کمالوندی

کمالوندی

 

Gerakan Jihad Islam Palestina, dengan menyinggung situasi yang terjadi di kota-kota Tepi Barat, koordinasi dan kerja sama warga Palestina di kota-kota itu dengan Jalur Gaza, serta warga Palestina yang terkepung, menegaskan bahwa Tepi Barat adalah kuburan proyek Zionis.

Salah satu pejabat senior Jihad Palestina di Gaza, Khaled Batash menegaskan bahwa upaya mencegah peran aktif Gaza dalam mengomandoi proyek nasional Palestina, akan gagal, karena Tepi Barat akan menjadi kuburan proyek Zionisme.

Statemen Khaled Batash terkait Tepi Barat sangat penting karena rakyat Palestina di wilayah ini, sekarang sangat menekankan pentingnya perlawanan, dan persatuan dalam negeri untuk menghadapi Israel.

Penduduk Palestina di Tepi Barat juga menuntut perlawanan atas Israel, dan proyek-proyek kejahatan rezim ini terhadap rakyat Palestina terutama di Jalur Gaza.

Pada kenyataannya, tekad dan semangat seperti ini yang muncul di tengah warga Tepi Barat, merupakan salah satu hasil dan buah dari "Perang 12 Hari" antara kelompok perlawanan Palestina, dan Israel, dalam kerangka operasi militer "Pedang Al Quds", yang sekali lagi telah menggagalkan agresi Zionis.

Kelompok perlawanan Palestina, dalam operasi ini berhasil memaksakan kekalahan lain bagi Israel, dan bagi sistem pertahanan udara rezim itu yang dikenal dengan "Kubah Besi", sehingga secara praktis lumpuh.

Kekalahan ini menyebabkan rezim Zionis terpaksa kembali memohon kepada Amerika Serikat untuk memperbaiki serta memodernisasi Kubah Besi. Selain itu Tel Aviv juga meminta Washington memperkuat sistem pertahanan udaranya.

Di sisi lain, kemenangan kelompok perlawanan Palestina semakin membuat rakyat Palestina benci pada upaya-upaya gagal Pemerintah Otorita Ramallah.

Kemenangan semacam ini terutama semakin membuat rakyat Palestina yakin atas efektivitas perlawanan kelompok Palestina terutama di Jalur Gaza untuk menghadapi kemampuan pertahanan, dan militer Israel.

Rakyat Palestina khususnya di Tepi Barat bahkan bangga dengan keunggulan, dan kemenangan ini. Oleh karenanya dalam beberapa minggu terakhir, kita menyaksikan upaya berlipat ganda Israel di Tepi Barat untuk meningkatkan koordinasi keamanan dengan Otorita Ramallah guna mengatasi aksi warga Palestina, dan membungkamnya.

Lawatan terbaru Menteri Perang Israel Benny Gantz ke Tepi Barat, dan pertemuannya dengan Pemimpin Otorita Ramallah Mahmoud Abbas, juga dilakukan dalam kerangka tujuan ini.

Dengan demikiran pernyataan terbaru Khaled Batash dapat dipahami dalam atmosfir, dan kerangka semacam ini.

Ia menegaskan, darah syuhada Tepi Barat, dan Al Quds bercampur, karena poros gerakan rakyat Palestina baik di Gaza, maupun Tepi Barat, baik di Al Quds maupun di Masjid Al Aqsa, dan faktor pemersatu rakyat Palestina, tersembunyi di dalamnya.

Dari sini statemen pejabat Jihad Islam memusatkan perhatian pada masalah bahwa Al Quds adalah garis merah perang melawan Israel, dan hasil terpenting pertempuran "Pedang Al Quds" adalah penekanan atas persatuan rakyat Palestina di Al Quds, Tepi Barat, dan Wilayah pendudukan tahun 1948.

Lebih dari itu, nasib buruk bagi Israel juga akan segera tercipta, dan itu adalah "ledakan" yang akan menimpa Zionis di Tepi Barat. Menurut Khaled Batash, persatuan dan solidaritas rakyat Palestina dapat dipastikan akan menciptakan sebuah ledakan situasi yang hebat. 

 

Komando Operasi Gabungan Irak mengumumkan penarikan tiga brigade militer Amerika Serikat dari pangkalan udara Ain al-Assad di provinsi Anbar.

Seperti dikutip Rusiya al-Yaum, Komando Operasi Gabungan Irak dalam pernyataan pada hari Kamis (7/10/2021) mengumumkan bahwa tiga brigade militer AS telah ditarik dari pangkalan udara Ain al-Assad.

Namun hingga berita tersebut dipublikasikan, belum ada rincian lebih lanjut.

Sebelumnya, juru bicara Komando Operasi Gabungan Militer Irak Tahsin al-Khafaji menekankan bahwa negaranya tidak membutuhkan kehadiran pasukan AS.

Dia menuturkan, pada akhir bulan Oktober 2021, tiga unit tempur AS juga akan meninggalkan pangkalan militer Ain al-Assad dan Harir.

Rakyat dan kelompok-kelompok di Irak menuntut penarikan pasukan teroris AS dari negara mereka, bahkan parlemen Irak telah menyetujui rencana penarikan pasukan penjajah tersebut.

 

Pasukan keamanan rezim Zionis Israel menyerbu Jenin barat, Tepi Barat dan bentrok dengan para pejuang Palestina.

Menurut Pusat Informasi Palestina, pasukan Israel dalam jumlah besar menyerbu desa Kfar Dan di Jenin barat dan desa Barqin dan al-Yamun pada Kamis (7/10/2021) dini hari.

Berdasarkan keterangan sumber-sumber lokal, hampir 50 patroli militer Israel menyerang daerah-daerah tersebut dan memblokir jalan-jalan menuju ke sana.

Para pejuang Palestina merespon penyerbuan di desa Kfar Dan dan bentrok dengan pasukan Israel.

Aparat keamanan Israel juga menyerang rumah keluarga Iham Kamamji, salah satu dari enam tahanan Palestina yang berhasil melarikan diri dari penjara Gilboa, dan mengancam akan menahan anggota keluarga tersebut.

Bentrokan antara pejuang Palestina dan pasukan rezim Zionis telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Hanya dalam sepekan terakhir saja, delapan warga Palestina gugur syahid dalam bentrokan itu. 

 

Wakil Kepala Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah mengatakan, teroris Front al-Nusra sedang bersiap untuk melakukan serangan kimia di Provinsi Idlib bekerja sama dengan White Helmets.

"Front al-Nusra di Idlib sedang mempersiapkan serangan kimia dengan partisipasi kelompok White Helmets di kota Kansafra dan Qaddura," kata Laksamana Muda Vadim Kolet di pangkalan Hmeimim, Suriah.

"Informasi dari sumber-sumber akurat menyebutkan bahwa teroris ingin memvideokan serangan kimia terhadap warga sipil untuk tujuan menyudutkan militer Suriah," tambahnya seperti dilansir kantor berita Suriah (SANA).

Kementerian Pertahanan Rusia berulang kali menekankan bahwa kelompok teroris punya laboratorium di Provinsi Idlib untuk menyiapkan zat beracun. Fasilitas ini dijalankan oleh para pakar yang menerima pelatihan di Eropa.

Teroris Front al-Nusra berusaha mengkambinghitamkan pemerintah Suriah dengan melancarkan serangan kimia terhadap warga sipil. 

 

Kubu perlawanan Palestina menyebut keputusan membolehkan orang Yahudi beribadah di Kompleks Masjid al-Aqsa sebagai pelanggaran berbahaya terhadap kesucian Islam.

"Keputusan rezim Zionis mengizinkan orang Yahudi beribadah di halaman Masjid Al-Aqsa merupakan awal dari konspirasi pembagian masjid dari segi ruang dan waktu antara Muslim dan Yahudi. Hal ini memungkinkan pemukim untuk melanjutkan serangan mereka terhadap kota Quds dan Masjid al-Aqsa," kata kubu perlawanan Palestina dalam sebuah pernyataan, Jumat (8/10/2021).

"Masjid al-Aqsa adalah bagian dari akidah umat Islam, dan kita tidak akan pernah mengabaikan sejengkal pun dari wilayah Quds dan Masjid al-Aqsa," tambahnya seperti dilaporkan Tasnimnews.

Mereka meminta warga Palestina di Tepi Barat dan wilayah pendudukan tahun 1948 untuk meramaikan dan melakukan iktikaf di Masjid al-Aqsa sebagai bentuk protes.

Kelompok perlawanan menyerukan warga Palestina untuk membela Quds dan Masjid al-Aqsa dari rezim penjajah Israel dan konspirasi mereka.

Gerakan Hamas dalam sebuah siaran pers Kamis kemarin juga memperingatkan tentang konsekuensi dari tindakan rezim Zionis itu.

Pengadilan Israel pada Rabu lalu mengakui hak orang Yahudi untuk beribadah di Kompleks Masjid al-Aqsa.

Masjid al-Aqsa telah menjadi basis tentara Zionis dan pemukim untuk menghancurkan identitas Islam dan Kristen kota Quds dan menggantinya dengan simbol-simbol Zionis

Jumat, 08 Oktober 2021 19:42

Menyimak Lawatan Menlu Iran ke Lebanon

 

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Hossein Amir Abdollahian Kamis (7/10/2021) dini hari usai kunjungannya ke Rusia dilaporkan tiba di Beirut, Lebanon.

Menlu Iran hari ini bertemu dengan Presiden Lebanon, Michel Aoun di Beirut, Ketua Parlemen Nabih Berri dan Perdana Menteri Najib Mikati serta sejawatnya dari negara ini, Abdallah Bou Habib. Selain itu, ia juga dijadwalkan bertemu dengan perwakilan faksi-faksi Palestina.

Bersamaan dengan kedatangan menlu Iran di Beirut, warga Lebanon menulis hastag selamat datang di jejaring sosial dan memuji dukungan Republik Islam Iran terhadap negara mereka.

Hubungan antara Republik Islam Iran dan Lebanon memiliki kepentingan multifaset, salah satu karakteristik hubungan ini adalah efek strategisnya pada penguatan arus perlawanan terhadap agresi rezim Zionis.

Bahan Bakar bantuan Iran tiba di Lebanon
Iran selalu mendukung perlawanan terhadap rezim Zionis pendudukan dan membela kemerdekaan, keamanan dan stabilitas Lebanon dalam keadaan genting dan sensitif, dan telah membuktikan kemampuan ini di berbagai bidang dan tahapan.

Salah satu situasi penting ini adalah krisis bahan bakar baru-baru ini di Lebanon. Lebanon menghadapi krisis kekurangan bahan bakar dan masalah ekonomi dan mata pencaharian yang parah selama beberapa bulan, dengan sebagian besar pusat distribusi bahan bakar dan stasiun di Lebanon ditutup. Pasokan listrik ke masyarakat dan sektor vital, terutama rumah sakit dan sistem air dan pembuangan limbah di bawah bayang-bayang wabah Corona, menjadi masalah serius dan memicu protes di berbagai bagian Lebanon. Rakyat Lebanon saat ini menyadari bahwa musuh sejati mereka adalah Amerika Serikat, setelah Israel dan blokade Lebanon dan para penyebar fitnah di Lebanon.

Najat Rochdi, koordinator urusan kemanusiaan PBB di Lebanon memperingatkan bahwa kelangkaan bahan bakar mengancam ribuan keluarga di negara ini.

Reza Mohtashami Pour, pengamat ekonomi internasional terkait urgensitas peran Iran dalam membantu Lebanon melewati krisis ekonomi-politik saat ini mengatakan, kepentingan Iran adalah untuk menciptakan stabilitas di kawasan, sementara kepentingan Amerika adalah mengobarkan krisis di kawasan serta mencegah stabilitas ekonomi di berbagai negara.

Mencegah eskalasi krisis di Lebanon didefinisikan secara politik dan ekonomi dalam teka-teki kepentingan Iran.Sementara itu, ekspor produk minyak bumi ke negara ini adalah kegagalan lain sanksi AS terhadap Iran. Sudah ada pengalaman dalam mengekspor produk minyak Iran ke Suriah dan Venezuela.

Tak lama setelah pengumuman Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hasan Nasrullah terkait pergerakan kapal tanker Iran untuk membantu Lebanon, Amerika Serikat dan Prancis serta Arab Saudi, terpaksa memberi lampu hijau pembentukan pemerintah baru Lebanon setelah melakukan sabotase selama lebih dari 16 bulan.

Menlu Iran setibanya di Beirut seraya mengucapkan selamat atas pembentukan pemerintah baru di negara ini menjelaskan, Tehran tidak segan-segan memberi bantuan kepada Lebanon jika diminta. Amir Abdollahian menyebut pembentukan pemerintah Lebanon sebagai langkah penting untuk melewati krisis dan merealisasikan harapan bangsa ini.

Abdollahian menambahkan, Republik Islam Iran meyakini bahwa perdamaian dan stabilitas di Lebanon hanya dapat diraih melalui jalur demokrasi di bawah naungan persatuan nasional dan jauh dari intervensi asing.

Kegagalan beruntun Rezim Zionis Israel sejak kemenangan Lebanon di perang tahun 2000 dan kemenangan perang 33 hari tahun 2006 serta perang Pedang Quds hingga Tunel Kebebasan, menunjukkan fakta yang tak dapat dipungkiri bahwa rakyat Lebanon bersama muqawama meraih prestasi gemilang dalam melawan terorisme, penjajahan dan sanksi Amerika Serikat.

Selama protes ini, Republik Islam Iran senantiasa akan tetap berada di samping bangsa dan pemerintah Lebanon. Seperti yang dijelaskan menlu Iran setibanya di Beirut; Iran seperti sebelumnya, siap meningkatkan hubungan penuh dengan Lebanon. 

 

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian bertemu dengan para petinggi Hamas dan Gerakan Jihad Islam Palestina di Beirut, Lebanon.

Menlu Iran bertemu dengan Kepala Hubungan Luar Negeri Hamas, Osama Hamdan pada Kamis (7/10/2021) malam untuk membahas isu-isu yang menjadi kepentingan bersama.

Amir-Abdollahian juga melakukan pembicaraan dengan Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina, Ziyad al-Nakhalah di Beirut. Kedua pihak berdiskusi tentang hubungan bilateral dan perkembangan regional.

Dalam pertemuan dengan para petinggi Palestina itu, menlu Iran menegaskan kembali dukungan Republik Islam kepada perjuangan rakyat Palestina.

Para petinggi Palestina memuji dukungan Iran kepada kubu perlawanan dalam melawan rezim Zionis di tengah normalisasi hubungan yang dijalin oleh beberapa negara Arab dengan Israel.

Selama di Beirut, menlu Iran telah bertemu dengan presiden Lebanon, perdana menteri, menteri luar negeri, dan ketua parlemen Lebanon pada hari Kamis.

 

Menteri luar negeri Iran bertemu dengan sekjen Hizbullah di Beirut untuk membahas perkembangan politik di Lebanon dan kawasan pada Jumat (8/10/2021).

Dilansir dari IRNA, selama pertemuan dengan Sayid Hassan Nasrallah, Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan posisi negaranya untuk Lebanon tidak tergoyahkan dan mendukungnya di semua bidang.

Duta Besar Iran untuk Lebanon Mohammad Jalal Firooznia juga menghadiri pertemuan tersebut.

Nasrallah juga mencatat bahwa Iran telah membuktikan diri sebagai sekutu yang tulus dan sahabat setia yang tidak meninggalkan teman-temannya sendirian.

Dia berterima kasih kepada Republik Islam Iran karena telah mendukung pemerintah dan bangsa serta kubu perlawanan Lebanon selama beberapa dekade.

Sekjen Hizbullah menyampaikan harapan bahwa Lebanon akan mengatasi kesulitan saat ini lewat kerja sama semua pihak.

Menlu Iran tiba di Beirut pada Kamis kemarin untuk membahas hubungan bilateral dan isu-isu regional dengan para pejabat Lebanon. Ia telah bertemu dengan Presiden Lebanon Michel Aoun, Ketua Parlemen Nabih Berri, Perdana Menteri Najib Mikati, dan Menteri Luar Negeri Abdullah Bou Habib.

 

Serangan bom yang mengguncang sebuah masjid masyarakat Syiah di Provinsi Kunduz, Afghanistan Utara telah menggugurkan sedikitnya 50 orang dan melukai 150 lainnya.

Seperti dilaporkan Iran Press, serangan bom bunuh diri itu menargetkan jamaah shalat Jumat di Masjid Jami' Sayed Abad milik masyarakat Syiah Afghanistan.

Laporan lain menyebutkan bahwa 100 orang gugur syahid dan lebih dari 200 lainnya terluka dalam ledakan tersebut.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid menulis dalam sebuah tweet, "Ledakan terjadi di sebuah masjid rekan-rekan Syiah kami di distrik Khan Abad di Bandar, ibu kota Provinsi Kunduz. Akibatnya sejumlah rekan-rekan kami gugur syahid dan terluka."

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk serangan teroris di Kunduz dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban peristiwa tragis itu.

"Tindakan teroris harus dikutuk dalam bentuk apa pun dan oleh pihak mana pun," kata Saeed Khatibzadeh dalam sebuah pernyataan.

Dia juga mendoakan agar para korban luka segera memperoleh kesembuhan.

Muslim Syiah telah lama menjadi sasaran kekerasan oleh para ekstremis di Afghanistan. 

 

Di saat Iran dan Republik Azerbaijan menekankan perluasan hubungan bilateral dalam koridor kebijakan bertetangga dan kesamaan sejarah, agama dan budaya, selama beberapa hari terakhir sejumlah pergerakan negatif mengancam hubungan Tehran-Baku.

Wajar jika di kondisi saat ini, ketika petinggi Tehran dan Baku tidak berhasil mengontrol kondisi panas dan sejumlah intervensi asing di urusan dalam negeri masing-masing, maka yang akan terjadi adalah hubungan kedua negara bertetangga dan Muslim ini akan dibayangi pendekatan permusuhan.

Pengalaman selama beberapa tahun terakhir telah membuktikan fakta ini bahwa meski ada kecenderungan dan minat bangsa kedua negara Muslim dan tetangga ini untuk memperluas hubungan timbal balik, namun sejumlah intervensi asing tetap memberi dampak negatib bagi proses positif dan efektif hubungan bilateral ini. Meski demikian, selama beberapa hari terakhir, sejumlah fenomena intervensi poros musuh terhadap hubungan Tehran-Baku yang mengalami peningkatan ini telah memberi peluang untuk merusak hubungan kedua negara bertetangga ini, dan mendorong hubungan ini ke arah kehancuran.

Dalam hal ini, tak diragukan lagi bahwa perilaku tak pantas sejumlah pejabat pemerintah Baku dan statemen petinggi Republik Azerbaijan selama beberapa hari terakhir malah membantu proses ini. Para pejabat pemerintah Ilham Aliyev termasuk presiden sendiri, baru-baru ini menguak bantuan pihak asing kepada Baku selama perang Karabakh. Presiden Azerbaijan juga mengakui sejumlah perilaku tak bersahabat termasuk memuji bantuan Rezim Zionis Israel selama perang Karabakh kedua.

Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev
Sebagian pergerakan presiden Azerbaijan ini menuai tanggapan luas media regional dan internasional.

Poin yang patut direnungkan di bidang ini adalah kritik media Zionis dan Amerika atas perilaku Presiden Ilham Aliyev. Misalnya, Richard Kauzlarich, mantan dubes AS di Baku dan pakar politik, menilai keliru dan tak pantas langkah terbaru Aliyev foto bareng dengan drone Israel “Harop” dan membelainya.”

Ia menyebut langkah tersebut tak ubahnya melempar kayu ke sarang lebah dan menjelaskan, “Jika transformasi di kawasan ini semakin memburuk, siapa yang akan membantu Azerbaijan ? Saya tidak berpikir Turki bersedia terlibat perang. Saya juga meragukan Rusia. Sementara Amerika sendiri terlilit banyak masalah. Republik Azerbaijan saat ini dalam kondisi buruk.”

Terlepas dari kritik sekutu pemerintah Ilham Aliyev atas perilaku provokatif terbaru presiden Azerbaijan ini, harus dikatakan bahwa kesabaran Tehran sampai saat ini telah mencegah meletusnya tensi kedua negara bertetangga ini. Bagaimanapun juga, pengguliran isu bantuan asing kepada Republik Azerbaijan untuk menang di perang Karabakh kedua dan memiliki pangkalan militer di wilayah utara Aras, telah membangkitkan respon petinggi Iran.

Sekaitan masalah ini, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian menyatakan, “Tehran tidak akan membiarkan kehadiran militer Israel di dekat perbatasannya dan aksi-aksi destruktif rezim ini untuk mengubah geopolitik di kawasan dan perbatasan Republik Azerbaijan dan Armenia.”

Setelah pembebasan wilayah Azerbaijan, terjadi berbagai peristiwa yang tidak diinginkan di kawasan Kaukasus selatan. Di antaranya pergerakan Israel di Kaukasus selatan dan wilayah Republik Azerbaijan.

Israel dengan menyalahgunakan kesempatan yang ada berusaha keras untuk untuk mendekati perbatasan Iran dengan mengambil sebagian wilayah Republik Azerbaijan. Dalam hal ini, Farid Shafiyev, direktur pusat analisa hubungan internasional dan pakar politik dan keamanan mengakui, “Di tahun 2005, Iran dan Republik Azerbaijan berdasarkan kesepakatan, berkomitmen untuk tidak mengijinkan pihak ketiga memanfaatkan wilayah kedua negara untuk melawan pihak salah satu di antara mereka.”

Meski ada perjanjian ini, tidak jelas mengapa petinggi Baku senantiasa mengungkapkan bantuan pihak asing demi kemenangan Republik Azerbaijan di perang Karabakh kedua, dan menggulirkan isu pangkalan militer rahasia Israel di wilayah negara ini.

Selain penandatanganan kesepakatan tahun 2005, petinggi Tehran dan Baku senantiasa menekankan fakta ini bahwa mereka tidak akan mengijinkan pihak asing merusak hubungan dan kerja sama kedua negara yang terus mengalami peningkatan. Khususnya bahwa Iran dan Republik Azerbaijan memiliki kerja sama di proyek penting seperti proyek koridor internasional utara-selatan serta proyek serupa lainnya.

Di kondisi seperti ini, tak diragukan lagi bahwa pelarangan lalu lalang truk Iran ke Armenia dari jalur bersama antara Republik Azerbaijan dan Armenia sebuah isu parsial dan dapat diselesaikan dengan mudah. (