کمالوندی

کمالوندی

Senin, 21 September 2020 18:55

Islamophobia di Barat (18)

 

Diskriminasi agama khususnya terhadap umat Islam di banyak masyarakat Barat, tidak mengenal batasan apapun dan setiap hari kita menyaksikan model baru Islamophobia dan sentimen anti-Muslim di Barat.

Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR) – organisasi terbesar perlindungan hak-hak Muslim di AS – dalam sebuah laporan, mengungkap tingginya tingkat intimidasi dan diskriminasi terhadap siswa Muslim di sekolah-sekolah California.

Dalam sebuah laporan pada 31 Oktober 2017, CAIR mengungkapkan kasus gangguan terhadap siswa Muslim naik dua kali lipat dari rata-rata nasional. Laporan dengan judul "The Bullying of Muslim Students and the Unwavering Movement to Eradicate It" didasarkan pada temuan dari survei di seluruh negara bagian California terhadap lebih dari 1.000 pelajar Muslim yang berusia antara 11 dan 18 tahun.

Hasil survei menunjukkan bahwa siswa Muslim merasa kurang aman, kurang disambut, dan kurang dihormati di sekolah-sekolah mereka. 53 persen responden melaporkan bahwa siswa di sekolah diolok-olok, dihina atau dilecehkan secara verbal karena ia seorang Muslim. Selain itu, 26 persen siswa mengatakan mereka telah menjadi korban bully di dunia maya, dan 57 persen siswa juga menyaksikan teman sekelas mereka membuat komentar ofensif tentang Islam dan Muslim di dunia maya.

36 persen responden perempuan melaporkan bahwa jilbab mereka ditarik atau disentuh secara ofensif. Angka ini mencatat peningkatan tujuh persen dari laporan CAIR pada 2015.

Survei CAIR juga mencatat adanya peningkatan komentar ofensif yang dibuat oleh guru, pengurus sekolah, dan pejabat lainnya tentang agama siswa. Hasil survei ini mengungkapkan bahwa para siswa Muslim harus memikul beban berat setiap hari di sekolah dengan menghadapi pengganggu dan mereka menghadapi pendekatan Islamophobia, yang sejalan dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump.

Pengacara hak-hak sipil CAIR, Marwa Rifahie mengatakan, “Sulit untuk mengabaikan efek negatif dari kampanye presiden 2016 dan pemilihan Trump terhadap kondisi pelajar Muslim di sekolah-sekolah Amerika. Penting untuk terus mengadvokasi lingkungan belajar yang bebas dari permusuhan dan diskriminasi."

"Seperti yang kami khawatirkan, hasil survei kami menunjukkan bahwa kondisi lingkungan sekolah untuk siswa Muslim terus memburuk di semua bidang," kata pengacara hak-hak sipil CAIR, Brittney Rezaei.

Laporan ini memberikan rekomendasi tentang bagaimana Kongres AS, penerbit buku pelajaran, sekolah, dan orang tua dapat bekerja untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif.

Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR) juga menemukan kalimat ancaman vandalisme dan cercaan anti-Muslim di dinding sekolah SMA Kent-Meridian di Washington. Salah satu kalimat itu berbunyi "All Muslims dead on 10/30 #MAGA" dan pelaku menggunakan tagar yang dipakai Trump selama kampanye yaitu #MAGA (Make America Great Again). Grafiti ancaman dan hinaan juga ditemukan di sudut-sudut lain dinding sekolah tersebut.

"Ini bukan kasus pertama yang dilaporkan kepada kami tentang tindakan anti-Muslim di sebuah sekolah, perguruan tinggi atau universitas. Ketakutan akan diganggu di sekolah telah meningkat bagi siswa Muslim karena efek negatif dari kampanye dan pemilu presiden," kata Direktur Hak-Hak Sipil CAIR, Jasmin Samy.

Komunitas Muslim berusaha melawan pelecehan dan intimidasi tersebut dengan cara lain yaitu melakukan kegiatan amal serta memberikan pencerahan tentang agama Islam. Mereka bahkan membiarkan pintu-pintu masjid terbuka untuk menampung warga yang menjadi korban bencana alam di Amerika.

Komunitas Muslim Amerika ikut menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada para korban Badai Irma, Maria, dan Harvey selama 2017 lalu. Pejabat pemerintah negara bagian Puerto Rico menyatakan bahwa jumlah korban tewas akibat badai mematikan di wilayah pulau Amerika Serikat mencapai 2.975 orang. Badai Maria melanda Amerika pada September 2017.

Warga Muslim Amerika melakukan penggalangan dana untuk membantu korban Badai Maria di Puerto Rico dan menyediakan kebutuhan air bersih untuk mereka. Sejumlah dokter Muslim juga memberikan pelayanan medis kepada para korban cidera badai tersebut.

Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA) menyatakan bahwa pihaknya merasa bertanggung jawab di hadapan orang-orang yang terkena dampak dan berada dalam situasi kritis.

Selama Badai Harvey menerjang wilayah Texas, masjid-masjid di kota Houston – kota terbesar di negara bagian Texas – membuka pintunya bagi orang Amerika dari semua agama. Masjid-masjid itu menawarkan tempat tidur yang nyaman, tempat istirahat bayi, kopi dan teh hangat tanpa akhir, dan nampan hidangan makanan.

Masjid-masjid dan organisasi amal milik warga Muslim adalah yang pertama membuka pintu mereka untuk menawarkan bantuan dan perlindungan bagi para korban Badai Harvey.

Ketua Islamic Society of Greater Houston (ISGH), MJ Khan mengatakan, "Kami memiliki masjid di seluruh wilayah Houston. Jika Anda tidak punya tempat untuk berlindung, datanglah ke masjid lingkungan Anda. 21 masjid siap untuk memberikan pelayanan kemanusiaan kepada korban banjir."

"Para relawan Muslim akan mengevakuasi warga dari rumah-rumah mereka dan membawanya ke masjid," tambahnya.

Tentu saja bantuan komunitas Muslim Amerika kepada korban bencana alam tidak terbatas pada tindakan tersebut. Sekelompok relawan Muslim kota Denver, Colorado dalam sebuah aksi kemanusiaan, membagi-bagikan 2.000 paket sembako kepada para tunawisama di kota itu.

Lebih dari 100 relawan Muslim di Colorado dari pukul 8 pagi hingga 4 dini hari waktu setempat, membagikan paket makanan yang mencakup sandwich, minuman ringan, air mineral, pisang, dan pakaian bersama kopi hangat.

Para relawan lain membagikan makan siang di Taman Sonny Lawson, Governor’s Park, Denver Rescue Mission, dan di sepanjang 16th Street Mall di kota itu.

Ketua kelompok relawan Muslim, Nadeen Ibrahim mengatakan, "(Kelaparan) adalah masalah yang sangat penting bagi komunitas kami Muslim-Amerika. Islam menekankan memberi makan orang yang lapar. Nabi Muhammad Saw bersabda, 'Bukanlah seorang Muslim yang tidur dengan kenyang sementara tetangganya kelaparan.'"

Jadi, tidak mungkin agama Islam dengan keteladanan sempurna yang diberikan oleh Rasulullah Saw, menjadi penyebar kekerasan dan radikalisme.

Masyarakat Muslim Eropa juga melakukan banyak kegiatan amal untuk memperkenalkan ajaran Islam sebagai agama penyeru perdamaian, kasih sayang, dan anti-kezaliman.

Salah satu aksi Muslim Inggris di musim dingin adalah membiarkan pintu masjid terbuka untuk tunawisma dan memberikan makanan yang hangat kepada mereka. Para pengurus Masjid Margate di distrik Thanet, tenggara Inggris, untuk tahun kedua membantu menyediakan akomodasi penginapan, makanan, dukungan emosional, dan praktis untuk tunawisma di daerah tersebut.

Ashfaq Ahmed, salah seorang pengurus masjid, mengatakan mereka ingin membuka pintu masjid untuk para tunawisma di tengah cuaca dingin. "Kami saat ini sedang mempersiapkan logistik untuk para tamu dan mengkaji langkah-langkah kesehatan dan keselamatan.

"Kami sedang berdiskusi dengan perwakilan tempat penampungan musim dingin Thanet tentang cara terbaik untuk mengakomodasi tamu kami. Kami hanya ingin memberi mereka tempat penginapan yang nyaman," tambahnya.

Nabi Muhammad Saw diutus untuk menyelamatkan umat manusia dari kesesatan dan kegelapan. Dia datang dengan menyeru manusia pada tauhid, keadilan, kasih sayang, dan perlawanan terhadap penindasan.

Jadi, ajaran yang dibawakan oleh Rasulullah Saw telah mendorong kaum Muslim untuk membantu orang lain di setiap tempat. Islam tidak menetapkan garis batas dalam membantu manusia dan setiap orang – dari semua agama – harus dibantu jika ia membutuhkan bantuan. Inilah wajah Islam hakiki.

Namun, kelompok anti-Islam di Barat – atas dasar kekerasan dan kejahatan yang dilakukan kelompok takfiri seperti Daesh – memperkenalkan Islam sebagai agama penyebar kekerasan dan radikalisme.

Senin, 21 September 2020 18:54

Islamophobia di Barat (17)

 

Pada kesempatan ini, kita akan menelisik tentang pengalaman hidup seorang wanita non-Muslim yang menyamar sebagai seorang Muslim di Inggris dan gelombang Islamophobia di Jerman.

Katie Freeman (42 tahun), seorang warga Inggris dari kota Manchester mengatakan, "Menyamar satu pekan sebagai Muslim di Manchester telah membuka mataku tentang Islamophobia."

Freeman memutuskan bekerjasama dengan Channel 4 Inggris untuk membuat sebuah dokumenter dengan judul "My Week as a Muslim." Ia kemudian berdandan seperti seorang Muslimah dan berkata, "Saya seorang yang fanatik yang menyebabkan saya takut kepada orang-orang Muslim, tetapi terlibat dalam program ini telah mengubah pandangan saya dan membuka mata saya tentang Islamophobia."

Selama dokumenter digarap, Katie Freeman tinggal bersama sebuah keluarga Muslim selama satu pekan dan hal ini membuat pengetahuannya tentang Islam bertambah dan mengubah pandangannya.

Mengenai pengalamannya sebagai seorang Muslim, ia menuturkan, "Suatu hari ketika saya berjalan-jalan dengan memakai jilbab, salah seorang tetangga berteriak, 'Apakah engkau akan meledakkan kami semua?' dan yang lain berkata, 'Di sini bukan tempat orang Muslim.'"

Dalam mengomentari cacian dan makian itu, Freeman mengatakan, "Saya belum pernah menerima cacian sebelum ini dan saya merasa takut dan rapuh. Ini adalah kondisi yang dirasakan oleh warga Muslim setiap harinya."

Lebih dari tiga juta warga Muslim tinggal di Inggris. Seperti yang dikatakan Nyonya Freeman tentang pengalamannya satu pekan sebagai seorang Muslim, mereka selalu menjadi sasaran tatapan, ujaran, dan perilaku berbau kebencian. Data Kementerian Dalam Negeri Inggris juga membuktikan fakta ini.

Kementerian Dalam Negeri Inggris mengatakan kejahatan rasial naik 29 persen dalam setahun terakhir. Laporan baru ini dikeluarkan bertepatan dengan peringatan National Hate Crime Awareness Week.

Data dari kepolisian di seluruh Inggris dan Wales mencatat hampir 80.400 kejahatan rasial dalam kurun waktu 2016 sampai 2017. Data ini menunjukkan kenaikan yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah referendum Brexit dan serangan teror di Inggris.

Data tersebut bukan hanya soal angka-angka, ini adalah kejahatan yang telah membuat seorang ayah meninggal dunia ketika keluar dari masjid, seorang wanita Muslim keguguran ketika sedang berbelanja di sebuah toko, dan ada banyak Muslimah lain yang menjadi sasaran serangan di jalan-jalan.

Kondisi ini menyebabkan warga Muslim merasa tidak aman bahkan di rumah mereka sendiri. Persepsi negatif terhadap warga Muslim muncul bukan hanya karena tindakan kelompok-kelompok radikal, para politisi, dan kubu ekstrem kanan.

Media – dengan pendekatan politik dan propagandanya – memainkan peran yang menentukan dalam menyebarkan kebencian terhadap umat Islam di depan publik. Media-media Inggris menjadi pelopor dalam hal ini. Banyak riset menunjukkan bahwa peningkatan serangan terhadap Muslim di Inggris berhubungan langsung dengan laporan media yang menyebarkan Islamophobia.

Sentimen anti-Muslim sudah begitu tinggi sehingga kejahatan berlatar agama juga terjadi terhadap warga non-Muslim. Sayangnya, pendekatan Islamophobia sedang menyebar luas di tingkat pemerintah dan masyarakat Eropa.

Laporan Lembaga Penelitian Politik, Ekonomi dan Sosial (SETA) Jerman pada Oktober 2017 lalu, menunjukkan peningkatan sentimen anti-Muslim di Jerman di bidang pendidikan, media, hukum, dan internet.

Menurut laporan yang disusun oleh Alexandra Lewicki, seorang pakar sosiologi politik, sentimen anti-Muslim di Jerman telah meningkat secara bertahap sejak 2015 dan memengaruhi beragam Muslim, karena jumlah serangan terhadap mereka dan tempat penampungan pengungsi naik hingga lima kali lipat sejak 2015.

"Hingga 2014, tercatat 199 serangan terhadap tempat penampungan pengungsi. Namun, pada 2015, jumlah serangan mencapai 1.031 atau naik empat kali lipat," kata laporan tersebut seraya menambahkan jumlah serangan mencapai level maksimum pada 2016.

Polisi Federal Jerman mengumumkan bahwa jumlah serangan terhadap lembaga-lembaga Muslim sekitar satu hingga dua kasus per minggu. Jumlah serangan yang sebenarnya terhadap Muslim lebih tinggi karena banyak dari kasus serangan itu tidak dilaporkan ke polisi.

Pihak berwenang Jerman mencatat 17 serangan terjadi setiap pekan, sementara media-media Jerman mengabarkan sekitar 37 kasus serangan per minggu.

Laporan SETA juga mengungkapkan bahwa opini publik Jerman secara luas menyalahkan orang Islam mengenai kejahatan, meskipun tidak memiliki bukti, dan hal ini mendorong prasangka terhadap kaum Muslim.

Setengah dari warga Jerman mengadopsi pendekatan Islamophobia terhadap orang-orang Muslim. Laporan SETA menggarisbawahi bahwa sentimen anti-Muslim mempengaruhi urusan bisnis dan masyarakat.

Laporan itu menyarankan pemerintah Jerman untuk memperluas ruang lingkup undang-undang tentang langkah melawan diskriminasi agama dan ras, menyusun aturan yang diperlukan tentang perlindungan orang dari diskriminasi, dan mengadopsi sistem perlindungan masyarakat untuk menjaga mereka dari diskriminasi rasial.

Namun, negara-negara Eropa biasanya tidak menganggap penting atau tidak peduli terhadap laporan yang berkaitan dengan lonjakan serangan anti-Muslim dan lembaga-lembaga umat Islam. Dalam banyak kasus, mereka dengan sengaja mengabaikan hal itu dan pendekatan umum pemerintah Eropa sejalan dengan kampanye Islamophobia.

Setelah kubu sayap kanan dan sentimen anti-Islam meraih kemenangan di banyak negara Eropa, dunia harus bersiap menyaksikan lahirnya pendekatan anti-Muslim di tingkat pemerintah-pemerintah Eropa.

Partai sayap-kanan Alternative for Germany (AfD) telah menjadi partai terbesar ketiga di negara itu, setelah memenangkan 12,6 persen suara dalam pemilu parlemen pada 24 September 2017. Partai Kebebasan Austria (FPO) menempati posisi ketiga di parlemen negara itu setelah meraih 26 persen suara pada pemilu 15 September 2017.

Kemenangan partai-partai sayap kanan di Eropa akan memicu peningkatan gelombang sentimen anti-Muslim dan Islamophobia di Benua Biru itu. 

Senin, 21 September 2020 18:53

Islamophobia di Barat (16)

 

Islamophobia dan sentimen anti-Muslim di negara-negara Eropa telah muncul dalam berbagai bentuk dan sudah semakin sering ditemukan. Masyarakat Muslim Eropa harus selalu bersiap dengan penerapan pembatasan-pembatasan baru.

Serangan rasis menyasar orang-orang dengan nama Muslim, pria berjenggot, dan wanita dengan pakaian Muslimah. Serangan rasis ini bahkan menimpa mereka yang non-Muslim; berjenggot seperti orang Muslim atau warna kulit mereka tidak putih dan mirip seperti individu Muslim.

Surat kabar The Independent Inggris dalam sebuah laporan pada 18 Oktober 2017 menulis, "Hasil sebuah studi menunjukkan bahwa pria non-Muslim yang tinggal di Inggris telah menderita pelecehan verbal, fisik, dan emosional karena mereka terlihat seperti Muslim."

Orang-orang yang diwawancarai menggambarkan bagaimana kotoran binatang dilemparkan ke rumah mereka dan kaca jendela toko mereka dihancurkan. Yang lain mengatakan mereka disebut teroris atau terkait dengan Daesh karena warna kulit atau jenggot mereka.

Para peneliti mewawancarai 20 pria non-Muslim berusia antara 19 dan 59 tahun dari latar belakang kulit hitam, putih dan Asia. Mereka termasuk orang-orang dari kepercayaan Sikh, Kristen dan Hindu, serta ateis.

Studi ini menemukan ada peningkatan permusuhan anti-Muslim setelah serangan teror dan pelaksanaan referendum Brexit.

Dalam studi yang dipresentasikan di parlemen Inggris selama peringatan Pekan Kesadaran tentang Kejahatan Kebencian, Dr. Imran Awan dan Dr. Irene Zempi memaparkan tentang pengalaman pria non-Muslim yang mengalami serangan Islamophobia karena mereka terlihat seperti Muslim.

Dr. Imran Awan, profesor kriminolog dari Birmingham City University, mengatakan kepada The Independent bahwa studi ini menunjukkan bagaimana pelaku kejahatan rasial menargetkan korban mereka "berdasarkan prasangka dan stereotip."

Dr. Awan dan Dr. Zempi merekomendasikan kampanye kesadaran publik tentang cara melaporkan kejahatan rasial, serta pelatihan untuk mengajarkan para pengawas tentang bagaimana merespons jika mereka menyaksikan kejahatan rasial.

Dalam hal ini, surat kabar Standard Inggris dalam sebuah laporan pada 16 Oktober 2017 menulis, "Kampanye melawan kejahatan kebencian anti-Muslim diluncurkan di seluruh jaringan transportasi London. Perusahaan transportasi dan Kepolisian London mengadakan lebih dari 200 acara untuk meyakinkan masyarakat bahwa sistem transportasi umum London aman untuk semua orang."

Warga Muslim sudah sering menjadi sasaran serangan di bus dan metro London, dan video serangan itu telah menyebar luas di media sosial. Aparat polisi London mendorong pelaporan kejahatan rasial selama kunjungan mereka ke Masjid London Timur dan penempatan aparat di stasiun-stasiun bus dan metro.

Antara April dan Juni 2017, laporan kejahatan rasial meningkat 25 persen dengan 822 kasus dibandingkan dengan 655 kasus tahun lalu.

Ketua Partai Buruh Inggris, Jeremy Corbyn dalam sebuah acara dengan tema "Kejahatan Kebencian terhadap Wanita Muslim" di Masjid Finsbury Park London pada 22 Oktober 2017, berbicara tentang perlunya untuk bersatu sebagai sebuah komunitas dan mengeluhkan peran media dalam mempromosikan kebencian.

"Sebuah pertemuan perlu dilaksanakan sebagai kampanye untuk melawan kejahatan dalam sistem penulisan berita-berita yang terkait dengan Islam dan Muslim," kata Corbyn.

Sementara itu, Ketua Dewan Islington, Richard Watts mengatakan, "Saya memberikan sebuah kesempatan kepada media-media lokal untuk melaksanakan tugasnya dalam melawan Islamophobia. Kami berharap semua media bersikap resional."

Pada acara itu, sejumlah wanita Muslim menceritakan pengalaman mereka tentang kejahatan yang berlatar kebencian. Mereka mengaku mendapat penghinaan di jalan-jalan karena mengenakan jilbab.

Meskipun media-media di Barat diklaim independen dan pembela kebebasan berekspresi, namun kinerja mereka berada di bawah pengaruh partai dan kebijakan pemerintahan Barat dalam memperlakukan warga Muslim.

Sayangnya dalam beberapa tahun terakhir, setiap partai yang mengeluarkan slogan dan kebijakan yang lebih keras terhadap imigran dan Muslim, mereka akan mendapat sambutan yang lebih besar dari masyarakat dan berpeluang untuk menang pemilu.

Partai Kebebasan (FPO) Austria, partai sayap kanan anti-imigran, mampu meraih 27 persen suara pada pemilu parlemen 15 Oktober 2017 dan menempati posisi kedua di parlemen negara itu. Partai sayap kanan ini kemudian menjadi bagian dari koalisi pemerintah.

Di Republik Ceko, ada Partai Kebebasan dan Demokrasi Langsung (SPD) yang menganut pandangan euro-skeptisisme keras, anti-imigran, anti-Islam, dan pro-demokrasi langsung. Partai ini mendorong pengesahan undang-undang larangan pembangunan masjid, penggunaan cadar, dan larangan shalat di jalan.

Seorang anggota partai SPD, Jaroslav Holik mengatakan, "Orang-orang yang datang ke negara kami, harus menyesuaikan dirinya dengan gaya hidup kami dan bukan kita yang harus hidup dengan cara mereka."

Larangan penggunaan cadar di Austria.
Sejak tahun 2000, beberapa negara Eropa berniat meloloskan UU larangan penggunaan cadar, dan Perancis merupakan negara pertama Uni Eropa yang melarang penggunaan cadar sejak 2011.

Perancis menjadi pelopor dalam mengkampanyekan Islamophobia dan sentimen anti-Muslim di Eropa, dan masih mempertahankan kebijakan itu sampai sekarang. Setiap ada larangan atau pembatasan baru di Eropa, selalu dimulai dari Perancis.

Perancis telah mengadopsi UU anti-teror baru yang memungkinkan aparat keamanan untuk memeriksa tempat ibadah dan melakukan pemeriksaan identitas langsung. UU ini mulai berlaku pada 1 November 2017 dan secara resmi mengakhiri keadaan darurat yang telah berlangsung hampir dua tahun setelah serangan Paris.

Muslim Perancis telah berada di bawah pengawasan pemerintah selama dua tahun terakhir. Di bawah undang-undang yang baru, polisi dapat melakukan penggerebekan rumah dan penggeledahan tanpa surat perintah atau pengawasan pengadilan, termasuk di malam hari.

UU ini memberikan kekuatan ekstra kepada para pejabat untuk melewati proses peradilan yang biasa dan menempatkan orang di bawah tahanan rumah. Ia juga memungkinkan untuk membatasi pertemuan dan menutup tempat ibadah.

Kebanyakan Muslim Perancis dan kelompok-kelompok HAM sudah sering memperingatkan bahwa UU anti-teror baru itu memiliki dampak yang sangat berbahaya. UU ini dapat menangkap seseorang yang dicurigai sebagai teroris, bahkan tanpa perlu adanya bukti dan saksi. Setiap aktivis bisa juga ditangkap dengan alasan memiliki kayakinan yang berbahaya.

UU anti-teror Perancis telah dikritik oleh para ahli Hak Asasi Manusia PBB, karena merampas hak dan kebebasan fundamental seseorang. "Undang-undang ini dapat secara tidak proporsional mempengaruhi, menstigmatisasi, dan semakin memarginalkan warga negara yang beragama Islam," kata Fionnuala Ni Aolain, pelapor khusus PBB tentang perlindungan HAM dan perlawanan terorisme.

"Sangat memprihatinkan bahwa warga minoritas Muslim sedang dianggap sebagai 'komunitas tersangka' melalui penerapan berkelanjutan dan luas dari undang-undang anti-terorisme," tandasnya.

Menyudutkan seluruh Muslim hanya karena perilaku segelintir teroris yang mengaku Muslim, justru akan menguntungkan para teroris dan memarjinalkan komunitas Muslim.

Amnesty International dalam sebuah laporan menyatakan bahwa undang-undang baru anti-teror yang diterapkan di seluruh Eropa mendorong diskriminasi terhadap Muslim dan imigran serta menyebarkan ketakutan dan keterasingan. Organisasi ini memperingatkan bahwa keputusan keamanan yang diambil dalam beberapa tahun terakhir di 14 negara Eropa, terutama masalah penambahan wewenang dan kekuatan spionase, tidak akan memiliki dampak yang baik. 

Senin, 21 September 2020 18:53

Islamophobia di Barat (15)

 

Fenomena Islamophobia dan sentimen anti-Muslim di Barat meningkat seiring dengan aktifnya masyarakat Muslim dalam mengutuk kekerasan, radikalisme, dan terorisme.

Surat kabar The Independent Inggris dalam sebuah laporan pada 9 Oktober 2017 menulis, "Kejahatan kebencian yang menargetkan masjid-masjid di Inggris meningkat lebih dari dua kali lipat antara tahun 2016 dan 2017. Pihak kepolisian mencatat 110 kejahatan rasial yang ditujukan ke tempat-tempat ibadah Muslim antara Maret dan Juli 2017, atau naik dari 47 kasus pada periode yang sama tahun 2016."

Pelecehan rasial, tindakan vandalisme di masjid-masjid, dan ancaman bom banyak ditemukan di antara kasus kejahatan kebencian yang dilaporkan. Di antara kejahatan tersebut adalah pelemparan kaca jendela masjid-masjid, perusakan mobil yang diparkir di luar masjid, dan grafiti pelecehan, serangan fisik terhadap jemaah saat masuk/keluar dari masjid, dua kasus pembakaran, dan dua kasus pelemparan daging babi di pintu masjid.

Menteri Bayangan Dalam Negeri Inggris, Diane Abbott menyebut angka-angka itu "sangat meresahkan." Dia mengatakan, "Serangan terhadap kelompok agama atau minoritas mana pun sangat buruk. Serangan anti-Muslim ini akan dikutuk oleh semua orang baik."

Fiyaz Mughal, Direktur Faith Matters yang bekerja untuk meningkatkan kohesi masyarakat, menuturkan kepada The Independent bahwa sangat penting untuk mengakui bahwa terorisme adalah faktor pemicu di balik meningkatnya serangan terhadap masjid.

Menurutnya, perusahaan media sosial harus meningkatkan dan menerima tanggung jawab atas ujaran kebencian yang dibiarkan menyebar secara online. "Kami telah melihat peningkatan ekstremisme anti-Muslim dan aktivitas sayap kanan secara online di Inggris," ujar Fiyaz Mughal.

Berdasarkan data polisi Inggris, menyusul setiap serangan teroris, jumlah serangan terhadap masjid di Inggris juga meningkat. Dengan kata lain, kelompok takfiri dan teroris seperti Daesh – dengan aksi terornya – telah membuka jalan yang lebih efektif bagi serangan terhadap masjid-masjid dan pusat kegiatan umat Islam.

Tentu saja, dalam beberapa tahun terakhir, kaum Muslim juga berusaha untuk menyampaikan pesan hakiki ajaran Islam, yang menyerukan perdamaian, kemanusiaan, dan keadilan kepada masyarakat Barat. Pada 29 Maret 2017, masyarakat Muslim London menggelar aksi solidaritas untuk korban teror serta mengecam radikalisme dan kekerasan.

Pada 18 Maret 2017, ribuan orang turun ke jalan-jalan di London untuk memprotes meningkatnya sentimen Islamophobia, rasisme, dan gerakan anti-imigran di Inggris. Aksi ini diselenggarakan oleh kelompok kampanye Inggris, Stand Up to Racism, sebagai bagian dari rangkaian aksi unjuk rasa yang berlangsung di seluruh Eropa untuk memperingati Hari Anti-Rasisme Internasional.

Perlu dicatat bahwa kaum Muslim tidak tinggal diam dalam menanggapi meningkatnya sentimen Islamophobia. Mereka menggunakan berbagai kesempatan untuk memperkenalkan ajaran Islam murni.

Akar pemikiran radikal para teroris takfiri seperti Daesh, bersumber dari kesalahan interpretasi tentang ajaran Islam atau memang sebuah aksi sengaja yang bertujuan merusak citra Islam.

Berbeda dengan ideologi radikal kelompok-kelompok teroris, Islam adalah agama jihad melawan pemerintahan despotik dan tirani, Islam adalah agama untuk membela orang-orang yang tertindas.

Pesan Islam adalah monoteisme, kebebasan, dan keadilan. Kebangkitan Imam Husein as melawan pemerintahan Yazid juga berlandaskan pada nilai-nilai tersebut. Dia bangkit dengan tujuan menghidupkan kembali ajaran Rasulullah Saw yang telah diselewengkan.

Saat ini Islam dan masyarakat Muslim juga sedang menghadapi fenomena radikalisme dan kekerasan. Para radikalis dan teroris telah merusak citra Islam dengan cara mendistorsi ajaran Islam sesuai dengan ambisi mereka.

Sayangnya, pemerintah dan media-media Barat memanfaatkan kejahatan yang dilakukan oleh kelompok teroris sebagai peluang untuk memperkenalkan Islam sebagai agama kekerasan.

Untuk melawan propaganda miring dan sentimen anti-Muslim, masyarakat Muslim di Barat memperkuat persatuan mereka dan menggelar berbagai kegiatan keagamaan demi memperkenalkan Islam yang hakiki kepada dunia.

Di Hari Asyura, hampir semua ibu kota dan kota-kota besar Eropa menyaksikan kehadiran masyarakat Muslim untuk memperingati hari duka untuk Imam Husein as. Kebangkitan Imam Husein tidak dibatasi oleh waktu dan tempat, dan pesannya adalah untuk seluruh dunia dan untuk semua periode sejarah.

Kebangkitan Imam Husein as terus dikenang sepanjang masa, karena ia membawa pesan universal bagi semua bangsa-bangsa dunia. Kebangkitan yang dilakukan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran ini, telah menjadi sumber inspirasi di sepanjang sejarah.

Seorang pakar Islam dan pemikir Kristen asal Irlandia, Chris Hewer dalam sebuah komentarnya berbicara tentang peristiwa Karbala dan keagungan pengorbanan Imam Husein.

"Jika kita ingin memahami makna Karbala, kita harus melihatnya keluar dari konteks Karbala, keluar dari konteks wilayah Irak, dan dari konteks Syiah atau Muslim, kita harus melihatnya sebagai bagian dari sejarah umat manusia. Sebagai sebuah komunitas, kita memiliki sejarah, kita bukan generasi pertama umat manusia, dan kita bisa melihat ke masa lalu dan bagaimana manusia lain menjalani kehidupannya. Kita bisa belajar dari mereka, dan cara pandang seperti ini dapat menjadi pelajaran dan peringatan bagi kita," jelasnya.

Chris Hewer menambahkan, "Pasukan lawan telah melakukan perbuatan yang mengerikan, namun dalam situasi itu, Imam Husein memberikan respon dengan cara yang indah dan mulia. Hal ini mendorong saya – sebagai seorang Kristen – juga ingin mengambil pelajaran darinya dengan mengingat peristiwa Karbala. Semua orang menerima bahwa Yazid adalah contoh dari seorang Muslim yang sangat buruk dan pemimpin yang sangat buruk. Dia secara terang-terangan melanggar perintah Allah dan secara terbuka melecehkan hukum-hukum Islam. Ini adalah krisis kepemimpinan dan di sini Anda perlu memutuskan bagaimana Anda akan merespons ketidakadilan dan tirani."

Pemikir Kristen ini lebih lanjut menuturkan, "Kita memiliki hadis Nabi (Muhammad Saw) yang memungkinkan kita untuk memahami pentingnya masalah ini. Pada satu kesempatan, beliau berkata bahwa jihad terbesar adalah mengucapkan kebenaran di hadapan seorang tiran. Ini adalah tantangan terberat bagi manusia untuk bangkit melawan seorang tiran dan tidak menyerah."

"Inilah yang terlintas dalam pikiran Husein as di Madinah, dia tahu bahwa dalam waktu singkat dia akan dihadapkan pada permintaan untuk membai'at kepada Yazid. Dia tahu bahwa Yazid sama sekali tidak layak untuk memimpin umat dan di sini sebuah peristiwa dramatis akan terjadi di tengah masyarakat Muslim. Pembunuhan cucu nabi dan sahabatnya terjadi bahkan belum 50 tahun dari wafatnya nabi," ungkapnya.

Chris Hewer mengatakan, "Malam sebelum pertempuran, Imam Husein mengumpulkan para sahabatnya dan berkata kepada mereka, 'Besok kita akan diserang, mereka hanya menginginkanku, silahkan kalian pergi dari tempat ini, tetapi para sahabat Husein menjawab, 'Kami tidak akan pergi, kami akan tetap di sini, kami akan mati bersamamu.' Di sini, kita melihat sebuah dimensi manusiawi yang besar yaitu, 'Apa yang Anda lakukan jika Anda adalah pembela orang yang jujur, mulia, dan adil yang sedang menghadapi ketidakadilan? Apakah Anda akan membelanya bahkan dengan mengorbankan hidup Anda sendiri? Atau apakah Anda lari untuk menyelamatkan diri?'" 

Senin, 21 September 2020 18:52

Islamophobia di Barat (14)

 

Islamophobia dan sentimen anti-Muslim di Eropa tidak mengenal batasan usia dan gender, siapa saja akan menjadi sasaran serangan rasial dan perlakuan diskriminatif jika ia seorang Muslim atau dari keluarga Muslim.

Praktik Islamophobia telah menjalar ke Swedia ketika sebuah sekolah TK Muslim menjadi target serangan rasis. Kepala sekolah TK Sinbad (Forskolan Sinbad) di kota Sodertalje, Osman Adem mengatakan, "Kaca-kaca jendela TK ini sudah sering pecah karena lemparan batu. Namun, ini baru pertama kali kalimat rasis terhadap Islam dan Muslim ditulis di dinding-dinding sekolah."

"Serangan terhadap kegiatan yang terkait dengan pendidikan anak-anak membuat saya sedih. Kaca jendela tempat anak-anak belajar kadang sudah pecah. Kalimat anti-Islam dan Muslim ditulis di dinding sekolah seperti, 'pergilah, tinggalkan tempat ini,'" tambahnya.

Osman Adem menjelaskan bahwa anak-anak, orang tua, dan guru merasa takut dengan serangan seperti itu. "Kami bahkan telah membuat laporan kepada polisi sejak dua tahun lalu, tetapi tidak ada perubahan sampai sekarang dan ada kemungkinan TK Sinbad akan tutup," ungkapnya.

Sejujurnya, ancaman apa yang bisa ditimbulkan bagi Eropa oleh sebuah sekolah TK? Padahal, sudah jelas bagi semua bahwa serangan teroris di Eropa tidak ada kaitannya dengan Islam dan Muslim.

Para teroris melakukan kejahatan dan teror di Eropa dan negara-negara lain di dunia dengan menggunakan nama Islam. Aksi ini sejalan dengan tujuan dan kebijakan pemerintah-pemerintah Barat. Hari ini para ekstremis Budha Myanmar melakukan kejahatan terhadap warga Muslim, dan kadang lebih sadis dari yang dilakukan para teroris takfiri.

Meski mereka melakukan kejahatan keji terhadap Muslim Rohingya, namun tidak ada yang mempertanyakan ajaran Budha, dan komunitas Budha di dunia juga tidak akan menerima serangan rasis atau perlakuan diskriminatif karena kejahatan yang dilakukan komunitas mereka di Myanmar.

Pada dasarnya, Islamophobia dan sentimen anti-Muslim adalah sebuah skenario politik jangka panjang Zionis-Amerika untuk merusak citra Islam, yang cinta damai dan penyeru keadilan. Kubu anti-Islam di Barat bisa melakukan kekerasan apapun terhadap individu Muslim dan kemudian menyalahkan ajaran Islam atas aksinya itu.

Al-Quran, hadis Rasulullah Saw, para ulama, dan kaum Muslim secara tegas menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan Daesh dan kelompok teroris takfiri lainnya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran Islam.

Barat langsung mengangkat isu terorisme jika sebuah insiden yang terjadi di wilayah mereka melibatkan seorang Muslim. Hal ini terlihat jelas dari sikap Barat dalam mereaksi penembakan mengerikan di Las Vegas. Jika pelakunya seorang Muslim, kita tidak tahu apa dilakukan Donald Trump dan kubu anti-Islam di Barat terhadap Islam dan masyarakat Muslim.

Seorang penulis Barat, Piers Morgan dalam sebuah artikel di Daily Mail Inggris, menulis, "Jika penembak ini adalah seorang Muslim, Presiden Trump akan mencapnya sebagai serangan teroris dan memanfaatkannya untuk menjustifikasi larangan perjalanannya (travel ban), dan hampir pasti memperluas larangan tersebut. Undang-undang baru yang lebih keras juga akan segera diperkenalkan untuk mencegah peristiwa serupa."

"Dia adalah pria kulit putih Amerika dengan 'gangguan mental', di mana di benaknya ingin melakukan pembunuhan dengan alasan yang mungkin kita tidak pernah tahu. Jadi, Trump akan meletakkan jarinya di telinganya dan berpura-pura itu tidak pernah terjadi sehingga dia tidak mengecewakan para tuanya di Asosiasi Senapan Nasional (NRA)," tambahnya.

Sementara itu, kolumnis Thomas Friedman dalam sebuah artikel dengan tema "If Only Stephen Paddock Were a Muslim" di The New York Times menulis, "Jika saja Stephen Paddock adalah seorang Muslim. Jika saja dia meneriakkan "Allahu Akbar" sebelum dia menembaki semua penonton konser di Las Vegas. Jika saja dia anggota Daesh. Jika saja kita memiliki foto dia berpose dengan sebuah al-Quran di satu tangan dan senapan semi otomatis di tangan lain. Jika semua itu yang terjadi, maka tidak ada yang akan memberitahu kepada kita agar tidak mencemarkan para korban dan mempolitisasi pembunuhan massal Paddock dengan membicarakan tentang upaya pencegahan."

"Tidak, tidak, tidak. Ketika itu kita tahu apa yang akan kita lakukan. Pemerintah akan menjadwalkan dengar pendapat langsung di Kongres tentang peristiwa terorisme terburuk di dunia sejak 11 September. Jika pelaku pembantaian di Las Vegas adalah Muslim, Donald Trump akan berkicau di Twitter setiap jam.' Sudah kubilang,' seperti yang dia lakukan beberapa menit setiap kali ada serangan teror di Eropa," tulis Thomas Friedman.

Menurutnya, Trump akan terus mempolitisasi hal itu. Lalu akan ada seruan segera untuk membentuk komisi investigas untuk mempertimbangkan undang-undang baru yang harus disiapkan guna memastikan hal ini tidak terjadi lagi. Kemudian, kita akan mempertimbangkan semua opsi yang akan mempersulit negara asal pelaku teror.

"Namun, apa jadinya bila pelaku teror berasal dari Amerika sendiri? Apa yang terjadi ketika si pembunuh hanyalah orang Amerika yang terganggu yang dipersenjatai dengan senjata militer, di mana ia membelinya secara legal atau memperolehnya dengan mudah karena undang-undang yang gila?" kritik Friedman.

"Kita tahu apa yang akan terjadi: Presiden dan Partai Republik mulai berusaha keras untuk memastikan bahwa tidak ada yang akan terjadi. Mereka kemudian menegaskan bahwa pembantaian akibat kebebasan kepemilikan senjata tidak boleh dipolitisasi dengan meminta seseorang, terutama mereka sendiri, untuk memikirkan kembali penentangan terhadap undang-undang senjata," tutur Friedman.

Penulis terkenal ini kemudian mengkritik sikap cuek pemerintah AS dan Kongres yang tidak memperketat undang-undang kepemilikan senjata, yang telah menyebabkan banyak orang yang tidak bersalah terbunuh. Friedman juga menyoroti Paddock yang memiliki gudang senjata, termasuk 42 senjata api, 23 di kamar hotelnya dan 19 di rumahnya, serta ribuan amunisi dan beberapa perangkat elektronik. Pemerintah AS tidak tertarik untuk mengubah undang-undang kepemilikan senjata.

"Tidak pernah ada waktu untuk membahas langkah-langkah serius untuk mengurangi kekerasan dengan senjata," ungkap Friedman.

Namun, apa yang menimpa Muslim Rohingya di Myanmar tidak begitu mendapat sorotan media-media Barat. Data menunjukkan bahwa Muslim adalah korban terbesar pembantaian dan genosida di Eropa, Afrika, dan Asia selama tiga dekade terakhir, dan mereka juga menjadi tertuduh pertama dalam setiap insiden teror di negara-negara Barat.

Warga Muslim menjadi korban terbesar kejahatan selama tiga dekade lalu dan sekaligus agama mereka dituduh sebagai penyebar kekerasan dan ekstremisme. Lalu mengapa media-media Barat bungkam terhadap pembantaian warga Muslim?

Sebaliknya, kematian seseorang di Barat oleh pelaku dengan nama Muslim langsung mendapat sorotan luas di dunia. Kasus ini langsung dikaitkan dengan seluruh kaum Muslim dan ajaran Islam.

Dapat dikatakan bahwa Islamophobia dan sentimen anti-Muslim adalah sebuah strategi jangka panjang untuk merusak citrak Islam dan memajukan kepentingan imperialisme Barat di negara-negara Muslim. 

Senin, 21 September 2020 18:51

Islamophobia di Barat (13)

 

Salah satu tokoh anti-Islam yang terkenal di Barat adalah Ketua Partai Kebebasan Belanda, Geert Wilders. Dalam wawancara terbaru dengan surat kabar Inggris, Daily Telegraph ia menyebut Islam bukan agama, tapi ideologi berbahaya yang menganjurkan kekerasan. Tokoh anti-Islam Belanda ini ingin menghapus Islam dari lingkup kebebasan beragama.

Konstitusi Belanda sangat menekankan kebebasan beragama. Sebelumnya Geert Wilders berjanji jika berkuasa ia akan menutup masjid-masjid, melarang pengajaran Al Quran dan mencabut izin tinggal imigran di Belanda.

Partai Kebebasan Belanda pada pemilu parlemen bulan Maret 2017 berhasil merebut 20 kursi dari total 150 kursi parlemen negara itu dan berada di peringkat kedua partai terbesar di parlemen Belanda.

Ini adalah kemenangan signifikan bagi Partai Kebebasan Belanda yang anti-Islam itu. Salah satu protes keras yang ditujukan kepada negara-negara Barat adalah pembatasan-pembatasan terhadap umat Islam, karena ini merupakan pelanggaran aturan kebebasan beragama yang ditegaskan dalam undang-undang negara Eropa.

Kebebasan beragama merupakan salah satu nilai terpenting di Uni Eropa, namun pemerintah negara-negara Eropa dalam praktiknya melanggar undang-undang ini dalam perlakuan mereka terhadap Muslim.

Geert Wilders sebagai ketua partai sayap kanan ekstrem Belanda jelas sedang berusaha menerapkan kebijakan anti-Islam di negaranya. Ia bahkan sempat beberapa kali berurusan dengan pengadilan karena perilaku anti-Islamnya itu dan dijatuhi hukuman. Akan tetapi pemerintah Belanda menjustifikasi beberapa penghinaan Wilders terhadap Islam sebagai bentuk kebebasan berpendapat.

Salah satu aksi anti-Islam paling parah yang dilakukan Geert Wilders adalah pembuatan film pendek berjudul Fitna. Bagian awal film ini menampilkan pembacaan ayat Al Quran disusul dengan cuplikan insiden serangan 11 September di Amerika Serikat. Film berdurasi 15 menit ini dibuat tahun 2008 dan menyebut Islam sebagai musuh kebebasan.

Pemerintah Belanda mereaksi protes negara-negara Muslim terkait pembuatan dan penayangan film menghina Islam ini dengan mengklaim sebagai bentuk komitmennya pada kebebasan berpendapat di Belanda yang sama sekali bertentangan dengan film Wilders tersebut, dan tidak berusaha mencegah penayangan film itu.

Standar ganda yang diterapkan pemerintah dan media Barat dalam membela kebebasan beragama adalah dengan menciptakan berbagai jenis pembatasan untuk umat Islam. Dalam dua dekade terakhir pemerintah negara-negara Eropa dengan berbagai dalih seperti perang melawan ekstremisme atau runtuhnya nilai-nilai sekuler, menerapkan sejumlah banyak pembatasan terhadap umat Islam dalam menjalankan ajaran agamanya.

Perancis adalah salah satu negara yang terdepan dalam masalah ini. Perancis adalah negara Barat pertama yang melarang murid-murid sekolah perempuan Muslim berhijab di sekolah. Perancis yang mengaku sebagai pelopor demokrasi dan kebebasan di dunia adalah negara pertama yang menerapkan pembatasan-pembatasan agama bagi umat Islam.

Di sisi lain umat Yahudi yang kencang berbicara soal pelanggaran hak mereka di media-media Barat, bebas menjalankan ajaran agamannya termasuk mengenakan pakaian khusus. Standar ganda semacam ini ditimbulkan oleh upaya pemerintah negara-negara Barat untuk menampilkan ajaran Islam sebagai ajaran ekstrem.

Diskriminasi terhadap umat Islam bukan bersumber dari ketidaktahuan para politisi dan media Barat. Statemen-statemen para politisi Barat dalam beberapa tahun kebelakang yang membedakan ajaran Islam dengan kesimpulan keliru dan ekstrem kelompok-kelompok Takfiri serta teroris tentang ajaran Islam, adalah bukti bahwa mereka mengetahui dengan baik ajaran Islam hakiki menganjurkan perdamaian dan keadilan.

Sampainya para teroris Takfiri dari negara-negara dilanda perang di Timur Tengah ke kota-kota Eropa, memaksa para politisi Barat, dalam retorika bukan praktik, membedakan Islam hakiki dengan Islam yang disimpangkan oleh kelompok Takfiri dan teroris. Sebagian pemerintah dan media Barat yang secara sadar berusaha menampilkan Islam sebagai agama ekstrem dan penganjur kekerasan, bersikeras mempertahankan kebijakan anti-Islam mereka di Eropa dan di luar benua ini.

Pembatasan-pembatasan yang diterapkan terhadap umat Islam di Eropa didasari oleh sejumlah alasan yang dibuat-buat. Di Swiss pelarangan pembangunan menara masjid yang merupakan salah satu ciri khas arsitektur Islam, bahkan sampai ke tingkat referendum dan akhirnya disahkan.

Di banyak negara Eropa, pembangunan masjid dan tempat aktivitas umat Islam dilarang. Oleh karena itu banyak umat Islam terpaksa menggunakan tempat parkir untuk melaksanakan shalat jamaah.

Di banyak negara Eropa, berbagai pembatasan terhadap perempuan Muslim untuk mengenakan hijab di tempat umum telah diundang-undangkan. Partai-partai politik sayap kanan ekstrem dan anti-Islam di Eropa sedang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat sekarang.

Pertumbuhan tersebut diduga sebagai akibat dari kebijakan dan peraturan anti-Islam yang diterapkan di negara-negara Eropa dalam beberapa dekade terakhir. Islamofobia merupakan salah satu ciri khas bersama seluruh partai kanan ekstrem di Eropa. Selama para imigran yang membanjiri Eropa berasal dari negara-negara Muslim di Timur Tengah dan Afrika Utara, maka selama itu pula anti imigran dan anti Islam akan tetap menyebar luas.

Partai-partai ekstrem kanan Eropa tidak ingin melakukan pembedaan dalam masalah ini, karena dengan begitu mereka akan mendapat protes lebih kecil dari lembaga-lembaga pembela hak asasi manusia dan lebih mudah menyerang umat Islam dengan dalih anti imigran.

Partai sayap kanan ekstrem dan anti imigran Jerman, Alternative for Germany terhitung sebagai partai ekstrem kanan baru di Eropa yang berhasil meraih kemenangan besar di pemilu Jerman. Partai Alternative for Germany pada September 2018 meraih kemenangan dalam pemilu dengan menduduki 89 kursi parlemen.

Ini adalah untuk pertama kalinya sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua sebuah partai berideologi sayap kanan ekstrem berhasil masuk parlemen Jerman. Setelah kemenangan ini, kita mungkin akan menyaksikan fenomena meluasnya sentimen anti imigran dan anti Islam di Jerman. Secara umum di Eropa angka gangguan terhadap perempuan berhijab di Eropa terus mengalami peningkatan.

Lembaga yang mengurusi hak fundamental di Uni Eropa, Fundamental Rights Agency, FRA dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukannya terhadap 10.527 Muslim dari 15 negara Eropa mengumumkan, 53 persen umat Islam Eropa berhadapan dengan rasisme dan mengalami kesulitan mencari tempat tinggal dan 39 persen dari mereka kesulitan mendapat pekerjaan karena pakaian yang mereka kenakan.

Dari semua, 39 persennya adalah perempuan. 94 persen perempuan Muslim yang menjadi responden jajak pendapat ini mengaku selalu diganggu dan dilecehkan secara verbal maupun fisik karena mengenakan hijab. 31 persen mendapat serangan verbal, 39 persen dengan tindakan dan 22 persen mendapat kata-kata tidak pantas.

Berdasarkan informasi sebuah pusat analisa media sosial di Inggris, pasca serangan teror terbaru di Eropa, penggunaan kata-kata kasar terhadap Islam dan Muslim di media sosial Twitter mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Senin, 21 September 2020 18:50

Islamophobia di Barat (12)

 

Di kota Munster, Jerman pada 11-12 September 2017 dihelat dialog internasional antaragama bertema "Avenues of Peace. Religions and cultures in a dialogue" atau jalan damai, dialog agama dan budaya. Dialog itu dihadiri oleh sekitar 3000 orang dari berbagai negara.

Dialog antaragama diyakini sebagai salah satu metode efektif untuk mengenalkan agama dan menyelesaikan masalah serta menekankan persamaan di antara masyarakat, di dunia yang penuh dengan turbulensi dan kegaduhan ini. Karena semua ajaran agama mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan.

Baik dan buruk adalah dua kata kunci dalam setiap agama. Hampir seluruh agama Ibrahimik dan non-Ibrahimik memiliki pandangan yang sama tentang hal ini. Akan tetapi masing-masing agama, dengan memperhatikan ajaran-ajarannya, memiliki banyak cara untuk menyampaikan kebaikan dan keburukan, dan mengajak para pengikutnya untuk berbuat baik dan menjauhi keburukan.

Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir dan utusan Allah Swt di muka bumi, dan kitab suci sebelum Islam juga sudah mengabarkan tentang kedatangan seorang nabi bernama Muhammad. Kenyataannya, Nabi Muhammad Saw mengajak umat manusia ke agama sempurna yaitu Islam, dan Islam adalah penyempurna seluruh agama langit.

Allah Swt mengutus para nabi kepada manusia untuk membimbing dan menyeru mereka untuk berbuat kebaikan, dan menyampaikan bahwa kehidupan manusia tidak hanya terbatas di dunia semata, tapi akan hidup abadi di alam lain. Kedudukan manusia di alam sana tergantung pada perbuatannya di dunia ini.

Para nabi diangkat dengan tujuan yang sama, dan dengan memperhatikan kapasitas yang dimiliki manusia di masanya, mereka menyampaikan pesan Ilahi. Nabi Muhammad Saw adalah penyempurna ajaran nabi-nabi sebelumnya. Dalam kesempatan ini, kami tidak bermaksud berbicara tentang kebenaran satu agama tertentu, tapi mengenalkan secara umum ajaran Islam dan agama lain.

Tidak ada satu agamapun yang mengajak kepada ekstremisme dan kekerasan serta memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Jika ada orang yang mengajak kepada ekstremisme dan kekerasan dengan bersandar pada sebagian ajaran agama, maka sebenarnya ia hanya ingin melegitimasi pemikiran dan perbuatannya yang menyimpang di hadapan para pengikut agama tersebut.

Oleh sebab itu, karena pemahaman-pemahaman yang keliru dari sebagian orang ekstrem dari ajaran agama tertentu, maka mereka menyerang agamanya sendiri dan menciptakan ketakutan bagi orang lain.

Namun di sini ada pengecualian dan itu terkait dengan Islam. Kata Islamofobia adalah istilah yang banyak di gunakan dalam terminologi media dan politik Barat. Tidak ada satu agamapun selain Islam yang mendapat predikat menakutkan semacam ini. Jelas ada tendensi-tendensi politik besar di balik munculnya istilah Islamofobia.

Islamofobia adalah sebuah istilah yang merujuk pada ketakutan, prasangka dan diskriminasi tidak rasional terhadap Islam dan Muslim. Istilah Islamofobia mengandung arti bahwa Dunia Islam secara umum dan Muslim yang tinggal di negara-negara Barat secara khusus, dianggap sebagai sumber ancaman dan bahaya bagi masyarakat, budaya dan peradaban Barat.

Pendeknya, Islamofobia berarti bahwa Islam sama sekali tidak punya kesamaan dengan agama dan budaya lain. Ia adalah sebuah agama kekerasan, jumud dan tidak adil, pada saat yang sama, peradaban Islam dibandingkan peradaban Barat dianggap lebih rendah dan lebih pantas disebut sebagai ideologi politik daripada agama.

Oleh karena itu, umat Islam selalu dianggap mengancam nilai-nilai nasionalisme dan budaya Barat. Pemerintah dan media Barat menggunakan konsep-konsep keadilan dan perdamaian sebagai dasar untuk menjustifikasi dan menyebarluaskan keyakinan serta pemikiran kelirunya ini.

Mereka mengumumkan kepada masyarakat dunia bahwa Islam melakukan tindakan kekerasan dan kejahatan sebagaimana yang dilakukan kelompok teroris Takfiri semacam Daesh. Padahal mereka punya agenda besar dengan menciptakan istilah Islamofobia di tengah masyarakat Barat dan dunia.

Namun disesalkan, dialog-dialog antaragama yang diselenggarakan di sejumlah negara Barat ternyata tidak menjadi momen untuk bertukar pikiran dan pendapat, serta menyingkirkan prasangka-prasangka serta pandangan keliru tentang agama, tapi lebih merupakan ajang untuk menyebarluaskan keyakinan keliru para pejabat pemerintah Barat terkait Islam kepada para pengikut agama lain.

Dialog agama di Munster, Jerman termasuk di antaranya. Pembicara pada acara pembukaan dialog ini adalah Kanselir Jerman, Angela Merkel dan Presiden Parlemen Eropa, Antonio Tajani.

Merkel dalam pidatonya mengajak perwakilan agama-agama dan gereja untuk melawan dominasi agama oleh kelompok-kelompok yang memusuhi kemanusiaan. Merkel menuturkan, agama adalah penjamin terwujudnya perdamaian, oleh karena itu tidak ada alasan untuk membenarkan perang dan kekerasan atas nama salah satu agama.

Di saat yang sama, Kanselir Jerman dalam pidatonya sama sekali tidak menyinggung peran Barat dalam menumbuhkan ekstremisme dan terorisme di dunia. Realitasnya, sebagian besar gerakan ekstrem di dunia ini berusaha melegitimasi kejahatannya dengan bersandar pada agama.

Akan tetapi gerakan-gerakan ekstrem ini tidak lahir begitu saja. Ada pihak di balik munculnya gerakan-gerakan ekstrem dan teror yang sama sekali bertentangan dengan klaimnya sebagai perisai kemanusiaan, mereka tidak pernah mematuhi prinsip moral, kemanusiaan dan aturan internasional.

Instabilitas dan ketidakamanan yang melanda banyak negara Muslim adalah buah dari kebijakan negara-negara Barat. Barat memainkan peran asli dalam merusak citra Islam dan menyebarluaskan propaganda Islam sebagai agama yang mendukung ekstremisme dan kekerasan. Saat Muslim menjadi korban ekstremisme dan kekerasan, mereka dengan mudah menutup mata dan mengabaikannya.

Namun ketika menyaksikan kejahatan Daesh dan Al Qaeda yang dilakukan atas nama Islam, maka mereka akan meliput dan memberitakannya besar-besaran di seluruh penjuru dunia. Reaksi negara-negara Barat atas pembunuhan massal Muslim Rohingya di Myanmar adalah bukti nyata standar ganda yang diterapkan pemerintah Barat dan medianya.

Kebisuan pemerintah dan media arus utama Barat menyaksikan kejahatan kemanusiaan terhadap orang-orang lemah, tertindas, tanpa perlindungan dan rumah-rumahnya dibakar di Myanmar, pemerkosaan gadis-gadis Muslim Rohingya dan pembunuhan anak-anak, penyaliban kaum laki-lakinya dan pembakaran hidup-hidup mereka serta pemutusan hak warga negara kaum Rohingya, menggambarkan dengan jelas praktik standar ganda Barat terhadap genosida, apartheid, ekstremisme dan terorisme.

Negara-negara Barat tidak mau bahkan hanya untuk sekadar memprotes dan meminta Aung San Suu Kyi, si pemenang Nobel perdamaian itu untuk menghentikan pembunuhan terhadap Muslim Rohingya.

Apakah jika bukan Muslim Rohingya yang dibunuh tapi Kristen atau Yahudi, Barat akan bersikap seperti ini ? Apakah mereka akan tetap memberikan hadiah Nobel perdamaian kepada Suu Kyi ?.

Senin, 21 September 2020 18:48

Islamophobia di Barat (11)

 

Masyarakat Muslim di semua negara dunia – baik sebagai mayoritas ataupun minoritas – menjalani kehidupan yang damai di samping para pengikut agama lain. Kehidupan damai dan ramah ini masih dipertahankan sampai sekarang di kebanyakan negara dunia.

Namun, gelombang Islamophobia yang muncul di negara-negara Barat dalam dua dekade terakhir, telah menyebar luas ke berbagai belahan dunia. Amerika Serikat dan Inggris serta sebagian negara Barat lainnya melakukan banyak upaya untuk memperkenalkan Islam sebagai ajaran ekstrem dan sponsor kekerasan.

Barat mengkampanyekan Islamophobia dan menjalankan kebijakan anti-Islam untuk menjustifikasi kebijakan ilegal mereka di negara-negara Muslim. Blok Barat – pasca runtuhnya Uni Soviet – merasa perlu menciptakan sebuah musuh baru untuk memajukan kepentingan jangka panjangnya di dunia Islam. Untuk itu mereka menjalankan kebijakan Islamophobia untuk mencapai tujuannya.

Kebijakan ini membawa dampak negatif bagi kehidupan warga Muslim di berbagai negara, terlebih jika mereka tergolong minoritas. Hari ini warga Rohingya di Myanmar terus dibunuh hanya karena status mereka Muslim. Jika minoritas Rohingya beragama lain selain Islam, tentu pemerintah Barat dan lembaga-lembaga HAM dunia akan memperlihatkan reaksi yang berbeda.

Dalam kasus terbaru, sejumlah negara dunia menyampaikan rasa simpati atas genosida dan pengusiran puluhan ribu Muslim Rohingya di Myanmar, tetapi mereka tidak mengambil tindakan praktis selain ungkapan simpati. Negara-negara Barat dan lembaga internasional tidak mengambil langkah nyata terhadap pemerintah Myanmar dan secara khusus pejabat tinggi negara itu, Aung San Suu Kyi.

Bahkan sebagian pejabat Barat dalam pertemuannya dengan Suu Kyi, berusaha mengesankan pembunuhan warga Muslim Rohingya di Myanmar sebagai kesalahan mereka sendiri.

Perdana Menteri India, Narendra Modi dalam pertemuannya dengan Suu Kyi di Naypyidaw, mendukung sikap pemerintah Myanmar dalam berurusan dengan warga Muslim Rohingya. Myanmar mengklaim bahwa aksi represif terhadap minoritas Rohingya dipicu oleh serangan gerilyawan Rohingya.

Penyerangan oleh militer Myanmar pada Agustus 2017 merupakan satu dari tiga pembantaian terbesar yang dilakukan pemerintah Naypyidaw terhadap etnis Rohingya sejak 2012 dan 2016.

Menurut data resmi pemerintah yang dirilis pada September 2017, jumlah korban tewas dalam serangan itu hanya 400 jiwa. Namun, data tidak resmi mencatat jumlah korban mencapai lebih dari beberapa ribu orang. Beberapa laporan menyatakan militer Myanmar membakar mayat Muslim Rohingya untuk menghapus jejak kejahatan mereka.

Muslim Rohingya – karena tidak memiliki kartu identitas dan kewarganegaraan – tidak dapat mengajukan tuntutan apapun atas kematian saudaranya. Pemerintah Myanmar tidak mengakui minoritas Muslim ini sebagai warganya, dan dalam praktiknya, minoritas Muslim Rohingya tidak menikmati hak-hak sebagai warga negara.

Umat Budha Myanmar menganggap Muslim sebagai orang asing. Mereka menganggap segala perilaku yang tidak manusiawi dan diskriminatif dengan Muslim sebagai tindakan yang sah.

Tidak ada data akurat tentang populasi Muslim di Myanmar, tapi jumlah mereka diperkirakan mencapai 1,1 juta orang. Hampir semua Muslim Rohingya tinggal di Provinsi Rakhine, barat Myanmar. Rakhine adalah salah satu daerah yang paling miskin di Myanmar, dan sebagian besar Muslim Rohingya tinggal di kamp-kamp. Mereka dilarang meninggalkan Rakhine jika tanpa izin dari pemerintah pusat.

Berdasarkan dokumen sejarah, Muslim Rohingya telah menetap di Myanmar sejak abad ke-12 Masehi. Etnis Muslim Rohingya beremigrasi ke negara yang dikenal sekarang sebagai Myanmar untuk mencari pekerjaan sekitar 100 tahun lalu antara tahun 1824 sampai 1948. Migrasi ini terjadi selama era kolonialisme Inggris di anak bedua India.

Pada masa itu, Myanmar (Burma) adalah salah satu dari provinsi India di bawah yurisdiksi Inggris, dan migrasi Muslim Rohingya dianggap sebagai sebuah eksodus dalam negeri.

Pada 1947, Myanmar memperoleh kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Inggris. Sentimen anti-Muslim sudah berkembang luas di tengah masyarakat Budha di negara tersebut.

Setelah merdeka, sebagian besar Muslim tidak bisa memperoleh kewarganegaraan Myanmar, dan pemerintah Naypyidaw menganggap migrasi mereka dari India dan Bangladesh – selama era kolonialisme Inggris – sebagai praktik ilegal.

Muslim Rohingya pada awalnya diberikan kartu identitas dan bahkan kewarganegaraan, serta beberapa dari mereka menjadi anggota parlemen, namun kudeta militer pada 1962 telah mengubah segalanya. Ketika itu, semua warga negara diharuskan memiliki kartu tanda pengenal nasional, sementara warga Rohingya hanya diberikan kartu identitas dengan status warga asing.

Dalam beberapa tahun terakhir, kampanye Islamophobia dan sentimen anti-Muslim berkembang luas di tengah ekstresmis Budha Myanmar. Mereka telah mengintensifkan serangan rasial dan kekerasan terhadap etnis Muslim Rohingya lebih dari sebelumnya.

Tragisnya, genosida Muslim Rohingya di Myanmar secara resmi melibatkan pemerintah. Sebelum ini, militer Myanmar hanya memantau tindakan kekerasan ekstresmis Budha terhadap Muslim. Sekarang militer terjun langsung memimpin operasi dengan alasan melawan kelompok gerilyawan Muslim di Rakhine.

Warga Rakhine yang tiba di perbatasan atau Bangladesh mengatakan bahwa tentara Myanmar membakar rumah-rumah mereka dan tidak segan-segan untuk membunuh mereka.

Menurut laporan Human Rights Watch (HRW), citra satelit yang diambil dari desa-desa milik minoritas Rohingya menunjukkan volume kerusakan dan pembakaran sekitar 99%.

Surat kabar The Guardian menulis, ribuan warga Rakhine menderita kelaparan dan terjebak di perbatasan Myanmar dan Bangladesh. Mereka bahkan tidak memiliki kebutuhan dasar seperti obat-obatan dan air minum.

Banyak pihak mengira bahwa diskriminasi dan kekerasan rasial terhadap Muslim Rohingya akan berakhir dengan berakhirnya kekuasaan militer di Myanmar dan dengan berkuasanya Suu Kyi, pemegang Hadiah Nobel Perdamaian. Tetapi bukan hanya ini yang tidak terjadi, Muslim Rohingya justru menghadapi pengusiran lebih parah lagi oleh militer Myanmar.

Suu Kyi tidak menanggapi kritik terkait sikap diamnya dalam menyaksikan genosida Muslim Rohingya, tetapi malah menuduh pekerja bantuan internasional bekerja sama dengan teroris di negaranya. Dengan alasan ini, pemerintah Myanmar melarang badan-badan PBB untuk mengirimkan bantuan kepada ribuan Muslim Rohingya.

Sebenarnya, media dan negara-negara Muslim telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah pembantaian dan pengusiran Muslim di Myanmar. Namun, selama tidak ada tekad serius internasional untuk menekan pemerintah Myanmar, maka Naypyidaw mustahil akan menghentikan tindakan kejinya terhadap warga Muslim.

PBB telah memberikan peringatan tentang memburuknya kondisi Muslim Rohingya, tetapi tidak ada indikasi bahwa negara-negara Barat pendukung Suu Kyi, akan akan menekan pemerintah Myanmar. 

Senin, 21 September 2020 17:51

Mengenal Populasi Muslim Dunia (03)

 

Berbagai kalangan memprediksikan bahwa pada sepuluh tahun mendatang, Eropa harus membenahi kembali identitasnya dan menerima agama Islam dengan ajarannya yang mulia dan peradaban yang besar sebagai bagian dari budaya yang tak terpisahkan dari Eropa. Prediksi ini mengemuka sejalan dengan pertumbuhan warga Muslim di benua ini. Memang sejauh ini belum ada data yang pasti mengenai poplasi jumlah warga Muslim mengingat tidak pernah ada upaya lembaga-lembaga resmi untuk mendatanya. Tahun 2010, sebuah koran Jerman menerbitkan laporan mengenai populasi warga Muslim Eropa yang diklaimnya mencapai 15 juta jiwa atau 3,3 persen dari total 455 juta penduduk benua ini.

Dari seluruh negara Eropa Barat, Jerman, Perancis, Austria dan Belanda dal;ah Negara dengan warga muslim terbanyak. Empat persen warga Jerman atau 3,2 juta jiwa beragama Islam. Angka ini sekaligus menempatkan warga Muslim sebagai minoritas terbesar di Jerman. Dari jumlah itu, 2,4 juta jiwa berasal dari etnis Turki sementara sisanya adalah imigran asal bekas Yugoslavia, Arab dan Iran. Di Inggris dengan populasi warga sebesar 60 juta jiwa, dua juta tercatat sebagai warga Muslim atau 3 persen dari total penduduk negara itu. Kebanyakan mereka berasal dari negara bekas jajahan Britania khususnya Pakistan dan Bangladesh. Di Perancis dengan pendudukan 60 juta jiwa, enam juta jiwa beragama Islam yang umumnya pendatang. Populasi warga Muslim Perancis didominasi oleh keturunan Turki.

Belanda, negara dengan penduduk 16 juta jiwa, 900 ribu warganya beragama Islam. di Austria, 340 ribu warga Muslim tercatat sebagai bagian dari masyarakat negara itu dengan total penduduknya yang berjumlah 8,1 juta jiwa. Warga muslim Austria umumnya datang dari Bosnia, diikuti oleh pendatang dari Turki, dan imigran dari negara-negara Muslim lainnya. Di Belgia dengan penduduknya yang berjumlah 10,3 juta jiwa, 380 ribu orang atau 3,7 persen beragama Islam yang kebanyakan datang dari Maroko dan Turki. Sementara itu, 70 persen warga Albania yang berjumlah 3,1 juta jiwa beragama Islam. Di Bosnia Herzegovina, 1,5 juta warga dari total 5,4 juta jiwa adalah warga Muslim. Di Denmark dengan penduduknya sebanyak lima juta jiwa, lima persen warganya beragama Islam. Di Italia, jumlah warga Muslim mencapai 850 ribu jiwa atau setara dengan 1,4 persen penduduk. Di Spanyol yang mengakui Islam sebagai salah satu agama resmi, terdapat sekitar satu juta warga yang beragama Islam. Jumlah ini kurang lebih sama dengan 2,5 persen dari total penduduk di negara itu. Di Swedia jumlah warga Muslim mencapai 300 ribu jiwa dari sembilan juta penduduknya yang mayoritas beragama Kristen.

Beberapa waktu lalu, The Guardian menurunkan laporan dari Pusat Riset Piu di Eropa tentang pertumbuhan populasi warga Muslim yang sangat signifikan. Diprediksikan bahwa dalam 20 tahun ke depan, populasi warga Muslim di Inggris akan mengalami pertumbuhan yang paling tinggi di Eropa. Pusat riset lainnya di eropa bahkan menyebutkan angka yang jauh lebih tinggi. para pakar strategis Barat sebelumnya sudah memperingatkan akan terbentuknya komunitas Eropa Muslim pada tahun 2050. Faktor yang melahirkan fenomena ini adalah peningkatan imigrasi Muslim ke Eropa yang meningkat tajam disertai dengan kelahiran anak Muslim yang tinggi, dan di sisi lain menurunnya populasi warga pribumi di negara-negara Eropa. Apalagi, kepercayaan agama di tengah komunitas warga Eropa terhadap agama mereka juga semakin menurun.

Riset yang dilakukan oleh lembaga penelitian Kristen menunjukkan bahwa penurunan partisipasi warga Kristen dalam acara-acara ritual keagamaan di gereja. Riset ini menyebutkan bahwa di Inggris, hanya 6,3 persen warga Kristen yang setiap minggunya datang ke gereja untuk menghadiri acara keagamaan. Disebutkan pula bahwa dalam 15 tahun terakhir sekitar empat ribu gereja tepaksa ditutup dan dijual atau dialihfungsikan karena sepi pengunjung. Sebagian kalangan memprediksikan bahwa dalam beberapa tahun mendatang jumlah orang Kristen di Eropa yang beralih agama dan memeluk agam Islam akan mengalami peningkatan yang signifikan. Contohnya di Glasco, ada sekitar 200 orang yang asalnya beragama Kristen beralih ke agama Islam. 

Para pemerhati mengatakan bahwa loyalitas warga Muslim di Eropa dan ketaatannya dalam menjalankan ritual keagamaan jauh lebih besar dibanding warga Kristen. Mereka rajin pergi ke masjid dan getol memedalam pengetahuan akan agama mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, generasi muda Muslim di Eropa justeru nampak lebih taat dalam beragama ketimbang orang tua mereka. Fenomena ini ditanggapi dengan sinis oleh sejumlah kalangan sehingga memunculkan isu yang menyebutkan tentang Eropa Islam. Isu inilah yang disinggung oleh Bernard Louis, salah seorang pakar budaya Barat dalam suratnya kepada Pemimpin umat Katolik dunia Paus Benediktus XVI. Dalam surat yang dikirin tahun lalu itu, Louis memperingatkan Paus akan kemungkinan jatuhnya Eropa ke tangan umat Islam di masa mendatang.

Pusat penelitian Piu dalam sebuah laporannya menyinggung soal penurunan polulasi warga Eropa seraya menambahkan bahwa pada tahun 2048, Perancis akan menjadi negara Republik Islam karena pertumbuhan populasi Muslim yang pesat yang di sana. Kondisi yang sama bakal dialamai Jerman pada sekitar tahun 2050. Koran Inggris The Guardian dalam laporannya menyebutkan bahwa bahaya yang lebih besar justeru muncul karena tidak adanya tindakan yang semestinya di Eropa terhadap warga Muslim khususnya di Inggris. Guardian menambahkan, diprediksikan bahwa pertumbuhan populasi warga Muslim bakal terjadi lebih pesat di Eropa barat dan utara.

Kenyataan bahwa Islam adalah agama yang sejalan dengan fitrah manusia sering diabaikan. Padahal faktor itulah yang menjadi pemicu ketertarikan banyak orang kepada agama ini. Alih-alih membuka mata dan menerima kenyataan yang ada, para penguasa rezim-rezim Eropa justeru mem,andang perkembangan Islam dan pertumbuhan jumlah warga Muslim di Eropa sebagai ancaman. Dengan memutarbalikkan fakta dan mengesankan Islam sebagai agama kekerasan dan anti damai, para pemimpin Eropa berusaha menjauhkan warganya dari Islam. Akibatnya propaganda Islamphobia gencar dilakukan oleh rezim-rezim itu. Seiring dengan itu, kubu nasionalis ekstrim di Eropa sengaja membesar-besarkan jumlah populasi umat Islam untuk mengesankannya sebagai ancaman besar bagi masyarakat Eropa. Padahal, jika dilihat dari prinsip demokrasi yang diagung-agungkan oleh Barat, seharusnya warga Muslim berhak hidup damai di kawasan itu.

Alhasil, seperti ditulis oleh The Guardian, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 populasi warga Muslim di sembilan negara Eropa termasuk Perancis, Rusia dan Belgia akan meningkat menjadi lebih dari 10 persen. Hal ini menunjukkan bahwa untuk sepuluh tahun mendatang, Eropa sudah harus mempersiapkan diri mengubah identitasnya dan menerima Islam sebagai bagian dari peradaban Eropa. 

Senin, 21 September 2020 17:42

Mengenal Populasi Muslim Dunia (02)

 

Imigrasi orang Islam ke Amerika terjadi secara bertahap. Pada abad 19, kelompok-kelompok Muslim didatangkan ke Amerika untuk menggarap pekerjaan-pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang keturunan Eropa. Setelah berakhinya perang saudara di Negara itu dan sebelum pecahnya Perang Dunia I, pemerintah Amerika mendatangkan orang-orang Arab dari Suriah, Lebanon, Jordania dan Palestina untuk bekerja di sana. Mereka umumnya beragama Kristen namun ada pula kelompok Muslim di antara mereka, meliputi Muslim Sunni, Syiah, Alawi dan Druz.

Setelah berakhirnya Perang Dunia I yang disusul dengan runtuhnya imperium Utsmani terjadi gelombang kedua imigrasi orang Islam ke Amerika. Mereka umumnya berasal dari negara-negara yang dulunya berada di bawah kendali pemerintahan Utsmani. Pemetaan kependudukan berdasarkan etnik dalam undang-undang keimigrasian Amerika yang di awal abad 20 lebih banyak diperuntukkan bagi warga Eropa, jumlah imigran Muslim di Amerika masih sangat terbatas.

Gelombang ketiga imigrasi dimulai pada trahun 1930. Saat itu, berdasarkan undang-undang keimigrasian Amerika warga Muslim berhak untuk mengundang sanak keluarganya berhijrah ke Amerika. gelombang keempat imigrasi terjadi pasca Perang Dunia II dan berlanjut sampai dekade 1960. Kebanyakan mereka yang berhijrah ke Amerika pada periode ini adalah pedagang,  mahasiswa, dan teknisi di berbagai bidang. Mereka memilih berhijrah ke AS karena faktor ekonomi, budaya, pendidikan, dan sosial. Dengan adanya perubahan mendasar pada undang-undang keimigrasian di Amerika pada tahun 1965, pemerintah setempat menghapuskan pemetaan imigrasi berdasarkan etnis dan kebangsaan untuk digantikan dengan keahlian dan unsur ekonomi. Undang-undang ini kembali membuka peluang bagi sebagian warga Muslim untuk berpindah ke Amerika. 

Gelombang kelima imigrasi berbarengan dengan terjadinya transformasi di tingkat global, kemelut di sejumlah negara Islam dan keterbatasan yang didapat di benua Amerika. Imigrasi gelombang, umumnya terjadi dengan tujuan wilayah Amerika utara dan Amerika Serikat. Imigran Muslim terbanyak pada periode ini berasal dari Pakistan, Bangladesh, Afghanistan, Iran, Indonesia, Malaysia, India, negara Arab, Palestina, Turki dan Afrika utara. Imigran Muslim ke Amerika semakin meningkat karena dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya perang Arab-Israel yang terjadi pada tahun 1967 dan 1973, perang saudara di Lebanon pada dekade 1970-80, dan pendudukan negara-negara Islam seperti Afghanistan yang dijajah oleh Uni Soviet. Transformasi lain yang berpengaruh adalah serangan Israel ke Lebanon, dua perang yang terjadi di Irak, kemerdekaan negara-negara Kaukasus dari Uni Soviet, dan pergolakan politik di wilayah utara Afrika.

Setengah abad yang lalu, para sosiolog dan pakar ilmu politik di Dunia Barat tak pernah menduga bahwa Islam di kemudian hari bakal menjadi satu kekuatan besar dalam tatanan internasional. Sebab, sampai saat itu, pengaruh umat Islam dalam percaturan politik, ekonomi, budaya dan regional sangat kecil. Di Amerika utara dan Amerika Serikat, komunitas Muslim dan aktivitas mereka tak pernah dipertimbangkan. Namun sejak tiga dekade silam, tepatnya setelah kemenangan revolusi Islam di Iran, semua prediksi dan peta kekuatan mendadak berubah. Islam kini menjadi satu kekuatan besar yang diperhitungkan oleh semua pihak dalam percaturan internasional.

Sejauh ini belum ada data akurat tentang populasi Muslim di Amerika. Sebab sensus kependudukan di negara itu yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali tidak menyertakan madzhab dan agama dalam pendataan. Karenanya, jumlah warga Muslim di negara tidak lebih dari perkiraan saja. Dalam datanya, pemerintah AS menyatakan bahwa sejak kemerdekaan Amerika sampai tahun 1965 jumlah imigran Muslim yang datang ke negara ini sangat kecil dibanding imigran dari negara-negara dan masyarakat non-Muslim. Ditambahkan bahwa jumlah imigran Muslim yang datang ke Amerika antara tahun 1820 sampai 1965 tercatat sebanyak 520 ribu orang yang kebanyakannya berasal dari kawasan Balkan di Eropa, Turki, India, Pakistan, dan Bangladesh.

Sementara itu, dari tahun 1966 sampai tahun 1980, imigran yang datang ke Amerika dari negara-negara Muslim meningkat hingga 800 ribu orang. Meski mayoritas mereka beragama Islam namun sebagian menganut agama lain seperti Kristen dan Yahudi. Jumlah imigran dari negara-negara Muslim kembali menunjukkan peningkatan mencapai 920 ribu jiwa pada dekade 1980 dan lebih dari satu juta jiwa antara tahun 1990 sampai 1997. Dengan penjelasan tadi, berarti jumlah imigran dari negara-negara Muslim yang datang ke AS antara tahun 1820 sapai 1997 mencapai total 3,3 juta jiwa atau hanya lima persen dari keseluruhan jumlah imigran yang mencapai 64 juta jiwa.

Saat ini populasi warga Muslim di AS diperkirakan berjumlah minimal enam juta dan maksimal 10 juta jiwa. Dari sekitar 10 juta warga Muslim sebagian besar menganut mazhab Ahlussunnah dan sekitar dua juta jiwa mengaikuti madzhab Syiah. Sebagian besar Muslim Syiah di Amerika berasal dari Iran yang diperkirakan jumlah mereka mencapai satu juta jiwa. Selain dari Iran, warga Muslim Syiah di Amerika berasal dari Irak, Lebanon, Afghanistan, Arab Saudi, Pakistan, India, Azerbaijan, Tajikistan, Turkmenistan, Suriah dan negara-negara lain. Pada dekade 1970 dan 1960, Syiah di Amerika tergolong sebagai komunitas muslim yang aktif di kancah politik. Mereka memiliki andil besar dalam menggalang persatuan di antara umat Islam di Amerika.

Kecenderungan kepada Islam di kalangan Afro Amerika menarik perhatian para pakar kependudukan. Sebagian besar mereka bermadzhab Sunni dan hanya sebagian kecil yang mengikuti madzhab Syiah. Kelompok Muslim Amerika keturunan Afrika ini biasanya menunjukkan identitas keislaman lewat nama dan tradisi mereka.

Tingkat kecenderungan untuk memeluk Islam di Amerika pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 20 ribu kasus. 63 persen di antaranya berkenaan dengan warga keturunan Afrika, 27 persen wawrga kulit putih dan sembilan persen dari entis Hispanik. Belum lama ini Radio Amerika seksi siaran bahasa Farsi dalam sebuah laporannya membahas tentang perkembangan Islam di Amerika. Laporan ini dimulai dengan suara adzan. Reporter selanjutnya mengatakan bahwa suara adzan ini bukan berasa dari salah satu jalanan di Jakarta atau sebuah desa di Pakistan, tetapi dari menara Pusat Islam Washington yang berada di jalan Massachusset Washington tempat kebanyakan kedutaan besar asing berada. Pertumbuhan Islam di Amerika sedemikian pesat dan hal ini diakui oleh para petinggi Gedung Putih.

Mantan Menteri Luar Negeri AS Madeline Albright dalam sebuah pidatonya di Asosiasi Asia di New York menyebut Islam sebagai agama yang tumbuh pesat lebih cepat dibanding agama yang lain di Amerika. Sebagian besar warga Muslim Amerika tinggal di New York yang jumlah diperkirakan mencapai satu juta jiwa. Setelah New York, Los Angeles menempati urutan kedua disusul oleh Washington dan Detroit tempat kebanyakan imigran Arab Muslim memilih bertempat tinggal. Di New Yrok terdapat 50 masjid dan pusat agama Islam yang sebagiannya dikelola oleh Louis Farrakhan.