کمالوندی

کمالوندی

Senin, 11 November 2013 16:36

110 Keutamaan Imam Ali: Manusia Terbaik

Manusia Terbaik

 

Nabi Muhammad Saw bersabda, "Ali Khair al-Basyari Faman Abaa Faqad Kafara... Ali merupakan manusia terbaik dan barang siapa yang mengingkari hakikat ini berarti ia telah kafir."[1]

 

Sahabat Orang Miskin

 

Suatu hari Imam Ali as sedang sibuk menggali sumur. Setelah berusaha keras, tiba-tiba air bersumber dari bawah dan beliau berkata, "Aku bersaksi kepada Allah bahwa sumber air ini kujadikan sedekah. Kemudian beliau mengeluarkan kertas dan menulis, "Hamba Allah, Amirul Mukminin menyedekahkan tanah dan sumur ini kepada orang-orang miskin Madinah agar dapat melindungi wajahnya kelak di Hari Kiamat dari api neraka."[2]

 

Beribadah

 

Ada yang bertanya kepada Ummu Said, hamba sahaya Imam Ali as, "Ali as di bulan Ramadhan lebih banyak beribadah atau di bulan-bulan yang lain?" Ummu Said menjawab, "Ali setiap malamnya sibuk dengan munajat kepada Allah dan tidak ada beda baginya apakah itu bulan Ramadhan atau tidak."

 

Begitu juga dalam penjelasan mengenai beliau disebutkan bahwa ketika beliau ditebas pedang dan dibawa dari masjid ke rumah, beliau melihat ke arah tempat terbitnya matahari dan berkata, "Wahai Subuh! Bersaksilah bahwa engkau melihat Ali dalam kondisi berbaring saat ini saja!"[3]

 

Di Pasar

 

Zadzan mengatakan, "Imam Ali as seorang diri melakukan kontrol di pasar. Beliau memberi petunjuk orang yang kehilangan jalan dan membantu orang yang kesulitan. Ketika melewati para pedagang, beliau membacakan ayat al-Quran,[4] "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa."[5]

 

Peran Imam as

 

Imam Baqir as berkata, "Ketika Rasulullah Saw wafat, masyarakat memilih khalifah selain Ali as. Waktu itu setan memakai mahkotanya dan mengumpulkan pasukannya dan berkata kepada mereka, "Bergembiralah. Karena selama Imam tidak bangkit, maka tidak ada yang menaati Allah secara hakiki."[6]

 

Ketidakmampuan Jahizh

 

Jahizh, seorang orator hebat menyatakan ketidakmampuannya dalam menghadapi ucapan Imam Ali as. Ia mengatakan, "Setelah al-Quran dan ucapan Nabi Muhammad Saw, setiap ucapan, khutbah dan makalah yang pernah saya baca dan dengat tidak dapat mengalahkanku. Tidak ada yang lebih baik dari kemampuanku atau yang sama dengannya, kecuali ucapan Amirul Mukmini Ali as. Karena setiap kali saya berusaha, tetap saja saya tidak mampu menyainginya."[7]

 

Pentingnya Ucapan Imam Ali as

 

Kharazmi dalam buku al-Manaqib mengutip dari Ahmad bin Abi Thahir, teman dekat Jahizh mengatakan, "Ketika Jahizh mengatakan kepada kita, ‘Di antara ucapan Imam Ali as ada 100 kalimat yang setiap satu darinya sama dengan seribu kalimat indah Arab." Setelah itu Ahmad mengatakan, "Sudah lama saya meminta kepada Jahizh untuk memberikan 100 kalimat Imam Ali as barang sebentar untuk kupelajari. Ia sebenarnya juga sudah berkali-kali berjanji untuk memberikannya, tapi tidak dilakukannya, bahkan ia terlihat pura-pura lupa, sehingga di akhir hidupnya ia mengeluarkan "100 Kalimat" itu dan memberikannya kepadaku."[8]

 

Sebutan Khusus

 

Nabi Muhammad Saw bersabda, "Ketika saya melakukan Mikraj di langit, Allah Swt menyampaikan segala sesuatu berupa wahyu kepadaku." Setelah itu Allah berfirman, "Wahai Muhammad! Sampaikan salam kepada Ali bin Abi Thalib, Amirul Mukminin. Sebelum ini Aku tidak pernah menyebut seseorang dengan nama Amirul Mukminin dan tidak setelah ini."[9]

 

Emas dan Perak Menurut Imam Ali as

 

Ketika ada seorang Arab Badui meminta sesuatu kepada Ali as, beliau memerintahkan agar memberinya seribu. Wakil beliau bertanya, "Dari emas atau perak, yakni seribu dinar dinar atau seribu dirham?" Beliau berkata, "Keduanya di mataku adalah batu. Berikan kepadanya mana yang lebih bermanfaat baginya."[10]

 

Pelayan Penuh Dedikasi

 

Selama di rumah, Imam Ali as bekerja mengumpulkan kayu bakar, menimba air dan menyapu rumah. Beliau menjahit sendiri sepatunya yang robek dan terkadang membantu mengangkatkan tempat air perempuan tua, bahkan dalam banyak kesempatan beliau mengangkat sendiri kantung makanan dan dibawakannya kepada anak-anak yatim.[11] (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Sumber: Hossein Deilami, Ghadir Khourshide Velayat, 1388, Qom, Moasseseh Entesharat Haram.

 



[1]
. Fadhail Amirul Mukminin, hal 42.

[2]. Jauharah, dar Nasab wa Sharh Ahval Ali as va Ale Ou, hal 99-100.

[3]. Ali Kist?, hal 235.

[4]. QS. al-Qashas: 83.

[5]. Sireh Alavi, hal 48.

[6]. Raudhah al-Kafi, jilid 2, hal 186, hadis 542.

[7]. Ba Nahjul Balaghah Ashena Shavim, hal 31.

[8]. Ibid, hal 43.

[9]. Imam Ali as dar Ahadis Ghodsi, hal 67.

[10]. al-Fushul al-‘Aliyyah, hal 100.

[11]. Ibid, hal 103.

Comments

Ali as Parameter Kebenaran dan Kebatilan

Imam Husein as berkata:

"Di masa Rasulullah Saw, mengetahui orang munafik dengan melihat permusuhan dan kebencian mereka kepada Ali as dan keturunannya." (Syeikh Shaduq, Uyun al-Akhbar ar-Ridha as, Beirut, Muassasah al-‘Alami, 1408 HQ, cet 3, jilid 2, hal 72, hadis 305)

Untuk mengenal kebaikan dan keburukan memerlukan paramater yang jelas, sehingga manusia dapat menilai dirinya sendiri. Atas dasar ini, Allah Swt menciptakan manusia-manusia sempurna dan maksum sebagai tolok ukur bagi manusia yang lain untuk mengenal keutamaan dan keburukan. Itulah mengapa Rasulullah Saw berkali-kali menyebut Imam Ali as sebagai parameter untuk mengenal kebenaran dan kebatilan. Dalam ucapan Imam Husein as ini juga disinggung mengenai parameter ini.

Imam Ali as merupakan sumber seluruh kebaikan dan keutamaan. Sementara orang-orang Mukmin senantiasa memiliki kecenderungan kepada kebaikan dan keutamaan. Di sini tanpa disadari hatinya memiliki kecintaan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Sebaliknya, orang-orang Munafik senantiasa memusuhi dan membenci Imam Ali as dan keluarganya.

 

Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

Akhlak Keluarga

 

Kata keluarga mengingatkan manusia akan pengertian tentang ketenangan, cinta, komitmen dan kerelaan. Karena inti keluarga dibangun atas pengertian-pengertian ini. Dalam ajaran agama Islam, kasih sayang kepada keluarga sedemikian bernilainya sehingga Rasulullah Saw bersabda, "Manusia paling baik imannya adalah yang paling baik dan lembut memperlakukan keluarganya dan saya adalah yang paling lembut dari kalian dalam memperlakukan keluargaku." (Syeikh Hur al-Amili, Wasail as-Syiah, Tehran, Entesharat Eslamiah, 1403 HQ, cet 1, jilid 8, hal 507)

 

Sebagaimana manusia bertanggung jawab atas perilakunya, ia juga bertanggung jawab atas akhlak dan perilaku keluarganya. Bila setiap individu masyarakat menghargai keluarganya dan berusaha membawa mereka meraih kesempurnaan, dengan sendirinya itu menjadi sarana bagi kebahagiaan dan kejayaan masyarakat. Allah Swt dalam al-Quran mewajibkan setiap orang untuk memperhatikan keluarganya dan membimbing mereka. Allah Swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..." (QS. at-Tahrim: 6)

 

Dengan dasar ini, semua anggota keluarga harus mempelajari ahklak untuk dapat berperilaku baik dengan yang lain, selain untuk menciptakan keluarga yang hangat dan baik. Sekaitan dengan hal ini, memperhatikan perilaku para Imam Maksum as, khususnya Imam Husein as dapat membantu manusia bagaimana hidup dengan keluarganya yang berujung pada pertumbuhan dan kesempurnaan manusia.

 

Memperhatikan Hak Istri

 

Suatu hari sejumlah sahabat Imam Husein as bertamu ke rumah beliau. Saat memasuki rumah beliau, mereka menyaksikan adanya permadani dan kain gorden baru kemudian berkata, "Di rumah Anda kami melihat sesuatu yang tidak ada di rumah Rasulullah Saw?"

 

Imam Husein as menjawab:

 

"Kebiasaan kami adalah memberikan mahar atau mas kawin istri kepada mereka setelah menikah. Dengan demikian mereka punya kemampuan finansial untuk membeli kebutuhan rumah dan barang-barang yang kalian lihat itu bukan milik kami." (At-Tamimi al-Maghribi, Da'aim al-Islam, Beirut, Dar al-Adhwa', 1411 HQ, cet 3, jilid 2, hal 159.)

 

Sebagian orang ketika menikah dengan istrinya telah menentukan jumlah tertentu sebagai mahar dan ketika terjadi perceraian, mereka tidak mau membayarnya. Mereka mencari pelbagai alasan untuk tidak membayarkannya, sehingga terkadang perempuan yang berusaha menyelamatkan dirinya dari kezaliman mereka merelakan haknya.

 

Ini merupakan pekerjaan buruk yang dilakukan oleh seorang suami dan banyak kasus yang terjadi terkait masalah ini. Akibat dari perilaku semacam ini adalah perempuan ketika diceraikan mereka selain tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadapnya, juga tidak memiliki kemampuan finansial. Hal ini menjadi sebab bagi banyak kerusakan sosial.

 

Oleh karenanya, memberikan mahar atau mas kawin, selain itu merupakan hak istri yang harus diberikan, juga menyebabkan masyarakat aman dari pelbagai kerusakan yang bakal timbul.

 

Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

Bakr atau Bukair bin Hamran al-Ahmari

 

Bakr atau Bukair bin Hamran al-Ahmari adalah pembunuh Muslim bin Aqil.

Ia merupakan pendukung Yazid bin Muawiyah sejak pengangkatannya sebagai khalifah. Pada tahun 60 HQ dalam proses kebangkitan Imam Husein as, Muslim bin Aqil, wakil Imam Husein as dikirim ke Kufah. Saat berada di kota ini dan ketika pasukan Yazid bin Muawiyah ingin menangkapnya, Bakr bin Hamran al-Ahmari bertemu dengan Muslim bin Aqil di sebuah gang dan akhirnya terjadi duel di antara keduanya. Bakr berhasil menebas wajah Muslim dan merobek bibirnya, tapi pada saat yang sama Muslim bin Aqil juga berhasil melukainya.

Setelah kejadian itu, Bakr meminta kepada Ubaidillah bin Ziyad agar mengeluarkan perintah kepadanya membunuh Muslim bin Aqil. Karena sebelumnya ia sempat kalah dalam berduel dan terluka, Bakr begitu mendendam dan ingin sekali membunuh Muslim bin Aqil dengan tangannya sendiri.

Muslim bin Aqil berhasil ditangkap. Sesuai dengan perintah Ubaidillah bin Ziyad, Muslim akan dilempar dari atap gedung Dar al-Imarah. Tapi Bakr membunuhnya dengan dua tebasan pedang dan memisahkan kepalanya dari badannya lalu melempar badannya dari atas istana.

Suatu hari ketika Ubaidillah bertanya kepadanya, "Ketika engkau hendak membunuh Muslim bin Aqil, apa yang dikatakannya?"

Bakr menjawab, "Ia mengucapkan tasbih dan istighfar serta shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Bait-nya. Setelah itu ia berdoa, ‘Ya Allah! Adili antara kami dan kaum yang berbohong dan menipu kami."

Sebuah penukilan dalam buku Raudhah as-Syuhada menyebutkan sebuah riwayat sahih menyebutkan, Bukair bin Hamran menggugursyahidkan Muslim, memenggal kepalanya dan membawanya kepada Ibnu Ziyad lalu melempar badannya dari atas istana ke bawah.

 

Sumber:

1. Tarjamah Irsyad, Rasouli Mahallati.

2. Tarjamah Luhuf, Fahri.

3. Mausu'ah al-Imam Husein as.

4. Nafas al-Mahmum.

Jami' bin Khalq al-Audi

 

Jami' bin Khalq al-Audi, seorang anggota pasukan Umar bin Saad di Karbala.

 

Setelah pasukan Umar bin Saad di hari Asyura 61 HQ menggugursyahidkan Imam Husein as, mereka mulai menjarah pakaian dan apa yang dimiliki jasad Imam Husein as. Jami' bin Khalq merampas pedang Imam Husein as. Tapi pedang ini bukan pedang Dzulfiqar. Karena pedang Dzulfiqar merupakan khazanah nubuwah dan imamah telah di serahkan kepada keluarganya.

 

Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa Aswad bin Hanzhalah at-Tamimi yang merampas pedang Imam Husein as, tapi sebagian lain menyebut Falafis an-Nahsyali.

 

Muhammad bin Zakariya meriwayatkan, "Ada yang melihat pedang Imam Husein as ada pada Habib bin Badil atau di tangan putri Habib bin Badil."

Hajjar bin Abjar

Hajjar bin Abjar merupakan tokoh masyarakat kota Kufah dan musuh Imam Husein as. Dalam peristiwa kebangkitan Imam Husein as, ia bersama sejumlah warga Kufah ikut menulis surat kepad Imam dan mengajak beliau ke Kufah. Hajjar mengalami masa Nabi Muhammad Saw dan waktu itu ayahnya seorang Kristen. Ibnu ad-Duraid dalam Akbar al-Mansyur membawakan sebuah hadis dimana Hajjar berkata kepada ayahnya yang Kristen, "Bukankah engkau menyaksikan bagaimana setiap orang yang memeluk agama ini dikemudian hari menjadi orang besar. Saya juga ingin memeluk agama ini." Ayahnya berkata, "Bersabarlah dan kita pergi menemui Umar bin al-Khatthab agar memberi kita kebanggaan itu. Engkau hanya boleh menerima sebagai pejabat tinggi. Setelah itu mereka menemui Umar bin Khatthab dan dihadapannya Hajjar mengucapkan dua kalimat syahadat. Umar bin Khatthab berkata kepada ayahnya, "Mengapa engkau tidak ikut mengucapkan syahadat?" Ayah Hajjar menjawab, "Biarkan saya demikian menjadi tamu hari ini dan besok." Ia meninggal sebelum syahadah Imam Ali as dalam kondisi beragama Kristen. (al-Ishabah)

 

Pada tahun 60 HQ setelah kematian Muawiyah, Khalifah Pertama Bani Umayah, anaknya Yazid diangkat menjadi khalifah. Guna mengokohkan pemerintahannya, ia memerintahkan kaki tangannya untuk mengambil baiat dari beberapa orang termasuk Husein bin Ali bin Abi Thalib as. Tapi dalam prosesnya, Husein bin Ali as tidak berbaiat kepadanya dan bahkan menentangnya. Penduduk Kufah mendapat kabar mengenai sikap Imam Husein as ini dan kesiapan beliau untuk melawan kezaliman Yazid. Untuk itu mereka mengirim surat kepada beliau dan mengajaknya ke Kufah. Mereka berjanji bila beliau ke Kufah, mereka dapat mengusir Bani Umayah dan segala bentuk dukungan akan diberikan kepadanya. Hajjar bin Abjar termasuk tokoh warga Kufah dan dalam peristiwa ini bersama Syabts bin Rab'i, Yazid bin Harits dan lain-lain menulis surat kepada Imam Husein as dan mengirimkannya ke Mekah. Teks surat mereka seperti berikut ini, "Amma Ba'du. Kebun telah menghijau, buah telah matang dan pepohonan berdaun rimbun. Bila engkau ingin datang kepada kami, pasukan besar telah siap untuk membantumu dan siang malam mereka menanti kedatanganmu. Wassalam.

 

Menurut penukilan sebagian sejarah, ketika para utusan yang membawa surat sampai kepada Imam Husein as, beliau berkata, "Katakan kepadaku, siapa saja yang menulis surat ini?" Mereka menjawab, "Syabats bin Rab'i, Hajjar bin Abjar, Yazid bin Harits dan lain-lain." Mendengar jawab mereka, Imam Husein as langsung berdiri dan melaksanakan shalat dua rakaat di antara Rukun dan Maqam Ibrahim as. Dalam shalatnya beliau meminta kebaikan dari Allah. Pada tahun 61 HQ di hari Asyura, ketika pasukan musuh, Umar bin Saad berhadap-hadapan dengan pasukan Imam Husein as. Waktu itu Imam Husein as mencoba mengingatkan mereka. Setelah mengucapkan pujian dan memperkenalkan dirinya kepada mereka yang hadir lalu mengucapkan, "Syabats bin Rab'i, Hajjar bin Abjar, Yazid bin Harits dan lain-lain, apakah bukan kalian yang menulis surat kepadaku yang isinya ‘Kebun telah menghijau, buah telah matang dan pepohonan berdaun rimbun. Bila engkau ingin datang kepada kami, pasukan besar telah siap untuk membantumu dan siang malam mereka menanti kedatanganmu." Hajjar bin Abjar dan sebagian orang Kufah berbohong dan mengatakan, "Tidak. Kami tidak memahami apa yang engkau katakan! Kami tidak menuliskan yang demikian." Imam Husein as berkata, "Subhanallah. Demi Allah kalian telah menuliskannya." Dengan demikian, Hajjar bin Abjar bergabung bersama pasukan musuh, menjadi seorang komandan pasukan Umar bin Saad melawan pasukan Imam Husein as. Namanya juga diperselisihkan ada yang menyebutnya Hajjar bin al-Hard, Hajjar bin Habrad, Hajjad bin al-Murr dan Hajjar bin al-Hurr. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Sumber:

1. Tarikh Imam Husein as mengutip dari Tarikh at-Thabari.

2. Ma'arif wa Ma'ariif.

3. Nafas al-Mahmum.

4. Sokhanan Husein bin Ali az Madinah ta Karbala.

 

Rasulullah Saw bersabda:

ثَمَانِيَّةٌ أَبْغَضُ خَلِيقَةِ اللّهِ يَوْمَ القِيَامَةِ: ألسَّقَارُوْنَ ـ وَ هُمْ الكَذَّابُوْنَ وَ الخَيَّالُوْنَ ـ وَ هُمْ المُسْتَكبِرُوْنَ ـ وَ الَّذِيْنَ يَكْنِزُوْنَ البَغْضَاءَ لِإِخْوَانِهِمْ فِي صُدُوْرِهِمْ فَإِذَا لَقُوْهُمْ تَخَلَّقُوْا لَهُمْ وَ الَّذِيْنَ إِذَا دُعُوْا إِلىَ اللّهِ وَ رَسُوْلِهِ كَانُوْا بِطَاءً وَ إِذَا دُعُوْا إِلَى الشَّيْطَانِ كَانُوْا سِرَاعًا وَ الَّذِيْنَ لَا يُشْرِفُ لَهُمْ طَمَعٌ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ اسْتَحَلُّوْهُ بِأَيْمَانِهِمْ وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ ذَلِكَ بِحَقِّ وَ المَشَّاؤُنَ بِالنَّمِيْمَةِ وَ المُفَرِّقُوْنَ بَيْنَ الأَحِبَّةِ وَ البَاغُوْنَ البَرَآءِ الدَّحَضَةَ أُوْلَئِكَ يَقْذَرُهُمْ الرَّحْمَنُ عَزَّ وَ جَلَّ

 

"Ada delapan kelompok yang paling buruk di hari kiamat di antara makhluk Allah: (1) Para pembohong, (2) orang-orang yang sombong, (3) mereka yang menyimpan permusuhan dalam hatinya terhadap saudaranya tapi ketika bertemu mereka menunjukkan muka ramah, (4) mereka yang ketika diseru menuju Allah Swt dan Rasul-Nya (Saw) berlambat-lambat namun bergegas ketika diseru menuju setan, (5) mereka yang ketika menginginkan ketamakan dunia dia akan bersumpah-sumpah (untuk mendapatkannya) meski bukan haknya, (6) para pengadu, (7) mereka yang memisahkan di antara teman-teman, (8) mereka yang mezalimi orang-orang papa, dan Allah Swt menilai mereka semua kotor."* (IRIB Indonesia/MZ)

 

*Nahjul Fasahah hal 272

 

Sumber: Zubdah Al-Ahadits, Ahmad Ebrahimi, tahun 1392 HS, Entesharat Bani Az-Zahra, Qom

Senin, 11 November 2013 16:24

Hadis-Hadis Pilihan: Ingatlah Akhirat!

قَالَ رَسُوْلُ اللَّه:

زُرِ القُبُورَ تَذْكُرْ بِهَا الآخِرَةَ، وَاغْسِلِ المَوْتَى فَإِنَّ مُعالَجَةَ جَسَدٍ خَاوٍ مَوْعِظَةٌ بَلِيْغَةٌ، وَصَلِّ عَلىَ الجَنَائِزِ لَعَلَّ ذلِكَ يَحْزُنُكَ، فَإِنَّ الحَزِيْنَ في ظِلِّ اللَّهِ يَوْمَ القِيامَةِ، يَتَعَرَّضُ لِكُلِّ خَيْرٍ.

 

Rasulullah Saw bersabda:

"Berziarahlah ke kuburan sehingga kau mengingat akhirat, mandikanlah mayit maka sesungguhnya membalik-balikan jasad yang tidak bergerak adalah nasehat yang sempurna, shalatilah jenazah-jenazah, karena kemungkinan kau akan bersedih maka sesungguhnya orang yang bersedih di hari kiamat akan berada di bawah naungan Allah (Swt) di hadapan semua kebaikan."* (IRIB Indonesia/MZ)

 

*Nahjul Fasahah hal 356

 

Sumber: Zubdah Al-Ahadits, Ahmad Ebrahimi, tahun 1392 HS, Entesharat Bani Az-Zahra, Qom.

Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu mengkonfirmasikan babak baru hubungan negaranya dengan Irak dan menekankan perluasan kerjasama bilateral di berbagai sektor.

Davutoglu Ahad (10/11) setibanya di Baghdad langsung menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Nouri al-Maliki dan sejawatnya dari Irak, Hoshyar Zebari. Usai pertemuan bilateral, Davutoglu hadir dalam konferensi pers bersama. Menlu Turki dalam konferensi ini mengatakan, petinggi Ankara telah menentukan peta jalan baru untuk memperluas hubungan dengan Irak.

Davutoglu menekankan, antara Turki dan Irak memiliki persahabatan bersejarah dan selamanya persahabatan ini tidak akan berakhir. Sementara itu, Zebari menandaskan, Irak dan Turki akan mengerahkan upayanya guna memperluas hubungan bilateral di segala sektor. Kedua negara menurut Zebari memiliki tekad kuat dalam memajukan hubungan bilateral.

Di sisi lain, Perdana Menteri Nouri al-Maliki dalam pertemuannya dengan Davutoglu mengatakan, Irak masih tetap menginginkan perluasan hubungan berdasarkan kepentingan bersama, saling menghormati dan menjauhi intervensi di urusan internal negara lain. Maliki menekankan bahwa pemerintah Irak menerapkan kebijakan politik tanpa kekerasan dan pasif. Ia pun menyambut transformasi yang muncul terkait hubungan Baghdad dan Ankara.

Lawatan Davutoglu ke Irak mengindikasikan bahwa Turki tengah menjajaki perluasan hubungan dengan pemerintah Baghdad setelah ketegangan yang ada antara keduanya selama satu setengah tahun. Sikap pemerintah Turki satu tahun lalu terhadap Irak mempengaruhi hubungan kedua negara.

Intervensi nyata Recep Tayyip Erdogan, perdana menteri Turki dalam urusan internal Irak serta kritiknya terhadap pemerintah Nouri al-Maliki, lawatan tanpa koordinasi menlu Turki ke wilayah Kurdistan Irak dan pembelian minyak dari kawasan ini termasuk sejumlah faktor yang memperuncing tensi kedua negara. Selain itu juga harus ditambahkan kebijakan ganda Turki dalam perang anti terorisme.

Pemerintah Turki tanpa mengindahkan undang-undang dasar Irak dan meminta ijin kepada pemerintah Baghdad, membeli minyak dari wilayah Kurdistan Irak. Pemerintah Ankara dan pejabat pemerintah daerah Kurdistan Irak baru-baru ini menandatangani kesepakatan baru di sektor minyak. Sikap Ankara terhadap Baghdad mengindikasikan perilaku Turki terhadap Irak sangat kontradiktif.

Sebelum penandatanganan kesepakatan baru minyak antara kawasan Kurdistan Irak dan pemerintah Ankara, Menteri Perminyakan dan Energi Turki, Tanir Yildiz mengklaim bahwa negaranya sangat memahami kekhawatiran pemerintah Irak atas pelaksanaan program energi kawasan utara negara ini dan Ankara tidak ingin terlibat dalam eksplorasi, produksi dan pemindahan minyak kawasan utara Irak ke Turki tanpa persetujuan pemerintah pusat Baghdad. Klaim ini sangat bertentangan dengan kinerja Turki di kawasan Kurdistan Irak.

Selain itu, kinerja kontradiktif Turki terkait perang anti terorisme juga menambah keretakan hubungan Baghdad-Ankara. Tariq al-Hashimi, mantan wakil presiden Irak yang melarikan diri dan berdasarkan bukti kuat terlibat dalam operasi teroris di Baghdad kini berada di Turki dan mendapat perlindungan pemerintah negara ini. Dalam melindungi Tariq al-Hashimi, pemerintah Turki tidak hanya cukup dengan ucapan saja dan ketika polisi internasional (interpol) ingin menangkap wakil presiden pelarian ini, Ankara malah memberi suaka politik kepadanya.

Perilaku tak diplomatik pemerintah Turki terhadap Irak termasuk bagian dari sikap mereka selama beberapa tahun terakhir mereka di kawasan. Kebijakan pemerintah Turki terhadap Irak serta negara lain di kawasan khususnya di Suriah tidak mampu merealisikan impian mereka untuk menghidupkan kembali imperium Ottoman dan pada akhirnya mereka pun terpaksa mengubah kebijakannya.

Lawatan menlu Turki ke Irak dapat dicermati dalam koridor ini. Lawatan Davutoglu ke Baghdad mengindikasikan bahwa Turki tengah mengejar strategi lain guna memulai babak baru hubungan bilateral kedua negara berdasarkan rasa saling menghormati dan hubungan bertetangga yang baik.

Kelompok oposisi Suriah dukungan asing telah menetapkan prasyarat untuk berpartisipasi dalam konferensi Jenewa 2.

Koalisi Nasional Suriah (SNC) merilis pernyataan hari Senin (11/11), menentukan persyaratan yang harus dipenuhi sebelum peurndingan Jenewa, yang bertujuan menemukan solusi politik untuk krisis di Suriah.

Pernyataan itu menyebutkan pihak oposisi akan menghadiri konferensi hanya jika pemerintah Suriah memungkinkan lembaga-lembaga bantuan mengakses tanpa hambatan ke wilayah-wilayah Suriah yang dikuasai militan.

Koalisi oposisi dukungan asing juga menuntut pembebasan semua tahanan politik.

SNC menegaskan klaim sebelumnya bahwa konferensi internasional tentang Suriah harus berujung pada transisi politik di negara itu.

Pernyataan Senin dirilis setelah SNC bersidang untuk memulai perundingan dua hari di kota Istanbul Turki.

Sementara itu, Rusia mengatakan bahwa mengingat tidak memiliki pengaruh nyata di lapangan, SNC tidak seharusnya mengklaim diri sebagai perwakilan dari seluruh kelompok oposisi di Suriah. Ttidak ada bukti yang menunjukkan bahwa SNC adalah perwakilan semua oposisi atau bakan seluruh rakyat Suriah."

Sebelumnya, pemerintah Suriah setuju untuk ikut ambil bagian pada pembicaraan, namun menolak prasyarat atau desakan tentang pengunduran diri Presiden Bashar Al-Assad.

Konferensi Jenewa 2 diusulkan oleh Rusia dan Amerika Serikat pada 7 Mei.