کمالوندی
Mohaghegh Karaki
Salah satu isu yang diangkat dalam pemikiran Mohaghegh Karaki mengenai masuknya dunia religius yang agung di ranah politik dan sosial.
Ia percaya bahwa penyelenggaraan negara dan urusan rakyat harus berdasarkan agama dan berada di bawah kepemimpinan ulama otoritatif dan kredibel. Pandangannya tentang masalah ini mengusung teori Wilayah Fakih yang juga diyakini oleh banyak sarjana Syiah.
Di masa kehidupannya, Mohagheh Karaki menjadi perhatian banyak kalangan, termasuk penguasa saat itu. Shah Tahmasb Safavi begitu terpesona oleh kepribadian dan posisi intelektualismenya, sehingga dia pernah berkata, "Anda berhak lebih dari saya untuk mengatur dan mengelola urusan negara. Sebab Anda adalah wakil Imam dan saya salah seorang pejabat Anda,".
Shah Tahmasb memberinya posisi Sheikh al-Islam, yang dianggap sebagai posisi religius tertinggi dalam urusan negara,". Mohaghegh Karki memanfaatkan sepenuhnya kesempatan ini untuk mereformasi urusan umat Islam dan menjalankan tugas dengan kemampuan terbaiknya.
Mohaghegh Karaki yang juga dikenal sebagao Mohaghegh Thani memulai pembahasan tentang Wilayah Fakih dengan masalah Imamah. Ia menganggap imamah sama pentingnya dengan Nubuwah dan menganggapnya sebagai salah satu prinsip agama.
Mohaghegh Thani berkata, "Dalil yang sama mengenai kebutuhan orang terhadap Nabi juga berlaku mengenai Imam. Orang selalu membutuhkan kepemimpinan dan bimbingan yang kuat di setiap zaman, karena selalu ada dorongan untuk menciptakan kejahatan."
Mengenai penolakan terhadap pemisahan politik dari agama, ia menjelaskan, “Tidak bisa dikatakan bahwa rakyat membutuhkan pemerintahan, penguasa dan pemimpin hanya dalam urusan dunia, atau pemerintahan hanyalah berhubungan dengan urusan duniawi saja. Sebab, urusan agama juga termasuk dalam sistem kehidupan dan dunia umat. Misalnya, meski pemberhentian dan pelantikan hakim adalah urusan agama, tapi juga bagian dari urusan duniawi rakyat,".
Karki menganggap tujuan kebangkitan para Nabi untuk menjadi pedoman umat di akhirat dan di dunia ini. Ia meyakini ibadah berkaitan dengan akhirat dan juga dunia. Oleh karena itu, hanya mereka yang diberi wewenang oleh Nabi Muhammad Saw untuk bertanggung jawab atas pelaksanaan aturan agama, dan siapa pun selain mereka yang memegang posisi ini adalah seorang tiran.
Selain masalah Nubuwah dan Imamah, Mohaghegh Karaki juga menjelaskan urgensi pemerintahan yang ketiga terkait dengan ketidakhadiran Imam al-Zaman. Dalam risalah shalat Jum'atnya, ia membahas tentang teori Wilayah Faqih dan mengungkapkannya dengan hadits dan argumentasi logis.
Ulama terkemuka Syiah ini mengungkapkan, "Para sahabat kami setuju bahwa ahli hukum Syiah yang adil dengan kondisi yang komprehensif (dengan syarat) dari fatwa - dan yang disebut mujtahid - pada saat tidak ada Imam, maka secara umum memiliki izin menjadi wakil para Imam. Oleh karena itu, kewajiban bagi masyarakat untuk menaati putusan yang dikeluarkan olehnya,".
Mohaghegh Karaki mengutip sebuah hadits yang dikenal di kalangan ulama sebagai "penerimaan Umar ibn Hanzalah", yang memandang ulama dengan persyaratan khusus yang ditetapkan oleh para Imam Maksum sebagai penerus Imam dengan wewenang yang sama.
Beberapa ulama percaya bahwa faqih harus diperkenalkan secara khusus dan oleh Imam Mahdi. Selama periode keghaiban kecilnya, Imam Zaman menunjuk empat orang sebagai wakil khususnya. Tetapi sebagian ulama terkemuka lainnya yang bertumpu pada riwayat yang dipandang kuat percaya selama Imam Zaman tidak ada, faqih dianggap sebagai wakil Imam, meskipun secara khusus nama orang tersebut tidak diumumkan oleh Imam.
Oleh karena itu, setiap faqih yang memiliki persyaratan khusus seperti keadilan dan ijtihad serta beberapa kemampuan manajerial dan kepribadiannya dianggap sebagai wakil Imam dan memiliki otoritas pemerintahan yang sama dengan Imam, dan umat Islam wajib mematuhinya.
Karaki meyakini bahwa seorang ahli hukum yang memiliki kewenangan untuk mewakili Imam Zaman pada saat ghaib harus memiliki ciri dan syarat khusus. Menurutnya, iman adalah salah satu syarat seorang faqih.
Keadilan adalah syarat lain dari Faqih. Kondisi lainnya adalah pengetahuan tentang Al-Quran dan Sunnah sampai dia bisa memahami aturan dengan mengacu pada keduanya. Berbagai syarat lain telah disebutkan dalam hal ilmu pengetahuan hingga tingkatan ijtihad.
Mohaghegh Karaki mengatakan bahwa faqih secara hukum diizinkan untuk menegakkan ketentuan ajaran Islam dan memberikan fatwa kepada umat. Menurut Karaki, dalam urusan keuangan pemerintahan Islam, zakat dan khumus serta kharaj merupakan ketentuan syariah yang harus dibayarkan kepada Faqih oleh muqalid. Ia juga menyatakan dalam Risalah Kharajiah bahwa hal-hal yang berkaitan dengan kharaj (pajak) telah dipercayakan kepada faqih selama masa keghaiban Imam Zaman.
Dalam masalah khumus yang merupakan kewajiban finansial bagi umat Islam, Mohaghegh Karaki mengungkapkan bahwa di masa keghaiban Imam, faqih dapat bertanggung jawab untuk mendistribusikan khumus di antara orang-orang yang berhak sebagai wakil Imam. Menurutnya, menyelesaikan masalah agama masyarakat dan menjawab pertanyaan mereka berdasarkan sumber agama juga merupakan salah satu tugas utama faqih.
Dalam pembahasan sholat Jum'at, Karaki juga memandang kehadiran Imam atau wakilnya sebagai syarat untuk melaksanakannya. Ia menentang argumen pihak yang menentang shalat Jumat di masa keghaiban Imam Zaman, seperti Sayyid Murtadhaa dan Ibn Idris Hali.
Para penentang berpendapat bahwa salah satu syarat shalat Jum'at adalah kehadiran Imam atau seseorang yang secara pribadi ditunjuk oleh Imam untuk melaksanakan sholat Jum'at. Oleh karena itu, menunaikan shalat Jumat pada saat keghaiban Imam Zaman dikecualikan. Oleh karena itu, ketika salat Jumat dilaksanakan tanpa kehadiran Imam Zman, maka shalat dhuhur tetap harus ditunaikan umat Islam.
Jika Imam Zaman hadir dan shalat Jum'at ditunaikan, maka shalat Dhuhur akan dilepaskan dari kewajiban umat di hari Jumat. Karaki menentang pendapat kelompok Faqih ini. Ia meyakini bahwa sejak Faqih diangkat oleh Imam Zaman pada umumnya, maka ia bisa menunaikan shalat Jumat.
Oleh karena itu, menurut Mohaghegh Karaki, faqih tidak hanya hadir untuk memberikan fatwa di kalangan masyarakat, tetapi juga melaksanakan shalat Jum'at adalah dalam kewenangannya. Sebab mereka memiliki memenang yang telah diberikan Imam Zaman sebagai wali pada umumnya.
Beliau sepenuhnya mendukung penyelenggaraan shalat Jumat di massa keghaiban Imam Mahdi dan meminta pertanggungjawaban ahli hukum untuk melaksanakannya. Masalah ini yang kurang diperhatikan oleh banyak ahli hukum sebelum dan sesudahnya, dan Karki secara eksplisit dan dengan bukti kuat mendukungnya.
Akhirnya, Mohaghegh Thani kembali ke Najaf Ashraf pada usia ke-70 tahun dengan meninggalkan pengaruh besar di dunia Syiah. Tetapi setelah beberapa hari kehadirannya di Irak, muncul berita menyakitkan tentang kesyahidannya.
Beliau gugur diracun oleh para penentangnya. Jenazah ulama terkemuka ini dimakamkan dengan rasa hormat yang khusus di kompleks makam Imam Ali di Najaf.
Konfrontasi serius pemikiran Syiah dengan pemikiran filsafat Barat
Salah satu karakteristik Abad ke-11 Hijriah Qamariyah adalah konfrontasi serius pemikiran Syiah dengan pemikiran filsafat Barat.
Oleh karena itu beberapa ulama besar Syiah terjun menghadapi pemikiran-pemikiran filsafat ini, dan berhasil membangun fondasi pemikiran filsafat Syiah dengan metode, dan sumber-sumbernya yang khas. Dalam hal ini Mir Damad memberikan kontribusi yang cukup besar dalam membangun pemikiran filsafat Syiah dan Dunia Islam.
Sejarah Syiah dan kehidupan para ulamanya di masa keghaiban Imam Mahdi af, merupakan sejarah yang sarat dengan pasang surut, namun dalam sejarah yang penuh peristiwa itu, ajaran Syiah berhasil mempertahankan keasliannya sebagai ajaran yang independen dan hidup di hadapan serbuan berbagai pemikiran. Kemampuan ini bagi sebuah ajaran yang selama berabad-abad dimusuhi oleh para penguasa Muslim, dan non-Muslim, lahir berkat tiang-tiang pemikiran Syiah yaitu Imamah dan Wilayah.
Mir Damad adalah seorang ulama Syiah Abad-11 Hijriah Qamariyah, masa yang penuh gejolak pemikiran itu. Ia seorang filsuf, teolog, fakih, dan penyair Syiah unggul di masa Dinasti Safawiah di Iran. Mir Damad merupakan ahli di bidang ilmu-ilmu Islam terutama fikih, tafsir Al Quran, dan hadis, dan ia memiliki pandangan mandiri dalam ilmu-ilmu ini. Akan tetapi keahlian yang lebih menonjol dalam dirinya sebagai ilmuwan adalah hikmah dan filsafat.
Ia adalah hakim terbesar di era Safavi yang kemunculannya di bidang pemikiran Isfahan, berhasil “mengguncang” filsafat. Oleh karena itu ia dikenal sebagai Guru Ketiga. Sebelumnya Aristoteles disebut sebagai Guru Pertama, kemudian Al Farabi, sebagai Guru Kedua. Mir Damad percaya aliran-aliran pemikiran terdahulu sangat sederhana dan pemula sekali, oleh karena itu ia berusaha menggabungkan sumber filsafat Yunani dengan visi Irfani, dan dengan menggunakan ajaran akidah Syiah, ia menyuguhkan sistem filsafat Islam yang dinamainya sendiri sebagai “Hikmah Yamani”.
Mir Mohammad Bagher Astarabadi yang lebih dikenal dengan Mir Damad termasuk tokoh penting dalam aliran filsafat Isfahan. Karya monumentalnya di bidang filsafat adalah Al Qabasat, dan murid terbaiknya adalah Mulla Sadra. Mir Mohammad lahir pada tahun 969 Hijriah Qamariyah. Ayahnya Sayid Mohamad Hossein Astarabadi, dan ibunya adalah putri dari Mohaghegh Karaki atau yang lebih dikenal sebagai Mohaghegh Sani.
Oleh karena itu sejak kanak-kanak Mir Damad sudah mendapatkan pendidikan dari ayah dan ibu yang unggul serta bertakwa, di sebuah keluarga berilmu. Mir Mohammad setelah menempuh pendidikan dasar berangkat ke kota Mashhad, dan di sana ia belajar kepada sejumlah guru terkemuka di Hauzah Ilmiah. Kemudian dengan maksud meraih cita-cita lebih tinggi dalam ilmu dan penelitian, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun di kota Qazvin, Herat dan Isfahan yang kala itu ketiganya merupakan pusat ilmu penting di Iran.
Guru-guru terpenting Mir Damad di antaranya adalah Sayid Ali Mousavi Amoli, Abdolali Amoli yang merupakan pamannya, dan Syeikh Ezzoddin Hossein Amoli, ayah dari Syeikh Bahai. Sepertinya perjalanan Mir Damad ke Qazvin, Herat dan Mashhad mengikuti gurunya Syeikh Ezzoddin yang karena faktor politik dan sosial, beberapa kali berpindah-pindah tempat tinggal.
Mir Damad
Syeikh Bahai putra Syeikh Ezzoddin merupakan teman dekat Mir Damad, banyak cerita yang mengisahkan kedekatan mereka berdua. Di antara cerita itu, dalam sebuah perjalanan kedua ulama besar ini pergi bersama Syah Abbas. Syeikh Bahai bertubuh langsing, dan menunggangi sebuah kuda ramping, dan berada paling depan dari semuanya. Sebaliknya Mir Damad memiliki tubuh tinggi besar, yang meski berusaha keras, namun kudanya tidak bisa berjalan lebih cepat. Syah Abbas yang menyaksikan hal ini kemudian ingin menguji kedekatan atau kecemburuan dua sahabat tersebut.
Setelah itu ia mendekati Mir Damad, dan dengan tersenyum menunjuk kepada Syeikh Bahai dan berkata, “Mir, lihatlah Syeikh Bahai tidak punya sopan santun, tanpa memperhatikan kita, pergi lebih cepat.” Mir Damad menjawab, “Bukan begitu, Syeikh Bahai adalah ilmuwan besar, dan kudanya karena mengetahui ditunggangi oleh orang semacam itu, bergairah dan bergerak lebih cepat.”
Lalu Syah Abbas memacu kudanya sampai mendekati Syeikh Bahai dan berkata kepadanya, “Sejauh yang saya lihat, para pemikir tidak terlalu banyak makan, tapi Mir Damad karena begitu rakus pada makanan, sampai badanya gemuk seperti itu.” Syeikh Bahai menjawab, “Bukan begitu, Mir Damad hanya rakus melahap ilmu, dan badannya yang gemuk itu tidak ada hubungannya dengan rakus makan. Kuda Mir Damad lelah dan berjalan lambat karena ditunggangi oleh orang mulia yang bahkan gunung pun tak sanggup menahan beratnya ilmu pengetahuan yang dimiliki orang itu.”
Masa-masa menempuh ilmu yang dijalani Mir Damad di Herat di bawah pengajaran Syeikh Ezzoddin Hossein adalah masa-masa yang kaya ilmu pengetahuan. Di akhir masa pembelajaran itu, Mir Damad kemudian dikenal sebagai seorang ulama unggul, dan ahli di bidang filsafat, fikih dan hadis. Setelah Syah Tahmaseb meninggal dunia, dan Syah Esmail Kedua naik tahta, kondisi bagi para ulama Syiah bertambah sulit, dan di masa ini para ulama berusaha menjauh dari pusat kekuasaan yaitu Qazvin.
Oleh karena itu Mir Damad dan Syeikh Bahai berpindah tempat dari Qzvin ke Isfahan, dan sibuk mengajar di sana. Hingga ketika kekuasaan sampai ke tangan Syah Abbas, dan menjadikan Isfahan sebagai pusat kekuasaan. Karena Syah Abbas sangat menyukai ilmu pengetahuan, para ulama Syiah kembali merasakan kebebasan dan keamanan, selain itu ilmu pengetahuan juga mengalami pertumbuhan cepat di masa ini. Isfahan di masa Syah Esmail memiliki banyak sekolah bagus, dan pelajar agama bekerja keras menuntut ilmu, dan ajaran Islam. Mir Damad mengajar filsafat di Madrasah Khoja Isfahan, dan Syeikh Bahai mengajar tafsir, fikih dan hadis di madrasah yang sama.
Mir Damad di masa hidupnya mendidik banyak murid, di antaranya yang kelak menjadi orang besar adalah Mulla Sadra, Abdolrazaq Lahiji, Mulla Mohammad Feiz Kashani, dan Mohaghegh Khansari. Mir Damad sendiri yang memilih murid, dan sebelum menerima mereka sebagai murid, Mir Damad akan menguji dan mewawancarai mereka. Orang-orang yang dianggap layak belajar hikmah akan diterimanya menjadi murid. Hakim bijaksana ini percaya bahwa hikmah jika berada di tangan orang-orang yang tidak bisa memahami dengan benar, maka akan menyebabkan kesesatan pada mereka, dan orang lain.
Salah satu murid terhebat Mir Damad adalah Sadr Al Motaalihin yang lebih dikenal sebagai Mulla Sadra, filsuf paling berpengaruh di era Safavi dan pencetus Hikmah Mutaaliyah. Hakim besar ini menganggap akal saja tidak akan cukup menjadi alat untuk mencapai hakikat hikmah, ia percaya wahyu Ilahi dan penyingkapan-penyingkapan Irfani harus menjadi sumber asli dan terpercaya bagi filsafat. Hikmah Mutaaliyah dalam tiga abad terakhir merupakan ajaran filsafat paling menonjol di Dunia Islam, dan menjadi perhatian para filsuf Barat.
Mir Damad menghasilkan lebih dari 50 karya besar dan berharga, yang kebanyakan ditulis tangan oleh dirinya sendiri. Karya terbesar Mir Damad di antaranya adalah Al Qabasat, Taqdisaat, Jazwaat, dan Sadruhul Muntaha. Buku Al Qabasat membahas tentang penciptaan alam semesta, buku Taqdisaat membahas Hikmah Ilahi, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan serta kerancuan tentang Tauhid, dan Keesaan Tuhan.
Jazwaat mencakup pendapat Mir Damad tentang filsafat, dan buku Sadruhul Muntaha adalah kitab tafsir Al Quran. Mir Damad juga menulis buku lain yang diberi judul “Al Rawasyih Al Samawiah” yang menjelaskan hadis, riwayat dan perkataan Imam Maksum as. Hakim besar ini juga menulis syair dengan tema-tema Irfani dan falsafi.
Mir Damad selain keunggulannya dalam teori, dalam akhlak dan sifat baik termasuk yang terdepan. Ia menganggap upaya manusia menjalankan perintah agama, dan mematuhi adab perjalanan spiritual atau suluk, sebagai penjamin kebahagiaan dan kesempurnaan manusia, dan ia sangat menaruh perhatian besar padanya. Ia sangat cinta membaca Al Quran, setiap malam ia membaca setengah Al Quran.
Ia juga sangat menekankan hal-hal mustahab termasuk shalat nafilah, tidak meninggalkan munajat kepada Allah Swt di malam hari, dan ia banyak berzikir, menyucikan diri. Ia makan dan tidur secukupnya, hanya sebagai upaya memulihkan tenaga untuk kembali menjalankan ibadah, meneliti, dan mengajar, tidak pernah menjadikan tidur dan makan untuk bersenang-senang dan mencari kenikmatan.
Kita sering menemukan nama tokoh-tokoh semacam Al Farabi, Ibnu Sina, Suhrawardi, Mulla Sadra dan yang lainnya di buku-buku sejarah filsafat, namun kita tidak pernah melihat nama Mir Damad. Kita akan terkejut karena orang yang telah mendidik murid semacam Mulla Sadra, dan menulis ratusan buku serta makalah ilmiah, namun sangat sedikit ditulis tentang pemikirannya.
Salah satu alasan mengapa sedikit sekali yang menulis tentang pemikiran Mir Damad adalah karena tingkat kedalaman dan kerumitan pemikirannya tentang filsafat yang tinggi, sehingga sulit untuk mengulasnya. Mir Damad percaya pemikiran luhur filsafat tidak boleh diberikan kepada orang bodoh yang tidak memiliki batin yang bersih, perasaan yang lurus, tekad yang kuat, dan kecerdasan yang memadai, karena orang-orang semacam ini ketika belajar hikmah yang melampaui pemahamannya, tidak diragukan akan menuju kesesatan, dan membawa orang lain ke dalam kesesatan.
Filsuf terkemuka Prancis, Henry Corbin menyebut alasan sulitnya penulisan karya-karya Mir Damad adalah upayanya menghindari pengkafiran dan pengejaran musuh yang di kemudian hari menyebabkan muridnya Mulla Sadra diasingkan.
Mir Damad
Mir Damad (Mir Mohammad Bagher Astarabadi) adalah seorang ulama Syiah Abad-11 Hijriah Qamariyah, masa yang penuh gejolak pemikiran itu. Ia seorang filsuf, teolog, fakih, dan penyair Syiah unggul di masa Dinasti Safawiah di Iran. Ia juga dikenal sebagai Guru Ketiga.
Pada abad ke-11, filsafat Islam mengambil lompatan yang signifikan, dan beberapa pemikir besar Syiah memfokuskan aktivitas mereka pada kebijaksanaan dan filsafat. Ada beberapa alasan mengapa para cendekiawan Muslim masuk ke Lembah Filsafat. Salah satu alasan ini tergantung pada sifat ilmu filsafat. Filsafat berarti berpikir tentang masalah paling umum dan mendasar yang kita hadapi dalam hidup dan di dunia.
Filsafat muncul ketika kita mengajukan pertanyaan mendasar tentang diri kita sendiri dan dunia. Pertanyaan seperti: Di mana kita sebelum lahir dan apa yang terjadi pada kita setelah kematian? Apa itu kecantikan? Apakah hidup kita dijalankan oleh orang atau kekuatan lain? Apakah dunia membutuhkan pencipta? Apa itu Tuhan? Apakah tujuan hidup? Apa itu kebahagiaan sejati? Dan puluhan pertanyaan seperti ini. Para filsuf mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan mengandalkan akal. Tetapi dengan sedikit perhatian kita melihat bahwa inilah pertanyaan-pertanyaan dasar yang juga coba dijawab oleh agama-agama ilahi.
Di antara berbagai agama, agama Islam, khususnya mazhab Syi'ah, lebih sejalan dengan ilmu filsafat karena pandangannya yang besar mengenai akal. Sifat pemikiran Islam, khususnya pemikiran Syi'ah, sesuai dengan rasionalitas, dan teks-teks agama penting Islam, termasuk Al-Qur'an dan hadits para maksumin, menekankan penggunaan akal yang benar dan ketaatan pada aturan rasional.
Dalam ajaran Islam, akal beserta wahyu merupakan otoritas dan petunjuk yang diberikan Allah kepada manusia untuk menemukan jalan petunjuk. Nahj al-Balaghah penuh dengan khutbah mistik dan filosofis Amirulmukminin Ali as dan riwayat para Imam lainnya, terutama Imam Baqir as, Imam Sadiq as dan perdebatan Imam Ridha as juga sarat dengan argumentasi rasional dan filosofis. Dengan demikian, hakikat pemikiran Syi'ah tidak pernah sepi dari pemikiran filosofis.
Dari sisi lain, saat itu ulama Syah juga menghadapi fenomena baru yang lain, menghadapi budaya Barat. Di era Safawi, bangsa Eropa banyak tinggal di Iran dengan berbagai alasan mulai dari pialang, wisatawan, pedagang dan bahkan dokter untuk menyebarkan agama Kristen. Sejarah mencatat bahwa pemerintah Eropa mengirim misionaris ke Iran untuk mengubah agama rakyat negara ini. Mereka berupaya mengubah keyakinan masyarakat dan mencitrakan bahwa Islam tidak benar dengan menyebarkan keraguan dan syubhat melalui buku-buku dan acara tabligh.
Di kondisi seperti ini, tugas ulama adalah membela agama secara rasional. Pembelaan dan penjelasan akan keyakinan agama sebelumnya diemban oleh para ulama dalam bentuk Ilmu Teologi. Ilmu Teologi menggunakan dua sumber, akal dan nakli (al-Quran dan hadis), dan memiliki metode khusus. Namun seperti yang disadari para filosof Syiah, metode falsafi lebih baik dari teologi untuk menjawab syubhat ini dan membela agama. Dengan demikian mereka semakin cenderung untuk menggali ilmu ini.
Di kalangan filosof Muslim, ulama seperti Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Khajeh Nasir al-Din Tusi, Shahab al-Din Suhrawardi, Mir Damad, dan Mullah Sadra memiliki gaya dan sistem filsafatnya sendiri. Sementara itu, ada banyak kesamaan antara sistem filsafat Ibnu Sina, Mir Damad dan Mulla Sadra. Tampaknya Mir Damad melanjutkan gerakan yang dimulai oleh Ibnu Sina dan diakhiri oleh Sadr al-Muta'allehin. Masing-masing orang bijak besar ini telah menciptakan titik balik dalam proses pemikiran Muslim.
Ibnu Sina adalah pengikut kuat Aristoteles dan filsafatnya, "filsafat Mashaa". Aristoteles, filsuf terbesar dari sekolah Yunani, percaya bahwa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar ini, manusia cukup menggunakan kecerdasannya dengan benar. Dengan mencoba merumuskan hukum-hukum berpikir yang benar (logika), ia berusaha mencegah manusia dari membuat kesalahan dalam berpikir, sehingga cahaya akal dapat memperjelas kebenaran.
Ibnu Sina sepenuhnya berkomitmen pada prinsip-prinsip filsafat Aristoteles, tetapi dia percaya bahwa akal dan agama tidak bertentangan satu sama lain, dan apa pun yang dihukumi akal, agama akan menerimanya. Dan di sisi lain, semua aturan agama, jika dipahami dengan benar, pasti disetujui oleh akal. Oleh karena itu, ia mencoba menerapkan filosofi Aristoteles pada prinsip dan keyakinan agama. Namun terlepas dari upaya Ibnu Sina untuk menyelaraskan filsafat dan agama, ia tidak terlalu berhasil di mata para kritikus.
Gagasan dan pemikiran Ibnu Sina sangat suci bagi para filosof setelahnya, dan untuk waktu yang lama tidak ada orang bijak yang berani mengkritik atau menolak gagasannya. Shahab al-Din Suhrawardi, yang dikenal sebagai Syekh Ishraq, salah satu orang bijak abad keenam Hijriah, adalah orang bijak Muslim pertama yang secara serius mengkritik teori-teori Ibnu Sina. Meskipun Syeikh Ishraq telah menerima banyak prinsip filsafat rasionalis Mashaa, dia percaya bahwa akal saja tidak cukup untuk menemukan seluruh kebenaran. Dia percaya bahwa manusia memiliki cara lain untuk mengetahui dan itu adalah pengalaman mistik. Dengan cara ini, ia mendirikan sistem filsafat Islam lain yang disebut "Filsafat Pencerahan" di mana mistisisme memiliki tempat khusus dalam menjawab masalah utama filsafat.
Mir Damad percaya bahwa Ibn Sina dan Suhrawardi, meskipun telah melakukan upaya yang terpuji, tidak berhasil menyesuaikan sistem filosofi mereka dengan Islam dan Syi'ah. Alasan untuk ini adalah kurangnya penguasaan yang memadai atas sumber-sumber agama dan metode mereka sesuai dengan akal dan syariah. Sebaliknya, Mir Damad telah menggunakan kehadiran para ahli hadits dan narasi terbesar selama bertahun-tahun, dan hidupnya dipenuhi dengan angin inspirasi dari kata-kata Maksum.
Orang bijak yang bijaksana ini, ketika masih remaja, diizinkan untuk meriwayatkan dari banyak ulama pada waktu itu dan mendominasi dan mengelilingi banyak sumber penting dari narasi Syi'ah. Ia juga sangat ahli dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an. Keunggulan ini membuat Mirdamad cukup berhasil dalam penerapan agama dan filsafat di atas para pendahulunya.
Mir Damad sebenarnya adalah pendiri filsafat mazhab Isfahan. Para pemikir besar yang telah terdidik dalam bidang pemikiran ini, selain sangat menyukai Al-Qur'an dan tafsirnya, juga sangat mengenal riwayat-riwayat para Imam (as). Mir Damad memainkan peran yang sangat penting dalam membangun filsafat Syi'ah berdasarkan hadits dan ajaran Islam. Dia menyelaraskan kosmologi Ibnu Sinai dengan Imamologi Syi'ah dan mendasarkan dasar ontologisnya pada keberadaan suci empat belas maksum.
Mir Damad mengkritik keras suasana intelektual seminari Isfahan dan mempersiapkan para pemikir untuk menerima sistem filosofis baru dan, lebih lengkapnya, sebuah revolusi filosofis. Dengan keyakinan yang tak tertandingi, ia menyebut ide-ide filosofis di hadapannya sebagai "kebodohan filosofis" dan menganggap kebijaksanaan dan filosofinya sebagai langkah besar dalam mereformasi dan mempromosikan filsafat Islam.
Tentu saja, orang bijak yang bijaksana ini, terlepas dari sikapnya terhadap masa lalu, tidak memasuki lembah ekstremisme fanatik, dan setelah mengkritik sekolah-sekolah sebelum dia, baik Islam maupun Yunani, dia menggunakan beberapa elemen dan metode yang berguna. Karena itu, ia sama sekali tidak menolak filsafat Yunani dan bahkan menganggap beberapa unsurnya berasal dari kebijaksanaan para nabi. Terlepas dari kritiknya terhadap jalan pemikiran filosofis sebelumnya, Mir Damad telah berperilaku sedemikian rupa sehingga orang lain mengenalinya sebagai kritikus yang adil dan brilian.
Mir Damad percaya bahwa kebijaksanaan sejati adalah kebijaksanaan yang diturunkan kepada umat manusia oleh Pencipta manusia dan melalui para nabi. Filsuf besar ini menyebut judul aliran filsafatnya "Kebijaksanaan Yamani" dan menyatakan dalam tulisannya bahwa "Kebijaksanaan Yamani" adalah kebijaksanaan dan rasionalitas yang sama yang telah terbentuk sepanjang sejarah di dunia Islam. Yuman adalah alegori dari bagian kanan atau timur lembah dari mana Nabi Musa mendengar pesan Tuhan.
Dalam pengertian ini, timur adalah sumber cahaya ilahi dan titik yang berlawanan dengan barat. Dia percaya bahwa kebijaksanaan (filsafat) ini mencakup metode dan teori benar dan salah yang perlu dikritik dan ditambah untuk mendekati kebijaksanaan Yuman yang dibawa oleh para nabi. Mir Damad menganggap dirinya sebagai kritikus dan pembaharu yang sama yang mampu membebaskan kebijaksanaan Yamani dari kesalahan dan kesalahpahaman dan membawanya ke posisi yang layak. Setelah dia, muridnya yang bijak "Hakim Mullah Sadra" mampu mengambil langkah besar dalam menegakkan filsafat Islam dengan membangun kebijaksanaan transenden, sehingga setelah tiga ratus tahun, beberapa filsuf Barat terbesar, termasuk "Henry Corben" duduk mendengarkan pelajarannya.
Mir Damad jatuh sakit parah pada 1040 H ketika dia dalam perjalanan ke Karbala dan Najaf untuk mengunjungi para Imam Maksum as, dan meninggal di dekat Najaf ketika dia berusia tujuh puluh tahun. Tubuh sucinya dengan hormat dibawa ke Najaf Ashraf dan dimakamkan di ambang pintu kompleks suci makam Imam Ali (as). Dengan demikian, buku kehidupan seorang bijak terkemuka dan besar di dunia Islam ditutup dan daun emas dan bercahaya ditambahkan ke sejarah mulia ulama. Semoga arwahnya bersama para auliya Allah.
Sadr al-Din Muhammad ibn Ibrahim Shirazi
Sadr al-Din Muhammad ibn Ibrahim Shirazi, filosof besar, mistikus dan komentator Syiah pada abad kesepuluh dan kesebelas dan pendiri aliran filsafat "Al-Hikmah Al-Muta’aliyah" sebagai aliran filsafat terpenting ketiga di dunia Islam.
Sadr al-Din Muhammad lahir pada tahun 979 H di kota Shiraz. Shiraz telah menjadi tempat kelahiran banyak tokoh besar ilmu pengetahuan dan budaya Iran. Ayahnya adalah orang terkenal di negeri itu yang tidak memiliki banyak anak meskipun kaya. Dia berdoa kepada Tuhan agar jika dia memiliki anak, dia akan mencurahkan sebagian dari kekayaannya untuk menyebarkan pengetahuan dan merawat orang miskin. Doanya terkabul dan dia menamai putra tunggalnya dengan nama Nabi Khatam (SAW), Muhammad. Muhammad menghabiskan pendidikan dasarnya di rumah ayahnya di bawah bimbingan guru privat, dan sejak awal pembelajarannya, kecerdasan dan kejeniusannya yang kaya diungkapkan kepada para guru.
Sadr al-Din Mohammad pergi ke Qazvin bersama keluarganya setelah pendidikan dasar. Qazvin pada waktu itu adalah ibu kota Safawi dan pusat ilmu pengetahuan, dan ulama besar seperti Syekh Baha'i dan Mirdamad mengajar di sana. Sadr al-Din Muhammad melanjutkan pendidikannya dengan para profesor tersebut dan mencapai tingkat ijtihad. Karena kondisi politik dan sosial, setelah beberapa saat Syekh Baha'i dan Mirdamad dan ulama besar lainnya bermigrasi dari Qazvin ke Isfahan.
Mulla Sadra yang awalnya masih muda, menemani mereka menikmati kehadiran orang-orang hebat tersebut. Dengan hadirnya para ulama tersebut, Isfahan menjadi pusat ilmiah terpenting Iran, yang menjadi tempat berkumpul dan belajar serta berdiskusi para ulama besar dari seluruh dunia Islam. Ketertarikan Shah Abbas Safawi pada sains dan pengetahuan dan rasa hormat yang dimilikinya terhadap ulama telah menyebabkan ulama Syiah, tidak seperti negara-negara Islam lainnya, memiliki keamanan dan perdamaian yang dapat diterima di Iran dan menyediakan landasan bagi pertumbuhan ilmiah Syiah.
Mulla Sadra duduk sebagai profesor penuh dan unik di sekolah-sekolah teologi Isfahan. Setelah beberapa saat, ia ditolak dan diejek oleh ulama lain karena pandangannya yang berbeda tentang masalah yurisprudensi dan filosofis, dan dituduh bid'ah dalam agama. Mulla Sadra, melihat bahwa dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin mengungkapkan fakta ilmiah, maka ia pergi ke Qom. Kota Qom selalu dianggap oleh para ulama Syi'ah karena menjadi tempat pemujaan putri Imam Musa bin Ja'far (as), Sayidah Fatimah Maksumah (as).
Hadis-hadis otentik telah diriwayatkan tentang kehormatan dan posisi Sayidah Maksumah (a)s yang menurutnya putri tercinta dari Imam ketujuh (as) ini memiliki posisi tertinggi dalam ilmu pengetahuan dan kesalehan setelah Imam Ridha as dan akan menjadi pendoa syafaat kaum Syi'ah di dunia di Hari Kiamat. Meskipun Mullah Sadra ditinggalkan di antara para ulama Qom, dia tidak meninggalkan komplek suci Sayidah Maksumah as dan di sebuah desa di kota ini, dia berlindung di sudut untuk membangun dirinya dan berperilaku dalam bayang-bayang berkah dari saudara perempuan tercinta Imam kedelapan (as).
Mulla Sadra tinggal di desa Kahak selama 7 tahun dan menurut riwayat lain selama 15 tahun. Cendekiawan hebat ini, yang telah menjauhkan diri dari sekolah dan seminari, mengajar dan menulis, juga mengubah penolakan dan kesepian menjadi kesempatan yang tak tergantikan untuk perbaikan diri dan selama tahap kesempurnaan. Selama periode ini, Mulla Sadra terlibat dalam ibadah dan perjuangan duniawi. Pemurnian jiwa dan melalui otoritas mistik, filsuf jenius Shirazi menjadi mistikus yang lengkap. Dia sekarang melihat dengan mata jiwanya apa yang telah dia pelajari dari kebenaran alam semesta dengan kekuatan kecerdasannya.
Mulla Sadra berutang pencapaian posisi tinggi dalam sains dan mistisisme atas munajat dan permohonan yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan terkait hal ini ia menulis, ...Akhirnya, karena panjangnya perjuangan dan banyaknya latihan, cahaya ilahi bersinar di dalam jiwaku dan hatiku tersulut oleh nyala api intuisi. Cahaya Malakooti diberikan kepadanya dan rahasia Jabrut diungkapkan kepadanya, dan setelah itu saya menemukan rahasia yang tidak saya ketahui di masa lalu, dan rahasia ditemukan untuk saya yang belum saya temukan melalui bukti, dan semua misteri Allah dan kebenaran riba dengan bantuan akal.Dan saya memahami argumen, saya menemukannya lebih jelas dengan intuisi dan visibilitas. Di sinilah pikiran saya menjadi tenang dan angin kebenaran bertiup di atasnya, pagi dan sore dan malam dan siang, dan itu datang begitu dekat dengan kebenaran sehingga selalu duduk bersamanya dalam doa."
Rumah Mulla Sadra di desa Kahak Qom
Setelah masa isolasi, periode ketiga kehidupan Mulla Sadra dimulai. Orang bijak yang bijaksana ini, setelah lama memperbaiki diri, mulai menulis buku Asfar sebagai karyanya yang paling penting. Dengan menulis buku ini, Mulla Sadra memperkenalkan sistem filosofis baru yang kemudian dikenal sebagai "kebijaksanaan transenden" dan telah menjadi sistem filosofis terkuat dan terpopuler di dunia Islam sejak saat itu. Dua karakteristik kebijaksanaan transenden adalah pendekatan mistiknya dan kesesuaian akal dan wahyu dalam sistem filosofis ini. Sebelum Mulla Sadra, para filosof besar lainnya seperti Ibnu Sina, Suhrawardi dan Mirdamad telah mencoba menghadirkan sistem filsafat yang sesuai dengan sistem agama Islam. Karena didasarkan pada keyakinan bahwa agama tidak bertentangan dengan akal, dan oleh karena itu temuan akal sehat harus sesuai dengan apa yang telah sampai kepada manusia melalui wahyu. Masing-masing orang bijak ini mencapai kesuksesan dan mengambil langkah menuju tujuan ini, tetapi tujuan penting ini dicapai oleh Mulla Sadra, dan sistem filosofis yang dia bangun tetap tak tertandingi selama tiga ratus tahun terakhir.
Mulla Sadra dalam Hikmah Mutaaliyah menjelaskan dan membenarkan masalah filsafat dengan menggunakan metode akal, narasi (ilmu-ilmu pewahyuan) dan penemuan mistik dan intuisi. Kebijaksanaan transenden mengacu pada pengetahuan dan pengetahuan yang mengandung rahasia dan kebenaran yang diambil dari khazanah kebijaksanaan ilahi, yang pemahamannya di luar akal. Orang bijak ini, selain filsafat-filsafat sebelumnya, telah memberikan perhatian khusus kepada Al-Qur'an, hadits, teologi dan tasawuf sebagai sumber kebijaksanaan transenden, dan metodenya adalah kombinasi dari pengetahuan Al-Qur'an, mistik dan rasional. Sadr al-Mutallahin dalam karya tulis filosofisnya yang paling penting disebut; "Kebijaksanaan transenden dalam empat perjalanan intelektual" telah menjelaskan dengan baik prinsip dan dasar sistem filosofis ini.
Sekitar tahun 1040 H, Mulla Sadra kembali ke Shiraz. Tampaknya penguasa Persia telah mengundangnya ke Shiraz untuk menjalankan sekolah besar. Mulla Sadra juga mengajar filsafat, tafsir dan hadits di Shiraz dan membesarkan murid-muridnya. Kali ini, seperti periode pertama tinggalnya di Shiraz, ia berada di bawah tekanan fitnah dan fitnah sesama ilmuwan, tetapi saat ini, Sadr al-Muta'allehin adalah seorang bijak yang lengkap dan terkenal dan memutuskan untuk menahan tekanan mereka. dan memperkenalkan serta mendirikan sekolahnya.
Dia bukan lagi seorang ilmuwan muda tetapi seorang mistikus lengkap dan mistikus yang tidak dapat dengan mudah dihilangkan dari bidang studi dan perdebatan oleh para simpatisan. Dengan cara ini, Mullah Sadra mampu memperkuat fondasi kebijaksanaan transenden dan melatih siswa, yang masing-masing membantu memperdalam dan memajukan sekolah ini. Mullah Mohsen Fayz Kashani dan Fayyaz Lahiji adalah murid terbesarnya.
Mulla Sadra telah meninggalkan lebih dari lima puluh karya tertulis dalam ingatannya.Karyanya yang paling penting dan terkenal disebut Asfar, yang telah kami sebutkan sebelumnya. Selain banyak karya filosofis, ulama besar ini juga telah menulis buku-buku tentang tafsir Al-Qur'an dan penjelasan prinsip-prinsip yang memadai. Selain menulis buku, ia telah berjasa besar bagi kemajuan ilmu dan pengetahuan di dunia Syi'ah dengan mendidik para ulama terkenal. Mulla Sadra meninggalkan enam anak, yang masing-masing telah mendapatkan cukup banyak manfaat dari ilmu-ilmu keislaman dan dianggap sebagai salah satu pemikir terkemuka pada masanya.
Hakim Mulla Sadra menunaikan haji tujuh kali selama 71 tahun hidupnya. Perjalanan haji dianggap sebagai perjalanan yang sulit bahkan hari ini, meskipun fasilitas transportasi dan komunikasi canggih. Tentu saja, 300 tahun yang lalu, ketika para peziarah melakukan perjalanan ke padang pasir dalam bentuk karavan dengan kuda dan unta, perjalanan ini memiliki kesulitan tersendiri. Namun Mulla Sadra, menurut nasehat dan tradisi para pemuka agama, telah melakukan perjalanan seperti itu sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki. Perjalanan ketujuhnya ke Ka'bah terjadi pada usia tujuh puluh satu tahun, dan selama perjalanan inilah masa hidupnya yang diberkati berakhir dan dia meninggalkan dunia material. Jenazah filosof dan mistikus besar Syi'ah ini dipindahkan ke kota Najaf dan dimakamkan di "serambi para ulama", yaitu di sisi kiri halaman tempat suci Imam Ali (as), Imam Syi'ah pertama.
Bersama Imam Husein as; Asyura, Simbol Kebenaran dan Kebatilan (10)
Siang hari Asyura. Paruh kedua siang hari dan langit berwarna merah darah. Hari ini, hari kesepuluh bulan Muharram atau Asyura. 1382 tahun berlalu dari peristiwa Asyura tahun 61 H. Dunia memanas dan sakit. Ini tahun kedua pecinta Husein tidak menggelar acara duka di masjid karena menjaga protokol kesehatan. Masyarakat dihimbau untuk tidak berkumpul.
Masyarakat menggelar acara duka Husein di lapangan dan tempat terbuka. Para pecinta Husein dengan mengenakan masker mulai berduka, memukul dada dan menangis. Jalan-jalan diwarnai kain hitam dan jalan-jalan terdengar suara khutbah tentang Imam Husein dan Sayidah Zainab. Para Maddah melantunkan syair dan puisi mereka di jalan-jalan dan sambil mengendarai unta. Seakan-akan saat ini Husein menjadi korban kebodohan dan kezaliman zamannya.
Hari ini, hari Asyura. Siang hari yang panas pun tiba dan langit berwarna merah darah. Imam Husein as, cucu tercinta Rasul dan penghulu pemuda surga dikepung musuh. Untuk terakhir kalinya, Imam mengucapkan salam perpisahan dengan keluarganya. Ia mengambil anaknya yang masih bayi dan mengangkatnya sehingga hujjah terpenuhi bagi semua orang bahwa saya di jalan ini bahkan membawa anak bayiku. Tapi musuh menjawabnya dengan panah yang mengenai tenggorokan bayi kecil ini. Dengan sangat sedih Imam melemparkan darah bayinya tersebut ke langit dan memohon Allah menerima kurban ini.
Saat-saat yang sulit berlalu, namun Imam yang semakin dekat dengan kesyahidan, wajahnya semakin tenggelam dan keberadaannya penuh dengan kecintaan kepada Tuhan. Ia berperang seakan-akan Singa Allah, Ali bin Abi Thalib yang sedang berperang. Ia menunaikan shalat terakhir di bawah hujan panah dan kini para sahabatnya telah gugur. Ia sendirian di tengah medan perang. Tiba-tiba Zur’ah bin Syarik memukul mam dari sisi kiri dan mengenai pundak beliau. Imam kehilangan keseimbangan dan turun dari kudanya dengan luka yang parah. Tapi keagungannya membuat musuh tidak berani datang membunuhnya. Tidak ada yang berani memotong kepala cucu tercinta Rasulullah ini.
Selanjutnya orang yang berhati batu dan sadis mengayunkan pedangnya ke kepala Imam Husein as. Pedang tersebut mengoyak penutup kepala Imam dan mengenai kepala mulia beliau. Darah mengalir dari kepala suci ini. Namun uniknya saat itu, Imam dengan hati penuh harap dan cinta akan pertemuan dengan Allah, mulai bermunajat, “Ya Allah! Aku ridha dengan keridhaan-Mu dan aku menerima segala urusan yang Kamu tentukan.”
Umar bin Saad, komandan pasukan Yazid berteriak, “Celaka kalian ! Turunlah kalian dari kuda dan selesaikan urusan Husein !
Sinan bin Anas turun dari kudanya dan pergi ke atas kepala Imam. Kemudian ia menurunkan pedangnya ke tenggorokan Imam dan berkata, “Aku bersumpah akan memisahkan kepala dari badanmu, meski aku tahu kamu anak Rasul dan ayah serta ibumu adalah orang terbaik di muka bumi.”
Langit semakin kelam dan gelap. Kebenaran berada di ujung tombak. Husein dengan bibir kering melantunkan ayat al-Quran dan epik besar Asyura mencapai puncaknya.
Di antara semua peristiwa sejarah, peristiwa Asyura semakin terlihat setiap hari dan telah menambah umur panjang kebesaran peristiwa Asyura dan membuatnya lebih sejahtera sejauh orang-orang saat ini merasa dan menjadi milik Imam Husein as dan filosofi epik Hosseini yang mereka ambil. Sungguh, unsur apa yang ada dalam peristiwa Asyura yang menyinari kegelapan sejarah dan semakin banyak hati yang memperhatikannya setiap hari?
Dari sudut pandang para pakar, adegan menyakitkan Asyura dan tindakan keji yang dilakukan terhadap Imam dan keluarganya bukanlah hasil dari pikiran yang sehat dan terarah. Darah murni keluarga Nabi Saw yang mengalir di pasir gurun Karbala tidak seperti aliran air biasa. Darah itu adalah darah orang yang paling baik dan paling mulia yang telah berulang kali dipesankan oleh Nabi Saw. "Orang seperti itu tidak akan pernah berada di jalan yang salah dan pembunuhnya benar.”
Karakter besar ini telah menghiasi lembaran sejarah dengan kebebasan, tuntutan kebenaran dan akhlak utama yang indah. Ketika terbuka peluang untuk meraih harta benda dan kekayaan duniawi, serta Husein mampu menyelamatkan dirinya dari kematian, namun ia tidak melakukannya. Imam Husein as bangkit melawan arus kebatilan berdasarkan seruan al-Quran yang meminta manusia berjihad dengan harta dan nyawanya di jalan Tuhan. Tanpa rasa takut akan kekuatan musuh, dan berbeda dengan arus yang marak di zaman itu, Husein mengambil langkahnya sendiri. Ia menyeru masyarakat kepada penyembahan Yang Esa dan kebahagiaan serta mengingatkan masyarakat yang lalai. “Apakah kalian tidak menyaksikan kebenaran tidak dijalankan dan kebatilan tidak dicegah ?”
Peristiwa Asyura mewakili perjuangan antara benar dan salah sepanjang sejarah. Benar berarti segala sesuatu yang sesuai dengan kenyataan yang ada. Artinya, subjek yang kuat dan stabil di mana kepalsuan tidak mungkin terjadi. Dalam ayat-ayat Al-Qur'an, esensi suci Tuhan adalah realitas terbesar yang tidak dapat disangkal dan dunia yang diciptakan oleh Tuhan didasarkan pada standar kebenaran. Dalam ayat 62 Surah Al-Hajj, dinyatakan: “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar."
Oleh karena itu, dasar dari kerja alam semesta adalah aturan hukum dalam semua komponennya. Itulah sebabnya mereka mengatakan bahwa yang benar itu asli dan yang batil itu tidak stabil. Al-Qur'an mencontohkan kepalsuan seperti buih di atas air, yang bisa dihancurkan. Dalam ayat 17 Surah Ar-Ra'd, Ia mengatakan: "Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” Oleh karena itu, siapa saja yang mengikuti jalan kebenaran maka ia akan bahagia dan selamat, dan sebaliknya seluruh kegagalan dan kesengsaraan milik mereka yang memiliki kebatilan.
Ahlul Bait nabi di samping al-Quran seperti bendara dan simbol-simbol adalah poros kebenaran dan bertanggung jawab memberi petunjuk umat. Kapan pun kebenaran keluar dari relnya, mereka akan mengembalikannya di tempat yang semestinya dan menjahui kebatilan. Dengan demikian di badai peristiwa yang ada, hanya dengan berlindung kepada Ahlul Bait nabi kita akan selamat dan tetap berada di jalan kebenaran.
Imam Ali as di khutbanya di Nahjul Balaghah mengatakan, “Kemana kalian pergi dan menghadap arah mana? Bendera kebenaran berkibar dan indikasinya nyata. Meski cahaya petunjuk bersinar, kalian tetap tersesat, kemana kalian pergi dan mengapa kebingungan, sementara ahlul bait nabi berada di tengah kalian ? Mereka adalah pemimpin kebenaran dan bendera agama serta bahasa yang benar dan jujur. Tempatkan mereka di tempat terbaik seperti yang dianjurkan al-Quran (di hati dan kalbu yang bersih) dan datangilah sumber air mereka untuk memenuhi dahaga kalian.”
Ketika Imam Husein as mengangkat panji-panji kebenaran dan kebajikan dan semua kebajikan dan keutamaan manusia; Umayyah dan tentara Yazid yang keras hati dan haus darah menorehkan kejahatan yang menunjukkan pencemaran spiritualitas dan moralitas kelompok batil, dan menunjukkan akhir dari kesombongan dan orang kafir. Hari ini, kelompok beberapa ratus ribu orang pasukan Yazid bukan hanya bukan nama dan tanda-tanda mereka hilang, tetapi dalam sejarah, mereka dikenal karena kekejaman, kesadisan, dan kebiadaban mereka. Kini, hanya nama Husein bin Ali as dan beberapa sahabatnya yang menggugah hati, dan para pencari kebenaran menjadikan jalan dan petunjuk Husein dalam menghadapi kebatilan, sehingga mereka tidak akan tersesat di jalan yang berlika-liku ini.
Demikianlah gugurnya cucu tercinta Rasulullah Saw di hari Asyura menciptakan semangat dan epik di jiwa manusia serta menghancurkan perasaan terpenjara dan kehinaan yang menguasai masyarakat, dan memberi kehormatan kepada umat manusia. Dengan demikian, keagungan dan kebangkitan manusia dapat disaksikan di setiap tahap dari kebangkitan Husein as. Hurr bin Yazid Riyahi merupakan orang pertama yang menyadari kebenaran kebangkitan Husein dan memisahkan diri dari kelompok batil serta bergabung dengan kafilah kebenaran. Kemudian kesadaran ini terus berlanjut.
Bersama Imam Husein as; Hari Tasu’a (9)
Sudah beberapa hari di tenda-tenda kafilah Husein tidak ada tanda air, karena sejak hari ketujuh, Umar bin Saad menutup air bagi mereka.
Hari ini, hari kesembilan bulan Muharram dan dikenal dengan Hari Tasu’a. Imam Shadiq as berkata, “Tasu’a adalah hari di mana Husein dan pengikutnya dikepung di Padang Karbala, dan pasukan Syam mengelilinginya serta mencegahnya bergerak. Dan anak Marjanah (Ibnu Ziyad) dan Umar bin Saad di hari itu sangat gembira karena memiliki pasukan besar dan Husein serta pengikutnya lemah. Mereka yakin bahwa Husein tidak lagi memiliki penolong dan rakyat Irak tidak akan menolongnya.”
Sudah beberapa hari tidak ada air di tenda kafilah Husein, karena sejak hari ketujuh, Umar bin Saad menutup air bagi mereka. Anak-anak kehausan. Tekanan ini dimaksudkan supaya Husein terpaksa berbaiat kepada Yazid, khalifah yang tak layak dan fasiq, yang memberi kesesatan dan kesengsaraan kepada rakyat. Husein tidak pernah bersedia menerima baiat ini dan mengatakan, “Mati dengan hormat lebih baik dari hidup penuh kehinaan.”
Shimr ibn Dhi 'l-Jawshan dengan empat ribu pasukan bergabung dengan pasukan Umar bin Saad, dan memberikan surat Ibnu Ziyad kepada Umar. Di surat tersebut, kekejaman Yazid tidak lagi disembunyikan. Ia menulis, “Umar ! Aku tidak mengirimmu untuk berdamai dengan Husein. Kini ketika suratku tiba, jika Husein mengabaikan usulan kami, maka seranglah dia. Bunuh dia beserta pengikutnya. Setelah kamu bunuh, mutilasi mereka. Setelah kamu bunuh Husein dan pengikutnya, injak-injaklah tubuh mereka dengan kuda. Aku tahu bahwa setelah mati, mengirim kuda untuk menginjak-injak tubuh mereka tidak ada manfaatnya, tapi karena sudah terlanjur keluar dari mulutku, maka harus kamu lakukan dan jika kamu memperhatikan ucapanku ini, maka kamu terhormat disisiku.”
Menyusul surat ini, pergerakan pasukan Umar bin Saad di Padang Karbala meningkat drastis. Mereka karena tidak berhasil membuat Husein menyerah, maka mereka siap berperang. Imam Husein as mengirim saudaranya, Abbas kepada mereka. Ketika menyadari keinginan perang mereka, Imam kembali mengirim Abbas kepada mereka dan berkata, “Saudaraku, minta waktu satu malam kepada mereka. Allah mengetahui bahwa aku sangat mencintai shalat, membaca al-Quran, doa dan istighfar.”
Shimr dari kabilah Bani Kilab dan memiliki hubungan famili dengan ibu Abbas, saudara Imam Husein as. Ia mengirim surat pengampunan dan jaminan keamanan kepada Abbas dan saudaranya, sehingga mereka terpisah dari pasukan kebenaran. Abbas, sang pembawa bendera epik Karbala dan legenda keberanian dan kebijaksanaan serta sangat cinta kepada Husein, kepada Shimr berkata, “Aku tidak akan berpisah dari Husein! Sungguh celaka kamu! Celaka kamu dan persetan dengan surat jaminan keamananmu ! Semoga Allah melaknat kalian dan surat jaminanmu ! Kami aman, tapi anak putri Rasulullah tidak.”
Mentari di hari kesembilan bulan Muharram (Tasu’a) bersinar dan kemudian kegelapan malam tiba. Imam Husein as mendatangi sahabatnya untuk menyempurnakan hujjahnya bagi mereka. Setelah memuji Tuhan, Imam berkata, “Sadarilah bahwa aku mengijinkan kalian untuk pergi; Pergilah kalian dan aku lepas baiat dari pundak kalian dan aku tidak memiliki perjanjian denganmu tentang diriku sendiri. Kini malam telah tiba dan dapat menutupi diri kalian; Gunakan kegelapan malam untuk melarikan diri dan berpencarlah kalian.”
72 pahlawan pasukan Husein as yang memiliki pengetahuan dan kebaikan khusus, sangat mencintai Imam dan menunjukkan kesetiaan dan pengorbanan di jalan Imam.
Ketika Imam kembali ke tenda, dihadapan pandangan khawatir Sayidah Zainab berkata, “Aku bersumpah, aku menguji mereka dan aku menemukan mereka sebagai lelaki yang menjadikan dadanya sebagai perisai, seakan-akan mereka menyaksikan kematian di pelupuk mata dan kematian di jalanku seperti bayi yang menyusu.”
Hubungan menakjubkan pengikut Imam Husein dengan beliua yang ditulis dengan tinta emas di sejarah adalah hasil dari sikap konsisten terhadap janji dan pakta ilahi serta iman mereka terhadap pilihan jalan dan tujuannya. Memenuhi dan konsisten dengan janji indikasi keagungan ruh dan hal ini meningkatkan kelezatan hidup sejati manusia. Konsisten dengan janji adalah bawaan murni dan berharga di epik Huseini. Bawaan yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan lalai akan hal ini akan membuat kejatuhan manusia.
Allah Swt di ayat ke-23 dan 24 Surah al-Ahzab menyebutkan salah satu indikasi iman adalah komitmen dengan janji dan pakta. Allah berfirman yang artinya, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya), supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Imam Husein as membaca ayat ini di hari Asyura saat menyebutkan sifat para sahabat dan pengikutnya.
Kepastian dan keyakinan yang teguh pada janji dan imbalan ilahi juga merupakan hak istimewa para sahabat Imam Husein as. Mereka yakin bahwa mereka telah mengambil langkah menuju kemakmuran dan keselamatan, dan bahwa posisi tinggi menanti mereka. "Kepastian" disebut sebagai rukun iman dan sebagai ciri utama para sahabat Imam Husein as dalam insiden Karbala dan mengabadikan penciptaan epik ini. Apa yang ada di gurun Karbala juga di medan perang lainnya, tetapi unsur kepastian dalam diri para sahabat Husein membuat semua orang menyaksikan semua keindahan dan pengorbanan diri di Karbala ini.
Pada hari Asyura, Amr ibn Khalid berkata kepada dirinya sendiri selama pertempuran: "Hai jiwa, pindah ke Yang Maha Penyayang, beri Anda kabar baik kemudahan dan kehidupan yang mudah, pada hari itu (kebangkitan) Anda akan dibalas dengan kebaikan."
Di antara pengikut Imam, Sayidina Abbas terkenal dengan sifat pengorbanan dan kesetiaannya. Orang-orang ketika hari Tasu’a tiba, mereka teringat keagungan dan sifat ksatria Abbas. Sosok yang terdidik dengan keberanian di bawah pendidikan ayahnya dan unggul di bidang kebaikan dan sifat mulia. Di Karbala, ia pembawa bendera pasukan Husein. Di pasukan ini, ia bertugas mengawal dan melindungi saudaranya, penjaga tenda dan sandaran pasukan Husein. Ia juga bertanggung jawab menjaga keamanan dan kesejahteraan keluarga Ahlul Bait as. Selama Abbas hidup, wanita dan anak-anak di tenda akan merasa aman, karena musuh ketika melihat Abbas mereka ketakutan serta tidak berani mendekati tenda kafilah Husein.
Sayidina Abbas terlepas dari hubungan persaudaraan, meyakini Imam Husein as sebagai pemimpin dan imamnya, dan dengan iman terhadap kebenaran jalan dan tujuan Imam, ia tidak pernah lalai menyertai junjungannya ini dan membelanya. Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei terkait kesetiaan Sayidina Abbas mengatakan, “Kesetiaan Abul Fadh Abbas semakin terkuak di kasus ini, di Furat dan sikapnya yang tidak bersedia meminum air meski air Furat ada didepannya...Seperti diriwayatkan bahwa saat ini dan di detik-detik terakhir, anak-anak kecil, anak perempuan serta penghuni tenda Husein sangat kehausan...Rasa dahaga ini memaksa mereka meminta air kepada Imam Husein dan Abbas..Imam dan Abbas pergi ke sungai Furat untuk mengambil air. Kedua saudara pemberani ini saling melindungi dan berperang.....
“....Satu sisi Imam yang mendekati usia 60 tahun, tapi dari sisi keberanian dan kekuatan, ia sangat terkenal. Dan yang lainnya, seorang pemuda 30 tahun lebih, Abul Fadhl Abbas dengan karakteristik yang dikenal semua orang. Kedua saudara ini saling melindungi dan menyerang pasukan musuh serta membongkar blokade musuh untuk pergi ke sungai Furat dan mengambil air. Di kondisi seperti ini, Abbas semakin dekat dengan air dan sampai ke pantai. Seperti disebutkan diriwayat, Abbas memenuhi tempat air untuk anak-anak dan wanita di tenda Husein. Di sana pasti tidak ada yang mencela jika ia meminum seteguk air, karena ini adalah haknya dan ia sangat kehausan juga. Tapi di kondisi, Abbas menunjukkan kesetiaannya. Abbas ketika mengambil air, saat matanya memandang air, ia memikirkan saudaranya Husein yang tengah kehausan, ia ingat bibir kering Husein, mungkin ia ingat teriakan kehausan anak perempuan dan anak-anak lain di tenda, mungkin juga ia teringat tangisan kehausan Ali Asghar (anak Imam Husein yang baru berusia enam bulan), dan hatinya tidak ingin meminum air. Ia menumpahkan air di tangannya. Saat itulah tragedi terjadi pada Abbas hingga guhur syahid.”
Bersama Imam Husein as; Motif Kebangkitan Imam Husein (8)
Imam Husein as sejatinya diundang untuk menerima kezaliman yang Nabi Muhammad diutus untuk menyingkirkannya (kezaliman) di dunia. Husein diajak untuk menguburkan nilai-nilai yang dijaga manusia terbaik, Ali, Fatimah dan Husan as serta yang ditegakkan oleh mereka dengan darah. Pastinya sosok besar seperti Imam Husein menolak ajakan seperti ini.
Siapakah sebenarnya Husein yang membuat seluruh alam tergila-gila ? Mengapa Husein bangkit melawan khalifah di zamannya? Mengapa ia tidak seperti ayah dan saudaranya memberi nasihat, musyawarah dan berdamai? Dan mengapa beliau mengorbankan orang-orang yang dicintainya di perjuangan ini?
Khalifah waktu itu adalah Yazid bin Muawiyah yang hanya memikirkan kekuasaan dan kekayaan. Ia menganggap Husein juga seperti dirinya, ingin merebut kekuasaan dan kekayaan serta menduduki istana. Tentu saja, inilah yang dia ingin orang lain anggap benar, jika tidak Yazid memahami bahwa tujuan Imam adalah menghidupkan kembali Islam dan di Islam tidak ada artinya kesultanan dan kerajaan yang diwariskan. Oleh karena itu, Yazid berusaha keras mencegah Imam mencapai tujuannya, sehingga ia tidak kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari nyawanya.
Solusi terbaik bagi Yazid untuk meraih tujuannya adalah sebelum terlibat perang dengan Imam Husein, ia menyusun perang propaganda dengan menyesatkan kebenaran dan menyembunyikan tujuan utama Imam dari pikiran masyarakat. Ia harus meyakinkan rakyat bahwa jika Husein menjadi khalifah, hukum tidak berbeda. Husein juga mengejar kekuasaan bumi Muslimin untuk menguasai Baitul Mal. Rakyat harus mengasumsikan secara pasti bahwa Baitul Mal milik mutlak Amirul Mukminin dan tidak ada yang berhak mengintervensinya.
Yazid berhasil membuat kebohongan ini sebagai kebenaran dihadapan masyarakat, karena rakyat bodoh terhadap agamanya. Tidak ada cendikiwan dan ahli berpikir di agama, dan mereka tidak memiliki wawasan agama. Mereka tidak mengetahui bahwa Islam datang untuk mencabut peluang arogansi orang-orang seperti Yazid. Mereka tidak mengetahui Baitul Mal hak seluruh umat muslim dan harus dialokasikan untuk memajukan dan mengembangkan Islam serta perkembangan materi dan spiritual umat, bukannya digunakan untuk berfoya-foya segelintir orang.
Muslim tidak membayar khumus dan zakat jika seseorang atau orang-orang tertentu dengan mudah dan tanpa batasan melanggar semua nilai-nilai Islam, minum alkohol dan mengadakan pertemuan yang berdosa. Muslim tidak bisa dan tidak boleh menyetujui pemerintah yang berkuasa yang mengabaikan aturan Islam, melarang apa yang dihalalkan Allah, dan melarang apa yang halal bagi-Nya, secara terbuka, di bawah panji agama dan atas nama Islam.
Ini adalah kemungkaran yang sama yang mencapai puncaknya pada masa Yazid, dan Imam (as) tidak hanya mengaggap diam tidak hanya layak baginya tetapi juga layak bagi setiap orang beriman. Husein bangkit untuk mencegah kemunkaran besar ini, yang merupakan akar dari korupsi sosial dan pribadi lainnya. Dia tahu bahwa akhir dari kebangkitannya ini hanyalah kesyahidan dan pertumpahan darah dia dan keluarganya dan semua sahabatnya, tetapi ini adalah tugas agama yang harus dilakukan bahkan dengan mengorbankan nyawanya.
Imam Husein as sejatinya diundang untuk menerima kezaliman yang Nabi Muhammad diutus untuk menyingkirkannya (kezaliman) di dunia. Husein diajak untuk menguburkan nilai-nilai yang dijaga manusia terbaik, Ali, Fatimah dan Husan as serta yang ditegakkan oleh mereka dengan darah. Pastinya sosok besar seperti Imam Husein menolak ajakan seperti ini.
Ketika gubernur Madinah meminta Husein berbaiat kepada Yazid, Imam sangat marah dan langsung menolaknya. Di malam hari ia berziarah ke pusara kakeknya, Rasulullah Saw dan ketika bermunajat kepada Tuhan, ia berkata, “Ya Allah ! Ini pusara Nabi-Mu, Muhammad Saw dan aku anak dari putrinya. Kamu mengetahui apa yang menimpa diriku. Ya Allah ! Aku menyukai yang makruf dan membenci kemunkaran.” Dari perspektif Imam Husein, ketika umat Islam dipimpin oleh seorang pemimpin seperti Yazid, maka harus diucapkan salam perpisahan kepada Islam.
Di kondisi seperti ini, surat dari warga Kufah membanjiri Mekah, muslim yang mengklaim tidak akan berbaiat kepada Yazid dan siap untuk melawan kezaliman dan kemunkaran yang dibangun Yazid. Mereka menulis kepada Imam, “Kebun-kebun penuh buah dan penunggang kuda telah siap berperang, kesinilah, karena tidak ada pemimpin yang kami kenal kecuali Anda. Cepatlah para pecintamu tengah menanti kedatangan Anda.”
Meski ada kesiapan warga Kufah, Imam Husein as yang paling layak untuk memimpin umat Islam, melihatnya sebagai kewajiban agama dan syar’inya untuk membela keadilan dan pembentukan pemerintahan Islam yang sejati. Ini adalah makruf yang ingin ditegakkan Imam sebagai ganti dari kemunkaran Yazid. Apakah mungkin melarang kemunkaran dan menghapusnya dari masyarakat, dan menggantikannya dengan hal-hal makruf. Di Islam nahi munkar selalu disandingkan dengan amar makruf. Jika Husein melarang teladan pemerintahan Yazid, maka ia harus menyodorkan teladan ilahi sebagai gantinya dan melaksanakannya sehingga masyarakat muslim tidak tertinggal untuk meraih tujuan tingginya.
Sebelum berangkat Imam menulis surat wasiat dan menyerahkannya kepada saudaranya, Mohamman Hanafiyah dan menekankan, “Aku bangkit untuk memperbaiki umat kakekku, Aku ingin menegakkan amar makruf dan nahi munkar.”
Sebelum meninggalkan Mekah, Imam memberi khutbah kepada masyarakat di Mina dan menjelaskan hasil dari amar makruf nahi munkar dan berkata, “Allah Swt mewajibkan amar makruf dan nahi munkar, karena mengetahui jika kedua kewajiban ini dijalankan, seluruh perintah dari langit dan sulit akan ditegakkan. Dan ini karena amar makruf dan nahi munkar adalah seruan kepada Islam dan disertai dengan menolak kezaliman dan menentangnya, membagi baitul mal dan harga rampasan perang (Ghanimah), mengambil zakat dari tempatnya dan menggunakannya di kasus yang benar.”
Husein berangkat dari Mekah menuju Kufah dengan niat menghidupkan kembali Islam dan menegakkan slogannya. Di tengah jalan beliau bertemu dengan Farazdaq, penyair dan pecinta Ahlul Bait. Imam menjelaskan tujuannya kepada Farazdaq, “Wahai Farazdaq ! Ini adalah sekelompok orang yang menerima kepemimpinan setan, meninggalkan ketaatan kepada Tuhan dan berbuat kerusakan secara terang-terangan di muka bumi. Mereka menghancurkan hukum Tuhan, minum minuman keras, dan menguasai harta orang fakir dan miskin, dan aku lebih layak dari siapa pun untuk membantu agama Tuhan, dan ketinggian agama-Nya serta jihad di jalan-Nya, sehingga agama Tuhan meraih kemenangan.”
Husein setiap hari semakin dekat ke Kufah dan warga kota ini, dan semakin dekat Imam, warga Kufah semakin lemah di komitmennya. Mereka menjual pedang dan tombaknya dengan dinar dan dirham Yazid ketimbang menyambut dan mendukung Imam Husein. Sungguh buruk transaksi mereka ketika menjual agamanya dengan dunia, dan itu adalah dunia lain seperti Yazid.
Tentara pertama yang dikirim dari Kufah untuk menghadapi Imam Husein as adalah tentara Hur bin Yazid Riyahi. Ketika tentara Hur lelah dan kehausan, mereka tiba dihadapan kafilah Imam Husein. Imam memberi minum tentara dan kudanya serta berkata kepada mereka, “Siapa saja yang melihat pemimpin zalim yang menghalalkan apa yang diharamkan Tuhan dan menghancurkan perjanjian Tuhan, menentang sunnah Nabi dan berperilaku zalim di tengah hamba Tuhan, tapi ia tidak memeranginya secara praktis atau melalui ucapan, maka layak bagi Tuhan untuk menempatkannya di posisi pemimpin zalim, yakni neraka.”
Dengan kata-kata ini, sambil mengingatkan tugas semua bagian rakyat dalam perjuangan melawan penindasan, ia menunjukkan bahwa tidak ada halangan dalam tekadnya untuk mereformasi urusan dan memerangi para tiran dan penindas Bani Umayyah dan perjuangan ini tidak bersyarat dengan dukungan warga Kufah. Meskipun dia tahu bahwa akhir dari jalan ini baginya dan para sahabatnya hanyalah kesyahidan dan penahanan, tetapi dia tidak bisa berhenti menjalankan perintah ilahi untuk menegakkan keadilan dan syiar agama. Tujuannya adalah untuk mengabdi kepada Tuhan dan mematuhi perintah-Nya. Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara memerintah dan mati syahid bagi Imam as karena keduanya adalah kewajiban ilahi dan mencapai masing-masing bagi Husein sama dengan mengabdi kepada Tuhan dan sama dengan kemenangan.
Pengingkaran janji oleh warga Kufah membuat amar makruf yang ingin ditegakkan Imam tidak terlaksana, namun suara nahi munkar beliau sampai saat ini masih tergiang di telinga dan mengajak para pecinta kebebasan di dunia untuk terus melawan kezaliman dan ketidakadilan.
Tokoh-tokoh besar seperti Sayid Jamaluddin Asadabadi, Sheikh Fadhlullah Nuri, Gandi dan Nelson Mandela adalah sosok yang mendengarkan nahi munkar Imam Husein dan bangkit melawan kezaliman di zamannya. Di antara tokoh terbesar pecinta kekebasan adalah Imam Khomeini yang memimpin Revolusi Islam di Iran dengan meneladani kebangkitan Imam Husein, serta konsisten hingga mencapai kemenangan. Beliau meyakini pengorbanan Husein yang membuat Islam tetap hidup, dan dengan memperingati duka dan menangis atas Husein, kita akan tetap menjaga nama serta ajarannya di hati kita dan kita tidak akan lelah melawan kezaliman serta kemunkaran.
Bersama Imam Husein as; Sirah Imam Husein as (7)
Kita berada di hari ketujuh di bulan Muharram. Kali ini kita akan membahas sirah dan perilaku Imam Husein as selama di Padang Karbala.
Imam Husein as manifestasi seluruh sifat baik dan dari sisi moral serta perilaku, ia adalah teladan dan manifestasi penuh Rasulullah Saw. Sirah akhlaki dan perilaku Imam menunjukkan spirit tinggi dan bimbingan Rasulullah. Karakteristik unggul beliau dan perilakunya muncul di berbagai kesepatan selama kebangkitan Asyura dan sejarah menjadi saksi kuat akan klaim ini.
Di antara karakteristik Abu Abdillah as adalah kecintaannya akan munajat dan ibadah. Ibadah kepada Tuhan memiliki dampak khusus pendidikan dan sumber kesempurnaan jiwa dan spiritual manusia. Ibadah dan irfan, membuat jiwa hamba bergabung dengan kekuatan ilahi yang tak terbatas dan kesempurnaan mutlak. Allah Swt di ayat 17 dan 18 Surah Adh-Dhariyat terkait hamba-Nya berkata, “Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.”
Doa Arafah Imam Husein as contah lain dari irfan beliau, ketika beliau bermunajat kepada Tuhannya dan berkata, “Ya Tuhanku ! Apa yang dia temukan yang kehilanganmu? Dan apa yang hilang dari orang yang menemukanmu? “Sesungguhnya orang yang puas dengan orang lain selain kamu adalah orang yang merugi, dan orang yang berpaling dari kamu akan merugi.”
Pada malam Tasua, Umar bin Saad memerintahkan penyerangan. Sayidina Abbas as ditugaskan oleh Imam Husein as untuk mengambil jeda dari para penindas pada malam Asyura dan untuk menunda perang ke hari berikutnya. Abu Abdullah as mengungkapkan motivasinya untuk menunda perang kepada saudaranya Abbas: “Saudaraku Abbas! Sayangku, naiklah ke kudamu... Pergi ke mereka dan jika Anda dapat menunda perang sampai besok pagi dan menjauhkan mereka dari kita malam ini, mungkin kita bisa berdoa dan bermunajat dan meminta pengampunan dari Tuhan kita malam ini, Dia tahu betul bahwa saya senang dan membaca Al-Qur'an serta meminta pengampunan dari-Nya."
Imam Husein as sangat menyukai doa, zikir dan munajat sehingga dia ingin mengambil cuti malam dari musuh untuk bermunajat dan berdoa, sambil berdiri teguh melawan tuntutan musuh yang tidak sah.
Spirit perjuangan dan muqawama sangat kentara di perilaku dan ucapan Imam Husein as, hingga akhir kehidupannya, hingga Imam di subuh hari Asyura setelah menunaikan shalat Subuh berbicara kepada pengikutnya dan di penggalan pidatonya, Imam memperkuat semangat pasukannya. Di pidatonya ini Imam kembali menjelaskan tujuannya dan menunjukkan tekad kuatnya dalam melanjutkan perjuangan kepada sahabatnya serta merekomendasikan mereka untuk bersabar dan istiqamah. Imam Husein as berkata, Wahai pengikutku ! Allah Swt meridhai syahadah kalian dan aku di hari ini, oleh karena itu berjuanglah dan terus berjuang.
Hadis terkenal dari Imam Shadiq as menyebutkan Imam Husein sebagai pemberi petunjuk dan pencerah. Imam Shadiq as di riwayat ini mengatakan, bacalah Surah al-Fajr di shalat wajib dan sunnah kalian, karena Surah ini adalah Surah Husein bin Ali as dan siapa saja membacanya maka di hari Kiamat akan bersama Husein di surga.
Poin penting di riwayat ini adalah di antara surah al-Quran, Surah al-Fajr dikhususkan untuk Imam Husein as. Bani Umayyah ingin melupakan nilai-nilai ilahi yang dibangun atas kerja keras Rasulullah Saw, namun menginat Fajr berarti terang, Imam Husein di hari-hari kegelapan kepemimpinan despotik, dengan mengorbankan nyawanya dan keluarganya seperti ufuk terang yang bersinar dan dengan menampilkan gambaran jelas atas sendi-sendi dan hukum Islam, Imam telah memperjalas jalan kemanusiaan hingga Kiamat.
Zuhud adalah karakteristik lain dari perilaku Imam Husein as di Karbala. Di akhir pidatonya di pagi hari Asyura, dengan kata-kata yang bersumber dari kedalaman jiwa dan iman, Imam kepada pengikutnya berkata, “Wahai orang mulia ! Bersabarlah, dan ketahuilah bahwa kematian tak lebih sebuah tangga yang membuat kalian melewati penderitaan dan kesulitan serta membawa kalian ke surga yang luas dan kekal. Siapa yang tidak ingin pindah dari penjara ke istana ? Dan kematian ini bagi musuh kalian seperti pindah dari istana ke penjara serta ruang penyiksaan. Kakekku, Rasulullah Saw berkata kepadaku, “Dunia penjara orang mukmin dan surga orang kafir, dan kematian sebuah tangga yang membawa orang beriman ke surga dan orang kafir ke neraka.”
Kehormatan orang muslim terletak pada penerimaan sistem yang tepat dan sah yang dirancang oleh Rasulullah Saw, dan sistem tersebut adalah Imamah. Oleh karena itu, pemerintahan seperti Yazid bertentangan dengan sistem yang diinginkan Tuhan dan sama artinya dengan kehinaan orang mukmin. Imam Husein as yang menjadi perwakilan sistem Imamah, mengejar kemuliaan Islam dan umat Muslim. Beliau menilai hina kekuasaan dan kepemimpinan Yazid, dan menentangnya.
Jelas, tujuan Imam Husein as adalah untuk mewujudkan kekuasaan dan kehendak Tuhan dalam masyarakat, dan dia tidak melakukan apa pun yang akan melemahkan agama ilahi. Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang tersisa bagi beliau adalah berperang, atau tunduk pada penghinaan, dan menyerah kepada Yazid. Untuk alasan ini, Imam menyatakan kesyahidan di jalan Allah lebih layak daripada kesetiaan kepada Yazid, dan secara eksplisit menyatakan: "Kehinaan jauh dari kita."
Imam Husein as dalam semua masa-masa sensitif dan kritis, karena situasi dan kondisi saat ini, mengambil cara terbaik dan paling layak untuk melestarikan prinsip-prinsip Islam dan memerangi kepalsuan dan para pemimpin kemunafikan, dan hasilnya dari upaya tak kenal lelah dan penuh kebanggaan ini adalah kesyahidan yang dirindukan dan yang diridhai oleh Allah Swt. Di Surah al-Fajr ayat 27-30 Allah berfirman, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”
Di salah satu penggalan doa ziarah Asyura disebutkan, «إِنِّی سِلْمٌ لِمَنْ سَالَمَکُمْ وَ حَرْبٌ لِمَنْ حَارَبَکُمْ إِلَی یَوْمِ الْقِیَامَةِ (Aku berdamai dengan orang yang berdamai denganmu (Husein) dan berperang melawan orang yang melawanmu hingga hari Kiamat). Sejatinya mereka mereka yang melantunkan doa ini tengah belajar untuk menjaga nilai-nilai Ilahi dan hingga akhir nafas atau tetes darah terakhir, harus terus bertahan dan istiqamah sehingga mampu meraih kebahagiaan yang kekal bagi dirinya.
Bersama Imam Husein as; Husein di mata Rasulullah Saw (6)
Rasulullah Saw bersabda, “Husein memiliki kedudukan yang hanya dapat diraih dengan syahadah, ia akan memberi syafaat kepada pecinta dan orang-orang yang mencitainya, dan syafaatnya akan dikabulkan, Mahdi juga dari keturunan Husein dan sungguh bahagia sahabat Husein yang akan selamat dan bahagia di Hari Kiamat.”
Kita saat ini berada di hari-hari duka Imam Husein as. Imam yang jalan dan tujuannya melewati setiap generasi, abad dan wilayah serta menyebarkan pelajaran membangun manusia dan cinta kebebasan di semua tempat. Mohammad Ali Janah, pendiri Pakistan terkait Imam Husein as mengatakan, “Tidak ada contoh keberanian yang lebih baik dari apa yang ditunjukkan Imam Husein ketika memberi pengorbanan dan menunjukkan keberaniannya; Menurut saya seluruh umat Muslim harus mengikuti syahid yang mengorbankan dirinya di Irak ini.”
Gandhi, pemimpin besar India mengatakan, “Aku mengambil pelajaran dari Husein untuk membebaskan bangsaku.”
Umat manusia sampai saat ini haus akan pelajaran Asyura; aliran yang memberi pelajaran pengorbanan, ikhlas, bertawakkal kepada Tuhan dan mencari kebenaran serta Husein sumber yang mengenyangkan seluruh pecinta kebenaran.
Ketika Husein dilahirkan ke dunia, ia menemukan dirinya dibuaian kakeknya yang penuh cinta, Rasulullah Saw. Mohammad al-Mustafa (Saw) memiliki kecintaan dan kedekatan khusus dengan cucunya, Imam Hasan dan Imam Husein as. Beliau tak segan-segan menunjukkan kecintaan besar tersebut kepada para sahabatnya.
Rasulullah membawa kedua cucunya, Imam Hasan dan Imam Husein di atas pundaknya. Ia menyayangi kedunya dengan membaca syair. Terkadang Rasul tengah berkhutbah dan ketika menyaksikan Hasan dan Husein, beliau turun dari mimbar serta dihadapan sahabatnya, ia memeluk keduanya dan menyayanginya sehingga umatnya memahami posisi kedua cucu tersayang ini.
Rasul saat menjawab pertanyaan sahabatnya yang mengatakan, Wahai Rasulullah ! Mana di antara keluargamu yang paling kamu cintai ? Rasul menjawab, Hasan dan Husein. Rasul di berbagai kesempatan mengenalkan umatnya akan posisi Ahlul Bait as, khususnya Imam Hasan dan Husein as, seakan-akan beliau berusaha melalui berbagai ucapan dan kalimatnya atau perilaku khususnya untuk menyadarkan masyarakat akan kecintaannya terhadap Hasan dan Husein, supaya beliau dapat mencegah kezaliman dan perlakuan buruk di masa yang tak jauh terhadap hak Ahlul Baitnya.
Salah satu sabda khusus Rasulullah dalam mengenalkan posisi dan kedudukan Imam Husein as adalah hadis terkenal, “Husein dariku dan aku dari Husein, Allah mencintai orang yang mencintai Husein.” Riwayat ini memiliki sanad yang kuat dan Ahlul Sunnah menyebutkan hadis ini dengan sanad sahih dan kuat di berbagai sumbernya.
Di sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah yang selesai dari undangan menyaksikan Husein bersama anak-anak dan tengah bermain. Rasul mendatangi Husein dan membentangan kedua tangannya sehingga Husein datang dan merangkulnya, tapi Husein yang tengah asyik bermain, lari ke sana dan kemari. Rasul tersenyum menyaksikan tingkah Husein. Kemudian Rasul memegang Husein dan mengelus kepalanya dan menciumnya. Rasul kemudian memandang orang-orang di sekitarnya dan berkata, “Husein dariku dan aku dari Husein. Allah mencintai orang-orang yang mencintai Husein.”
Suatu hari, Husein digendong Rasul dan beliau bermain dengan cucunya ini serta membuatnya tertawa. Aisyah berkata, Wahai Rasulullah ! Mengapa kamu sangat menyayanginya ? Rasul berkata, Bagaimana aku tidak menyayanginya, ia adalah buah hatiku dan cahaya mataku, namun umatku membantainya. Siapa saja setelah syahadah Husein menziarahinya, Allah akan memberi pahala satu haji kepadanya.
Ketika Imam Husein tiba, Rasul dengan suara keras supaya semuanya mendengar, berkata, “Selamat datang wahai hiasan langit dan bumu.” Salah satu yang hadir bernama Ubay bin Kaab dengan takjub berkata, Ya Rasulullah, apakah ada yang lain selain dirimu sebagai hiasan langit dan bumi ? Rasul berkata, Wahai Ubay bin Kaab, aku bersumpah kepada yang mengutusku, Husein lebih terkenal di langit ketimbang di bumi. Namanya di Arsy ilahi tertulis bergini اِنّ الحُسینَ مِصباحُ الهُدی و سفینةُ النّجاة (Sesungguhnya Husein adalah cahaya petunjuk dan bahtera penyelamat).
Ulama Syiah dan Sunni di berbagai kesempatan meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Ansari yang berkata, aku beberapa kali mendengar dari Rasul mengenai Husein bin Ali, dan beliau berkata, siapa saja yang ingin menyaksikan penghulu pemuda surga dan mengenalnya, maka pandanglah Husein bin Ali.
Di kitab Amali karya Sheikh Saduq juga diriwayatkan sabda Rasul yang menyebutkan sifat mulia Husein. Rasul berkata, Wahai manusia, ini Husein anak Ali, kenalilah dia. Aku bersumpah kepada yang memegang nyawaku, ia (Husein) dan orang yang mencintainya atau orang-orang yang mencitai orang yang menyayangi Husein berada di surga. Yakni Husein di Hari Kiamat akan memberi syafaat kepada pecinta dan pengikutnya serta banyak yang masuk surga melalui syafaat Husein.
Ketika Husein berusia tujuh tahun, kakek tercintanya ini meninggalkan dirinya. Namun selama tujuh tahun ini, ketika ia hidup dengan kakeknya, ucapan paling banyak yang ia dengan dari Rasul adalah mengenai berita syahadah dirinya. Rasul mengetahui bahwa syahadah Husein akan kekal, oleh karena itu Rasul menyebarkan ucapannya untuk mengenalkan Imam Husein as, metodenya dan syahadahnya.
Dengan demikian di riwayat Imam Baqir as disebutkan, “Metode Rasul adalah ketika Imam Husein mendatanginya, beliau langsung mengambilnya dan kepada Ali berkata, jagalah Husein. Kemudian Rasul mencium badan Husein dan menangis. Husein bertanya, Kakek ! Mengapa kamu menangis ? Rasul menjawab, Anakku ! Aku mencium tempat pedang di tubuhmu dan aku menangis.
Di riwayat muktabar disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah berada di rumah Ummu Salamah. Imam Husein as yang saat itu masih anak-anak, mendatangi Rasul. Ummu Salamah langsung maju kedepan dan ia menyaksikan Husein berada di dada Rasul dan Nabi tengah menangis serta memutar sesuatu di tangannya. Rasul berkata, Ummu Salamah, Jibril memberitahuku bahwa anak ini akan terbunuh dan Jibril memberiku sejumlah tanah tempat ia syahid. Dan tanah itu berada di sana, ketika berubah warna darah, maka ketahuilah Huseinku terbunuh.
Ummu Salamah berkata, Wahai Rasul, mintalah kepada Tuhan supaya musibah ini dihilangkan. Rasul berkata, Tuhan memberiku wahyu bahwa Husein memiliku kedudukan yang hanya dapat diraih melalui syahadah dan ia akan memberi syafaat kepada pecinta dan pengikutnya serta syafaatnya akan diterima. Sama seperti Mahdi dari keturunan Husein, sungguh bahagia sahabat dan pecinta Husein yang termasuk orang-orang selamat di Hari Kiamat.
Bersama Imam Husein as; Wawasan dan Pencerahan Husein (5)
Salah satu karakteristik utama dan pesan kebangkitan Imam Husein bin Ali as adalah wawasan dan pencerahan.
“Ya Allah! Jadikan gerakanku berdasarkan wawasan dan jalanku bertumpu pada hidyah, dan metode serta jalanku senantiasa disertai pertumbuhan dan ketinggian.” Doa Imam Husein as.
Salah satu indeks utama dan pelajaran dari kebangkitan Husein bin Ali as adalah wawasan dan pencerahan. Wawasan adalah penerangan dan cahaya khusus yang muncul dari pemikiran dan pemanfaatan wahyu serta imamah di dalam diri manusia. Orang tidak berwawasan, tidak memiliki kehidupan manusiawi; Karena pemekiran mereka berada di dalam kegelapan dan tidak melihat kebenaran. Oleh karena itu, mereka juga tidak mengenal jalan kemajuan dan kebahagiaan.
Al-Quran membandingan orang-orang yang memiliki wawasan dan yang tidak memilikinya. Surah al-An’am ayat 122 menyebutkan, “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”
Kekuatan wawasan dan pemikiran kuat manusia dapat disaksikan di ucapan dan logika Imam Husein. Ia menentukan kondisi krisis masyarakat, memahami jalannya dan menempatkan dirinya serta keluarganya di badai mengerikan untuk menyelamatkan manusia.
Umat manusia selalu tunduk pada hasutan dan kejahatan setan yang mengorbankan massa dalam kegelapan rumah jagal kebodohan untuk mencapai tujuan dan keserakahan mereka dengan propaganda yang tersebar luas dan terkonsentrasi. Pada saat ini, satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari hasutan kemunafikan adalah wawasan dan pencerahan. Dalam peristiwa Asyura, orang-orang yang memiliki wawasan yang benar datang kepada Imam mereka dan berdiri tegak, tetapi kelompok lain menjadi korban api ketidaktahuan mereka. Mencermati ucapan bijak Imam Hussein (as) selama kebangkitan Asyura menunjukkan kekuatan kebijaksanaan dan pengetahuan yang tinggi dari Imam itu dalam memilih jalannya; Sosok ilahi itu merasakan pedihnya kemerosotan religiusitas di masyarakat dan bangkit untuk memerintahkan yang baik dan melarang yang buruk (amar makruf dan nahi munkar) dan menghidupkan kembali sirah Nabi saw dan keluarganya.
Imam Husein as berkata, “Apakah kalian tidak melihat, kebenaran diabaikan dan dan kebatilan tidak dicegah.”
Imam Husein as dengan kebijaksanaan dan pencerahannya yang lengkap menunjukkan kepada umat Islam dari segala usia apa kewajiban setiap kali kereta masyarakat Islam menyimpang dari jalan kesempurnaan dengan tangan atau kecelakaan. Apa yang harus dilakukan jika masyarakat Islam menyimpang dan penyimpangan ini mencapai titik di mana seluruh Islam dan ajaran Islam terancam? Dia menunjukkan kepada semua orang bahwa ketika pemerintah, ulama, dan penceramah agama menjadi korup dan memutarbalikkan Al-Qur'an dan fakta, mengingkari yang baik, hal buruk dianggap baik, hal munkar dianggap baik, serta hal baik dicap sebagai perbuatan buruk maka tugas mereka adalah mengembalikan masyarakat Islam ke jalur yang benar.
Imam Husein (as) bangkit untuk memenuhi kewajiban besar itu, yaitu membangun kembali sistem Islam dan melawan penyimpangan-penyimpangan besar dalam masyarakat Islam. Pada saat itu, ini hanya mungkin melalui pemberontakan, yang merupakan contoh bagus dari amar ma'ruf dan nahi munkar. Pengetahuan mendalam Imam Hussein (as) tentang jalan dan tujuan digambarkan dalam cara Imam as menghadapi kesulitan; Antara lain, disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa semakin dekat Husein bin Ali (as) dengan siang Asyura, semakin cerah wajahnya dengan kepuasan gerakan reformisnya, dan ketenangan jiwa yang percaya diri itu menjadi lebih jelas.
Imam Husein adalah lautan ilmu dan pengetahuan, dan dengan pandangannya yang mendalam senantiasa bermunajat kepada Tuhannya. Imam sebagain besar waktunya melantunkan doa ini, “Ya Allah! Jadikan gerakanku berdasarkan wawasan dan jalanku bertumpu pada hidayah, dan metode serta jalanku senantiasa disertai pertumbuhan dan ketinggian.” Di gerakan Imam Husein yang paling kentara adalah perlawanan dan penolakan terhadap manifestasi keburukan dan kebodohan.
Imam menyeru manusia untuk berwawasan dan membangkitkan kesadaran di dalam diri mereka. Wawasan merupakan keharusan dari eksistensi manusia. Sejarah menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak berwawasan, tanpa sadar telah tertipu. Di kebangkitan Imam Husein diajarkan bagaimana hidup dan mengubah pandangan kehidupan. Ia menjadikan manusia sebagai audiens kebangkitannya di mana ia menemukan posisi tingginya di penciptaan dan supaya tidak tenggelam ke dalam kehinaan. Kerena kebebasan merupakan asas keberadaan manusia.
Faktanya darah yang tertumpah di bumi telah menyirami benih-benih kebebasan dan resistensi melawan kezaliman di seluruh sejarah umat manusia. Dr. Jakfar Shahidi mengatakan, “Gerakan Ashura tampaknya tetap sia-sia hari itu, tetapi tidak satu hasil, yang memiliki banyak konsekuensi. Gerakan ini tampaknya padam oleh tragedi Yazid, tetapi tidak pernah berhenti menyala. Sekali dengan pemberontakan tulus dari Suleiman anak Surad dan kadang-kadang dengan pemerintah Mukhtar yang bangkit atas nama menuntut darah pemimpin para syuhada, pesan Imam Husein as dihidupkan kembali dan sejak itu, telah menjadi inspirasi bagi semua orang yang menderita karena tirani penguasa.”
Dalam peristiwa Karbala, tenda Imam Husein (as) adalah tempat berkumpulnya orang-orang berilmu dan religius dari semua lapisan masyarakat yang memahami tugas mereka dan situasi historis pemberontakan ini dengan benar. Wawasan dan pengetahuan yang mendalam tentang kebenaran adalah karakteristik para pencipta Karbala. Mereka tahu persis apa yang mereka inginkan, dengan cara apa, dan dengan siapa mereka bertarung. Mereka tahu bahwa jika penguasa Umayyah adalah panji-panji Islam, Islam akan lenyap, dan jika mereka tidak mengambil tindakan, para penindas dan koruptor akan mematikan cahaya kemanusiaan dan ketakwaan.
Di antara tokoh-tokoh besar Karbala, kita melihat Abbas bin Ali as, dia telah menyalakan cahaya terang selama beberapa generasi dan dari jauh, dia memanggil semua orang untuk kemanusiaan dan menjadi terhormat. Dia adalah manusia yang sangat menonjol dalam keberanian, peperangan, ibadah, kehidupan malam dan pengetahuan. Ketabahan dan perlawanan Sayidina Abbas sedemikian rupa sehingga Imam Sadiq as memuji imannya yang murni dan visinya yang tajam dan berbicara kepada Sayidina Abbas: "Saya bersaksi bahwa Anda tidak menunjukkan kelemahan untuk sesaat dan tidak kembali dari jalan Anda - tetapi kebijakan Anda didasarkan pada iman dan wawasan dalam agama."
Imam Husein as, dengan kebangkitan abadinya, menggambarkan kebenaran yang indah, dan bahwa ketika penindasan dan keburukan menguasai umat manusia dan cahaya kebaikan dan kebajikan padam, ia harus bangkit membela nilai-nilai agama, bahkan jika di jalan ini ia harus mengorbankan nyawa. Karena alasan inilah kebangkitan Imam itu menjadi epik besar dan metode serta karakternya menjadi teladan semua gerakan pencari keadilan dan reformis.
Dan begitulah epik Karbala tidak berakhir dengan kesyahidan populasi tujuh puluh atau lebih - tetapi cakupannya - meliputi kemanusiaan. Pesan Imam Husein as di zaman sekarang juga merupakan peringatan bagi seluruh umat Islam di dunia, dan bahwa jika mereka tetap diam dan acuh dalam menghadapi masalah yang dihadapi dunia Islam saat ini, maka kekuatan arogan akan memiliki kesempatan lebih besar untuk menguasai mereka. Oleh karena itu, umat Islam harus menjaga persatuan dan kesatuan mereka, meningkatkan wawasan keagamaan mereka dan mempertahankan persatuan mereka, dan tidak tunduk pada tuntutan kekuatan hegemonik yang menindas.




























