کمالوندی

کمالوندی

Senin, 07 Januari 2013 19:57

Apakah Hadiah Ada Khumusnya?

Islam merupakan agama yang komprehensif. Islam memiliki program untuk mengentaskan kemiskinan. Khumus merupakan satu cara yang diterapkan Islam untuk memberikan solusi soal pengentasan kemiskinan.

Memperhatikan urusan orang-orang miskin sangat penting dalam Islam. Hal ini bisa dilihat dari perilaku Imam Ali as ketika sedang shalat. Begitu pentingnya memenuhi kebutuhan orang miskin, sehingga beliau dalam shalatnya memberikan cincinnya kepada seorang miskin yang meminta-minta di masjid. Padahal Imam Ali as bisa saja memberikan isyarat akan membantunya setelah menunaikan shalatnya. Tapi yang dilakukan beliau adalah memberikan cincinnya dalam kondisi sedang melakukan ruku.

Sekaitan dengan khumus, berikut ini ada beberapa hadis:

1. Imam Kazhim as berkata, "Sesungguhnya Allah Swt telah mempermudah orang-orang Mukmin dengan membagi rezeki mereka menjadi lima dirham. Mereka memisahkans satu dirham untuk Tuhan mereka dan memakan empat dirham sebagai harta halal." Kemudian beliau menambahkan, "Ini ungakapan yang sangat sulit dan tidak ada orang yang akan mengamalkannya dan tidak sabar dalam melakukannya, kecuali orang-orang yang telah diuji hatinya dengan iman."(1)

2. Imam Ridha as berkata, "Barangsiapa yang memiliki nikmat (memiliki harta), berarti ia berada dalam posisi yang berbahaya. Ia berkewajiban untuk mengeluarkan hak-hak Allah dalam nikmat itu. Demi Allah! Allah Swt menganugerahkan saya nikmat dan saya senantiasa khawatir, sampai saya mengeluarkan hak-hak Allah yang wajib terkait harta itu."(2)

3. Tidak mengeluarkan khumus terhitung dosa besar yang disandingkan dengan syirik dan membunuh. Imam Shadiq as berkata, "Dosa besar ada tujuh; syirik, membunuh, memakan harta anak yatim, durhaka kepada oranag tua, menuduh zina perempuan yang bersuami, lari dari medan perang dan mengingkari apa yang diturunkan Allah." Setelah itu Imam Shadiq as berkata, "Adapun memakan harta anak yatim itulah hak kami yang telah diambil dan dimakan."(3)

4. Imam Mahdi af berkata, "Allah, malaikat, dan seluruh manusia melaknat orang yang menganggap halal satu dirham dari harta kami."(4) Dalam riwayat lain disebutkan, "Kami menjadi musuh orang yang seperti ini."(5)

Dengan pengantar ini, ada baiknya kita mencermati pandangan para marji dalam masalah ini:

 

Ayatullah al-Udzma Javadi Amoli:

Soal: Apakah boleh menentukan setiap harta yang ada khumusnya secara terpisah, sebagai ganti menentukan satu hari tertentu untuk menghitung khumus (tahun khumus)? Seperti ada minyak yang dibeli dan setelah setahun masih ada sisanya, maka kita menghitung khumusnya lalu memisahkannya.

Jawab: Sekalipun dapat dilakukan hal yang demikian, menentukan setiap harta yang ada khumusnya secara terpisah, tapi dengan mengumpulkannya dalam satu hitungan (tahun khumus) lebih mudah untuk dilakukan.

 

Ayatullah al-Udzma Khamenei:

Soal: Apakah pemberian dan tunjangan hari raya ada khumusnya?

Jawab: Pemberian dan hadiah tidak ada khumusnya. Sekalipun ihtiyath adalah bila ada yang tersisa dari pengeluaran setahun, maka hendaknya mengeluarkan khumusnya.

Soal: Apakah hadiah yang diberikan oleh bank kepada nasabahnya ada khumusnya atau tidak?

Jawab: Khumus dalam bentuk hadiah tidak wajib.

Ayatullah al-Udzma Makarem Shirazi:

Soal: Bagaimana menghitung khumus tahunan bagi orang yang menerima gaji bulanan?

Jawab: Tentukan terlebih dahulu satu hari dalam setahun sebagai tahun khumus. Bila ada uang dari biaya hidup yang lebih, maka hitunglah khumusnya pada hari yang telah ditentukan sebelumnya.

Sumber: Tebyan

Catatan:

1. Wasail as-Syiah, 9/484.

2. Ibid, 9/43-44.

3. Ibid, 9/536.

4. Ibid, 9/ 541.

5. Ibid, 9/ 540.

Menjauhi Hawa Nafsu

Imam Husein as berkata:

"Jauhi hawa nafsu! Karena semuanya menyesatkan dan akhirnya adalah neraka." (Sayid Nur Allah Tostari, Ihqaq al-Haq, Qom, Entesharat Ketab Khaneh Marashi Najafi, jilid 1, hal 11, hadis 591)

Para nabi senantiasa memperingatkan manusia untuk tidak mengikuti hawa nafsunya. Menurut mereka, hawa nafsu merupakan musuh paling kuat. Bila hawa nafsu diberi kesempatan, maka dengan mudah hawa nafsu membinasakan manusia. Mengikuti keinginan hawa nafsu secara perlahan-lahan akan berdampak pada semakin menurunnya kekuatan akal dan kehendak manusia. Akhirnya, orang yang mengikuti hawa nafsu akan melakukan pekerjaan tanpa memperhatikan akibatnya yang sangat merugikan. Dengan demikian, keutamaan akhlak di mata orang yang mengikuti hawa nafsu menjadi semakin tidak bernilai. Sebaliknya, kebobrokan moral semakin menguat dalam dirinya. Menurut Imam Husein as, orang yang seperti ini hanya akan mendapat kemurkaan Allah dan akhirnya diseret ke neraka.

Dalam al-Quran, mengikuti hawa nafsu menjadi sumber segala kesesatan.(1) Al-Quran senantiasa memperingatkan manusia akan bahaya mengikuti hawa nafsu. Itulah mengapa al-Quran menyebut kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat berada dalam lingkaran tidak mengikuti hawa nafsu.

Catatan:

1. QS. al-An'am: 119 dan an-Nazi'at: 40)

Senin, 07 Januari 2013 19:54

Dunia Lisan: Menanyakan Rahasia

Menanyakan Rahasia

Dunia lisan memiliki peran yang sangat halus antara lain mencari-cari kabar. Mencari-cari kabar ini memiliki dua sisi; positif dan negatif.

Bila mencari-cari kabar ini tidak dikontrol dan digunakan di jalan yang benar, maka ia tak lebih seperti banjir yang tidak hanya melanda dunianya sendiri, tetapi akan melanda dan merusak dunia orang lain.

Mencari-cari kabar dan semacamnya pada hakikatnya adalah banjir lisan yang bersumber dari otak dan mengalir melalui lisan. Bila firman Allah yang berbunyi "Laa Tajassasu" (QS. Hujurat: 12) tidak bisa membendung aliran banjir dan tidak mampu mengarahkan dan menggunakannya di jalan yang benar, maka lisan akan menjadi faktor penghancur yang akan mengancam keberadaan alam. (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Sumber: Donya-ye Zaban; 190 Gonah Zaban, Kareem Feizi, Qom, Tahzib, 1386, cetakan ke-4.

Sabar Melawan Hawa Nafsu

Imam Husein as berkata:

"Bersikap yang sabar ketika engkau harus melakukan kebenaran, tapi tidak menyukainya. Begitu juga bersabarlah ketika hawa nafsu mengajakmu dan engkau menyukainya." (Halwani, Nuzhah an-Nazhir wa Tanbih al-Khatir, Qom, Moasseseh al-Imam al-Mahdi af, 1408 Hq, jilid 1, hal 85, hadis 18)

Bersikap sabar menghadapi tuntutan hawa nafsu dan berbuat dosa merupakan ciri khas orang yang beriman. Al-Quran juga menyebut keteguhan untuk tidak berbuat dosa sebagai ciri-ciri seorang muslim yang hakiki, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (1)

Di dunia modern saat ini, simbol-simbol dosa dan perangkap setan untuk menyimpangkan pemikiran dan moral manusia sudah semakin banyak dan beragam. Satu-satunya cara untuk menghadapi godaan ini adalah kesabaran. Karena sekalipun seorang manusia memiliki kesempurnaan, tapi tidak sabar dalam menghadapi kecenderungan dan ajak hawa nafsu, maka dengan mudah ia akan kehilangan imannya hanya dengan sedikit menunjukkan kelemahan. Dengan sedikit kelezatan yang didapatkan dari berbuat dosa, ia harus melewati seluruh usianya dalam penyesalan. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Catatan:

1. QS. Fusshilat: 30

Keyakinan akan Hari Kiamat termasuk salah satu dari tiga prinsip utama Islam. Hari Kiamat di sampingkeyakinan terhadap Keesaan Tuhan (Tauhid) dan kenabian (nubuwah) tercatat sebagai pilar utama agama samawi. Maad (Kiamat/Kebangkitan) bermakna kembali. Seluruh agama Ilahi mengajarkan bahwa sumber wujud adalah Tuhan dan seluruh makhluk pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Maad juga berarti kembalinya seluruh makhluk ke asalnya (Tuhan).

Proses kembalinya makhluk kepada Tuhannya dijelaskan Allah Swt melalui surat Rum ayat 11 yang artinya, "Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." Uniknya lagi Allah Swt menempatkan keinginan makhluk untuk kembali kepada penciptanya ini di setiap fitrah mereka. Seluruh makhluk bergerak menuju kesempurnaan sejati berdasarkan kerinduan dan fitrah mereka.

Keyakinan akan Hari Kiamat memiliki pengaruh besar bagi perilaku manusia. Mereka yang meyakini akan adanya hari Kiamat dan kehidupan setelah mati, akan senantiasa berhati-hati dalam bertindak karena ia dengan baik mengetahui bahwa setiap perilakunya di dunia pasti dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Sejatinya seluruh perbuatan manusia terjaga dan nanti di akhirat amal tersebut akan menemani tuannya.

Pastinya mereka yang meyakini akan adanya Hari Kiamat senantiasa berusaha memperbaiki perbuatannya. Serta akan berhati-hati dalam setiap perbuatan. Imam Ali bin Abi Talib as dapat dijadikan teladan dalam hal ini. Ketika saudara beliau, Aqil bin Abi Talib dalam keadaan sangat miskin mendatangi Imam Ali dan meminta bagian lebih dari harta Bautil Mal (Kas Negara). Imam Ali ketika mendengar permintaan Aqil, langsung membakar besi hingga membara dan didekatkan ke mata saudaranya. Ketika Aqil berteriak karena kepanasan, Imam Ali berkata kepadanya, "Bagaimana kamu berteriak ketika besi panas ini belum menyentuh tanganmu, namun kamu telah menyeretku ke arah api neraka jahanam yang dipersiapkan Allah bagi mereka yang memakan harta orang lain?"

Iman dan keyakinan terhadap Tuhan yang dimiliki manusia merupakan kekuatan yang menjaganya dari ketergelinciran dalam perbuatan maksiat dan kejahatan. Terkait hal ini Syahid Murtadha Mutahhari mengatakan,"Semakin besar keimanan seseorang maka ia semakin mengingat Tuhan dan semakin manusia mengingat Tuhan, semakin kecil pula ia melakukan maksiat. Perintah ibadah diturunkan untuk membuat manusia senantiasa mengingat Tuhan sehingga mereka semakin berpegang teguh pada akhlak mulia serta hukum Tuhan."

Iman kepada Tuhan dan Hari Kiamat termasuk metode ideologi yang digunakan Islam serta menyebutnya sebagai faktor penting dalam mencegah kejahatan dan perbuatan dosa. Yang dimaksud beriman kepada Tuhan adalah beriman kepada Tuhan pemilik manusia dan alam semesta serta satu-satunya sesembahan yang layak, Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat. Manusia dengan keimanannya senantiasa bersama Tuhan. Dunia dalam pandangan mereka yang beriman merupakan bukannya sekumpulan anasir yang mati dan tidak memiliki tujuan, namun merupakan sekumpulan sistem yang terencana dan memiliki tujuan.

Mereka yang meyakini Tuhan tidak akan terbelenggu pada kehidupan yang sia-sia. Iman kepada Tuhan menumbuhkan pandangan positif dalam diri manusia dan pandangan positif ini mendorong mereka untuk melakukan perbuatan baik serta menjauhi perbuatan buruk. Iman kepada Tuhan ibarat pohon bagi tumbuhnya ruh para ahli tauhid. Ketika manusia menanamkan benih penghambaan dalam dirinya maka ia akan menanti buah indah dari usahanya tersebut. Buah dari penghambaan kepada Tuhan adalah kejujuran, keadilan, keikhlasan, pengorbanan dan sifat memaafkan. Ini merupakan ciri-ciri dari kesehatan mental dan keseimbangan perilaku.

Keistimewaan seperti ini tentu akan mencegah manusia dari perbuatan buruk dan jahat. Iman kepada Tuhan dan mengingat-Nya merupakan kebutuhan fitrah manusia serta tumbuh dari rasa manusia untuk mencari Tuhan. Ketika manusia lalai dari kebutuhan dasar (fitri) tersebut dan lupa mengingat Tuhan maka ia akan menderita ketidakseimbangan dalam dirinya. Kondisi ini menjadi peluang bagi manusia untuk melakukan tindak kriminal dan kejahatan. Oleh karena itu, salah satu dampak paling nyata dari keimanan kepada Tuhan adalah keselamatan jiwa dan keseimbangan dalam berperilaku yang mencegah manusia melakukan perbuatan dosa.

Iman kepada Hari Akhir dan pembalasan merupakan bagian dari ideologi agama yang mampu membantu manusia untuk menghindari perbuatan dosa. Arti dari iman kepada Ma'ad (Hari Akhir) adalah keyakinan bahwa setelah mati, manusia dengan izin Tuhan akan dibangkitkan kembali dan menghadapi pengadilan Ilahi. Kitab catatan perbuatan manusia dibentangkan dihadapan mereka. Manusia saat itu akan menyaksikan seluruh perbuatan baik dan buruknya, yang besar maupun kecil sepanjang hidupnya.

Allamah Tabatabai, filosof dan ahli tafsir Iran terkait hal ini mengatakan,"Manusia yang meyakini Hari Akhir senantiasa menyadari bahwa setiap perbuatannya di bawah pengawasan Tuhan Yang Maha Mengetahui. Ia mengetahui bahwa suatu hari akan datang saat di mana seluruh amal perbuatannya diperhitungkan dengan adil. Keyakinan akan proses pengadilan yang adil ini tidak akan mampu dilakukan oleh ratusan ribu polisi maupun agen rahasia, kerena mereka ini melakukan pekerjaan dari luar, namun pengawasan Tuhan adalah kontrol internal di mana tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari pengawasannya."

Ketika seseorang meyakini akan hari akhir dan memandang dirinya harus bertanggung jawab nanti dihadapan Tuhan, ia senantiasa akan menjaga setiap amal perbuatannya. Dalam kondisi seperti ini ia tidak membutuhkan polisi untuk mengawasi setiap tindakannya. Perbuatan terang-terangan atau rahasia baginya sama saja dan ia selalu menjaga hak masyarakat demi kerelaan Tuhan serta tidak melampaui hak dalam bertindak.

Di Islam setiap perbuatan ibadah merupakan kinerja yang mampu mencegah manusia untuk melakukan perbuatan maksiat. Kewajiban seperti shalat, haji, khumus, puasa, zakat dan amar makruf dan nahi munkar mampu menjauhkan manusia dari perbuatan buruk. Di surat Ankabut ayat 45 Allah Swt berfirman,"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Peran lain Hari Akhir bagi akhlak dan keyakinan seseorang sangat jelas, karena manusia yang yakin akan adanya Hari Kiamat memandang dunia sesuai dengan realitanya dan menyakini dirinya tidak kekal di dunia. Dunia hanya tempat berteduh sementara, karena perjalanan sebenarnya manusia adalah menuju akhirat. Di sana kehidupan abadi manusia yang sejati. Berbeda dengan klaim kaum materialis yang menilai keyakinan terhadap Hari Kiamat telah membelenggu manusia, padahal iman kepada Hari Akhir menciptakan semangat tersendiri bagi manusia dan memiliki dampak positif yang besar.

Manusia yang beriman kepada Hari Akhir memiliki kemampuan untuk mengontrol berbagai kecenderungan negatif seperti egoisme, cinta harta, kekuasaan, hawa nafsu dan rasa marah. Sosok seperti ini melewati masa-masa sensitif kehidupannya dengan mengingat Hari Kiamat. Kepercayaan seperti ini akan memberinya keberanian dan rela berkorban, sehingga terciptalah pribadi yang meyakini syahadah sebagai puncak kemuliaan serta tujuan suci kehidupan.

Iman kepada Hari Kiamat dapat memberangus rasa putus asa dan pesimisme seseorang serta menjadikannya manusia yang penuh dengan optimisme dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana ini. Seorang mukmin memiliki keyakinan kuat bahwa kehidupannya tidak terbatas di dunia saja, namun setelah kematian masih ada kehidupan lain yang abadi. Di sanalah seluruh keinginan manusia yang ketika di dunia tidak terpenuhi akan ia dapatkan.

Menurut al-Quran, kehidupan abadi dan penuh kebahagiaan hanya kehidupan ukhrawi. Allah Swt di surat Ghafir ayat 39 berfirman, "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal." Kesenangan dan kebahagiaan sejati hanya ada di surga. Di sana manusia tidak akan merasa kekurangan dan putus asa, karena di surga apa yang diharapkan manusia semuanya tersedia.

Senin, 07 Januari 2013 19:48

Risalah Huquq; Hak Muazin

Setiap aliran dan kepercayaan pasti punya syiar tersendiri. Kaum Yahudi, Nasrani dan para pemeluk agama-agama yang lain mengajak orang untuk melaksanakan ritual dan menghadiri upacara keagamaan. Di Islam, syiar keagamaan dikemas dalam bentuk yang indah yang salah satunya dalam bentuk ibadah yang agung bernama shalat.

Syiar keagamaan menunjukkan arah jalan menuju puncak yang menjadi tujuan semua agama. Saat ini ada sekitar satu setengah miliar di dunia yang memeluk agama Islam. Di waktu-waktu yang telah ditentukan, ketika suara azan mengumandang umat Islam mendatangi masjid-masjid dan mushalla untuk melaksanakan shalat dalam suasana khusyuk penuh cinta kepada Allah. Shalat membawa mereka menuju kebahagiaan yang hakiki.

Dalam Islam, azan adalah seruan yang menjadi awal dari ibadah shalat. Seruan ini memiliki sisi pengumuman dan panggilan kepada umat untuk melaksanakan shalat. Orang yang mendengar adzan seakan menerima kabar gembira panggilan menghadap Allah. Ia mesti bersiap-siap untuk memenuhi panggilan Sang Maha Agung. Karena itulah azan dengan kalimat-kalimatnya yang pendek meninggalkan kesan mendalam di kalbu manusia. Mary, wanita warga Inggris yang kini telah mengubah nama menjadi Zahra menceritakan kisahnya memeluk agama Islam. Dia mengatakan, "Akupertama kali mengenal Islam setelah terkesima mendengar suara azan. Suara itu sedemikian merasuk ke dalam hati sehingga menarikku ke arah Tuhan semesta alam."

Adzan dimulai dengan takbir yang berarti menyebut kebesaran Allah Swt. Lalu muazin melanjutkan dengan kesaksikan akan keesaan Allah dan bahwa semua yang ada di dunia ini berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya. Dialah yang mengatur segala sesuatu dan memiliki sifat-sifat kesempurnaan. Tak ada yang menyamai-Nya dan tak ada sekutu bagi-Nya. Kemudian, muazin menyuarakan kesaksian akan kenabian Muhammad Saw. Beliaulah utusan Allah kepada umat manusia dengan membawa wahyu Ilahi. Selanjutnya a-dzan mengikrarkan bahwa shalat adalah amalan terbaik yag menjamin kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Untuk itu, masyarakat diseru untuk bersegera melaksanakan ibadah ini.

Azan pertama kali dikumandangkan di zaman Nabi Muhammad Saw. Setelah hijrah ke Madinah, para sahabat membicarakan masalah shalat dan bagaimana caranya mengumumkan bahwa sudah tiba waktu shalat. Masing-masing menyampaikan usulannya yang kebanyakan meniru apa yang dilakukan agama-agama yang lain. Tak lama, malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw dan memerintahkan untuk mengajarkan azan kepada umat. Nabi Saw lalu mengajarkannya kepada Ali bin Abi Thalib dan menyuruhnya untuk mengajarkan azan kepada Bilal. Sejak saat itu, Bilal bekas budak berkulit hitam asal negeri Habasyah secara resmi menjadi muazin kaum muslimin.

Sejak awal Islam, azan dipandang sebagai salah satu syiar penting agama Islam. Azan sarat dengan zikir dan ikrar tauhid yang merasuk ke kalbu yang paling dalam. Karena itu, Islam juga menghormati para muazin. Dalam sebuah riwayat Imam Ali Ridha as berkata, Rasulullah Sawbersabda, "Di hari kiamat nanti, para muazin punya kedudukan yang lebih tinggi di antara semua orang. Muazin adalah sahabat setia bagi setiap orang yang mengingatkannya akan kewajibannya."

Kehidupan manusia tak bisa dilepaskan dari kesibukan dan urusan materi yang terkadang membuatnya lupa akan kewajiban yang mesti dijalankan. Dalam kondisi seperti ini, tentunya ia akan sangat berhutang budi kepada orang yang menyadarkan akan kewajibannya. Karena itu orang tersebut memiliki hak yang besar di atas pundaknya. Dalam Risalatul Huquq Imam Sajjad as menyebutkan adanya sejumlah hak bagi muazin. Beliau berkata, "Hak muazin atas dirimu adalah hendaknya kau menyadari bahwa dialah yang mengingatkanmu akan Tuhanmu. Dialah yang menyerumu kepada kebaikanmu. Dia adalah sebaik-baik yang memberi pertolongan kepadamu dalam menjalankan kewajiban yang telah Allah pikulkan atas dirimu. Maka berterimakasihlah kepadanya sebagaimana kau berterima kasih kepada orang yang berbuat baik kepadamu di hadapan Allah. Engkau harus menyadari pula bahwa dia adalah anugerah dan nikmat dari Allah yang harus kau perlakukan dengan baik dan dalam segala keadaan syukurilah nikmat Allah."

Nilai-nilai agung yang ada dalam azan menunjukkan bahwa Allah pasti akan memberi pahala yang besar disisi-Nya kepada orang yang mengumandangkan syiar tauhid dan penghambaan ini. Imam Sajjad as menyebut orang memanfaatkan suara indahnya untuk mengumandangkan azan sebagai nikmat dari Allah. Imam Jafar Shadiqas dalam sebuah hadis juga menjelaskan fadhilah muazin dan kedudukan maknawiyahnya di sisi Allah. Beliau berkata, "Selama suaranya masih mengumandang Allah mengampuni dosa muazin sejauh matanya memandang…Allah juga akan memberikan pahala dan kebaikan kepada siapa saja yang memerhatikan azan itu dan melaksanakan shalat setelah mendengarnya."

Azan adalah syiar Islam yang kaya akan makrifat. Alangkah baiknya jika kita bisa merenungkan manka-makna agung tauhid dan penafian syirik yang terkandung di dalamnya. Dengan merenungkannya, keimanan kita akan bertambah dan semakin bersemangat untuk memasyarakat dan menyebarkan syiar Islam ini.

Senin, 07 Januari 2013 19:47

Risalah Huquq; Hak Tetangga

Salah satu hal yang mendapat perhatian besar dalam Islam adalah masalah emosi, gotong royong dan upaya saling membantu. Masalah-masalah ini semakin menemukan tempatnya saat manusia memasuki era seperti sekarang ini, yaitu era modern yang menjerumuskan manusia ke dalam kehidupan mesin. Islam berusaha membangun tatanan dan kehidupan sosial yang baik dan sehat dengan hubungan yang hangat dan saling percaya di antara semua elemen masyarakatnya. Untuk itu, Islam menekankan semua hal yang bisa memperkuat hubungan sosial di antara anggota masyarakat serta melarang apa saja yang bisa melemahkannya.

Dalam perspektif Islam, hubungan di antara manusia harus tercipta dengan landasan ketulusan dan kejujuran tanpa ada noda tipu daya dan kecurangan. Pergaulan yang baik akan melahirkan keamanan dan ketenangan hati sementara penyalahgunaan kepercayaan akan memicu kemerosotan akhlak dan menimbulkan banyak dilema sosial lainnya. Menurut para ahli, kemunduran dan dekandensi akhlak di tengah masyarakat biasanya disebabkan oleh kesalahan individu yang lantas menemukan bentuknya dalam hubungan sosial. Fenomena itu secara perlahan akan menggerus tatanan sosial dan membawanya kearah penyimpangan.

Untuk mempererat hubungan di antara manusia, agama menganjurkan kita untuk berbuat baik kepada sejumlah kelompok, diantaranya tetangga. Berbuat baik kepada tetangga sangat berkesan dalam menciptakan ketenangan dan mendatangkan rasa aman bagi anggota keluarga. Limpahan berkah akan datang ketika orang-orang yang bertetangga menjalin hubungan yang baik di antara mereka. Salah satu berkahnya adalah kian menguatnya jiwa kebersamaan dan rasa saling menolong untuk menciptakan lingkungan yang baik dan sehat. Hal itu akan menimbulkan kesan yang baik pada jiwa dan memperpanjang usia. Tetangga yang baik adalah nikmat Ilahi yang sangat berharga. Hati akan tertambat saat hubungan antartetangga terbina dengan penuh kasih sayang. Karena itu, Islam menekankan hubungan baik ini. Imam Ali as berkata, "Tetangga yang baik akan memakmurkan negeri dan memperpanjang usia."

Bersikap baik, menolong kala diperlukan, mengunjungi saat sakit, mengulurkan bantuan keuangan dan berbagi rasa, adalah tanda-tanda bagi hubungan cinta sesama di antara manusia dan tugas yang diemban masing-masing orang terhadap tetangganya. Rasulullah Saw dalam sebuah hadisnya bersabda, bahwa banyak sekali perintah Allah untuk menjaga hak tetangga sampai-sampai muncul anggapan bahwa tetangga akan saling mewarisi.

Dalam sebuah hadis yang lain, Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbuat baik kepada tetangganya." Berbuat baik dalam hadis itu memiliki makna yang luas. Menurut beliau, seseorang yang ingin meninggikan atap rumahnya supaya meminta persetujuan tetangganya agar peninggian atap rumah itu tidak menghalangi tiupan angin atau masuknya cahaya ke dalam rumah tetangganya. Jika tetangga mendapat suatu anugerah hendaknya ia datang untuk mengucapkan selamat. Ucapan itu akan menyenangkan hati tetangganya.

Imam Sajjad dalam Risalatul Huquq menyebutkan beberapa hak bagi tetangga. Beliau mengatakan, "Hak tetangga adalah hendaknya engkau menjadi penjaga baginya saat ia tidak ada. Saat ia ada hendaknya engkau menghormatinya dan membantunya dalam semua hal. Jangan memata-matainya untuk mengetahui rahasia dan kejelekannya. Jika mengetahui keburukannya maka jadilah engkau benteng atau tabir yang menutupinya. Jangan engkau dengarkan kata-kata yang menyudutkannya. Jangan biarkan ia sendirian mengatasi kesulitan. Janganlah iri saat melihat ia mendapat kesenangan. Maafkanlah jika ia melakukan kesalahan. Perlakukanlah ia dengan lemah lembut meski ia melakukan tindakan bodoh terhadap dirimu. Jangan pernah engkau mencemoohnya dengan kata-kata. Dan perlakukanlah ia dengan penghormatan."

Sejatinya, gesekan adalah satu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika sekelompok manusia hidup bersama dalam sebuah lingkungan mungkin ada sejumlah oknum yang tidak mengindahkan prinsip pergaulan dan hubungan yang baik. Tindakan itu akan menghilangkan kenyamanan dan membuat banyak orang terganggu. Kondisi itu memicu munculnya ketidakharmonisan dan kekeruhan hubungan di tengah masyarakat. Imam Sajjad mewanti kita untuk tidak mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain serta selalu berusaha menjaga keamanan mereka. Rumah adalah tempat berlindung yang aman bagi semua orang. Beliau juga menekankan bahwa semua orang hendaknya memerhatikan ketegangan dan kenyamanan anggota masyarakat lainnya, terutama tetangga. Jangan sampai mengganggu dan jika ada kesalahan kita diimbau untuk berlapang dada dan memaafkan.

Senin, 07 Januari 2013 19:45

Risalah Huquq; Hak Harta

Imam Sajjad mengatakan, "Hak harta dan kekayaan adalah hendaknya ia tidak diperoleh kecuali melalui jalan yang halal dan jangan digunakan kecuali untuk keperluan yang halal. Jangan engkau belanjakan harta bukan pada tempatnya dan jangan engkau alihkan kepada orang lain melalui jalan yang tidak benar. Karena harta itu engkau dapatkan dari Allah maka jangan engkau gunakan kecuali untuk mendekatkan dirimu kepada Allah. Jangan engkau dahulukan orang yang tidak berterima kasih kepadamu dari dirimu dengan hartamu, sebab bisa jadi ia akan menggunakannya di jalan yang tidak diridhai Tuhanmu."

Kali ini kita akan menyimak penjelasan tentanghak harta kekayaan sebagaimana yang diajarkan Imam Ali Zainal Abidin as dalam Risalatul Huquq. Mencari harta, beraktivitas ekonomi, bekerja untuk memenuhi keperluan hidup adalah sebuah keniscayaan bagi manusia untuk hidup terhormat. Nabi Saw dan Ahlul Bait as mendorong umat untuk giat bekerja dan mencari nafkah guna menghidupi keluarga. Aktivitas ekonomi dalam persepsi insan-insan agung itu adalah aktivitas yang membuat manusia menjadi terhormat dan tidak memerlukan uluran bantuan orang lain. Bekerja akan menyalurkan energi dan kekuatan yang tersimpan pada tubuh dan jiwa manusia lewat cara yang baik. Ketika seseorang aktif bekerja, maka pikirannya akan terfokus dan kepribadiannya akan semakin kokoh.

Bekerja mencari rezeki adalah aktivitas yang membuat keceriaan dan menjadi tonggak penopang kehidupan. Dengan bekerja orang akan terhindar dari keterhinaan di depan orang lain. Al-Quran al-Karim menyebut harta sebagai hiasan kehidupan dunia. Dalam pandangan Islam, orang yang memiliki harta berlimpah tetap tidak boleh bermalas-malasan. Islam mengimbau umatnya untuk tetap bekerja sampai detik-detik akhir kehidupannya. Suatu hari, Rasulullah Saw mengangkat tangan seorang buruh yang tangannya bengkak karena terlalu banyak bekerja, lalu bersabda, "Tangan ini tak akan pernah tersentuh api neraka. Inilah tangan yang dicintai oleh Allah dan RasulNya. Orang yang menghidupi diri dengan kerja kerasnya akan ditatap oleh Allah dengan pandangan penuh rahmat."

Dalam Risalatul Huquq, Imam Sajjad as bahwa harta dan kekayaan adalah milik Allah. Karena itu, harta hendaknya didapat dari jalan yang halal dan diridhai Allah. Dari sisi lain, manusia adalah makhluk yang rakus dan sangat mencintai harta. Banyak orang yang gemar menumpuk harta. Manusia gemar berbangga-bangga dengan kekayaan. Semakin banyak kekayaan yang ditimbun orang akan merasa memiliki kekuasaan yang lebih besar. Banyak orang yang berambisi meraih kekuasaan lewat kekayaan yang berlimpah. Mereka berharap harta bisa membuat seseorang lebih berpengaruh di depan masyarakat. Orang-orang yang seperti ini tak akan menikmati ketenangan hidup. Sebab, berapapun banyaknya harta yang telah dikumpulkan, mereka tetap tak merasakan kepuasan.

Dikisahkan bahwa suatu hari seseorang yang gemar mengumpulkan harta mengeluhkan kondisinya tak pernah tenang. Dia mendatangi Imam Jafar Shadiq as dan berkata, "Aku selalu sibuk mencari harta tapi tak pernah merasa puas. Hawa nafsu selalu mendorongku untuk lebih banyak mengejar harta. Ajarilah aku satu hal supaya aku bisa meraih manfaat spiritual dan keluar dari kondisiku ini." Imam mengajaknya untuk mengubah cara pandang terhadap kehidupan. Beliau berkata, "Jika engkau merasa cukup dengan apa yang memenuhi keperluan hidup, maka harta yang sedikit akan membuatmu puas. Tapi jika engkau tidak merasa cukup maka seluruh harta di dunia ini tak akan pernah bisa memuaskan jiwamu yang serakah."

Di zaman ini, banyak orang memandang harta dan kekayaan sebagai segala-galanya. Di sejumlah masyarakat harta telah menggeser nilai-nilai etika dan spiritualitas dan menjadi acuan dalam menilai seseorang. Imam Sajjad as menyeru manusia untuk memikirkan pekerjaan dan pendapatan yang layak dan sesuai baginya. Beliau juga mengimbau supaya memperhatikan kenetralan dalam membelanjakan harta. Harta bukanlah untuk berbelanja lebih banyak. Sebab, manusia tak akan pernah puas dengan pembelanjaan hartanya sebesar apapun uang yang sudah ia keluarkan.

Topik lain yang disinggung Imam Sajjad as sebagai hak harta adalah orang hendaknya membelanjakan hartanya di jalan yang baik. Ia juga mesti memerhatikan harta yang ia tinggalkan untuk orang lain setelah ia meninggal. Orang yang memiliki kekayaan harus menyadari bahwa harta punya hak lain yaitu hak untuk dibelanjakan demi kebaikan masyarakat. Setiap orang bisa menggunakan harta yang ia miliki untuk kebaikan demi membangun kehidupan akhirat yang lebih baik. Menyantuni orang lain, membayar zakat dan khumus, memberi pinjaman kepada orang lain yang tertimpa masalah keuangan, membangun pusat-pusat pendidikan dan layanan medis, serta hal-hal yang seperti itu, adalah amalan-amalan yang bisa dilakukan harta dan memberikan kesenangan maknawiyah. Amalan inilah yang termasuk amal saleh yang pahalanya akan dilipatgandakan di sisi Allah.

Senin, 07 Januari 2013 19:43

Makna Tawakal Kepada Allah Swt

Al-Quran di banyak tempat menyebut tawakal kepada Allah sebagai ciri khas orang beriman. Allah swt berfirman, "... Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS. al-Maidah: 23)

Dalam tafsir al-Mizan karya Allamah Thabathabai istilah tawakal didefinisikan sebagai berikut:

"Pengaruh kehendak dan sampainya sesuatu yang dimaksud di alam materi membutuhkan mata rantai sebab dan faktor alami serta silsilah faktor kejiwaan. Ketika manusia memasuki medan amal dan telah menyiapkan seluruh faktor alami yang dibutuhkan dan satu-satunya yang berada antara dirinya dan tujuan adalah sejumlah faktor kejiwaan seperti lemahnya kehendak, keputusan, takut dan lain-lain.

Dalam kondisi yang demikian, bila seseorang bertawakal kepada Allah Swt, maka kehendaknya menjadi kuat dan tekadnya semakin besar. Ketika hal itu terjadi maka segala bentuk rintangan dan gangguan kejiwaan akan terkalahkan. Karena manusia dalam posisi bertawakal menyambungkan dirinya dengan penyebab segala sesuatu dan ikatan ini tidak memberikan kesempatan adanya kekhawatiran dan ketakutan.

Selain itu, ada poin penting lain tentang tawakal, yaitu dimensi gaib dan metafisika. Artinya, Allah Swt membantu orang yang bertawakal dengan dan bantuan ini lebih tinggi dari sebab alami dan berada di atas tingkat sebab materi. Lahiriah ayat al-Quran yang menyebutkan, "... Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya ..." (QS. At-Talaq: 3) menunjukkan bantuan gaib dari Allah Swt."

Imam Ali as tentang tawakal berkata, "Barang siapa yang bertawakal kepada Allah Swt, maka setiap kesulitan akan menjadi kemudahan, segala sebab terpenuhi baginya dan senantiasa merasa tenang, lega dan mulia."

Tawakal sangat berpengaruh dalam kehidupan individu dan sosial manusia, termasuk kemampuan manusia dalam mengambil keputusan. Yakni, ketika manusia bertawakal kepada Allah, maka ia akan dapat melanjutkan pekerjaannya dengan tekad yang kuat dan berdasarkan keputusan yang pasti. Ayat-ayat al-Quran banyak berbicara tentang hal ini.

Keberanian merupakan pengaruh lain bagi manusia yang bertawakal dan banyak disebutkan dalam ayat-ayat al-Quran. Yakni, ketika manusia bertawakal kepada Allah Swt, berarti ia memasuki satu medan dimana ia tidak takut akan terhadap seseorang dan sesuatu.

Pengaruh ketiga dari tawakal adalah meninggalkan dosa dan tidak dikuasai oleh setan. Allah Swt dalam surat Yunus ayat 85 berfirman, "Lalu mereka berkata: "Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim."

Dengan demikian, seberapa besar manusia bertawakal kepada Allah Swt, maka sebesar itu pula ia keluar dari kendali setan dan akhirnya ia akan terjaga dari penyesatan yang dilakukan setan.

Pengaruh tawakal juga disebutkan dalam hadis-hadis seperti kekuatan dan keberanian. Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yang ingin dirinya menjadi orang yang paling kuat, maka hendaklah ia bertawakal kepada Allah Swt."

Cita-cita yang tinggi juga merupakan pengaruh dari tawakal kepada Allah Swt. Pengaruh ketiga dari tawakal kepada Allah Swt yang disebutkan dalam hadis adalah pentingnya bekerja dan beraktivitas. Sebagai contoh, dalam riwayat disebutkan Rasulullah Saw melihat sebuah kelompok yang tidak bekerja. Beliau kemudian bertanya, "Apa yang kalian kerjakan?"

Mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang yang bertawakal kepada Allah Swt."

Nabi Saw bersabda, "Kalian tidak termasuk orang-orang yang bertawakal, tapi bergantung kepada orang lain."

Sesuai dengan doa Imam Sajjad as menyebut manusia mukmin menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah Swt dan di seluruh tahapan kehidupannya menilai Allah sebagai pendukungnya. Imam Sajjad as dalam doanya berkata, "Ya Allah! Saya hanya memohon kepada-Mu dan Engkau sumber harapanku. Saya hanya meminta dan berlindung kepada-Mu. Saya percaya kepada-Mu dan Engkau adalah pendukungku. Saya beriman kepada-Mu dan hanya bertawakal kepada-Mu.

Ibnu Durustuwiyah, Ahli Nahwu Meninggal

Abu Muhammad, Abdullah bin Jakfar bin Muhammad bin Durustuwiyah, ahli nahwu, bahasa dan sastra Arab lahir di kota Baghdad tahun 258 Hq. Ia juga menguasai ilmu hadis dan dalam ilmu nahwu Ibnu Durustuwiyah mengikuti Ali bin Isa Rummani dan Mubarrad.

Ibnu Durustuwiyah banyak meninggalkan karya seperti al-Irsyad, al-Kuttab, Akhbar an-Nahwiyyin dan Ma'ani Syi'r. Ia meninggal dunia di Baghdad pada 24 Shafar 347 Hq dalam usia 88 tahun.

 

Shahib bin Ibad Meninggal

Tanggal 24 Shafar tahun 385 Hijriah, Shahib bin Ibad, seorang sastrawan Persia pada masa pemerintahan Dinasti Dailami, meninggal dunia. Kehebatan Shahib bin Ibad membuatnya diangkat sebagai menteri oleh Dinasti Dailami, namun jabatan itu tidak mengubah sikapnya yang selalu rendah hati.

Karya Shahib bin Ibad yang paling terkenal berjudul al-Muhith yang berisi tentang ilmu bahasa dan terdiri dari tujuh jilid. Karya-karya lain Shahib bin Ibad berjudul Imamat, al-Anwar, dan al-A'yad wa Fadhaailun.