کمالوندی
Islam dan Gaya Hidup (15)
Gaya hidup mencakup cara berpakaian, pola konsumsi makanan, cara bekerja dan mengisi waktu luang, adat-istiadat dan tatanan sosial, serta hubungan kemanusiaan. Ini semua adalah komponen dari gaya hidup yang terinspirasi dari pandangan dunia dan sistem ideologi manusia.
Gaya hidup dalam pemikiran meterialisme atau pandangan Barat, memiliki perbedaan esensial dengan pemikiran agama atau tauhid. Berdasarkan kedua pandangan ini, terdapat dua bentuk gaya hidup dalam kehidupan manusia. Pemikiran agama percaya bahwa setiap aspek dari kehidupan manusia memiliki program dari langit dan sarat tujuan.
Gaya hidup Islami – berbeda dengan kehidupan Barat – tidak hanya bersandar pada kenikmatan-kenikmatan individual, tapi juga memperhatikan aspek tujuan dan menjalani hidup dengan kebijaksanaan, bahkan ketika manusia sedang menikmati liburan dan waktu istirahat. Waktu luang dalam bentuk yang sekarang ini adalah produk dari era industrialisasi dan modernitas serta gaya hidup masyarakat metropolis. Manusia harus selalu mengisi saat-saat dalam hidupnya dengan beragam kegiatan dan mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk bekerja di lingkungan yang terbatas. Kondisi ini tentu saja mengganggu kesehatan fisik dan mental.
Sebagian orang berpikir untuk mengelola waktu luang guna mengoptimalkan kinerja para pegawai. Sebagian yang lain menganggap waktu luang sebagai masa kebebasan dari semua belenggu dan waktu untuk melepas semua kekangan hukum dan moral. Menurut mereka, waktu luang adalah masa untuk melepas tanggung jawab, kebebasan mutlak, dan waktu untuk lepas dari semua tanggung jawab sosial. Pandangan seperti ini tentu saja tidak sejalan dengan pemikiran Islam. Waktu luang menurut perspektif Islam sama sekali tidak bermakna momen untuk melepas tanggung jawab atau waktu untuk menganggur.
Selama manusia masih memiliki akal, ikhtiyar, kesadaran, dan kemampuan, maka di sana juga terdapat tanggung jawab. Oleh karena itu, waktu luang sama sekali tidak bisa disebut sebagai waktu tanpa tanggung jawab, kebebasan mutlak, dan lepas dari tugas. Waktu luang juga tidak berarti sebagai kesempatan untuk menganggur. Menganggur dalam artian bahwa seseorang sama sekali tidak memiliki tugas untuk dikerjakan. Sementara dalam waktu luang, ada banyak tugas untuk diselesaikan. Dalam beberapa riwayat, Islam mencela waktu luang yang diartikan sebagai waktu untuk menganggur dan penganggur dianggap sebagai orang yang memperoleh murka Tuhan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa “Sesungguhnya Tuhan menganggap musuh orang yang banyak tidur dan menganggur.” (Kitab Ushul al-Kafi, juz 5, hal 84)
Salah satu indikasi dari waktu luang adalah bahwa manusia terbebas dari kerja resmi dan rutinitas harian. Mungkin karena indikasi ini juga sehingga sebagian orang menganggap waktu luang sebagai waktu untuk menganggur. Namun jelas bahwa ketika seseorang sudah menyelesaikan pekerjaan resminya, hal ini bukan berarti ia boleh menganggur. Indikasi lain dari waktu luang adalah bahwa seseorang bebas memilih kegiatan sesuai hobinya dan ia tidak melakukan pekerjaan atas dasar keterpaksaan. Dengan kata lain, waktu luang memberi seseorang kemampuan dan opsi yang lebih besar untuk memilih aktivitas yang disenanginya.
Di waktu luang, manusia bebas melakukan segala bentuk kegiatan sesuai dengan hobi masing-masing. Dan bahkan mungkin juga ada orang-orang yang lebih memilih pekerjaan yang berat dan penuh tantangan di waktu luangnya. Jadi, dapat dikatakan bahwa tata cara menghabiskan waktu luang ditentukan oleh bentuk karakter, identitas sosial, pendidikan, dan moralitas individu. Pada waktu luang, orang-orang umumnya tidak memiliki motivasi materi atau mengejar keuntungan. Meski waktu luang masyarakat dapat dikelola untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan perputaran arus modal yang lebih besar di tengah mereka.
Waktu luang tidak mengenal golongan atau usia tertentu. Semua individu masyarakat membutuhkan waktu luang. Kebutuhan ini membuktikan tentang pentingnya perencanaan untuk mengisi momen tersebut. Mengingat ajaran Islam sangat menghargai waktu dan mencela orang-orang yang malas, maka dapat dikatakan bahwa Islam memandang masalah waktu luang dari aspek pendidikan dan etika dan sama sekali tidak bermakna menghabiskan waktu dengan sia-sia.
Waktu luang dapat menjadi salah satu peluang terbaik untuk membangun sebuah model budaya. Dengan pengelolaan waktu luang, orang-orang dapat mengarahkan keyakinan, nilai-nilai, perilaku, dan keinginannya ke tempat yang benar. Di era modern, investasi terbesar di ranah budaya di negara-negara Barat fokus pada pembuatan film, sinetron, animasi, sarana hiburan, dan game komputer, di mana semua itu ditujukan untuk mengisi waktu luang masyarakat. Produk-produk budaya itu menyebarluaskan nilai-nilai Barat dan sekarang mempengaruhi masyarakat lain.
Waktu luang dapat memiliki beragam fungsi sehingga kehidupan menjadi penuh warna dan menghapus segala bentuk kelelahan fisik dan mental serta kejenuhan dalam menjalani aktivitas. Waktu luang akan memperbarui kekuatan manusia dan mengoptimalkan kinerja mereka. Waktu luang dapat mengontrol sebagian besar gangguan mental, kegelisahan, stress, dan emosi. Pada akhirnya, manusia akan meraih kembali kedamaian jiwa dan ketenangan raga. Jika waktu luang diisi dengan kegiatan-kegiatan sosial, maka hal ini akan membantu mereka mengembangkan aspek sosial dan memperbaiki interaksi sosialnya. Mengelola waktu luang dengan benar bisa menghapus penyakit-penyakit sosial dan individual.
Salah satu kegiatan mulia pada waktu luang adalah memperbanyak kegiatan ibadah dan keagamaan. Manusia harus meningkatkan pengetahuan dan wawasan keagamannya. Imam Ali as berkata, “Janganlah kalian lupa untuk menggunakan kesehatan, kekuatan, waktu luang, masa muda, dan kesenangan kalian untuk mencari akhirat.” (Kitab Maani al-Akhbar, hal 325). Waktu luang di samping semua sisi positifnya, jika tidak dikelola dengan benar, maka dapat menjadi salah satu ancaman serius untuk kesehatan moral dan mental masyarakat. Mungkin dapat dikatakan bahwa salah satu faktor utama penyimpangan adalah ketiadaan program untuk mengisi waktu luang. Imam Ali as berkata, “Bersama waktu luang, keinginan untuk mengikuti bisikan syaitan akan muncul.” (Kitab Uyun al-Hikam wal Mawaiz, hal 485, vol 9048)
Ajaran al-Quran dan sirah Nabi Muhammad Saw serta para imam maksum telah menetapkan aturan umum dan standar-standar dasar serta pedoman kerja untuk mengisi waktu luang. Islam menginginkan umatnya agar tidak kehilangan satu kesempatan pun untuk mengejar kesempurnaan. Setelah menyelesaikan sebuah urusan penting, kita harus mengisi waktu kita dengan kegiatan lain. Untuk bisa melaksanakan aturan-aturan tersebut, kita harus menyusun sebuah program dalam hidup ini dan selalu bergerak ke arah tujuan utama. Allah Swt dalam surat al-Insyirah ayat 7 dan 8 berfirman, “… maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
Allah Swt meminta Rasulullah Saw agar tidak kehilangan kesempatan untuk mengejar kemajuan dan kesempurnaan. Berdasarkan budaya Islam, kita tidak punya hak untuk menghabiskan usia kita dengan sia-sia, karena kita akan diminta pertanggung jawaban atas setiap detik dari usia kita. Salah satu hal yang akan ditanyakan pada hari kiamat kelak adalah tentang bagaimana kita menghabiskan umur kita. Oleh sebab itu, para imam maksum dan pemuka agama senantiasa memperingatkan kita agar mawas terhadap kesempatan dan waktu yang kita miliki, karena waktu tidak bisa didepositokan dan juga tidak dapat dikembalikan.
Imam Jakfar Shadiq as berakata, “Aku tidak senang melihat pemuda seperti kalian kecuali dalam dua kondisi ini; alim atau masih menjadi pelajar. Aku bersumpah kepada Dzat yang telah mengutus Nabi Muhammad, jika kalian tidak berada di salah satu kondisi itu, kalian telah lalai dan menyia-nyiakan umur kalian, dan orang yang telah menyia-nyiakan umurnya, ia adalah pendosa dan orang yang berbuat dosa tempatnya di neraka.” (Kitab Bihar al-Anwar, juz 1, hal 170)
Apa yang diinginkan Islam dari kita adalah menyikapi secara aktif waktu luang kita dan memanfaatkannya dengan baik melalui perencanaan yang benar dan komprehensif. Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as dalam kitab Sahifah Sajjadiyah menyeru kepada Tuhan, “Ya Tuhanku! Jika engkau menetapkan waktu luang untuk kami, maka jadikanlah ia selamat di mana tidak ada dosa dari kami di dalamnya dan tidak membuat kami lelah sehingga malaikat pencatat amal keburukan kembali dengan tidak membawa dosa-dosa kami dan pencatat amal kebajikan bahagia karena kebaikan-kebaikan kami yang ia catat.”
Islam dan Gaya Hidup (13)
Kerja dan usaha dari berbagai dimensi memiliki keuntungan material, spiritual dan mental dalam kehidupan manusia. Kesibukan dengan pekerjaan dan keahlian tertentu selain mengantarkan manusia pada kemapaman materi, juga akan memberikan kedamaian jiwa. Dengan bekerja, seseorang telah memenuhi kebutuhan material dan mentalnya, ia juga merasa dirinya layak dan berguna bagi orang lain, terutama jika jenis pekerjaannya menuntut kreativitas dan inovasi.
Pekerjaan adalah bagian penting dari kehidupan manusia dan ini bukan semata-mata karena uang dan pendapatan. Kerja akan memberi arti dan tujuan bagi kehidupan dan memainkan peran penting dalam membentuk gaya hidup.
Mengingat kerja adalah sarana untuk mengaktualisasikan potensi-potensi manusia, maka ia memiliki peran efektif untuk membantu mereka berpikir positif tentang dirinya dan merasa terhormat. Perasaan ini dapat mempengaruhi sejumlah besar urusan kehidupan. Kerja termasuk faktor yang membantu manusia untuk mencapai tujuan dan cita-citanya. Oleh karena itu dalam budaya dan ajaran Islam, kerja dan usaha memiliki tempat yang istimewa.
Imam Ali as menyeru semua orang untuk bekerja dan berkata, “Beruntunglah kalian yang bekerja, sebab hak tidak akan diperoleh kecuali dengan usaha.” Dalam sebuah pesan kepada putranya Imam Hasan as, beliau berkata, “Bekerjalah secara maksimal dalam hidup ini. Karena orang yang berjuang untuk memperoleh sesuatu, ia akan mendapatkan semua atau paling tidak sebagian dari yang dicari.”
Kerja dan pekerjaan mencegah manusia dari kegiatan dan kesibukan yang tidak sehat. Sikap menganggur dan berkhayal akan merusak kesehatan mental mereka. Orang-orang yang tidak melakukan kegiatan kreatif dan bermanfaat, mereka akan terjebak dalam kesibukan-kesibukan yang merusak. Saat ini, teknik terapi melalui kerja, liburan dan aktivitas-aktivitas yang sehat, merupakan salah satu metode terpenting untuk mengobati orang-orang dengan gejala gangguan mental. Kerja tidak hanya mencegah gejala-gejala gangguan mental, tapi juga merupakan sebuah kebutuhan untuk mengembangkan potensi dan pengembangan kepribadian secara benar.
Salah satu indikasi kesehatanmental adalah kepuasan terhadap pekerjaan yang digeluti. Kepuasan kerja akan memacu meningkatkan efektivitas dan mengurangi kesalahan-kesalahan dalam bekerja. Masalah kepuasan kerja juga sangat penting bagi para direksi, karena karyawan dan buruh yang merasa puas dengan kerjanya tentu akan memberikan hasil yang baik. Pekerjaan kadang dilakukan hanya sebatas menunaikan kewajiban dan tugas dan kadang didorong oleh rasa cinta dan hobi manusia.
Kerja dengan motivasi menunaikan tugas meskipun sangat bernilai, tapi tetap tidak sepadan dengan kerja yang dilakukan atas dasar cinta dan rasa suka. Individu yang melakukn sesuatu dengan penuh cinta, ia tidak pernah merasa lelah dan jenuh. Kondisi ini dengan sendirinya akan membantu mengembangkan kreativitas dan inovasi serta pekerjaan juga akan diselesaikan dengan sangat baik.
Akan tetapi, jika seseorang tidak puas dengan jenis pekerjaannya, ia akan menderita depresi dan tidak bisa menunaikan tugas-tugasnya dengan baik. Dalam kondisi seperti ini, keluarga individu tersebut dan masyarakat juga akant erkena dampaknya.
Kim Woo-Choong, penulis buku “Every Street Is Paved With Gold: The Road to Real Success”, menulis, “Sangat menyedihkan bahwa manusia menganggap kerja dan sikll hanya sebagai sarana untuk memenuhi perutnya. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah kondisi orang-orang yang baru menginjak masa muda, tapi mereka merasa lelah dengan kerja dan aktivitasnya, padahal seharusnya mereka penuh semangat dan punca cita-cita. Jika Anda bangga dengan pekerjaan dan keahlian Anda dan merasa puas dalam melakukannya, maka keahlian Anda akan menjadi sumber kesenangan dan kelezatan yang tiada tara.”
Jika Anda menikmati pekerjaan Anda, maka tidak ada kata lelah di sana, karena pekerjaan akan menjadi sebuah hiburan yang menyenangkan. Poin penting lainnya terkait kesehatan mental kerja adalah kecocokan jenis pekerjaan dengan selera dan poteni manusia. Setiap manusia menyimpan keahlian tertentu dan tentu saja tidak memiliki potensi untuk membidangi semua pekerjaan dan keahlian dalam diri mereka. Manusia diciptakan dengan selera dan kapasitas yang berbeda. Salah satu kunci kesuksesan manusia adalah menekuni sebuah bidang sturi dan pekerjaan yang sesuai dengan kapasitasnya.
Jelas bahwa sebagian dari kasus kegagalan manusia karena mereka tidak mengamalkan prinsip tersebut. Mereka akanmeraih sukses jika pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan kapasitasnya. Seseorang bertanya kepada Thomas Edison, “Mengapa kebanyakan anak muda tidak sukses?” Dia menjawab, “Karena mereka tidak mengenal jalannya dan melangkah di jalan orang lain. Orang-orang seperti ini membawa dua kerugian bagi masyarakat, pertama; mereka tidak mengerjakan pekerjaan yang pantas baginya, dan kedua; mereka mengemban sebuah pekerjaan yang tidak mampu ditunaikan dengan baik.”
Konsentrasi pikiran dan jauh dari kegalauan merupakan dampak positif lain bekerja bagi jiwa dan mental manusia. Jika daya pikir dan tingkat khayal manusia difokuskan pada pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat, maka pemikiran negatif dan khayalan batil akan sirna dalam dirinya. Kondisi ini akan merusak pemikiran dan mental manusia dan menyeretnya ke lembah dosa. Jadi, dapat dikatakan bahwa kesibukan dengan pekerjaan yang positif akan menjamin kesehatan mental manusia.
Di dunia modern, isu jaminan kesehatan mental para pegawai telah menjadi tantangan utama para pemimpin perusahaan yang visioner. Menjaga prinsip-prinsip kesehatan mental di lingkungan kerja akan menciptakan kepuasan dan mengoptimalkan hasil. Ada banyak faktor yang berpengaruh pada kesehatan mental kerja. Di antaranya adalah perlakuan yang adil di lingkungan kerja, keamanan dan kesehatan kerja, jam kerja dan juga fokus pekerjaan.
Sebuah riset menunjukkan bahwa istirahat di antara jam kerja, pemenuhan biaya kesehatan, perhatian terhadap waktu luang, perbaikan hubungan atasan dan bawahan dan juga perbaikan kondisi lingkungan kerja, merupakan sekelompok faktor yang berpengaruh pada kesehatan mental dan kualitas kerja, dimana akan berdampak dalam gaya hidup seseorang.
Sejumlah orang menghabiskan banyak waktu di lingkungan kerja. Oleh karena itu, lingkungan kerja berperan penting dalam menjamin kesehatan fisik dan mental. Tekanan mental di tempat kerja akan membuat seseorang menderita stress dan gelisah bahkan ketika ia istirahat di rumah. Masalah ini membawa dampak negatif dalam hubungannya dengan masyarakat, terutama anggota keluarga. Kesehatan mental di lingkungan kerja akan menciptakan sebuah iklim yang sehat dan menyenangkan, dimana para pekerja tidak akan terjebak dalam tekanan mental dan stress.
Di antara tekanan mental yang umum ditemukan di tengah para pekerja adalah kekhawatiran tentang masa depan pekerjaan mereka, masalah keluarga, kerenggangan hubungan antar-sesama anggoata keluarga, kekhawatiran para wanita karir terhadap kondisi anak-anak mereka, serta masalah sosial dan ekonomi. Fenomena ini bisa ditemukan di berbagai bidang pekerjaan dan para psikolog menekankan penangangan masalah tersebut. Tekanan ini akan membuat orang-orang kesulitan dalam menyesaikan tugas-tugasnya, padahal dalam kondisi normal mereka mampu melaksanakannya dengan santai. Atau mereka bahkantidak mampu lagi melakukannya dan menempatkan perusahaan dalam masalah.
Di sini, ada metode yang bisa digunakan oleh para pemimpin perusahaan atau lembaga untuk mengurangi tekanan terhadap para pekerja dan juga meningkatkan kesehatan mental mereka. Langkah-langkah itu antara lain, menciptakan iklim yang bersahabat, penuh kejujuran dan kerjasama, saling menghormati di antara sesama, menghindari sikap-sikap represif dan semena-mena, mengidentifikasi kemampuan potensial pegawai, menyediakan sarana untuk pengembangan mereka, meminta pendapat pegawai dalam membuat keputusan dan memberi bonus dan pujian.
Meski Islam sangat menekankan masalah kerja dan usaha, sikap proporsional dan jauh dari perilaku ekstrim dalam bekerja juga menjadi perhatian agama ini. Ajaran Islam menyeru manusia di samping bekerja dan berusaha, juga tidak melupakan hiburan dan wisata.
Islam dan Gaya Hidup (12)
Salah satu teman penting yang bisa menjadi penentu bagi gaya hidup setiap individu adalah kepemilikan pekerjaan dan skil tertentu. Kepemilikan pekerjaan dan skil selain memberi keuntungan materi, juga membawa dampak besar bagi kesehatan fisil dan mental seseorang. Islam dalam mempromosikan gaya hidup yang ideal, menyebut kerja dan usaha sebagai sebuah faktor penting dan urgen.
Pekerjaan termasuk di antara perkara penting dan esensial dalam kehidupan manusia dan dengan bekerja, mereka mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan jasmani dan ruhaninya. Peran kerja dan usaha tampak jelas di semua aspek kehidupan manusia. Dapat dikatakan bahwa pekerjaan secara langsung dan tidak langsung, berpengaruh pada kondisi mental dan kejiwaan serta pola pikir dan nilai-nilai manusia.
Manusia harus bekerja untuk kelangsungan hidupnya. Cita-cita dan tujuan luhur hanya akan menjadi sebuah angan-angan jika tidak dibarengi dengan tekad dan konsistensi dalam bekerja. Setiap individu atau bangsa yang ingin mencapai puncak kemajuan dan kesuksesan, maka ia harus meninggalkan kemalasan dan berleha-leha.
Peradaban agung umat manusia di sepanjang sejarah adalah hasil dari kerja keras dan mereka mampu menorehkan sejumlah prestasi dengan mengandalkan semua kapasitas pemberian Tuhan. Kemajuan sains di era modern seperti di dunia penerbangan dan antariksa, pengobatan berbagai penyakit kronis, pembangunan jalan raya dan tunel dan kemajuan di bidang teknologi informasi, semua itu adalah buah pikiran dan kerja keras manusia yang patut dipuji.
Jika siklus kerja dalam kehidupan manusia berhenti, maka proses kemunduran dan kehancurannya akan dimulai. Will Durant, penulis buku The History of Civilization, mengatakan, “Kesehatan ada dalam bekerja. Pekerjaan merupakan salah satu kunci kepuasan manusia dalam hidup. Menurut saya, kita lebih baik memohon kepada Tuhan anugerah untuk bekerja daripada meminta harta dan kekayaan.” Kerja dan usaha ibarat air dan makanan, termasuk perkara esensian dan penting untuk kehidupan manusia. Mereka secara esensial cenderung pada kerja dan usaha.
Jika manusia tidak mengucurkan keringat untuk memperoleh sesuatu, kehidupan mereka tidak memiliki warna dan memperoleh kesenangan dan secara perlahan motivasi untuk hidup akan sirna dalam dirinya. Imam Jakfar Shadiq as dalam sebuah ungkapannya berbicara tentang kesehatan mental bekerja dan pengaruh positifnya bagi kondisi kejiwaan manusia.
Beliau berkata, “Jika semua kebutuhan seseorang dipenuhi tanpa harus bekerja, kehidupannya tidak akan pernah indah dan ia tidak merasakan kelezatannya. Kalian bisa membayangkan jika seorang individu menjadi tamu di tengah sebuah komunitas dan untuk beberapa waktu ia menikmati jamuan itu, dimana semua kebutuhannya seperti makan dan minuman serta keperluan lain terpenuhi. Akan tetapi, selang beberapa saat ia akan lelah karena menganggur dan ia akan mencari pekerjaan untuk menyibukkan dirinya. Sekarang, kalian bisa membayangkan jika di sepanjang hidup, semua kebutuhanmanusia sudah dijamin, maka apa yang akan dirasakan oleh mereka?”
Dari ucapan Imam Shadiq as dapat disimpulkan bahwa nilai dan pentingnya pekerjaan dalam hidup tidak hanya sebatas untuk memperoleh pendapatan, tapi kerja dapat memberi ketenangan jiwa kepada seseorang, ia akan merasa dirinya berguna untuk orang lain dan menemukan jati dirinya. Oleh karena itu, jika ada orang yang sudah terpenuhi kebutuhan materinya, ia akan tetap memerlukan kesibukan dan kerja.
Penulis danpenyair Perancis, Francois Voltaire mengatakan, “Setiap kali aku merasakan kepedihan dan rasa sakit, aku akan menyibukkan diri dengan pekerjaan. Karena bekerja adalah penawar terbaik untuk mengobati rasa sakit batinku.”
Dapat disimpulkan bahwa bekerja akan membawa manfaat internal dan eksternal. Manfaat eksternalnya adalah memperoleh pendapatan, menyediakansemua kebutuhan hidup dan mengembangkan kehidupan. Sementara manfaat internal adalah menjawab naluri untuk bekerja dan merasa dirinya bermanfaat. Perasaan ini akan memberikan optimisme dalam diri manusia dan optimisme dalam hidup merupakan salah satu indikator penting untuk pengembangan diri.
Akan tetapi, tujuan apa yang dikejar manusia dalam bekerja dan beraktivitas? Apakah ia hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan materi dan mewujudkan kehidupan yang lebih baik? Apakah manusia perlu makan dan minum hingga bisa bekerja? Atau mereka bekerja sehingga dapat makan dengan enak dan hidup lebih baik?
Masalah kerja di setiap masyarakat dan aliran pemikian memiliki definisi dan kedudukan khusus. Beberapa pihak menganggap pekerjaan hanya untuk memenuhi kebutuhan materi, sementara sebagian aliran pemikiran memiliki pandangan yang berbeda. Orang yang melihat eksistensinya lebih luas dari dimensi materi, ia akan memandang kerja dan usaha dengan yang lebih sempurna serta menjadikannya untuk mencapai tujuan-tujuan luhur.
Dalam perspektif Islam, orang mukmin di semua perilakunya mengejar tujuan-tujuan yang luhur. Dalam hidupnya, ia ingin menghambakan diri dan mematuhi perintah-perintah Tuhan. Ia akan mencapai kesempurnaan jiwa dan spiritual melalui kegiatan ibadah tersebut.
Oleh sebab itu, pemanfaatan perkara-perkara duniawi, termasuk kegiatan ekonomi penting untuk mempersiapkan jalan kesempurnaan bagi manusia. Ajaran Islam juga merupakan seperangkat panduan untuk mengantarkan seorang mukmin menuju tujuan luhur tersebut. Dalam pemikiran Islam, keyakinan dan kepercayaan manusia akan mengarahkan kegiatan ekonomi dan semua aktivitas lain dalam hidup.
Kajian ekonomi Islam sama seperti tema-tema lain, memiliki hubungan erat dengan pembahasan akidah dan akhlak. Oleh karena itu, Islam mengaitkan kerja dan usaha dengan spiritualitas. Usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk kesejahteraan hidupnya dan juga memenuhi kebutuhan keluarganya, jika diniatkan untuk menunaikan kewajiban agama, maka kegiatan itu akan terhitung ibadah dan ia akan memperoleh pahala.
Dalam ekonomi Islam, seorang muslim harus bersikap sejalan dengan prinsip-prinsip dan ajaran moral. Ketika ia memperoleh nikmat-nikmat dari Tuhan, ia juga berkewajiban untuk berbagi kesenangan itu dengan orang lain. Orang muslim harus memanfaatkan anugerah Tuhan dengan baik serta menggunakan harta dan kekayaannya untuk pengembangan diri dan masyarakat.
Al-Quran dalam berbagai ayatnya, mendorong manusia untuk memakmurkan alam demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan dari penciptaan siang dan malam, pengiriman angin dan hujan dan pengangkatan manusia sebagai khalifah di muka bumi, adalah untuk mencari rezeki dari keutamaan dan kemurahan Tuhan. Tujuan tersebut hanya bisa direalisasikan melalui kerja dan usaha.
Sebagian kalangan dengan penafsiran keliru tentang agama, menganggap pekerjaan dan rutinitas bertentangan dengan ketakwaan dan spiritualitas. Dengan kata lain, jika seseorang bergelut dengan sebuah pekerjaan dan mengumpulkan pendapatannya, maka ia dianggap pecinta dunia dan sikap ini bertentangan dengan takwa. Padahal dalam perspektif Islam, menjauhi kesilauan dunia tidak berarti melepas semua ketergantungan manusia pada perkara-perkara duniawi.
Ahlul Bait Nabi as
Dalam pemikiran agama, manusia dibenarkan untuk memanfaatkan kenikmatan-kenikmatan ilahi dan kelezatan yang sudah dihalalkan oleh Tuhan. Tentu saja pemanfaatan tersebut hanya sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan jiwa dan moral serta menggunakannya di jalan penghambaan Tuhan. Rasul Saw dan Ahlul Bait as telah memberikan teladan terbaik dalam masalah kerja dan usaha. Oleh sebab itu, ketika orang yang berpura-pura zuhud menyaksikan Ahlul Bait as bertani dan bercocok tanam, ia memprotesnya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Di suatu siang yang terik, Imam Muhammad al-Baqir as sedang sibuk bekerja di ladangnya. Seorang zahid bernama Muhammad ibn Munkadir menyaksikan Imam Baqir as bercucuran keringat karena telah lelah bertani dan terik matahari. Ia kemudian menghampiri Imam Baqir as dan berkata, “Apakah pantas orang seperti engkau menyusahkan diri dengan pekerjaan dunia? Jika engkau meninggal dalam kondisi seperti ini, bagaimana engkau akan menghadapi Tuhan?”
Imam Baqir as menghentikan pekerjaannya sejenak dan berkata, “Jika ajalku tiba dan kondisi seperti ini, aku akan sangat gembira karena meninggal dalam keadaan beribadah. Jika aku tidak bersusah payah dan bekerja, maka aku harus menjulurkan tangan kepadamu dan orang-orang sepertimu.”
Mendengar jawaban itu, Muhammad ibn Munkadir menyatakan penyesalan dan berkata, “Aku ingin menasehatimu, tapi engkau malah memberi nasehat baik kepadaku.”
Islam dan Gaya Hidup (11)
Kita sudah berbicara tentang pentingnya penetapan tujuan, perencanaan, disiplin dan manajemen waktu. Kepatuhan pada prinsip-prinsip itu memiliki pengaruh besar bagi gaya hidup kita. Ajaran Islam serta sirah Nabi Saw dan Ahlul Bait sangat menekankan hal tersebut. Semua tugas personal dan sosial kita dalam hidup ini bisa ditata dengan mematuhi prinsip-prinsip tersebut dan dapat dikerjakan dengan baik.
Yang dimaksud dengan tugas-tugas personal adalah suatu kegiatan perseorangan yang dilakukan oleh individu tertentu tanpa memperhatikan apakah ia berada di tengah keluarga atau masyarakat. Di antara tugas-tugas personal adalah membentuk pola pikir, menuntut ilmu pengetahuan, ibadah, menjaga kebersihan dan kesehatan, berolahraga, memilih model pakaian dan menggeluti pekerjaan tertentu.
Berapa lama waktu yang kita luangkan untuk berpikir dan belajar di sepanjang hari? Atau berapa buah buku yang selesai kita baca dan memperkaya pengetahuan kita di sepanjang bulan? Ketika kita memutuskan untuk melakukansesuatu, berapa lama waktu yang kita habiskan untuk berpikir?
Pemikiran inovatif
Pemikiran dan perenungan termasuk salah satu aset manusia paling berharga dan hal itu menjadi pembeda mereka dengan semua makhluk lain. Manusia adalah makhluk yang berakal dan bernalar, dimana mereka punya kemampuan untuk memikirkan berbagai masalah.
Pada dasarnya, kesempurnaan dan perkembangan manusia bergantung pada kapasitas pemikirannya. Jelas bahwa kegiatan berpikir dan memperkaya pengetahuan memainkan peranan besar dalam gaya hidup kita. Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Keselamatan dan kesehatan selalu ada bersama berpikir dan bernalar.”
Berpikir dan bernalar harus selalu menyertai setiap pekerjaan dan keputusan. Manusia adalah makhluk yang tergesa-gesa dan ingin cepat sampai pada sesuatu. Sifat ini kemudia membuat mereka tidak mampu membedakan mana yang baik dan buruk dan mana yang benar dan salah. Oleh sebab itu, tidak adanya penalaran dan perenungan telah menciptakan banyak kegagalan dan ketimpangan di ranah individu, keluarga dan masyarakat.
Rasul Saw bersabda, “Saya wasiatkan bahwa setiap kali kalian ingin melakukan sesuatu, maka pikirkanlah akibatnya, jika pekerjaan itu membawa kemajuan maka lakukanlah, tapi jika it mendatangkan kerusakan dan kerugian, maka tinggalkanlah.”
Kelalaian terhadap kekuatan akal dan pemahaman dalam kehidupan material dan spiritual justru akan memperlemah manusia. Namun, penggunaan akal dan nalar secara optimal akan meningkatkan efektifitasnya. Menghabiskan waktu dengan kemalasan dan tidak punya kegiatan, juga akan mengurangi kemampuan otak seseorang.
Imam Shadiq as dalam sebuah pesan kepada salah seorang sahabatnya yang meninggalkan pekerjaannya dan memilih untuk menjadi penganggur, berkata, Mulailah kembali berdagang dan bekerja, karena menganggur akan mengurangi kemampuan akal.”
Dari sisi lain, Islam juga mencela kesibukan yang berlebihan dan mengikat diri dengan pekerjaan. Karena kebiasaan itu akan merampas kesempatan untuk mengevaluasi hal-hal yang sudah dikerjakan serta menjerumuskannya ke dalam khayalan dan kekacauan pikiran. Selain menata dan memikirkan urusan-urusan hidup, menimba ilmu pengetahuan dari perspektif Islam juga termasuk sebuah realitas yang suci dan luhur.
Antri kerja
Islam telah membangkitkan motivasi kaum Muslim untuk menuntut ilmu dan memuliakan orang-orang yang berilmu. Ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Saw di gua Hira berbicara tentang ilmu. Allah Swt dalam surat al-‘Alaq memperkenalkan dirinya sebagai pengajar umat manusia. Dalam al-Quran, pendidik dan perintah untuk belajar dianggap sebagai salah satu keistimewaan para utusan Allah Swt.
Al-Quran juga memberikan kedudukan yang tinggi kepada orang-orang yang berilmu dan memuliakan mereka dari golongan yang lain. Berbagai ayat al-Quran mempertegas tentang ketidaksamaan antara orang alim dan jahil. Dalam ajaran Islam, seseorang tidak mungkin bergerak meraih kesempurnaan jika tanpa pemikiran dan ilmu pengetahuan. Tuhan juga memberikan tempat istimewa kepada orang-orang alim dan menganggap mereka lebih mulia dari kelompok lain.
Berkenaan dengan pentingnya ilmu pengetahuan, Islam mewajibkan setiap umatnya untuk menuntut ilmu dan kesuksesan di dunia serta keberuntungan di akhirat sangat ditentukan oleh ilmu, tentu saja ilmu yang berguna. Ilmu yang tidak membawa manfaat sama seperti obat yang tidak memberi kesembuhan. Penalaran dan perenungan akan memperkuat pandangan manusia terhadap dunia dan akhirat serta memberinya kekuatan untuk mengevaluasi maslahatnya di dunia dan akhirat. Pada akhirnya, ia akan bertindak sesuai dengan maslahat hakikinya.
Penalaran sangat penting bagi kesempurnaan dimensi spiritual manusia sampai-sampai Islam menyebut kegiatan berpikir sebagai ibadah terbaik dan berpikir satu jam akan memperoleh pahala 70 tahun ibadah. Penalaran dan kegiatan berpikir akan memacu perkembangan otak dan melatih kekuatan akal manusia. Hal ini membantu manusia untuk mencapai tujuan-tujuan luhur. Individu yang meliburkan akalnya ia akan lalai terhadap awal penciptaan dan mungkin saja terjebak dalam penghambaan kepada selain Tuhan.
Oleh karena itu, setiap Muslim harus meluangkan waktu setiap hari untuk belajar dan memperkaya pengetahuannya.
Mengenai pentingnya berpikir dan menuntut ilmu, Rasul Saw bersabda, “Hari dimana pengetahuanku tidak bertambah di dalamnya dan tidak mendekatkanku kepada Tuhan, maka matahari yang terbit pada hari itu tidak berkah bagiku.”
Dalam sebuah riwayat yang lain, Imam Ali as menganjutkan umat Islam untuk menimba ilmu, karena ilmu akan menguatkan badan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan akan membekali manusia untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Dan yang dimaksud dengan penguatan badan adalah memanfaatkan anugerah dunia di bawah petunjuk ilmu. Seorang mufassir besar Islam, Allamah Muhammad Husein Thabathabai mengatakan, “Pemikiran yang lebih sahih akan semakin memperkuat kehidupan. Kehidupan yang tangguh berkaitan dengan pemikiran yang kuat.”
Sejumlah riwayat lain juga menyebut kegiatan belajar sebagai kesempurnaan agama. Ilmu yang dimaksud di sini tentu saja pengetahuan yang membimbing manusia menuju kebahagiaan dan keselamatan, bukan ilmu yang mengantarkan mereka pada penyimpangan. Setiap ilmu harus menjadi pengarah dan penerang jalan. Jika seseorang terus bertambah ilmunya, tapi ia tidak menjadi lebih baik, maka hal itu akan semakin menjauhinya dari Tuhan.
Kehidupan keluarga
Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan Islam, ilmu dan pengetahuan harus mengabdi untuk tujuan-tujuan mulia dalam hidup ini, bukannya menjadi alat penyimpangan manusia. Oleh sebab itu, kegiatan berpikir dan bernalar dalam beberapa masalah dirasa sangat penting, termasuk berpikir dalam masalah akidah seperti tauhid, kenabian dan Hari Kiamat. Ketika landasan ideologi diperkuat dengan argumentasi-argumentasi rasional, maka tentu saja ia akan menunjukkan hasil-hasil positifnya dalam gaya hidup manusia.
Islam menekankan umatnya untuk mempelajari semua cabang ilmu yang dibutuhkan untuk menata hidup. Dalam ajaran agama ilahi, semua disiplin ilmu dan teknologi yang dibutuhkan oleh masyarakat harus dipelajari, begitu juga dengan keahlian untuk membuat sarana yang tidak membawa kerusakan dan dosa.
Dapat disimpulkan bahwa setiap usaha ilmiah dan penelitian untuk tujuan kemajuan masyarakat memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Kegiatan berpikir dan menimba ilmu pengetahuan merupakan landasan penting bagi gaya hidup Islami dan setiap Muslim harus memanfaatkannya dengan baik dan benar.
Nabi Isa as, Pembawa Pesan Perdamaian
Setiap tanggal 25 Desember diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Isa as atau Yesus Kristus oleh penganut agama Kristen di seluruh penjuru dunia. Di Indonesia dirayakan sebagai Hari Natal yang termasuk hari besar nasional.
Nabi Isa as termasuk salah seorang nabi agung yang begitu dimuliakan dalam al-Quran. Al-Quran dalam banyak ayat memperkenalkan Nabi Isa dengan posisi yang tinggi dan perannya sebagai seorang Nabi Ulul Azmi, yang memiliki Kitab dan Syariat. Kelahiran Nabi Isa as sendiri merupakan peristiwa luar biasa yang telah disinggung dalam al-Quran.
Nabi Isa as lahir tanpa seorang ayah. Beliau lahir dari ibu yang suci bernama Maryam yang tidak punya suami. Allah Swt dalam al-Quran berbicara tentang Maryam puteri Imran sebagai seorang perempuan terhormat dan bertakwa. Perempuan mulia ini sejak kecil telah mencapai derajat spiritual yang tinggi dengan penghambaan dan pensucian diri, sehingga beliau mendapatkan hidangan dari langit.
Ketika Sayidah Maryam sedang beribadah dan bermunajat, malaikat Jibril turun dan memberikannya kabar tentang kelahiran seorang putra darinya. Allah Swt menyebutkan hal ini dalam al-Quran surat Maryam ayat 16-21. Nabi Isa as adalah salah satu dari Nabi besar yang namanya disebutkan dalam Al-Quran dan dicatat dengan penuh kemuliaan dan kehormatan serta disebut juga dengan Kalimatullah atau Ruhullah.
Nama Nabi Isa as disebutkan dalam al-Quran sebanyak 45 kali dan di beberapa bagian beliau disebut dengan nama Al-Masih. Sang ibu, Maryam sa, adalah salah satu wanita suci dalam sejarah umat manusia yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Sedemikian mulia sosok Maryam, sehingga malaikat diturunkan kepadanya untuk memberi kabar soal kelahiran putranya. Kelahiran Nabi Isa Al-Masih as tanpa ayah merupakan bukti kekuatan Allah Swt yang tidak bisa dibatasi hukum sebab-akibat.
Kelahiran Isa Al-Masih merupakan fenomena bersejarah yang tercatat dalam Al-Quran. Nabi Isa, ketika masih bayi bisa berbicara dan memperkenalkan dirinya sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran surat Maryam ayat 30-33, "Nabi Isa as berbicara ketika masih bayi, “Berkata Isa, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
Di bagian lain al-Quran, surat Al-Zukhruf ayat 63 menjelaskan, "Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: "Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku."
Isa Al-Masih as adalah seorang utusan Allah swt untuk membimbing umat manusia. Oleh karena itu, ucapan dan perilakunya sesuai dengan ketentuan ilahi, sebagaimana para pendahulunya dan juga Nabi yang datang sesudahnya. Ajaran Isa as adalah membenarkan ucapan para nabi terdahulu dan menyampaikan kembali pesan-pesan mereka.
Pada prinsipnya, Al-Quran memandang misi besar semua Nabi ilahi adalah melawan thagut, sebagaimana ditegaskan dalam surat Nahl ayat 36, "Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)".
Peringatan hari kelahiran Nabi Isa Al-Masih bisa menjadi landasan bersama antara umat Islam dan Kristiani, meskipun kedua agama besar ini memiliki perbedaan. Nabi Isa adalah penyelamat dan pemimpin agama yang membaktikan hidupnya untuk umat manusia.
Tampaknya, banyak agenda penting yang bisa dilakukan umat Islam dan Kristiani di antaranya: meredakan kekerasan dan kerusakan sosial, pengentasan kemiskinan, membantu kaum tertindas, serta berjuang untuk menjaga perdamaian dan keamanan dunia.
Kini, berbagai masalah global menuntut peran lebih aktif para agamawan dan penganut agama di dunia, terutama Islam dan Kristen supaya bahu-membahu menyelesaikan berbagai masalah dunia demi menciptakan perdamaian global. Sebab, inilah salah satu pesan penting peringatan hari kelahiran Nabi Isa Al-Masih.
Rudal Balistik Khorramshahr, Prestasi Besar Industri Rudal Iran
Republik Islam Iran sejak agresi militer rezim Baath Irak di dekade 80-an sudah memulai langkah pengembangan, produksi dan pembangunan arsenal rudal balistik, dan dalam tiga dekade terakhir, ia mengalami kemajuan signifikan di bidang produksi berbagai jenis rudal balistik mulai dari jarak pendek, menengah hingga jarak jauh, dan Iran sekarang memiliki kemampuan membuat rudal-rudal jarak jauh.
Kekuatan rudal Iran saat ini menjadi salah satu prestasi besar di bidang teknologi militer dan pertahanan negara. Salah satu rudal balistik Iran adalah rudal Khorramshahr yang merupakan produk rudal balistik terbaru negara ini. Rudal balistik jarak menengah Khorramshahr untuk pertama kalinya dipamerkan pada parade militer serentak Angkatan Bersenjata Iran di awal Pekan Pertahanan Suci tanggal 22 September 2017 lalu. Rudal ini termasuk rudal yang sepenuhnya produk dalam negeri dan buah kerja keras ilmuwan Iran.
Komandan Pasukan Dirgantara, Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, Brigjend Amir Ali Hajizadeh mengumumkan daya jangkau rudal Khorramshahr adalah 2000 kilometer. Bobot rudal berbahan bakar cair ini, 20 ton, dan bisa membawa hulu ledak tempur hingga 1.800 kilogram, dan ia juga mampu membawa “hulu ledak hujan” (raining warhead) yaitu hulu ledak yang berisi sejumlah hulu ledak kecil berbobot sekian ratus kilogram.
Jika dibandingkan dengan rudal-rudal Iran yang lain seperti rudal Ghadr dan Sejjil, rudal Khorramshahr 2-3 kali lebih kuat membawa hulu ledak tempur dibandingkan ukuran rudal-rudal balistik lainnya. Diameter yang lebih besar pada rudal Khorramshahr membantunya sehingga bisa membawa hulu ledak hujan, karena ruang lebih besar untuk menempatkan jenis hulu ledak ini.
Produk rudal Khorramshahr pertama dengan hulu ledak kerucut sederhana sudah dipamerkan, namun karena kemajuan produksi hulu ledak rudal yang terus dilakukan Iran, sekarang rudal Khorramshahr dalam bentuknya yang sudah mengalami peningkatan, bisa membawa hulu ledak hujan. Sampai saat ini rudal Khorramshahr terlihat telah menggunakan tiga jenis hulu ledak. Tipe pertama yang dipasang pada rudal Khorramshahr 1 adalah hulu ledak kerucut sederhana.
Kemudian pada rudal Khorramshahr 2 dipasang hulu ledak hujan, dan ini dipamerkan pada pameran Eghtedar 40. Hulu ledak ini mengalami perubahan di bagian cross section (persilangan), dan di sudut permukaan, serta dipasangi sayap-sayap kontrol kecil di ujung badannya. Akan tetapi di tahap berikutnya pada parade militer yang digelar 22 September 2019, rudal Khorramshahr dipamerkan dengan dua hulu ledak tempur baru. Hulu ledak ini mirip hulu ledak rudal Khorramshahr 2 namun tidak memiliki sayap kontrol kecil.
Kemungkinan hulu ledak baru itu dioptimalisasi untuk menambah stabilitas agar hulu ledak-hulu ledak tanpa kontrol dapat lebih akurat hingga detik terakhir, dan bisa diluncurkan dalam kecepatan tertinggi di fase akhir. Oleh karena itu kemungkinan untuk diintersep oleh sistem pertahanan musuh menjadi lebih kecil.
Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Iran, Mayjend Mohammad Bagheri mengatakan hulu ledak perang pada rudal Khorramshahr pada uji coba akhir berhasil mengenai sasaran dengan tingkat kesalahan 60 cm dalam jarak 1.300 kilometer. Hal ini menunjukkan bahwa rudal Khorramshahr memiliki akurasi tinggi, dan dengan tingkat kesalahan kecil ini, kemampuan akurasi rudal-rudal balistik Iran sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Masalah penting lainnya adalah rudal balistik Khorramshahr merupakan proyek kedua Iran dalam produksi rudal-rudal tanpa sayap setelah rudal balistik Qiam, dengan demikian terbuka kemungkinan peluncuran rudal tersebut dari peluncur bergerak, dan juga dari silo-silo bawah tanah, serta menghancurkan sasaran apapun dengan akurasi tinggi. Di sisi lain, bobot tinggi rudal ini menyebabkan ia bisa membawa hulu ledak-hulu ledak yang lebih berat, artinya satu unit rudal Khorramshahr dengan beberapa hulu ledak dapat melakukan kerja 2-3 unit rudal balistik.
Spesifikasi teknis:
Bentuk luar hulu ledak rudal Khorramshahr terutama di bagian hidung rudal menunjukkan kecepatan yang sangat tinggi pada saat terbang vertikal. Karakteristik lain rudal Khorramshahr adalah diameter dan panjang rudal yang ditambah sehingga meningkatkan kerampingannya.
Rudal ini memiliki diameter dan panjang yang lebih daripada rudal Iran lain yang memiliki jarak jangkau yang sama. Hal ini berdampak pada desain baru, simulasi, dan uji coba seuruh struktur serta badan rudal. Panjang keseluruhan rudal Khorramshahr dibandingkan rudal-rudal sebelumnya mengalami penurunan secara signifikan, ini karena rudal-rudal terdahulu memiliki panjang sekitar 15,5 meter ke atas.
rudal Khorramshahr
Menurut Komandan Pasukan Dirgantara IRGC, pengurangan panjang rudal Khorramshahr menyebabkan perbaikan kemampuan teknis rudal ini. Pengurangan panjang dibandingkan diameter rudal Khorramshahr memperkuat struktur rudal ini.
Poin penting lain, rudal yang memiliki panjang lebih rendah dari diameternya, lebih mudah untuk terbang dengan kecepatan tinggi. Diameter lebih besar juga meningkatkan gaya hambat namun ditutupi dengan peningkatan kekuatan propelan roket, yaitu propelan yang bisa ditempatkan di badan rudal Khorramshahr karena memiliki ruang yang cukup.
Setelah rudal Qiam 1, Khorramshahr adalah rudal balistik kedua tanpa sayap yang diproduksi Iran. Perbedaan mendasar secara fisik antara Qiam dan Khorramshahr dengan rudal-rudal balistik Iran lainnya terletak pada penghapusan sayap-sayap kecil permanen penyetabil di ujung badan rudal.
Sayap-sayap kecil yang dapat ditemukan di semua jenis rudal balistik Iran, seperti keluarga rudal Shahab, Ghadr, dan Sejjil, memainkan peran kunci dalam menciptakan keseimbangan rudal, tapi pada dua dari tiga rudal di atas tanpa bersandar pada sayap-sayap kecil, seluruh tugas menjaga kestabilan rudal ada pada sistem kontrol yang dipasang di pintu keluar propelan bahan bakar cair.
Penghapusan sayap-sayap pengendali stabilitas, memberikan sejumlah keuntungan lain di antaranya penurunan bobot dan reaksi radar, cadangan dan tempat penyimpanan, transportasi dan penempatan rudal di peluncur menjadi lebih mudah.
Spesifikasi ini dihasilkan berkat akses ke level yang lebih tinggi dari ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kestabilan dan kontrol rudal, dan hanya bisa diperoleh dengan menggunakan sistem kontrol vektor di bagian output mesin.
rudal Khorramshahr
Pada saat yang sama, penurunan signifikan faktor-faktor kesalahan pada rudal ini termasuk penempatan akuran rudal di peluncur, perbaikan sistem bidikan dan pengendali, penurunan guncangan bahan bakar cair pada tempatnya, dan yang lainnya juga diperhatikan dalam rudalnya.
Selain itu, karena rudal ini termasuk baru, di bagian-bagian elektroniknya ia menggunakan teknologi canggih dan sistem yang seluruhnya digital. Rudal Khorramshahr menggunakan propelan bahan bakar cair berbeda dengan yang digunakan pada rudal-rudal general Shahab 3.
Perbedaan mencolok tampak pada bagian output rudal Khorramshahr dengan rudal-rudal general Shahab 3 meliputi perbedaan diameter “nozzle” yaitu bagian output propelan, dan propelan rudal Khorramshahr juga dilengkapi dua nozzle sekunder yang lebih kecil.
Spesifikasi umum rudal Khorramshahr:
Bobot: 19-26 ton
Panjang: 13 meter
Diameter: 1,5 meter
Propelan: bahan bakar cair
Jarak tempur operasi: 2000 km dengan satu hulu ledak seberat 1.800 kg
Kecepatan: Mach 15
Jenis Peluncur: peluncur bergerak
Peran Strategis Syahid Soleimani Menumpas Terorisme (1)
Amerika Serikat dalam sebuah tindakan keji dan ilegal, meneror Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis dalam serangan drone di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020.
Delapan pengawal mereka juga gugur syahid dalam serangan udara pasukan teroris AS ini. Serangan tersebut dilakukan atas perintah langsung Presiden AS Donald Trump. Dia menggunakan kebohongan dan bermacam alasan untuk menjustifikasi perintah langsung yang dikeluarkan untuk meneror petinggi militer Iran di Irak.
Trump berusaha membenarkan aksi terorisme ini dan pelanggaran kedaulatan nasional Irak sebagai tindakan pencegahan dalam perang di kawasan. Padahal menurut pengakuan para pejabat Washington sendiri, Jenderal Qasem Soleimani memainkan peran yang tak tergantikan dalam perang melawan teroris di kawasan.
Dua hari setelah pembunuhan Jenderal Soleimani, televisi CNN melaporkan bahwa para pejabat senior keamanan nasional AS bekerja keras untuk membela klaim Gedung Putih, yang menuding Jenderal Soleimani sedang merencanakan serangan terhadap kepentingan AS. Namun, tidak adanya bukti pendukung telah menimbulkan keraguan Kongres dan opini publik tentang apakah serangan seperti itu dibenarkan atau tidak.
Serangan teror Amerika terhadap komandan Pasukan Quds Iran dan rekan-rekannya, kembali membuktikan bahwa AS tidak berperang menumpas terorisme, karena AS sendiri adalah sumber terorisme serta penyebab utama kekacauan dan kejahatan di kawasan.
Jenderal Qasem Soleimani – sebagai ahli strategi militer – telah menyingkap kebohongan klaim-klaim Amerika dalam perang melawan terorisme dan menantang kebijakan AS di Asia Barat (Timur Tengah), yang mengklaim ingin menciptakan stabilitas dan keamanan di kawasan.
Foto Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.
Jenderal Soleimani mengalahkan Daesh dan membuka jalan bagi perlawanan di kawasan melalui kerja sama dengan para penasihat militer di Suriah dan Irak. Garis yang ditarik oleh Jenderal Soleimani dalam bentang geografi poros perlawanan, telah menggagalkan skenario Amerika-Israel untuk membagi negara-negara di kawasan, yang sesuai dengan peta kekhalifahan kelompok teroris Takfiri dan Daesh.
Meskipun Presiden Donald Trump bertanggung jawab atas perintah pembunuhan Jenderal Soleimani, namun ada bukti-bukti yang juga mengonfirmasikan keterlibatan Israel dalam aksi teror tersebut. Sebelum Jenderal Soleimani dibunuh, rezim Zionis melakukan kampanye yang mengesankan Iran sebagai ancaman besar di kawasan, dan secara khusus menekankan peran Pasukan Quds di Irak dan Suriah.
Menteri Peperangan Israel Naftali Bennett berulang kali berbicara tentang apa yang disebutnya sebagai waktu yang sangat tepat untuk mengakhiri kehadiran Iran di wilayah tersebut, dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan intimidatif.
Tiga hari sebelum pembunuhan Jenderal Soleimani, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghubungi Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo via telepon. Dia berterima kasih kepada Pompeo atas “tindakan penting” terhadap Iran dan menyerukan tindakan tegas terhadap ancaman Tehran.
Pompeo dalam sebuah statemen, mengakui bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dicap sebagai organisasi teroris oleh AS karena rezim Zionis Israel. Menurut surat kabar Jerusalem Post, Pompeo mengatakan pada pertemuan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS bahwa mendaftarkan IRGC sebagai organisasi teroris semata-mata demi Israel.
Bagaimana pun, tidak ada bedanya apakah Amerika atau Israel yang bertanggung jawab atas pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, sebab Washington dan Tel Aviv adalah dua sisi mata uang.
Rencana teror ini masuk dalam agenda Amerika dan Israel setelah Iran – berbeda dengan harapan mereka – mampu mengalahkan strategi tekanan maksimum Trump yang bertujuan melumpuhkan Republik Islam melalui sanksi.
Hari ini kekuatan arogan global ingin meluapkan kebencian, permusuhan, dan kekalahannya dengan aksi teror dan menyingkirkan para ilmuwan Iran dari ranah sains dan kemajuan.
Upacara pelepasan jenazah Syahid Soleimani di Tehran.
Upacara pemakaman Jenderal Soleimani dan al-Muhandis yang dihadiri oleh jutaan orang, mengirimkan pesan yang penuh makna kepada AS dan menunjukkan bahwa kebencian terhadap AS telah mencapai puncaknya di luar perbatasan Iran yaitu di Irak, Afghanistan, Yaman dan di banyak negara lain. Kemarahan dan kebencian ini tidak dapat dipadamkan dengan tweet dan ancaman.
Reaksi di tingkat regional dan internasional atas pembunuhan Jenderal Soleimani juga menjadi tantangan besar bagi Washington, karena aksi teror itu melukai rakyat Iran dan Irak serta semua orang yang telah disakiti oleh Amerika.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pidatonya mengatakan, “Musuh telah melakukan segala upaya dan pekerjaannya. Tujuan mereka adalah memaksa para pejabat untuk menyerah dan mengubah perhitungannya sedemikian rupa sehingga membuat mereka menyerah, yaitu menyerah kepada Amerika dan menempatkan rakyat berhadap-hadapan dengan negara. Inilah tujuan musuh.”
“Perhitungan ini adalah sebuah perhitungan yang salah. Artinya perhitungan AS adalah perhitungan yang salah. Sebelum ini dalam beberapa tahun terakhir, dalam 40 tahun terakhir, para pejabat AS memiliki perhitungan yang sama dan mereka gagal memperoleh hasil, mereka telah kalah, dan mereka gagal memberikan pukulan yang diinginkan terhadap Republik Islam,” tambahnya.
Ayatullah Sayid Ali Khamenei.
“Sekarang juga seperti itu. Kali ini mereka juga pasti akan gagal, tidak ada keraguan tentang ini. Kebencian dan dendam yang mereka miliki terhadap Iran Islami telah membutakan mereka; yaitu telah merusak perhitungan mereka dan mereka tidak mampu membuat perhitungan yang benar,” kata Ayatullah Khamenei.
Pengalaman menunjukkan bahwa kehadiran AS di kawasan dan pengerahan pasukan di Irak dan Afghanistan merupakan sumber dari banyak krisis regional. Namun, hari ini situasi di kawasan serta perimbangan politik dan militer telah berubah. Bangsa-bangsa dan pemerintahan di kawasan tidak mentolerir lagi kehadiran tersebut. Ini bermakna munculnya sebuah perubahan penting dan strategis di kawasan bahkan di tingkat internasional.
Resolusi parlemen Irak tentang pengusiran pasukan AS yang dikeluarkan pada 5 Januari 2020 serta kecaman dan protes keras terhadap tindakan terorisme AS, membawa sebuah pesan yang jelas. Saat ini situasi regional berubah lebih cepat dari yang dibayangkan oleh AS dan sekutunya, dan proses penurunan kekuatan AS telah dimulai.
Wawancara: Syahid Soleimani, Pejuang Islam Sejati (2)
Syahid Soleiman bukan hanya tokoh militer dan keamanan saja, tapi juga pejuang sejati yang memiliki kekayaan pengetahuan dan spiritual, juga ketinggian moralitasnya. Beliau mencurahkan segenap hidupnya untuk membela Islam yang melampaui batas teritorial tertentu.
Perjalanan hidup pejuang Islam ini menarik banyak orang untuk menelahnya, termasuk sisi lain dari kehidupan komandan pasukan Quds Sepah Pasdaran yang tidak banyak diketahui masyarakat luas, terutama di Indonesia.
Selengkapnya simak wawancara ekslusif Partoday Indonesia dengan Mehrdad Rakhshandeh Yazdi, Konselor Kebudayaan Iran di Indonesia bagian kedua berikut ini:
Tentu saja, kesyahidan adalah harapan Haji Qassim Soleimani, dan beliau meraihnya dengan kemuliaan. Namun, semua orang yang mencintai kebebasan, hatinya terbakar atas kepergian pejuang Islam ini.
Tampaknya penting untuk mengenali kehidupan dan kepribadian manusia mulia ini dari berbagai aspeknya, termasuk dari kezuhudan dan kesalehannya, dan kemampuannya mengguncang pemerintahan kolonial yang rapuh dan sekutu Zionisnya di kawasan, yang membuat mereka mengambil langkah meneror Syahid Soleimani.
Mereka mengira telah menang dengan menerornya, tapi yang pasti kemenangan justru berada di tangan Syahid Soleimani dan pengikut jalannya. Sebab jalan perjuangan Syahid Soleimani senantiasa hidup, beliau tetap berada dalam ingatan selamanya dan mazhab Soleimani akan menciptakan ribuan dan puluhan ribu Soleimani di berbagai penjuru dunia Islam, Insya Allah.
Kepercayaan diri dan ketulusan beliau menunjukkan salah satu kualitasnya sebagai seorang pejuang Islam. Dia benar-benar seorang komandan nasional, dia adalah contoh dari pejuang yang mencintai dan dicintai rakyat, sehingga semua orang memiliki kenangan baik dengannya.
Apabila kita hendak merangkum karakteristik khusus pria mulia ini, saya akan menyinggung tentang ketulusannya. Dimensi kepribadiannya ini tidak hanya di ranah militer dan pertempuran yang telah membuatnya menjadi sosok yang hebat bagi kita hari ini. Beliau adalah prajurit abdi negara, zahid, alim, sekaligus seorang politikus.
Haji Qassim bisa dikatakan sebagai perwujudan spiritualitas manusia yang sempurna, dan kebijakannya adalah kebijakan akhlak dan taqwa. Kekuatan manajerialnya merupakan fitur lain dari Syahid Soleimani. Kebijaksanaan dan ketabahannya sebagai seorang komandan militer yang mumpuni menjadikan dirinya dicintai rakyat.
Haji Qassim Soleimani memiliki pandangan dunia yang khas. Perhatian dan pengetahuannya terhadap dinamika dunia Islam dan masalah internasional sangat besar dan luas. Beliau memiliki hati yang lembut, bahkan merasa kasihan terhadap pasukan musuh yang tewas. Beliau merasa kasihan kepada para milisi Daesh yang tertipu oleh imperialis. Setiap kali dia merasakan adanya orang yang tertindas dan teraniaya, maka dia akan menjalankan tugasnya untuk berada di sana. Itulah sebabnya, pandangan Haji Qassim Soleimani melampaui geografi Iran, dan menjadi pejuang di Suriah, Lebanon, dan Yaman, sebagai bentuk pengabdian kepadanya sesama manusia yang tertindas.
Kehidupan Haji Qassim Soleimani sedikit banyak telah kita ulas bersama. Kita melihat bahwa kehidupan beliau menjadi contoh dari banyak ayat Alquran. Oleh karena itu, jika kita ingin memperkenalkan Haji Qaseim Soleimani suatu hari nanti, menurut saya, kita harus mencarinya di ayat-ayat Alquran, seperti "Asyidau ala Al-Kufar".
Bagaimanapun, saya sangat senang Anda memberi saya kesempatan untuk menyampaikan isi hati saya dalam waktu yang sangat singkat ini. Secara khusus, saya menyampaikan terima kasih kepada Parstoday Indonesia atas kesempatan ini dan berbelasungkawa kepada siapa saja yang berduka atas kesyahidan Syahid Soleimani, terutama rakyat dan pemerintah Republik Islam Iran yang memperingati setahun kesyahidannya.
Wawancara: Syahid Soleimani, Pejuang Islam Sejati (I)
Syahid Soleiman bukan hanya tokoh militer dan keamanan saja, tapi juga pejuang sejati yang memiliki kekayaan pengetahuan dan spiritualnya, serta ketinggian moralitasnya. Beliau juga mencurahkan segenap hidupnya untuk membela Islam yang melampaui batas teritorial.
Perjalanan hidup pejuang Islam ini menarik banyak orang untuk menelahnya, termasuk sisi lain dari komandan pasukan Quds Sepah Pasdaran ini yang tidak banyak diketahui masyarakat luas, terutama di Indonesia.
Selengkapnya simak wawancara ekslusif Partoday Indonesia dengan Mehrdad Rakhshandeh Yazdi, Konselor Kebudayaan Iran di Indonesia bagian pertama berikut ini:
Pertama-tama, saya ingin menyampaikan belasungkawa kepada semua orang merdeka di dunia, masyarakat Iran, dan siapa saja yang berduka atas kesyahidan komandan tercinta Jenderal Qassim Soleimani.
Saya berterima kasih kepada Pars Today Indonesia yang hari ini memberikan kesempatan kepada saya untuk berbicara dengan para pemirsa tentang syahid agung ini.
Hari ini, satu tahun peringatan kepergian Syahid Letjen Qassim Soleimani. Banyak aspek menarik dari kepribadiannya yang berkarakter. Barangkali Syahid Soleimani di benak banyak orang dikenal sebagai tokoh militer dan keamanan. Beliau memang seorang tokoh militer dan tokoh keamanan, sekaligus pejuang yang terjun langsung di medan tempur.
Tapi selain itu, Syahid Soleimani juga memiliki kekayaan marifat, pengetahuan dan spiritualitas, juga ketinggian moralitas dan adabnya. Beliau sosok sederhana yang memandang dirinya sebagai pelayan rakyat, abdi negara dan pelayan putra-putri syuhada.
Pada awal perang yang dipaksakan rezim Baath Irak terhadap Republik Islam Iran, dia hadir di medan tempur. Benar, dia adalah seorang komandan, dengan kecerdasannya memimpin pasukan. Tetapi juga dia selalu hadir di garis depan sebagai seorang prajurit, dan menjalankan teroi perang dalam aksi di medan tempur. Di bidang militer, beliau sangat ahli.
Tetapi hari ini, ketika kita membaca kehidupannya, ketika kita menelaah perjalanan hidupnya, ketika mendengarkan cerita teman-teman seperjuangannya, kita menyaksikan kebesaran jiwa seorang pejuang yang melampaui semua ini. Tampaknya, kesyahidan adalah hadiah terbaik yang dianugerahkan Allah swt kepadanya. Apalagi beliau syahid di tangan musuh utama Islam dan Muslim, yaitu Amerika.
Syahid Soleimani mengerahkan segenap hidupnya dalam perang melawan Daesh. Ketika kita membaca dan mendengarkan cerita dari teman-teman seperjuangannya, akan muncul kekaguman kita menyaksikan bagaimana beliau membela Islam yang kita cintai tanpa mengenal batas teritorial. Beliau menyerang jantung musuh, sehingga pasukan Daesh merasa ketakutan menghadapi kehadirannya.
Banyak dari para pemimpin dunia menceritakan tentang beliau, terutama tentang kebaikan dan keberaniannya, serta pengaruh besar dari manusia mulia ini. Meskipun kini pahlawan Revolusi Islam ini telah tiada, tetapi pastinya kesyahidannya menjadikan jalan perjuangan Soleimani senantiasa hidup.
Mengenang Perjuangan Rakyat Palestina
Tanggal 19 Januari dalam kalender perjuangan rakyat Palestina melawan rezim Zionis ditetapkan sebagai Hari Gaza. Hari Gaza, sama seperti Hari Quds Sedunia, merupakan sebuah momentum untuk menyuarakan ketertindasan dan tuntutan sah rakyat Palestina kepada dunia.
Ada banyak peristiwa pahit dan pilu dalam sejarah bumi Palestina dari masa penjajahan hingga pembentukan rezim Zionis Israel. Tidak ada bentuk kejahatan yang belum dilakukan oleh Zionis terhadap rakyat Palestina selama pendudukan tanah ini. Rezim Zionis mengusir orang-orang Palestina dari kota dan desa mereka melalui pembantaian sistematis, melakukan kejahatan yang paling paling sadis untuk mengintimidasi warga Palestina, dan memaksa mereka meninggalkan tanah airnya.
Pembantaian mengerikan di Deir Yassin pada 9 April 1948, hanyalah salah satu dari rangkaian pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Zionis terhadap rakyat Palestina. Pembantaian Deir Yassin bukanlah satu-satunya kejahatan atau pembantaian terbesar yang tercatat dalam sejarah kejahatan rezim Zionis di Palestina.
Pembantaian al-Duwaimah di kota al-Khalil dan pembantaian al-Lud merupakan bagian dari kasus kejahatan besar Israel terhadap rakyat tertindas Palestina. Dalam pembantaian tersebut, ribuan orang Palestina yang tidak bersalah – kebanyakan dari mereka wanita, anak-anak, dan orang tua – dibantai, dan orang-orang Palestina dipaksa memilih tiga opsi pahit; kematian, melarikan diri, atau meminta suaka.
Kejahatan itu membuat ratusan ribu orang Palestina terusir dari tanah airnya dan menetap di negara-negara lain. Jadi, segala bentuk terorisme mulai dari pembantaian massal, operasi militer, perang psikologis dengan berbagai cara, hingga pemindahan dan pemaksaan ratusan ribu warga Palestina untuk meninggalkan rumah mereka, tercatat dalam sejarah rezim Zionis.
Ilustrasi serangan Israel ke Jalur Gaza.
Namun, fakta yang lebih pahit dari kejahatan rezim Zionis adalah bahwa sebagian besar negara Arab menjauhkan diri dari perjuangan pembebasan al-Quds dan memilih bungkam dalam menyikapi kejahatan Israel. Pengkhianatan terbaru rezim Arab kepada rakyat Palestina adalah keputusan Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko, mengakui rezim penjajah al-Quds dan menormalisasi hubungan mereka dengan Israel.
Kemenangan Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) pada pemilu 2006 di Jalur Gaza merupakan titik balik dalam sejarah Palestina pasca pendudukan tanah ini. Berbeda dengan Otoritas Palestina di Ramallah, Hamas menganggap perundingan kompromi dengan Israel selama tiga dekade terakhir, tidak berguna dan memandang satu-satunya opsi untuk memerdekakan Palestina dari penjajahan Zionis adalah perlawanan.
Berkuasanya Hamas di Jalur Gaza merupakan sebuah bahaya besar bagi penjajah Zionis. Oleh karena itu, Israel pertama-tama mencoba menghancurkan Hamas dengan meneror para pemimpin dan komandan gerakan ini serta memblokade Gaza dengan bantuan dan dukungan pemerintah Mesir.
Namun, teror ini membuat Hamas dan warga Palestina yang tinggal di Gaza bertekad untuk bangkit dan melawan kejahatan Israel. Akhirnya, rezim Zionis melancarkan serangan besar-besaran di Gaza setelah gagal dalam mematahkan tekad warga Palestina melalui pembunuhan para petinggi Hamas dan blokade penuh Jalur Gaza.
Setelah kalah dari Hizbullah Lebanon pada 2006 dan runtuhnya hegemoni Israel, rezim ini membutuhkan sebuah kemenangan untuk menutupi kekalahan melawan Hizbullah dan menyemangati warga Zionis yang tinggal di tanah pendudukan. Mereka memandang agresi ke Gaza dan penghancuran Hamas sebagai peluang untuk menebus kekalahan ini.
Pada 27 Desember 2008, rezim Zionis menyerang Jalur Gaza dengan operasi yang disebut Cast Lead. Mereka mengira dalam tempo 7-10 hari operasi dapat menghancurkan kubu perlawanan di Gaza. Tapi setelah 22 hari, Israel terpaksa menarik diri dari Gaza pada 17 Januari 2009 dan menderita kekalahan besar lainnya dari kubu perlawanan, dua tahun setelah Perang 33 Hari di Lebanon.
Warga Palestina yang tinggal di Jalur Gaza meraih kemenangan besar melawan rezim Zionis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Palestina sejak era pendudukan dan tanpa dukungan negara Arab manapun, mereka berhasil melawan mesin-mesin perang Israel dan memukul mundur tentara Zionis. Beberapa pemerintah Arab bahkan berpihak kepada Israel dalam perang ini.
Kemenangan itu diraih ketika tentara Zionis membunuh ratusan warga Palestina selama pemboman besar-besaran dan penembakan di Gaza serta menghancurkan banyak infrastruktur perkotaan Gaza. Dalam Perang 22 Hari ini, 1.455 orang gugur syahid, di mana 404 orang adalah anak-anak dan 115 perempuan. Jumlah korban luka diperkirakan mencapai 5.303 orang, di mana 1.815 di antaranya anak-anak.
Menurut laporan organisasi-organisasi Palestina, 40 rumah sakit dan pusat kesehatan menjadi sasaran langsung dan target pemboman selama Perang 22 Hari. Kerugian yang diderita oleh rumah sakit dan puskesmas milik Kementerian Kesehatan Palestina mencapai 10 juta dolar. Sebanyak 15 mobil ambulans juga menjadi sasaran langsung tentara Israel.
Untuk mengetahui puncak ketidakberdayaan tentara Israel dalam melawan warga Palestina di Gaza, kita cukup melihat kembali luas Jalur Gaza yang kecil dan terkepung. Jalur Gaza terletak di bagian barat daya wilayah pendudukan Palestina, dengan luas lebih dari 360 kilometer persegi dan jumlah populasi mencapai 1,8 juta jiwa. Wilayah ini memiliki populasi terpadat di dunia.
Kejahatan brutal rezim Zionis pada 2008 terhadap warga Gaza, terjadi ketika media-media Barat dan sebagian besar media Arab menyensor kejahatan besar-besaran dan pembantaian brutal yang dilakukan Israel. Mereka menyalahkan Gerakan Hamas atas serangan ini dan memberikan informasi yang keliru kepada warganya tentang realitas perang brutal ini.
Untuk melawan propaganda ini, Republik Islam Iran – yang selalu mendukung poros perlawanan dan rakyat tertindas Palestina – menetapkan tanggal 19 Januari sebagai “Hari Nasional Gaza” pada peringatan tahun pertama Perang 22 Hari. Langkah ini bertujuan untuk mengenang kembali ketertindasan rakyat Palestina dan menyuarakan penindasan ini kepada dunia. Inisiatif ini juga untuk menghormati perlawanan 22 hari para mujahidin Gaza dalam melawan kebiadaban Israel dan mengenang perlawanan heroik ini untuk selamanya.
Perang 22 Hari di Gaza telah membawa kubu perlawanan di Gaza ke dalam perimbangan di tanah Palestina dan kawasan. Mereka berada di hadapan kubu yang memperjuangkan kompromi.
Rahbar dalam pertemuan dengan Ismail Haniyeh di Tehran. (dok)
Pasca kemenangan kubu perlawanan di Gaza, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengirim sebuah pesan kepada Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh.
Teks pesan Rahbar sebagai berikut, “Bismillahirrahmanir rahim. Saudara pejuang Tuan Ismail Haniyeh, Salamun 'alaikum Bima Shabartum. Kesabaran 20 hari Anda dan para mujahidin yang berani serta pengorbanan warga Gaza dalam menghadapi salah satu kejahatan perang yang paling keji di dunia dan dalam sejarah, telah mengangkat panji kemuliaan atas kepala umat Islam. Anda telah membuktikan bahwa kalbu yang penuh dengan iman kepada Tuhan dan hari kiamat serta jiwa mulia orang Muslim yang menolak kehinaan dan ketundukan pada penindasan, telah menciptakan kekuatan yang sedemikian rupa sehingga pemerintahan arogan dan tiran serta tentara yang bersenjata canggih, dibuat tidak berdaya dan terhina.”
Pemerintah Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat, memilih bungkam terhadap kejahatan rezim Zionis yang membunuh anak-anak. Pemerintah AS mencegah kecaman Dewan Keamanan dan Dewan Hak Asasi Manusia PBB terhadap Israel. Terlepas dari semua dukungan ini, rezim Zionis putus asa dan tidak berdaya dalam mengalahkan kubu perlawanan. Pembunuhan wanita dan anak-anak Palestina juga disebabkan oleh keputusasaan ini.
Hamas – sebagai pelopor gerakan perlawanan di Gaza – menguji kembali teori “rumah laba-laba” dan menyimpulkan bahwa perlawanan dan spiritualitas, di samping tindakan nyata di lapangan, dapat menghancurkan Mitos Israel Tak Terkalahkan, seperti yang dilakukan oleh Hizbullah Lebanon pada tahun 2000 dan 2006.
Perang Gaza – sama seperti Perang 33 Hari – kembali mempermalukan para aktivis pembela hak asasi manusia, termasuk komunitas internasional dan kekuatan-kekuatan besar, dan membuktikan bahwa dunia yang beradab ini masih jauh dari prinsip-prinsip HAM dan keadilan.




























