Psikologi Haji

Rate this item
(0 votes)

Islam telah memberikan berbagai solusi kepada manusia untuk menggapai derajat spiritual tinggi dan ketenangan jiwa. Salah satunya adalah ritual ibadah dan di antara ritual ini, ibadah haji menempati posisi cukup signifikan dalam menempa jiwa manusia. Di berbagai riwayat Islam disebutkan haji termasuk penyempurna syariat, bendera Islam serta salah satu dari rukun Islam.

Di sisi lain, ilmu psikologi menyebut haji sebagai faktor konstruktif bagi manusia dan mampu menghapus rasa khawatir serta kesedihan yang menghinggapi manusia. Namun jangan dilupakan bahwa haji yang memiliki pengaruh konstruktif ini adalah ibadah haji yang dilakukan dengan benar dan sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, tak heran jika sejumlah pengamat menfokuskan risetnya pada sisi moral, politik, sosial, ekonomi dan bahkan psikologi haji.

Sejarah menyebutkan kecenderungan manusia terhadap agama telah ada sejak lama dan agama menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Frankl Viktor, psikolog asal Austria meyakini kecenderungan beragama memiliki akar yang mendalam di setiap alam bawah sadar manusia. Riset ilmiah membuktikan semakin tinggi tingkat religius seseorang maka manusia semakin kebal tarhadap gangguan kejiwaan serta prilaku menyimpang.

Calr Gustav Jung, pemikir dan psikolog Swiss di bukunya "Psikologi Agama" menulis, "Saya sepenuhnya yakin bahwa keyakinan dan ritual agama paling tidak dari sisi kesehatan kejiwaan memiliki pengaruh penting." Prilaku dan keyakinan seperti tawakal kepada Tuhan, doa, ziarah serta ibadah lainnya memberi pengaruh positif serta ketenangan jiwa. Keyakinan akan adanya Tuhan Sang Pencipta dan mengawasi setiap gerak hamba serta akan memberi pahala bagi setiap amalan saleh mampu menurunkan instabilitas kejiwaan.

Mayoritas mereka yang beriman menyebut interaksi dirinya dengan Tuhan tak ubahnya hubungan dengan seorang sahabat dekat. Orang mukmin meyakini mampu menghapus dampak buruk dari kegagalan dan kondisi sulit yang mereka hadapi dengan bertawakal serta menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan. Komunitas masyarakat yang beragama di kehidupan modern saat ini lebih sehat ketimbang mereka yang tidak percaya pada agama, karena dengan menjalankan tuntutan agama mereka berprilaku lebih sehat.

Ritual haji bukan sekedar amalan biasa. Jika kita telusuri lebih mendalam melalui kaca mata sains dan ilmu modern, kita akan sampai pada kesimpulan mengagumkan, khususnya dari sisi psikologi. Haji adalah perjalanan spiritual dan kejiwaan. Perjalanan ini memiliki daya tarik tersendiri dan pelakunyamerasakan perasaan manis ketika menempuh perjalanan spiritual ini. Ketika manusia melakukan ibadah haji, ia merasakan pengalaman baru berupa kebebasan yang menggembirakan. Perasaan gembira saat menempuh perjalanan spiritual haji juga berefek dalam kejiwaan dan bertahan lama dalam diri manusia.

Saat menempuh perjalanan biasa terkadang tumbuh perasaan asing dan kesendirian dalam diri manusia. Ia kadang merasa dirinya berada di tengah-tengah orang asing. Namun ketika tujuan perjalanan ini memiliki dimensi ketuhanan dan dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan maka ia tidak akan merasa asing lagi. Karena kedekatan sang musafir dengan tujuannya membuatnya semakin bergairah untuk segera menemui sang tuan rumah. Oleh karena itu, perjalanan haji sangat berbeda dengan perjalanan biasa.

Manusia biasanya melakukan suatu perjalanan untuk menjahui dirinya sendiri dan berusaha melupakannya untuk beberapa waktu. Sebaliknya perjalanan haji membuat seseorang semakin dekat dengan dirinya dan merenungkan hakikat serta jati dirinya yang sebenarnya. Sejatinya haji adalah perjalanan internal seseorang untuk mengintropeksi diri. Di perjalanan biasa terkadang manusia secara tak sadar melakukan perbuatan yang merugikan dirinya. Namun di perjalanan haji, seseorang memiliki kesempatan untuk membersihkan diri dari sifat-sifat tak terpuji.

Hal inilah yang mendorong mayoritas psikolog menyebut perjamuan akbar dan ritual haji sebagai sarana paling tepat bagi kesehatan jiwa manusia. Menurut mereka, kebanyakan depresi dan gangguan kejiwaan yang dialami manusia dapat diobati melalui amalan-amalan ibadah haji. Haji juga dapat disebut sebagai perjalanan dan pengalaman pribadi yang mampu mendekatkan manusia pada jati dirinya yang sejati.

Di perjalanan biasa, kondisi sosial dan ekonomi selaras dengan tujuan sang musafir. Namun di perjalanan haji, seluruh manusia dari berbagai kelas menuju tujuan yang sama dan berkumpul tanpa membedakan strata sosial yang dimilikinya. Dengan memakai pakaian yang seragam saat haji sebenarnya manusia telah melepaskan diri dari pangkat dan strata duniawi. Kondisi ini secara psikologis sangat penting, karena kesedihan dapat ditanggung bersama dan kegembiraan pun dibagi sesama jemaah lainnya.

Pekerjaan yang dilakukan secara kolektif serta melalui ritual bersama haji membuka peluang bagi manusia untuk bersosial dan lepas dari rasa egoisme yang kerap menjeratnya, atau paling tidak menjahui sikap ini. Rasa kebersamaan yang digalang melalui kepercayaan kolektif, di tengah-tengah dunia yang dipenuhi perseteruan pribadi dan sosial, merupakan nikmat besar yang harus disyukuri.

Salah satu kendala sosial yang dihadapi masyarakat modern pudarnya rasa kemanusiaan dan minimnya perasaan. Di ritual haji, manusia kembali menemukan kesempatan untuk memupuk kembali rasa kemanusiaan dengan persatuan dan mengerjakan ritual kolektif haji, sehingga mereka dapat mengecap kembali kelezatan nilai kemanusiaan. Dengan kata lain, perjalanan haji menjadi kesempatan untuk mendidik diri memahami persamaan derajat dan persaudaraan.

Kesulitan kehidupan sosial membuat manusia terjebak dalam berbagai kendala kehidupan dan lupa akan dirinya sendiri. Haji sarana bagi manusia untuk melepaskan diri dari kondisi kejiwaan sosial seperti ini. Dan ia mampu memperbaruhi diri dan kehidupannya yang menjemukan. Dalam pandangan psikologi, perjalanan haji adalah perjalanan mendidik yang membantu seseorang untuk memulihkan kesehatan jiwanya. Dalam pandangan sosiolog, ritual haji menjadi teladan bagi rasa solidaritas dan kehidupan bersosial. Ritual haji juga dapat dijadikan obyek penelitian ilmiah.

Sementara itu, Imam Ali as banyak menyinggung tentang rahasia dan filsafat haji. Imam Ali as dalam salah satu khutbahnya yang tercantum dalam buku Nahjul Balaghah berkata, "Allah Swt mewajibkan ibadah haji kepada kalian dengan menempuh perjalanan ke rumah-Nya yang dijadikan sebagai kiblat ummat Islam. Jamaah haji bak orang yang haus menemukan air dan meminumnya hingga lepas dari dahaga. Mereka berbondong-bondong mendatangi tempat tersebut seperti burung merpati yang mandatangi kandang dengan rasa rindu yang luar biasa. Allah Swt telah menjadikan Ka'bah supaya manusia tunduk di hadapan kebesaran-Nya."

Di tengah kehidupan sehari-hari terdapat pembagian sosial. Ada orang yang punya jabatan di bidang hukum, sosial dan politik. Di antara mereka juga ada yang mempunya suku yang lebih unggul dan rendah. Ada juga manusia yang kaya dan miskin. Akan tetapi Imam Ali as mengingatkan pembagian sosial itu bukanlah standar sesungguhnya. Akan tetapi standar sebenarnya di mata Allah hanya keyakinan kepada Allah Swt. Keyakinan ini lebih menonjol dari ibadah-ibadah lainnya. Dalam ibadah haji, semua orang dari berbagai negara baik kulit putih, hitam, kaya miskin, kuat lemah, ulama, awam, pejabat maupun warga biasa, semuanya berkumpul pada satu tempat tanpa pandang bulu. Persatuan ideologi yang tercermin dalam ibadah haji, menjadi sisi persamaan yang menonjol di tengah ummat Islam. Imam Ali dalam sebuah kata mutiaranya mengibaratkan tawaf para jamaah haji sebagai tawaf para penghuni singgasana ilahi. Imam Ali berkata, "Mereka mirip dengan para malaikat yang mengitari singgasana ilahi."

Menurut pandangan Imam Ali as, para jamaah haji yang berhasil melakukan ibadah haji, sama halnya dengan melangkah kaki seperti yang dilakukan para nabi dan menggabungkan diri bersama mereka dalam derajat ibadah dan ketundukan di hadapan Allah Swt. Imam Ali as berkata, "Mereka melakukan wukuf di tempat berdirinya para nabi."

Read 5669 times