کمالوندی

کمالوندی

 

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Jumat (31/7/2020) di pidatonya bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha yang disiarkan secara langsung oleh televisi Iran menekankan, sanksi AS terhadap bangsa Iran sebuah kejahatan.

Ayatullah Khamenei di khutbahnya menyebut sanksi musuh memiliki tujuan jangka pendek, menengah dan panjang. "Tujuan jangka pendek adalah memaksa rakyat Iran bertekuk lutut, dan tujuan jangka menengah adalah mencegah kemajuan ilmiah Iran serta tujuan jangka panjangnya adalah mengalahkan pemerintah dan negara serta menghancurkan perekonomian Iran," ungkap Rahbar.

Sementara itu, tujuga global sanksi musuh menurut Ayatullah Khamenei adalah memutus hubungan Iran dengan arus muqawama di kawasan dan apa yang diinginkan musuh melalui sanksi tidak pernah terealiasai dan hal ini telah mereka akui sendiri.

Ayatullah Khamenei
Seraya menjelaskan bahwa sanksi telah memicu beragam kesulitan dan ini tidak ada keraguannya, Rahbar mengungkapkan, seluruh kendala yang dihadapi negara tidak seluruhnya berkaitan dengan sanksi, sebagian lainnya berkaitan dengan lemahnya manajemen serta sebagian lainnya berhubungan dengan pandemi Corona.

Ayatullah Khamenei juga mengisyaratkan upaya Amerika mendistorsi fakta dan menumbangkan realita serta mengatakan, tujuan dari aksi distorsi ini ada dua, pertama merusak semangat rakyat dan kedua, memberi alamat keliru untuk menghapus kendala sanksi.

"Keinginan Amerika sat ini dari Iran adalah Tehran meletakkan secara penuh industri nuklir, mengurangi kemampuan pertahanan dan melepas kekuatan regionalnya, namun menerima tuntutan ini pastinya tidak akan membuat Washington puas dan mundur. Tidak ada akal sehat yang menyatakan bahwa untuk menghentikan agresi, kita harus mengabulkan tuntutan mereka," pungkas Ayatullah Khamenei.

Ayatullah Khamenei menyebut kendala yang dihadapi musuh utama (AS) sangat besar dan tidak dapat dibandingkan dengan kesulitan Iran. Seraya menyebutkan bukti dari kesulitan yang saat ini dihadapi AS seperti kesenjangan sosial, rasisme dan diskriminasi, kendala ekonomi dan maraknya pengangguran, kendala manajemen di bidang pandemi Corona serta manajemen sosial yang rendah dan berujung pada sikap sadis dan penyiksaan polisi Amerika, Rahbar mengungkapkan, saat ini Amerika dibenci dan terioslasi di dunia.

Ayatullah Khamenei menekankan, peristiwa yang saat ini terjadi di Amerika bak api dalam sekam dan kini telah terbakar, meski telah ditumpas, namun kembali akan terbakar dan menghancurkan pemerintah Amerika saat ini, karena filosofi politik dan ekonomi pemerintah ini salah dan pasti hancur.

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei mengatakan, di tahun 1397 Hs dan setelah keluarnya Amerika dari JCPOA, sangat disayangkan Iran selama berbulan-bulan stagnan dan menunggu janji Eropa; Eropa tidak melakukan hal apapun untuk melawan sanksi Amerika dan apa yang disebut INSTEX tak lebih sebuah mainan yang tak kunjung terwujud.

Rahbar saat menyimpulkan pidatonya menegaskan, obat sanksi adalah mengaktifkan kapasitas dalam negeri yang membutuhkan perjuangan.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyebut sanksi Amerika Serikat sebagai kejahatan terhadap rakyat Iran, dan menekankan perlawanan terhadap musuh bangsa Iran ini.

Ayatullah Khamenei, hari Jumat (31/7/2020) yang bertepatan dengan hari raya Idul Adha, dalam tayangan langsung televisi, menjelaskan tujuan sanksi Amerika terhadap rakyat Iran. Menurutnya, sanksi-sanksi Amerika secara lahir anti-pemerintah Republik Islam Iran,  namun hakikatnya menyerang rakyat Iran, dan ini adalah sebuah kejahatan.

Amerika pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, memulai permusuhan terhadap rakyat Iran, dan pemerintahan berkuasa Amerika sekarang, tengah melanjutkan permusuhan ini dengan segala cara. Sanksi, perang, dukungan terhadap kelompok teroris, dan kebijakan tekanan maksimum, adalah kerangka permusuhan Amerika terhadap bangsa Iran pasca kemenangan Revolusi Islam.

Berbagai periode pemerintahan Amerika, silih berganti menerapkan sanksi-sanksi berbeda terhadap rakyat Iran, dan pemerintahan berkuasa Amerika saat ini menerapkan sanksi paling menindas terhadap rakyat Iran, di bidang ekonomi, kesehatan dan obat-obatan.

Pemerintahan Presiden Donald Trump di tengah upaya Iran memerangi wabah Virus Corona, bahkan menyanksi ekspor obat-obatan dan keperluan medis lain ke Iran, dan ia menunjukkan puncak permusuhannya terhadap bangsa Iran.

Di sisi lain, pemerintah Gedung Putih mengakui bahwa kebijakan tekanan maksimum yang diterapkan terhadap rakyat Iran, gagal. Sehubungan dengan hal ini, surat kabar The Washington Post menulis, kebijakan tekanan maksimum Donald Trump terhadap rakyat Iran, gagal dan tidak berhasil menyeret Tehran ke meja perundingan.

Sanksi Amerika memiliki beberapa target, pada target jangka pendek yang diistilahkan dengan "Musim Panas yang Membakar" adalah upaya memprovokasi rakyat Iran untuk melawan pemerintah dan negara, pada target jangka menengah Amerika berusaha mencegah kemajuan negara Iran, dan pada target jangka panjang, upaya Amerika dipusatkan pada kebangkrutan ekonomi Iran.

Ketiga target Amerika tersebut sejauh ini tampaknya gagal berkat kewaspadaan rakyat Iran, yang bersandar pada kemampuan dalam negeri dalam memperkuat perekonomian nasional, dan melepaskannya dari ketergantungan pada minyak.

Seperti yang disampaikan Rahbar, produksi pesawat latih, suku cadang sensitif, dan halus, pengoperasian sekian ribu perusahaan berbasis sains, produksi kilang minyak Setareh Teluk Persia oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, langkah besar di ladang minyak Pars Selatan, dan produksi sistem pertahanan yang menakjubkan, semuanya dilakukan di masa sanksi.

Gerakan nasional di berbagai sektor termasuk penguatan kemampuan pertahanan, penguatan kemampuan ilmu pengetahuan atau aktivitas perusahaan-perusahaan berbasis sains, dan kesiapan infrastruktur kesehatan Iran di puncak pandemi Corona, membuktikan bahwa satu-satunya jalan untuk menghadapi sanksi ekonomi menindas Amerika adalah perlawanan terhadap rezim ini.

Oleh karena itu, saat ditanya apakah sanksi bisa diatasi, Rahbar menjelaskan, sanksi-sanksi pasti bisa diatasi, namun caranya bukan mundur atau menyerah di hadapan Amerika, karena mundur hanya akan membuat musuh semakin maju untuk menyerang kita. 

 

Rezim Zionis Israel mengklaim bahwa pihaknya telah menembaki pejuang Hizbullah Lebanon yang "berusaha menyusup" ke wilayah pendudukan pada Senin, 27 Juli 2020. Namun klaim tersebut dibantah langsung oleh Hizbullah.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari yang sama, Hizbullah menegaskan bahwa semua klaim Israel tentang upaya Hizbullah untuk menyusup ke wilayah-wilayah pendudukan adalah "fiktif".

"Semua yang diberitakan media musuh tentang gagalnya operasi penyerbuan dari wilayah Lebanon ke Israel, tidak benar," tegas Hizbullah.

Gerakan itu menambahkan, statemen terkait gugur atau terlukanya pejuang Hizbullah dalam operasi pemboman di sekitar lokasi pertempuran, sama sekali tidak benar.

Menurut Hizbullah, klaim Israel adalah upaya untuk menciptakan kemenangan palsu, dan ilusi.

"Sampai detik ini tidak ada pertempuran atau penembakan dari kelompok perlawanan Islam (Hizbullah) dalam insiden hari ini, tembakan datang dari satu arah, dari musuh penakut yang cemas dan licik," imbuhnya.

Hizbullah menegaskan, balasan kami atas gugurnya saudara pejuang Ali Kamel Mohsen dalam serangan ke sekitar bandara Damaskus, pasti dilakukan.

Hizbullah mengatakan, ketakutan militer Israel, dan pemukim Zionis di perbatasan Lebanon dan wilayah pendudukan, serta kesiagaan dan kekhawatiran mendalam mereka atas kemungkinan balasan Hizbullah, menyebabkan rezim ini mengalami kebingungan di media dan medan tempur.

Hizbullah menegaskan, tidak ada satu tembakan pun yang dilepaskan Hizbullah, dan statemen Israel sama sekali tidak benar, penembakan dilakukan satu arah oleh Israel.

Gerakan perlawanan Islam Lebanon memperingatkan bahwa Israel harus menunggu hukuman atas kejahatannya tersebut.

"Pemboman hari ini yang dilakukan ke desa Al Habariye, dan serangan ke rumah salah seorang warga Lebanon, tidak akan pernah kami biarkan," pungkas Hizbullah dalam pernyataannya. 

 

Sumber-sumber berita Israel melaporkan rencana aksi protes baru yang akan diikuti ribuan orang Zionis di depan rumah Benjamin Netanyahu.

Televisi Almayadeen melaporkan, ribuan orang dijadwalkan akan berkumpul di depan rumah Perdana Menteri rezim Zionis, Benjamin Netanyahu di pada Kamis malam.

Sebelumnya, pada hari Minggu, unjuk rasa protes terbesar berlangsung di depan rumah Netanyahu yang diikuti sekitar 6.000 orang.

Selama beberapa pekan terakhir terjadi aksi unjuk rasa di berbagai kota Palestina pendudukan, termasuk Tel Aviv dan Baitul Maqdis

Mereka memprotes kebijakan kabinet Netanyahu, termasuk rencana aneksasi 30 persen daerah Tepi Barat, ketidakmampuan dalam penanganan virus Corona dan kasus korupsi yang melilit Perdana Menteri Israel.

 

Mustafa al-Kadhimi, Perdana Menteri Irak hari Jumat (31/07/2020) mengumumkan tanggal pelaksanakan pemilu dini legislatif negara ini.

Menurut laporan IRNA, al-Kadhimi dalam sebuah pidato televisi mengatakan bahwa pemilu dini parlemen akan diselenggarakan pada 6 Juni 2021.

Ia berjanji akan melaksanakan pemilu yang adil, transparan dan tidak diintervensi oleh berbagai faksi.

Mustafa al-Kadhimi, Perdana Menteri  Irak
Perdana Menteri Irak menjelaskan bahwa pemerintahannya dalam menjalankan aktivitasnya selama dua bulan ini menghadapi berbagai kendala, tetapi tetap fokus pada tujuan asli.

"Semua upaya akan dilakukan untuk menyelesaikan krisis negara ini," ungkap al-Kadhimi.

Pemilu legislatif Irak terakhir diselenggarakan pada 12 Mei 2018 yang mendapat kritikan luas terkait pelanggaran dan kecurangan.

Akibat protes luas terhadap pemilu itu yang akhirnya berujung pada demonstrasi luas awal Oktober lalu, pemerintah Adel Abdul-Mahdi mengundurkan diri.

Para demonstran juga menuntut diselenggarakannya pemilu dini parlemen, sebuah permintaan yang akhirnya diluluskan berbagai faksi politik dan parlemen Irak.

 

Puluhan ribu warga Palestina menunaikan shalat Iduladha secara berjamaah di Masjid al-Aqsa, meski menghadapi aksi konfrontasi dari pihak rezim Zionis Israel.

Menurut laporan al-Quds al-Arabi, badan waqaf Islam Quds menyatakan jumlah jamaah shalat hari Jumat (31/7/2020) di Masjid al-Aqsa melampaui 27 ribu orang.

Berdasarkan laporan ini, shalat hari raya Iduladha digelar ketika jamaah shalat menjaga dengan benar protokol untuk mencegah penyebaran virus Corona.

Militer Israel secara mendadak memasuki Masjid al-Aqsa dan menurunkan spanduk ucapan selamat hari raya Iduladha yang dirilis oleh Gerakan Islam.

Sheikh Mohammad Hussein, mufti Quds dan Palestina dalam khutbahnya hari Iduladha mengatakan, Masjid al-Aqsa milik umat Islam, dan pihak agresor serta orang zalim tidak memiliki andil di dalamnya.

Sementara itu, sekelompok ekstrimis Zionis hari Kamis (30/7/2020) bertepatan dengan acara doa Arafah menyerbu Masjid al-Aqsa.

 

Sejumlah media mengabarkan pecahnya baku tembak di perbatasan Lebanon dan wilayah pendudukan. Media-media rezim Zionis Israel menyebutnya “insiden keamanan” di perbatasan.

Fars News (27/7/2020) melaporkan, media-media Israel termasuk Kan 11 TV Israel dalam pesan di akun Twitternya mengabarkan baku tembak di perbatasan Lebanon dan wilayah pendudukan.
 
Stasiun televisi Sky News mengabarkan, para pejuang Hizbullah dan militer Israel terlibat kontak senjata di wilayah pertanian Shebaa. Sementara Al Jazeera memberitakan terdengarnya suara ledakan di dekat perbatasan Lebanon dan wilayah pendudukan.
 
Menurut Al Jazeera, militer Israel menembakan meriam ke sekitar wilayah Roysat Al Alam, dan Kfar Shuba.
 
Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, akibat baku tembak dengan Hizbullah, militer Israel mengerahkan pasukan cadangan ke perbatasan. 
 
Menurut Sky News, merespon pertempuran yang terjadi hari ini, militer Israel mengimbau pemukim Zionis di wilayah perbatasan untuk tidak keluar rumah.

 

Hizbullah Lebanon merilis pernyataan terkait insiden serangan militer yang terjadi hari ini, Senin (27/7/2020) di perbatasan wilayah pendudukan.

Fars News (27/7) mengutip stasiun televisi Al Mayadeen melaporkan, Hizbullah dalam pernyataannya mengatakan, semua yang diberitakan media musuh tentang gagalnya operasi penyerbuan dari wilayah Lebanon ke Israel, tidak benar.
 
Ditambahkannya, statemen terkait gugur atau terlukanya pejuang Hizbullah dalam operasi pemboman di sekitar lokasi pertempuran, sama sekali tidak benar.
 
Menurut Hizbullah, klaim Israel adalah upaya untuk menciptakan kemenangan palsu, dan ilusi.
 
“Sampai detik ini tidak ada pertempuran atau penembakan dari kelompok perlawanan Islam (Hizbullah) dalam insiden hari ini, tembakan datang dari satu arah, dari musuh penakut yang cemas dan licik,” imbuhnya.
 
Hizbullah menegaskan, balasan kami atas gugurnya saudara pejuang Ali Kamel Mohsen dalam serangan ke sekitar bandara Damaskus, pasti dilakukan.
 
Gerakan perlawanan Islam Lebanon memperingatkan bahwa Israel harus menunggu hukuman atas kejahatannya tersebut.
 
“Pemboman hari ini yang dilakukan ke desa Al Habariye, dan serangan ke rumah salah seorang warga Lebanon, tidak akan pernah kami biarkan,” pungkasnya. (

 

Menteri Luar Negeri Lebanon mengatakan sejarah rezim Zionis Israel di kawasan selalu dipenuhi permusuhan, dan agresi militer. Menurutnya, Lebanon akan membela diri dari segala bentuk agresi.

Fars News (27/7/2020) melaporkan, Menlu Lebanon Nassif Hitti menegaskan sikap rakyat negara ini untuk membela tanah airnya dari segala bentuk agresi militer.
 
Situs berita Al Ahed menulis, Menlu Lebanon menuturkan, kami akan membela negara kami dari setiap agresi, dan sejarah Israel di kawasan dipenuhi dengan agresi, dan permusuhan.
 
Nassif Hitti juga menegaskan komitmen Lebanon atas resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB.
 
“Tidak boleh ada perubahan dalam jumlah, dan tugas pasukan penjaga perdamaian UNIFIL, dan kami berharap masyarakat internasional serta peran negara-negara Arab dalam menjaga keamanan Lebanon,” pungkasnya. 

 

Sebuah sumber terpercaya mengabarkan, satelit mata-mata rezim Zionis, Ofek 16 berputar-putar sendiri dengan kecepatan tinggi di luar angkasa.

Fars News (27/7/2020) melaporkan, sumber terpercaya itu kepada Fars News terkait peluncuran satelit mata-mata Israel, Ofek 16 pada 6 Juli 2020 menuturkan, meski para pejabat Israel mengaku bahwa satelit tersebut berhasil mengirim foto-foto berkualitas tinggi, namun sebenarnya satelit itu sepenuhnya tidak stabil, dan sedang berputar-putar sendiri dengan kecepatan tinggi.
 
Sumber itu menambahkan, pada satelit-satelit pengambil gambar, jika ia berputar meski sedikit saja ia akan kehilangan kemampuan untuk mengambil gambar, dan karena satelit ini berputar dengan kecepatan tinggi, klaim pejabat Israel bahwa satelit tersebut mengirim gambar berkualitas, sama sekali tidak bisa dipercaya.
 
Pada 6 Juli 2020, Israel meluncurkan satelit mata-mata Ofek 16 ke luar angkasa dengan maksud memata-matai seluruh wilayah Timur Tengah, dan Menteri Perang Israel menyebut peluncuran satelit ini sebagai prestasi besar industri pertahanan Israel.