کمالوندی
Aoun: Saatnya Sistem Sektarian Dihapuskan dari Lebanon!
Presiden Lebanon mengatakan sudah waktunya untuk mengubah sistem sektarian di Lebanon, yang selama ini menjegal segala bentuk upaya konstruktif untuk melakukan reformasi.
Michel Aoun dalam pidato peringatan 100 tahun berdirinya "Lebanon Besar" Minggu malam mengatakan bahwa Lebanon saat ini berada dalam krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mencakup krisis politik, ekonomi, finansial hingga sosial.
Presiden Lebanon menilai sistem sektarian yang didasarkan pada hak-hak kesukuan dan kuota di antara mereka saat ini menjadi penghambat pembangunan Lebanon, reformasi dan pemberantasan korupsi, dan juga menjadi faktor pemecah dan perpecahan.
"Rakyat Lebanon menginginkan perubahan dalam struktur negara, dan tuntutan mereka harus dihormati. Kini, waktu untuk perubahan," kata Aoun.
"Orang-orang Lebanon berhak memiliki pemerintahan yang memiliki kompetensi, dan hukum yang menjamin hak-hak yang adil untuk semua orang, sehingga nasib negara bergantung pada suara warga, bukan para pemimpin suku," tegasnya.
Protes Netanyahu, Pejabat Senior Rezim Zionis Mengundurkan Diri
Seorang pejabat senior kabinet rezim Zionis Israel mengundurkan diri dari jabatannya sebagai bentuk protes terhadap lemahnya kabinet Netanyahu dalam penanganan krisis ekonomi yang disebabkan penyebaran virus Corona.
Shaul Meridor hari Minggu (30/8/2020) mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala departemen anggaran di Kementerian Keuangan rezim Zionis Israel.
Ia mengkritik pemerintah Netanyahu, dan mengatakan bahwa Israel akan membayar mahal di tahun-tahun mendatang karena krisis ekonomi.
Selama beberapa pekan terakhir terjadi gelombang unjuk rasa memprotes kebijakan Perdana Menteri Israel.
Para pengunjuk rasa telah menyerukan pengunduran diri perdana menteri Israel sesegera mungkin, dan mengkritik kinerja kabinetnya yang buruk dalam mengendalikan penyebaran Covid-19 serta kasus korupsi yang melilit Netanyahu dan istrinya.
Fatah: AS Kurangi Pasukan karena Takut Pasukan Rakyat Irak
Perwakilan aliansi Al Fatah di Parlemen Irak mengatakan, jumlah pasukan Amerika Serikat di Irak sudah dikurangi karena khawatir diserang, dan takut pada pasukan perlawanan rakyat negara ini.
Fars News (31/8/2020) melaporkan, Fadel Jaber kembali menegaskan bahwa pasukan teroris Amerika harus keluar dari Irak.
Dalam wawancara dengan situs berita Al Malooma, Fadel Jaber menuturkan, keputusan Presiden Amerika Donald Trump untuk mengurangi jumlah pasukannya di Irak, membawa tiga pesan penting. Pertama, pasukan Amerika karena khawatir diserang, dan takut pada pasukan perlawanan rakyat Irak, terpaksa meninggalkan negara ini.
Kedua, tujuan Trump adalah pemilu presiden Amerika, pasalnya pelaksanaan pilpres di negara itu sudah semakin dekat. Ketiga, adalah pesan paling berbahaya Amerika, yaitu upaya negara ini untuk mempertahankan sebagian pasukannya di Irak, dan tetap menjaga kondisi ini.
Fadel Jaber menjelaskan, parlemen Irak sudah memutuskan untuk mengusir pasukan Amerika dari Irak, dan sama sekali tidak akan mundur dari sikap ini, semua pasukan Amerika harus keluar dari Irak.
Juru bicara aliansi Al Fatah, Ahmad Al Assadi sehari sebelumnya mengatakan, sudah kami katakan kepada Perdana Menteri Irak, Mustafa Al Kadhimi bahwa kami menentang kehadiran pasukan seperti pasukan Amerika untuk tiga tahun lagi di Irak.
Gerakan Islam Palestina: Saudi-UEA Sulut Perang Terbuka atas Akidah Islam
Wakil Ketua Gerakan Islam Palestina di wilayah pendudukan tahun 1948 mengatakan, Putra Mahkota Arab Saudi, dan Putra Mahkota Uni Emirat Arab dengan langkahnya terhadap Masjid Al Aqsa, telah menyulut perang atas akidah umat Islam.
Fars News (31/8/2020) melaporkan, Kamal Al Khatibi memprotes keras normalisasi hubungan antara Uni Emirat Arab dan rezim Zionis Israel.
Kepada situs berita Arab-21, Al Khatib menuturkan, apa yang dilakukan oleh Putra Mahkota UEA Mohammed bin Zayed dengan dukungan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, adalah perang terbuka terhadap akidah Islam.
Ia menambahkan, hanya umat Islam yang berhak atas Masjid Al Aqsa, dan Bin Zayed berusaha mendapatkan dukungan Amerika dan Israel lewat Masjid Al Aqsa.
Menurut Kamal Al Khatib, Bin Zayed kepada Amerika dan Israel mengatakan, dukung kami, maka kami akan memberikan lebih dari apa yang kalian inginkan. Apa yang lebih diinginkan mereka selain Masjid Al Aqsa, ini sama saja memberikan hak shalat di dalam Masjid Al Aqsa kepada mereka menjadi hak untuk membangun sinagog di dalamnya.
“Ini adalah perbuatan paling buruk, paling hina, dan paling bodoh yang pernah dilakukan seorang Muslim dan Arab sepanjang sejarah,” pungkasnya.
Rouhani: Iran Siap Tingkatkan Hubungan dengan Malaysia
Presiden Republik Islam Iran mengucapkan selamat memperingati hari ulang tahun kemerdekaan nasional ke-63 kepada pemerintah dan rakyat Malaysia.
Hassan Rouhani dalam pesan yang disampaikan kepada Raja Malaysia, Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa hari Senin (31/8/2020) menyatakan kepuasannya atas posisi dan upaya pemerintah bersama rakyat Malaysia dalam menyikapi masalah krisis dunia Islam, termasuk Palestina, juga kedekatan pandangan kedua negara.
"Iran memandang dialog dan interaksi konstruktif antara negara-negara Muslim sebagai satu-satunya jalan keluar dari masalah yang dihadapi dunia Islam," tulis Rouhani dalam pesannya kepada Raja Malaysia.
Rouhani juga mengundang Raja Malaysia mengunjungi Iran untuk membahas masalah dunia Islam dan inisiatif Republik Islam untuk memperkuat perdamaian dan stabilitas dunia, serta mengembangkan hubungan bilateral.
Presiden Republik Islam Iran juga menyampaikan harapannya semoga hubungan kedua negara di semua bidang dari politik, ekonomi, hingga budaya akan semakin meningkat dari sebelumnya.
Malaysia memperingati hari kemerdekaannya setiap tanggal 31 Agustus, dan tahun ini memasuki 63 tahun.(
Rahbar: Keamanan Iran Berutang Budi pada Pertahanan Udara
Kepala Kantor Militer Panglima Tertinggi seluruh Angkatan Iran dalam kontak telepon dengan Komandan Angkatan Udara militer Iran, menyampaikan salam Panglima Tertinggi seluruh Angkatan Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei kepada Brigjen Alireza Sabahi Fard, personil pasukan AU Iran, jajaran komandan, pegawai dan keluarga mereka.
Fars News (31/8/2020) mengutip Humas Militer Iran melaporkan, Brigjen Mohammad Shirazi, kepala kantor militer Panglima Tertinggi seluruh Angkatan Iran dalam kontak telepon dengan Brigjen Alireza Sabahi Fard mengatakan, Panglima Tertinggi (Rahbar) meminta salam beliau disampaikan kepada para personil pertahanan udara Iran, dan mengatakan bahwa keamanan Iran berutang budi pada kesiapan dan kewaspadaan pertahanan udara. Rakyat Iran berterimakasih atas kerja keras tak kenal lelah Anda semua.
Brigjen Mohammad Shirazi dalam pembicaraan telepon itu juga meminta Komandan AU Iran untuk menyampaikan salam hangat Rahbar, dan terimakasih beliau kepada setiap personil, komandan dan keluarga pasukan AU Iran.
Amnesty Internasional Desak Penyidikan Insiden Beirut
Amnesty Internasional mendesak penyidikan internasional terkait ledakan mengerikan di pelabuhan kota Beirut, Lebanon.
Seperti ditulis laman The Hill, lembaga HAM internasional ini Rabu (5/8/2020) di statemennya seraya meminta pembentukan cepat mekanisme internasional untuk menyelidiki insiden Beirut menambahkan, kondisi mengerikan pasca ledakan sangat merusak dan fokus Amnesty Internasional saat menyedihkan adalah terhardap korban dan keluarganya.
Petinggi Lebanon telah memulai penyidikannya terkait ledakan mengerikan di pelabuhan kota Beirut.
Selasa sore, menyusul kebakaran di salah satu gudang bahan mudah kebakar di pelabuhan Beirut, terjadi ledakan keras di gudang sebelah yang menyimpan amonium nitrat.
Menurut keterangan Depkes Lebanon, menyusul ledakan ini, hingga kini sedikitnya 150 orang tewas dan hampir lima ribu lainnya terluka.
Menyusul insiden ini, di Lebanon diumumkan libur tiga hari dan militer langsung mengambil alih kontrol keamanan Beirut. Selain itu, kondisi darurat di Beirut akan dilanjutkan hingga dua pekan.
Nikolai Patrushev: AS Faktor Kemunculan Daesh
Sekretaris Dewan Keamanan Rusia menyatakan, kebijakan merusak Amerika di kawasan Asia Barat berujung pada kemunculan kelompok teroris Daesh (ISIS).
Seperti dilaporkan kanal dua televisi Rusia, Nikolai Patrushev Kamis (6/8/2020) seraya menjelaskan bahwa pasca serangan pasukan Amerika ke Irak, muncul kelompok teroris Daesh dan mengatakan, pendekatan destruktif Amerika dan sekutunya di kawasan Asia Barat telah memicu konfrontasi antar mazhab dan pelecehan terhadap nasionalismedi negara-negara Arab kawasan ini.
Dokumen yang dirilis media-media Barat sebelumnya menunjukkan bahwa berbagai pemerintahan di Amerika secara rahasia memanfaatkan teroris di Suriah dan Irak untuk meraih ambisinya dan melemahkan pemerintah di negara-negara tersebut.
Berdasarkan sumber media ini, Amerika selama beberapa tahun lalu khususnya ketika kota Mosul dan sebagian wilayah Irak diduduki Daesh secara rahasia membantu kelompok teroris ini dan memberi mereka senjata serta amunisi yang dibutuhkan.
Pentagon: Soal Ledakan Beirut Belum Ada Kesimpulan Pasti
Asisten Menteri Pertahanan Amerika Serikat mengatakan, Pentagon sampai saat ini masih belum mencapai kesimpulan pasti terkait penyebab ledakan di pelabuhan Beirut.
Fars News (7/8/2020) melaporkan, Jonathan Hoffman menuturkan, Pentagon belum sampai pada kesimpulan pasti soal ledakan Beirut, dan kami melihat muncul banyak informasi yang berbeda.
Tidak lama setelah ledakan Beirut, Presiden Amerika Donald Trump menyebut ledakan tersebut disebabkan oleh serangan mengerikan.
Di sisi lain, sejumlah pejabat Amerika, Rabu (5/8) menegaskan tidak ada bukti yang menunjukkan ledakan Beirut disebabkan serangan.
Seperti dikutip ABC News, para pejabat Amerika yang tidak disebutkan identitasnya itu percaya bahwa ledakan Beirut kemungkinan besar disebabkan oleh kecelakaan.
Jihad Islam Berhasil Tembus Sistem Keamanan Rezim Zionis
Gerakan Jihad Islam Palestina mengungkapkan keberhasilannya menembus sistem keamanan rezim Zionis dalam sebuah operasi empat tahun yang dilancarkan terhadap dinas keamanan internal Israel, Shin Bet.
Keberhasilan gerakan Palestina ini diungkapkan dalam sebuah film dokumenter yang disiarkan di televisi Al-Mayadeen Lebanon berjudul "Beit al-Ankabut", yang menunjukkan bagaimana Saraya al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina berhasil menginfiltrasi Shin bet dengan memanfaatkan celah keamanan rezim Zionis.
Film dokumenter ini juga menunjukkan bahwa Shin Bet tanpa sadar merekrut pejuang Jihad Islam dari Jalur Gaza sebagai mata-mata pada berbagai waktu.
"Apa yang ditunjukkan dalam film dokumenter "Rumah Laba-laba" adalah hasil kerja keras dan terus-menerus selama bertahun-tahun melawan aparat keamanan rezim Zionis dan keberhasilan menembus sistem keamanan musuh yang kuat," jelas Abu Hamza, juru bicara Saraya al-Quds.




























