کمالوندی

کمالوندی

 

Tanggal 31 Shahrivar 1399 Hijriah Syamsiah atau 21 September 2020 memperingati 40 tahun Pekan Pertahanan Suci, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyampaikan pidato melalui konferensi video untuk menghormati, dan menghargai jasa satu juta veteran perang Pertahanan Suci.

Era pertahanan suci rakyat Iran yang berlangsung selama 8 tahun melawan musuh Revolusi Islam, merupakan modal abadi yang memainkan peran bersejarah Iran. Kaum muda, dan para pejuang terjun ke medan perang untuk membela Islam pasca agresi militer rezim Baath, Irak pada 31 Shahrivar 1359 Hs atau 22 September 1980, dan dengan bersandar pada iman, mereka berjuang sampai mati di perang ini. Akhirnya pasca 8 tahun perlawanan, musuh dan sekutu-sekutunya kalah. 
 
Dalam perspektif Rahbar, belajar dari era sensitif, dan bersejarah di transformasi negara Iran ini, memiliki peran keteladanan bagi semua generasi di berbagai masa, dan penjelasan tentang berbagai sudut peristiwa penting ini menyebabkan tersebarnya budaya pengorbanan, dan perlawanan menghadapi musuh. Menurut Ayatullah Khamenei, Pertahanan Suci adalah salah satu peristiwa bangsa Iran paling rasional yang mengandung kebijaksanaan, dan inovasi, ia merupakan sumber mata air yang darinya bisa diciptakan berbagai jenis budaya luhur sejarah, sosial, politik, cinta, dan keluarga. 
 
Ayatullah Khamenei menilai tujuan negara-negara yang memaksakan perang terhadap Iran, adalah meruntuhkan pemerintahan dan Revolusi Islam. Menurutnya dalam perang Pertahanan Suci, lawan asli Iran bukanlah Partai Baath atau Saddam Hussein. Di balik Saddam, ada kekuatan-kekuatan yang sebagian di antaranya seperti Amerika Serikat, merasa terpukul dengan lahirnya Revolusi Islam Iran.
 
Rahbar menjelaskan, di kemudian hari terbukti bahwa Amerika sebelum pecahnya perang, mencapai kesepakatan dengan Saddam Hussein, dan selama perang berlangsung Amerika memberikan bantuan senjata, dan informasi yang sangat berharga secara rutin kepada pasukan Saddam dan Partai Baath, konvoi militer terus-menerus dikerahkan di hadapan mata kita, dan disaksikan oleh kita. Kapal-kapal kargo bersandar di pelabuhan Uni Emirat Arab, dan dari UEA setiap hari tanpa henti menuju ke Arab Saudi, Kuwait, Irak, dan menyerahkan amunisi ke pasukan Saddam Hussein. Sementara Iran sama sekali tidak punya senjata, dan peralatan perang lainnya. Kami benar-benar tidak punya fasilitas bertempur, hal ini mendorong musuh. Hal ini dipahami oleh musuh, sampai tingkat tertentu mereka tahu, dan terdorong untuk menyerang.
 
Rahbar setelah menjelaskan bagaimana perang yang dipaksakan pecah selama 8 tahun, mengulas faktor, dan poin-poin penting pertahanan rakyat Iran di hadapan musuh. Dalam hal ini beliau menilai kepemimpinan Imam Khomeini sejak awal hingga akhir perang Pertahanan Suci, sangat sensitif, dan luar biasa. Rahbar menuturkan, Imam Khomeini pada situasi seperti ini, mampu mengendalikan awal perang, kemudian mengawasi berlanjutnya gerakan ini di bawah mata, dan kehendaknya.
 
Imam Khomeini sejak awal, sudah mengenal berbagai dimensi, dan kapasitas tempur nyata, dan dengan kebijaksanaan yang mengejutkan beliau mengumumkan bahwa perang ini bukan perang dua negara bertetangga, Saddam Hussein hanyalah pion, dan musuh asli Revolusi Islam dan rakyat Iran ada di belakang Saddam. Imam Khomeini misalnya berkata, Amerika lebih buruk dari Uni Soviet, Soviet lebih buruk dari Amerika, Inggris lebih buruk dari keduanya, artinya Imam Khomeini sedang melakukan serangan yang targetnya adalah orang-orang yang mengetahui bahwa mereka adalah faktor asli, dan merekalah yang sebenarnya  berdiri di balik layar perang.
 
Rahbar menyebut sifat lain Imam Khomeini sebagai figur luar biasa yang memiliki pengaruh spiritual, kejujuran dan kesucian dalam menjelaskan hakikat, realitas dan pandangan tajam dalam perang Pertahanan Suci. Dengan ketegasan penuh, Imam Khomeini memimpin perang, dan menjalankan pekerjaan yang berujung dengan robohnya pendudukan Abadan, pembebasan Khorramshahr dan Susangerd adalah beberapa contoh ketegasan luar biasa ini. Selain itu, Imam Khomeini selalu memberikan semangat kepada rakyat, dan meruntuhkan kesombongan musuh saat diperlukan, mencegah dampak merusak sifat angkuh saat menang, dan memberikan kekuatan batin serta menyapa para pejuang ketika dibutuhkan termasuk metode ayah baik hati, dan pemimpin spiritual, sadar, serta menguasai medan, dan mengarahkan Pertahanan Suci.
 
Ayatullah Khamenei menyerupakan kemenangan Revolusi Islam Iran dalam perang yang dipaksakan dengan matahari, yang terang dan bersinar. Ia mengatakan, pertama musuh tak mampu memisahkan bahkan sejengkal wilayah Iran, kedua mereka gagal memukul mundur revolusi, dan pemerintahan Islam Iran walau selangkah. Pemerintahan Islam Iran pasca perang 8 tahun, jauh lebih kuat dari sebelum pecah perang, dan kemampuannya bertambah besar. Ini semua adalah kemenangan besar yang terjadi.
 
Dalam perang-perang  yang terjadi di masa raja-raja, di masa para taghut selama satu dua abad terakhir, Iran selalu kalah, tapi di masa Republik Islam, Iran berhadapan dengan kekuatan-kekuatan dunia, yaitu Timur dan Barat, Eropa dan Amerika, serta Uni Soviet juga para penguasa kawasan dan yang lainnya, berdiri melawan, dan menang. Ini poin pertama dan sangat penting, serta merupakan bagian dari dari identitas nasional.
 
Menurut istilah yang digunakan Rahbar, dalam Pertahanan Suci tercipta sebuah model baru partisipasi rakyat. Partisipasi rakyat begitu menakjubkan sehingga semua potensi bermunculan. Rahbar mengatakan, bayangkan seorang pemuda datang dari sebuah desa di salah satu wilayah Iran, misalnya desa di Kerman, masuk kota, dan bergabung dengan mereka, lalu kelak menjadi figur Hajj Qassem Soleimani, artinya ini adalah gerakan besar.
 
Contoh lain misalnya seorang pemuda mahasiswa yang sama sekali tidak pernah memegang senjata, secara sukarela terjun ke medan tempur, selama di garis depan pertempuran sekira satu setengah tahun, akhirnya menjadi anggota teladan, dan berpengaruh di sebuah pangkalan militer level tinggi. Bayangkan seorang pemuda yang bekerja sebagai wartawan di sebuah surat kabar, pergi berperang, tidak lama kemudian misalnya menjadi Syahid Hassan Bagheri, pakar intelijen perang, dan banyak peristiwa-peristiwa luar biasa lain, dan lahirnya potensi-potensi semacam ini. 
 
Di sisi lain, di era Pertahanan Suci, muncul keutamaan akhlak, dan spiritual tertinggi, serta peningkatan ruh yang membangun investasi, semangat percaya diri semakin kuat, dan mengarahkan kekurangan yang dialami masyarakat kepada inovasi teknologi, dan ilmu pengetahuan. Prestasi lain yang dicapai berkat Pertahanan Suci adalah kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang secara lahir bisa dilakukan, dan meningkatkan investasi sumber daya manusia, dan kepemimpinan dalam hal ini merupakan manifestasi keindahan.
 
Rahbar juga mengenang Jenderal besar dan berkata, sampai sekarang sahabat, saudara mukmin, dan rakyat mulia Iran masih belum mengetahui luasnya pekerjaan yang dilakukan Syahid Qassem Soleimani. Ini adalah sebuah modal sumber daya manusia yang lahir dari perang, artinya fondasi terbentuknya orang-orang semacam Qassem Soleimani terpasang dalam perang di era Pertahanan Suci.
 
Ayatullah Khamenei melanjutkan, poin lain adalah dalam Pertahanan Suci kita diperkenalkan dengan substansi, dan realitas memalukan peradaban Barat. Semua ada di tangan musuh, bahkan senjata kimia. Artinya senjata kimia juga diberikan, dan Saddam Hussein menggunakannya untuk menyerang kami, dan rakyat Irak sendiri.
 
Artinya di Halabcheh, Saddam menggunakan senjata kimia, dan di negara kita juga banyak, artinya Barat, Eropa, menginjak semua klaim kemanusiaan, dan hak asasi manusianya, dalam berhadapan dengan semua ini, dalam membela pemerintahan korup, dan diktator anti-kemanusiaan Saddam Hussein, Barat membantah semua klaimnya. Ini adalah pengetahuan mendalam yang sangat berharga bagi kita. Artinya, kita benar-benar harus tahu, dan paham bahwa inilah Barat, dan dengan pengetahuan ini kita mengambil keputusan, berpikir dan bekerja. 
 
Ayatullah Khamenei mengingatkan, secara alamiah perang adalah sebuah fenomena menyedihkan, dan penuh kekerasan, tapi bagi kami peristiwa menyedihkan dan penuh kekerasan selama 8 tahun ini, membawa berkah yang sangat banyak. Secara umum budaya perang adalah budaya penyadaran. Al Quran terkait para syuhada berkata, 
 
فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّـهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿١٧٠﴾
 
“Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
 
Ayatullah Khamenei di akhir pidatonya menekankan untuk tidak meremehkan virus Corona, pemerintah Iran benar-benar sedang mengorbankan diri, para perawat, dokter, kepala rumah sakit, dan yang lainnya terus bekerja keras. Kita rakyat harus menjalankan tugas kita, jaga jarak sosial, memakai masker, mematuhi semua protokol kesehatan yang diberikan, mencuci tangan, adalah pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan.
 
Dengan memperhatikan semakin dekatnya hari Arbain Imam Hussein as, Rahbar menuturkan, semua mencintai Imam Husssein as, dan ingin pergi berziarah, tapi ikut serta dalam pawai Arbain, diperbolehkan hanya atas izin pejabat di badan nasional penanganan Corona. Jika mereka mengatakan tidak, dan sampai sekarang memang berkata demikian, maka kita harus mematuhinya, semua harus patuh.
 
Hari Arbain semua warga membaca ziarah Arbain dengan khusyu, kepada Imam Hussein as kita katakan, wahai Sayid As Syuhada, kami ingin datang, tapi tidak bisa, sehingga beliau membantu kita. 
 
Di tempat pidato Ayatullah Khamenei tampak terpampang sebuah kaligrafi di dinding yang merupakan inti dari semua nasihat Rahbar di sebagian besar paparan beliau yaitu Surat Hajj ayat 40,
 
الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّـهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّـهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّـهِ كَثِيرًا ۗ وَلَيَنصُرَنَّ اللَّـهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ ﴿٤٠﴾
 
“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,”.

 

Ketua Otorita Ramallah seraya mengisyaratkan konspirasi musuh untuk menghancurkan isu Palestina mengatakan, rakyat Palestina masih komitmen dan melanjutkan perjuangannya serta pada akhirnya akan mencapai kemenangan.

"Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel menjadikan kesepakatan abad menggantikan hukum internasional," papar Abbas Jumat (25/9/2020) dalam pidato virtualnya di Sidang Majelis Umum PBB seraya menekankan bahwa rencana kesepakatan abad dan aneksasi Tepi Barat akan mencaplok 33 persen wilayah Palestina. Demikian dilaporkan IRNA.

Abbas juga menjelaskan bahwa sampai kapan cita-cita bangsa Palestina terkatung-katung tanpa penyelesaian yang adil, meminta sekjen PBB dan kuartet internasional mengambil langkah-langkah untuk menggelar konferensi internasional serta mempersiapkan sidang awal tahun depan.

Ketua Otorita Ramallah seraya mengkritik normalisasi hubungan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan Israel mengungkapkan, PLO tidak akan mengijinkan siapa saja berbicara mengatasnamakan rakyat Palestina.

Abbas juga menyinggung dialog antara Fatah dan Hamas serta menyatakan kesiapan Otorita Ramallah menggelar pemilu presiden dan parlemen dengan partisipasi seluruh faksi Palestina.

Sidang Majelis Umum ke-75 digelar sejak hari Selasa lalu melalui pidato virtual petinggi berbagai negara anggota. 

 

Ketua Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menilai perundingan dengan Gerakan Fatah sebagai peluang bagi dialog komprehensif.

"Dialog ini menunjukkan tekad dan pendekatan bersama faksi Palestina serta ancaman kolektif yang mengancam cita-cita bangsa Palestina," ungkap Ismail Haniyah Jumat (25/9/2020) seraya mengisyaratkan perundingan kelompoknya dengan Fatah di Istanbul, Turki seperti dilansir IRNA.

Haniyah mengatakan akan dibentuk sidang khusus selain membahas kesepakatan yang diraih antara Fatah dan Hamas, juga perundingan antar faksi Palestina akan sempurna.

Wakil dari Hamas dan Fatah sejak hari Selasa lalu menggelar perundingan di Istanbul, Turki untuk mempercepat proses rekonsiliasi.

Gerakan Fatah dan Hamas di sidang Istanbul menekankan dilanjutkannya upaya dan langkah terpadu serta terintegrasi untuk membela hak dan kepentingan bangsa Palestina serta melawan ancaman dan kendala yang ada di isu Palestina hingga terealisasinya kebebasan, kemerdekaan serta pembentukan negara independen Palestina dengan ibukota Quds.

Berbagai sumber Palestina menyatakan, pertemuan mendatang pemimpin faksi Palestina dengan tujuan meraih rekonsiliasi nasional, meredam friksi antar faksi serta melawan kendala yang ada akan digelar di Doha, Qatar.

 

 

 

Juru bicara Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menyebut langkah Israel meratifikasi proyek pembangunan ribuan unit rumah di distrik Zionis di Tepi Barat Sungai Jordan sebagai indikasi kebohongan rezim ini terkait dihentikannya rencana aneksasi Tepi Barat.

"Normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel malah mendorong rezim penjajah ini melanjutkan proyek distrik Zionisnya di bumi Palestina," ungkap Hazem Qassem Jumat (25/9/2020) seperti dilaporkan Russia al-Youm.

Jubir Hamas ini menjelaskan, peratifikasian proyek pembangunan ribuan unit rumah di distrik Zionis telah menguak kebohongan negara-negara Arab yang berkompromi dengan Israel.

Media Israel Kamis (24/9/2020) menyatakan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyetujui pembangunan lima ribu unit rumah baru di berbagai distrik Zionis di Tepi Barat.

Masih menurut sumber ini, Netanyahu Februari lalu menghentikan pembangunan unit rumah baru di Tepi Barat dengan tujuan supaya tidak merusak kesepatan dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain.

Padahal Uni Emirat Arab berulang kali mengklaim bahwa dihentikannya rencana aneksasi Tepi Barat dan pembangunan distrik Zionis merupakan bagian dari kesepakatan damai dengan Israel. (MF)

 

Rezim Zionis Israel untuk pertama kalinya terpaksa mengakui kehadiran salah satu warganya di tengah anggota Daesh yang ditahan di utara Irak.

Fars News (26/9/2020) melaporkan, Israel mengakui satu dari sekian banyak anggota Daesh yang ditahan di sel isolasi di salah satu penjara utara Irak, adalah warganya. 
 
Seperti ditulis koran Skotlandia, The National, anggota Daesh asal Israel itu mendekam di penjara wilayah Kurdistan, Irak selama dua tahun, dan Israel mengumumkan jika warganya itu bisa mencapai perbatasan Palestina pendudukan, ia akan diberi izin kembali. Pada saat yang sama Irak tidak mengakui Israel, dan kedua pihak sampai saat ini tidak punya hubungan diplomatik. 
 
Pasukan Amerika Serikat menyebut warga Israel anggota Daesh, bernama Mohamed Khaled itu ditangkap pada salah satu serangan Desember 2017 di timur Suriah, setelah 4 tahun berperang untuk Daesh. Namun awalnya Israel menyembunyikan realitas ini.
 
Namun setelah terungkap dalam wawancara The National di salah satu pusat perang melawan terorisme wilayah Kurdistan, dan gugatan keluarga Mohamed Khaled, akhirnya Israel terpaksa mengakui secara resmi kasus tersebut. 

 

Ketua Lembaga Haji dan Ziarah Republik Islam Iran menyatakan dimulainya ibadah umrah para peziarah Iran tergantung pada sikap Arab Saudi terkait syarat Republik Islam Iran.

Alireza Rashidian Jumat (25/9/2020) kepada watawan terkait dibukanya kembali ibadah umrah oleh Arab Saudi mengatakan, berdasarkan pernyataan Riyadh, mulai 4 Oktober 2020 ibadah umrah kembali akan dibuka.

"Berdasarkan keputusan Arab Saudi terkait pembukaan umrah di tiga tahap, untuk warga dalam negeri, warga asing yang berdomisili di negara ini dan tahap terakhirbagi negara-negara Islam, diprediksikan jumlah peziarah tahun ini sekitar 1.560.000 orang," papar Rashidian.

Seraya mengisyaratkan syarat Iran untuk pengiriman jamaah umrah, Rashidian mengungkapkan, syarat Republik Islam Iran adalah jaminan keamanan, ketenangan dan penghormatan terhadap peziarah Iran serta pembentukan konsulat atau kantor penjaga kepentingan Iran untuk melindungi warga Iran ketika berada di Arab Saudi dan selama syarat ini tidak dipenuhi, maka Iran tidak akan mengirim jamaah umrah.

Arab Saudi seiring dengan pandemi Corona selain menghentikan penerbangan internasional juga menutup perbatasannya bagi warga asing dan jamaah umrah. 

 

Pesawat tanpa awak Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terus memantau gerak Armada Kapal Perang Amerika Serikat yang telah memasuki kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz baru-baru ini.

Kapal Induk USS Nimitz dan kapal-kapal perang dan logistik AS telah memasuki Teluk Persia di tengah kelanjutan ketegangan negara ini dengan Republik Islam Iran.

Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Laksamana Alireza Tangsiri mengatakan, Armada Kapal Perang AS yang terdiri dari kapal induk USS Nimitz, dan sejumlah kapal pengawalnya, sebelum masuk perairan Selat Hormuz, sudah terlacak oleh pesawat nirawak buatan dalam negeri Iran.

Tangsiri dalam acara penyerahan 188 unit drone, dan helikopter ke AL IRGC, pada Rabu (23/9/2020) mengabarkan bahwa keberadaan kapal induk Amerika berhasil dilacak drone buatan IRGC.

"Drone buatan dalam negeri Iran berhasil melacak keberadaan kapal induk Nimitz bersama sejumlah kapal pengawal, termasuk dua kapal perusak 114 dan 104, kapal perang 58 dan 59, dua kapal patroli 9 dan 12, serta satu unit patroli pantai 1333 Angkatan Laut teroris Amerika, sebelum memasuki Selat Hormuz, dan Teluk Persia," jelasnya.

Tangsiri menambahkan, semua tugas AL IRGC sekarang akan didukung oleh drone buatan dalam negeri Iran, dan penggabungan 188 unit drone, serta helikopter baru ke AL IRGC, akan menambah kemampuan pasukan ini dalam  melaksanakan tugas di laut, dan udara.

Komandan AL IRGC menegaskan, pelacakan semua manuver maritim di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Laut Oman dapat dilakukan dengan drone baru ini, dan cakupan kemampuan kami di bidang ini mengalami peningkatan yang sangat tinggi.

Sementara itu, Wakil Komandan IRGC Laksamana Ali Fadavi dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Mayadeen mengatakan, upaya AS untuk melawan Revolusi Islam Iran selalu gagal, dan ke depannya pun tidak akan pernah berhasil.

Fadavi pada Rabu (23/9/2020) kepada Al Mayadeen menjelaskan upaya Amerika membentuk sebuah koailisi internasional untuk melawan Republik Islam Iran.

Fadavi menuturkan, upaya Amerika membentuk koalisi anti-Revolusi Islam Iran, sudah ada sejak lama, dan bukan barang baru.

Dia menegaskan, AS tidak akan berhasil dalam upayanya membentuk koalisi baru anti-Revolusi Islam Iran.

Fadavi menerangkan, lebih baik Amerika datang ke Teluk Persia karena akan masuk jangkauan target kami. Jika Amerika melakukan kebodohan baru, mereka akan menghadapi kekuatan yang tak pernah dibayangkan.

"Amerika tidak akan pernah berhasil mencapai tujuannya untuk memperpanjang embargo senjata Iran," pungkasnya. 

Sabtu, 26 September 2020 14:09

Pompeo Ancam Tutup Kedubes AS di Baghdad

 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat mengancam petinggi Irak dengan penutupan kedubes negara ini di Baghdad.

"Mike Pompeo mengancam petinggi Irak akan menutup kedutaan besar Washington di Baghdad," demikian ditulis Koran Washington Post.

Presiden Irak, Barham Salih pada hari Senin pertemuan dengan pemimpin berbagai faksi politik di negara ini menyatakan, Pompeo memperingatkan dirinya bahwa jika serangan terhadap kedubes AS dan militer negara ini di Irak terus berlanjut, maka Washington akan menutup kedubesnya di Baghdad.

Pompeo menekankan, Presiden AS Donald Trump serius tengah mengkaji opsi penutupan kedubes negara ini di Baghdad.

Kedutaan besar AS di Baghdad, konvoi militer dan pangkalan militer negara ini di Irak selama beberapa bulan terakhir menjadi target berbagai serangan.

Mayoritas rakyat dan faksi Irak menuntut penarikan pasukan Amerika dari negara mereka dan parlemen negara ini juga telah meratifikasi draf pengusiran militer Amerika.

 

Tanggal 23 Shahrivar 1399 Hs (13 September 2020) berbagai media merilis berita duka kepergian Dr. Tuba Kermani. Ia perempuan Iran yang berhasil meraih gelar postdoctoral dan lulusan Filsafat dan Teologi Komparatif, sekjen Organisasi Global Perempuan Muslim dan penasihat sekjen Forum Pendekatan Antar Agama Islam urusan perempuan serta selama bertahun-tahun aktiv mengajar di universitas.

Dr. Tuba Kermani, dosen fakultas teologi dan studi Islam Universitas Tehran, ia konsoler budaya perempuan pertama Republik Islam Iran dan atase bidang sains dan ilmiah pertama perempuan Republik Islam Iran di Yunani serta penulis buku ilmiah dan budaya dan sekjen Organisasi Global Perempuan Muslim.

Tokoh besar dan aktif di bidang ilmiah dan budaya negara ini memiliki gelar pasca-doktoral dalam filsafat Islam dan merupakan anggota fakultas di Universitas Teheran. Ia telah menulis lebih dari 60 artikel, menulis dan menyusun 12 buku ilmiah dan sosial, dan berpartisipasi dalam lebih dari 80 kongres nasional dan internasional di dalam dan luar negeri. Dr. Kermani meninggal dunia pada usia 73 pada hari Sabtu, 13 September 1999, karena penyakit gagal hati.

Dalam salah satu program "Wanita Iran", kami mengungkapkan sekilas kehidupan dan aktivitas wanita yang berkomitmen dan berpengetahuan ini. Dan kita akan membahas pandangan pemikir perempuan Iran ini yang menghabiskan umurnya untuk pendekatan antar mazhab dan ia juga dikenal sebagai seorang reformasi.

Ada gelombang ketenangan dan cinta di wajahnya. Senyumannya yang abadi adalah salah satu keunggulannya. Kata-kata itu menemukan makna dalam bahasanya dengan keindahan, kebaikan dan kerendahan hati. Pencarian kebenaran, estetika, menganggap transendensi sebagai bagian dari kodrat manusia dan percaya bahwa menurut hal ini, setiap orang menyukai pengampunan, kebaikan dan cinta, dan mereka harus mengatasi aspek diri ini di atas atribut lainnya. Ia menganggap hijabnya sebagai sumber kebanggaan dan kehadiran berwibawa di masyarakat.

Dalam budaya Islam, ilmu dan pemikiran filosofis tidak ada hubungannya dengan gender, karena hakikat berpikir bukanlah gender. Mungkin tidak tepat menempatkan batu besar dalam kekuasaan wanita, yang mungkin secara fisik lebih lemah daripada pria, tetapi masalah refleksi, refleksi, dan filosofis bukanlah hal yang membutuhkan perangkat keras pria. Perkembangan intelektual dan permainan peran di alam semesta membutuhkan perhatian filosofis, pikiran yang ingin tahu, pandangan yang mendalam tentang keberadaan, pertanyaan, dll., Meskipun beberapa kompetensi didasarkan pada bakat seseorang; Itu tergantung pada pria dan wanita, tetapi bagian penting darinya tergantung pada konteks dan kondisi yang diperlukan untuk pengembangan bakat-bakat ini.

Ia berkata: "Komponen pertama peradaban Islam adalah unsur hikmah dan ilmu; Karena ajaran Islam didasarkan pada hikmah. Dinyatakan dalam Al-Qur'an: مَن یُؤْتَ الْحِکمَةَ فَقَدْ أُوتِیَ خَیْراً کثِیراً: (Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.. (Al-Baqarah: 269).


Dalam kaitan ini, peran perempuan muslim dalam menciptakan dan memperkuat persatuan Islam menjadi penting dan krusial karena, pertama, tanggung jawab dan kewajiban yang dituangkan dalam tatanan Islam, peran ganda bagi perempuan dan kedua, adanya model dan teladan dalam sejarah Islam; Memperkenalkan cara baru untuk menyatukan dunia Islam dengan dunia, yang tidak menyetujui cara ekstremis Barat, maupun cara kejumudan akal.

Ia mengaitkan peran peradaban dengan perempuan dan mengatakan bahwa perempuan ketika berada pada posisi tinggi akan memainkan peran penting dalam membimbing dan meninggikan keluarga, membangun peradaban tauhid, menghadapi arus takfiri, dan memerangi kekerasan dan pemerintahan sosial. Ia mengatakan, "Banyak yang bilang hidup jadi sulit. Seperti berjalan di ujung pisau cukur. Jika hidup adalah ujung pisau cukur, maka tidak ada pria atau wanita. Ini adalah ujung pisau cukur untuk wanita dan pria. Ini adalah masalah manusia, tetapi ketika memainkan peran ganda, perempuan dapat mengambil tanggung jawab baik di luar maupun di dalam rumah dengan perencanaan yang tepat. Kalah atau tidak melakukan, keduanya akan menyebabkan kerusakan. Keduanya menyebabkan penderitaan. Saya bekerja rata-rata 17 jam sehari di luar rumah. Saya pikir wanita harus membagi waktu mereka.”

Tuba Kermani dalam sesi khusus pertama Konferensi Internasional "Status Wanita dalam Peradaban Iran dan Islam" yang diadakan pada tanggal 4 Juli 2020, mengatakan bahwa alasan mengapa wanita kuat dan sejahtera di Iran dan Islam adalah sikap arif dan literer terhadap wanita. Ia mengatakan, "Siapa yang tidak tahu bahwa di Iran kuno, wanita berarti terang, terang, bercahaya, Siapa yang tidak tahu bahwa di Iran kuno, wanita berarti kesalehan dan kebenaran. Siapa yang tidak mengetahui fakta bahwa di Iran kuno, wanita adalah penjaga rumah. Siapa yang tidak tahu bahwa rumah dalam budaya Iran berarti tempat istirahat dan ketenangan, dan keluarga berarti orang-orang yang selamat dan mendapat ketenangan di rumah ini. Siapa yang tidak tahu bahwa dalam Islam perempuan disebut sebagai akar; "Umm" (ibu) juga "Umm" dari Sayidah Zahra,

untuk ayah seperti Muhammad Saw. Siapa yang tidak tahu bahwa dalam filsafat Islam, perempuan adalah keberadaan pertama manusia dan kehidupan di dunia meteri. "Itu semua berarti wanita, tanah, kehidupan."

Mengenai ancaman keluarga di era saat ini, Dr. Tuba Kermani menambahkan: "Di dunia sekarang ini, kita dihadapkan pada pandangan baru dan terdistorsi tentang rumah dan keluarga bahwa rumah bukan hanya tempat yang aman dan damai, tetapi juga rumah di mana tidak ada cinta dan kasih sayang. Tidak ada belas kasih yang berbalik. Dalam ajaran Islam, penghuni rumah adalah mereka yang tercipta sendiri dan tercipta dari satu jiwa. "Hari ini, sayangnya, telah terdistorsi oleh Yahudisme dan Kristen, dan ajaran Yunani kuno mengacu pada wanita sebagai makhluk yang menentang pria, dan tidak berbicara tentang tanggung jawab mereka, tetapi mendikte mereka hak untuk berbagi."


Saat itu Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran terkait teladan ketiga perempuan dunia, mengirim pesan ke Kongres 7000 wanita martir dan mengatakan, “Di revolusi Islam dan Pertahanan Suci, muncul perempuan-perempuan yang mampu membuat defenisi perempuan dan partisipasinya mendunia di bidang pertumbuhan dan pembersihan diri (tahzib al-Nafs) serta menjaga rumah dan keselamatan keluarga, di bidang sosial dan jihad serta amar makruf dan nahi munkar serta jihad sosial serta berhasil menghancurkan kebuntuan besar.”

Ternyata sosok seperti Dr. Tuba Kermani dapat menjadi model sukses konteks Revolusi Islam.

Selasa, 22 September 2020 20:54

Allamah Qutbuddin al-Rawandi

 

Abad keenam Hijriyah adalah masa pemerintahan dua dinasti besar Persia yaitu Dinasti Seljuk dan Dinasti Khwarazmian.

Di era itu terutama pada periode Dinasti Seljuk, pemikiran tradisionalisme mengalahkan pemikiran rasionalisme dan banyak buku ilmu-ilmu 'aqli dan filsafat dibakar. Para penguasa Seljuk khususnya menteri terkenal mereka, Khwaja Nizam al-Molk memimpin gerakan untuk melawan kaum rasionalis.

Pecahnya Perang Salib dan invasi Eropa ke Dunia Islam memiliki banyak konsekuensi seperti penjarahan perpustakaan kaum Muslim, tetapi terlepas dari peristiwa-peristiwa di atas, abad keenam patut disebut sebagai abad kebangkitan ilmu pengetahuan. Banyak ilmuwan lahir pada masa itu dan mereka menyumbangkan kontribusi besar kepada Islam melalui kegiatan ilmiah yang tiada henti.

Di antara para ilmuwan pekerja keras itu adalah seorang ulama besar dan pakar hadis, Sa'id Hibat Allah al-Rawandi yang dikenal sebagai Qutbuddin al-Rawandi. Sa'id Hibat Allah Rawandi al-Kashani adalah seorang ahli hadis, mufassir, teolog, faqih, filsuf, dan sejarawan besar Syiah yang hidup di abad keenam Hijriyah.

Cendekiawan besar ini merupakan salah satu murid istimewa dari Syeikh Tabarsi, penulis buku tafsir Majma' al-Bayan. Para ulama menganggap Allamah Qutbuddin al-Rawandi sebagai salah satu perawi hadis Syiah yang terbesar dan memiliki kejeniusan dalam ilmu-ilmu agama, tetapi hanya sedikit yang menyadari kedudukan tingginya.

Allamah Qutbuddin al-Rawandi dilahirkan di desa Rawand di pinggiran kota bersejarah Kashan, Iran. Sayangnya tidak banyak literatur yang menuturkan tentang kehidupan masa kecilnya. Tahun kelahirannya juga tidak diketahui dengan pasti, tetapi ia wafat pada 14 Syawal tahun 573 H, dan hari itu kemudian ditetapkan sebagai "Hari Peringatan Allamah Qutbuddin al-Rawandi."

Tentang kehidupan masa kecil dan keluarganya, diketahui bahwa ayah dan kakeknya adalah seorang ulama besar pada masanya, dan Sa'id Hibat Allah menerima pendidikan dasar dari ayahnya. Setelah itu, ia belajar kepada guru-guru besar seperti Abu Ali Tabarsi, Emad al-Din Tabari, dan Sayid Murtadha Razi.

Sa'id Hibat Allah kemudian hijrah ke kota Qom – pusat keilmuan Syiah – untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Ia berhasil menjadi salah satu tokoh Syiah terkemuka dalam waktu singkat.

Dari segi intelektual, Qutbuddin al-Rawandi berada dalam barisan ulama yang pemikirannya telah mengharumkan Dunia Islam selama berabad-abad. Ia membawa pemikiran para tokoh besar seperti Syeikh Saduq, Sayid Murtadha, Sayid Razi, dan Syeikh Tusi.

Allamah Tabarsi, penulis buku tafsir Majma' al-Bayan merupakan salah seorang guru Qutbuddin al-Rawandi dan nama dari kedua ulama besar ini tidak bisa dipisahkan.

Qutbuddin al-Rawandi telah menukil dan mengumpulkan hadis dari para ulama besar di kota Isfahan, Khorasan, dan Hamedan. Dari sini dapat diketahui bahwa ia telah melakukan tur ilmiah ke berbagai kota.

Meski minimnya fasilitas di masa itu, para ulama tetap harus melakukan tur ilmiah untuk belajar kepada guru-guru besar dan juga mendapatkan akses sumber-sumber ilmu pengetahuan. Jumlah tur ilmiah setiap ulama terkait langsung dengan tingkat keluasan ilmu mereka.

Salah satu perbedaan mencolok Qutbuddin al-Rawandi dengan ulama lainnya adalah kritik konstruktifnya terhadap pendapat ulama dan aliran pemikiran lain. Pemikiran kritisnya tidak hanya berkontribusi pada perkembangan ilmiah dunia ini, tetapi dengan mengajukan kritikannya itu, ia telah menyingkap kelemahan pemikiran pihak lain sehingga menjadi perhatian para ilmuwan. Upaya ini telah mendorong perkembangan ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh, Qutbuddin al-Rawandi dalam bukunya, Tahafut al-Falasifah membahas beberapa ambiguitas dan kontradiksi yang ditemukan dalam pandangan para filsuf. Hal ini mendorong para filsuf untuk memberikan jawaban dan menghilangkan ambiguitas tersebut. Sejatinya, kemajuan manusia di bidang sains tidak lepas dari kritik dan catatan yang diberikan oleh ilmuwan lain.

Karya lain Qutbuddin al-Rawandi adalah Tafsir al-Quran dan Ta'wil al-Ayyat… Dalam buku ini, ia mengkaji sebab-sebab turunnya ayat al-Quran seperti Ayat Tathir (ayat 33 surat al-Ahzab) yang berbicara tentang kedudukan Ahlul Bait. Ia menulis buku, Ayyat al-Ahkam yang secara khusus mengkaji ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum Islam.

Namun, karya terpenting Allamah Qutbuddin al-Rawandi adalah kitab al-Kharaij Wa al-Jaraij yang berisi tentang persoalan teologis dan fiqih. Bagian penting dari buku ini berbicara tentang mukjizat Nabi Muhammad Saw dan para imam maksum. Setelah mengisahkan setiap mukjizat, penulis kemudian menyajikan riwayat-riwayat sahih yang berhubungan dengan peristiwa luar biasa itu.

Allamah Qutbuddin al-Rawandi tidak hanya mengajarkan ilmunya di masjid, rumah, dan madrasah, tetapi juga memberikan pencerahan kepada umat dalam berbagai perjalanannya. Ia mendidik banyak murid untuk mengabdi kepada Dunia Islam dan ia menggunakan setiap kesempatan untuk mentransfer ilmunya kepada para pencari kebenaran.

Kerja keras Allamah Qutbuddin al-Rawandi telah melahirkan para tokoh dan ulama terkemuka. Di antara sekian banyak murid yang telah belajar darinya, terdapat nama-nama anaknya seperti Husein ibn Sa'id Hibat Allah al-Rawandi yang kemudian menjadi ulama besar.

Ibn Shahr Ashub Mazandarani, seorang faqih dan mufassir besar Syiah pada abad keenam, tercatat sebagai murid yang paling berprestasi dari Allamah Qutbuddin al-Rawandi.

Setelah bekerja tanpa henti dalam menyebarkan ajaran Ahlul Bait, Allamah Qutbuddin al-Rawandi menyambut panggilan Ilahi pada 14 Syawal tahun 573 H. Pada hari itu, para ulama, pemikir, dan pecinta Ahlul Bait berkumpul di rumah Qutbuddin al-Rawandi untuk melepas kepergian seorang tokoh besar yang berilmu dan saleh.

Kepergiannya menyisakan rasa duka yang mendalam bagi Dunia Islam. Setelah dilakukan acara tasyi', jasad Allamah Qutbuddin al-Rawandi dimakamkan di samping Makam Sayidah Maksumah as di kota Qom.

Setelah delapan abad berlaku, para insinyur yang sedang melakukan renovasi Kompleks Makam Sayidah Maksumah, secara tidak sengaja membongkar sebagian sisi makam Allamah Qutbuddin al-Rawandi, namun mereka benar-benar terkejut ketika menyaksikan jasad ulama ini masih utuh setelah 800 tahun dikuburkan. Jasadnya tetap utuh seperti buku dan karya-karya yang ditinggalinya.