کمالوندی
Rahasia Keabadian Asyura (5)
Salah satu ciri paling mendasar dari para Nabi Allah adalah penentangan dan perlawanannya terhadap penindasan dan berupaya menegakkan keadilan. Oleh karena itu, para Nabi mengemban misi membangun sistem yang adil di muka bumi.
Berdasarkan al-Quran dan sejarah, Nabi Ibrahim adalah pengibar panji tauhid, Nabi Musa berhadapan dengan pemerintahan lalim Firaun, Nabi Isa menghadapi penguasa haus darah di Roma, dan para Nabi lainnya bertempur melawan para penguasa tiran yang despotik. Tujuan dari semua Nabi adalah untuk membebaskan bangsa-bangsa yang tertindas dari perbudakan untuk menghidupkan kembali spirit pembebasan dan kemerdekaan serta keadilan.
Imam Ali bin Abi Thalib yang dibesarkan dalam naungan Nabi Muhammad Saw menjelaskan tentang peran tauhid yang mencerahkan dan membebaskan, dengan mengatakan, "Sesungguhnya Allah swt mengutus Muhammad Saw untuk membebaskan manusia dari perbudakan dan penghambaan (kekuasaan dan kekayaan) menuju penyembahan dan pengabdian kepada Tuhan. Mengeluarkan manusia dari perjanjian (kehinaan dan perbudakan) menuju perjanjian (kehormatan ilahi) dan membebaskan dari ketaatan buta dan tunduk tanpa kesadaran menjadi penerimaan terhadap keesaan Tuhan dan membebaskannya dari ketergantungan terhadap selain-Nya. "
Ketauhidan yang diusung para Nabi dan aulia Allah secara subtansial mengajak manusia menuju pembebasan dari segala bentuk belenggu keterikatan kepada selain Allah swt, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran surat Al-Araf ayat 157 sebagai berikut, "....menghilangkan dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada padanya. Maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung,".
Melanjutkan perjuangan ilahi, Imam Hussein Ibn Ali yang terinspirasi dari ajaran Islam bangkit melawan penindasan yang dilakukan Bani Umayyah. Ketika melihat Yazid sedang berusaha untuk mengambil baiat darinya dengan ancaman, Imam Husein tidak tinggal diam menyaksikan meningkatnya penindasan yang dilakukan dinasti Abu Sufyan yang merusak nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, Hussein bin Ali menggunakan semua kesempatan untuk mengungkapkan kebenaran kepada masyarakat, meskipun harus ditebus dengan darahnya sendiri.
Ketika melihat pasukan Hurr di depannya, Imam Husein berbicara kepada mereka dengan mengatakan, "Wahai manusia, Nabi Muhamamad Saw pernah mengungkapkan barang siapa yang melihat penguasa lalim mengharamkan yang dihalakan oleh Allah swt, melanggar aturan-Nya dan bertindak bertentangan dengan jalan Rasullah Saw, serta melakukan dosa dan penindasan terhadap orang lain, tetapi kalian tetap diam dan tidak perduli, maupun tidak bertindak atau berbicara menentangnya; maka Tuhan akan menempatkan kalian sama dengan posisi penguasa tiran (di neraka),".
Hussein bin Ali melanjutkan kata-katanya yang mencerahkan dengan menunjukkan beberapa penyimpangan yang dilakukan Bani Umayah. Beliau berkata, "Sadarlah, lihatlah mereka yang mengikuti jalan setan dan menjadikan ketaatan terhadap dirinya sebagai kewajiban bagi orang lain, menolak untuk menaati aturan ilahi, menampakkan kerusakan di depan publik, aturan Allah ditiadakan dan menjadikan harta pampasan perang dan kekayaan umum menjadi milik pribadi, mengharamkan yang sudah dihalalkan Allah, maupun sebaliknya. dengan semua sifat ini, apakah aku tidak layak untuk menggantikan mereka memimpin umat ?"
Meskipun Imam Husein sudah menyampaikan pencerahan mengenai kondisi yang ada saat itu, tapi ribuan orang yang jemu dengan tirani Bani Umayah dan dua belas ribu orang yang mengirim surat kepada Imam Hussein supaya bangkit melawan Yazid, pada akhirnya hanya sedikit yang benar-benar bersama Imam Hussein melawan pemerintahan lalim.
Sebagian besar orang yang mengirim surat kepada Imam Husein tersebut mengingkari janjinya dan takut terhadap Yazid maupun ancaman Ubaidillah dengan melepaskan tanggung jawabnya dan meninggalkan Imam Hussein bersama sejumlah kecil pasukannya di padang Karbala.
Imam Hussein menjelaskan penyebab bencana ini dalam salah satu perkataannya, "Orang yang menjadi budak dunia (dan terpesona oleh kemegahannya) dan agama sebagai bahasa mereka (mereka berpura-pura menjadi religius) yang beragama selama menguntungkan kepentingannya dan memenuhi mata pencahariannya. Ketika menghadapi bencana, maka orang-orang yang beriman akan berkurang".
Faktanya, agama menjadi ancaman utama para pemuja dunia karena dianggap mengancam keberlangsungan penindasan yang mereka. Mereka yang mendukung penguasa otoriter dengan sikap diam, ketidakpedulian, dan kurangnya dukungan terhadap pemimpin sejati dan merakyat, sama saja dengan ikut serta dalam semua penindasan dan kejahatan yang dilakukan oleh para penindas, karena merekalah yang memperkuat dan melanggengkan fondasi para penguasanya yang brutal dan kejam. Imam Sadiq berkata, "Jika Bani Umayyah tidak dibantu oleh masyarakat sendiri ...,maka mereka tidak akan pernah bisa merebut hak kepemimpinan ilahiah kami,".
Oleh karena itu, jika orang-orang Kufah, yang menulis dua belas ribu surat kepada Imam Hussein, tidak mengkhianati beliau, apakah tragedi Asyura akan terjadi?
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa para penindas dan yang tertindas sama-sama masuk ke dalam api neraka yang membakarnya. Penindas masuk neraka karena dia melakukan penindasan dan kejahatan. Sedangkan yang tertindas karena dia datang untuk mendukung penindas dan membantunya. Faktanya, akar dari semua penyimpangan, pelanggaran perjanjian, pengkhianatan dan kejahatan adalah kurangnya ketaatan terhadap dua prinsip dasar yaitu tauhid dan hari akhirat.
Berkaitan dengan masalah ini, Imam Ali mengatakan, "Demi Tuhan, lebih baik aku berada di atas ranting-ranting dari pagi hingga malam hari dan lumpur yang kotor di dunia ini daripada di hari kiamat kelak harus mempertanggungjawabkan penindasan kepada hamba Allah selama di dunia. Bagaimana aku bisa melakukan kelaliman padahal tubuh ini akan hancur di telan tanah?"
Imam Hussein yang dibesarkan dalam bimbingan Nabawi bangkit melawan Bani Umayyah dengan mengatakan, "Tidakkah kamu melihat bahwa bagimana kebenaran tidak ditegakkan, dan yang salah tidak dilarang? Apakah engkau mengingkari pertemuan dengan Tuhanmu,".
Beliau menegaskan, "Sungguh, aku tidak melihat kematian (kesyahidan di jalan Tuhan) kecuali kebahagiaan, dan kehidupan di bawah bayang-bayang penindas sebagai kesengsaraaan.
Rahasia Keabadian Asyura (4)
Salah satu rahasia keabadian Asyura adalah sisi cinta kebebasan Imam Hussein as dan para sahabatnya yang ditampilkan secara heroik di peristiwa Padang Karbala.
Di budaya kesempurnaan Islam Muhamadi, salah satu sisi unggul eksistensi setiap manusia adalah mencapai puncak kebebasan. Karena dengan mencapai kebebasan, manusia mampu hidup dengan ringan dan bebas, bergerak serta bersemangat. Mereka bebas terbang di atmosfer spiritual dan kemanusian, serta di kehidupannya yang bergelimang harta materi akan bangkit dan membaskan dirinya dari belenggu duniawi.
Kebebasan merupakan syarat utama dari gerakan dan lompatan. Dalam pandangan mendasar, perjuangan keras manusia atas kebenaran dan kebatilan, mereka akan memiliki komitmen yang lebih kuat. Pemimpin agama atau politik mana yang menjadi sumber perubahan dunia dengan asuhan manja?
Tak diragukan lagi Imam Hussein as dan sahabat setianya merupakan manifestasi utuh kebebasan dan ini faktor lain dari keabadian Asyura. Mereka memilih melakukan transaksi dengan Tuhan ketimbang bergelimang dengan kemewahan duniawi dan menjual agamanya demi kekayaan atau kekuasaan dunia. Transaksi ini untuk menjaga kehormatan, nilai-nilai tinggi Ilahi dan kemanusiaannya serta memanifestasikan kebebasannya dan untuk menghindar dari jebakan kehinaan dan juga tidak menjual derajat tinggi yang diperolehnya dengan harga murah dan sesuatu yang fana.
Allah Swt di Surah al-Taubah ayat 111 berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”
Benar Imam Hussein as dan sahabatnya yang setia, yang gugur di Padang Karbala merupakan manifestasi dari ayat di atas. Mereka melakukan transaksi dengan Tuhan, sebuah transaksi yang sangat menguntungkan ketimbang bergelimang dengan harta duniawi dan kemudian mereka nantinya akan disiksa dengan azab yang pedih. Darah pada syuhada Karbala menjadi imbalan surga yang akan mereka nikmati tanpa batas. Inilah arti sejati dari kebebasan.
Hussein bin Ali as untuk menunjukkan kepada para pecintan kebebasan di dunia, kebebasan dan tidak bergantung terhadap keduniawian, ketika ia ingin bertolak ke kota Kufah bertemu dengan penyair terkenal Farazdaq. Farazdaq berkata kepada Imam Hussein: Wahai putra Rasulullah Saw! Bagaimana anda percaya kepada warga Kufah? Mereka adalah orang yang membuah sepupu Anda, Muslim bin Aqil dan sahabatnya.
Setelah memohon ampunan bagi Muslim, Imam Hussein berkata, “Ia menuju ridwan Ilahi. Ia telah menunaikan tanggung jawabnya dan kami saat ini masih tetap komitmen dengan tanggung jawab kami.” Kemudian Imam bersyair, Jika dunia dianggap berharga, maka harus disadari bahwa akhirat yang merupakan tempat pahala Ilahi lebih mulai dan berharga. Jika ini adalah takdir Ilahi bahwa manusia diciptakan untuk mati, maka ketahuliah mati di jalan Tuhan lebih mulia dan jika rezeki manusia dibagi secara tertentu, maka kita harus sadari bahwa tidak tamak lebih indah dan baik. Jika menimbun harta hanya akan ditinggalkan setelah manusia meninggal, maka apa nilainya hal tersebut sehingga kita bakhil.
Para sahabat Imam Hussein as, mengikuti teladan Imamnya, memalingkan muka dari semua afiliasi mereka dan menanggapi panggilan untuk bantuan pemimpin para syuhada (Imam Hussein) dengan penuh dan dari lubuk hati mereka yang paling dalam. Di antara sahabat ini adalah Zuhair yang kembali dari ibadah haji menuju Kufah.
Peringatan duka Imam Hussein di bulan Muharram (dok)
Saat itu, ia tengah berada di meja makan bersama keluarganya, ketika utusan Imam Hussein as mendatanginya dan mengundangnya untuk bertemu dengan Imam Hussein. Ia terkejut karena selama perjalanannya tersebut, ia berusaha menjahui rombongan Imam Hussein. Istrinya berkata kepadanya, “Apakah kami tidak memberi jawaban, ketika putra Rasul mengirim utusan kepadamu? Bangkit dan cepatlah mendatangi putra Rasul, apa yang diminta darimu dan kembalilah kesini!
Zuhair langsung bangkit dan mendatangi Imam Hussein. Tak lama kemudian Zuhair kembali ke kafilahnya dengan muka berseri-seri dan menginstruksikan seluruh kemah dibongkar dan kemudian mendirikan kemah di sisi rombongan Imam Hussein. Kemudian ia menghadap istrinya sambil berkata, Kamu dapat bergabung dengan familimu, karena aku tidak ingin kamu cidera karenaku, Aku hanya menginginkan kebaikan bagi dirimu? Ia juga menghadap sahabatnya dan berkata, siapa saja yang ingin menolong putra Rasul, maka kenakan pakaian kalian dan ini akhir perjumpaan kita.
Zuhair memilih jalannya dengan penuh kebebasan dan kesadaran. Selama perjuangan Imam Hussein, ia memainkan peran gemilang. Setiap kali ada ancaman dari musuh, dia akan bangkit, terkadang dengan khutbah dan terkadang dengan mengangkat senjata, ia berperang dan mengusir bahaya.
Di pagi hari tanggal 10 Muharram (Asyura), ketika Zuhair menyaksikan barisan musuh menerjang perkemahan Imam Hussein, ia bangkit menuju medan pertempuran. Ia berkata, Wahai warga Kufah, Aku memperingatkan kalian atas azab pedih Tuhan. Hak muslim terhadap saudara muslinya adalah menasihatinya dan menyadarkan mereka, kita saat ini masih bersaudara dan seagama, selama pedang kita tidak saling berbenturan dan kalian tidak tidak melanjutkan permusuhan membabi buta kalian, maka kalian layak untuk diberi nasihat. Namun ketika pedang kita saling berbenturan di medan perang, maka tidak ada batasan di antara kita....Benar Tuhan menguji kita dengan keluarga Nabi sehingga tampak bagaimana kita memperlakukan mereka...
Pencerahan Zuhair yang telah berhasil membebaskan dirinya dari segala bentuk ketergantungan, bukan saja tidak efektif terhadap tentara bayaran Bani Umayah yang ikut dalam pertempuran baik karena ancaman atau kerakusan, bahkan para pecinta kekuasaan dan harta pun memusuhinya. Mereka ini mengungkapkan sikap seorang budak dan penyerahan dirinya dengan memuji pemimpin zalim dan anti agama dari Bani Umayyah.
Zuhair yang telah muak dengan kebodohan dan perudakan ini akhirnya dengan ijin Imam, tampil di medan pertempuran sambil melantunkan syair, Aku Zuhair putra Qain, Aku bela Husein dangan pedangku. Husein salah satu cucu Rasul – dari keluarga yang baik dan bertakwa. Ia utusan suci Tuhan dari generasi Nabi- Aku bertarung dengan kalian dan aku bangga dengannya.
Salah satu tokoh kebebasan di Padang Karbala adalah Hurr bin Yazid al-Riyahi. Ia sebelumnya komandan salah satu pasukan di bawah Ubaidillah dan bertugas mencegah perjalanan rombongan Imam Hussein di manapun berada. Hurr bersama seribu pasukannya berbaris di depan rombongan Imam. Imam Hussein kemudian memerintahkan untuk memberi minum pasukan dan kuda-kuda tentara Hurr. Saat itu, tibalah waktu shalat. Setelah shalat, di mana Hurr dan pasukannya bermakmum kepada Imam Husien, cucu Nabi ini memerintahkan rombongannya segera berangkat. Saat itu, Hurr berkata, kami mendapat tugas untuk membawa Anda kepada Ubaidillah. Kemudian Imam menolaknya.
Akhirnya Hurr kembali ke pasukan Ubaidillah dalam kondisi bingung atas dua jalan bagi nasibnya. Akhirnya Hurr berinisiatif membebaskan dirinya dari belenggu harta dan pangkat duniawi. Khususnya ketika ada seruan Imam Husien minta bantuan. Ia kemudian mendatangi Umar bin Saad dan bertanya, “Apakah Kamu benar-benar ingin memerangi Husein? Umar berkata, Benar! Aku bersumpah akan memeranginya, paling tidak kepala dan tangan terpisah dari badan. Hurr yang hati nuraninya terbangun dan pada akhirnya memilih jalan yang sangat menentukan, bergerak menuju perkemahan Imam Hussein as.
Salah satu tentara yang hadir di medan pertempuran ketika merasakan niat Hurr meninggalkan perkemahan Ubaidillah, bertanya kepadanya mengapa ia membuat pilihan seperti ini? Hurr berkata: Ketika aku dihadapkan pada pilihan neraka atau surga, Aku bersumpah bahwa aku pasti memilih surga.
Hurr yang membuat Husein dan sahabatnya ditahan di tempat tanpa air dan tumbuhan, mendatangi Imam dalam keadaan malu dan berkata, “Aku kembali dan menyesal. Apakah kamu menerima taubatku? Imam berkata, Allah menerima taubatmu. Hurr langsung gembira dan sama seperti pecinta kebebasan lainnya, merasa bahagia. Ia kemudian menuju medan pertempuran dan berperang melawan tentara Ubaidillah. Ketika ia gugur, jenazahnya di bawah ke perkemahan Imam Hussein. Imam berkata, kesyahidannya seperti kesyahidan para nabi dan keluarganya.
Di riwayat lain disebutkan, ketika Hurr mereguk cawan syahadah, Imam memandangnya dan berkata, Kamu bebas seperti ibumu memberi kamu nama Hurr. Dan kami bebas di dunia dan akhirat.
Contoh lain dari kebebasan Imam Hussein dan sahabatnya adalah kisah keluarga Wahab di mana anak, istri dan ibunya memiliki peran di Karbala. Wahab bertempur dengan tentara Yazid di puncak usia mudanya. Ia dikelilingi banyak musuh dan pada akhirnya kedua tangannya terpotong. Istrinya mendatanginya sambil membawa tombak. Wahab berusaha menghalau istrinya, tapi istri yang setia ini berkata, aku akan tetap berada di sisimu dan berperang melawan musuh hingga aku gugur.
Imam Hussein berkata kepadanya, Semoga pahala dari Ahlul Baitku menjadi bagianmu dan semoga Allah merahmati kalian. Kembalilah ke perkemahan perempuan. Saat itu, salah satu tentara Ubaidillah memotong kepala Wahab dan melemparkannya ke perkemahan Imam Hussein. Ibu Wahab mengambil kepala anaknya dan membersihkan darah dari wajahnya serta berdoa: Segala puji bagi Allah yang telah membuat wajahku bercahaya dan mataku bersinar dengan kesyahidan putraku. Kemudian ia melemparkan kepala anaknya ke pasukan Ubaidillah dan mengenai salah satu tentara musuh hingga mati.
Budak Syimr yang menyaksikan peristiwa mendadak tersebut, langsung menyerang ibu Wahab hingga gugur.
Rahasia Keabadian Asyura (3)
Salah satu rahasia keabadian Asyura terletak pada karakter Imam Husein yang membentuk warna perjuangannya.
Ketika Imam Hussein melihat tentara musuh akan menyerang wanita dan anak-anak yang tidak bersalah, dengan keberaniannya beliau berseru, "Wahai pengikut Abu Sufyan, jika kalian tidak memiliki agama, dan tidak takut menghadapi kehidupan akhirat kelak, setidaknya jadilah manusia merdeka di dunia ini."
Pesan abadi yang disampaikan Imam Hussein ini dengan jelas menunjukkan bahwa setiap manusia dan masyarakat, terlepas dari semua kecenderungan politik, ras, bangsa dan budayanya, dapat berpegang pada nilai moral dan kemanusiaan yang tinggi.
Imam Ali bin Abi Thalib dalam pernyataan senada, mengatakan, "Jika kita tidak memiliki harapan di surga, dan kita tidak takut neraka, dan tidak meyakini adanya hukuman atau pahala, tetap saja kita harus memperjuangkan martabat moral (manusia), sebab jalan menuju kesuksesan dan kemenangan adalah menghiasi diri dengan keutamaan moral.
Nabi Muhammad Saw juga mempresentasikan filosofi diutusnya menjadi Rasul Allah swt sekitar 14 abad yang lalu dengan mengatakan, "Aku diutus oleh Allah swt untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,".
Oleh karena itu, rahasia keabadian Asyura terletak pada pesan-pesan inspiratif dari gerakan Husseini yang bersifat universal, bukan spesifik untuk kelompok, ras dan kebangsaan tertentu saja, tapi mencakup semua manusia yang berpikiran bebas dan cinta kebebasan, dan orang-orang yang tulus hatinya.
Di antara rahasia lain yang telah mengabadikan epos Hosseini abadi mengenai peran penting wawasan penyadaran yang ada di dalamnya. Banyak gerakan sepanjang sejarah lahir dari hasutan sentimen rasial seperti rasisme di Jerman atau Slavia di Rusia, maupun gerakan yang mengusung kesamaan bahasa seperti Pan-Turkisme atau Pan-Arabisme. Gerakan yang dibangun dari aspek sektarian ini lambat atau cepat akan pudar, bahakn hilang di telan sejarah.
Tetapi epos Hosseini telah mempertahankan keabadian dan menginspirasi semua umat manusia di dunia karena prinsip-prinsip ketuhanan, manusiawi dan logis, pengetahuan, kesadaran, dan wawasannya.
Dengan kata lain, semua Nabi dan pemimpin ilahi mengusung gagasannya dengan argumen yang kuat, dan rasional. Mereka tidak pernah mencoba untuk memaksakan pandangannya kepada masyarakat dengan cara apa pun, karena mereka tahu betul bahwa gagasan yang dipaksakan tidak akan bertahan lama. Demikian juga dengan Imam Hussein.
Imam Hussein dalam salah satu doanya mengatakan,"Ya Tuhan, tuntunlah perjuanganku, juga wawasan, petunjuk, metode, dan caraku sesuai bimbingan-Mu sehingga aku dapat mencapai tujuan dan cita-citaku demi membimbing orang lain,".
Mengenai peran penting kesadaran, Imam Ali dalam Nahjul Balaghah mengungkapkan, "Manusia yang sadar adalah orang yang mendengar perkataan dan pesan yang diterimanya, lalu merenungkan dan kemudian belajar dari peristiwa yang terjadi. Sehingga bisa menempuh jalan yang jelas dan (bertujuan) dan menghindari jatuh ke jurang."
Lembaran sejarah menunjukkan bahwa semua sahabat setia Imam Hussein memiliki karakteristik luar biasa dari orang-orang yang sadar. Ketika Hussein bin Alimerasa bahwa musuh telah membuat keputusan akhir untuk perang dan pertumpahan darah, lalu beliau mengumpulkan para sahabatnya.
Imam Husein berkata, "Kalian bebas dan saya telah mengambil kesetiaan dari Anda. Aaya mengizinkan Anda semua untuk menggunakan kegelapan malam ini dan mengambil tangan anggota keluarga Anda berpindah ke desa dan kota Anda dan menyelamatkan hidup Anda dari kematian. Sebab, orang-orang ini hanya mengejar saya, dan jika saya pergi mereka tidak akan ada hubungannya dengan orang lain. Semoga Tuhan memberimu hadiah yang baik,".
Dengan kata-kata tersebut, Imam Hussein ingin memberikan kesempatan kepada para sahabatnya untuk memilih dan meningkatkan kesadaran dan wawasan mereka mengenai pilihan hidupnya.
Setelah mendengar pernyataan tersebut, mereka berdiri satu demi satu dan akhirnya menyatakan kesetiaan mereka. Salah satu sahabat Imam yang bernama Saad Ibn Abdullah berkata, "Aku bersumpah demi Tuhan, jika aku tahu aku akan dibunuh tujuh puluh kali dan tubuhku akan dibakar dan abuku dihidupkan kembali, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Zuhair Ibn Qain berkata: "Wahai putra Rasulullah, aku bersumpah kepada Tuhan, jika sampai dibunuh seribu kalipun pasti akan tetap mendukung Anda, untuk hidup kembali dan dibunuh lagi ..... "
Pada saat kondisi semakin kritis, Imam Hussein mendengat berita tentang penawanan putra Muhammad ibn Bashir al-Hadral. Lalu, Imam Hussein di hadapan Muhammad ibn Bashir berkata, "Engkau bebas, sekarang berusahalah untuk menyelamatkan puteramu yang ditahan,".
Tapi ketika itu, Muhammad ibn Bashir mengungkapkan, "Demi Tuhan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika penguasa gurun memotongku dan menjadikanku sebagai mangsanya, maka aku tetap tidak akan melepaskan dukunganku kepadamu,".
Contoh menonjol lainnya yang tidak melepaskan kesetiaannya kepada Imam Hussein sampai saat-saat terakhir dari hidupnya yang cemerlang adalah Sayidina Abul Fadl Abbas, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan Imam Sadiq yang mengatakan, "Paman kita Abbas bin Ali memiliki kesadaran yang tinggi dan keimanan yang menghunjam. Beliau bersama Abu Abdullah berjihad dan bertempur dengan segenap kekuatannya hingga keluar dari ujian ilahi ini sebagai pemenang, dan akhirnya menjadi syahid,".
Mengenai pengorbanan Abul Fadhl Abbas, Imam Shadiq menjelaskan, "Aku bersaksi engkau tidak melakukan kelemahan dan kelalain apapun (dalam mewujudkan tujuan dan cita-cita ilahi) dengan hati yang terang dan bertindak sebagai orang yang saleh dan mengikuti para Nabi. "
Salah satu wujud cemerlang dari ilmu dan wawasan Abul Fadl Abbas terjadi pada petang hari kesembilan Muharram tahun 61 H yang berada di tengah-tengah pergerakan musuh Shimir bin Di Al-Jausyan menemui Abul Fadl dan berkata, "Saya membawakan surat perlindungan ini dari gubernur Kufah untuk Anda. Jika Anda berhenti membantu Hussein, maka hidup Anda akan aman."
Sayidina Abul Fadl Abbas yang keluar dari tenda bersama tiga saudara laki-lakinya yang lain, berkata dengan teriakan marah, "Kutukan dan murka Tuhan atasmu dan surat keamananmu itu. Apakah kamu ingin kami berhenti membantu orang yang paling terhormat di jalan Tuhan dengan membiarkan putra Fatimah sendirian dan aku meninggalkannya sendirian, padahal aku telah berbaiat kepadanya".
Ya, jika kesadaran telah tertanam begitu kuat, maka hal ini akan memperkuat tekad manusia untuk berjuang hingga tetas darah penghabisan demi memperjuangkan nilai-nilai luhur yang diaykininya. Hal ini sebagaimana Imam Hussein dan para sahabatanya yang syahid. Mereka tidak akan melepaskan tujuan dan cita-citanya membela agama ilahi.
Rahasia Keabadian Asyura (2)
Kebangkitan Imam Hussein melawan pemerintahan tiran Yazid bertujuan untuk menjaga kelangsungan agama Islam yang terkena erosi kerusakan di berbagai sendi kehidupan masyarakatnya.
Oleh karena itu, motivasi perjuangan Imam Husein demi menjaga kesucian Islam dari berbagai penyimpangan yang dilakukan penguasa lalim di masanya. Imam Husein bangkit melawan Yazid bin Muawiyah bukan karena menghendaki kekuasaan, tapi karena ketulusannya membela ajaran agama Islam dan mengembalikan umat Islam dari berbagai penyimpangan.
Imam Hussein dalam salah satu munajatnya berkata,"Ya ilahi, Engkau tahu tujuan kebangkitanku bukan bersaing untuk meraih kekuatan politik atau merebut kekayaan dan kemegahan dunia. Tetapi motif utama kebangkitanku demi menghidupkan kembali ajaran-Mu, mengibarkan tanda-tanda keagungan agama-Mu dan memperbaiki urusan di muka bumi. Kami akan membela hak-hak mereka yang dilanggar dan mengembalikannya kepada mereka. Kami akan mengikuti aturan yang telah Engkau wajibkan kepada para hamba-Mu untuk mengikutinya..."
Imam Husein dalam munajatnya ini dan berbagai perkataannya yang lain memiliki motif ketuhanan yang terlihat jelas di berbagai bidang, termasuk dalam gerakan perlawanannya menghadapi rezim lalim Yazin bin Muawiyah.
Salah satu rahasia lain dari keabadian Asyura, karena setiap tindakan Imam Husein yang diikuti para pengikut setianya di Padang Karbala mengambil warna ilahiah, sehingga terbentuk totalitas dalam gerakannya demi memperjuangkan nilai-nilai Islami, sebagaimana dalam surat Ar Rahman ayat 26 dan 27 yang menegaskan, "Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan,".
Para wali Allah swt dan ulama yang meneruskan jejak para Nabi berperan besar dalam menjaga obor petunjuk kebenaran petunjuk supaya tetap menyala untuk menerangi umat. Demikian juga yang dilakukan Imam Hussein dengan menyampaikan pidato penyadaran kepada para ulama dan tokoh masyarakat di zaman dengan mengatakan, "Jika Anda tidak membantu kami dan tidak bergabung dengan kami dalam memperjuangkan kebenaran, maka para penindas akan memiliki lebih banyak kekuatan untuk melawanmu dan akan menjadi lebih aktif dalam memadamkan sinar matahari yang bersinar dari Nabi kalian."
Melanjutkan pidatonya, Imam Husein bersandar pada prinsip ketauhidan dengan menjelaskan, "(jika Anda tidak membantu kami) Tuhan cukup bagi kami, dan kami bertawakal kepada-Nya, sebab takdir kita ada di tangan-Nya. Kita semua akan kembali pada-Nya".
Selain menjelaskan prinsip ketauhidan, Imam Hussein setiap pidatonya, Imam Hussein mengajak orang lain dengan cara yang baik dalam memperjuangkan nilai-nilai ketauhidan.
Para pencari kebenaran sejati memandang seluruh kehidupan manusia dilakukan demi meraih ridha Allah swt. Sebab, dalam posisi tinggi ini, manusia menyerahkan seluruh keberadaannya kepada Tuhan dalam menghadapi semua peristiwa terjadi. demikian juga dengan Imam Hussein yang menyampaikan khutbah di Mekah, termasuk menyinggung peristiwa getikyang diprediksi akan terjadi padanya. Beliau dengan totalitas ketakwaan dan ketawakalannya berkata: "Apapun yang Allah tetapkan, aku ridha, dan aku akan bersabar dalam menghadapi kesulitan dan rintangan yang menghadang,".
Menghadapi pihak-pihak yang menentang perjalanan Imam Hussein ke Karbala, beliau mengajak orang-orang yang tulus berjuang demi meraih ridha Alalh dengan sebagai prinsip utama perjuangannya dengan mengatakan, "Ketahuilah, siapa pun yang siap berjuang di jalan ilahi ini, maka bersiaplah untuk berangkat bertemu Allah (menjemput kesyahidan)..."
Manifestasi lain dari ketauhidan sebagai poros perjuangan Hussein ibn Ali dapat dilihat dengan jelas dalam tanggapan Imam terhadap surat perlindungan yang diberikan 'Umar ibn Sa'id, penguasa Mekah yang disampaikan Abd al-Ja'far, suami Sayidah Zainab, dengan yang mengatakan, "Orang yang beramal salih dan berserah diri kepada-Nya, niscaya tidak akan menentang Allah dan Rasul-Nya ..... Namun mengenai surat perlindungan yang telah kalian bawa, ketahuilah bahwa jaminan keselamatan terbaik hanya dari Allah swt. Keamanan dari Allah berada dalam agama. Jika tidak takut kepada Allah, maka tidak akan aman di akhirat. Dalam pandangan ilahi, takut kepada Allah di dunia ini, akan menyelamatkan kita di akhirat nanti,".
Imam Hussein berkata, "Aku bersumpah demi Tuhan, jika aku terbunuh sejengkal lebih jauh dari Mekah, maka lebih aku sukai dari pada darahku tumpah di tempat suci ini, dan jika aku terbunuh dua kali lebih jauh dari Mekah, maka lebih baik bagiku.".
Pernyataan ini disampaikan Imam Husein sebagai reaksi atas kelaliman Yazid dan kerusakan yang dilakukannya dengan mengatasnamakan sebagai khalifa Muslim. Imam Husein bersedia sayahid demi menjaga kesucian Kabah yang berusaha dinodai oleh penguasa lalim semacam Yazid.
Tidak seperti dinasti Umayah yang duduk di atas takhta kekuasaan dengan menghancurkan nilai-nilai Islam yang diperjuangkan oleh Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Baitnya, Hussein bin Ali yang dibesarkan di tengah keluarga Nubuwah dan Imamah sangat prihatin menyaksikan penodaan terhadap ajaran Islam dan berupaya mengembalikan umat menuju jalan kebenaran.
Oleh karena itu, Imam Hussein menyampaikan seruannya,"Sadarilah bahwa mereka adalah orang-orang mengikuti setan dan telah meninggalkan ketaatan kepada Tuhan, menyebarkan kerusakan dan kehancuran, serta melanggar syariat Allah, juga menjarah properti umum dan memonopolinya, dan menghalalkan yang diharamkan oleh Allah swt maupun sebaliknya. Sementara aku akan datang untuk mencegah berlanjutnya situasi ini dan mengubahnya.".
Dukungan terbesar dari para pejuang yang mengorbankan dirinya demi mengharapkan ridha Allah swt merupakan hasil dari ketauhidan sebagai prinsip paling utama dalam hubungan antara Imam Husein dengan Allah swt, yang menginspirasi para pengikutnya untuk berjuang demi mempertahankan nilia-nilai agung dan luhur.
Pada malam Asyura, ketika pasukan musuh mengepung tenda-tenda Imam Husein dan pengikutnya, Imam Hussein sedang tenggelam dalam munajat dan doa. Di hadapan pengikutnya, beliau berkata "... Aku ingin menunaikan shalat dan marilah kita memohon ampunan ilahi. Allah tahu bahwa aku menyukai doa, membaca al-Quran, shalat dan manajat serta banyak beristigfar,".
Dengan ketauhidan yang begitu kuat terhunjam, Imam Hussein dan para sahabatnya yang setia tenggelam doa dan ibadah yang sangat khusuk. Mereka hidup seolah-olah tidak memiliki kekhawatiran sedikitpun tentang peristiwa Asyura dan kesyahidan yang akan menimpanya, meskipun musuh sedang mengepung mereka di luar.
Sebelum peristiwa Asyura terjadi, salah seorang sahabat bernama Abu tsamamah bin Saidi mengingatkan waktu shalat segera tiba kepada Imam Hussein. Ketika itu Imam Hussein kepada pengikutnya berkata, "Kamu sudah mengingatkan kami akan waktu sholat. Allah menjadikanmu sebagai salah seorang yang mengingat Allah."
Ketika dzuhur tiba, Imam Husein meminta sedikit waktu untuk bermunajat kepada Allah untuk terakhir kalinya. Musuh menolak permintaan itu, tetapi Imam tetap mendirikan shalat tanpa peduli dengan tekanan dan hujanan panah musuh, dua sahabatnya gugur syahid dalam peristiwa itu.
Kekhusyukan dan ketenangan Imam Husein dalam shalat membuat para sahabatnya menitikkan air mata. Fenomena ini mengingatkan mereka pada sosok ayahnya, Imam Ali yang tidak pernah melewatkan shalat dalam perang dan berkata, "Kita berperang untuk menegakkan shalat."
Rahasia Keabadian Asyura (1)
Salah satu pertanyaan yang terus muncul hingga kini mengenai keabadian peristiwa Asyura, mengapa tragedi besar yang terjadi lebih dari seribu tahun ini tidak pernah lekang oleh zaman dan masih lestari hingga kini.
Sepanjang sejarah begitu banyak gerakan perjuangan yang datang dan pergi silih berganti, tetapi seiring berjalannya waktu banyak yang hilang dari memori kolektif bangsa-bangsa, dan kehilangan perannya. Tetapi fenomena ini tidak menimpa gerakan Asyura Husseini yang terus diperingati dan lestari hingga kini, bahkan memberikan inspirasi dalam perjuangan di negara-negara tertindas melawan penguasa otoriter.
Hal yang sangat penting dari gerakan Asyura adalah kenyataan bahwa antusiasme ini tidak hanya terjadi di dunia Islam, tetapi telah mempengaruhi opini publik bangsa-bangsa dunia, terutama para pencari kebebasan yang melintasi batas geografis. Fenomena yang paling menonjol selama beberapa tahun terakhir bisa dilihat dalam epik pawai akbar Arbain yang diikuti belasan juta orang yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Faktanya, peristiwa besar dan menakjubkan dari gerakan Asyura bukan hanya peristiwa yang tunduk pada perjalanan waktu, tetapi peristiwa universal dan abadi dalam sejarah yang harus diidentifikasi secara mendalam mengenai rahasia dan misteri keabadiannya, sehingga menjadi landasan bagi gerakan pembebasan negara-negara tertindas dunia dalam menghadapi dominasi penindas dan kekuatan imperialisme global.
Apabila peringatan Asyura Imam Hussein hanya sebatas penyelenggaraan peringatan ritual duka cita, maka tentu saja musuh-musuh Islam tidak akan merasa terancam, bahkan mereka akan membiarkan penyelenggaraan acara ini dengan melucuti spirit dan pesan penting yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, untuk mengatasi fenomena ini, tampaknya perlu dipelajari rahasia keabadian Asyura demi meraih spirit dan pesan utama di dalamnya.
Salah satu rahasia terpenting dari keabadian perjuangan Asyura adalah kehadiran para pengikut setia Imam Husein yang berupaya menjaga Islam Muhammadi. Sejak Nabi Muhammad Saw wafat, sebagian kalangan berupaya memisahkan Alquran dari Ahlul Bait Rasulullah Saw, menyingkirkan Ali dari kekhalifahan, memalsukan hadits dan membakar hadits Nabi Muhammad Saw dan juga melimpahkan tanggung jawab utama kepada Dinasti Umayyah.
Mereka juga mengancam, menindas, dan membunuh Abu Dzar, Hujr bin Adi, dan berijtihad yang bertentangan dengan teks Alquran dan Sunnah Rasulullah Saw untuk mendistorsi Islam Muhammadi, sehingga Islam di masa Yazid hanya tinggal cangkangnya saja. Oleh karena itu, ketika Yazid membuat keputusan serius untuk memaksa Imam Hussein supaya berbaiat kepadanya, Imam Husein secara tegas menyatakan kepada Marwan Ibn Hakam, "... Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ketika umat Islam dipimpin oleh seorang penguasa seperti Yazid, maka kita harus menyampaikan perpisahan dengan agama Islam. ".
Perhatian paling penting dan mendasar dari perjuangan Imam Hussein adalah menjaga Islam di tengah berbagai rongrongan. Imam Husein mengungkapkan berbagai penyimpangan dari jalur kepemimpinan Nabawi yang diciptakan oleh para penguasa yang haus kekuasaan semacam Yazid.
Mengenai masalah ini, Imam Husein berkata, “Orang yang kalian harapkan baiatku kepadanya adalah peminum minuman keras dan tangannya berlumuran darah orang-orang tak berdosa. Dialah orang yang melanggar perintah Ilahi dan melakukan dosa secara terbuka di depan mata banyak orang. Apakah pantas bagi orang seperti saya untuk bersumpah setia kepada orang yang rusak seperti dia? Dalam hal ini, kita harus mempertimbangkan masa depan untuk melihat siapa di antara kita yang pantas menjadi pemimpin Umat Islam dan pantas mendapatkan bait dari mereka.(Tabari vol. 7 hal. 18-216, Ibn Athir 23 hal. 263-264)
Berdasarkan literatur otentik Syiah dan Sunni, sifat Imam Husein dan Yazid tidak bisa dibandingkan seperti langit dan bumi. Yazid adalah orang yang berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan Islam dan Ahlul Bait Rasulullah Saw. Ketika berkuasa, dia menyatakan, "Bani Hasyim bermain dengan kekuasaan, karena itu bukan wahyu ataupun risalah."(Al-Ghadir hal. 342)
Tidak diragukan lagi, jika Imam Hussein tidak melawan kebijakan jahat yang diwarisi Yazid dari pendahulunya, maka tidak ada jejak Islam yang tersisa. Oleh karena itu, benar kiranya jika dikatakan bahwa agama Islam didirikan dengan kebangkitan Nabi Muhammad Saw, tetapi dipertahankan melalui perjuangan Imam Hussein.
Di zaman sekarang, arogansi global telah mengambil kebijakan yang sama sebagaimana Dinasti Umayyah yang melawan Nabi Islam untuk menghancurkan Islam. Tapi Imam Khomeini, pendiri Revolusi Islam, yang sepenuhnya memahami kedalaman kebijakan jahat mereka mengambil mengambil perjuangan Imam Hussein sebagai inspirasi perjuangannya.
Imam Khomeini, mengatakan, “Kita memiliki kewajiban untuk memelihara Islam. Kewajiban ini merupakan kewajiban yang penting.... Darah Hussein tumpah demi membela Islam demi membela nilai-nilai agung Islam. Kita harus memahami makna ini dan mengajarkannya kepada orang lain."
Ibnu Sina, Simbol Hari Dokter Nasional Iran
Tanggal 1 Shahrival diperingati sebagai hari dokter nasional di Iran dengan menajdikan tanggal wafatnya Ibnu Sina sebagai momentum memperingati kebesaran filsuf yang juga dokter terkemuka Iran ini.
Abu Ali Sina atau Ibnu Sina, seorang ilmuwan besar muslim terlahir ke dunia pada 3 Safar 370 Hq di kota Balkh. Ibnu Sina pada usia remaja telah menghapal al-Quran dan kemudian mempelajari ilmu teknik dan astronomi.
Sejak kecil Ibnu Sina memang pembelajar yang serius. Di usia belasan tahun ia sudah mulai membaca buku terjemahan Metafisika Aristoteles. Di masa kanak-kanak, ia sering mengajukan pertanyaan ‘tak wajar’ pada gurunya. Tapi, rasanya tak akan ada nama besar Ibnu Sina tanpa dukungan luar biasa dari Abdullah, sang ayah.
Abdullah sangat tanggap dengan potensi yang dimiliki putranya. Ia pun berhijrah memboyong keluarga dari dusun kelahirannya ke kota Bukhara, demi mencari tempat belajar kondusif bagi Husain, nama kecil Ibnu Sina. Tak henti, ia mencari guru yang mumpuni sampai akhirnya bertemu Mahmud Massah, yang mengusai matematika.
Pada usia 18 tahun, Ibnu Sina telah menguasai semua ilmu yang berkembang pada zaman itu. Meski menguasai sangat banyak bidang ilmu, Ibnu Sina paling terkenal atas kemampuannya di bidang kedokteran.
Sedemikian berkembangnya pengetahuan Ibnu Sina sehingga gurunya menjadikannya sebagai guru dirinya, padahal ia belum berusia 20 tahun. Di masa-masa itu juga ia getol mempelajari filsafat. Setiap kali ia terbentur dengan sebuah masalah, dengan segera ia mengambil air wudhu dan pergi ke masjid melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, kemudian berdoa kepada Allah untuk memberi jalan menyelesaikan masalah keilmuan yang dihadapinya.
Atas keberhasilannya mengobati seorang raja Dinasti Samani, Ibnu Sina diizinkan untuk memanfaatkan perpustakaan besar yang dimiliki oleh raja tersebut. Ibnu Sina kemudian banyak melakukan penelitian di perpustakaan tersebut.
Karya-karya penulisan yang dihasilkan Ibnu Sina sedemikian hebatnya, sehingga menjadi rujukan bagi para ilmuwan di berbagai zaman dan berbagai tempat, termasuk di dunia Barat. Karya terkenal Ibnu Sina antara lain berjudul Syifaa, yang merupakan buku filsafat dan Qanun yang membahas tentang masalah kedokteran.
Ibnu sina meninggal dunia di kota Hamedan dan dimakamkan di kota itu pula di usia 58 tahun. Sebagai bentuk penghormatan kepada beliau, hari meninggalnya Ibnu Sina, setiap tanggal 1 Shahrivar diperingati di Iran sebagai Hari Kedokteran.
Memperingati Hari Perang Melawan Terorisme
Tanggal 8 Shahrivar (kalender nasional Iran) yang tahun ini bertepatan dengan tanggal 29 Agustus 2020, mengingatkan rakyat Iran tentang kesyahidan Presiden dan Perdana Menteri Iran kala itu, Rajaei dan Bahonar, di awal kemenangan Revolusi Islam Iran oleh kelompok teroris Munafikin.
Teror ini terjadi pada tanggal 8 Shahrivar 1360 Hijriah Syamsiah atau 30 Agustus 1981, dua bulan pasca gugurnya Ayatullah Sayid Mohammad Hosseini Beheshti bersama 72 tokoh politik anggota Partai Jomhouri Eslami dalam peledakan bom di kantor partai ini pada 28 Juni 1981.
Selama dua dekade, pemerintah Amerika Serikat menaungi kelompok teroris Munafikin di bawah payung dukungan dana, dan politik, serta mendukung aksi terornya terhadap warga Iran. Kelompok teroris ini berusaha menyingkirkan tokoh-tokoh penting, dan pendiri Republik Islam Iran sehingga dengan menciptakan kekosongan pada pilar sensitif negara, ia bermaksud membuka kemungkinan keruntuhan Republik Islam Iran.
Raymond Tanter mantan anggota Dewan Keamanan Nasional Amerika, dan salah satu pendukung Munafikin yang menulis buku terkait pergerakan kelompok ini dengan maksud mengeluarkannya dari daftar pendukung terorisme mengatakan, mereka adalah opsi yang lebih baik daripada sanksi dan perang untuk membantu memajukan program Amerika terkait Iran.
Pandangan ini menunjukkan bahwa apa yang penting bagi Amerika adalah meraih tujuan dengan cara apapun, bahkan jika harus mendukung sebuah kelompok teroris sekalipun. Amerika menyebut segala bentuk intervensi dan upaya mengganggu keamanan Iran dan kawasan serta pendudukan seperti di Afghanistan dan Irak, sebagai upaya menciptakan keamanan kawasan.
Pejabat Amerika dalam kerangka kebijakan yang mereka sebut perang melawan terorisme, terus menerus melakukan penyimpangan realitas, dan menuduh Iran mengacaukan kawasan serta mendukung terorisme. Tujuannya untuk mencitrakan positif Amerika di kawasan dan dunia, padahal substansi nyata perilaku Amerika adalah memproduksi perang, ketidakamanan dan terorisme, serta membidani lahirnya Al Qaeda dan Daesh.
Berdasarkan bukti yang ada, pemerintah Amerika dalam rekam jejaknya, tercatat mendukung aksi teror Munafikin. Dukungan Amerika terhadap kelompok teroris Munafikin hanyalah satu contoh dari standar ganda Barat dalam menyikapi terorisme.
Pasukan Amerika dengan dalih perang melawan terorisme, dikerahkan ke lebih dari 80 negara dunia. Hasil kajian Universitas Brown pada tahun 2018 menunjukkan, Amerika dengan dalih memerangi terorisme, memperluas kehadiran militernya di lebih dari 40 persen negara dunia.
Pertanyaannya apakah kehadiran militer Amerika ini berhasil menurunkan aktivitas teror ?
Jawabannya tidak. Intervensi militer Amerika pasca serangan 11 September, dan apa yang disebutnya sebagai perang melawan terorisme, justru menyebabkan terorisme menyebar luas di dunia dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 2001, Amerika menduduki Afghanistan dengan dalih perang melawan Al Qaeda. Tiga tahun kemudian Amerika menyerang Irak. Perang yang berlangsung selama 7 tahun ini membawa kerugian besar bagi rakyat Irak, dan pasukan Amerika selama 7 tahun melakukan semua jenis kejahatan di negara itu. Afghanistan dan Irak yang rencananya dibersihkan dari para teroris, justru berubah menjadi tempat lahirnya kelompok teroris Daesh.
Noam Chomsky analis politik Amerika sempat bertanya, apakah yang diinginkan Amerika adalah menyuburkan terorisme atau memberantasnya ? Ia menjelaskan, jika ingin memberantas terorisme maka pertama Amerika harus bertanya mengapa terorisme muncul ? Apa sebab-sebab utama kemunculan terorisme, dan apa akar terdalamnya ? kemudian berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Seiring dengan naiknya Donald Trump ke tampuk kekuasaan, aktivitas kelompok-kelompok teroris, dan kejahatan Amerika bentuknya semakin beragam. Tidak diragukan dukungan Amerika atas terorisme merupakan bagian dari strategi Washington untuk mengintervensi kawasan, dan memukul Iran. Sebagian kejahatan ini tampak dalam bentuk sanksi ekonomi, dan Iran salah satu target terorisme ekonomi Amerika.
Pada bulan Januari 2020, Amerika melakukan sebuah kejahatan besar, ia meneror Komandan Pasukan Qods, IRGC, Letjend Qassem Soleimani, dan sekali lagi berusaha mengacaukan kawasan dengan aksi teror semacam ini. Pada 3 Januari 2020 dinihari kendaraan yang membawa Jenderal Soleimani bersama 10 orang lain termasuk wakil Komandan Hashd Al Shaabi Irak, Abu Mahdi Al Muhandis, yang datang ke Irak atas undangan resmi pemerintah negara itu, diserang drone militer Amerika sehingga menyebabkan seluruh penumpangnya gugur.
Amerika dalam teror ini menyasar para komandan militer yang selama bertahun- tahun telah memberikan pukulan telak kepada kelompok teroris Daesh. Membalas teror ini, Iran pertama menyerang pangkalan militer Amerika, Ain Al Assad di Irak, yang merupakan pangkalan militer terbesar dan terpenting Amerika di Irak.
Transformasi politik dalam beberapa tahun terakhir di kawasan menunjukkan bahwa kekuatan imperialis terutama Amerika menggunakan terorisme dan ekstremisme sebagai alat untuk mencapai tujuannya.Sementara Iran sejak 41 tahun lalu terus menjadi korban utama terorisme, dan ekstremisme, dan dengan 17.000 korban terorisme, ia menjadi negara yang paling bertekad untuk memerangi dan menumpas terorisme. Ditetapkannya tanggal 8 Shahrivar sebagai Hari Melawan Terorisme juga masuk dalam kerangka ini.
Tekad dunia untuk memerangi terorisme banyak mengalami pasang surut. Hal ini akan menjadi jelas jika kita merunut sejarah. Pada 10 Desember 1934 Liga Bangsa-bangsa secara aklamasi mengesahkan sebuah resolusi yang menegaskan bahwa semua negara harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencegah aksi teror, dan bekerjasama dengan negara lain dalam hal ini. Resolusi tersebut menghasilkan sebuah konvensi yang disebut Konvensi Pencegahan dan Hukuman atas Terorisme yang disahkan pada 10 Desember 1937.
Konvensi ini menyimpulkan terorisme dalam sebuah kerangka umum. Berdasarkan kesepakatan Jenewa tahun 1937, terorisme didefinisikan hanya pada upaya seorang individu melawan sebuah negara atau pemerintahan. Satu-satunya kekhususan kesepakatan ini adalah menjelaskan kejahatan secara definitif, dan menentukan objeknya secara langsung sebagai bentuk terorisme.
Upaya ini dipengaruhi pecahnya perang dunia kedua, dan situasi perang, sehingga tidak membuahkan hasil yang jelas. Pasca pendirian PBB, isu terorisme kembali dibahas di komisi hukum internasional. Komisi ini menyusun hak dan kewajiban setiap negara dalam statemennya. Dengan demikian selama tahun 1947-1955, upaya ini menghasilkan resolusi 1186 yang disahkan di Majelis Umum PBB terkait agresi dan terorisme. Meskipun demikian, terorisme masih terjadi secara luas, dan lahir dalam berbagai bentuk yang baru.
Perubahan masyarakat internasional pasca perang dingin di sejumlah negara dipengaruhi oleh negara-negara adidaya, dan pemenang perang, sehingga mereka menghadapi permasalahan baru, sementara upaya PBB untuk mengidentifikasi perbuatan yang masuk kategori terorisme, tidak begitu tampak. Fenomena ini terus berlangsung bersamaan dengan upaya memecah belah sebagian kawasan Asia Barat, termasuk pecah belah Palestina oleh Zionis. Di masa ini, teror dan ketakutan yang dirasakan ribuan pengungsi Palestina memberikan gambaran baru kepada penduduk dunia tentang terorisme dalam bentuk baru dengan tujuan pendudukan dan penjajahan.
Zionis berusaha menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat Palestina, dan kelompok penjahat seperti Haganah terus melakukan pembunuhan mengerikan terhadap warga Palestina, termasuk aksi pembantain Deir Yassin yang terkenal itu. Pasca berdirinya rezim Zionis Israel, terorisme dalam bentuk yang lebih nyata melayani Israel dalam meraih ambisinya. Zionis melakukan teror dalam berbagai aksi seperti serangan bersenjata, pembunuhan massal dan semacamnya. Aksi ini terus meluas di saat resolusi anti-teror PBB dan konvensi-konvensi identifikasi terorisme tidak mampu menghukumi aksi tersebut sebagai terorisme.
Satu-satunya langkah yang dinilai cukup berarti dalam hal ini terjadi di tahun-tahun terakhir dekade 90-an, sebuah resolusi disahkan di Majelis Umum PBB pada 11 September 1995. Dalam resolusi itu dicantumkan urgensi keterlibatan Dewan Keamanan PBB dalam memerangi terorisme, jika perdamaian dan keamanan internasional terancam. Meski demikian sampai tahun 1999 DK PBB masih memandang terorisme secara kasuistik. Di tahun ini DK PBB untuk pertama kalinya menerbitkan resolusi yang berdimensi konsultasi terkait terorisme. Akan tetapi teror 11 September 2001, membuka kesempatan baru bagi Amerika untuk menyalahgunakan izin DK PBB guna melakukan aksi pencegahan atas nama perang melawan terorisme. Langkah pertama dalam hal ini dilakukan Amerika dengan menyerang Afghanistan, dan menduduki negara itu.
Tapi tak lama kemudian kebijakan ganda Barat terkait kelompok teroris semakin tampak nyatanya, dan dengan munculnya fenomena baru terorisme yang diwakili Al Qaeda dan Daesh, semakin jelas bahwa Barat tidak berniat sama sekali untuk memerangi terorisme. Kenyataanya ini menyebabkan terorisme menjadi masalah global, dan ancaman luas serta destruktif bagi ketenteraman dan keamanan nasional juga internasional.
Pada kenyataannya, standar ganda Barat terkait terorisme justru membuka peluang penyebaran teror dan pembunuhan di level global sehingga terorisme sampai sekarang tetap menjadi ancaman dunia, dan keamanan bangsa-bangsa. Amerika dengan penipuan publik yang dilakukannya, bukannya memerangi terorisme, malah mendukung teroris dan menuduh negara lain mendukung terorisme. Padahal sumber ketidakamanan kawasan dan dunia adalah terorisme dukungan Amerika dan sekutu-sekutu regionalnya.
Oleh karena itu alasan perang melawan terorisme membutuhkan visi global. Tanggal 8 Shahrivar yang dalam kalender Iran ditetapkan sebagai Hari Perang Melawan Terorisme, merupakan kesempatan dalam hal ini.
Analisis Poin Kunci Pidato Sekjen Hizbullah di Malam Asyura
Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah dalam pidato malam Asyura menyebut serangan media sebagai strategi paling penting saat ini yang dilancarkan kubu penentang Front Perlawanan.
Sejak tahun 2000, geopolitik kekuasaan di kawasan Asia Barat telah mengalami perubahan yang mendasar, dan bobot serta posisi Front Perlawanan di kawasan ini semakin meningkat. Menyikapi fakta ini, Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel melancarkan perang tahun 2006 dengan tujuan untuk melenyapkan Hizbullah Lebanon, tetapi perang 33 hari itu berakhir dengan kegagalan rezim Zionis dan Amerika Serikat dalam meraih tujuannya.
Kemudian, Intervensi kubu AS dan sekutunya dalam krisis Suriah pada tahun 2011 bertujuan untuk menggulingkan sistem politik Suriah yang mendukung Front Perlawanan. Selain Amerika Serikat dan rezim Zionis, beberapa negara Arab dan Turki juga terlibat dalam aksi menyulut krisis di Suriah. Tapi kehadiran kubu perlawanan dan dukungan Republik Islam Iran terhadap Suriah telah menyebabkan pemerintahan Bashar Assad berhasil mempertahankan lebih dari 90 persen teritorialnya setelah 10 tahun dihantam krisis.
Selain kemenangan militer, kelompok perlawanan, terutama Hizbullah Lebanon, juga meraih keberhasilan politik yang signifikan. Koalisi Front Perlawanan memenangkan mayoritas suara di parlemen dalam pemilu legislatif Mei 2018 dengan mengisi 68 kursi. Situasi ini terulang di Irak dan Yaman. Poros perlawanan di Irak dan Yaman memiliki keunggulan dalam dinamika politik dan militer di negaranya.
Menyikapi kondisi demikian, pihak penentang Front Perlawanan melancarkan serangan media bertubi-tubi untuk mencoreng citra baik Front Perlawanan di tengah masyarakat Asia Barat dan dunia, terutama di Lebanon. Perang media dilancarkan dengan tujuan memutarbalikkan fakta dan menyalahkan Front Perlawanan atas terjadinya berbagai masalah di negara kawasan seperti Lebanon, Irak, Suriah dan Yaman. Tujuan ini dikejar melalui penyebaran berita palsu dan mengkambing hitamkan Hizbullah di negara-negara ini, terutama di Lebanon.
Dalam pidatonya semalam, Sayid Hassan Nasrullah menyinggung fakta bahwa kebijakan penyerangan media telah dilancarkan secara masif terhadap Hizbullah, dan adanya aktor intelektual di tingkat negara dunia yang bekerja memproduksi berita palsu tersebut.
Tidak hanya serangan media yang dilancarkan poros Barat, Arab dan Ibrani terhadap Front Perlawanan, tetapi juga peran kedutaan besar negara-negara Arab dan Barat di negara-negara target, termasuk Lebanon.
Menurut Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, kedutaan besar mereka menghabiskan jutaan dolar untuk menyebarkan berita palsu demi mencoreng wajah Hizbullah supaya bisa menggiring opini publik negara ini yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam empat atau lima dekade terakhir.
Dengan pendekatan ini, mereka berupaya mengaitkan banyak masalah ekonomi, korupsi, serta aksi teror dengan kelompok perlawanan di negara-negara seperti Lebanon dan Irak. Padahal, kekuasaan di negara-negara ini berada di tangan kaum liberal yang didukung Barat selama beberapa dekade, dan institusi ekonominya masih berada di tangan kendali mereka. Faktanya, isu yang diangkat Sayid Hassan Nasrullah pada malam Asyura sejalan dengan perang kognitif yang digunakan oleh pihak oposisi, terutama dalam beberapa tahun terakhir.
Meskipun poros perlawanan di kawasan tidak memiliki kekuatan media yang setara dengan kubu Barat dan pendukungnya, namun menurut Sekjen Hizbullah, perlawanan yang lahir dari gerakan Asyura Husseini akan terus berjuang melawan penindasan dan tirani. Faktanya, hal inilah yang menjadi faktor penting kegagalan musuh melawan Front Perlawanan dalam 38 tahun terakhir, sejak berdirinya Hizbullah pada tahun 1982.
Nasrullah: Muqawama tidak akan Pernah Akui Israel
Sekjen Gerakan Perlawanan Islam Lebanon (Hizbullah) menilai pesan Asyura adalah perlawanan terhadap kezaliman dan kehinaan serta mengatakan, Hizbullah tidak akan pernah melepaskan opsi muqawama dan permusuhan terhadap rezim Zionis Israel.
Sayid Hasan Nasrullah Ahad (30/8/2020) di pidatonya bertepatan dengan peringatan hari Asyura menyebut pertempuran di kawasan saat ini adalah perang antara kebenaran dan kebatilan. "Hizbullah dan muqawama Islam di hari kesepuluh bulan Muharram (Asyura) menekankan tekad kuatnya untuk mendukung dan menyertai setiap faksi dan kubu yang melawan Israel," tegas Sayid Hasan Nasrullah.
Sayid Hasan Nasrullah seraya menjelaskan bahwa pemerintah Amerika ingin menguasai dan merampok kekayaan negara-negara kawasan termasuk Yaman, Suriah dan Irak serta permusuhan tak kenal akhir dengan Iran, mengungkapkan, tidak ada solusi menghadapi agresi ini kecuali perlawanan dan resistensi.
Sekjen Hizbullah menyebut sikap Uni Emirat Arab (UEA) berkompromi dengan Israel sebuah kehinaan besar bagi negara ini dan pengkhianatan terhadap dunia Arab. "Zionis telah mencoreng citra Emirat dengan menyatakan bahwa mereka tidak bersedia berhenti menduduki Tepi Barat atau menjual jet tempur F-35 ke UEA.," papar Sayid Hasan Nasrullah.
Terkait kondisi Lebanon, Sayid Hasan Nasrullah menandaskan, dibutuhkan seorang perdana menteri yang mampu memulihkan ekonomi dan kehidupan rakyat serta merekonstruksi negara dan juga reformasi.
Sayid Hasan Nasrullah mengingatkan, Hizbullah terkait serangan terbaru Zionis yang menggugurkan sejumlah pejuang termasuk Ali Kamil Muhsin, akan melanjutkan metodenya yakni menstabilkan konstelasi dan keseimbangan dan Israel harus menyadari bahwa jika mereka menggugurkan satu pejuang Hizbullah, maka satu tentaranya akan terbunuh.
Reuters: Netanyahu Bersama Menantu Trump akan Kunjungi UEA
Reuters melaporkan rencana kunjungan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel, Benjamin Netanyahu bersama para penasehatnya ke Uni Emirat Arab (UEA)
Reuters hari Minggu (30/8/2020) mengabarkan Jared Kouchner, menantu dan penasihat senior Presiden AS Donald Trump juga akan mendampingi Benjamin Netanyahu dalam kunjungannya ke UEA tersebut.
Netanyahu hari ini bertemu dengan Kouchner dan Penasihat Keamanan Nasional AS Robert O'Brien, dan mengatakan dirinya akan mengadakan pembicaraan rahasia dengan beberapa pemimpin Arab untuk menormalkan hubungan.
Pada 13 Agustus 2020, UEA dan Israel mengumumkan kesepakatan untuk memulai normalisasi hubungan diplomatik.
Perjanjian tersebut menyulut banyak kritik dari berbagai kalangan di Palestina dan dunia Islam.




























