کمالوندی
Syarif Radhi
Di beberapa seri sebelumnya kita telah berbicara tentang Muhammad bin Muhammad bin Nu'man atau Syeikh Mufid. Edisi sekarang akan mengupas biografi salah satu murid besar Syeikh Mufid yaitu Sayid Radhi.
Sayid Radhi adalah seorang ulama besar pada masanya dan ia menimba ilmu dari para guru besar dan ilmuwan zaman itu. Ia adalah seorang faqih yang luas ilmunya, ahli kalam yang mahir, sastrawan yang ulung, dan seorang ulama tafsir dan hadis. Ia adalah adik dari Sayid Murtadha, salah satu tokoh besar Syiah pada masa itu.
Abu al-Hasan Muhammad bin Husein al-Musawi yang bergelar Syarif Radhi dan terkenal dengan sebutan Sayid Radhi, dilahirkan di kota Baghdad, Irak pada tahun 359 Hijriyah. Nasab ayahnya sampai kepada Imam Musa al-Kazim as dan ibundanya merupakan cucu dari Imam Ali Zainal Abidin as.
Ayahnya, Abu Ahmad Husein adalah seorang tokoh besar, tetua para sayid, amirul haj, dan sosok yang bertanggung jawab untuk memproses pengaduan masyarakat. Ibunya, Fatimah putri Abu Muhammad adalah seorang wanita yang berilmu dan bertakwa. Sayid Radhi menulis buku Ahkam al-Nisa’ atas permintaan ibundanya.
Syeikh Mufid mengisahkan bahwa suatu malam aku melihat Sayidah Fatimah Zahra as dalam mimpiku dengan membawa kedua putranya yang masih kecil, Hasan dan Husein as. Ia menyampaikan salam kepadaku dan berkata, "Wahai syeikh, ajarkan fikih kepada kedua anak ini." Aku kaget dan langsung bangun. Di pagi hari itu juga, ibunda dari Sayid Radhi dan Sayid Murtadha datang kepadaku sambil membawa kedua putranya itu. Ia berkata, “Syeikh, keduanya adalah anak-anakku, mereka aku bawa ke hadapanmu supaya engkau ajarkan fikih.”
Syeikh Mufid menangis dan menceritakan mimpinya kepada ibunda Sayid Radhi. Kemudian Syeikh Mufid pun mengajarkan fikih kepada mereka. Allah Swt membukakan rahmat-Nya bagi mereka dan meluaskan ilmu dan kemuliaan mereka sehingga terkenal di seluruh dunia.
Sejak awal mengenyam pendidikan, Sayid Radhi sudah membuat rekan-rekan dan para gurunya takjub. Semakin tinggi jenjang yang ia tempuh, pujian para ilmuwan mengalir untuknya begitu pula dengan kedengkian musuh-musuh. Di usia sembilan tahun, orang-orang dibuat terpana dengan kejeniusannya ketika menjawab dengan teliti dan tepat mengenai soal-soal dari guru besar ilmu nahwu.
Selain Syeikh Mufid, Sayid Radhi juga berguru kepada para ulama besar dan ilmuwan pada masa itu. Ia belajar kepada para ilmuwan yang tinggal di Baghdad di berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti, saraf, nahwu, balaghah, tafsir, hadis, fiqih, ushul fiqh, dan ilmu kalam.
Ia memperoleh banyak pengetahuan dari mereka dan menyempurnakan keahliannya di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sayid Radhi dikenal sangat tekun dalam menimba ilmu dan selain kepada para ulama Syiah, ia juga berguru kepada ulama Sunni sehingga menguasai sumber-sumber hadis dan fiqih mazhab lain.
Oleh karena itu, Sayid Radhi sangat kompeten dalam berdebat dan membuktikan sesuatu dengan bersandar pada sumber-sumber dan argumen yang kuat. Sebelum mencapai usia baligh, Sayid Radhi telah mempelajari berbagai cabang ilmu dan ketika menginjak usia 20 tahun, ia menguasai semua ilmu yang berkembang pada masa itu dengan sempurna.
Sayid Radhi mulai menulis buku pada usia 17 tahun dan buku-bukunya tercatat sebagai karya ilmiah Syiah yang paling bernilai. Nama Sayid Radhi di kalangan ulama dan ilmuwan tidak bisa dipisahkan dari kitab Nahjul Balaghah. Ia mengumpulkan khutbah, surat, dan ucapan-ucapan Imam Ali as dari berbagai sumber dan mengumpulkannya dengan rapi dalam sebuah kitab bernama Nahjul Balaghah.
Pada dasarnya, Sayid Radhi mampu mempersembahkan sebuah kitab yang sempurna kepada dunia, yang bersumber dari ucapan manusia suci dan sosok pengganti Rasulullah Saw yaitu Imam Ali as. Lewat karya ini, ia tidak hanya menyumbangkan sebuah kontribusi besar kepada dunia Syiah, tetapi juga kepada seluruh umat manusia.
Karya lain Sayid Radhi adalah kitab Khashaish al-Aimmah dan tafsir al-Mutasyabih fi al-Quran, di mana dari kandungannya dapat diketahui kemampuan ilmiah dan keluasan pengetahuan penulisnya.
Sayid Radhi dikenal sebagai guru besar di bidang sastra Arab dan tidak ada tandingannya dalam ilmu sastra dan puisi. Ia mulai melantunkan puisi sejak usia 10 tahun dan qasidah pertamanya membuat para sastrawan terkagum-kagum. Syair-syair Sayid Radhi dihafali dan dilantunkan oleh masyarakat. Diwan syair Sayid Radhi mencakup 6.300 bait dan termasuk karya sastra Arab yang paling bernilai.
Seorang sastrawan besar, Shahib bin 'Ibad diliputi rasa kagum ketika pertama kali menyaksikan penggalan syair Sayid Radhi. Ia kemudian mengutus salah seorang ke Baghdad untuk menyalin buku diwan syair Sayid Radhi dan membawa salinan itu kepadanya. Peristiwa ini terjadi ketika Sayid Radhi masih berusia 26 tahun.
Selain menguasai ilmu dan sastra, Sayid Radhi memiliki keutamaan akhlak dan kesempurnaan jiwa. Ia dikenal dengan jiwa yang bersih, setia, dan dermawan, memegang teguh ajaran agama, serta menjaga perkara halal dan haram.
Meski sangat mahir dalam melantunkan syair dan pujian terhadap para tokoh agama dan politik, tetapi ia tidak pernah menerima imbalan dan tidak menjadikan syairnya sebagai sarana untuk menjilat orang lain, ia hanya berbicara fakta dan kebenaran dalam format syair. Ia sudah berkali-kali menolak hadiah yang diberikan oleh Baha al-Dawla Daylami, salah satu penguasa Dinasti Buyid.
Sayid Radhi terkenal sangat dermawan dan bermurah hati. Di tengah kesibukannya, ia membangun sebuah madrasah dan kemudian mendidik para santri, serta menyediakan semua fasilitas yang dibutuhkan, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya pada masa itu. Madrasah ini diberi nama Dar al-‘Ilm dan ia sudah berdiri puluhan tahun sebelum dibangun Madrasah Nizhamiyah Baghdad.
Madrasah Nizhamiyah dibangun dengan anggaran pemerintah, tetapi Sayid Radhi mengeluarkan seluruh biaya operasional Dar al-‘Ilm dan santri dari uangnya sendiri. Sejumlah santri bahkan diberikan kunci gudang sehingga bisa mengakses apa yang dibutuhkan.
Sayid Radhi juga memikul tanggung jawab sosial yang besar dan selalu hadir untuk memberikan pelayanan kepada kaum Muslim. Sejak al-Mu'tadhid Billah (Khalifah Bani Abbasiyah) berkuasa pada tahun 279 H, keturunan alawi mulai dihormati dan diangkat satu tokoh dari keturunan sayid untuk menangani urusan-urusan mereka.
Di setiap kota, diangkat satu tokoh atau ulama alawi untuk mengurusi wilayahnya, tetapi Sayid Radhi ditunjuk sebagai pemimpin alawi di seluruh dunia Islam dan ini hanya terjadi di zamannya. Ia bertanggung jawab untuk mengurusi komunitas sayid termasuk urusan pengadilan, menengahi konflik, menangani urusan anak yatim, dan melaksanakan hukum-hukum syar’i tentang keturunan alawi.
Sayid Radhi secara tiba-tiba dan penuh misteri meninggal dunia pada usia 47 tahun. Kabar duka ini membuat para menteri, ulama, dan hakim Syiah dan Sunni berbondong-bondong datang ke rumahnya. Dihadiri oleh ribuan pelayat, jenazah Sayid Radhi dimakamkan di rumahnya di Karakh dan kemudian dipindahkan ke Karbala.
Sayid Murtadha Alamul Huda.
Ulama dalam budaya Islam memiliki posisi yang sangat tinggi dan dianggap sebagai pewaris para nabi di tengah umat. Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Bait as memperkenalkan ulama sebagai penjaga agama, penerang bumi, dan pewaris para nabi.
Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Ketika hari kiamat tiba, Allah Swt akan membangkitkan ulama dan ‘abid. Ketika mereka berdua berdiri di hadapan Allah Swt, datang perintah kepada ‘abid, ‘Masuklah ke surga’ dan dikatakan kepada ulama, ‘Tetaplah di sini dan berikan syafaat karena kalian telah mendidik orang-orang dengan baik.’”
Edisi sekarang akan mengkaji lebih jauh tentang posisi tinggi cendekiawan Muslim dengan memperkenalkan kepribadian dan kiprah para ulama besar Syiah.
Ali bin Husein bin Musa – masyhur dengan Sayid Murtadha Alamul Huda – adalah seorang fakih besar, teolog, dan tokoh masyarakat Syiah yang sangat berpengaruh pada abad keempat dan kelima Hijriyah.
Dari segi intelektual, Sayid Murtadha Alamul Huda memiliki posisi yang sangat tinggi sehingga hanya sedikit orang yang mencapai posisi ini pada masa itu. Dia sangat menonjol dalam banyak disiplin ilmu pada masanya seperti teologi, fiqih, yurisprudensi, tafsir, filsafat, astronomi, dan sastra, dan bahkan dianggap sebagai murid istimewa Syeikh Mufid.
Sepeninggal Syeikh Mufid, ia dianggap sebagai ulama besar fiqih, teolog, dan marja’ utama Syiah pada masanya. Sayid Murtadha juga dikenal sebagai penyebar agama pada awal abad kelima Hijriyah.
Sayid Murtadha – sepeninggal ayah dan saudaranya Sayid Radhi – selama 30 tahun menjadi pembesar kelompok Alawi (keturunan Nabi Saw), pemimpin haji, dan ketua dewan pemberantas kezaliman. Dewan ini menangani pengaduan masyarakat terhadap para penguasa dan gubernur.
Menurut Sayid Murtadha, bekerjasama dengan penguasa lalim adalah boleh dan benar bila memiliki fungsi-fungsi rasional dan syar'i, yakni seseorang dalam tanggung jawabnya mampu mengangkat kezaliman dan menegakkan keadilan atau menjalankan hukum-hukum Ilahi.
Sayid Murtadha adalah seorang pemikir rasionalis. Dia percaya bahwa untuk membuktikan Tuhan, diperlukan pencarian rasional dan penalaran, dan tidak dapat merujuk kepada teks-teks agama untuk membuktikan keberadaan Tuhan, sebab teks-teks agama sendiri akan dianggap valid ketika Tuhan sudah dibuktikan melalui akal dan beberapa sifat-Nya juga sudah diketahui.
Pandangan Sayid Murtadha ini berakar pada ajaran al-Quran bahwa prinsip-prinsip agama termasuk keyakinan pada Allah, kenabian, konsep imamah, hari kebangkitan, dan keadilan – sebagai rukun Islam – tidak dapat diterima hanya mengandalkan taklid dan ucapan orang lain, tetapi prinsip-prinsip ini harus dibuktikan dengan menggunakan akal, baru setelah itu seseorang dapat memanfaatkan teks agama dalam menerima rukun-rukun agama lainnya.
Ulama besar ini memandang akal sebagai hujjah dalam berakidah dan kajian teologis, dan segala sesuatu yang bertentangan dengan akal dianggap batil. Oleh karena itu, ketika ada riwayat yang bertentangan dengan akal, maka ia memilih pandangan akal dan percaya bahwa tidak semua riwayat yang sampai kepada kita adalah sahih.
Pada masa itu, kelompok Mu'tazilah juga aktif melakukan kegiatan ilmiah di Baghdad dan mereka merupakan kelompok yang berpegang pada rasionalitas. Oleh sebab itu, beberapa pihak menganggap Sayid Murtadha sebagai penganut mazhab Mu'tazilah, padahal tidak demikian.
Sebagai seorang pemikir Syiah, ia menentang pemikiran Mu'tazilah mengenai beberapa prinsip penting termasuk konsep imamah, kemaksuman, iradah Ilahi dan kehendak manusia.
Sayid Murtadha memiliki pendekatan rasionalitas di bidang fiqih dan meyakini bahwa jika tidak ditemukan dalil-dalil naqli untuk membuktikan hukum syariah pada suatu subjek, maka akal dengan sendirinya dapat menyingkap hukum syariah. Dia adalah salah satu pelopor metode ijtihad dalam fiqih Syiah yang dalam pengistimbatan hukum menggunakan dalil-dalil rasional.
Sayid Murtadha meninggalkan banyak karya yang berharga untuk mazhab Syiah. Almarhum Allamah Amini dalam kitab al-Ghadir menyebutkan 86 nama buku ulama besar tersebut, salah satunya adalah buku koleksi puisi dengan 20.000 bait. Di antara buku fiqih Sayid Murtadha adalah al-Intishar.
Buku ini termasuk salah satu contoh kitab fiqih pertama yang mengkaji persoalan-persoalan yang diperdebatkan antara Syiah dan Sunni, dan memuat hukum-hukum yang berhubungan dengan fiqih Syiah.
Karya penting lainnya di bidang fiqih adalah kitab al-Nasiriyat yang ditulis untuk menafsirkan pandangan fiqih kakeknya, Nasir Kabir. Sayid Murtadha menulis sebuah buku yang lengkap dan komprehensif di bidang yurisprudensi Syiah yaitu al-Zari'ah ila Usul al-Syari'ah dan memberikan penilaian tentang pandangan mazhab Sunni.
Kitab tersebut dianggap sebagai awal terbentuknya ilmu ushul fiqh di kalangan Syiah dan membuatnya terpisah dari ilmu ushul fiqh Sunni. Karya-karya lain Sayid Murtadha adalah kitab Amali tentang persoalan fiqih, kemudian buku-buku di bidang tafsir, hadis, syair, sastra, dan kitab al-Syafi yang membahas konsep imamah.
Sayid Murtadha sangat terkenal selama masa hidupnya dan disebutkan bahwa kuliahnya selalu dipadati oleh mahasiswa dan sebagian ulama, dan bahkan gurunya Syeikh Mufid kadang-kadang juga menghadiri kuliahnya. Dia memiliki rumah besar yang dijadikan sebagai madrasah dan mengajar berbagai mata kuliah seperti fiqih, yurisprudensi, teologi, tafsir, bahasa, syair, astronomi, dan matematika.
Pada waktu itu, para mahasiswa datang ke kota Baghdad dari penjuru terjauh untuk menimba ilmu dari guru-guru besar seperti Sayid Murtadha, namun kebanyakan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikannya selama di rantau. Sayid Murtadha mendedikasikan sebagian rumahnya untuk para mahasiswa. Dia adalah orang pertama yang mengubah rumahnya menjadi madrasah dan tempat diskusi serta menyediakan sebuah perpustakaan besar untuk mahasiswa.
Ketika buku-buku masih ditulis dengan tangan dan belum ada industri percetakan, perpustakaan Sayid Murtadha mengoleksi hampir 80.000 buku. Di madrasahnya, mahasiswa dari berbagai agama sangat terkesan dengan perilaku dan akhlak Sayid Murtadha. Kontribusi penting lain yang dilakukan Sayid Murtadha adalah mendedikasikan salah satu desa miliknya untuk memenuhi kertas yang dibutuhkan oleh para ilmuwan dan fuqaha.
Sayid Murtadha meninggal dunia pada usia sekitar 80 tahun pada tanggal 25 Rabiul Awal 436 H di kota Baghdad. Jenazahnya dimandikan oleh Abu al-Hussein Najashi dan murid-muridnya yang lain. Kemudian putranya Sayid Muhammad memimpin shalat jenazah dan Sayid Murtadha dimakamkan di rumahnya di daerah Karkh, Baghdad. Jasad Sayid Murtadha kemudian dipindahkan ke Karbala dan dimakamkan di samping makam suci Imam Husein as.
Ibnu Syahr Asyub
Ibnu Syahr Asyub adalah seorang ilmuwan besar yang menduduki derajat tinggi di berbagai disiplin ilmu keislaman dan fokus mendidik murid-muridnya, melakukan penelitian, dan menulis buku sampai akhir hayatnya.
Kehidupan Ibnu Syahr Asyub sarat dengan spiritualitas dan antusiasme, dan para tokoh menganggapnya teladan dalam takwa dan jihad. Muhammad bin Ali bin Syahr Asyub Sarawi Mazandarani yang lebih dikenal dengan Ibnu Syahr Asyub dilahirkan pada bulan Jumadil Akhir tahun 488 H. Keluarganya berasal dari kota Sari di Provinsi Mazandaran, Iran, atau tepatnya di pantai selatan Laut Kaspia, tetapi ayah dan kakeknya tinggal di Baghdad.
Apakah Ibnu Syahr Asyub lahir di Sari atau Baghdad, ini masih menjadi perdebatan di antara sejarawan. Sebagian orang memandang dia berasal dari Sarawi dan lahir di Mazandaran, tapi sebagian yang lain meyebutkan kelahirannya di Bagdad.
Ayahnya bernama Syekh Ali yang merupakan salah satu ahli hukum, pakar hadis, dan ulama besar di dunia Syiah, dan dia bekerja keras dalam mendidik putranya itu.
Di bawah asuhan ayah yang alim dan berakhlak mulia, Muhammad menorehkan banyak prestasi. Pada usia 8 tahun, dia telah menghafal seluruh al-Quran, dan karena akhlaknya yang baik dan kata-katanya yang sopan membuatnya sangat disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Semangat belajar dan melakukan penelitian adalah warisan yang ditularkan ayahnya kepada Muhammad.
Rezeki halal yang diperoleh ayahnya telah membantu hati dan pikiran sang anak dalam menerima kebenaran dan berjalan di jalur kesempurnaan. Ayahnya sangat perhatian dengan masalah ini dan ia menjauhkan makanan yang haram dari raga dan jiwa anak-anaknya. Islam sangat menekankan masalah pengaruh makanan halal terhadap kesuksesan manusia dalam mencapai kesempurnaan.
Setelah mempelajari al-Quran dan mata kuliah pengantar, Ibnu Syahr Asyub menekuni ilmu-ilmu agama seperti, fiqih dan ushul fiqih, hadis, teologi, ilmu rijal, dan tafsir. Ulama besar seperti Syeikh Tabarsi dan Allamah Qutbuddin al-Rawandi termasuk di antara guru-gurunya. Juga kakeknya yaitu Syahr Asyub Sarawi (penduduk kota Sari) termasuk di antara guru yang sangat berjasa padanya.
Ibnu Syahr Asyub menimba ilmu di berbagai hauzah Iran dan belajar kepada para ulama besar selama perjalanan ilmiahnya ke berbagai kota di Iran seperti, Mashad, Qom, Rey, Kashan, Naishabur, Isfahan dan Hamedan. Ia kemudian hijrah ke kota Baghdad. Di masa itu, Baghdad adalah pusat ibukota Dinasti Abbasiyah dan pusat ilmu Islam yang paling terkenal. Para ilmuwan hebat dari berbagai penjuru datang ke kota itu untuk kegiatan-kegiatan ilmiah.
Tidak lama kemudian, Ibnu Syahr Asyub pindah ke kota Hillah (Irak Tengah) yang bersejarah dan terkenal di dunia, dan setelah bertahun-tahun di sana, ia meninggalkan Hillah menuju ke kota Mosul. Setelah lama tinggal di Mosul, dia pergi ke kota Aleppo (Halab), Suriah dan menetap di sana sampai akhir hayatnya. Pada waktu itu, Aleppo menjadi tempat kediaman para ulama besar dan masyarakat di kota itu memperlakukan orang Syiah dengan baik dan menghormati ulama Syiah.
Banyak ulama dan ilmuwan yang sangat dihormati yang hidup sezaman dengan Ibnu Syahr Asyub, tetapi Ibnu Syahr Asyub memiliki keunggulan dan derajat ilmunya diakui lebih tinggi. Dia selalu bersanding dengan para ulama besar di setiap kota di wilayah negara Islam yang ia singgahi, kegiatan kuliah dan ceramahnya selalu lebih ramai daripada yang lain. Lautan pengetahuan dan kemampuannya yang luar biasa membuat banyak orang belajar kepadanya.
Ibnu Syahr Asyub sangat tekun dalam beribadah dan selalu berwudhu. Dia adalah sosok yang baik budi, jujur, rendah hati, dan lembut tutur kata. Di samping kegiatan ilmiahnya seperti mengajar dan menulis, ia tidak melupakan tugas lain yaitu menyampaikan ceramah dan nasihat kepada masyarakat. Dengan cara ini, Ibnu Syahr Asyub menularkan ilmunya kepada masyarakat awam dan ulama.
Salah satu ciri khas yang membuat Ibnu Syahr Asyub lebih menonjol dari ulama lain pada masanya adalah memiliki pandangan ilmiah yang moderat dan unggul. Pandangan ilmiahnya memiliki landasan dan argumen yang kuat, dan meskipun seorang ulama Syiah, ia sangat menguasai sumber-sumber teologi dan sejarah Sunni melebihi para ulama Sunni yang hidup sezaman dengannya. Karakteristik ini membuat sebagian ulama pencari kebenaran dari Sunni – di samping ulama Syiah – memuji dan mengagumi ulama besar ini.
Ibnu Syahr Asyub juga terkenal di bidang penulisan. Ia meninggalkan buku-buku yang inovatif di sebagian besar ilmu Islam termasuk, fiqih, yurisprudensi, teologi, hadis, sejarah, tafsir, dan ilmu rijal, yang selalu menjadi rujukan bagi para ulama dan ilmuwan.
Buku berharga, Manaqib Al Abi Thalib adalah karya Ibnu Syahr Asyub yang paling terkenal yang telah dicetak berulang kali sampai sekarang. Kitab yang memuat sejarah kehidupan dan keutamaan 14 imam maksum ini, dengan jelas menunjukkan tingkat keterampilan dan penguasaan penulis terhadap sejarah dan hadis. Kitab Manaqib Al Abi Thalib diawali dengan uraian tentang kabar gembira pengutusan Rasulullah Saw, sejarah hidupnya, mukjizat, nama dan gelar, dan mikraj nabi. Setelah itu, ia membahas tentang konsep imamah dan ayat-ayat serta riwayat yang terkait dengannya, kemudian menjelaskan biografi para imam maksum serta Sayidah Fatimah Zahra as dan keutamaan-keutamaan mereka satu per satu.
Buku kecil tapi berharga, Ma'alim al-Ulama merupakan karya lain dari Ibnu Syahr Asyub yang memuat nama dan biografi dari 1.021 ulama Syiah. Buku ini lebih lengkap daripada kitab al-Fihrest karya Syeikh Tusi yang membahas topik yang sama, dan penulis memperkenalkannya sebagai penyempurna al-Fihrest.
Ibnu Syahr Asyub juga menulis sebuah buku tentang tafsir al-Quran yang berjudul, Mutasyabih al-Quran wa Mukhtalafuhu yang mendapat perhatian khusus dari para ulama dan dapat dianggap sebagai kitab pertama di bidangnya. Dalam buku ini, Ibnu Syahr Asyub mengkaji ayat-ayat mutasyabih dalam al-Quran.
Ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang sifatnya kompleks dan memiliki banyak arti, dan maknanya baru dapat diketahui dengan benar dengan merujuk pada ayat-ayat yang tegas dan jelas.
Ibnu Syahr Asyub, ulama fiqih yang bijaksana dari mazhab Ahlul Bait, meninggal dunia pada Jumat malam, 22 Sya'ban tahun 588 H di kota Aleppo, Suriah setelah menjalani hidup hampir 100 tahun.
Jenazah suci ulama besar ini dimakamkan di Mashhad al-Siqth atau Jabal Jawshan di pinggiran kota Aleppo. Menurut masyarakat Syiah Halab, tempat ini adalah lokasi dimakamkannya Muhsin al-Siqth, putra Imam Husein as. Oleh karenanya ia dikenal dengan nama Mashhad al-Siqth.
Meski ia telah tiada, semilir ajaran Ahlul Bait yang dibawakan olehnya tetap menjadi penghapus dahaga bagi para para pencari kebenaran. Imam Ali as berkata, “Orang alim tetap hidup meskipun ia telah meninggal, dan orang bodoh telah mati meskipun ia masih hidup.”
Khajeh Nashiruddin Thusi
Sejak dimulainya periode keghaiban besar Imam Mahdi as yang dikenal sebagai “era kebingungan” Syiah, para fuqaha yang adil mulai memikul tugas atas nama Imam Mahdi as untuk mempertahankan hukum agama, cita-cita Islam, dan ajaran Syiah.
Sejak saat itu, para ulama berjuang membela agama dengan penuh pasang surut dan menjalankan tugasnya dengan berbagai cara. Kapan pun diperlukan, mereka menyebarkan ajaran Islam dengan senjata pena, ucapan, tulisan, dan majlis taklim. Para ulama ini juga tidak ragu-ragu untuk mempersembahkan nyawa, harta, dan kehormatannya jika situasi menuntut.
Di antara mereka, terdapat para ulama besar yang memainkan peran luar biasa yang menyandingkan ilmu dengan amal serta agama dengan politik. Mereka mampu menahkodai bahtera budaya dan peradaban Islam Syiah melewati badai dahsyat dan menjaga ajaran-ajarannya.
Salah satu dari tokoh besar ini adalah Khajeh Nashiruddin Thusi yang merupakan salah satu ulama Syiah terbesar pada abad ketujuh Hijriyah. Ia menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan pakar di berbagai bidang.
Muhammad bin Muhamad bin Hasan Thusi terkenal dengan nama Khajeh Nashiruddin Thusi adalah seorang filosof, teolog, matematikawan, dan astronom besar Iran abad ke-7 H. Khajeh Thusi adalah pendiri Observatorium Maragheh Observatory, dan tokoh-tokoh besar seperti, Allamah Hilli dan Qutbuddin Shirazi belajar kepadanya.
Khajeh Nashiruddin Thusi lahir pada 11 Jumadil Awal tahun 597 H di Thus dan dibesarkan di sana. Ayahnya Muhammad bin Hasan adalah salah satu fuqaha Syiah dan perawi hadis di daerah Thus. Khajeh Thusi mengenyam pendidikan dasar dari ayah, ibu, dan pamannya. Setelah itu dia belajar kepada para ilmuwan dan ulama Thus. Ia sangat antusias dalam belajar, kejeniusan dan ketekunannya membuat para ulama Thus takjub.
Atas saran para tokoh Thus, Khajeh Thusi hijrah ke kota Neishabur untuk memperdalam ilmu. Dari kota inilah petualangan ilmiahnya dimulai. Kemudian ia melakukan perjalanan ke kota Rey, Qum, Isfahan, dan Irak.
Khajeh Nashiruddin Thusi.
Khajeh Thusi kembali ke kampung halamannya di Khorasan setelah memperdalam ilmu di madrasah-madrasah terpenting dunia Islam dan mencapai gelar tertinggi di semua cabang ilmu pada masanya mulai dari fiqih, filsafat, teologi, matematika, dan astronomi. Pada masa itu, ia dikenal sebagai seorang ilmuwan besar dan kompeten.
Khajeh Nashiruddin Thusi tidak bisa dengan tenang melakukan kegiatan ilmiahnya di Khorasan, karena masa itu bertepatan dengan invasi Mongol ke Iran. Tentara Mongol secara brutal membantai banyak orang di Iran dan menyebabkan kehancuran besar-besaran.
Bagi tentara Mongol yang barbar dan tanpa budaya, maka karya dan peradaban umat manusia juga tidak ada nilainya, dan apapun yang ditemuinya akan dihancurkan dan dibakar. Banyak ulama dibunuh, perpustakaan dibakar, dan infrastruktur negara, seperti saluran air dan irigasi dihancurkan. Dalam situasi seperti itu, Khajeh Thusi pindah ke benteng Ismailiyah yang merupakan tempat yang aman saat itu. Dia tinggal di benteng Ismailiyah selama 26 tahun.
Selama kurun waktu itu, ia tidak menyerah sedikit pun dalam kegiatan ilmiah dan berhasil menulis beberapa buku seperti, Syarah Isyarat Ibn Sina, Taḥrir Usul Uqlidis, Tawalli wa Tabarri, dan Akhlak Nashiri, serta beberapa buku dan risalah lainnya. Meskipun waktu itu tidak terlalu bebas dan tidak diizinkan untuk keluar dari benteng.
Khajeh Thusi pada bab penutup Syarah Isyarat Ibn Sina menulis, “Saya menulis sebagian besar karya dalam situasi yang begitu sulit dan tidak ada yang lebih sulit lagi dari itu. Saya menulis sebagian besar di tengah kekacauan di mana setiap bagian darinya adalah kepingan dari kesedihan, siksaan yang menyakitkan, dan penyesalan yang besar. Tidak ada hari-hari yang saya lewati tanpa meneteskan air mata dan hati saya tidak gelisah, serta tidak ada saat yang membuat rasa sakit saya tidak bertambah dan kesedihan saya tidak berlipat ganda.”
Ilmuwan hebat ini mengungguli para ilmuwan lain di berbagai bidang sains pada masa itu, khususnya matematika dan astronomi. Karya-karyanya diterjemahkan dan diajarkan di universitas-universitas Eropa selama berabad-abad setelahnya. Dia juga seorang ulama di bidang ilmu agama dan sastra.
Abad ketujuh Hijriyah bisa dianggap sebagai periode aktual penulisan karya-karya teologis Syiah, di mana Khajeh Thusi memimpin kebangkitan ini dengan sejumlah karyanya di bidang teologi Syiah. Dia membuktikan kebenaran Syiah dengan menulis buku-buku seperti, Tajrid al-I'tiqad, Fushul al-‘Aqaid, dan Qawaid al-‘Aqaid. Selain itu, dia juga menulis sebuah risalah imamah untuk memperkuat akidah Syiah Imamiyah.
Di bidang filsafat, Khajeh Nashiruddin Thusi memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap filsafat Islam. Dia memberikan penjelasan atas buku Ibnu Sina, al-Isyarah dan Tanbihat, yang menunjukkan penguasaan tema-tema filsafat oleh Khajeh. Ilmuwan hebat ini juga pakar di bidang irfan dan mengungkapkan pandangan mistiknya dalam bentuk uraian tentang keadaan irfani dari para sufi terkenal seperti Bayazid dan Hallaj.
Di bidang etika, reputasi Khajeh Thusi juga sangat dikenal dan diketahui banyak orang. Pandangannya tentang akhlak dan pendidikan bisa ditemukan dalam buku-bukunya, Akhlak Nashiri dan Adab al-Muta’allimin. Beberapa orang menganggap Akhlak Nashiri sebagai buku Persia terlengkap di bidang akhlak dan mahakarya dalam prosa Persia.
Khajeh Nashiruddin Thusi memandang ilmu akhlak dan ajarannya sebagai ilmu yang tertinggi dan percaya bahwa dengan mengamalkan ajaran moral, makhluk yang paling rendah bisa berubah menjadi makhluk yang paling mulia dan dia sendiri membuktikan kebenaran ucapan ini dalam praktiknya.
Di antara kontribusi lain Khajeh Thusi yang tidak akan pernah dilupakan sejarah, adalah pembangunan Observatorium Maragheh, yang dibangun olehnya dengan bantuan sejumlah cendekiawan dan ilmuwan. Atas perintah peneliti besar ini, arsitek terkenal saat itu, Fakhruddin Abu al-Saadat Ahmad ibn Uthman Maraghi, membangun sebuah bangunan observatorium yang besar dan megah sesuai dengan rancangan Khajeh Thusi.
Lokasi yang dipilih untuk observatorium ini adalah sebuah bukit yang terletak di barat laut kota Maragheh dan sekarang dikenal sebagai Observatorium Maragheh. Di dekat observatorium, sebuah perpustakaan besar dibangun yang dilengkapi dengan 400 ribu jilid buku-buku penting untuk digunakan para ilmuwan dan peneliti. Buku-buku ini dikumpulkan oleh Khajeh Nashiruddin Thusi dari Baghdad, Syam, Beirut, dan Aljazair.
Sisa-sisa bangunan Observatorium Maragheh (atas) dan observatorium baru di lokasi yang sama.
Observatorium Maragheh menandai babak baru kegiatan ilmiah di dunia Islam, sekaligus berperan penting dalam pengembangan astronomi sistem pra-Copernicus non-Ptolemaic yang canggih, untuk menjelaskan gerakan planet. Observatorium Maragheh juga menjadi model untuk beberapa observatorium yang dibangun di wilayah Iran, Transoxiana, dan Asia Kecil hingga abad ke-17.
Observatorium ini sebenarnya sebuah lembaga ilmiah, dengan bangunan utama untuk peralatan pengamatan, beberapa bangunan tambahan, dan tempat akomodasi. Sebuah tim astronom, sebagian besar diundang dari berbagai belahan dunia Islam, bertanggung jawab untuk desain dan konstruksi dari instrumen astronomi, serta untuk melakukan pengamatan dan perhitungan.
Di bawah arahan Khajeh Nashiruddin Thusi, Observatorium Maragheh menjadi pemantik kebangkitan ilmu pengetahuan di dunia Islam, terutama di bidang astronomi, matematika, fisika, filsafat, dan teologi. Ia juga mengundang seluruh ilmuwan dari berbagai wilayah ke Maragheh, dan menjadikan tempat itu sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia di zamannya.
Khajeh Nashiruddin Thusi meninggal dunia pada 18 Dzulhijjah tahun 672 H dan berdasarkan surat wasiat yang ditulisnya, ia dimakamkan di dekat Kompleks Makam Kazhimain.
Sayid Ibnu Thawus
Sayid Radhiyuddin Ali bin Musa bin Jakfar bin Thawus, yang masyhur dengan Sayid Ibnu Thawus adalah seorang ulama besar Syiah, faqih, serta guru akhlak dan irfan. Ia adalah penulis buku al-Luhuf tentang perjuangan Imam Husein as di Karbala.
Ibnu Thawus adalah pemimpin masyarakat Syiah pada masa pemerintahan Mongol di Baghdad. Ia dikenal sebagai Jamal al-‘Arifin karena kesalehan, ketakwaan, dan derajat irfaninya. Para tokoh Syiah memuji Ibnu Thawus dengan sifat-sifat seperti, yang mulia, saleh, ahli zuhud, pemimpin kaum ‘arif, pemilik karamah, dan Thawus (burung merak).
Ibnu Thawus lahir pada pertengahan bulan Muharram tahun 589 H/1193 di kota Hillah, Irak. Garis keturunannya sampai kepada Imam Hasan al-Mujtaba dan Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as. Ia dikenal dengan Ibnu Thawus karena salah satu dari kakeknya yakni Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad memiliki wajah yang tampan dan termasuk salah satu pembesar Alawi di Madinah.
Ayahnya, Musa bin Jakfar juga termasuk salah seorang perawi hadis besar, sementara ibunya adalah putri dari Warram bin Abi Farras, salah seorang pemuka ulama Syiah Imamiah.
Sayid Ibnu Thawus sangat dihormati di kalangan ulama dan masyarakat pada masanya. Meski ia sangat dikenal sebagai ahli takwa dan mistisisme, serta sebagian besar tulisannya juga seputar buku-buku doa dan ziarah, namun Ibnu Thawus juga seorang faqih besar, pakar sastra Arab, dan penyair yang cakap.
Hillah, tempat kelahiran Ibnu Thawus, merupakan salah satu kota di Irak dan Ibukota Provinsi Babel. Kota ini terletak di sebelah Shatt al-Hillah (salah satu anak Sungai Efrat), 90 km selatan Baghdad, dan di persimpangan jalan dari Baghdad menuju Najaf.
Pada abad kelima dan keenam Hijriyah, Hillah tercatat sebagai salah satu kota terindah di Irak yang didatangi oleh banyak pedagang, ulama, dan penyair. Hillah adalah pusat ilmu pengetahuan dan tempat lahirnya Hauzah Ilmiah Syiah dari awal abad keenam hingga kesepuluh Hijriyah, dan kemudian Hauzah Ilmiah Syiah pindah ke Karbala dan sekarang berpusat di kota Najaf.
Hampir 500 mujtahid pernah tinggal di kota Hillah dalam satu abad, dan ini menjadi bukti atas perkembangan ilmu pengetahuan dan hauzah ilmiah di suatu daerah.
Sayid Ibnu Thawus memulai pendidikannya di kota Hillah, di mana ia belajar ilmu-ilmu dasar dari ayah dan kakeknya. Kemudian dia memutuskan untuk berkelana demi menimba ilmu dari ulama-ulama lain. Kazimain adalah kota pertama yang ditujunya dan setelah beberapa lama, dia menikah dan kemudian menetap di Baghdad. Selama 15 tahun di Baghdad, Ibnu Thawus mendidik siswa dan mengajar berbagai bidang ilmu. Ia juga pernah tinggal di kota Mashad, Iran selama tiga tahun.
Ibnu Thawus kemudian hijrah ke Najaf dan Karbala, dan menetap di masing-masing kota tersebut selama sekitar 3 tahun. Selama periode itu, Ibnu Thawus selain mendidik siswa dan mengajar, juga fokus menjalani sair suluk (perjalanan menuju alam rohani) dan berjuang memperoleh derajat spiritual.
Meskipun Ibnu Thawus adalah seorang faqih (ahli ilmu fikih), tetapi ia tidak memilih menjadi marja’ taqlid, dan hanya ada sebuah buku tentang hukum-hukum shalat dari karyanya yang sampai ke tangan kita. Ia lebih tertarik pada subjek lain seperti masalah akhlak dan spiritual, dan sebagian besar karyanya juga fokus pada masalah tersebut seperti, Muhasabatu al-Nafs, Iqbal al-A’mal, Misbah al-Mutahajjid, dan Kasyf al-Mahjah.
Karya Ibnu Thawus yang paling terkenal adalah kitab, al-Luhuf 'ala Qatla al-Thufuf yang terkenal dengan sebutan al-Luhuf. Buku ini berkisah tentang peristiwa sejarah, berbeda dengan karya-karya lain Ibnu Thawus yang berbicara tentang doa dan ziarah. Ia ingin menyusun sebuah buku yang ringkas dan mudah yang akan menemani para peziarah Imam Husein as di Hari Asyura dan selama berziarah, dan tanpa perlu lagi mempelajari berbagai sumber sejarah tentang peristiwa Asyura.
Dengan tujuan menjelaskan Peristiwa Karbala secara ringkas, penulis menyusun hadis-hadis yang ada sehingga membentuk sebuah kisah yang teratur. Dalam kitab ini penulis tidak memuat hadis-hadis yang sama dan hadis-hadis yang tidak saling berkaitan. Sehingga para pembaca senantiasa digiring untuk selalu berada pada alur sejarah, bukan terpaku pada penukilan hadis.
Kitab al-Luhuf terjemahan bahasa Persia.
Kitab ini berisi tentang kehidupan dan kesyahidan Imam Husein as. Kitab al-Luhuf termasuk kitab maktal yang sangat terkenal di kalangan Syiah. Karena tujuannya untuk dibaca para musafir dan peziarah Imam Husein as, maka kitab ini disusun secara ringkas. Silsilah sanad riwayatnya pun tidak disebutkan, kecuali perawi terakhir atau sumbernya saja. Mengingat urgensi kitab dan kedudukan penulisnya, kitab ini telah dicetak berkali-kali ke dalam berbagai bahasa.
Kajian terhadap situasi politik, agama, dan budaya Dunia Islam pada abad ke-7 H menunjukkan bahwa periode ini berbarengan dengan peristiwa-peristiwa yang menentukan nasib Islam. Serangan pasukan Mongol ke wilayah Islam dan jatuhnya Dinasty Abbasiyah adalah salah satu peristiwa terpenting pada periode itu, yang menciptakan krisis intelektual, budaya, dan moral di tengah masyarakat Muslim.
Dalam situasi seperti ini, para ulama Syiah – yang ditekan oleh penguasa Abbasiyah selama bertahun-tahun – melipatgandakan upaya mereka untuk merawat batas-batas geografi budaya dan ideologi Islam, serta mengubah ancaman yang ditimbulkan oleh invasi Mongol ke Dunia Islam sebagai kesempatan untuk membangun kembali fondasi peradaban Islam.
Syiah mencapai pertumbuhan budaya dan sosial yang luar biasa pada abad ke-7 H, terutama di kota Baghdad. Tidak diragukan lagi, Sayid Ibnu Thawus juga berkontribusi pada perubahan dan perkembangan ini.
Ulama besar ini memainkan peran penting dalam perkembangan budaya dan sosial Syiah. Ia telah menyusun dan menerbitkan buku-buku tentang berbagai topik, mempromosikan kitab-kitab maktal tentang Ahlul Bait as, mengadakan debat ilmiah dengan pengikut sekte Islam lainnya, menyebarkan pemikiran Mahdisme dan kemunculan Juru Selamat, serta menyusun buku-buku doa.
Salah satu pengabdian besar Sayid Ibnu Thawus adalah mempopulerkan budaya doa kepada masyarakat Syiah. Di antara berbagai mazhab Islam, Syiah menaruh perhatian yang besar pada masalah doa, bahkan ia dianggap sebagai salah satu komponen yang tak terpisahkan dari mazhab ini.
Doa selalu ada bersama manusia di sepanjang sejarah, tetapi perbedaannya adalah bahwa doa yang ditekankan oleh Syiah berasal dari lisan manusia sempurna seperti Rasulullah Saw dan Ahlul Bait, yang memuat berbagai makrifat dan pengetahuan untuk menuju kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Akhirnya setelah menjalani hidup penuh berkah, Sayid Ali ibn Thawus wafat pada tahun 664 H dalam usia 75 tahun di kota Baghdad. Jenazahnya dipindahkan ke kota Najaf dan dimakamkan di Kompleks Makam Suci Imam Ali as.
Semua ulama Syiah memuji Sayid Ibnu Thawus, karena ketakwaan dan kezuhudannya dan mereka menaruh hormat atas derajat keilmuannya yang tinggi. Kini berabad-abad telah berlalu sejak wafatnya orang besar ini, Sayid Ibnu Thawus selalu dikenang dan dihormati di kalangan ilmuwan, dan kitab al-Luhuf masih menjadi tali pengikat hati para pecinta Ahlul Bait dengan Imam Husein as.
HAM di Kubangan Standar Ganda Barat (2 Habis)
Salah satu kritik mendasar terhadap laporan-laporan hak asasi manusia PBB adalah menerima pengaruh infiltrasi, dan tekanan politik serta orientasi masalah HAM ke arah tujuan tendensius politik.
Pernyataan terbaru Dewan HAM PBB yang anti-Iran juga harus dikaji dari sudut pandang ini. Dewan HAM PBB dalam laporan terbarunya mengeluarkan pernyataan bias, dan menuduh Iran melakukan pelanggaran HAM.
Ketua Dewan HAM, Mahkamah Agung Iran, Ali Bagheri Kani menekankan bahwa HAM merupakan alat media Barat dan mengatakan, ketika hak rakyat Iran dilanggar, pelapor khusus Dewan HAM, dan PBB sama sekali tidak berkata apapun.
Laporan terbaru pelapor khusus Dewan HAM terkait Iran pada kenyataannya pengulangan klaim berulir, dan tercemar dengan tendensi politik yang maknanya tidak lain adalah penyangkalan, dan penipuan politik.
Banyak peristiwa menyedihkan yang terjadi setiap hari di berbagai belahan dunia yang merupakan pengulangan pelanggaran hak manusia, adalah buah dari disembunyikannya tujuan-tujuan politik di bawah kedok klaim HAM Barat.
Perang-perang berdarah di Afghanistan, Irak, dan agresi setiap hari rezim pembunuh anak dukungan Amerika ke Palestina, dan Yaman, serta penindasan Amerika terhadap bangsa-bangsa tertindas, adalah bukti pelanggaran luas HAM oleh kubu arogansi dunia. Pada kenyataannya, warisan buruk kehadiran Amerika di berbagai wilayah dunia terutama Asia Barat, tidak lain adalah pelanggaran tegas HAM.
Amerika, dan beberapa negara Eropa yang mengklaim pembela HAM, membantu serta mempersenjatai rezim Saddam Hussein Irak dalam melancarkan serangan kimia ke Iran, dan lebih dari 1000 orang menjadi korban senjata kimia hadiah Barat untuk rezim Baath Irak. Amerika, dan beberapa negara Eropa dalam rekam jejaknya selalu mendukung kelompok teroris munafikin yang telah membantai 17.000 warga Iran.
Sehubungan dengan hal ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Sayid Ali Khamenei mengatakan, di dunia ini tidak ada pemerintahan yang menyamai pemerintah Amerika dalam melanggar HAM. Amerika bukan hanya tidak percaya pada HAM, ia bahkan tidak meyakini kehormatan, martabat, dan suara rakyat.
Semakin banyak kita berbicara soal kebebasan, HAM dan masalah-masalah serupa dari mulut Amerika, semua hanya olok-olok terhadap kebebasan, dan HAM.
Amerika dan Eropa sebagai pengklaim pembela HAM mengeluarkan statemen terhadap negara lain padahal dirinya sendiri melakukan penumpasan demonstran, pembunuhan warga kulit hitam, penghinaan atas nilai, dan kesucian agama, mengganggu umat Islam, dan menekan imigran di dalam perbatasan Uni Eropa, sebagai bentuk penerapan aturan, dan kebebasan berpendapat.
Amerika dan Eropa menuduh Iran melanggar HAM padahal di Iran tidak ada tempat untuk perbudakan, penjajahan bangsa-bangsa, dan menumpas warga pribumi. Republik Islam Iran berdasarkan konstitusi, menentang supremasi kulit tertentu.
Dari sisi hukum internasional, Iran mengecam penghinaan terhadap nilai-nilai agama dan Ilahi, dan menolaknya. Republik Islam Iran sebagaimana diakui sendiri oleh PBB, adalah tempat berlindung yang aman bagi para imigran, dan tempat yang tepat untuk hidup rukun serta damai, tumbuh dan berkembangnya para penganut agama berbeda. Para pengklaim pembela HAM tidak bersedia melihat konstitusi Iran yang pasal-pasalnya menghormati HAM, dan agama-agama Ilahi.
Berdasarkan undang-undang dasar Iran, kelompok minoritas agama yang diakui yaitu Kristen, Zoroaster dan Yahudi di negara ini, sama seperti warga lainnya, mendapatkan hak-hak mereka. Bab keempat undang-undang dasar Iran menekankan penghormatan terhadap hak-hak warga negara, dan berdasarkan hal ini kelompok minoritas agama resmi mendapatkan 5 kursi di parlemen.
Ismail Farouq salah satu dosen kajian agama di universitas Amerika mengatakan, bagi warga non-Muslim dalam wilayah kekuasaan pemerintah Islam, mereka memiliki hak menyebarkan nilai-nilai identitas dalam kerangka undang-undang, dan bagi warga non-Muslim hak semacam ini tetap dijaga.
Pemerintahan Republik Islam Iran bangga karena menganggap peningkatan hak-hak warga tidak hanya sebatas tanggung jawab hukum, dan akhlak semata, tapi merupakan bagian dari keamanan nasional.
Kehadiran wakil agama-agama tauhid di Majelis Syura Islam Iran, dan hak setara semua anggota parlemen, dan membela hak warga yang diwakilinya, kebebasan menyelenggarakan ritual agama di gereja, mempertahankan bahasa Asyuri, dan mendapatkan anggaran khusus terpisah untuk minoritas agama, hanya beberapa contoh kecil dari kepedulian Republik Islam Iran terhadap agama tauhid, dan pengikutnya, serta upaya menjaga nilai-nilai spiritual, dan sosial mereka.
Republik Islam Iran terlepas dari semua propaganda buruk, dan penghancuran karakter terhadap dirinya, terus melanjutkan upaya menjaga, dan meningkatkan hak-hak warganya berdasarkan prinsip Islam, dan konstitusi, kemudian menjaga nilai-nilai HAM.
Pengembangan, dan peningkatan HAM di level nasional, regional, dan internasional dalam kerangka komitmen keagamaan, dan konstitusi serta aturan dalam negeri dan perjanjian internasional, merupakan prioritas permanen Republik Islam Iran yang menganggap dirinya patuh pada semua perjanjian tersebut.
HAM di Kubangan Standar Ganda Barat (1)
Klaim pelanggaran hak asasi manusia yang dilemparkan Barat terhadap negara-negara independen termasuk Iran, telah berubah menjadi sebuah masalah berulang di seputar laporan-laporan tak berdasar, dan tanpa asas.
Dalam laporan-laporan tersebut, dan yang terbaru tidak lama dirilis, pengaruh tekanan politik sangat kentara di dalamnya.
Ketua Dewan HAM, Mahkamah Agung Iran, Ali Bagheri Kani membantah laporan baru pelapor HAM PBB terkait kondisi HAM di Iran dan mengatakan, laporan-laporan semacam ini biasanya bersandar pada klaim, tuduhan, dan informasi-informasi keliru yang diperoleh dari negara-negara penentang Republik Islam Iran, dan kelompok-kelompok teroris.
Poin yang perlu diperhatikan dalam penyusunan, dan penyampaian laporan-laporan semacam ini adalah substansi politiknya.
Masalah ini menyebabkan munculnya standar ganda, dan kontradiksi dalam pandangan terkait isu HAM, sehingga menciptakan ketidakpercayaan terhadap laporan-laporan HAM. Secara praktis mekanisme semacam ini membuat lembaga-lembaga HAM terhempas dari posisi nyatanya.
Aktivis, dan jurnalis Amerika Serikat yang bekerja untuk perdamaian, dan keadilan sosial, Robert Fantina terkait politisasi, dan standar ganda Barat tentang HAM menuturkan, ketika kita berbicara soal HAM, pertama kita harus melihat apa definisinya.
Deklarasi HAM dunia pada 10 Desember 1948 di disepakati di Majelis Umum PBB di Paris, Prancis, dan 48 negara dunia termasuk Amerika menandatanganinya. Dalam deklarasi itu prinsip-prinsip HAM dengan detail prasyarat harus diterapkan di level internasional mendapat dukungan, tapi Amerika bahkan melanggar deklarasi yang sudah disepakati oleh negara-negara Barat itu.
Sungguh disesalkan Amerika, dan beberapa negara lain seperti Prancis, Inggris dan Kanada yang mengklaim pembela HAM dunia, justru menerapkan kebijakan diskriminatif, dan tidak adil dalam hal ini. Padahal HAM adalah bagian dari hak yang dimiliki setiap manusia di dunia ini. Isu-isu seperti kebebasan, keseteraan, dan keadilan termasuk indikator HAM.
Oleh karena itu, HAM tidak bisa dipaksakan kepada masyarakat internasional secara sepihak, dan berdasarkan pandangan pribadi seseorang, tapi setiap kebudayaan, dan keyakinan berdasarkan ajaran, struktur budaya, dan sosial, agama, dan mazhab, mendefinisikan HAM sendiri.
Saat ini, sumber HAM dunia adalah deklarasi universal HAM yang ditandatangani pada 10 Desember 1948 di Majelis Umum PBB. Pada Pasal 1 Deklarasi Universal HAM disinggung tiga prinsip umum yang merupakan fondasi HAM yaitu kemerdekaan, kesetaraan, dan persaudaraan. Akan tetapi prinsip-prinsip ini bahkan dilanggar sendiri oleh negara-negara penyusun deklarasi HAM dunia. Alasannya karena mereka memanfaatkan HAM sebagai alat politik.
Jelas bahwa pandangan terhadap HAM harus terlepas dari segala bentuk kepentingan politik, dan menjelaskan nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui ras, agama dan suku bangsa. Deklarasi Universal HAM secara praktik telah menjadi alat untuk memaksakan pandangan sepihak Barat kepada bangsa-bangsa dunia lain, dan dengan cara inilah Barat berusaha mendominasi budaya, dan norma-norma bangsa lain.
Semangat semacam ini berarti bahwa standar HAM Barat berat sebelah, meski terdapat perbedaan pada nilai-nilai budaya, keyakinan, dan kepercayaan agama serta moral pada setiap bangsa yang meyakini aturan Ilahi.
Memaksakan satu definisi secara sepihak tentang konsep HAM oleh Barat kepada masyarakat lain, berarti menutup mata atas perbedaan-perbedaan pandangan materialistis, dan spiritualitas terhadap HAM.
Sebagai contoh dapat disebutkan beberapa hak terkait kehidupan umat manusia seperti pelarangan penjajahan, dan hak melawan penjajahan atau hak melawan serangan terhadap kehidupan manusia, dan hak hidup di lingkungan yang bersih dan terhindar dari kerusakan moral, serta terjamin keamanan agamanya, semua tidak tercantum dalam deklarasi universal HAM, tapi dicatat dan dijelaskan dalam deklarasi HAM Islam sebagai masalah penting.
Deklarasi Kairo tentang HAM dalam Islam menjelaskan, berdasarkan syariat Islam, HAM bersumber dari martabat, dan nilai substansial manusia, dan umat Islam yang dijadikan umat terbaik oleh Tuhan memikul tugas dunia, dan meski umat manusia mencapai tahap-tahap kemajuan ilmu materi, namun tetap sangat membutuhkan iman, dan spiritualitas untuk mendukung hak dan peradabannya.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa masalah HAM bertolak belakang dengan standar ganda Barat, dan politisisasi HAM, telah menjauhkan lembaga-lembaga HAM dari dukungan nyata terhadap HAM. Dewan HAM PBB yang bertugas mengawasai pelaksanaan isi Piagam HAM di negara-negara anggota PBB, berhadapan dengan masalah serius ini.
Pandangan pilih kasih, dan penerapan standar ganda dalam laporan-laporan HAM terhadap negara-negara independen di samping imunitas rezim-rezim pembunuh anak di kawasan karena punya kepentingan yang sama dengan Amerika, dan negara-negara Barat, merupakan produk standar ganda yang menurunkan kedudukan lembaga internasional HAM.
Eshaq Al-e Habib, duta besar, dan deputi wakil Iran di PBB mengatakan, musuh HAM dan demokrasi terbesar adalah orang-orang yang menjadikan HAM sebagai alat kebijakan luar negeri terhadap bangsa-bangsa, dan negara konstitusional yang melawan kepentingan imperialis mereka, dan bagi kekuatan-kekuatan dunia ini, terdapat sebuah standar ganda asasi terkait masalah-masalah HAM. (
Thabathabai, Ulama-Pemikir Kontemporer Iran
Allamah Thabathabai adalah seorang ulama terkemuka yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Selain dikenal sebagai mufasir dengan karya besarnya tafsir al-Mizan, Allamah Thabathabai adalah seorang filsuf, teolog, faqih dan arif besar yang berpengaruh di dunia dengan karya-karyanya.
Allamah Thabathabai mengajar di hauzah ilmiah Qom. Kehadirannya di Qom memberikan pencerahan di kota ilmu itu. Selain melahirkan karya dalam bentuk buku di berbagai bidang, Allamah Thabathbai juga mendidik murid yang kemudian menjadi para ulama terkemuka seperti: Shahid Muthahari, Syahid Behesti, Ayatullah Javadi Amoli, dan Ayatullah Misbah Yazdi. Pertemuan ulama terkemuka Syiah ini dengan filsuf dan islamolog Prancis, Henry Corbin menghasilkan karya yang mengenalkan Islam Syiah kepada masyarakat dunia, terutama Eropa.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di kota kelahirannya, Tabriz, Allamah Thabathabai melanjutkan pendidikan di hauzah ilmiah Najaf, dan di kota Irak itu beliau menempuh pendidikan selama 10 tahun dengan berguru kepada para ulama terkemuka di zaman itu, di antaranya: Ayatullah Mirza Hossein Naini, Agha Sayid Khonsari dan Ayatullah Qadhi. Beliau kembali ke Tabriz dan bekerja menjadi petani untuk membantu ayahnya, lalu pindah ke kota Qom untuk mengajar di hauzah ilmiah.
Kemuliaan akhlaknya merupakan salah satu karakteristik Allamah. Setiap hari semakin banyak yang tertarik dengan ceramah dan pelajaran yang disampaikan beliau. Dalam pelajaran hikmah, ratusan pelajar hadir dan tidak sedikit dari mereka yang menjadi ulama terkemuka dan ilmuwan kawakan seperti prof. Gholam Hossein Ebrahim Dinani, yang mengajar filsafat di universitas Tehran. Selain mengajar filsafat, tafsir al-Quran dan pelajaran Hauzah lainnya, Allamah Thabathabai sangat memperhatikan pelajaran akhlak, terutama penyucian diri atau tazkiyatunafs kepada murid-muridnya.
Profesor Ebrahim Dinani menjelaskan tentang gurunya, “Manusia besar ini senantiasa dalam keadaan merenung.Siang dan malam, dalam perjalanan maupun sedang tinggal, ketika berjalan dan duduk, dalam tidur maupun bangun; beliau selalu merenung. Apa yang dipikirkannya bukan tentang urusan sehari-hari. Saya sebagai murid yang cukup dekat dengannya melihat sendiri bagaimana perilaku beliau di antara muridnya, maupun pertemuan dengan Henry Corbin, serta para dosen di universitas. Ketika mengajukan pertanyaan, saya merasakan beliau telah memilikirkannya dan bukan persoalan baru baginya. Segala pertanyaan maupun pandangan yang berbeda dengan beliau disampaikan tanpa rasa khawatir. Beliau bersedia untuk menjawab setiap persoalan dengan meninjaunya dari awal.”
Tafsir al-Mizan merupakan karya terpenting Allamah Thabathabai. Para ahli menilai tafsir al-Quran ini sebagai karya monumental dan memiliki kedudukan tinggi dengan karakteristik khusus yang membedakannya dengan karya tafsir lainnya. Kitab tafsir al-Quran terdiri dari 20 jilid berbahasa Arab yang ditulis selama 20 tahun. Hingga kini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia seperti Farsi, Inggris, Urdu, Turki dan bahasa lainnya.
Salah satu karakteristik tafsir al-Mizan adalah terobosannya di bidang metode tafsir yang terbilang baru, yaitu ayat ditafsirkan dengan ayat. Allamah Thabathabai berkeyakinan bahwa al-Quran dipahami dengan keterkaitan ayat lain. Meskipun motode ini bukan pertama kali ditemukan oleh Allamah Thabathabai, tapi sebelumnya tidak banyak dipergunakan oleh para ulama tafsir. Para mufasir sebelumnya hanya menggunakan sebagian metode ini secara partikular, sedangkan tafsir al-Mizan secara keseluruhan menggunakan metode tafsir ayat dengan ayat lain.
Karakteristik lain dari tafsir al-Mizan adalah pemahaman dan berbagai makna yang ada dalam sebuah ayat dengan bantuan ayat lain. Kebanyakan buku tafsir al-Quran menjelaskan dua atau tiga makna dari sebuah ayat tanpa memilih salah satunya.Tapi Allamah dalam tafsir al-Mizan menjelaskan beragam makna tersebut dan memilih salah satunya dengan bersandar kepada penjelasan dari ayat lain. Selain itu, tafsir al-Mizan juga mengungkapkan istilah agama dan al-Quran dengan bantuan ayat. Misalnya makna istilah istijabah doa, taubah, rizq, barakah, jihad, safaat dan lainnya, dengan penjelasan ayat-ayat al-Quran.
Tafsir tematis menjadi karakteristik lain dari tafsir al-Mizan. Kebanyakan buku tafsir membahas al-Quran sesuai urutan ayat, tanpa memfokuskan terhadap tema utama di dalamnya.Tafsir al-Mizan mengumpulkan seluruh ayat yang berkaitan dengan sebuah masalah, misalnya ahbat atau hilangnya pengaruh sebuah amal baik oleh dosa, atau sebaliknya. Kemudian dicari pandangan al-Quran terhadap masalah tersebut. Metode ini merupakan pendekatan menarik yang disajikan dalam tafsir al-Mizan. Hingga kini pendekatan tersebut masih menjadi sorotan para peneliti.
Tafsir al-Mizan memberikan perhatian besar terhadap berbagai permasalahan dan pertanyaan yang menjadi bahan diskusi di kalangan akademis.Terkadang, pertanyaan tersebut muncul dalam bentuk pertanyaan mengenai akidah atau bentuk lainnya.
Allamah cukup menguasai peta pemikiran dunia Islam dan Arab yang berkembang ketika itu. Beliau berupaya menjawab berbagai permasalahan tersebut dalam bentuk tafsir al-Quran. Selain menjadi perhatian para peneliti al-Quran, tafsir al-Mizan juga menjadi sorotan para pengkaji gagasan serta problematika pemikiran yang dihadapi dunia Islam dan Arab. Terkait karakteristik tafsir al-Mizan, Ayatullah Makarim Shirazi mengatakan, “Karya ini disusun berdasarkan metode tafsir al-Quran yang tinggi, dan sejatinya menjadi jaminan sebuah rangkaian kebenaran yang selama ini tersembunyi bagi kita, “.
Allamah Thabathabai wafat pada Tanggal 24 Aban 1360 Hs yang bertepatan dengan 14 November 1981. Tapi karyanya hingga kini tetap lestari dan menjadi obor penerang bagi umat manusia.
Kisah Edoardo Agnelli, Fakta yang Disembunyikan Barat
Pertumbuhan Islam di Eropa menjadi topik yang menarik perhatian para analis Barat saat ini, sekaligus membuat mereka tercengang.
"Islam adalah agama yang paling hidup dan dinamis di antara agama-agama dunia," Laju pertumbuhan umat beragama tidak secepat laju pertumbuhan Islam." tulis Der Spiegel dalam sebuah analisis tentang kondiso Islam di Eropa.
Saat ini, para pengamat Barat dengan bingung mengamati kemajuan Islam. Di Spanyol, misalnya, 500 tahun setelah jatuhnya Andalusia, para pemuda Spanyol memeluk Islam. Islam telah menarik banyak orang, baik di Eropa maupun di Amerika Serikat, yang tersesat dalam labirin kebingungan dunia modern, dan mencari cahaya petunjuk yang dapat menyelamatkannya dari keputusasaan, kehilangan, dan ketidakberdayaan. Meskipun peningkatan jumlah Muslim di Barat terutama disebabkan oleh migrasi Muslim ke negara-negara Eropa, tapi pada saat yang sama terjadi fenomena meningkatnya orang-orang Eropa yang sebagian besar berpendidikan dan berpengaruh di masyarakat memeluk Islam, termasuk Edoardo Agnelli yang berita keislamannya pernah menggemparkan dunia.
Edoardo Agnelli lahir tanggal 9 Juni 1954 di New York. Setelah merampungkan pendidikannya di perguruan tinggi Antlantik, dia pergi ke universitas Princeton untuk melanjutkan studinya dalam bidang kesusastraan modern dan filsafat Timur.
Setelah merampungkan pendidikan universitas, dia melakukan lawatan ke negara-negara India untuk menelaah irfan dan mazhab-mazhab timur dan melanjutkan ke Iran dan akhirnya memeluk Syiah selama kunjungannya ke Iran.
Giovanni Agnelli, ayah Edoardo termasuk salah seorang terkaya dan berpengaruh di Italia serta memiliki perusahaan Fiat, Ferrari, Lamborghini, Lancia, Alfa Romeo dan Iveco, dan beberapa perusahaan yang memproduksi bagian-bagian industry, beberapa bank swasta, perusahaan fashion, desain dan pakaian, surat kabar terpenting LASTAMPA dan Corriere Della Sera, klub otomotif Ferrari dan klub sepak bola Juventus.
Selain itu juga ada beberapa perusahaan konstruksi bangunan, pembangunan jalan, peralatan medis dan perusahaan produksi helikopter di mana keluarganya termasuk pemegang saham utama. Jumlah kekayaan dan pengaruh keluarga Agnelli sampai pada batas media-media Italia menyebut mereka sebagai keluarga raja-raja Italia.
Edoardo adalah mahasiswa filsafat agama di universitas Princeton New York. Dia juga kelahiran New York. Dia membaca kitab Injil dan Taurat, namun semua belum memuaskan keingintahuannya. Di umur ke 20 tahun, kebetulan dia melihat Al-Quran dan membaca beberapa ayat darinya dan merasakan ini bukanlah ucapan manusia.
Edoardo mengatakan tentang perjalanannya menjadi mualaf, "Suatu hari saat berjalan-jalan di perpustakaan di New York, saya sedang melihat buku-buku dan mata saya pun melihat Al-Quran. Saya sangat ingin tahu apa yan saja telah disebutkan dalam Al-Quran. Lantas saya mengambilnya dan mulai membacanya, saya buka lembaran-lembarannya dan membaca ayat-ayatnya dengan terjemahan bahasa Inggris, saya merasakan kalimat-kalimat tersebut adalah kalimat yang bercahaya dan bukanlah ucapan manusia. Saya sangat terpengaruh, lantas saya meminjamnya dan saya menelaahnya dan seolah-olah saya memahami dan menerimanya,".
Setelah itu, Edoardo mengunjungi sebuah pusat Islam di New York dan mengutarakan kehendaknya menjadi mualaf. Mereka lantas memilihkan nama Hisham Aziz untuknya. Muhammad Ishaq Abdollahi, salah seorang teman muslim Edoardo Agnelli mengatakan, Edoardo sering kali begadang malam hari untuk menelaan Al-Quran sampai pagi.
Meskipun Edoardo - dikarenakan kesuksesan finansial dan politik keluarganya - seringkali bertemu dengan para pemimpin politik dan mazhab dunia, namun pertemuannya dengan Imam Khomeini (ra) telah membuatnya tertarik dengan kesederhanaan, keagungan dan spiritual beliau. Komunikasi ini benar-benar merubah rute kehidupan Edoardo.
Igor Man, reporter harian Lastampa Italia mengatakan, saat Edoardo berbicara tentang pertemuannya dengan Imam Khomeni dan pengaruhnya, saya merasakan bahwa Imam telah menyihirnya. Demikian juga, Edoardo sebelum meninggal hendak berkunjung ke Iran, namun kedua orang tuanya merintangi perjalannannya dan menyembunyikan pasportnya.
Husein Abdullahi, salah seorang teman karib Edoardo dari Iran menyebut tekanan-tekanan yang terjadi pada temannya ini dari pihak keluarganya adalah hal yang tidak dapat dipercaya. Ia mengatakan, Edoardo berada di bawah tekanan ekonomi. Keluarga Agnelli telah mengembargonya secara mutlak, sampai-sampai dia tidak memiliki uang meski hanya sekedar untuk naik taksi.
Husein mengatakan, suatu hari kami pergi bersama Edoardo ke perwakilan maskapai Iran Air di Italia untuk membeli tiket perjalanan ke Iran. Staf Italia perusahaan Iran Air mengatakan, saya tidak dapat membelikan tiket untuk Edoardo. Setelah debat akhirnya jelas bahwa sekretaris ayah Edoarto telah menghubungi staf tersebut dan memerintahkan supaya tidak memberikan tiket untuk Edoardo.
Dr Ghadiri Abyaneh menuturkan bahwa keluarga Agnelli sangatlah sulit untuk mengakui anaknya telah memeluk Islam, sementara negara Italia adalah pusat Kristen Katolik. Dengan demikian, Edoardo ditekan supaya meninggalkan Islam. Mereka mengembargo dan mengancam untuk tidak memberikan warisan, namun dia tetap tidak mau melepaskan Islam, dan ini dengan sendirinya telah menolak kemungkinan bunuh dirinya, karena dia telah merelakan milyaran dollar kekayaannya hanya demi menjaga agamanya, bagaimana mungkin dengan keyakinan kokoh terhadap Islam semacam ini akan melakukan bunuh diri, yang telah diharamkan dalam Islam?
Kematian Edoardo menimbulkan banyak pertanyaan. Ia diklaim mati bunuh diri, tapi jenazahnya tidak diotopsi untuk membuktikan kematiannya bunuh diri. Bahkan sebelum polisi mengumumkan secara resmi penyebab kematiannya, sebagian surat kabar telah memberitakan kabar bunuh diri anak pemilik perusahaan Fiat untuk mengagitasi opini publik supaya meyakini informasi tersebut.
Keluarga Agnelli termasuk salah satu keluarga besar Italia dan komentar sekecil apapun akan direspon dengan cepat, sampai-sampai Perdana Menteri Italia berbelasungkawa atas kematian Edoardo dan sebelum pertandingan Italia dan Inggris, stadion mengheningkan cipta satu menit guna menghormatinya.
Tak lama setelah insiden itu, ketika tim dokumenter Iran sedang menyelidiki masalah tersebut di Italia, polisi Italia menangkap mereka untuk mencegah kebenaran terungkap dan mendeportasi mereka setelah beberapa hari ditahan dengan tuduhan sebagai teroris. Hingga kini kematiannya menimbulkan pertanyaan besar yang terus ditutupi oleh Barat dengan media dan corong informasinya.
Faktanya, agama Islam mengungkapkan pandangan yang komprehensif di semua bidang dari urusan pribadi hingga sosial dan politik. Banyak orang yang bertahun-tahun mengkaji agama Islam, termasuk Edoardo Agnelli menyadari fakta ini dan memutuskan memeluk agama Islam.
Edoardo Agnelli di salah satu pidato mengatakan, "Ketika kita hidup di saat nilai-nilai terpuruk. Satu-satunya tujuan hanya mengumpulkan uang. Uang jauh lebih buruk daripada narkoba. Kita semua mengkhawatirkan penyebaran narkoba di kalangan anak muda, tetapi kita tidak menyadari bahwa kami bergerak menuju dunia yang mengukur manusia berdasarkan jumlah rekeningnya di bank. Tapi semua ini akan segera berakhir, dan saya percaya bahwa di masa depan, setelah kebangkitan dalam semalam, kita akan memasuki zaman yang tidak lagi didasarkan pada rasionalisme dan empirisme Descartes. Kita tidak boleh lupa bahwa eksploitasi manusia terhadap alam adalah awal dari eksploitasi manusia terhadap manusia lain. Tentu saja tidaklah tepat bagi industri otomotif melakukan demikian yang tugasnya menghidupi jutaan keluarga. Saya percaya bahwa uang harus menjadi alat, bukan tujuan."
Relokasi Milisi Takfiri ke kawasan dan Kekhawatirannya
Isu pemindahan ribuan milisi bersenjata dan teroris Takfiri dari Suriah ke wilayah pendudukan Republik Azerbaijan, telah meningkatkan kekhawatiran berbagai pemerintahah independen di kawasan.
Kekhawatiran ini meningkat setelah berbagai sumber terpercaya di kawasan membenarkan statemen terbaru petinggi Rusia. Sejatinya, harus dikatakan, menyusul penekanan petinggi Rusia soal informasi detail terkait pemindahan 2000 milisi bersenjata dan teroris Takfiri dari Suriah ke kawasan Kaukasus selatan, berbagai sumber terpercaya di Iran juga membenarkan penempatan milisi bersenjata teroris Taktifi di kawasan Nagorno-Karabakh.
Sekaitan dengan kasus ini, sebuah sumber terpercaya saat diwawancarai Iranpress mengatakan:
“Sejumlah negara kawasan dan lintas kawasan, memindahkan milisi teroris Takfiri dari Suriah ke Nagorno-Karabakh.”
Sumber ini lebih lanjut mengatakan, “Sekelompok negara ini juga berencana memindahkan keluarga milisi tersebut ke wilayah ini.”
Sementara pejabat Azerbaijan, termasuk Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, menyangkal keberadaan satu kekuatan militer asing dalam konflik Nagorno-Karabakh, pejabat pemerintah Rusia terus melaporkan pemindahan teroris Takfiri ke wilayah sengketa Azerbaijan dan Armenia.
Pada saat yang sama, para pejabat Moskow mengungkapkan kekhawatiran ganda di kasus ini. Misalnya Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov saat diwawancarai Koran Kommersant cetakan Moskow menyatakan, “Jumlah teroris dan militan asing yang dipindahkan dari Asia Barat ke Nagorno-Karabakh lebih dari dua ribu orang.”
Sekaitan dengan ini Jubir Kemenlu Rusia, Maria Zakharova kepada wartawan di Moskow memperingatkan, “Relokasi teroris dari Asia Barat ke Nagorno-Karabakh dapat berujung pada pendudukan wilayah di selatan Kaukasus oleh para teroris.”
Kekhawatiran para pejabat Moskow diekspresikan ketika Rusia menjadi sasaran pemerintah Barat. Faktanya, Amerika Serikat dan beberapa pemerintah Eropa sejauh ini telah menyusun sejumlah rencana melawan Rusia, dengan protes terhadap pemerintah Putin hanyalah salah satunya.
Pemindahan teroris Takfiri ke Asia Tengah dan Kaukasus adalah rencana AS lainnya untuk melemahkan Rusia. Kekhawatiran pejabat Rusia dalam hal ini cukup signifikan. Khususnya, Amerika Serikat sebelum ini telah melakukan upaya signifikan untuk mentransfer ribuan pasukan teroris Takfiri dari Afghanistan ke republik Asia Tengah dan Kaukasus.
Lusinan laporan resmi dan tidak resmi dari pejabat Rusia dan negara anggota CIS dapat dianggap sebagai alasan keakuratan laporan ini. Misalnya, aparat keamanan di Tajikistan dan Uzbekistan berulang kali membongkar upaya sejumlah gerakan teroris, terutama kelompok teroris ISIS, untuk pindah ke Asia Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Delapan ribu teroris Takfiri di perbatasan Afghanistan-Tajik sedang menunggu kesempatan untuk memasuki wilayah Asia Tengah, menurut pejabat Tajikistan.
Sebelumnya AS dengan bantuan para diplomatnya di kawasan serta pasukannya di Afghanistan, mampu merelokasi delapan ribu anasir teroris aktif di Suriah ke Afghanistan. Sejatinya tujuan AS adalah memindahkan teroris ke Asia Tengah, tapi menghadapi protes serius negara-negara Rusia dan Asia Tengah. Dengan demikian rencana Amerika anti Rusia ini gagal.
Tujuan operasi kelompok teroris khususnya kelompok teroris Takfiri Daesh (ISIS) di dunia membuktikan hal ini bahwa para pemimpin kelompok teroris ini secara penuh berada di bawah kekuasaan dan perintah kebijakan AS dan rezim Zionis serta aktivitas mereka mengikuti kepentingan tuannya. Oleh karena itu, seluruh negara yang menentang kebijakan hegemoni Amerika di dunia, menghadapi ancaman dari kelompok teroris ini.
Sekaitan dengan ini, Presiden Rusia, Vladimir Putin saat bertemu dengan pemimpin negara anggota Organisasi Shanghai di Astana, Kazakhstan menguak aksi-aksi kelompok teroris Daesh di Asia Tengah dan selatan Rusia.
Dengan bersandar pada laporan yang ada, Putin mengatakan, “Daesh tengah menyusun rencana baru untuk mengobarkan instabilitas di kawasan sekitar Rusia.”
Laporan ini selama beberapa tahun lalu menguak upaya Barat khususnya AS untuk merusak Rusia dan negara sekutunya. Di kondisi saat ini dan menyusul kegagalan Amerika memindahkan teroris ke Asia Tengah, sepertinya negara ini sekutunya menilai konfrontasi Republik Azerbaijan dan Armenia terkait kepemilikan di Nagorno-Karabakh sebagai peluang tepat untuk merealisasikan ambisi mereka.
Realitanya adalah kawasan Kaukasus seperti sebuah barel bubuk mesiu dan bergabungnya teroris Daesh ke kelompok teroris yang ada di kawasan menunjukkan ancaman serius fenomena buruk ini serta terjadinya sejumlah peristiwa pahit di Rusia, Kaukasus utara dan selatan selama beberapa tahun terakhir merupakan ancaman bagi kawasan ini khususnya kawasan kaukasus selatan.
Pada Mei 2015, kelompok teroris Daesh mendirikan cabang di wilayah Kaukasus Utara. Abu Muhammad al-Adnani, petugas pers kelompok teroris ISIS, memberi selamat kepada para pendukung kelompok tersebut di wilayah Kaukasus, dengan mengatakan: “Al-Kadari ditunjuk sebagai pemimpin di kawasan Kaukasus.”
Sekaitan dengan ini, Salahuddin Akbar, matan deputi Keamanan Nasional Republik Azerbaijan di tahun 1992 dan 1993 serta pakar senior dan aktivitas militer dan keamanan negara ini dalam sebuah wawancara dengan laman koran nasional mengatakan, “Terorisme internasional sedang meningkat. Pada 2014, ketika pasukan AS meninggalkan Afghanistan, terorisme internasional diperkirakan akan menyebar ke Kaukasus dan Asia Tengah. Jaringan teroris sekarang terlihat secara terbuka di Kaukasus dan Asia Tengah. Ini merupakan ancaman yang serius dan kemungkinan melakukan ancaman tersebut sangat tinggi, sedangkan kelompok teroris ISIS telah berulang kali mengancam Republik Azerbaijan.”
Statemen pakar keamanan dan politik Azerbaijan ini dirilis ketika Artur Medet Beckov, salah satu pejabat di kementerian keamanan nasional Kyrgyzstan di bulan November 2015 menyatakan, “Kelompok teroris Daesh telah mengalokasikan 70 juta dolar untuk melakukan operasi teroris di negara-negara Asia Tengah. Jumlah ini akan digunakan untuk menjebak warga negara Asia Tengah dan memaksa mereka melakukan operasi teroris.”
Koran Azadliq, cetakan Baku saat itu mengutip petinggi keamanan ini menulis, “Daesh saat ini memiliki pendukung aktiv di kawasan Kaukasus dan Asia Tengah.”
Faktanya, kelompok teroris Daesh, yang dibuat oleh Amerika Serikat dan beberapa sekutu Arabnya di Teluk Persia dan memiliki pendukung serius seperti Turki, bertindak untuk melakukan operasi teroris terhadap negara mana pun dengan biaya tertentu. Fakta ini menunjukkan bahwa kelompok teroris-takfiri Daesh, dengan memuaskan para pemuda miskin di daerah, berpotensi menimbulkan rasa tidak aman terhadap negara dan daerah manapun.
Mengingat kondisi ini, negara-negara independen seperti Iran dan Rusia berhak memprotes munculnya kondisi yang tidak diharapkan di kawasan dan memaksa negara lain memberi jawaban.




























