Serangan Israel ke Gaza dan Respon Keras Pejuang Palestina

Rate this item
(0 votes)
Serangan Israel ke Gaza dan Respon Keras Pejuang Palestina

 

Militer rezim Zionis Israel melancarkan beberapa kali serangan udara dan artileri ke Jalur Gaza selama beberapa pekan terakhir, terutama pada hari-hari akhir bulan Agustus 2020, seperti pada Senin pagi, 24 Agustus 2020.

Serangan tersebut menarget posisi-posisi Kelompok Perlawanan Islam Palestina (Hamas) di Gaza. Artileri militer Israel pada Minggu (30/8/2020) dini hari menyerang sebuah pangkalan milik pasukan kontrol lapangan di bawah Departemen Dalam Negeri Palestina di timur distrik al-Fakhari, timur Khan Yunis, selatan Gaza.

Militer Israel juga menyerang markas lain pasukan Departemen Dalam Negeri Palestina di timur kota Deir al-Balah, Gaza tengah. Menanggapi serangan ini, Ketua Biro Politik Hamas Ismail Haniyah mengatakan, muqawama tidak akan diam dan penjajah harus menerima tanggung jawabnya atas kejahatan yang mereka lakukan terhadap masyarakat di Gaza.

Israel juga memblokade Gaza dari darat, laut dan udara sejak tahun 2006 dan melarang masuknya bahan-bahan pokok ke wilayah berpenduduk sekitar dua juta jiwa itu.

Juru Bicara Hamas Fauzi Barhoum hari Senin (24/08/2020) mengatakan, kelanjutan serangan Israel ke Gaza dan blokade atas wilayah ini adalah agresi berkelanjutan terhadap rakyat Palestina, di mana dampaknya akan menjadi tanggung jawab rezim penjajah.

Namun dia menegaskan, peningkatan blokade atas Gaza dan pencegahan masuknya bahan bakar, barang dan kebutuhan pokok ke wilayah ini tidak akan pernah mengurangi tekad rakyat Palestina dan perlawanannya.

Juru bicara Hamas itu meminta lembaga-lembaga hukum dan komunitas internasional untuk berusaha mencegah agresi Israel ke Gaza dan mengakhiri pengepungannya.

Sementara itu, Ketua Biro Politik Hamas Ismail Haniyah mengatakan kini Jalur Gaza menghadapi tiga kendala bersamaan yang harus segera dihilangkan.

Dia menjelaskan, kendala pertama adalah blokade dan dampaknya bagi warga, kedua, kondisi pasien Virus Corona di luar wilayah karantina dan ketiga, melawan agresi berulang rezim Zionis.

"Rezim ini secepatnya harus mengakhiri blokade Gaza, menghentikan agresi dan mengizinkan masuknya peralatan medis untuk melawan Virus Corona," pungkasnya.

Gerakan Jihad Islam Palestina juga menekankan upaya untuk mematahkan blokade Gaza dan memperingatkan Israel terkait berlanjutnya sabotase dalam implementasi syarat yang berkaitan dengan diakhirinya blokade tersebut.

Rezim Zionis telah memblokade Jalur Gaza dari darat, laut dan udara sejak 2006 dan blokade ini telah menimbulkan beragam masalah besar bagi sekitar dua juta penduduk Palestina.

Di antara masalah serius yang muncul adalah kurangnya pasokan bahan bakar untuk tenaga listrik di Gaza sehingga terjadi krisis listrik yang berkepanjangan.

Israel melarang masuknya bahan-bahan dasar seperti bahan bakar, obat-obatan dan bahan bangunan ke Gaza, termasuk komponen penting untuk pembangkit listrik.

Krisis listrik juga mengancam penghentian operasi 90% pabrik di Gaza. Menurut Federasi Serikat Buruh Palestina, 500 pabrik di berbagai bidang terancam kandas jika generator listrik satu-satunya di Gaza berhenti. Dan jika ini terjadi, 50 ribu buruh terancam kehilangan pekerjaan dan produksi juga akan menurun drastis.

Blokade rezim Zionis terhadap Gaza yang telah berlangsung kurang lebih 14 tahun telah membuat peningkatan kemiskinan hingga 80%.

Menurut Muhammad Tsabut,  Penanggung Jawab Informasi Perusahaan Listrik Gaza, pusat generator listrik berhenti beroperasi akibat kehabisan bahan bakar setelah suplai bahan bakar dari wilayah Israel berhenti sejak ditutupnya terminal Karem Abu Salem pada pertengahan Agustus 2020.

Otoritas rezim Zionis menutup stasiun barang Karem Abu Salem di Gaza timur dan melarang masuknya bahan bakar solar yang dibutuhkan untuk pembangkit listrik di Gaza.

Muhammad Tsabut mengatakan,  situasi ini mengakibatkan pasokan listrik ke rumah warga terhambat, dan Gaza hanya mampu memasok listrik 3-4 jam saja.

Lembaga-lembaga HAM Palestina memperingatkan bahaya jika  pasokan listrik ke Gaza mengalami masalah, terutama bahaya untuk sektor kesehatan, industri dan perdagangan.

Krisis listrik juga akan mempengaruhi suplai air bersih ke rumah warga, sebab, sumur Gaza membutuhkan pompa listrik. Operasional stasiun pengolahan limbah juga akan terganggu dengan kurangnya pasokan listrik sehinga Gaza akan mengalami pencemaran. 

Read 28 times

Add comment


Security code
Refresh