کمالوندی
Mari, Membuat Hidup Lebih Baik (19)
Kegiatan membantu orang lain memiliki aspek yang sangat luas dan mencakup semua urusan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Menyelamatkan seseorang dari jurang narkoba, membantu pendidikan anak-anak dan remaja, menolong keluarga miskin, mendonor organ, dan mendengarkan keluh-kesah orang lain adalah contoh dari kegiatan membantu orang lain.
Membantu orang lain merupakan salah satu kegiatan ibadah terbaik dalam ajaran Islam. Dari perspektif wahyu dan hadis Nabi Saw, ada hubungan erat antara membantu orang lain dan memperoleh kecintaan dari Allah Swt.
Al-Quran menaruh perhatian besar pada kegiatan membantu orang lain dan jika seseorang ingin memperoleh bimbingan dari al-Quran, maka ia harus melakukan infak dan membantu mengatasi kesulitan orang lain.
"Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (QS. Al-Baqarah, ayat 2 dan 3)
Berdasarkan ayat ini, Allah Swt akan memberikan hidayah kepada orang yang bertakwa, yaitu di samping mengimani yang ghaib dan mendirikan shalat, juga membantu orang lain dan mengabdi kepada sesama. Rasulullah Saw bersabda, "Semua makhluk adalah keluarga Allah. Jadi makhluk Allah yang paling disayangi Allah adalah yang berbuat baik kepada keluarga-Nya."
Setiap individu dapat membantu orang lain sesuai dengan kemampuan mereka. Pelayanan adalah setiap perbuatan baik termasuk memberikan manfaat serta mendukung orang lain secara finansial, moral, dan budaya. Kita harus berlomba-lomba melakukan perbuatan baik dan membantu orang lain sehingga tidak kehilangan kesempatan berbuat baik.
Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa yang dibukakan pintu kebaikan baginya, maka pergunakan kesempatan itu dengan segera, karena sesungguhnya dia tidak tahu kapan pintu kebaikan itu ditutup baginya."
Membantu dan melayani orang lain membawa dampak baik pada individu. Di antara efek baik ini adalah menumbuhkan dan memperkuat spirit pengorbanan dalam diri seseorang. Perbuatan baik ini juga menciptakan iklim kerja sama dan gotong royong di tengah masyarakat yang tentu sangat bermanfaat.
Menurut ajaran al-Quran, berbuat baik tidak hanya terbatas pada suku, kelompok, dan ras tertentu, tetapi dapat dilakukan dalam kondisi keuangan bagaimana pun dan waktu kapan pun.
"(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran, ayat 134)
Orang-orang yang berbuat baik dalam situasi apapun, sejatinya ruh menolong orang lain telah tertanam kuat dalam jiwa mereka. Mengenai pentingnya menolong orang lain, Imam Muhammad al-Baqir as berkata, "Ada tiga perbuatan yang paling dicintai oleh Allah yaitu seorang Muslim memberikan makanan kepada Muslim yang lain, mengatasi kesulitannya, dan melunasi utangnya."
Oleh karena itu, seorang Muslim bukan hanya tidak boleh merasa lelah atas kesulitan yang dihadapi orang lain, tetapi karena itu adalah nikmat dari Allah (diberikan kesempatan untuk berbuat baik), maka ia harus bergegas sehingga dengan mengatasi setiap kesulitan, ia akan memperoleh nikmat baru dari-Nya.
Jika seseorang menjadi rujukan masyarakat untuk mengatasi kesulitannya, ia harus berbahagia karena Allah Swt menyayanginya. Jika pintu rumah atau kantornya tertutup untuk masyarakat dan mereka tidak bisa menemuinya, ia perlu tahu bahwa ia telah kehilangan rahmat Tuhan dan ia harus bersedih atas kondisi ini bukannya bahagia.
Lalu, jika ia sendiri adalah orang yang tidak mampu, bagaimana ia dapat membantu orang lain? Jawabannya adalah, orang-orang yang tidak mampu dapat berbuat baik kepada orang lain sebatas kemampuannya. Perlu dicatat bahwa kebaikan dan infak tidak terbatas pada harta, tetapi mencakup setiap anugerah yang diberikan Tuhan, apakah itu harta atau ilmu pengetahuan dan atau pemberian lainnya.
Pada dasarnya, Tuhan ingin menumbuhkan dan memperkuat spirit pengorbanan dan kedermawanan, bahkan di tengah orang-orang yang lemah dan membutuhkan. Bagaimana pun, membantu orang lain berarti seseorang punya rasa peduli terhadap kesulitan kehidupan anggota keluarga, tetangga, kolega, dan bawahannya, dan bergegas untuk menyelesaikannya.
Spirit seperti ini sangat penting sehingga Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa yang mendengar permintaan pertolongan dari seorang Muslim, tetapi tidak menolongnya, maka ia bukanlah seorang Muslim."
Dalam pandangan Islam, melayani orang lain merupakan sebuah perbuatan terpuji dan misi para auliya Allah dalam menolong masyarakat tidak terbatas pada orang-orang Muslim, tetapi seluruh umat manusia. Rasulullah bersabda, "Pangkal akal setelah beriman kepada Allah adalah berbuat sesuatu yang dapat mendatangkan kecintaan manusia kepadanya, berbuat kebaikan kepada orang lain baik ia orang baik maupun orang jelek, fajir."
Jadi, beriman merupakan salah satu pangkal akal, tetapi untuk menyempurnakannya, ia harus berbuat baik kepada orang lain dan berusaha menyelesaikan kesulitan mereka.
Budaya membantu orang lain merupakan salah satu aturan sosial Islam, dan bentuk terbaiknya adalah tidak mengharapkan pamrih dan sebisa mungkin harus menyembunyikannya (tidak riya'). Al-Quran pada ayat 264 surat al-Baqarah berbicara tentang bantuan tanpa pamrih kepada orang lain. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)…"
Para nabi dan imam maksum menyembunyikan kebaikan yang dilakukan kepada orang lain. Mereka akan menceritakan kepada orang lain jika itu dapat memotivasi masyarakat untuk berbuat kebaikan juga.
Dikisahkan bahwa sebuah kafilah Muslim yang ingin menunaikan ibadah haji tiba di kota Madinah. Mereka menetap selama beberapa hari di Madinah untuk menghilangkan rasa lelah. Kafilah ini kemudian mempersiapkan tunggangannya dan bergerak ke arah Mekkah. Mereka didatangi oleh seorang laki-laki di tengah jalan antara Madinah dan Mekkah. Para anggota kafilah mengenal lelaki tersebut.
Laki-laki itu kemudian bercerita panjang lebar dengan anggota kafilah. Di tengah pembicaraan, dia melihat seseorang di tengah kafilah yang melayani orang lain dengan penuh semangat dan antusias. Lelaki itu menatap wajah pria tersebut dengan seksama. Wajahnya memancarkan cahaya dan dari raut mukanya, bisa ditebak bahwa ia orang yang saleh dan bertakwa. Lelaki ini mengenal pria tersebut dan berkata dalam hatinya, "Ya Tuhan, apa yang telah dilakukan oleh kafilah ini."
Lelaki tersebut berbalik ke arah kafilah dan berkata, "Apakah kalian mengenal siapa pria yang sedang melayani dan melakukan pekerjaan untuk kalian?" Mereka menjawab, "Tidak, kami tidak mengenalnya. Pria itu bergabung dengan rombongan kami di Madinah. Dia orang yang saleh dan bertakwa. Kami tidak meminta dia untuk melakukan apapun buat kami, tetapi dia sendiri ingin membantu orang lain dan meringankan pekerjaan mereka."
"Jelas kalian tidak mengenalnya, jika kalian tahu, kalian pasti tidak akan bersikap tidak sopan kepadanya dan membiarkan dia melayani kalian," ujar lelaki itu. Kafilah kemudian bertanya, "Siapa gerangan pria tersebut?" "Dia adalah putra Husein bin Ali as, cucu baginda Rasulullah Saw. Dia adalah Ali Zainal Abidin bin Husein as," jawabnya.
Para anggota kafilah bergegas bangkit dari tempatnya. Dengan terburu-buru dan rasa malu, mereka mendatangi Imam Ali Zainal Abidin as. Mereka berkata, "Kami benar-benar merasa malu, mengapa engkau tidak memperkenalkan dirimu kepada kami? Mungkin saja kami telah merendahkan kamu karena ketidaktahuan kami dan kami akan menanggung dosa besar di sisi Allah."
Imam Ali Zainal Abidin as berkata, "Aku sengaja memilih kafilah kalian dan melakukan perjalanan bersama kalian. Ketika aku memilih kafilah yang mengenaliku, mereka akan mencurahkan kebaikan dan kasih sayang untukku karena rasa hormatnya kepada Rasulullah Saw, dan mereka tidak akan membiarkanku melakukan pekerjaan apapun. Oleh karena itu, aku ingin memilih kafilah yang tidak mengenaliku dan aku juga tidak memperkenalkan diri kepada mereka sehingga aku bisa dengan senang hati melayani teman-teman seperjalanan."
Mari, Membuat Hidup Lebih Baik (18)
Memiliki teman merupakan salah satu nikmat hidup yang berharga. Seorang teman adalah orang yang setia mendampingi, melengkapi, dan menjadi lawan bicara yang berada di dekat kita dalam suka dan duka.
Para ilmuwan percaya bahwa memiliki teman yang care dengan kita adalah sesuatu yang sangat penting. Teman semacam ini dapat menghadirkan kepada kita kesehatan mental, kesuksesan, kebahagiaan, dan momen-momen yang indah. Untuk kehidupan yang lebih baik, kita membutuhkan teman yang baik pula.
Imam Ali as berkata, “Orang yang paling lemah adalah mereka yang tidak mampu menggaet teman, dan orang yang lebih lemah dari dia adalah mereka yang kehilangan teman-temannya.”
Mencari teman adalah sebuah keahlian, dan salah satu kemampuan dari individu yang sehat (ruhani dan jasmani) adalah menemukan teman yang baik, ceria, dan jujur. Sebagian orang karena interaksi sosial yang sangat baik, memiliki kemampuan yang baik dalam mencari teman, tetapi introvert (tipe kepribadian yang lebih fokus pada perasaan internal di dalam dirinya sendiri) biasanya memiliki hubungan yang terbatas dan teman yang lebih sedikit. Tentu saja sekedar punya banyak teman bukan suatu kebaikan, tetapi memiliki teman yang baik, jujur, peduli, religius dan bijak itulah kebaikan.
Teman adalah seseorang yang menemani manusia, pemikiran, gaya, ide-ide, dan minatnya sangat berpengaruh pada individu lain. Manusia biasanya meniru temannya dari segi moral, perilaku, dan bahkan dalam memilih agamanya. Jadi, seorang teman punya pengaruh besar pada orang lain. Rasulullah Saw bersabda, “Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.”
Al-Quraan membahas masalah penting ini pada ayat 28 dan 29 surat al-Furqan dan menyinggung dialog di antara para penghuni neraka. Allah Swt berfirman, “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Quran ketika al-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.”
Benar, peristiwa-peristiwa aneh akan terjadi pada hari kiamat seperti rasa penyesalan sia-sia yang disampaikan oleh orang zalim atas kesalahan dan dosanya di masa lalu. Penyesalan ini tidak lagi memberikan keuntungan apapun kepada mereka. Salah satu penyesalan mereka adalah berteman dengan orang jahat dan sesat di dunia.
Mereka adalah orang-orang yang menyesatkan manusia dan menarik orang lain dari jalan lurus kepada kesesatan. Mereka seperti sahabat secara lahiriyah, tetapi sebenarnya mereka musuh berbahaya yang menyesatkan dan menyengsarakan manusia. Mereka menjerumus manusia dalam dosa dan kelalaian, dan akhirnya menjadikan orang lain sebagai ahli neraka.
Berbeda dengan teman buruk, teman yang baik akan menghadirkan suasana positif dalam kehidupan seseorang. Ia mampu mengurangi rasa sepi orang lain serta menularkan semangat dan energi positif. Teman yang baik mengurangi stres dan meningkatkan semangat kita.
Mereka membawa nuansa ceria dan keakraban serta menghadirkan momen-momen bahagia. Teman yang baik membuat hidup lebih mudah bagi seseorang dan menjadikan masalah terlihat kecil. Mereka menjadi tumpuan orang lain di tengah kesulitannya dan meringankan kesedihannya dengan sikap empati dan simpati.
Teman yang baik dan tulus akan membantu di saat bahaya serta saat kesulitan materi, masalah pekerjaan, dan keluarga. Mereka menghadirkan ketenangan saat-saat sulit. Teman yang baik berkontribusi pada kesuksesan seseorang dengan meningkatkan motivasinya serta mendorong kemajuan dan kesuksesannya.
Memiliki teman dan menjalin hubungan emosional yang bersahabat merupakan sebuah kebutuhan manusia. Bahkan jika kita tidak menerima manusia sebagai makhluk sosial, memiliki teman adalah sebuah kebutuhan fitrah dan naluriah serta sebuah fakta yang tidak dapat disangkal.
Islam memiliki saran-saran praktis dalam persahabatan dan memilih teman. Agama ini mendorong persahabatan dengan orang lain dan juga melarang pertemanan dengan kelompok lain. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Siapakah teman terbaik?” Beliau bersabda, “Orang yang bertemunya akan mengingatkanmu kepada Tuhan, ucapannya menambah pengetahuanmu, dan perbuatannya menghidupkan kembali ingatan akan hari kiamat dalam wujudmu.”
Cara untuk mengenal sahabat sejati sudah dijelaskan oleh Rasulullah Saw dan para imam maksum, mereka juga memperjelas batas-batas persahabatan. Teman yang baik adalah orang yang mengingat Tuhan dan tujuannya tidak lain kecuali sampai kepada-Nya. Dia rasional, bijaksana, dan memiliki makrifat. Dia bukan pengkhianat, bukan penindas, atau penyebar gosip, tetapi ia individu yang bisa menjaga rahasia dan punya harga diri.
Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Waspadalah terhadap tiga kelompok! Pengkhianat, penindas, dan penyebar gosip, karena individu yang mengkhianati orang lain demi menguntungkan kamu, suatu hari nanti ia akan berkhianat kepadamu juga! Orang yang membelamu dengan merampas hak-hak orang lain dan terbiasa berbuat lalim, suatu hari nanti dia akan menindasmu juga! Manusia penyebar gosip akan menyebarkan ucapanmu kepada orang lain, sama seperti dia membawa kata-kata orang lain kepadamu.”
Di antara karakteristik teman yang baik adalah menjunjung tinggi akhlak, ikut bahagia dan senang atas kesuksesan temannya. Dengan kata lain, apa yang dia sukai untuk dirinya, dia juga menginginkan itu untuk Anda, dan apa yang tidak disenangi oleh dirinya, dia juga tidak menginginkan itu untuk Anda.
Ciri lain teman yang baik adalah bahwa ia memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya dan tidak memutuskan tali silaturahim. Menjauhi pertemanan dengan orang yang mencari-cari keburukan orang lain, manusia seperti ini hanya mencari kekurangan orang lain. Mereka mengurangi rasa percaya diri dan menciptakan frustrasi dengan terus-terusan mengkritik atau mencari kekurangan temannya.
Pertemanan dengan orang fasik juga dilarang. Imam Ali as berkata, “Tali persahabatan dengan orang fasik akan lebih cepat terputus daripada persahabatan dengan orang lain.”
Traveling.
Ciri lain teman yang baik adalah bahwa ia bukan penyembah syaitan dan musuh Allah Swt. Orang-orang seperti ini dimurkai oleh Allah, mereka menghancurkan orang lain, dan menjauhkannya dari kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Disebutkan dalam riwayat, teman yang baik adalah keluarga terbaik. Jika kita ingin mengetahui apakah ia teman sejati atau bukan, kita perlu mengujinya dengan beberapa hal. Pertama, lihatlah apakah persahabatannya berubah ketika kita jatuh miskin atau tidak. Kedua, ketika marah, apakah dia akan mengupat dan mengeluarkan kata-kata kotor atau menahan diri. Ketiga, apakah ia membantu di saat-saat sulit atau meninggalkan kita sendirian. Imam Ali as berkata, “Teman akan diuji dalam kesulitan.”
Kegiatan travel juga akan memperlihatkan karakter asli seorang teman. Traveling memiliki suka dan duka dan di sini akan terlihat sikap mengalah atau sikap egois. Teman yang baik adalah orang yang selalu jujur dengan temannya dan tidak menipu dia. Sikap licik dan berbohong akan memutuskan jalinan persahabatan.
Manusia harus berusaha menjadi sahabat sejati bagi teman-temannya. Jika punya seorang teman yang tidak menyandang sifat-sifat baik, berusahalah untuk jujur padanya seperti cermin. Dengan sikap baik dan tutur kata yang lembut, sampaikan keburukan temanmu kepadanya dan membantu dia untuk perkembangan dan kesuksesannya.
Dapat dikatakan bahwa pertemanan dengan orang-orang baik akan membawa perkembangan, kesuksesan, dan kesempurnaan bagi kita.
Syeikh Tabarsi
Abu Ali Fadhl ibn Hassan Tabresi atau Syeikh Tabarsi (468-548 Hijriah Qamariah) adalah salah satu ulama besar Syiah, dan mufasir Al Quran abad ke-5 dan ke-6 Hq. Syeikh Tabarsi menulis sejumlah kitab tafsir Al Quran, dan yang paling terkenal adalah Majma Al Bayan.
Syeikh Tabarsi lahir pada tahun 468 Hq, dan ayah beliau memberinya nama Fadhl. Allamah Majlesi meyakini kata Tabresi merupakan pelafalan kata bahasa Farsi, Tafresh dalam bahasa Arab, oleh karena itu Syeikh Tabarsi berasal dari Tafresh, salah satu daerah yang masih bagian dari kota Qom.
Keluarga Syeikh Tabarsi merupakan keluarga terkenal di kalangan Syiah. Ayah beliau Hassan bin Fadhl adalah ulama di masanya, dan putra beliau Radhi Ad Din Tabarsi bersinar seperti mentari di langit ilmu pengetahuan, kezuhudan, dan ketakwaan. Radhi Ad Din adalah murid ayahnya, dan penulis banyak kitab salah satunya Makarim Al Akhlaq.
Syeikh Tabarsi atau Fadhl bin Hassan menghabiskan masa kanak-kanak, dan pelajaran dasarnya di lingkungan Makam Suci Imam Ridha as, setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan belajar ilmu-ilmu Islam, dan mengikuti kelas para ulama besar.
Syeikh Tabarsi dikenal luar biasa dalam sastra Arab, qiraat, tafsir Al Quran, hadis, fikih dan ushul, juga kalam, ia bahkan sampai ke derajat ahli di masing-masing bidang ilmu tersebut. Meski di masa itu di sekolah-sekolah tidak lazim diajarkan ilmu berhitung, matematika, dan yang lainnya, namun Syeikh Tabarsi mempelajarinya dan menjadi pakar matematika.
Ulama-ulama besar dan para penulis riwayat hidup menyebut Syeikh Tabarsi sebagai seorang mujtahid dan fakih besar. Dengan bantuan lebih dari 500 ayat Al Quran tentang hukum ibadah, dan muamalah, Syeikh Tabarsi membahas tema-tema fikih di kitab-kitab tafsirnya. Dia pertama menjelaskan pendapat berbagai mazhab Islam, kemudian menyampaikan pendapatnya sebagai fatwa dari sudut pandang Syiah. Kebanyakan ahli fikih atau fakih besar Syiah memuji pandangan-pandangannya.
Syeikh Tabarsi tinggal selama sekitar 54 tahun di kota suci Mashhad, kemudian pindah ke Sabzevar pada tahun 523 Hq atas undangan tokoh-tokoh besar kota itu. Pasalnya di Sabzevar fasilitas untuk mengajar, menulis dan menyebarkan luaskan agama, tersedia lengkap baginya.
Hal yang pertama dilakukan Syeikh Tabarsi di Sabzevar adalah menerima tanggung jawab mengurus Madrasah Darvazeh Iraq, yang kelak berubah menjadi sebuah Hauzah Ilmiah besar dan penting, di bawah kepemimpinannya. Kekayaan budaya, dan ilmu pengetahuan tempat ini menarik banyak pelajar dari tempat-tempat jauh di Iran. Para pelajar agama atau Talabeh muda dengan kecintaannya untuk mencapai kesempurnaan, dan melayani agama, menuntut ilmu di madrasah itu, seperti ilmu fikih dan tafsir dari Syeikh Tabarsi.
25 tahun di Sabzevar adalah masa terbaik Syeikh Tabarsi dalam mendidik para pelajar agama, menulis buku dan meneliti. Ia mencetak murid-murid cemerlang di Sabzevar, salah satunya adalah putranya sendiri Radhi Ad Din Tabarsi penulis kitab Makarim Al Akhlaq, Ibn Shahr Ashoub Mazandarani penulis kitab Maalim Al Ulama, Syeikh Muntajab Al Din penulis kitab Fehrest, Qutb Al Din Ravandi, dan Sadzan bin Jibril Qomi.
Karya Syeikh Tabarsi yang paling terkenal adalah tafsir Majma Al Bayan. Allamah Amini dalam kitab Syuhada Al Fadhilah, terkait kedudukan keilmuan Syeikh Tabarsi menulis, Amin Al Islam atau yang dikenal dengan Syeikh Tabarsi adalah pemegang panji ilmu dan ayat hidayah. Dia adalah pemuka agama dan pemimpin mazhab Syiah paling terkemuka. Tafsir Majma Al Bayan cukup untuk menggambarkan lautan keutamaan dan kedalaman ilmu Syeikh Tabarsi. Kitab tafsir yang memancarkan cahaya hakikat, dan sinar ilmu serta wahyu Ilahi, sebuah kitab yang memenuhi kebutuhan ilmu semua orang.
“Saya menyingsingkan lengan baju dengan tekad kuat, saya bangkit dan berpikir, sangat dalam berpikir dan di hadapan saya ada sejumlah tafsir yang berbeda, dan saya memohon bantuan kepada Tuhan, lalu mulai menulis sebuah kitab yang hasilnya padat, rapih dan tersusun dengan tertib, kitab ini memuat berbagai bidang ilmu tafsir, dan mutiara-mutiara, baik itu ilmu qiraat, sastra Arab, dan lughat, kerumitan serta kebenaran akidah termasuk ushul dan furu, ilmu akal dan naql, dibuat seimbang, ringkas, lebih tinggi dari singkat, lebih rendah dari rinci, pasalnya pemikiran-pemikiran kontemporer sangat berat, dan tidak mampu bertanding di lomba-lomba besar, karena ulama hanya tinggal nama, dan ilmu hanya tinggal sisa-sisanya.”
Syeikh Tabarsi menulis kitab tafsirnya Majma Al Bayan dalam waktu tujuh tahun, dengan mengutip kitab tafsir Al Tibyan milik Syeikh Thusi, dan menjelaskan masing-masing teknik Al Quran secara terpisah dalam susunan yang tertib dan rapih. Keteraturan unik ini menyebabkan para ilmuwan Syiah dan Sunni, menganggap kitab tafsir Syeikh Tabarsi lebih unggul dari kitab-kitab tafsir lain dan memujinya.
Majma Al Bayan ditulis dalam 10 jilid kitab, dan dicetak dalam lima jilid. Kitab ini dimulai dengan mukadimah penting, dan menjelaskan tujuh teknik terkait jumlah ayat Al Quran, dan manfaat mengenalnya, mencatumkan nama-nama qari terkenal, dan pendapat mereka, definisi tafsir, tawil dan maani, nama-nama Al Quran dan artinya, pembahasan tentang Ulumul Quran dan masalah-masalah terkait, dan kitab-kitab yang ditulis seputar itu, hadis-hadis terkenal terkait keutamaan Al Quran dan pemilliknya, penjelasan yang penting bagi para qari (seperti membaca Al Quran dengan indah).
Di salah satu bagian kitabnya, Syeikh Tabarsi berusaha menjelaskan makna ayat, dan memberikan penjelasan lebih dalam, pada sebuah pembahasan yang dinamai Fasl. Tema-tema semacam takwa, hidayah, tobat, dan syaratnya, ikhlas, nama Nabi Muhammad Saw, dan akhirnya ringkasan dari nasihat dan hikmah Lukman Hakim, contoh dari Fasl ini. Begitu juga hadis dan riwayat dalam jumlah yang banyak ditulis dalam kitab ini yang jumlahnya lebih dari 1.300 hadis.
Imam Al Mufasirin, Amin Al Islam Tabarsi meninggal dunia setelah hidup kurang lebih 80 tahun pada 9 Dzulhijjah 548 Hq. di malam Idul Adha di kota Sabzevar. Beberapa penulis Islam, menyebut Syeikh Tabarsi sebagai syahid, dan mereka mengatakan ia meninggal karena diracun. Di sisi lain ada yang menganggap Syeikh Tabarsi meninggal dibunuh sekelompok penyerang. Jenazah beliau dibawa dari Sabzevar ke Mashhad, dan dikebumikan di dekat Makam Suci Imam Ridha as.
Serang Staf Masjid al-Aqsa, Yordania Peringatan Zionis
Menteri Perwakafan dan Urusan Islam Yordania memperingatkan rezim Zionis Israel terkait penangkapan tiga staf Masjid al-Aqsa.
Militer Israel Sabtu (5/9/2020) menangkap tiga penjaga keamanan Masjid al-Aqsa.
Menurut laporan kantor berita Yordania (PETRA), Mohammad KhalailehA had (6/9/2020) seraya mengutuk langkah Israel menangkap staf Masjid al-Aqsa menyatakan, seluruh staf kantor perwakafan Quds dan penjaga keamanan Masjid al-Aqsa serta Dewan Wakaf Quds berada di bawah Kementerian Perwakafan dan Urusan Islam Yordania serta kantor perwakafan Islam Quds sekedar penanggung jawab urusan Masjid al-Aqsa.
"Masjid al-Aqsa tidak dapat dibagi dan hak Muslim di tempat suci ini abadi," papar Khalaileh.
Menurut pengumuman pusat informasi Palestina, militer Israel menyerang penjaga keamanan Masjid al-Aqsa dan menangkap mereka serta mengasingkannya. Militer Israel juga membatasi mereka sehingga mencegahnya berperan dalam mendukung Masjid al-Aqsa dan melindungi tempat suci ini.
Haniyah: Kamp Palestina, Benteng Muqawama
Ketua Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menyebut kamp pengungsi Palestina di Lebanon sebagai benteng muqawama.
Menurut laporan televisi al-Mayadeen, Ismail Haniyah Ahad (6/9/2020) saat mengunjungi kamp Ain al-Hilweh di Lebanon seraya menjelaskan bahwa rencana AS-Zionis kesepakatan abad dan pendudukan lebih besar wilayah Tepi Barat tidak akan dapat dilaksanakan, mengatakan, seluruh wilayah pendudukan termasuk Tel Aviv berada dalam jangkauan rudal muqawama.
Ketua Biro Politik Hamas juga menyebut normalisasi hubungan sejumlah negara dengan Israel bukan indikasi sikap rakyat kawasan dan menambahkan, Palestina tetap hidup di hati nurani bangsa yang bebas.
Ismail Haniyah pekan lalu tiba di Lebanon dan berbagai petinggi termasuk Sekjen Hizbullah Sayid Hasan Nasrullah di Beirut.
Anggota Parlemen Irak: Pasukan AS Harus Keluar dari Irak
Sejumlah anggota parlemen Irak mengulangi seruan mereka bagi penarikan pasukan AS dari Irak.
"Resolusi Parlemen Irak untuk mengusir pasukan Amerika dari negara ini mengikat, dan pemerintah harus menerapkannya," kata Mohammad al-Baldawi, anggota koalisi al-Fatah di parlemen Irak, merujuk pada kekejaman AS yang meluas di negara itu. Demikian dilaporkan Iraqi Nws hari Ahad (06/09/2020).
Pasukan AS di Irak
Intishar al-Musawi, anggota lain dari koalisi al-Fatah di Parlemen Irak mengatakan bahwa sebagian pihak-pihak internal di Irak menghalangi penarikan pasukan AS, seraya menambahkan bahwa semua kelompok politik dan nasional di Irak bersatu dalam melaksanakan resolusi parlemen.
Fadhil Jabir, anggota Parlemen Irak juga menyatakan bahwa parlemen bisa meninjau dan membatalkan kesepakatan strategis yang ditandatangani dengan Amerika Serikat.
Pada 5 Januari 2020, parlemen Irak menyetujui rencana penarikan pasukan AS dari negara tersebut.
Terlepas dari resolusi tersebut, Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi mengumumkan setelah kunjungannya baru-baru ini ke Amerika Serikat, mengutip Presiden Donald Trump, bahwa pasukan AS akan meninggalkan Irak dalam tiga tahun.
Kinerja pemerintah Irak dalam menghadapi penarikan pasukan AS mendapat kecaman keras dari pejabat dan anggota parlemen negara ini.
Dari 20, Pangkalan Militer AS Kini Hanya 4 Tersisa di Irak
Seorang anggota Parlemen Irak dari aliansi Sunni, Al Quwa Al Wataniyah mengabarkan berkurangnya jumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Irak. Menurutnya, saat ini Amerika hanya memiliki 4 pangkalan militer di Irak.
Fars News (6/9/2020) melaporkan, Faisal Al Issawi dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Ahed menuturkan, Amerika bisa melakukan pemboman dari lokasi manapun di dunia ini. Sejumlah pihak di Irak berusaha menjalankan konstitusi, padahal pemerintah yang berhak menentukan sikap, bukan kelompok politik.
Faisal Al Issawi menambahkan, Amerika dalam kondisinya sekarang ini tidak akan membuat masalah di kawasan, dan masih terbuka kesempatan untuk mengurangi kehadiran Amerika di Irak.
Di bagian lain statemennya, Al Issawi menjelaskan, sekutu-sekutu Amerika di Irak menganggap senjata kubu perlawanan melanggar aturan. Tapi masalah senjata bukan karena tanpa aturan, tapi penggunaannya. Orang yang bersekutu dengan Amerika menilai senjata perlawanan Islam melanggar konstitusi, dan tidak taat aturan. Masalah senjata tak beraturan akan selesai dengan rekonsiliasi nyata, dan pemaksaan kehendak tidak akan menyelesaikan masalah.
Pemimpin Hamas Temui Sekjen Hizbullah Lebanon
Kepala Biro Politik Hamas dalam lawatannya ke Lebanon, bertemu dengan Sekjen Hizbullah, dan membicarakan perkembangan politik serta militer di Palestina, Lebanon dan kawasan.
Fars News (6/9/2020) melaporkan, Ismail Haniyeh yang saat ini tengah berada di Lebanon, menemui Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrullah.
Seperti ditulis situs berita El Nashra, dalam pertemuan yang turut dihadiri oleh wakil Kepala Biro Politik Hamas Saleh Al Aouri itu juga dibicarakan tentang bahaya-bahaya yang mengancam Palestina seperti Kesepakatan Abad, normalisasi hubungan negara Arab dengan rezim Zionis Israel, juga tentang tanggung jawab umat Islam dalam hal ini, dan kokohnya sikap kubu perlawanan dalam melawan semua tekanan dan ancaman.
Dalam pertemuan itu juga disepakati upaya penguatan hubungan Hamas dan Hizbullah berlandaskan keimanan, persaudaraan, jihad, masa depan bersama, pengembangan mekanisme kerja sama, dan koordinasi dua pihak.
Ismail Haniyeh pada 1 September 2020 untuk pertama kalinya berkunjung ke Lebanon sejak tahun 1993 silam.
Deplu Palestina Kecam Hubungan Serbia dan Kosovo dengan Israel
Departemen Luar Negeri Palestina mengecam statemen Presiden AS Donald Trump terkait persetujuan Serbia dan Kosovo membuka kedubesnya di Quds pendudukan.
Seperti dilaporkan al-Alam, Deplu Palestina seraya merilis statemen menyatakan, pemerintah Trump memanfaatkan pengaruhnya untuk memeras berbagai negara sehingga memaksakan kebijakan luar negerinya yang mendukung penuh Zionis serta kebijakan rezim ini kepada negara lain.
Di statemen ini disebutkan, langkah Serbia dan Kosovo membuka kedubes di Quds pendudukan sama halnya dengan pelanggaran nyata dan tidak dapat dibenarkan terhadap hak bangsa Palestina.
Deplu Palestina menuntut penjelasan resmi pemerintah Serbia dan Kosovo terkait pembukaan kedubes di Quds pendudukan.
Presiden Donald Trump terus melanjutkan upaya anti Palestinanya dan hari Jumat (4/9/2020) mengumumkan normalisasi hubungan antara Kosovo dan Israel serta janji Serbia memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv ke Quds pendudukan.
Pemukim Zionis Serang Rumah Warga Palestina
Sejumlah pemukim Zionis dilaporkan menyerang rumah-rumah warga Palestina di al-Khalil (Hebron), wilayah pendudukan yang terletak di selatan Tepi Barat Sungai Jordan.
Menurut laporan IRNA, pemukim Zionis hari Sabtu (5/9/2020) menyerang rumah warga Palestina di jalan as-Syuhada, al-Khalil tengah.
Masih menurut sumber ini, pemukim Zionis melempari rumah warga Palestina dengan batu dan salah satu zionis memukuli seorang perempuan Palestina di rumahnya.
Sementara itu, militer Israel malah mendukung aksi brutal pemukim Zionis dalam menyerang warga Palestina dan tidak menunjukkan respon atas also kekerasan warga Zionis tersebut.
Sekitar 400 pemukim Zionis tinggal di distrik-distrik ilegal di al-Khalil dan sekitar 1.500 tentara Israel melindungi mereka.




























