کمالوندی
Khadijah, Teladan Pengorbanan dan Kedermawanan Perempuan
Hari kesepuluh Ramadhan bertepatan dengan peringatan wafatnya seorang wanita terbaik yang berperan penting mendampingi Rasulullah Saw dalam perjuangannya menyampaikan risalah ilahi.
Kepergian beliau tepat di tahun yang sama dengan meninggalnya paman Rasulullah Saw, Abu Thalib yang terjadi tiga tahun sebelum Hijrah dari Mekah ke Madinah. Kehilangan dua orang yang sangat dicintai itu, membuat Rasulullah Saw tenggelam dalam duka yang sangat berat. Oleh karena itu, tahun itu dikenal dengan nama Aamul Huzn atau Tahun Kesedihan.
Sayidah Khadijah dipanggil dengan nama Thahirah yang berarti suci. Kepribadian sucinya dan kedermawanannya membuat beliau dihormati masyarakat umum dan para tokoh di zamannya, sehingga dipanggil Sayidah an-Niswan yang berarti junjungan para wanita.
Ahli hadis al-Qommi menulis, "Sayidah Khadijah as memiliki posisi yang tinggi di sisi Allah, sehingga sebelum kelahirannya ada pesan kepada Isa al-Masih dari sisi Allah bahwa beliau disebut "Mubarakah" dan bersama Sayidah Maryam di surga. Karena dalam Injil ketika menggambarkan ciri khas disebutkan, keturunannya berasal dari seorang wanita agung "Mubarakah".
Pada hari pertama setelah Muhammad diutus sebagai Rasulullah dan sedang turun dari goa Hira, Sayidah Khadijah langsung menyambutnya dan menjadi wanita pertama yang memenuhi seruan risalah Nabi Muhammad Saw dan memeluk agama Islam.
Ketika Rasulullah Saw menyampaikan Islam kepada istri tercinta beliau, Sayyidah Khadijah berkata: “Aku beriman, aku meyakini kenabianmu, aku menerima agama Islam dan aku berserah diri.” (Bihar al-Anwar jilid 18). Sejak awal, Sayyidah Khadijah mampu mengenali kebenaran, menerimanya dengan sepenuh hati serta menyuarakannya dengan lantang.
Ketika Rasulullah dituduh pendusta oleh kaum musyrik dan munafik serta menerima penghinaan dari mereka, Allah Swt meringankan kesedihan dan kekhawatiran utusan-Nya itu melalui Khadijah. Keimanan dan dukungan sang istri membuat Rasulullah Saw optimis dengan masa depan dakwahnya.
Doktor Bint al-Shati' berkata, "Apakah ada istri lain selain Khadijah dengan kapasitas seperti ini; menerima seruan suaminya ketika keluar dari Gua Hira' dengan iman yang kuat, lapang dada, kelembutan, dan kasih sayang, tanpa sedikit pun meragukan kejujurannya dan yakin Tuhan tidak akan meninggalkannya sendirian. Apakah ada wanita lain selain Khadijah yang mampu dengan penuh keikhlasan menutup mata dari kehidupan mewah, harta yang berlimpah, dan kemapaman, untuk mendampingi suaminya dalam kondisi kehidupan yang paling sulit dan membantunya dalam berbagai tantangan demi merealisasikan tujuan yang ia yakini kebenarannya. Tentu saja tidak! Hanya Sayidah Khadijah yang demikian."
Sayidah Khadijah as, adalah wanita bijaksana yang lahir di kota Mekkah, 68 tahun sebelum Hijrah. Dari sisi nasab, kehormatan, status sosial dan keluarga, beliau memiliki posisi yang istimewa di antara kaum perempuan Jazirah Arab dan Quraish.
Dari sisi kesempurnaan, kepribadian dan kebijaksanaan, Sayyidah Khadijah as adalah yang paling utama di antara semua wanita di masa itu. Sejak usia belia, beliau adalah salah satu wanita tersohor di Hijaz dan Arab. Karena beliau adalah wanita pedagang pertama dan merupakan salah satu saudagar terkemuka di Hijaz.
Di samping berdagang, beliau juga sangat meningkatkan kepribadian dan nilai-nilai kemanusiaan dalam dirinya. Sayyidah Khadijah as, tidak mengejar keuntungan membabi-buta. Oleh karena itu, dalam berdagang beliau berusaha menjauhkan diri dari keuntungan tidak benar yang marak di masa itu seperti riba dan lain sebagainya.
Hal ini menjadi faktor pemikat kepercayaan dari banyak kelompok dan lapisan masyarakat serta meningkatkan keberhasilan dan keuntungan yang diperoleh Sayyidah Khadijah as, melalui perdagangan yang halal. Dalam sejarah disebutkan, “Ribuan onta berada di tangan pembantu dan pekerja Khadijah yang melintasi berbagai negeri seperti Mesir, Sham dan Habasyah untuk berdagang dan mengangkut barang dagangan.”
Selain dikenal sebagai seorang pengusaha besar dan sukses, Sayidah Khadijah juga dikenal sebagai sosok spiritual, lembut, suci, dermawan, serta memiliki pemikiran tinggi dan pandangan jauh ke depan. Bahkan di era Jahiliyah, di mana kesucian tidak berarti sama sekali, Sayidah Khadijah juga dikenal dengan nama Thahirah, karena kesuciannya.
Berbagai keutamaan tersebut disandingkan dengan status keluarga dan kekayaannya yang melimpah, membuat banyak pembesar Mekkah yang melamar beliau. Namun, Sayidah Khadijah as adalah wanita dengan pandangan dan kesadaran yang tinggi, hanya mencari keutamaan akhlak dan spiritual. Oleh karena itu, beliau menolak semua lamaran tersebut.
Akan tetapi ketika beliau mengenal seorang sosok terkenal menjaga amanat dan berhati bersih seperti Muhammad, Sayidah Khadijah sendiri yang melangkah maju dan mengajukan permintaan pernikahan.
Dalam pertemuannya dengan Nabi Muhammad Saw, Sayidah Khadijah berkata, “Wahai Muhammad! Aku mendapati dirimu sebagai sosok mulia, penjaga amanat dan seorang manusia di puncak kemurnian, kejujuran, kesucian dan kebenaran, di mana kau menjaga dirimu tetap suci dan tidak ada sedikit pun noda di pangkuanmu. Kau berakhlak baik, terpercaya dan jujur, kau tidak takut untuk berkata jujur dan kau tidak melepaskan nilai-nilai kemanusiaanmu di hadapan apapun. Karakter dan kepribadian muliamu ini telah sedemikian mempesonaku sehingga sekarang aku ingin mengemukakan permintaan pernikahan dan juga perkenalan denganmu. Jika kau menyetujui permintaanku, aku siap untuk melaksanakan acara pernikahan kapan pun waktu yang tepat.”
Selama hidup bersama Nabi Muhammad Saw, Sayidah Khadijah telah memberikan pengorbanan besar kepada beliau dan Islam. Dukungan finansial, mental dan emosional kepada Rasulullah Saw, keyakinan dan pembenaran atas kenabian beliau di saat orang-orang mendustakannya, serta pertolongan beliau kepada Nabi Saw dalam menghadapi orang-orang musrik adalah bagian dari pengorbanan besar beliau kepada Rasulullah Saw dan Islam.
Ketika Nabi Muhammad Saw menjalankan tugas beliau sebagai utusan Allah Saw untuk memberikan hidayah kepada umat manusia, orang-orang musyrik mengganggu dan memusuhi beliau. Di saat-saat seperti itu, istri yang mengerti dan penuh kasih sayang seperti Khadijah adalah penenang hati terbaik yang meredakan kesusahan tersebut.
Ibnu Ishaq, seorang sejarawan terkenal menulis, "Nabi tidak mendengar perkataan kaum yang menolak dan mendustakan, di mana menyebabkan kesedihan dan mengganggu pemikirannya, kecuali Allah Swt telah menghilangkan kesedihan itu melalui Khadijah. Khadijah telah meringankan dampak berat dari ucapan-ucapan kasar yang dilontarkan kepada Rasulullah Saw dan membenarkan beliau. Beliau juga menganggap tidak bernilai terhadap perilaku dan kelancangan orang-orang kepada Rasulullah Saw.
Hari kesepuluh dari bulan Ramadhan adalah hari terakhir bagi seorang perempuan yang selama bertahun-tahun senantiasa mengiringi langkah utusan terakhir Allah Swtitu. Nabi Muhammad Saw di hari semacam ini harus merelakan istri tercintanya untuk kembali kepada Yang Maha Kuasa. Sebuah peristiwa yang menyayat jiwa beliau setelah beberapa waktu sebelumnya harus kehilangan pamannya Abu Thalib.
Wafatnya Sayidah Khadijah begitu mempengaruhi beliau, sehingga tahun itu disebut sebagai "tahun kesedihan" (Am al-Huzn). Ketika Sayidah Khadijah as wafat, Nabi Muhammad Saw menangis. Nabi mengusap air matanya yang bercucuran dengan kedua tangannya ketika memakamkan isteri tercintanya itu. Pada waktu itu beliau berkata, "Tidak ada yang dapat menyamai Khadijah. Ketika semua mendustakanku, ia membenarkanku. Ia menjadi penolongku dalam mendakwahkan agama Allah Swt dan dengan hartanya, ia membantuku."
Salam untukmu Sayidah Khadijah, ibu seluruh kebaikan !
Salam atasmu wahai perempuan dermawan yang mengajarkan derma dan kebaikan tanpa pamrih !
Salam untumu wahai wanita agung yang mengorbankan seluruh dijawa dan raganya untuk tegaknya agama Islam !
Memperingati Hari Nasional Teknologi Nuklir Iran
Tanggal 20 Farvardin 1385 HS yang bertepatan dengan 9 April 2006, Republik Islam Iran mengumumkan keberhasilannya menguasai teknologi pengayaan uranium untuk kepentingan damai. Keberhasilan itu didapat berkat kerja keras para ilmuan Iran.
Meski menghadapi keterbatasan sarana dan pra sarana akibat embargo negara-negara adi daya, mereka berhasil menyempurnakan proses pengayaan uranium dan membuat sendiri bahan bakar yang diperlukan instalasi-instalasi nuklir. Dengan demikian, Iran telah memastikan diri sebagai bagian dari negara-negara pemilik teknologi nuklir.
Tepat setahun kemudian, Iran mengumumkan berhasil memproduksi bahan bakar nuklir dalam skala industri. Keberhasilan ini dicapai di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional dan sesuai dengan aturan IAEA. Akan tetapi, negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat dengan standar gandanya menuntut Iran untuk menghentikan aktivitas nuklir ini. Di saat yang sama, negara-negara tersebut tidak pernah mempersoalkan rezim zionis Israel yang tidak tunduk kepada aturan IAEA dan menyimpan ratusan bom nuklir di gudang-gudang senjatanya.
Pada tanggal 20 Farvardin 1386, Iran menetapkan sebuah hari bersejarah baru dalam kalender nasional Republik Islam. Setiap tahunnya, hari itu diperingati sebagai simbol tekad bangsa Iran untuk kemajuan di bidang teknologi nuklir damai.
Pada hari itu, para ilmuwan nuklir Iran mencapai sebuah prestasi besar di bidang teknologi nuklir yang mencakup sentrifugal generasi terbaru. Alat ini kemudian dipasang di reaktor pengayaan uranium Natanz di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Dengan suksesnya pelaksanaan proyek ilmiah tersebut, teknologi nuklir Iran memasuki fase industrialisasi pengayaan uranium untuk kepentingan damai dan nama Iran secara resmi masuk dalam daftar negara-negara pemilik teknologi siklus nuklir.
Menyusul pematenan prestasi besar itu, Dewan Tinggi Revolusi Budaya Iran menetapkan momen bersejarah tersebut sebagai Hari Nasional Teknologi Nuklir Iran. Dalam langkah-langkah berikutnya kesuksesan itu, Iran mulai memasang sentrifugal generasi baru di situs nuklir Natanz dan Fordow. Penguasaan teknologi nuklir oleh Iran meskipun adanya konspirasi dan bahkan teror terhadap ilmuwan nuklir menjadi sebuah prestasi gemilang menuju kemajuan sains dengan tekad dan perjuangan.
Proposal Presiden Hassan Rohani di bidang perlucutan senjata nuklir di Majelis Umum PBB dan langkah-langkah yang diambil Iran selama proses perundingan dengan Barat, adalah bukti bahwa Republik Islam menyerukan penghancuran senjata nuklir, dan pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Usulan Rohani tentang perlucutan senjata nuklir pada September 2013 mendapat pengesahan dalam sidang Majelis Umum PBB.
Usulan itu mencakup pelaksanaan segera pembicaraan untuk menyusun sebuah konvensi internasional komprehensif guna mencegah perolehan, produksi, proliferasi, penyimpanan, dan penggunaan senjata nuklir, mempersiapkan kondisi untuk penghancuran penuh senjata pemusnah massal, dan menyelenggarakan sebuah konferensi internasional pada tahun 2018 untuk membahas perlucutan senjata serta menetapkan setiap tanggal 26 September sebagai hari internasional pemusnahan senjata nuklir.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei juga berkali-kali menegaskan bahwa produksi dan penggunaan senjata nuklir haram hukumnya menurut syariat. Dalam sebuah pesan untuk konferensi internasional perlucutan senjata yang digelar di Tehran pada April 2010, Ayatullah Khamenei menegaskan larangan produksi dan penggunaan senjata kimia dalam sistem Republik Islam Iran.
Ayatullah Khamenei mengatakan, "Republik Islam Iran menganggap penggunaan senjata nuklir dan kimia serta senjata sejenisnya adalah sebuah dosa besar yang tidak termaafkan. Kami telah mencetuskan ide 'Timur Tengah sebagai zona bebas senjata nuklir' dan kami berkomitmen dengan itu." Sikap ini sudah ditetapkan sebagai dokumen resmi Badan Energi Atom Iran.
Iran bergabung dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada tahun 1958 dan pada tahun 1968, negara ini menandatangani Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Berdasarkan pasal satu NPT, semua negara anggota dilarang memproduksi dan mengembangkan senjata nuklir serta menyimpannya.
Menurut pasal enam, NPT juga menuntut komitmen negara-negara nuklir untuk melanjutkan perundingan dengan itikad baik guna mencapai perlucutan senjata global. Namun negara-negara pemilik senjata nuklir bersikeras untuk mempertahankan arsenal nuklir mereka dan setiap tahunnya, mereka menghabiskan dana besar untuk produksi generasi baru senjata nuklir dan pemeliharaannya.
Meski demikian, Barat dengan mengadopsi standar ganda menekan Iran dengan berbagai sanksi yang disahkan melalui Dewan Keamanan PBB dan juga sanksi-sanksi sepihak. Sepanjang satu dekade lalu, rezim Zionis Israel melalui Komite Urusan Publik Israel-Amerika (AIPAC) juga berupaya untuk menghalangi pengakuan hak-hak nuklir Iran oleh dunia.
Iran dan kelompok 5+1 selama dua tahun berunding dan mencapai kesepakatan pada 15 Juni 2015 yang membuka jalan bagi tercapainya Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) di Wina. Berdasarkan Deklarasi Wina tersebut, tidak ada satu instalasi nuklir Iran yang dihentikan atau dibekukan aktivitasnya. Seluruh aktivitas instalasi nuklir Iran, termasuk Natanz dan Fordow tetap berlanjut.
Kerangka Aksi Bersama Komprehensif yang disepakati di Wina menjamin berlanjutnya program pengayaan uranium Iran di dalam negeri. Oleh karena itu, Republik Islam secara resmi diizinkan untuk memproduksi bahan bakar nuklir demi memenuhi kebutuhan reaktor nuklirnya.
Selain itu, instalasi nuklir Fordow akan menjadi pusat riset nuklir, dan seluruh infrastrukturnya tetap terjaga. Sebagian dari instalasi nuklir Fordow yang dikelola dengan menggandeng sejumlah negara anggota kelompok 5+1 akan menjadi pusat riset nuklir, yang memproduksi isotop permanen untuk memenuhi kebutuhan khusus di bidang industri, pertanian dan medis. Implementasi JCPOA dimulai pada pertengahan Januari 2016.
Bangsa Iran telah membuktikan kepada dunia bahwa sanksi dan tekanan tidak akan menghalangi mereka untuk mengukir prestasi besar di semua bidang. Bangsa ini telah membulatkan tekad untuk melawan ketidakadilan di dunia dan arogansi kubu Barat. Penetapan Hari Nasional Teknologi Nuklir juga prestasi lain bangsa Iran dalam melawan tekanan Barat. Semua prestasi ilmiah bangsa Iran membuktikan bahwa mereka tidak mengenal kata menyerah untuk menduduki puncak kemajuan sains dan teknologi.
Meskipun menghadapi konspirasi masif Barat, tapi teknologi nuklir di Iran telah menjadi salah satu kebanggaan ilmiah bangsa ini. Pada masa sekarang, Iran berhasil memproduksi berbagai jenis radio medicine di pusat-pusat riset medis dan nuklir berhasil memenuhi sekitar 90 hingga 95 persen dari kebutuhannya untuk para pasien berkebutuhan khusus.
Rudal Cruise Hoveyzeh; Serangan Darat Presisi Khusus
Bidang rudal Iran memiliki pertumbuhan khusus dan merupakan salah satu komponen penting untuk menciptakan keamanan yang berkelanjutan di negara itu. Di bidang rudal, industri pertahanan Iran telah mencapai produk buatan sendiri sepenuhnya dengan teknologi terbaru.
Di bidang produksi rudal besar, dua jenis rudal yaitu rudal balistik dan rudal jelajah, dibuat di industri pertahanan negara kita. Rudal jelajah adalah jenis peluru kendali; Bahkan, sebuah kendaraan udara tak berawak yang jalurnya dapat diubah dan dipandu hingga mencapai target. Presisi dan penghindaran radar adalah fitur penting dari rudal jelajah buatan Iran. Sebagian besar sistem jelajah menggunakan mesin jet, sedangkan rudal balistik menggunakan mesin roket.
Rudal jelajah digunakan dalam berbagai jenis operasi militer karena karakteristik khusus mereka. Biaya yang relatif rendah, kemampuan penerbangan dan pergerakan yang lebih lama, penghindaran radar, dan kesulitan dalam deteksi juga merupakan fitur dari rudal jelajah. Rudal-rudal ini bergerak menuju target dalam penerbangan berkecepatan tinggi di ketinggian rendah, membuat mereka seringkali sulit dideteksi.
Di bidang rudal jelajah, rudal jelajah menyerang target darat dengan cepat menjadi salah satu senjata utama, terutama di tentara utama dunia. Rudal Iran sering menggunakan beberapa panduan, kemungkinan besar, TERCOM dan DSMAC adalah keluarga yang sama yang membantu menavigasi dan menemukan rute yang tepat berdasarkan pencocokan gambar (udara dan satelit) dari rute dengan komputer di dalam rudal. Sistem navigasi umumnya digunakan di sebagian besar rudal jelajah darat di dunia.
Jenis panduan ini dibentuk berdasarkan peta medan, dan misil bergerak di sepanjang rute berdasarkan informasi yang dimasukkan ke komputer atau komputer penerbangan, dan dengan berbagai alat, mengoreksi jalur pergerakannya dan meningkatkan akurasinya.
Industri pertahanan Iran telah mampu memproduksi berbagai jenis rudal jelajah dengan menggunakan pengetahuan ahli dalam negeri dan ilmu pengetahuan modern. Selain rudal jelajah seperti Noor, Qadir, Qader, dan Nasr, jenis kapal jelajah lainnya yaitu rudal jelajah darat telah dibangun di industri pertahanan dengan jangkauan minimal 700 km.
Abu Mahdi, Hoveyzeh, Soomar, dan Ya Ali (as) adalah tiga rudal jelajah terkemuka di bidang ini. Rudal jelajah "Soomar", "Hoveyzeh" (dengan jangkauan 1350 km), dan "Meshkat" (dengan jangkauan 2000 km) termasuk di antara rudal jelajah darat Iran. Rudal jelajah Hoveyzeh harus dianggap sebagai pencapaian terbaru di bidang ini yang diresmikan pada 2 Februari 2019, pada malam peringatan 40 tahun kemenangan Revolusi Islam Iran di hadapan Brigadir Jenderal Hatami, Menteri Luar Negeri saat itu. Pertahanan, dan Brigadir Jenderal Ali Hajizadeh, Komandan Pasukan Dirgantara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), pada pameran "Pencapaian Pertahanan dan Konstruksi" yang disebut "Otoritas 40".
Kementerian Pertahanan menganggap produksi rudal jelajah Hoveyzeh sebagai langkah efektif dalam meningkatkan kemampuan angkatan bersenjata dan daya tangkal negara dan telah mengumumkan bahwa rudal ini adalah "lengan panjang" Republik Islam Iran di masa depan. bidang pertahanan rudal jelajah. Brigadir Jenderal Amir Hatami mengatakan pada upacara pembukaan bahwa rudal jelajah jarak jauh keluarga Soomar yang disebut "Hoveyzeh" adalah rudal untuk melengkapi rantai pertahanan Iran dan membuatnya sekuat mungkin.
Brigjen Amir Hatami dan Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh
Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, Komandan Pasukan Dirgantara IRGC, juga menyebutkan bahwa kami telah bekerja di bidang rudal jelajah selama beberapa tahun dan mengatakan bahwa kami memiliki kendala besar di bidang mesin jet dan propulsi, yang untungnya telah telah dihapus dalam beberapa tahun terakhir dan produk telah dibangun. Secara alami, kita akan melihat rudal jenis ini, baik pantai ke laut, udara je darat, atau darat ke darat cruise. Rudal jelajah, seperti rudal Hoveyzeh, beratnya kurang dari rudal balistik dan mudah diangkut. Selain itu, penggunaan misil ini untuk melawan musuh tidak mudah dicegat karena bergerak di dekat tanah.
Rudal Hoveyzeh adalah rudal jelajah jarak jauh yang dikembangkan oleh para ahli di Kementerian Pertahanan dan Industri Dirgantara Dukungan Angkatan Bersenjata. Rudal Hoveyzeh adalah rudal jelajah darat dengan kemampuan penghindaran radar dari keluarga rudal Soomar. Rudal ini mampu menghancurkan berbagai target karena kemampuan taktisnya yang tinggi. Rudal Hoveyzeh memiliki kemampuan "persiapan dan respons cepat, ketinggian penerbangan rendah, akurasi navigasi tinggi dan mengenai target dan daya destruktif tinggi" dan digunakan terhadap target darat tetap.
Rudal siluman diserahkan kepada IRGC Aerospace Force setelah uji coba yang berhasil pada jarak 1.200 km. Rudal itu memiliki jangkauan sekitar 1350 km, yang dapat dengan mudah menyerang target Iran di kawasan itu, termasuk pangkalan regional AS. Panjang rudal Hoveyzeh adalah sekitar 6 meter, dan beratnya lebih dari satu ton, yang dalam hal ini menyerupai rudal Hoveyzeh dengan rudal Soomar, namun, pertimbangan yang cermat dari jangkauan rudal ini menunjukkan bahwa karakteristik ini telah meningkat sebesar sekitar 600 km di rudal Hoveyzeh dibandingkan dengan rudal Soomar.
Peningkatan jangkauan ini hanya dapat dikaitkan dengan perolehan pengetahuan baru Iran di bidang konstruksi rudal jelajah, yang berarti menggabungkan pengetahuan spesialis pertahanan dengan perusahaan berbasis pengetahuan. Ini telah memungkinkan kekuatan dan inovasi untuk membantu industri pertahanan agar Iran tetap up to date di bidang ini serta bidang lainnya. Keakuratan mengenai sasaran rudal Hoveyzeh diperkirakan 1 meter.
Situs web Debka File rezim Zionis Israel, yang menganalisis masalah militer dan keamanan, menerbitkan berita peluncuran rudal Hoveyzeh dengan tajuk "Baik Israel maupun Amerika Serikat tidak dapat melawan rudal jelajah baru Iran", dan mengaitkan pembukaan dan pengujian Rudal ini dalam menjawab uji coba rudal "Arrow 3" buatan Amerika Serikat dan Israel, yang diresmikan pada 22 Januari 2019.
Produksi Berbasis Pengetahuan dan Penciptaan Lapangan Kerja
Masyarakat Ideal di Masa Imam Mahdi af
Manusia secara naluri mempunyai kecenderungan pada kesempurnaan seperti mencari keadilan, kebenaran dan kebaikan. Dengan adanya kecenderungan tersebut, manusia dalam sepanjang sejarah berusaha merealisasikan kebenaran, keadilan dan nilai-nilai akhlak.
Para nabi dan wali merupakan penggagas dan pendahulu misi-misi suci tersebut. Upaya dan perjuangan mereka semenjak awal berupaya memberikan petunjuk kepada manusia ke arah kebaikan dan keadilan hingga dunia ini terlepas dari kezaliman dan arogansi.
Meski para nabi berupaya menyebarkan kepercayaan kepada Allah Swt dan keadilan, namun sejarah membuktikan bahwa upaya itu tidak memberikan hasil yang sempurna dan komprehensif. Sebab, ada sejumlah pihak yang menjadi kendala bagi misi para nabi.
Karena itulah realiasi keadilan secara merata dan perlawanan terhadap segala kezaliman dan penindasan dihadapkan pada kendala serius dan jauh dari harapan setiap manusia. Untuk itu, penantian pada kemunculan juru penyelamat yang akan merealisasikan tujuan-tujuan agung tersebut, merupakan sisi persamaan yang dimiliki oleh semua agama.
Islam yang merupakan agama terakhir dan paling sempurna, menjelaskan struktur masyarakat ideal bagi seluruh umat manusia. Menurut pandangan Islam, seorang keturunan dari Rasulullah Saw akan muncul di muka bumi pada akhir zaman. Sosok inilah yang akan memerangi kebatilan dan ketidakadilan di dunia serta merealisasikan masyarakat ideal.
Pemerintah global Islam yang dipimpin oleh Imam Mahdi af mempunyai kriteria-kriteria khusus yang tidak dimiliki sistem lainnya. Pemerintah Imam Mahdi as akan muncul berdasarkan ajaran-ajaran wahyu dan norma ilahi. Adapun nilai-nilai materi yang dibangun berdasarkan individualisme dan materialisme disingkirkan dari pemerintahan Imam Mahdi as.
Aliran-aliran materialis berkeyakinan bahwa peradaban dan pemerintah tidak memperdulikan nilai-nilai spiritual dan agama. Sebaliknya, Islam dengan ajaran-ajarannya yang jelas, memaparkan berbagai tauladan di tengah masyarakat. Menurut pandangan agama suci ini, undang-undang, keadilan, kemuliaan, interaksi sosial dan ekonomi berlandaskan pada ketauhidan dan tercerminkan dalam keindahan. Dalam sistem manajemen Islam, perluasan keadilan dan perlawanan terhadap diskriminasi menjadi prioritas utama agama ini.
Allah Swt dalam surat an-Nahl ayat 90 berfirman, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."
Ayat tersebut menggambarkan pondasi-pondasi penting sosial seperti keadilan dan kemuliaan dengan arti sebenarnya yang akan terealisasi dalam pemerintahan Imam Mahdi af. Dalam pemerintahan Imam Mahdi as digambarkan bahwa persahabatan, saling tolong-menolong dan kemuliaan sangat kokoh, bahkan setiap individu di tengah masyarakat berperilaku bak sebuah keluarga.
Akan tetapi sangat disayangkan, masyarakat saat ini dihadapkan pada hubungan sosial tidak sehat dan destruktif yang bertumpu pada kekhawatiran dan ketidakpercayaan antarmanusia. Kefasadan sosial hingga ketidakamanan di dalam keluarga menunjukkan bahwa peradaban dunia saat ini telah gagal membangun spirit manusia dalam merealisasikan ketenangan diri.
Realita tersebut menggambarkan bahwa hubungan sosial manusia tidak dapat terwujud tanpa landasan spritual. Sederet problema di dunia semakin mencerminkan pentingnya kehadiran sosok juru selamat yang menyelamatkan dunia dari berbagai tekanan.
Imam Shadiq as berkata, "Di akhir zaman, kemuliaan-kemuliaan akhlak dan nilai kemanusiaan akan menjadi landasan pemerintah global Islam." Imam Bagir as berkata, "Saat Imam Mahdi af muncul, hanya persahabatan, persatuan dan kerja sama yang mengemuka." Dalam pemerintahan Imam Mahdi as, kekhawatiran dan ketidakpercayaan antarmanusia akan pudar, sedangkan kepercayaan dan keamanan semakin kokoh.
Lebih dari itu, radikalisme dan kebejatan moral terus berkurang, dan hukum pun berlaku. Orang-orang kaya juga tidak menzalimi kelompok lemah. Di pemerintahan Imam Mahdi as juga digambarkan bahwa setiap orang saling menghormati serta saling memberi nasehat dan jalan keluar. Disebutkan pula, harta, nyawa dan harga diri berada dalam kondisi aman. Semua manusia juga merasa tenang dan nyaman. Itulah gambaran ideal pemerintah Imam Mahdi as.
Di antara kriteria lain pemerintah Imam Mahdi af adalah memperhatikan kedewasaan akal dan perluasan ilmu. Dalam ajaran Islam, akal dan pemikiran mempunyai tempat yang luar biasa. Pada prinsipnya, agama tidak dapat dipahami dengan baik tanpa peran akal. Dengan ungkapan lain, manusia melalui daya pikirnya, mengenal esensi agama.
Akal merupakan petunjuk manusia ke arah perbuatan baik dan memperingatkan hal-hal yang berbahaya. Untuk itu, al-Quran sangat menganjurkan setiap manusia supaya berpikir dan merenung. Dalam pemerintah Imam Mahdi as, akal berada di samping penyembahan kepada Allah Swt, akhlak dan takwa. Akal yang sehat merupakan petunjuk kebaikan dan norma-norma.
Hal yang tak dapat dipungkiri, sains dan teknologi yang merupakan hasil inovasi akal manusia tidak akan dihadapkan pada bencana bagi manusia bila dibarengi dengan akal yang sehat. Dalam pemerintahan Imam Mahdi as, kepintaran manusia yang berada dalam hidayah ilahi, dapat mencapai pada kesempurnaan.
Dalam kalimat mutiara Imam Shadiq as disebutkan, ilmu mempunyai 27 pintu. Sebelum kemunculan Imam Mahdi as, manusia dapat membuka dua ilmu. Saat Imam Mahdi as muncul, 25 pintu lainnya akan terbuka.
Salah satu fenomena yang akan mengemuka saat Imam Mahdi af muncul adalah perkembangan ilmu berkali-lipat yang dibarengi dengan kesempurnaan spiritual, sehingga teknologi dan kemajuan tidak berada di tangan orang-orang yang tidak berhak. Kedewasaan akal yang dibarengi dengan pendidikan akhlak, akan membentuk masyarakat yang ideal.
Berbagai hadis dan riwayat menyebutkan bahwa masyarakat ideal di masa Imam Mahdi af menjadi sarana kedewasaan dan kesejahteraan materi. Tak diragukan lagi, ketika hubungan antarmanusia berlandaskan pada keadilan dan kemuliaan, berbagai kenikmatan dan anugerah ilahi akan melimpah di tengah masyarakat dan berbagai problema sosial dan ekonomi akan pudar. Dalam kondisi seperti ini, sumber daya alam begitu melimpah, dan manusiapun mampu mengoptimalkannya dengan baik.
Rasulullah Saw bersabda, "Di masa ummatku, akan bangkit Imam Mahdi af. Saat itu, masyarakat akan mendapatkan kenikmatan yang tidak pernah didapatkan pada masa sebelumnya. Alampun tidak menyembunyikan kekayaannya." Sesuatu yang akan terjadi di masyarakat Imam Mahdi af merupakan janji Allah Swt yang disebutkan berulangkali dalam al-Quran.
Dalam al-Quran dijanjikan bahwa setiap manusia yang beriman baik laki maupun perempuan, ketika melakukan amal saleh, maka Allah Swt akan mempersembahkan kehidupan bahagia dan layak. Dalam pemerintah Imam Mahdi as, kita akan menyaksikan kehidupan yang sehat. Ketidakamanan dan ketidaktenangan di dunia ini berubah menjadi kehidupan yang nyaman dan tenang. Membayangkan masa kemunculan Imam Mahdi dan pemerintahannya saja dapat menenteramkan hati manusia.
Belajar Menjadi Hamba Tuhan Sejati dari Imam Sajjad as
Hari masih gelap dan matahari belum menunjukkan sinarnya pada 5 Sya'ban tahun itu, bulan yang penuh kebaikan dan diberkahi, namun para malaikat langit sudah turun dan menyelimuti kota Madinah dengan sayap-sayapnya.
Shaharbanu mendekap seorang anak dalam pelukannya. Seorang anak yang lahir dari keturunan suci Rasulullah Saw yang kelak akan menjadi pewaris risalah agung yaitu Imamah dan Wilayah.
Tak syak ia adalah putra Hussein bin Ali bin Abi Thalib, dan hari ini menjadi hari penuh berkah, karena Hujatullah, Imam Ali bin Hussein bin Abi Thalib terlahir ke dunia.
Sebutan Imam Sajjad, karena tekun beribadah dan bersujud kepada Allah Swt. Selain dekat dengan Tuhan, Imam Sajjad juga dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, penyantun terutama kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang tertindas.
Manusia mulia ini juga dikenal dengan doa-doanya yang memiliki ketinggian bahasa yang menjulang dan kedalaman makna yang menghunjam. Beliau menjalani malam dengan doa dan ibadah kepada sang maha Pencipta. Tentang ini, Imam Baqir as, putra Imam Sajjad berkata, "Ketika semua orang di rumah tertidur di awal malam, ayahku, Imam Sajjad bangun mengambil wudhu dan shalat dua rakaat. Kemudian beliau mengambil bahan makanan dalam karung dan memanggulnya sendirian menuju daerah orang-orang miskin dan membagikan makanan kepada mereka. Tidak ada seorangpun yang mengenalnya. Setiap malam orang-orang miskin menunggu beliau di depan rumah mereka untuk menerima jatah makanannya. Tapak hitam dipunggung ayahku merupakan bukti bahwa beliau memanggul sendiri makanan yang dibagikan kepada orang miskin."
Imam Sajjad dengan tanpa pamrih dan hanya mengharap keridhaan Allah dalam berbuat baik terhadap orang lain. Ketika bersama rombongan bergerak menuju Mekah untuk menjalankan ibadah haji, beliau meminta supaya pengurus rombongan tidak memperkenalkan identitas dirinya kepada yang lain. Dengan cara ini rombongan lain tidak mengenalinya, dan beliau bisa leluasa melayani keperluan mereka yang hendak berangkat untuk menunaikan ibadah haji.
Dalam sebuah perjalanan seseorang mengenalinya dan berkata, "Apakah kalian tahu siapa pemuda ini " Ia tidak lain adalah Ali bin Husein. Rombongan itu berlari mendekati Imam Sajjad dan memberi hormat serta memohon maaf karena tidak mengenalinya. Imam berkata, "Suatu hari saya berangkat bersama rombongan haji dan anggota rombongan mengenalnya dan menghormatiku, sebagaimana mereka menghormati Rasulullah. Akhirnya merekalah yang melayani keperluanku bukan sebaliknya. Padahal saya ingin melayani keperluan mereka. Inilah alasan saya tidak ingin dikenali oleh mereka."
Imam Sajjad dalam berbagai riwayat lain menjelaskan bahwa orang yang membantu orang lain akan mendapat ganjaran pahala akhirat, ampunan dosa, kedudukan yang tinggi di surga serta pahala lainnya. Beliau berkata, "Tuhanku, semoga shalawat tercurah atas Muhammad dan keluarganya.., anugerahilah tanganku ini agar bisa berbuat baik kepada orang lain, dan jangan rusakkan kebaikan itu dengan riya dalam diriku."
Imam Sajjad bahkan dalam doanyapun memberikan contoh bagaimana mengabdi dan melayani kebutuhan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Imam Zainal Abidin kepada putranya berkata, "Barang siapa yang meminta tolong padamu untuk melakukan suatu pekerjaan baik, maka lakukanlah. Jika kamu ahlinya maka lakukan dengan sebaik-baiknya, Jika bukan engkau telah berbuat baik."
Imam Ali Zainal Abidin sangat menekankan pentingnya pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian terhadap masyarakat bukan diukur dari seberapa besar pekerjaan itu, tapi kualitas layanan dan ketulusan niatlah yang menjadi ukuran dari bernilai atau tidaknya pekerjaan itu. Selain itu, pengabdian juga menumbuhkan sebuah ketenangan spiritual bagi seseorang yang bisa berbuat kebaikan bagi orang lain. Terkait hal ini Imam Sajjad berkata, "Sikap bersahabat dan bersaudara seorang mukmin kepada saudara mukmin lainnya adalah ibadah." Di bagian lain, Imam Sajjad mengingatkan nilai spiritual berbuat baik kepada orang lain dengan mengatakan, "Allah akan menggembirakan orang yang telah menggembirakan saudaramu."
Dalam seluruh penjelasan bernilainya, Imam Sajjad sangat menekankan perhatian kepada Allah Swt. Di salah satu doa pertama Sahifah Sajjadiyah, Imam Sajjad bermunajat, segala puji bagi Allah Swt, Dialah awal yang tanpa permulaan dan akhir yang tak berujung.
Dia yang tidak bisa dijangkau oleh pandangan dan pemikiran gagal menjelaskan. Ia menciptakan makhluk dengan kekuasaan-Nya dan atas kehendak-Nya Ia memberikan wujud kepada mereka.
Lalu Ia menuntun mereka ke jalan yang dikehendaki-Nya dan mengarahkan mereka ke jalan cinta-Nya. Segala puji bagi Allah Swt, Dia yang mengenalkan sendiri diri-Nya kepada kita dan mengajarkan cara memuji-Nya kepada kita, dan membuka pintu-pintu ilmu ketuhanan-Nya kepada kita, dan membimbing kita kepada keikhlasan dalam tauhid-Nya dan mencegah kita dari keraguan dan ketidakpercayaan.
Imam Sajjad as pejuang besar di jalan Allah Swt sekaligus hiasan para hamba Tuhan. Sujud panjang Imam Sajjad as memiliki daya tarik besar bagi setiap manusia dan membawa mereka kepada Tuhan dan mendorongnya kepada penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as melewati hari-harinya dengan berpuasa dan memakan roti yang keras ketika berbuka. Doa dan zikir-zikir yang ia panjatkan mengandung banyak pelajaran dan nilai-nilai akhlak, dan nilai-nilai ini ia ajarkan kepada masyarakat di sepanjang hidupnya.
Mengenai ketakwaannya, Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Ali bin Husein tidak pernah makan satu suap pun dari barang haram selama hidupnya dan tidak pernah melangkah satu langkah pun ke arah perkara haram, tidak pernah berkata selain kebenaran walaupun satu kata dan tidak pernah melakukan sebuah pekerjaan untuk selain Allah Swt.”
Imam Sajjad memanfaatkan media doa untuk menjelaskan sebagian dari akidahnya dan kembali membangunkan masyarakat agar mereka perhatian pada masalah makrifat, ibadah, dan penghambaan. Dalam situasi seperti ini, Imam Sajjad fokus pada masalah ibadah dan salah satu pengaruh sosial terpenting adalah terciptanya hubungan masyarakat dengan Allah Swt lewat doa.
Hubungan kontinyu dengan Tuhan dan munajat kepada-Nya akan membuka ruang untuk pertumbuhan dan perkembangan manusia. Jelas bahwa dimensi spiritual ini muncul dari kebutuhan fitrah manusia kepada Allah Swt. Kegiatan ibadah ini akan mempengaruhi kehidupan manusia dan membawa manfaat bagi mereka. Orang-orang yang sujud dan ruku' di hadapan keagungan Tuhan, mereka akan memperoleh kemuliaan jiwa dan terhormat.
Imam Khomeini terkait ibadah Imam Sajjad as berkata, apakah kalian berpikir bahwa tangisan para Imam Maksum dan tangisan Imam Sajjad as adalah untuk pendidikan dan mereka ingin mengajar orang lain? Mereka menangis karena takut akan Tuhan dengan segala spritualitas dan kebesaran mereka; Dan mereka tahu betapa sulit dan berbahayanya jalan ke depan. Mereka tahu tentang kesulitan dan ketidakrataan melintasi jalan, satu sisi adalah dunia dan sisi lain adalah akhirat dan melewati neraka; Mereka sadar akan alam barzakh, api penyucian, kebangkitan, dan konsekuensinya yang mengerikan; Oleh karena itu, mereka tidak pernah istirahat dan selalu mencari perlindungan kepada Allah dari azab keras di akhirat.
Mengenal Drone Mohajer-4 Iran
Republik Islam Iran saat ini termasuk sejumlah negara terbatas dunia yang memiliki kemajuan di bidang desian, pengembangan dan pembuatan berbagai drone.
Drone dari keluarga Mohajer termasuk contoh paling nyata dari pesawat tanpa awak buatan Iran yang telah memberi pelayanan sejak perang delapan tahun Iran-Irak sampai saat ini.
Prestasi drone Mohajer tercatat sebagai awal dari keberhasilan industri drone Iran dan saat ini sejumlah besar armada drone angkatan bersenajta Iran adalah produksi dari generasi baru Mohajer. Drone ini diproduksi dan memberi pelayanan kepada negara dalam berbagai peran mulai dari indetifikasi hingga ofensif udara, serta misi pemetaan.
Mohajer-4, "Immigrant" dalam bahasa Persia, adalah UAV taktis yang diproduksi oleh Quds Aviation Industries yang bekerja dengan Angkatan Laut Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGCN) untuk misi pengintaian taktis, termasuk pengawasan maritim di Teluk Persia. Kecepatan maksimum Mohajer-4 adalah 180-200 mil per jam dengan ketinggian penerbangan 15.000 kaki.
Program UAV Iran diluncurkan setelah perang 1980-1988 dengan Irak. Iran juga telah berinvestasi dalam beberapa kategori serangan dan UAV multi-peran. Selama bertahun-tahun, pejabat Iran melaporkan penyebaran drone target dan UAV seperti Mohajer-3 dan Mohajer-4.
Model awal Mohajer dilaporkan digunakan selama akhir 1990-an dalam misi pengintaian ke Afghanistan selama perang saudara dan juga diuji selama 1990-an sebagai platform senjata udara menggunakan seri RPG-7 dari peluncur granat berpeluncur roket.
Mohajer-4 menjalani uji terbang pada 16 Februari 2002. Mohajer diluncurkan dari rel dibantu oleh pendorong roket dan ditemukan dengan parasut atau selip pendaratan. Ukuran inventaris Mohajer-4 IRGC tidak diketahui, tetapi menurut poster promosi, 19 UAV dibangun pada 2005, dan 15 diselesaikan pada 2006. Varian Mohajer juga telah diekspor ke Venezuela.
Drone Mohajer-4 digunakan pada awal 2000-an. Dari Mohajer-4, juga disebut Mersad, telah dibuat model dengan aplikasi dan peralatan yang berbeda, seperti Shahin dan Sadegh. Mohajer-4 adalah salah satu drone Iran terbaik dengan berbagai aplikasi karena kemampuannya yang tinggi untuk membawa peralatan.
UAV Iran memiliki kecepatan patroli maksimum 180 km/jam, memiliki durasi penerbangan 5 hingga 7 jam, dan dapat menjalankan misinya dalam kondisi cuaca terbaik.
Drone ini dapat diluncurkan dari peluncur dengan gas terkompresi untuk memulai misi.
Panjang drone ini adalah 3,64 meter, dan lebar sayap 5,30 meter, yaitu sekitar 70 sentimeter lebih tinggi dan 1,5 meter lebih panjang dari Mohajer-2.
Bodi drone ini terbuat dari material komposit yang bobotnya lebih ringan. Roda pendarat tidak memiliki roda dan merupakan sesuatu antara selip dan roda pendarat biasa, yang bobotnya lebih ringan sementara memiliki beberapa keunggulan model roda. Mohajer-4 dirancang dan dibangun untuk operasi pengawasan udara dan identifikasi target pada jarak 150 km.
Dalam drone ini, dengan menggunakan desain konvensional, ekor ganda (Twin Boom) dicirikan oleh dua boom memanjang (tubuh seperti nacelle diperpanjang).
Desain sayap dan bodi diubah lagi, yang menyebabkan peningkatan efisiensi operasionalnya.
Bodi Mohajer-4 lebih berbentuk kubus, tidak seperti model sebelumnya yang berbentuk lingkaran.
Mohajer-4 juga menggunakan perangkat ujung sayap, yang mengurangi induced drag, mengurangi konsumsi bahan bakar dan meningkatkan jangkauan penerbangan. Bentuk sayap Mohajer juga telah ditingkatkan secara signifikan, sementara area sayap juga telah ditingkatkan.
Dengan demikian, berat maksimum Mohajer-4 adalah 175 kg, sedangkan Mohajer-2 memiliki berat 85 kg. Karena jangkauan terbang pesawat ini, yang sepenuhnya tidak terlihat oleh operator, dimungkinkan untuk mengarahkannya dari stasiun kontrol darat dengan dua cara, semi-otomatis atau otomatis penuh.
Drone dapat merekam video dan foto udara, mengirim gambar video langsung (dan kemampuan untuk merekam gambar di stasiun kontrol darat), kemampuan untuk merencanakan pengembalian dan pelaksanaan misi sebagai komputer dan autopilot, dan terus-menerus mengirim informasi penerbangan.
Mohajer-4 dapat digunakan dalam operasi pengawasan udara dan pengintaian dalam bentuk foto udara dan perekaman video dari kedalaman posisi musuh, peperangan elektronik, relay komunikasi, pengawasan, penargetan dan orientasi unit artileri, kontrol lalu lintas, kontrol jalur perbatasan hingga memerangi penyelundupan, studi meteorologi, fotografi untuk menyiapkan peta geografis atau misi lain yang diperlukan.
Mohajer-4 memiliki kamera depan tetap (FLTV) untuk navigasi dan kamera menghadap ke bawah (DLTV) untuk survei udara atau kamera video yang dipasang di gimbal untuk pengawasan.
Seperti Mohajer-2, ia memiliki prosesor digital onboard dan dapat menurunkan citra sensor. Mohajer-4 juga dilaporkan mampu dipasang untuk relay komunikasi dan memiliki kemampuan peperangan elektronik yang 'mengesankan'.
Inilah Ksatria Padang Karbala, Abul Fadhl Abbas
Tanggal 4 Sya’ban adalah hari kelahiran Abul Fadhl Abbas, putra Ali bin Abi Talib. Abul Fadhl memiliki raut muka yang tampan dan didukung pula dengan akhlaknya yang mulia.
Baik luar maupun dalam, Abul Fadhl adalah sosok penuh daya tarik dan menonjol. Sisi luarnya merupakan cermin dari batinnya. Wajahnya yang gemilang bak bulan yang bersinar terang. Di antara keturunan Bani Hasyim, Abul Fadhl seperti bulan yang terang, sehingga dijuluki Qomar Bani Hasyim.
Hari ke empat bulan Sya'ban tahun 26 Hijriah, kota Madinah seakan-akan mendapat pancaran cahaya ilahi dengan kelahiran Abbas putra Ali bin Abi Talib as. Bayi yang baru lahir ini dikemudian hari akan tercatat dalam sejarah berkat keberanian dan pengorbanannya yang tinggi bagi kejayaan Islam serta nilai-nilai kemanusiaan. Bukan hanya umat Islam yang bangga dengan Abbas bin Ali bin Abi Talib, orang-orang kafir pun merasa bangga terhadap putra Ali yang satu ini.
Ketika berita kelahiran Abbas disampaikan kepada Ali bin Abi Talib, beliau bergegas pulang ke rumah dan dengan hangat memeluk sang bayi. Wajah bayi yang baru melihat dunia ini mendapat hujanan ciuman dari sang ayah. Dengan khidmat Imam Ali mengumandangkan azan di telinga kanan anaknya dan iqomah di telinga kirinya. Kemudian Imam Ali memberikan infak kepada mereka yang membutuhkan demi keberkahan anaknya.
Sang ayah menyaksikan cahaya ilahi dalam wajah anaknya khususnya sifat ksatria dan gagah berani dengan jelas terpancar dari tubuh bayi tersebut. Oleh karena itulah Imam Ali memberikan nama bayi ini Abbas yang artinya singa. Di kemudian hari bayi ini cemerlang hidupnya dan tidak pernah menyerah pada kezaliman khususnya di saat kezaliman memenuhi kehidupan manusia. Imam Ali dengan teliti mendidik dan membesarkan Abbas dengan membekalinya keimanan dan nilai-nilai kemanusiaan. Imam Ali memperlakukan Abbas serupa dengan anak-anaknya yang lain dan beliau tidak pilih kasih dalam mendidik anaknya.
Abul Fadhl selama 14 tahun berada di bawah didikan langsung ayahnya, Ali bin Abi Talib as, bahkan disebutkan pula remaja keturunan manusia suci ini kerap turut andil di peperangan selama ayahnya menjadi khalifah umat Islam. Bahkan para sejarawan berlomba menceritakan kepahlawanan serta keberanian remaja ini di perang Siffin. Ketika pasukan Muawiyah memblokade sumber air dan pasukan Imam Ali mulai kekurangan suplai air minum, Imam Ali memerintahkan pasukannya untuk mendobrak penjagaan musuh terhadap sumber air. Di antara pasukan tersebut terlihat Abbas kecil bersama saudaranya Imam Husein yang berlomba menghalau pasukan musuh dan merebut sumber air.
Abul Fadhl tidak hanya terkenal karena keberaniannya di medan perang. Pemuda Ahlul Bait ini juga dikenal memiliki ideologi khusus di proses politik yang tengah berlangsung di tengah masyarakat sehingga beliau dengan jelas memahami antara kekafiran dan kemunafikan. Di kepribadian beliau terkumpul berbagai sifat mulia, kehidupan sederhana, ibadah dan ketinggian ilmu.
Keberanian, pengorbanan dan sifat ksatria tercermin kental dalam sosok Abul Fadhl, putra Ali bin Abi Talib. Sifat-sifat tersebut membuat namanya abadi dan menjulang tinggi. Dengan mengibarkan nilai-nilai kemanusiaan, moral, kebenaran dan keadilan, Abul Fadhl telah melakukan perombakan besar-besaran ideologi dan moral masyarakat. Sejarah memiliki tokoh-tokoh pemicu perubahan cukup banyak. Namun sosok Abul Fadhl memiliki keunikan tersendiri dalam melakukan perubahan di tengah masyarakat. Apa yang dilakukan oleh putra Ali ini bersumber dari keikhlasan dan kecintaan. Oleh karena itu, perjuangannya untuk mencapai keadilan, kebenaran dan keimanan dibarengi dengan kesabaran.
Di masa kecilnya, Abbas dapat menyaksikan ayahnya yang berharga, sebagai cerminan iman, memiliki pengetahuan dan kesempurnaan di depannya. Ucapan ilahi dan perilaku langitnya begitu mempengaruhi dirinya. Abbas menggunakan pengetahuan dan wawasan Ali as. Sekaitan dengan kesempurnaan dan kedinamisan anaknya, Imam Ali as berkata, "Sesungguhnya, Abbas, anak saya telah belajar berbagai pengetahuan dari saya di masa kecilnya, sebagaimana bayi burung dara yang mengambil makanan dan air dari ibunya."
Abbas mendapat didikan di linkungan yang sumber tauhid mengalir di sana. Mendapat pendidikan oleh Ali as yang disebut oleh Nabi Muhammad Saw sebagai pintu gerbang ilmu dan selalu terpesona akan Zat Ilahi membuat hari-hari remaja dan pemuda Abbas penuh dengan kesucian dan berkah, sehingga di masa depan, Hazrat Abbas tampil menjadi simbol istiqamah, benteng, perjuangan dan kepahlawanan.
Sayidina Abbas bersama dua cucu Nabi Muhammad Saw, Hasan dan Husein, berada dalam kelas yang sama mempelajari prinsip-prinsip kebajikan. Ia selalu bersama dengan Husein as dan menjadi teladan perilakunya bagi jiwanya. Imam Husein as yang menyadari loyalitas suci saudaranya, Abbas, beliau mendahulukannya dari seluruh keluarganya dan dengan tulus berbaik hati kepadanya.
Teladan pendidikan Abbas mendorongnya ke tingkat reformator kemanusiaan besar yang mengubah jalan sejarah dengan pengorbanan dan upaya berkelanjutan untuk menyelamatkan komunitas manusia dari kehinaan dan untuk menghidupkan kembali cita-cita kemanusiaan yang hebat. Sejak awal pertumbuhannya, anak ini telah belajar untuk berjuang di jalan meningkatkan kalimat kebenaran dan mengibarkan bendera tauhid, begitu juga ia telah mencapai keyakinan di dalam jiwanya dan berkelindan erat dengan hatinya.
Berani dan keberanian adalah tanda yang paling mencolok dari seorang pria. Karena itu adalah tanda kekuatan dan ketegaran dalam menghadapi peristiwa. Abul Fadhl Abbas mewarisi sifat ini dari ayahnya yang merupakan manusia paling berani dan pamannya yang merupakan pahlawan Arab yang terkenal.
Abul Fadhl Abbas adalah dunia kepahlawanan dan seperti yang dikatakan para sejarawan, ia tidak pernah takut dalam perang yang diikutinya bersama ayahnya. Dikatakan bahwa dalam panasnya pertempuran Siffin, seorang pemuda terpisah dari barisan pasukan Islam yang memiliki topeng di wajahnya. Ia maju dan melepas topeng dari wajahnya, menantang pasukan lawan untuk duel dengan berapi-api. Umurnya diperkirakan sekitar tujuh belas tahun.
Muawiyah menoleh ke Abu Sya'tsa, seorang panglima perang yang kuat di pasukannya dan memerintahkannya untuk melawannya. Abu Sya'tsa dengan suara keras menjawab, "Orang-orang menyebut makan malam saya sama dengan seribu pasukan berkuda, tapi engkau ingin mengirim saya untuk berperang dengan seorang remaja? Ia kemudian memerintahkan salah satu anaknya untuk berperang dengan Hazrat Abbas. Setelah beberapa saat, Abbas berhasil membuatnya terbaring dengan darah menyelimutinya. Ketika debu perang hilang, Abu Sya'tsa benar-benar kaget menyaksikan anaknya terbaring dalam darah dan tanah. Ia memiliki tujuh anak laki-laki. Kemudian ia memerintahkan anaknya yang lain, tapi hasilnya tidak berubah. Satu persatu dari anaknya dikirim untuk berperang dengan Abbas, tapi pemuda pemberani itu membunuh semuanya. Abu Sya'tsa yang melihat martabat dan latar belakang perang keluarganya nyaris sirna, akhirnya ia sendiri masuk berperang dengan Abbas, namun hasilnya tetap sama, Abbas berhasil membunuhnya. Setelah itu tidak ada yang berani melawannya. Para sahabat Imam Ali as takjub dan heran dengan keberaniannya. Ketika ia kembali ke pasukannya, Ali as melepas topeng dari wajah anaknya dan membersihkan wajahnya dari debu."
Ketika Imam Ali as gugur syahid, Abbas membuat perjanjian dengan ayahnya untuk menemani dan mendukung saudara-saudaranya. Selama hidupnya dia tidak pernah melangkah lebih dari mereka. Selama masa Imam Hasan as dan berdamai dengan Muawiyah, Abbas menerapkan prinsip kepatuhan tanpa syarat kepada Imam yang benar dan berdiri di belakang saudaranya. Dalam keadaan yang tidak menguntungkan itu, kita bahkan tidak menemukan satu hal pun dalam sejarah bahwa dia, terlepas dari kinerja beberapa sahabat, menyapa Imamnya untuk kebajikan dan nasihat. Setelah kembalinya Imam HAsan as ke Madinah, Abbas, bersama dengan Imam, membantu mereka yang membutuhkan dan membagi hadiah saudaranya di antara orang-orang miskin. Pada masa itulah ia dijuluki "Bab al-Hawaij" atau pintu bagi mereka yang membutuhkan dan di periode ini digunakan untuk melindungi masyarakat miskin.
Kemanusiaan dan Keberanian, Manifestasi Imam Husein as
Tanggal 3 Sya'ban 4 H, kota suci Madinah menjadi saksi kelahiran seorang bayi suci, buah cinta Ali bin Abi Thalib as dan Fathimah az-Zahra as. Ia adalah putra kedua sebuah keluarga yang selalu dipuji-puji oleh Rasulullah Saw dan disebutnya sebagai Ahlul Bait.
Bahkan al-Quran pun menegaskan kesucian mereka dari segala dosa dan noda. Dalam surat al-Ahzab ayat 33, Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."
Ibunda bayi lelaki itu adalah Sayidah Fathimah az-Zahra as, putri Rasulullah Saw. Ia adalah perempuan terbaik lantaran keutamaan akhlak dan kesempurnaannya. Allah Swt menurunkan surat al-Kautsar sebagai bentuk penghargaan terhadap posisi Sayidah Fathimah yang begitu luhur.
Kelahiran Imam Husein as
Sementara ayah dari bayi suci itu adalah Ali bin Abi Thalib as. Ia adalah lelaki pertama yang memeluk Islam dan tak pernah ternodai dengan kemusyrikan. Ia dikenal sebagai sosok manusia yang pemberani, pujangga, dan orator ulung. Perjuangan beliau dalam membela Islam sedemikian besarnya, hingga ia mendapat julukan "Asadullah", Singa Allah.
Pada hari yang penuh dengan berkah dan kebahagiaan itu, sang bayi pun segera diantar ke pangkuan Rasulullah Saw. Dengan penuh penghormatan, Imam Ali as meminta Rasulullah saw untuk memberi nama cucunya yang baru lahir itu. Dan akhirnya sang kakek memberinya nama Husein.
Para sejarawan Islam mengatakan, “Sebelum Islam tidak ada nama Hasan, Husein dan Muhsin dan belum ada bayi yang diberi nama dengan nama-nama tersebut. Ini adalah nama-nama surga yang disampaikan Jibril kepada Rasulullah Saw.” Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk menyembelih domba jantan di hari ketujuh kelahiran Imam Husein dan dagingnya dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Lingkungan keluarga Imam Husein as adalah lingkungan terbersih dan para pendidiknya adalah pribadi yang memiliki keuatamaan kemanusiaan dan moral. Sosok yang menjadi pembimbing dan pemimpin umat manusia di dunia, memeluk Husein. Perhatian khusus Rasulullah, keadilan sang ayah dan keutamaan sang ibu semakin menambah kesempurnaan Husein as.
Imam Husein tumbuh dan berkembang di bawah asuhan sang kakek selama enam tahun dan selama itu, Husein selalu mendapat perhatian dan kasing sayang besar dari Rasulullah Saw. Para sahabat dan umat Muslim kerap mendengar sabda Rasulullah, Husein dari Saya dan Saya dari Husein.
Husein tumbuh dalam lingkungan yang paling bersih dan mulia dari sifat manusiawi. Datuknya adalah Rasulullah pemuka sekalian makhluk. Ayahnya adalah Ali bin Abu Thalib, memiliki peringkat teratas dari sifat dermawan, penuh pengorbanan, berjuang, dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Ibunya adalah Fatimah Az Zahra, seutama-utama perempuan pada masanya. Maka memadailah jika dikatakan bahwa dia adalah puteri Rasulullah, isteri bagi pemimpin para pejuang, dan ibu dari pemuka para pemuda ahli surga.
Bint al-Shati, penulis terkenal asal Mesir terkait kecintaan Rasulullah Saw kepada Imam Hasan dan Imam Husein as, menulis, “Bagi Nabi, nama Hasan dan Husein adalah senandung indah dan suara merdu yang tak pernah membosankan untuk selalu disebut-sebutnya. Beliau selalu menganggap kedua cucunya itu seperti anak sendiri.
Allah Swt menganugerahkan nikmat yang demikian besar kepada Sayidah Zahra as sehingga keturunan Rasulullah Saw terus bersambung melalui putra-putranya dan memberi kehormatan kepada Ali bin Abi Thalib as sehingga melaluinya keturunan Nabi Saw tiada terputus".
Kecintaan Rasulullah saw kepada kedua cucunya itu bukan sekedar karena ikatan keluarga dan darah. Sebab sebagaimana yang ditegaskan sendiri oleh al-Quran, seluruh perilaku dan ucapan Nabi Saw tidak pernah ternodai oleh hawa nafsu dan keinginan pribadi, melainkan selalu bersumber dari wahyu dan bimbingan ilahi. Kecintaan Rasulullah Saw kepada Hasan dan Husein sejatinya bersumber dari posisi istimewa kedua cucunya itu di kalangan umat Islam.
Seluruh jiwa dan kalbu Rasulullah Saw dipenuhi oleh rasa sayang dan cintanya kepada Hasan dan Husein as. Sampai-sampai beliau bersabda, "Barang siapa yang mencintai mereka, maka ia sejatinya mencintaiku. Dan barang siapa yang memusuhinya, maka ia memusuhiku".
Rentang waktu antara Rasulullah wafat hingga kekhalifahan Imam Ali as sekitar 25 tahun. Selama itu, Husein adalah pemuda teladan dan unggul serta terkenal dengan keberanian dan ketinggian ilmunya. Di pasang surut yang dihadapi masyarakat Islam, Husein senantiasa aktif di masyarakat dan dengan penuh kewaspadaan ia menyadari sensitifitas masyarakat.
Di berbagai medan pertempuran, dengan gagah berani ia maju membantai musuh. Husein juga terlibat dalam pengambilan keputusan dan pekerjaan besar. Umat Islam mengakui kepribadian unggul cucu tercinta Rasulullah ini.
Ketika seseorang bertanya mengenai sosok dermawan, mereka langsung mendapat jawaban, Husein as. Suatu hari seorang Arab badui memasuki kota Madinah. Ia bertanya siapa yang paling dermawan di kota ini? Warga menjawab, Husein as. Arab badui tersebut kemudian mendatangi Imam Husein. Ia melihat Imam sedang shalat.
Setelah cucu Rasulullah menunaikan shalatnya, Arab badui tersebut kemudian mengungkapkan kebutuhannya. Imam Husein kemudian bangkit dan pergi ke rumah. Imam membungkus empat ribu dinar dan memberikannya kepada Arab badui. Ia yang menyaksikan pemberian besar Imam, kemudian berkata, “Orang dermawan tidak akan tertutupi debu dan tidak akan tersembunyi. Mereka senantiasa mendapat tempatnya di langit dan terus bersinar bak mentari.”
Imam Husein as unggul dalam hal keutamaan di tengah masyarakat dan di mana pun gelombang Islam pergi, Husein terus bersinar bak matahari. Semua orang menghormatinya. Pemuka masyarakat menghormati Husein beserta saudaranya (Hasan) serta memujinya. Saat itu, jika ada yang mengatakan bahwa pemuda mulia ini akan dibantai oleh orang-orang yang memujinya tersebut, maka tidak akan ada yang percaya.
Pasca syahidnya Imam Ali as, tampuk kepemimpinan umat beralih ke Imam Hasan as, kakak Husein bin Ali as. Seperti halnya di masa Imam Ali, Husein bin Ali as selalu setia mendampingi perjuangan dan kepemimpinan Imam Hasan as. Setelah Imam Hasan gugur syahid, kendali imamah berada di tangan Imam Husein as hingga akhirnya terjadilah peristiwa heroik di padang Karbala dan menempatkan dirinya sebagai pahlawan pembebasan terbesar di sepanjang masa.
Setelah gugurnya Imam Hasan, Husein bin Ali memegang kendali Imamah selama sepuluh tahun. Periode tersebut mencerikatan keberanian, kebesaran hati, kebijaksanaan serta pro kebenaran Imam Husein. Namun yang membuat umat Islam semakin mengenal sosok Husein bin Ali adalah pergerakan beliau mendekati akhir usinya, khususnya di peristiwa padang Karbala (Asyura). Nama Imam Husein mengingatkan kebangkitan berdarah beliau.
Perjuangan heroik beliau melawan kezaliman senantiasa menghiasai lembaran sejarah dan memberikan pelajaran keberanian, tuntutan kebenaran dan pengorbanan kepada umat manusia. Rasulullah Saw dalam sebuah sabdanya berkata, “Kecintaan Husein tersembunyi di hati setiap umat mukmin. Ia salah satu pintu dari pintu-pintu surga. Aku bersumpah bahwa Husein lebih dihormati dan diagungkan di langit ketimbang di bumi. Ia adalah hiasan langit dan bumi.”
Husein pendiri budaya agung Asyura dan sosok terbesar revolusi di dunia dan sejarah. Ia sosok yang tetap berdiri tegak hingga akhir hayatnya demi membela kesucian Islam dan mengadapi badai pemimpin zalim Bani Umayah. Sejarah kehidupan Imam Husein dipenuhi dengan catatan keberanian.
Syahid Muthahari dalam hal ini menulis, “Jika ada yang mengaku telah berhasil meraih kunci kepribadian seperti Husein as, sebenarnya dia tengah membual. Saya tidak berani untuk berbicara seperti ini. Namun saya sekedar dapat mengklaim bahwa saya hanya mengenal sekelumit tentang Husein dan membaca sejarah hidupnya serta perkataannya. Saya hanya mempelajari sekelumit tentang sejarah Asyura, khutbah, nasehat dan syair-syair Husein. Saya juga bisa mengatakan bahwa menurut Saya kunci kepribadian Husein adalah semangat, hasrat, keagungan, kekuatan, dan resistensi.”
Pesan dari Pengutusan Muhammad sebagai Nabi
Tanggal 27 Rajab adalah hari perwujudan kekuasaan Tuhan di muka bumi. Hari Mab'ats Rasulullah Saw. Hari kebebasan manusia dari kesyirikan, ketidakadilan, diskriminasi dan kebodohan.
Setelah tidur sebentar, Muhammad kembali ke Gua Hira. Udara terasa dingin. Malam sepertinya sudah setengah jalan. Muhammad menoleh ke luar: Di langit, bulan sabit memancarkan cahaya redupnya ke pegunungan Hira dan dataran selatan yang luas. Tapi Mekah, alam di sekitarnya dan seluruh dunia, tenggelam dalam tidur yang nyenyak. Keheningan yang berat dan aneh menyelimuti alam semesta. Tidak ada suara yang datang dari mana pun.
Seolah-olah malam itu, seluruh bumi dan waktu tertidur bersama dengan makhluk hidup, dan angin sepoi-sepoi berhenti berhembus. Muhammad menghabiskan banyak waktu tengah malam untuk beribadah. Tapi ia belum pernah mendengar atau merasakan keheningan itu. Kemudian, tiba-tiba, di langit, cahaya terang namun aneh muncul, dan memenuhi semua cakrawala pandangan Muhammad.
Kemudian dia merasakan gerakan di tubuh dan jiwanya: getaran di tubuhnya. Dengan perasaan ringan dan jelas dan transparan. Tiba-tiba massa cahaya menjadi terjerat dan hancur. Maka, dari tengahnya, muncullah makhluk yang sangat megah. Dia akrab: seolah-olah itu telah diungkapkan kepada Muhammad beberapa kali, dalam mimpi dan kebangkitan. Tapi kali ini, makhluk tersebut muncul lebih jelas.
Kemudian makhluk tersebut yang ternyata adalah Malaikat Jibril berkata kepadanya,"Iqra."
Maka Muhammad menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Beliau menjelaskan: Lalu malaikat itu pun menarik dan menutupiku, hingga aku pun merasa kesusahan. Kemudian malaikat itu kembali lagi padaku dan berkata Iqra. Aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca."
Ia menarik lagi dan mendekapku ketiga kalinya hingga aku merasa kesusahan. Kemudian malaikat itu menyuruhku kembali seraya membaca, Iqra bismirabbikal ladzii kholaq. Kholaqol insaana min 'alaq. Iqra wa robbukal akram. Alladzii 'allamal bil qolaam. Hingga 'allamal insaana maa lam ya'lam.
Pada saat itu, Allah Swt membuat gunung, padang pasir dan tanah berkerikil mendatangi Muhammad dan memberi hormat kepadanya, serta mengucapkan salam kepadanya.
27 Rajab mengingatkan perubahan besar dan turunnya wahyu ilahi di hati Nabi Suci Islam yang diberkati; Nabi Muhammad (SAW) yang terjadi pada usia empat puluh di Gunung Hira di kota suci Mekah. Nabi Muhammad (SAW) diutus Tuhan untuk membimbing orang-orang pada saat dunia berada di ambang kehancuran moral dan, menurut Al-Qur'an, benar-benar dalam kesesatan.
Rasulullah Saw diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam dan penyelamat dunia, dan berkat perjuangan dan kesabarannya, zaman jahiliyah berakhir, digantingan dengan era kemanusiaan, cahaya, ilmu dan tauhid. Mab'ats sebagai fenomena bersejarah terbesar adalah pembawa pesan kebaikan dan kebebasan manusia dari kebodohan dan penyimpangan. Menurut putri Rasulullah, Sayidah Fatimah, "...Allah Swt menyingkirkan kegelapan dengan cahaya Muhammad, dan membersihkan hati-hati dari kegelapan serta menyingkirkan tirai yang menghalangi pandangan." Mab'ats Rasulullah sejatinya hari kebangkitan manusia dan waktu mekarnya akal serta ilmu pengetahuan.
Rasulullah (Saw) mendirikan agama Islam dan memperkenalkan Alquran sebagai ajaran tertinggi dan terlengkap bagi manusia. Pengutusan Rasulullah pada tanggal 27 Rajab tahun 13 sebelum hijrah adalah awal pembebasan manusia dari kesyirikan,ketidakadilan, diskriminasi, kebodohan dan korupsi sehingga ia dapat bergerak menuju tauhid, spiritualitas, keadilan dan martabat. Nabi Muhammad (Saw) berbicara kepada orang-orang dengan bahasa yang menyenangkan: Janganlah kita menyembah selain Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun agar kita beruntung.
Selama 23 tahun berdakwah tanpa henti, Nabi Muhammad (Saw) melaksanakan misinya ke tingkat tertinggi dan layak. Sedemikian rupa sehingga Allah dalam Alquran ayat 21 Surat Al Ahzab menganggap dia sebagai contoh yang layak dan berfirman: " Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." Oleh karena itu, siapa pun yang ingin mengenal Islam dengan benar dan mengamalkan ajarannya, harus memperhatikan kata-kata dan perbuatan Rasulullah Saw.
Tidak diragukan lagi, pengutusan Nabi dari kalangan manusia merupakan berkah besar dari Tuhan semesta alam. Dia mengutus seseorang yang, dengan akhlak mulia dan ajarannya yang patut diteladani, memimpin dunia menuju kemurnian dan keindahan. Alquran mengatakan dalam ayat 2 Surat Al Jumu'a: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,. Oleh karena itu, tujuan penting lainnya yang disebutkan Alquran dari pengutusan Rasulullah adalah untuk membina dan melatih manusia agar bersih dari kebodohan dan keburukan / dan untuk mengembangkan bakat manusia yang transenden.
Sebagian orang beranggapan bahwa jahiliyah hanya sebatas masa sejarah yang disebut masa jahiliyah dan manusia telah melewatinya, namun kenyataannya adalah setiap kali manusia menjauh dari batas-batas kemanusiaan dan mengikuti hawa jiwanya, Dia terperangkap dalam lingkaran kebodohan (jahiliyah), yang muncul dengan cara baru setiap saat.
Bukankah krisis global sekarang merupakan akibat dari kebiadaban, keegoisan, dan kebodohan manusia saat ini ? Dan apakah penindasan terhadap anak-anak dan rakyat Palestina yang tertindas adalah hasil dari pengetahuan dan peradaban manusia ataukah hasil dari kebodohan dan haus kekuasaannya? Tidak diragukan lagi, dunia membutuhkan kebangkitan baru di bidang pengetahuan dan kemanusiaan; Kebangkitan yang diprakarsai oleh Rasulullah (Saw) dan pesan terbukanya masih dapat membawa orang-orang yang bingung dan cemas hari ini ke keadilan dan moralitas.
Sejatinya pengutusan Rasulullah Saw adalah peristiwa terpenting yang terjadi sejalan dengan kebutuhan fitrah manusia dan menyulut api keimanan, ilmu, kesadaran, persaudaraan, dan kemanusiaan. Dengan berani dapat dikatakan bahwa hari ini salah satu slogan kemanusiaan di dunia yang kerap didengungkan adalah pesan dan slogan bi'tsat (pengutusan Rasulullah). Seperti semboyan keadilan sosial, kebebasan, ilmu pengetahuan dan pengetahuan, kemajuan dan keunggulan.
Barangsiapa mendengarkan pesan yang jelas dari Rasulullah, akan mencapai pengetahuan yang benar tentang dirinya dan dunia. khususnya manusia abad ke-21 khususnya membutuhkan ajarannya lebih dari sebelumnya. Umat manusia saat ini, dengan berhala internal dan eksternalnya, telah kehilangan kemajuan dan kebahagiaan nyata. Jika dia beralih ke tauhid sejati, dia tidak akan bisa menerima ketidakadilan atau penindasan. Tanpa tauhid dan perjuangan melawan kekuatan asing, peradaban saat ini tidak hanya akan menjadi tidak berharga, tetapi juga akan meningkatkan tingkat kejatuhan manusia.
Poin penting dari risalah Rasulullah (Saw) adalah sifatnya yang selalu segar dan menyegarkan, dan menurut salah satu ulama Muslim: “ Seperti tentang pohon, pertama-tama seseorang menanam biji dan kemudian berubah menjadi bunga, dan tumbuh cabang dan daun. Kemudian muncul bunga dan kemudian mekar, selanjutnya akan berubah menjadi buah, yang juga mengandung benih dan biji. Dalam bentuk seperti ini, pesan Rasulullah terus berlanjut, dan senantiasa semakin mekar dan berbuah."




























