کمالوندی
Islamophobia di Barat (5)
Islam adalah agama keadilan, perdamaian, dan kasih sayang. Salah satu faktor yang mempercepat penyebaran Islam di masyarakat Badui di Jazirah Arab adalah karena kasih sayang dan akhlak mulia Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw dan Ahlul Bait selalu berpesan agar manusia berperilaku baik dan berakhlak mulia antar-sesama. Nasihat ini tidak hanya ditujukan kepada kaum Muslim, tetapi juga kepada mereka yang bahkan tidak menerima Islam. Beliau selalu menekankan masalah kasih sayang dan persaudaraan.
Ada banyak riwayat yang berbicara tentang perilaku mulia Rasulullah dan Ahlul Bait dengan masyarakat non-Muslim, dan banyak orang memilih masuk Islam karena akhlak mulia ini.
Sekarang setelah 1400 tahun dari kemunculan Islam, sebagian pihak di Barat mencoba memperkenalkan Islam sebagai agama sponsor radikalisme dan terorisme. Mereka menyebarkan fenomena Islamophobia dan sentimen anti-Muslim di berbagai penjuru dunia.
Sayangnya, beberapa paham di negara-negara Muslim khususnya Wahabisme di Arab Saudi – yang menafsirkan Islam secara keliru dan bertindak radikal – telah menyediakan amunisi bagi Barat untuk memperkenalkan Islam sebagai agama sponsor kekerasan.
Mereka dengan membentuk dan mendukung kelompok-kelompok teroris takfiri seperti Daesh, telah mengabdi kepada para pendukung kampanye Islamophobia di Barat untuk merusak citra Islam. Padahal, Islam murni versi Nabi Muhammad Saw tidak ada hubungannya dengan Islam Daesh dan Wahabisme yang berkuasa di Arab Saudi.
Negara-negara Barat terutama Amerika Serikat dan Inggris adalah sekutu strategis Arab Saudi. Dengan mendukung kebijakan Riyadh, negara-negara Barat sebenarnya telah membantu kampanye Islamophobia di dunia. Mereka ingin menutupi wajah Islam murni yang menyerukan keadilan, perdamaian, dan kasih sayang; Islam yang menyerukan pada tauhid, menolak penindasan, dan membangun masyarakat berdasarkan keadilan dan perdamaian.
Dampak dari hubungan strategis Barat dan Arab Saudi ini, perilaku kekerasan dan diskriminasi rasial dan agama terhadap warga Muslim di negara-negara Barat mengalami kenaikan.
Dewan Hubungan Amerika-Islam (Council on American-Islamic Relations/CAIR) dalam sebuah laporan menyatakan jumlah kejahatan yang berlatar kebencian anti-Muslim di Amerika Serikat naik 91 persen pada semester pertama tahun 2017 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2016. CAIR mengatakan kejahatan kebencian telah meningkat sejak 2016, yang merupakan tahun terburuk dalam catatan insiden anti-Muslim sejak kelompok ini memulai sistem pendokumentasiannya pada 2013.
Menurut catatan CAIR, jumlah kasus fanatisme pada paruh pertama 2017 juga naik 24 persen dibandingkan dengan enam bulan pertama 2016.
"Kampanye pemilihan presiden dan pemerintahan Trump telah memanfaatkan kefanatikan dan kebencian, yang akhirnya mendorong penargetan Muslim Amerika dan kelompok minoritas lainnya," kata Zainab Arain, koordinator CAIR yang bekerja untuk memantau dan memerangi Islamophobia.
"Jika tindakan bias yang berdampak pada komunitas Muslim Amerika terus berlanjut, 2017 bisa menjadi salah satu tahun terburuk dalam insiden semacam itu," tambahnya.
CAIR menerangkan bahwa pemicu paling umum dari kasus fanatisme anti-Muslim pada tahun 2017 tetap etnis atau asal kebangsaan korban, terhitung 32 persen dari total kasus kekerasan terhadap Muslim. Sebanyak 20 persen kasus kekerasan terjadi karena seorang individu dianggap Muslim. Jilbab wanita menjadi pemicu 15 persen insiden kekerasan anti-Muslim.
Islamophobia di Eropa terutama di Inggris juga sedang meningkat. Kelompok pemantau Islamophobia di Inggris (Tell MAMA) mengatakan antara Mei 2013 dan Juni 2017, 167 masjid di Inggris menjadi target dalam insiden dan serangan anti-Muslim. Secara keseluruhan, ini sama dengan rata-rata satu kasus serangan terhadap masjid setiap minggu.
Masjid telah menjadi sasaran serangan karena ia adalah simbol yang terlihat dari lembaga-lembaga Islam di masyarakat, titik fokus utama di mana umat Islam berkumpul. Para pelaku terkadang juga percaya bahwa dampak dari tindakan mereka bisa lebih luas daripada hanya menargetkan individu Muslim. Serangan terhadap sebuah masjid mengirimkan sinyal kepada para jamaah bahwa mereka juga menjadi sasaran dan komunitas itu sendiri berada di bawah ancaman.
Tell MAMA mencatat berbagai kasus serangan dan teror terhadap masjid dan pusat-pusat kegiatan Islam di Inggris. Teror tersebut kadang berupa pengiriman surat ancaman, pengiriman serbuk putih, pembakaran yang disengaja, dan pelemparan kepala babi.
Teror terhadap masjid-masjid di Inggris dilakukan secara terorganisir dan kasus terbaru adalah pengiriman serangkaian surat yang mengancam masjid dengan alat peledak. Aksi ini bertujuan menciptakan ketakutan di antara warga Muslim.
Tell MAMA mengatakan bahwa pihaknya telah memeriksa kasus-kasus yang telah dilaporkan kepada mereka, dan ada 167 masjid yang ditargetkan selama empat tahun terakhir, jumlah sebenarnya mungkin lebih tinggi. Beberapa masjid tidak melaporkan insiden serangan dan ancaman kepada polisi atau ke agen pemantau kejahatan pihak ketiga seperti Tell MAMA.
Islamophobia tentu saja tidak terbatas pada serangan fisik terhadap Muslim dan institusi-institusi Islam. Salah satu cara lain adalah penulisan artikel dan buku-buku anti-Islam. Beberapa media di Inggris menyediakan kolom khusus untuk orang-orang yang mendukung kampanye Islamophobia. Mereka juga diberi kesempatan untuk tampil di layar kaca.
Sayangnya, kampanye Islamophobia tidak terbatas di negara-negara Barat, tetapi juga telah menjalar ke Asia dan bahkan Afrika. Pada Juli 2017, penangkapan dua pemuda Singapura atas tuduhan radikalisme telah memicu kembali keprihatinan di kalangan pemuda Muslim bahwa sentimen anti-Muslim di Singapura akan meningkat setelah penahanan itu.
Dalam sebuah forum yang digelar di Singapura pada 22 Juli 2017, beberapa peserta menyatakan kekhawatiran tentang Islamophobia dan bertanya bagaimana mereka dapat membantu menghilangkan keraguan atau kesalahpahaman yang mungkin dimiliki oleh komunitas lain tentang Islam.
"Islamophobia di Singapura tidak seburuk di Barat, tetapi hari ini saya khawatir beberapa orang akan memandang saya secara berbeda atau curiga karena agama saya," kata mahasiswa Institute of Technical Education (ITE), Nur Nabilah Isaman, yang memakai jilbab.
Dia juga mengakui perlunya menjangkau orang-orang dari ras dan agama lain, untuk membantu mereka memahami Islam. "Untuk memerangi Islamophobia, saya tidak bisa diam saja dan berharap orang-orang tidak akan berpikir yang terburuk tentang saya," ujar Nur Nabilah.
Sementara itu, Menteri Hukum dan Dalam Negeri Singapura, K. Shanmugam mengatakan kepada para wartawan bahwa kebijakan Singapura dan pendekatan integrasi telah membantu menumbuhkan kohesi sosial. Tetapi pada saat yang sama, lanjutnya, serangan di seluruh dunia telah membuat rusak upaya membangun kepercayaan itu.
"Pemuda Muslim harus memahami bahwa mereka bisa menjadi Muslim yang baik dan mengambil bagian dalam kegiatan yang melibatkan komunitas Singapura yang lebih besar. Membangun ikatan antara komunitas yang berbeda adalah kunci dalam perang melawan terorisme," tegasnya.
Islamophobia di Barat (4)
Islamophobia dan sentiment anti-Muslim di Eropa menemukan dimensi baru setiap harinya. Pola baru serangan terorisme terhadap warga Muslim ditemukan di Eropa, tetapi pemerintah dan media setempat tidak tertarik untuk mengulas kejahatan ini dan mereka tampaknya tidak merasa prihatin atas serangan teror terhadap Muslim.
Serangan terorisme rasialis terhadap warga Muslim sedang menyebar di berbagai negara Eropa. Mereka mengadopsi pola yang dilakukan teroris takfiri Daesh dan juga tindakan yang terbilang baru.
Serangan rasisme terhadap warga Muslim di Inggris lebih parah dari negara lain Eropa. Kasus pertama serangan mobil terhadap warga Muslim di Eropa terjadi di Inggris. Melepas penutup kepala wanita Muslim secara paksa atau menyerang dengan senjata tajam, termasuk serangan rasisme yang melibatkan kelompok rasis di Eropa. Serangan ini meningkat tajam selama beberapa bulan terakhir.
Data pihak kepolisian Inggris menunjukkan insiden yang terkait dengan kebencian naik sebesar 23 persen dalam 11 bulan pasca referendum Brexit. Di beberapa daerah Inggris dan Wales, kejahatan berbasis kebencian meningkat lebih dari 40 persen, dan beberapa daerah termasuk Gwent, Nottinghamshire dan Kent melonjak lebih dari setengahnya dalam setahun.
Pada 16 Juli 2017, jilbab seorang wanita Muslim dicopot paksa oleh seorang pria dalam serangan keji di London, di tengah lonjakan insiden kejahatan rasial di Inggris. "Pria di stasiun Baker Street dengan paksa menarik jilbab saya dan ketika saya secara naluriah mengambil balik jilbab saya, ia memukul saya," tulis Aniso Abdulqadir via akun Twitter-nya sambil memposting gambar pria yang menyerangnya.
Sayap kanan ekstrem di Eropa mengadopsi pola baru dalam melakukan serangan teror terhadap warga Muslim yaitu penyiraman air keras. Kejahatan ini merupakan salah satu tindakan anti-kemanusiaan yang terjadi di berbagai negara, tetapi penggunaan pola ini oleh sayap kanan ekstrem untuk menyerang warga Muslim Eropa adalah sebuah fenomena baru.
Sejumlah kasus penyiraman air keras terhadap warga Muslim terjadi di Inggris selama 2017. Lima warga Muslim terluka akibat serangan penyiraman air keras di London dalam satu malam pada Juli 2017. Pada 21 Juni 2017, serangan air keras menyebabkan dua sepupu Muslim (Jameel Muhktar dan Resham Khan) terluka parah di timur London.
Pelaku dan para korban sama sekali tidak saling mengenal. Padahal, pelaku dan korban biasanya saling mengenal dalam kasus serangan air keras dan motifnya pun karena sakit hati atau balas dendam. Namun, kasus serangan air keras di Inggris didorong oleh pemikiran ekstrem dan rasisme.
Media-media Inggris terutama BBC – sebagai corong propaganda terbesar negara itu – memperlihatkan reaksi yang berbeda dalam kasus kejahatan ini. BBC tidak meyinggung isu terorisme dan rasisme dalam serangan air keras terhadap lima warga Muslim Inggris.
Media milik pemerintah Inggris ini dalam laporannya mengulas tentang sejarah penyiraman air keras di berbagai negara, dan serangan air keras terhadap warga Muslim dianggap sebagai insiden biasa yang melibatkan beberapa geng dan perampok.
Setelah serangan air keras terhadap seorang Muslim, juru bicara Kepolisian Metropolitan London mengatakan para penyerang menargetkan pengemudi delivery dengan tujuan mencuri sepeda motor atau sarana transportasi mereka.
Dalam kasus serangan terhadap Jameel Muhktar dan Resham Khan, polisi Metropolitan London awalnya mengesampingkan motif agama atau ras dalam kejahatan itu. Namun, polisi kemudian mengatakan bahwa bukti baru yang ditemukan mendorong mereka untuk menyelidiki serangan itu sebagai kejahatan rasial.
Jameel Muhktar menuturkan bahwa dia dan sepupunya menjadi sasaran karena agama mereka. "Ini jelas merupakan kejahatan rasial," katanya kepada Channel 4 News. "Saya percaya itu ada hubungannya dengan Islamophobia."
Mukhtar menambahkan bahwa jika itu dibalik dan seorang pria Asia menyerang pasangan Inggris dengan air keras, seluruh negara tahu itu akan digolongkan sebagai serangan teror.
Menurut laporan Dewan Kepala Polisi Nasional Inggris (NPCC), lebih dari 400 serangan asam atau zat korosif dilakukan dalam enam bulan hingga April 2017 di seluruh wilayah kepolisian di Inggris dan Wales. Daerah yang umumnya dihuni oleh komunitas Muslim London, termasuk Newham, Barking and Dagenham, Tower Hamlets, Havering, dan Redbridge, mencatat kasus serangan air keras terbanyak.
Jika serangan ini melibatkan seorang Muslim atau imigran Muslim, maka gelombang propaganda terhadap Muslim dan Islam akan mengguncang negara-negara Barat, dan kondisi korban serangan akan selalu menghiasi media-media Barat.
Puluhan kasus serangan air keras terhadap wanita dan pria Muslim terjadi di Inggris, tetapi para politisi dan media-media Eropa tidak begitu menyoroti aksi teror itu.
Menurut laporan Huffington Post, jumlah media yang meliput kasus serangan air keras sangat terbatas, terutama jika korbannya Muslim. Selain itu, penelitian untuk menyingkap alasan meningkatnya fenomena ini juga sedikit.
Publikasi yang minim ini tentu saja sejalan dengan kebijakan Islamophobia yang diadopsi oleh negara-negara Barat, terutama pemerintah Inggris. Media-media Barat khususnya BCC memainkan peran efektif dalam menyebarkan Islamophobia di Barat. Media pro-sayap kanan di Inggris mengesankan Islam dan masyarakat Muslim sebagai sumber masalah di negara itu.
Dalam perspektif mereka, Islam mensponsori terorisme dan Muslim adalah pelaku utama serangan teror. Sayap kanan ekstrem Inggris seperti, Britain First dan neo-Nazi secara terbuka mengancam aksi balas dendam terhadap warga Muslim.
Kampanye Islamophobia digaungkan oleh kelompok-kelompok tersebut. Orang-orang seperti Brigitte Gabriel, Milo Yiannopoulos, Ayaan Hirsi Ali, Glenn Beck, Pamela Geller, Katie Hopkins, dan banyak lainnya, menguasai kolom artikel di media-media Barat. Mereka kadang terang-terangan menggunakan kata-kata rasis untuk menyerang warga Muslim.
Saat ini, belum bisa diprediksi kapan fenomena Islamophobia dan sentimen anti-Muslim di Barat akan berakhir. Banyak dari pemimpin dan pemikir Barat berbicara tentang perlunya pemisahan antara ajaran Islam dan ideologi kelompok-kelompok teroris seperti Daesh dan Al Qaeda, namun kampanye Islamophobia masih terjadi secara luas di negara-negara Barat.
Pemerintah di Barat sepenuhnya menyadari tentang motif dari tindakan teror yang dilakukan oleh sayap kanan ekstrem dan rasis. Pesan-pesan rasis yang bernada ancaman banyak tersebar di media sosial, dan pesan ini jelas ditujukan kepada imigran dari Asia atau Muslim.
Di media-media Barat, tidak ada seorang pun yang akan menjawab pertanyaan ini, siapa yang telah memicu sentimen anti-Islam di Barat? Karena para politisi Barat mengabaikan hasil penelitian tentang hubungan antara ideologi radikal dengan pemerintah Arab Saudi. Negara-negara Barat tetap memperluas hubungan politik, ekonomi, dan militer dengan rezim Al Saud meski mengetahui bahwa Wahabisme memainkan peran utama dalam menyebarkan pemikiran radikal dan terorisme di Barat.
Wahabisme memiliki interpretasi yang keliru tentang ajaran Islam yang menyerukan keadilan dan perdamaian. Kelompok Wahabi memainkan peran utama dalam merusak citra Islam di Barat dan menciptakan ruang bagi pembenaran Islamophobia di sana.
Dapat dikatakan bahwa pemerintah dan media-media Barat ikut terlibat dalam tindakan teror, yang dilakukan oleh kelompok teroris takfiri dan kubu sayap kanan ekstrem dan rasis di Barat.
Islamophobia di Barat (3)
Islamophobia dan sentimen anti-Muslim telah menjadi sebuah pendekatan yang terstruktur di negara-negara Barat. Jika sebagian pejabat Barat mengakui Islam sebagai agama damai dan kasih sayang serta menepis keterkaitan antara tindakan teroris dengan ajaran Rasulullah Saw. Namun, kebijakan Barat secara praktis mengejar penguatan kelompok takfiri dan teroris.
Pengakuan ini sebenarnya sebuah trik untuk melepas tanggung jawab mereka yang telah memperkuat dan menyebarkan gerakan-gerakan radikal dan teroris. Nyonya Theresa May – baik sewaktu menjabat menteri dalam negeri atau perdana menteri Inggris – berulang kali menyinggung esensi kelompok takfiri dan teroris Daesh.
Pada 30 September 2014, May dalam pidatonya setelah pekerja kemanusiaan Inggris, David Haines dibunuh oleh teroris Daesh di Suriah, mengatakan, "Para ekstremis percaya bahwa tidak mungkin menjadi Muslim yang baik sekaligus warga negara Inggris yang baik. Dan mereka menganggap siapa saja yang tidak setuju dengan mereka, termasuk Muslim lainnya sebagai orang yang tidak beriman."
"Ideologi kebencian ini tidak ada hubungannya dengan Islam. Dan itu ditolak oleh mayoritas Muslim di Inggris dan di seluruh dunia," tegasnya.
Meski para pejabat Barat mengetahui esensi Islam hakiki, tetapi mereka tidak mengambil langkah apapun untuk meredam kampanye Islamophobia dan serangan media Barat terhadap Islam.
Mengikuti setiap insiden serangan terorisme, kampanye Islamophobia dan serangan terhadap warga Muslim serta tempat-tempat ibadah umat Islam di Barat semakin gencar dilakukan.
Arab Saudi mendukung Daesh dan kelompok-kelompok teroris lainnya.
Surat kabar The Independent Inggris dalam sebuah laporan pada 7 Juli 2017 menulis, "Kejahatan yang melibatkan diskriminasi rasial dan agama melonjak pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak referendum Brexit. Data yang diperoleh oleh polisi Inggris menunjukkan insiden yang terkait dengan kebencian naik sebesar 23 persen dalam 11 bulan pasca referendum Brexit, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya dan menandai kenaikan yang tak tertandingi. Di beberapa daerah Inggris dan Wales, kejahatan berbasis kebencian meningkat lebih dari 40 persen, dan beberapa daerah termasuk Gwent, Nottinghamshire dan Kent melonjak lebih dari setengahnya dalam setahun."
Kelompok-kelompok agama dan organisasi yang mewakili negara asing mengatakan kepada The Independent bahwa mereka telah melihat peningkatan yang signifikan dalam kejahatan ras dan kebencian berbasis agama di seluruh Inggris.
Berbicara secara khusus tentang kejahatan rasial terhadap Muslim, Direktur Tell MAMA, Iman Atta mengatakan, “Kami telah melihat peningkatan signifikan dalam insiden kebencian dan kejahatan terhadap komunitas Muslim di berbagai daerah seperti Greater Manchester, Kent, Liverpool, dan Wales."
Pendiri Keterlibatan dan Pengembangan Muslim (MEND), Sufyan Ismail menuturkan, “Unit Respon Islamophobia kami telah melihat peningkatan yang cukup besar kasus kejahatan rasial yang dilaporkan kepada kami; banyak Muslim merasa lebih rentan dari sebelumnya."
“Kami sudah menangani 23 kasus sejak serangan April 2016 saja yang mencakup; serangan terhadap Muslim di angkutan umum, pemecatan mereka oleh perusahaan-perusahaan besar, dan penolakan terhadap fasilitas ibadah siswa Muslim di sejumlah sekolah," jelasnya.
Perilaku diskriminatif dan rasis terhadap warga Muslim juga meningkat di negara-negara lain Eropa. Salah satu indikator kenaikan ini adalah pertumbuhan kubu sayap kanan ekstrim, kelompok rasis, dan anti-Muslim. Namun, pemerintah-pemerintah Barat tidak berbuat apapun untuk meredam kampanye Islamophobia.
Meski Barat menganggap terorisme sebagai ancaman terbesar bagi keamanannya, tetapi pada prakteknya mereka justru menjalankan kebijakan yang memperkuat dan menyebarkan terorisme dan radikalisme.
Pemerintah Inggris bersama Amerika Serikat, berada di barisan terdepan dalam memperkuat dan menyebarluaskan gerakan takfiri dan terorisme di dunia. Barat tampaknya akan mempertahankan eksistensi kelompok takfiri dan teroris sehingga ada alasan untuk mengobarkan kampanye Islamophobia di Barat dan merusak citra Islam melalui kelompok tersebut.
Selama KTT G-20 di Hamburg pada 2017, salah satu isu yang dibahas adalah pemblokiran sumber-sumber dana kelompok teroris termasuk Daesh. Semua peserta KTT termasuk Arab Saudi mendukung gagasan ini.
Hampir semua petinggi di Barat mengetahui negara mana yang memberikan dukungan finansial dan ideologis kepada kelompok-kelompok teroris takfiri. Di Inggris, ada dua penelitian yang dilakukan untuk menelusuri sumber dana kelompok teroris.
Lembaga think tank Henry Jackson Society (HJS) dalam laporannya pada Juli 2017 menulis, "Arab Saudi adalah penyandang utama dana untuk terorisme di Inggris. Saudi menghabiskan dana 3,1 miliar poundsterling per tahun di seluruh dunia untuk mempromosikan interpretasi Islam yang cocok untuk ekstremisme."
Direktur Pusat Riset Frankfurt untuk Islam Global (FFGI), Susanne Schroter mengatakan, "Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa Arab Saudi memainkan peran sentral dalam radikalisasi umat Islam. Pengaruh Wahabi juga didorong di Jerman dengan uang minyak. Saudi mengekspor ekstremisme ke banyak negara termasuk Jerman."
"Temuan Henry Jackson Society (HJS) tidak mengejutkan saya sama sekali. Sudah lama diketahui bahwa Arab Saudi mengekspor ideologi Wahabi. Saudi tidak hanya memberikan uang, tetapi juga materi propaganda kepada orang-orang yang tertarik. Mereka ditugaskan untuk membangun masjid, lembaga pendidikan, pusat budaya, dan semacamnya. Pusat-pusat ini kemudian dipakai untuk menyebarkan ideologi Wahabi."
Menurut Schroter, ekspor Wahabisme meningkat terutama setelah Revolusi Islam di Iran. Revolusi ini telah mengguncang Saudi. Riyadh kemudian mulai membangun hubungan dengan para mitranya di Asia, Afrika, dan juga di sebagian Eropa untuk menyebarkan paham Wahabi.
Penelitian kedua tentang sumber pendanaan dan ideologi kelompok teroris dilakukan atas permintaan Perdana Menteri Inggris waktu itu, David Cameron dan riset ini baru selesai pada masa pemerintahan Theresa May.
Namun, pemerintah Inggris melarang penerbitan hasil penelitian tersebut, karena dianggap akan berdampak negatif pada hubungan strategis London dengan Riyadh.
Negara-negara Barat, terutama Inggris dan AS memiliki hubungan erat dengan Al Saud – sebagai pendukung utama gerakan takfiri dan teroris – di bidang politik, militer, dan ekonomi. Oleh karena itu, perang kontra-terorisme yang dikobarkan Barat tidak perlu dianggap serius.
Ideologi radikal dan ekstrem harus dilawan langsung dari sumbernya dan perang ini tidak akan sukses dengan hanya memperketat keamanan dan meningkatkan operasi intelijen.
Namun, bukti-bukti menunjukkan bahwa Barat bukan hanya tidak ingin memblokir sumber dana kelompok-kelompok teroris, tetapi justru bergerak ke arah penguatan kampanye Islamophobia dan gerakan-gerakan takfiri dan teroris.
Islamophobia di Barat (2)
Fenomena terorisme di Eropa sedang mengalami perubahan pola baik dari segi pelaku teror maupun korban, berbeda dengan tindakan terorisme sebelum ini. Dalam rentang waktu dua minggu, berita tentang serangan terhadap warga Muslim di Inggris dan Perancis menghiasi media-media dunia dan kemudian hilang begitu saja.
Berita pertama terkait dengan serangan ke sejumlah jamaah shalat di sebuah masjid di London, yang menewaskan satu orang dan menciderai delapan lainnya. Persis satu pekan setelah itu, sebuah mobil menabrak kerumunan jamaah shalat Idul Fitri di kota Newcastle, London. Enam orang, termasuk tiga anak-anak terluka dalam serangan ini.
Di Perancis, seorang pria ditahan oleh kepolisian Perancis setelah mencoba menabrakkan mobilnya ke arah kerumunan orang yang berada di depan Masjid Creteil di Paris. Serangan ini gagal karena tempat pejalan kaki di depan masjid lebih tinggi dari permukaan jalan raya.
Seorang saksi mata menuturkan, "Kami melihat mobil tersebut mondar-mandir di sekitar masjid hingga tiga kali, dan tiba-tiba melaju sangat cepat. Jelas sekali ini sebuah serangan yang menyasar pejalan kaki." Namun, aksi pria tersebut gagal dan mobilnya terhenti setelah membentur kendaraan lain.
Anehnya, para politisi dan media-media di Eropa mengeluarkan reaksi yang biasa terhadap serangan tersebut, dan tidak ada yang berbicara tentang teroris atau serangan terorisme.
Media-media Barat tidak mengorek latar belakang agama pelaku serangan. Berita tentang serangan itu tidak mendapat sorotan yang proporsional dan terlupakan begitu saja. Para pejabat keamanan Inggris dan Perancis juga meragukan adanya motif teror dalam serangan tersebut.
Padahal, jika para korbannya non-Muslim dan pelakunya menyandang nama Islami atau berasal dari salah satu negara Muslim, maka dinas-dinas intelijen dan keamanan serta media-media Barat akan menyajikan informasi secara bias.
Terorisme muncul dari ideologi dan pemikiran radikal yang disebarkan oleh individu atau kelompok tertentu. Radikalisme tidak terbatas pada agama atau mazhab tertentu, dan agama mana pun khususnya agama Samawi tidak bisa dianggap sebagai penyebar kekerasan dan radikalisme.
Namun, Eropa dan masyarakat Barat berusaha mengesankan adanya hubungan langsung antara Islam dan terorisme. Kebanyakan politisi dan media-media Barat memperkenalkan Islam sebagai agama sponsor terorisme.
Menurut perspektif mereka, semua individu Muslim adalah teroris kecuali terbukti sebaliknya. Bahkan jika pelaku teror penduduk asli Eropa, tidak ada seorang pun yang akan menyampaikan permintaan maaf atau meralat tuduhannya terhadap Islam dan Muslim.
Serangan propaganda anti-Islam dan Muslim secara praktis sudah melakat di benak masyarakat Barat. Serangan ini bertujuan menyebarkan Islamophobia dan sentimen anti-Muslim.
Negara-negara Barat kemudian menerapkan pembatasan ketat bagi warga Muslim di Eropa dengan alasan membenarkan perang kontra-terorisme di wilayah Timur Tengah. Kebijakan Islamophobia ini mencakup masalah pakaian Islami kaum Muslimah atau pembatasan pengajaran bahasa Arab.
Kebijakan Islamophobia di Barat juga memunculkan sebuah dampak lain yaitu maraknya praktik diskriminasi rasial dan agama serta meningkatnya serangan rasis terhadap warga Muslim.
Negara-negara Eropa menghadapi model baru terorisme yaitu terorisme rasialis. Namun mereka mengabaikan fakta ini dan menganggapnya tidak penting. Para teroris rasialis Eropa berusaha meniru gaya teroris Daesh dan Al Qaeda untuk menyerang Muslim.
Protes anti-rasis di selatan London. (Dok)
Di masa lalu, kelompok-kelompok rasis Eropa hanya melakukan aksi protes anti-Muslim atau menyerang masjid dan pemakaman warga Muslim dengan slogan-slogan rasis. Tetapi, para teroris rasialis kini meniru gaya teroris takfiri dalam menargetkan warga Muslim.
Pemerintah-pemerintah Eropa tidak seharusnya mengabaikan fenomena ini. Persentase warga Muslim di negara-negara Eropa terbilang besar dan Inggris saja, lebih dari tiga juta Muslim tinggal di negara itu. Populasi Muslim terbesar tinggal di Perancis dengan jumlah hampir lima juta orang. Warga Muslim dalam jumlah yang signifikan juga terbesar di negara-negara lain Eropa.
Populasi Muslim Eropa diproyeksikan melebihi 58 juta orang pada 2030. Muslim saat ini mencapai sekitar 6 persen dari total populasi Eropa. Pada 2030, jumlah Muslim diperkirakan mencapai 8 persen dari populasi Eropa.
Benua Eropa – yang berbatasan dengan wilayah berpenduduk Muslim di Timur Tengah – tidak bisa mengabaikan pengaruh Islam dan warga Muslim di wilayah Eropa. Perlu dicatat bahwa meningkatnya serangan teroris rasialis terhadap Muslim akan menciptakan persoalan keamanan baru bagi pemerintah Eropa.
Perilaku rasis dapat memicu penyebaran kebencian di antara para pemeluk agama. Untuk itu, negara-negara Eropa perlu memperjelas definisinya tentang terorisme dan mengakhiri standar ganda.
Pembagian terorisme dalam kategori "baik" dan "buruk" sudah tidak efisien lagi dari segi politik dan propaganda, dan negara-negara Eropa sendiri menghadapi ancaman terorisme yang lahir dari dalam. Eropa sedang menghadapi ancaman terorisme tidak dari luar geografinya, tetapi dari dalam perbatasannya.
Perang kontra-terorisme tidak akan berhasil jika hanya memperketat keamanan dan meningkatkan kegiatan intelijen. Eropa perlu menunjukkan tekad seriusnya untuk menghapus terorisme dalam segala bentuknya.
Salah satu langkah ini bisa dilakukan dengan memperbaiki hubungan Eropa dengan negara-negara, yang mempromosikan paham radikal dan ekstrim di wilayah Timur Tengah dan dunia.
Ketua Partai Buruh Inggris, Jeremy Corbyn menyerukan peninjauan ulang hubungan Inggris dengan Arab Saudi dan menghentikan penjualan senjata ke negara itu. Namun, perlu dilihat apakah ia akan tetap konsisten jika suatu saat memimpin Inggris atau bertindakan seperti Perdana Menteri Theresa May, yang memprioritaskan kepentingan ekonomi dan politik dalam penjualan senjata ke Arab Saudi daripada kepentingan lain.
Islamophobia di Barat (1)
Program berseri ini akan menyoroti peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan fenomena Islamophobia di dunia, khususnya di negara-negara Barat. Seri pertama akan menyelisik tindakan terorisme terhadap warga Muslim di Inggris dan reaksi bias atas insiden itu.
Warga Muslim menjadi korban dalam serangan teroris di London, Inggris pada Juni 2017. Sebuah mobil van pada pada Senin malam (19 Juni 2017) menabrak kerumunan Muslim pejalan kaki setelah usai menunaikan shalat tarawih di Masjid Finsbury Park, London. Serangan ini menewaskan dua orang dan menciderai beberapa lainnya.
Sekretaris Jenderal Dewan Muslim Inggris, Harun Khan mengatakan pelaku secara sengaja mengarahkan mobilnya untuk melindas para jamaah yang baru saja pulang dari masjid.
Dewan Muslim Inggris menyebut insiden itu sebagai kesengajaan dan terkait dengan Islamophobia. Dewan meminta aparat Inggris untuk memperketat pengamanan di sekitar masjid.
Wali Kota London, Sadiq Khan dalam sebuah pernyataan menyebut penabrakan sebagai serangan teroris mengerikan, yang sengaja ditujukan kepada warga tak berdosa.
Insiden ini memiliki tiga perbedaan dengan tiga peristiwa serangan teror yang terjadi sebelumnya di Inggris. Pertama, berbeda dengan kasus serangan teror lainnya, di sini tidak ada seorang pun yang berbicara tentang agama si pelaku teror. Kedua, Daesh dan kelompok teroris lain tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap Muslim London.
Dalam kasus serangan teroris sebelumnya di Inggris, komunitas Muslim selalu menjadi tertuduh pertama sebagai pelaku. Tidak berapa lama kemudian, Daesh atau Al Qaeda merilis pernyataan yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Tudingan tersebut dan klaim pertanggung jawaban oleh Daesh atau Al Qaeda bertujuan untuk menyebarluaskan Islamophobia dan sentimen anti-Muslim di Eropa.
Dan ketiga, sorotan media dan perhatian politisi Inggris yang sangat terbatas terhadap serangan teror di Masjid Finsbury Park.
Polisi Inggris mengepung lokasi serangan teror di London. (Dok)
Serangan teror terhadap jamaah shalat di London berakar pada rasisme, diskriminasi rasial, Islamophobia, dan sentimen anti-Muslim di negara-negara Eropa. Namun, para politisi, media, dan dinas-dinas intelijen Eropa menganggap radikalisme dalam Islam sebagai penyebab tindakan terorisme di Benua Biru.
Di setiap kasus serangan teror di Eropa, otoritas keamanan menyelidiki latar belakang agama terduga pelaku dan kemudian negara asalnya. Pola penyelidikan seperti ini sejalan dengan kampanye dan penyebaran Islamophobia. Namun, serangan London yang menelan korban dari pihak Muslim sama sekali tidak berbicara tentang agama pelaku atau negara asalnya. Karena serangan teror ini dianggap berbeda dengan kasus-kasus teror lainnya.
Identitas pelaku teror di London adalah seorang pria Kristen Inggris berusia 48 tahun, dan ketika melakukan aksinya dia berteriak, "Aku ingin membunuh semua Muslim."
Lalu, apakah bisa dikatakan agama Kristen sebagai sponsor terorisme hanya karena pelaku serangan itu seorang pemeluk Kristen? Analis mana pun di dunia tidak memberikan analisa seperti ini atas serangan teror terhadap jamaah Muslim di London.
Namun, mengapa negara-negara Eropa dan Barat mengaitkan serangan teroris di Eropa dan dunia dengan ajaran Islam. Dengan propaganda ini mereka menganggap semua Muslim teroris dan bom yang bergerak.
Dinas-dinas intelijen dan keamanan Eropa juga memberikan perlakuan yang berbeda dalam menangani individu Muslim terduga teroris dengan pelaku dari agama lain.
Anehnya lagi, serangan yang dilakukan oleh non-Muslim tidak dianggap sebagai tindakan teroris. Tim psikolog dan kriminolog biasanya langsung dibentuk untuk menyelidiki motif kejahatan, dan akhirnya diumumkan bahwa pelaku serangan mengalami gangguan jiwa. Tetapi, narasinya akan berbeda jika pelaku memiliki identitas Muslim atau berasal dari salah satu negara Islam.
Jadi dalam literatur politik dan media Barat, kata "teroris" dan "terorisme" dikaitkan dengan individu Muslim dan Islam. Kebijakan yang diadopsi oleh pemerintah, politisi, dan media-media Barat ini sepenuhnya bias dan tendensius.
Insiden serangan terhadap jamaah Muslim di London. (Dok)
Negara-negara Muslim menikmati posisi strategis dari segi geografi, ekonomi, politik, dan budaya di dunia. Sementara itu, negara-negara Barat – pasca runtuhnya Uni Soviet – merasa perlu menciptakan musuh di dunia Muslim untuk menikmati posisi strategis yang istimewa ini dan memperluas pengaruhnya.
Dengan demikian, negara-negara Barat yang dikomandoi oleh Amerika Serikat dan Inggris mendukung gerakan radikal dan takfiri di negara-negara Muslim Timur Tengah dan Asia Selatan dalam melawan gerakan penuntut keadilan dan anti-hegemoni.
Barat dengan kebijakan ini mencoba merusak citra Islam dan menjustifikasi kebijakan intervensifnya di kawasan dengan dalih memerangi terorisme dan radikalisme. Kebijakan anti-Islam ini bisa dipahami lebih dalam dari pidato Theresa May ketika menjabat sebagai menteri dalam negeri Inggris.
Pada 30 September 2014, May dalam pidatonya setelah pekerja kemanusiaan Inggris, David Haines dibunuh oleh teroris Daesh di Suriah, mengatakan, "Para teroris yang membunuh David Haines suka menyebut diri mereka sebagai Negara Islam. Tetapi saya akan katakan yang sebenarnya; Mereka tidak Islami dan mereka bukan negara. Tindakan mereka sama sekali tidak memiliki dasar dalam apapun yang ditulis dalam al-Quran."
Pernyataan ini menunjukkan bahwa para pejabat Barat memahami dengan baik ajaran Islam yang berlandaskan pada perdamaian dan keadilan. Meski menyadari fakta ini, Barat tetap mendukung gerakan takfiri dan teroris serta rezim-rezim yang mensponsori terorisme.
Kala itu statemen Theresa May tidak memperoleh sambutan dari para pejabat Inggris. Mungkin pernyataan ini dianggap tidak sejalan dengan kebijakan dan tindakan pemerintah Inggris serta beberapa negara Eropa di Suriah dan Irak.
Theresa May tentu saja tidak pernah mengulangi pernyataan tersebut meskipun Daesh mengaku bertanggung jawab atas tiga serangan teror di Inggris. Waktu itu, dia mungkin menyampaikan pidato secara emosional karena kematian mengerikan David Haines dan setelah itu, tidak lagi berbicara tentang kebringasan Daesh.
Dalam pidatonya, May juga menyinggung poin lain yang mengindikasikan pengetahuannya tentang kandungan al-Quran dan ajaran Islam.
"Ideologi kebencian ini tidak ada hubungannya dengan Islam. Dan itu ditolak oleh mayoritas Muslim di Inggris dan di seluruh dunia. Al-Quran mengatakan, "Wahai manusia! Kami menciptakan Anda dari satu (pasangan) laki-laki dan perempuan, dan membuat Anda menjadi bangsa dan suku, sehingga kamu dapat saling kenal." Jadi, biarkan pesan ini keluar dari aula ini bahwa para ekstremis tidak akan pernah berhasil memecah-belah kita. Biarkan pesan ini keluar bahwa kita tahu Islam adalah agama damai dan itu tidak ada hubungannya dengan ideologi musuh kita. Mari kita berdiri berdampingan dengan Muslim Inggris yang datang bersama dan mengatakan 'bukan atas nama saya.' Kita harus melakukan apa saja untuk mengalahkan ideologi ini dan mencegah radikalisasi kaum muda Muslim Inggris," tegasnya.
Dengan pengetahuannya yang luas tentang ajaran Islam, Theresa May justru menjual senjata milyaran dolar kepada Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang mendukung Daesh dan menyebarkan ideologi terorisme.
Jadi, harus dikatakan bahwa pemerintah Inggris ikut terlibat dalam kejahatan yang dilakukan teroris takfiri mulai di Suriah dan Irak sampai di kota-kota Eropa.
Syeikh Thusi (1)
Abu Jakfar Muhammad bin Hasan bin Ali bin Hasan al-Thusi atau lebih dikenal dengan Syeikh Thusi atau juga sering disebut dengan nama Syeikh al-Thaifah (pembesar kaum/pemuka Syiah), adalah seorang faqih, ahli hadis, dan teolog besar Syiah yang hidup pada abad kelima Hijriyah.
Syeikh Thusi lahir pada bulan Ramadhan tahun 385 H/995 di Tus (Khurasan, Iran). Dia adalah salah satu tokoh besar dunia Islam dan Syiah yang memiliki banyak karya dan memberikan kontribusi luar biasa di berbagai bidang agama seperti fiqih, yurisprudensi, hadis, tafsir, teologi, dan ilmu rijal (pengenalan para perawi dan sifat-sifat mereka).
Syeikh Thusi adalah murid istimewa dari Syeikh Mufid dan Sayid Murtadha. Ia menjadi pemimpin mazhab Syiah dan guru besar teologi di dunia Islam sepeninggal guru-gurunya tersebut. Syeikh Thusi adalah penulis dua kitab dari empat kitab rujukan hadis Syiah yaitu kitab al-Istibshar dan at-Tahdzib, dan pendiri Hauzah Ilmiah Najaf.
Sejarah kehidupan Syeikh Thusi tidak banyak diketahui hingga beranjak usia 23 tahun, tetapi kemungkinan besar ia menghabiskan masa-masa itu untuk mempelajari ilmu agama di kota asalnya, Tus. Di masa itu, Tus adalah salah satu dari empat kota yang terkenal di Khurasan yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Ghaznawiyah selama periode kehidupan Syeikh Mufid. Masyarakat Syiah di sana berada di bawah penindasan dan tidak bisa bernafas lega.
Kota Tus adalah salah satu kota yang paling terkenal dari segi budaya. Penyair dan ilmuwan besar lahir di kota tersebut seperti Ferdowsi, Khajeh Nasir al-Din Tusi dan Muhammad al-Ghazali al-Thusi. Keluarga Syeikh Tusi telah melahirkan para fuqaha dan ulama selama beberapa generasi. Putra Syeikh Tusi merupakan seorang faqih besar dan dikenal sebagai "Mufid Thani" karena kedudukan sosial dan pengaruhnya di bidang agama.
Putri-putri Syeikh Tusi juga tercatat sebagai ahli fiqih dan ilmuwan, dan cucunya bahkan menduduki posisi sebagai marja' (faqih dan ulama rujukan) dan pemimpin hauzah ilmiah. Karena ilmu dan takwa, keluarga Syeikh Tusi tercatat sebagai tokoh, ilmuwan, dan marja' yang berpengaruh di masanya.
Pada usia 23 tahun, Syeikh Tusi berhijrah ke Baghdad pada tahun 408 untuk melanjutkan pendidikannya dan menimba ilmu dari para ulama besar, dan ia menetap di Irak hingga akhir hayatnya. Dia belajar kepada Syeikh Mufid selama lima tahun dan setelah gurunya wafat, ia berguru kepada Sayid Murtadha selama bertahun-tahun.
Syeikh Tusi tetap tinggal di Baghdad selama 12 tahun setelah wafat gurunya, Sayid Murtadha. Ia memimpin komunitas Syiah dan kediamannya di daerah Karkh, Baghdad menjadi tempat rujukan dan tumpuan umat Islam. Banyak ulama dan ilmuwan dari berbagai penjuru negeri Islam melakukan perjalanan ke Baghdad untuk berguru kepada Syeikh Tusi.
Jumlah murid Syeikh Tusi dari para faqih dan mujtahid Syiah mencapai lebih dari 300 orang, dan pada saat yang sama beberapa ratus ulama Sunni juga menimba ilmu darinya.
Syeikh Tusi menetap di Baghdad selama hampir 40 tahun untuk belajar dan mengajar. Di masa kekuasaan Tughril Bey dari Dinasti Seljuk, orang-orang fanatik anti-Syiah menyerang pemukiman Syiah di Baghdad dan membunuh serta menjarah properti mereka. Kediaman Syeikh Tusi tidak luput dari aksi penjarahan ini. Orang-orang jahil ini menyerang rumahnya dengan tujuan membunuh Syeikh Tusi. Ketika ia tidak ditemukan di rumahnya, mereka membakar buku-buku dan isi rumah.
Peristiwa ini menunjukkan kondisi sulit yang dihadapi para ulama Syiah pada masa itu. Pasca insiden tersebut, Syeikh Tusi memutuskan hijrah dari Baghdad ke Najaf. Najaf pada waktu itu hanya sebuah desa kecil di mana sejumlah kecil warga Syiah tinggal di dekat kompleks makam Imam Ali as.
Setelah situasi mulai kondusif, Syeikh Tusi mendirikan Hauzah Ilmiah Najaf yang kemudian berubah menjadi pusat pendidikan terbesar di kalangan Syiah. Tidak lama kota ini berubah menjadi pusat keilmuan dan pemikiran Syiah. Tentunya sebagian orang yakin bahwa sebelum kedatangan Syeikh Tusi di Najaf juga sudah berdiri halaqah-halaqah ilmiah, namun peran ia telah mengokohkan dan mengatur Hauzah Ilmiah Najaf menjadi lebih rapi. Hauzah Ilmiah Najaf sudah berusia lebih dari 10 abad dan melahirkan ribuan faqih dan mujtahid di sepanjang periode itu.
Konsep pemikiran Syeikh Tusi merupakan penyempurna konsep pemikiran Syeikh Mufid dan Sayid Murtadha. Pandangannya bertumpu pada argumentasi rasional dan naratif. Sebelumnya kami katakan bahwa mengabaikan kemampuan nalar dan hanya berpaku pada lahiriyah ayat dan hadis, telah memperlambat gerakan dan perkembangan ilmu fiqih dan yurisprudensi. Kondisi ini menyebabkan munculnya penyimpangan dalam akidah masyarakat.
Syeikh Mufid dan Sayid Murtadha dengan perhatian khususnya pada kemampuan nalar dalam memahami al-Quran dan hadis, membuka jalan yang terang bagi kaum Syiah. Syeikh Tusi juga menekuni bidang ijtihad dan dengan memberikan perhatian khusus pada kemampuan nalar dalam memahami agama, ia berjuang melawan kesalahpahaman beberapa pihak dan kedangkalan pemikiran mereka.
Diskusi ilmiah, seminar, dan penulisan buku-buku teologis berkembang dengan pesat pada abad keempat dan kelima Hijriyah. Syeikh Tusi karena posisi ilmiahnya yang tinggi, ditunjuk oleh khalifah untuk memimpin kemajuan ilmu kalam.
Kota Najaf, Irak.
Kalam adalah ilmu yang membahas prinsip-prinsip akidah dan pandangan dunia religius yang berdasarkan pada argumentasi akal dan teks untuk menjawab kerguan-keraguan di bidang akidah. Syeikh Tusi meninggalkan lebih dari 15 karya teologis dan yang paling penting adalah kitab Talkhis al-Shafi, yang akan kami perkenalkan pada seri berikutnya.
Ayatullah Syahid Murtadha Mutahhari, seorang pemikir dan cendekiawan Muslim dari Iran mengatakan, “Syeikh Tusi adalah contoh sempurna dari manifestasi Islam dalam tubuh orang Iran. Dari kehidupan orang-orang seperti Syeikh Tusi, dapat dipahami bagaimana spiritualitas Islam telah menembus jauh ke dalam jiwa orang-orang di wilayah ini, sehingga orang-orang seperti Syeikh Tusi telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani agama ini tanpa pernah istirahat.”
Syeikh Tusi tinggal di Najaf selama 12 tahun. Ia wafat pada malam Senin, 22 Muharram tahun 460 H/1068. Jenazahnya dimandikan oleh murid-muridnya dan dikuburkan di rumahnya. Sesuai wasiat dari almarhum, rumah yang ditinggalinya dibangun menjadi masjid. Masjid Syeikh Thusi sampai saat ini menjadi masjid yang paling terkenal di kota Najaf.
Syeikh Thusi (2)
Abu Jakfar Muhammad bin Hasan bin Ali bin Hasan al-Thusi atau lebih dikenal dengan Syeikh Thusi atau juga sering disebut dengan nama Syeikh al-Thaifah (pembesar kaum/pemuka Syiah) adalah salah satu ulama besar dunia Islam dan Syiah yang hidup pada abad kelima Hijriyah.
Ia adalah murid kebanggaan dari Syeikh Mufid dan Sayid Murtadha, dan pasca gurunya wafat, ia menjadi guru besar ilmu kalam di dunia Islam. Syeikh Thusi adalah penulis dua kitab dari empat kitab induk hadis Syiah (Kutub al-Arba'ah) dan pendiri Hauzah Ilmiah Najaf.
Syeikh Thusi memiliki banyak karya di berbagai bidang ilmu keislaman dan mewariskan sekitar 50 buku. Saat ini karya-karya Syeikh Thusi sudah diterbitkan dalam bentuk ensiklopedia.
Tahdzib al-Ahkam dan al-Istibshar, dua kitab dari Kutub al-Arba’ah ditulis oleh Syeikh Thusi dan setiap faqih atau mujtahid yang ingin mengeluarkan fatwa hukum, tidak punya jalan lain kecuali merujuk kepada kitab tersebut.
Kutub al-Arba’ah merupakan sebuah istilah yang mengacu pada empat kitab induk hadis yang digunakan ulama Syiah sebagai referensi. Tahdzib al-Ahkam merupakan karya pertama Syeikh Thusi dan salah satu kitab kumpulan hadis Syiah yang paling mu’tabar dan buku ketiga dari empat kitab yang diterima oleh seluruh ulama dan fuqaha Syiah.
Tahdzib al-Ahkam terdiri dari 393 bab dan 13.590 hadis dengan tema permasalahan fiqih dan hukum syariat yang bersumber dari riwayat Ahlul Bait Nabi as.
Kitab al-Istibshar juga ditulis oleh Syeikh Thusi. Kitab ini memuat 5.511 buah riwayat dan mengkaji hadis-hadis yang secara lahir bertentangan satu sama lain. Di antara hadis yang sampai dari Rasulullah Saw dan para imam maksum as, sebagian kecil darinya terlihat bertentangan satu sama lain.
Sekelompok ulama dan murid Syeikh Thusi memintanya untuk menulis sebuah buku yang mengumpulkan dan mengkaji berbagai riwayat yang saling bertentangan. Dalam buku ini, Syeikh Thusi mengumpulkan semua hadis sahih untuk berbagai persoalan fiqih, kemudian mengutip riwayat yang berlawanan dan mencari titik temu di antara keduanya.
Ia meneliti riwayat-riwayat yang secara lahir berbeda itu dan dengan penguasaannya atas sumber-sumber agama, ia memperjelas maksud asli dari hadis tersebut. Al-Istibshar terbilang unik dibandingkan kitab kumpulan hadis lain dan merupakan buku pertama yang ditulis untuk mencari titik temu di antara riwayat yang terlihat bertentangan.
Karya lain Syeikh Thusi adalah At-Tibyan fi Tafsir al-Quran yang lebih populer dengan sebutan tafsir at-Tibyan. Buku ini adalah kitab tafsir pertama Syiah yang menafsirkan seluruh ayat al-Quran dan merupakan sumber referensi kuno di bidang tafsir bagi para para mufassir Syiah.
Dalam karyanya ini, Syeikh Thusi menggabungkan dua metode yaitu naqli dengan mengutip riwayat dari Rasulullah dan Ahlul Bait, serta aqli dan dengan memperhatikan berbagai disiplin ilmu dan pendapat para mufassir zaman dulu dan kontemporer.
Kitab-kitab tafsir yang ditulis sebelum Syeikh Thusi – baik milik Ahlu Sunnah maupun Syiah – tidak menafsirkan seluruh ayat al-Quran, tidak terlalu dalam, dan hanya mengkaji serta menafsirkan lafal-lafal yang sulit dipahami.
Namun, at-Tibyan adalah sebuah tafsir yang mengupas semua ayat al-Quran dan ayat-ayatnya dikaji dari perspektif berbagai ilmu al-Quran seperti, qiraah, ma'ani bayan, tata bahasa, dan ilmu nahwu. Juga karena Syeikh Thusi sangat menguasai ilmu kalam, tafsir ini sekaligus menjawab keraguan dan sanggahan dari kelompok ateis dan penganut ajaran batil seperti, kelompok Jabariyyah dan Tashbih.
Metode yang dipakai Syeikh Thusi dalam bukunya ini tergolong baru dibandingkan dengan kitab tafsir ulama Syiah sebelumnya dan merupakan buku tafsir pertama Syiah yang tidak hanya mengumpulkan dan menukil hadis, tetapi juga menganalisis, mengevaluasi, dan ijtihad.
Sebelum ini, kitab-kitab tafsir Syiah hanya menukil hadis untuk menjelaskan maksud dari ayat al-Quran, sementara penulis tidak memberikan analisa dan evaluasi. Kibat at-Tibyan dianggap penting karena kandungannya dan metode baru yang diperkenalkan oleh Syeikh Thusi. Kitab ini menjadi rujukan untuk para ulama tafsir setelahnya.
Hadis dan riwayat memainkan peran yang sangat penting untuk memahami agama. Untuk itu, para penukil hadis dituntut untuk memegang amanah dan bersikap jujur. Banyak dari adab dan hukum bersumber dari ucapan Rasulullah Saw. Oleh sebab itu, diperlukan sebuah kajian yang teliti untuk menyingkap mana hadis yang benar-benar datang dari Rasulullah dan para imam maksum, dan mana hadis palsu atau hadis yang sudah terdistorsi karena kesalahan para perawinya.
Untuk keperluan itu, dibutuhkan ilmu rijal untuk memperkenalkan para perawi hadis, mengkaji reputasi mereka, dan mengukur tingkat kejujuran perawi. Pada awal abad keempat dan seiring dengan berjalannya waktu, kegiatan pemalsuan hadis mulai marak terjadi.
Syeikh Thusi memahami bahaya ini dan agar lebih mudah bagi generasi mendatang untuk melacak perawi yang jujur, ia kemudian menulis sebuah buku berjudul al-Abwab atau Rijal Thusi. Ulama besar ini juga mengarang buku lain dengan judul al-Fehrest untuk bidang yang sama. Buku-buku ini sekarang menjadi salah satu rujukan utama yang diandalkan oleh para ulama kontemporer.
Sejak awal kehadiran fiqih Syi'ah, kitab-kitab fiqih terdiri dari kumpulan riwayat dan hadis dari Ahlul Bait yang berbicara tentang persoalan halal-haram, hukum jual-beli, dan lainnya seperti tema akhlak, pengetahuan umum, dan akidah.
Setelah tiga abad berlalu, muncul sebuah metode baru di mana para fuqaha selain mengutip hadis, juga memaparkan kesimpulannya dari hadis tersebut di setiap persoalan yang kemudian dikenal dengan fatwa. Selain metode ini, para ulama juga memperkenalkan sebuah metode baru yang dikenal dengan al-Fiqh al-Istidlali.
Untuk mengetahui status hukum tentang sebagian permasalahan kontemporer yang belum pernah dibahas pada masa Rasulullah dan imam maksum, serta tidak disinggung secara langsung oleh ayat dan riwayat, maka dibutuhkan sebuah metode baru dalam fiqih untuk menjawab persoalan ini. Metode ini melibatkan akal untuk mengeluarkan kaidah umum dari teks-teks ayat dan riwayat. Dengan kaidah umum ini, para fuqaha mengeluarkan fatwa terhadap permasalahan kontemporer yang dihadapi umat Islam.
Di masa hidupnya, Syeikh Thusi merasakan perlunya sebuah reformasi di bidang fiqih dan ijtihad, dan perubahan ini tidak akan terwujud jika tanpa sebuah gerakan yang melawan tradisi pada masa itu. Di sini, dibutuhkan keberanian, ilmu yang cukup, dan akhlak yang mulia untuk melawan tradisi tersebut.
Syeikh Thusi dengan keberanian, ilmu, dan akhlak yang dimilikinya, membuat sebuah terobosan dengan menulis buku al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyah dan mengantarkan fiqih dan ijtihad dalam Syiah ke sebuah fase baru.
Seorang cendekiawan Muslim asal Iran, Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari mengatakan, “Seluruh wujud Syeikh Thusi dipenuhi dengan iman, semangat Islamis, dan haus akan pengabdian kepada Islam. Dia adalah sosok yang sangat bergairah, tetapi semangat, iman, dan gairah ini tidak pernah menyeretnya ke arah jumud (kaku) dan berpandangan dangkal. Ia bangkit melawan kelompok jumud dan orang yang berpikiran dangkal. Dia mengenal Islam sebagaimana mestinya dan karena itu menghormati kebenaran akal.”
Surat Ghafir ayat 82-85.
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَشَدَّ قُوَّةً وَآَثَارًا فِي الْأَرْضِ فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (82)
Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka. (40: 82)
Sejarah manusia dapat dipelajari dalam dua bentuk; satu lewat buku-buku sejarah yang mencatat fragmen-fragmen sejarah. Kedua, lewat warisan sejarah yang masih ada dari peradaban dahulu yang dapat disaksikan di pelbagai daerah.
Al-Quran dalam ayat ini berbicara kepada para pezalim, “Bila kalian ingin menyaksikan akhir dari perbuatan kalian, cukup dengan melakukan perjalanan di muka bumi dan menyaksikan bagaimana akhir dari kehidupan para pezalim dalam sejarah? Kekuatan yang pernah dimiliki telah musnah, istana mereka telah hancur dan pasukan mereka terjatuh di atas tanah bak dedauan. Apakah kekuatan dan pasukan Firaun Mesir mampu menyelamatkan diri dan pasukannya dari tenggelam di sungai Nil? Apakah bangunan-bangunan luar biasa dan kokoh dari kaum terdahulu yang di bangun di dalam gunung dan benteng tinggi dapat melindungi penduduknya dari kehendak ilahi?
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Mengkaji sejarah baik secara tertulis atau menyaksikan langsung warisan sejarah yang tersisa sangat ditekankan al-Quran.
2. Kesombongan akan kekuasaan dan fasilitas modern di hadapan Allah merupakan bahaya yang selalu mengintai orang-orang zalim.
3. Salah satu faktor kejatuhan peradaban manusia adalah mereka melawan ajaran para nabi.
4. Kekuasaan, populasi dan fasilitas modern yang dimiliki manusia tidak dapat mencegah turunnya siksa ilahi.
فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (83)
Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu. (40: 83)
Melanjutkan ayat-ayat sebelumnya, ayat ini mengatakan, “Kekuasaan para pezalim dalam sejarah yang sombong dengan kekuatan pasukannya, biasanya memiliki peradaban yang beranggapan dapat mencegah kemurkaan Allah dengan ilmu dan pengalamannya. Karenanya mereka melawan ajaran para nabi dan mengolok-olok ucapan mereka tentang penciptaan dan Hari Kebangkitan. Mereka begitu bangga dengan ilmunya dan menganggap keyakinan agama sebagai khurafat dan tidak berdasar, padahal ilmu manusia tidak dapat dibuktikan.
Di masa kini setelah kemajuan sains, kita masih menyaksikan kesombongan sains di tengah masyarakat maju. Dapat dikatakanb ahwa salah satu faktor pengingkaran akan agama dan memilih aliran pemikiran yang menafikan Tuhan di abad-abad terakhir kembali pada kesombongan sains yang menimpa para ilmuan. Dengan menyingkap rahasia alam, para ilmuan sedemikian sombongnya, sehingga memilih untuk mengingkari prinsip dan nilai-nilai agama.
Radiasi kesombongan sains sedemikian luasnya, sehingga manusia menafikan wahyu yang merupakan informasi dan ajaran yang menyelamatkan hidup manusia, bahkan mengolok-oloknya. Mereka mengklaim bahwa dengan tibanya periode ilmu, maka tidak dibutuhkan lagi ajaran para nabi dan dengan anggapan mereka, agama dan ajaran para nabi harus dikeluarkan dari kehidupan manusia.
Sekalipun demikian, kesombongan manusia ini tidak berusia lama dan adanya faktor-faktor lain yang akhirnya menyeret anggapan mereka ini ternyata tidak benar. Perang Dunia I dan II menunjukkan bahwa kemajuan sains dan industri manusia bukan saja tidak membuat mereka bahagia, tetapi justru menyeret mereka ke tepi jurang kehancuran. Begitu juga dengan munculnya segala bentuk kerusakan moral, sosial, ketimpangan, pembunuhan, penyakit jiwa, penyebaran kekerasan dan pemerkosaan, membuat manusia memahami betapa apa yang diraih lewat sains saja ternyata tidak mampu mencegah ketimpangan hidupnya di era modern, bahkan dari banyak sisi, justru menambah masalahnya.
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Ucapan para nabi disertai dengan mukjizat dan argumentasi jelas yang dapat diterima oleh orang yang mencari kebenaran.
2. Bila manusia sombong dengan ilmunya yang sedikit, kesombongan ini akan membuatnya tidak menerima kebenaran, padahal sains dan pengalaman manusia tidak dapat menggantikan ajaran ilahi serta membuat manusia tidak membutuhkan ajaran wahyu.
3. Dampak dari kesombongan sains adalah menghina dan mengolok-olok ajaran ilahi. Mereka yang menderita penyakit ini beranggapan dapat melawan ilmu ilahi yang tak terhingga dan kitab-kitab samawi.
4. Peradaban manusia yang melawan ajaran ilahi pasti hancur dan binasa.
فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آَمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ (84) فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُونَ (85)
Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, “Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.” (40: 84)
Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir. (40: 85)
Ayat-ayat ini merupakan ayat terakhir dari surat Ghafir dan menjelaskan akhir perbuatan manusia akibat sombong dan tidak mau menerima kebenaran serta menentang ajaran para nabi. Disebutkan bahwa orang-orang sombong ini ketika menyaksikan dampak turunnya azab Allah di dunia dan menyaksikan dirinya sebagai makhluk yang lemah, segera menyesali segala perbuatannya dan berserah diri. Mereka melepaskan kekufuran dan kesyirikannya dan menyatakan beriman kepada Allah yang Maha Esa serta mengingkari segala sesembahan yang dijadikan sekutu bagi Allah.
Jelas bahwa iman yang seperti ini dilakukan karena takut dan terpaksa. Iman yang tidak bernilai.
Sebagai contoh, al-Quran menukil kisah Musa dan Firaun yang menyatakan keimanan ketika akan tenggelam. Imannya tidak diterima. Karena disampaikan dalam kondisi terpaksa dan tidak ada pilihan lain di hadapannya. Iman yang memiliki nilai ketika berasal dari kehendak, dimana manusia bisa saja memilih yang lain.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Orang sombong dan keras kepala tidak akan beriman sebelum menyaksikan kemurkaan ilahi, tetapi pada waktu itu imannya sudah tidak bermanfaat.
2. Nilai iman pada kehendak dan kebebasannya. Iman yang muncul karena takut dan terpaksa tidak bernilai. Dengan kata lain, iman yang terpaksa tidak efektif.
3. Kerugian sejati dalam kehidupan adalah mati dalam kondisi kufur dan syirik di jalan yang batil.
Muharram, Sutera Merah Syahadah
Dengan ketibaan Muharram, bermulalah bulan kepahlawanan, keberanian dan pengorbanan; bulan kemenangan darah mengalahkan pedang. Bulan di mana kebenaran menghina kuasa kebatilan di sepanjang zaman, dan kezaliman serta pemerintahan syaitani terbakar oleh pukulan api kepalsuan. Muharram adalah pengajaran untuk generasi sepanjang sejarah bagaimana kemenangan melawan pedang dan panah. Bulan di mana kuasa besar tunduk di hadapan kalimah kebenaran. Bulan di mana pemimpin umat Islam mengajarkan kita jalan perjuangan melawan pemerintah zalim; sebuah jalan yang mesti dilalui oleh pejuang kebebasan, pencari kemerdekaan dan penuntut kebenaran untuk menguasai kereta kebal, peluru dan tentera iblis. Inilah jalan kalimah hak mengalahkan kebatilan. (1)
Muharram adalah bulan di mana keadilan bangkit menentang kezaliman dan kebenaran bangun melawan kebatilan. Sejarah membuktikan kebenaran tidak pernah kalah melawan kebatilan. (2)
Muharram adalah bulan yang dengan wasilah Penghulu Para Mujahid dan Kaum Tertindas (Saidina Husin r.a), Islam dihidupkan kembali dan diselamatkan daripada konspirasi anasir fasad yang ingin ditikam oleh Bani Umayyah. Islam, sejak awal kelahirannya disirami darah syuhada dan mujahid serta membuahkan hasil. (3)
Muharram bagi pengikut Ahlul Bait adalah bulan kemenangan yang diraih dengan korban dan darah.(4)
Betapapun Muharram adalah bulan musibah, penuh kesedaran dan menggerakkan; ia (sebenarnya) sebuah gerakan agung Sayyid as-Syuhada’ (Penghulu Para Syahid) dan Pemimpin Para Wali (Saidina Husin r.a) yang berdiri di hadapan taghut untuk mengajar manusia dengan ajaran yang hidup dan teguh; mengajarkan mereka jalan meruntuhkan kezaliman dan kekerasan dengan pengorbanan dan kematian. Inilah simbol ajaran Islam untuk umat sehingga ke akhir abad. (5)
Bulan Muharram dan Safar adalah bulan yang memelihara kelestarian Islam. (6)
Kita mesti menghidupkan bulan Muharram dan Safar dengan memperingati musibah yang menimpa Ahlul Bait a.s di mana ingatan-ingatan inilah yang menjadikan mazhab ini terus terpelihara hingga hari ini. (7)
Bulan Muharram adalah bulan di mana masyarakat bersedia untuk mendengar tentang hak dan kebenaran. (8)
Kini adalah bulan Muharram yang seakan-akan ‘pedang Ilahi’ sedang berada di tangan tentera Islam yang kuat, khatib yang hebat, para ulama yang mulia, serta para pengikut Sayyid as-Syuhada a.s yang setia. Gunakanlah kesempatan ini dengan sebaiknya. Bersandarlah pada kuasa Ilahi, nescaya akar kezaliman dan pengkhianatan mampu dicincang putus. Bulan Muharram adalah bulan kekalahan adikuasa rejim Yazidiyah dan tipu-daya Syaitaniyah. (9)
Bab 1: Punca dan Faktor kebangkitan Asyura
Di zaman awal Islam selepas kewafatan Rasulullah s.a.w – pengasas keadilan dan kebebasan – Bani Umayyah telah melakukan penyimpangan untuk membenamkan Islam ke tenggorok penzalim dan memusnahkan keadilan di bawah kaki penjahat. Ketika itulah sebuah gerakan besar Asyura ditegakkan oleh Sayyid as-Syuahada Imam Husein a.s. (10)
Pemerintahan kejam Yazid telah melakarkan tinta merah ke atas wajah gemilang Islam dan menghapus segala susah payah Rasulullah s.a.w dan umat Islam di zaman awal serta pengorbanan darah syuhada dilupakan dan menjadi sia-sia. (11)
Telah hancurlah sebuah doktrin murahan yang datang dengan kesesatan jahiliyah dan usaha untuk menghidupkan rejijm nasionalisme dengan seruan “Tidak pernah ada berita yang datang dan tidak pernah ada wahyu yang turun”[1]. Sebuah dinasti monarki telah didirikan dengan mengheret Islam dan wahyu jatuh serta meruntuhkan pemerintahan Islam yang adil. Tiba-tiba seorang tokoh besar yang menghirup inti wahyu Ilahi yang dibesarkan dalam keluarga Rasulullah s.a.w dan Imam Ali al-Murtada a.s serta dari ribaan Siddiqah at-Tahirah Fatimah az-Zahra s.a telah bangun mencipta sejarah agung dengan gerakan Ilahiyah dan pengorbanan yang tiada bandingnya. (12)
Bani Umayyah memang berniat untuk menghancurkan Islam. (13)
Dinasti Bani Umayyah datang untuk menjadikan Islam sebagai rejim taghut. Islam dan pengasasnya diselewengkan. Seperti perlakuan Genghis Khan kepada Iran, Muawiyah dan anaknya yang zalim melakukan kerosakan kepada Islam atas nama khalifah Rasulullah, merubah asas ajaran wahyu kepada sebuah rejim syaitani. (14)
Sayyid as-Syuhada Imam Husein a.s melihat Muawiyah dan anaknya (semoga Allah melaknati mereka) sedang memusnahkan ajaran Islam, memberikan gambaran Islam secara salah. Islam datang untuk membentuk insan, bukan memberi kuasa untuk dirinya. Mereka ini ayah dan anak,[2] memperlihatkan Islam secara songsang. Menjadi imam jamaah tetapi minum arak! Acara mereka adalah acara yang huru-hara. Imam jamaah yang berjudi! Menjadi imam, menaiki mimbar dan berkhutbah atas nama pengganti Rasulullah tetapi bangun menentang Rasulullah s.a.w! Seruan mereka adalah Laa ilaaha illaLlah tetapi menolak Ilahiyah. Tindakan dan perilaku mereka adalah tindakan syaitan walaupun slogan mereka atas nama khalifah Rasulullah! (15)
Yazid adalah seorang yang berkuasa dan seorang sultan. Saya ingin tegaskan bahawa apa sahaja yang dimiliki oleh seorang raja dimiliki oleh Yazid. Dia menggantikan Muawiyah. Namun apakah hujah Imam Husein a.s ketika berhadapan dengan sultan di zaman itu? Apakah hujah beliau berhadapan dengan ‘payung Tuhan’ dan ‘daulat’ seorang raja? Kepada pemerintah yang memberikannya kesyahidan beliau berkata, “Saya adalah khalifah sebenar Rasulullah s.a.w!” Ini kerana pemerintah dan sekutunya adalah penyeludup yang ingin menakluki dan menelan sebuah bangsa serta kepentingannya! (16)
Kesultanan dan putera mahkota adalah pemerintahan yang batil dan jahat di mana Sayyid as-Syuhada bangun untuk menghalangnya dan beliau telah gugur syahid. Imam Husein a.s menolak pelantikan Yazid dan tidak mengakui kesultanannya. Beliau bangkit dan menyerus umat Islam untuk menentangnya. Ini semua bukan daripada ajaran Islam. Islam tidak mempunyai kesultanan dan warisan putera mahkota. (17)
Bahaya yang dibawa oleh Muawiyah dan Yazid untuk Islam bukanlah perampasan terhadap hak khalifah semata-mata. Memang ini suatu bahaya. Namun bahaya yang lebih penting yang dibawa ialah keinginan mereka untuk menjadikan pemerintahan Islam sebagai dinasti. Mereka menginginkan maknawiyah berubah menjadi taghutiyah. Atas nama ‘khalifah Rasulullah’ Islam dipesongkan menjadi rejim taghut. Ini sangat penting. Mereka berdua ingin atau telah merosakkan citra Islam. Dasar Islam diubah menjadi sistem beraja. Arak dan judi berleluasa dalam setiap majlis mereka. Kononnya ‘khalifah’ tetapi dalam acaranya terdapat arak dan judi?! Dalam masa yang sama solat berjamaah?! Budaya ini adalah bahaya besar bagi Islam.
Inilah yang ingin dihalang oleh Sayyid as-Syuhada dan bukan sekadar masalah kekhalifahan. Kebangkitan Imam Husein a.s adalah kebangkitan melawan kesultanan taghut. Kesultanan yang ingin mewarnakan Islam dengan warna lain dan jika berhasil maka Islam akan menjadi sebuah ajaran lain. Islam inilah yang diamalkan oleh rejim kesultanan 2500 tahun ini.
Sedangkan Islam adalah agama yang ingin sistem kesultanan ini dan seumpamanya diruntuhkan demi mewujudkan sebuah pemerintahan Ilahiyah di dunia ini. Agama menginginkan ‘taghut’ diganti dengan kalimah ‘Allah’ sedangkan mereka meletakkan ‘taghut’ di tempat ‘Allah’. Inilah masalah lalu dan sejarah jahiliyah. Pengorbanan Imam Husein a.s bukanlah satu kegagalan kerana kebangkitan itu adalah demi Allah. Kebangkitan Allah tidak pernah gagal. (18)
Mereka ingin memusnahkan dasar Islam dengan mencipta sebuah pemerintahan Arab. Tindakan mereka inilah menyebabkan Arab, bukan Arab dan semua umat Islam menjadi celaru. Ini bukan masalah Arab, ‘Ajam atau Parsi tetapi (bersangkutan) dengan Allah dan Islam. (19)
Sayyid as-Syuhada melihat mereka sedang mencemari Islam, melakukan perbuatan salah dengan nama khalifah dan bersikap zalim. Apakah ini akan menggambarkan bahawa khalifah Rasullulah boleh melakukan perkara-perkara sedemikian? Imam Husein a.s mengetahui tanggungjawabnya lalu berangkat ke Karbala dan gugur syahid. Dengan itu hancurlah tradisi dan penyelewangan Muawiyah dan anaknya. (20)
Sayyid as-Syuhada tidak mempunyai pengikut yang ramai. Beliau bergerak dengan segelintir sahabat dan bangun melawan Yazid yang merupakan pemerintah yang sombong, berkuasa dan berwajah Islam. Begitu juga dengan kaum keluarganya. Kononnya mereka adalah pemerintahan Islam dan khalifah Rasulullah. Itulah yang mereka khayalkan. Namun masalahnya dia adalah orang yang zalim yang memerintah tanpa hak. Inilah yang menyebabkan Aba Abdillah Imam Husein a.s bangkit dengan sebilangan kecil sahabatnya menghadapi musuh dan mengatakan, “Inilah tanggungjawabku untuk menolaknya dan mencegah kemungkaran.” (21)
Sayyid as-Syuhada ketika menghadapi pemerintah yang sedang memerintah rakyatnya dengan zalim telah berkata, “Jika kalian melihat seorang penguasa zalim sedang memerintah sebuah masyarakat dan melakukan kezaliman terhadap rakyatnya, maka kita harus bangun menentangnya dengan segenap kemampuan kita, walaupun dengan hanya beberapa orang dan terpaksa berdepan dengan tentera yang besar.” (22)
Suatu ketika Imam Husein a.s berkata bahawa ketika kami bangun menentang Yazid dan sultan yang kejam ini, dengan bilangan yang kecil berhadapan dengan jumlah yang besar dan berkuasa, yang kekuatan di tangan mereka, kita boleh berdalih dengan berkata bilangan kita kecil dan tenaga kita sedikit. Ungkapan ini disampaikan kepada rakyat di saat beliau bangkit menentang raja yang zalim pada waktu itu. Dalam khutbahnya beliau berkata, “Aku melawan orang ini adalah kerana dia telah memusnahkan janji Allah, menentang sunnah Rasulullah, melanggar kemuliaan Allah s.w.t dan mematahkannya. Rasulullah s.a.w bersabda, “Barangsiapa yang berdiam diri dan tidak menegur perkara ini, tempat mereka adalah sama dengan Yazid di Jahannam. Tempat Yazid adalah tempat orang yang berdiam diri!”[3]
Sekarang kita lihat bahawa Sayyid as-Syuhada menentang penguasa yang zalim sebagaimana yang telah dikatakan dan dianjurkan. Ingatan ini adalah untuk semua dan umum; Man ra’a – sesiapa (sahaja) yang melihat. Barangsiapa yang melihat sultan yang zalim melakukan perkara tersebut lalu berdiam diri dengan tidak berkata apapun atau tidak mengambil apa-apa tindakan, maka orang ini tempatnya sama dengan pemimpin tersebut. Yazid adalah manusia yang zahirnya berpegang kepada Islam, mengaku sebagai khalifah Nabi dan menunaikan solat. Apa sahaja yang kita lakukan, dia juga melakukannya. Tetapi apa yang dilakukannya?! Dia melakukan maksiat dan amalan yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah s.a.w. Tindakannya terhadap rakyat menyalahi sunnah Nabi. Sunnah mengatakan darah umat Islam wajib dipelihara, sebaliknya dia menumpah darah mereka. Harta umat Islam tidak boleh dibazirkan tetapi dia membazirkannya, sama seperti yang dilakukan oleh bapanya Muawiyah. Amirul Mukminin Imam Ali a.s yang menentangnya mempunyai tentera tetapi Sayyid as-Syuhada hanya memiliki sejumlah kecil pengikut dalam berhadapan dengan adikuasa yang besar. (23)
Pada ketika wajah Islam sedang dicalari, pada hari itu jugalah para pembesar Islam memberikan kuasa pemerintahan kepadanya. Zaman di mana Muawiyah dan penggantinya sedang mencemari citra Islam. Atas nama ‘Khalifah Kaum Muslimin’ dan ‘Pengganti Rasulullah’, mereka melakukan jenayah tersebut. Majlis mereka adalah majlis caca-merba!
Di sinilah tanggungjawab para pembesar Islam untuk bangun berjuang dan melawan. Mungkin sahaja masyarakat jahil menganggap pemerintahan Muawiyah dan Yazid ini adalah wajah sebenar Islam. Inilah bahaya yang menimpa Islam. Bagi Imam Husein a.s perjuangan dan jihad harus dilaksanakan walaupun terpaksa menempuh kematian. (24)
Tujuan Kebangkitan Asyura
Semua Nabi diturunkan untuk memperbaiki masyarakat, khalas. Kesemua mereka mempunyai prinsip yang sama iaitu seseorang mestilah berkorban untuk masyarakatnya. Betapapun kemuliaan seseorang – di mana yang paling mulia adalah ketika harga dirinya lebih mahal daripada segala apa yang ada di dunia – mereka harus berkorban ketika masyarakat memerlukannya. Sayyid as-Syuhada juga mengalaminya. Dia datang, mengorbankan dirinya, keluarga dan sahabatnya. Seseorang harus berkorban untuk masyarakatnya dan mereka memerlukan reformasi; (ôtâÅÝó¡É)ø9$$Î/ ¨$¨Y9$# Pqà)uÏ9)[4] Keadilan perlu dibangunkan di tengah-tengah masyarakat. (25)
Imam Husein a.s gugur syahid demi keadilan Ilahi dan tegaknya rumah (agama) Allah s.w.t. (26)
Kehidupan Sayyid as-Syuhada sama seperti kehidupan Imam Mahdi a.s. Juga seperti kehidupan para nabi sejak dari Nabi Adam sehinggalah sekarang. Kehidupan bagi mereka ialah berdiri menentang kezaliman dan menegakkan pemerintahan yang adil. (27)
Kebangkitan Sayyid as-Syuhada sejak dari awal adalah untuk menegakkan keadilan. Pemerintah (ketika itu) tidak mengamalkan kebaikan dan melakukan kemungkaran. Manakala tujuan Sayyid as-Syuhada adalah al-amr bil ma’ruf wa nahy ‘anil munkar. Selain jalan lurus tauhid, segala penyimpangan adalah kemungkaran. Sebagai pengikut Imam Husein a.s yang memerhati kehidupan, kebangkitan dan tujuannya, setiap kemungkaran harus dihapuskan. Ini termasuklah menegakkan pemerintahan yang adil dan menumbangkan penguasa yang zalim. (28)
Seluruh usia dan kehidupan Sayyid as-Syuhada adalah untuk mencegah kemungkaran, menghalang pemerintahan zalim dan menghentikan kerosakan yang dibawa oleh mereka. Sepanjang hayatnya adalah perjuangan meruntuhkan penguasaan mereka, menyeru kebaikan dan menolak kemungkaran. (29)
Sayyid as-Syuhada dengan seluruh harga dirinya, nyawanya dan anak-anaknya, mengetahui apa yang bakal terjadi. Mereka berangkat dari Madinah ke Kota Mekah dan kemudian keluar dari situ dengan penuh kesedaran tentang nasib mereka. Mereka menyedari keberangkatan Imam adalah untuk mengambil sebuah pemerintahan dan mereka berbangga dengannya. Langkah ini bukanlah tindakan yang salah kerana pemerintahan haruslah berada di tangan orang seperti Sayyid as-Syuhada, seperti pengikutnya Sayyid as-Syuhada. (30)
Sayyid as-Syuhada melihat ajaran Islam akan musnah. Inilah faktor kebangkitan Sayyid as-Syuhada, kebangkitan Amirul Mukminin berhadapan dengan Muawiyah, kebangkitan para nabi di hadapan super power dan kafir, bukan masalah untuk merebut sebuah kerajaan. Seluruh dunia ini tidak bermakna bagi mereka. Ini bukan fahaman mereka. Bukan untuk melebarkan wilayah negara. (31)
Apa yang mendorong Sayyid as-Syuhada (bergerak) ke sana adalah ideologi. Kesatuan ummah dan iman yang menariknya. Segala-galanya diserahkan kepada aqidah dan iman, dan akhirnya mati terbunuh mengalahkan musuh. (32)
Sayyid as-Syuhada bangun melawan Yazid walaupun mungkin beliau yakin tidak akan dapat menggulingkan pemerintahan Yazid. Diberitakan memang beliau menyedari hal ini. Namun dia harus bangkit menentang pemerintahan yang zalim biarpun harus memberikan nyawanya. Lalu dia bangkit dan terkorban.
Sayyid as-Syuhada memandang masa depan Islam dan umat Islam. Dia berjuang, menentang dan berkorban agar suatu hari nanti jihad sucinya itu akan muncul di tengah-tengah masyarakat sebagai suatu sistem sosio-politik yang akan dilaksanakan. (34)
Sayyid as-Syuhada melihat tanggungjawab untuk berdiri tegak di hadapan penguasa ini dan syahid sehingga suasana (masyarakat) ketika itu tergugah dengan pengorbanannya dan sebilangan kecil pengikut setianya. Beliau melihat ada pemerintahan yang zalim sedang berkuasa. Ketika itu beliau bangkit menunaikan tanggungjawab Ilahi yang telah ditentukan ke atasnya untuk bergerak, menentang dan menzahirkan penentangannya - biar apapun akan terjadi. Memang - mengikut kaedahnya - sekelompok kecil mampu berhadapan dengan kekuatan besar tersebut tetapi ini adalah taklif Ilahi. (35)
Tetapi (bagi Imam Husein a.s) ini adalah tanggungjawabnya untuk bangun dan menumpahkan darahnya sehingga umat ini dapat diperbaiki dan bendera pemerintahan Yazid diturunkan. Inilah yang telah berlaku. Darahnya tumpah, darah putera-puteranya memercik, darah keluarganya mengalir dan segala yang dimilikinya diserahkan di jalan Islam. (36)
Sayyid as-Syuhada bangkit walaupun tidak mempunyai kekuatan berhadapan dengan kuasa tersebut, sehingga beliau terbunuh. Jika beliau ingin beralasan (Na’uzubillahi min zalik) beliau boleh saja berkata; “Ini bukan tanggungjawab syarie saya”. Mereka (Bani Umayyah) ingin Sayyid as-Syuhada berdiam diri dan membiarkan mereka meneruskan kehidupan. Mereka takut pada kebangkitannya. Imam Husein a.s menghantar sahabatnya, Muslim ibn Aqil untuk menyeru rakyat memberi bai’ah kepada pemerintahan Islam yang akan dibentuknya; dan meruntuhkan pemerintahan fasik ini. Imam Husein a.s boleh duduk di tempatnya di Madinah dan memberi bai’ah kepada Yazid (Na’uzubillahi min zalik), tentu mereka gembira, menghormatinya dan mencium tangannya! (37)
Sayyid as-Syuhada menggadaikan nyawanya untuk Islam. (38)
Sayyid as-Syuhada menyerahkan para sahabatnya, anak-anak muda dan apa saja yang beliau miliki – sedang beliau tidak mempunyai harta kekayaan – di jalan Allah demi menguatkan Islam dan menentang kezaliman dan empayar ketika itu lebih luas daripada hari ini. (39)
Sayyid as-Syuhada terbunuh bukan sekadar untuk mendapatkan pahala. Baginya pahala bukan perhitungan. Apa yang lebih penting adalah menyelamat agama ini, demi kemajuan dan kelestarian Islam. (40)
Nabi s.a.w kalah dalam beberapa peperangan. Imam Ali a.s juga tewas dalam perangnya melawan Muawiyah dan Sayyid as-Syuhada juga mati terbunuh. Tetapi semuanya demi ketaatan kepada Allah. Segala harga diri hanya untuk Allah, dan dari dimensi ini tidak ada makna kegagalan. Inilah tanda ketaatan. (41)
Syuhada Karbala: Pilihan Sebuah Kesedaran
Semakin Sayyid as-Syuhada menghampiri hari Asyura, semakin dekat dengan hari kesyahidan. Para pemuda berlumba-lumba untuk mati syahid. Mereka semua tahu bahawa mereka akan gugur syahid beberapa jam lagi. Mereka berlumba-lumba kerana mereka tahu ke mana mereka akan pergi dan faham untuk apa mereka datang. Mereka sedar bahawa mereka datang untuk menunaikan tanggungjawab Ilahi dan datang untuk memelihara Islam. (42)
Dalam beberapa riwayat kita melihat ketika waktu tengahari Asyura menghampiri, Husein bin Ali a.s semakin bersemangat dan bergelora jiwanya. Beliau melihat ini adalah jihad di jalan Allah. Beliau sedar orang yang berjihad demi Allah akan kehilangan orang-orang yang dikasihi tetapi mereka menjadi bekal di alam Baqa. (43)
Khabar kesyahidan Imam Husein a.s terlihat dalam mimpi Rasulullah sa.w. Baginda bersabda kepada Imam Husein a.s: “Kamu tidak akan sampai ke satu darjat dalam syurga melainkan dengan kesyahidan.” (44)
Waktu zohor hari Asyura dalam kegawatan perang, salah seorang sahabat Sayyid as-Syuhada berkata, “Sudah masuk waktu zohor.” Imam Husein berkata, “Kamu mengingatkan solat dan Allah memasukkan kamu dalam kelompok orang-orang yang menunaikan solat.” Imam Husein tidak berkata kita ingin berperang, tidak! Justeru kita berperang adalah untuk solat. (45)
Dalam kecamuk perang dan masing-masing menanti saat akan terkorban, Ali Akbar, putera Imam Husein a.s yang masih remaja berkata, “Bukankah kebenaran bersama kita? Lalu mengapa harus kita takut.” Imam a.s menjawab, “Ya! (Kita tidak takut) saat kebenaran bersama kita.” (46)
Renungilah keredhaan Allah dan ketahuilah bahawa kalian adalah hamba Tuhan. Kita harus redha dengan apa yang terjadi dan menerima seperti hamba Allah yang ikhlas dan para auliya-Nya. Begitulah yang terjadi ke atas Sayyid as-Syuhada. Menurut riwayat, ketika tengahari Asyura menjelang dan satu demi satu para pemudanya gugur syahid, wajah beliau semakin bercahaya kerana dia tahu dia sedang menghampiri tujuannya. (47)
Pejuang muda, tentera yang berani dan bersenjata ini mengikuti jalan kesyahidan abadi. Sejarah mencatatkan setiap wajah-wajah pemuda dan sahabat Imam Husein a.s yang gugur syahid bercahaya dan memancar keberanian justeru keputusan jelas mereka untuk berjuang. (48)
Hasil dan Kesan Kebangkitan Imam Husein a.s
Jika tidak ada Asyura dan pengorbanan keluarga Nabi, maka taghut akan menghancurkan segala misi kenabian dan penat lelah Rasulullah. Jika tidak ada Asyura, wahyu dan Kitab Allah akan tercoret tinta penyelewengan dengan helah jahiliyah Abu Sufiyan. Yazid adalah simbol warisan zaman penyembahan berhala yang menyangka akar Islam akan tercabut dengan terbunuh dan syahidnya putera-putera wahyu ini. Dengan bongkak dia mengumumkan, “Tidak ada berita (kenabian) yang datang dan tidak ada wahyu yang turun!” dengan harapan pemerintahan Ilahi akan terhapus. (Jika ini berlaku) kita tidak tahu apakah nasib al-Quran dan Islam yang kita cintai ini. Tetapi kuasa Allah mengatasi segalanya. Dia yang memelihara Islam sebagai agama penyelamat dan al-Quran sebagai kitab pembimbing. Agama ini terjaga dengan darah para syuhada. Husein bin Ali sebagai warisan nubuwah dan titisan wilayah telah mengorbankan nyawanya dan orang-orang yang disayanginya demi umat Nabi Muhammad s.a.w. Darahnya yang suci mengalir di sepanjang sejarah menyirami agama Allah, menumbuhkan wahyu dan menyuburkan hasilnya. (49)
Kesyahidan Penghulu Kaum Mazlum dan pendokong al-Quran pada hari Asyura, merupakan bermulanya kehidupan abadi Islam dan kelestarian al-Quran. Mereka berjaya menghapuskan impian Yazid yang menggunakan Islam untuk kepentingannya sekaligus memadam watak Abu Sufiyan dari pentas sejarah. (50)
Pada ketika itu (hari Asyura) Yazid menggali kuburnya sendiri dan meletakkan namanya kekal dalam senarai pemerintah zalim. Demikian juga pada 15 Khordad (5 Jun 1963), orang-orang Reza Pahlavi, para pendokong dan sekutu jahatnya dengan tangan kejam monarki telah menggali kubur mereka sendiri dan jatuh terhina ke dalamnya. Alhamdulillah, bangsa besar Iran ini telah menang dan mengutuk ke atas kuburan mereka. (51)
Jika tidak ada gerakan ini, gerakan Imam Husein as, Yazid dan orang-orang Yazid akan memperlihatkan Islam secara songsang. Dan sejak dari mula, mereka tidak percaya pada Islam. Mereka dengki dan hasad pada auliya Islam. Sayiddul Syuhada dengan pengorbanan ini, selain mereka telah dikalahkan dan meninggalkan sedikit, rakyat diberikan kesedaran apa yang telah berlaku dan musibat apa yang telah terjadi. Musibat itulah yang menyebabkan berkecainya keadaan Bani Umayah. (52)
Tokoh besar yang menghirup unsur wahyu Ilahi dan dibesarkan dalam keluarga Sayyid Rasullullah mustafa dan Sayid Auliya Ali Murtada, dalam riba Siddiqah Tahirah bangun dan dengan pengorbanan yang tidak ada tandingannya serta gerakan Ilahinya mewujudkan kejadian besar sehingga istana kejam zaman itu tumbang dan agama Islam diselamatkan. (53)
Sayyid as-Syuhada mendirikan gerakan besar Asyura dan dengan pengorbanan dan darahnya serta orang-orang yang dikasihinya menyelamatkan Islam dan keadilan serta mengecam dan menumbangkan fasilitas dan fondasi Bani Umayah. (54)
Jika bukan dikeranakan pengorbanan penjaga Islam dan syahid keberanian tentera besar dan sahabat-sahabat pengorbannya, Islam sudah pasti akan diperkenalkan secara songsang oleh Bani Umayah dan rezim zalim, maka segala susah payah Nabi Muhammad dan para sahabatnya yang penuh pengorbanan akan menjadi sia-sia. (55)
Majoriti para Imam samada terbunuh atau diracuni, tetapi agama Islam tetap terpelihara. Mereka mati terbunuh tetapi ajaran mereka tetap terjaga. Agama mereka tetapi lestari. Dengan kematian mereka agama ini tetap hidup. (56)
Walaupun auliya banyak kehilangan haknya, namun ajaran mereka tetap terjaga. Sayyid as-Syuhada as telah terbunuh bersama dengan sahabat dan keluarganya. Tetapi ajaran/agamanya maju kedepan; agama tidak kalah malah maju ke depan. Bani Umayah telah dapat dikalahkan sepanjang abad dengan terbunuhnya Sayyid as-Syuhada; dengan kata lain Islam yang ingin ditonjolkan oleh Bani Umayah dan dengan mendakwa diri sebagai khalifah melaksanakan bertentangan dengan segala nilai-nilai insani. Sayyid as-Syuhada as mengalahkan rezim ini, rezim fasad ini dengan pengorbanan darahnya walaupun mati terbunuh. (57)
Auliya Tuhan juga merasa kekalahan. Imam Ali as dikalahkan oleh Muawiyah. Tidak dapat diperkatakan. Dia kalah. Imam Husein as juga kalah dalam perang menentang Yazid dan mati terbunuh tetapi pada realitinya beliau menang. Pada zahirnya tampak dia kalah tetapi hakikatnya dia menang. (58)
Islam yang anda dapat lihat hari ini, di sini sedang kita hidup, Sayyid as-Syuhada lah yang memeliharanya. (59)
Islam adalah agama yang amat dicintai sehingga anak-anak Rasulullah saaw mengorbankan nyawa untuk Islam. Sayyid as-Syuhada as bersama anak-anak muda, bersama para sahabat setianya berperang untuk Islam dan mati terbunuh dan Islam tetap hidup selamanya. (60)
Perjuangan Sayyid as-Syuhada as adalah perjuangan menentang pemerintahan masa itu, yang merupakan pemerintahan taghut. Kesyahidan Sayyid as-Syuhada tidak mendatangkan kerosakan pada Islam, malah Islam dapat maju ke hadapan. Jika tidak dikeranakan kesyahidannya, Muawiyah dan putranya akan menampilkan Islam dalam bentuk lain kepada dunia, atas nama Khalifah Rasulullah, dengan pergi ke masjid, mendirikan solat jumaat dan menjadi imam solat Jumaat, mendirikan solat jemaah, menjadi imam solat jemaah. Nama, mengatasnamakan khalifah Rasulullah dan pemerintahan, pemerintahan Islam tetapi pengisiannya bertentangan dengan Islam, bukan pemerintahan, pemerintahan Islam yang berlandaskan pada pengisian, dan bukan pemerintahan, pemerintahan Islam. Sayyid as-Syuhada as, mempunyai peran untuk membatalkan segala usaha mereka untuk mengembalikan Islam kepada jahiliyah dan menunjukkan Islam seperti zaman lalu. (61)
Syahidnya Sayyid as-Syuhada menghidupkan agama. Beliau sendiri gugur syahid, agama Islam tetap hidup dan rezim taghut Muawiyah dan putranya dikapankan. Ini kerana Sayyid as-Syuhada meliaht mereka ini berusaha untuk mencemarkan Islam, melakukan kesalahan atas nama khalifah Islam dan melakukan kezaliman serta ini akan terpancar/terefleksi di dunia bahawa khalifah Rasulullah melakukan kerja-keraja ini. Sayyid as-Syuhada yang mengenal akan tanggung jawabnya iaitu pergi dan mati terbunuh; dan menghancurkan kerja-kerja Muawiyah dan putranya. Selepas terbunuh, kesyahidan Sayyid as-Syuhada tidak merugikan apa-apa pada Islam, sebaliknya menguntungkan Islam, menghidupkan Islam. (62)
Jika tidak ada Sayyid as-Syuhada, rezim taghut ini akan memperkokohkan perkara ini, kembali pada jahiliyah. JIka saat ini saya dan anda adalah muslim, maka kita adalah muslim taghut, bukan muslim seperti Imam Husein. Imam Huseinlah yang menyelamatkan Islam. (63)
Sayyid as-Syuhada juga kalah dan mati terbunuh. Tetapi dia telah mencapai kemenangan puncak. Agamanya tidak terkubur dengan kematiannya. Musuhnya mundur. Muawiyah dan sekutu-sekutu Muawiyah yang ingin mengubah Islam dalam bentuk emparator kembali ke zaman jahiliyah, kembali kepada kondisi jahiliyah telah dikalahkan. Yazid dan orang-orang Yazid dikubur/dikapankan hingga abadi dan rakyat melaknat mereka sehingga abadi. Tuhan juga melaknat mereka dan mereka iaitu Imam Husein juga terpelihara. (64)
Sayyid as-Syuhada adalah Sayyid as-Syuhada. Agama terjamin dengan amalannya. (65)
Ana minal Hussein seperti yang telah diriwayatkan dari Rasulullah saaw, Rasul bersabda, dengan maksudnya, maknanya Husein adalah kepunyaan ku dan aku juga hidup darinya. Telah dinukilkan darinya. Semua barakah ini adalah dari kesyahidannya, walaupun musuh ingin segala hasil kerjanya musnah, mereka ingin akar Bani Hasyim disingkirkan……bahasa arab mereka mengatakan yang mereka ingin membuang dasar Islam dan mendirikan sebuah kerajaan arab. (66)
Ketika Imam Husein bergerak menuju Mekah dan saat beliau keluar dari kota Mekah, ia merupakan sebuah gerakan politik yang besar ketika mana dalam waktu yang sama, orang ramai sedang menuju ke Mekah. Beliau pula keluar dari kota tersebut. Ini adalah sebuah gerakan politik, semua gerakannya adalah gerakan politik. Islam politik dan gerakan Islam politik inilah yang telah menumbangkan Bani Umayah dan jika tidak dikeranakan gerakan ini, sudah tentu Islam hancur lebur. (67)
Imam Husein as-beliau dan seluruh anak-anak dan para sahabatnya berkorban dan selepas kesyahidannya, Islam semakin kokoh. (68)
Sayyid as-Syuhada as mati terbunuh, kalah tetapi Bani Umayah sedemikian menanggung kekalahan sehingga ke akhir mereka tidak mampu untuk berbuat apa-apa; seperti darah yang mengalir ini, pedang itu ditarik, seperti yang kita lihat sekali lagi kemenangan berpihak pada Sayyid as-Syuhada dan kekalahan adalah bersama Yazid dan sekutu-sekutunya. (69)
Sayyid as-Syuhada bersama hak dan bersama sebilangan kecil bangun menentang dan dalam hal ini mencapai kesyahidan dan anak-anak beliau juga gugur syahid, tetapi Islam hidup dan rahsia Yazid dan Bani Umayah terbongkar. (70)
Sayyid as-Syuhada as bersama beberapa sahabatnya, beberapa orang dari keluarganya, bangun menentang dari kemuliaannya. Kerana kebangkitan demi Allah, menumbangkan dasar kesultanan kejam. Walaupun beliau terbunuh tetapi dasar kesultanan, dasar kesultanan yang ingin Islam berubah dalam bentuk kesultanan taghut tumbang. (71)
Orang yang bekerja untuk Tuhan tidak pernah gagal di dalamnya, walaupun terbunuh tidak kalah. Sayyid as-Syuhada juga terbunuh tetapi adakah beliau kalah? Saat ini benderanya terpacak megah dan tidak ada kaitan dengan Yazid. (72)
Jika tidak dikeranakan kebangkitan Sayyid as-Syuhada, maka kita juga tidak mungkin mencapai kemenangan. (73)
Kebangkitan Asyura, contoh kebebasan
Sayyid as-Syuhada as mengajar kepada semua apa yang patut dilakukan ketika menghadapi kezaliman, menghadapi kejahatan, dalam menghadapi pemerintahan kejam. Walaupun sejak awal beliau mengetahui bahawa jalan yang akan ditempuh ini adalah jalan yang akan mengorbankan semua sahabat dan keluarganya dan orang-orang yang dikasihi Islam ini berkorban untuk Islam, tetapi mereka juga tahu akan akibatnya. Jika tidak ada gerakan ini, gerakan Husein as, Yazid dan sekutu-sekutunya akan menonjolkan Islam secara songsang. Dan sejak awal, mereka ini tidak percaya pada Islam dan mereka ini sebenarnya dengki dan hasad pada auliya Islam. Dengan pengorbanan ini Sayyid as-Syuhada, selain mengalahkan merekta dan tidak lama berlalunya waktu, rakyat mula menyedari apakah yang telah terjadi dan apakah mala petaka yang menimpa. Musibat inilah yang menyebabkan hancurnya Bani Umayah, selain itu, di sepanjang sejarah diajari kepada semua bahawa inilah jalannya. Janganlah bimbang dengan angka bilangan, bilangan tidak akan menjadi kerja, kualiti bilangan, kualiti jihad, satu bilangan berhadapan dengan bilangan besar, itulah yang akan menjadi kerja. Mungkin saja sedikit tetapi kualitinya berkemampuan dan mulia. (74)
Imam umat Islam mengajar kepada kita ketika penzalim zaman itu berkuasa di atas umat Islam, memerintah secara zalim, dalam menghadapi dengannya, andaipun kekuatan kalian tidak seberapa bangunlah dan berjuanglah. Jika melihat Islam dalam keadaan bahaya, berkorbanlah dan sumbangkanlah darah kalian. (75)
Dengan pekerjaannya Sayyid as-Syuhada mengajar kita apa yang harus kita lakukan dalam lapangan dan bagaimana pula sikap kita saat berada di luar medan, mereka yang berjuang secara bersenjata, bagaimana mereka mesti melakukan dan mereka yang berada di belakang medan perang bagaimana mereka mesti berdakwah. Kualiti perlawanan adalah bagaimana untuk bangkit dengan bilangan sedikit dalam berhadapan dengan bilangan besar yang kuat. Kualitinya adalah bagaimana dengan sebilangan kecil ini semestinya berhadapan dengan pemerintahan zalim yang menguasai semua tempat, inilah yang diajari oleh Sayyid as-Syuhada kepada bangsa dan demikian juga ahlul bait beliau dan anak-anak mulianya memahami selepas musibah yang menimpa mereka, apa yang mesti mereka lakukan. Mestikah mereka menyerah? Mestikah mereka mengurangkan perjuangan mereka? Atau bangun seperti Sayyidah Zainab sa menelurusi musibah besar tersebut yang disebut .......bahasa arab.. dan bersuara dihadapan kufar dan dihadapan zindiq dan di mana saja beliau menemui kesempatan beliau menyampaikan hal yang berlaku dan Ali bin Husein as dalam keadaan lemah kerana sakit menyampaikan apa yang telah berlaku. (76)
Sayyid as-Syuhada dan sahabat-sahabat dan ahlul baitnya mengajar kita tanggung jawab: berkorban di medan, berdakwah di luar medan. Pengorbanan yang sedemikian itu berharga di hadapan Allah swt dan membantu hasil gerakan Imam Husein as, khutbah-khutbah Imam Sajjad dan Zainab sedemikian itu atau hampir besar itu memberikan kesan.
Mereka memberikan kita kefahaman bahawa di hadapan si zalim, di hadapan pemerintahan batil, perempuan tidak harus takut, lelaki tidak mesti takut. Di hadapan Yazid, Sayyidah Zainab sa berdiri dan menghina Bani Umayah, penghinaan atau celaan yang tidak pernah mereka dengar seumur hidup dan dalam kata-kata nya dalam perjalanannya dan di Kufah, di Syam dan di mimbar-mimbar yang ditempuh oleh Imam Sajad as. Mereka menjelaskan apa yang telah terjadi, bukan persoalannya tidak hak melawan yang hak, mengenal kami sebagai orang jahat; apa yang ingin diperkenalkan oleh Sayyid as-Syuhada ialah kami adalah orang yang berhadapan dengan pemerintahan waktu itu, yang mengaku diri mereka sebagai Khalifah Rasulullah. Imam Sajjad mendedahkan perkara ini di hadapan orang ramai dan begitu juga Zainab sa.
Tanggung jawab kita telah ditetapkan oleh Sayyid as-Syuhada, janganlah bimbang atau khuatir dengan bilangan kecil saat berada dalam medan perang, janganlah takut pada kesyahidan. Betapa besar tujuan dan ideologi insan, sebesar itulah kita mesti menanggung kesusahannya. (77)
Imam Husein as dengan sebilangan kecilnya berkorban segalanya demi Islam, berdiri di hadapan sebuah empayar besar dan berkata "tidak". (78)
Dalam keadaan syahidnya Sayyid as-Syuhada kita kehilangan lebih tinggi dari semua hal, tetapi beliau melakukan pengorbanan kerana beliau tahu apa yang beliau lakukan dan kemana perginya dan apa tujuannya, beliau gugur syahid dan kita juga mestilah melakukan pengorbanan dengan mengambil kira apa yang dilakukan oleh Sayyid as-Syuhada dan apatah lagi memusnahkan kezaliman dan apa yang telah kita lakukan. (79)
Sayyid as-Syuhada as saat melihat sebuah pemerintahan zalim, kejam sedang memerintah rakyat, menjelaskan bahawa kita kita melihat seorang pemerintah kejam sedang memerintah, kita haruslah bangun menentangnya, mencegahnya semampu mungkin; dengan beberapa orang, hanya dengan beberapa orang, di hadapan tentera yang dilengkapi. Begitulah. Tetapi dia mengetahui bahawa tanggung jawabnya adalah bangun menentang dan dia mengorbankan darahnya untuk mengislah bangsa ini, sehingga bendera Yazid ini jatuh terbaring dan begitulah jadinya, khalas. Dia memberikan darahnya dan darah anak-anaknya serta keluarga dan semua yang dimilikinya demi Islam. Adakah darah kita lebih berwarna dari darah Sayyid as-Syuhada? Kenapa kita mesti takut untuk menyumbangkan darah kita atau mengorbankan nyawa kita? Mereka pula dalam keadaan …….Sultan kejam berkata: Saya muslim, muslimnya Yazid sama dengan muslimnya Syah; Jika tidak lebih, tidak pula kurang kerana bersikap demikian terhadap rakyat dan dia merupakan seorang lelaki yang kejam, zalim dan inginkan rakyat menunjukkan kesetiaan tidak berbelah bagi padanya, itulah makanya Sayyid as-Syuhada melihat perlu beliau bangun menentang walaupun terpaksa menyerahkan nyawanya. (80)
Adalah satu perintah atau arahan. Arahan kerja Imam Husein as adalah arahan untuk semua. ……..bahasa arab….adalah arahan setiap hari di setiap tempat iaitu mesti melanjutkan gerakan tersebut dengan program yang sama.
Imam Husein dengan sebilangan kecil berkorban untuk Islam; berdiri menentang sebuah empayar besar dan berkata ‘tidak’; kita mesti memelihara kata-kata tidak ini di setiap hari dan di setiap tempat. (81)
Kalimat….bahasa arab….. adalah sebuah kalimat besar yang telah disalah ertikan. Mereka membayangkan bahawa kita mesti menangis setiap hari! Tetapi bukan ini pengertiannya. Apakah yang telah dilakukan oleh Karbala, apakah peran yang dimainkan oleh tanah Karbala pada hari Asyura, semua tanah/negara mestilah demikian. Peranan Karbala adalah tempat di mana Sayyid as-Syuhada as dengan beberpa orang dan sebilangan yang terbatas, datang ke Karbala dan berdiri di hadapan si zalim Yazid dan berhadapan dengan empayar zaman tersebut dan berkorban serta mati terbunuh. Tetapi tidak menerima kezaliman dan mengalahkan Yazid. Semua tempat mestilah demikian. Semua hari mestilah demikian. Pada semua hari, bangsa kita mestilah mempunyai makna demikian bahawa hari ini adalah hari Asyura dan kita mesti berdiri di hadapan kezaliman. Dan di tempat ini adalah juga Karbala dan kita mesti bergerak dengan peran Karbala, tidak terbatas pada satu tempat, tidak terbatas pada seseorang. Persoalan Karbala tidak terbatas pada sebuah kelompok dengan 70 beberapa orang di satu tempat bernama Karbala. Semua tanah/tempat mestilah melaksanakan peranan ini dan tidak melalaikan semua hari. Bangsa tidak boleh lalai/lupa bahawa kita mesti senantiasa berdepan dengan kezaliman. (82)
Janganlah bimbang dan khawatir, tidak merasa gentar, takut dan bimbang dibuang jauh-jauh dari dalam diri. Anda adalah pengikut dan pendukung yang berdiri tegas dan sabar berhadapan dengan musibah dan tragedi. Apa yang kita lihat hari ini berbanding dengan apa yang berlaku hari itu tidak ada apa-apanya. Tokoh-tokoh besar kita telah melalui peristiwa-peristiwa seperti hari Asyura dan malam ke 11 Muharam serta menanggung musibah yang agak besar di jalan agama Allah. Apakah yang kalian cakap hari ini? Apa yang kalian takutkan? Untuk apa anda merasa bimbang? Adalah aib/memalukan bila seseorang itu mengatakan dirinya pengikut Imam Ali as dan Imam Husein as, tetapi menyerah di hadapan perbuatan rasuah dan kerja-kerja jahat alat pemerintahan. (83)
Gerakan 12 Muharam (15 Khurdod) dalam berhadapan dengan istana kejam Syah dan orang-orang asing adalah mengikuti gerakan suci Huseini yang begitu kuat dan konstruktif yang telah diteruskan oleh pejuang mujahid, sedar dan penuh pengorbanan dengan gerakan dan pengorbanan menghadapi si zalim dan kejam, sedemikian bangsa besar disedar dan digerakkan untuk bersatu sehingga merampas tidur dari mata pihak asing dan penyembah pihak asing. Hauzeh Ilmiah, universiti-universiti dan pasar-pasar dibentuk menjadi tembok pelindung para penuntut keadilan dan menjadikan Islam sebagai agama mulia. (84)
Hari ini ada satu perkara yang penting. Begitu penting sehingga nyawa mesti dikorbankan. Penting sehingga Sayyid as-Syuhada berkorban nyawa untuknya, begitu penting sehingga Nabi Islam bekerja keras selama 23 tahun, begitu penting sehingga Imam Ali as berjuang menentang Muawiyah dan dikala Muawiyah mengaku Islam sedangkan dia adalah sultan kejam, sedangkan ia adalah alat kekejaman, yang mesti ditumbangkan. Sehingga sahabat-sahabat mulianya terbunuh, sehingga pihak lawan juga banyak yang terbunuh; untuk apa?? Untuk mendirikan hak, untuk menegakkan keadilan. (85)
Kita tidak lebih mulia dari Sayyid as-Syuhada. Kita melaksanakan tanggung jawab kita, walaupun mati terbunuh. (86)
Kenangan pahit 17 Shahriwar 57 dan kenangan getir hari-hari besar yang dilewati dengan buah manis menumbangkan istana despotik, arogan dan digantikan dengan bendera republik keadilan Islam. Bukan kah itu ajaran ......bahasa arab...yang mesti menjadi sumber pada umat Islam. Kebangkitan semua orang pada setiap hari dan di setiap negara/tanah. Asyura adalah kebangkitan para penuntut hak, dengan sebilangan kecil dan iman serta cinta yang besar, berhadapan dengan si zalim penduduk istana dan arogan perampas dan arahannya adalah ini merupakan program contoh kehidupan di setiap hari dan di setiap tanah. Hari-hari yang kita lalui, Asyura berlaku secara berulang-ulang di medan, jalan, rumah, lorong di mana darah anak-anak Islam tumpah, disitulah Karbala berulang. Dan arahan yang mengajar ini merupakan tanggung jawab dan sebuah berita. Tanggung jawab bahawa walaupun bilangan orang yang teraniaya itu sedikit untuk berdepan dengan arogan, jikapun pihak yang dihadapi itu dilengkapi dengan segala alat dan berkuasa, kita ditugaskan untuk bangkit seperti mana yang dilakukan oleh pemimpin para syuhada; diberitakan bahawa kesyahidan adalah rahasia kemenangan. 17 Shahriwar merupakan pengulangan Asyura dan medan syuhada, pengulangan Karbala dan kesyahidan kita, pengulangan/berulangnya tragedi syahid Karbala dan kesyahidan kita, pengulangan syahid Karbala dan penentang bangsa kita, pengulangan Yazid dan sekutu-sekutunya. Karbala menghancurkan istana jahat dengan darah; Karbala kita menumbangkan istana kesultanan setan. Kini masanya kita pewaris darah-darah ini dan pemuda yang tinggal dan syuhada yang disalut darah tidak menyerah(melanjutkan perjuangan) sehingga pengorbanan mereka membuahkan hasil dan dengan pentadbiran yang istiqamah dan genggaman yang kuat, sisa-sisa rezim kejam dan para konspirator perampok timur dan barat dapat dikuburkan di bawah kaki para syuhada. (87)
Bangsa besar ini pada ulang tahun tragedi letupan yang jatuh pada tarikh 15 Khurdod 42 mengambil inspirasinya dari Asyura. Jika Asyura, kehangatan dan semangat bergeloranya tidak ada, belum tahu sama ada kebangkitan ini akan berlaku tanpa masa lalu dan terorganisir. Kejadian besar Asyura berlaku pada 61 Hijriah sehingga Khurdod 61 adalah kebangkitan.......................dalam setiap potongan sejarah merupakan pembuat revolusi. (88)
Saat ini kita melihat dalam medan-medan perang menunjukkan mereka, semuanya sedang berusaha mehangatkan medan-medana perang dengan cinta pada Imam Husein as. (89)
Kini bangsa kita memahami maksud.....bahasa arab..Di acara-acara peringatan dan doa-doa malam Asyura, mereka menghidupkan para sahabat Sayyid as-Syuhada dalam jiwa-jiwa mereka. (90)
Imam Husein as memelihara Islam dengan darah mereka, kalian dengan mengikutinya menjamin kehidupan revolusi dan Islam. (91)
Dalam hal di mana anak-anak muda layak kita, kita kehilangan pemuda-pemuda kita yang bekerja dengan baik, tetapi apa yang kita dapati adalah lebih dari maksud ini. Itulah Sayyid as-Syuhada mengorbankan wanita dan anak-anaknya, apa yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah dalam kehidupannya dan para Imam Maksumin kita menderita dan melalui segala kesulitan dalam menempuh jalan ini. (92)
[1] Sebahagian daripada bait syair Abdullah bin Zab’ari yang berbunyi;
Telah dipersenda Bani Hasyim dengan dinasti yang percaya
Tidak pernah ada berita yang datang dan tidak pernah ada wahyu yang turun
Syair ini dibacakan oleh Yazid bin Muawiyah sambil menjolok tongkatnya ke gigi Imam Husein a.s ketika kepala Imam Husein a.s dibawa ke hadapannya di Syam. Syair ini membuktikan bahawa Yazid tidak pernah beriman dengan al-Quran dan mempersendakan kerasulan Nabi Muhammad s.a.w. Lihat Allamah Sya’rani, t.t., Dumi’a as-Sujum fi Tarjumah Nasf al-Mahmum, m.s 252.
[2] Sama seperti raja Iran yang terakhir Reza Khan Pahlawi dan anaknya Muhammad Reza yang menggunakan Islam untuk kepentingan diri dan dinasti mereka.
[3] Telah berkata Abu Mihnaf daripada ‘Uqbah bin Abi al-‘Izari: “Sesungguhnya Imam Husein a.s telah berkhutbah di hadapan para sahabatnya dan pengikut al-Hurr di sebuah tempat bernama Baidhah. Setelah memuji Allah, beliau berkata, “ Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rasulullah s.a.w telah bersabda, “Barangsiapa yang melihat sultan yang zalim menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, menyalahi Sunnah Rasulullah dan memperlakukan hamba-hamba Allah dengan zalim dan dosa, lalu tidak menegurnya dengan perbuatan atau perkataan, maka berhak ke atas Allah untuk memasukkan dia ke (neraka) tempat sultan yang zalim tersebut.” Lihat Tarikh Tabari, Jilid 4, muka surat 304.
[4] “Demi sesungguhnya! Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti dan mukjizat yang jelas dan Kami telah menurunkan bersama mereka Kitab suci dan keterangan yang menjadi neraca keadilan, supaya manusia dapat menjalankan keadilan dan Kami telah menciptakan besi dengan keadaannya mengandungi kekuatan Yang handal serta berbagai faedah lagi bagi manusia.” Surah al-Hadid, ayat 25.
Seyed Ali Khamenei
“Carilah seorang seperti Khamenei yang komitmen terhadap Islam, pengkhidmat, dan yang hatinya yang berpikir melayani bangsa ini, tentu kalian tidak akan mendapatkannya. Aku telah mengenalnya bertahun-tahun”.
Imam Khomeini r.a
Kelahiran hingga sekolah
Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, putra almarhum Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Sayyid Javad Husaini Khamenei, dilahirkan pada tanggal 24 Tir 1318 Hijriah Syamsiah (16 Juli 1939) atau bertepatan dengan tanggal 28 Shafar 1357 Hijriah di kota suci Mashad. Beliau adalah putra kedua. Kehidupan Sayyid Javad Khamenei sangat sederhana sama seperti kebanyakan ulama dan pengajar agama lainnya. Istri dan anak-anaknya memahami secara mendalam makna zuhud dan kesederhanaan dengan baik berkat bimbingannya. Ketika menjelaskan kondisi kehidupan keluarganya, Rahbar mengatakan, “Ayah saya adalah ulama yang terkemuka, namun sangat zuhud dan pendiam. Kehidupan kami cukup sulit. Saya teringat, sering di malam hari kami tidak memiliki apa-apa untuk dimakan! Ibu saya dengan susah payah menyiapkan makan malam… hidangan makan malam itu adalah roti dan kismis”.
“Rumah ayah di mana saya dilahirkan –hingga saya berusia empat sampai lima tahun- berukuran 60 - 70 meter persegi di kawasan miskin Mashad. Rumah ini hanya memiliki satu kamar dan sebuah ruang bawah tanah yang gelap dan sempit. Ketika ayah saya kedatangan tamu (karena ayah saya adalah seorang ulama dan menjadi rujukan masyarakat, beliau sering kedatangan tamu) kami pergi ke ruang bawah tanah sampai tamu itu pergi. Kemudian beberapa orang yang menyukai ayah saya membeli tanah di samping rumah dan menggabungkannya dengan rumah kami sehingga rumah kami memiliki tiga kamar”.
Seperti inilah beliau dibimbing dan sejak usia empat tahun Rahbar bersama kakak beliau yang bernama Sayyid Mohammad diserahkan ke maktab untuk mengenal alpabet dan belajar membaca AlQuran. Setelah itu, kedua bersaudara ini melalui jenjang pendidikan dasar mereka di sekolah Islam yang saat itu baru dibangun “Daar At-Ta’lim Diyanati”.
Di Hauzah Ilmiah
Setelah mempelajari Jamiul Maqaddimat, ilmu sharf dan nahwu, beliau masuk ke hauzah ilmiah serta belajar ilmu-ilmu dasar dan sastra dari ayah beliau dan para guru lainnya. “Faktor dan alasan utama saya memilih jalan bercahaya keruhanian ini adalah ayah saya dan ibu saya yang selalu mendukung saya.”
Beliau belajar ilmu tata bahasa Arab Jamiul Muqaddimat, Suyuthi dan Mughni dari para guru di madrasah Sulaiman Khan dan Navvab. Sang ayah mengawasi terus dan memantau perkembangan pendidikan anaknya. Pada masa itu Sayyid Ali Khamenei juga mempelajari buku Ma’alim. Kemudian beliau belajar kitab Syarai’ Al Islam dan Syarh Lum’ah dari sang ayah dan sebagiannya dari almarhum Agha Mirza Modarris Yazdi. Untuk kitab Rasail dan Makasib, beliau menimba ilmu dari almarhum Haj Syeikh Hashim Qazveini, dan pelajaran lainnya di jenjang fiqih dan ushul, beliau dibimbing langsung oleh sang ayah. Beliau melalui tingkat dasar itu sangat cepat hanya dalam kurun waktu lima setengah tahun. Ayah beliau pada masa itu berperan sangat besar dalam perkembangan anaknya. Sayid Ali Khamenei berguru pada almarhum Ayatullah Mirza Javad Agha Tehrani di bidang ilmu logika, filsafat, kitab Mandzumah Sabzavari, dan kemudian beliau juga belajar dari almarhum Syeikh Reza Eisi.
Di Hauzah Ilmiah Najaf
Sejak usia 18 tahun Ayatullah Khamenei mulai belajar tingkat darsul kharij (tingkat tinggi) ilmu fiqih dan ushul di kota Mashad dari seorang marji’ almarhum Ayatullah Al Udzma Milani. Pada tahun 1336 hijriah syamsiah (1957) beliau pergi menuju kota Najaf di Irak untuk berziarah. Setelah menyaksikan dan ikut dalam kelas darsul kharij dari para mujtahid di hauzah Najaf termasuk almarhum Sayyid Muhsin Hakim, Sayyid Mahmoud Shahroudi, Mirza Bagher Zanjani, Sayyid Yahya Yazdi, dan Mirza Bojnourdi, Sayid Ali Khamenei sangat menyukai kondisi belajar, mengajar, dan penelaahan di hauzah ilmiah Najaf. Beliau pun lantas memberitahukan niatnya untuk belajar di Najaf kepada sang ayah, namun ayah beliau tidak menyetujui hal ini. Setelah beberapa waktu, beliau kembali ke Mashad.
Di Hauzah Ilmiah Qom
Pada tahun 1337 hingga 1343 Hijriah Syamsiah (1958-1964), Ayatullah Khamenei belajar ilmu tingkat tinggi di bidang fiqih, ushul, dan filsafat, di hauzah ilmiah Qom dari para guru besar termasuk di antaranya almarhum Ayatullah Al-Udzma Boroujerdi, Imam Khomeini, Syeikh Murtadha Hairi Yazdi, dan Allamah Taba’tabai. Pada tahun 1343 Hijriah Syamsiah (1964), Sayid Ali Khamenei sangat sedih karena dalam surat menyurat dengan ayahnya, beliau mengetahui bahwa satu mata ayahnya tidak dapat melihat lagi akibat terserang penyakit katarak. Saat itu beliau bimbang antara tinggal di Qom untuk melanjutkan studi atau pulang ke Mashad. Akhirnya demi keridhoan Allah swt, beliau memutuskan pulang ke Mashad dan merawat sang ayah.
Dalam hal ini Ayatullah Khamenei mengatakan, “Saya pulang ke Mashad dan Allah swt telah melimpahkan petunjuk-Nya kepada kami. Yang terpenting adalah saya telah melaksanakan tugas dan tanggung jawab saya. Jika saya mendapatkan anugerah, itu dikarenakan kepercayaan saya untuk selalu berbuat baik kepada ayah dan ibu saya”.
Dihadapkan pada dua pilihan sulit tersebut, Ayatullah Khamenei memutuskan pilihan yang tepat. Sejumlah guru dan rekan beliau sangat menyayangkan mengapa beliau sedemikian cepat meninggalkan hauzah ilmiah Qom, karena mereka berpendapat jika beliau tinggal sedikit lebih lama lagi maka beliau akan menjadi demikan dan demikian... Namun fakta di masa depan membuktikan bahwa Ayatullah Khamenei memilih pilihan yang tepat dan perjalanan hidup yang ditetapkan oleh Allah swt untuk beliau lebih tinggi dan mulia dari apa yang mereka perkirakan. Adakah orang yang menduga bahwa ulama muda berusia 25 tahun yang cerdas dan berbakat ini, yang pergi meninggalkan Qom untuk merawat kedua orang tuanya, kelak 25 tahun kemudian diangkat menjadi pemimpin umat?
Di Mashad, Ayatullah Khamenei tidak menginggalkan pelajarannya. Selain hari libur, dan pada waktu berjuang, dipenjara, atau bepergian, beliau tetap melanjutkan pelajaran tingkat tinggi fiqih dan ushul hingga tahun 1347 Hijriah Syamsiah (1768) dari para guru besar hauzah Mashad khususnya Ayatullah Milani. Tidak hanya itu, sejak tinggal di Mashad tahun 1343 Hijriah Syamsiah (1964) untuk merawat kedua orang tuanya, Ayatullah Khamenei juga memberikan pelajaran ilmu fiqih, ushul, dan maarif Islami kepada para pelajar agama muda dan mahasiswa.
Perjuangan Politik
Ayatullah Khamenei menurut keterangan beliau sendiri adalah termasuk salah satu murid Imam Khomeini dalam pelajaran fiqih, ushul, politik, dan revolusi. Namun percikan pertama aktivitas politik dan perjuangan beliau terhadap pemerintahan dzalim, dipantik oleh seorang pejuang besar yang gugur syahid di jalan Islam, Sayyid Mujtaba Navvab Safavi. Ketika itu, Navvab Safavi dan sejumlah pejuang Islam lainnya dari kelompok Fedaiyan-e Islam (Pembela Islam) pada tahun 1331 Hijriah Syamsiah (1952) pergi ke kota kota Mashad untuk menyampaikan pidatonya yang berapi-api di madrasah Sulaiman Khan soal kebangkitan Islam dan penerapan hukum Allah, serta membongkar tipu daya Rezim Syah dan Inggris terhadap bangsa Iran. Pada masa itu, Ayatullah Khamenei termasuk pelajar madrasah Sulaiman Khan dan beliau benar-benar terkesan oleh pidato Navvab. Dalam hal ini beliau mengatakan, “Saat itu juga percikan semangat revolusi Islam dibangkitkan pada jiwa saya oleh Navvab dan saya tidak ragu lagi bahwa saat itulah Navvab telah menyalakan api perjuangan dalam hati saya”.
Bersama Gerakan Imam Khomeini r.a
Ayatullah Khamenai pada tahun 1341 Hijriah Syamsiah (1962), tinggal di kota suci Qom dan saat itu beliau masuk di medan perjuangan politik Imam Khomeini melawan politik anti-Islam ala Amerika Serikat (AS) yang digulirkan oleh Rezim Syah Pahlevi. Selama 16 tahun beliau berjuang dan harus melalui berbagai kondisi termasuk penjara dan pengasingan. Selama itu pula beliau tidak gentar menghadapi segala bentuk ancaman bahaya. Untuk pertama kalinya pada tahun 1338 Hijirah Syamsiah (1959), beliau diinstruksikan oleh Imam Khomeini untuk menyampaikan pesannya kepada Ayatullah Milani dan para ulama lainnya di Propinsi Khorasan soal mekanisme program dakwah para ulama dan ruhaniwan di bulan Muharram dan penyingkapan kebobrokan politik Rezim Syah dan AS, serta menyangkut kondisi Iran dan kota suci Qom. Misi itu dijalankannya dengan baik dan beliau melaksanakan tugas dakwah bulan Muharram di kota Birjand. Dalam dakwahnya, seperti yang telah dimandatkan oleh Imam Khomeini, Ayatollah Khamenei mengungkap kebobrokan Rezim Syah dan politik AS. Oleh sebab itu, pada tanggal 9 Muharram bertepatan dengan tanggal 12 Khordad 1342 (2 Juni 1963), beliau ditangkap dan ditahan semalam. Keesokan harinya beliau dibebaskan dengan syarat tidak lagi berpidato di atas mimbar. Gerak gerik beliau pun diawasi oleh aparat. Menyusul terjadinya peristiwa berdarah 15 Khordad (5 Juni 1963), beliau kembali ditangkap dan diserahkan ke penjara militer di kota Mashad. Beliau mendekam selama 10 hari dalam penjara tersebut dan selama itu pula beliau menjadi mangsa aksi penyiksaan sadis.
Penahanan Kedua
Pada bulan Bahman tahun 1342 Hijriah Syamsiah (Februari 1963) atau Ramadhan 1383 Hijriah, Ayatullah Khamenei bersama beberapa rekan beliau pergi menuju Kerman dengan perencanaan yang matang. Setelah dua atau tiga hari berpidato dan bertemu dengan ulama dan para pelajar agama di Kerman, beliau melanjutkan perjalanannya menuju kota Zahedan. Pidato beliau yang penuh semangat khususnya pada tanggal 6 Bahman (26 Januari) hari ulang tahun pemilihan umum dan referendum palsu yang digelar Rezim Syah- mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Pada tanggal 15 Ramadhan yang bertepatan dengan hari kelahiran Imam Hasan as, ketegasan dan keberanian serta semangat revolusi Ayatullah Khamenei dalam mengungkap politik setan dan ala AS Rezim Syah Pahlevi, sampai pada puncaknya. Sebab itu, para agen intelejen Rezim Syah atau SAVAK, menangkap beliau pada malam hari dan mengirim beliau ke Tehran dengan menggunakan pesawat. Beliau dijebloskan ke dalam sel perorangan di penjara Qezel Qal’eh selama kurang lebih dua bulan. Selama itu pula beliau bersabar menahan segala macam penyiksaan.
Penahanan Ketiga dan Keempat
Kelas pelajaran tafsir, hadis, dan pemikiran Islami beliau di kota Mashad dan Tehran, mendapat perhatian yang luar biasa dari para pelajar muda revolusioner. Hal inilah yang kembali membuat para agen SAVAK geram dan selalu mengawasi aktivitas Ayatullah Khamenei. Karena diawasi, pada tahun 1345 Hijriah Syamsiah (1966) Ayatollah Khamenei beraktivitas secara sembunyi-sembunyi. Setahun kemudian, beliau ditangkap dan dipenjara. Pada tahun 1349 Hijriah Syamsiah (1970), untuk keempat kalinya beliau ditangkap oleh SAVAK karena berbagai aktivitas ilmiah dan perjuangan beliau terhadap Rezim Syah.
Penangkapan Kelima
Mengenai penangkapan kelimanya, Ayatullah Khamenei menulis, “Pada tahun 1348 Hijriah Syamsiah (1969), terbuka peluang untuk melakukan perlawanan bersenjata di Iran. Sensitifitas dan kekerasan agen-agen Rezim Syah saat itu terhadap pribadi saya juga semakin meningkat mengingat gerakan perlawanan bersenjata tersebut tidak mungkin terlepas dari orang-orang seperti saya. Pada tahun 1350 Hijriah Syamsiah (1971), saya kembali dipenjara. Tindakan kekerasan yang dilakukan SAVAK di penjara secara jelas menunjukkan kekhawatiran mereka terhadap menyatunya gerakan perlawanan bersenjata dengan pusat-pusat pemikiran Islam. Dan mereka tidak dapat menerima fakta bahwa aktivitas ilmiah dan dakwah saya di Mashad dan Tehran tak ada kaitannya dengan gerakan perlawanan bersenjata itu. Setelah bebas dari penjara, pelajaran tafsir untuk umum dan kelas-kelas ideologi dan lain-lain, semakin meluas.”
Penangkapan Keenam
Antara tahun 1350 hingga 1353 Hijriah Syamsiah (1971-1974), pelajaran tafsir dan ideologi Ayatullah Khamenei digelar di tiga masjid yaitu masjid Karamat, masjid Imam Hasan as, dan masjid Mirza Ja’far, di kota Mashad. Ribuan warga khususnya para pemuda revolusioner memenuhi ketiga masjid tersebut untuk mendengarkan pemikiran dan pelajaran Ayatullah Khamenei. Pelajaran Nahjul Balaghah beliau juga sangat diminati. Penjelasan Nahjul Balaghah beliau yang ditulis dalam bentuk diktat berjudul “Partuee az Nahjul Balaghah” (Seberkas cahaya dari Nahjul Balaghah) diperbanyak dan disebar luas oleh para pemuda revolusioner. Mereka yang menimba pelajaran tentang hakikat dan perjuangan dari Ayatullah Khamenei, lantas menyebar ke seluruh penjuru di Iran dan menjelaskan tentang hakikat serta mempersiapkan mental warga bagi membela gerakan revolusi besar Islam.
Pada bulan Dey 1353 Hijriah Syamsiah (Januari 1975), SAVAK menyerbu rumah Ayatullah Khamenei. Selain menangkap beliau, para agen SAVAK juga merampas seluruh artikel maupun catatan beliau. Ini merupakan penangkapan keenam dan masa penahanan yang paling sulit. Ayatollah Khamenei disekap dalam penjara Komite Gabungan Kepolisian hingga musim gugur tahun 1354 Hijriah Syamsiah (mendekati bulan-bulan akhir tahun 1975). Selama masa penahanan, beliau diperlakukan dengan sangat keji. Kepedihan yang dialami Ayatullah Khamenei selama masa penahanan itu menurut beliau hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang pernah merasakan kondisi yang sama. Setelah bebas, Ayatullah Khamenei kembali ke kota Mashad dan tetap melanjutkan aktivitas ilmiah dan revolusionernya. Namun kali ini beliau tidak dapat membuka kelas-kelas terbuka seperti sebelumnya.
Di Pengasingan
Rezim Syah Pahalevi pada akhir tahun 1356 Hijriah Syamsiah (1978), menangkap dan mengasingkan Ayatullah Khamenei ke kota Iranshahr selama tiga tahun. Pada pertengahan tahun 1357 (akhir 1978), menyusul semakin tajamnya perjuangan warga muslim revolusioner Iran, Ayatullah Khamenei dibebaskan dari pengasingan dan kembali ke kota Mashad. Beliau berada di barisan terdepan perjuangan rakyat Iran melawan Rezim Pahlevi dan SAVAK. Setelah 15 tahun berjuang di jalan Allah swt secara ksatria serta ketabahan dalam menghadapi segala kesulitan, akhirnya beliau dapat merasakan hasil dari perjuangan dan perlawanan tersebut yaitu kemenangan Revolusi Islam Iran dan tumbangnya rezim despotik Syah Pahlevi, serta terbentuknya kedaulatan Islam di negeri ini.
Detik Menjelang Kemenangan
Menjelang kemenangan Revolusi Islam, sebelum kepulangan Imam Khomeini r.a dari Paris ke Tehran, sesuai instruksi Imam, dibentuklah Dewan Revolusi Islam yang dianggotai oleh sejumlah tokoh pejuang seperti Ayatullah (Syahid) Mutahhari, Ayatullah (Syahid) Beheshti, Hashemi Rafsanjani, dan lain-lain. Imam Khomeini juga merekomendasikan Ayatullah Khamenei untuk menjadi anggota dewan. Pesan Imam Khomeini r.a itu disampaikan kepada Ayatullah Khamenei oleh Syahid Muthahhari, dan setelah itu Ayatullah Khamenei berangkat dari Mashad menuju Tehran.
Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamenei tetap melanjutkan aktivitas dan kerja keras untuk merealisasikan cita-cita revolusi. Aktivitas dan jabatan yang beliau emban sangat penting khususnya jika dilihat dengan memandang kondisi saat itu. Berikut ini adalah ringkasan aktivitas penting beliau:
● Ikut mendirikan Partai Republik Islam pada bulan Esfand tahun 1357 Hijriah Syamsiah (Maret 1979) dengan kerjasama sejumlah ulama pejuang seperti Syahid Beheshti, Syahid Bahonar, Hashemi Rafsanjani, dan lain-lain.
● Menjabat sebagai Deputi Menteri Pertahanan Iran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).
● Pemimpin Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).
● Imam Jum’at Tehran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).
● Wakil Imam Khomeini r.a di Dewan Tinggi Pertahanan, tahun 1359 Hijriah Syamsiah (1980).
● Wakil warga Tehran di Majles Shura Islami (Parlemen Iran), tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).
● Partisipasi aktif beliau dengan mengenakan seragam militer di medan perang ‘pertahanan suci’ melawan Irak pada tahun 1359 Hijriah Syamsiah (1980), menyusul invasi pasukan Irak terhadap wilayah Iran. Dalam perang ini Irak diprovokasi dan dipersenjatai oleh kekuatan arogan dunia termasuk AS dan Uni Soviet.
● Gagalnya percobaan teror terhadap beliau oleh kelompok munafiqin di masjid Abu Dzar Tehran, tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981).
● Menjabat sebagai Presiden Republik Islam Iran, menyusul gugur syahidnya Muhammad Ali Rajaee, Presiden kedua Republik Islam Iran. Pada bulan Mehr tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981), Ayatullah Khamenei memperoleh lebih dari 16 juta suara warga, dan dilantik sebagai Presiden Republik Islam Iran setelah mendapat pengukuhan dari Imam Khomeini r.a. Beliau juga terpilih untuk kedua kalinya pada tahun 1364 hingga 1368 Hijriah Syamsiah (1985).
● Ketua Dewan Revolusi Kebudayaan, tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981).
● Ketua Dewan Penentu Kebijakan Negara, tahun 1366 Hijriah Syamsiah (1987).
● Ketua Dewan Revisi Konstitusi, tahun 1368 Hijriah Syamsiah (1989).
● Ditunjuk oleh Dewan Ahli untuk menjadi Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, yang dimulai sejak 14 Khordad, sepeninggal Imam Khomeini r.a. Pilihan ini sangat tepat, karena beliau memiliki kelayakan sepenuhnya untuk bukan saja membimbing warga Muslim Iran, melainkan umat Islam di seluruh dunia (1989).
Karya Tulis
1- Tarh-e Kulli-e Andishe-e Eslami dar Qor’an (Program Komprehensif Pemikiran Islami Dalam AlQuran).
2- Az Jarfha-ye Namaz (Dari Kedalaman Shalat)
3- Goftari dar Bab-e Sabr (Pembahasan tentang Kesabaran)
4- Chahar Ketab-e Asli-e Elm-e Rejal (Empat Buku Utama Ilmu Rijal)
5- Wilayat (Kepemimpinan).
6- Gozaresh az Sabeqe-e Tarikhi va Auza-e Konouni-e Hauze-e Elmiye-e Mashhad (Laporan Mengenai Sejarah dan Kondisi Terkini Hauzah Ilmiah Mashad).
7- Zendeginame-e Aimme-e Tashayyo’ (Riwayat Hidup Para Imam Syiah) -belum dicetak.
8- Pishvaye Sadeq (Pemimpin yang Jujur)
9- Vahdat va Tahazzob (Persatuan dan Kepartaian)
10- Honar az Didgah-e Ayatollah Khamenei (Seni Menurut Ayatullah Khamenei)
11- Dorost Fahmidan-e Din (Pemahaman Benar Tentang Agama)
12- (Onsor-e Mobarezeh dar Zendegiy-e Aimmeh (Unsur Perjuangan Dalam Kehidupan Para Imam a.s)
13- Ruh-e Tauhid, Nafy-e Obudiyyate Gheire Khoda (Ruh Ketauhidan, Penafian Penghambaan Selain Allah swt)
14- Zarurat-e Bazgasht be Qor’an (Urgensi Kembali Kepada AlQuran)
15- Sire-ye Emam-e Sajjad (Sejarah Imam Sajjad a.s)
16- Imam Ridha as va Velayatahdi (Imam Ridha a.s dan Posisi Putra Mahkota)
17- Tahajom-e Farhangi (Serangan Budaya), disusun dari kumpulan pidato dan pesan Rahbar.
18- Hadis-e Velayat (Hadis Kepemimpinan), kumpulan pidato dan pesan Rahbar yang hingga kini telah dicetak sebanyak sembilan jilid.
Terjemah
1- Solh-e Emam Hasan (Perdamaian Imam Hasan as), karya Razi Aali Yaasin.
2- Ayandeh dar Qalamrove Islam (Masa Depan Dalam Kekuasaan Islam), karya Sayyid Qutb.
3- Mosalmanan dar Nehzat-e Azadi-e Hindustan (Muslimin Dalam Gerakan Kebebasan India), karya Abdul Mun’im Namri Nasri.
4- Eddea nameh Alahe tamaddon-e Gharb (Gugatan Terhadap Kebudayaan Barat), karya Sayyid Qutb.




























