کمالوندی
Imam Sajjad, Simbol Keagungan Akhlak dan Spiritualitas
Imam Ali Zainal Abidin dilahirkan tanggal lima Sya'ban tahun 38 H. Putra Imam Husein dijuluki dengan sebutan Imam Sajjad, karena tekun beribadah dan bersujud kepada Allah Swt. Selain dekat dengan Tuhan, Imam Sajjad juga dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, penyantun terutama kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang tertindas.
Manusia mulia ini juga dikenal dengan doa-doanya yang memiliki ketinggian bahasa yang menjulang dan kedalaman makna yang menghunjam. Beliau menjalani malam dengan doa dan ibadah kepada sang maha Pencipta. Tentang ini, Imam Baqir as, putra Imam Sajjad berkata, "Ketika semua orang di rumah tertidur di awal malam, ayahku, Imam Sajjad bangun mengambil wudhu dan shalat dua rakaat. Kemudian beliau mengambil bahan makanan dalam karung dan memanggulnya sendirian menuju daerah orang-orang miskin dan membagikan makanan kepada mereka. Tidak ada seorangpun yang mengenalnya. Setiap malam orang-orang miskin menunggu beliau di depan rumah mereka untuk menerima jatah makanannya. Tapak hitam dipunggung ayahku merupakan bukti bahwa beliau memanggul sendiri makanan yang dibagikan kepada orang miskin."
Imam Sajjad dengan tanpa pamrih dan hanya mengharap keridhaan Allah dalam berbuat baik terhadap orang lain. Ketika bersama rombongan bergerak menuju Mekah untuk menjalankan ibadah haji, beliau meminta supaya pengurus rombongan tidak memperkenalkan identitas dirinya kepada yang lain. Dengan cara ini rombongan lain tidak mengenalinya, dan beliau bisa leluasa melayani keperluan mereka yang hendak berangkat untuk menunaikan ibadah haji.
Dalam sebuah perjalanan seseorang mengenalinya dan berkata, "Apakah kalian tahu siapa pemuda ini " Ia tidak lain adalah Ali bin Husein. Rombongan itu berlari mendekati Imam Sajjad dan memberi hormat serta memohon maaf karena tidak mengenalinya. Imam berkata, "Suatu hari saya berangkat bersama rombongan haji dan anggota rombongan mengenalnya dan menghormatiku, sebagaimana mereka menghormati Rasulullah. Akhirnya merekalah yang melayani keperluanku bukan sebaliknya. Padahal saya ingin melayani keperluan mereka. Inilah alasan saya tidak ingin dikenali oleh mereka."
Kehidupan Imam Ali Zainal Abidin menjadi mata air pengetahuan dan akhlak bagi yang mendulangnya. Salah satu pelajaran besar dari kehidupan beliau adalah cara memberikan nasehat yang bijaksana. Suatu hari seoranglelaki mengeluh dan putusa asa atas rahmat Allah swt. Ia berkata, "Saya berdoa, munajat dan memohon kepada Allah, tapi suara ini tidak melampaui langit-langit rumah apalagi menembus angkasa." Mendengar keluhan itu, salah seorang temannya berkata, "Jangan keliru saudaraku, Allah dekat dengan kita. Tapi kitalah yang tidak memiliki kemampuan untuk merasakannya. Bukankah, Allah swt dalam al-Quran berfirman, "Aku lebih dekat dari urat nadimu.
Tapi nasehat itu tidak berpengaruh, dan lelaki itu kian hari semakin putusasa atas kehidupannya. Akhirnya suatu hari ia diajak bertemu dengan Imam Sajjad. Di hadapan Imam Sajjad lelaki itu berkata, "Saya menemui Anda untuk menanyakan mengapa doaku tidak terkabul. Padahal Allah swt berfirman, ‘Berdoalah, maka Aku akan mengabulkan doamu ‘. Saya khawatir akidah saya lemah dan meninggal dalam keadaan tidak beragama."
Imam Sajjad memandang dengan penuh kasih sayang kepada lelaki. Beliau kemudian bertanya, "Apakah shalatmu awal waktu atau tidak? Apakah engkau telah berbuat baik seperti bersedekah kepada orang miskin demi mendekatkan diri kepada Allah? Apakah sikapmu baik terhadap teman-temanmu? Apakah kamu tidak mengucapkan kalimat yang menyulut permusuhan? Apakah engkau tidak memberikan persaksian palsu? Apakah kamu telah menunaikan zakat dan membayar utang? Apakah engkau tidak kikir terhadap kaum fakir dan membantu yatim?"
Lelaki itu menjawab, "Wahai Ali bin Husein, sayang sekali saya tidak termasuk kriteria yang Anda sebutkan. Imam sambil tersenyum ramah menjawab, "Lalu apa yang diharapkan dari Allah ? Semua kriteria yang saya sebutkan itu selain berguna bagi akhiratmu juga bermanfaat bagi duniamu. Salah satunya adalah dikabulkannya doa. Dengarlah perintah Allah, maka Allah akan mendengar perkataan kita."
Dalam pandangan Imam Sajjad, hubungan vertikal dengan Allah swt tidak bisa dipisahkan dari hubungan horizontal antarsesama manusia. Imam Zainal Abidin dalam Risalah Huquq menyinggung hak sesama manusia. Sebab setiap anggota masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam menjalani kehidupan ini. Dengan cemerlang, Imam Sajjad menjelaskan bagaimana hak pemimpin terhadap bawahannya dan sebaliknya. Tidak hanya itu, Imam Sajjad juga menjelaskan bagaimana hubungan keluarga menyangkut hak orang tua terhadap anaknya dan sebaliknya, hak bertetangga, berteman dan hak terhadap harta.
Menurut Imam Sajjad, manusia adalah pelayan bagi yang lain, sehingga dalam masyarakat tumbuh budaya gotong-royong dan saling membantu. Di bagian lain Imam Sajjad mengungkapkan perkataan tentang saudara. Beliau berkata, "Saudara yang buruk adalah orang yang memperhatikanmu ketika keadaan lapang, namun menjauhi ketika sulit." Untuk itu seorang mukmin berkewajiban berbuat baik kepada orang lain.
Dalam pandangan Imam Sajjad, melayani orang lain memiliki berbagai dampak yang sangat besar baik di dunia maupun di akhirat. Salah satunya adalah membantu orang yang terkena musibah dan membutuhkan pertolongan. Imam Sajjad berkata, "Di dunia ini tidak ada yang lebih mulia selain berbuat baik kepada saudara."
Imam Sajjad dalam berbagai riwayat lain menjelaskan bahwa orang yang membantu orang lain akan mendapat ganjaran pahala akhirat, ampunan dosa, kedudukan yang tinggi di surga serta pahala lainnya. Beliau berkata, "Tuhanku, semoga shalawat tercurah atas Muhammad dan keluarganya.., anugerahilah tanganku ini agar bisa berbuat baik kepada orang lain, dan jangan rusakkan kebaikan itu dengan riya dalam diriku."
Imam Sajjad bahkan dalam doanyapun memberikan contoh bagaimana mengabdi dan melayani kebutuhan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Imam Zainal Abidin kepada putranya berkata, "Barang siapa yang meminta tolong padamu untuk melakukan suatu pekerjaan baik, maka lakukanlah. Jika kamu ahlinya maka lakukan dengan sebaik-baiknya, Jika bukan engkau telah berbuat baik."
Imam Ali Zainal Abidin sangat menekankan pentingnya pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian terhadap masyarakat bukan diukur dari seberapa besar pekerjaan itu, tapi kualitas layanan dan ketulusan niatlah yang menjadi ukuran dari bernilai atau tidaknya pekerjaan itu. Selain itu, pengabdian juga menumbuhkan sebuah ketenangan spiritual bagi seseorang yang bisa berbuat kebaikan bagi orang lain. Terkait hal ini Imam Sajjad berkata, "Sikap bersahabat dan bersaudara seorang mukmin kepada saudara mukmin lainnya adalah ibadah." Di bagian lain, Imam Sajjad mengingatkan nilai spiritual berbuat baik kepada orang lain dengan mengatakan, "Allah akan menggembirakan orang yang telah menggembirakan saudaramu."
8 Shahrivar; Hari Anti-Terorisme
Fenomena terorisme bagi bangsa Iran sebagai salah satu korban terbesar terorisme adalah sebuah fenomena pahit. Dalam hal ini, 8 Shahrivar, hari gugurnya Syahid Bahonar dan Rajai ditetapkan sebagai Hari Anti-Terorisme di Iran.
Kelompok teroris munafikin Organisasi Mujahidin Khalq (MKO) yang mendapat dukungan politik dan propaganda dari pemerintah anti-Republik Islam Iran yang baru berdiri, di tahun-tahun pertama kemenangan Revolusi Islam aksi teror luas untuk menghapus anasir efektiv dan pejabat pemerintah dengan harapan mampu memberi pukulan mendasar kepada Republik Islam melalui kevakuman di nomor sektor sensitif negara.
Syuhada Mihrab, Syuhada Haftum Tir dan Hashtom Shahrivar, para syuhada Lajevardi, Gharani, dan Sayad Shirazi termasuk korban MKO di sejarah Revolusi Islam. Kejahatan ini, teror 8 Shahrivar 1360 Hs (30 Agustus 1981), dua bulan setelah Ayatullah Beheshti beserta 72 elit politik dan anggota Partai Republik Islam gugur di ledakan teror pada 7 Tir 1360 Hs (28 Juni 1981).
Sementara kekuatan arogan dunia terkait aksi teror ini bukan saja mereka tidak menunjukkan respons, bahkan mendukung aksi sadis ini.
MKO setelah aksi subversif dan meneror rakyat sipil serta pejabat pemerintah Iran, lari ke Paris dan ke Irak serta melakukan banyak kejahatan di negara ini.
Dalam peristiwa tahun 1991 dan 1992; Saddam, diktator kriminal terguling dari rezim Ba'ath di Irak, menggunakan anasir MKO untuk menekan Kurdi Irak. Dalam kejahatan yang mengerikan ini, dia merencanakan genosida terhadap Kurdi, yang mengakibatkan pembantaian beberapa ribu wanita dan anak-anak. Ketika Saddam digulingkan oleh invasi AS, kelompok MKO tetap berada di bawah payung dukungan AS dan menghabiskan beberapa waktu di Camp Liberty, kemudian melobi agar AS dan Inggris melakukan perjalanan ke Albania untuk beroperasi secara bebas di negara Eropa Timur.
Tidak ada keraguan bahwa dukungan AS untuk terorisme adalah bagian dari strategi Washington untuk campur tangan di wilayah tersebut. Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, dengan tujuan dan niat politik mereka, membagi teroris menjadi baik atau buruk, untuk menjustifikasi dukungan mereka terhadap teroris. Standar ganda ini mendorong membuat mereka yang melakukan kejahatan di Iran mendapat dukungan dan dengan bebas melanjutkan kejahatannya. The Associated Press, dalam sebuah laporan mengungkapkan tentang dukungan AS untuk terorisme dan membongkar suap beberapa senator AS dari para pemimpin MKO dan menulis bahwa seorang pejabat administrasi Donald Trump dan setidaknya salah satu penasihatnya menerima uang untuk berbicara demi kepentingan kelompok teroris MKO.
Raymond Tanter, mantan anggota Dewan Keamanan Nasional AS dan pendukung MKO yang menyusun pergerakan kelompok ini untuk keluar dari list pendukung teror mengatakan, “Mereka (MKO) opsi terbaik dari sanksi dan perang untuk membantu memajikan program Amerika Serikat terhadap Iran.”
Faktanya, Amerika dan sejumlah negara Eropa dengan ideologi ini, meski mengetahui bahwa tangan MKO berlumuran darah ribuan manusia tak berdosa, tapi tetap mendukung kelompok ini.
Dari sudut pandang ini dapat dikatakan bahwa rangkaian peristiwa teror musim panas tahun 1981 merupakan bagian dari rencana kekuatan arogan dunia untuk memberi pukulan telak terhadap Revolusi Islam dan pemerintah Republik Islam Iran yang baru dibentuk.
Berdasarkan data yang ada, sejak dekade 1960, pemerintah Amerika sedikitnya mendukung 8 kelompok teroris yang memiliki catatan berdarah di Asia Barat, Eropa dan Amerika Latin. Ini artinya ketika kepentingan AS muncul, negara ini bukan saja mendukung kelompok teroris, bahkan tak segan-segan melakukan aksi teror itu sendiri. Teror terhadap Syahid Qasem Soleimani oleh militer Amerika dan atas instruksi langsung dari Mantan presiden Donald Trump, merupakan bukti nyata.
Amerika Serikat di awal tahun 2020 dengan menggurkan Syahid Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds IRGC telah menunjukkan bahwa melalui aksi teror, negara in ingin mengacaukan kawasan. Dini hari 3 Januari 2020, Syahid Soleimani yang berkunjung ke Irak atas undangan resmi pemerintah negara ini bersama 10 orang lainnya dari Iran dan Irak termasuk Abu Mahdi al-Muhandis, wakil komandan Hashd al-Shaabi serta jubir kelompok ini, menjadi target drone militer Amerika yang ditempatkan di Irak. Serangan tersebut menggugurkan Syahid Soleimani beserta rombongan.
Amerika melalui teror ini menggugurkan seorang komandan yang berhasil memberi pukulan telak kepada kelompok teroris Takfiri Daesh (ISIS). Iran membalas aksi brutal ini dengan menyerang pangkalan militer AS di Ain al-Assad dengan rudal.
Perkembangan terakhir di kawasan ini menunjukkan bahwa kekuatan hegemonik, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, menggunakan terorisme dan ekstremisme sebagai alat untuk mencapai tujuan. Beberapa dari kejahatan teroris ini terkait dengan sanksi ekonomi dan terorisme terhadap kesehatan dan kehidupan manusia, yang menjadikan Iran salah satu target terorisme ekonomi dan obat-obatan Amerika.
Kejahatan anti-kemanusiaan ini dan dukungan Barat terhadap terorisme tidak akan pernah terhapus dari sejarah bangsa Iran.
Penetapan 8 Shahrivar sebagai Hari Anti-Terorisme dimaksudkan dalam koridor ini.
Saat ini negara-negara pengklaim anti-terorisme dihadapkan pada ujian serius sejarah. Mereka harus memberi jawaban kepada bangsa Iran yang 17.000 warganya menjadi korban terorisme dukungan Barat.
Faktanya adalah jika insiden teroris dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang terjadi pada tahun-tahun pertama setelah kemenangan revolusi dan setelah itu di Iran; Itu terjadi terhadap rakyat Amerika atau di salah satu negara Eropa; Maka puluhan resolusi dan pernyataan dikeluarkan dan sanksi warna-warni dijatuhkan pada mereka.
Dunia Barat, bagaimanapun, telah menutup mata terhadap kejahatan terang-terangan dan telah menjadi salah satu pelanggar hak asasi manusia (HAM) terbesar, sambil mengeluarkan pernyataan ke negara lain untuk mencapai tujuan politik yang bias.
Perilaku Barat ini indikasi kebohongan klaim mereka dalam memerangi terorisme dan juga tanda tujuan bias dalam kedok klaim anti-terorisme Barat.
Seperti yang dijelaskan Rahbar, Ayatullah Khamenei, “Dunia yang menutup mata terhadap kejahatan yang tak tahu malu, tidak dapat mengklaim sebagai pendukung HAM, dan tidak dapat diharapkan mereka akan mampu melawan kejahatan yang terus tumbuh dan berkembang di dunia, ini justru sponsor. ”
Menyoroti Sebab Kekalahan Militer Afghanistan dari Taliban
Setelah keberhasilan Taliban menguasai berbagai negara bagian Afghanistan dan terakhir Kabul pun jatuh ke tangan milisi ini, muncul pertanyaan di opini publik Afghanistan, kawasan dan internasional, mengapa militer negara ini tidak mampu melawan serangan tersebut.
Selain itu, kondisi di Afghanistan juga jauh dari prediksi para pengamat dan negara ini tumbang serta jatuh ke tangan Taliban. Milisiini pun berhasil menguasai seluruh negara bagian kecuali Panjshir.
Setelah invasi Amerika Serikat ke Afghanistan tahun 2001 dan tumbangnya pemerintahan Taliban, militer nasional dan baru negara ini yang pada awalnya berjumlah 70 ribu personel disahkan di sidang Bonn, Jerman. Pembentukan secara resmi militer Afghanistan terjadi tahun 2002 dengan bantuan pihak Barat, khususnya Amerika dan kemudian Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Seiring dengan eskalasi serangan milisi Taliban, di tahun 2006 direncanakan jumlah militer nasional Afghanistan bertambah menjadi 130 ribu personel. Meski selama selama beberapa tahun terakhir jumlah pasukan militer Afghanistan mencapai 350 ribu orang, namun negara ini direncanakan memiliki militer kecil dengan peralatan canggih dan modern milik Barat, sehingga mampu melawan kelompok teroris dan memberi keamanan kepada warga.
Oleh karena itu, muncul pertanyaan penting, mengapa militer dan polisi nasional seperti ini tidak mampu melawan serangan Taliban dan cepat kalah ?
Pengamat politik saat menjawab pertanyaan penting ini mengisyaratkan sikap AS dan NATO yang tidak bersedia menunaikan janjinya mempersenjatai serta memperkuat militer dan polisi nasional Afghanistan. Mereka meyakini bahwa meski ada klaim dari petinggi Barat, ada tiga alasan penting mengapa mereka tidak berusaha menciptakan sebuah militer yang kuat, khususnya angkatan udara.
Pertama, AS dan NATO mengejar kebijakan ketergantungan keamanan Afghanistan kepada pasukan asing. Menurut perspektif ini, jika Afghanistan memiliki tentara dan polisi yang kuat, maka bisikan dan tuntutan elit dalam negeri atas penarikan pasukan asing dari negara ini akan sangat cepat dan lebih serius. Oleh karena itu, Amerika dan NATO untuk menjustifikasi kehadirannya di Afghanistan, berupaya menunjukkan dirinya sebagai pembela keamanan rakyat negara ini dari ancaman terorisme, dan mempropagandakan kebijakan dan programnya dalam koridor rencana "Dukungan Tegas" terhadap militer dan pemerintah Afghanistan.
Kedua, Pakistan sebagai negara yang menganggap Afghanistan sebagai halaman belakangnya, sama sekali tidak setuju dengan rencana mempersenjatai militer negara ini dengan senjata modern Amerika dan NATO, sehingga tidak akan terbentuk militer tangguh di negara tetangganya ini. Oleh karena itu, di era kepresidenan Barack Obama, ketika dijadwalkan hingga tahun 2014 mayoritas tentara negara ini akan ditarik dari Afghanistan, Pakistan mencegah penyerahan senjata militer Amerika kepada militer nasional Afghanistan. Pakistan tetap menghendaki Afghanistan yang lemah dan pemerintahan yang bergantung kepada Islamabad sehingga tetap dapat menindaklanjuti kepentingannya di Kabul.
Ketiga, alasan Amerika tidak membantu memperkuat militer dan polisi nasional Afghanistan adalah AS dan NATO khawatir etnis Pashtun menguasai militer nasional dengan pandangan agamanya. Meski berdasarkan etnis, militar nasional Afghanistan akan terdiri dari 45 persen etnis Pashtun, 30 persen Tajik, 10 persen Hazareh, 10 persen Uzbek dan lima persen milik etnis lainnya, namun mengingat pengaruh dan hegemoni bersejarah Pashtun di tingkat politik dan militer Afghanistan, ada kekhawatiran di antara elit Barat bahwa bisa jadi dengan berkuasanya Pashtun di militer Afghanistan akan terbentuk tentara agamis dengan pola pikir radikal di negara ini.
Oleh karena itu, Amerika dan NATO bukan saja enggan bergerak memperkuat militer dan polisi nasional Afghanistan, tapi dengan klaim bahwa militer negara ini memiliki dukungan udara dan artileri Amerika serta NATO di berbagai operasi, menolak segala bentuk perubahan di peralatan militer pasukan Afghanistan, dan hingga detik-detik terakhir mereka masih membutuhkan dukungan udara militer AS dalam melawan Taliban.
Sementara sumber miilter Amerika senantiasa berbicara mengenai biaya beberapa juta dolar di militer Afghanistan.
Namun John Sopko, direktur kantor penyidik khusus AS untuk rekonstruksi Afghanistan (SIGAR), senantiasa menekankan berlanjutnya kendala militer Afghanistan dan menuding para komandan militer AS dan NATO menutupi masalah tersebut. Terakhir, ketika militer nasional Afghanistan terus mengalami kekalahan melawan serangan Taliban, pasukan Amerika dan NATO masih menolak fakta ini bahwa selama dua dekade lalu mereka tidak melakukan langkah untuk mempersenjatai militer Afghanistan dalam melawan teroris yang memiliki senjata lebih canggih dari militer Afghanistan.
Alasan lain untuk keruntuhan yang cepat dari Tentara Nasional Afghanistan adalah kurangnya kesatuan pasukannya di seluruh negeri sebagai kekuatan terorganisir. Meskipun tentara Afghanistan seharusnya memiliki 350.000 tentara, beberapa dari pasukan ini ditempatkan sebagai pasukan paramiliter di berbagai bagian Afghanistan, seperti Kunduz, Maymana, Helmand, Paktika dan Kunar, sebagian besar beroperasi bersama pasukan asing dan bahkan gajinya pun didapat dari mereka. Di kondisi seperti ini, harapan untuk memiliki sebuah pasukan kuat dan modern di bawah komando pusat di Afghanistan adalah harapan sia-sia dan sangat disayangkan para teknokrat pro Barat yang berkuasa di Kabul, juga tidak melakukan langkah-langkah serius untuk mengorganisir dan memperkuat tentara nasional Afghanistan sebagai sebuah kesatuan.
Sementara itu, elit Barat telah menggunakan klaim palsu untuk membenarkan kekalahan Tentara Nasional Afghanistan melawan Taliban, yang tidak memiliki dasar rasional, termasuk bahwa militer Afghanistan telah lelah akibat perang saudara selama dua dekade terakhir, atau bahwa tentara Afghanistan tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan senjata modern karena sebagian besar militer Afghanistan buta huruf yang tidak dapat menerima pelatihan yang diperlukan.
Namun Jend. Zahir Azimi, jubir tentara Afghanistan saat itu seraya menepis klaim ini, berulang kali berbicara mengenai kekuarangan persenjatan militer Afghanistan khususnya angkatan udara.
Sekaitan dengan ini, Nik Mohammad Kaboli, pengamat militer di Afghanistan saat mengevaluasi kondisi dan peralatan militer Tentara Nasional Afghanistan meyakini bahwa pasukan Afghanistan tidak mampu melawan serangan teroris karena mereka tidak memiliki peralatan militer yang diperlukan, dan oleh karena itu, tidak mampu melawan ancaman keamanan tanpa bantuan pihak lain, dan senantiasa membutuhkan dukungan udara AS dan NATO.
Sekitar satu dekade yang lalu, ketika isu penarikan pasukan asing dari Afghanistan dan pengalihan tanggung jawab keamanan ke Tentara Nasional Afghanistan diangkat, NATO mengubah tujuan kehadirannya di negara itu untuk melatih dan mendukung Tentara Nasional Afghanistan, tetapi dalam prakteknya dunia jelas mengerti klaim seperti itu tidak lebih dari kebohongan, dan bahkan di hari-hari terakhir jatuhnya berbagai negara bagian Afghanistan ke tangan Taliban, NATO menerbitkan laporan yang mengklaim bahwa mereka sedang melatih pasukan khusus Afghanistan di Turki. Padahal NATO dan Amerika memiliki banyak pangkalan di Afghanistan, maka isu pelatihan pasukan khusus Tentara Nasional Afghanistan di Turki patut untuk direnungkan dan diperhatikan, yang akhirnya mengungkapkan ketidakefektifan pelatihan tersebut.
Bagaimana pun juga, berbagai laporan yang diterbitkan oleh berbagai pihak menunjukkan bahwa potensi dan perlatan militer angkatan udara militer Afghanistan hanya sebatas beberapa helikopter hadiah dari India dan sejumlah pesawat lama serta senjata angkatan darat Tentara Nasional Afghanistan adalah senjata M1 dan Kalashnikov yang dibeli dari sekutu Uni Soviet.
Sementara Amerika dan NATO mengklaim bahwa Tentara Nasional Afghanistan siap dan telah dipersenjatai untuk melawan teroris. namun petinggi Afghanistan termasuk Hamid Karzai, mantan presiden negara ini berulang kali menytakanb ahwa senjata yang dimiliki teroris lebih maju dari senjata Tentara dan Polisi Nasional Afghanistan.
Hamas: Gaza tidak Akan Menyerah pada Israel
Seorang anggota Biro Politik Hamas mengatakan rakyat Palestina tidak takut dengan ancaman rezim Zionis dan Gaza yang merdeka tidak akan pernah menyerah.
Suhail al-Hindi, seperti dilaporkan televisi al-Aqsa yang berbasis di Gaza, Rabu (25/8/2021), mengatakan ada konsensus nasional di antara faksi-faksi Palestina tentang kelanjutan perlawanan rakyat di Quds.
“Kesatuan sikap faksi-faksi Palestina telah disampaikan ke Mesir dan para mediator harus bertanggung jawab atas hal ini,” tambahnya.
Pada hari Rabu, ribuan warga Palestina mengantar jenazah Osama Khalid Adaeej ke kamp pengungsi Jabalia di utara Jalur Gaza.
Osama Khalid Adaeej terluka ditembak oleh tentara Zionis selama demonstrasi damai di Gaza pada 21 Agustus. Ia gugur syahid pada Rabu kemarin karena terluka parah.
Rezim Zionis Ancam Sulut Perang Baru di Gaza
Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Rezim Zionis, Aviv Kochavi kembali mengancam Palestina akan menyulut perang baru di jalur Gaza.
Televisi rezim Zionis Channel 12 hari Kamis (26/8/2021) melaporkan, Aviv Kochavi mengatakan militer Israel sedang mempersiapkan operasi militer lain terhadap Gaza setelah pertempuran sebelumnya.
"Militer Israel tidak akan bisa menerima serangan apa pun dari pihak mana pun," ujar Kochavi sambil menyalahkan Hamas atas setiap insiden yang terjadi di Gaza.
"Ketegangan baru-baru ini di perbatasan Gaza telah membawa tentara Israel dalam kesiapan penuh, dan tidak ada keraguan bahwa penembakan balon dan demonstrasi yang terus berlanjut di daerah perbatasan dapat menyebabkan peristiwa besar di masa depan," tegasnya.
Perang Israel melawan Palestina di Tepi Barat dan Gaza dimulai pada 10 Mei dan berakhir pada 21 Mei menyusul seruan untuk gencatan senjata oleh kabinet Israel, karena ketidakmampuan tentara Israel untuk menghadapi perlawanan Palestina.
Pasukan Turki Tingkatkan Serangan ke Timur Suriah
Pasukan militer Turki bersama kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Ankara meningkatkan serangan terhadap desa dan daerah di al-Hasakah dan Deir ez-Zor di Suriah.
Televisi Suriah Al-Akhbariya hari Kamis (26/8/2021) melaporkan, pasukan Turki dan milisi bersenjata afiliasi mereka menargetkan desa Bab al-Khair di pinggiran barat laut al-Hasakah dengan serangan artileri.
Pasukan bersenjata yang berafiliasi dengan Turki menembakkan granat tangan ke sebuah rumah di di pinggiran Deir ez-Zor, yang melukai seorang wanita dan putrinya.
Pasukan Turki dan elemen bersenjata yang berafiliasi dengan mereka memutus aliran air untuk satu juta warga yang tinggal di al-Hasakah.
Pasukan pendudukan Turki mengabaikan permintaan untuk membuka kembali stasiun air Aluk dan menerapkan perjanjian internasional.
Tentara Turki melancarkan operasi besar-besaran di wilayah timur laut Suriah pada 9 Oktober atas perintah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dengan dalih menghadapi militan Kurdi.
Operasi militer Turki di utara Suriah telah menuai kecaman internasional yang luas.
Irak: Tujuan KTT Baghdad, Wujudkan Stabilitas Keamanan dan Ekonomi
Juru Bicara Pemerintah Irak, Hassan Nazim menekankan bahwa Irak mencari stabilitas dan ekonomi regional dengan menggelar KTT Baghdad.
Hassan Nazim, Menteri Kebudayaan dan Juru Bicara Pemerintah Irak hari Kamis (26/8/2021) mengatakan bahwa Konferensi Regional Baghdad, yang mengusung tema "Konferensi Baghdad untuk Kerjasama dan Kemitraan", sebagai pertemuan puncak negara-negara tetangga Irak dan negara-negara lain di kawasan dan dunia.
Nazim menekankan bahwa Irak telah melihat langkah-langkah signifikan pada tahun lalu untuk mendapatkan kembali perannya sebagai wilayah yang berpengaruh di Irak dan sedang mempertimbangkan keamanan dan stabilitas ekonominya.
Hassan Nazim menekankan bahwa Irak sedang berusaha untuk membangun jembatan antara negara-negara kawasan demi mencapai stabilitas ekonomi dan kemakmuran bersama
Jerusalem Post: Militer AS Tidak akan Beli Sistem Iron Dome
Surat kabar Zionis Jerusalem Post melaporkan bahwa militer AS telah memutuskan untuk tidak membeli sistem Iron Dome dari Tel Aviv.
Keputusan itu dibuat setelah militer AS menguji sistem pertahanan udara Israel yang dikembangkan oleh perusahaan Rafael.
AS melakukan uji perbandingan antara Iron Dome dan Dynetics dari perusahaan Amerika Leidos di New Mexico bulan lalu, dan memutuskan untuk menggunakan model internalnya itu..
Seorang pejabat Kementerian Perang rezim Zionis dan seorang pejabat perusahaan Rafael mengatakan kepada surat kabar Zionis Jerusalem Post sebagai tanggapan atas berita ini bahwa mereka tidak akan mengomentari pengungkapan situs web DefenseNews; Tetapi jika dikonfirmasi, itu akan menjadi kemunduran bagi Tel Aviv dan militer Israel.
Laporan itu muncul ketika surat kabar Zionis Haaretz dan televisi Channel 12 rezim sebelumnya telah mengungkapkan bahwa Iron Dome gagal menangkis serangan roket dari UAV perlawanan Palestina dalam perang 12 haru baru-baru ini.
Israel Akan Minta AS Pertahankan Pasukan di Irak dan Suriah
Seorang pejabat senior Zionis mengatakan isu penarikan pasukan Amerika Serikat dari Irak dan Suriah akan dibahas dalam pertemuan Perdana Menteri Naftali Bennett dan Presiden Joe Biden.
Situs media Israel, Walla melaporkan pada Kamis (26/8/2021) malam, seorang pejabat tinggi Zionis menuturkan masalah kehadiran pasukan AS di Irak sangat penting bagi Tel Aviv.
Menurut laporan televisi al-Mayadeen, sumber tersebut berkata kepada Walla bahwa Bennett diperkirakan akan meminta Presiden Biden untuk tidak menarik pasukannya dari Irak dan Suriah.
"Penarikan seperti itu mungkin akan menguntungkan Iran serta memperkuat peran dan kehadiran mereka di kawasan," kata pejabat Zionis yang tidak disebutkan namanya itu.
"Masalah (kehadiran) pasukan AS di Irak sangat penting," tambahnya.
Menurut Walla, Bennett dalam pertemuan dengan Biden, akan membahas ide pembentukan koalisi regional yang beranggotakan Israel dan beberapa negara Arab, dengan tujuan memperkuat normalisasi hubungan dengan negara lain.
Pejabat tersebut mengklaim bahwa koalisi semacam itu akan mencegah apa yang disebutnya tindakan bermusuhan Iran dan misinya untuk mendominasi kawasan.
Konvoi Pasukan Suriah Dihantam Bom di Daraa
Sebuah bom meledak di jalur konvoi pasukan Suriah di pinggiran Provinsi Daraa, yang menewaskan dan melukai 10 tentara.
Televisi al-Ikhbariyah Suriah melaporkan pada Jumat (27/8/2021) bahwa bom pinggir jalan itu meledak di jalur yang dilalui pasukan Suriah di antara daerah Nuri dan Sheikh Maskin di pinggiran Daraa.
Ledakan itu menewaskan dua tentara Suriah dan melukai delapan lainnya.
Menurut sumber-sumber militer, pasukan Suriah telah mengepung daerah Daraa al-Balad pasca insiden tersebut.
Militer Suriah menguasai sebagian besar Daraa pada pertengahan Juli 2017, tetapi pasukan oposisi dan teroris di wilayah tersebut terus melakukan serangan dan kekerasan di kota dan daerah sekitar.




























