کمالوندی
Muhammad Saw; Mentari Penerang Alam Semesta
Hasan bin Ali bin Abi Thalib as yang dikenal dengan Imam Hasan al-Mujtaba adalah imam kedua Syiah dan putra sulung dari Imam Ali as dan Sayidah Fatimah sa.
Bulan Safar di kalangan para ulama Syiah dianggap sebagai hari syahidnya Imam Hasan as, cucu Rasulullah Saw. Menurut riwayat masyhur, kesyahidan beliau terjadi pada tahun 50 H/670. Riwayat paling populer menyebutkan Imam Hasan gugur syahid pada akhir bulan Safar yaitu tanggal 28 Safar. Riwayat lain mencatat beliau syahid pada hari ke-7 bulan Safar.
Salah seorang ulama yang meyakini 7 Safar sebagai hari kesyahidan Imam Hasan as adalah Syahid Awwal. Menurut para ulama besar seperti, Kaf'ami, Syeikh Bahai, Allamah Majlisi, Shahibul Jawahir, Syeikh Kashif al-Ghita', dan Muhaddis Qummi, Imam Hasan al-Mujtaba gugur syahid pada tanggal 7 Safar. Dari dua riwayat yang berbeda, kaum Muslim Syiah memperingati hari syahidnya manusia suci ini setiap tanggal 7 dan 28 Safar.
Setelah Imam Ali as gugur syahid pada tahun 40 Hijriyah, kota Kufah sebagai pusat pemerintahan Ahlu Bait as kembali menyaksikan sebuah peristiwa besar yaitu pengangkatan Imam Hasan sebagai khalifah. Pada pagi hari 21 Ramadhan, Abdullah bin Abbas mengumpulkan masyarakat dan berkata kepada mereka, "Wahai masyarakat! Amirul Mukminin telah pergi ke persinggahan lain dan meninggalkan putranya di tengah kalian. Jika kalian ingin, putra beliau akan mendatangi kalian." Masyarakat menangis dan meminta kehadiran Imam Hasan di hadapan mereka.
Setelah kepergian ayah, Imam Hasan memikul tanggung jawab untuk memimpin masyarakat Muslim. Beliau bergerak cepat untuk menata kembali situasi yang kacau setelah gugurnya sang ayah dan mengendalikan urusan pemerintahan Islam.
Tidak butuh waktu lama bagi masyarakat untuk memahami bahwa Imam Hasan sama seperti ayahnya, memiliki tekad yang kuat untuk menegakkan keadilan dan menjalankan syariat Islam. Ini adalah sesuatu yang diimpikan oleh mayoritas masyarakat. Namun, penegakan keadilan membuat gusar segelintir orang dan kalangan oportunis.
Sejak masa itu, Imam Hasan as selalu menghadapi pembangkangan dan penentangan dari Mu'awiyah yang berkuasa di Syam. Penentangan ini menyebabkan pecahnya perang dan Imam Hasan juga memobilisasi sebuah pasukan untuk menghadapi perang. Tetapi, kondisi masyarakat Muslim tidak mengizinkan Imam untuk mengambil tindakan militer.
Mu'awiyah menawarkan proposal damai dan Imam Hasan juga menerimanya dengan penuh pertimbangan dan demi masa depan masyarakat Muslim. Ada beberapa faktor penting yang membuat Imam memprioritaskan perdamaian. Salah satu tindakan Bani Umayyah adalah menjauhkan para tokoh dan orang-orang penting dari lingkaran Imam Hasan. Mu'awiyah menarik para tokoh dengan memberikan suap dan janji-janji manis.
Imam Hasan telah menyiapkan sebuah pasukan besar, tetapi ia sendiri tidak yakin dengan kesetiaan mereka. Beberapa komandan pasukan menolak berperang dengan tentara Syam setelah menerima suap dari Bani Umayyah.
"Hari ini karena kedengkian dan dendam, persatuan dan kesepahaman telah hilang di antara kalian. Ketahanan kalian telah hilang dan lisan kalian mulai mengeluh. Hari ini adalah hari di mana kalian lebih mementingkan kepentingan kalian daripada agama dan kalian tidak setia," kata Imam Hasan as dalam menanggapi perilaku sekelompok komandan pasukannya.
Imam Hasan berada pada situasi yang sangat sulit dan memahami bahwa kerugian perang dengan Mu'awiyah lebih besar dari keuntungannya. Untuk itu, beliau menerima perdamaian dan tentu saja dengan beberapa syarat. Menurut salah satu butir kesepakatan damai, pasca Mu'awiyah kekhalifahan akan diserahkan kembali kepada Imam Hasan as.
Jika sesuatu terjadi pada beliau, maka Imam Husein as akan menduduki posisi khalifah dan Mu'awiyah tidak boleh mengangkat orang lain sebagai penggantinya.
Bani Umayyah juga harus berhenti menyebarkan bid'ah dan menghina serta melaknat Amirul Mukminin Ali as di mimbar-mimbar masjid, dan mengenang beliau dengan kebaikan. Mu'awiyah juga harus memberikan kompensasi satu juta dirham kepada para keluarga syuhada yang terbunuh di barisan Imam Ali as dalam Perang Jamal dan Shiffin.
Mu'awiyah wajib memberikan rasa aman kepada para sahabat Ali as dan Syiahnya di mana pun mereka berada. Harta, jiwa, dan anak-anak mereka harus memperoleh rasa aman. Muawiyah tidak boleh merongrong Hasan dan Husein as secara diam-diam ataupun terang-terangan atau menakut-nakuti pengikutnya. Poin terakhir dokumen kesepakatan itu menegaskan bahwa Mu'awiyah akan berkomitmen dengan perjanjian yang disepakati dan tidak menimbulkan persoalan bagi Hasan bin Ali atau saudaranya atau salah satu dari Ahlul Bait Nabi baik secara diam-diam atau pun terang-terangan.
Imam Hasan as berusaha memasukkan sikap politiknya dalam butir-butir kesepakatan sehingga dapat meneruskan perlawanan terhadap Mu'awiyah di tingkat lain. Beliau memasukkan poin-poin yang sangat menguntungkan Islam dan kaum Muslim dan berusaha memperkenalkan wajah asli Mu'awiyah kepada publik.
Imam Hasan memaksa Mu'awiyah untuk bertindak sesuai dengan al-Quran, Sunnah Nabi dan sirah Khulafaur Rasyidin. Tentu saja, Imam yakin bahwa Mu'awiyah tidak akan melaksanakan butir-butir kesepakatan, tetapi dengan cara ini wajah aslinya akan tersingkap dan ini termasuk salah satu motivasi besar Imam dalam perang dengan Mu'awiyah. Beliau memberi kebebasan kepada masyarakat untuk memilih dan menentukan masa depannya dengan keputusan mereka sendiri.
Setelah kesepakatan damai, Imam Hasan as menetap sebentar di Kufah dan kemudian berpindah ke kota Madinah. Beliau memulai program-programnya dengan format baru di Madinah. Agama terancam oleh penyimpangan dan bid'ah karena kegiatan-kegiatan menyimpang Bani Umayyah dilakukan atas nama Islam.
Imam Hasan memilih gerakan budaya dan pemikiran untuk menjelaskan prinsip-prinsip Islam kepada masyarakat. Metode ini akan memudahkan mereka untuk memilah antara kebenaran dan kesesatan. Imam menjadikan Madinah sebagai basis penting untuk mempromosikan pemikiran Islam dan mendidik para fuqaha, perawi hadis, dan ulama besar. Para pencari ilmu dari berbagai penjuru Dunia Islam datang ke Madinah dan berguru kepada Imam Hasan.
Pelanggaran Bani Umayyah terhadap kesepakatan damai mulai terkuak seiring berjalannya waktu. Penguasa Umawi memandang Imam Hasan sebagai batu sandungan untuk menjalankan beberapa rencana jahatnya. Salah satu agenda Mu'awiyah adalah mengangkat putranya, Yazid sebagai penggantinya.
Mu'awiyah ragu-ragu untuk mengambil keputusan yang melanggar kesepakatan damai dengan Imam Hasan. Dia tahu bahwa jika rencana itu diwujudkan di masa hidup Imam, pasti ia akan mendapat penentangan keras dari Hasan bin Ali as. Untuk itu, Mu'awiyah mencari segala cara untuk menyingkirkan Imam Hasan.
Muaawiyah menawarkan Ja'dah binti Asy'at bin Qais, salah seorang istri Imam Hasan untuk meracuni suaminya itu. Jika berhasil, ia akan diberi seratus ribu dirham imbalan dan dinikahkan dengan Yazid, yang akan dilantik sebagai raja pengganti. Ja'dah menerima tawaran itu dan berhasil membunuh Imam Hasan as dengan cara menuangkan racun ke air minumnya.
Dalam riwayat, Imam Hasan dikenal sebagai pribadi yang dermawan, penenang setiap kalbu yang didera kesusahan, dan pengayom kaum fakir-miskin. Tak ada seorang miskin pun yang datang mengadu kepadanya lantas kembali dengan tangan hampa. Terkadang, jauh sebelum si miskin mengadukan kesulitan hidupnya, Imam Hassan sudah terlebih dahulu membantu mengatasinya dan tak membiarkannya harus merasa hina lantaran meminta bantuan.
Imam Hasan berkata, "Memberi sebelum diminta adalah kebesaran jiwa yang teragung."
Transaksi Senjata Iran akan Dimulai 18 Oktober 2020
Juru bicara delegasi perwakilan Iran di PBB mengatakan, Iran pada 18 Oktober 2020 bersamaan dengan berakhirnya pembatasan senjata, akan memulai transaksi senjatanya.
ISNA (16/10/2020) melaporkan, Alireza Miryousefi menuturkan, sepenuhnya jelas bahwa PBB, dan mayoritas negara anggota menentang apa yang disebut sebagai kebijakan tekanan maksimum Amerika Serikat terhadap Iran.
Ia menambahkan, upaya Amerika untuk semakin melanggar kesepakatan nuklir JCPOA, dan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB berujung dengan terkucilnya negara itu.
Jubir delegasi Iran di PBB juga menyinggung soal kemitraan Iran dengan negara lain di bidang senjata.
"Iran memiliki sahabat, dan mitra dagang yang banyak, dan punya industri senjata dalam negeri yang kuat, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pertahanannya sendiri untuk menghadapi ancaman asing," imbuhnya.
Berdasarkan resolusi 2231 DK PBB, mulai tanggal 18 Oktober 2020, embargo senjata Iran akan berakhir.
Iran Desak Masyarakat Internasional Bersatu Hadapi Dampak Unilateralisme AS
Wakil Republik Islam Iran di Komite Ketiga Majelis Umum PBB seraya menyesalkan ketidakpedulian Amerika atas sikap PBB di masa pandemi Corona, meminta masyarakat internasional bersatu melawan dampak unilateralisme Washington.
Seperti dilaporkan IRNA, Mohammad Zareian Jumat (16/10/2020) di sidang Komite Ketiga Majelis Umum PBB seraya menjelaskan bahwa PBB sejak awal pandemi Corona mengakui secara resmi dampak merusak sanksi sepihak dan pentingnya solidaritas serta penghormatan penuh terhadap HAM, mengingatkan,meski demikian Amerika dengan menjatuhkan sanksi sepihak dan ilegal terhadap berbagai negara yang lebih banyak terpapar Corona, telah meningkatkan ketidakpeduliannya.
“Represi maksimum terhadap bangsa Iran selama masa pandemi Corona, dengan jelas melanggar hak kehidupan dan kesehatan khususnya bagi lapisan masyakat yang paling terdampak wabah ini seperti perempuan, anak-anak, manula serta pasien,” papar Zareian.
Wakil Iran ini juga menjelaskan, dampak transteritorial langkah paksa sepihak yang diterapkan Amerika terhadap mayoritas negara berdampak pada kedaulatan negara, kepentingan legal berbagai lembaga atau individu serta kebebasan perdagangan dan navigasi serta mengganggu realisasi hak atas pembangunan.
Sanksi sepihak dan zalim Washington yang mencakup kebutuhan mendasar dan bahkan obat-obatan serta peralatan medis dapat menciptakan beragam kendala bagi rakyat di negara-negara yang disanksi Amerika khususnya pasien Corona.
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif baru-baru ini seraya memprotes kebijakan permusuhan Amerika di tengah-tengah maraknya pandemi COVID-19 mengatakan, dunia tidak lagi dapat diam menyaksikan terorisme ekonomi Amerika yang dibarengi dengan terorisme medis.
Rahbar Hadiri Acara Duka Kesyahidan Imam Ridha as
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menghadiri acara duka memperingati kesyahidan Imam Ali bin Musa ar-Ridha as.
Acara yang berlangsung sebelum Dzuhur tersebut diselenggarakan di Huseiniyah Imam Khomeini ra di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran, Sabtu (17/10/2020).
Tanggal 30 Safar 203 H, Imam Ridha as gugur syahid. Beliau adalah cicit Rasulullah Saw. Beliau dimakamkan di Mashhad, timur laut Republik Islam Iran.
Imam Ridha as lahir pada tahun 148 Hijriah di kota Madinah. Beliau menjadi imam setelah ayahnya Imam Musa Kazhim as gugur syahid.
Imam Ali bin Musa as dipanggil Ridha karena sikap rela dan gembira menerima apa yang dikaruniakan kepadanya.
Makmun, Khalifah Bani Abbas pada tahun 200 Hijriah memerintahkan Imam Ridha as untuk pergi ke Marv, yang terletak di tenggara Turkmenistan sekarang yang dulunya merupakan bagian dari Khorasan Besar.
Meskipun Makmun melantik Imam Ridha as menjadi penggantinya, tetapi sebenarnya hal itu dengan berniat untuk memperkokohkan pemerintahannya. Dalam kondisi ini, Imam terpaksa menerimanya.
Kedudukan tinggi ilmu dan spiritual Imam Ridha as dan pengaruhnya yang semakin berkembang dalam opini umum secara berangsur-angsur menyebabkan Makmun menjadi takut. Akhirnya Makmun meracuni Imam Ridha as.
Di antara kata-kata hikmah yang dapat dipetik dari kata-kata beliau adalah "Hamba Allah terbaik adalah mereka yang merasa senang setiap kali berbuat baik dan segera meminta ampunan setiap kali berbuat salah. Mereka akan bersyukur atas setiap nikmat yang dianugerahkan kepadanya, dan ketika dililit masalah, mereka tetap bersabar dan tidak murka."
Hejazi: Kawasan tidak lagi Aman bagi AS
Wakil komandan pasukan Quds Sepah Pasdaran Iran (IRGC) saat merespon statemen presiden Amerika terkait bahwa setelah gugurnya Syahid Qasem Soleimani, kawasan semakin aman bagi pasukan Amerika mengatakan, “Jika kawasan bagi kalian semakin aman, lantas mengapa kalian melarikan diri?”
Brigjen. Mohammad Hejazi Jumat (16/10/2020) di konferensi internasional kelima para pejuang di Tehran menekankan, pasukan Amerika di seluruh dunia dalam kondisi ketakutan.
“Amerika ingin secepatnya keluar dari Afghanistan dan metode penarikan diri dari kawasan karena ketakutan karena kawasan tidak lagi aman bagi mereka,” ungkap Hejazi.
Wakil komandan pasukan Quds IRGC ini seraya menjelaskan bahwa Amerika saat ini sendirian dan terkucil mengungkapkan, arus muqawama terus berlanjut dan masih akan berlanjut serta pengalaman membuktikan bahwa poros muqawama senantiasa menang dan terus maju serta bagi musuh adalah kemunduran dan kejatuhan.
Hejazi juga mengisyaratkan normalisasi hubungan sebagian rezim Arab dengan Israel dan mengatakan, bangsa Muslim kawasan menentang keras langkah seperti ini.
Konferensi internasional kelima para pejuang di pengasingan dengan topik Palestina dan sistem global masa depan digelar di Tehran hari Jumat.
Di konferensi ini diberikan penghargaan kepada wakil dari Nigeria, Yaman, Palestina, Lebanon dan Bahrain yang menjadi pelopor perjuangan anti kubu arogan dunia di kawasan.
Iran Kecam Serangan Rudal ke Ganja, Azerbaijan
Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Republik Azerbaijan mengecam serangan rudal ke kota Ganja yang menewaskan serta menciderai sejumlah warga sipil.
Akibat serangan rudal Sabtu (17/10/2020) dini hari militer Armenia ke kota Ganja, kota kedua terbesar di Republik Azerbaijan sampai saat ini 12 orang dilaporkan tewas dan 40 lainnya cidera.
Kedubes Iran di Republik Azerbaijan di statemennya seraya mengucapkan solidaritas kepada keluarga korban dan berharap kesembuhan korban terluka di insiden ini, menekanakn, serangan ke kota dan rakyat tak berdosa bertentangan dengan hukum dan norma-norma yang diakui internasional serta sebuah kejahatan perang yang harus segera dihentikan.
Serangan rudal beberapa malam lalu militer Armenia ke kota Ganja juga menewaskan sepuluh orang dan menciderai 35 lainnya.
Republik Azerbaijan dan Armenia terlibat friksi terkait kawasan Nagorno-Karabakh dan friksi ini meletus tahun 1988.
Babak baru konfrontasi bersenjata meletus pada 27 September dan sampai saat ini sejumlah pasukan kedua pihak tewas dan terluka.
Kunjungan Kepala HPC ke Pakistan
Kepala Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan (HPC/ Afghan High Peace Council) Abdullah Abdullah mengunjungi Pakistan dalam upaya mencari solusi politik untuk konflik Afghanistan, Rabu, 30 September 2020.
Abdullah bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dan pejabat lainnya untuk mencari dukungan Islamabad sebagai upaya perdamaian yang sedang berlangsung.
Ini adalah kunjungan pertama Abdullah Abdullah ke Pakistan sejak dia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Tinggi Perdamaian Afghanistan untuk rekonsiliasi nasional.
Abdullah Abdullah memimpin delegasi tingkat tinggi yang terdiri dari anggota senior Dewan Tinggi Perdamaian Afghanistan.
Kunjungan Abdullah Abdullah berlangsung pada saat yang genting ketika upaya sedang dilakukan untuk mencari solusi politik untuk krisis Afghanistan.
Di antara agendanya adalah proses perdamaian Afghanistan dan hubungan bilateral antara Kabul dan Islamabad yang sering terganggu akibat ketidakpercayaan.
Di Institute of Strategic Studies Islamabad, Islamabad, Abdullah Abdullah mengakui bahwa pembicaraan yang sedang berlangsung antara pemerintah Afghanistan dan Taliban menawarkan kesempatan bersejarah untuk perdamaian.
Pakistan telah memainkan peran kunci dalam membawa Taliban ke meja perundingan. Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mehmood Qureshi menjelaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk masalah Afghanistan.
Setelah penundaan yang lama, pemerintah Afghanistan dan Taliban memulai pembicaraan di Doha baru-baru ini untuk membahas masa depan Afghanistan.
Kedua belah pihak berusaha untuk menyepakati agenda dan aturan keterlibatan. Namun mengingat perbedaan antara kedua belah pihak, pengamat tidak yakin apakah pembicaraan intra-Afghanistan dapat menghasilkan kesepakatan dalam waktu dekaف.
Kemajuan Industri Pertahanan Iran di Tahun Lompatan Produksi
Lompatan produksi sebagai slogan tahun ini memiliki berbagai dimensi, termasuk di sektor pertahanan yang menggunakan seluruh kapasitasnya demi tercapainya tujuan nasional Republik Islam.
Menteri Pertahanan Iran, Amir Hatami mengatakan, "Perhatian serius terhadap rangkaian produk strategis bidang militer seperti sistem rudal, peralatan laut, darat, udara, hutan, juga sistem pertahanan dan produksi amunisi pintar menjadi prioritas industri pertahanan di tahun ini untuk mendorong peningkatan produksi,".
Lompatan produksi di bidang industri pertahanan, mobilitas dan ketangkasan dalam mensuplai barang-barang yang dibutuhkan oleh angkatan bersenjata dan pada akhirnya memperkuat kekuatan tempur angkatan bersenjata yang menjadi salah satu kebutuhan kekuatan pertahanan dan pencegahan terhadap ancaman.
Kebutuhan ini berasal dari fakta bahwa saat ini musuh bangsa Iran berdiri lebih terbuka dari sebelumnya dan menggunakan semua kapasitas dan kesempatan demi mengancam dan menekan Iran.
Meskipun musuh bangsa Iran, terutama Amerika Serikat tidak berhadapan dengan Iran secara langsung di arena militer. Tapi, konspirasi tidak boleh diabaikan atau ancaman tidak boleh dianggap remeh. Oleh karena itu, Angkatan Bersenjata Iran telah meningkatkan kemampuan pertahanan dan pencegahannya ke tingkat yang lebih tinggi dengan memperkuat metode perang asimetris dan memiliki jaringan luas pasukan yang efisien di bidang pertempuran langsung.
Mengingat permusuhan rezim hegemonik selama empat dekade terakhir, angkatan bersenjata Republik Islam Iran telah mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman apapun. Oleh karena itu, industri pertahanan Iran telah menggunakan kapabilitas berbasis pengetahuannya di bidang produksi peralatan canggih untuk meningkatkan kekuatan pertahanannya.
Atlantic Council menyebut kekuatan dan pengaruh regional Iran di Asia Barat telah menantang kekuatan militer AS.
"Tujuan terpenting Amerika Serikat adalah melemahkan Iran, dan terwujudnya hal tersebut menjadi bagian dari strategi AS di kawasan," tulis penulis Prancis Antoine Coppolani dalam sebuah artikel di majalah Le Pen.
Dalam kondisi demikian, kemampuan rudal Iran telah tumbuh secara signifikan dan menjadi kekuatan pencegah Iran terhadap agresi musuh apapun. Produksi jet tempur Kowsar, kapal selam Fateh, kendaraan lapis baja anti-ranjau, badai dan guntur termasuk di antara pencapaian utama industri pertahanan Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Iran juga termasuk di antara 5 produsen UAV teratas dan merupakan negara kedua yang membangun drone siluman.
Dengan upaya para ahli industri pertahanan Iran, langkah-langkah lebih pasti akan diambil dalam lompatan produksi. Berkaitan dengan hal tersebut, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei dalam pesan yang disampaikan kepada pasukan Angkatan Bersenjata Iran menegaskan urgensi memperkuat pertahanan dalam berbagai dimensi dan memanfaatkan secara maksimal kapasitas dan potensinya, serta mewaspadai setiap pergerakan musuh-musuh Iran.
Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan para komandan dan staf Angkatan Udara Iran, menekankan perlunya memperkuat Iran dalam segala hal, terutama di bidang pertahanan, dengan menyatakan bahwa kelemahan akan mendorong musuh untuk menyerang. Meskipun demikian, Rahbar menegaskan, "Kami tidak mengancam negara atau bangsa manapun, tetapi kami ingin menjaga keamanan negara dan mencegah ancaman tersebut,".
Di awal tahun ini, Amerika Serikat menunjukkan kedalaman kebencian dan permusuhannya terhadap Iran dalam bentuk instruksi langsung Trump untuk membunuh Syahid Mayjen Qassim Soleimani pada 3 Januari 2020 di sekitar bandara Baghdad, padahal ketika itu datang sebagai tamu kenegaraan PM Irak.
Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Amir Hatami menilai tujuan AS membunuh Mayjen Qassem Soleimani untuk menghidupkan kembali intervensinya yang meredup di kawasan dan mengurangi pengaruh Republik Islam Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan belasan terhadap pangkalan militer AS, Ain al-Assad di provinsi Al-Anbar, wilayah barat Irak pada 8 Januari sebagai tanggapan atas kejahatan AS.
Tanggapan yang berani ini menunjukkan bahwa pasukan pertahanan Iran berhasil meningkatkan kemampuannya dalam mengimbangi kecanggihan alutsista AS dan melawan kubu penindas dan arogan.
Pangkalan militer Ain Al-Assad AS porak-poranda dihantam rudal Iran
Kekuatan militer Iran telah tumbuh sebanding dengan ancaman. Pengalaman menunjukkan bahwa langkah balasan Iran sangat kuat sehingga musuh tidak berpikir untuk menyerang negara, dan jika ini terjadi, dia akan menerima tanggapan yang menyakitkan. Sistem pertahanan Iran juga tumbuh dan berkembang melebihi sebelumnya.
Kini, Republik Islam Iran adalah negara kuat di kawasan Asia Barat ditinjau dari indikator pertahanan dan penangkalan militernya, yang telah mampu menjadi kekuatan strategis di kawasan dengan mengusai teknologi rudal dan peralatan militer paling modern serta pengalaman pertahanan suci selama delapan tahun.
Industri pertahanan Republik Islam saat ini mampu menghasilkan drone canggih dan sistem pertahanan rudal di negaranya. Iran juga termasuk di antara 5 negara teratas di bidang desain dan konstruksi kapal berkecepatan tinggi.
Laksamana Amir Rastegari, Direktur Jenderal Organisasi Industri Maritim Kementerian Pertahanan Iran menyatakan bahwa Kementerian Pertahanan Iran telah mencapai kemampuan desain dan produksi kapal oleh para ahlinya dengan kecepatan 130 kilometer per jam.
Lompatan yang terjadi saat ini di berbagai sektor, termasuk pertahanan, yang menekankan pentingnya kekuatan pertahanan dan penangkalan terhadap ancaman menunjukkan urgensi tahun lompatan produksi sebagaimana dicanangkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran.
Hamas: Israel Ingin Bangun Pijakan Militer-Ekonomi Dekat Iran
Ketua Biro Politik Hamas, Palestina mengatakan, semua yang diharapkan rezim Zionis Israel adalah memiliki pijakan militer-ekonomi di wilayah-wilayah dekat Iran.
Fars News (12/10/2020) melaporkan, Ismail Haniyeh dalam wawancara dengan David Hearst, editor situs berita Inggris, Middle East Eye, memperingatkan kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel.
Seperti dikutip Arab 21, Ismail Haniyeh menuturkan, kesepakatan apapun yang ditandatangani negara Arab dengan Israel, pada akhirnya akan menjerumuskan negara tersebut ke dalam bahaya.
Ketua Biro Politik Hamas juga menyinggung soal Uni Emirat Arab dan Bahrain. Menurutnya, kami lebih mengenal pihak-pihak yang mengendalikan Israel, daripada mereka. Kami tahu cara berpikir mereka. Kami ingin menyampaikannya kepada saudara-saudara kami di UEA bahwa mereka pada akhir kesepakatan ini akan menelan kekalahan. Pasalnya, yang terpenting bagi Israel adalah membangun pijakan militer-ekonomi di wilayah-wilayah dekat Iran.
Haniyeh menambahkan, negara Anda akan digunakan sebagai pintu masuk. Kami tidak ingin melihat UEA jadi lokasi peluncuran rudal.
"Langkah UEA adalah langkah ekspansionis yang bertujuan menciptakan Israel Raya. Kami tidak ingin menyaksikan rakyat UEA, Bahrain, dan Sudan menjadi alat untuk memuluskan proyek ini. Sejarah tidak pernah berbelas kasih, rakyat tidak akan pernah lupa, dan hukum kemanusiaan tidak akan mengampuni," pungkasnya.
Upaya Peledakan Makam Syahid Abu Mahdi Al Muhandis Digagalkan
Pasukan relawan rakyat Irak, Hashd Al Shaabi berhasil menggagalkan upaya sejumlah teroris yang berusaha meledakan makam Syahid Abu Mahdi Al Muhandis.
Alalam (12/10/2020) melaporkan, pasukan Hashd Al Shaabi mengumumkan, 1 mortir berdimensi 82 milimeter yang dikemas dalam sebuah paket untuk meledakan makam Syahid Abu Mahdi Al Muhandis, berhasil ditemukan, dan dijinakkan.
Hashd Al Shaabi menegaskan, saat ini penyelidikan untuk mengusut sumber, dan pelaku yang membawa bahan peledak ini terus dilakukan.
Menurut pasukan relawan rakyat Irak itu, makam Syahid Abu Mahdi Al Muhandis dijaga ketat oleh pasukan keamanan Hashd Al Shaabi.
Komandan Pasukan Qods IRGC, Letjend Qassem Soleimani, dan Wakil Ketua Hashd Al Shaabi, Abu Mahdi Al Muhandis, bersama 8 orang lainnya pada hari Jumat (13/1/2020) gugur diteror militer Amerika atas perintah langsung Presiden Donald Trump, di bandara Baghdad.




























