di jalan Allah.

Budak itu kemudian berkata, "Aku terkejut!" Kalung yang indah dan penuh berkah! Ia mengenyangkan orang yang lapar. Memakaikan baju bagi yang tidak punya. Membayar pinjaman orang yang berutang. Membebaskan budak dan pada akhirnya kembali kepada pemiliknya."

Senin, 20 Desember 2021 15:55

Benarkah Nabi Muhammad SAW Pernah Sesat?

 

Setelah sederet pembahasan mengenai Ishmah atau kemaksuman para nabi dan khususnya Nabi Muhammad saw yang telah kita kaji bersama dalam tulisan-tulisan sebelumnya, sekarang kita mulai beralih pada kajian mengenai beberapa keterangan yang secara zahir menunjukkan hal yang berseberangan dengan konsep Ishmah itu sendiri.

Artinya dalam hal ini terdapat beberapa penjelasan dalam literatur Islam baik Al-Quran maupun hadis sendiri yang menggambarkan sosok para nabi -khususnya yang menjadi topik kita adalah sosok Nabi Muhammad saw- yang seolah bertolak belakang dengan konsep Ishmah yang ada. Dan sebagai imbasnya adalah memunculkan pertanyaan bagi kita sendiri mengenai kebenaran yang ada terkait kedua jenis literatur tersebut.

Oleh sebab itu sangat penting untuk mengkajinya dan mempelajari maksud yang dikandung dari literatur-literatur tersebut, seperti yang sudah kita lakukan pada beberapa di antaranya pada pembahasan-pembahasan yang lalu. Sebab dengan inilah kita akan mengenal kebenaran mengenai sosok agung nabi kita sendiri.

Pada kesempatan kali ini penulis akan membawakan kajian tentang sebuah ayat yang dinilai secara zahir menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw pernah mengalami kesesatan atau kebingungan dan tidak mengetahui tujuan. Ayatnya adalah sebagai berikut:

وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (Ad-Dhuha: 7)

Dalam ayat di atas, Allah swt secara langsung berbicara kepada Nabi Muhammad saw, bahwasannya Dia mendapati nabi dalam keadaan yang tersesat (Dhalla secara bahasa bermakna tersesat atau menyimpang), sementara dalam terjemahan di atas dimaknai dengan “yang bingung” sebagai konsekuensi dari tersesat atau menyimpang dari jalan. Kemudian setelah itu Allah swt memberikannya petunjuk.

Dari gambaran di atas secara zahir hal ini menunjukkan bahwa dulunya nabi adalah orang yang tidak berada pada jalur yang dikehendaki Allah swt, artinya waliyadzu billah beliau berada dalam penyimpangan, ketika menyimpangan berarti melakukan kesalahan dan berbuat dosa. Dan hal ini bertolak belakang dengan apa yang telah kita bahas dalam kajian-kajian sebelumnya bahwa beliau saw terjauh dari kesalahan dan dosa seutuhnya.

Terkait hal ini, Imam Fakhru Razi dalam tafsirnya mula-mula menjelaskan bahwa sebagian orang memahami dari ayat di atas menunjukkan pada sosok nabi yang dulunya adalah seorang yang kafir yang berada di tengah kaum yang tersesat, kemudian dihidayahi oleh Allah swt ke dalam tauhid.

Namun kemudian penulis tafsir Al-kabir ini juga menyebutkan bahwa sekelompok ulama lainnya memiliki pandangan lain terhadap ayat ini dan mereka sepakat bahwa Nabi Muhammad saw tidak pernah kufur atau jadi seorang yang kafir terhadap Allah swt walau sesaat. Bahkan Mu’tazilah menganggap hal ini adalah mustahil secara logis, adapun menurut kelompoknya hal ini tidaklah mustahil secara logis, sebab bisa saja seorang yang sekarang ini kafir kemudian dikaruniai keimanan oleh Allah dan kemudian dimuliakan dengan kenabian (menjadi nabi). Namun menurutnya hal tersebut meskipun mungkin terjadi akan tetapi dalil (wahyu) menunjukkan bahwa hal yang mungkin tersebut tidak terjadi, sebagaimana firman-Nya:

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوٰىۚ

kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru. (An-Najm: 2)

Dengan ini ia menafikan bahwa maksud dari Dhall pada ayat tadi sebagai penyimpangan atau kesesatan.

Setelah itu ia membawakan beberapa kemungkinan yang menjadi maksud dari lafal tersebut, diantaranya adalah riwayat dari Ibnu Abbas yang memaknainya dengan bahwa nabi sebelumnya tidak memiliki ilmu tentang hukum syar’i.[1]

Sementara itu, Syekh Makarim Syirazi berbicara mengenai ayat yang sama, pertama-tama ia menjelaskan bahwa lafal tersebut berkaitan dengan risalah dan kenabian, dimana sebelumnya hal tersebut tidak ada pada diri Nabi Muhammad saw kemudian Allah swt memberikan karunia itu. Sehingga yang dinafikan dari sosok nabi (Dhall) pada ayat tadi bukanlah keimanan sehingga disebut kafir sebagaimana pada penjelasan Fakhru Razi, melainkan yang dinafikan di sini adalah ilmu atau ma’rifah nabi terhadap hakikat kenabian dan risalah hukuk-hukum Islam.[2]

Kesimpulannya berdasarkan penafsiran di atas, ayat ketujuh surat Ad-Dhuha ini tidak berbicara mengenai kondisi Nabi Muhammad saw yang berada dalam kesesatan karena tidak adanya iman dalam dirinya, melainkan kondisi beliau yang belum memperoleh ilmu tentang kenabian dan risalah yang akan didakwahkan olehnya. Sehingga melihat ayat tadi dengan kaca mata ini tidak bertentangan dengan konsep Ishmah yang ada pada ayat-ayat lainnya seperti yang sudah dibahas.

Selain itu hal ini justru semakin menegaskan nilai dari tauhid amali (praktis) bahwa sesungguhnya hanya Allah swt -lah satu-satunya Dzat pemberi hidayah. Adapun selain-Nya adalah seluruhnya membutuhkan pada hidayah-Nya termasuk para nabi dan khususnya dalam kasus di atas adalah Nabi Muhammad saw.

[1] Fakhru Razi, Muhammad Ar-Razi Fakhruddin, Tafsir Al-Kabir,  jil: 31, hal: 216-217 , cet: Darul Fikr, Beirut.

[2] As-Syirazi, Nashir Makarim, Al-Amtsal, jil: 29, hal: 308-309, cet: Al-A’laami, Beirut.

 

Pada makalah kali ini kita akan membaca sebuah kisah nyata dari sejarah Islam akan sifat Itsar atau dermawan dan juga rela berkorban dari salah satu sahabat setia Nabi saw yaitu sayidina Ali bin Abi Thalib kwj bersama keluarganya.

Diriwayatkan dari hadits Abu Huarairah bahwa suatu ketika datang kepada Baginda Nabi Muhammad saw seseorang yang sedang kelaparan. Kemudian Rasulullah saw mengutus seseorang untuk ke rumah para istri nabi. Namun sayangnya mereka berkata bahwa “Kita tidak mempunyai makanan kecuali air.”

Kemudian baginda Nabi bertanya pada para sahabat, “Siapa yang bisa menjamu orang ini untuk malam ini?”

“Wahai Rasulullah! Aku yang akan menjamunya.” Jawab Ali bin Abi Thalib.

Setelah itu Sayidina Ali berkata kepada istri tercintanya Sayidah Fathimah as.

“Wahai Putri Rasulullah! Apakah kamu punya makanan?”

Sayidah Fathimah pun menjawab, “Kita tidak punya makanan lagi kecuali makanan untuk anak-anak”

Akan tetapi Sayidina Ali dan Sayidah Fathimah as lebih mengutamakan tamu tersebut.

Sayidina Ali pun berkata, “Wahai Putri Rasulullah! Tidurkan anak-anak dan matikanlah lampu!”

Ketika subuh hari tiba, Sayidina Ali bin Abi Thalib kwj pun menceritakan kejadian semalam kepada Rasulullah saw dan ayat al-Quran pun turun.

Ini adalah bukti bahwa Rasulullah saw dan keluarga beliau mengajarkan pada kita untuk mendahulukan kebutuhan orang lain dibanding kebutuhan kita. Bisa dikatakan bahwa sifat ini adalah itsar atau rela berkorban. Sifat ini hanya dimiliki mereka yang benar-benar ikhlas dan mempunyai keimanan yang tinggi. Semoga kita bisa mendapatkan predikat seperti ini.

 

AIquran dan hadis-hadis berkali-kali memuliakan dan mengagungkan putri Rasulullah saw ini. Beliau adalah mentari yang bersinar dari Dunia Islam yang menerima risalah Islam, melaksanakan prinsip-prinsip dan tujuan transenden Islam, serta melakukan jihad yang terbaik di jalan Allah Swt. Sekarang, kita akan membahas kelanjutan penjelasan ringkas mengenai agungnya kedudukan beliau dalam Alquran Karim

Berbagai ayat telah diturunkan sebagai pemuliaan terhadap keluarga Nabi sehingga mereka tidak lagi butuh pada pujian dan sanjungan orang yang gemar memuji serta menyanjung, dan Fathimah Zahra as berada di barisan terdepannya mereka. Di antara banyak ayat yang turun untuk pribadi agung Fathimah Zahra a.s, berikut sementara kami cukupkan tiga ayat:

1. Ayat Mawaddah

Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku ini kecuali kecintaan kalian kepada keluarga dekatku. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” [QS. al-Syura: 23]

Allah Swt dalam Alquran telah mewajibkan kepada seluruh kaum muslim untuk mencintai Ahlulbait a.s. Kebanyakan para perawi berpendapat bahwa yang dimaksud dari al-Qurba dalam ayat ini adalah Ali a.s, Fathimah a.s, Hasan dan Husain a.s. dan bahwa melakukan perbuatan baik di sini dalam arti mencintai mereka (Ahlulbait a.s.). Dalil dari pernyataan ini adalah hadis-hadis berikut ini.

Ibnu Abbas meriwayatkan: “Ketika ayat ini turun, mereka bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Siapakah keluarga dekatmu, yang mencintai mereka wajib atas kami itu?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Ali a.s., Fathimah a.s., Hasan a.s., dan Husain a.s.’” [Hilyah al-Awliya, jil. 3, hal. 201]

Fakhrurrazi (salah satu ulama terkemuka Ahlusunnah) sangat memuliakan Ahlulbait a.s. dan berdasarkan ketelitiannya dia berkata:

“Jika masalah ini sudah terbukti –permasalahan mengenai ayat ini khusus kepada Ahlulbait- maka dengan demikian kita harus lebih menghormati mereka. Adapun dalilnya adalah sebagai berikut: Pertama, kata “illa al-mawaddata fi al-qurba” (kecuali kecintaan kalian kepada keluarga dekatku) karena keluarga Muhammad adalah mereka yang urusan Rasulullah saw kembali kepada mereka. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan “ali” (keluarga dekat) adalah orang-orang yang urusan mereka lebih banyak dan lebih sempurna berhubungan dengan Rasulullah saw dan tidak diragukan lagi hubungan Fathimah a.s., Ali a.s., Hasan a.s., dan Husain a.s. dengan Rasulullah saw sangatlah erat daripada semua orang lainnya. Hal ini sangatlah jelas sampai-sampai dianggap sebagai hadis yang mutawatir. Oleh karena itu, kata “ali” (keluarga dekat) Nabi adalah mereka ini.

Kedua, sangat meyakinkan bahwa Rasulullah saw sangat mencintai Fathimah a.s. Beliau bersabda, “Fathimah adalah bagian dari diriku. Barang siapa menyakitinya, sungguh dia telah menyakitiku,” secara mutawatir telah terbukti bahwa Rasulullah saw sangat mencintai Ali, Hasan, dan Husain. Oleh karena itu, diwajibkan bagi seluruh kaum muslim untuk berlaku demikian, dengan berdalil pada ayat-ayat berikut,

1. Ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. [QS. al-A’raf: 158]

2. Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut. [QS. al-Nur: 63]

3. Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutil aku, niscaya Allah akan mengasihimu.” [QS. Ali Imran: 31]

4. Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah saw itu terdapat suri teladan ya baik bagimu. [QS. al-Ahzab: 21]

Ketiga, berdoa untuk Ahlulbait a.s. mempunyai derajat yang sangat tinggi. Oleh karena itu, tasyahud salat diakhiri dengan berdoa untuk mereka, dan bagi orang yang salat wajib membaca, “Ya Allah! Sampaikanlah salawat pada Muhammad dan keluarga Muhammad.” [Tafsir Fakhrurrazi, penjelasan ayat Mawaddah pada surah al-Syura, jil.7, hal. 391]

2. Ayat Abrar

Ayat Abrar adalah ayat-ayat yang berbicara mengenai keutamaan keluarga suci Rasulullah saw dan Fathimah Zahra a.s. pun adalah bagian pokok dari keluarga tersebut. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang telah dicampur dengan air kafur (yang semerbak mewangi), yang berasal dari mata air (di dalam surga) yang darinya hamba-hamba Allah minum, (dan) mereka dapat mengalirkannya dari manapun mereka kehendaki. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.”

Seluruh ahli tafsir meyakini bahwa surah al-Insan ini diturunkan mengenai Ahlulbait a.s. dan sebab turunnya ayat itu adalah bahwa Imam Hasan a.s. yang jatuh sakit dan kakeknya Rasulullah saw datang beserta para sahabatnya untuk menjenguk mereka. Ketika itu, beliau memberi saran kepada Imam Ali a.s. untuk berpuasa nazar selama tiga hari. Imam Ali a.s. pun bernazar bahwa jika Allah Swt menyembuhkan anak-anaknya, maka dia akan berpuasa selama tiga hari, yang juga diikuti oleh Fathimah Zahra a.s. beserta Fidhdhah pembantunya dan ketika Imam Hasan a.s. sembuh, mereka semuanya pun berpuasa.

3. Ayat Tathhir

Sebagian ayat-ayat yang turun mengenai hak Ahlulbait as adalah ayat Tathhir. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai Ahlulbait dan menyucikan kamu sesuci sucinya.” [QS. al-Ahzab: 33]

Ayat ini turun mengenai Ahlulbait a.s., yaitu lima orang Ahlul Kisa dan para ahli tafsir telah bersepakat mengenai masalah ini. Mereka mengatakan bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan Rasulullah saw, Imam Ali a.s., yang disebut sebagai diri Rasulullah saw sendiri, demikian pula Fathimah a.s. penghulu perempuan seluruh alam, dan kedua putranya Hasan dan Husain a.s.

Ummu Salamah berkata, ayat ini turun di rumah saya. Fathimah a.s., Ali a.s., Hasan a.s. dan Husain a.s. juga berada di dalam rumah, Rasulullah saw mengenakan sebuah jubah, lalu beliau menghamparkannya di atas mereka dan bersabda, “Ya Allah! Mereka inilah Ahlulbaitku, maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci sucinya.”

Ummu Salamah berkata, “Apakah aku juga (boleh masuk) bersama kalian, wahai Rasulullah saw?” Dan jubah itu pun diangkat supaya dia masuk ke dalamnya, tetapi Rasulullah saw menarik jubah itu dari tangannya dan berkata, “Sesungguhnya engkau berada dalam kebaikan.” [Mustadrak al-Hakim, jil. 2, hal. 16]

Rasulullah saw berusaha untuk menunjukkan bahwa maksud ayat ini dikhususkan hanya kepada Ahlulbait a.s. saja.

 

Pada tulisan sebelumnya telah dibahas satu syubhat tentang masa lalu Nabi Muhammad SAWW yang pernah tersesat. Pada tulisan tersebut telah dijelaskan sanggahan dan penjelasan yang tepat terkait dengan ayat yang menjadi perbincangan.

Pada tulisan kali ini akan dibahas ayat lainnya yang seoalah mengindikasikan bahwa Rasulullah SAWW melakukan dosa baik di masa lalu maupun akan datang.

Ayat yang dimaksud adalah ayat dua surat al-Fath yang berbunyi:  لِيَغْفِرَ لَكَ اللهُ ما تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَما تَأَخَّرَ وَ يُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَ يَهْدِيَكَ صِراطاً مُسْتَقيماً (supaya Allah memberi ampunan terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memberikan petunjuk kepadamu kepada jalan yang lurus)

Dalam ayat ini sepintas mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad SAWW memiliki dosa masa lalu dan akan datang dan dengan penaklukan atau kemenangan (fath) yang dianugerahkan Allah kepadanya dosa-dosa beliau akan terampuni.

Dalam menyikapi ayat ini Allamah Thabathabai di dalam Tafsir al-Mizan memberikan penjelasan yang sangat mencerahkan yang dengan demikian kesucian atau ishmah Nabi SAWW tetap terjaga.

Pada tahap awal beliau menjelaskan bahwa kata “dzanb” atau dosa bukanlah bermakna dosa seperti yang dipahami secara umum. Hal ini mengingat bahwa tidak ada hubungan antara penaklukan kota Mekkah dan pengampunan dosa Rasulullah SAWW:

…. Lam yang ada pada ليغفر pada zahirnya merupakan lam ta’lil (menjelaskan illat dan sebab). Maka pada dasarnya tujuan dari penaklukan atau kemenangan yang nyata ini adalah ampunan dosamu yang terdahulu dan yang akan datang. Dan merupakan hal yang nyata bahwa tidak ada hubungan antara kemenangan dan pengampunan dosa. Dan tidak logis jika menghubungkan kemenangan  dengan ampunan tersebut.[1]”   

Kemudian beliau menarik kesimpulan dengan mengatakan:

“secara umum masalah ini (tidak adanya hubungan antara kemenangan dan pengampunan dosa) merupakan bukti nyata bahwa yang dimaksud dengan dosa yang ada dalam ayat tersebut bukanlah dosa yang biasa dikenal; yaitu melanggar aturan yang wajib ditaati. Dan makna pengampunan dosa juga bukanlah makna yang biasa dikenal; membatalkan hukuman atas pelanggaran yang telah disebutkan.[2]”

Pada tahap ini Allamah Thabathabai mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “dzanb” atau “dosa” bukanlah dosa karena melanggar perintah Allah dan pengampunan juga bukan pengampunan atas dosa tersebut. Dengan alasan bahwa tidak ada hubungan diantara kedua hal di atas. Tepatnya bagaimana mungkin untuk mengampuni dosa Nabi Muhammad SAWW, Allah SWT menganugerahi beliau kemenangan.

Setelah menyimpulkan hal tersebut, beliau kemudian menjelaskan makna dosa dan pengampunan yang dimaksud dengan mengatakan:

“Maka yang dimaksud dengan dosa adalah (Allah SWT lebih tahu) konsekuensi buruk dalam pandangan orang kafir dan musyrikin terhadap dakwah yang beliau lakukan. Pada dasarnya ia merupakan “dosa” beliau di mata mereka, hal ini sebagaimana termaktub dalam perkataan Musa AS kepada tuhannya: وَ لَهُمْ عَلَيَّ ذَنْبٌ فَأَخافُ أَنْ يَقْتُلُونِ[3] (Dan (menurut keyakinan mereka) aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku). Dan dosanya yang terdahulu adalah apa yang dilakukan oleh beliau di Makkah sebelum hijrah dan dosa yang akan datang adalah apa yang beliau lakukan setelah hijrah. Ampunan Allah atas dosa beliau adalah menutupinya dengan menyingkirkan konsekwensi dari tindakan Nabi serta menghilangkan kekuatan dan menghancurkan struktur mereka. Dan yang menguatkan penafsiran tersebut adalah fiman Allah berikutnya sampai ayat (وَ يَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْراً عَزيزاً).[4]”

Melalui catatan ini Allamah menjelaskan bahwa “dosa” dalam ayat di atas bukanlah dosa terhadap Allah SWT, tapi dosa beliau di mata orang musyrik dan kafir.

Sebab selama beliau melakukan dakwah, dalam pandangan mereka beliau melakukan banyak “dosa” seperti tindakan beliau dalam menyalahkan keyakinan, amalan dan tradisi mereka. Bahkan dalam beberpa peperangan dengan Nabi SAWW keluarga serta kerabat mereka banyak yang terbunuh.

Tentu saja semua ini merupakan kesalahan dan dosa Nabi SAWW di mata mereka. Dan untuk menghilangkan anggapan tersebut maka Allah memberikan kemenangan kepada beliau.

Dengan kemenangan tersebut, orang kafir dan musyrik ada yang masuk Islam oleh karena itu dengan sendirinya di mata mereka kesalahan dan dosa tersebut hilang. Atau dengan kemenangan Nabi SAWW dan kekalahan yang menimpa musyrikin, maka mereka tidak punya kekuatan lagi  untuk menyalahkan Nabi Muhammad SAWW.

Dengan penafsiran ini maka pengampunan dosa dan kemenangan menemukan hubungannya yang sangat jelas dan nyata. Dan kemaksuman Nabi SAWW juga tetap terjaga.

[1] Thabathabai, Muhammad Husain, al-Mizan Fi Tafsir al-Quran, jil: 18, hal 253, cet: Jama’at al-Mudarrisin Fi al-Hauzah al-Ilmiah, Qom.

[2] Thabathabai, Muhammad Husain, al-Mizan Fi Tafsir al-Quran, jil: 18, hal 254, cet: Jama’at al-Mudarrisin Fi al-Hauzah al-Ilmiah, Qom.

[3] Al-Syuara/ 14

[4] Thabathabai, Muhammad Husain, al-Mizan Fi Tafsir al-Quran, jil: 18, hal 254, cet: Jama’at al-Mudarrisin Fi al-Hauzah al-Ilmiah, Qom.

 

Kesedihan yang begitu mendalam telah menekan hati putri Rasulullah Saw, karena ia mengetahui bahwa ayahnya yang mulia tidak lama lagi akan segera meninggalkan dunia fana ini. la melangkahkan kakinya dengan gemetar menuju pembaringan Rasulullah Saw dan duduk di samping ayahnya, ia mendengar ayahnya berkata: “Oh Betapa sedihnya hati ini”

Hatinya diselimuti dengan kesedihan dan berkata: “Betapa sakitnya hatiku karena musibah yang menimpamu ini, wahai ayah!”

Rasulullah Saw pun menjadi sedih menyaksikan betapa menderitanya putrinya yang mulia. Dan demi menghiburnya, beliau bersabda: “Ayahmu tidak akan menderita lagi setelah hari ini.” [Hayat al-Imam al-Husain bin Ali As, jil.1, hal.112]

Kalimat ini seperti halilintar yang menyambar Fathimah Zahra a.s, karena memahami bahwa ia akan segera berpisah dengan ayahnya dan Rasulullah melihat ketidaktenangan putrinya tersebut. Wajah Fathimah Zahra a.s. menjadi pucat dan tubuhnya gemetar. Rasulullah Saw ingin menenangkan putrinya, karena itulah beliau memintanya supaya lebih mendekat kepadanya. Pertama-tama Rasulullah mengucapkan suatu kalimat yang membuat putrinya meneteskan air mata, kemudian beliau mengucapkan kalimat lain yang membahagiakan putrinya dan membuatnya tersenyum.

Fathimah Zahra as menjadi tenang karena beliaulah orang pertama dari Ahlulbait yang akan bertemu dan bergabung dengan Rasulullah Saw. Sekali lagi Rasulullah mengatakan kalimat berikut ini demi menghilangkan kesedihan dari hati putrinya yang mulia: Putriku, janganlah engkau menangis dan apabila aku telah wafat, katakanlah, Inna lillahi wa inna ilaihi raij’un; Kalimat ini adalah pengganti setiap mayit.” [Ansab al-Asyraf jil. 1, hal. 133]

Panas tubuh Rasulullah Saw pun semakin tinggi dan Fathimah Zahra as merasakan kesedihan dan tangisan yang mendalam. la kemudian berkata kepada ayahnya: “Demi Allah! Engkau sebagaimana yang dikatakan oleh penyair, ‘Wajah putih bersinar dengan kemuliaannya meminta hujan dari awan-awan, Dialah ayah para yatim dan tempat berlindung kaum janda.’”

Rasulullah menjawab: “Ini ungkapan dari pamanmu Abu Thalib”

Kemudian Rasulullah saw membacakan ayat mulia ini: Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [QS Ali Imran: 144]

Anas bin Malik mengatakan bahwa pada masa sakitnya Rasulullah yang berujung pada kewafatannya, Fathimah Zahra as datang bersama Hasan dan Husain a.s. ke sisi beliau. Fathimah Zahra a.s. menjatuhkan dirinya ke pelukan Rasulullah Saw dan menangis. Beliau sangat mengkhawatirkan putrinya dan melarangnya menangis walaupun air mata Rasulullah Saw sendiri tidak terbendung pula. Beliau berkata: “Ya Allah! Inilah keluargaku dan Ahlulbaitku dan aku mewasiatkan setiap mukmin tentang mereka.” [Ansab al-Asyraf, jil. 1, hal. 133]

Rasulullah Saw mengulang kalimat itu tiga kali, kesedihan membebani hati beliau karena mengetahui musibah dan malapetaka apa yang akan menimpa Ahlulbaitnya setelah ini.

Kemudian Imam Hasan dan Husain a.s. meninggalkan kakeknya dalam keadaan telah mewarisi sifat-sifat kewibawaan, kepemimpinan, keberanian dan kedermawanan dari Rasulullah Saw. Tidak ada warisan yang lebih tinggi, bernilai dan berharga di atas bumi ini selain sifat-sifat mulia tersebut, suatu warisan yang tidak berhubungan dengan materi dan jasmani, melainkan berkaitan dengan kesempurnaan khusus kenabian dan kerasulan.

Rasulullah saw telah mewasiatkan kepada Amirul Mukminin Ali as tiga hari sebelum kewafatannya supaya menjaga kedua cucunya tersebut. Rasulullah saw bersabda: “Wahai ayah dari cahaya mataku! Aku mewasiatkan tentang kedua cahaya mataku ini di dunia, yang tidak lama lagi kedua pijakanmu ini akan runtuh. Dan Allah Swt adalah pemimpinku atasmu.”

Ketika Rasulullah Saw telah wafat, Amirul Mukminin Ali a.s. berkata: “Inilah salah satu pijakanku yang telah dikatakan oleh Rasulullah Saw. Dan ketika Fathimah Zahra a.s. wafat, Imam berkata lagi, “Dan ini pula pijakan kedua yang disabdakan oleh Rasulullah saw kepadaku.” [Amali al-Shaduq, hal.119]

Waktu wafatnya Rasulullah saw telah tiba, seorang nabi dan rasul yang tidak memiliki bandingannya di masa lampau maupun di masa yang akan datang. Telah tiba waktunya Rasulullah saw meninggalkan kehidupan dunia ini dan melanjutkan perjalanan ruhaninya ke alam tertinggi Ilahi mengikuti jejak-jejak saudaranya dari para nabi dan rasul terdahulu. Hati Fathimah Zahra a.s. terguncang dan napasnya mengalir tak teratur. Dan dengan suara yang sedih berkata: “Sungguh berat perpisahan dengan ayah dan kematian Nabi yang terakhir! Sungguh berat musibah ini, musibah kewafatan sebaik-baiknya orang yang bertakwa dan kehilangan pemimpin orang-orang yang terpilih! Sungguh berat kesedihan ini karena terhentinya wahyu dari langit dan terputusnya pembicaraan denganmu sejak hari ini.” (Durrah al-Nashihin, hal. 66)

Kemudian Rasulullah Saw menoleh kepada Imam Ali a.s. dan bersabda: “Letakkanlah kepalaku di pangkuanmu, karena perintah Allah sudah tiba dan ketika ruhku sudah lepas (berpisah dari badanku), maka terimalah ruhku dan usapkanlah ke wajahmu, kemudian letakkanlah aku ke arah kiblat, laksanakanlah urusan-urusanku dan salatkanlah aku sebelum orang-orang lain menyalatiku. Janganlah engkau terpisah dariku hingga engkau meletakkanku di dalam kuburan dan mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla.”

Imam Ali as meletakkan kepala suci Rasulullah saw di pangkuannya dengan lembut dan menempatkan tangan kanannya di bawah dagu beliau. Pada saat itulah Malaikat Maut memulai mengambil ruh Rasulullah saw yang suci. Ketika Rasulullah saw merasakan pedihnya kematian, beliau membaca ayat-ayat Alquran sampai ruh sucinya lepasdari raganya dan Imam Ali as pun mengusapkan ruh suci itu ke wajahnya. [Manaqib Ali Abi Thalib, jil.1, hal. 29. Hadis-hadis mutawatir menegaskan bahwa ketika Rasulullah wafat, kepala beliau di atas lutut Imam Ali as Hal ini diungkapkan dalam banyak kitab: Al-Thahaqat al-Kabra, jil.2, hal.51; Majma’ al-Zaid hal. 293; Kanz al-Ummal, jil. 4, hal 55; Dzakhair al-Uqba, hal. 94; al-Riyadh an-Nadhirah, jil. 2, hal. 219]

Bumi bergetar karena seorang lelaki agung telah berpulang ke pangkuan Ilahi yang kehidupannya adalah cahaya dan rahmat bagi hamba hamba Allah. Kemanusiaan berada di hadapan suatu tragedi yang menghancurkan, karena sang pemimpin dan gurunya telah tiada, cahaya pun meredup. Sang cahaya yang menerangi langit dunia dengan wejangan-wejangan, pengetahuan-pengetahuan dan akhlak-akhlak mulia dan tertinggi itu kini telah terbang menuju ke haribaan Sang Kekasihnya. Kaum Muslimin berduka dan melakukan ritualitas kesedihan. Istri-istri Rasulullah saw memakai pakaian-pakaian berkabung dan kaum perempuan Anshar memukuli wajah-wajah mereka, sehingga tenggorokan mereka tercekik karena kerasnya duka cita. [Ansab al-Asyraf, jil. 1, hal. 574]

Sayidah Fathimah a.s. memeluk jasad ayahnya dan berkata pilu: “Oh! Perpisahan dengan ayah, perpisahan dengan Rasulullah Saw, perpisahan dengan yang penuh rahmat. Setelah wahyu akan turun lagi, dan Jibril pun tidak akan datang. Allah! Gabungkanlah ruhku dengan ruhnya. Karuniailah kesempatan untuk bertemu dengannya janganlah Engkau haramkan menerima syafaatnya Hari Kiamat” [Tarikh al-Khamis, jil. 2, hal .192]

Fathimah Zahra berada samping suci Rasulullah yang sudah tidak bernyawa dan mengungkapkan kesedihannya dengan bahasa bahasa berikut ini,

“Oh! Perpisahan dengan ayah, saya ucapkan belasungkawa kepada Jibril. Oh! Perpisahan dengan ayah, tempatmu surga Firdaus. Oh! Perpisahan dengan ayah, beliau telah menjawab panggilan Tuhannya.”

 

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei sebelum membahas berbagai permasalahan perawat, menyebut perilaku dan pidato Sayidah Zainab Kubra as yang menjadi penjaga Karbala dan simbol unggul perawat sebagai indikasi dan manifestasi agung dan kekuatan spiritual dan intelektual perempuan.

Di setiap sudut dunia, masih ada manusia yang siap mengorbankan nyawanya untuk membantu sesamanya. Sampai saat ini masih dapat ditemukan manusia yang belajar kemanusiaan dengan baik dan membantu sesamanya, meski mereka orang asing atau kenalan, jauh atau dekat, tidak ada perbedaan. Orang seperti ini adalah perawat yang belajar untuk mencintai dan kasih sayang.

Sementara di Iran, hari kelahiran Sayidah Zainab as ditetapkan sebagai Hari Perawat. Bertepatan dengan hari besar ini, Rahbar bertemu dengan para perawat dan keluarga syuhada kesehatan serta menjelaskan poin-poin pekerjaan mulia ini. Rahbar menyebut perawat sebagai malaikat penyelamat manusia yang pada akhirnya membutuhkan. Rahbar mengatakan, "Salah satu ajaran ahli suluk, tauhid dan akhlak serta orang seperti mereka yang memberi arahan untuk meniti jalan suluk adalah membantu orang yang membutuhkan; Yakni adalah kalian para perawat, ketika sibuk bekerja, kalian tengah menjalankan salah satu ajaran penting ahli suluk. Ini adalah sisi penting pekerjaan ini, nilai ini sangat tinggi."


Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei sebelum membahas berbagai permasalahan perawat, menyebut perilaku dan pidato Sayidah Zainab Kubra as yang menjadi penjaga Karbala dan simbol unggul perawat sebagai indikasi dan manifestasi agung dan kekuatan spiritual dan intelektual perempuan. Selain itu juga mengingatkan bahwa wanita pemuka Karbala ini telah membuktikan kepada seluruh umat manusia dan sejarah bahwa perempuan meski ada upaya-upaya buruk di masa lalu dan saat ini, termasuk Barat untuk melecahkan kaum hawa, namun mereka mampu mencapai puncak kesuksesan melalui kesabaran besar mereka.

Sayidah Zainab mampu menunjukkan kepada sejarah dan seluruh umat manusia di dunia bahwa kapasitas spiritual dan intelektual besar kaum wanita. "Wanita agung ini (Sayidah Zainab) menunjukkan dua poin, pertama bahwa perempuan mampu menjadi samudra luas kesabaran. Kedua, bahwa seorang wanita dapat menjadi puncak kebijaksanaan dan kehati-hatian yang tinggi; Ini secara praktis ditunjukkan oleh Zeinab Kubra; Tidak hanya bagi mereka yang berada di Kufah dan Syam; "Itu menunjukkan kepada sejarah, itu menunjukkan kepada semua manusia," ungkap Rahbar.

Ayatullah Khamenei menyebut kesabaran Sayidah Zainab tidak dapat dijelaskan karena dari satu sisi, ia dalam setengah hari kehilangan 18 orang tercinta dan keluarganya. Di antara orang tersebut adalah saudara tercinta dan cucu baginda Rasulullah Saw, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Selain itu, dua anaknya juga gugur di Karbala dan Sayidah Zainab bersabar atas gugurnya orang paling dekat dengan dirinya serta keluarganya tersebut.

"...Sementara dari sisi lain, wanita besar yang sejak kecil hidup dengan terhormat, dan di masa kanak-kanak hingga dewasa, semua orang memandangnya dengan hormat. Beliau dihina oleh pasukan Umawiyah, tapi memilih bersabar. Sabar dalam memikul tanggung jawab berat melindungi anak-anak yatim dan wanita yang berduka, juga sebuah pekerjaan besar. Sayidah Zainab berhasil mengumpulkan dan melindungi anak-anak yatim ini dan mengorganisirnya di perjalanan sulit ini, ini adalah kesabaran Zainab. Sejatinya Zainab telah menunjukkan samudra kesabaran dan ketenangan, yakni kaum perempuan mampu mencapai kondisi ini, puncak keagungan spiritual. Di samping hal-hal yang saya sampaikan ini, merawat hujjah Allah, merawat Imam Sajjad yang membutuhkan kesabaran besar dan mampu melaksanakannya dalam bentuk terbaik."


Pemimpin Revolusi Islam juga menyebut perilaku arif dan kekuatan intelektual serta kebijaksanaan Sayidah Zainab mencengangkan dan menyatakan bahwa Sayidah Zainab Kubra as adalah manifestasi perlawanan dan otoritas spiritual terhadap penguasa yang arogan. Di Kufah, ketika Ibnu Ziyad membuka lidahnya, misalnya, "Hai! Lihat, kamu gagal"; Sebagai tanggapan, dia berkata, "Kami tidak melihatnya kecuali indah." Apa yang saya lihat hanyalah keindahan; memukul  mulut pria arogan, jahat itu; Di istana Yazid, ketika dia mendengar omong kosong dan bualannya  dia berkata dalam sebuah kalimat bersejarah, "Lakukan apa pun yang Anda bisa, dan Anda tidak akan dapat mengambil ingatan kami dari cakrawala orang-orang." Ini menunjukkan kekuatan spiritual seorang wanita; Ini adalah tanda-tanda kehati-hatian dan kebijaksanaan.

Di Kufah, di hadapan tangisan orang-orang yang menyesal, Sayidah Zainab memberikan penjelasan dan kata-kata celaan dan berkata: Apa yang kamu tangisi? Apakah Anda tahu apa yang Anda lakukan? Anda melakukan sesuatu yang merusak semua upaya Anda di masa lalu. Pemimpin Revolusi Islam menambahkan: "Saya sangat percaya bahwa salah satu faktor penting dalam gerakan taubat yang kemudian bangkit di Kufah dan memberontak serta meluncurkan peristiwa besar itu adalah ucapan Sayidah Zainab dan khutbahnya. Singkatnya, Zainab Kubra menunjukkan kapasitas spiritual dan intelektual perempuan melalui perilaku dan pernyataannya. Dia berbicara seolah-olah dia adalah Amirul Mukminin; Itu berdiri seolah-olah Nabi berdiri melawan orang-orang kafir. "Ini adalah kapasitas wanita."

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dalam menjelaskan tanda kehati-hatian lainnya dalam karakter Sayidah Zainab mengatakan: "Orang mulia ini memulai jihad penjelasan, jihad narasi; Tidak membiarkan akun musuh tentang insiden itu menang; Dia membuat narasinya menang atas opini publik. Hingga hari ini, riwayat Zainab Kubra  tentang peristiwa Asyura tetap ada dalam sejarah, dan pada saat yang sama, itu berdampak pada Syam, di Kufah, dalam rangkaian tahun kekuasaan Umayyah dan menyebabkan penggulingan kekuasaan Umayyah. Lihat! Inilah pelajarannya; Inilah yang selalu saya katakan: Anda menceritakan kebenaran masyarakat Anda sendiri, negara Anda sendiri dan revolusi Anda. Jika Anda tidak menceritakan, musuh akan menceritakan; Jika Anda tidak menceritakan revolusi, musuh akan menceritakan seenaknya sendiri; Jika Anda tidak menceritakan Perang Pertahanan Suci, musuh menceritakannya, apa pun yang dia inginkan, menjustifikasi, berbohong 180 derajat; Ini mengubah tempat penindas dan tertindas.


Rahbar menyebut perawat sebagai profesi mulia dan sulit yang melipatgandakan pahala Tuhan. Rahbar mengatakan,"Perawat sumber keamanan, baik bagi pasien dan juga bagi keluarga pasien serta bagi manusia lainnya yang kalian perawat telah membebaskan hati nurani saya dan Anda. Oleh karena itu, bukan pasein saja yang berhutang kepada komunitas perawat, tapi saya juga, hak kepada siapa saja yang tidak memiliki hubungan dengan pasien juga muncul, karena ia memberi keamanan kepada mereka."

Ayatullah Khamenei menganggap nilai lain perawat di Iran adalah upaya dan pengorbanan diri untuk membuat pasien dan kerabat mereka tersenyum, terutama ketika dunia arogan membantu Saddam melancarkan bom kimia dan menyebabkan rasa sakit dan penderitaan yang mendalam bagi rakyat Iran di kota-kota perbatasan. Mereka juga senang dan mabuk dalam isu-isu seperti embargo obat-obatan bangsa Iran. Upaya para perawat ini sebenarnya perjuangan melawan kubu arogan yang penuh kedengkian, yang merupakan nilai ganda komunitas perawat di Iran Islami.

Dalam hal ini, Ayatullah Khamenei mengacu pada periode perang yang dipaksakan di mana para dokter, perawat, dan paramedis bekerja di bawah pengeboman. Di masa pandemi Corona, jam kerja pasien juga ditingkatkan, cuti dikurangi, tetap kerja selama liburan Nowruz (tahun baru Iran) dan menyaksikan kematian menyedihkan pasien dan rekan kerja, beban kerja meningkat dan riskan tertular penyakit mematikan ini. Seluruh kesulitan ini tetap ditanggung oleh perawat Iran.

Seraya menekankan bahwa bangsa ini harus memahami kesulitan ini dan menghormati para perawat, Rahbar berkata: "Ini sangat sulit! Menurut pendapat saya, bangsa Iran harus melihat kesulitan ini, memahaminya, dan menghargai komunitas perawat. Kemudian, selain semua risiko tersebut, ada risiko perawat terkena penyakit mematikan."


Rahbar menyebut kehadiran kelompok-kelompok seperti mahasiswa, cendekiawan dan pemuda untuk membantu perawat di masa Corona sebagai kebenaran cemerlang dalam pemerintahan Islam dan menambahkan: "Saya pikir ini membawa kebenaran penting dan brilian di negara kita tercinta dan untuk bangsa kita tercinta. : Ini menunjukkan identitas bangsa Iran yang bersemangat, aktif dan teliti; Ini menunjukkan bahwa gerakan ini bersifat publik di negara Iran, yang tentu saja telah terlihat juga dalam bencana umum lainnya; Sekarang saya [menyebutkan] departemen keperawatannya. Ini adalah disiplin yang berkelanjutan; Dari sebelum revolusi, dari perjuangan periode opresif ke peristiwa revolusi, ke peristiwa pertahanan suci, ke peristiwa setelah itu, ke Corona; Dalam semua ini, identitas yang berkomitmen dan bertanggung jawab ini telah menunjukkan dirinya di negara Iran."

Seraya mengisyaratkan kekosongan narasi seni dari kesulitan profesi perawat, Rahbar meminta budayawan yang kompeten dan bertanggung jawab untuk terjun ke lapangan dan menampilkan sumber agung budaya ini dalam berbagai pentas dan teater.

Pertemuan Rahbar dengan Perawat Iran
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam menganggap memperhatikan tuntutan utama komunitas keperawatan sebagai penguatan komunitas keperawatan dan implementasi undang-undang tentang tarif untuk pelayanan keperawatan dan keamanan kerja di antara tuntutan khusus perawat. Rekonstruksi jaringan kesehatan tanah air, dan pemerataan dokter, adalah dua isu lain yang diangkat oleh Pemimpin Tertinggi mengenai sistem kesehatan. Mengacu pada efek dan pencapaian yang sangat baik dari sistem kesehatan pada tahun 60-an dan awal 70-an, dengan fokus pada kesehatan dan pencegahan, ia mencatat bahwa pengobatan tidak diragukan lagi diperlukan, tetapi pencegahan lebih baik dari itu, dan jaringan kesehatan harus dibangun kembali dan diperkuat untuk Memberikan lebih banyak kesehatan bagi orang-orang dengan biaya lebih rendah.

 

Sayidah Zainab, anak ketiga dan putri tertua dari Imam Ali dan Sayidah Fatimah, merupakan salah seorang perempuan berpengaruh di dunia Islam.

Tanggal 5 Jumadil Awal tahun 5 HQ, Sayidah Zainab, cucu Rasulullah Saw, putri Imam Ali as dan Sayidah Fathimah az-Zahra as, terlahir ke dunia. Di Iran, hari kelahiran Sayidah Zainab diperingati sebagai "Hari Perawat" untuk mengenang jasa beliau yang menjadi perawat dan pelindung para korban tragedi Karbala.

Sayidah Zainab diasuh dan dibesarkan oleh manusia agung sepanjang sejarah yaitu, Nabi Muhammad Saw, Imam Ali dan Sayidah Fatimah. Selain itu, beliau adalah saudari dari dua pemuda penghulu surga, Imam Hasan dan Imam Husein.

Sayidah Zainab merupakan salah satu wanita yang menjadi contoh bagi seluruh perempuan di berbagai bidang. Zainab tidak hanya berkaitan dengan masa lalu, tapi juga hari ini dan esok. Sebab, kemuliaan manusia, pengabdian, penghambaan, perjuangan untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan dan kebenaran adalah nilai-nilai yang tidak terkait hanya untuk periode khusus atau masyarakat tertentu saja.

Manusia besar melampaui sejarah hidupnya. Zainab Kubra, termasuk wanita yang berada dalam naungan pancaran cahaya imamah. Sejak kecil, Zainab tumbuh dalam pangkuan risalah dan imamah. Sayidah Zainab telah menghiasi diri dengan ketinggian akhlak, kesempurnaan spiritualitas dan keagungan perilaku.

Lembaran sejarah mencatat Sayidah Zainab menikah dengan Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib, yang merupakan keponakan Ali bin Abi Thalib. Ja'far adalah orang pertama yang memimpin sekelompok Muslim ke Habsyi Tapi, setelah kembali ia kehilangan kedua tangannya dalam pertempuran dengan Romawi. Kemudian, Rasulullah Saw menjulukinya Ja'far Tayyar. Semua sejarawan yang membicarakan tentang Abdullah memujinya seperti ayahnya karena martabat dan berbagai kualitas keperibadiannya. Abdullah Ibn Ja'far termasuk orang yang dipercaya oleh Amirul Mukminin dan berpartisipasi dalam perang. Ia juga dikenal dengan keimananan, ketakwaan dan kecintaannya kepada Nabi Muhammad Saw.

Sayidah Zainab dikenal dengan kedermawanan, kesabaran, martabat, keilmuannya dan kefasihan bicaranya, serta dan kesabarannya. Diriwayatkan suatu hari tamu datang ke rumah Ali, tapi tidak ada makanan di rumahnya. Ali berkata kepada Fatimah, "Apakah tidak ada makanan di rumah?" Sayidah Fatimah menjawab, "Hanya ada sepotong roti yang saya simpan untuk putriku Zainab. Zeinab terbangun dan mendengar jawaban ibunya. Meskipun dia hanya seorang anak kecil saat itu, tapi dia berkata kepada ibunya, "Ambil roti saya untuk tamu, buat saya nanti saja,".

Sayidah Zainab menyampaikan syarat kepada Abdullah, jika saudaranya, Imam Husein pindah ke suatu perjalanan atau perjalanan atau tempat manapun, maka Zainab dan keluarga akan menemaninya. Abdullah menerima persyaratan tersebut dengan sepenuh hati, dan dipatuhi selama perjalanan Imam Husein ke Mekah dan kemudian ke Irak.

Dari pernikahan bersama Abdullah, Sayidah Zainab memiliki empat putra dan seorang putri bernama Umm Kulthum. Abdullah tidak bisa menemani Imam selama kebangkitan Imam Hussein melawan Yazid dan perjalanannya ke Mekah dan kemudian ke Irak, tetapi mengizinkan istrinya untuk menemaninya dengan anak-anaknya. Tidak hanya itu, Abdullah memerintahkan anak-anaknya untuk membela Imam Husein. Bahkan jika perlu, mereka harus mengorbankan hidupnya. Anak-anak Sayidah Zainab memiliki semangat jihad dan kesyahidan yang begitu tinggi sehingga mereka dengan antusias menemani Imam Husein dalam kafilah Asyura. 

Dalam peristiwa Asyura, peran pendidikan Sayidah Zainab dan pembelaannya terhadap Imam Husein terlihat lebih menonjol. Beliau kehilangan orang-orang terbaik dan tersayangnya di Karbala. Kedua anaknya juga syahid bersama Imam Husein.

Sementara itu, meskipun berada di puncak kesedihannya, Sayidah Zanaib tetap memegang kendali keluarga korban Karbala,  ketika musuh menyerang tenda-tenda wanita dan anak-anak. Ia mencari kemana-mana agar tidak ada anak yang hilang atau ada yang diserang.

Di Madinah, Sayidah Zainab dengan senjata ilmu pengetahuannya, mengadakan pertemuan tentang tafsir al-Quran hadits, fiqh dan lainnya, dan membimbing masyarakat lebih dekat dengan iman, takwa dan kemanusiaan. Ia menjadi utusan perlawanan saudaranya. Dalam keadaan yang paling sulit, ia membela keponakannya Imam Sajjad dan keluarga Imam Husein yang telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi agama dan umat Islam. Keberanian dan ketegarannya menjadi model dalam sejarah Islam.

Memperkenalkan sosok wanita agung ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan, "Zainab Kubra adalah wanita agung. Apa kehebatan wanita agung ini di mata bangsa Muslim? Apakah karena beliau adalah putri Ali bin Abi Thalib, atau saudara perempuan Hussein bin Ali dan Hassan bin Ali. Hubungan darah tidak akan pernah bisa menciptakan kehebatan seperti itu. Semua imam kami memiliki anak perempuan, ibu dan saudara perempuan; Tapi siapa yang seperti Zainab Kubra? Nilai dan kebesaran Zainab Kubra adalah karena kedudukan dan gerakan kemanusiaan dan Islamnya yang agung berdasarkan tugas ketuhanan. Aksinya, keputusannya, caranya bergerak, membuatnya begitu hebat."

Selamat atas kelahiran Sayidah Zainab dan hari perawat.