کمالوندی
Fraksi Badr Desak Parlemen Irak Tegas Usir Pasukan AS
Fraksi Badr mendesak para anggota parlemen Irak supaya bertindak tegas dalam masalah pengusiran pasukan AS dari Irak.
Hassan Shakir al-Kaabi, Ketua Faksi Badr di parlemen Irak hari Senin (14/12/2020) mengatakan, "Irak memiliki pasukan keamanan, tentara dan al-Hashd al-Shabi yang memiliki kemampuan untuk mempertahankan tanah air mereka, jadi tidak perlu kehadiran pasukan asing di tanah airnya sendiri,".
Al-Kaabi menekankan bahwa parlemen Irak akan mengambil sikap tegas jika pemerintah Irak menunda penarikan pasukan asing yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
"Langkah-langkah bagaimana implementasi masalah pengusiran militer AS di Irak difokuskan pada politik dan diplomasi, dan rencana pemerintahan Mustafa al-Kadhimi harus mencakup penarikan pasukan asing dari Irak tanpa penundaan," ujar Al- Kaabi.
Sejauh ini, banyak anggota parlemen Irak yang mengkritik sikap pemerintah Baghdad mengenai penarikan pasukan AS dari Irak yang mengabaikan ketetapan parlemen negara ini.
Parlemen Irak menyetujui rancangan undang-undang mengenai penarikan pasukan AS pada 5 Januari, dan sekitar satu juta warga Irak melakukan protes pada akhir Januari 2020 yang menyerukan penarikan pasukan AS dari negaranya.
Perusahaan Importir Senjata Israel Diserbu Hacker
Media rezim Zionis Israel mengabarkan serangan cyber luas ke sejumlah perusahaan Israel, termasuk perusahaan importir senjata rezim ini.
Surat kabar Israel, Calcalist (13/12/2020) melaporkan, salah satu korban serangan cyber luas ini adalah Amital Data, perusahaan penyedia jasa perbaikan sofware untuk banyak perusahaan, termasuk perusahaan importir peralatan militer sensitif, dan pendukungnya.
Situs Calcalist menulis, daftar lengkap perusahaan-perusahaan Israel yang diretas masih belum diketahui, namun salah satu di antaranya adalah klien Amital Data yang bekerja mengimpor peralatan militer sensitif.
Sementara itu koran Yedioth Ahronoth menulis, para hacker menyerang tiga perusahaan Israel yang bekerja dalam pembuatan vaksin Covid-19.
Sekitar sebulah lalu, aliran listrik di sejumlah besar wilayah pendudukan, dan beberapa distrik Zionis di sekitar Jalur Gaza putus, dan Israel mengklaim insiden ini disebabkan serangan cyber.
Dalam beberapa bulan terakhir, tingkat serangan cyber ke instansi, dan perusahaan Israel mengalami peningkatan.
Komandan IRGC: Musuh Menyerang Kemajuan Iptek Iran
Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC mengatakan musuh menyerang kemajuan sains Iran, dan setiap titik yang menjadi konsentrasi musuh, adalah titik kekuatan kami.
Mehr News (14/12/2020) melaporkan, Mayjend Hossein Salami menerangkan, hari ini musuh dengan sanksi-sanksinya bahkan tidak membiarkan Iran memperoleh obat-obatan, dan meneror ilmuwan kami.
Ia menambahkan, ketika seseorang yang bergerak di dunia ilmu pengetahuan diteror, artinya musuh menyerang pertumbuhan, dan kekuatan iptek Iran.
Komandan IRGC menjelaskan, saat kita mampu mengurai kode peta genetik maunsia, maka proses pengobatan akan lebih mudah, dan lebih akurat.
Mayjend Salami menegaskan, jika sebuah negara berhasil membebaskan diri dari dominasi iptek negara asing, dan memproduksi kebutuhannya di dalam negeri, maka sekalipun berada dalam blokade, ia akan mampu melanjutkan pertumbuhannya.
Iran Protes Keras Dukungan Eropa atas Teroris yang Dieksekusi Tehran
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyampaikan protes keras Tehran atas statemen Uni Eropa yang mendukung anasir teroris yang sudah dikenalnya, Rohullah Zam, dengan memanggil Duta Besar Jerman dan Prancis di Tehran.
IRNA (14/12/2020) melaporkan, Saeed Khatibzadeh menjawab pertanyaan wartawan soal pemanggilan Dubes Jerman dan Prancis oleh Kemenlu Iran. Ia mengatakan, merespon statemen berbau intervensi yang dilakukan Uni Eropa, Minggu (13/12) petang Dubes Jerman dan Prancis dipanggil Kemenlu Iran.
Ia menambahkan, dalam pemanggilan itu, Dirjen urusan Eropa, Kemenlu Iran menyampaikan protes keras dan tegas Iran atas pernyataan Uni Eropa, dan dua negara Eropa yaitu Jerman dan Prancis yang mendukung elemen teroris yang sudah dikenalnya, dan dukungan dana serta psikologis beberapa negara Eropa terhadap anasir, dan kelompok teroris, secara khusus para penjahat yang bekerjasama dengan agen mata-mata Barat, dan rezim Zionis Israel terhadap bangsa Iran, yang secara terbuka diakui sendiri oleh mereka.
Khatibzadeh menjelaskan, dalam dua pertemuan terpisah, Dirjen urusan Eropa, Kemenlu Iran kepada Dubes Jerman, dan Prancis mengingatkan, dengan standar yang mana pelatihan membuat bom, skenario bentrokan di jalan, kerja sama dengan pemerintah dan agen spionase asing untuk menggulingkan sistem politik Iran, dan dukungan dalam aksi kejahatan bersenjata, dapat dikategorikan sebagai jurnalisme.
Menurut Jubir Kemenlu Iran, adalah tragedi sejarah ketika Eropa membagi terorisme berdasarkan kepentingannya sendiri menjadi terorisme baik, dan buruk, dan secara tebang pilih mengejar kepentingannya.
Ia menjelaskan, sungguh memalukan beberapa negara Eropa selama bertahun-tahun menjadi tempat berlindung para teroris mulai dari Mojahedin Khalq Organization, MKO sampai para penjahat Al Ahwaziah.
"Kami mengecam keras dukungan Uni Eropa, dan dua negara Eropa, Jerman dan Prancis terhadap anasir teroris, yang bukannya meminta maaf pada rakyat Iran, dan keluarga syuhada karena keterlibatannya dalam aksi-aksi teror. Oleh karena itu pernyataan hipokrit mereka sama sekali tidak berharga di mata rakyat Iran," paparnya.
Kemenlu Prancis hari Sabtu (12/12) mengeluarkan statemen mendukung anasir teroris yang sudah dikenalnya, Rohullah Zam, sehingga mendorong Iran memanggil Dubes Prancis di Tehran untuk menyampaikan protesnya. Sebelumnya Dubes Jerman juga dipanggil Kemenlu Iran karena kasus yang sama.
Liga Arab Peringatkan Krisis Keamanan di Negara Arab
Sekjen Liga Arab seraya memperingatkan kendala besar keamanan dan strategis di dunia Arab menuntut pengokohan kerja sama dan peningkatan hubungan antar negara.
Menurut laporan laman YJC, Ahmed Aboul Gheit di sidang umum parlemen Arab yang digelar di Kairo, Mesir, pertama-tama membahas isu Palestina dan menilai kebijakan terbaru sejumlah negara Arab berkompromi dengan Israel bertentangan dengan keamanan nasional negara-negara Arab.
"Pemerintah Amerika saat ini melakukan langkah tak adil di kasus ini yang sejatinya hanya membuat pendudukan tetap berlanjut secara sadis dan rasis," paparnya.
Presiden AS Donald Trump hari Kamis lalu mengkonfirmasi normalisasi hubungan Maroko dan rezim Zionis Israel.
Sebelumnya, akibat tekanan Trump untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Sudan juga melakukan aksi normalisasi hubungan diplomatiknya dengan Tel Aviv.
Kesepakatan dan aksi sejumlah negara Arab ini menuai kritikan dan protes luas di dunia Islam.
Sebelum ini Otorita Ramallah sebagai protes karena langkah UEA menormalisasi hubungan dengan Israel tidak dikecam, menolak dan melepas kepemimpinan periodiknya di Liga Arab.
Polisi Turki Tangkap 16 Ribu Anggota Partai Kurdi
Pasukan keamanan Turki telah menangkap lebih dari 16.000 anggota Partai Demokratik Rakyat (HDP) Kurdi.
Ebru Gani, Juru Bicara Partai Demokratik Rakyat Turki hari Minggu (13/12/2020) mengatakan bahwa partainya berada dalam bahaya kehancuran politik.
"Pasukan keamanan negara ini menangkpa 16.490 anggota Partai Demokratik Rakyat," ujarnya.
Sebelumnya, beberapa pemimpin partai Kurdi di Turki mengkritik kebijakan pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan terhadap Kurdi dan menyerukan diakhirinya aksi politik tersebut dengan dalih propaganda anti-terorisme.
Belum Menjabat, Penasihat Keamanan Nasional Biden Campuri Urusan Iran
Calon Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan sudah mencampuri urusan dalam negeri Iran, padahal Joe Biden belum memasuki Gedung Putih.
Jake Sullivan dalam pesan Twitternya Senin pagi mengintervensi masalah internal Iran mengenai eksekusi mati terhadap seorang mata-mata bernama Ruhollah Zam.
Sullivan menyebut pelaksaan eksekusi mati tersebut sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia, padahal pemerintahan Biden belum terbentuk dan dia belum resmi menjadi presiden resmi AS yang saat ini berada di tangan Donald Trump.
Sebelum dihukum mati, Ruhollah Zam menghadapi berbagai dakwaan berat seperti melancarkan perang psikologis melawan Republik Islam Iran, melakukan aksi spionase terutama mengenai gerakan komandan militer senior, lebih khusus Jenderal Qassem Soleimani yang syahid, bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam mengintensifkan sanksi terhadap Iran, dan melakukan mobilisasi massa untuk melawan negara.
Soal Syair Separatisme Iran, Erdogan Dijebak Wanita Zionis
Puisi yang dibaca Presiden Turki di Baku, Republik Azerbaijan baru-baru ini telah memicu protes keras dari rakyat dan pemerintah Iran.
Alalam (14/12/2020) melaporkan, banyak spekulasi seputar maksud Recep Tayyip Erdogan membacakan bait puisi tentang pemisahan salah satu bagian wilayah Iran di masa dinasti Qajar, namun sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Turki, tampaknya Erdogan memang tidak memahami makna asli dari puisi tersebut.
Di sisi lain tidak diragukan bahwa dalam banyak kesempatan Erdogan kerap mengeluarkan statemen yang menunjukkan ambisinya menghidupkan kembali imperium Turki Ottoman, namun sepertinya dalam kasus ini ia masuk perangkap yang dipasang pihak tertentu.
Beberapa bukti memperkuat dugaan ini termasuk bahwa karena posisi ekonomi Turki saat ini tidak menguntungkan, dan pada saat yang sama ia terlibat dalam perang di sejumlah negara seperti Libya, Suriah, Irak, dan Azerbaijan, logikanya tidak boleh membuka medan perang baru.
Sebuah sumber terpercaya di Turki kepada Nour News mengungkap skenario perangkap yang dilancarkan beberapa gerakan Pan-Turkisme dengan arahan seorang wanita Zionis anggota lobi Zionis di Amerika, FDD, melaui tangan sejumlah penasihat Erdogan.
Wanita Zionis itu bernama Brenda Shaffer, dosen Universitas Haifa, Israel dan merupakan salah satu elemen lobi Zionis di Amerika, serta aktif di Direktorat Intelijen Militer Israel, Aman. Dalam dua bukunya, Shaffer menulis tentang situasi wilayah Kaukasus, dengan istilah "Manifesto Pan-Turkisme di Iran".
Joe Walsh: Amerika akan Terbelah, Ini Serius !
Mantan anggota DPR Amerika Serikat mengatakankan bahwa bahaya terbelahnya negara itu adalah masalah serius, dan harus diambil langkah pencegahan.
Fars News (14/12/2020) melaporkan, Joe Walsh memperingatkan, dengan memperhatikan retorika sebagian pejabat Amerika, bahaya terbelahnya negara ini semakin serius lebih dari sebelumnya.
Politisi asal Partai Republik itu menambahkan, sehubungan dengan bahaya terbelahnya Amerika, pertama ini adalah masalah nyata. Sebelum Trump, masalah ini sudah mencuat, dan menunjukkan perpecahan di Amerika. Kedua, orang-orang yang abai terhadap bahaya perpecahan ini adalah orang-orang yang tidak pernah memprediksi naiknya Trump.
Ia melanjutkan, ketiga, untuk lepas dari masalah ini kita harus berusaha memahaminya.
Sebelumnya Ketua Partai Republik di Texas, Allen West mengusulkan pembentukan perhimpunan negara-negara bagian pendukung Donald Trump.
West mengatakan, negara-negara bagian taat hukum harus membentuk sebuah perhimpunan untuk menunjukkan penolakan terhadap hasil pemilu presiden yang curang di Amerika.
Kisah Edoardo Agnelli, Fakta yang Disembunyikan Barat
Pertumbuhan Islam di Eropa menjadi topik yang menarik perhatian para analis Barat saat ini, sekaligus membuat mereka tercengang.
"Islam adalah agama yang paling hidup dan dinamis di antara agama-agama dunia," Laju pertumbuhan umat beragama tidak secepat laju pertumbuhan Islam." tulis Der Spiegel dalam sebuah analisis tentang kondiso Islam di Eropa.
Saat ini, para pengamat Barat dengan bingung mengamati kemajuan Islam. Di Spanyol, misalnya, 500 tahun setelah jatuhnya Andalusia, para pemuda Spanyol memeluk Islam. Islam telah menarik banyak orang, baik di Eropa maupun di Amerika Serikat, yang tersesat dalam labirin kebingungan dunia modern, dan mencari cahaya petunjuk yang dapat menyelamatkannya dari keputusasaan, kehilangan, dan ketidakberdayaan. Meskipun peningkatan jumlah Muslim di Barat terutama disebabkan oleh migrasi Muslim ke negara-negara Eropa, tapi pada saat yang sama terjadi fenomena meningkatnya orang-orang Eropa yang sebagian besar berpendidikan dan berpengaruh di masyarakat memeluk Islam, termasuk Edoardo Agnelli yang berita keislamannya pernah menggemparkan dunia.
Edoardo Agnelli lahir tanggal 9 Juni 1954 di New York. Setelah merampungkan pendidikannya di perguruan tinggi Antlantik, dia pergi ke universitas Princeton untuk melanjutkan studinya dalam bidang kesusastraan modern dan filsafat Timur.
Setelah merampungkan pendidikan universitas, dia melakukan lawatan ke negara-negara India untuk menelaah irfan dan mazhab-mazhab timur dan melanjutkan ke Iran dan akhirnya memeluk Syiah selama kunjungannya ke Iran.
Giovanni Agnelli, ayah Edoardo termasuk salah seorang terkaya dan berpengaruh di Italia serta memiliki perusahaan Fiat, Ferrari, Lamborghini, Lancia, Alfa Romeo dan Iveco, dan beberapa perusahaan yang memproduksi bagian-bagian industry, beberapa bank swasta, perusahaan fashion, desain dan pakaian, surat kabar terpenting LASTAMPA dan Corriere Della Sera, klub otomotif Ferrari dan klub sepak bola Juventus.
Selain itu juga ada beberapa perusahaan konstruksi bangunan, pembangunan jalan, peralatan medis dan perusahaan produksi helikopter di mana keluarganya termasuk pemegang saham utama. Jumlah kekayaan dan pengaruh keluarga Agnelli sampai pada batas media-media Italia menyebut mereka sebagai keluarga raja-raja Italia.
Edoardo adalah mahasiswa filsafat agama di universitas Princeton New York. Dia juga kelahiran New York. Dia membaca kitab Injil dan Taurat, namun semua belum memuaskan keingintahuannya. Di umur ke 20 tahun, kebetulan dia melihat Al-Quran dan membaca beberapa ayat darinya dan merasakan ini bukanlah ucapan manusia.
Edoardo mengatakan tentang perjalanannya menjadi mualaf, "Suatu hari saat berjalan-jalan di perpustakaan di New York, saya sedang melihat buku-buku dan mata saya pun melihat Al-Quran. Saya sangat ingin tahu apa yan saja telah disebutkan dalam Al-Quran. Lantas saya mengambilnya dan mulai membacanya, saya buka lembaran-lembarannya dan membaca ayat-ayatnya dengan terjemahan bahasa Inggris, saya merasakan kalimat-kalimat tersebut adalah kalimat yang bercahaya dan bukanlah ucapan manusia. Saya sangat terpengaruh, lantas saya meminjamnya dan saya menelaahnya dan seolah-olah saya memahami dan menerimanya,".
Setelah itu, Edoardo mengunjungi sebuah pusat Islam di New York dan mengutarakan kehendaknya menjadi mualaf. Mereka lantas memilihkan nama Hisham Aziz untuknya. Muhammad Ishaq Abdollahi, salah seorang teman muslim Edoardo Agnelli mengatakan, Edoardo sering kali begadang malam hari untuk menelaan Al-Quran sampai pagi.
Meskipun Edoardo - dikarenakan kesuksesan finansial dan politik keluarganya - seringkali bertemu dengan para pemimpin politik dan mazhab dunia, namun pertemuannya dengan Imam Khomeini (ra) telah membuatnya tertarik dengan kesederhanaan, keagungan dan spiritual beliau. Komunikasi ini benar-benar merubah rute kehidupan Edoardo.
Igor Man, reporter harian Lastampa Italia mengatakan, saat Edoardo berbicara tentang pertemuannya dengan Imam Khomeni dan pengaruhnya, saya merasakan bahwa Imam telah menyihirnya. Demikian juga, Edoardo sebelum meninggal hendak berkunjung ke Iran, namun kedua orang tuanya merintangi perjalannannya dan menyembunyikan pasportnya.
Husein Abdullahi, salah seorang teman karib Edoardo dari Iran menyebut tekanan-tekanan yang terjadi pada temannya ini dari pihak keluarganya adalah hal yang tidak dapat dipercaya. Ia mengatakan, Edoardo berada di bawah tekanan ekonomi. Keluarga Agnelli telah mengembargonya secara mutlak, sampai-sampai dia tidak memiliki uang meski hanya sekedar untuk naik taksi.
Husein mengatakan, suatu hari kami pergi bersama Edoardo ke perwakilan maskapai Iran Air di Italia untuk membeli tiket perjalanan ke Iran. Staf Italia perusahaan Iran Air mengatakan, saya tidak dapat membelikan tiket untuk Edoardo. Setelah debat akhirnya jelas bahwa sekretaris ayah Edoarto telah menghubungi staf tersebut dan memerintahkan supaya tidak memberikan tiket untuk Edoardo.
Dr Ghadiri Abyaneh menuturkan bahwa keluarga Agnelli sangatlah sulit untuk mengakui anaknya telah memeluk Islam, sementara negara Italia adalah pusat Kristen Katolik. Dengan demikian, Edoardo ditekan supaya meninggalkan Islam. Mereka mengembargo dan mengancam untuk tidak memberikan warisan, namun dia tetap tidak mau melepaskan Islam, dan ini dengan sendirinya telah menolak kemungkinan bunuh dirinya, karena dia telah merelakan milyaran dollar kekayaannya hanya demi menjaga agamanya, bagaimana mungkin dengan keyakinan kokoh terhadap Islam semacam ini akan melakukan bunuh diri, yang telah diharamkan dalam Islam?
Kematian Edoardo menimbulkan banyak pertanyaan. Ia diklaim mati bunuh diri, tapi jenazahnya tidak diotopsi untuk membuktikan kematiannya bunuh diri. Bahkan sebelum polisi mengumumkan secara resmi penyebab kematiannya, sebagian surat kabar telah memberitakan kabar bunuh diri anak pemilik perusahaan Fiat untuk mengagitasi opini publik supaya meyakini informasi tersebut.
Keluarga Agnelli termasuk salah satu keluarga besar Italia dan komentar sekecil apapun akan direspon dengan cepat, sampai-sampai Perdana Menteri Italia berbelasungkawa atas kematian Edoardo dan sebelum pertandingan Italia dan Inggris, stadion mengheningkan cipta satu menit guna menghormatinya.
Tak lama setelah insiden itu, ketika tim dokumenter Iran sedang menyelidiki masalah tersebut di Italia, polisi Italia menangkap mereka untuk mencegah kebenaran terungkap dan mendeportasi mereka setelah beberapa hari ditahan dengan tuduhan sebagai teroris. Hingga kini kematiannya menimbulkan pertanyaan besar yang terus ditutupi oleh Barat dengan media dan corong informasinya.
Faktanya, agama Islam mengungkapkan pandangan yang komprehensif di semua bidang dari urusan pribadi hingga sosial dan politik. Banyak orang yang bertahun-tahun mengkaji agama Islam, termasuk Edoardo Agnelli menyadari fakta ini dan memutuskan memeluk agama Islam.
Edoardo Agnelli di salah satu pidato mengatakan, "Ketika kita hidup di saat nilai-nilai terpuruk. Satu-satunya tujuan hanya mengumpulkan uang. Uang jauh lebih buruk daripada narkoba. Kita semua mengkhawatirkan penyebaran narkoba di kalangan anak muda, tetapi kita tidak menyadari bahwa kami bergerak menuju dunia yang mengukur manusia berdasarkan jumlah rekeningnya di bank. Tapi semua ini akan segera berakhir, dan saya percaya bahwa di masa depan, setelah kebangkitan dalam semalam, kita akan memasuki zaman yang tidak lagi didasarkan pada rasionalisme dan empirisme Descartes. Kita tidak boleh lupa bahwa eksploitasi manusia terhadap alam adalah awal dari eksploitasi manusia terhadap manusia lain. Tentu saja tidaklah tepat bagi industri otomotif melakukan demikian yang tugasnya menghidupi jutaan keluarga. Saya percaya bahwa uang harus menjadi alat, bukan tujuan."




























