کمالوندی

کمالوندی

 

Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan secara resmi hubungan diplomatik dengan rezim Zionis Israel pada Kamis (13/8/2020). Abu Dhabi dan Tel Aviv berencana untuk bertukar kedutaan dan duta besar.

UEA dan Israel telah sejak lama menjalin hubungan secara rahasia. Gagasan untuk meresmikannya muncul beberapa kali dalam setahun belakangan, hingga akhirnya terwujud dalam beberapa bulan terakhir.

Dengan kesepakatan ini, UEA menjadi negara Arab ketiga yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel, setelah Mesir dan Yordania, masing-masing pada 1979 dan 1994.

Pada 31 Agustus 2020, delegasi Israel-Amerika lepas landas pada penerbangan komersial pertama dari Tel Aviv ke Abu Dhabi. Arab Saudi mengizinkan penerbangan melintasi wilayah udaranya.

Arab Saudi pada 2 September 2020 mengizinkan penerbangan UEA ke semua negara untuk terbang melewati zona udaranya. Keesokan harinya, Bahrain mengumumkan keputusan serupa, pihaknya setuju mengizinkan penerbangan UEA ke dan dari Israel untuk terbang melintasi wilayah udaranya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (11/09/2020) malam mengumumkan normalisasi hubungan antara Bahrain dan rezim Zionis Israel.  .

"Terobosan BERSEJARAH lagi hari ini! Dua teman BAIK kami, Israel dan Bahrain, menyetujui Kesepakatan Damai, negara Arab kedua yang mencapai kesepakatan damai dengan Israel dalam 30 hari!" kata Trump melalui Twitter, Jumat.

Tak lama setelah itu, AS, Israel, dan Bahrain merilis pernyataan bersama yang menegaskan bahwa mereka akan menjalin "hubungan diplomatik penuh." Dengan demikian, Bahrain menjadi negara Arab keempat yang memiliki hungan diplomatik dengan rezim Zionis.

UEA dan Bahrain kemudian resmi menandatangani kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel di Gedung Putih pada Selasa (15/9/2020).  Kesepakatan damai itu menjadi sangat bersejarah karena selama ini negara-negara Asia Barat yang tergabung dalam Liga Arab menolak hubungan diplomatik dengan Israel demi membela Palestina. 

 

Serangan rudal balasan kelompok perlawanan Palestina ke sejumlah distrik Zionis, menyebabkan beberapa orang terluka.

Situs rezim Zionis Israel, Walla (16/9/2020) melaporkan, Juru bicara pasukan Israel, Israel Defense Forces, IDF, Avichay Adraee, Rabu (16/9) mengumumkan, sebuah rudal yang ditembakan dari Gaza, mengenai sebuah pusat perbelanjaan di distrik Ashdod, dan melukai sedikitnya 13 orang.

Surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth mengabarkan, serangan kelompok perlawanan Palestina ke distrik Ashdod ini menimbulkan kerugian materi yang cukup besar.

Sebelumnya drone Israel pada Selasa (15/9) malam menyerang wilayah Deir Al Balah di pusat Jalur Gaza, dan dibalas dengan beberapa rudal oleh kelompok perlawanan Palestina. 

 

Anggota senior gerakan Jihad Islam Palestina mengumumkan, kelompok perlawanan di Tepi Barat akan mengakhiri proyek rezim Zionis Israel, dan persatuan rakyat Palestina berdampak besar pada upaya melawan proyek-proyek mencurigakan terhadap Palestina.

Fars News (16/9/2020) melaporkan, Mohammed Al Hindi terkait serangan rudal balasan kelompok perlawanan Palestina ke Israel pada Rabu (16/9) dinihari mengatakan, rudal-rudal Gaza membawa pesan bahwa rakyat Palestina akan menumbangkan kesombongan melampaui batas Amerika Serikat, dan Israel.
 
Seperti dikutip Palestine Today, Mohammed Al Hindi menjelaskan, pertempuran di masa depan akan pecah di Tepi Barat, tempat yang dijadikan Israel sebagai jantung proyek-proyek Zionis, dan kelompok perlawanan di Tepi Barat akan memulai proses keruntuhan Zionis.
 
Menurutnya masalah Palestina adalah akar, dan sumber konflik di kawasan.
 
"Kesepakatan Uni Emirat Arab dan Bahrain dengan Israel dilakukan untuk melayani Presiden Amerika Donald Trump, orang yang tanpa memperhatikan kebijakan luar negeri negaranya, bekerja keras untuk bertahan di Gedung Putih," pungkasnya. 

 

Asisten Khusus Ketua Parlemen Iran Urusan Internasional, Hossein Amir-Abdollahian menilai normalisasi hubungan antara dua negara Arab dengan rezim Zionis sebagai cara baru Israel untuk menduduki negara-negara di kawasan Teluk Persia.

Amir Abdollahian di akun Twitternya hari Rabu (16/9/2020) menyinggung masalah normalisasi hubungan diplomatik antara Bahrain dan UEA dengan rezim Zionis.

"Zionisme kemarin menduduki sebagian dunia Arab, kini menduduki negara-negara Teluk Persia dengan cara baru," tulis Amir Abdollahian.

Asisten khusus parlemen Iran urusan Internasional mengingatkan kesalahan sejarah sebelumnya dengan menjelaskan, "Perjanjian dengan Mesir tidak membuka pintu apapun bagi Israel dan kali inipun perjanjian dengan UEA dan Bahrain pasti akan membawa lebih banyak ketidakamanan bagi rezim Zionis,".

Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Abdullah bin Zayed Al Nahyan, Menteri Luar Negeri Bahrain Abdel Latif bin Rashid Al-Zayani dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Selasa (15/9/2020) menandatangani menormalisasi hubungan diplomatik di hadapan Presiden AS Donald Trump yang berlangsung di di Gedung Putih.

 

Profesor sejarah universitas California, David Yaghoubian menilai penguasa Uni Emirat Arab dan Bahrain tertipu oleh Trump dan Netanyahu dengan menyepakati perjanjian normalisasi hubungan diplomatik antara negaranya dengan rezim Zionis.

"Alih-alih berupaya mewujudkan stabilitas dan keamanan di kalangan masyarakat dan bekerja sama dengan negara-negara kawasan, para penguasa UEA dan Bahrain justru mengikuti ilusi Netanyahu dan Trump," kata seorang profesor California State University.

“Pada dasarnya, pengumuman kesepakatan normalisasi antara para pemimpin UEA dan Bahrain dengan rezim Zionis dilakukan demi menyelamatkan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu dari masalah internal yang mereka hadapi," tegasnya.

Pakar sejarah politik ini memandang pemerintahan Trump yang tidak berdaya mengatasi masalah dalam dan luar negerinya menjelang pemilu presiden sedang bekerja keras untuk menunjukkan prestasi baik dalam beberapa hari terakhir ini.

"Salah satu dari tujuan menormalkan hubungan dengan Israel untuk meminggirkan orang Palestina dan pendukung mereka," papar akademisi AS ini

Bertentangan dengan aspirasi orang-orang Palestina, para menteri luar negeri UEA dan Bahrain menandatangani kesepakatan normalisasi hubungan dengan rezim Zionis di hadapan Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa (15/9/2020).

Langkah UEA dan Bahrain menormalisasi hubungan dengan rezim Zionis menyulut banjir kritik dari berbagai kalangan di arena internasional, terutama dunia Islam dan kelompok Palestina.

Rabu, 16 September 2020 11:58

Venezuela Tembak Jatuh Pesawat AS

 

Pemerintah Venezuela mengumumkan sebuah pesawat Amerika Serikat yang memasuki zona udara negara itu tanpa izin, ditembak jatuh.

HispanTV (16/9/2020) melaporkan, Menteri Dalam Negeri Venezuela, Nestor Reverol mengatakan, angkatan bersenjata Venezuela menembak jatuh sebuah pesawat Amerika yang mengangkut narkotika, dan masuk ke zona udara negara ini secara ilegal di negara bagian Zulia, dekat perbatasan Kolombia.

Menurut pasukan Venezuela, pada badan pesawat yang ditembak jatuh itu terdapat gambar bendera Amerika.

Menurut Mendagri Venezuela, militer negara ini selalu disiagakan untuk menghadapi segala bentuk pelanggaran zona udara oleh pihak asing.

Selasa, 15 September 2020 21:58

Kedubes AS di Baghdad kembali Diserang Roket

 

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad, ibukota Irak dilaporkan kembali menjadi sasaran serangan roket pada Selasa (15/9/2020) dini hari.

Televisi al-Sumariya News melaporkan, sejumlah roket mengenai pangkalan militer Amerika di Kedubes negara ini di zona hijau Baghdad.

Masih menurut sumber ini, alarm tanda bahaya di Kedutaan Besar Amerika di Baghdad berbunyi keras.

Sampai saat ini belum ada perincian yang dirilis mengenai serangan roket tersebut.

Beberapa jam lalu dua bom dilaporkan meledak di rute yang dilalui konvoi logistik militer Amerika di Provinsi Qadisiyyah dan Babil, Irak.

Media-media Irak mengumumkan, ledakan dua bom tersebut mengakibatkan kerugian dan kerusakan terhadap truk dan konvoi logistik militer Amerika.

Kedubes AS di Baghdad, konvoi militer dan pangkalan militer Amerika di Irak termasuk pangkalan al-Taji dan al-Balad selama beberapa bulan terakhir menjadi target sejumlah serangan.

Mayoritas rakyat dan faksi Irak menuntut penarikan pasukan Amerika dari neagra mereka dan parlemen negara ini juga telah meratifikasi draf penarikan pasukan Amerika. 

Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina mengatakan, perdamaian ilusi dengan rezim Zionis Israel hanya menghasilkan kelemahan dan kehinaan bagi para pelakunya.

Menurut laporan Palestine al-Youm, Ziyad al-Nakhalah Senin (14/9/2020) malam saat merespon pengumuman normalisasi hubungan Bahrain dan Israel menambahkan, umat Islam tanpa Palestina akan terpecah belah dan persatuan faksi Palestina merupakan faktor utama stabilitas rakyat Palestina.

"Bangsa Palestina tidak akan pernah mengakui secara resmi rezim penjajah Israel," tegas Ziyad al-Nakhalah.

Presiden AS Donald Trump Jumat malam lalu mengkonfirmasi normalisasi hubungan Bahrain dengan rezim Zionis Israel.

Sementara itu, 13 Agustus lalu, menyusul upaya Trump mempermudah proses normalisasi hubungan rezim-rezim Arab dengan Israel, Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel mencapai kesepakatan normalisasi penuh hubungan diplomatik di antara mereka.

Kesepakatan ini menuai kecaman luas di dunia Islam.

Deputi Sekretaris Jenderal Al-Wefaq Bahrain menegaskan dukungan penuh rakyat negaranya terhadap perjuangan bangsa tertindas Palestina.

Televisi Al-Mayadeen melaporkan, Sheikh Hussein al-Daihi hari Selasa (15/9/2020) menyinggung perjanjian tercela normalisasi hubungan diplomatik antara rezim Al Khalifa dan Israel. 

"Penguasa UEA dan Bahrain menggunakan dalih perdamaian dengan menargetkan cita-cita bangsa Palestina," ujar Sheikh Al-Daihi.

Sebelumnya, gerakan Al-Wefaq Minggu malam mengumumkan bahwa rezim Al-Khalifa telah memaksa lembaga keagamaan, olahraga dan sipil Bahrain supaya mengeluarkan pernyataan mendukung langkah kompromis  dengan Israel.

Menyusul pengumuman kesepakatan normalisasi antara rezim Zionis dan UEA pada 13 Agustus, Presiden AS Donald Trump pada 11 September juga mengumumkan normalisasi hubungan antara Bahrain dan rezim Zionis.

 

Sumber Suriah melaporkan jatuhnya helikopter militer AS di timur laut Suriah.

Kantor berita resmi Suriah (SANA) hari Selasa (15/9/2020) melaporkan sebuah helikopter militer AS jatuh di desa Tal Haddad, di Reef al-Arabiya, provinsi al-Hasakah.

Setelah jatuhnya helikopter Amerika, kendaraan lapis baja tentara Amerika mengepung daerah tersebut.

Hingga berita ini dilaporkan beluam diketahui penyebab kecelakaan.

Amerika Serikat tidak hanya mendukung kelompok teroris di Suriah, tetapi juga berupaya menekan pemerintah Damaskus dengan menjatuhkan sanksi ketat terhadap Suriah demi mencegah terjalinnya kerja sama negara Arab ini dengan dan sekutunya dalam membangun kembali Suriah yang porak-poranda akibat perang.

Wilayah utara dan timur Suriah menjadi tempat berbagai demonstrasi rakyat negara ini menentang pendudukan dan sanksi baru AS terhadap Suriah, serta pergerakan tentara Turki.