AS Rezim Nakal

Rate this item
(0 votes)
AS Rezim Nakal

 

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan, Amerika Serikat berubah menjadi rezim nakal dan penipu karena keluar dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Mohammad Javad Zarif saat diwawancarai Sputnik ketika menganalisa kebijakan Amerika setelah keluar dari JCPOA menjelaskan, AS pastinya telah berubah menjadi pemerintahan penipui dan pelanggar perjanjian serta masyarakat internasional sampai pada kesimpulan bahwa Washington bukan mitra yang dapat dipercaya.

Seiring dengan berkuasanya Donald Trump di Gedung Putih, ketidakpedulian terhadap hukum dan perjanjian internasional serta pengabaian terhadap multilateralisme menjadi pondasi teladan perilaku Amerika.

Donald Trump di koridor pendekatan unilateral dan pelanggaran norma-norma legal, selain JCPOA juga secara beruntun keluar dari perjanjian serta organisasi internasional. Pertunjukan terbaru serial keluarnya Trump dari kamp internasional adalah keluarnya Amerika dari Organisasi Kesehatan Internasional (WHO) di tengah-tengah maraknya upaya melawan pandemi Corona.

Kecenderungan saat ini yang ditempuh Amerika, merupakan ancaman bagi supremasi hukum dan sistem multilateral di mana perilaku Trump melawan kepentingan masyarakat dunia dan bahkan rakyat Amerika sendiri.

Sebuah negara yang melanggar norma-norma legal dan tidak patuh terhadap komitmennya, pantas untuk disebut sebagai rezim penipu dan nakal serta berlanjutnya kecenderungan ini tidak efektif di sistem global dan hanya memperluas instabilitas.

Mohammad Javad Zarif meyakini apa yang dibutuhkan tatanan global saat ini adalah fokus pada supremasi hukum dan multipolar sehingga seluruh kepentingan negara akan terjamin.

Misalnya di masa pandemi Corona, apa yang menjamin keamanan kesehatan masnuia di hadapan virus COVID-19 yang tak mengenal batas teritorial ini adalah konvergensi, kerja sama kolektif dan memanfaatkan pengalaman medis dan pengobatan berbagai negara. Poros yang membentuk erja sama kolektif di perang melawan Corona adalah WHO sebagai pengemban misi melindungi nyawa umat manusia di hadapan berbagai penyakit.

Di kondisi seperti ini, sikap Amerika yang melanggar norma dan hukum dengan keluar dari WHO bukan saja tidak menguntungkan masyarakat global, umat manusia dan rakyat Amerika sendiri, bahkan merugikan upaya internasional untuk melawan krisis Corona dan memastikan keamanan semua orang.

Ketua DPR Amerika Nancy Pelosi meyakini ketika nyawa jutaan orang terancam akibat wabah Corona, Donald Trump malah berusaha melumpuhkan upaya global untuk menangani pandemi ini.

Teros Letjen Qassem Soleimani, komandan pasukan Quds IRGC di wilayah Irak juga sebuah pertunjukan puncak kecongkakan Amerika yang meneror tamu rakyat Irak dan komandan sejati perang melawan terorisme di kawasan Asia Barat.

Keluar dari JCPOA, organisasi internsional dan yang lebih penting ketidakpedulian terhadap norma dan hukum internasional serta pengakuatan atas kejahatan teror terhadap Jenderal Soleimani, merupakan indikasi nyata akan perubahan AS menjadi sebuah rezim nakal dan penipu di mana dampaknya adalah kian meluasnya instabilitas bagi semua pihak. 

Read 32 times

Add comment


Security code
Refresh