کمالوندی

کمالوندی

Minggu, 20 Oktober 2013 18:55

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 129-131

Ayat ke 129

Artinya:

Kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu. (7: 129)

 

Bani Israil berharap, setelah kebangkitan Nabi Musa as dan kemenangan beliau atas para penyihir, mereka akan terbebas dari belenggu kekuasaan Fir'aun, lalu hidup dengan damai dan sejahtera. Akan tetapi sebaliknya, para pendukung Fir'aun kian meningkatkan aksi mereka, sehingga Bani Israel mengatakan kepada Nabi Musa as, bahwa kebangkitanmu tidak ada gunanya. Sebab, sebelum dan sesudah engkau bangkit melakukan perlawanan kami tetap teraniaya.

 

Nabi Musa as dalam menjawab pernyataan mereka mengatakan, "Kemenangan terhadap musuh tidak akan bisa diperoleh dengan singkat dan tanpa pengorbanan. Tetapi apabila kalian bangkit melakukan perlawanan, kami berharap Allah akan menghancurkan musuh-musuh kalian dan memberikan kekuasaan mereka kepada kalian. Tentunya, kalian juga tidak bebas melakukan apa saja yang kalian inginkan setelah kalian berhasil merebut kekuasaan. Ketahuilah bahwa Allah selalu mengawasi kalian, apakah kalian akan meniru perbuatan Fir'aun ataukah kalian akan berbuat demi tegaknya keadilan."

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.Ambisi untuk mencari kesenangan merupakan bencana yang mengganjal para pengikut agama Ilahi untuk bisa sampai kepada kedudukan mulia. Loyalitas kepada agama penuh dengan pengorbanan. Mereka yang hanya mengharapkan kesenangan tidak akan sanggup melaksanakan perintah agama.

2.Kekuasaan dan kekuatan merupakan ujian dan cobaan dari Allah, bukan merupakan kesempatan untuk berlomba memuaskan nafsu.

 

Ayat ke 130-131

 

Artinya:

Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. (7: 130)

 

Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami". Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (7: 131)

 

Allah Swt dalam dua ayat ini menjelaskan bahwa bukan hanya Bani Israil saja yang ditimpa kesulitan dan kemalangan, sementara kelompok Fir'aun selalu berada dalam kebahagiaan dan kesejahteraan. Ayat ini mengungkapkan bahwa Fir'uan dan pengikutnya juga mengalami kesulitan dan paceklik, yang menjadi peringatan bahwa semua hal tidak berada dalam kekuasaan mereka, dan mereka bukanlah Tuhan di muka bumi. Akan tetapi kesulitan itu tidak menyadarkan mereka. Mereka menyebut Musa dan para pengikutnya sebagai biang kesialan dan kemalangan. Mereka menyebut Bani Israil sebagai bangsa pembawa sial dan petaka.

 

Kesombongan dan keangkuhan Fir'aun dan kelompoknya sedemikian besar sehingga mereka menyebut diri mereka sebagai sumber segala kebaikan dan merekalah yang memang berhak untuk mendapatkan segala kebaikan ini. Dalam menjawab mereka, Allah Swt berfirman, "Bani Israil bukanlah sumber keburukan dan kaum Fir'aun juga bukan sumber segala kebaikan. Semua itu ada di tangan Allah, tetapi mereka tidak mengetahui."

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.Tatanan alam berjalan atas kehendak Allah. Karena itu jangan sampai kita menisbatkan segala sesuatu kepada Alam. Sebab mungkin saja munculnya kesulitan seperti paceklik adalah karena hukuman yang Allah timpakan atau sebuah peringatan bagi kita.

2.Jangan sampai kita keliru dalam menafsirkan peristiwa alam baik yang kita sukai atau tidak. Untuk itu, tidak selayaknya kita mencari kambing hitam jika terjadi peristiwa yang tidak kita kehendaki. Siapa tahu peristiwa itu terjadi karena kesalahan kita.

Minggu, 20 Oktober 2013 18:54

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 124-128

Ayat ke 124

Artinya:

Demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya". (7: 124)

 

Ahli-ahli sihir itu menjawab: "Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. (7: 125)

 

Telah disinggung sebelumnya bahwa sewaktu para tukang sihir dari berbagai kota di Mesir datang menyaksikan mukjizat Nabi Musa as, mereka memahami bahwa pekerjaan Nabi Musa bukanlah sihir atau sulap. Akhirnya, para tukang sihir itu menyatakan beriman kepada Allah dan menerima Musa as sebagai utusan Tuhan semesta alam. Hal ini membuat Fir'aun marah besar dan menuduh tukang-tukang sihir itu telah bersekongkol dengan Musa dan melakukan konspirasi terhadap dirinya.

 

Ayat 124 dan 125 ini menyatakan bahwa selain Fir'aun melemparkan berbagai tuduhan terhadap para tukang sihir itu, raja zalim ini juga memberi ancaman serius kepada mereka dengan mengatakan, "Aku akan memberikan sangsi yang paling berat kepada kalian, aku akan memotong tangan dan kaki kalian dengan cara silang; tangan kanan dan kaki kiri, atau sebaliknya, tangan kiri dan kaki tangan kalian akan aku potong, kemudian setelah itu kalian akan kusalib di pintu gerbang, sehingga menjadi pelajaran bagi orang-orang lain."

 

Tetapi para tukang sihir yang telah mengenal dan memahami kebenaran ajaran Nabi Musa as, tidak gentar terhadap ancaman-ancaman semacam ini, bahkan mereka mencibir Fir'aun dan mengatakan, "Apabila engkau melakukan pekerjaan itu, dan engkau benar-benar menyalib kita di atas pintu gerbang itu, maka kami akan gugur di jalan Tuhan, dan berarti kami gugur syahid di jalan Tuhan. Apakah engkau akan menakut-nakuti kami dengan syahadah, padahal syahadah bagi orang-orang Mukmin merupakan suatu kebahagiaan."

 

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Cara yang dipakai oleh para penguasa yang zalim adalah penyiksaan, pelecehan, dan pembunuhan. Mereka lupa bahwa orang-orang Mukmin akan senantiasa menantikan kesempatan untuk mati syahid dan menemui Tuhannya.

2. Manusia bukan diciptakan untuk menjalani hukuman para penguasa zalim dan berada di lingkungan yang rusak. Karena itu, manusia akan mampu melawan semua kejahatan dan kekejian itu dengan berbekal iman kepada Allah Swt serta kehendak dan upaya yang keras

3. Kita tidak boleh membanggakan dan menyombongkan iman kita dan kita juga tidak boleh berputus asa untuk mengajak orang-orang Kafir agar beriman. Para tukang sihir kafir yang dalam waktu singkat berubah keyakinan dan menjadi mukmin yang teguh, merupakan bukti bahwa kita tak boleh putus asa dalam mendakwahkan ajaran tauhid.

 

Ayat ke 126

 

Artinya:

Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami". (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)". (7: 126)

 

Untuk membalas dan menutupi kekalahannya di hadapan Musa a.s., Fir'aun malah menuduh Nabi Musa as dan para tukang sihirnya melakukan konspirasi untuk merebut kekuasaan raja zalim itu. Pada ayat ini, para tukang sihir menjawab tuduhan Fir'aun itu dengan menyatakan, "Wahai Fir'aun engkau sendiri telah mengetahui, bahwa kami tidak bermaksud seperti itu dan apabila saat ini engkau berpikir untuk membunuh dan menyiksa kami serta menuntut balas terhadap kami, itu tak lain karena kami menyatakan beriman kepada Tuhannya Musa." Lalu para penyihir itu berdoa kepada Tuhan, "Yaa Allah! Berilah kesabaran dan ketegaran kepada kami, sehingga kami dapat menghadapi segala tuduhan dan ancaman ini, lalu kami dapat pergi dari dunia ini dengan membawa iman."

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Hanya menyatakan iman kepada Tuhan tidaklah cukup, tetapi juga harus dibuktikan dengan tetap kukuh berdiri di jalan Allah dalam menghadapi ancaman dan rintangan.

2. Orang-orang Mukmin selain harus berusaha dan berupaya, juga harus berdoa dan merendahkan diri di hadapan Allah Swt. Melakukan salah satunya saja, yaitu berusaha saja atau berdoa saja, tidaklah cukup.

 

Ayat ke 127

 

Artinya:

Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka". (7: 127)

 

Sebelumnya telah disebutkan bahwa Fir'aun memberikan ancaman hukuman kepada para tukang sihir yang telah beriman kepada Allah, namun mereka tetap teguh pada iman mereka dan tidak takut pada ancaman Fir'aun. Dalam ayat ke 127 ini, disebutkan bahwa pendukung Fir'aun melihat Nabi Musa as sebagai sebab utama dari berpalingnya para tukang sihir itu. Para pembesar di istana Fir'aun menganggap Musa as akan mengancam kepentingan mereka. Oleh karena itulah mereka berkata kepada Fir'aun, "Apabila engkau membiarkan Musa bebas melakukan segala kehendaknya, akan timbul semangat pemberontakan di kalangan Bani Israil sehingga negeri ini akan kacau balau."

 

Fir'aun yang menyaksikan Nabi Musa as telah mendapatkan kedudukan yang terhormat di tengah masyarakat, berfikir bahwa bila ia membunuh Musa as, pastilah akan menimbulkan dampak yang sangat berat bagi kerajaan Fir'aun. Karena itu, Fir'aun tidak langsung menyerang Nabi Musa melainkan berencana untuk melakukan penyiksaan yang sangat berat terhadap para pengikut Musa. Firaun berkata, "Siapapun dari kalangan pemuda Bani Israil yang tetap gigih menentang kami, kami akan bunuh mereka, sedang para anak perempuan dan wanita mereka akan kami biarkan hidup dan kami jadikan sebagai tawanan dan pelayan-pelayan kerajaan. Kami akan melakukan hal itu karena kamilah yang berkuasa atas mereka sepenuhnya."

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Para penguasa zalim selalu menyebut para pembaharu dan pencerah seperti para nabi atau pejuang kebenaran, sebagai orang yang merusak, padahal sesungguhnya justru merekalah sumber kesesatan, kejahatan, dan kerusakan.

2. Menghancurkan generasi muda dan menawan kaum perempuan merupakan sebuah politik Fir'aun yang dewasa ini pun masih terus dilakukan oleh para penguasa zalim di muka bumi. Para pemimpin negara-negara adidaya dalam rangka menghancurkan kaum Muslimin telah menggiring para pemuda dan pemudi muslim untuk bersikap bebas tanpa batas, menjadi pencandu narkotika, dan menjadi pelaku kejahatan.

 

Ayat ke 128

 

Artinya:

Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa". (7: 128)

 

Sebelumnya telah disinggung bahwa sesudah kemenangan Nabi Musa as atas para penyihir raja zalim itu, akhirnya Fir'aun memutuskan untuk melakukan penyiksaan dan pembunuhan terhadap para pengikut Musa as. Tujuannya agar jumlah mereka semakin berkurang dan orang-orang lain akan takut untuk mengikuti ajaran Musa. Kerena itu Fir'aun memerintahkan untuk membunuh para pemuda Bani Israil dan menawan wanita mereka.

 

Menghadapi tindakan Fir'aun ini, Nabi Musa as menyeru umatnya agar bersabar dan tabah menghadapi berbagai kesulitan akibat perbuatan Fir'aun. Musa mengatakan, "Wahai umatku! Bumi adalah kepunyaan Allah dan Dia-lah penguasa mutlak di muka bumi. Apabila kalian tegar menghadapi Fir'aun dan hanya meminta pertolongan kepada Allah, maka Dia berjanji akan menjadikan kalian sebagai pewaris bumi ini. Hari ini Fir'aun dengan congkaknya mengaku sebagai tuhan di atas bumi. Jika kalian bangkit berjuang di jalan Allah, kalian pasti akan memperoleh kemenangan. Kalian akan memperoleh akhir yang baik jika kalian bertakwa."

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.Untuk memperoleh kemenangan terhadap penguasa zalim, ada tiga hal yang perlu kita perhatikan; kesabaran dan ketabahan, tawakal dan istiqamah, serta ketakwaan dan kesucian.

2.Orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan akhir yang baik, di dunia dan di akhirat.

Minggu, 20 Oktober 2013 18:52

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 117-123

Ayat ke 117-118

Artinya:

Dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!". Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. (7: 117)

 

Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. (7: 118)

 

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, untuk mengalahkan Musa AS, Fir'aun mengundang para tukang sihir terkemuka dari berbagai penjuru Mesir. Mereka diundang untuk bertanding ilmu sihir melawan Musa. Fir'aun beranggapan bahwa para ahli sihirnya dapat mengalahkan Musa, sementara para penyihir mengharapkan imbalan yang besar dari Fir'aun.

 

Setelah tiba hari yang dijanjikan, mereka membawa berbagai peralatan sihir yang mereka miliki, lalu memamerkan kebolehan dan kepiawaian mereka di hadapan masyarakat. Tali-tali yang mereka lemparkan, tiba-tiba berubah menjadi ular-ular besar dan kecil. Masyarakat yang menyaksikan dibuatnya ketakutan. Akan tetapi Nabi Musa as, dengan berbekal tawakal kepada Allah Swt tidak gentar dan berdiri tegar menyaksikan berbagai atraksi para penyihir itu. Lalu dengan perintah Allah, beliau melemparkan yang ada di tangannya. Ayat 117 dan 118 ini menceritakan bahwa tongkat Musa as setelah dilemparkan berubah menjadi ular raksasa yang sesungguhnya yang lalu menelan habis ular-ular besar dan kecil hasil sihiran para penyihir Fir'aun. Dengan demikian kebenaran seruan Musa akan menjadi nyata dan kebatilan takluk.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kebatilan dengan berbagai coraknya, selalu bertujuan menipu. Tetapi seberkas sinar kebenaran, akan melenyapkan ribuan tipuan kebatilan.

2. Pada akhirnya, kebenaranlah yang akan muncul sebagai pemenang dan kebatilan akan hancur dan sirna.

 

Ayat ke 119-120

 

Artinya:

Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. (7: 119)

 

Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. (7: 120)

 

Dengan kemenangan Nabi Musa as atas para penyihir Fir'aun ini, penguasa zalim ini menderita pukulan yang sangat telak. Pertandingan sihir yang diadakan oleh Fir'aun untuk mencegah keimanan masyarakat kepada Musa as, ternyata malah menjadi pukulan berat baginya, dengan berimannya para penyihir kepada Nabi Musa as. Setelah menyaksikan kebenaran, para penyihir yang datang ke istana Fir'aun untuk mendapatkan hadiah, kini melupakan segalanya dan tunduk kepada Nabi Musa as.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Jika tidak arena keingkaran dan kecongkakan, manusia pasti akan tunduk saat menyaksikan kebenaran.

2. Sujud merupakan simbol penyerahan dan ketundukan yang paling nyata.

 

Ayat ke 121-123

 

Artinya:

Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam. (7: 121)

 

"(yaitu) Tuhan Musa dan Harun". (7: 122)

 

Fir'aun berkata: "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini). (7: 123)

 

Telah kami sebutkan bahwa saat menyaksikan keagungan dan kebesaran mukjizat Nabi Musa as, para penyihir bersimpuh dan bersujud. Mereka menerima bahwa apa yang dilakukan Musa as bukanlah sihir yang membalik mata orang. Tetapi dengan mukjizatnya Musa merubah tongkat menjadi ular yang sesunguhnya. Karena itulah setelah mereka mengangkat kepala dari sujud, lalu menyatakan ikrar bahwa mereka menerima ajaran Musa. Di hadapan Fir'aun dan para hadirin yang menyaksikan pertandingan itu, mereka menyatakan bahwa Musa as adalah Nabi utusan Tuhan, dan kami para penyihir beriman kepada Tuhan Musa yang menciptakan jagat raya ini.

 

Sementara itu Fir'aun yang tidak menyangka akan menyaksikan keimanan para penyihir, menuduh mereka telah bersekongkol dengan Musa. Fir'aun mengatakan, "Kalian sebelumnya telah menjalin persekongkolan dengan Musa untuk mementaskan pertunjukan ini. Karena itu kalian ikut berdosa bersama Musa. Semua merupakan suatu konspirasi yang telah dirancang sebelumnya."

 

Lebih jauh Fir'aun menuduh mereka berusaha merebut kekuasaan di negeri ini. Fir'aun mengatakan, "Kalian ingin menjatuhkan kekuasaanku untuk kemudian berkuasa di sini dengan mengusir kami dari negeri kami? Ketahuilah bahwa kalian berhadapan dengan Fir'aun. Aku tidak akan mengijinkan kalian melaksanakan rencana itu. Aku akan menghukum kalian untuk menjadi pelajaran bagi orang lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama."

 

Dari tiga ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Manusia memiliki kehendak atas diri sendiri. Tidak ada yang bisa memaksa seseorang untuk mengikuti suatu keyakinan tertentu, bahkan lingkungan dan pemerintahan. Contohnya, para penyihir yang berada di bawah kekuasaan Fir'aun, bahkan istri Fir'aun, beriman kepada ajaran Musa.

2. Para penguasa zalim tidak bisa menerima keyakinan yang bertentangan dengan mereka, bahkan beranggapan bahwa rakyat harus meminta izin mereka dalam memilih agama dan keyakinan.

3. Tuduhan merupakan cara paling umum dilakukan penguasa-penguasa zalim. Tanpa menggunakan logika dan argumen, mereka melemparkan tuduhan dan penghinaan terhadap orang-orang yang berpegang teguh kepada kebenaran.

4. Ancaman pembunuhan dan penyiksaan merupakan cara taghut untuk memperoleh atau mempertahankan kekuasaan.

Minggu, 20 Oktober 2013 18:51

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 109-116

Ayat ke 109-110

Artinya:

Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata: "Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai. (7: 109)

 

Yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu". (Fir'aun berkata): "Maka apakah yang kamu anjurkan?" (7: 110)

 

Sebelumnya telah dipelajari bahwa Nabi Musa as telah diutus Allah Swt agar pergi menemui Fir'aun dan menyeru raja zalim itu supaya beriman kepada Allah Swt. Nabi Musa as juga diutus dengan misi menyelamatkan kaum Bani Israil dari cengkraman kezaliman Fir'aun. Dalam usahanya untuk membuktikan kebenaran ajaran tauhid yang dibawanya, Nabi Musa as menunjukkan mukjizat yang menyebabkan Fir'aun dan para pendukungnya tidak berdaya dan tidak mampu melawan. Pada kedua ayat yang baru kita baca tadi, para pembesar dan pendukung Fir'aun menyebut Nabi Musa sebagai penyihir, demi untuk mencegah kaumnya beriman kepada ajaran Nabi Musa.

 

Pada zaman itu, sihir dan sulap berkembang sangat luas dan masyarakat mengetahui bahwa sihir merupakan suatu pekerjaan berupa tipuan yang tidak ada hakikat atau kenyataannya. Karena itulah Fir'aun dan para pendukungnya menyebut mukjizat Nabi Musa tak lain adalah perbuatan sihir belaka. Selain itu, mereka juga menyebut bahwa tujuan Musa yang sesungguhnya adalah untuk meraih kekuasaan. Para pembesar dalam pemerintahan Fir'aun itu berkata kepada Fir'aun, "Sesungguhnya dia ingin melepaskanmu dari tampuk kekuasaan dan dia akan duduk menggantikanmu sebagai penguasa, sehingga dengan demikian dia dapat berkuasa atas Bani Israil. Kemudian, kita akan diusir dari negeri ini. Karena itu, pikirkanlah sesuatu jalan penyelesaian dari masalah ini."

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Dalam menghadapi dalil dan logika cemerlang seorang nabi, orang-orang Kafir melemparkan tuduhan yang mengada-ada dan terus bersikap keras kepala dan acuh tak acuh.

2. Orang-orang Kafir selalu melemparkan berbagai tuduhan dan fitnah kepada para nabi dan orang-orang yang benar. Demi menghalangi tersebarnya kebenaran, orang-orang Kafir menuduh para nabi dan kaum Mukminin sebagai orang yang haus kekuasaan dan harta, padahal sesungguhnya orang-orang Kafir itulah yang demikian.

 

Ayat ke 111-112

 

Artinya:

Pemuka-pemuka itu menjawab: "Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir). (7: 111)

 

Supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai". (7: 112)

 

Setelah saling bertukar pikiran, para pejabat Istana Fir'aun akhirnya sampai memutuskan untuk tidak menghabisi Musa, tetapi mengambil jalan lain untuk menundukkan Musa, yaitu dengan memanggil para tukang sihir dari berbagai penjuru negeri.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Dalam usaha untuk mengalahkan kebenaran, para penguasa yang arogan dan zalim akan melakukan berbagai perundingan, bahkan bila perlu dalam bentuk konferensi atau seminar-seminar bertaraf internasional.

2. Terkadang ilmu, keahlian, atau bahkan kesenian dimanfaatkan oleh orang-orang penentang kebenaran demi melawan seruan kebenaran.

 

Ayat ke 113-114

 

Artinya:

Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun mengatakan: "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?" (7: 113)

 

Fir'aun menjawab: "Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)". (7: 114)

 

Setelah Fir'aun mengeluarkan perintah kepada semua tukang sihir yang hebat dari berbagai penjuru negeri Mesir untuk berkumpul di kerajaannya, para tukang sihir itupun mendatangi Firaun dan berkata, "Ini adalah pekerjaan besar. Jika kami menang melawan Musa, kami harus mendapatkan imbalan yang baik dan pantas." Fir'aun menjawab bahwa selain mendapatkan upah dan imbalan materil yang menggiurkan, para penyihir itu juga akan diberi kedudukan yang terhormat di dalam Istana Fir'aun.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Sebagaimana anggota masyarakat pada umumnya, para tukang sihir meminta imbalan atau upah atas pekerjaan yang mereka lakukan. Hal inilah yang membedakan antara nabi dengan manusia biasa. Para nabi dalam menyeru dan mengajak manusia ke jalan Allah yang lurus dan benar tidak meminta upah apapun dari masyarakat.

2. Dalam usaha untuk mengalahkan kebenaran, para penguasa yang zalim mengeluarkan modal dan investasi, diantaranya dengan membayar para pakar atau seniman untuk membantu mereka dalam menutup-nutupi kebenaran.

 

Ayat ke 115-116

 

Artinya:

Ahli-ahli sihir berkata: "Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?" (7: 115)

 

Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena'jubkan). (7: 116)

 

Setelah para tukang sihir itu datang berkumpul, Raja Fir'aun juga memerintahkan rakyatnya untuk menyaksikan pertandingan besar di lapangan yang luas antara para penyihir melawan Nabi Musa as. Fir'aun meyakini bahwa tukang-tukang sihirnya yang ahli dan piawai akan dapat menundukkan Musa. Sementara itu, para tukang sihir itu pun merasa sangat percaya diri dan yakin bahwa mereka dengan mudah akan berhasil mengalahkan Nabi Musa, sehingga mereka berkata, "Engkaukah dahulu yang mulai menggelar kemampuanmu ataukah kami yang akan menampilkan atraksi-atraksi kami ?"

 

Nabi Musa as yang beriman teguh kepada kekuasaan Allah Swt, dengan tenang dan mantap menjawab, "Kalian keluarkan dahulu kemampuan yang kalian miliki!" Lalu para penyihir itu pun mengerahkan keahlian mereka dalam bidang sihir dan sulap. Mereka melemparkan tali-tali tambang yang kemudian berubah menjadi ular-ular sehingga menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat yang menjadi penonton.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Panca indra manusia dapat disimpangkan ke arah yang melenceng, sehingga manusia sering salah dalam menilai sesuatu. Sebagai contoh, ketika manusia melihat fatamorgana air, dia tidak melihat air yang sesungguhnya. Pekerjaan tukang sulap dan sihir hanya mencari dan memanfaatkan poin lemah dari panca indera manusia seperti ini.

2. Pekerjaan sihir dan sulap benar-benar ada dan bukan ilusi semata-mata sehingga memberi pengaruh negatif pada jiwa manusia. Karena itulah ajaran Islam mengharamkan pekerjaan ini.

Minggu, 20 Oktober 2013 18:50

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 103-108

Ayat ke 103

Artinya:

Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan. (7: 103)

 

Sejak awal pembahasan surat al-A'raf, telah dipelajari berbagai kisah para nabi utusan Allah Swt, seperti Nabi Hud, Saleh, Luth dan Syu'aib as. Ayat ke-103 ini menjelaskan bahwa setelah berlalunya para nabi tersebut, Allah mengutus Nabi Musa as sebagai utusan-Nya. Tugas pertama yang diperintahkan Allah kepada Nabi Musa ialah memberi petunjuk kepada Fir'aun dan para pemuka Bani Israil dan mengajak mereka untuk beriman kepada Allah. Meskipun dalam melaksanakan tugas dari Allah tersebut Musa as dibekali dengan berbagai dalil yang jelas dan terang serta mukjizat yang hebat yang merupakan tanda-tanda atas kebenaran ajaran yang dibawanya, namun Fir'aun dan para pengikutnya tidak menyambut seruan dan ajakan Nabi Musa as tersebut. Bahkan, Fir'aun menghina Nabi Musa, mencibir mukjizat yang dibawa nabi utusan Allah ini, serta tidak mau menghentikan perbuatan jahatnya.

 

Dalam kitab suci al-Quran, nama Nabi Musa disebut sebanyak 136 kali. Al-Quran menyebutkan kehidupan Nabi Musa sejak beliau dilahirkan, masa kanak-kanak dan remaja, sampai saat ketika Musa as pergi dari Mesir menuju kota Madyan. Selanjutnya, dalam al-Quran juga diceritakan periode setelah Musa as diangkat sebagai nabi dan menyampaikan ajaran tauhid kepada Raja Fir'aun. Kisah bagaimana Nabi Musa dan pengikutnya diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir'aun serta kisah perilaku umat Nabi Musa, yaitu kaum Bani Israil, semuanya merupakan pembahasan yang sangat menarik dan penuh hikmah yang diabadikan dalam berbagai ayat al-Quran.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Berjuang menentang para penguasa zalim merupakan program utama para nabi utusan Allah Swt. Karena usaha untuk membenahi dan meluruskan masyarakat harus dimulai dengan meluruskan pemimpinnya; sebagaimana bila kita ingin membersihkan aliran air sungai, mata airnya dulu yang harus dibersihkan.

2. Kita jangan tertipu oleh gemerlapnya kekuasaan dan kekayaan. Dalam berperilaku, hendaknya kita memikirkan akibat atau hasil akhir dari perbuatan itu, bukan kesenangan sesaat yang malah berujung pada kehancuran.

 

Ayat ke 104-105

 

Artinya:

Dan Musa berkata: "Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam. (7: 104)

 

Wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku". (7: 105)

 

Fir'aun mengaku sebagai Tuhan dengan mengatakan, "Aku adalah Tuhan yang paling tinggi". Karena itulah Nabi Musa as dalam kontak pertama dengan Fir'aun menegaskan seruannya sebagai berikut, "Aku diutus oleh Tuhan Pencipta alam semesta untuk datang ke hadapanmu. Apa yang kusampaikan ini adalah semata-mata datang dari sisi-Nya. Bukti atas kebenaran kata-kataku ini adalah mukjizat yang engkau lihat ini. Mukjizat ini datang dari Allah dan bukan berasal dari kemampuanku sendiri. Wahai Fir'aun ! Cegahlah tanganmu dari melakukan kejahatan dan kezaliman, lalu bebaskanlah kaum Bani Israil dari cengkramanmu sehingga mereka dapat pergi menyertaiku dan meraih kemerdekaannya."

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Para nabi utusan Allah tidak akan melakukan dakwah selain seruan dan ajakan kebenaran, dan di jalan kebenaran ini, mereka tidak takut kepada siapapun, sekalipun kepada para penguasa-penguasa zalim.

2. Pembebasan dan penyelamatan umat manusia dari cengkraman para penguasa-penguasa zalim merupakan tujuan utama para nabi.

 

Ayat ke 106-107

 

Artinya:

Fir'aun menjawab: "Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar". (7: 106)

 

Maka Musa menjatuhkan tongkat-nya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. (7: 107)

 

Para pengikut Fir'aun pada tahap pertama mengatakan, "Mari kita menguji Musa, mungkin dia tidak mampu melakukan perbuatan yang luar biasa sehingga dengan sendirinya gengsinya pasti akan hancur. Akan tetapi, bila ternyata dia mampu mengeluarkan mukjizat tersebut, kita tuduh saja dia tengah melakukan sihir dan membalik mata orang." Karena itu para pengikut Firaun menyuruh Nabi Musa untuk menampilkan mukjizat yang dimilikinya. Seterusnya, Nabi Musa as dengan perintah Allah melemparkan tongkatnya, yang atas kekuasaan Allah, tongkat itu berubah menjadi ular naga yang sangat besar dan menelan ular-ular kecil yang diciptakan oleh para penyihir Fir'aun.

 

Tongkat Nabi Musa as juga memiliki beberapa mukjizat lainnya, seperti ketika terjadi kekeringan dan musim paceklik, Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke atas sebuah batu cadas, lalu 12 mata air memancar dari batu tersebut. Begitu pula, di saat Nabi Musa dan para pengikutnya hendak menyeberangi Sungai Nil karena dikejar-kejar oleh Fir'aun dan pasukannya, Nabi Musa memukulkan tongkatnya pada air sungai itu, lalu terbelahlah air sungai itu dan terbukalah jalan untuk dilalui oleh Musa as dan pengikutnya.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Mukjizat merupakan dalil kebenaran nubuwwah dan para nabi utusan Allah Swt harus menampilkan mukjizat tersebut sekalipun mereka tahu bahwa orang-orang seperti Fir'aun tidak akan menerima kebenaran itu.

2. Mukjizat para nabi utusan Allah senantiasa sesuai dengan kemajuan ilmu-ilmu pengetahuan zamannya. Pada zaman ketika sihir, hypnotis, dan sejenisnya menjadi alat yang penting dalam masyarakat, Allah memberi mukjizat kepada Nabi Musa kemampuan yang mirip dengan sihir dan sulap. Namun sesungguhnya, mukjizat yang dimiliki Nabi Musa itu merupakan suatu bentuk yang nyata dan bukanlah sihir.

 

Ayat ke 108

 

Artinya:

Dan ia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. (7: 108)

 

Satu lagi mukjizat Nabi Musa as yang beliau perlihatkan di istana Fir'aun adalah tangan beliau yang berwarna putih penuh dengan cahaya. Saat itu, Nabi Musa as memasukkan tangan beliau ke dalam lipatan-lipatan baju beliau dan sewaktu beliau menarik kembali tangan tersebut, tangan beliau tersebut bagaikan mentari yang bersinar putih dan mengeluarkan hawa yang menghangatkan, sehingga membuat orang yang menyaksikan menjadi takjub dan keheranan. Dari kisah ini, kita dapat mengetahui bahwa mukjizat para nabi ada dalam dua bentuk, pertama dalam bentuk yang menakutkan, seperti tongkat yang berubah menjadi naga besar dan ada pula mukjizat yang memberikan rasa harapan, seperti cahaya. Hal ini juga menunjukkan bahwa manusia harus berada dalam posisi antara takut dan penuh harapan kepada Allah Swt.

 

Dari ayat tadi terdapat satu poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Para mubaligh Islam dalam menyampaikan ajaran Ilahi, selain harus menggunakan pernyataan dan logika yang benar, juga harus dibekali pula dengan kekuatan yang dapat digunakan pada saat-saat yang diperlukan. Kekuatan yang dimilikinya itu dapat menunjukkan kemurkaan Allah dan terkadang dapat pula menunjukkan kasih sayang Ilahi.

Minggu, 20 Oktober 2013 18:49

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 97-102

Ayat ke 97-99

 

Artinya:

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? (7: 97)

 

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? (7: 98)

 

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (7: 99)

 

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Allah Swt dalam beberapa kasus telah menimpakan balasan terhadap orang-orang kafir dan zalim ketika mereka masih berada di atas dunia ini. Ayat-ayat yang baru kita dengarkan bacaannya tadi menyebutkan bahwa tak ada seorang pun yang dapat melarikan diri ketika kemurkaan Allah telah datang. Karena itu, para pendosa tidak boleh merasa aman dan mengira bahwa dirinya akan terhindar dari kemurkaan dan kemarahan Allah. Azab Allah akan datang dengan tidak disangka-sangka. Kemarahan Allah tidak mengenal waktu dan bisa datang kapan saja, baik malam, pagi, atau siang; baik ketika manusia tengah tertidur atau terjaga. Setiap saat, azab dan kemurkaan Allah bisa saja turun terhadap para pendosa.

 

Dalam tiga ayat ini, disebutkan bahwa azab Allah diistilahkan dengan kata makar. Namun, kata "makar" di sini tidaklah berarti tipu daya. Kata "makar" sesungguhnya bermakna "upaya mencari jalan untuk menggagalkan pihak lawan dalam mencapai tujuannya". Dengan demikian, makna kata "makar" dalam ayat ini adalah bahwa Allah Swt menurunkan azab dengan tujuan untuk menggagalkan upaya orang-orang Kafir dalam mencapai tujuan-tujuan sesat mereka.

 

Dari tiga ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kita tidak boleh menganggap remeh pelaksanaan berbagai kewajiban dan tanggung jawab yang telah diperintahkan Allah. Karena azab Allah Swt tidak hanya untuk kaum-kaum terdahulu, namun bagi setiap umat dari setiap zaman.

2. Setiap manusia tidak boleh menyombongkan kekuasaan, kekuatan teknologi, dan segala fasilitas yang dimilikinya, karena kekuasaan Allah lebih hebat dari segala kekuatan apapun yang ada di muka bumi.

 

Ayat ke 100

 

Artinya:

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)? (7: 100)

 

Allah Swt dalam ayat ini memberikan peringatan kepada para penghuni planet bumi saat ini, agar mengambil pelajaran terhadap nasib kaum-kaum sebelum mereka dan agar mereka memikirkan akibat dari segala perbuatan yang mereka lakukan di muka bumi. Allah memperingatkan, "Apakah kalian tidak mengerti bahwa Kami telah membuat orang-orang terdahulu itu tertimpa bencana karena mereka telah melakukan perbuatan dosa? Dosa mereka sedemikian besarnya sehingga hati dan jiwa mereka telah diselimuti oleh kejahatan dan mereka tidak bisa lagi melihat hakikat kebenaran."

 

Berdasarkan berbagai riwayat Islam, disebutkan bahwa hati manusia bagaikan lembaran-lembaran buku yang masih putih bersih, tetapi dengan adanya perbuatan dosa, lembaran-lembaran tersebut ternodai titik hitam yang akan selalu terlihat. Bila orang tersebut bertaubat atas dosa-dosanya, bintik noda hitam itu menjadi bersih. Namun bila perbuatan dosa itu terus dilakukannya, bintik noda hitam itu akan membesar sehingga akan menutupi seluruh lembaran buku yang putih itu. Kalau sudah demikian, manusia itu tidak akan lagi mampu memahami hakikat, sehingga tidak ada lagi jalan kebahagiaan.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Manusia senantiasa membutuhkan teguran, penyadaran, dan peringatan, sehingga dapat terselamatkan dari kelalaian.

2. Dosa memberikan pengaruh negatif terhadap hati manusia, yang secara bertahap bisa mengubah manusia, yaitu dari manusia yang mampu melihat hakikat, menjadi manusia yang buta terhadap hakikat.

 

Ayat ke 101

 

Artinya:

Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir. (7: 101)

 

Ayat ini berbicara kepada Nabi Muhammad Saw dengan mengatakan, "Apa yang telah Kami katakan tadi adalah berkaitan dengan kota-kota yang telah didatangi oleh para nabi. Para nabi itu menyeru para penduduk kota-kota tersebut, namun mereka menolak seruan nabi-nabi mereka. Dosa-dosa yang dilakukan oleh penduduk kota-kota itu sedemikian besarnya sehingga menutupi hati mereka dan hal itu membuat mereka tidak mampu memahami hakikat kebenaran agama Allah."

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Pemikiran yang salah dari masyarakat atau penentangan dari mereka tidak boleh menjadi penyebab lemahnya semangat para mubaligh Islam. Karena sepanjang sejarah, kejadian semacam ini akan selalu terulang.

2. Seruan para nabi as senantiasa diiringi dengan dalil dan argumentasi yang logis dan gamblang, tetapi hati orang-orang Kafir tidak sanggup memahami kebenaran tersebut. Karena itu, kita harus waspada agar jangan sampai hati kita menjadi hati yang tidak mampu lagi menerima kebenaran.

 

Ayat ke 102

Artinya:

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik. (7: 102)

 

Setelah ayat-ayat sebelumnya menyinggung akar keingkaran orang-orang kafir, ayat ini mengatakan, kebanyakan orang-orang kafir itu acuh tak acuh dan tak peduli terhadap prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan fitrah mereka. Mereka tidak menghiraukan aturan baik atau buruk yang sesuai dengan fitrah manusia sehingga mereka akan senantiasa melakukan perbuatan jahat yang bertentangan dengan fitrah suci manusia. Maka sudah barang tentu, orang-orang semacam ini tidak akan mampu menerima kebenaran agama-agama samawi, karena ajaran agama akan dipandangnya sebagai ajaran yang menghalangi berbagai perbuatan jahat dan dosa mereka.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Dalam memberikan ketentuan hukum, terhadap para penentang pun, kita harus bersikap adil. Kita tidak boleh mengatakan bahwa semua orang berperilaku buruk, tetapi kita harus mengatakan bahwa sebagian dari merekalah yang demikian.

2. Kita harus berpegang teguh pada dasar-dasar kemanusiaan dan fitrah, sehingga dapat terhindar dari perbuatan dosa.

Minggu, 20 Oktober 2013 18:37

Pesawat Jatuh, 10 Penumpang Tewas

Sepuluh penumpang tewas ketika pesawat kecil yang membawa mereka jatuh beberapa menit setelah lepas landas di Belgia selatan.

Pesawat Pilatus Porter baru saja lepas landas dariBandaraTemploux pada Sabtu (19/10), tetapi jatuh sekitar sepuluh menit kemudian di sebuah lapangan di pinggiran desa Marchovelette, bagian dari Kota Fernelmont, dan terbakar.

"Pesawat itu lepas landas dari bandaraudara Temploux dengan 10 penerjun payung….dan jatuh sekitar 10 menit kemudian di lapangan. Semua penumpangnya sayangnya tewas. Jumlah korban10 atau 11 orang," kata Jean-Claude Nihoul,Walikota Fernelmont.

Perdana Menteri Belgia Elio di Rupo menyampaikan belasungkawa terdalam atas insiden tragistersebut.

Namun penyebab kecelakaan belum diketahui pasti.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan berkunjung ke Kalimantan Selatan (Kalsel) pada 22-24 Oktober mendatang.

Kedatangan SBY bersama sejumlah menteri akan meresmikan sejumlah proyek terkait Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di Kalsel senilai Rp15 triliun, pelantikan pengurus PWI dan pembukaan Kongres Budaya Banjar III.

Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel Haris Makkie, Minggu (20/10), mengatakan itu saat memberikan penjelasan seputar rencana kedatangan Presiden dan teknis peliputan oleh wartawan di Banjarmasin.

"SBY dijadwalkan berkunjung pada 22-24 Oktober. Saat ini panitia terus melakukan pematangan persiapan menyambut kedatangan presiden," tuturnya.

Sejumlah proyek MP3EI senilai lebih dari Rp15 triliun yang akan diresmikan di Kalsel antara lain proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-Asam unit 3 dan 4. PLTU berbahan bakar batu bara di Kabupaten Tanah Laut itu berkapasitas 2 x 65 megawatt (Mw) senilai Rp1,7 triliun.

Selain itu, PLTU yang dibangun pihak swasta berkapasitas 2 x 30 Mw dengan nilai investasi Rp1,6 triliun di Kabupaten Tabalong. Kemudian, pembangunan pabrik kelapa sawit serta jembatan layang Kota Banjarmasin.

Selain meresmikan dan mencangkan sejumlah proyek MP3EI, SBY juga dijadwalkan akan mengukuhkan kepengurusan PWI Periode 2013-2018 dan menghadiri pembukaan Kongres Budaya Banjar III.

Puluhan ribu warga Portugal menggelar demonstrasi anti-penghematan ekonomi di dua kota terpadat di negara itu, dan menuntut pengunduran diri pemerintah.

Puluhan ribu pendemo pada Sabtu (19/10) turun ke jalan-jalan diLisbon, ibukota Portugal memprotes gaji baru dan pemotongan pensiun yang direncanakan dalam anggaran negara tahun 2014.

Menurut panitiaunjuk rasa, sekitar 70.000 orang berpartisipasi dalam protes akbar tersebut. Para demonstran menyerukan Presiden Anibal Cavaco Silva menolak RUU anggaran 2014 dan mengirimkannya ke Mahkamah Konstitusi untuk dibatalkan.

RUU yang meliputi pemangkasan anggaran itu disetujui sebagai syaratuntuk menerapkan paketbantuaninternasional.

Presiden Cavaco Silva memiliki wewengan untuk mengirim anggaran ke Mahkamah Konstitusi dan masyarakat Portugal juga dapat memohon mahkamah untuk memeriksa apakah anggaran itu sesuai dengan konstitusi.

Selama setengah tahun terakhir, pengadilan telah menolak beberapa langkah-langkah penghematan pemerintahdanmemaksanya untuk mencari alternatif lain.

Minggu, 20 Oktober 2013 18:29

Sejarah Cemerlang Imam Hadi as

Hari ini kita memperingati kelahiran Imam Hadi as, manusia suci keturunan Rasulullah Saw. Pada tahun 212 Hijriah, Imam Ali bin Muhammad yang dikenal dengan Imam Hadi terlahir kedunia. Sejarah kehidupan manusia suci ini sangat cemerlang dan upayanya yang gigih dalam membimbing umat beliau diberi gelar al-Hadi atau pembimbing. Tak diragukan lagi mengenal dan mendekatkan diri kepada manusia yang menjadi manifestasi nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, akan membantu kita mencapai kebahagiaan. Bukalah hati kita untuk menerima petuah-petuah tinggi beliau dan jadikan diri kita sebagai pecintanya yang hakiki.

Imam Hadi dilahirkan di sebuah desa di dekat kota Madinah pada tahun 212 Hijriah. Ibunya bernama Samanah yang lebih dikenal dengan sebutan Sayyidah. Setelah gugurnya sang ayah (Imam Jawad as), Imam Hadi as menerima tanggung jawab besar dalam memimpin serta membimbing umat Islam. Tugas suci ini diemban Imam Hadi selama 33 tahun. Selama masa keimamahannya, Imam Hadi selain aktif menyebarkan prinsip-prinsip agama, juga sangat memperhatikan kondisi politik dan sosial umat Islam.

Selama periode kehidupannya, Imam Hadi mengalami pemerintahan sejumlah pemimpin zalim Bani Abbasiyah. Kezaliman dan egoisme para khalifa Abbasiyah telah membuka peluang ketidakpuasan umat Islam sehingga sendi-sendi pemerintahan mereka semakin keropos. Sejak periode kehidupan Imam Jawad as, para khalifa Bani Abbasiyah semakin meningkatkan represi politiknya kepada Ahlul Bait Nabi. Dalam koridor strategi ini pula, khalifa Bani Abbasiyah memindahkan dengan paksa Imam Hadi as dari pusat ilmu yakni Madinah ke kota Samarra di Irak.

Sepuluh tahun terakhir usianya dihabiskan Imam Hadi as di kota Samarra. Kondisi umat Islam saat periode keimamahan Imam Hadi as sangat tertekan. Represi besar politik dan maraknya syubhah ideologi (ideologi menyimpang), dua fenomena kental yang dapat disaksikan di kehidupan Imam Hadi as. Atmosfir mencekik, khususnya di era pemerintahan Mutawakkil membuat warga kesulitan untuk menjalin hubungan dan akses kepada Imam Hadi. Di sisi lain, maraknya berbagai pendapat yang menyebar di tengah masyarakat terkait isu ideologi dan keyakinan berujung pada terbentuknya kelompok dan mazhab. Sejatinya munculnya kendala ini kian memahamkan kita akan urgensitas keberadaan para imam maksum dan Ahlul Bait Nabi untuk menjaga sendi-sendi agama.

Salah satu misi besar Imam Hadi adalah membangun masyarakat yang kokoh. Imam kemudian memulai konfrontasi tak langsung dengan pemimpin Bani Abbasiyah melalui program terencana khususnya di bidang pencerahan, budaya dan pendidikan umat. Beliau memanfaatkan peluang yang tepat dengan mengenalkan kepada umat bahwa khilafah Bani Abbasiyah adalah pemerintahan ilegal guna memperingatkan umat Islam untuk tidak bekerjasama dengan pemerintahan zalim ini.

Imam Hadi juga memberi optimisme kepada masyarakat bahwa kezaliman akan terhapus. Sementara itu, interaksi antara Imam dan masyarakat adalah hubungan berdasarkan kasih sayang. Di sisi lain, masyarakat yang menyaksikan upaya tak kenal lelah Imam dalam memperjuangkan hak dan kebaikan umat, maka mereka pun dengan semangat tinggi mengikuti manusia suci ini dan memanfaatkan keberadaan beliau dengan sebaik-baiknya.

Imam Hadi senantiasa mencari orang-orang yang berpotensi dan menarik guna dididik dengan ilmu-ilmu Ahlul Bait Nabi. Meski akibat represi kuat penguasa terhadap Imam sehingga masyarakat tidak mendapat akses kepada beliau dan sulit menggali ilmu-ilmunya, namun kelompok didikan Imam merupakan orang-orang yang berhasil memanfaatkan lautan ilmu beliau dalam kondisi sulit tersebut. Jumlah murid Imam tercatat mencapai 185 orang, di mana setiap dari mereka tercatat sebagai pakar dari berbagai disiplin ilmu di zamannya.

Suatu hari di majelis Imam Hadi as pada sahabat beliau membicarakan keberadaan seorang pemuda yang pandai di mana dalam sebuah diskusi ilmiah dengan argumentasi kuat ia berhasil menundukkan orang-orang yang menolak Islam. Setelah mendengar berita tersebut, Imam ingin bertemu dengan pemuda pandai tersebut. Dalam suatu kesempatan ketika tokoh besar dan pembesar berkumpul dengan Imam Hadi, beliau mendengar kedatangan pemuda pandai ini. Ketika pemuda tersebut tiba, Imam menyambutnya dengan penuh penghormatan dan mendudukkannya di sisi beliau.

Para pembesar yang menyaksikan penghormatan besar yang diberikan Imam kepada pemuda tersebut tersinggung. Imam Hadi dalam menjawab ketidakpuasan mereka berkata, "Apakah kalian siap menjadi juri ketika al-Quran berada di tengah-tengah kita? Mereka pun diam membisu. Saat itu, Imam berkata, "Dalam al-Quran disebutkan bahwa Allah Swt meninggikan derajat orang-orang beriman dan mereka yang berilmu akan memiliki derajat yang lebih tinggi lagi. Ketahuilah argumentasi kuat pemuda ini dihadapan orang-orang kafir menunjukkan keutamaan dan kebijaksanaannya yang lebih unggul dari kemuliaan setiap suku."

Rahasia daya tarik Imam Hadi as adalah hubungannya yang mendalam dengan Allah dan sifat mulia yang dimiliki keturunan Nabi ini. Suara beliau saat membaca al-Quran sangat merdu, siapa saja yang mendengarkan lantunan ayat-ayat suci dari mulut Imam Hadi pasti sangat terpengaruh. Imam Hadi menyebut perbuatan terbaik adalah melayani masyarakat, oleh karena itu hubungan antara Imam dan umat tidak seperti hubungan para pemimpin zalim Bani Abbasiyah dengan rakyat. Hubungan Imam dengan umat didasari oleh kasih sayang. Umat sendiri ketika menyaksikan perbuatan Imam yang beliau kerjakan semata-mata demi kepentingan mereka, dengan sendirinya kecintaan mereka kepada Imam semakin tebal.

Suatu hari Mutawakkil mendapat laporan bahwa Imam Hadi as mendapat bantuan besar dari berbagai penjuru dunia dan di antara hadiah yang dikirim terdapat senjata. Mutawakkil yang mendengar laporan tersebut langsung mengutus Said Hajib untuk menyerbu dan menggeledah rumah Imam serta menginstruksikan untuk menyita apa saja yang ditemukan di dalam rumah baik itu senjata atau harta.

Said Hajib saat menceritakan misinya berkata, "Di saat warga terlelap tidur, aku bersama sejumlah pasukan menyerbu rumah Imam Hadi di Samarra. Ketika tiba di rumah Imam, dengan bantuan tangga kami melompati tembok rumah Imam dan tanpa meminta ijin langsung menyerbu ke dalam. Kemudian kamimulai memeriksa setiap jengkal rumah Imam, Imam Hadi sendiri meski mengetahui kedatangan serta ulah kami, namun beliau mengabaikannya dan sibuk beribadah kepada Allah. Dalam operasi penggerebekan tersebut kami menemukan dua kantong uang dinar yang salah satunya masih tersegel..."

Ia menambahkan, "...Aku membawa harta rampasan tersebut kepada Mutawakkil. Sang khalifah heran menyaksikan kedua kantong uang yang aku bawa. Mutawakkil kemudian mengambil salah satu kantong uang yang masih tersegel dan memperhatikannya dengan teliti. Mutawakkil kemudian menyadari bahwa kantong uang yang masih tersegel tersebut terukir segel ibunya. Ia berkata, ini segel ibuku. Artinya ibunya Mutawakkil juga membantu Imam Hadi as?

Kemudian Mutawakkil menghadap ibunya dan memintanya menceritakan apa sebenarnya yang terjadi sehingga ia memberi uang kepada Imam Hadi. Menjawab pertanyaan Mutawakkil, sang ibu berkata, "Benar ini adalah kantong uang dinar yang aku kirim kepada Ali bin Muhammad (Imam Hadi). Aku memiliki sebuah hajat dan bernazar kepada Allah. Jika hajatku tersebut dikabulkan maka aku akan memberikan uang kepada Abul Hasan Ali bin Muhammad sebesar sepuluh ribu dinar."

Hajib menambahkan, "Mutawakkil yang takjub pengaruh Imam Hadi pun sampai menembus orang-orang dekatnya memerintahkan diriku untuk mengembalikan kedua kantong uang tersebut ke rumah Imam. Aku pun kemudian membawanya ke rumah Imam dan mengembalikan kepada beliau. Tak lupa aku juga meminta maaf kepada Imam atas apa yang terjadi. Imam dalam menjawab permintaan maafku membacakan ayat 227 surat al-Syuara ...Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali."